Jumat, 27 April 2018

MUHAJIR AL-JAZAIRI, SEBAIK-BAIK PEMBAWA AL-QUR’AN ADALAH DIRIMU

MUHAJIR AL-JAZAIRI, SEBAIK-BAIK PEMBAWA AL-QUR’AN ADALAH DIRIMU

Tatkala ia akan berangkat, ia pun berhenti sejenak karena hendak meninggalkan para sahabat-sahabat terdekatnya di bandara. Lantas dia berkata kepada mereka, “Aku sekarang adalah seorang muhajir, dan dengan izin Allah aku akan bertemu dengan kalian di wilayah Daulah Khilafah untuk berperang bersama-sama, jika Allah mempermudah urusanku dan urusan kalian agar berangkat dan sampai ke medan perang, atau jika tidak maka tempat bertemu kita kita adalah surga jika Allah memberi rizki syahadah (mati syahid) kepadaku sebelum kalian.”

Tatkala kedua kakinya memijak bumi Khilafah, yang pertama kali ia kerjakan adalah masuk ke lembaran internetnya, agar bisa menulis sebuah ungkapan, “Allahu akbar.. impianku telah terwujud .”

Muhajir al-Jazairi adalah seorang pemuda berusia 29 tahun, merupakan yang paling muda usianya dari saudara-saudaranya yang lain. Ia pemuda yang murah senyum, sangat mudah meneteskan air mata, tidaklah kedengkian menemukan jalan untuk masuk ke relung hatinya, dan jika ia berselisih dengan saudara-saudaranya, maka ia pun memilih untuk diam. Tidaklah kalian akan mendengar darinya satu patah katapun pembelaan diri, dan apabila telah jelas dirinya yang salah kepada saudaranya, ia segera rujuk dan minta maaf tanpa ragu ataupun malu kepada saudaranya.

Dia merupakan seorang anak yang terdidik untuk dekat dengan masjid, seorang Hafizh Qur’an sejak dini. Muhajir menyempurnakan pendidikan di bangku universitasnya di Takhashush Syari’ah Islamiyyah Universitas Kharubah. Saat itu pula ia mengajarkan al Qur’an kepada 200 lebih penuntut ilmu di salah satu masjid. Melalui tangannya, lahir puluhan pemuda penghafal al Qur’an al Karim dengan hafalan yang sempurna. Ia juga menjadi imam Sholat Tarawih kaum muslimin di bulan Romadhon padahal umurnya masih muda sekali. Allah telah mengaruniakan hadiah kepadanya berupa kemampuan menghafal al Qur’an yang mulia, pun merdunya suaranya dalam melantunkan bacaan Qur’an tersebut.

Ia sendiri bekerja sebagai seorang pedagang, dengan menjual sembako. Dalam pandangan orang-orang di kotanya, ia adalah seorang pemuda yang jujur, menjaga amanah,dan bermu’amalah dengan baik kepada seluruh manusia. Bagaimana tidak, sedangkan ia adalah seseorang yang lembut, apabila berdagang, dengan lembut, dan apabila membeli pun pasti dengan lembut.

Hatinya terikat dengan jihad, meskipun banyak orang tidak suka dan merasa takut dengan tersebarnya aqidah salimah ataupun memperbincangkanya, lantaran rasa takut terhadap para thoghut dan aparat intelijen yang suka memberangus kaum Muslimin di al Jazair, namun Muhajir adalah seseorang yang memanfaatkan Rekreasi dan perkemahan-perkemahan untuk mendirikan muhadharah-muhadharah bagi para penuntut ilmu dan menceritakan kepada mereka tentang mujahidin, memperdengarkan nasyid-nasyid jihad yang membangun jiwa-jiwa kepahlawanan para mujahidin, agar nasyid-nasyid tersebut menjadi kesenangan rekreasi mereka dan saat-saat mereka berkemah, tidaklah ia berijtihad kecuali hasil-hasilnya sungguh akan berakibat baik.

Keinginannya adalah berada di medan-medan jihad, diantaranya keinginan pergi ke Iraq yang telah dimulai sejak satu dekade yang lalu. Akan tetapi, temannya yang mengatur perkara hijrahnya lebih dahulu tertangkap, maka hilanglah kesempatan Muhajir. Rasa sedih yang mendalam benar-benar menimpanya, sampai akhirnya Allah pun membuka pintu-pintu rahmatnya, setelah tegaknya Khilafah, dimana salah seorang pelajar penghafal Qur’an didikannya, lebih dahulu berhijrah menuju bumi Khilafah. Ketika muridnya ini telah sampai di bumi hijrah, diapun menghubungi Muhajir, guna membantu gurunya ini untuk berhijrah dan mengatur perjalanannya.

Saat itu Muhajir berniat untuk menikah, tapi ia tinggalkan karena waktu hijrah telah tiba. Dia pun pergi meninggalkan rumahnya dengan alasan ingin bertamasya yang tidak akan memakan waktu lama kepada orang-orang di sekitarnya, meski pada hakikatnya tujuannya adalah Daulah Khilafah. Ia pernah gagal berangkat hijrah selama dua kali, sangat sulit baginya untuk lolos dari pantauan keamanan para thoghut. Karenanya, dia mencoba berhijrah dan bergabung dengan Mujahidin untuk ketiga kalinya setelah 2 tahun menahan diri.

Berubah drastislah kehidupan Muhajir, seorang pemuda yang telah melupakan mimpi-mimpi masa depannya, bisnisnya, rumahnya, mobilnya, teman-temannya, pernikahannya. Benar-benar telah ia lempar dunia ke belakang punggungnya, jadilah dia orang mulia dengan keinginannya menjadi seorang mujahid yang berjuang membela agamanya agar kalimat Allah menjadi tinggi. Dengan kesabarannya, ia pun menjadi seorang Junud Khilafah.

Sesampainya, dia berada di salah satu rumah safe house, yang terhitung sebagai langkah-langkah awal masuknya setiap muhajirin ke bumi Khilafah. Disana, semua orang melihatnya sebagai seorang Muhajirin yang banyak menunaikan sholat, tidak berhenti beribadah, dan mushaf tak pernah terlepas dari tangannya, kecuali ketika dia hendak pergi tidur. Al Qur’anul Karim adalah sedekat-dekat teman di sisinya, bahkan sahabat yang ia tidak rela berpisah dengannya selamanya.

Waktu penantian di safe house pun berlalu hari demi hari, diapun melihat para pemuda sibuk menggerutu karena lambatnya waktu bagi mereka bergabung di kamp-kamp muaskar guna berlatih. Kewajiban mereka saat itu adalah menunggu sampai datangnya peran bagi mereka. Disaat yang lain hanya sebatas menunggu, Muhajir justru sibuk dengan dzikir kepada Allah dan membaca al Qur’an sebagaimana kebiasaannya.

Ketika telah dekat waktu bergabungnya dia dengan mu’askar syar’iy, semangatnya meluap-luap seakan-akan dia telah masuk ke dalam medan perang. Tekadnya melebihi tingginya awan, ia bak kesatria yang menaiki pelana kuda melaju cepat mendahului angin yang berhembus kencang.

Diantara pelatihan shobahiyyah (pagi hari) yang khusus di mu’askar syar’iy, adalah diwajibkannya peserta tadrib untuk menempuh jarak beberapa kilometer dalam hitungan beberapa menit, dengan tujuan secara khusus untuk menguji kecepatan, kekuatan dan ketahanan. Jarak latihan ini di setiap harinya bertambah dan waktu semakin dikurangi, dan itu merupakan tantangan besar dalam masalah waktu. Akan tetapi Muhajir termasuk orang yang selalu meraih juara tiga besar pertama, ia telah menyiapkan badan dan fisiknya untuk menghadapi latihan jenis ini sejak jauh-jauh hari. Sebelum hijrahpun ia termasuk perenang yang mahir, dan olahragawan yang baik.

Ia menjadi imam bagi teman-temannya ketika di mu’askar, oleh sebab kemahiran dan bagusnya bacaan al Qur’an-nya di dalam shalat, menjadikan makmum berharap agar ia memanjangkan bacaannya dan tidak menyudahinya kecuali sampai seluruh al Qur’an dibaca. Sering ia berhenti membaca ketika menjadi imam, karena ia banyak menangis saat shalat. Ia pun dipilih sebagai penanggung jawab untuk seluruh halaqah tahfizh al Qur’an yang terhitung sebagai pondasi-pondasi mu’askar syar’iy.

Dan di Mu’askarnya, yaitu Mu’askar Tadrib ‘Askariy yang penuh rintangan, kerap kali para amir mu’askar tadrib mengumpulkan peserta tadrib dan memberikan khuthbah atau memotivasi mereka agar senantiasa memberikan tambahan pengorbanan untuk agama ini, atau mengingatkan larangan dalam Dien, atau menasehati kelalaian mereka dalam latihan, mendengar itu Muhajir mulai menangis dengan kuat, dan ketika ia ditanya tentang sebab tangisnya, ia pun menjawab: “karena malu kepada Allah.”

Pada suatu hari, dia dan salah seorang peserta tadrib berseteru, padahal ia bukanlah orang yang menyukai pertikaian. Saat itu salah seorang ikhwah peserta tadrib marah kepadanya karena menolak untuk khuthbah jum’at ketika diminta. Muhajir waktu itu takut berkhuthbah di depan mujahidin, karena baginya para mujahidin jauh lebih baik darinya, padahal ia lebih berilmu dan lebih hafal al Qur’an dibanding mereka. Muhajir pun bingung dan tertunduk di hadapan peserta tadrib tersebut, lalu segera meminta maaf kepadanya, padahal ia tidaklah berbuat buruk kepada peserta tadrib itu. Akhiy Muhajir terus menerus meminta maaf kepadanya, sampai akhirnya al Akh tersebut menciumnya, meminta maaf kepadanya dan mereka pun saling berpelukan. Tidak ada hari selainnya yang mampu menyamai kebahagiaannya di hari itu.

Ia tergolong orang yang mahir dalam berbahasa ‘Arab dengan kaedah-kaedahnya, begitu juga halnya dalam ilmu syar’iy. Karena itulah ia ditetapkan sebagai seorang da’i dan pengajar saat pelatihan militer berakhir. Sungguh kebutuhan terhadap orang-orang semisalnya tidaklah sedikit.Dan bagi para mujahidin yang memiliki ilmu syar’iy, maka bagi mereka terdapat kedudukan.

Inilah orang-orang yang Khalifah Abu Bakr al Baghdadi Hafizhahullah seru untuk berhijrah ke bumi Khilafah, seperti para ulama’ dan para masyayikh, orang-orang yang terpandang dan orang selain mereka yang memiliki peran, keahlian, dan pelayanan-pelayanan mereka di bumi Khilafah dibutuhkan oleh kaum muslimin. Akan tetapi saat itu ia diperintahkan untuk pergi ribath dan andil dalam pertempuran-pertempuran dahulu, sebelum ia berkonsentarasi dengan tugas pentingnya yaitu di bidang dakwah dan pengajaran.

Ia pun bergabung di markas katibah/batalyon yang memang di kirim kepadanya. Persiapan pertama menjelang pertempuran telah selesai. Ketika datang waktunya mengumpulkan tulisan dan wasiat-wasiat setiap Junud di dalamnya, ia justru masih disibukkan dengan al Qur’an dan menyiapkan senjatanya.

Dia pun senang karena ayah dan ibunya sudah ridho kepadanya, padahal keduanya pernah mencela Muhajir lantaran safar dan tidak memberi kabar kepada keduanya, lantaran ia hendak pergi ke bumi jihad. Sekarang, keduanya mengabarkan bahwa mereka telah ridho, dan tempat bertemu kembali adalah surga, jika tidak, maka pertemuan mereka adalah di dunia ini.

Muhajir pun meminta teman-temannya agar merekam wasiat berupa audio, ia mewasiatkan agar kabar syahidnya sampai kepada keluarganya sebagai kabar gembira, dan dia ingin agar ibunya senang ketika mendengar kabar terbunuhnya. Dia juga berpesan agar rekaman tersebut dikirimkan segera dengan bagus, dan ibunya bahagia ketika ia syahid di sisi Rabbul ‘Alamin, Insyaa Allah. Ia pun senantiasa memperbanyak doa agar Allah menerima kesyahidannya, dan agar Allah mengizinkannya untuk memberikan syafa’at kepada ibu, bapak, saudara dan saudarinya serta teman-temannya.

Baru beberapa hari saja setelah dia sampai di medan pertempuran, Muhajir pun gugur oleh tembakan rudal pesawat Salibis, dengan kondisi jasadnya bertebaran lagi berceceran, hingga hampir-hampir tidak ada bekas yang bisa menunjukkan bahwa itu adalah jasadnya. Tubuhnya terpotong di jalan Allah, adapun ruhnya telah bersemayam dan berada tinggi di sisi Rabbnya. Tiada angan-angan dari sebuah jasad kecuali dia ingin kembali ke dunia agar dia terbunuh sekali lagi di jalan Allah, beginilah kami menilainya dan Allahlah sebaik-baik penilai.

Wahai Muhajir, wahai engkau yang telah meninggalkan orang terdekatmu seperti ibumu, bapakmu, dan saudara-saudaramu, senang dan bergembiralah dengan kemenangan yang engkau peroleh, dan kami meminta kepada Rabb kami yang tinggi agar Allah menerimamu di ‘Illiyyin, dan memberikanmu rizki surga yang kekal, dan mengganti pengantinmu di dunia dengan bidadari surga, ia lebih baik dari wanita di dunia ini.

An-Naba Edisi 17

Tidak ada komentar:

Posting Komentar