RUMIYAH 10 - SYUHADA
ABU SABAH AL-MUHAJIR
Seorang pemuda dari Malaysia, teguh dan tetap bersabar dalam derap jihad sampai merengkuh anugerah syahadah (kesyahidan) –demikianlah kami menilainya dan Allah-lah sebaik-baik penilai. Di tengah kawan-kawannya, pemuda dengan sikap tawadhu dan tidak cinta dunia ini adalah sosok hamba yang rajin mengerjakan ibadah, shalat tahajud , shaum, membaca al-Qur’an, menghafal, juga mentadaburinya. Demikianlah dia beramal dan seperti itulah karakter dirinya dalam kehidupan sehari-hari di bumi jihad. Dia sangat gemar membantu rekan-rekannya, baik di dapur dan di seluruh tempat. Dia tidak pernah lupa berdzikir kepada Allah di setiap waktu, inilah amalannya sampai kematian syahid menjemputnya. Kebaikan akhlak dan kelembutannya kepada kaum muslmin menjadikannya dicintai oleh teman-temannya. Kebengisan, permusuhan, dan kebenciannya terhadap kuffar membuatnya dicari-cari musuh. Tekad kuatnya menggentarkan barisan para pendosa, yaitu para aparatur pemerintahan thaghut di negaranya.
Tatkala mendengar seruan jihad, ia bersegera menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya dan berhijrah ke negeri Filipina pada tahun 2006 dan bergabung dengan barisan mujahidin Harakah Islamiyah “Abu Sayaf” yang kala itu berada di bawah kepemimpinan Syaikh al-Kadafi Janjalani taqabbalahullah, bersama sejumlah ikhwah dari Indonesia dan Malaysia. Setelah berjihad bersama mereka selama beberapa waktu, dia kemudian dia kembali ke negaranya, tepatnya ke tempat kelahirannya di kota Sabah, dengan membawa aqidah jihad dan bertekad untuk membuka front jihad di sana. Akan tetapi Allah berkehendak sesuai yang Dia inginkan, Abu Shabah ditangkap thaghut Malaysia. Sang singa pun mendekam di penjara selama dua tahun dengan tetap teguh dan bersabar, meski tipu daya musuh dan makar mereka, baik dari kalangan ulama durjana yang menyeru kepada pintu Jahannam dan meninggalkan jalan jihad yang bercahaya, pun para penggembos yang dulunya menempuh jalan jihad kemudian mereka membelot dan berbalik ke belakang. Abu Shabah tetap bersabar dan teguh. Makar para musuh dan penyiksaan mereka terhadapnya semakin menambah keimanan dan keyakinan.
Di penjara, dia habiskan waktunya untuk ibadah dan menuntut ilmu dari ikhwah mujahidin yang di penjara bersamanya, dan saling menasehati dengan kesabaran dan keteguhan antar mereka. Dia selalu meminta kepada Allah agar dikembalikan ke barisan mujahidin.
Pada tahun 2008, Abu Shabah bebas dari penjara, namun pemerintahan Malaysia masih terus mengintainya ke mana pun dia berada. Meski demikian, dia tidak pernah melemah dan putus asa untuk bergabung dengan barisan mujahidin. Sampai Allah mengaruniakannya nikmat hijrah untuk kedua kalinya ke negeri Filipina pada tahun 2011.
Sesampainya di negeri jihad di Filipina, pemerintahan Malaysia pun kebakaran jenggot. Mereka langsung bekerja sama dengan pemerintahan Filipina untuk memerangi muhajirin dan mujahidin di sana. Meski tekanan kuffar yang dihadapi mujahidin sangat dahsyat, namun mereka tetap bersabar dan yakin akan janji Allah. Semua itu tidak menambah mereka kecuali rasa cinta kepada mujahidin dan permusuhan mereka terhadap orang-orang kafir.
Setelah berlalu waktu yang panjang dalam jihad, ujian dan cobaan, kabar gembira datang kepada mereka dengan tegakknya Daulah Islamiyah. Hal tersebut merupakan impian dan harapan yang telah Allah wujudkan untuk kaum muslimin. Khilafah yang sejak beberapa zaman telah hilang, dan dinanti-nanti oleh Abu Shabah dan rekan-rekan mujahidinnya di negeri Filipina, juga negeri-negeri lainnya. Dia pun segera bergabung dengan kafilah penuh berkah. Dia segera berbai’at kepada Khalifah Abu Bakar Al-Baghdadi bersama rekan-rekan mujahidin-Nya dari kalangan Anshar dan Muhajirin pada tahun 2014.
Setelah pemerintahan Salibis mengetahui kelompok kecil tersebut, dan menyadari adanya balatentara Khilafah berada di daerah itu, pemerintahan pun memeranginya dengan tujuan membasminya sampai ke akar-akarnya dan memadamkan cahayanya. Namun, Abu Shabah dan mujahidin tetap teguh dan sabar dalam menjalankan ikrar bai’atnya kepada Khilafah, tidak mundur dan tidak goyah. Dia selalu menasehati saudara-saudaranya untuk tetap sabar dan teguh di atas ujian dan cobaan, agar meninggalkan dunia dan mencintai akhirat. Allah pun menguji mereka dengan ujian yang baik. Sampai sebagain ikhwah terbunuh dan menemui ajalnya, sebagian lainnya masih menanti tanpa mengubah atau mengganti janji, meski dahsyatnya tipu daya musuh dan makar dari kalangan Salibis, kuffar, dan munafikin.
Abu Shabah mengikuti banyak peperangan di Filipina, di antaranya adalah peperangan di pulau Jolo Sulu, peperangan di distrik Maguindanao dan peperangan di pulau Basilan. Dia juga tidak lupa untuk menyeru ikhwah mujahidin agar bersatu di bawah satu panji, yaitu panji Khilafah. Demi hal itu, pada tahun 2016, bersama dengan muhajirin dari Malaysia dan Indonesia, Abu Shabah mendirikan batalion bernama Katibah Muhajirin. Dia berbai’at untuk kedua kalinya kepada Khalifah kaum muslimin, kemudian bergabung dalam barisan mujahidin di bawah satu komando amir yang dipilih oleh Daulah Islamiyah, yaitu Syaikh Abu Abdullah Al-Basilani hafizhahullah.
Pada bulan Syawal 1437 H pertempuran sengit berlangsung antara balatentara Ar-Rahman dan tentara Syaitan di pulau Basilan. Peperangan ini berlangsung selama sebulan penuh dibawah komando Syaikh Abu Abdullah. Pada satu hari, sebagaimana biasanya Abu Shabah bangun dengan cepat. Dia menuju dapur guna menyiapkan makanan untuk ikhwah. Tatkala makanan sudah siap, tiba-tiba dia mendengar suara kapal. Ternyata itu adalah kapal tempur jenis OVI – 10. Kapal tersebut menuju kamp militer mereka, maka dia bersegera mempersiapkan diri, mengambil senjatanya dan berangkat menuju musuhnya bak singa yang akan menerjang buruannya. Kemudian dia bertakbir dan menyerang kapal tersebut. Peperangan berlangsung sengit, namun Allah menunaikan takdir-Nya, kapal menembakkan mortirnya dan meledak di dekat lokasinya. Sang singa pun terjatuh. Tatkala saudara-saudaranya melihat hal itu, mereka bersegera menujunya untuk memberikan pertolongan darurat, namun dia telah berpindah ke tempat tertinggi, menuju tempat keabadian, meninggalkan dunia yang fana ini. Dia gugur syahid sebulan setelah pernikahannya. Allah telah menjadikan kematiannya sebagai api bagi musyrikin dan cahaya bagi mujahidin.
ABU SABAH AL-MUHAJIR
Seorang pemuda dari Malaysia, teguh dan tetap bersabar dalam derap jihad sampai merengkuh anugerah syahadah (kesyahidan) –demikianlah kami menilainya dan Allah-lah sebaik-baik penilai. Di tengah kawan-kawannya, pemuda dengan sikap tawadhu dan tidak cinta dunia ini adalah sosok hamba yang rajin mengerjakan ibadah, shalat tahajud , shaum, membaca al-Qur’an, menghafal, juga mentadaburinya. Demikianlah dia beramal dan seperti itulah karakter dirinya dalam kehidupan sehari-hari di bumi jihad. Dia sangat gemar membantu rekan-rekannya, baik di dapur dan di seluruh tempat. Dia tidak pernah lupa berdzikir kepada Allah di setiap waktu, inilah amalannya sampai kematian syahid menjemputnya. Kebaikan akhlak dan kelembutannya kepada kaum muslmin menjadikannya dicintai oleh teman-temannya. Kebengisan, permusuhan, dan kebenciannya terhadap kuffar membuatnya dicari-cari musuh. Tekad kuatnya menggentarkan barisan para pendosa, yaitu para aparatur pemerintahan thaghut di negaranya.
Tatkala mendengar seruan jihad, ia bersegera menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya dan berhijrah ke negeri Filipina pada tahun 2006 dan bergabung dengan barisan mujahidin Harakah Islamiyah “Abu Sayaf” yang kala itu berada di bawah kepemimpinan Syaikh al-Kadafi Janjalani taqabbalahullah, bersama sejumlah ikhwah dari Indonesia dan Malaysia. Setelah berjihad bersama mereka selama beberapa waktu, dia kemudian dia kembali ke negaranya, tepatnya ke tempat kelahirannya di kota Sabah, dengan membawa aqidah jihad dan bertekad untuk membuka front jihad di sana. Akan tetapi Allah berkehendak sesuai yang Dia inginkan, Abu Shabah ditangkap thaghut Malaysia. Sang singa pun mendekam di penjara selama dua tahun dengan tetap teguh dan bersabar, meski tipu daya musuh dan makar mereka, baik dari kalangan ulama durjana yang menyeru kepada pintu Jahannam dan meninggalkan jalan jihad yang bercahaya, pun para penggembos yang dulunya menempuh jalan jihad kemudian mereka membelot dan berbalik ke belakang. Abu Shabah tetap bersabar dan teguh. Makar para musuh dan penyiksaan mereka terhadapnya semakin menambah keimanan dan keyakinan.
Di penjara, dia habiskan waktunya untuk ibadah dan menuntut ilmu dari ikhwah mujahidin yang di penjara bersamanya, dan saling menasehati dengan kesabaran dan keteguhan antar mereka. Dia selalu meminta kepada Allah agar dikembalikan ke barisan mujahidin.
Pada tahun 2008, Abu Shabah bebas dari penjara, namun pemerintahan Malaysia masih terus mengintainya ke mana pun dia berada. Meski demikian, dia tidak pernah melemah dan putus asa untuk bergabung dengan barisan mujahidin. Sampai Allah mengaruniakannya nikmat hijrah untuk kedua kalinya ke negeri Filipina pada tahun 2011.
Sesampainya di negeri jihad di Filipina, pemerintahan Malaysia pun kebakaran jenggot. Mereka langsung bekerja sama dengan pemerintahan Filipina untuk memerangi muhajirin dan mujahidin di sana. Meski tekanan kuffar yang dihadapi mujahidin sangat dahsyat, namun mereka tetap bersabar dan yakin akan janji Allah. Semua itu tidak menambah mereka kecuali rasa cinta kepada mujahidin dan permusuhan mereka terhadap orang-orang kafir.
Setelah berlalu waktu yang panjang dalam jihad, ujian dan cobaan, kabar gembira datang kepada mereka dengan tegakknya Daulah Islamiyah. Hal tersebut merupakan impian dan harapan yang telah Allah wujudkan untuk kaum muslimin. Khilafah yang sejak beberapa zaman telah hilang, dan dinanti-nanti oleh Abu Shabah dan rekan-rekan mujahidinnya di negeri Filipina, juga negeri-negeri lainnya. Dia pun segera bergabung dengan kafilah penuh berkah. Dia segera berbai’at kepada Khalifah Abu Bakar Al-Baghdadi bersama rekan-rekan mujahidin-Nya dari kalangan Anshar dan Muhajirin pada tahun 2014.
Setelah pemerintahan Salibis mengetahui kelompok kecil tersebut, dan menyadari adanya balatentara Khilafah berada di daerah itu, pemerintahan pun memeranginya dengan tujuan membasminya sampai ke akar-akarnya dan memadamkan cahayanya. Namun, Abu Shabah dan mujahidin tetap teguh dan sabar dalam menjalankan ikrar bai’atnya kepada Khilafah, tidak mundur dan tidak goyah. Dia selalu menasehati saudara-saudaranya untuk tetap sabar dan teguh di atas ujian dan cobaan, agar meninggalkan dunia dan mencintai akhirat. Allah pun menguji mereka dengan ujian yang baik. Sampai sebagain ikhwah terbunuh dan menemui ajalnya, sebagian lainnya masih menanti tanpa mengubah atau mengganti janji, meski dahsyatnya tipu daya musuh dan makar dari kalangan Salibis, kuffar, dan munafikin.
Abu Shabah mengikuti banyak peperangan di Filipina, di antaranya adalah peperangan di pulau Jolo Sulu, peperangan di distrik Maguindanao dan peperangan di pulau Basilan. Dia juga tidak lupa untuk menyeru ikhwah mujahidin agar bersatu di bawah satu panji, yaitu panji Khilafah. Demi hal itu, pada tahun 2016, bersama dengan muhajirin dari Malaysia dan Indonesia, Abu Shabah mendirikan batalion bernama Katibah Muhajirin. Dia berbai’at untuk kedua kalinya kepada Khalifah kaum muslimin, kemudian bergabung dalam barisan mujahidin di bawah satu komando amir yang dipilih oleh Daulah Islamiyah, yaitu Syaikh Abu Abdullah Al-Basilani hafizhahullah.
Pada bulan Syawal 1437 H pertempuran sengit berlangsung antara balatentara Ar-Rahman dan tentara Syaitan di pulau Basilan. Peperangan ini berlangsung selama sebulan penuh dibawah komando Syaikh Abu Abdullah. Pada satu hari, sebagaimana biasanya Abu Shabah bangun dengan cepat. Dia menuju dapur guna menyiapkan makanan untuk ikhwah. Tatkala makanan sudah siap, tiba-tiba dia mendengar suara kapal. Ternyata itu adalah kapal tempur jenis OVI – 10. Kapal tersebut menuju kamp militer mereka, maka dia bersegera mempersiapkan diri, mengambil senjatanya dan berangkat menuju musuhnya bak singa yang akan menerjang buruannya. Kemudian dia bertakbir dan menyerang kapal tersebut. Peperangan berlangsung sengit, namun Allah menunaikan takdir-Nya, kapal menembakkan mortirnya dan meledak di dekat lokasinya. Sang singa pun terjatuh. Tatkala saudara-saudaranya melihat hal itu, mereka bersegera menujunya untuk memberikan pertolongan darurat, namun dia telah berpindah ke tempat tertinggi, menuju tempat keabadian, meninggalkan dunia yang fana ini. Dia gugur syahid sebulan setelah pernikahannya. Allah telah menjadikan kematiannya sebagai api bagi musyrikin dan cahaya bagi mujahidin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar