Rabu, 25 April 2018

JALAN KEMENANGAN (BAGIAN 1)

RUMIYAH 2 - ARTIKEL

JALAN KEMENANGAN (BAGIAN 1)
SYAIKH ABU HAMZAH AL-MUHAJIR

Aku berlindung kepada Allah dari Syaitan yang terkutuk

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

(Sungguh Allah telah menolong kalian dalam peperangan Badar, padahal kalian adalah orang-orang yang lemah. Karena itu bertaqwalah kepada Allah, supaya kalian dapat bersyukur padaNya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: “Apakah tidak cukup bagi kalian Allah membantu kalian dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” Ya (cukup), jika kalian bersabar dan bertaqwa, dan mereka datang menyerang kalian dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kalian dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. Dan Allah tidak menjadikan bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan) kalian, dan agar tenteram hati kalian karenanya.Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.) (QS Ali Imran: 123 - 126)

Segala puji bagi Allah Sang Pemilik Kemuliaan dan Rabb semesta alam, Penjamin kemenangan Dien ini, tiada yang berhak disembah kecuali Dia, yang memenangkan kebenaran sekalipun setelah beberapa waktu. Shalawat dan salam atas penghulu para rasul, semoga Allah meridainya dan para sahabatnya kaum muhajirin dan ansar. Amma Ba’du.

Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman: (Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS at-Taubah: 32-33).

Maka hendaknya setiap muslim yakin bahwa kesempurnaan kemenangan pasti datang, bahwa Allah pasti memuliakan Dien ini, bahwa masa depan adalah untuk Dien ini walaupun seluruh umat mengeroyok kita, dan bahwa kita pasti akan menguasai bumi dengan kehendak Allah Yang Mahakuat lagi Maha perkasa. Siapa yang meragukan hal itu, dia termasuk golongan para penyebar berita dusta lagi kafir.

Allah Raja Yang Maha benar lagi Jelas berfirman: Sungguh telah kami tuliskan di dalam Zabur setelah (kami tulis) di Lauh Mahfuzh, bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hambaKu yang shalih. Sesungguhnya dalam (apa yang Kami tulis) ini benar-benar menjadi peringatan bagi orang-orang yang beribadah (pada Allah).(QS al-Anbiya: 105-106)).

Rasul yang jujur lagi dipercaya shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Perkara ini benar-benar sampai pada tempat yang dijangkau malam dan siang. Allah tidak membiarkan satu rumah di perkotaan dan di gurun, kecuali Allah masukkan Dien ini ke dalamnya dengan kemuliaan orang yang mulia atau dengan kerendahan orang yang hina. Kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan islam dan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan orang-orang kafir.”

Tamim ad-Dari radhiyallahu anhu berkata sebagaimana dalam al-Musnad: “Hal itu terjadi pada keluargaku, yang masuk islam mendapat kebaikan, kemuliaan dan kejayaan, sedangkan yang kafir mendapat kehinaan, kerendahan, dan jizyah.”

Oleh karena itu, hendaknya seorang muwahid mengetahui bahwa akidah yang dibela hingga darah yang suci tertumpah, yang para syuhada berperang hidup mati untuk membelanya, pasti akan menang. Panahnya akan melesat menembus leher setiap kafir dan menerangi hati setiap muwahid. Namun hendaknya kita semua mengetahui bahwa kemenangan itu tergantung pada sejauh mana kita mengikuti Nabi shallallahu alaihi wasallam, terlepas dari sebab-sebab materi, sebagaimana dikatakan oleh ahli ilmu.

Ibnul Qayim rahimahullah berkata: “Kemenangan dan dukungan yang sempurna hanya untuk orang yang memiliki iman yang sempurna. Allah ta'ala berfirman: (Sungguh kami akan menolong rasulrasul kami dan orang-orang yang beriman di dalam kehidupan dunia dan juga di hari berdirinya para saksi (hari kiamat)). (QS Ghafir: 51). Juga firman-Nya: (Maka kami tolong orangorang yang beriman dalam melawan musuh mereka sehingga mereka menjadi menang). (QS as-Shaff: 14). Maka siapa yang imannya berkurang, jatah kemenangan dan pertolongan juga berkurang." Demikian perkataan beliau rahimahullah.

Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menunjukkan pada kita dengan sempurna sebab-sebab dan penghalang datangnya pertolongan. Syaikhul Islam Ibnu Tamiyah rahimahullah berkata: “Demikianlah Nabi shallallahu alaihi wasallam mengenalkan pada mereka tipu daya perang, bagaimana berhadapan dengan musuh, dan jalan meraih kemenangan serta keberuntungan, yang jika mereka mengetahui, memahami, dan menjaganya dengan sebenar-benarnya, musuh tidak akan lagi sanggup melawan mereka selama-lamanya”.

Diantara sebab pertolongan Allah adalah:

Pertama: Tauhid.

Allah ta'ala berfirman: (Mereka senantiasa memerangi kalian hingga mereka dapat mengeluarkan kalian dari Dien kalian jika mereka sanggup). (QS al-Baqarah: 217)). Juga firman-Nya: (Mereka tidak menyiksa orang-orang beriman itu kecuali karena mereka beriman pada Allah Yang Mahaperkasa lagi Terpuji). (Qs al-Buruj: 8).

Inilah hakikat yang seharusnya dipahami oleh mujahidin.

Sesungguhnya peperangan antara para muwahid dan orang-orang kafir pada dasarnya dan pada akhirnya adalah pertempuran karena akidah. Allah juga telah mempersempit dan membatasi permusuhan ini lantaran karena Dien saja. Maka orang kafir, baik dia seorang sekuleris, komunis, Yahudi, maupun Nashrani, tidak memusuhi para muwahid kecuali lantaran keimanan mereka yang bersih dari kotoran.

Slogan apapun selain slogan Dien yang diusung pada pertempuran apapun yang berlangsung antara kita dan mereka adalah murni dusta. Permusuhan orang kafir asli atau murtad atas mujahid muwahid selamanya tidaklah bermotif politik atau ekonomi, pertempuran yang terjadi adalah antara kekafiran dan keimanan, pertempuran akidah dan persoalan agama.

Kita tidak memerangi Salibis penjajah atau Arab murtad hanya demi sejengkal tanah, pertempuran kita ini adalah demi meninggikan kalimat Allah di bumi. Mereka juga tidak memerangi kita karena perselisihan dalam urusan materi. Jika urusannya seperti itu, tentu amat mudah baginya dan bagi kita untuk mencari titik temu yang mungkin bisa dikompromikan. Namun, sungai susu yang mengaliri hati dan urat nadi kami tidak akan mungkin kita kotori dengan lautan dan tetek bengek kotoran najis akidah mereka.

Dahulu, kolonialisme adalah wajah asli Salibis, seperti juga saat ini menjadi wajah asli Yahudi dan Nasrani. Berkali-kali sang Kaisar Romawi Bush mengumumkan hal itu dengan kata-katanya: “Sesungguhnya ini adalah Perang Salib”. Lalu, ada apa mereka berdusta, dan mendustakan?

Jika engkau mengetahui hal ini wahai mujahid, maka wajib bagimu agar tidak terkacaukan dengan bermacam-macam panji, atau tertipu dengan bermacam-macam nama mentereng, sebagaimana juga wajib engkau bersihkan hati dan barisanmu dari segala macam kotoran. Jangan sampai ada syirik atau orang musyrik di hati atau barisanmu. Engkau harus tahu bahwa adanya kesyirikan dalam barisan dan hati kita adalah penghalang kemenangan terbesar dan pembawa kekalahan tercepat. Allah ta'ala berfirman: (Orang-orang zalim tidakah memiliki pelindung dan penolong). (QS as-Syura: 8). Allah juga berfirman: (Orang-orang zalim tidaklah memiliki penolong). (QS al-Baqarah: 270). Tafsirnya adalah dalam firman Allah ta'ala : (Wahai anakku, janganlah kalian menyekutukan Allah. Sungguh syirik adalah kezaliman yang besar (QS Luqman: 13).

Kemudian, sesungguhnya memurnikan niat hanya pada Allah adalah faktor kemenangan dan tamkin yang paling penting.

Allah ta'ala berfirman: (Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)). (QS al-Fath: 18), maksudnya, Allah mengetahui kejujuran, loyalitas, dan kemurnian niat mereka karena Allah dalam baiat ini. Ayat ini menunjukkan bahwa ikhlas adalah salah satu syarat tamkin yang jika terpenuhi maka Allah akan memberi balasan berupa futuh, kemenangan, dan kekuasaan.

Allah ta'ala berfirman: (Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal Shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya). (QS al-Kahf: 110). Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya apa yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil”.

Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wasallam sang pemimpin adalah manusia yang paling bersungguh-sungguh menyucikan hati para sahabatnya dari bencana ini, khususnya dalam berjihad, sabdanya: “Sungguh demi Allah kami tidak akan memberikan pekerjaan ini pada orang yang memintanya, tidak pula pada orang yang sangat menginginkannya”.

Dari Abu Sa’id Abdurrahman bin Samurah berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah meminta jabatan. Karena jika engkau dibebani jabatan itu tanpa meminta, maka engkau akan dibantu. Sedangkan jika engkau dibebani jabatan itu karena permintaanmu, maka jabatan itu akan dipikulkan padamu”.

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Para ulama berkata, ‘Hikmah tidak diberikannya kekuasaan bagi yang memintanya adalah kekuasaan itu dipikulkan padanya tanpa mendapat pertolongan dalam menjalankannya, sebagaimana yang telah jelas dalam hadits Abdurrahman bin Samurah tersebut. Jika tidak mendapat pertolongan, orang itu tidak akan memiliki kapabilitas, sedangkan orang yang tidak memiliki kapabilitas tidaklah diberi kekuasaan”.

Terkadang seseorang telah lebih dahulu berjalan menuju Allah dan berjihad Fisabilillah, dan dia juga memiliki banyak kebaikan yang diketahui oleh Allah. Akan tetapi bisa jadi ia tidak layak memikul kepemimpinan sekalipun dia menyangka dirinya mampu memikulnya.

Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu : Saya berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menugasi ku? Maka Rasulullah menepuk kedua pundaku seraya bersabda: “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang lemah, sedangkan ini adalah amanat, yang merupakan kehinaan dan penyesalan di hari kiamat.”

Tapi terkadang kekuasaan itu menjadi Fardhu‘Ain bagi orang yang kapabel ketika melihat darah ditumpahkan dan harta dicuri sedangkan dia mampu untuk mencegahnya, orang mulia putra orang mulia berkata: (Berikanlah perbendaharaan bumi padaku, sungguh aku terpercaya dan memiliki ilmu). (QS Yusuf: 55).

Kedua: Persatuan.

Allah ta'ala berfirman: (Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadi lah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara. (QS Ali ‘Imran: 103)).

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: “Wahai manusia, wajib bagi kalian untuk taat dan berjamaah karena keduanya adalah ketentuan yang Allah perintahkan. Apa yang kalian benci dalam berjamaah dan ketaatan adalah lebih baik dari apa yang kalian sukai dalam perpecahan”.

Bagaimana tidak, sungguh telah tetap dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana tercantum dalam al-Musnad, sabdanya: “Tiga hal yang hati seorang muslim tidak terkena dengki karenanya; ikhlas beramal karena Allah dan menasihati para pemimpin”. Dalam riwayat lain disebutkan: “… taat kepada para pemegang urusan dan komitmen pada jamaah, karena doa mereka meliputi siapa saja yang berada dalam tanggung jawab mereka”.

Ibnul Qayim rahimahullah berkata: “Siapa yang mengikhlaskan seluruh amal perbuatannya untuk Allah, melakukan amalnya secara totalitas dan penuh integritas, komitmen terhadap jama’ah dengan bersatu dan tidak berselisih, hatinya akan menjadi bersih suci dan ia menjadi wali Allah. Namun, siapa yang menyelisihi hal ini, hatinya akan dipenuhi keburukan yang membinasakan”.

Pada dasarnya, kaum muslimin wajib untuk berjamaah bukan berpecah belah, dan berpegang pada tali Allah bukan menyempal serta saling berselisih. Hidup berjamaah itu di dunia berbuah kemuliaan, kemenangan, dan tamkin, dan di akhirat mewariskan wajah yang bercahaya serta derajat yang tinggi, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu dalam tafsir firman Allah ta'ala : (Pada hari beberapa wajah menjadi putih dan beberapa wajah (lainnya) menjadi hitam). (QS Ali ‘Imran: 106), beliau berkata: “Wajah ahlus sunnah wal jamaah menjadi putih, dan wajah ahli bid’ah dan perpecahan menjadi hitam”.

Dalam perpecahan tidak ada kemuliaan dan kemenangan sama sekali, meskipun amir kita adalah sebaik-baik dan seberani-beraninya makhluk Allah di muka bumi. Inilah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, ketika menjabat sebagai khalifah tidak ada yang lebih baik daripadanya. Meskipun demikian, ketika umat menyelisihi nya, sekelompok orang memberontak padanya, dan kemudian muncul Khawarij, beliau sama sekali tidak bisa menyiapkan satu pasukan pun untuk memerangi orang-orang kafir.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam pembicaraannya mengenai dua belas imam menurut Rafidhah: “Tidak ada seorangpun dari mereka yang mempunyai kekuatan selain Ali bin Abi Thalib. Sekalipun demikian, selama masa khilafahnya beliau tidak mampu menggempur orang kafir, atau menaklukkan kota, atau bahkan membunuh satu orang kafir. Sebaliknya, kaum muslimin malah sibuk saling memerangi, sampai-sampai orang-orang kafir di Timur dan di Syam baik kaum musyrikin maupun Ahli Kitab mendapat kesempatan menyerang mereka, sampai dikatakan berhasil merebut beberapa negeri kaum muslimin”.

Perang Jamal adalah contoh paling menyakitkan akibat perpecahan barisan dan menyelisihi persatuan. Sebaliknya, ketika umat bersatu di bawah kepemimpinan Mu’awiyah dalam ‘Am al-Jama’ah (Tahun Persatuan), beliau bisa mempersiapkan dan mengirim pasukan demi pasukan, menaklukkan berbagai negeri, mengumpulkan zakat, dan menggelontorkan harta. Tidak ada seorang pun yang menentang bahwa Ali itu lebih taqwa, lebih berani, lebih adil, dan lebih bijak daripada Mu’awiyah radhiyallahu anhu, akan tetapi semua perselisihan adalah buruk.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda sebagaimana dalam Shahih Muslim: ”Siapa yang keluar dari ketaatan dan meninggalkan jamaah lalu mati, maka matinya jahiliyah, dan siapa yang berperang di bawah panji fanatisme, marah karena fanatisme kelompok atau menyeru pada kelompok lalu terbunuh, maka matinya jahiliyah”. Begitu juga sabdanya: “Siapa yang melihat suatu hal yang dia benci pada pemimpinnya, maka hendaknya bersabar, karena siapapun yang memisahkan diri dari jamaah kemudian ia mati, matinya Jahiliyah”.

Sesungguhnya kami, dengan pertolongan Allah, selama hati kita bersatu dalam satu pimpinan yang kita berbaik sangka dan menepis segala tuduhan serta keraguan yang ditudingkan padanya, maka Demi Allah, sekalipun Amerika datang dengan seluruh kekuatannya, dengan seluruh laki-laki dan wanitanya untuk memerangi kita, niscaya kita tetap akan menang. Maka, wahai tentara-tentara Allah, halangilah setiap orang yang hendak memecah belah barisan kalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar