Tampilkan postingan dengan label Jalan Kemenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan Kemenangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

JALAN KEMENANGAN (BAGIAN 4, SELESAI)

RUMIYAH 6 - ARTIKEL

JALAN KEMENANGAN (BAGIAN 4, SELESAI)
SYAIKH ABU HAMZAH AL-MUHAJIR

Keenam; Merasa butuh dan tawadhu’ pada Allah

Firman Allah ta'ala: “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai”. (QS. at-Taubah: 25).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ibnu Juraij berkata dari Mujahid, ‘Ini adalah ayat pertama yang turun dari surah al-Baraah (at-Taubah) yang Allah ta'ala menyebutkan karunia-Nya atas kaum muslimin dan kebaikan-Nya kepada mereka, dengan menolong mereka dalam banyak kesempatan pada ghazwah mereka bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bahwa semua itu adalah dari sisi Allah ta'ala dengan sokongan dan takdir-Nya, bukan dengan jumlah dan perbekalan mereka. Allah mengingatkan mereka bahwa kemenangan adalah dari sisi-Nya baik berjumlah sedikit maupun banyak. Karena pada Perang Hunain mereka disilaukan dengan banyaknya jumlah. Meskipun demikian, ternyata jumlah yang banyak itu tidak ada manfaatnya sedikitpun. Mereka kabur kocar kacir sampai tinggal sedikit saja yang tetap bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala telah mewahyukan padaku bahwa hendaknya kalian bersikap tawadhu”.

Ibnul Qoyim rahimahullal berkata: “Sungguh hamba senantiasa membutuhkan Allah sekalipun berlumuran dosa adalah lebih baik daripada tak pernah salah namun ujub”.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: “Tidaklah seorang bersikap tawadhu karena Allah melainkan Allah akan memuliakannya”.

Kemuliaan di dunia ini adalah dengan kemenangan, keberuntungan dan reputasi yang baik, sedangkan di akhirat adalah dengan tingginya derajat dan kedudukan yang terpuji.

Ibnu Bathal rahimahullah berkata: “Aisyah radhiyallahu anha berkata, ‘Sungguh kalian melalaikan ibadah yang paling utama, yaitu tawadhu’.”

At-Thabari rahimahullah berkata: “Tawadhu adalah bagian dari ujian yang Allah timpakan kepada hambanya yang beriman, agar Ia melihat bagaimana ketaatan mereka kepada-Nya dalam menyikapi ujian ini. Karena Allah ta'ala mengetahui mashlahat penciptaan hal itu, baik mashalat di duniai maupun nanti ketika di akhirat”. Beliau melanjutkan: “Diantara contoh tawadhu adalah ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memasuki Makkah, orang-orang berseru, ‘Inilah beliau, inilah beliau’. Maka beliau pun membungkukkan punggungnya di atas tunggangannya dan bersabda: “Allah Mahatinggi dan Mahamulia”.

Ath-Thabari melanjutkan lagi: “Dari Thariq bin Syihab berkata: ‘Ketika Umar sampai di negeri Syam, ternyata ia harus menyeberangi sebuah sungai, maka Umar turun dari untanya, melepaskan sepatunya dan memegang keduanya dengan tangannya sendiri lalu menyeberang sambil menuntun untanya. Maka Abu Ubaidah berkata, ‘Sungguh hari ini engkau telah melakukan satu hal besar menurut penduduk setempat’. Umar pun menepuk dada Abu Ubaidah dan berkata, ‘Kalau saja bukan engkau yang mengatakannya wahai Abu Ubaidah. Sungguh dahulu kalian adalah orang-orang rendah lagi terhina, lalu Allah memuliakan kalian dengan Islam, maka ketika kalian mencari kemuliaan selain Islam, Allah akan menghinakan kalian’”.

Ketujuh: Mengingat Allah

Allah ta'ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”. (QS. al-Anfal: 45).

At-Thabari berkata: “Dan perbanyaklah mengingat Allah ta'ala. Maknanya adalah berdoalah kepada Allah dan mintalah kemenangan atas mereka, serta sibukkanlah lisan dan hati kalian dengan mengingat-Nya agar kalian beruntung”.

Dari at-Thabari, dari Qotadah berkata: “Allah tetap mewajibkan mengingat-Nya dalam kondisi kalian yang paling sibuk sekalipun, yakni ketika menyabetkan pedang”.

Al-Qurthubiy menyebutkan perkataan bagus dalam tafsir ayat ini, dia berkata: “Ada tiga pendapat ulama dalam hal ini (dzikrullah):

Pertama; ingatlah Allah ketika hati kalian gundah, karena mengingat Allah dapat membantu untuk tetap teguh ketika menghadapi ujian yang bertubi-tubi.

Kedua; teguhkan hati kalian dan ingatlah Allah dengan lisan-lisan kalian. Karena hati itu tidak tenang dan lisan guncang ketika bertemu musuh, sehingga diperintahkanlah untuk terus berdzikir sampai hati itu teguh lagi yakin, lisan tetap mengingat Allah dan mengucapkan apa yang diucapkan oleh pasukan Thalut: {Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran pada kami, teguhkan pijakan kami dan tolonglah kami melawan orang-orang yang zalim}. Keadaan ini tidak akan terjadi kecuali dengan kuatnya ma’rifatullah dan tajamnya bashirah, dan inilah keberanian yang terpuji.

Ketiga; ingatlah akan janji Allah pada kalian, yaitu bahwa Dia telah membeli jiwa kalian dan dan membayarnya dengan pahala berlipat. Saya katakan bahwa ketiga hal itu bisa saja merupakan maksud dari dzikrullah, maka ia mengingat Allah dengan lisannya, hatinya merasakan keberanian, sembari ingat janji Allah akan kemenangan di dunia dan surga di akhirat. Firman Allah ta'ala pada Musa dan Harun: “Dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku”. (QS. Thaha: 42). Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Maksudnya bahwa mereka berdua tidak terputus mengingat Allah ketika menghadapi Firaun, agar dzikrullah menjadi penolong dan menjadi kekuatan bagi mereka berdua serta menjadi kekuatan yang tak terpatahkan oleh Firaun”. Sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Hamba-Ku adalah setiap hamba yang mengingat-Ku meskipun sedang bertempur melawan musuhnya”.

Ketahuilah bahwa dzikrullah ketika bertempur dilakukan secara sirr karena disebutkan oleh al-Hakim dan dishahihkannya dari Abu Musa radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membenci bertempur sambil bersuara.

Kedelapan; Doa

Allah ta'ala berfirman: “Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Rabbku tidak mengindahkan kamu, jikalau bukan karena doamu”. (QS. al-Furqan: 77).

Juga firman-Nya: “Maka serulah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya”. (QS. Ghafir: 65)

Dia juga berfirman: “Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. al-A’raf: 56)

Demikian juga firman-Nya: “Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).

Serta firman-Nya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. al-Baqarah: 186).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Doa adalah ibadah”. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hakim dan yang lainnya: “Tidak ada suatu apapun yang lebih mulia bagi Allah selain dari doa”. Beliau juga bersabda: “Siapa yang tidak meminta pada Allah, niscaya Dia akan murka padanya”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Kemenangan dan rizki dapat diperoleh dari berbagai sebab, sebab yang terkuat adalah doa orang-orang yang beriman”. Beliau juga berkata: “Tatkala Allah menetapkan kemenangan pada Perang Badar dan Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkannya kepada para sahabat sebelum terjadi juga memberitahu tempat-tempat terbunuhnya orang-orang musyrik; salah satu sebab hal itu adalah permohonan dan doa Nabi shallallahu alaihi wasallam".

Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tatkala beliau melihat banyaknya musuh dan kuatnya mereka, serta sedikitnya para sahabatnya dan lemahnya mereka, beliau segera menghadap kepada satu-satunya Dzat Pemilik Kemenangan: “Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ali ‘Imran: 126). Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari al-Faruq Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu berkata: “Tatkala Perang Badar, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat kepada kaum musyrikin yang berjumlah seribu orang sedangkan sahabatnya hanya berjumlah 319 orang, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menghadap kiblat, kemudian beliau menengadahkan tangannya dan menyeru Rabbnya: “Ya Allah, penuhilah apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang Engkau janjikan padaku. Ya Allah, jika Engkau binasakan sekelompok kecil dari pemeluk Islam ini, Engkau tidak lagi disembah di bumi ini”. Beliau terus menerus berbuat demikian sampai selendangnya jatuh dari pundaknya”. Beliau juga berdoa untuk kebinasaan orang-orang musyrik secara umum, beliau berdoa sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih: “Ya Allah yang menurunkan al-Qur’an, Yang Mahacepat hisab-Nya, hancurkan persekutuan musuh ini. Ya Allah, kalahkanlah mereka dan goncangkanlah mereka”.

Nabi shallallahu alaihi wasallam juga mengkhususkan beberapa personel dan pemimpin mereka. Dalam hadits shahih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam menghadap Ka’bah lalu berdoa untuk kebinasaan sekelompok Quraisy, yakni; Syaibah bin Rabiah, Utbah bin Rabiah, al-Walid bin Utbah dan Abu Jahal bin Hisyam. Aku bersaksi kepada Allah, sungguh aku melihat mereka bergelimpangan, jasadnya berubah terkena terik matahari”.

Ketahuilah wahai wali Allah, sungguh engkau berada di satu kondisi dari sekian kondisi dikabulkannya doa. Dari Sahal bin Saad as-Sa’di berkata sebagaimana disebutkan dalam al-Muwattha: “Ada dua waktu dibukanya pintu-pintu langit, dan amat sedikit ketika itu orang yang berdoa namun doanya ditolak; saat panggilan sholat adzan dan ketika berbaris (berhadapan dengan musuh) di jalan Allah”.

Maka wahai Mujahid, manfaatkalah sebaik-baiknya waktu-waktu dikabulkannya doa, seperti pada hari Jumat, ketika adzan, pada waktu turun hujan, dan di sepertiga malam terakhir. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam di sepertiga malam terakhir, Dia berkata, ‘Siapa yang berdoa pada-Ku niscaya Aku kabulkan, siapa yang meminta pada-Ku niscaya Aku beri, siapa yang meminta ampunan-Ku niscaya Aku ampuni dia”. Dalam riwayat lain disebutkan: “Siapa yang meminta rizki pada-Ku niscaya Aku berikan rizki padanya, siapa yang meminta dijauhkan dari derita niscaya Aku jauhkan darinya”.

Sungguh saya sangat berharap pada Allah agar Dia tidak menghalangi terkabulkannya doa kita, apalagi kita telah dizalimi oleh orang dekat maupun jauh dan seluruh dunia telah berkumpul untuk memerangi kita. Ada berita gembira untuk kalian dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika bersabda kepada Muadz: “Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzalimi, karena sungguh tidak ada penghalang antara dirinya dengan Allah”.

Inilah Nabi yang teraniaya, dia didustakan lalu berdoa, lalu bagaimanakah jawaban doanya? Allah ta'ala berfirman: “Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman). Maka dia mengadu kepada Rabbnya: “bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)”. Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku”. (QS. al-Qomar: 9-13).

Kemudian ketahuilah wahai Mujahid, bahwa diantara jalan kemenangan adalah adanya orang-orang lemah di barisan kita yang mendoakan untuk kemenangan kita, dalam hadits shahih disebutkan dari Ibnu Abbas berkata: “Abu Sufyan telah mengabarkan kepadaku, dia berkata, ‘Kaisar Romawi berkata padaku, ‘Aku bertanya padamu apakah para bangsawan yang mengikuti Muhammad ataukah orang-orang lemah, lalu kamu menjawab orang-orang lemah, dan merekalah pengikut para Rasul’”.

Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Saad radhiyallahu anhu: “Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki melainkan karena adanya orang-orang yang lemah di antara kalian”.

Hadits ini menjelaskan anjuran untuk memperhatikan orang-orang lemah dari kalangan mujahidin dan yang selain mereka dari kalangan perempuan, anak-anak dan orang-orang tua, karena pada umumnya mereka itu lebih ikhlas dalam berdoa, lebih khusyu’, dan lebih menampakkan kebutuhan kepada Allah.

Sebagai penutup, saya ingatkan akan firman Allah ta'ala: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”. (QS. Ali Imran: 200), dan firman-Nya: “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. al-Maidah: 23), serta firman-Nya: “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS. an-Nahl: 128), juga firman-Nya: “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (QS. al-Hajj: 40), serta firman-Nya: “Hai orangorang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”.(QS. al-Anfal: 45). Inilah jalan kemenangan sesuai yang tersebut dalam kitab Allah, pegang teguhlah dengan erat.

Terakhir, sebab dirilisnya tema ini adalah karena musuh telah mengumumkan –meskipun mereka cuma berdusta– bahwa jumlah korban mereka di Irak mencapai empat ribu jiwa. Sepantasnya kita merayakan peristiwa ini dengan cara kita sendiri dan kita undang si bodoh Bush untuk menghadiri perayaan kita. Kami minta kepada para pahlawan Daulah yang kita cintai, agar setiap detasemen membawakan kepala orang Amerika, sebagai hadiah bagi si Dajjal Bush dengan cara apapun yang sesuai menurut mereka. Tidak lupa juga kepala pelayan-pelayan dan budak hina serta agen rendahan dari kalangan shahawat murtad. Semua itu dilaksanakan dalam waktu paling lama sebulan setelah tiap detasemen diberi tahu. Pahala operasi ini kita hadiahkan kepada kalangan awam muslimin yang terbunuh secara teraniaya dan lalim di Zanjili, Ba’qubah, Duwalibah dan tempat-tempat lainnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Amru bin al-Ash: “Jika ayahmu mengikrarkan tauhid, lalu kamu berpuasa atau bersedekah atas namanya, niscaya hal itu akan bermanfaat untuk ayahmu”.

Adapun operasi ini dilaksanakan dengan sandi Ghazwatul Birr.

Kami sangat berharap pada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang agar mengampuni keluarga kita, khususnya mereka yang tidak berada dalam barisan mujahidin dan orang-orang – yang tidak diragukan – lagi mati membawa dosa besar karena meninggal kewajiban yang telah menjadi fardhu ‘ain atas mereka.

Kita meminta pada Allah agar memberi petunjuk kepada umumnya kaum muslimin dan agar mengembalikan mereka kepada panji kebenaran dan Din ini. Allah Maha Menang atas perkara-Nya akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Saudara kalian,
Abu Hamzah al-Muhajir

JALAN KEMENANGAN (BAGIAN 3)

RUMIYAH 5 - ARTIKEL

JALAN KEMENANGAN (BAGIAN 3)
SYAIKH ABU HAMZAH AL-MUHAJIR

Allah ta'ala berfirman: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi”. (QS. al-Anfal: 60).

Penulis Adhwaul Bayan mengatakan: “Ini adalah perintah tegas untuk mempersiapkan semua kekuatan yang dimampui. Meskipun kekuatan (musuh) mengalami perkembangan yang pesat. Karena ini adalah perintah tegas untuk mengikuti perkembangan teknologi dalam urusan dunia”.

Telah diketahui bahwa jihad adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim dan khususnya di Bilad ar-Rafidain (Irak). Sedangkan jika sesuatu yang wajib itu tidak sempurna lantaran membutuhkan suatu hal, maka sesuatu hal itu menjadi wajib.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Memanahlah wahai Bani Ismail, karena sesungguhnya bapak kalian adalah pemanah”, dan sabdanya: “Ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah”.

Berkata ash-Shan’ani: “Hadits ini menunjukkan bahwa tafsir al-quwwah dalam ayat tersebut adalah memanah, karena hal itu sudah menjadi kebiasaan pada masa Nabi, sekalipun sebenarnya mencakup menembak orangorang musyrik dan para pemberontak dengan senapan”.

Ringkasnya, mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi peperangan yang berlangsung melawan musuh penjajah dan orang-orang murtad adalah wajib bagi setiap muslim yang mendapat beban kewajiban jihad. Yang akan saya khususkan di sini adalah;

Pertama: Apa yang disebutkan oleh Abu Ja’far at-Thabari rahimahullah dalam menafsirkan firman Allah ta'ala: {Kekuatan apa saja yang kalian mampu}. Dia berkata: “Kekuatan apa saja yang kalian mampu untuk menghadapi mereka berupa peralatan dan persenjataan untuk menambah kekuatan kalian”. Maka produksi senjata adalah faktor pendukung terbesar dalam jihad fi sabilillah, yang pada saat ini disebut dengan industri militer. Sungguh Allah telah menyebutkan produksi ini bukan dalam satu tempat saja dalam kitab-Nya. Bahkan Dia menyebutkan sebagiannya dengan sangat rinci.

Allah ta'ala berfirman; “Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat labus (baju besi) untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)”. (QS. al-Anbiya: 80). Berkata ath-Thabari rahimahullah: “ “Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat labus (baju zirah) untuk kamu”, al-labus menurut orang Arab adalah semua jenis persenjataan, baik perisai, baju zirah, pedang, maupun tombak”. Sedangkan Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya adalah pembuatan perisai/ baju zirah”.

Allah Rabbul ‘izzah menyebutkan sifat perisai itu dalam firman-Nya: “Buatlah perisai yang besar-besar dan ukurlah anyaman (baju besi)-nya”. (QS. Saba: 11). Maksudnya adalah perisai yang lebar dan panjang. “Dan ukurlah anyaman (baju besi)-nya”, dalam Adhwaul Bayan disebutkan: “Maksudnya jadikanlah cincin dan paku (rivet –pent) dalam pembuatan baju zirah itu sesuai ukurannya”. Ibnu Katsir meriwayatkan dari Qotadah berkata: “Sesungguhnya baju besi dahulu terbuat dari lempengan besi, Dawudlah yang pertama kali membuatnya dari rangkaian cincin (zirah rantai –pent)”.

Dari penjelasan tersebut, engkau dapat mengetahui bagaimana perhatian ilahiyah terhadap pembuatan baju besi hingga Allah menyebutkannya dengan sangat terperinci dan Dia karuniakan baju besi itu kepada hamba-hamba-Nya. Maka hendaklah kalian bersyukur.

Namun sangat disayangkan, kebanyakan mujahid atau mayoritasnya tidak mempedulikan penggunaan baju besi dalam peperangan kita melawan musuh, padahal mengandung banyak manfaat.

Manfaat pertama yang paling penting adalah menjaga jiwa mujahid sebagai sesuatu yang paling berharga, dari tembakan dan serpihan bom musuh.

Manfaat kedua yaitu menjaga mujahid agar tidak terkena tembakan pada bagian tubuh yang mematikan sehingga menghalanginya dari jihad atau membuatnya kehilangan kesadaran dan terkapar di medan tempur yang menjadikannya berpeluang tertawan musuh.

Manfaat ketiga yaitu membantu mujahid untuk sampai lebih dekat pada tempat musuh, khususnya bagi para pahlawan penyergapan dan singa-singa istisyhadi.

Terakhir, kita bukanlah orang yang lebih pemberani dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedangkan dahulu beliau memiliki baju besi dan helm tempur, sebagaimana beliau juga memiliki pedang.

Dalam Shahih Bukhari dari Aisyah radhiyallahu anha berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat sedangkan baju zirahnya tergadaikan pada seorang Yahudi dengan tiga puluh sha’ gandum”. Diriwayatkan juga bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagaimana disebutkan oleh Ahmad dalam Musnadnya dan Abu Dawud bahwa beliau mengenakan dua lapis baju zirah dalam Perang Uhud. Dari Anas bin Malik sebagaimana disebutkan dalam as-Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Nabi shallallahu alaihi wasallam memasuki Makkah pada tahun penaklukan mengenakan mighfar, yaitu zirah yang dikenakan di kepala, atau helm menurut bahasa sekarang.

Allah ta'ala telah menunjukkan pada kita ilmu peleburan logam yang merupakan dasar pembuatan senjata apa saja di masa sekarang ini. Firman Allah ta'ala dalam kisah Dzulqornain; “Berilah aku potongan-potongan besi”. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqornain: “Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu”. (QS. al-Kahfi: 96). Maksudnya bawakanlah potongan-potongan besi besar untukku dan panasilah hingga merah menyala-nyala karena amat panas dan membara. Selanjutnya Dzulqornain berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu”. Maksudnya adalah tembaga yang meleleh. Telah ditemukan bahwa menambahkan sekian persen tembaga ke dalam besi adalah metode terbaik untuk mengeraskan dan menambah ketahanannya.

Allah juga mengajarkan kepada Nuh pembuatan kapal, firman-Nya: “Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami”. (QS. Hud: 37). Ath-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata: “Nuh alaihis salam belum mengetahui teknik pembuatan kapal, maka Allah mewahyukan padanya untuk membuatnya melengkung seperti dada burung”.

Demikianlah.

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam telah memuji umatnya yang berperang menaiki kapal sebagaimana dalam hadits Ummu Haram radhiyallahu anha, maka adakah yang bersegera membuatnya? Allah ta'ala berfirman: “Maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari”. (QS. an-Nahl: 26).

Siapapun yang memahami bahan-bahan peledak dan penggunaannya pasti mengetahui bahwa ayat ini adalah benar-benar dasar penghancuran bangunan menggunakan peledak, dan cukuplah bagimu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah memotivasi untuk meproduksi sesuatu sebagaimana motivasinya untuk memproduksi peralatan perang, sabdanya: “Tiga orang dapat masuk surga dengan satu panah; yaitu pembuatnya yang dalam pembuatannya mengharap kebaikan, yang menembakkannya dan orang yang memberikannya”.

Maka bagaimana halnya dengan orang yang membuat konstruksi roket dan pesawat, atau menciptakan bahan peledak?

Persiapan Media

Sesungguhnya pertempuran antara mujahidin melawan musuh-musuh mereka berkisar pada dua poros penting. Pertama adalah poros militer dan telah dijelaskan sebelumnya. Sedangkan kedua adalah poros melawan media setan yang mengubah identitas ummat, memalingkan akidah dan nilai-nilai mereka, serta menancapkan faktor-faktor pengekoran dan kekalahan mental. Karena sungguh panasnya peluru media itu lebih berbahaya dan mematikan daripada panasnya rudal-rudal pesawat. Oleh karena itu, selayaknya mujahidin yang telah Allah berikan taufik untuk mematahkan kekuatan militer musuh-musuh mereka hendaknya mereka juga menggeluti front lain, yaitu front media.

Di dalam al-Musnad dari Anas radhiyallahu anhu berkata; “Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan lisan-lisan kalian”.

Masih dalam al-Musnad dari Ka’ab bin Malik dari bapaknya berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh seorang mukmin berjihad dengan pedang dan lisannya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kata-kata yang kalian lontarkan pada mereka itu laksana tusukan anak panah”.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga memanfaatkan sarana media pada zamannya yang paling berpengaruh dalam jiwa musuh-musuhnya, yaitu syair.

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam memasuki Makkah dalam ‘Umratul Qadha sedangkan Abdullah bin Rawahah berjalan di depan beliau seraya bersyair; Menyingkirlah wahai orang-orang kafir dari jalan beliau Hari ini akan kami perangi kalian dengan hukum yang diturunkan padanya Pukulan yang dapat memisahkan kepala dari tempatnya Serta menyingkirkan sang kekasih dari pasangannya Maka Umar pun berkata: “Wahai Ibnu Rawahah! Apakah di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan di tanah haram ini engkau bersyair? Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Biarkan saja wahai Umar, karena sungguh syair itu lebih cepat menusuk daripada tusukan anak panah”.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bergembira dengan islamnya Khalid sang komandan militer, beliau juga bergembira dengan islamnya salah seorang ahli sya’ir.

Disebutkan dalam al-Mu’jam al-Kabir karya at-Thabrani bahwa ketika datang utusan Anshar dalam baiat Aqobah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepada Abbas: “Apakah kamu mengetahui dua orang ini? Tatkala telah selesai Abbas menjawab: “Ya, ini adalah al-Barra bin Ma’rur seorang tokoh kaumnya dan ini adalah Ka’ab bin Malik”. Ka’ab berkata: “Demi Allah, aku tidak lupa pertanyaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Sang penyair itu? Abbas menjawab: “Ya”.

Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam amat memperhatikan para penyairnya dan mempersiapkan mereka sebaik-baiknya.

Beliau bersabda pada Hassan: “Datangilah Abu Bakar agar dia memberitahukan padamu keburukan kaum (kafir), karena dia mengetahui nasab”.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan, dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa Hassan meminta ijin Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk menyerang orang-orang musyrik dengan syair. Beliaupun bertanya: “Bagaimana dengan nasabku? Hassan menjawab: “Sungguh aku akan menarik engkau dari mereka sebagaimana sehelai rambut ditarik dari adonan roti.”

Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga menyukai syair yang baik, beliau pernah bersabda: “Sebaik-baik kalimat yang dilantunkan seorang penyair adalah kata-kata Labib (bijak), ‘Ketahuilah bahwa segala (sesembahan) selain Allah adalah bathil’, hampir saja Umayah bin Abi as-Salth masuk Islam (karena sya’ir tersebut)”.

Nabi shallallahu alaihi wasallam juga mempunyai seorang orator untuk membela Islam dan kaum muslimin, yaitu Tsabit bin Qois bin Syammas, seorang sahabat yang dijamin masuk surga. Tatkala Bani Tamim datang dengan orator dan penyair mereka, Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata pada Tsabit bin Qois: “Berdirilah dan balaslah mereka”. Maka Tsabit pun membalas mereka, lalu al-Aqra’ bin Habis pun berdiri dan berkata, “Demi Allah! Sungguh Muhammad adalah orang yang diberi karunia. Aku tidak mengetahui perkara apa ini, orator kami berorasi namun orator mereka lebih bagus orasinya, penyair kami berdeklamasi namun penyair mereka lebih lihai dan lebih fasih”. Kemudian al-Aqra’ mendekati Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berujar: “Saya bersaksi tidak ada ilah (yang haq) selain Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah”.

Maka dapat kita simpulkan beberapa target penting media Islam dalam beberapa poin berikut:

a. Membela kehormatan dan akidah kaum muslimin.

Allah ta'ala berfirman memuji sebagian penyair: : “Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal shalih dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman”. (QS. asy-Syu’ara: 227). Dari Ibnu Abbas, maksudnya adalah membalas syair-syair yang dilontarkan orang-orang kafir untuk menyerang kaum mukminin.

Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wahai Hassan jawablah permintaan Rasulullah, Ya Allah bantulah ia dengan Ruhul Qudus (Jibril)”. Ibnu ‘Asakir menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang bersedia melindungi kehormatan kaum muslimin?. Maka Ibnu Ka’ab menyahut, “Saya”. Ibnu Rawahah menyusul berkata, “Saya”, dan Hassan pun juga berkata, ‘Saya.”. Rasul bersabda: “Ya, seranglah mereka dengan syairmu, Ruhul Qudus akan membantumu mengalahkan mereka”.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda: Sesungguhnya Allah menguatkan Hassan dengan Jibril selama dia menyokong atau membela Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

b. Mengobarkan semangat pemuda ummat dan khususnya para mujahidin.

Dalam hadits shahih dari Salamah bin al-Akwa’ berkata: “Kami bergerak menuju Khaibar bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam tatkala kami berjalan di malam hari ada seseorang yang berkata kepada Amir bin al-Akwa’, ‘Tidakkah engkau memperdangarkan sedikit senandungmu kepada kami? Amir adalah seorang penyair. Maka dia segera menyenandungkan syairnya”.

c. Membongkar tipuan ideologi dan moral orangorang kafir serta murtaddin, memberikan pencerahan pada umat mengenai hakekat kebusukan peradaban dan kepalsuan ide-ide mereka, menahan nafsu congkak mereka terhadap kaum muslimin dan menanamkan rasa gentar dalam jiwa mereka.

Ibnu Abdil Barr dalam al-Isti’ab dari Ibnu Sirin berkata: “Dahulu para penyair kaum muslimin adalah Hassan bin Tsabit, Abdullah bin Rawahah dan Ka’ab bin Malik. Ka’ab meneror mereka dengan ancaman perang, Abdullah mencela kekafiran mereka, dan Hassan menyindir nasab-nasab mereka”. Ibnu Sirrin berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa Kabilah Daus masuk Islam lantaran takut dengan syair Ka’ab bin Malik,
Kami telah punahkan hasrat Tihamah dan Khaibar
Kemudian kami sarungkan pedang
Kami katakan padanya, seandainya ia bisa bicara
Tentu akan menebas Daus atau Tsaqif
Maka Kabilah Daus berkata pergilah dan jagalah diri kalian, jangan sampai apa yang menimpa Tsaqif juga menimpa kalian."

d. Menyampaikan gambaran sebenarnya mengenai pertempuran yang berlangsung antara para prajurit Islam dan musuh-musuh mereka, serta mendokumentasikan hakikat kepahlawanan para pemuda Islam agar tidak hilang sia-sia atau dicuri oleh para mafia darah.

JALAN KEMENANGAN (BAGIAN 2)

RUMIYAH 3 - ARTIKEL

JALAN KEMENANGAN (BAGIAN 2)
SYAIKH ABU HAMZAH AL-MUHAJIR

Ketiga: Mendengar, Taat dan Melaksanakan perintah Allah.

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami taati.” (al-Maidah: 7). Dari Ubadah radhiyallahu anhu berkata, “Kami berbaiat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk mendengar dan taat baik dalam keadaan giat maupun malas, dalam keadaan susah maupun mudah, tidak mementingkan diri sendiri, dan tidak menentang kepemimpinan yang berhak kecuali engkau melihat kekufuran nyata yang engkau mempunyai bukti di sisi Allah.” Dalam satu riwayat: “(Kami berbaiat) untuk mendengar dan taat dalam keadaan senang maupun malas.” Nabi juga bersabda, “Dengar dan taatilah, walaupun yang memerintah kalian adalah hamba sahaya (selama) dia memimpin kalian dengan kitab Allah.”

Di dalam Fathul Bari, al-Hafizh Ibnu Hajar membuat bab hadits-hadits ini dengan judul “Perintah Mentaati Setiap Pemimpin Sekalipun Bukan Imam”.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Aku memerintahkan kalian untuk mengerjakan lima hal yang Allah perintahkan padaku, jamaah (bersatu), mendengar dan taat, hijrah, dan jihad.”

Yang ingin saya tekankan di sini adalah kejujuran dalam mendengar dan mentaati serta kesungguhan dalam melaksanakan perintah-perintah Allah azza wa jalla dalam kondisi susah dan berat, karena melaksanakan ketaatan yang disukai itu adalah mudah dengan pertolongan Allah.

Kami juga sering memperingatkan agar tidak bermaksiat dalam peperangan, karena sungguh kami telah berkali-kali merasakan dampak buruknya, lagipula hal itu juga menjadi sebab datangnya berbagai kecelakaan.

Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada Perang Uhud telah menentukan posisi tiap regu dan meletakkan regu pemanah di tempat yang mereka bisa melindungi bagian belakang pasukan dari serangan dadakan musuh, lalu dengan jelas beliau bersabda kepada mereka, “Jagalah bagian belakang kita, jika kalian melihat kami terbunuh janganlah (turun) menolong kami, sedangkan jika kalian melihat kami mendapatkan ghanimah, janganlah mengikuti kami.” Namun regu pemanah itu tidak memperhatikan nasehat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan hasilnya adalah kaum muslimin menelan pahitnya kekalahan dan banyaknya korban lantaran maksiat sekelompok regu sekalipun telah diperingati dan dinasehati oleh komandannya.

Kisah di atas menunjukkan bahwa kemaksiatan militer dampaknya amat cepat. Ijtihad apapun yang ditempuh seorang prajurit namun menyelisihi ijtihad komandannya sekalipun nampaknya baik, itu adalah kesalahan besar dan membuka pintu keburukan. Karena seorang prajurit beribadah kepada Allah dengan taat pada amirnya selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat secara syar’i.

Ijtihad pergerakan militer adalah murni hak amir, tidak diperkenankan menyelisihinya kecuali karena hendak menasehatinya. Kaidah menyebutkan, “Sesungguhnya pendapat imam atau amir itu tidak boleh ditentang dengan pendapat individual seorang muslim.”

Wahai hamba-hamba Allah, perhatikan nikmat mendengar dan taat dalam keadaan susah dan sempit. Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kaum muslimin yang terluka di Perang Uhud untuk segera bergerak setelah beliau mengetahui Abu Sufyan hendak menghabisi sisa pasukan Islam. Mereka segera melaksanakan perintah ini demi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, sekalipun luka dan kesakitan yang diderita mereka. Allah azza wa jalla berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertaqwa ada pahala yang besar.” (Ali ‘Imran: 172).

Persis seperti inilah kondisi mereka sekembalinya dari Perang Ahzab. Ketika mereka bersiap-siap untuk beristirahat setelah lepas dari pengepungan, merasa gembira dengan rasa aman yang didapat, dan belumlah debu-debu sisa pengepungan panjang itu surut, tiba-tiba turun perintah untuk segera bersiap-siap bertempur lagi dengan cepat: “Janganlah seorangpun shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.”

Maka mereka sambut perintah Allah dan Rasul-Nya, dan sungguh mereka telah jujur kepada Allah dan Rasul-nya, sehingga kemenangan pun diperoleh lantaran kejujuran mereka dalam mendengar dan mentaati serta bersungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu sebagaimana dalam Shahih Muslim, Rasulullah bersabda, “Siapa yang taat padaku, berarti telah taat pada Allah. Siapa yang bermaksiat padaku, berarti telah bermaksiat pada Allah. Siapa yang taat pada pemimpin yang aku tunjuk, berarti taat padaku, dan siapa yang membangkang padanya, berarti membangkang padaku.”

Adapun hal-hal yang membantu untuk mendengar dan taat pada pemimpin di antaranya;

Pertama: Berbaik sangka pada pemimpin.

Allah azza wa jalla berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka adalah dosa.” (al-Hujurat: 12).

Jika berbaik sangka terhadap kaum muslimin secara umum saja wajib, maka terhadap pemimpin adalah lebih wajib. Tidak ada yang lebih membahayakan jihad daripada berburuk sangka terhadap amir. Betapa tidak, berburuk sangka adalah omongan paling dusta. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jauhilah berprasangka, karena sungguh prasangka adalah perkataan paling dusta.”

Penulis kitab Faidhul Qadir berkata, “Barangsiapa berburuk sangka terhadap orang yang tidak layak disangka buruk, perbuatannya itu menunjukkan tidak adanya istiqamah dalam dirinya, sebagaimana dikatakan, ‘Jika perbuatan seseorang itu buruk, buruk pula prasangkanya.’”

Kedua: Menghormati pemimpin.

Di dalam al-Musnad, dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, dari Mu’adz berkata, “Rasulullah memerintahkan lima hal kepada kami, siapa yang mengerjakan sebagiannya maka Allah akan menjaminnya, yaitu siapa yang menengok orang sakit, mengiringi pemakaman jenazah, keluar untuk berperang, menemui pemimpinnya untuk menegur dan menghormatinya, atau duduk diam di rumahnya agar orang selamat dari gangguannya dan dia selamat dari gangguan manusia.”

Menegur dan menghormati amir adalah dengan mematuhi dan membantunya, menyebutkan kebaikan-kebaikan dan budi pekertinya, bersegera untuk menuruti perintah dan larangannya, dan menasehatinya dengan sembunyi-sembunyi. Dalam Fathul Bari, Al-Hafizh Ibnu Hajar menukil, “Menasehati para pemimpin kaum muslimin adalah dengan membantu mereka melaksanakan tanggung jawabnya, memperingatkan mereka ketika lalai, meluruskan kekeliruan mereka, menyepakati pendapat mereka, dan menjinakkan hati yang membenci mereka.”

Keempat: Sabar dan teguh.

Allah azza wa jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, ber- sabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Ali ‘Imran: 200). Karena jalan ini adalah jalan panjang yang membutuhkan bekal, jalan yang susah dan melelahkan, dan penuh dengan aral melintang, maka kesabaran dan keteguhan adalah keniscayaan. Juga karena jihad adalah ibadah yang Allah wajibkan kepada kita, maka kita harus melaksanakannya meski ujian bertumpuk dan kebosanan menyelinap, meski kebathilan semakin menjadi-jadi dan penolong semakin sedikit, harus tetap melangkah.

Imam Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dia berkata, “Abu Ubaidah bin Al-Jarrah mengirim surat kepada Umar bin Khattab menyebutkan banyaknya jumlah Romawi dan hal-hal yang dikhawatirkan. Umar membalas suratnya dengan menulis, “Amma ba’du, sesulit apapun keadaan yang menimpa seorang hamba mukmin niscaya Allah akan menjadikan kelapangan setelahnya. Sungguh satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Karena Allah berfirman dalam Kitab-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 155). Abu Ja’far At-Thabari berkata, “Ini pemberitahuan Allah azza wa jalla kepada para pengikut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara berat agar diketahui siapa yang benar-benar mengikuti Rasul dari orang-orang yang surut kebelakang.”

Namun, kesabaran hanya akan membuahkan kebaikan. Allah berfirman, “Jika kalian bersabar, maka (kesabaran) itu adalah baik bagi orang-orang yang bersabar.” (an-Nahl: 126). Maka memohonlah pertolongan kepada Allah dan ucapkanlah seperti mujahidin pendahulu kalian: “Dan tatkala mereka keluar (menghadapi) Jalut dan tentaranya, mereka berkata, wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran pada kami, teguhkanlah pijakan kami, dan tolonglah kami melawan orang-orang kafir.” (al-Baqarah: 250), juga seperti ucapan para muwahid yang teruji: “Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran pada kami dan wafatkanlah kami sebagai orang-orang Islam.” (al-A’raf: 126). Dengan kata-kata itu, mereka menjadi para syuhada berbahagia setelah sebelumnya mereka hanyalah para penyihir kafir.

Ketahuilah, sebagaimana Nabi yang jujur lagi terpercaya, sebaik-baik nabi yang menyampaikan dari Rabb semesta alam bersabda, “Kalau saja sekelompok umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat padamu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu, dan jika mereka berkumpul untuk menimpakan marabahaya padamu, mereka tidak menimpakan marabahaya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu.” Beliau shallallahu alaihi wasallam juga bersabda, “Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan setelah kesulitan itu ada kemudahan.”

Yang ingin saya fokuskan disini, sebagaimana telah terbukti berdasarkan pengalaman bahwa pengaruhnya amatlah besar, yaitu keteguhan pemimpin, khususnya di medan tempur ketika berjibaku dengan musuh. Diriwayatkan di dalam Ash-Shahih; ada orang yang bertanya kepada Al-Barra radhiyallahu anhu, “Wahai Abu ‘Amarah, apakah kalian lari pada saat Perang Hunain?” Saya mendengar Al-Barra’ berkata, “Adapun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidaklah berpaling, ketika itu Abu Sufyan bin Al-Harits menahan tali kekang baghlun-nya (persilangan antara kuda dan keledai), maka tatkala orangorang musyrik mengelilinginya, beliau turun dan berseru, “Sayalah nabi yang tidak berdusta, sayalah putera Abdul Mutthalib.” Hadits ini mengandung beberapa faedah agung, sebagai petunjuk jalan:

Renungan Pertama:

Sejak dulu, tempat para pemimpin adalah bumi berkecamuknya pertempuran, bukan malah menjauhinya, apalagi berpindah-pindah tempat dengan alasan bahwa dia adalah figur yang harus dijaga demi keberlangsungan dakwah. Paling minimal yang kami inginkan dari ikhwah kami adalah hendaknya pemimpin wilayah tetap berada di sekitar wilayahnya, pemimpin sektor tetap membersaamai sektornya, dan pemimpin batalyon atau detasemen tetap membersamai tentaranya. Jika tidak mampu melakukannya, maka dia tidak berhak memimpin sekalipun layak. Singa itu tidak berburu di luar hutan kecuali jika ingin memunguti sisa-sisa buruan lainnya.

Renungan Kedua:

Perkataan “menahan tali kekang baghlun”, mengandung bahwa keteguhan seorang pemimpin itu harus nampak dan terwujud dalam sikapnya. Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada kondisi yang berbahaya ini malah menunggang baghlun yang lambat jalannya.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Inilah betul-betul puncak keberanian, bahwa beliau pada hari yang seperti itu, dalam kecamuk perang, dan pasukannya kacau-balau, beliau malah mengendarai baghal yang tidak bisa berlari cepat apalagi digunakan untuk menyerbu dan melarikan diri. Meskipun demikian, beliau masih juga memacunya sampai menghadapi pasukan musuh, dan meneriakkan namanya sehingga yang tidak mengetahui menjadi mengerti, semoga shalawat dan salam terus-menerus tercurah padanya sampai Hari Kiamat.”

Ibnu Batthal menyebutkan dari Al-Muhallab yang berkata, “Terkandung anjuran kepada imam untuk menunggang baghal ketika perang, karena akan menambah keteguhannya, juga agar tidak dikira bahwa dia telah bersiap-siap untuk kabur. Selain itu juga sebagai trik agar pengikutnya ikut muncul keteguhannya ketika melihat pemimpinnya terlihat teguh dan bertekad kuat.”

Dalam perkataan ini ada faedah: selayaknya seorang amir tidak menaiki kendaraan yang lebih cepat dan lebih kuat dari kendaraan tentaranya. Namun selayaknya kendaraannya itu sama, atau lebih rendah dari kendaraan tentaranya, hal itu untuk meneguhkan tentaranya dan menjauhi syubhat khususnya jika kendaraannya itu bersumber dari harta jihad.

Renungan Ketiga:

Beliau shallallahu alaihi wasallam mengenalkan dirinya dengan sabdanya: “Sayalah nabi yang tidak berdusta, sayalah putra Abdul Mutthalib.” Ketika kondisi semakin genting dan pertempuran semakin menciutkan nyali sampai ada seseorang yang melewati saudaranya namun tidak menyadarinya lantaran genting dan kacau-balaunya keadaan, maka sudah seharusnya bagi beliau shallallahu alaihi wasallam memberitahu tentaranya dan siapa saja yang memiliki kecintaan padanya, bahwa beliau ada dan tidak lari. Beliau meneriakannya keras-keras, tidak mempedulikan tindakan preventif maupun kewaspadaan militer, karena ketika itu bukanlah waktu dan tempat untuk memperhatikan hal itu. Kondisi ketika itu menuntut pengorbanan jiwa dan keteguhan dalam kondisi terdesak.

Yang sangat mengherankan, sebagian komandan jihad ketika dalam kondisi genting, musuh menyerbu daerahnya, dan tentaranya banyak yang terbunuh, malah pergi bersembunyi. Bahkan tidak menghubungi seorangpun dari tentaranya, malah mungkin merubah namanya. Hal itu dengan alasan demi menjaga keberlangsungan kepemimpinan. Padahal sebenarnya dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri dan ikhwannya. Jika saja ia tetap teguh bersama tentaranya, menyatukan mereka, menampakkan kesabaran dan keteguhan, dan balik menggempur musuh, niscaya hal itu justru malah bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan ikhwannya, bukan malah menyia-nyiakan dirinya dan orang-orang yang dipimpinnya.

Renungan Keempat:

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Muslim, “Wahai Abbas, serulah Ashab as-Samurah (kaum anshar yang ikut dalam Baiat Ridwan).” Maka Abbas pun berkata –dia seorang yang bersuara keras— “Maka aku pun berteriak sekeras-kerasnya, ‘Dimana Ashab as-Samurah?’” Abbas melanjutkan, “Demi Allah, sungguh respon mereka ketika mendengar suaraku seperti respon sapi terhadap anaknya. Mereka berseru, ‘Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu!” Ibnu Ishaq menambahkan, “Ketika itu ada lelaki yang segera menghela untanya namun tidak mampu, maka segera dibuangnya baju besinya, hanya mengambil pedang dan perisainya, lalu segera menuju seruan Abbas.”

Imam ath-Thabari meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Abbas, “Serulah wahai kaum Anshar, wahai kaum Muhajirin.” Lalu Abbas memanggil satu persatu seluruh suku-suku Anshar. Kemudian beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda lagi, “Serulah para penghafal surat al-Baqarah.” Abbas berkata, “Maka orang-orang datang berbaris laksana satu leher.” Dalam Shahih Muslim disebutkan, kemudian seruan itu ditujukan pada Bani al-Harits bin al-Khazraj saja. Di sini ada renungan penting dan faedah Rabbani agung, yaitu tindakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika orang-orang terpukul mundur dan barisan terpecah-belah, hingga hanya 12 orang saja yang tersisa bersama beliau, dalam banyak riwayat disebutkan 80 orang. Para kesatria dari kaum muslimin dan para pahlawan pertempuran yang tak tertandingi pun ikut terpukul mundur, padahal di tengah-tengah mereka ada pahlawan perang terbaik yaitu Salamah bin al-Akwa’. Bahkan sebaik-baik hamba Allah, yaitu orang-orang yang hadir dalam Baiat Ridwan dan yang lainnya juga ikut porak-poranda.

Ketika itu pemegang kepemimpinan tidaklah berputus asa, tidak pupus harapan, apalagi membuang senjata dan lari dari medan tempur, mustahil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertindak demikian. Beliau shallallahu alaihi wasallam tetap teguh, lalu kemudian memanggil para sahabat sesuai dengan sifat-sifat mereka. Beliau memulai dengan orang-orang yang imannya mantap, para prajurit yang ikhlas dan hamba-hamba Rabbani, yaitu orang-orang yang hadir dalam Baiat Ridwan. Kemudian beliau menyeru Ahlul Qur’an dan para penghafal Kitabullah khususnya pokok Kitabullah, maka diserulah para penghafal surat al-Baqarah. Tatkala mereka telah berkumpul di sekelilingnya, beliau mulai mengobarkan sentimen kesukuan dalam jiwa-jiwa mukmin. Beliau menyeru seluruh kabilah Anshar satu demi satu, dan memanggil nama-namanya, sehingga yang hatinya terbersit hendak kabur akan merasa malu dengan aib, sekalipun diantara mereka ada orang-orang yang hadir dalam Baiat Ridwan dan para penghafal surat al-Baqarah. Dengan demikian, beliau memulai dengan menyeru orang-orang khusus yang terpilih, lalu diikuti yang lainnya.

Sebuah renungan penting, yaitu meskipun dosa lari dari medan tempur adalah amat berbahaya dan pelakunya dihitung sebagai pelaku kriminal karena telah melakukan dosa besar membinasakan yang dikhawatirkan pelakunya tidak mendapatkan taubat, beliau shallallahu alaihi wasallam tidak mencela, mencaci, maupun menjelek-jelekkan mereka yang lari pontang-panting itu, akan tetapi sebaliknya, beliau menyeru mereka dengan kebesaran nama kabilahnya setelah mengingatkan akan jihad dan tauhid mereka.

Di sini juga ada satu faedah, yaitu hendaknya seorang amir ketika menghadapi kesulitan untuk segera meminta bantuan –setelah berlindung kepada Allah– kepada para mujahidin senior, lalu kepada putra-putra kabilah pendukung. Kemudian jangan sekali-kali dia mencela seorangpun dari mereka. Demikian juga hendaknya dia memanggil siapa saja yang telah meninggalkan jihad dan mengingatkannya akan jihadnya di jalan Allah, lalu mengembalikannya ke dalam barisan saudara-saudaranya. Karena meninggalkan jihad berarti keuntungan bagi setan dan golongannya, dan kerugian bagi jihad dan prajuritnya. Seorang yang berakal tidak akan membiarkan hal itu.

Renungan Kelima:

Sedangkan tentang orang yang lari dari medan Perang Hunain, di dalam Shahih Muslim disebutkan, Ummu Sulaim mempersenjatai dirinya dengan belati pada Perang Hunain, kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, apa aku bunuh saja orang-orang ath-thulaqaa` (bebas) yang lari itu? Mereka telah meninggalkanmu!” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersabda, “Wahai Ummu Sulaim, sungguh Allah telah mencukupkan dan mengaruniai kebaikan.” Sedangkan al-Bukhari menyebutkan ada 10 ribu personel bersama Nabi termasuk ath-thulaqaa` itu, dan mereka lari pontang-panting. Mengenai ath-thulaqaa`, Imam an-Nawawi ~ berkata, “Mereka adalah penduduk Makkah yang masuk Islam pada Hari Penaklukan. Dinamakan demikian lantaran Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan toleransi dan membebaskan mereka, sehingga Islam mereka masih lemah. Oleh karena itu, Ummu Sulaim meyakini mereka adalah orang-orang munafik yang berhak dibunuh lantaran kabur dari medan perang.”

Dari penjelasan di atas, nampak jelas bahwa yang pertama kali kabur pontang-panting pada Perang Hunain adalah orang-orang ath-thulaqaa` itu sehingga menggoyahkan barisan kaum muslimin dan menyelipkan ketakutan di hati para pemberani yang ikhlas. Hingga terjadilah apa yang terjadi.

Ada pertanyaan yang mendorongku menyebutkan renungan ini, yaitu: Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam salah –sedangkan beliau mustahil salah– ketika menyertakan ath-thulaqaa` dalam Perang Hunain sedangkan mereka baru saja masuk Islam? Islam mereka masih lemah, sebagaimana telah disebutkan, dan Rasulullah belum memberikan daurah (pelatihan) tauhid untuk mereka. Yang menguatkan bahwa Bergabung dengan Khilafah mereka baru sedikit mengenal tauhid adalah sebagaimana disebutkan dalam Sunan at-Tirmidzi bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ketika keluar menuju Hunain melewati satu pohon milik kaum musyrikin yang disebut dengan Dzatu Anwath, tempat mereka dahulu menggantungkan senjata. Maka orang-orang ath-thulaqaa` itu berkata, “Wahai Rasulullah, buatkanlah Dzatu Anwath untuk kami sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam pun bersabda, “Maha suci Allah! Ini persis seperti kata-kata kaum Musa kepada Musa, ‘Jadikan untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.”

Saya katakan demikian karena sebagian orang yang berpenyakit hatinya mencela kita lantaran banyaknya orang yang masuk ke dalam pasukan kita setelah deklarasi Daulah Islam, yang sebagiannya menyebabkan tergoyahnya ikhwah di beberapa tempat. Padahal kami tidak lebih daripada mencontoh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Tatkala Allah memberikan kemenangan kepada beliau, mencukupkannya dan mengaruniainya kebaikan, ketika beliau membagikan ghanimah, beliau memberikannya kepada orang-orang ath-thulaqaa` dan kaum Muhajirin, sedangkan orang-orang Anshar tidak diberi bagian sedikitpun sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan lainnya, padahal mereka adalah pasukan inti. Ibnul Qoyim ~ berkata, “Hikmahnya adalah untuk menampakkan bahwa pertolongan Allah pada Rasul-Nya itu bukan lantaran banyaknya kabilah yang masuk dalam Din-Nya, juga bukan lantaran mereka telah menghentikan perang.”

Meskipun demikian, kami sampaikan kabar gembira kepada umat bahwa setelah deklarasi Daulah Islam tidak ada seorangpun amir yang bergabung dengan kita yang meletakkan senjatanya, alhamdulillah. Bahkan hingga kini mereka adalah para pahlawan di medan perang dan kesatria pertempuran. Mereka itu seperti para pendahulu mereka dalam kebaikan.

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

RUMAH TERLEMAH ADALAH JARING LABA-LABA

RUMIYAH 3 - PENGANTAR

RUMAH TERLEMAH ADALAH JARING LABA-LABA

Bersamaan dengan dimulainya agresi militer salibis atas negeri-negeri kaum muslimin, yang targetnya adalah mengokohkan rezim thaghut dan menghalangi para muwahhid dari menegakkan Din dan penerapan syariat, Salibis meluncurkan proyek setara yang bertujuan mengganti Din dan merubah prinsip-pinsip Islam beserta cabangnya agar sesuai dengan visi jahiliyah Amerika untuk dunia. Proyek itu disebutnya “Tatanan Dunia Baru”. Untuk mewujudkannya meka tidak menemukan model yang lebih baik kecuali Ikhwanul Murtaddin agar diikuti oleh manusia jika mereka menginginkan kepuasan Amerika. Salibis telah menguji mereka dengan baik dan membuktikan rusaknya akidah mereka dan bagaimana mereka loyal kepada musuh-musuh Dien dimanapun mereka berada.

Tatkala pengikut thaghut Erbakan (mantan Presiden Turki) adalah sekolah Ikhwanul Murtaddin yang paling rusak dan paling tenggelam dalam lumpur kesyirikan serta loyalitas kepada orang-orang musyrik, Maka salah satu muridnya yakni si kriminal Erdogan mengajukan dirinya dalam menjalankan proyek ini, karena si murid merasa telah melampaui gurunya beberapa langkah dalam menapaki manhaj demokrasi dan kerelaan dengan sekulerisme. Maka diangkatlah ia sebagai presiden. Diciptakanlah kondisi histeria yang dibutuhkannya sehingga orang-orang bodoh banyak yang tertipu. Setelah itu ia diserahi tanggung jawab mengelola beberapa persoalan regional. Sehingga jadilah ia punya peran penting dengan thaghut negara-negara Arab dalam mensukseskan proyek shahawat di Irak yang bisa menutupi aib kekalahan Salibis dan membantu mereka mengokohkan pondasi rezim Rafidhah di Baghdad.

Sejak awal permulaan jihad di Syam, Erdogan dan badan intelijennya sudah berusaha menyeret dan mengikat faksi-faksi perlawanan agar melalui dirinya negara-negara Salibis bisa mengeksploitasi mereka untuk memerangi Daulah Islamiyah dan memerintahkan mereka untuk membiarkan rezim Nushairi, sehingga konvoi mereka mulai meninggalkan front-front pertempuran melawan rezim dan bergerak -dengan perlindungan pasukan dan dana rezim thaghut Erdogan- memerangi para muwahhid.

Erdogan dan negara busuknya itu menyelubungi permusuhannya kepada Daulah Islamiyah dengan tudung faksi-faksi murtad yang dibentuk dengan sepengetahuan mereka dan dicekoki dana mereka. Mereka takut para muwahhid berpaling ke Turki dan menyalakan api peperangan yang tak akan padam sampai garis perbatasannya hilang sebagaimana garis perbatasan Sykes-Picott lain.

Namun ketika pertempuran antara Daulah Islamiyah dan koalisi Salibis semakin sengit, si thaghut Turki itu menyingkap peran yang telah digariskan untuknya. Ia membuka langit negerinya untuk dilewati pesawat-pesawat Salibis. Ia juga buka perbatasannya untuk mensupplai atheis Kurdi di ‘Ain al-Islam (Kobane). Ia buka gudang-gudang senjatanya untuk murtaddin shahawat di Halab. Ketika diminta lebih, ia segera menyambutnya. Maka dikirimnya pasukannya ke medan tempur untuk menggempur Junud Khilafah. Pesawat-pesawatnya terbang untuk membombardir posisi mereka. Artilerinya diperintahkan untuk menghujani pedesaan dan kota-kota kaum muslimin, dan ia masih saja menjanjikan lebih. Dia mengira aksinya itu akan melindunginya dari keburukan akibat perbuatannya. Siapa yang mengira tidak akan dihukum pasti ia akan semakin jahat.

Erdogan dan rezimnya yang rapuh itu tidak belajar dari rezim-rezim murtad yang Allah telah menguasakan Junud Daulah Islamiyah atas mereka; mereka porak-porandakan strukturnya dan menghancurleburkan pondasinya sebagaimana yang terjadi atas Rafidhah. Dia tidak belajar dari Salibis sekutunya yang diserang berkali-kali oleh mujahidin; mereka membuat pasar-pasar dan taman bermainnya menjadi medan perang terbuka sebagaimana terjadi di Paris dan Brussel. Dia juga tidak mengerti makna seruan Daulah Islamiyah kepada kaum muslimin untuk memerangi musuh-musuhnya dengan apapun yang mereka mampu; seruan ini disambut oleh puluhan tentara Allah yang tersembunyi, mereka meneror dengan pisau-pisaunya, sabuk peledaknya, bom-bom mobilnya dan senjata apapun yang dimilikinya dengan metode apapun yang diilhamkan Allah pada mereka.

Rezim Turki saat ini dengan keikut sertaan mereka dalam koalisi internasional melawan Daulah Islamiyah itu sebenarnya sedang menyembelih lehernya dengan pisaunya sendiri, memotong urat nadinya dengan tangannya sendiri, menggantung dirinya sendiri dengan talinya sendiri dan menghancurkan rumahnya sendiri, dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah jaring laba-laba.

Maka, wahai Junud Khilafah di Turki, wahai muslim yang dihalangi oleh murtaddin Gendarmerie (aparat keamanan Turki yang bekerja di luar yurisdiki polisi umum, seperti wilayah pinggiran di perbatasan Negara.Pent) dari berhijrah ke Darul Islam, targetkanlah si thaghut Turki dan pengikut murtadnya itu. Perangilah mereka agar Allah mengazab dan menghinakan mereka melalui tangan kalian, menolong kalian, dan melapangkan dada-dada orang-orang yang beriman. Mulailah dari imam-imam kekafiran dan pendukung-pendukung thaghut. Sasarlah polisi, hakim, dan tentara. Sasarlah ulama-ulama thaghut dan pendukung partai Erdogan dan partai-partai murtad lain yang loyal padanya. Namun tetap jangan lupakan penduduk negara-negara Salibis jika kalian menjumpainya disana. Cerai beraikan dan tumpaslah mereka. Balaslah kejahatan mereka terhadap saudara-saudara kalian dengan membunuhi mereka.

Kepada setiap prajurit yang menjaga garis perbatasan dengan pasukan Turki dan sekutu-sekutunya, tetap teguhlah kalian, hendaknya mereka mendapati betapa kerasnya kalian. Semoga dengannya Allah melemahkan daya mereka, dan Dia lebih kuat daya-Nya dan lebih keras siksa-Nya.

JALAN KEMENANGAN (BAGIAN 1)

RUMIYAH 2 - ARTIKEL

JALAN KEMENANGAN (BAGIAN 1)
SYAIKH ABU HAMZAH AL-MUHAJIR

Aku berlindung kepada Allah dari Syaitan yang terkutuk

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

(Sungguh Allah telah menolong kalian dalam peperangan Badar, padahal kalian adalah orang-orang yang lemah. Karena itu bertaqwalah kepada Allah, supaya kalian dapat bersyukur padaNya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: “Apakah tidak cukup bagi kalian Allah membantu kalian dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” Ya (cukup), jika kalian bersabar dan bertaqwa, dan mereka datang menyerang kalian dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kalian dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. Dan Allah tidak menjadikan bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan) kalian, dan agar tenteram hati kalian karenanya.Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.) (QS Ali Imran: 123 - 126)

Segala puji bagi Allah Sang Pemilik Kemuliaan dan Rabb semesta alam, Penjamin kemenangan Dien ini, tiada yang berhak disembah kecuali Dia, yang memenangkan kebenaran sekalipun setelah beberapa waktu. Shalawat dan salam atas penghulu para rasul, semoga Allah meridainya dan para sahabatnya kaum muhajirin dan ansar. Amma Ba’du.

Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman: (Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS at-Taubah: 32-33).

Maka hendaknya setiap muslim yakin bahwa kesempurnaan kemenangan pasti datang, bahwa Allah pasti memuliakan Dien ini, bahwa masa depan adalah untuk Dien ini walaupun seluruh umat mengeroyok kita, dan bahwa kita pasti akan menguasai bumi dengan kehendak Allah Yang Mahakuat lagi Maha perkasa. Siapa yang meragukan hal itu, dia termasuk golongan para penyebar berita dusta lagi kafir.

Allah Raja Yang Maha benar lagi Jelas berfirman: Sungguh telah kami tuliskan di dalam Zabur setelah (kami tulis) di Lauh Mahfuzh, bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hambaKu yang shalih. Sesungguhnya dalam (apa yang Kami tulis) ini benar-benar menjadi peringatan bagi orang-orang yang beribadah (pada Allah).(QS al-Anbiya: 105-106)).

Rasul yang jujur lagi dipercaya shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Perkara ini benar-benar sampai pada tempat yang dijangkau malam dan siang. Allah tidak membiarkan satu rumah di perkotaan dan di gurun, kecuali Allah masukkan Dien ini ke dalamnya dengan kemuliaan orang yang mulia atau dengan kerendahan orang yang hina. Kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan islam dan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan orang-orang kafir.”

Tamim ad-Dari radhiyallahu anhu berkata sebagaimana dalam al-Musnad: “Hal itu terjadi pada keluargaku, yang masuk islam mendapat kebaikan, kemuliaan dan kejayaan, sedangkan yang kafir mendapat kehinaan, kerendahan, dan jizyah.”

Oleh karena itu, hendaknya seorang muwahid mengetahui bahwa akidah yang dibela hingga darah yang suci tertumpah, yang para syuhada berperang hidup mati untuk membelanya, pasti akan menang. Panahnya akan melesat menembus leher setiap kafir dan menerangi hati setiap muwahid. Namun hendaknya kita semua mengetahui bahwa kemenangan itu tergantung pada sejauh mana kita mengikuti Nabi shallallahu alaihi wasallam, terlepas dari sebab-sebab materi, sebagaimana dikatakan oleh ahli ilmu.

Ibnul Qayim rahimahullah berkata: “Kemenangan dan dukungan yang sempurna hanya untuk orang yang memiliki iman yang sempurna. Allah ta'ala berfirman: (Sungguh kami akan menolong rasulrasul kami dan orang-orang yang beriman di dalam kehidupan dunia dan juga di hari berdirinya para saksi (hari kiamat)). (QS Ghafir: 51). Juga firman-Nya: (Maka kami tolong orangorang yang beriman dalam melawan musuh mereka sehingga mereka menjadi menang). (QS as-Shaff: 14). Maka siapa yang imannya berkurang, jatah kemenangan dan pertolongan juga berkurang." Demikian perkataan beliau rahimahullah.

Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menunjukkan pada kita dengan sempurna sebab-sebab dan penghalang datangnya pertolongan. Syaikhul Islam Ibnu Tamiyah rahimahullah berkata: “Demikianlah Nabi shallallahu alaihi wasallam mengenalkan pada mereka tipu daya perang, bagaimana berhadapan dengan musuh, dan jalan meraih kemenangan serta keberuntungan, yang jika mereka mengetahui, memahami, dan menjaganya dengan sebenar-benarnya, musuh tidak akan lagi sanggup melawan mereka selama-lamanya”.

Diantara sebab pertolongan Allah adalah:

Pertama: Tauhid.

Allah ta'ala berfirman: (Mereka senantiasa memerangi kalian hingga mereka dapat mengeluarkan kalian dari Dien kalian jika mereka sanggup). (QS al-Baqarah: 217)). Juga firman-Nya: (Mereka tidak menyiksa orang-orang beriman itu kecuali karena mereka beriman pada Allah Yang Mahaperkasa lagi Terpuji). (Qs al-Buruj: 8).

Inilah hakikat yang seharusnya dipahami oleh mujahidin.

Sesungguhnya peperangan antara para muwahid dan orang-orang kafir pada dasarnya dan pada akhirnya adalah pertempuran karena akidah. Allah juga telah mempersempit dan membatasi permusuhan ini lantaran karena Dien saja. Maka orang kafir, baik dia seorang sekuleris, komunis, Yahudi, maupun Nashrani, tidak memusuhi para muwahid kecuali lantaran keimanan mereka yang bersih dari kotoran.

Slogan apapun selain slogan Dien yang diusung pada pertempuran apapun yang berlangsung antara kita dan mereka adalah murni dusta. Permusuhan orang kafir asli atau murtad atas mujahid muwahid selamanya tidaklah bermotif politik atau ekonomi, pertempuran yang terjadi adalah antara kekafiran dan keimanan, pertempuran akidah dan persoalan agama.

Kita tidak memerangi Salibis penjajah atau Arab murtad hanya demi sejengkal tanah, pertempuran kita ini adalah demi meninggikan kalimat Allah di bumi. Mereka juga tidak memerangi kita karena perselisihan dalam urusan materi. Jika urusannya seperti itu, tentu amat mudah baginya dan bagi kita untuk mencari titik temu yang mungkin bisa dikompromikan. Namun, sungai susu yang mengaliri hati dan urat nadi kami tidak akan mungkin kita kotori dengan lautan dan tetek bengek kotoran najis akidah mereka.

Dahulu, kolonialisme adalah wajah asli Salibis, seperti juga saat ini menjadi wajah asli Yahudi dan Nasrani. Berkali-kali sang Kaisar Romawi Bush mengumumkan hal itu dengan kata-katanya: “Sesungguhnya ini adalah Perang Salib”. Lalu, ada apa mereka berdusta, dan mendustakan?

Jika engkau mengetahui hal ini wahai mujahid, maka wajib bagimu agar tidak terkacaukan dengan bermacam-macam panji, atau tertipu dengan bermacam-macam nama mentereng, sebagaimana juga wajib engkau bersihkan hati dan barisanmu dari segala macam kotoran. Jangan sampai ada syirik atau orang musyrik di hati atau barisanmu. Engkau harus tahu bahwa adanya kesyirikan dalam barisan dan hati kita adalah penghalang kemenangan terbesar dan pembawa kekalahan tercepat. Allah ta'ala berfirman: (Orang-orang zalim tidakah memiliki pelindung dan penolong). (QS as-Syura: 8). Allah juga berfirman: (Orang-orang zalim tidaklah memiliki penolong). (QS al-Baqarah: 270). Tafsirnya adalah dalam firman Allah ta'ala : (Wahai anakku, janganlah kalian menyekutukan Allah. Sungguh syirik adalah kezaliman yang besar (QS Luqman: 13).

Kemudian, sesungguhnya memurnikan niat hanya pada Allah adalah faktor kemenangan dan tamkin yang paling penting.

Allah ta'ala berfirman: (Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)). (QS al-Fath: 18), maksudnya, Allah mengetahui kejujuran, loyalitas, dan kemurnian niat mereka karena Allah dalam baiat ini. Ayat ini menunjukkan bahwa ikhlas adalah salah satu syarat tamkin yang jika terpenuhi maka Allah akan memberi balasan berupa futuh, kemenangan, dan kekuasaan.

Allah ta'ala berfirman: (Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal Shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya). (QS al-Kahf: 110). Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya apa yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil”.

Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wasallam sang pemimpin adalah manusia yang paling bersungguh-sungguh menyucikan hati para sahabatnya dari bencana ini, khususnya dalam berjihad, sabdanya: “Sungguh demi Allah kami tidak akan memberikan pekerjaan ini pada orang yang memintanya, tidak pula pada orang yang sangat menginginkannya”.

Dari Abu Sa’id Abdurrahman bin Samurah berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah meminta jabatan. Karena jika engkau dibebani jabatan itu tanpa meminta, maka engkau akan dibantu. Sedangkan jika engkau dibebani jabatan itu karena permintaanmu, maka jabatan itu akan dipikulkan padamu”.

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Para ulama berkata, ‘Hikmah tidak diberikannya kekuasaan bagi yang memintanya adalah kekuasaan itu dipikulkan padanya tanpa mendapat pertolongan dalam menjalankannya, sebagaimana yang telah jelas dalam hadits Abdurrahman bin Samurah tersebut. Jika tidak mendapat pertolongan, orang itu tidak akan memiliki kapabilitas, sedangkan orang yang tidak memiliki kapabilitas tidaklah diberi kekuasaan”.

Terkadang seseorang telah lebih dahulu berjalan menuju Allah dan berjihad Fisabilillah, dan dia juga memiliki banyak kebaikan yang diketahui oleh Allah. Akan tetapi bisa jadi ia tidak layak memikul kepemimpinan sekalipun dia menyangka dirinya mampu memikulnya.

Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu : Saya berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menugasi ku? Maka Rasulullah menepuk kedua pundaku seraya bersabda: “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang lemah, sedangkan ini adalah amanat, yang merupakan kehinaan dan penyesalan di hari kiamat.”

Tapi terkadang kekuasaan itu menjadi Fardhu‘Ain bagi orang yang kapabel ketika melihat darah ditumpahkan dan harta dicuri sedangkan dia mampu untuk mencegahnya, orang mulia putra orang mulia berkata: (Berikanlah perbendaharaan bumi padaku, sungguh aku terpercaya dan memiliki ilmu). (QS Yusuf: 55).

Kedua: Persatuan.

Allah ta'ala berfirman: (Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadi lah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara. (QS Ali ‘Imran: 103)).

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: “Wahai manusia, wajib bagi kalian untuk taat dan berjamaah karena keduanya adalah ketentuan yang Allah perintahkan. Apa yang kalian benci dalam berjamaah dan ketaatan adalah lebih baik dari apa yang kalian sukai dalam perpecahan”.

Bagaimana tidak, sungguh telah tetap dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana tercantum dalam al-Musnad, sabdanya: “Tiga hal yang hati seorang muslim tidak terkena dengki karenanya; ikhlas beramal karena Allah dan menasihati para pemimpin”. Dalam riwayat lain disebutkan: “… taat kepada para pemegang urusan dan komitmen pada jamaah, karena doa mereka meliputi siapa saja yang berada dalam tanggung jawab mereka”.

Ibnul Qayim rahimahullah berkata: “Siapa yang mengikhlaskan seluruh amal perbuatannya untuk Allah, melakukan amalnya secara totalitas dan penuh integritas, komitmen terhadap jama’ah dengan bersatu dan tidak berselisih, hatinya akan menjadi bersih suci dan ia menjadi wali Allah. Namun, siapa yang menyelisihi hal ini, hatinya akan dipenuhi keburukan yang membinasakan”.

Pada dasarnya, kaum muslimin wajib untuk berjamaah bukan berpecah belah, dan berpegang pada tali Allah bukan menyempal serta saling berselisih. Hidup berjamaah itu di dunia berbuah kemuliaan, kemenangan, dan tamkin, dan di akhirat mewariskan wajah yang bercahaya serta derajat yang tinggi, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu dalam tafsir firman Allah ta'ala : (Pada hari beberapa wajah menjadi putih dan beberapa wajah (lainnya) menjadi hitam). (QS Ali ‘Imran: 106), beliau berkata: “Wajah ahlus sunnah wal jamaah menjadi putih, dan wajah ahli bid’ah dan perpecahan menjadi hitam”.

Dalam perpecahan tidak ada kemuliaan dan kemenangan sama sekali, meskipun amir kita adalah sebaik-baik dan seberani-beraninya makhluk Allah di muka bumi. Inilah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, ketika menjabat sebagai khalifah tidak ada yang lebih baik daripadanya. Meskipun demikian, ketika umat menyelisihi nya, sekelompok orang memberontak padanya, dan kemudian muncul Khawarij, beliau sama sekali tidak bisa menyiapkan satu pasukan pun untuk memerangi orang-orang kafir.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam pembicaraannya mengenai dua belas imam menurut Rafidhah: “Tidak ada seorangpun dari mereka yang mempunyai kekuatan selain Ali bin Abi Thalib. Sekalipun demikian, selama masa khilafahnya beliau tidak mampu menggempur orang kafir, atau menaklukkan kota, atau bahkan membunuh satu orang kafir. Sebaliknya, kaum muslimin malah sibuk saling memerangi, sampai-sampai orang-orang kafir di Timur dan di Syam baik kaum musyrikin maupun Ahli Kitab mendapat kesempatan menyerang mereka, sampai dikatakan berhasil merebut beberapa negeri kaum muslimin”.

Perang Jamal adalah contoh paling menyakitkan akibat perpecahan barisan dan menyelisihi persatuan. Sebaliknya, ketika umat bersatu di bawah kepemimpinan Mu’awiyah dalam ‘Am al-Jama’ah (Tahun Persatuan), beliau bisa mempersiapkan dan mengirim pasukan demi pasukan, menaklukkan berbagai negeri, mengumpulkan zakat, dan menggelontorkan harta. Tidak ada seorang pun yang menentang bahwa Ali itu lebih taqwa, lebih berani, lebih adil, dan lebih bijak daripada Mu’awiyah radhiyallahu anhu, akan tetapi semua perselisihan adalah buruk.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda sebagaimana dalam Shahih Muslim: ”Siapa yang keluar dari ketaatan dan meninggalkan jamaah lalu mati, maka matinya jahiliyah, dan siapa yang berperang di bawah panji fanatisme, marah karena fanatisme kelompok atau menyeru pada kelompok lalu terbunuh, maka matinya jahiliyah”. Begitu juga sabdanya: “Siapa yang melihat suatu hal yang dia benci pada pemimpinnya, maka hendaknya bersabar, karena siapapun yang memisahkan diri dari jamaah kemudian ia mati, matinya Jahiliyah”.

Sesungguhnya kami, dengan pertolongan Allah, selama hati kita bersatu dalam satu pimpinan yang kita berbaik sangka dan menepis segala tuduhan serta keraguan yang ditudingkan padanya, maka Demi Allah, sekalipun Amerika datang dengan seluruh kekuatannya, dengan seluruh laki-laki dan wanitanya untuk memerangi kita, niscaya kita tetap akan menang. Maka, wahai tentara-tentara Allah, halangilah setiap orang yang hendak memecah belah barisan kalian.