RUMIYAH 10 - ARTIKEL
HARAKAH MURTAD TALIBAN, MENGIKUTI JEJAK SHAHAWAT IRAQ DAN SYAM
Gerakan nasionalis Taliban telah berupaya kuat untuk meyakinkan orang-orang musyrik di negaranegara tetangganya. Mereka mengakui keabsahan sistem pemerintahannya. Mereka menginginkan terbangunnya hubungan baik. Namun bukannya mendapat bantuan, justru musuh-musuhnya yang dibantu. Hal itu ketika didapati ternyata ada sebagian syari’at Islam yang diterapkan. Sebagaimana mereka juga melindungi para muhajirin dan mengizinkannya menggunakan wilayah kontrolnya untuk beri’dad dan melindungi muhajirin lain.
Kemudian gerakan ini tertimpa kemunduran besar. Mereka kehilangan kontrol atas wilayahnya hanya selang beberapa hari saja paska invasi salibis. Mereka mengalami kelemahan dalam waktu yang cukup lama. Dalam situasi genting ini, mereka malah mengkhianati dan mengisolasi pemimpinnya sendiri, hingga kematiannya. Walhasil, terbentuklah pusat kekuasaan baru yang memegang otoritas gerakan dengan dukungan dan arahan intelijen Pakistan.
Kelompok murtad ini, yang bertanggung jawab atas tangan-tangan eksternal dalam tubuh Taliban sejak berhasil menguasai Kabul, dan juga yang bertanggung jawab atas semua pernyataan-pernyataan “manis” kepada negara-negara tetangganya, semakin menambah loyalitasnya kepada orang-orang kafir setelah berhasil menguasai penuh otoritas gerakan. Ia mengajukan dirinya sebagai abdi kotor dan anjing penjaga perbatasan mereka dengan terus menerus menegaskan bahwa para mujahidin sudah tidak diperbolehkan menggunakan wilayah kontrolnya untuk mempersiapkan seranganserangan baru. Semua itu demi membangun hubungan baik dan mendapatkan pengakuan serta sedikit bantuan dari orang-orang musyrik.
Daulah Islamiyah dideklarasikan. Hukum-hukum khilafah kembali hidup. Jamaah muslimin kembali dibangun. Upaya-upaya untuk menegakkan kembali syari’at Allah di bumi terus digalakkan. Dakwah tauhid menyebar di berbagai lapisan masyarakat. Masyarakat mulai memahami wajibnya berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang musyrik dan memusuhi serta memerangi mereka sampai Din semuanya milik Allah. Demikian juga akan keharusan loyal kepada orang Islam, berpegang teguh dengan jamaah muslimin, yang berarti perbatasan-perbatasan palsu yang merobek-robek negeri kaum muslimin harus dilenyapkan, dan organisasiorganisasi yang memecah belah kaum muslimin harus dibubarkan. Semua itu membuat gerakan nasionalisme Taliban murtad “berbagi rasa” khawatir dengan Negara-negara salibis dan thaghut-thaghut penguasa negeri kaum muslimin.
Walhasil, pemberantasan Daulah Islamiyah menjadi proyek bersama antara Taliban dengan negara-negara kafir yang ketakutan dengan eksistensi Daulah Islamiyah di perbatasannya, sebagaimana juga AS yang menginvasi Afghanistan. Hingga tak diherankan lagi ketika Taliban mengajukan pemberantasan Daulah Islamiyah itu sebagai barang dagangan berharganya, yang tentu diinginkan oleh negara-negara kafir itu, dan harganya tentu saja membuka hubungan diplomatik dengan petinggipetinggi Taliban, dukungan politik, dan mungkin juga dukungan dana dan persenjataan.
Oleh karena itu, bukan sesuatu yang mengejutkan ketika salibis Rusia menjustifikasi hubungan terbukanya dengan Taliban dengan dalih memberantas Daulah Islamiyah. Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya dengan tersebarnya prajurit Daulah Islamiyah di dekat pusat pengaruhnya di Asia Tengah. Di saat yang sama juga mengungkapkan kesiapannya melakukan intervensi militer secara langsung untuk memberantas Daulah Islamiyah di Khurasan.
Tak diragukan lagi, sebenarnya Rusia hendak mengusir Amerika dari daerah pengaruhnya di Asia Tengah. Target itu pula yang hendak dicapai oleh China dan Iran. Namun jangan sampai kekosongan paska penarikan mundur Amerika itu diisi oleh Daulah Islamiyah. Oleh karena itu, Rusia berusaha mengeksploitasi kekosongan paska penarikan mundur Amerika, baik dengan intervensi militer langsung, yang itu cukup sulit dan mahal, atau dengan mengubah Khurasan menjadi daerah penyangga, yang dipantau sekutunya, untuk mencegah kehadiran musuh-musuhnya di daerah strategis ini. Untuk itu, Taliban adalah yang paling cocok dijadikan sekutu, karena ambisinya yang terbatas pada nasionalisme Afghanistan saja, fanatisme kesukuan dan madzhabnya, dan hubungannya yang erat dengan Iran sebagai sekutu Rusia paling dekat pada akhir-akhir ini.
Gerakan murtad ini, dengan mengajukan dirinya sebagai wakil negara-negara salib dan pemerintahan thaghut untuk memberantas Daulah Islamiyah, sejatinya hanya mengulang apa yang telah dilakukan oleh banyak organisasi dan faksi yang mengaku Islam, seperti faksi-faksi Shahwat di Iraq, Syam, dan Libya, yang dijadikan sekutu oleh Tanzhim Al-Qaeda, yang ironisnya, berbai’at kepada Taliban. Gerakan murtad ini, yang telah menipu banyak orang, pada akhirnya nasibnya tak akan lebih baik dari nasib Shahawat Iraq dan Syam dengan izin Allah. Nanti akan terbukti ketidak mampuannya mencegah serangan-serangan prajurit Khilafah, bahkan ketidak mampuannya melindungi dirinya sendiri. Ketika itulah sekutu-sekutunya akan mencari pengganti yang lebih cocok.
Maka dari itu, hendaklah prajurit-prajurit Khilafah di Khurasan terus melanjutkan serangan-serangannya pada salibis dan murtaddin. Mereka harus terus menimpakan kerugian sebesar mungkin kepada seluruh musuh-musuh Allah. Jika mereka terus menolong Allah dengan kata-kata dan aksinya, niscaya persekutuan manusia dan jin tidak akan mengalahkan mereka. Hanyasanya pertolongan itu di tangan Allah Yang Mahamulia lagi Maha Bijaksana.
HARAKAH MURTAD TALIBAN, MENGIKUTI JEJAK SHAHAWAT IRAQ DAN SYAM
Gerakan nasionalis Taliban telah berupaya kuat untuk meyakinkan orang-orang musyrik di negaranegara tetangganya. Mereka mengakui keabsahan sistem pemerintahannya. Mereka menginginkan terbangunnya hubungan baik. Namun bukannya mendapat bantuan, justru musuh-musuhnya yang dibantu. Hal itu ketika didapati ternyata ada sebagian syari’at Islam yang diterapkan. Sebagaimana mereka juga melindungi para muhajirin dan mengizinkannya menggunakan wilayah kontrolnya untuk beri’dad dan melindungi muhajirin lain.
Kemudian gerakan ini tertimpa kemunduran besar. Mereka kehilangan kontrol atas wilayahnya hanya selang beberapa hari saja paska invasi salibis. Mereka mengalami kelemahan dalam waktu yang cukup lama. Dalam situasi genting ini, mereka malah mengkhianati dan mengisolasi pemimpinnya sendiri, hingga kematiannya. Walhasil, terbentuklah pusat kekuasaan baru yang memegang otoritas gerakan dengan dukungan dan arahan intelijen Pakistan.
Kelompok murtad ini, yang bertanggung jawab atas tangan-tangan eksternal dalam tubuh Taliban sejak berhasil menguasai Kabul, dan juga yang bertanggung jawab atas semua pernyataan-pernyataan “manis” kepada negara-negara tetangganya, semakin menambah loyalitasnya kepada orang-orang kafir setelah berhasil menguasai penuh otoritas gerakan. Ia mengajukan dirinya sebagai abdi kotor dan anjing penjaga perbatasan mereka dengan terus menerus menegaskan bahwa para mujahidin sudah tidak diperbolehkan menggunakan wilayah kontrolnya untuk mempersiapkan seranganserangan baru. Semua itu demi membangun hubungan baik dan mendapatkan pengakuan serta sedikit bantuan dari orang-orang musyrik.
Daulah Islamiyah dideklarasikan. Hukum-hukum khilafah kembali hidup. Jamaah muslimin kembali dibangun. Upaya-upaya untuk menegakkan kembali syari’at Allah di bumi terus digalakkan. Dakwah tauhid menyebar di berbagai lapisan masyarakat. Masyarakat mulai memahami wajibnya berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang musyrik dan memusuhi serta memerangi mereka sampai Din semuanya milik Allah. Demikian juga akan keharusan loyal kepada orang Islam, berpegang teguh dengan jamaah muslimin, yang berarti perbatasan-perbatasan palsu yang merobek-robek negeri kaum muslimin harus dilenyapkan, dan organisasiorganisasi yang memecah belah kaum muslimin harus dibubarkan. Semua itu membuat gerakan nasionalisme Taliban murtad “berbagi rasa” khawatir dengan Negara-negara salibis dan thaghut-thaghut penguasa negeri kaum muslimin.
Walhasil, pemberantasan Daulah Islamiyah menjadi proyek bersama antara Taliban dengan negara-negara kafir yang ketakutan dengan eksistensi Daulah Islamiyah di perbatasannya, sebagaimana juga AS yang menginvasi Afghanistan. Hingga tak diherankan lagi ketika Taliban mengajukan pemberantasan Daulah Islamiyah itu sebagai barang dagangan berharganya, yang tentu diinginkan oleh negara-negara kafir itu, dan harganya tentu saja membuka hubungan diplomatik dengan petinggipetinggi Taliban, dukungan politik, dan mungkin juga dukungan dana dan persenjataan.
Oleh karena itu, bukan sesuatu yang mengejutkan ketika salibis Rusia menjustifikasi hubungan terbukanya dengan Taliban dengan dalih memberantas Daulah Islamiyah. Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya dengan tersebarnya prajurit Daulah Islamiyah di dekat pusat pengaruhnya di Asia Tengah. Di saat yang sama juga mengungkapkan kesiapannya melakukan intervensi militer secara langsung untuk memberantas Daulah Islamiyah di Khurasan.
Tak diragukan lagi, sebenarnya Rusia hendak mengusir Amerika dari daerah pengaruhnya di Asia Tengah. Target itu pula yang hendak dicapai oleh China dan Iran. Namun jangan sampai kekosongan paska penarikan mundur Amerika itu diisi oleh Daulah Islamiyah. Oleh karena itu, Rusia berusaha mengeksploitasi kekosongan paska penarikan mundur Amerika, baik dengan intervensi militer langsung, yang itu cukup sulit dan mahal, atau dengan mengubah Khurasan menjadi daerah penyangga, yang dipantau sekutunya, untuk mencegah kehadiran musuh-musuhnya di daerah strategis ini. Untuk itu, Taliban adalah yang paling cocok dijadikan sekutu, karena ambisinya yang terbatas pada nasionalisme Afghanistan saja, fanatisme kesukuan dan madzhabnya, dan hubungannya yang erat dengan Iran sebagai sekutu Rusia paling dekat pada akhir-akhir ini.
Gerakan murtad ini, dengan mengajukan dirinya sebagai wakil negara-negara salib dan pemerintahan thaghut untuk memberantas Daulah Islamiyah, sejatinya hanya mengulang apa yang telah dilakukan oleh banyak organisasi dan faksi yang mengaku Islam, seperti faksi-faksi Shahwat di Iraq, Syam, dan Libya, yang dijadikan sekutu oleh Tanzhim Al-Qaeda, yang ironisnya, berbai’at kepada Taliban. Gerakan murtad ini, yang telah menipu banyak orang, pada akhirnya nasibnya tak akan lebih baik dari nasib Shahawat Iraq dan Syam dengan izin Allah. Nanti akan terbukti ketidak mampuannya mencegah serangan-serangan prajurit Khilafah, bahkan ketidak mampuannya melindungi dirinya sendiri. Ketika itulah sekutu-sekutunya akan mencari pengganti yang lebih cocok.
Maka dari itu, hendaklah prajurit-prajurit Khilafah di Khurasan terus melanjutkan serangan-serangannya pada salibis dan murtaddin. Mereka harus terus menimpakan kerugian sebesar mungkin kepada seluruh musuh-musuh Allah. Jika mereka terus menolong Allah dengan kata-kata dan aksinya, niscaya persekutuan manusia dan jin tidak akan mengalahkan mereka. Hanyasanya pertolongan itu di tangan Allah Yang Mahamulia lagi Maha Bijaksana.