RUMIYAH 2 - ARTIKEL
DIEN ISLAM DAN JAMA'ATUL MUSLIMIN (BAGIAN 2)
Dua ayat dalam Kitabullah azza wa jalla jika seseorang yang diberi nikmat oleh-Nya namun tidak mau mentadabburi kedua ayat itu, maka pasti akan merugi dunia akhirat. Allah berfirman: (Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; «Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih») (QS. Ibrahim: 7), dan firman-Nya: (Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. ad-Dhuha: 11)
Ar-Rabi’ rahimahullah berkata tentang tafsir firman-Nya: (Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; «Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu…”): “Dari Rabbnya, Musa alaihis salam memberi tahu mereka bahwa jika mereka mensyukuri nikmat ini maka dengan keutamaan-Nya Dia akan menambah nikmat itu, meluaskan rezeki mereka, dan mengangkat mereka atas seluruh alam”. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata: (Sesungguhnya jika kamu bersyukur…) atas nikmat, dengan mengakui bahwa nikmat itu dari-Ku, (pasti Kami akan menambah kepadamu…) ketaatan kepada-Ku”. Qotadah rahimahullah berkata: “Sudah merupakan hak Allah untuk memberi orang yang meminta kepada-Nya, dan menambahnya jika ia mensyukuri-Nya, karena Allah adalah Maha Pemberi nikmat yang mencintai orang-orang yang bersyukur, maka bersyukurlah kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya”.
Ja’far ash-Shadiq rahimahullah berkata: “Jika Allah memberimu suatu nikmat dan engkau ingin terus mendapatkan nikmat itu maka perbanyaklah bersyukur dan memuji-Nya atas nikmat-Nya itu”. Diriwayatkan dalam suatu sanad secara marfu’: (Siapapun yang diberi ilham untuk terus bersyukur maka dia tidak akan terhalangi dari mendapatkan tambahan).
Para salaf rahimahumullah mentakwilkan nikmat dalam firman-Nya (nikmat Rabbmu) maksudnya yaitu al-Qur’an yang agung dan Nubuwwah Rasul shallallahu alaihi wasallam serta amal shalih dan sesuai dengan kebaikan. semua itu telah mencakup seluruh nikmat-nikmat dunia dan akhirat. meskipun begitu, nikmat Allah yang paling besar kepada manusia adalah hidayah Islam. Tanpa nikmat ini yaitu ikhlas dan tunduk patuh kepada Allah maka dadanya akan merasa sempit, hidupnya susah, dan usahanya terancam dalam kesesatan. kemudian di hari kiamat Allah tidak akan mengajaknya bicara, tidak melihatnya, tidak menyucikannya, dan baginya azab yang pedih, sehingga rugi lah ia dunia akhirat, dan ini adalah betul-betul kerugian yang nyata. Adapun nikmat Jama’ah, diberi kekuasaan di bumi, dan Dien ini mendapat tamkin (kekuasaan), maka tanpa hal itu seorang Muslim akan dihinakan, difitnah, diuji, dan dijadikan hidangan serigala-serigala lapar, lalu kemudian dia mati Jahiliyah, Na’udzubillah.
Adapun firman-Nya (maka hendaklah kamu siarkan), tentang ini Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: “Menyebut-nyebut nikmat adalah bentuk bersyukur”. Yahya bin Sa’id dan al-Jariri rahimahumullah berkata: “Dikatakan bahwa menghitung nikmatnikmat yang didapat adalah bentuk bersyukur”. Qotadah rahimahullah berkata: “Mensyukuri nikmat diantaranya adalah dengan membicarakannya”. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Dikatakan bahwa mensyukuri nikmat itu adalah dengan mengatakannya”. Hasan bin Ali radhiyallahu anhu berkata: “Jika engkau di pagi hari baik-baik saja maka katakan pada teman-temanmu”. Abu Nadhrah rahimahullah berkata: “Kaum muslimin melihat bahwa mensyukuri nikmat itu diantaranya dengan membicarakannya”. Ibnu Abi al Hawari rahimahullah berkata: “Fudhail bin ‘Iyadh dan Sufyan bin ‘Uyainah duduk dari malam sampai pagi hanya mengingatingat nikmat, kata Sufyan: ‘Allah telah memberi nikmat pada kami dalam hal ini, Allah telah memberi nikmat pada kami dalam hal itu, Ia berbuat atas kami pada hal ini, dan seterusnya’.
Diriwayatkan secara marfu’ bahwa: (Siapa yang tidak bersyukur dengan yang sedikit maka dia tidak akan bersyukur ketika banyak, siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka dia tidak bersyukur kepada Allah. Membicarakan nikmat Allah adalah bersyukur, meninggalkannya berarti telah Kufur nikmat. Jama’ah adalah rahmat dan perpecahan adalah azab). Juga bahwa: (Siapa yang diberi nikmat kemudian menyebut-nyebutnya maka ia telah bersyukur, tapi jika dia menyembunyikannya maka dia telah Kufur nikmat. Siapa yang tampil dengan sesuatu yang tidak diberikan padanya maka ia laksana memakai baju dusta). Serta bahwa: (Siapa yang diberi suatu pemberian dan mendapatinya maka hendaknya membalas dengan baik, siapa tidak mendapatinya maka pujilah, karena pujian itu adalah bersyukur, namun siapa menyembunyikannya maka ia telah kufur nikmat).
Allahu akbar, betapa seorang Muwahid Mujahid harus betul-betul bersyukur pada Rabb-Nya atas nikmat Islam dan Jama’ah. Jikalau bukan karena-Nya maka ia pasti menjadi hamba Thaghut istana dan kubur. Jika bukan karena-Nya niscaya ia menjadi pengekor ulama Thaghut dan du’at (penyeru) Jahmiyah. Jika bukan karena-Nya niscaya ia masih seorang banci Dayuts yang duduk-duduk bersama orang-orang yang tertinggal. Jika bukan karena-Nya niscaya ia masih tinggal di negeri kafir diantara para Polisi, Hakim, Pembesar, Intel, Tentara, dan Murtaddin lainnya, atau Yahudi, Nasrani, Majusi, ateis, dan orang-orang kafir lainnya. Jika bukan karena-Nya niscaya ia menjadi Bughat, Khawarij, atau sekte sesat lagi Bid’ah lainnya.
Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kepada kita semua ini, dan kita tidak akan mendapat petunjuk kecuali dengan hidayah-Nya.
Betapa keras kehinaan, fitnah, dan ujian yang menimpa seorang Muwahid Mujahid sebelum nikmat Jama’ah ini. Tidak ada madrasah yang layak untuk tempat belajar anaknya, tidak ada ulama, tidak ada peradilan tempatnya mengadu -karena ia adalah Muwahid yang Kufur kepada peradilan Thaghut-, tidak ada tempat tinggal yang aman sentosa, tidak ada negeri tempat berlari dari kejaran Thaghut, dan tidak ada kamp pelatihan tempatnya mempersiapkan kekuatan kecuali di gua, hutan, atau padang pasir yang jauh dari kewajiban berjama’ah sesuai pemahaman Salaf, yaitu Khilafah.
Jika ia tampakkan Millah Ibrahim, menyerukannya, atau berusaha beri’dad dan berjihad untuk meneror musuh-musuh Allah, sedang ia hidup di tengah-tengah orang-orang kafir dan Murtad, maka ia tidak tahu apakah ketika bangun tidur masih berada di tengah-tengah keluarganya atau malah terbangun di sel kelam bawah tanah?
Demikianlah kehidupannya. Kemudian Allah memberi nikmat padanya hidup berjama’ah. Maka segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal shalih bisa terlaksana, (Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. (QS al-Anfal: 26)).
Nikmat ini yang sekarang sedang dirasakannya mengharuskannya bersyukur lahir dan batin, sembunyi atau terang-terangan, baik diantara orang-orang khusus atau khalayak ramai. Ia selalu bicarakan nikmat ini kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, dan kepada khalayak ramai, ia selalu mengingatkan mereka. Ia memuji Allah yang telah menetapkan dan menakdirkan nikmat ini padanya, karena tidak ada daya upaya kecuali Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri. Kemudian tidak lupa lisannya mendoakan para pendahulunya khususnya yang sudah Syahid seperti Syaikh Abu Mush’ab az-Zarqawi, Syaikh Abu Hamzah al-Muhajir, Syaikh Abu Umar al-Baghdadi, Syaikh Abu Bakar al-Iraqi, Syaikh Abu Abdurrahman al-Bilawi, Syaikh Abu al-Mu’taz al-Qurasyi, Syaikh Abu Ali al-Anbari, Syaikh Umar asy-Syisyani rahimahumullah, demikianlah kami kira dan kami serahkan penilaian kepada Allah sedang kami tidak menyucikan siapapun di hadapan-Nya, karena siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka dia tidak bersyukur kepada Allah.
Bahkan jika ia sengaja bergadang, sebagaimana yang dilakukan oleh dua imam mulia Fudhail dan Sufyan, untuk menghitung-hitung nikmat Khilafah ini dan pengaruhnya, hal itu tidaklah cukup, (Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS Ibrahim: 34)).
Diantara nikmat Allah atas seorang Muwahid Mujahid adalah bahwa Dia berkenan memperpanjang umurnya sampai masa ini sehingga dengan Jihadnya Allah menegakkan kembali Khilafah dan menjadikannya penjaga setia perbatasannya. Abu al-’Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Ketahuilah -semoga Allah mengishlahmu- bahwa nikmat teragung Allah atas orang yang dikehendaki-Nya kebaikan; adalah Dia masih memberinya kehidupan sehingga mengalami masa-masa pembaruan Dien, syi’ar-syi’ar kaum muslimin kembali bermunculan, dan kondisi orang-orang mukmin dan Mujahidin membaik sampai pada tahap menyerupai orang-orang terdahulu dari kalangan muhajirin dan anshar. Siapapun yang ikut serta dalam usaha pembaruan itu maka ia termasuk dalam golongan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, yang di ridai Allah dan mereka meridhai-Nya dan telah disiapkan-Nya surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang agung. Maka hendaklah orang-orang mukmin bersyukur kepada Allah atas ujian ini yang dibaliknya ada anugerah mulia dari Allah. Dibalik fitnah ini betul-betul terwujud nikmat yang besar, sampai - demi Allah - jika orang-orang yang pertama masuk islam dari kalangan Muhajirin dan Ansar hidup di zaman ini maka aksi mereka yang paling utama adalah berjihad melawan para penjahat itu. Anugerah ini tidak terluput kecuali orang yang merugi perdagangannya dan mendiskreditkan dirinya sendiri lagi dihalangi dari bagian keberuntungan yang besar dunia akhirat. (al-Fatawa).
Ini jelas nikmat, nikmat, dan nikmat, serta nikmat; nikmat Islam, nikmat Jama’ah, nikmat Jihad, dan nikmat Syahadah, dengan izin Allah ta’ala.
Mengkufuri nikmat ini diantaranya dengan memisahkan diri, bermaksiat, saling berbisik-bisik akan keburukannya, menyebarkan isu, berprasangka buruk, membangkang pada amir, mengingkari perjanjian, memfitnah dan menyebarkan kerusakan, meminta suaka ke negeri kafir, fanatik dengan ijtihad, pendapat dan hawa nafsu, memberontak, dan mengkafirkan jamaah muslimin, para imamnya, dan masyarakat umumnya. Para imam Daulah Islamiyah telah berusaha sebaik mungkin memperingatkan dari lubang-lubang celaka ini, seperti dalam kalimat Wa’tashimu Syaikh Abu Mush’ab az-Zarqawi, al-Washiyah atsTsalatsiniyah dan Masalik an-Nashr oleh Syaikh Abu Hamzah al-Muhajir rahimahumullah.
Siapa yang sengaja menjerumuskan dirinya dalam lubang celaka ini dan berkeras dalam kesesatannya maka janganlah ia cela kecuali dirinya sendiri jika Allah mengharamkannya nikmat islam lantaran mengkufuri nikmat jamaah. Firman Allah ta'ala: (Dan barangsiapa yang menukar nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya. (QS al-Baqarah: 211), dan firman-Nya: (Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS Ibrahim: 7).
Diantara kufur nikmat yang terburuk adalah mengklaim nikmat itu hasil jerih payahnya, (Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. (QS az-Zumar: 49). Penghulu kekufuran yang parah ini dan pelaku pertamanya adalah si binasa Qorun yang dibenamkan ke dalam bumi beserta seluruh harta bendanya.
Adapun sunnah yang bagus adalah seorang hamba memahami bahwa seluruh nikmat yang dirasakannya baik nikmat dunia maupun Dien adalah hanya berasal dari Allah saja tiada sekutu bagi-Nya, bukan lantaran jerih payahnya. Diriwayatkan bahwa Dawud alaihis salam berkata: “Wahai Rabb, bagaimana aku bisa bersyukur kepada-Mu sedang Engkaulah yang memberi nikmat padaku, kemudian memberi rizki padaku dengan nikmat itu, dan menambahi untukku nikmat demi nikmat. Nikmat-nikmat ini adalah darimu wahai Rabb, juga syukur ini, maka bagaimana aku bisa bersyukur kepada-Mu? Maka Allah mewahyukan kepadanya: (Sekarang engkau telah mengetahui-Ku wahai Dawud dengan sebenar-benarnya). Diriwayatkan juga bahwa beliau berkata: “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bersyukur kepada-Mu, sedang aku tidak bisa bersyukur kecuali lantaran nikmat-Mu juga? Maka Allah mewahyukan padanya: (Wahai Dawud, bukankah engkau tahu bahwa nikmat yang kau rasakan sekarang itu adalah dari-Ku?) Jawabnya: “Betul wahai Rabb”. Maka Allah berfirman: (Aku rela dengan hal itu sebagai bentuk syukurmu padaKu. (Kitab Zuhud karya Imam Ahmad bin Hanbal)
Yang bisa meneguhkan pengertian dan hakikat ini pada hati seorang hamba adalah dengan mentadaburi dua ayat dari Kitabullah, yaitu: (Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan ke islamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar”. (QS al-Hujurat :17), dan firman-Nya: (Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran”. Dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan”. (QS al-A’raf:43)
Ya Allah, sebagaimana Engkau beri kami nikmat islam dan jamaah di dunia, maka berilah kami nikmat keridaan-Mu dan melihat wajah-Mu di akhirat.
DIEN ISLAM DAN JAMA'ATUL MUSLIMIN (BAGIAN 2)
Dua ayat dalam Kitabullah azza wa jalla jika seseorang yang diberi nikmat oleh-Nya namun tidak mau mentadabburi kedua ayat itu, maka pasti akan merugi dunia akhirat. Allah berfirman: (Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; «Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih») (QS. Ibrahim: 7), dan firman-Nya: (Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. ad-Dhuha: 11)
Ar-Rabi’ rahimahullah berkata tentang tafsir firman-Nya: (Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; «Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu…”): “Dari Rabbnya, Musa alaihis salam memberi tahu mereka bahwa jika mereka mensyukuri nikmat ini maka dengan keutamaan-Nya Dia akan menambah nikmat itu, meluaskan rezeki mereka, dan mengangkat mereka atas seluruh alam”. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata: (Sesungguhnya jika kamu bersyukur…) atas nikmat, dengan mengakui bahwa nikmat itu dari-Ku, (pasti Kami akan menambah kepadamu…) ketaatan kepada-Ku”. Qotadah rahimahullah berkata: “Sudah merupakan hak Allah untuk memberi orang yang meminta kepada-Nya, dan menambahnya jika ia mensyukuri-Nya, karena Allah adalah Maha Pemberi nikmat yang mencintai orang-orang yang bersyukur, maka bersyukurlah kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya”.
Ja’far ash-Shadiq rahimahullah berkata: “Jika Allah memberimu suatu nikmat dan engkau ingin terus mendapatkan nikmat itu maka perbanyaklah bersyukur dan memuji-Nya atas nikmat-Nya itu”. Diriwayatkan dalam suatu sanad secara marfu’: (Siapapun yang diberi ilham untuk terus bersyukur maka dia tidak akan terhalangi dari mendapatkan tambahan).
Para salaf rahimahumullah mentakwilkan nikmat dalam firman-Nya (nikmat Rabbmu) maksudnya yaitu al-Qur’an yang agung dan Nubuwwah Rasul shallallahu alaihi wasallam serta amal shalih dan sesuai dengan kebaikan. semua itu telah mencakup seluruh nikmat-nikmat dunia dan akhirat. meskipun begitu, nikmat Allah yang paling besar kepada manusia adalah hidayah Islam. Tanpa nikmat ini yaitu ikhlas dan tunduk patuh kepada Allah maka dadanya akan merasa sempit, hidupnya susah, dan usahanya terancam dalam kesesatan. kemudian di hari kiamat Allah tidak akan mengajaknya bicara, tidak melihatnya, tidak menyucikannya, dan baginya azab yang pedih, sehingga rugi lah ia dunia akhirat, dan ini adalah betul-betul kerugian yang nyata. Adapun nikmat Jama’ah, diberi kekuasaan di bumi, dan Dien ini mendapat tamkin (kekuasaan), maka tanpa hal itu seorang Muslim akan dihinakan, difitnah, diuji, dan dijadikan hidangan serigala-serigala lapar, lalu kemudian dia mati Jahiliyah, Na’udzubillah.
Adapun firman-Nya (maka hendaklah kamu siarkan), tentang ini Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: “Menyebut-nyebut nikmat adalah bentuk bersyukur”. Yahya bin Sa’id dan al-Jariri rahimahumullah berkata: “Dikatakan bahwa menghitung nikmatnikmat yang didapat adalah bentuk bersyukur”. Qotadah rahimahullah berkata: “Mensyukuri nikmat diantaranya adalah dengan membicarakannya”. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Dikatakan bahwa mensyukuri nikmat itu adalah dengan mengatakannya”. Hasan bin Ali radhiyallahu anhu berkata: “Jika engkau di pagi hari baik-baik saja maka katakan pada teman-temanmu”. Abu Nadhrah rahimahullah berkata: “Kaum muslimin melihat bahwa mensyukuri nikmat itu diantaranya dengan membicarakannya”. Ibnu Abi al Hawari rahimahullah berkata: “Fudhail bin ‘Iyadh dan Sufyan bin ‘Uyainah duduk dari malam sampai pagi hanya mengingatingat nikmat, kata Sufyan: ‘Allah telah memberi nikmat pada kami dalam hal ini, Allah telah memberi nikmat pada kami dalam hal itu, Ia berbuat atas kami pada hal ini, dan seterusnya’.
Diriwayatkan secara marfu’ bahwa: (Siapa yang tidak bersyukur dengan yang sedikit maka dia tidak akan bersyukur ketika banyak, siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka dia tidak bersyukur kepada Allah. Membicarakan nikmat Allah adalah bersyukur, meninggalkannya berarti telah Kufur nikmat. Jama’ah adalah rahmat dan perpecahan adalah azab). Juga bahwa: (Siapa yang diberi nikmat kemudian menyebut-nyebutnya maka ia telah bersyukur, tapi jika dia menyembunyikannya maka dia telah Kufur nikmat. Siapa yang tampil dengan sesuatu yang tidak diberikan padanya maka ia laksana memakai baju dusta). Serta bahwa: (Siapa yang diberi suatu pemberian dan mendapatinya maka hendaknya membalas dengan baik, siapa tidak mendapatinya maka pujilah, karena pujian itu adalah bersyukur, namun siapa menyembunyikannya maka ia telah kufur nikmat).
Allahu akbar, betapa seorang Muwahid Mujahid harus betul-betul bersyukur pada Rabb-Nya atas nikmat Islam dan Jama’ah. Jikalau bukan karena-Nya maka ia pasti menjadi hamba Thaghut istana dan kubur. Jika bukan karena-Nya niscaya ia menjadi pengekor ulama Thaghut dan du’at (penyeru) Jahmiyah. Jika bukan karena-Nya niscaya ia masih seorang banci Dayuts yang duduk-duduk bersama orang-orang yang tertinggal. Jika bukan karena-Nya niscaya ia masih tinggal di negeri kafir diantara para Polisi, Hakim, Pembesar, Intel, Tentara, dan Murtaddin lainnya, atau Yahudi, Nasrani, Majusi, ateis, dan orang-orang kafir lainnya. Jika bukan karena-Nya niscaya ia menjadi Bughat, Khawarij, atau sekte sesat lagi Bid’ah lainnya.
Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kepada kita semua ini, dan kita tidak akan mendapat petunjuk kecuali dengan hidayah-Nya.
Betapa keras kehinaan, fitnah, dan ujian yang menimpa seorang Muwahid Mujahid sebelum nikmat Jama’ah ini. Tidak ada madrasah yang layak untuk tempat belajar anaknya, tidak ada ulama, tidak ada peradilan tempatnya mengadu -karena ia adalah Muwahid yang Kufur kepada peradilan Thaghut-, tidak ada tempat tinggal yang aman sentosa, tidak ada negeri tempat berlari dari kejaran Thaghut, dan tidak ada kamp pelatihan tempatnya mempersiapkan kekuatan kecuali di gua, hutan, atau padang pasir yang jauh dari kewajiban berjama’ah sesuai pemahaman Salaf, yaitu Khilafah.
Jika ia tampakkan Millah Ibrahim, menyerukannya, atau berusaha beri’dad dan berjihad untuk meneror musuh-musuh Allah, sedang ia hidup di tengah-tengah orang-orang kafir dan Murtad, maka ia tidak tahu apakah ketika bangun tidur masih berada di tengah-tengah keluarganya atau malah terbangun di sel kelam bawah tanah?
Demikianlah kehidupannya. Kemudian Allah memberi nikmat padanya hidup berjama’ah. Maka segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal shalih bisa terlaksana, (Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. (QS al-Anfal: 26)).
Nikmat ini yang sekarang sedang dirasakannya mengharuskannya bersyukur lahir dan batin, sembunyi atau terang-terangan, baik diantara orang-orang khusus atau khalayak ramai. Ia selalu bicarakan nikmat ini kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, dan kepada khalayak ramai, ia selalu mengingatkan mereka. Ia memuji Allah yang telah menetapkan dan menakdirkan nikmat ini padanya, karena tidak ada daya upaya kecuali Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri. Kemudian tidak lupa lisannya mendoakan para pendahulunya khususnya yang sudah Syahid seperti Syaikh Abu Mush’ab az-Zarqawi, Syaikh Abu Hamzah al-Muhajir, Syaikh Abu Umar al-Baghdadi, Syaikh Abu Bakar al-Iraqi, Syaikh Abu Abdurrahman al-Bilawi, Syaikh Abu al-Mu’taz al-Qurasyi, Syaikh Abu Ali al-Anbari, Syaikh Umar asy-Syisyani rahimahumullah, demikianlah kami kira dan kami serahkan penilaian kepada Allah sedang kami tidak menyucikan siapapun di hadapan-Nya, karena siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka dia tidak bersyukur kepada Allah.
Bahkan jika ia sengaja bergadang, sebagaimana yang dilakukan oleh dua imam mulia Fudhail dan Sufyan, untuk menghitung-hitung nikmat Khilafah ini dan pengaruhnya, hal itu tidaklah cukup, (Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS Ibrahim: 34)).
Diantara nikmat Allah atas seorang Muwahid Mujahid adalah bahwa Dia berkenan memperpanjang umurnya sampai masa ini sehingga dengan Jihadnya Allah menegakkan kembali Khilafah dan menjadikannya penjaga setia perbatasannya. Abu al-’Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Ketahuilah -semoga Allah mengishlahmu- bahwa nikmat teragung Allah atas orang yang dikehendaki-Nya kebaikan; adalah Dia masih memberinya kehidupan sehingga mengalami masa-masa pembaruan Dien, syi’ar-syi’ar kaum muslimin kembali bermunculan, dan kondisi orang-orang mukmin dan Mujahidin membaik sampai pada tahap menyerupai orang-orang terdahulu dari kalangan muhajirin dan anshar. Siapapun yang ikut serta dalam usaha pembaruan itu maka ia termasuk dalam golongan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, yang di ridai Allah dan mereka meridhai-Nya dan telah disiapkan-Nya surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang agung. Maka hendaklah orang-orang mukmin bersyukur kepada Allah atas ujian ini yang dibaliknya ada anugerah mulia dari Allah. Dibalik fitnah ini betul-betul terwujud nikmat yang besar, sampai - demi Allah - jika orang-orang yang pertama masuk islam dari kalangan Muhajirin dan Ansar hidup di zaman ini maka aksi mereka yang paling utama adalah berjihad melawan para penjahat itu. Anugerah ini tidak terluput kecuali orang yang merugi perdagangannya dan mendiskreditkan dirinya sendiri lagi dihalangi dari bagian keberuntungan yang besar dunia akhirat. (al-Fatawa).
Ini jelas nikmat, nikmat, dan nikmat, serta nikmat; nikmat Islam, nikmat Jama’ah, nikmat Jihad, dan nikmat Syahadah, dengan izin Allah ta’ala.
Mengkufuri nikmat ini diantaranya dengan memisahkan diri, bermaksiat, saling berbisik-bisik akan keburukannya, menyebarkan isu, berprasangka buruk, membangkang pada amir, mengingkari perjanjian, memfitnah dan menyebarkan kerusakan, meminta suaka ke negeri kafir, fanatik dengan ijtihad, pendapat dan hawa nafsu, memberontak, dan mengkafirkan jamaah muslimin, para imamnya, dan masyarakat umumnya. Para imam Daulah Islamiyah telah berusaha sebaik mungkin memperingatkan dari lubang-lubang celaka ini, seperti dalam kalimat Wa’tashimu Syaikh Abu Mush’ab az-Zarqawi, al-Washiyah atsTsalatsiniyah dan Masalik an-Nashr oleh Syaikh Abu Hamzah al-Muhajir rahimahumullah.
Siapa yang sengaja menjerumuskan dirinya dalam lubang celaka ini dan berkeras dalam kesesatannya maka janganlah ia cela kecuali dirinya sendiri jika Allah mengharamkannya nikmat islam lantaran mengkufuri nikmat jamaah. Firman Allah ta'ala: (Dan barangsiapa yang menukar nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya. (QS al-Baqarah: 211), dan firman-Nya: (Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS Ibrahim: 7).
Diantara kufur nikmat yang terburuk adalah mengklaim nikmat itu hasil jerih payahnya, (Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. (QS az-Zumar: 49). Penghulu kekufuran yang parah ini dan pelaku pertamanya adalah si binasa Qorun yang dibenamkan ke dalam bumi beserta seluruh harta bendanya.
Adapun sunnah yang bagus adalah seorang hamba memahami bahwa seluruh nikmat yang dirasakannya baik nikmat dunia maupun Dien adalah hanya berasal dari Allah saja tiada sekutu bagi-Nya, bukan lantaran jerih payahnya. Diriwayatkan bahwa Dawud alaihis salam berkata: “Wahai Rabb, bagaimana aku bisa bersyukur kepada-Mu sedang Engkaulah yang memberi nikmat padaku, kemudian memberi rizki padaku dengan nikmat itu, dan menambahi untukku nikmat demi nikmat. Nikmat-nikmat ini adalah darimu wahai Rabb, juga syukur ini, maka bagaimana aku bisa bersyukur kepada-Mu? Maka Allah mewahyukan kepadanya: (Sekarang engkau telah mengetahui-Ku wahai Dawud dengan sebenar-benarnya). Diriwayatkan juga bahwa beliau berkata: “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bersyukur kepada-Mu, sedang aku tidak bisa bersyukur kecuali lantaran nikmat-Mu juga? Maka Allah mewahyukan padanya: (Wahai Dawud, bukankah engkau tahu bahwa nikmat yang kau rasakan sekarang itu adalah dari-Ku?) Jawabnya: “Betul wahai Rabb”. Maka Allah berfirman: (Aku rela dengan hal itu sebagai bentuk syukurmu padaKu. (Kitab Zuhud karya Imam Ahmad bin Hanbal)
Yang bisa meneguhkan pengertian dan hakikat ini pada hati seorang hamba adalah dengan mentadaburi dua ayat dari Kitabullah, yaitu: (Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan ke islamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar”. (QS al-Hujurat :17), dan firman-Nya: (Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran”. Dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan”. (QS al-A’raf:43)
Ya Allah, sebagaimana Engkau beri kami nikmat islam dan jamaah di dunia, maka berilah kami nikmat keridaan-Mu dan melihat wajah-Mu di akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar