Tampilkan postingan dengan label Rumiyah Edisi 10. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumiyah Edisi 10. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

HARAKAH MURTAD TALIBAN, MENGIKUTI JEJAK SHAHAWAT IRAQ DAN SYAM

RUMIYAH 10 - ARTIKEL

HARAKAH MURTAD TALIBAN, MENGIKUTI JEJAK SHAHAWAT IRAQ DAN SYAM

Gerakan nasionalis Taliban telah berupaya kuat untuk meyakinkan orang-orang musyrik di negaranegara tetangganya. Mereka mengakui keabsahan sistem pemerintahannya. Mereka menginginkan terbangunnya hubungan baik. Namun bukannya mendapat bantuan, justru musuh-musuhnya yang dibantu. Hal itu ketika didapati ternyata ada sebagian syari’at Islam yang diterapkan. Sebagaimana mereka juga melindungi para muhajirin dan mengizinkannya menggunakan wilayah kontrolnya untuk beri’dad dan melindungi muhajirin lain.

Kemudian gerakan ini tertimpa kemunduran besar. Mereka kehilangan kontrol atas wilayahnya hanya selang beberapa hari saja paska invasi salibis. Mereka mengalami kelemahan dalam waktu yang cukup lama. Dalam situasi genting ini, mereka malah mengkhianati dan mengisolasi pemimpinnya sendiri, hingga kematiannya. Walhasil, terbentuklah pusat kekuasaan baru yang memegang otoritas gerakan dengan dukungan dan arahan intelijen Pakistan.

Kelompok murtad ini, yang bertanggung jawab atas tangan-tangan eksternal dalam tubuh Taliban sejak berhasil menguasai Kabul, dan juga yang bertanggung jawab atas semua pernyataan-pernyataan “manis” kepada negara-negara tetangganya, semakin menambah loyalitasnya kepada orang-orang kafir setelah berhasil menguasai penuh otoritas gerakan. Ia mengajukan dirinya sebagai abdi kotor dan anjing penjaga perbatasan mereka dengan terus menerus menegaskan bahwa para mujahidin sudah tidak diperbolehkan menggunakan wilayah kontrolnya untuk mempersiapkan seranganserangan baru. Semua itu demi membangun hubungan baik dan mendapatkan pengakuan serta sedikit bantuan dari orang-orang musyrik.

Daulah Islamiyah dideklarasikan. Hukum-hukum khilafah kembali hidup. Jamaah muslimin kembali dibangun. Upaya-upaya untuk menegakkan kembali syari’at Allah di bumi terus digalakkan. Dakwah tauhid menyebar di berbagai lapisan masyarakat. Masyarakat mulai memahami wajibnya berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang musyrik dan memusuhi serta memerangi mereka sampai Din semuanya milik Allah. Demikian juga akan keharusan loyal kepada orang Islam, berpegang teguh dengan jamaah muslimin, yang berarti perbatasan-perbatasan palsu yang merobek-robek negeri kaum muslimin harus dilenyapkan, dan organisasiorganisasi yang memecah belah kaum muslimin harus dibubarkan. Semua itu membuat gerakan nasionalisme Taliban murtad “berbagi rasa” khawatir dengan Negara-negara salibis dan thaghut-thaghut penguasa negeri kaum muslimin.

Walhasil, pemberantasan Daulah Islamiyah menjadi proyek bersama antara Taliban dengan negara-negara kafir yang ketakutan dengan eksistensi Daulah Islamiyah di perbatasannya, sebagaimana juga AS yang menginvasi Afghanistan. Hingga tak diherankan lagi ketika Taliban mengajukan pemberantasan Daulah Islamiyah itu sebagai barang dagangan berharganya, yang tentu diinginkan oleh negara-negara kafir itu, dan harganya tentu saja membuka hubungan diplomatik dengan petinggipetinggi Taliban, dukungan politik, dan mungkin juga dukungan dana dan persenjataan.

Oleh karena itu, bukan sesuatu yang mengejutkan ketika salibis Rusia menjustifikasi hubungan terbukanya dengan Taliban dengan dalih memberantas Daulah Islamiyah. Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya dengan tersebarnya prajurit Daulah Islamiyah di dekat pusat pengaruhnya di Asia Tengah. Di saat yang sama juga mengungkapkan kesiapannya melakukan intervensi militer secara langsung untuk memberantas Daulah Islamiyah di Khurasan.

Tak diragukan lagi, sebenarnya Rusia hendak mengusir Amerika dari daerah pengaruhnya di Asia Tengah. Target itu pula yang hendak dicapai oleh China dan Iran. Namun jangan sampai kekosongan paska penarikan mundur Amerika itu diisi oleh Daulah Islamiyah. Oleh karena itu, Rusia berusaha mengeksploitasi kekosongan paska penarikan mundur Amerika, baik dengan intervensi militer langsung, yang itu cukup sulit dan mahal, atau dengan mengubah Khurasan menjadi daerah penyangga, yang dipantau sekutunya, untuk mencegah kehadiran musuh-musuhnya di daerah strategis ini. Untuk itu, Taliban adalah yang paling cocok dijadikan sekutu, karena ambisinya yang terbatas pada nasionalisme Afghanistan saja, fanatisme kesukuan dan madzhabnya, dan hubungannya yang erat dengan Iran sebagai sekutu Rusia paling dekat pada akhir-akhir ini.

Gerakan murtad ini, dengan mengajukan dirinya sebagai wakil negara-negara salib dan pemerintahan thaghut untuk memberantas Daulah Islamiyah, sejatinya hanya mengulang apa yang telah dilakukan oleh banyak organisasi dan faksi yang mengaku Islam, seperti faksi-faksi Shahwat di Iraq, Syam, dan Libya, yang dijadikan sekutu oleh Tanzhim Al-Qaeda, yang ironisnya, berbai’at kepada Taliban. Gerakan murtad ini, yang telah menipu banyak orang, pada akhirnya nasibnya tak akan lebih baik dari nasib Shahawat Iraq dan Syam dengan izin Allah. Nanti akan terbukti ketidak mampuannya mencegah serangan-serangan prajurit Khilafah, bahkan ketidak mampuannya melindungi dirinya sendiri. Ketika itulah sekutu-sekutunya akan mencari pengganti yang lebih cocok.

Maka dari itu, hendaklah prajurit-prajurit Khilafah di Khurasan terus melanjutkan serangan-serangannya pada salibis dan murtaddin. Mereka harus terus menimpakan kerugian sebesar mungkin kepada seluruh musuh-musuh Allah. Jika mereka terus menolong Allah dengan kata-kata dan aksinya, niscaya persekutuan manusia dan jin tidak akan mengalahkan mereka. Hanyasanya pertolongan itu di tangan Allah Yang Mahamulia lagi Maha Bijaksana.

WAWANCARA BERSAMA AMIR JUNUD KHILAFAH DI ASIA TIMUR, SYAIKH ABU ABDULLAH AL-MUHAJIR

RUMIYAH 10 - WAWANCARA

WAWANCARA BERSAMA AMIR JUNUD KHILAFAH DI ASIA TIMUR, SYAIKH ABU ABDULLAH AL-MUHAJIR

Amir junud Khilafah di Asia Timur menampik berbagai klaim palsu pemerintah thaghut Filipina seputar kemampuan militernya untuk memberantas mujahidin. Dia menceritakan berbagai pertempuran yang di jalani junud Daulah Islam melawan pasukan Salibis Filipina. Sejumlah pertempuran yang menjadikan para pengusung tauhid mengungguli orang-orang musyrik, kendati jumlah dan persenjataan mereka lebih banyak.

Dalam wawancaranya bersama majalah Rumiyah, Syaikh Abu Abdullah Al-Muhajir bercerita mulai dari perjalanan jihad di Asia Timur, sampai berbai’atnya para mujahidin kepada Amirul Mukminin Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi hafizhahullah, dan bergabung dengan Daulah Islam, serta penaklukan demi penaklukan yang mereka capai selepasnya.

Dia menjelaskan bahwa Front Islamis Pembebasan Moro (MILF), dengan berbagai alirannya, telah terjatuh ke dalam perangkap pemerintahan rezim Salibis Filipina yang tidak memberi mereka apa-apa kecuali janji-janji palsu, yang mana mereka meletakkan senjata mereka dalam rangka meraih itu semua. Dia juga menyingkap banyaknya pejuang yang meninggalkan gerakan tersebut, setelah mereka mengetahui kebobrokan manhaj dan kedustaan para komandannya. Kemudian sebagian besar dari mereka bergabung dengan Daulah Islam.

Melalui Rumiyah, ia menyeru kaum muslimin di seluruh dunia untuk berhijrah ke kawasan-kawasan junud Khilafah di Asia Timur, dalam rangka membela saudara-saudara mereka dan upaya menegakkan Daulah mereka. Sebagaimana dia juga menyampaikan kabar gembira tentang kedatangan muhajirin dari berbagai daerah, dan bergabungnya mereka ke dalam barisan mujahidin.

Majalah Rumiyah menyajikan untuk Anda wawancara bersama Amir Junud Khilafah Asia Timur, Syaikh Abu Abdullah Al-Muhajir hafizhahullah.

Tanya: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, dapatkah Anda menjelaskan kondisi kaum muslimin di Asia Timur?

Jawab: Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat serta salam terlimpahkan kepada Rasulullah Sang Terpercaya, juga kepada segenap keluarga dan sahabat beliau seluruhnya, dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik sampai Hari Kiamat, amma ba’du:

Kondisi kaum muslimin di Asia Timur tidak berbeda dengan kondisi saudara-saudara mereka di seluruh penjuru bumi, hidup tanpa jama’ah (Khilafah) yang menyatukan mereka, tidak ada imam yang memimpin, mereka hidup dalam kelompok-kelompok, suku-suku, organisasi-organisasi, kabilah-kabilah, terpecah-belah, dan tercerai-berai. Kaum musyrikin sangat memanfaatkan kondisi ini.

Dengan banyaknya kaum Nasrani yang tersebar luas di daerah ini di bawah pedang imperialisme Salibis, dan sokongan dari mereka, serta terus berlanjut hingga hari ini, maka menghabisi Islam di daerah ini menjadi target terang-terangan terpenting bagi orang-orang musyrik. Mereka berusaha mengintimidasi kaum muslimin dengan berbagai cara untuk memurtadkan mereka, dan memusnahkannya dari muka bumi. Semua itu menimbulkan reaksi yang baik. Orang-orang pun terbangun dari tidur mereka, mendorong mereka menenteng senjata melawan pemerintahan dan pasukan kriminal Salibis.

Dan hal itu pula yang membuat kaum musyrikin tercengang, khususnya di tengah lemahnya kemampuan mereka untuk membuat jera orang-orang yang mengaku Islam, dan menaklukkan mereka lagi. Maka kaum musyrikin terpaksa berhenti menumpahkan darah kaum muslimin, dan menghentikan ekspansi ke daerah-daerah mereka. Kemudian ambisi terbesar mereka adalah menjadikan kaum muslimin enggan berjihad. Namun hal itu tidaklah mungkin, meski berlangsung kejahatan-kejahatan Salibis, kecurangan para penipu, dan pengkhianatan para pengkhianat, orang-orang masih menyimpan senjata, mereka siap untuk memerangi orang-orang Nasrani di setiap waktu.

Di tengah atmosfer perseteruan antara ahli tauhid dan ahli syirik ini, muncullah generasi baru dari kalangan pemuda yang mempelajari tauhid, mengenal al-walaa’ wal-baraa’ , dan bertekad menegakkan hukum Allah di muka bumi, di negeri yang akan menjadi penyumbat tenggorokan orang-orang Nasrani al-muharibin (yang wajib diperangi), kaum paganis Budha, dan golongan-golongan lain dari sekte-sekte syirik seluruhnya. Namun, banyaknya kelompok, berbilangnya panji, serta banyaknya amir (pemimpin) yang menggiring manusia dari kesesatan menuju kesesatan lainnya, justru malah menjauhkan manusia dari tujuan tertinggi mereka, bahkan menjerumuskan mereka ke dalam kesyirikan dan kemurtadan, dengan berjalannya mereka menapaki jalan Ikhwanul Murtadin, masuk ke dalam demokrasi, dan loyal kepada kaum musyrikin.

Meski demikian, tersisa segelintir muwahid yang menjaga agar tidak ada hukum yang tegak di bumi ini kecuali hukum Allah saja. Mereka adalah pelopor pasukan yang berbai’at kepada Amirul Mukminin hafizhahullah, dan bergabung dengan Daulah Islam, semoga Allah memberkahi kita di dalamnya.

Tanya: Bagaimana kondisi mujahidin di Asia Timur sebelum deklarasi Khilafah? Dan buah apa yang kalian peroleh setelah bergabung ke dalam barisan Daulah Islam?

Jawab: Sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, meskipun ada dampak baik dalam menenteng senjata melawan para Salibis di wilayah kepulauan Nusantara, tetapi orang-orang di sini belum bisa melepaskan diri dari penyakit akibat faksi-faksi dan kelompok-kelompok, yang mendera setiap medan jihad, terutama sebelum kembalinya Khilafah, dan terbentuknya kembali jama’ah kaum muslimin di bawah satu komando pemimpin muslim (khalifah). Demikianlah, para pengusung kesesatan dengan segera mengeksploitasi berbagai peristiwa dan menyelewengkan manusia sehingga mau berdamai dengan para Salibis, dan bermesraan dengan mereka, demi mendapatkan sejumlah posisi di pemerintahan kafir.

Di sini, para ahli tauhid mengerahkan tenaga mereka untuk mengajarkan agama Islam kepada manusia, dan mengobarkan mereka untuk selalu berjihad sampai agama Allah tegak di bumi ini. Akan tetapi, manusia lebih cenderung kepada dunia, dan rela dengan sedikit kesenangan yang mereka dapatkan dari kaum musyrikin. Dengan jumlah pasukan dan persenjataan yang sedikit, serta minimnya manusia yang menolong, mulailah keputusasaan menyusup ke hati para pemuda. Dan sangat disayangkan, di antara mereka ada yang tidak mau berjihad, dan malah sibuk mengais rezeki dan mengurus anak-anak. Tapi di antara mereka ada juga yang berhijrah ke medan-medan jihad lain yang punya harapan besar dalam menegakkan agama Allah di muka bumi.

Di antara nikmat Allah kepada kita dan kaum muslimin di seluruh dunia adalah tatkala Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi hafizhahullah mendeklarasikan kembali Khilafah. Maka kami pun segera berbai’at kepada Amirul Mukminin, beberapa hari setelah pendeklarasiannya, demi menaati perintah Allah dan menyatukan barisan mujahidin yang tercerai-berai di daerah ini, di bawah panji Daulah Islam. Hanya saja, pengumuman bai’at ini agak terlambat beberapa waktu, sampai Allah memudahkan pengumumannya. Namun dalam proses tersebut mendatangkan banyak kebaikan bagi jihad di seluruh kepulauan Nusantara.

Terlebih lagi, banyak katibah (batalion) dan sariyah (satuan pasukan) yang bersatu di bawah panji Daulah Islam sebenarnya adalah jama’ah-jama’ah yang paling baik manhajnya, paling bersih aqidahnya, dan paling sengit memerangi orang-orang musyrik. Tidak ada bukti paling kuat selain pertempuran-pertempuran besar yang dilakoni junud Daulah Islam melawan pasukan Salibis Filipina dalam rentang dua tahun silam, meliputi di dalamnya upaya dalam menghadang kampanye militer besar, membunuh ratusan tentara Salibis, dan menyerbu banyak kota yang dikontrol para Salibis. Dengan izin Allah, kota Marawi tidak akan menjadi kota terakhir yang dikuasai oleh mujahidin.

Tanya: Bagaimana keadaan medan jihad di daerah kalian, dan mana saja daerah tempat keberadaan kalian di Asia Timur? Lalu pertempuran apa yang paling mengemuka yang dilakoni mujahidin dalam melawan pasukan pemerintahan Salibis pasca deklarasi Khilafah?

Jawab: Secara umum, kondisi mujahidin semakin lama semakin baik. Jumlah pasukan dan persenjataan semakin bertambah. Atas karunia Allah, jumlah mereka sangat besar di Pulau Mindanao, sebelah selatan Filipina, Asia Timur. Banyak muhajir yang mendatangi kami dari berbagai negara di kawasan Asia Timur, bahkan juga dari luar kawasan, segala puji bagi Allah semata.

Sejak deklarasi Khilafah, kami menjalani beberapa pertempuran di berbagai daerah di negeri ini. Di Basilan saja berlangsung lima pertempuran terpenting di antaranya adalah pertempuran yang berlangsung selama 46 hari, di mana di dalamnya disertakan helikopter, pesawat jet, dan senjata artileri yang membombardir muwahidin sepanjang siang-malam. Jumlah musuh yang tewas mencapai sekitar seratus, belum lagi yang luka-luka.

Begitu pula di kawasan strategis Ranau. Di Kota Ranau berlangsung lima pertempuran lainnya, sejak dideklarasikannya Khilafah. Salah satu pertempuran terpenting adalah pertempuran ketiga di Putij, tahun 1437 H. Pertempuran meletus setelah daerah-daerah mujahidin sepanjang siang dan malam dibombardir serangan udara oleh banyak helikopter, pesawat-pesawat jet tempur sepanjang siang, dan bombardir artileri siang-malam selama enam bulan berturut-turut. Musuh memiliki perlengkapan dan persenjataan semisal pesawat tempur, tank-tank, helikopter, dan artileri. Sedangkan mujahidin hanya memiliki semiang (sedikit) persenjataan dan jumlah pasukan, namun banyak bertawakal dan kembali kepada Allah. Meski demikian, Allah menganugerahkan mereka sehingga dapat membunuh ratusan musuh, dan menolong mereka atas musuh-musuhNya.

Sementara di Maguindanao, mujahidin berhasil memberi tekanan kepada para musuh dari kalangan Salibis congkak, atas karunia dan anugerah Allah. Secara umum, atas karunia Allah, para Salibis sungguh telah mencicipi banyak malapetaka dari kami. Kami telah berpengalaman menghadapi mereka, melalui banyak peperangan yang kami jalani melawan mereka. Kami mendapati mereka adalah para pengecut saat berlangsungnya pertempuran, meski jumlah mereka lebih banyak dan persenjataan mereka lebih hebat, tapi Allah memenangkan kami atas mereka dan kami timpakan kepedihan untuk mereka.

Tanya: Bisakah Anda bercerita tentang Front Islamis Pembebasan Moro (MILF), dan bagaimana bisa ia menandatangani kesepakatan damai dengan pemerintahan Salibis?

Jawab: Pada dasarnya, MILF terdiri dari elemen yang heterogen, tidak memiliki pandangan dan aliran sejenis. Di dalamnya terdapat banyak pribadi yang saling berseberangan, memiliki banyak cita-cita yang bertentangan. Coraknya lebih condong mengikuti Ikhwanul Murtadin. Oleh karenanya, selama empat dekade terakhir, kelompok ini mengalami banyak perpecahan. Demikian pula, kelompok ini juga dihempas perselisihan tajam seputar bagaimana ‘berdialog’ dengan pemerintahan Salibis. Ada kelompok yang sejak lama menolak aksi bersenjata, bersikukuh untuk bernegosiasi dengan pemerintah Salibis, dan rela dengan apa pun yang ditawarkan pemerintah. Sedangkan kelompok lain hanya melihat senjata merupakan satu-satunya sarana untuk mengusir pasukan Salibis Filipina dari wilayah-wilayah kaum muslimin. Para Salibis sukses memanfaatkan perselisihan ini dengan sebaik-baiknya. Kaum Salibis memberikan secuil harapan kepada kelompok yang mau menyerah, kemudian mereka memaksa kelompok yang bersikukuh berperang agar mau menerima secuil harapan tersebut.

Kemudian, mulailah para Salibis melepaskan diri memberi secuil harapan yang mereka janjikan itu. Sehingga para pemimpin MILF di berbagai kelompok menyadari bahwa para Salibis mempermainkan mereka selama bertahun-tahun. Akan tetapi, hal itu sama sekali tidak mengubah keadaan sedikit pun, karena mereka adalah orang-orang yang sudah keenakan duduk, dan rela dengan posisi semu yang mereka raih. Bahkan yang mengherankan lagi adalah mereka ikut masuk ke dalam permainan syirik demokrasi, dan ikut serta di dalamnya.

Persoalan itu, segala puji bagi Allah, membantu dalam membongkar hakikat orang-orang yang sesat lagi menyesatkan tersebut, menjauhkan para pemuda dari mereka, dan banyak di antara mereka mau bergabung kembali ke jama’ah-jama’ah jihad yang tegak di atas tauhid, dan tidak rela menggantungkan senjata selamanya. Tujuan terbuka mereka adalah penegakan hukum Allah di muka bumi. Yang terdepan dari mereka adalah jama’ah-jama’ah, katibah-katibah, dan sariyah-sariyah yang bergabung dengan Daulah Islam.

Sekarang, para komandan MILF dengan berbagai aliran dan panjinya, mereka tak berdaya di hadapan kekuasaan pemerintahan Salibis Filipina. Mereka hanya bisa mengeluhkan mengapa para Salibis melanggar janji mereka? Di saat yang sama, mereka mengklaim masih memiliki ribuan pejuang bersenjata, tetapi tidak mampu memobilisasi mereka untuk melawan para Salibis, karena takut dicap sebagai ‘teroris’.

Tanya: Media Salibis sering berbicara tentang ancaman Thaghut Filipina yang sebentar lagi akan menumpas mujahidin. Bagaimana fakta yang sebenarnya?

Jawab: Thaghut Filipina Rodrigo Duterte telah teperdaya oleh ambisinya. Dia mengira dapat memadamkan cahaya Allah dengan pernyataan-pernyataannya. Mahabenar Allah yang berfirman, “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, dan Allah akan tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.” (At-Taubah: 32)

Semenjak para penduduk negeri ini memeluk Islam, tidak pernah sehari pun orang-orang kafir berhenti merancang peperangan melawan mereka. Betapa tidak, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, dan menang atas orang-orang yang melawan mereka hingga generasi terakhir mereka kelak memerangi Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Lantas, apakah thaghut ini telah berhasil menumpas para mujahidin dan melenyapkan mereka dari peta? Ataukah justru para mujahidin semakin bertambah banyak dan semakin kuat dari waktu ke waktu dengan izin Rabb mereka? Jadi, demi Allah, mereka tidak akan mampu memadamkan cahaya Allah, karena Allah telah berjanji kepada kita bahwa Dia akan menyempurnakan cahaya Nya dan memenangkan agamaNya. Allah berfirman, “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar Dia memenangkannya atas semua agama, meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (At-Taubah: 33)

Tanya: Adakah pihak lain yang ikut terlibat bersama para thaghut memerangi balatentara Khilafah di Asia Timur? Apakah ada para thaghut di kawasan sekitar atau yang lainnya berpartisipasi dalam hal ini?

Jawab : Ya, ada pihak lain yang berpartisipasi dalam hal itu, bahkan mereka senantiasa menunggu dan memantau kabar tentang para mujahidin di sini. Di antara mereka adalah Rusia dan Amerika Serikat (AS), padahal keduanya sedang sibuk dengan penderitaan dan kekalahan mereka di Iraq dan Syam.

Tanya: Apakah sampai saat ini kalian masih menyambut muhajirin? Adakah jalan untuk bergabung dengan kalian?

Jawab: Ya, alhamdulillah. Kami masih menyambut muhajirin dan menerima mereka. Ada beberapa cara dan jalan yang relatif aman untuk berhijrah. Tetapi, setiap orang yang ingin berangkat harus mengupayakan berbagai faktor (sebab) untuk itu, disertai niat ikhlas dan berdoa sungguh-sungguh kepada Allah agar memudahkan hijrahnya, dan mengantarkannya ke sejumlah medan ribath dan perang, demi menggapai Ridha Rabb Yang Mahapengasih.

Tanya: Apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada para Salibis secara umum, dan mereka yang berada di Asia Timur secara khusus?

Jawab: Pesan saya untuk para Salibis, saya katakan,

Wahai para Salibis, bergembiralah dengan apa yang membuat kalian sengsara, karena sesungguhnya balatentara Daulah Islam di Timur Asia akan terus menapaki jalan mereka, sampai Allah menggoncang singgasana kalian di Washington dan Moskow, dengan kemuliaan orang yang mulia atau kehinaan orang yang hina. Kemuliaan yang mana Allah memuliakan Islam dengannya, dan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekafiran, baik kalian suka maupun tidak. Kekuasaan umat kami akan membentang sejauh yang bisa dijangkau oleh waktu siang dan malam, dengan izin Rabb kami yang Mahapengasih. Masuk Islamlah kalian, atau kalian membayar jizyah dengan patuh sedang kalian dalam keadaan tunduk, atau bersiaplah kalian, karena sesungguhnya kami akan memerangi kalian setelah agresi kalian ini, insya Allah, dan kalian akan mendapati kami sebagai orang yang sabar, menang, dan menguasai dengan izin Allah.

Tanya: Apa pesan Anda untuk para muwahid di seluruh dunia secara umum, dan di Asia Timur secara khusus?

Jawab: Wahai para muwahid di seluruh penjuru dunia, negara kalian telah tegak sebagaimana telah disebutkan Nabi kalian, dan negara kalian telah datang sebagaimana yang beliau terangkan kepada kalian. Dan sungguh tanpa ragu, ini adalah Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwah (Khilafah Di Atas Manhaj Kenabian).

Waspadalah, jangan sampai khilafah ini diserang karena kelalaian kalian selama mata kalian masih bisa berkedip dan urat nadi kalian masih bisa berdenyut. Juallah ‘barang dagangan’ kalian kepada Allah dengan harga murah, dan niatkan amal kalian dengan ikhlas karena Allah, sehingga membuat malaikat bangga dan membuat geram para setan dari kalangan manusia maupun jin.

Beritahukan kepada para Salibis, bahwa telah dekat waktu kematian mereka dan telah tiba waktu peradilan mereka disebabkan mereka menyekutukan Allah, membantai dan mengusir kaum muslimin yang lemah di seluruh penjuru dunia, serta merampas kehormatan dan harta-benda umat Islam.

Dan kabarkan kepada mereka bahwa tempat ditunaikannya janji kita adalah di Washington dan Moskow. Kabar sebenarnya adalah yang akan mereka lihat, bukan yang akan mereka dengar, dengan izin Allah Ta’ala.

ABU SABAH AL-MUHAJIR

RUMIYAH 10 - SYUHADA

ABU SABAH AL-MUHAJIR

Seorang pemuda dari Malaysia, teguh dan tetap bersabar dalam derap jihad sampai merengkuh anugerah syahadah (kesyahidan) –demikianlah kami menilainya dan Allah-lah sebaik-baik penilai. Di tengah kawan-kawannya, pemuda dengan sikap tawadhu dan tidak cinta dunia ini adalah sosok hamba yang rajin mengerjakan ibadah, shalat tahajud , shaum, membaca al-Qur’an, menghafal, juga mentadaburinya. Demikianlah dia beramal dan seperti itulah karakter dirinya dalam kehidupan sehari-hari di bumi jihad. Dia sangat gemar membantu rekan-rekannya, baik di dapur dan di seluruh tempat. Dia tidak pernah lupa berdzikir kepada Allah di setiap waktu, inilah amalannya sampai kematian syahid menjemputnya. Kebaikan akhlak dan kelembutannya kepada kaum muslmin menjadikannya dicintai oleh teman-temannya. Kebengisan, permusuhan, dan kebenciannya terhadap kuffar membuatnya dicari-cari musuh. Tekad kuatnya menggentarkan barisan para pendosa, yaitu para aparatur pemerintahan thaghut di negaranya.

Tatkala mendengar seruan jihad, ia bersegera menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya dan berhijrah ke negeri Filipina pada tahun 2006 dan bergabung dengan barisan mujahidin Harakah Islamiyah “Abu Sayaf” yang kala itu berada di bawah kepemimpinan Syaikh al-Kadafi Janjalani taqabbalahullah, bersama sejumlah ikhwah dari Indonesia dan Malaysia. Setelah berjihad bersama mereka selama beberapa waktu, dia kemudian dia kembali ke negaranya, tepatnya ke tempat kelahirannya di kota Sabah, dengan membawa aqidah jihad dan bertekad untuk membuka front jihad di sana. Akan tetapi Allah berkehendak sesuai yang Dia inginkan, Abu Shabah ditangkap thaghut Malaysia. Sang singa pun mendekam di penjara selama dua tahun dengan tetap teguh dan bersabar, meski tipu daya musuh dan makar mereka, baik dari kalangan ulama durjana yang menyeru kepada pintu Jahannam dan meninggalkan jalan jihad yang bercahaya, pun para penggembos yang dulunya menempuh jalan jihad kemudian mereka membelot dan berbalik ke belakang. Abu Shabah tetap bersabar dan teguh. Makar para musuh dan penyiksaan mereka terhadapnya semakin menambah keimanan dan keyakinan.

Di penjara, dia habiskan waktunya untuk ibadah dan menuntut ilmu dari ikhwah mujahidin yang di penjara bersamanya, dan saling menasehati dengan kesabaran dan keteguhan antar mereka. Dia selalu meminta kepada Allah agar dikembalikan ke barisan mujahidin.

Pada tahun 2008, Abu Shabah bebas dari penjara, namun pemerintahan Malaysia masih terus mengintainya ke mana pun dia berada. Meski demikian, dia tidak pernah melemah dan putus asa untuk bergabung dengan barisan mujahidin. Sampai Allah mengaruniakannya nikmat hijrah untuk kedua kalinya ke negeri Filipina pada tahun 2011.

Sesampainya di negeri jihad di Filipina, pemerintahan Malaysia pun kebakaran jenggot. Mereka langsung bekerja sama dengan pemerintahan Filipina untuk memerangi muhajirin dan mujahidin di sana. Meski tekanan kuffar yang dihadapi mujahidin sangat dahsyat, namun mereka tetap bersabar dan yakin akan janji Allah. Semua itu tidak menambah mereka kecuali rasa cinta kepada mujahidin dan permusuhan mereka terhadap orang-orang kafir.

Setelah berlalu waktu yang panjang dalam jihad, ujian dan cobaan, kabar gembira datang kepada mereka dengan tegakknya Daulah Islamiyah. Hal tersebut merupakan impian dan harapan yang telah Allah wujudkan untuk kaum muslimin. Khilafah yang sejak beberapa zaman telah hilang, dan dinanti-nanti oleh Abu Shabah dan rekan-rekan mujahidinnya di negeri Filipina, juga negeri-negeri lainnya. Dia pun segera bergabung dengan kafilah penuh berkah. Dia segera berbai’at kepada Khalifah Abu Bakar Al-Baghdadi bersama rekan-rekan mujahidin-Nya dari kalangan Anshar dan Muhajirin pada tahun 2014.

Setelah pemerintahan Salibis mengetahui kelompok kecil tersebut, dan menyadari adanya balatentara Khilafah berada di daerah itu, pemerintahan pun memeranginya dengan tujuan membasminya sampai ke akar-akarnya dan memadamkan cahayanya. Namun, Abu Shabah dan mujahidin tetap teguh dan sabar dalam menjalankan ikrar bai’atnya kepada Khilafah, tidak mundur dan tidak goyah. Dia selalu menasehati saudara-saudaranya untuk tetap sabar dan teguh di atas ujian dan cobaan, agar meninggalkan dunia dan mencintai akhirat. Allah pun menguji mereka dengan ujian yang baik. Sampai sebagain ikhwah terbunuh dan menemui ajalnya, sebagian lainnya masih menanti tanpa mengubah atau mengganti janji, meski dahsyatnya tipu daya musuh dan makar dari kalangan Salibis, kuffar, dan munafikin.

Abu Shabah mengikuti banyak peperangan di Filipina, di antaranya adalah peperangan di pulau Jolo Sulu, peperangan di distrik Maguindanao dan peperangan di pulau Basilan. Dia juga tidak lupa untuk menyeru ikhwah mujahidin agar bersatu di bawah satu panji, yaitu panji Khilafah. Demi hal itu, pada tahun 2016, bersama dengan muhajirin dari Malaysia dan Indonesia, Abu Shabah mendirikan batalion bernama Katibah Muhajirin. Dia berbai’at untuk kedua kalinya kepada Khalifah kaum muslimin, kemudian bergabung dalam barisan mujahidin di bawah satu komando amir yang dipilih oleh Daulah Islamiyah, yaitu Syaikh Abu Abdullah Al-Basilani hafizhahullah.

Pada bulan Syawal 1437 H pertempuran sengit berlangsung antara balatentara Ar-Rahman dan tentara Syaitan di pulau Basilan. Peperangan ini berlangsung selama sebulan penuh dibawah komando Syaikh Abu Abdullah. Pada satu hari, sebagaimana biasanya Abu Shabah bangun dengan cepat. Dia menuju dapur guna menyiapkan makanan untuk ikhwah. Tatkala makanan sudah siap, tiba-tiba dia mendengar suara kapal. Ternyata itu adalah kapal tempur jenis OVI – 10. Kapal tersebut menuju kamp militer mereka, maka dia bersegera mempersiapkan diri, mengambil senjatanya dan berangkat menuju musuhnya bak singa yang akan menerjang buruannya. Kemudian dia bertakbir dan menyerang kapal tersebut. Peperangan berlangsung sengit, namun Allah menunaikan takdir-Nya, kapal menembakkan mortirnya dan meledak di dekat lokasinya. Sang singa pun terjatuh. Tatkala saudara-saudaranya melihat hal itu, mereka bersegera menujunya untuk memberikan pertolongan darurat, namun dia telah berpindah ke tempat tertinggi, menuju tempat keabadian, meninggalkan dunia yang fana ini. Dia gugur syahid sebulan setelah pernikahannya. Allah telah menjadikan kematiannya sebagai api bagi musyrikin dan cahaya bagi mujahidin.

PENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH, ANTARA MANHAJ NABAWIYAH DAN YANG MENYIMPANG (BAGIAN 4)

RUMIYAH 10 - ARTIKEL

PENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH, ANTARA MANHAJ NABAWIYAH DAN YANG MENYIMPANG (BAGIAN 4) RAFIDHAH, REVISI DEMI REVISI AJARAN SESATNYA

RAFIDHAH ITSNA ASYARIYAH: DARI IMAM FIKTIF SAMPAI WALA KEPADA THAGHUT

Pada seri sebelumnya telah kita bicarakan sekilas mengenai perkembangan agama Rafidhah berdasarkan doktrin imamah ilahiyah bathilnya dan cabang-cabangnya berupa doktrin wasiyat, nash, taqiyah, al-bada, al-ghaibah (tak hadir), ar-raj’ah (reinkarnasi/ hidup kembali) dan berbagai ilusi serta bid’ah mukaffirah lainnya.

Pada tulisan ini kita akan berusaha –dengan izin Allah– untuk menjelaskan bagaimana akhirnya Rafidhah terpaksa berinovasi dengan doktrin imamah ilahiyah yang mereka tancapkan sebagai prasyarat tegaknya Daulah Islamiyah. Revisi demi revisi terpaksa ditambahkan sampai akhirnya terbentuk teologi wilayatul faqih yang membongkar sama sekali teologi pertama mereka. Pada teologi inilah negara syirik Iran pada hari ini didirikan dan berusaha menyebarkannya ke seluruh negeri-negeri kaum muslimin.

Berlawanan dengan klaim Rafidhah bahwa agama mereka adalah wahyu dari langit yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan terus berlanjut bersambung sampai kepada mereka melalui Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhadan anak cucunya hingga dituliskan dalam kitab-kitab dan tersebar di antara manusia, mayoritas peneliti menegaskan bahwa agama ini sejatinya hasil tulisan ulama-ulama Rafidhah setelah meninggalnya anak cucu Ali, yang mereka klaim sebagai para imam maksum, agar agama yang telah tercabik-cabik dan hancur lebur bangunannya ini tetap eksis. Khususnya setelah menghilangnya imam ke dua belas, yang mereka ciptakan sendiri itu. Masa-masa setelahnya mereka sebut sebagai masa al-ghaibah (tak hadir).

Bagi Rafidhah, syarat mutlak imamah adalah maksum dan ada teks ilahiyah mengenai pengangkatannya. Oleh karena itu, semua khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mulai dari Abu Bakar ash-shiddiq adalah tidak sah. Menentang, memberontak, dan bahkan mengkafirkan para khalifah Rasul adalah sah. Lebih jauh lagi, mereka memaksa kaum muslimin umumnya untuk masuk dalam agama Rafidhah dan membai’at imam mereka sebagai syarat mutlak agar sah “label” islamnya.

Inovasi terpenting mereka adalah persoalan imamah. Mereka jadikan imamah sebagai prinsip mendasar agama. Barangsiapa yang tidak mengenal dan membai’at imam masanya maka ia tidak beriman. Sehingga mereka sendiripun saling berselisih mengenai apakah sebagian sahabat-sahabat imam-imam mereka yang mati pada masa-masa penentuan imam yang sah itu dianggap beriman?

Pengikut agama mereka lalu lebih ditekan lagi. Semua hal yang berhubungan dengan jabatan imamah, seperti peradilan, pelaksanaan hudud, hisbah, jihad, shalat jum’at, dan lainnya, harus berdasarkan teks ilahi. Tidak absah jika dilakukan oleh selain imam atau orang yang ditunjuk oleh imam. Mereka juga mengharamkan pengikutnya untuk saling berhakim kepada para “imam lalim”, berperang di belakangnya, melaksanakan shalat jum’at bersamanya, atau menunaikan zakat padanya.

Bahkan syari’at Din juga tak lepas dari tangan-tangan kotor mereka. Mereka larang pengikutnya mengambil langsung dari Kitabullah atau Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Syari’at-syari’at Din harus diambil melalui jalur imam-imam mereka saja. Mereka mengklaim bahwa kata-kata imam mereka adalah al-Qur’an an-nathiq (al-Qur’an yang hidup) berlawanan dengan yang mereka sebut sebagai al-Qur’an ash-shamit (al-Qur’an yang diam) yang berada di dada-dada dan mushaf-mushaf kaum muslimin.

Mereka juga mengingkari bahwa tasyri’ (penyusunan hukum. Penj.) telah berhenti semenjak meninggalnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka mengklaim bahwa beliau memberi tahu ahli baitnya banyak hukum yang semasa hidupnya belum perlu dikeluarkan. Mereka juga mengklaim bahwa semua kata-kata dan tindakan para imam bersumber dari ilmu nubuwwah yang diwarisinya. Bahkan lebih jauh lagi, mereka mengklaim para imam itu mendapat wahyu dari Allah ta’ala. Sehingga kata-kata para imam itu tak lebih dari wahyu belaka. Mereka menggolongkannya sebagai sunnah dalam bab Ushul Fiqh. Walhasil, mereka melarang ijtihad dalam agama. Siapapun yang berani berfatwa selain para imam dianggapnya sebagai thaghut yang mencanangkan syari’at dan berhakim dengan selain yang diturunkan Allah.

Mereka tidak hanya membatasi tafsir Kitabullah dan Sunnah dengan pendapat-pendapat, klaimnya, para imam, dan menakwilkan nash-nash dua wahyu dengan takwil-takwil “miring”, bahkan lidah-lidah pendosa mereka juga mendustakan dan mengubah-ubah nashnash tersebut. Tidak ada sunnah yang shahih kecuali jika sesuai dengan madzhab mereka, berdasarkan ucapan atas nama Ja’far ash-Shadiq, “Apa yang menyelisihi orang-orang umumnya itulah yang benar.” Orang-orang umum-nya itu maksudnya ahlus sunnah wal jamaah. Mereka juga, bahkan, mendustakan keabsahan al-Qur’an al-Karim. Mereka mengklaim para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengubah-ubah ayat-ayatnya, menghapus nash jelas mengenai imamah Ali radhiyallahu ‘anha dan membuang laknat-laknat atas Abu Bakar, Umar, dan Bani Umayah. Yang penting semua hal yang tidak sesuai dengan madzhab bathil dan millah kafir mereka. Mereka juga mengklaim para imam memiliki mushaf selain dari mushaf yang dimiliki oleh orang-orang. Walhasil, mereka memonopoli dua wahyu setelah sebelumnya mereka juga memonopoli takwilnya dan keterangan hukum-hukumnya.

Tak cukup mereka membatasi agama manusia pada para imam, dunia mereka juga diikat. Syirik ibadah disebarkan di kalangan pengikutnya. Mereka menyeru pengikutnya untuk meminta tolong pada para imam dan juru dakwahnya, mendekatkan diri dengan sembelihan dan nadzar, dan mencari berkah dengan kuburannya serta semua bekas-bekasnya. Agar dengan itu lancar rezekinya, disembuhkan dari sakit, dan diberi keturunan, demikian klaimnya. Semua itu dalam lingkup kampanye total untuk menggiring dan mengikat manusia masuk dalam madzhabnya.

Apa yang telah kita sebutkan mengenai bagaimana mereka membangun seluruh sendi-sendi agamanya itu di atas prinsip imamah itu sudah cukup. Contoh-contoh yang ada tak perlu ditambahkan lagi untuk memperjelas maksud. Meskipun agama mitos inovatif mereka itu penuh dengan kisah-kisah mencengangkan seperti ini.

Dari Imamah Ilahiyah Ke Perwakilan Imam

Rafidhah tak pernah malu untuk terus merevisi teologi imamah mereka berkali-kali selama lebih kurang dua abad. Namun peristiwa paling membingungkan adalah ketika Imam Kesebelas mereka Hasan al-Askari bin Ali al-Hadi mati pada pertengahan abad ketiga hijriyah tanpa meninggalkan keturunan. Demi menyelamatkan teologi mereka itu, diciptakanlah kisah lahirnya anak Hasan al-Askari dari seorang budak Romawi. Mereka mengklaim ibunya menyembunyikannya untuk melindunginya dari penguasa sampai ia dewasa. Kemudian kisah itu direvisi bahwa musuh-musuhnya berhasil menemukannya ketika ia masih kecil, maka ia terpaksa bersembunyi di sebuah gudang bawah tanah di kota Samarra, Iraq.

Ketika ia tak muncul-muncul juga, dan pengikutnya terus menanyakan dan menuntut untuk melihatnya agar bisa mengambil agama darinya, para dajjal pendusta itu mengklaim bahwa sang imam tak terlihat dalam pandangan mata manusia biasa. Hanya wakilnya yang bisa mengetahuinya, yaitu Utsman bin Sa’id al-Umari. Si dajjal ini memperlihatkan sebuah surat yang diklaimnya tulisan tangan “al-Mahdi” mengenai pengangkatan dirinya sebagai wakilnya untuk menjawab pertanyaan manusia, menyampaikan ilmu sang imam, dan menerima harta seperlima (khumus). Yang terakhir ini paling penting, sebagaimana akan kita lihat nanti.

Bersamaan dengan munculnya wakil-wakil dari Imam Keduabelas mereka Muhammad al-Mahdi bin Hasan al-Askari, bagi Rafidhah masa dua belas imam telah selesai dan dimulailah masa ghaibah. Tahapan ini dinamakan al-ghaibah as-shughra (masa tak hadir pertama). Ditandai dengan munculnya wakil-wakil sang imam, yang sekaligus menggantikannya, sehingga teologi bathil dan prinsip rusak thaghut Rafidhah terus eksis. Tahapan al-ghaibah as-shughra ini berlangsung selama lebih kurang 70 tahun. Ada empat wakil imam yang silih berganti. Yang paling penting setelah al-Umari adalah putranya, Muhammad (kita perhatikan bahwa jabatan wakil imam ini juga diwariskan layaknya jabatan imamah), yang menjabat selama 40 tahun. Lalu digantikan oleh Hasan an-Nubikhti. Kemudian Ali al-Masiri. Dengan matinya yang terakhir ini, pada tahun 329 H, berakhir jugalah masa ini. Khususnya, ketika ia mati, mereka merasa bahwa kisah al-ghaibah as-shughra dan imam yang berada di tempat tersembunyi itu tidak akan dipercaya lagi oleh seorangpun setelah habisnya umur rata-rata manusia.

Dengan ini dimulailah masa al-ghaibah al-kubra (masa tak hadir tak tentu). Mereka melarang seorangpun pengikutnya bertanya-tanya mengenai persoalan ini, atau dimanakah sang imam dan kapan munculnya. Masa ini dimulai sejak waktu tersebut sampai masa kita ini. Sehingga selama lebih kurang 1000 tahun, Rafidhah hidup tanpa ada seorangpun imam yang muncul. Mulailah para pendeta Rafidhah memalsukan hadits atas nama para imam. Bermacam-macam usaha mereka demi mencari jalan keluar dari labirin al-ghaibah ini. Tak diragukan lagi bahwa teologi wilayatul faqih di Iran saat ini adalah inovasi yang paling cemerlang. Oleh karena itu, kita dapati mereka pada masa ini banyak membicarakan mengenai masa muncul kembali, yakni munculnya al-Mahdi yang ditunggu-tunggu. Yaitu untuk menegakkan Daulah Islamiyah yang adil, membalas dendam pada musuh-musuh ahlul bait (maksudnya ahlus sunnah wal jamaah), dan memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya penuh dengan kekafiran dan kelaliman, demikianlah klaimnya.

Seribu Tahun Kebingungan

Thaghut-thaghut Rafidhah itu terperangkap sendiri dalam jebakan imamah ilahiyah yang mereka pasang untuk kaum muslimin. Simpul dan rantai yang mereka gunakan untuk mengikat manusia ternyata mulai menjerat tangan dan leher mereka sendiri. Mereka sendiri yang membatasi bahwa imam-lah yang berhak membuat syari’at, berijtihad, menetapkan hukum, menegakkan hudud, berperang, mengambil harta seperlima, dan mengumpulkan zakat. Mereka melarang siapapun melaksanakan hal-hal tersebut sedikitpun. Namun ternyata mereka sendiri pun terhalangi dari hal-hal tersebut. Akibat dari tak hadirnya sang imam, dan mustahil mengangkat imam lagi setelahnya, karena mereka telah menutup sendiri rangkaian dua belas imam itu.

Mengklaim diri sebagai wakil sang imam juga amat sulit. Akan ada banyak orang yang menginginkan dan berusaha mengklaim posisi tersebut karena kebebasan dan harta yang bakal didapatkan. Faktanya, selama masa empat wakil itu, yang diterima oleh seluruh kalangan Rafidhah, lebih dari 30 orang telah mengaku sebagai wakil sang imam agar bisa mengumpulkan harta seperlima (khumus) dan zakat atas nama sang imam. Maka dari itu, harus ada inovasi baru untuk terus mempertahankan agama Rafidhah, dan mengembangkan teologi imamah ilahiyah.

Demikianlah aqidah Rafidhah terus mengalami kegoncangan pada masa ini. Mayoritas pengikutnya keluar dari agama bathil ini karena banyak terdapat kontradiksi. Seluruh sendi agama dan dunianya terbatasi pada seorang imam, padahal sang imam itu takwujud kecuali dalam cerita-cerita mitos dan legenda. Salah satu thaghut pendusta mereka, yang disebut as-Shadhuq (yang teramat jujur), menggambarkan kondisi Rafidhah pada awal mula masa al-ghaibah al-kubra, yang mereka sebut sebagai masa kebingungan, dengan ucapannya, “Mayoritas orang-orang Syiah yang menentangku itu kebingungan dengan al-ghaibah ini. Bagi mereka, perkara al-Qaim (maksudnya Muhammad al-Mahdi) itu sudah tidak jelas.”

Thaghut lainnya berujar, yaitu an-Nu’mani, “Kebingungan apa lagi yang lebih besar daripada kebingungan ini yang menggelisahkan sejumlah besar orang-orang ini, sehingga tidak ada yang bertahan kecuali sedikit, lantaran keraguan yang menghinggapi?”

Tauqifi dan Haraki

Perkembangan terpenting dalam teologi imamah ilahiyah selama masa ini adalah sebuah inovasi teologis baru yang disebut al-intizhar (menunggu, yakni menunggu sang imam muncul kembali. Penj.). Ternyata kemudian mereka juga saling berdebat bagaimana takwilnya. Akhirnya bercabang menjadi dua gerakan utama. Tauqifi, yang berarti diam bersembunyi di balik topeng taqiyah sampai kembalinya sang imam yang tak hadir, dan haraki, yang berarti harus tetap bergerak mempersiapkan kondisi demi kembalinya sang imam. Kekuatan dan kekuasaan harus diraih, musuh-musuh yang membuat sang imam takut harus dienyahkan, sehingga memungkinkan bagi sang imam untuk muncul ke khalayak sebagai penguasa dan menegakkan agama.

Gerakan pertama, tauqifi, amat keras mengharamkan gerakan apapun atau mengikuti siapapun yang keluar pada masa al-ghaibah atas nama menegakkan Daulah Islamiyah dan mengembalikan kekuasaan ahlul bait. Mereka beralasan dengan ucapan Muhammad al-Baqir, “Semua panji yang diangkat sebelum munculnya panji al-Mahdi, maka pendukungnya adalah thaghut yang diibadahi selain Allah, dan semua bai’at yang dilaksanakan sebelum munculnya al-Qaim (al-Mahdi) maka merupakan bai’at tipuan, kufur, dan nifak.”

Metode Ikhbari menjadi tren di kalangan pengikut gerakan ini. Metode ini mereka serupakan dengan metode ahli hadits. Para ulama metode ini dilarang berijtihad, orang-orang bodoh-nya dilarang bertaklid, semuanya diperintahkan untuk berpegang dengan atsar-atsar para imam saja. Dalam rangka hal itu, mereka berani berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ahli baitnya, bahkan atas nama al-Mahdi mereka yang tak hadir itu. Bisa dikatakan bahwa mayoritas “kreatifitas” dalam agama Rafidhah berupa kisah-kisah dusta, bid’ah, takhayul, celaan atas Islam dan kaum muslimin, serta atas al-Qur’an dan penghafalnya adalah hasil tangan-tangan busuk ikhbari ini. Bahkan mereka menulis ulang sejarah masa-masa lampau agar sesuai dengan hawa nafsu dan keyakinannya. Rafidhah, khususnya orang-orang ikhbari ini, tidak cukup hanya dengan membangun agamanya di atas prinsip rusak imamah ilahiyah, mereka juga menulis ulang sejarah manusia, dan bahkan masa depan, agar sesuai dengan teologi bathil mereka.

Berdasarkan hal itu, pendukung gerakan tauqifi ini selalu bersikap negatif terhadap semua negara yang didirikan oleh Rafidhah sepanjang sejarahnya. Mereka menolak keabsahannya berdasarkan teologi wasiat, nash, kemaksuman, intizhar (menunggu), dan lainnya. Bagi mereka, penguasa negara-negara itu tidak memenuhi syarat-syarat doktrin-doktrin itu sekalipun beriman dengan agama Rafidhah, dan meyakini harus menunggu al-Mahdi. Sekalipun seluruh faktor penghalang yang menjadi justifikasi tak hadir-nya sang imam itu berhasil dihilangkan, dan ketika raja-raja negara-negara itu menghadap kepada thaghut-thaghut Rafidhah menuntut munculnya al-Mahdi untuk menerima tongkat kekuasaan, mereka tetap menolaknya, beralasan bahwa ada tanda-tanda kemunculannya yang belum lagi tampak.

Adapun pendukung gerakan kedua, mereka tidak menerima kejumudan intizhar. Sekalipun mereka beriman bahwa tidak ada imam kecuali dengan kemunculan al-Mahdi, sebagai konsekuensi teologi imamah ilahiyah dan syarat-syarat bathilnya, lemahnya doktrin-doktrin bid’ah dan kisah-kisah khayalan itu membuat mereka jengah. Maka mereka terpaksa bergerak, di bawah tekanan pengikutnya, untuk membebaskan diri dari jerat kejumudan intizhar. Dengan mengeksploitasi rasionalitas sesat, prinsip-prinsip talaqqi, ijtihad, dan perdebatan ala Mu’tazilah, sedikit demi sedikit para thaghut Rafidhah itu mampu membuka jalan. Mereka disebut sebagai ushuli. Pintu ijtihad akhirnya terbuka sedikit demi sedikit. Mereka mulai mendapatkan pengikut. Mereka berusaha melaksanakan kembali ibadah-ibadah, yang dipandang batal oleh pengikut tauqifi selama masa al-ghaibah, seperti shalat jum’at, hisbah, perang, penegakkan hudud, dan bahkan imamah itu sendiri. Tentu saja semuanya berdasarkan agama Rafidhah, bukan berdasarkan Dinul Islam.

Doktrin Niyabatul Faqih

Akhirnya thaghut-thaghut ushuli berhasil membuka lebar-lebar pintu ijtihad. Gembok imamah ilahiyah yang mengunci pintu itu berhasil dibongkarnya. Jerat yang dipasang oleh thaghut-thaghut ikhbari berhasil diuraikannya. Jerat yang berhubungan dengan doktrin bahwa semua ilmu selain ilmu para nabi dan para imam adalah ilmu zhanni dan tidak boleh diamalkan. Mereka menciptakan doktrin baru, yaitu perwakilan umum fuqaha atas al-Mahdi. Doktrin ini didasarkan atas takwil kata-kata salah satu imam yang membolehkan menaati siapapun yang mengerti pendapat-pendapat para imam. Maka sejatinya, pada sisi ini, para fuqaha itu adalah tak lebih dari wakil al-Mahdi. Ia, al-Mahdi, adalah mentor spiritual yang membimbing dan mencegah mereka dari kesalahan, berdasarkan atas doktrin al-luthfu ala Mu’tazilah. Bahkan ia, al-Mahdi, muncul ketika kondisi mendesaknya, untuk mencegah mereka bersepakat atas suatu kesalahan, dalam bentuk kata-kata yang dilontarkan lewat salah satu mulut para fuqaha itu.

Namun sejatinya doktrin niyabatul faqih ini dibentuk untuk memecahkan peliknya persoalan penerimaan harta seperlima yang harus ditunaikan kepada para imam. Harta seperlima ini tak pernah ditunaikan lagi sejak menghilangnya sang imam. Maka untuk mengalirkan kembali sumber pendapatan itu para thaghut Rafidhah menjustifikasi diri mereka sendiri untuk menerima harta tersebut. Dengan alasan bahwa harta itu akan disimpan dan diberikan kepada al-Mahdi ketika ia keluar, atau mewakilinya dalam memanfaatkan harta itu untuk kepentingan ahlul bait, menyebarkan agama, atau menguatkan pengikut, demikian klaimnya. Ketika akhirnya mereka bisa mewakili sang imam yang ghaib dalam persoalan seperlima ini, maka sedikit demi sedikit para thaghut Rafidhah itu menjustifikasi diri mereka untuk mewakili sang imam dalam semua hal. Sampai salah seorang pendukung gagasan ini, yaitu al- Karki, berujar, “Sesungguhnya faqih yang terpecaya, yang memiliki seluruh syarat mufti, sesungguhnya ia diangkat oleh Imam Mahdi.”

Demikianlah para thaghut Rafidhah mulai mengambil alih posisi para imam. Sedikit demi sedikit mereka semakin serupa dengan para imam. Mereka memonopoli seluruh hak imam seperti tasyri’ (perundang-undangan), ijtihad, peradilan, dan kepemimpinan. Mereka mulai mengeksploitasi doktrin niyabatul faqih untuk menekan penguasa agar mendapatkan restu mereka jika ingin kekuasaannya sah, jika tidak maka label thaghut musyrik akan ditempelkan. Persis seperti tingkah para paus Kristen yang pada masa lemahnya mensyaratkan pada raja-raja Eropa untuk mendapatkan restu mereka agar kekuasaannya sah, beralasan bahwa mereka-lah wakil Isa ‘alahis salam.

Dari Niyabatul Faqih ke Wilayatul Faqih

Mungkin Daulah Shafawiyah adalah negara Rafidhah pertama medan uji coba para thaghut Rafidhah mempraktekkan kekuasaan mereka sebagai para wakil al-Mahdi. Ketika itu Thahmasib bin Isma’il ash-Shafawi meminta restu kepada al-Karki, sebagai wakil al-Mahdi, agar mensahkan kekuasaannya atas negeri Persia. Sehingga ia mendapat legitimasi di mata orang-orang Rafidhah, yang ketika itu ia berusaha mendapatkan dukungan mereka atas orang-orang Utsmani. Demikian juga kedudukannya menjadi kuat di mata sekutu dan prajuritnya kalangan Qozlabasyiyah Bathiniyah.

Namun syarat restu dari para wakil al-Mahdi ini tidak dianggap sebagai undang-undang tetap. Pertama karena para raja tidak menyukainya, dan kedua karena doktrin ini mendapat penentangan keras dari orang-orang ikhbari. Mereka tidak menyerah kepada para ushuli, dan tidak menerima doktrin pengangkatan oleh al-Mahdi. Meskipun demikian, kekuasaan thaghut-thaghut Rafidhah itu semakin meningkat di antara pengikutnya. Sehingga mereka memiliki kekuatan yang bisa digunakan untuk menekan penguasa, sebagaimana terjadi atas penguasa-penguasa Qojari hingga akhir masa kekuasaannya. Lantaran hubungan tak manis antara thaghut-thaghut Rafidhah dengan penguasa, muncullah pandangan kuat bahwa kekuasaan harus berada di tangan mereka langsung, kemudian setelah itu mereka bisa menyerahkan sebagiannya pada siapapun yang dikehendaki. Karena jika mereka saling berbagi kuasa dengan para penguasa, yang mereka dapatkan hanyalah kekuasaan pada persoalan keagamaan saja.

Demikianlah, setelah Rafidhah merasa disempitkan dengan doktrin imamah ilahiyah, al-ghaibah, dan intizhar, mereka mulai berseru malu-malu bahwa doktrin-doktrin ini harus ditinjau ulang, atau paling tidak harus ada celah yang memperbolehkan mereka mendirikan negara dan pemerintahan, peradilan, menjaga perbatasan, menegakkan hudud, dan mengumpulkan khumus (seperlima) serta zakat. Semua itu tidak lepas dari kehidupan kemasyarakatan mereka. Maka berkembanglah pemikiran untuk menciptakan doktrin baru, yang negara terakhir mereka ini –dengan izin Allah– di bangun di atasnya. Yaitu negara syirik Iran yang diperangi oleh Daulah Islamiyah saat ini, dan doktrin baru itu adalah wilayatul faqih.

Pada bagian berikutnya kita akan berusaha –dengan izin Allah– untuk membicarakan mengenai doktrin baru ini dan fakta penerapannya oleh thaghut Iran. Kita memohon kepada Allah agar berkenan mengajari kita semua hal yang bermanfaat, dan kita mendapat manfaat dari apa yang diajarkan-Nya, serta menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin.

JADILAH PENGUAT, BUKAN PENGGEMBOS

RUMIYAH 10 - MUSLIMAH

JADILAH PENGUAT, BUKAN PENGGEMBOS

Dalam kondisi perang, fitnah dan kesusahan, kegelisahan bertambah, dan hati menyesak hingga kerongkongan, di antara manusia ada orang yang Allah teguhkan sebab keimanan dan persangkaan baik mereka kepada Allah. Dan di antara mereka ada pula yang binasa dan berbalik ke belakang, berpaling dari agamanya, mundur, dan mengkhianati saudaranya. Bahkan engkau mendapati sesungguhnya kebanyakan dari mereka tidak sekadar cukup dengan kekalahannya, bahkan berusaha mentransfer kekalahan tersebut kepada orang lainnya, dan menyebarluaskannya di tengah-tengah kaum muslimin seluruhnya. Dia menakut-nakuti kaum muslimin akan musuh-musuh mereka, berusaha meneror muslimin, serta menghalangi mereka dari memerangi musuh.

Perbuatan demikian merupakan salah satu tindakan yang biasa dikakukan kaum munafikin, yang menyeruak di antara orang-orang lemah iman dan berkeyakinan rusak, baik dari kalangan laki-laki maupun wanita. Dari kalangan laki-laki, hal ini adalah perkara yang sudah menjadi rahasia umum. Dari pembicaraan yang telah berlalu, peran mereka telah terkenal dan meluas. Adapun di kalangan wanita, sejatinya musibah mereka tersembunyi dalam tindakan menyebarluaskan gosip dari rumah dan mulut kaum munafikin, sehingga masuk ke rumahnya serta diketahui suami Dan anak-anaknya. Dengan demikian, dia terjatuh ke dalam perbuatan-perbuatan kaum munafikin, baik disadari ataupun tidak.

Menyiarkan Kabar Bohong (al-Irjaf) adalah Perbuatan Munafikin

AI-Irjaf adalah kabar dusta pengobar fitnah dan kegaduhan. Imam al-Qurthubi mengatakan di dalam tafsirnya, “al-Irjaf adalah mengorek-ngorek fitnah (kekacauan, menyebarkan kedustaan dan kebathilan untuk menimbulkan keresahan.”

Sungguh Allah ta’ala telah mencela perbuatan menyiarkan kabar bohong dan pelakunya dalam banyak tempat di dalam al-Qur’an al-Karim. Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudarasaudaranya: “Marilah kepada kami”. Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.” (Al-Ahzab: 18)

Allah juga berfirman, “Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terla’nat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebathebatnya.” (Al-Ahzab: 60-61)

Al-Jashash berkata di dalam Ahkam al-Qur’an, “Di dalam ayat ini terdapat dalil bahwasannya melakukan alirjaf di kalangan mukminin, menyebarluaskan berita yang meresahkan dan mengganggu mereka, maka berhak di-ta’zir (hukuman) dan diasingkan, jika di bersikukuh dan tidak berhenti melakukannya. Kaum munafikin dan orang-orang dari kalangan yang tidak memiliki basirah agama, mereka adalah orang-orang yang hatinya berpenyakit, yaitu lemah keyakinan. Mereka menyebarkan berita terkait mobilisasi orang-orang kafir dan musyrikin, koalisi mereka, dan rencana mereka menyerang kaum mukminin. Sehingga mereka membesar-besarkan perihal orang-orang kafir dan menakut-nakuti kaum mukminin. Maka Allah ta’ala menurunkan ayat itu berkenaan dengan mereka, dan Allah ta’ala mengabarkan bahwa mereka layak diusir dan dibunuh jika tidak menghentikan perbuatan tersebut. Allah Ta’ala memberitahu bahwa hal itu adalah sunatullah dan jalan yang diperintahkan untuk diamalkan dan diikuti.”

Di antara bahaya al-irjaf, Allah mewanti-wanti mujahidin agar tidak berbaur dengan para pelakunya. Pasalnya, ucapan mereka dapat melemahkan barisan, dan penggembosan mereka memperlemah kaum muslimin. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman, Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celahcelah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zhalim.” (At-Taubah: 47)

Ibnu Ishaq berkata, “Dulu ada sekelompok munafikin, mereka meminta nasehat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang saat itu sedang menuju Tabuk. Maka sebagian mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Apakah kalian mengira bahwa serangan Bani Ashfar (Rum) itu seperti peperangan sebagian bangsa Arab terhadap sebagian lainnya! Demi Allah seakan-akan aku melihat kalian besok terikat dengan tali belenggu. Ucapan demikian sebagai bentuk al-irjaf dan menakut-nakuti kaum mukminin.”

Mengimani Qadar dan Meyakini Janji Allah adalah Tameng Wanita Beriman

Hukum bagi wanita dalam hal ini sama dengan hukum bagi laki-laki. Barangsiapa muslimah yang terjatuh dalam perbuatan itu, menakut-nakuti keluarganya atau orang lainnya dari kalangan muslimin, serta menyebarkan berita-berita yang dapat melemahkan hati di antara mereka, maka wajib baginya beristighfar (memohon ampun kepada Allah) dari dosa ini, serta memperbaiki keimanannya terhadap qadha dan qadar Allah, serta memahami dengan baik firman Allah ta’ala: “Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.’” (At-Taubah: 51)

Juga memahami sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abdullah bin Abbas saat dia dibonceng di belakang beliau: “Wahai ghulam (anak kecil), sesungguhnya aku mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah maka engkau akan menjumpai-Nya di hadapanmu, jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan maka memintalah pertolongan kepada Allah. Dan ketahuilah seandainya umat ini bersatu untuk memberimu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikanmu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tentukan untukmu, dan jika mereka bersatu untuk mencelakakan dirimu, pastilah mereka tidak akan mampu mencelakakan dirimu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan padamu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR. Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).

Jika mendengar desas-desus dari para penyebar kabar bohong, baik tentang kekuatan musuh-musuh kita, persiapan mereka untuk memerangi kita, dan mobilisasi mereka menyerang kita, maka wanita muslimah harus senantiasa merenungkan firman Allah ta’ala, kisah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat beliau, tatkala kaum musyrikin yang saat itu memiliki pasukan terkuat di dunia ketika itu berhimpun untuk menyerang mereka. Allah berfirman, “(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.’ Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.’ Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apaapa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawankawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali ‘Imran: 173-175)

Begitulah semestinya jawaban yang dilontarkan muslimat kepada para penggembos dan munafikin, seraya merespons mereka dengan ucapan: hasbunallah wa ni’mal wakil (cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung). Atas keyakinannya bahwa bantuan Allah niscaya sudah mencukupi para hamba-Nya, betapapun kuatnnya musuh mereka. Pun karena keimanannya bahwa tidak akan menimpa diri dan keluarganya, serta seluruh manusia, kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagi mereka. Juga karena pengetahuannya bahwa teror setan hanya mampu memperdaya para pembelanya, bukan kepada kaum mukiminin.

Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid Meneguhkan Rasulullah

Kewajiban ini mesti ditingkatkan para istri, ibunda, dan saudari mujahidin. Mereka harus ambil peran di rumah mereka, melindunginya dari desas-desus para pelaku allirjaf dan obrolan kaum munafikin. Mereka tidak boleh melontarkan pembicaraan tentang mujahidin kecuali apa yang dapat meneguhkan kaki dan menguatkan hati mereka. Di antara kisah terelok para mukminat dalam hal ini adalah kisah Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu ‘anhadalam meneguhkan suaminya yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau mendekatinya karena ketakutan, di hari ketika pertama kali Malaikat Jibril mendatangi beliau tengah beribadah di Gua Hira.

“’Selimutilah aku, selimuti aku.’ Maka beliau pun menyelimuti Rasulullah sampai rasa takut itu pergi darinya, maka beliau bersabda kepada Khadijah dan mengabarkan sebuah kabar: ‘Sungguh aku takut terhadap diriku.’ Maka Khadijah menjawab, ‘Sekali-kali tidak, demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, engkau adalah orang yang menyambung tali silaturahim, menanggung nafkah orang yang membutuhkan, mencarikan kerjaan, menghormati tamu, dan membantu para pengemban kebenaran...” (Muttafaq Alaihi)

Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepada dakwah beliau, dan selalu menolong beliau, dan menguatkan tekad beliau hingga Allah mewafatkannya. Kecintaan Rasulullah kepadanya berkekalan di hati beliau, menjadi saksi atas apa yang telah dia korbankan. Sampai-sampai Rasulullah bersabda tentangnya, “Dia telah beriman kepadaku di saat manusia menentangku, dan membenarkanku di saat manusia mendustakanku, dan menolongku dengan hartanya ketika manusia memboikotku.” (HR. Imam Ahmad)

Asmaa` binti Abu Bakar Mendorong Sang Putra Menuju Maut dengan Sabar

Dan di antara teladan lainnya adalah Asmaa` binti Abu Bakar –semoga Allah meridhai dirinya dan ayahnya. Tatkala sang putra yaitu Khalifah kaum muslimin Abdullah bin az-Zubair dikepung di Makkah oleh tentara pemberontak pimpinan al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Dia mendatangi sang ibunda untuk berkonsultasi dalam rangka memerangi al-Hajaj, setelah intimidasi terhadapnya semakin meningkat. Abdullah bin az-Zubair berkata, “Manusia telah menelantarkan aku, termasuk anak dan keluargaku. Tidak tersisa bersamaku kecuali segelintir orang-orang yang tidak memiliki kekuatan lebih daripada kesabaran sesaat saja, sedangkan kaum mereka memberiku apa yang aku inginkan dari dunia ini, maka bagaimana pendapatmu?” Sang ibu menjawab, “Demi Allah wahai anakku, engkau lebih mengetahui dirimu sendiri. Jika engkau menyadari bahwa engkau berada di atas kebenaran dan menyeru kepada kebenaran, maka berjalanlah untuknya. Sungguh para sahabatmu telah terbunuh di atasnya, dan jangan biarkan seorang pun anak dari Bani Ummayah mempermainkan nyawamu. Jika engkau hanya menginginkan dunia, maka engkau adalah seburuk-buruk hamba, engkau akan membinasakan dirimu, dan engkau membinasakan orang-orang yang terbunuh bersamamu. Namun jika engkau mengatakan, ‘Aku berada di atas kebenaran, namun tatkala teman-temanku melemah, maka lemah pula aku, maka ini bukanlah tindakan orang-orang merdeka, bukan juga pengusung agama. Berapa lama engkau akan tinggal di dunia, maka terbunuh adalah lebih baik.”

Sang Amirul Mukminin mendekati ibundanya, lalu mencium kepalanya, dan berkata, “Demi Allah ini adalah pendapatku. Namun aku senang mengetahui pendapatmu, basirahmu menambah basirahku, maka lihatlah wahai ibunda, sungguh aku akan terbunuh di hari ini, maka janganlah engkau bersedih, dan serahkan urusan kepada Allah.” Kemudian Ibnu Zubair meninggalkannya sembari berkata, “Sesungguhnya bila aku mengetahui hariku, maka aku bersabar. Dan dia mengetahui harinya akan berkobar.” Sang ibunda radhiyallahu ‘anhamendengar perkatannya dan berkata, “Bersabarlah, insya Allah, karena ayahmu adalah Abu Bakar dan az-Zubair, dan ibumu adalah Shafiyah binti Abdul Muthalib.”

Demikianlah seharusnya keadaan istri beriman terhadap suaminya. Begitulah semestinya keadaan ibu yang beriman terhadap putranya. Sehingga sang putra menapaki jalan jihad melawan musuh-musuh Allah, dan menjalankan hal yang diperintahkan Rabb-Nya, sehingga sang ibu mendapatkan bagian dari amalnya dengan izin Allah.

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 3, SELESAI)

RUMIYAH 10 - ARTIKEL

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 3, SELESAI)
SYAIKH ABU MUSH’AB AL-ZARQAWI

Setelah memahami semua hakikat ini, kita dapat mengetahui makna yang dikehendaki di balik pengokohan, keteguhan, dan dikobarkannya Perang Fallujah dengan segenap kekuatan yang dikerahkan. Karena pada hari ini*, Perang Fallujah satu-satunya perang di front Islam terdepan. Keteguhan di dalam nya dan ribath di tapal batasnya berarti berjaga-jaga di perbatasan terdepan di mana dari situlah kita akan menikam kekafiran dan agresi.

*Saat itu, Perang Fallujah sedang berkobar (Edt.)

Jika kita melihat musuh melakukan penetrasi dan berkeliling di dalam kota dan berkonsentrasi di pinggiran kota, maka bukan berarti musuh telah meraih kemenangan. Karena peperangan kita melawan musuh adalah perang jalanan dan perang kota. Taktik dan metode dalam bertahan dan menyerang cukup bervariasi. Pertempuran sengit ini tidak dapat diprediksi hasilnya dalam hitungan hari atau minggu, tetapi memakan waktu sampai tiba waktu ketika salah satu pihak mendeklarasikan kemenangan.

Sebelum diputuskan hasilnya, cukuplah kita bergembira melihat putra-putra Islam teguh bak gunung kokoh di lini pertahanan Kota Fallujah penuh berkah. Mereka memberi pelajaran baru kepada umat dalam kekuatan, kesabaran, dan keyakinan. Kami mencoba menuangkan sebuah analisa seputar beberapa pelajaran dan hasil fantastis yang dipetik dari pertempuran dahsyat tersebut. Jadi, saya katakan :

Pertama: Pertempuran ini menghidupkan kembali segenap makna kemuliaan, kehormatan, dan sifat kesatria. Umat meyakini bahwa di sana terdapat sekelompok putranya yang mampu menghadapi segala bahaya genting dengan penuh keberanian, keteguhan, dan determinasi. Kelompok ini berlaku jujur terhadap umatnya dalam hal langkah dan berbagai program yang telah direncakan demi menghidupkan kembali umat. Oleh karena itu, kelompok ini telah mengorbankan banyak darah para putra dan komandannya.

Kedua: Umat telah belajar -saat dalam kehinaan dan frustrasi- bahwa ia mampu melawan, bersabar, dan memerangi para pemimpin dan thaghut di dunia, hanya dengan sekelompok kecil putranya, dan dengan berbekal persenjataan sedikit. Kendati demikian, kelompok kecil itu mampu mendera musuh dengan kerugian parah lagi menyakitkan, dan memaksanya menenggak pahitnya gelas kekalahan.

Ketiga: Fallujah telah membuka pintunya menjadi medan perang. Dan berkobarlah semangat para putra umat baik yang di dalam maupun di luar Iraq. Darah suci putra-putra Islam telah banyak tertumpah di negerinya. Mereka bangkit melalui beban jihad dan berangkat dalam rangka melawan serangan Salibis internasional. Pertempuran dan peperangan dahsyat pun membara di berbagai sudut bumi Iraq. Lalu dibentuklah berbagai katibah (batalion) dan perhimpunan, kemudian para mujahidin bangkit menyerang konvoi musuh, menarget patroli mereka, dan menyergap pospos militer mereka. Dengan karunia Allah, kami menyaksikan besarnya kerugian yang diderita mereka di bumi Iraq seluruhnya. Yang membanggakan dari kemenangan ini adalah menjulangnya spirit para putra Jihad, sehingga di hadapan spirit tersebut, tumbanglah berbagai mitos peralatan perang canggih mereka. Tekad mereka sekarang ini telah terbebaskan dari ilusi kelemahan dan ketakutan, bergerak menuju medan-medan kegigihan dan amal.

Keempat: Perang Fallujah menorehkan kemenangan strategi militer yang krusial. Semua orang mengetahui keunggulan peralatan militer Amerika Serikat (AS), kecanggihan pasukan dan sistem perangnya yang menggunakan sistem menyerang target dari jarak jauh tanpa harus baku tembak, sehingga meniscayakan terjaminnya keselamatan jiwa tentara AS, agar tidak tewas dalam pertempuran berbahaya yang mengancam nyawanya. Akan tetapi, Perang Fallujah berhasil memperdaya peralatan canggih ini –melalui rencana yang telah disusun— menyeretnya ke perang jalanan yang bengis lagi tak terkendali, sehingga mengikis kekuatan, energi, dan artilerinya. Membuat tentara AS terpaksa menyongsong kematian dan kebinasaan dari arah yang tidak dia perkIraqan. Pasukan AS terpaksa turun langsung ke gang-gang dan jalanan, serta masuk ke rumahrumah dan bangunan-bangunan. Sehingga musuh pun terbuka dan diberondong tembakan dan sergapan mujahidin. Musuh dikejutkan kemampuan mujahidin dalam menyergap, dan melakukan hit and run. Musuh terpaksa terlibat dalam close quarter battle (perang jarak dekat) yang tidak diprediksi. Sehingga mereka menderita kerugian besar baik korban nyawa maupun peralatan militer yang jumlahnya lebih dari puluhan dan bahkan ratusan.

Kelima: Administrasi militer AS menelan kekalahan terburuk. Nampak jelas bagi para pengamat perang dan para perencananya, bahwa para mujahidin tidak akan bisa dihentikan oleh serangan model apapun, meskipun dengan menjalani perang habis-habisan secara menyeluruh untuk membasmi mereka semua. Penalaran jihad menjadi sandungan terbesar bagi rancangan-rancangan perang AS dan internasional. Apa yang terjadi di Fallujah, berupa kebanggaan dan keteguhan (mujahidin) menciutkan nyali para komandan musuh, mendatangkan depresi, kelelahan psikis, dan gangguan mental. Dan ke depannya, akan lebih dahsyat dan pahit, berkat pertolongan Allah ta’ala.

Keenam: Dengan keteguhan dan kesabarannya, Fallujah telah menyingkap kedok dari wajah kemurtadan, kemunafikan, dan pengkhianatan. Fallujah juga mencabut pakaian kedustaan yang dikenakan oleh pemerintah murtad Alawi, serta membongkar kepalsuan yang sebelumnya didengungkan bahwa pemerintah menginginkan kemaslahatan penduduk Iraq, berusaha melindungi darah mereka, menjauhkan mereka dari perang dan penderitaan, dan rela menderita demi kebahagiaan rakyat. Tetapi kemudian, justru semua orang melihat pemerintah Iraq bersegera memutuskan penyerangan ke Fallujah dan melumuri kedua tangannya dengan darah suci para putra kota Fallujah, membantai ribuan penduduk, mengusir puluhan ribu lainnya, serta merestui aksi-aksi penghancuran, perobohan, penodaan kehormatan, dan perampokan harta di bawah payung perang melawan teroris dan kepentingan nasional.

Ketujuh: Perang ini menjatuhkan topeng palsu yang menutupi wajah buruk orang-orang Rafidhah celaka. Dengan penuh kebencian, mereka menceburkan diri ke dalam perang ini. Dengan kehinaan nampak jelas, mereka berpartisipasi dalam kampanye militer terhadap Fallujah dengan restu dari imam kekafiran lagi zindik As-Sistani. Mereka berperan besar dalam aksi-aksi pembunuhan, perampasan, perusakan, serta pembunuhan nyawa tidak berdosa dari kalangan anak-anak, wanita, dan orang-orang tua renta. Bahkan nafsu busuk mereka mendorong mereka melakukan kejahatan luar biasa. Mereka menyerang rumah-rumah Allah yang damai dan mengotorinya. Mereka sengaja memajang gambar-gambar setan mereka, yaitu As-Sistani, di tembok-tembok, dan dengan penuh kedengkian membuat tulisan: Hari ini tanah kalian, dan esok giliran kehormatan kalian. Perlu diketahui, bahwa 90% pasukan Garda Nasional (baca: Garda Berhala) adalah orang-orang Rafidhah pendengki, sedangkan yang 10 persen adalah pasukan Kurdi Peshmerga. Alangkah benar seorang ulama yang berkata tentang Rafidhah, “Mereka adalah benih Nashrani, ditanam oleh kaum Yahudi, di tanah kaum Majusi.”

Kedelapan: Dalam perang ini, tersingkaplah program-program rahasia para musuh jihad. Di dalamnya bermunculan berbagai partisipasi militer sejumlah satuan militer yang mempunyai latar belakang berlawanan. Telah jelas ada partisipasi 800 tentara Israel di pertempuran. Mereka ditemani 18 rabi (pendeta Yahudi). Sebagian besar mereka tewas seperti yang diberitakan oleh koran dan media massa mereka. Begitu juga, terlihat jelas intervensi militer Yordania melalui para perwira militer Yordania yang berpartisipasi dalam perancangan dan penyerbuan militer ke kota Fallujah. Hal itu menunjukkan keyakinan semua pihak bahwa kota Fallujah adalah basis jihadis yang mengganggu tidur malam para musuh agama, dari kalangan orang-orang kafir dan murtad.

Kesembilan: Di antara hasil gemilang pertempuran adalah kembali mengalirnya darah dalam urat nadi para putra jihad, tingginya semangat mereka untuk meninggikan amal jihad menuju segenap sasaran yang diharapkan dan rencana-rencana yang telah dicanangkan. Pertempuran ini telah melahirkan generasi yang terdiri dari para komandan, kecakapan, serta pengalaman yang mendapat pelajaran dari banyak peristiwa, dan jeli menelisik eksperimen, latihan, dan pencapaian. Juga cermat penuh tekad menapaki jalan yang telah dirancang, hasil asahan kerasnya pertempuran, sehingga melahirkan cetakan yang solid lagi kuat.

Penulis kitab Fi Zhilal Al-Qur`an (Sayid Quthb) berkata: “Dalam penderitaan jihad fi sabilillah dan menyongsong kematian di setiap perjalanan, akan menempa jiwa untuk memandang remeh bahaya menakutkan ini yang seringkali membebani manusia dari jiwa, moral, dan barometer mereka, sehingga mereka pun menjauhinya. Namun ia adalah remeh bagi seseorang yang biasa menghadapinya, baik dia selamat darinya (kematian) atau benarbenar menjumpainya, sehingga dia pergi menghadap Allah dengannya. Setiap kali berefek di dalam jiwa dalam keadaan-keadaan genting, ada sesuatu yang dekat dengan deskripsi kerja arus listrik menyengat tubuh. Ia tak ubahnya format baru bagi hati dan jiwa agar senantiasa bersih, suci, dan baik. Kemudian ia merupakan faktor-faktor nyata untuk memperbaiki komunitas manusia seluruhnya. Melalui kepemimpinan di tangan mujahidin yang membersihkan jiwa mereka dari setiap tujuan dan perhiasan dunia. Sehingga kehidupan dipandang mereka mudah, dan mereka menceburkan diri ke dalam lautan kematian di jalan Allah, dan tidak ada lagi di dalam hati mereka segala sesuatu yang dapat memalingkan mereka dari Allah, dan berharap penuh keridhaan-Nya. Ketika kepemimpinan dipegang oleh orang-orang seperti ini, niscaya bumi menjadi baik semuanya, para hamba pun menjadi baik. Melalui tangan-tangan ini mustahil panji kepemimpinan diserahkan kepada kekafiran, kesesatan dan kerusakan, sedangkan mereka telah membayarnya dengan tetesan darah dan nyawa. Semua akan menjadi mulia dan berharga, jika panji ini diserahkan kepada Allah, dan bukan kepada dirinya. Kemudian setelah ini semua, adalah memudahkan sarana bagi yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, agar mereka memperoleh keridhaan dan ganjaran-Nya tanpa batas, dan juga memudahkan sarana bagi yang dikehendaki keburukan oleh Allah, agar mereka melakukan hal-hal yang mengundang kemurkaan Nya, sesuai dengan rahasia dan dalaman yang diketahui-Nya.” Selesai perkataannya rahimahullah.

Kesepuluh: Kesyahidan orang-orang pilihan. Kelompok orang-orang beriman ini terpilih menempuh jalan yang diukir dengan darah para putranya yang menjadi syuhada. Para komandan senior dan kadernya senantiasa berada di garis terdepan. Jika hal itu menunjukkan sesuatu, maka ia menunjukkan ketulusan para putra jihad serta obyektifitas tekad dan semangat mereka dalam merealisasikan tuntutantuntutan tauhid dengan tulus dan ikhlas. Kabar gembira lainnya untuk mereka adalah Allah telah memilih orang-orang terbaik dan para tokoh utama mereka untuk bertemu dengan- Nya dan memenuhi janji-Nya. Allah menetapkan kesyahidan untuk mereka, dan kesuksesan meraih keridhaan-Nya sesuai harapan dan permohonan mereka. Allah memenuhi janji- Nya kepada mereka dan mengabulkan permohonannya.

Demikianlah keadaan para pendahulu mereka yang shalih, mereka berambisi untuk mati sebagaimana ambisi generasi suksesor mereka untuk hidup. Kesyahidan adalah cita-cita mereka yang paling berharga. Mereka bergegas menuju medan perang karena ingin terbunuh di jalan Allah. Jumlah syuhada dari para sahabat mencapai 80% dari sejumlah peperangan.

Para syuhada dari golongan Muhajirin dan Anshar lebih banyak dibanding separuh syuhada Perang Yamamah [...] Cukup kita sebutkan bahwa jumlah syuhada dari kalangan al-quraa` (para penghapal Al-Qur’an dan ulama umat Islam ketika itu) berjumlah 300 syuhada –dalam Perang Yamamah— dalam riwayat lain berjumlah 500 syuhada, artinya para penghafal Al-Qur’an saja yang syahid dalam satu pertempuran mencapai 25 persen menurut satu riwayat, sedangkan menurut riwayat yang lain mencapai 45 persen. Dan jumlah ini cukup fantastis.

Orang-orang yang menelisik tentang referensi para sahabat, akan mendapatkan satu dari lima orang meninggal dunia di atas pembaringan, sedangkan empat orang lainnya mati syahid di medan jihad. Maka tak perlu heran dengan cepatnya penaklukan-penaklukan gemilang, keteguhan, dan kontinuitas yang terjadi pada abad ke-1 Hijriyah.

Dalam kesempatan ini, baik kiranya kami ketengahkan perihal keteguhan para pahlawan jihad kita, juga kami ceritakan secara ringkas beberapa nikmat Allah ta’alakepada mereka, berupa karamah dan kasih sayang Allah yang dihadiahkan kepada mereka dalam perang mereka melawan tentara AS beserta kroni-kroninya di kota Fallujah, sebagai peneguhan bagi mereka dan pendongkrak kondisi mereka.

Di antaranya: Pada hari ketiga pertempuran, setelah bombardir dahsyat dan keji ke distrik-distrik kota Fallujah, mujahidin terbangun dari tidur malam mereka, dan melihat kendaraan-kendaraan perang dan tank-tank AS berada di jalanan dan gang-gang. Maka, tampillah para pemimpin umat Islam dalam kancah perlawanan, dibawah komando al-akh Abu Azzam, Umar Hadid, Abu Nashir Al-Libi, dan Abu Harits (Muhammad Jasim Al-Aisawy) serta para kesatria lainnya. Mereka mengusir para penjajah sampai ke pinggiran Fallujah. Padahal senjata mereka dalam pertempuran itu hanya PK dan Kalashnikov. Pasukan AS mengalami korban tewas yang sangat banyak, hingga banyak dari mereka melarikan diri dari pertempuran dan bersembunyi di sejumlah rumah kaum muslimin. Awalnya para mujahidin ragu untuk menyerang rumahrumah tersebut karena khawatir membahayakan kaum muslimin. Ketika mereka sudah yakin dengan keberadaan para tentara AS, mereka merangsek masuk dan mendapati para tentara itu bersembunyi ketakutan. Mujahidin kemudian membunuh mereka seperti membunuh serangga dan lalat. Keutamaan dan karunia hanya milik Allah semata. Beberapa hari setelah pertempuran, salah seorang komandan menyarankan al-akh Umar Hadid dan al-akh Abu Harits Jasim Al-’Aisawy agar mencukur jenggot mereka, lalu keluar dari Fallujah, setelah Allah memudahkan bagi mereka jalur yang aman untuk menyelamatkan diri sehingga bisa mulai beraksi dari luar. Kedua kesatria itu menolak seraya berkata, “Demi Allah, kami tidak akan keluar dari kota, selama masih ada seorang Muhajir yang tetap di dalam.” Lalu keduanya bertempur hingga mati syahid. Semoga Allah merahmati dan menerima keduanya dalam barisan para hamba syuhada-Nya.

Contoh lainnya: Beberapa ikhwah menderita kelaparan selama berhari-hari. Setelah berharap dan berbaik sangka kepada Allah , mereka mendapatkan sebuah semangka yang besar. Setelah mereka belah, ternyata warnanya sangat merah dan menarik. Mereka pun memakannya selama beberapa hari hingga kenyang. Mereka memuji Allah dan merasa heran hingga merasa yakin bahwa mereka belum pernah mencicipi makanan selezat itu di dunia ini sebelumnya. Padahal diketahui bahwa saat itu bukanlah musim buah semangka, dan disitu bukanlah tempatnya berbuah.

Contoh lainnya: Para ikhwah sangat kekurangan makanan dan minuman, hingga stok air minum habis dan hanya tersisa sedikit. Menjelang waktu sarapan pagi, mulut dan bibir mereka terasa kering. Ketika mereka ingin mencari beberapa tetes air guna membasahi kerongkongan mereka yang kehausan, mereka memasuki sebuah rumah dan mendapati botol air dengan corak yang aneh di sisi-sisinya. Mereka merasa heran begitu melihatnya, karena di Fallujah ataupun di Iraq belum pernah ada air disimpan dalam botolbotol indah lagi asing seperti itu. Begitu mereka mencicipi airnya, mereka sadar bahwa air tersebut bukanlah air dunia. Mereka pun minum hingga puas. Setelah itu, mereka bersumpah bahwa mereka belum pernah minum air yang seperti itu sebelumnya dalam kehidupan dunia ini.

Contoh lainnya: Salah seorang ikhwah Jazrawi** terkena tembakan peluru sniper di bagian otaknya. Peluru tersebut menerobos jidat dan keluar melalui tengkuk. Serpihan otak berserakan di bahu kanannya. Para ikhwan pun bergegas menghampiri, lalu mengumpulkan serpihan-serpihan otak, dan mengembalikan ke tempat lukanya, kemudian membalutnya dan meninggalkannya. Beberapa hari kemudian dia pun sembuh, dan sekarang dia masih hidup tanpa ada masalah, hanya saja bicaranya menjadi agak gagap. Kita memohon kepada Allah agar menerima dirinya dan para ikhwah lainnya.

**Jazrawi bermakna Jazirah Arabia. Sebutan untuk para ikhwah dari negara-negara Arab Teluk (Edt.)

Kemudian terkait aroma kasturi. Tahukah kalian, apa wangi kasturi itu?! Sungguh, fenomena ini dilansir secara mutawatir (valid) di kalangan mayoritas mujahidin. Banyak ikhwah bercerita tentang fenomena aroma mewangi yang menyeruak dari jasad syuhada dan ikhwah yang terluka. Semoga Allah menerima mereka semua.

Contoh lainnya adalah apa yang dialami Sang Pahlawan al-akh Abu Thalhah Al-Baihani. Beliau  terluka cukup parah, tetapi aroma semerbak menyebar ke setiap tempat hingga menyebar ke jalanan, dan banyak ikhwah mencium aroma tersebut. Kemudian dia menemui kesyahidannya. Demikianlah kami menilainya, dan Allah-lah yang menilainya, serta kami tidak menyucikan siapa pun di hadapan Allah.

Dan di antara hal yang mengilhami keteguhan dan kedamaian (tuma`ninah) adalah cerita mayoritas ikhwah yang ikut serta dalam peperangan dahsyat tersebut, bahwa mereka mendengar suara ringkikan kuda dan dentingan pedang yang saling beradu ketika perang berkecamuk dan semakin sengit. Para ikhwah berulang kali terperangah dari hal itu, dan bertanya kepada para ikhwah Anshar; apakah ada sekumpulan kuda dekat kota Fallujah. Para ikhwah Anshar menegaskan bahwa hal itu tidak ada, dan memastikan bahwa di daerah tersebut tidak ada kuda-kuda seperti ini. Segala puji bagi Allah, baik yang pertama maupun yang terakhir.

Imam Ahmad meriwayatkan di dalam Al-Musnad, dan Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak, dari Abu Burdah bin Qais, saudara Abu Musa, menyatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ya Allah jadikanlah kematian umatku adalah terbunuh di jalan-Mu, baik akibat tikaman atau karena penyakit tha’un.”

Allah ta’ala berfirman, “Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Ali ‘Imran: 169-170)

Hiduplah bak Raja atau matilah secara mulia jika engkau mati
Pedangmu sedang terhunus, dengan pedangmu engkau membenarkan

Inilah sekilas analisa terkait buah manis serta hasil keteguhan dan ketabahan di bumi Fallujah penuh berkah, juga beberapa pencapaian bermanfaat dan hasil luhur yang bisa diketahui dan dipahami oleh orang bijak yang menelaah berbagai peristiwa dan realitas.

Wahai Umat Islam,

Tubuhmu berkali-kali penuh luka dan tikaman. Luka dan penyakit yang membuatmu terbaring tidak akan dapat diobati kecuali dengan tauhid terikat di atas panji-panji jihad. Maka kapan engkau hendak memutuskan dengan putusan benar untuk berangkat berjihad dan melepaskan diri dari para algojo penyiksa? Pertempuran hari ini tidak pernah padam dan tidak mereda. Sungguh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam sangat ingin untuk tidak tertinggal dari satu pasukan pun yang berperang di jalan Allah. Kebiasaan beliau adalah tiada henti berperang dan berjihad.

Aku ingatkan kalian dengan hadits Malaikat Jibril bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pasca Perang Ahzab, diriwayatkan Imam Al-Bukhari, dia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali ke Madinah, baru saja beliau meletakkan pedangnya, Jibril mendatanginya dan mengatakan, ‘Apakah engkau meletakkan senjata? Demi Allah, sesungguhnya para malaikat belum juga meletakkan senjatanya. Bangkitlah engkau bersama sahabatmu ke Bani Quraizhah, sesugguhnya aku berjalan di depanmu untuk menggoncang benteng mereka dan menanamkan rasa gentar di dalam hati mereka.’ Maka Jibril berjalan bersama rombongan para malaikat dan Rasulullah berjalan di belakangnya bersama rombongan para Muhajirin dan Anshar.”

Wahai kaum muslimin,

Bagaimana bisa kalian enteng saja melihat saudara-saudara kalian dari putra-putra agama kalian didera berbagai macam siksaan, pembunuhan, dan kehancuran, sedangkan kalian merasa aman di negeri kalian, nyaman bersama keluarga dan harta kalian, bagaimana bisa seperti itu?!

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (Yusuf: 21)

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

ALLAH DATANGKAN SIKSAAN KEPADA MEREKA DARI ARAH YANG TIDAK DISANGKA

RUMIYAH 10 - PENGANTAR

ALLAH DATANGKAN SIKSAAN KEPADA MEREKA DARI ARAH YANG TIDAK DISANGKA

Allah ta’ala berfirman, “Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka.” (QS. Al Hasyr:2)

Hanya sepekan sebelum tibanya bulan Ramadhan yang berbarokah, seluruh dunia terfokus pada kota Manchester di Inggris. Salah satu prajurit Khilafah melancarkan serangan terror, menargetkan Manchester Arena di Inggris pada saat diselenggarakanya pesta musik. Ledakannya mengguncang seluruh kota dan menimpakan ketakutan yang dahsyat ke dalam hati penduduknya. Mereka pun terperanjak hingga spontant menghubungi saudara-saudara mereka untuk meminta jaminan keamanan. Kemudian jumlah korban mulai terlihat. Lebih dari 20 yang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Jumlah korban terus meningkat hingga mencapai 100 korban tewas dan luka-luka.

Setelah ledakan, para teman-teman korban dan kerabat orang-orang yang ketakutan itu bersegera menuju media sosial guna meminta bantuan untuk mencari orang-orang Besayangannya. Bar-bar mulai menyugukan minuman kerasnya kepada para petugas darurat untuk menenangkan dirinya dari trauma setelah mereka melihat pemandangan mengerikan. Dan sebagaimana biasanya orang-orang yang menamai dirinya sebagi “muslim” British keluar mengutuk serangan ini lantaran takut kepada kuffar dan kwahatir mereka akan membalas dan menyakitinya. Sejumlah besar polisi dan tentara dikerahkan di jalanan. Tingkat ancaman di Inggris dinaikkan menjadi “Kritis”. Para politikus menghentikan kampanye pemilu umum yang akan datang, si Ariana Grande mengurungkan rencana jalan-jalanya keliling Eropa dan kembali ke negaranya dalam keadaan ketakutan, dan Team Chelsea membatalkan pawai kemenangannya di London. Para musuh-musuh Islam itu berusaha menampakkan keberanian, namun usaha mereka itu gagal, justru kepedihan mereka sangatlah nampak.

‘Survei’ membuktikan, Operasi di Manchaster ini menguatkan apa yang selama ini diprediksi oleh para pengamat sejak dulu : Bahwa untuk menggantikan kerugianya di Iraq dan Syam, Daulah Islamiyah memefokuskan operasinya di negri-negri salibis. Namun yang belum diakui oleh para pengamat itu adalah bahwa kerugian daerah bukanlah hal baru bagi Daulah Islamiyah. Daulah Islamiyah mulai kehilangan banyak daerahnya pada saat munculnya agresi Shahawat di Iraq yang menyebabkan kekalahannya. Tetapi, pada akhirnya itulah yang menyebabkan Daulah Islamiyah kembali, melipat gandakan usahanya, dan menyalakan api peperangannya sekali lagi. Dengan itu Daulah bisa merebut kembali setiap jengkal yang hilang darinya. Ia berhasil meluas ke Syam, Sinai, Khurasan, dan daerah-daerah lainnya di dunia, bahkan sampai ke beberapa daerah yang tidak disangka mujahidin bahwa mereka bisa menguasainya dan menegakkan hukum Allah di dalamnya.

Kejutan terjadi, -ribuan mil jaraknya dari Manchester- tatkala para prajurit khilafah di Timur Asia, tepatnya di kota Marawi yang terletak di kepulauan Mindanao Filipina Selatan membantai para polisi lokal dan para tentara, dan mengibarkan bendera Daulah Islamiyah. Hal ini mengingatkan kita peristiwa pembebasan kota Mosul dari para Syi’ah Rafidhah murtad dan para sekutu salib mereka. Kemenangan ini terjadi hanya selang beberapa minggu setelah pengakuan Rodrigo Duterte si thaghut salibis Filipina bahwa kondisi di wilayah Selatan Filipina membuatnya pusing dan gelisah di malam hari.

Si thaghut ini mengambil kendali pemerintahan dengan asumsi mampu mengendalikan “para militan islam bersenjata” di wilayah Selatan Filipina, terutama yang tinggal di pulau Mindanao, mengakhiri jihad mereka dan selanjutnya mengusir kekuatan Amerika yang ada di Filipina. Tetapi tatkala para prajurit Khilafah terus memperlihatkan sikap bahwa mereka tidak bernegoisasi kecuali dengan peluru dan bom, diapun mulai mengemis kepada para pemimpin “islam” lokal di wilayah Selatan agar membantunya dalam menghadapi para mujahidin. Di samping itu, dia juga mengancam akan memberlakukan darurat militer di wilayah-wilayah mereka jika masalah ini tidak selesai. Selanjutnya, ketika para prajurit khilafah menyerang kota Marawi, sesuai janjinya... diapun memberlakukan status darurat militer dan mengirim para tentara nya untuk kembali merebut kota. Tetapi justru para mujahidin berhasil membunuh puluhan para tentara salibnya dan membuka front baru dalam memerangi orang-orang kafir.

Realitas yang dihadapi oleh salibis hari ini, meskipun mereka beranggapan bahwa Daulah Islamiyah melemah, tetapi para mujahidin masih mampu untuk mengusir para salibis dan antek-antek mereka, serta dengan cepat mampu mewujudkan tamkin dari arah yang tidak diperkIraqan oleh musuh di belahan bumi manapun. Sebagaimana yang terjadi di Mosul sebelumnya, serangan-serangan mereka di tengah Negeri-negeri salibis di Barat terus menjadi surprise dan kejutan, seperti yang terjadi di Manchester. Sebagaimana terusirnya para salibis kafir pada pengiriman dan operasi mereka yang pertama di Iraq, maka demikian pula mereka akan kembali harus hengkang dari negerinegeri islam di Filipina, dan mereka akan terteror di tengah Negara mereka sendiri.

“Dan Allah maha kuasa atas urusan Nya, meskipun banyak manusia yang tidak tahu”. (QS. Yusuf : 21)