Tampilkan postingan dengan label Rumiyah Edisi 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumiyah Edisi 4. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

ABU ZUBAIR AL-IRAQI, SANG PENGOBAR PERANG DAN KOMANDAN KAFILAH

RUMIYAH 4 - SYUHADA

ABU ZUBAIR AL-IRAQI
SANG PENGOBAR PERANG DAN KOMANDAN KAFILAH

Abu Zubair al-Iraqi, Arkan Jasim Muhammad al-‘Izawi taqabbalahullah. Lahir pada tahun 1401 H diantara kebun-kebun kampung as-Sadah yang terletak di timur laut Ba’quba, Provinsi Diyala. Di kampung ini pasukan salibis pernah terhinakan dan jasad mereka tercerai-berai. Masa-masa mudanya dilaluinya di sana. Kemudian ia pindah ke Ba’quba dan bekerja sebagai tukang kayu untuk mencari rizki dan memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya.

Setelah invasi Salibis atas Irak pada tahun 1423 H, kesatria kita meninggalkan pekerjaannya demi berjihad dan mengangkat senjata. Ditinggalkannya semua yang menyibukannya dari kewajiban agung ini. Aktivitasnya bersama kawan-kawannya lebih menyerupai aksi individu hingga akhirnya berbaiat kepada Syaikh Abu Mus’ab Az-Zarqawi rahimahullah pada penghujung tahun 1424 H. Inilah awal perjalanan jihadnya yang diberkahi ini.

Ksatria kita ini mengomandoi sebuah detasemen militer di salah satu sektor Ba’quba bersama Syaikh Abu Dawud rahimahullah pada tahun 1425 H. Tahun ini adalah tahun yang penuh bencana bagi para murtadin dan tuan-tuan mereka di Ba’quba dan sekitarnya. Operasi terpentingnya ketika itu adalah amaliyah istisyhadiyah atas Dewan Kepolisian Ba’quba yang berhasil menewaskan puluhan personil relawan kepolisian Rafidhah. Perang berkecamuk semakin sengit. Beliau mempunyai andil besar dalam menyalakan bara api pertempuran. Terjadilah sebuah operasi penyerangan atas Polres Mafraq, yang memakan banyak korban dari musuh-musuh Allah. Abu Zubair menunaikan tugasnya dengan baik pada fase itu.

Kemudian beliau menjadi komandan militer distrik as-Sadah atas perintah Syaikh Abu Jabir rahimahullah dikarenakan beliau yang paling memahami daerah tersebut beserta karakter penduduknya. Di sana beliau dikenal sebagai Abu Umar.

Pada tahun 1426 H beliau di amanahi sebagai komandan militer sektor Syahraban. Perannya sangat menonjol dalam berbagai macam operasi yang berhasil melumat tulang-tulang pasukan salibis. Operasi-operasi itu ikut andil dalam membersihkan desa-desa Syahraban dari najisnya rafidhah musyrik seperti desa Abu Karmah, Zahrah dan Abdul Hamid. Amaliyah istisyhadiyah yang dikomandoinya berhasil memanen banyak kepala Salibis dan orang-orang murtad di as-Sadah, diantaranya operasi jembatan al-Jurajiyah yang diberkahi.

Ketika Daulah Islam Irak telah berdiri, ksatria kita adalah salah tokoh yang menjadi pelopor Daulah Islam di wilayah Diyala. Beliau bersama pasukannya semakin menguatkan tekanan atas Salibis dan antek-anteknya di perkebunan Syahraban dan menimpakan kerugian besar kepada mereka.

Hingga para salibis “melahirkan” anak keturunan mereka dari kalangan Shahawat murtad lagi celaka di akhir tahun 1427 H, yang mengharuskan tentara Daulah Islamiyah untuk menghadapi gelombang ini. Syaikh diserahi jabatan sebagai komandan militer di daerah yang sedang dikuasai oleh Shahawat murtad, diantaranya adalah kota Ba’quba. Beliau adalah tokoh pada fase ini. Bom-bom tempel dan ranjau-ranjau menyalak memanen kepala-kepala murtaddin di sana. Pada masa itu Allah memberikan kemampuan pada mujahidin untuk membunuh puluhan gembong-gembong shahawat dan elemen-elemennya.

Pada penghujung tahun 1428 H, Syaikh di tawan dan ditahan di penjara Bucca yang dikendalikan oleh salibis. Beliau dipenjara selama satu tahun delapan bulan. Fase baru berupa i’dad dan persiapan untuk perjalanan jihad yang lain dimulainya. Beliau belajar Aqidah, Tajwid dan Fiqih kepada Syaikh Abu Hafsh al-Iraqi rahimahullah wali Kirkuk. Beliau juga mencurahkan sebagian besar perhatiannya pada materi ilmu kemiliteran. Beliau banyak belajar teori tentang pengembangan senjata dan bom. Selain itu beliau juga menjadi pelatih fisik bagi para ikhwah disana.


Beliau bebas dari tahanan pada pertengahan tahun 1431 H dan kembali lagi ke medan perang. Beliau menjadi amir keamanan sektor Syahraban. Pada salah satu operasi keamanan beliau tertawan lagi untuk kedua kalinya. Kali ini beliau ditahan di penjara milik murtaddin. Allah menakdirkan beliau bebas setelah dua bulan ditahan bersama bebarapa ikhwannya.

Di awal tahun 1434 H, Abul Bara’ (kun-yah beliau saat itu) terpilih sebagai komandan militer umum wilayah Diyala. Beliau membuat pemerintahan Rafidhah terkuras kekuatannya. Beliau mengomandoi beberapa operasi militer penting di sana, diantaranya adalah operasi Dewan al-Afwaj, operasi Kantor Polisi Habhab, dan penyerbuan al-‘Azhim. Kemudian beliau terpilih sebagai wakil Syaikh Abu Abdillah al-Izzi rahimahullah wali Diyala.

Banyaknya tanggung jawab beliau serta kesibukannya tidaklah menghalangi beliau untuk terjun langsung dalam pertempuran. Beliau memimpin langsung pasukannya dalam banyak pertempuran dan menceburkan diri dalam bahaya bersama mereka. Pada salah satu pertempuran di daerah al-Azhim, beliau bertindak sebagai komandan umum, beliau dan pasukannya berhasil mengepung konsentrasi murtaddin di salah satu pangkalan militer. Beliau menyerbu pangkalan militer tersebut dan baku tembak seorang diri melawan para murtadin selama beberapa saat, sedangkan pasukannya hanya melihat keberanian amirnya itu dari luar pagar. Beberapa saat kemudian tiba-tiba terjadi ledakan di dalam pangkalan itu yang membuat hati bergetar dan jiwa menangis. Semua ikhwah berkata Abul Bara’ telah terbunuh.

Namun secara mengejutkan beliau kembali dalam keadaan tangan terpotong, pakaian terkoyak dan jasad terluka. Sebuah pemandangan yang membuat para Amir dan Komandan tercengang, ketika mendapatinya begitu berani dan tak kenal takut. Disebabkan parahnya luka-luka yang dideritanya itu beliau menghindari medan tempur selama beberapa waktu untuk menjalani pengobatan, karena tubuhnya dipenuhi dengan luka. Akan tetapi beliau masih berkeinginan kuat untuk kembali berperang untuk ikut serta dalam fase-fase jihad terpenting ini.

Tatkala fajar tamkin telah menyingsing di Fallujah, Syaikh dikirim sebagai komandan militer distrik al-Karmah. Di sana beliau dijuluki Abu Hudzaifah. Beliau memimpin pertempuran-pertempuran yang terjadi. Melalui tangannya Allah menaklukan al-Sijr yang sebelumnya dijadikan benteng oleh tentara rafidhah, yang menjadi pemisah distrik al-Karmah dengan Fallujah, dan membendung serangan shahawat di desa Albu Khnafar. Beliau juga ikut andil dalam memadamkan api yang di sulut oleh shahawat ikwanul murtaddin di kota al-Karmah.

Setelah penaklukan gemilang dan deklarasi Khilafah beliau kembali ke wilayah Diyala sebagai Wali. Kembalinya beliau menjadi kabar kematian bagi Rafidhah di wilayah ini. Beliau mengawasi setiap strategi dan mobilisasi beberapa pertempuran besar di dalam wilayahnya setelah Rafidhah mengira bahwa mereka telah berhasil menguasainya. Operasi Khan Bani Sa’ad, al-Huwaidar dan amaliyah Baldaruz, amaliyah al-Khalish dan operasi-operasi genting lainnya menjadi saksi kehebatan manajemen tempur beliau. Beliau juga mengejutkan Rafidhah dengan keberhasilannya membunuh seorang Rafidhi mujrim Shadiq al-Husainiy di dalam kantornya di Universitas Diyala. Amaliyah ini berpengaruh besar dalam menimbulkan rasa gentar di hati Rafidhah.

Adapun operasi beliau yang paling gemilang adalah perencanaan dan pelaksanaan operasi “Kasrul Quyud” (melepaskan belenggu) atas penjara al-Khalish, yang menjadikan Rafidhan gila karena mengalami kerugian yang amat besar. Operasi ini berhasil membebaskan lebih dari empat puluh ksatria Khilafah, diantaranya adalah komandan militer wilayah Diyala Abu Mu’adz al-Iraqi –Taqabbalahullah- yang akhirnya gugur setelah itu di front ‘Alas di wilayah Karkuk.

Setelah itu Syaikh dibebani untuk mengatur beberapa pertempuran di front ‘Alas dan ‘Ajil di wilayah Karkuk. Beliau adalah seorang musyrif yang langsung terjun ke medan laga. Beliau memimpin puluhan pertempuran dan amaliyah sehari-hari melawan kelompok Hasyad Rafidhi. Beliau juga menjadi pelatih batalyon sniper, di samping kejeniusannya dalam bidang industri militer. Beliau membimbing pembuatan meriam, mortar, roket, anti serangan udara, senapan berat sniper, dan pengembangan bahan peledak. Beliau mengawasi beberapa operasi serangan udara dari pesawat-pesawat kecil seperti dalam sebuah amaliyah atas Tazah Rafidhah. Demikian juga beliau juga mengawasi pembuatan bom mobil dan pelapisan baja.

Kemudian beliau menjadi anggota dalam Haiah Arkan dibawah Dewan Ketentaraan. Beliau menceburkan diri dalam berbagai macam pertempuran sekaligus memimpinnya baik di wilayah Kirkuk maupun Dijlah. Setelah umurnya genap 35 tahun yang mayoritasnya dihabiskan di medan jihad, ajal menjemputnya ketika pesawat salibis membomnya bersama dua kawan seperjuangannya, yaitu Abu Jabir al-Iraqi dan Abu Shiddiq al-Iraqi. Merekapun menyusul kafilah syuada’ yang telah terlebih dahulu berangkat.

Semoga Allah menerima mereka semua, dan mengumpulkan mereka bersama para Nabi, orangorang jujur, dan syuhada’, mereka itu adalah sebaik-baik kawan.

JANDA MENIKAH LAGI, SUNNAH YANG PATUT DIIKUTI

RUMIYAH 4 - MUSLIMAH

JANDA MENIKAH LAGI, SUNNAH YANG PATUT DIIKUTI

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik ummatku adalah masa ketika aku diutus kepada mereka, kemudian generasi setelah mereka.” (Muttafaq ‘Alaihi).

Imam an-Nawawi mengatakan, “Ulama bersepakat bahwa sebaik-baik zaman adalah zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam, maksudnya adalah para sahabat beliau. Dan kami telah menerangkan bahwa pendapat yang shahih menurut jumhur (mayoritas) ulama; bahwa setiap muslim yang melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam meskipun hanya sesaat saja, maka dia termasuk sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam."

Dan telah menjadi kebiasaan kaum wanita yang merupakan shahabiyah (sahabat wanita) pada masa itu untuk menikah lagi setelah wafat ataupun terbunuhnya suami mereka (dalam peperangan), terkecuali Ummahatul Mukminin (ibunda kaum beriman) –semoga Allah meridhai mereka— yang diharamkan bagi setiap lelaki manapun untuk menikahi mereka setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Pun jika kita menelisik kitab-kitab sirah (sejarah), biografi, dan tarikh, kita akan sedikit mendapatkan dari wanita-wanita beriman shalihah juga memiliki keutamaan yang tinggi mereka tidak menikah lagi seusai wafatnya suami mereka, sama halnya apakah mereka memiliki anak ataupun tidak. Dan kita tidak pernah membaca sedikitpun bahwa ada seseorang yang mencaci, mencerca, dan mencelanya disebabkan 'ketidaksetiaannya' pada suaminya terdahulu (karena menikah lagi).

Jadi siapa saja yang mencela seorang wanita yang menikah lagi dengan pria lain setelah kematian suaminya, maka hendaknya dia takut (kepada Allah) karena telah menentang satu syariat yang ditetapkan dan dihalalkan Allah azza wa jalla bagi para hamba-Nya. Dan wanita mana saja yang ditinggal wafat suaminya, lalu dia menikah lagi, kemudian wafat lagi suaminya, dan dia menikah lagi lalu wafat lagi suaminya kemudian wanita itu menikah lagi, padahal itu merupakan kehendak Allah meskipun sampai ratusan kali, kemudian datang orang yang mencela dan melarangnya bukan berdasar pertimbangan syariat akan tetapi berdasarkan pertimbangan bahwa itu adalah “aib”, dan dia pun menjadikan hal itu sebagai “kultur aib” yang tersebar di kalangan manusia –kecuali orang yang dijaga Allah— pada suatu perkara yang telah Allah halalkan ataupun perkara haram yang Allah haramkan. Pencela seperti ini ditakutkan telah menyelisihi syariat.

Di dalam kitab al-Mihbar karya Abu Ja’far al-Baghdadi, ada satu bab berjudul ‘Nama Para Wanita yang Menikah Tiga Kali atau Lebih’ di dalam bab itu di antaranya tertulis nama segolongan para shahabiyah yang mulia radhiyallahu anhunn. Para sahabat radhiyallahu anhum juga berlomba-lomba untuk meminang para wanita yang ditinggal mati suaminya dan menjamin anak yatim yang ditinggal ayahnya. Mungkinkah para sahabat dan shahabiyah tidak memahami apa yang dipahami oleh para penentang janda untuk menikah lagi dewasa ini? Amat tidak mungkin.

Putri-putri juga cucu-cucu perempuan Nabi shallallahu alaihi wasallam, di antara mereka ada yang pernah menikah dengan satu, dua, atau tiga laki-laki.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Zainab dinikahi oleh Abul ‘Ash bin ar-Rabi’ bin Abdul ‘Uzza bin Abdu Syam bin Abdu Manaf yang merupakan anak lelaki saudara perempuan Khadijah, ibunya adalah Halah binti Khuwailid. Lalu Zainab pun melahirkan seorang putra bernama Ali, dan putri bernama Umamah binti Zainab. Lalu Ali bin Abi Thalib menikahinya setelah wafatnya Fathimah, kemudian Ali meninggal dan Zainab berada di sisinya. Setelah wafatnya Ali, Zainab menikah dengan al-Mughirah bin Naufal bin Harits bin Abdul Muthallib.” (al-Bidayah wa an-Nihayah).

Ibnu Katsir melanjutkan, “Adapun Ummu Kultsum dinikahi Amirul Mukminin Umar bin Khattab, dan memberikan untuknya seorang putra bernama Zaid, dan Umar pun wafat. Lalu dia dinikahi oleh anak-anak pamannya, Ja’far, satu persatu; dia dinikahi oleh Aun bin Ja’far, dan Aun wafat, kemudian saudaranya bernama Muhammad menggantikannya, lalu Muhammad pun wafat, kemudian saudaranya, Abdullah bin Ja’far, menikahinya dan Ummu Kultsum pun wafat sebagai istrinya.” (al-Bidayah wa an-Nihayah).

Demikianlah, Ummu Kultsum menikah dengan empat laki-laki, dan dia adalah cucu perempuan Nabi shallallahu alaihi wasallam yang merupakan putri dari Ali dan Fathimah radhiyallahu anhum dan tidak ada seorang pun yang memicingkan sebelah mata kepadanya atau mencacinya, juga tidak terdengar perkataan yang menyedihkan: “Celakalah engkau! Bagaimana bisa engkau melupakan suamimu terdahulu, juga hubungan serta rasa cinta yang telah terjadi di antara kalian berdua?!”

Pun demikian, ada teladan baik bagi para wanita beriman pada diri shahabiyah Asma binti Umais, wanita yang berhijrah ke dua tempat (Shahibah al-Hijratain) – semoga Allah meridhai dirinya dan para suaminya.

Dikisahkan dalam Ma’rifat ash-Shahabah karya Abu Na’im: “Dia berhijrah dengan suaminya yaitu Ja’far bin Abi Thalib, lalu dia melahirkan untuknya beberapa putra di negeri Habasyah bernama Abdullah, ‘Aun, dan Muhammad, anak-anak Ja’far bin Abi Thalib. Kemudian Ja’far pun wafat, lalu Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu menggantikan posisi Ja’far sebagai suami Asma yang melahirkan untuknya Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq di tahun Haji Wada’ di bawah pohon. Dan Abu Bakar pun wafat, kemudian Ali bin Abi Thalib menikahinya, dan lahirlah seorang putra bernama Yahya bin Ali bin Abi Thalib.”

Begitu pula Khaulah binti Qais bin Qahd bin Tsa’labah al-Anshariyah, Ummu Muhammad, atau dikenal pula sebagai Ummu Habibah. Suaminya, Hamzah bin Abdul Muthalib, terbunuh lalu Nu’man bin ‘Ajlan al-Anshari menikahinya.

Dalam kitab Asad al-Ghabah karya Ibnul Atsir, terdapat kisah Atikah binti Zaid yang dinikahi oleh Abdullah bin Abu Bakar. Dan saat Abdullah wafat, al-Faruq Umar bin Khattab pun menikahinya, lalu saat Umar wafat, Zubair bin Awwam pun menikahinya.

Wahai muslimah, hendaknya engkau merenungkan bagaimana seorang perempuan (janda) bisa menikah dengan orang semisal Abu Bakar ash-shiddiq, Umar bin Khattab, dan Hamzah bin Abdul Muthallib! Hal ini hanyalah salah satu dari sekian banyaknya sejarah para wanita di zaman terbaik. Jika kita mau menghitung jumlah wanita yang menikah lagi setelah wafatnya suami mereka, maka kita tidak dapat menghitung jumlah mereka.

Bagi para wanita janda yang menolak untuk menikah (lagi) –semoga Allah memberi hidayah untuk menikah yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi mereka di dunia dan di akhirat— memiliki beberapa syubhat (kerancuan), di antaranya adalah syubhat: wanita yang bersabar mengurus anak yatim, maka akan berkumpul dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam di pintu surga. Mereka bersandar kepada hadits marfu’ yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: “Allah mengharamkan surga dimasuki semua anak Adam sebelum aku masuk, akan tetapi aku melihat dari sebelah kananku ternyata ada seorang wanita yang bergegas mendahuluiku menuju pintu surga, lalu aku bertanya ‘Apa yang menyebabkan dia bisa bergegas mendahuluiku?’ Maka dikatakan kepadaku: ‘Hai Muhammad, dia adalah seorang wanita baik juga cantik, dan memiliki anak-anak yatim, lalu ia bersabar mengurusi mereka sampai selesai urusan mereka, maka Allah pun berterima kasih kepadanya atas hal itu.” Hadits ini diriwayatkan Abu Ya’la dan Al-Kharaithi, dan lafaz tersebut miliknya.

Hanya saja, hadits tersebut bukan hadits shahih dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. al-Bushairi mengatakan di dalam al-Ithaf, “Diriwayatkan Abu Ya’la dengan sanad dha’if (lemah), dikarenakan lemahnya Abdussalam bin ‘Ajlan (salah seorang perawi di hadits tersebut). Maka apakah pantas seorang wanita berakal meninggalkan hadits-hadits mutawatir lagi shahih dan hasan yang memotivasi untuk menikah dan menganjurkan hal itu, lalu berpijak pada hadits dha’if?

Kemudian siapa yang berpendapat bahwa ibunda anak-anak yatim tidak akan mendapatkan pahala dari mengurus anak-anaknya yang yatim, apabila dia menikah lagi setelah tiadanya ayah mereka? Bahkan pahalanya itu tetap diberikan, seizin Allah azza wa jalla. Bahkan sebaliknya, bisa jadi dengan dia menikah lagi dengan laki-laki shalih dapat meneruskan kebaikan bagi dirinya dan anak-anaknya, menjaga ‘iffah (kesucian dirinya), mengayominya, dan mendidik anak-anaknya dalam ketaatan kepada Allah. Hal demikian pahalanya lebih besar di sisi Allah, dan jika suami pertamanya melihat dirinya, juga melihat apa keadaan anak-anaknya yang shalih dan bahagia, niscaya dia akan berterimakasih kepadanya.

Terkadang juga ada yang wanita yang mengatakan, “Aku tidak akan menikah sampai aku bertemu dengan suami pertamaku di akhirat.” Hal demikian tidaklah mengapa, namun bagi akhwat yang meyakini hal ini hendaknya mengetahui bahwa persoalan istri mana yang nanti akan berkumpul bersama suaminya di surga kelak merupakan persoalan khilafiyah (diperdebatkan). Ada yang berpendapat bahwa dia akan berkumpul dengan suami terakhir, ada pula yang berpendapat dia bersama suami yang paling baik akhlaknya ketika masih bersamanya, ada juga yang berpendapat bahwa dia akan bersama suaminya yang pertama, ada juga yang berpendapat bahwa dia akan dipilih oleh suaminya, dan ada juga yang mengatakan selain pendapat-pendapat tadi.

Wahai muslimah –semoga Allah memberi kalian petunjuk— maka perhatikan perbedaan pendapat ini, kemudian perhatikanlah apakah dia memiliki hujjah (argumentasi) berupa nash dari al-Qur’an atau hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa suami pertamanya ada di surga, ataukah hanya sekadar prasangka baik dan harapannya saja.

Dan juga hendaklah wanita muslimah memerhatikan keadaannya saat ini; dirinya seorang wanita muda yang tengah berada di puncak masa mudanya, sedangkan dia memiliki satu, dua, tiga anak yatim, atau bahkan lebih dari itu. Negeri yang dihuninya saat ini adalah negeri jihad di mana peperangan berlangsung fluktuatif (naik-turun/maju-mundur). Kemudian dia menolak para peminang dari kalangan laki-laki bertaqwa. Hanya Allah azza wa jalla saja yang Mahatahu apakah usianya akan berlangsung panjang ataukah singkat!

Wanita senantiasa membutuhkan seorang suami yang mengayominya, dan mengurus segala keperluannya. Barangsiapa yang tidak berpendapat demikian, maka dia menyelisihi fitrah yang telah Allah ciptakan untuknya. Tidak ada seorangpun di sekitarnya yang bisa menggantikan posisi suaminya, tidak ayahnya, tidak juga saudara laki-lakinya, tidak pula kerabat terdekatnya!

Kemudian, para janda dihadapkan pada pintu fitnah (godaan syahwat), maka wanita yang takut kepada Allah dan mengkhawatirkan orang-orang di sekitarnya mesti berusaha menutup pintu itu. Maka barangsiapa menolak untuk menikah, lalu malah memohon kebutuhan-kebutuhan diri dan anak-anaknya kepada para suami teman-temannya, atau kepada keluarga iparnya, dari kalangan paman anak-anaknya, maka selayaknya untuk takut tergelincir menuju jeratan setan, dan menjauhkan dirinya dari syubhat (penyimpangan). Barangsiapa menjauhi syubhat, maka dia telah menjaga diri dan kehormatannya. Dan setan paling berhasrat untuk menggoda para wanita sendirian yang mencoba untuk menikah.

Adapun para janda yang berhujjah bahwa dia telah berjanji kepada suaminya untuk tidak menikah lagi, maka ketahuilah bahwa para ulama salaf membenci hal itu, bahkan sebagian mereka berpendapat bahwa perjanjian itu adalah bathil. Suatu ketika seorang wanita mendatangi Imam asy-Sya’bi, wanita itu bertanya, “Aku telah bersumpah kepada suamiku dengan sumpah yang tegas bahwa aku tidak akan menikah lagi, maka bagaimanakah pendapatmu?” Imam asy-Sya’bi menjawab, “Aku berpandangan agar kita mulai melakoni apa yang Allah azza wa jalla halalkan, sebelum kalian menganggapnya haram.” (Diriwayatkan Sa’id bin Manshur di dalam Sunan-nya). Seorang wanita lebih mengetahui keadaan-keadaan dirinya ketimbang suaminya yang telah menghadap Rabbnya.

Dan pembicaraan tentang hukum bolehnya seorang istri menikah lagi setelah wafat ataupun kesyahidan suami pertamanya, tak ubahnya seperti pembicaraan hukum bolehnya seorang lelaki menikahi lebih dari satu istri pada fase kehidupan mereka. Jika demikian, maka atas dasar apa dia membenci hal itu padahal berfirman, “Dan orang-orang yang kafir itu, maka kecelakaanlah bagi mereka, dan Allah menghapuskan amalan-amalan mereka, Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 8-9)

Sebagai penutup, maka ketahuilah wahai janda syahid –demikianlah kami menilainya dan Allah-lah yang menilainya—sesungguhnya surga adalah tempat yang tinggi lagi mahal, di mana tidak ada kesulitan pun kepayahan, juga tidak pula ada kesedihan dan kesukaran. Dan orang beriman akan merasa ridha dengan apa yang diberikan Rabbnya, sama saja apakah dia bersama orang yang dikasihinya di dunia ataupun tidak. Suami yang menyebabkan dirimu enggan untuk menikah lagi padahal engkau menginginkannya, dengan hal itu engkau berharap dia akan menjadi suamimu di akhirat. Apabila kelak engkau mengemukakan satu kebaikan di Hari Perhitungan agar engkau bisa masuk surga, lalu engkau datang kepada-Nya sembari berharap dengan satu dari sekian kebaikan itu, maka Dia tidak akan memberimu.

Allah berfirman, “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkan.” (QS. Abasa: 34-37)

Hari yang kelak setiap orang mengurusi dirinya masing-masing, bahkan juga para nabi dan rasul, kecuali Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Kemudian di hari itu engkau tidak tahu pasti apakah kesyahidan suamimu diterima atau tidak, karena di dalam hatinya ada niatan yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Yang Maha Mengetahui hal-hal ghaib. Dan sudah tidak diragukan lagi, sesungguhnya yang kalian harapkan berupa keridhaan Allah, perjumpaan dengan-Nya, kedekatan dengan-Nya, dialog dengan-Nya, dan juga melihat-Nya, semua ini adalah kenikmatan yang lebih agung dari kenikmatan-kenikmatan lainnya di akhirat.

Disebutkan di dalam atsar (riwayat): “Bahwa para penduduk surga itu apabila telah mencapai puncaknya kenikmatan, dan mereka menyangka tidak ada lagi kenikmatan yang lebih utama dari itu, maka Allah menampakkan dirinya pada mereka, kemudian mereka melihat wajahnya ar-Rahman, lalu mereka pun lupa terhadap semua kenikmatan yang telah mereka nikmati saat mereka melihat wajah ar-rahman.” (Diriwayatkan Ad-Darimi dalam tulisan bantahannya terhadap Al-Muraisi).

Dengan demikian, apakah engkau tidak terpikir untuk menikah dengan suami yang dapat membantumu untuk menggapai kenikmatan yang agung ini dengan menjauhkanmu dari hal yang diharamkan Rabb Semesta Alam?!

KISAH-KISAH KEMENANGAN SETELAH KESABARAN

RUMIYAH 4 - SEJARAH

KISAH-KISAH KEMENANGAN SETELAH KESABARAN

Allah azza wa jalla menjelaskan kepada umat syarat-syarat kemenangan dan sebab-sebabnya agar kemenangan dan kemuliaan itu tetap kekal jika memang yang diketahuinya itu dilakasanakan. Diantara sebab-sebab itu adalah kesabaran dan keteguhan, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. al-Anfal: 45).

Allah azza wa jalla juga menyebutkan bahwa sesungguhnya kelompok yang sedikit dari kaum Muslimin namun bersabar dapat mengalahkan kelompok yang banyak dari orang-orang kafir dengan izin Allah, Allah berfirman: “Hai Nabi, kobarkanlah semangat kaum Mukminin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, nisacaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh, dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang kafir itu tidak mengerti.” (QS. al-Anfal: 65).

Bukti-bukti sirah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para pengikut beliau serta sejarah kaum Muslimin menunjukkan bahwa kesabaran dan menguatkan kesabaran adalah faktor terbesar kemenangan.

Dalam perang Ahzab pada tahun 5 H kaum musyrikin Arab bersatu dengan koalisi Yahudi mereka untuk memerangi kaum Muslimin dan mengepung kota Nabi shallallahu alaihi wasallam hingga situasinya seperti yang digambarkan oleh Allah azza wa jalla, “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purba sangka. Di situlah diuji orang-orang yang beriman dan di goncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan RasulNya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya’.” (QS. Al-Ahzab: 10-12).

Meskipun demikian, tekad dan keteguhan kaum Muslimin tidaklah melemah. Mereka justru berjaga-jaga di perbatasan Madinah. Hembusan isu orang-orang munafik tidak melemahkan mereka. Bahkan mereka sangat yakin dengan janji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa pada akhirnya merekalah yang menang. Mereka pasti akan menaklukkan kota-kota Syam dan Irak serta menghancurkan singgasana Kisra dan Kaisar, Allah azza wa jalla berfirman: “Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan RasulNya. Yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. al-Ahzab: 22).

Lantaran iman dan kepasrahan inilah Allah mengaruniakan pertolongan-Nya kepada mereka dan mengalahkan musuh mereka, setelah Allah menyeleksi kaum Muslimin dan menyingkap kedok orang-orang munafik. Kemudian penaklukkan demi penaklukkan terjadi hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat pada tahun 11 H. Pada tahun itu juga bangsa Arab murtad secara massal. Hal itu tidak melemahkan tekad Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu dan para sahabat. Ia tetap sabar dan teguh, dan bertekad untuk menegakkan perintah Allah dengan memerangi orang-orang murtad meskipun lengkapnya peralatan tempur dan banyaknya jumlah mereka.

Pada perang Yamamah (11 H) terjadi pertempuran melawan konsentrasi terbesar orang-orang murtad di bawah komando Musailamah al-Kadzab. Kaum muslimin menghadapi lawan yang cukup berat. Berbagai kesulitan mereka hadapi dalam pertempuran ini sampai hampir-hampir orang-orang murtad berhasil memukul mundur posisi kaum muslimin.

Ibnul Atsir berkata, “Terjadi pertempuran sengit. Belum pernah sekalipun kaum Muslimin menghadapi pertempuran seperti itu. Kaum Muslimin terpukul mundur. Bani Hanifah berhasil mencapai Maja’ah (tertawan di tangan kaum Muslimin) dan mendekati paviliun Khalid hingga memaksanya meninggalkannya.” Kemudian kaum Muslimin mengatur ulang barisannya. Para sahabat radhiyallahu anhum dan khususnya para ahlul Qur’an mulai menghasung orang-orang untuk memburu syahadah dan memperingatkan mereka akan akibat dari kabur dari medan tempur.

Ibnul Atsir berkata, “Kemudian kaum Muslimin saling menyeru, maka Tsabit bin Qais berkata, ‘Buruk sekali apa yang kalian lakukan terhadap diri kalian wahai kaum Muslimin! Ya Allah aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan mereka – yakni penduduk Yamamah – dan aku meminta ampun kepada-Mu dari apa yang dilakukan mereka – yakni kaum Muslimin –. Kemudian ia maju bertempur sampai terbunuh. Abu Hudzaifah juga berkata, ‘Wahai ahlul Qur’an, hiasilah al-Qur’an dengan amal! Khalid lalu menyerbu orangorang murtad dan berhasil mendesak mereka jauh dari posisi sebelumnya.” Kedua kelompok bertempur dengan gigih meskipun banyak yang terbunuh dan terluka.

Ibnul Atsir berkata, “Pertempuran semakin sengit. Bani Hanifah saling memprovokasi untuk berperang dan bertempur dengan sengitnya. Ketika itu pertempuran terkadang dimenangkan oleh kaum Muslimin dan terkadang dimenangkan oleh orang-orang kafir. Dalam pertempuran ini Salim, Abu Hudzaifah, Zaid bin al-Khattab dan orang-orang berilmu lainnya gugur terbunuh.”

Maka harus ada penyaringan barisan agar dapat diketahui dari arah mana kaum muslimin diserang, Ibnul Atsir berkata, “Ketika mereka telah saling mengenali, sebagian berkata kepada yang lain, ‘Hari ini sangat memalukan jika sampai lari dari perang’.” Demikianlah jalannya pertempuran sengit dari sekian banyak pertempuran yang dialami umat ini. Harus ada pengorbanan jiwa agar Din ini tersampaikan dengan sempurna tidak kurang sedikitpun.

Ibnul Atsir berkata, “Korban berjatuhan dari kedua belah pihak, terlebih di kalangan Bani Hanifah, namun mereka tetap bertempur hingga Musailamah terbunuh. Yang membunuhnya adalah Wahsyi maula Jubair bin Muth’im dan seseorang dari Anshar.” Dengan terbunuhnya dajjal ini kaum Muslimin menyudahi pertempuran. Mereka dianugerahi kemenangan yang gemilang setelah jalan panjang kesabaran dan keteguhan.” Setelah Perang Riddah ini kaum Muslimin dapat memfokuskan diri untuk memerangi dua negara adidaya yaitu Persia dan Romawi dan menundukkan kekuasaan mereka kepada hukum Islam.

Pada Perang Yarmuk (13 H) Romawi memobilisasi 240.000 prajurit siap tempur, sedangkan jumlah tentara kaum Muslimin hanya empat puluh ribu orang. Jumlah yang seperti itu menggentarkan orang yang hatinya lemah, sampai-sampai salah seorang dari pasukan Muslim menoleh kepada Khalid radhiyallahu anhu dan berkata, “Betapa banyaknya pasukan Romawi itu, dan betapa sedikitnya kaum Muslimin! Khalid menjawab, “Betapa banyaknya kaum Muslimin dan betapa sedikitnya pasukan Romawi. Banyaknya pasukan itu dibuktikan dengan kemenangan dan sedikitnya pasukan itu ketika kabur dari medan tempur.” (al-Kamil, Ibnul Atsir).

Kaum muslimin tetap sabar dan teguh sekalipun banyak korban berjatuhan, sampai pada derajat mereka saling berbaiat untuk mati. Ibnul Atsir berkata, “Ikrimah bin Abu Jahal pada hari itu berucap, ‘Aku telah berperang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam banyak pertempuran, apakah aku hari ini malah kabur?! Kemudian dia menyeru, ‘Siapa yang mau berbaiat untuk mati? Harits bin Hisyam dan Dhirar bin al-Azwar membaiatnya bersama empat ratus pasukan berkuda kaum muslimin. Mereka bertempur habis-habisan untuk melindungi kemah Khalid sampai seluruhnya terluka. Ada yang berhasil sembuh namun ada juga yang lalu terbunuh.” Setelah kesabaran dan keteguhan ini Allah azza wa jalla mengaruniakan kepada mereka kemenangan dan tamkin. Romawi takluk, terpukul mundur dan kabur tidak mempedulikan sesuatupun. Kemudian setelah itulah Damaskus dan kota-kota Syam lain berhasil ditaklukkan satu demi satu.

Pada tahun 14 H Umar al-Faruq radhiyallahu anhu menyiapkan pasukan untuk menyerang Persia. Beliau menunjuk Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu anhu untuk mengomandoi pasukan. Wasiat beliau kepadanya sebelum berangkat adalah seperti yang dinukil ath-Thabari, “Jagalah wasiatku. Sesungguhnya engkau akan menghadapi perkara yang sangat dibenci, tidak ada yang dapat selamat darinya kecuali dengan kebenaran. Maka biasakanlah dirimu dan pasukanmu untuk berbuat kebaikan, dan mintalah kemenangan dengan perantaranya. Ketahuilah bahwa setiap kebiasaan itu membutuhkan penopang, sedangkan penopang kebaikan adalah kesabaran.”

Ini adalah wasiat yang harus dilaksanakan. Apalagi ada ketimpangan besar antara jumlah kaum Muslimin dan musuhnya bangsa Persia Majusi. Jumlah total pasukan kaum Muslimin yang mengikuti Perang Qodisiyah adalah 33.000 sekian setelah datangnya bala bantuan dan berkumpulnya seluruh pasukan. Sedangkan jumlah pasukan Persia melebih dua ratus ribu prajurit yang dibekali dengan pasukan gajah, suatu senjata unik pada waktu itu.” (Tarikh Ath-Thabari).

Selama beberapa hari terus menerus terjadi pertempuran yang amat sengit. Kaum Muslimin betul-betul bersabar. Jika rincian kejadiannya disebutkan tentu tulisan ini akan menjadi panjang. Pada hari pertama saja jatuh korban terbunuh dan terluka sebanyak 500 prajurit dari Kabilah Asad saja. Ibnul Atsir berkata, “Ketika Persia melihat prajurit dan gajah-gajahnya berjatuhan akibat serangan kabilah Asad, mereka menghujaninya dengan anak panah dan menyerbu mereka di bawah komando si pemilik alis lebat (Bahman Jadhuyih) dan Jalinus. Sedangkan kaum Muslimin menunggu takbir keempat dari Sa’ad. Pasukan Persia berhasil mengepung kabilah Asad dengan gajah-gajahnya, meski begitu mereka tetap teguh. Lalu Sa’ad pun meneriakkan takbir yang keempat… Pada hari itu 500 prajurit dari kabilah Asad terbunuh. Mereka adalah pelindung pasukan, dan Ashim juga adalah pelindung pasukan. Ini adalah hari pertama, yaitu hari al-Armats (Hari Kacau Balau).”

Tiga hari berlalu sedangkan kaum muslimin masih dalam kondisi menyerang dan mundur dan terus menghadapi pasukan gajah, namun mereka tetap sabar menunggu-nunggu janji Allah berupa kemenangan dan tamkin. Pada malam hari keempat kaum Muslimin bermalam dalam keadaan amat kelelahan karena mereka tidak bisa tidur, sementara saat subuh menyingsing mereka harus segera kembali menyongsong musuh. Mereka melakukannya dengan penuh kesabaran meskipun kondisi yang menimpa mereka.

Ibnul Atsir berkata, “al-Qa’qa’ berjalan di tengah-tengah pasukan seraya berkata, ‘Kemenangan akan diraih sebentar lagi bagi yang menyerang lebih dahulu, maka bersabarlah sebentar dan seranglah, karena sesungguhnya kemenangan itu berserta kesabaran’.” Hanya beberapa jam saja berlangsung sampai Allah azza wa jalla menurunkan kemenangan dan menghancurkan musuh-Nya, setelah kaum Muslimin mencurahkan seluruh kesabarannya menghadapi pasukan kekaisaran yang persenjataan dan jumlahnya mengungguli mereka berkali-kali lipat.

Ibnul Atsir berkata, “Jumlah kaum Muslimin yang gugur sebelum malam al-Harir adalah dua ribu lima ratus prajurit. Adapun yang gugur tepat pada malam al-Harir dan pada hari penentuan berjumlah enam ribu prajurit.” Pada hari itu sang Jenderal Persia Rustum terbunuh. Pasukan Muslim lalu mengejar dan membunuhi sisa-sisa pasukan Majusi serta merampas banyak ghanimah. Pertempuran ini menjadi pintu gerbang jatuhnya kota-kota Irak satu demi satu ke tangan kaum Muslimin termasuk al-Madain ibukota Persia Majusi.

Jika kita ikuti satu demi satu kemenangan kaum muslimin melawan koalisi kafir setelah mewujudkan keteguhan dan kesabaran tentu akan panjang sekali. Cukup kita mengingat pertempuran ‘Ainul Jalut (658 H) ketika Tartar hendak menginvasi Mesir setelah berhasil menaklukkan semua negeri di bawah kekuasaan mereka. Namun kaum Muslimin tetap teguh di hadapan pasukan musuh dan bersabar. Sehingga Allah menolong mereka dan membinasakan musuh-Nya. Kemudian setelah itu kaum Muslimin bergerak untuk mengusir Tartar dari kota-kota di Syam, dan Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Masih banyak lagi pertempuran yang serupa dengan ‘Ain Jalut yang terukir dan diceritakan dalam sejarah.

Pada hari ini musuh-musuh Allah kembali mengerahkan seluruh prajurit dan persenjataannya untuk memerangi Daulah Islam dan memadamkan cahayanya, akan tetapi dengan izin Allah mereka tidak akan dapat melakukannya. Maka dari itu wahai Junud Khilafah di Mosul, Halab, Sirte dan di wilayah-wilayah Daulah Islam lainya, bersabar dan bersabarlah, kuatkanlah kesabaran kalian, sesungguhnya kemenangan itu hanyalah membutuhkan kesabaran sesaat.

HARAM MELANGGAR "BAIAT UNTUK MATI"

RUMIYAH 4 - ARTIKEL

HARAM MELANGGAR "BAIAT UNTUK MATI"

Tetap sabar ketika tertimpa penderitaan dan tetap teguh ketika sengitnya pertempuran adalah amal yang paling utama di sisi Allah, juga merupakan sifat orang-orang yang bertaqwa yang dipuji Allah dalam Kitab-Nya yang mulia, “Orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS al-Baqarah: 177).

Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam juga menjadikan sifat ini sebagai tanda syuhada yang paling utama ketika menjawab pertanyaan, “Syuhada apa yang paling mulia? Jawabnya, ‘Yaitu orang-orang yang jika berada di barisan terdepan pertempuran mereka tidak memalingkan wajahnya sampai terbunuh. Mereka adalah orang-orang yang bergelimang kenikmatan di kamar-kamar yang tinggi di surga. Rabb mereka tertawa. Jika Rabbmu tertawa kepada seorang hamba di dunia maka tidak ada hisab atasnya’.” (HR Ahmad).

Melihat dampak yang diakibatkan dari kabur ketika bertemu musuh karena takut mati; diantaranya menyebabkan goyahnya barisan kaum muslimin sehingga berdampak pada kekalahan mereka, maka Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman dari maksiat ini. Maksiat yang menyebabkan murka Allah azza wa jalla atas pelakunya dan menyeretnya ke dalam Jahannam, firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS al-Anfal: 15-16).

Kabur ketika bertemu musuh juga merupakan dosa besar sebagaimana sabdanya shallallahu alaihi wasallam, “’Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan’. Dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, apa saja itu? Sabdanya, ‘Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah, memakan harta anak yatim, memakan riba, kabur ketika bertemu musuh, dan menuduh zina kepada wanita-wanita mukmin yang baik dan menjaga diri’.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kaum muslimin adalah laksana bangunan yang saling menguatkan. Karena itulah para sahabat radhiyallahu anhum sering saling berbaiat untuk bersabar ketika bertemu musuh dan teguh dalam pertempuran sampai terbunuh atau mendapat kemenangan. Dalilnya banyak terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam serta perbuatan para sahabat radhiyallahu anhum.

Pertama; Baiat berarti berjanji untuk taat dalam hal makruf.

Memenuhi janji adalah wajib, baik janji kepada Allah maupun kepada salah satu manusia sebagaimana firman-Nya azza wa jalla, “Penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu.” (QS al-Baqarah: 40). Firman-Nya juga, “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS an-Nahl: 91). Firman-Nya dalam memuji orang-orang mukmin, “Orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji.” (QS al-Baqarah: 177). Juga firman-Nya, “(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertaqwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.” (QS Ali Imran: 76).

Menepati janji itu wajib dalam perkara yang diperbolehkan atas seorang muslim bukan dalam perkara yang diharamkan.

Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bani Adam tidak diperbolehkan saling berjanji, saling berakad, saling bersekutu dan saling meminta syarat pada perkara yang menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya.”

Termasuk juga saling berjanji untuk tetap teguh ketika berperang. Jika perang itu dalam bingkai ketaatan kepada Allah, seperti memerangi orang-orang kafir, Khawarij dan pemberontak maka wajib menepatinya, namun jika perang itu diharamkan seperti pembangkangan ahli bid’ah dan bughat atas jamaah muslimin maka tidak boleh ikut serta apalagi saling berjanji, yang wajib justru membatalkan perjanjian yang ada dalam rangka bertaqorrub kepada Allah.

Kedua; Keabsahan berbaiat untuk mati dalam perang yang disyariatkan.

Mengenai baiat ini Allah azza wa jalla berfirman, “Bahwasanya orangorang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (QS al-Fath: 10).

Imam at-Thabari rahimahullah berkata, “Yang Mahatinggi berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam, “Bahwasanya orangorang yang berjanji setia kepada kamu,” sahabat-sahabatmu di Hudaibiyah yang berjanji untuk tidak kabur ketika bertemu musuh atau berpaling mundur, “sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah”. Ia berfiman sesungguhnya mereka dengan baiat mereka kepadamu itu mereka berbaiat kepada Allah, karena Allah telah menjamin surga jika mereka memenuhi baiatnya itu.”

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Baiat ini disebut Baiat Ridwan. Terjadi di bawah pohon Samr di Hudaibiyah. Para sahabat yang berbaiat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika itu dikatakan berjumlah 300, 400, atau 500 orang. Yang tengah yang paling benar.”

Makna ini, yakni baiat untuk mati atau untuk tidak kabur ketika perang, tersebutkan dalam buku-buku Shahih, Sunan dan Musnad. Bahkan Bukhari membuat bab khusus mengenai hal itu, katanya, “Bab Baiat untuk tidak kabur ketika perang.” Yang lain berkata, “untuk mati berdasarkan firman Allah azza wa jalla, ‘Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.’ (QS al-Fath: 18).

Kemudian disebutkan hadits-hadits yang berkaitan dengan bab ini. Demikian juga an-Nawawi membuat bab dalam penjelasannya atas Shahih Muslim, “Bab bolehnya Imam meminta baiat kepada pasukan ketika hendak bertempur dan penjelasan mengenai Baiat Ridwan (yang terjadi) di bawah pohon.” Demikian juga an-Nasai membuat bab dalam Sunan al-Kubra, “Bab Baiat untuk tidak kabur”, dan “Bab Baiat untuk mati”.

Syarat-syarat dalam Baiat Ridwan termaktub dalam beberapa riwayat yang berbeda-beda. Diantaranya seperti yang disebutkan an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, “Dalam riwayat Jabir dan Ma’qal bin Yasar, ‘Pada saat Hudaibiyah kami berbaiat untuk tidak kabur bukan berbaiat untuk mati.’ Dalam riwayat Salamah, ‘Bahwasanya mereka ketika itu berbaiat untuk mati’, dan ini adalah makna yang terkandung dalam riwayat Abdullah bin Zaid bin Ashim. Sedangkan dalam riwayat Mujasyi’ bin Mas’ud, ‘Baiat untuk hijrah, Islam, dan jihad.’ Dalam hadits Ibnu Umar dan Ubadah, ‘Kami membaiatnya untuk mendengar dan taat, dan tidak menentang kepemimpinan yang berhak.’ Dalam riwayat Ibnu Umar di selain Shahih Muslim, ‘Baiat untuk bersabar.’ Ulama berkata, ‘Riwayat-riwayat ini menjelaskan seluruh makna-makna itu, dan saling menerangkan maksud tiap-tiap riwayat itu. Baiat untuk tidak kabur maknanya tetap bersabar sampai menang atau terbunuh, dan ini adalah makna baiat untuk mati, yakni kita bersabar sekalipun sampai mati menjemput kita, jadi bukanlah kematian itu yang diinginkan dalam baiat itu. Demikian juga baiat untuk berjihad, yakni bersabar untuk terus berjihad. Wallahu a’lam.” Selesai di sini kutipan dari an-Nawawi.

Ibnu Hajar berkata, “Perkataan mereka, ‘berbaiat untuk mati’ tidak menafikan ‘berbaiat untuk tidak kabur’. Karena maksud berbaiat untuk mati adalah untuk tidak kabur sekalipun maut menjemput. Maksudnya bukan pasti mati. Ini yang diingkari oleh Nafi’ dengan ungkapannya, ‘Maksudnya mereka membaiatnya untuk sabar,’ yakni untuk tetap teguh dan tidak kabur baik kematian menjeputnya maupun tidak.”

Ibnul Qayim berkata, “Adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam membaiat para sahabat untuk tidak kabur ketika terjadi perang, mungkin juga beliau membaiat mereka untuk mati…”

Ar-Rafi’i berkata, “Adalah bagus jika Imam mengutus sariyah untuk mengangkat seorang amir, mewasiatkan dan memerintahkan tentaranya untuk menaatinya, serta mengambil baiat agar mereka tidak lari.” (asy-Syarh al-Kabir).

Yang demikian itu telah diperbuat oleh para sahabat. Riwayat yang paling terkenal mengenai hal itu adalah ketika Perang Yarmuk. Ketika itu Ikrimah bin Abu Jahal berkata, “Siapa yang ingin berbaiat untuk mati? Maka Harits bin Hisyam dan Dhirar bin al-Azwar bersama 400 kesatria kaum muslimin membaiatnya. Mereka bertempur di bawah komando Khalid sampai seluruhnya terluka dan terbunuh kecuali yang sembuh dari luka-lukanya, diantaranya Dhirar bin al-Azwar sendiri.” (Tarikh ath-Thabari).

Ibnu Hajar berkata dalam al-Ishabah fi Tamyizi ash-Shahabah, “Adalah ia –yakni Ikrimah– ketika itu mengomandani satu resimen penunggang kuda. Peristiwa ini terjadi pada tahun 15 H pada masa khilafah Umar.” Peristiwa ini terjadi disaksikan oleh para sahabat dan mereka tidak mengingkarinya.

Ketiga; Wajib memenuhi baiat dan haram melanggarnya.

Ibnul Jauzi berkata, “Melanggar baiat yakni tidak mau melaksanakan konsekuensi dan hukum-hukumnya.” Melanggar baiat adalah haram. Allah azza wa jalla berfirman, “Maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri.” (QS al-Fath: 10), dan firman-Nya, “Janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya.” (QS an-Nahl: 91). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tanda-tanda munafik itu ada tiga; jika berbicara maka berdusta, jika berjanji maka mengingkari, dan jika dipercaya maka berkhianat.” (HR Bukhar dan Muslim). Juga bersabda, “Kaum muslimin itu wajib memenuhi syarat-syaratnya.” (HR Bukhari).

Abul Abbas Ibnu Taimiyah berkata, “Setiap orang yang meletakkan suatu syarat kemudian melanggarnya maka dia telah berkhianat. Telah termaktub dalam Kitab dan Sunnah perintah untuk memenuhi janji, syarat, pakta dan akad, juga perintah untuk menunaikan amanat dan memperhatikannya, pun larangan dari tindak khianat dan melanggar janji serta peringatan keras atas pelakunya.”

Termaktub dalam Shahihain peringatan keras dari tindak khianat, dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Pada tiap pengkhianat di hari kiamat akan ditancapkan bendera pada pantatnya tertulis ini pengkhianat fulan.”

Berdasarkan demikian, jika seseorang telah memberikan baiat seperti ini maka dia tidak boleh melanggarnya. Dosanya akan semakin besar jika terjadi ketika masa-masa keras menimpa mujahidin, ketika bertemunya dua barisan dan musuh semakin mendekat.

Maka hendaknya setiap muslim bersungguh-sungguh memenuhi janjinya kepada Allah untuk tetap teguh. Ia juga hendaknya memenuhi janjinya kepada amir dan kawan-kawannya ketika berbaiat untuk tetap bersabar ketika bertemu musuh. Ia tidak mengkhianati mereka sampai Allah memberikan kemenangan atau mati menjemputnya sebagaimana telah dijanjikannya kepada Allah dan kepada kawan-kawannya. Hendaknya ia selalu mengingat firman Allah azza wa jalla, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (QS al-Ahzab: 23).

ALLAH TELAH MEMBERI NIKMAT KEPADAKU

RUMIYAH 4 - ARTIKEL

ALLAH TELAH MEMBERI NIKMAT KEPADAKU

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam tetap tercurah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam penutup para nabi dan rasul. Amma ba’du.

Perkataan ini, “Sungguh Allah telah memberi nikmat kepadaku” tidak terlontar dari orang-orang beriman yang jujur lagi bersyukur atas nikmat-Nya, tetapi ini adalah perkataan kaum munafik ketika mereka tidak ikut berperang. Mereka menyingkirkan diri dari kecamuk medan perang, dari terbunuh dan terluka. Kata-kata yang terlontar lantaran senang dengan ketidakikutsertaan mereka dalam peperangan yang mengakibatkan kekalahan mujahidin, terusirnya mereka dari suatu wilayah, atau banyak yang terbunuh. Hal ini lantaran kebodohan mereka tentang nikmat hakiki yang wajib disyukuri oleh seorang mukmin.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai tafsir firman-Nya: "Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: "Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka." (QS. an-Nisa:72) "Mujahid dan yang lainnya berkata‚ Ayat ini berkenaan dengan orang-orang munafik. Muqotil bin Hayan berkata, Makna firman-Nya: “sangat berlambat-lambat” (yang artinya mereka benar-benar melambatkan) yakni dia tidak ikut berjihad. Dapat pula diartikan bahwa makna yang dimaksud ialah dia memang bersikap lamban dalam menanggapi anjuran berjihad, dan menganjurkan orang lain untuk enggan berjihad. Seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga Allah memburukkannya; dia tidak mau ikut jihad, bahkan menghalang-halangi orang lain untuk ikut berjihad. Demikianlah menurut pendapat Ibnu Juraij dan Ibnu Jarir. Inilah sebab mengapa Allah mengabarkan mengenai munafik; Ia berfirman ketika orang munafik berlambat-lambat memenuhi seruan jihad “Maka jika kamu ditimpa musibah” maksudnya: ada yang gugur dan mati syahid dan musuh dapat mengalahkan kalian, sesuai dengan hikmah Allah, “ia berkata: ‘Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka.’(Maksudnya: Yakni karena aku tidak ikut bersama mereka dalam pertempuran, dia menganggap bahwa hal tersebut merupakan nikmat Allah kepadanya. Padahal ia tidak mengetahui pahala yang terlewatkan olehnya, yaitu pahala bersabar dalam peperangan atau mati syahid jika gugur.” Sampai di sini perkataannya.

Maka jika para muwahhid mengetahui hal ini, dan mendengar bahwa segolongan dari saudaranya tertimpa ujian atau terkena musibah, yakinlah bahwa kenikmatan yang hakiki adalah ikut merasakan musibah bersama mereka, atau terbunuh sebelum mereka terbunuh. Lari dari syahadah itu bukanlah nikmat, melainkan nikmat itu adalah ketika seorang hamba terjun dalam sengitnya pertempuran. Nikmat itu adalah ketika berada di barisan terdepan, dan tidak memalingkan wajah sampai ia terbunuh. Inilah nikmat hakiki dan inilah pemahaman yang benar yang wajib ditanamkan di setiap jiwa orang yang beriman sehingga akan dicarinya kematian itu dimanapun berada selama hayat dikandung badan.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sebaik-baik kehidupan manusia adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya dan bergegas untuk berjuang di jalan Allah, setiap kali mendengar suara musuh yang menakutkan atau sangat mengerikan, ia melompat ke atas punggung kudanya untuk mengharapkan kematian.“ (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Di antara kata-kata dan perilaku kaum munafik yang buruk adalah meratapi sesuatu yang tak dapat diperoleh mereka yaitu yang Allah karuniakan kepada hamba-Nya yang mukmin berupa pertolongan dan ghanimah. "Dan sungguh jika kamu mendapat karunia -kemenangan- dari Allah, tentulah dia mengatakan seakan-akan belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dan Dia, "Wahai, sekiranya aku bersama mereka, tentu aku akan memperoleh kemenangan yang agung pula“. (QS. an-Nisa :73)

Sehingga, barangsiapa yang masih menyesal karena tertinggal pada pertempuran yang berakhir dengan kemengan dan ghanimah, sedangkan ia senang karena tidak ikut dalam pertempuran yang berakhir dengan kekalahan kaum muslimin, maka hendaknya ia mengevaluasi imannya, bertaqwa pada Tuhannya, dan banyak-banyak memohon hidayah dan keteguhan hati pada Allah.

Sekian dan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

SEKELUMIT TENTANG NIFAQ

RUMIYAH 4 - ARTIKEL

SEKELUMIT TENTANG NIFAQ
KARYA SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB
DIRINGKAS DARI RISALAH SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH RAHIMAHULLAH

Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwa sejak Allah azza wa jalla mengutus Muhammad shallallahu alaihi wasallam manusia terbagi menjadi tiga; 1. orang-orang mukmin yang beriman kepadanya zhahir dan batinnya, 2. orang-orang kafir yang terang-terangan mengkufurinya, dan 3. orang-orang munafik yang beriman secara zahir namun tidak batinnya. Oleh karena itu, Allah membuka surat al-Baqarah dengan empat ayat seputar sifat mukmin, dua ayat seputar sifat kafir, dan tiga belas ayat seputar sifat munafik.

Semua bagian itu; iman, kufur, dan nifak, masing-masing mempunyai pondasi dan cabang-cabangnya sebagaimana disebutkan dalam Kitab dan Sunnah, dan sebagaimana ditafsirkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dalam hadits yang diriwayatkannya. Maka nifak terbagi menjadi nifak akbar yang mengakibatkan pelakunya dijerumuskan dalam dasar neraka yang terdalam. Yaitu seperti nifaknya Abdullah bin Ubay dan selainnya, atau terang-terangan mendustakan Rasul, menentang atau membenci sebagian risalahnya, meyakini tidak wajib mengikutinya, senang dengan keterpurukan Dien dan sebaliknya sedih dengan kemenangan Dien, dan yang semisalnya yang tidak mungkin muncul kecuali dari musuh Allah dan Rasul-Nya. Yang seperti itu sudah muncul pada zaman Rasul shallallahu alaihi wasallam dan zaman setelahnya. Padahal pada zamannya faktor pendukung keimanan amat kuat. Jika pada zamannya saja yang faktor pendukung keimanan itu amat kuat sudah muncul nifak apalagi pada zaman setelahnya. Ini adalah contoh nifak akbar, kita berlindung kepada Allah.

Adapun nifak asghar adalah seperti nifak amal dan yang semisalnya. Yaitu seperti berdusta ketika berbicara, menyelisihi janji dan berkhianat jika dipercaya seperti disebutkan dalam hadits masyhur, bersabda shallallahu alaihi wasallam, “Tanda-tanda munafik itu ada tiga; jika berbicara maka berdusta, jika berjanji maka mengingkari, jika dipercaya maka berkhianat, (dia itu munafik) sekalipun shalat, berpuasa dan mengaku muslim.” (HR. Muslim).

Termasuk nifak asghar juga adalah enggan berjihad. Enggan berjihad adalah salah satu sifat munafik berdasarkan sabdanya shallallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa mati sedangkan ia belum berperang atau meniatkan dirinya untuk berperang, maka dia mati dalam salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim).

Allah telah menurunkan surat Bara’ah yang juga dinamakan al-Fadhihah lantaran membongkar orang-orang munafik, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, “Ia (surat at-Taubah) adalah al-Fadhihah (pembongkar), terus menerus turun “Dan diantara mereka” sampai mereka mengira tidak ada seorangpun yang tidak disebutkan.” Dari al-Miqdad bin al-Aswad berkata, “Ia adalah surat al-Bahuts karena menyingkap lubuk hati terdalam orang-orang munafik.” Qotadah berkata, “Ia adalah al-Mutsirah karena mempermalukan orang-orang munafik”.

Surat ini turun ketika ghazwah terakhir Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yaitu Ghazwah Tabuk. Pada ghazwah ini Allah memuliakan Islam dan pemeluknya, dan membongkar kondisi orang-orang munafik. Allah menyifati mereka dengan sifat kikir dan pengecut. Yang dimaksud pengecut adalah meninggalkan jihad.

Adapun kikir, yaitu enggan berinfak fi sabilillah. Allah berfirman, “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180), dan berfirman, “Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. al-Anfal: 16).

Allah juga menyifati mereka dengan sifat pengecut dan panik, firman-Nya azza wa jalla, “Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu). Jikalau mereka memperoleh tempat perlindungan”, yaitu seperti benteng atau kastil, “atau gua-gua”, untuk bersembunyi dengan cepat seperti air yang mengalir, “atau lobang-lobang (dalam tanah)”, yaitu tempat-tempat yang susah payah dibangun atau susah dimasuki (seperti bunker – pent), “niscaya mereka pergi kepadanya” dan kabur dari jihad “dengan secepat-cepatnya.” (QS. at-Taubah: 56-57). Yaitu pergi secepat-cepatnya tanpa bisa dicegah lagi seperti kuda liar yang jika dihardik maka tali kekangnya tidak akan bisa mencegahnya.

Allah azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15). Maka Dia membatasi orang-orang beriman pada yang beriman dan berjihad.

Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertaqwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS. at-Taubah: 4445). Maka ini merupakan kabar dari Allah bahwa seorang mukmin tidak akan meminta ijin untuk meninggalkan jihad, hanyasanya yang meminta ijin adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, maka bagaimana halnya dengan yang meninggalkan jihad tanpa ijin?

Firman-Nya tentang sifat kikir mereka, “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. at-Taubah: 54). Jika dalam ayat ini Allah ? mencela orang-orang yang berinfak dengan rasa enggan maka bagaimana halnya dengan yang sama sekali tidak mau berinfak?

Telah dikabarkan bahwa ketika orang-orang munafik mendekati Madinah (setelah selesai dari ghazwah –pent), terkadang mereka berkata-kata kepada orang-orang mukmin, “Inilah kesialan yang menimpa kita lantaran kalian, kalianlah yang menyeru manusia kepada Din ini, kalianlah yang memerangi dan menyelisihi mereka.” Terkadang mereka mengecam, “Kalianlah yang memerintahkan kita untuk berdiam di sini, jika kita pergi tentu tidak akan tertimpa yang sepert ini! Terkadang juga mereka menyindir, “Kalian itu sudah sedikit dan lemah namun tetap nekat hendak mengalahkan musuh, sungguh agama kalian telah menipu kalian! Juga kecamannya, “Kalian orang-orang gila, tidak berakal, kalian hendak membinasakan diri kalian dan menyeret manusia dalam kebinasaan!

Mereka juga sering menyemburkan kata-kata yang menyakitkan lainnya. Maka Allah berfirman tentang mereka, “Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (QS. al-Ahzab: 20).

Dalam ayat ini Allah azza wa jalla menyifati mereka dengan tiga sifat;

Pertama: bahwa mereka –lantaran ketakutannya– mengira golongan-golongan sekutu itu tidak akan pergi. Seperti inilah kondisi para pengecut yang hatinya sakit. Ia akan segera memakan mentah-mentah kabar yang menakutkan dan sebaliknya mendustakan kabar baik.

Kedua; jika pasukan sekutu datang mereka berangan-angan bisa kabur jauh ke pedalaman di antara orang-orang badui dan menanyakan kabar kalian, “Bagaimana kabar Madinah? Bagaimana kondisi manusia?

Ketiga; jika pasukan sekutu telah datang sedangkan mereka ada di antara kalian maka mereka tidak akan bertempur kecuali sedikit. Ketiga sifat ini ternyata banyak didapati pada diri banyak manusia.

BARANG SIAPA YANG GURUNYA ADALAH KITAB, MAKA BENARNYA LEBIH BANYAK DARIPADA SALAHNYA

RUMIYAH 4 - ARTIKEL

BARANG SIAPA YANG GURUNYA ADALAH KITAB, MAKA BENARNYA LEBIH BANYAK DARIPADA SALAHNYA

Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, sholawat dan salam senantiasa tercurah atas Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang datang setelahnya. Wa ba’du.

Barang Siapa Yang Gurunya Adalah Kitab Maka Benarnya Lebih Banyak Daripada Salahnya.

Benar, jika kitabnya adalah sebuah kitab, “Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebathilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushilat: 42).

Sebuah kitab yang, “Tidak terdapat keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa.” (QS. al-Baqarah: 2).

Sebuah kitab yang diturunkan oleh Allah kepada hamba-Nya, “Dan Dia tidak menjadikannya bengkok.” (QS al-Kahfi: 1).

Sebuah kitab, “(yaitu) Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci dari sisi Rabb yang Maha Bijaksana lagi Mahatahu.” (QS. Hud: 1).

Sebuah kitab yang, “Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an (ummul kitab) dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat.” (QS. Ali Imran: 7).

Sebuah kitab yang seandainya, “berasal dari selain Allah, niscaya akan mendapat berbagai pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. an-Nisa: 82).

Sebuah kitab yang Allah azza wa jalla berfirman mengenainya, “Dan sungguh Kami telah memudahkan al-Qur’an untuk menjadi peringatan, maka adakah yang mengambil peringatan.” (QS. al-Qomar: 17).

Allah berfirman, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Qur’an) dan sesungguhnya Kamilah yang memeliharanya.” (QS. al-Hijr: 9).

Dia berfirman, “Katakanlah, ‘Siapakah yang lebih kuat persaksiannya? Katakanlah, ‘Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kalian. Dan al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar dengannya aku memberi peringatan kepada kalian dan kepada orang-orang yang al-Qur’an telah sampai (kepadanya)’.” (QS. al-An’am: 19)

Maka siapa yang kitabnya adalah bukan perkataan makhluk, dari Allah bermula dan kepada-Nya kembali, dan yang mempelajarinya memiliki hati atau menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikan, maka tidak diragukan lagi benarnya lebih banyak daripada salahnya.

Begitu pula siapa yang gurunya adalah Bukhari dan Muslim sedang ia memperoleh dari keduanya riwayat yang sampai kepada orang yang paling fasih dalam melafadhkan huruf “dhadh”, yang telah diberikan Jawami’ al-Kalim (kalimat yang ringkas namun mengandung makna yang banyak, padat dan mendalam) pun riwayat yang disandarkan pada generasi terbaik dan sebaik-baik ummat yang diutus kepada seluruh manusia radhiyallahu anhum.

Begitu pula siapa yang kitabnya adalah Tafsir ath-Thabari, Tafsir Ibnul Mundzir, atau Tafsir Ibnu Abi Hatim.

Begitu pula siapa yang kitabnya dalam beraqidah adalah as-Sunnah karya Imam Ahmad, Harb al-Karmani, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, al-Khollal, al-Barbahariy, atau Ibnu Batthah.

Begitu pula siapa yang kitabnya adalah risalah-risalah mujaddid Islam seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu Abdil Wahhab.

Adapun jika gurunya adalah para ulama thaghut dan pelaku bid’ah yang sesat serta orang fasik yang duduk dari jihad, niscaya salahnya akan lebih banyak daripada benarnya –kecuali yang dirahmati Allah dan sedikit sekali jumlahnya–. Lalu bagaimana halnya jika dia mengikuti seruan mereka kepada kefajiran, bid’ah dan murtad? Semoga Allah melindungi kita!

Penuntut ilmu tidak akan dimuliakan karena belajar kepada para ulama thaghut dan para dai yang menyeru kepada kesesatan seperti Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, Ibnu Jibrin, Fauzan, Salman al-Audah, Safar al-Hawali, al-Huwaini, al-Adawi, al-Madkhali, al-Wadi’i, Abu Qotadah al-Filistini, al-Maqdisi, al-Hadusyi, as-Siba’i dan seterusnya.

Salah satu ruwaibidhah (orang bodoh yang memimpin urusan ummat,pent) itu telah jujur ketika berkata –sedangkan ia pendusta–, “Ada sunnah yang memuji sikap kembali kepada lembaran kertas tanpa melihat kepada personal dan tokoh. Sunnah tersebut menjadi argumentasi kuat bagi kelompok ini. Sunnah tersebut adalah sabda beliau shallallahu alaihi wasallam kepada para sahabatnya pada suatu hari, “Siapakah makhluk yang paling menakjubkan imannya menurut kalian? Mereka menjawab, “Para malaikat.” Beliau menyanggah, “Bagaimana mereka tidak beriman sedangkan mereka berada bersama Rabb mereka.” Mereka menjawab, “Para Nabi.” Sabdanya, “Bagaimana mereka tidak beriman sedangkan mereka diberi wahyu? “Kalau begitu kami”, jawab mereka. Beliau menyanggah lagi, “Bagaimana kalian tidak beriman sedangkan aku berada di tengah kalian.” Merekapun bertanya, “Lantas siapa mereka wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang datang setelah kalian yang hanya mendapati lembaran-lembaran (shuhuf ) lalu mengimaninya.” Dalam lafadz yang lain, “Bahkan mereka adalah kaum setelah kalian, suatu kitab datang kepada mereka diantara lembaran-lembaran lalu mereka mengimaninya, dan mengamalkan isi kandungannya. Mereka itu pahalanya lebih besar dibanding kalian.” Pada lafadz lain disebutkan, “Mereka mendapati suatu lembaran lalu mengamalkan isi kandungannya. Merekalah orang beriman yang paling utama imannya.” Hadits tersebut dengan jelas memuji metode mengambil ilmu dari sesuatu lembaran. Bahkan kaum tersebut adalah manusia yang paling besar pahalanya dan orang beriman yang paling utama keimanannya. Hal ini menunjukkan bahwa jaminan selamat di zaman perselisihan dan banyak- nya contoh rusak pengaku ulama yang jatuh kredibilitasnya yaitu dengan kembali kepada lembaran kertas. Perkataan si A dan si B serta pendapat si Zaid dan si Amr tidaklah mempengaruhi “para pembelot” itu. Tidaklah seseorang itu berpindah jalan dari metode syar’i pada metode bid’ah kecuali karena faktor kebodohan, ketidakmampuan, atau maksud yang rusak sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyah. Jalan ini, yaitu metode mengambil ilmu dari sesuatu lembaran kertas –dan ini adalah metode syar’i– adalah yang akan mencegah ketergelinciran seorang alim dari mendapatkan legitimasi sebagai bagian dari Dien yang tidak bisa diganggu gugat lagi di mata pengikutnya.”

Maka dari itu, para pencari ilmu hendaknya merenungi hadits-hadits dan atsar-atsar yang memperingatkan dari ulama sesat.

Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu berkata, “Aku pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, ‘Sungguh selain Dajjal ada yang lebih aku khawatirkan atas ummatku.’ Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Akupun bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah hal tersebut yang lebih engkau khawatirkan menimpa umatmu selain Dajjal? Jawabnya, ‘Yaitu para pemimpin yang menyesatkan’.” (HR. Imam Ahmad)

Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu sekaligus dari hamba-hamba-Nya, tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mewafatkan para Ulama, hingga ketika tidak tersisa seorang alimpun manusia mengangkat para pemimpin yang bodoh, lalu mereka ditanya (tentang suatu hal) lantas berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amr ra).

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, “Hampir tiba saatnya suatu masa ketika Islam tinggal nama dan al-Qur’an tinggal tulisan. Masjid-masjid ramai akan tetapi kosong dari petunjuk. Para ulama mereka adalah manusia terjahat di bawah kolong langit. Dari merekalah fitnah muncul dan akan berbalik kepada mereka pula.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Apabila para ulama telah meninggal hingga hanya sedikit yang tersisa, tinggal yang berjaga-jaga di tapal batas, ditawan di penjara, dan terusir di goa-goa, menuntut ilmu kepada “para syaikh” tidak akan dianggap mulia kecuali oleh orang yang bodoh terhadap hakekat ilmu yang mulia. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang berbuah di hati dan anggota tubuh.

Ubadah bin Shamit radhiyallahu anhu berkata, “Jika kamu mau, akan aku beritahu kepadamu tentang ilmu pertama yang diangkat dari manusia. Yaitu khusyu‘. Hampir-hampir tidak akan kamu dapati seorangpun yang khusyu‘ ketika kamu memasuki masjid.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi).

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, “Fakih sesungguhnya adalah orang yang tidak membuat manusia berputus asa dari rahmat Allah, tidak mentolelir mereka dalam hal maksiat kepada Allah, tidak menenangkan mereka dari adzab Allah, dan tidak meninggalkan al-Qur’an karena tidak menyukainya. Tidak ada kebaikan dalam ibadah yang tidak didasari ilmu, tidak pula ilmu yang tidak disertai pemahaman dan tidak pula bacaan al-Qur’an yang tidak disertai penghayatan.” (Diriwayatkan ad-Darimi dalam sunannya).

Mujahid rahimahullah berkata, “Hanyasanya orang fakih adalah orang yang takut kepada Allah azza wa jalla.” (Diriwayatkan ad-Darimi dalam sunannya).

Dikatakan pada Hasan al-Bashri, “Bukan begini para fuqoha berkata.” Maka beliau menjawab, “Celaka kamu, apa kamu benar sudah pernah melihat seorang fakih? Seorang fakih itu adalah orang yang zuhud terhadap dunia, senang dengan akhirat, peka terhadap urusan agamanya dan tekun beribadah kepada Rabbnya.” (Diriwayatkan ad-Darimi dalam sunannya).

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, “Wahai para pengemban ilmu, amalkanlah ilmu kalian. Karena seorang alim itu adalah orang yang beramal dengan yang diketahuinya dan ilmunya selaras dengan amalnya. Akan ada suatu kaum yang mengemban ilmu tapi tidak melampaui kerongkongan mereka. Amalnya menyelisihi ilmunya dan batinnya menyelisihi lahirnya. Membentuk majelis tetapi saling membanggakan diri satu sama lain. Hingga ada seorang lelaki yang marah kepada rekan majelisnya karena bermajelis dengan yang lain dan meninggalkan dirinya. Mereka itu adalah orang yang amal mereka di majelis tersebut tidak akan diangkat naik kepada Allah azza wa jalla.” (Diriwayatkan ad-Darimi dalam sunannya)

Betul. Hakekat ilmu adalah takut kepada Allah, “Sungguh, yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS. Fatiir:28)

Jadi, siapa yang tidak takut kepada Allah sehingga tidak mau meninggalkan apa yang dimurkai dan dibenci oleh Allah, ia bukanlah orang yang alim maupun fakih, meskipun telah belajar, mengajar dan mengaku sebagai alim.

Begitu juga siapa yang tidak menyeru manusia kepada perkara yang mulia dan memperingatkan mereka dari perbuatan dosa juga bukanlah seorang alim.

Jadi, menuntut ilmu pada “Orang yang paling jahat di kolong langit” dan “Para penyeru kepada pintu-pintu Jahannam” bukanlah hal yang terpuji.

Adapun menggali ilmu dari lembaran-lembaran kertas pada zaman tiadanya para ulama selain yang berada di tapal batas (tsughur), penjara dan goa-goa adalah hal yang terpuji berdasarkan atsar tersebut. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Hendaknya setiap orang waspada terhadap sifat ujub dan sombong jika diuji Allah dengan berteman dengan ulama sesat. Hendaknya dia mengingat apa yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Imam Ahmad dari Abdurrahman bin Abi Laila dari Ubay bin Kaab bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ada dua lelaki pada zaman Nabi Musa yang berdebat soal nasab. Salah satunya berkata, ‘Aku adalah fulan bin fulan, hingga sembilan keturunan, lalu siapa kamu wahai anak tak beribu? Temannya menjawab, ‘Saya fulan bin fulan bin Islam.’ Lalu beliau melanjutkan, “Lantas Allahpun mewahyukan kepada Musa alaihis salam mengenai kedua lelaki yang saling mengunggulkan nasab ini, ‘Adapun kamu wahai yang bernasab hingga sembilan keturunan, maka di neraka dan kamu yang kesepuluhnya. Sedangkan kamu wahai yang bernasab hanya dua keturunan, maka di surga dan kamu adalah yang ketiganya di surga.” (al-Musnad).

Jadi, layakkah seorang penuntut ilmu berbangga dengan biografi yang dipenuhi dengan bermajelis bersama pelaku dosa, bid’ah dan kemurtadan?

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak kenyang dan dari doa yang tidak didengar.

WAWANCARA DENGAN WALI WILAYAH THARABLUS, SYAIKH HUDZAIFAH AL-MUHAJIR

RUMIYAH 4 - WAWANCARA

WAWANCARA DENGAN WALI WILAYAH THARABLUS, SYAIKH HUDZAIFAH AL-MUHAJIR

Tanya: Telah berlalu delapan bulan sejak pertemuan kita dengan Syaikh Abdul Qodir an-Najdi hafizhahullah, sekarang bisakah Anda menerangkan pada kami persitiwa-peristiwa penting yang terjadi di berbagai wilayah di Libya akhir-akhir ini?

Jawab: Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuat dan Maha tinggi, yang jika Dia menghendaki keburukan pada suatu kaum maka tiada akan yang bisa menghentikannya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain-Nya, langit dan bumi datang kepada-Nya baik dalam keadaan suka hati atau terpaksa. Dia-lah yang membentangkan bumi dan mengokohkan gunung, dan guntur pun bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia- lah Tuhan Yang Maha Keras siksa-Nya. Shalawat serta salam terlimpahkan kepada panglima perang yang murah senyum dan juga kepada para sahabatnya, wa ba’du.

Sekarang, kita kembali pada pertanyaan Anda seputar kejadian-kejadian yang berlalu begitu cepat melewati mujahidin, bak cepatnya awan berjalan. Para Nabi Allah dan utusan-Nya, pun orang-orang yang mengikuti jejaknya dan berjalan di atas petunjuknya dari kalangan sahabat, tabi’in, dan mujahidin dalam satu manhaj, satu siroh, generasi pertama mereka seperti generasi terakhirnya, tertimpa ujian demi ujian kekeringan, himpitan, tekanan, dan malapetaka. Karena tersimpan hikmah yang besar dari Rabb kita azza wa jalla hingga pada akhirnnya mereka semakin terhimpit dan hampir putus asa, pertolongan Allah pun datang kepada mereka. Jika Dia dapati dalam hari hamba-hamba-Nya kebaikan, Allah menggantikan kebaikan dari apa yang diambil dari mereka (nyawa, harta, keluarga dll).

Delapan bulan masa memerangi musuh-musuh Allah telah berlalu, pun masa upaya menegakkan syariat-Nya di bumi-Nya, penaklukkan demi penaklukkan, kemenangan demi kemenangan diraih di sejumlah daerah dan kota yang dulunya berada di bawah kekuasaan Martin Kobler, Paolo Gentiloni, Francois Hollande dan Obama, mengusir dan membantai kaki-kaki tangan mereka dari kalangan pasukan pemerintah GNA (Pemerintah Persatuan Nasional Libya) dan pasukan pemerintah GNC (Kongres Nasional Umum Libya), dibasmi sampai ke akar-akarnya. Dan daerah-daerah ini kembali ke pangkuan Khilafah serta kekuasaan Syariat pun hukum-hukum Rabbani setelah sekian lama ters- esat. Kemudian, mereka menyerang sekali lagi di dalam pertempuran yang Mujahidin di dalamnya -hingga saat ini- mengorbankan hal termahal dan berharga demi menjaga Tauhid, dan membela Syariat.

Peperangan yang Junud Khilafah meraih kemenangan sejak awal dimulainya,tatkala mereka memilih kematian di jalan Allah, dan bertekad jangan sampai murtaddin menginjakan kaki di Darul Islam kecuali melangkahi jasad suci para Syuhada. Maka mereka memandang dunia ini sebagai hal remeh, demi meraih apaapa yang ada di sisi Allah. Mereka pun berdesak-desakkan untuk bergabung dengan kafilah Ribbiyun (para pengikut nabi yang bertaqwa) dan itulah kemenangan yang agung.

Tanya: Boleh jadi pembahasan tentang agresi militer Salibis atas wilayah Tarabulus, dimana murtaddin ikut berpartisipasi di dalamnya, yang dikenal dengan nama sandi “Operasi Bunyan al-Marsus (Bangunan yang Kokoh)” adalah kejadian terpenting di masa ini. Bagaimana awal serangan Shahawat terhadap Sirte? Dan kenapa mereka bersikukuh untuk memasuki kota ini meski biaya peperangan yang dikeluarkan demi meraihnya sangat besar?

Jawab: Musuh-musuh Allah dari kalangan Salibis sesungguhnya terus dihantui ketakutan dan kekhawatiran akan runtuhnya benteng-benteng dan kerajaan mereka, lantaran Junud Khilafah berhasil menguasai wilayah yang luas di daerah pesisir utara Afrika, di wilayah-wilayah Libya, lalu menegakkan Syariat, menyebarkan tauhid, memperingatkan manusia dari kesyirikan, dan memotivasi mereka untuk berjihad. Karenanya, musuh-musuh Dien ini pun bersegera untuk memeranginya.

Demi hal itu mereka mendatangkan seluruh kendaraan militer dan pasukannya untuk memasuki peperangan yang mereka tidak akan selamat dari apa yang mereka khawatirkan. Dan atas pertolongan Allah dan taufik-Nya, tanah lumpur yang mereka injak hanya akan bertambah becek (memburuk). Ini adalah peperangan yang jika tidak terjadi, maka layak bagi mujahidin untuk mempertanyakan hati dan meragukan niatnya apakah ia berada di jalan yang benar?

Peperangan yang diselami mujahidin dalam keadaan tenang dengan pertolongan Allah, setelah para masyaikh dan pemimpin kita berlomba-lomba untuk bertemu dengan Rabb mereka, diantaranya adalah Syaikh kita, Wali Tarabulus terdahulu yang bergabung dengan Kafilah In-ghimasiyin, menyerbu sekelompok besar murtaddin. Dan atas taufik dari Allah, ia ledakkan bom sabuknya di tengah-tengah pasukan murtaddin. Perbuatannya membenarkan perkataannya, menebus Syariat dengan darah sucinya, kita memohon kepada Allah supaya meninggikan derajatnya dan menempatkannya dalam surga Firdaus. Beliau gugur sekitar tiga bulan lalu.

Serangan murtaddin ini dimulai setelah berkumpulnya batalyon-batalyon militer yang berafiliasi pada Menteri Pertahanan Libya bagian barat, khususnya dari kota Misrata untuk memerangi Syariat, menjalin koordinasi langsung dengan Salibis serta ‘support’ udara mereka. Allah karuniakan kemampuan pada hamba-hamba-Nya yang berjihad untuk menghabisi pasukan demi pasukan murtaddin yang sejatinya saling bersaing satu sama lain, dan kini disatukan dalam ruang komando operasi bersama yang mereka namakan “Bunyan al-Marsus (Bangunan yang Kokoh)”.

Pada awal agresi militer ini, mereka mengumumkan bahwa pasukannya mencapai lebih dari 10.000 infantri, di samping ‘support’ udara (Salibis-Libya) melawan sekelompok kecil orang-orang beriman yang sabar, mengharapkan pahala dari Allah dan yakin bahwa ia akan bertemu dengan-Nya, serta sangat yakin akan janji-Nya. Maka Allah berikan taufik-Nya pada para hamba-hamba-Nya untuk menghalau serangan terbesar di zaman kita ini, demi membela negeri yang di dalamnya Syariat diterapkan oleh para hamba yang menolong diri mereka dengan tauhid dan memperbanyak jumlah mereka dengan Yang Maha Perkasa dan Maha Terpuji, membantai musuh-musuh Allah selama enam bulan berturut-turut.
Di dalamnya Allah memberikan karunia kepada hamba-hamba-Nya yang lemah berupa 120 operasi istisyhadiyah yang menargetkan konsentrasi pasukan demi pasukan murtaddin dan konvoi demi konvoi mereka, ditambah ratusan bom rakitan dan serangan ‘ambush’ yang membantai habis murtaddin. Hingga jatuh kerugian personil tempur yang hingga kini berjumlah sekitar 5000 murtaddin tewas dan luka-luka. Segala puji bagi Allah semata. Dan para mujahidin tidak tergoyahkan dan tidak pula terpalingkan oleh pesawat koalisi (Salibis-Libya) yang hingga hari ini telah melancarkan sekitar 2300 serangan udara, tak pula tergoyahkan oleh bombardir ribuan roket, mortir dan tank-tank.

Adapun faktor utama bersemangatnya murtaddin, lantaran kebencian mereka terhadap tauhid dan penganutnya, serta cita-cita mereka untuk melenyapkan Syariat, ditambah konsistensi mereka dalam mendengarkan perintah-perintah tuan mereka dari kalangan Salibis, yang memerangi kita sampai kita kufur kepada Allah, dan menjadikan tandingan bagi-Nya dalam hukum pun syariat-Nya. Mereka perangi kita agar kita mencampakkan Syariat ke belakang punggung kita dan mengkufurinya. Namun, kita beriman dengan harapan keberuntungan untuk bertemu dengan Rabb kita dalam keadaan menggenggam bara tauhid, berpegang teguh dengan tali yang kuat.

Tanya: Masa peperangan enam bulan telah berlalu, sementara murtaddin sama sekali belum berhasil menuntaskan peperangan di Sirte meski mereka disokong oleh Salibis baik di darat maupun udara. Apa faktor utama –setelah keutamaan dari Allah- keterlambatan majunya murtaddin selama ini? Dan taktik militer apa yang paling menonjol hingga mampu menimpakan kerugian besar di barisan mereka?

Jawab: Itu tak lain atas taufik dari Allah lantaran keteguhan Junud Khilafah di kota Sirte. Lantaran keimanan mereka, apa saja yang diciptakan Allah baik itu batu, pohon, pasir, lembah, gunung, hujan, angin, kegelapan malam, dan terangnya siang semuanya tunduk pada-Nya, rukuk dan sujud, akan terus loyal kepada wali-wali-Nya dan memusuhi musuh-musuh-Nya, dan tiada suka akan satupun yang bermaksiat di bumi-Nya. Itulah bala tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka, Allah tundukkan mereka untuk menolong wali-wali-Nya kapan saja Dia hendaki. Adapun terkait tentang metode-metode peperangan.

Segala puji bagi Allah, Ikhwah dalam peperangan ini menggunakan berbagai macam cara yang menjadi sebab – setelah taufik dari Allah- masih terus berlangsungnya peperangan hingga saat ini. Di antaranya operasi istisyhadiyah, bom-bom rakitan, terowongan-terowongan, serangan-serangan manuver yang membuat letih musuh-musuh Allah.

Kemudian, pasukan-pasukan padang pasir yang berada di luar Sirte, tersebar di sepanjang garis pesisir antara Sirte dan Misrata memiliki peranan besar dan dampak yang bagus dalam memperpan- jang waktu peperangan di dalam komplek-komplek Sirte, –atas karunia Allah- mereka bisa melancarkan serangan-serangan ofensif, diantaranya berupa operasi istisyhadiyah yang menembus benteng-benteng murtaddin, ledakan demi ledakan bom-bom rakitan, serangan ‚ambush‘, membuat pos-pos checkpoint di jalur suplai logistik musuh, berdampak besar menguras kekuatan murtaddin yang sedang bergerak menuju medan peperangan melawan Syariat di Sirte.

Tak lupa juga kami sebutkan salah satu peperangan dahsyat, tatkala salah satu regu pasukan padang pasir menceburkan diri ke tengah sekelompok besar murtaddin, setelah ia berbaiat kepada para Ikhwah dan tidak memalingkan muka mereka (mundur) sampai mereka bertemu Rabb-nya. Mereka menyerang kota Sirte dari front timur dan berhasil menguasai distrik Sawawah, area pelabuhan , hotel Sirte dan villa ad-Dhiyafah, setelah menempuh perjalanan sejauh 30 km menuju daerah yang dikuasai murtaddin. Dan tidak tersisa antara mereka dan saudara-saudaranya yang terkepung di Sirte kecuali satu jalan. Mereka pun gugur dalam keadaan maju menyerang dan tidak lari mundur setelah membantai wali-wali setan, dan menghabisi mereka. Murtaddin pun segera melolong mengemis pertolongan kepada pesawat-pesawat Salibis, hingga para Kesatria kita berbahagia meraih syahadah di jalan Rabb mereka, demi menolong saudara-saudara muslim dan muslimah, dan membela syariat. Mereka gugur dalam keadaan maju dan tidak mundur. Demikianlah penilaian kami, dan kami tidak mensucikan satu pun di hadapan Allah.

Tanya: Para Salibis dan antek-antek murtaddin membangkitkan angan-angan kosong pada diri mereka bahwa peperangan mereka di Sirte akan menjadi peperangan terakhir mereka melawan Daulah Islamiyah, apa komentar Anda perihal hal ini?

Jawab: Ini merupakan termasuk apa yang dijanjikan Setan kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal Setan itu tidak menjanjikan kepada mereka kecuali tipuan belaka. Sungguh Rabb kita jalla fi ula Maha Kuat dan Perkasa, tidak akan menghinakan bala tentara-Nya para wali-Nya, tak akan terkalahkan, hamba-hamba-Nya akan selalu tertolong dan merekalah yang akan menang. Mujahidin, mereka adalah yang paling tinggi (derajatnya) sampai kapanpun, sedangkan para Salibis dan murtaddin mereka akan dikalahkan dan dicampakkan dengan berbagai macam cara. Sedangkan Amerika, Italia, Prancis, Inggris serta seluruh kaum Salibis yang berada dalam satu parit untuk memerangi Khilafah, meskipun mereka sesumbar dan merasa paling kuat, sesungguhnya pada hakekatnya mereka tidak bisa memberikan manfaat dan bahaya. Mereka sama sekali tidak bisa menciptakan lalat, sekalipun bersama-sama mengerahkan seluruh kemampuannya. Mereka itu hina, sampai derajat tidak bisa merebut kembali sesuatu yang diambil lalat dengan sayap lemahnya.“Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. al-Hajj:73-74)

Begitu hina dan rendahnya mereka, sampai tidak pantas sama sekali untuk memerangi Allah atau memusuhi wali-wali-Nya. Niscaya engkau akan melihat seluruh Thagut PBB dan semua orang yang menyombongkan diri atas Rabb kita, niscaya engkau melihat mereka duduk tersimpuh dengan amat terhina pada hari kiamat nanti. Dan kami katakan kepada mereka yang memerangi Mujahidin pada hari ini di Sirte, yang membenci Syariat, para penentang, penganut kekafiran dan atheisme, sungguh kalian telah memerangi ummat yang tidak pernah mandul (selau melahirkan generasi) dan aqidahnya tak kan terkalahkan.

Sungguh sariyah-sariyah pasukan mujahidin yang tersebar pada hari ini di padang pasir Libya, akan membuat kalian merasakan dua kepahitan dan mereka akan merebut kembali kota-kota sekali lagi, dengan daya dan kekuatan Allah. Adapun pesan kami untuk orang-orang yang masih duduk dari kewajiban Muayan, di Misrata khususnya dan seluruh kota di Libya bagian barat secara umum, kami ingatkan bahwa mereka memiliki sejarah dalam pengorbanan jihad dan kemuliaan. Putra-putra terbaik mereka kini tengah berperang di kota Sirte.

Dan sebelum mereka, telah terbunuh ratusan di Irak dan Syam. Mereka termasuk putra-putra terbaik Daulah Islamiyah. Mereka terbunuh di tangan koalisi Salibis, oleh pesawat yang sama, yang kini menghancurkan rumah-rumah dan bangunan di atas para penghuninya di Sirte pada hari ini. Maka kami seru kalian untuk berdiri di pihak putra-putra kalian, para mujahidin di Daulah Islamiyah, dan belalah mereka semampu kalian. Dan cegahlah siapa saja yang mulai terperdaya, sehingga berperang di bawah panji Salibis di Sirte. Dan ia umumkan peperangan terhadap Syariat. Serulah mereka untuk bertaubat kepada Allah sebelum ia tertangkap, dan ditambahkan ke daftar orang-orang yang binasa. Sungguh, dengan membunuh akan mencegah seseorang dari terbunuh.

Tanya: Kita berpindah ke luar Sirte. Bagaimana penilaian Anda tentang Junud Khilafah di daerah-daerah Libya lainnya?

Jawab: Segala puji bagi Allah, kami berikan kabar gembira bagi kaum muslimin secara umum dan mujahidin pada khususnya, bahwa saudara-saudara mereka para mujahidin di berbagai daerah di wilayah Libya masih dalam keadaan kebaikan yang melimpah. Dan ini adalah karunia dari Allah Yang Maha Agung. Unit-unit Intelijen mujahidin masih tersebar di seluruh kota dan sejumlah daerah. Dan sama halnya sariyah-sariyah pasukan mereka menelusuri padang pasir dari timur hingga barat. Tidaklah hari-hari ini datang melainkan ujian akan hilang, yang akan datang setelahnya penaklukkan pun tamkin, dengan daya Allah dan kekuatan-Nya. Darah yang mengalir demi membela Syariat dan demi mengahalau musuh-musuhnya tidak akan disia-siakan oleh Allah. Dan Allah pasti akan menolong siapa saja yang menolong-Nya.

Tanya: Di saat sebelum terjadinya perang Sirte, terjadi gelombang besar muhajirin berdatangan ke sejumlah wilayah di Libya, apakah jalan hijrah masih terbuka? Dan apa urgensi muhajirin di dalam kancah peperangan kalian?

Jawab: Alhamdulillah, jalan masih tetap terbuka bagi siapa yang ingin berhijrah dan mengharapkan ridha Allah, seraya mengikhlaskan niatnya untuk-Nya azza wa jalla. Dan para muwahhidin baik Arab maupun non-Arab masih terus berdatangan dari segala penjuru untuk melaksanakan kewajiban jihad, demi membalaskan darah suci yang ditumpahkan oleh tangan musuh-musuh Dien ini. Mereka sangat zuhud (tidak tamak) terhadap dunia dan kenikmatannya yang akan sirna, menjelajahi padang pasir guna memerangi mereka yang kufur terhadap Rabb bumi dan langit. Cukuplah Allah sebagai penolong.

Adapun tentang urgensi mereka di dalam kancah jihad di Libiya, sungguh – atas karunia Allah – mereka telah tegakkan hukum-hukum-Nya, bersama dengan saudara-saudaranya dari kalangan Anshar mereka perangi musuh-musuh Allah. Termasuk nikmat Allah kepada kami adalah orang-orang yang terhalangi oleh udzur namun tetap berhijrah menuju wilayah-wilayah kami, mereka adalah hujjah bagi orang-orang yang mencari-cari udzur, diantara mereka ada yang dalam kondisi fakir, hingga mereka jual rumah dan seluruh barangnya yang dia punya demi bergabung dengan kafilah mujahidin, Allah azza wa jalla berfirman, “Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Pen- yayang.” (QS. an-Nahl: 110), semoga Allah menerima hijrah dan jihad mereka, dan disisi Allah sebaik-baik balasan.

Tanya: Bagaimana kondisi Sirte dan penduduknya setelah murtaddin menguasai sebagian besar daerahnya?

Jawab: Peperangan musuh-musuh Allah telah menyebabkan terlantarnya hukum-hukum Syariat, dan mereka berusaha untuk menggantinya dengan undang-undang Martin Kobler serta tuan-tuan mereka dari kalangan Salibis. Sebagian besar penduduk Sirte telah mengungsi ke daerah-daerah di sekitarnya sejak enam bulan lalu -yang masih saja- merasakan kepahitan. Musuh-musuh Allah menambah penderitaan mereka dengan membombardir dan menghancurkan rumah-rumah mereka, serta merampok harta-harta mereka. Maka kami berikan kabar gembira bagi ummat nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam bahwa putra-putra mereka masih akan terus memerangi musuh-musuh mereka sampai tidak ada fitnah (syirik) dan Dien ini semata-mata milik Allah.

Tanya: Faktor utama agresi Salibis melawan Junud Daulah Islamiyah di semua wilayah Libya ini adalah lantaran takutnya musyrikin akan meluasnya operasi demi operasi mujahidin ke negeri-negeri Thawaghit di sebelahnya. Dan para Salibis pun antek-anteknya membicarakan untuk mengamankan sejumlah daerah yang bersebelahan dengan Libya pasca tuntasnya agresi ini. Apa komentar Anda?

Jawab: Jihad di jalan Alllah yang bertujuan untuk meninggikan kalimat-Nya dan memerangi musuh-musuh-Nya tidak akan bisa dihentikan oleh siapapun. Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun di kota maupun di pelosok daerah, kecuali Allah pasti memasukan urusan (Islam) ini, dengan kemuliaan orang yang mulia ataupun kehinaan orang yang hina. Kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan Islam dan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekafiran. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah membentangkan bumi ini kepadaku. Maka aku melihat bagian timur dan baratnya, dan kekuasaan ummatku akan mencapai sejauh bumi dibentangkan kepadaku ini.” (HR Muslim dari Tsuban)

Peperangan dahsyat yang diselami mujahidin pada hari ini, dan bergabungnya ribuan muwahhidin ke medan-medan laga jihad menuju tempat-tempat terdapatnya kesyahidan ini, merupakan kabar gembira akan sirnanya kegelapan (kekafiran) dan nampaknya al haq. “Akan tetapi kalian terburu-buru.” (HR Bukhari dari Khabab bin al-Arats)

Tanya: Bagaimana menurut Anda keadaan pemerintahan GNA dan GNC pada hari ini? Dan apa operasi kalian mendatang dalam melawan dua pemerintahan murtad ini?

Jawab: Pemerintah GNA, GNC, dan Parlemen, kemudian mereka ingin membentuk pemerintahan keempat serta kelima. Inilah kondisi pemerintahan murtad di Libya, satu sama lain saling melaknat, terpecah belah, saling mengintai satu sama lain. Allah memutuskan tali kecintaan di antara mereka, dan Dia jadikan satu sama lainnya sebagai musuh, berpecah belah. Jika mereka berkumpul saling bersaing bahkan di medan perang yang mereka disatukan untuk memerangi Dien. Sungguh Junud Khilafah merealisasikan perintah Rabb mereka dengan memerangi semua yang memerangi Dien-Nya dan memusuhi wali-wali-Nya.

Ya, kami memerangi dan mengkafirkan mereka secara keseluruhan, dan kami lantang- kan suara permusuhan pun kebencian kami kepada mereka. Kami caci demokrasi dan kesyirikan mereka sebagaimana yang diperintahkan Rabb kami. Kami bukanlah kaum yang membeli kecintaan mereka atau mencari kerelaan mereka dengan imbalan secuil dunia yang fana, dan tidak pula kaum yang menggapai wasilah (sarana) untuk mencapai mereka.

Sungguh, banyak sekali yang mengklaim menolong Syariat, dan mencintai Tauhid serta pemeluknya telah terjatuh ke dalam jerat jebakannya. Dan ternyata mereka kini telah menjadi Anshar Thawaghit (penolong-penolong Thaghut), bersedih tatkala mereka bersedih, dan berperang di bawah bendera, sariyah pasukan dan menteri peperangan mereka. Kita memohon kepada Allah keselamatan.

Tanya: Apakah anda memilki wasiat untuk Junud Daulah Islamiyah di sejumlah wilayah di Libya. Dan apakah ada wasiat secara umum untuk Junud Daulah Islamiyah dimana saja mereka berada?

Jawab: Kepada makluk-makhluk Allah yang terbaik. Kepada mujahidin yang sabar lagi mengharapkan pahala di Sirte, Benghazi, Mosul, Halab (Aleppo) dan di semua tempat lainnya. Sungguh Rabb kalian sangatlah dekat dan Maha Mengabulkan. Dia melihat posisi kalian, mendengar perkataan kalian. Kalian telah bersandar kepada-Nya, kalian ambil sebab-sebab keselamatan seperti yang diperintahkan Allah. Kalian memerintahkan hal yang makruf, dan mencegah perbuatan mungkar. Kalian tegakkan Dien, memerangi musyrikin dan murtaddin. Sungguh Rabb kita telah berjanji kepada mereka yang berkumpul di atas ketaatan kepada-Nya, dengan pertolongan, kemenangan dan diberikan kekuasaan di muka bumi. Dan hasil akhir yang baik adalah bagi mereka. Mereka di giring menuju surga sekelompok demi sekelompok.

Sungguh Rabb kalian tidak menakdirkan ujian atas hamba-hamba-Nya kecuali untuk memisahkan yang buruk dari yang baik, yang jujur dari yang sekedar klaim. Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang ghaib. Kita dapati sebagian hamba, jika ia tertimpa keburukan, ujian, himpitan, dan tekanan, ia langsung berburuk sangka terhadap Rabbnya. Ia menyangka bahwa orang-orang kafir itu kuat di atas kita, dan mereka unggul, mereka akan menang dan tak akan ada yang mengalahkan. Mereka telah berhasil memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, dan mereka mengatakan bahwa Allah tidak akan menyempurnakan cahaya-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari macam-macam purbasangka demikian. Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Kalam-Nya, “Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”(QS. Fussilat: 23). Abu Muslim al-Khaulani berkata, “Berhati-hatilah dari berprasangka buruk terhadap seorang Mukmin, sungguh Allah menjadikan kebenaran di atas lisan dan hatinya.” (Ibnu Abdul Barr, Bahjatul Majalis).

Sungguh Rabb kita –besar pujian-Nya dan suci nama-nama-Nya- berkata dalam hadits Qudsi, “Aku tergantung dengan prasangka hamba-Ku, jika ia berprasangka baik, maka baginya sesuai perasangka itu, dan jika berprasangka buruk, maka keburukan itu juga yang didapatkan.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah). Kalam-Nya, “Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?“ (QS. as-Shafaat: 87)

MAKA KELAK KALIAN AKAN MENGINGAT APA YANG AKU KATAKAN KEPADA KALIAN

RUMIYAH 4 - STATEMEN

MAKA KELAK KALIAN AKAN MENGINGAT APA YANG AKU KATAKAN KEPADA KALIAN
STATEMEN JURU BICARA DAULAH ISLAMIYAH : SYAIKH ABUL HASSAN AL-MUHAJIR

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan-Nya, dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami, serta kejelekan amal-amal kami. Barangsiapa yang Dia beri petunjuk maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Dia sesatkan maka tiada yang dapat memberi petunjuk baginya. Dan aku bersaksi bahwasanya tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam tasliman katsiron ilaa yaumiddin. Amma Ba’du.

Allah ta'ala berfirman, “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. dan menghilangkan panas hati orang-orang mu’min. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendakiNya. Allah maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. at-Taubah: 14-16)

Kepada para Mujahidin fii Sabilillah di setiap tempat.
Wahai Junud Khilafah yang sabar dan penggenggam bara api.
Wahai para pelindung Dien dan kehormatan!
Wahai para pengorban jiwa dengan murah di jalan Allah!
Wahai kalian yang menghadang agresi Salibis paling sengit di sepanjang sejarah, dengan dada-dada kalian.
Dan kalian yang menjaga benih-benih Islam dengan darah kalian.
Wahai kalian yang menggetarkan umat-umat kafir dan tentara-tentara murtad dengan keberanian dan ketabahan hati kalian.

Kalian buat bingung seluruh alam ini dengan ketabahan dan kesabaran kalian. Aku wasiatkan pada kalian apa-apa yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhu. Beliau bersabda padanya:

“Jika seandainya seluruh makhluk itu ingin memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu yang belum Allah tentukan atasmu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikannya kepadamu, dan jika mereka ingin menimpakan madharat kepadamu dengan sesuatu yang tidak Allah tentukan menimpamu, maka sungguh mereka tidak akan mampu melakukannya. Dan ketahuilah bahwa didalam kesabaran yang kalian benci itu sesungguhnya terdapat kebaikan yang banyak, dan sesungguhnya kemenangan itu bersama kesabaran, dan jalan keluar itu bersama dengan kesusahan, dan bahwasannya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan.” (HR. Ahmad)

Umar radhiyallahu anhu pernah berkata kepada para pembesar Bani Abbas, “Dengan apa kalian memerangi musuh kalian?” Mereka menjawab, “Dengan kesabaran. Tidaklah kami menghadapi suatu kaumpun kecuali kami akan bersabar menghadapi mereka seperti mereka bersabar ketika menghadapi kami.”

Sebagian salaf berkata, “Kita semua membenci kematian dan pedihnya luka, akan tetapi kita akan lebih unggul jika bersabar.”

Maka bersabarlah kalian wahai saudara-saudaraku dalam Jihad! Teguhkanlah diri kalian dan berbahagialah! Karena demi Allah, sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang menang. Ujian yang kalian lalui ini tidak lain hanyalah sebuah episode dari episode demi episode ujian lainnya, yang dengannya Allah merahmati hamba-hamba-Nya, untuk memisahkan yang buruk dari yang baik. Kemudian Dia akan mempersiapkan kalian untuk mengemban amanah yang lebih berat, dan tanggung jawab yang lebih besar.

Tiada lain yang terkandung dalam ujian ini tidak melainkan anugrah, ia tidaklah lebih sulit daripada masa kesulitan yang telah berlalu. Sebelumnya telah lewat berbagai macam cobaan yang seandainya di timpakan kepada gunung yang kokoh itu niscaya ia akan bergoncang dengan keras, namun kalian senantiasa bersabar atasnya dan kalian tetap teguh di dalamnya. Bahkan, kalian keluar dari rentetan ujian itu dengan keteguhan yang lebih kuat dan kian kokoh.

Wahai bala tentara Mujahidin di Irak dan Syam!
Wahai orang-orang yang terasing lantaran keislamannya.

Kubu kebathilan telah tertipu oleh dunia yang fana, dibohongi hasrat, menumbuhkan kepercayaan diri yang berlebih. Setanpun meniupkan kesombongan ke dalam hidungnya, membangkitkannya, berlagak kuat, lalu menyerbu Darul Islam dan bumi Khilafah dengan serangan yang belum pernah disaksikan sepanjang sejarah manusia yang lalu.

Inilah Salibis Amerika dan Eropa, si Atheis Rusia, Majusi Iran, bersama si Sekuler Turki, Atheis kurdi, Nushairiyah pun halnya para Shahawat serta milisi-milisinya, para Thawaghit Arab dan bala tentaranya, mereka semua berkumpul dalam satu parit, berbekal peralatan tempur mereka yang modern, dan dibantu oleh kedustaan media yang menjijikkan.

Motto mereka satu, “Menghabisi Islam dan umatnya.”
Slogan mereka satu, “Siapakah yang lebih kuat dari kami!”

Maka mereka datangi kalian dengan kemarahan dan senjata mereka, serta mereka jadikan hewan-hewan ternak tunggangan mereka, orang-orang murtad dari bangsa kalian sendiri sebagai tumbal di permulaan perang. Mereka menggiringnya ke arah kalian, hingga mereka sampai di halaman rumah kalian. Pintalah bantuan untuk memerangi mereka dengan kesabaran dan ketabahan, dengan kekuatan dan keteguhan.

Sungguh Rafidhah telah datang dengan pasukan berkuda dan pasukan daratnya di bumi Tal Afar, terbujuk rayu oleh dendam, dan tergiur oleh kekayaan Darul Islam untuk dirampasnya, dan menyiksa Ahlus Sunnah yang ada di dalamnya. Maka janganlah kalian membiarkan musuh-musuh Allah mengambil kembali nafasnya atau menancapkan kembali tameng-tamengnya. Lancarkanlah aksi demi aksi serangan penyergapan, berperanglah tanpa henti pun rasa ampun pada musuh, karena sesungguhnya kalian sedang memerangi kaum yang tidak memiliki akal maupun petunjuk, tidak memiliki agama dan tidak akan tertolong di dunia.

Mereka digiring oleh Salibis untuk menggantikannya sebagai pasukan di medan peperangan dan pertempuran. Demi mewujudkan tujuan dan cita-cita mereka untuk memecah-belah wilayah kaum muslimin, menundukkannya dan penduduknya di bawah hukum Rafidhah Majusi, demi Allah hal itu tidak akan terwujud!

Maka tatkala kedua pasukan telah bertemu di medan perang, penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka! Hancurkanlah peralatan-peralatan tempur mereka! Serbulah mereka! Kejutkanlah mereka dengan serangan di benteng-benteng mereka! Agar mereka merasakan sebagian dari kebengisan kalian, dan kalian tidak akan berhenti hingga Allah memberikan kekuasaan pada kalian untuk mengalahkan mereka.

Dan janganlah kalian membisikkan keinginan untuk lari dari pertempuran ke dalam jiwa kalian! Demi Allah jika kalian lari, kalian tidaklah lari kecuali meninggalkan kehormatan yang tiada lagi pelindungnya, kalian tidaklah lari kecuali dari agama yang mengadu kepada Allah bahwa kaum ini telah menyia-nyiakannya, pun halnya para Anshar yang mereka telantarkan. Ingatlah selalu, firman Allah ta'ala,

“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan ta‘atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfal: 45-46)

Dan firmanNya, “Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.’ Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 146-148)

Demi Allah, kita melihat Allah memperdaya para Salibis, murtadin, dan Atheis untuk melenyapkan mereka. Dengan izin Allah, ini adalah agresi terakhir mereka! Dan sebentar lagi kita akan memerangi mereka di negeri tempat tinggal mereka, inilah keyakinan kami kepada Dzat yang Maha Esa, dan prasangka baik kita kepada Dzat yang Esa lagi tempat bergantung.

Wahai ummat Islam dan para singanya di Raqqah, wahai para pemberani dan para kesatria, pemilik kemuliaan, harga diri, dan kehormatan.

Bukanlah para wanita (PKK) fajir lagi kafir telah merampas bumi kaum Muslimin, setelah mereka tak sanggup menghasilkan para lelaki yang menggantikan urusan mereka. Dan orang-orang kafir dari segala sekte dan penyembah berhala berdatangan pada mereka, demi menolong kebathilannya, memerangi Islam dan pemeluknya. Katakan padaku, demi Rabb kalian, bagaimana jadinya jika kalian tidak menangkal serangan pasukan Atheis dari kalangan milisi Kurdi, dan mereka menang atas kalian, (semoga Allah tidak mewujudkan apa yang mereka inginkan). Peperangan yang demi Allah, digelorakan oleh para wanita kotor (wanita-wanita PKK), atheis nan kafir, hina, bodoh, lagi celaka terhadap agama kalian ini hendak menghapuskan syariatnya, menghinakan masjid-masjid kalian, dan merendahkan kaum kalian, menodai saudari-saudari dan istri-istri kalian. Jika hal ini terjadi, maka tiada lagi kebaikan dan artinya untuk hidup. Ketahuilah bahwa sesungguhnya sekarang adalah masa untuk membuktikan kejujuran dan penunaian janji.

Wahai kaum Muslimin sekaligus Mujahidin!

Tiga hal yang terhimpun pada diri kalian yang sangat di impikan oleh seorang muslim, yakni wilayah yang diatur oleh Syariat Allah, menghadapi serangan musuh dimana tidak ada yang lebih wajib setelah iman selain melawannya, dan mati syahid yang telah lama didam-idamkan oleh orang-orang yang jujur.

Hatiku berada di atas keyakinan dan jiwaku merdeka,
Ia tampik kehinaan dan pedangku yang tajam
Lantas ada apakah gerangan seorang lelaki takut berpisah dengan jiwanya?
Bukankah akhir dari kehidupan sejatinya adalah perpisahan?
Maka angkatlah jiwamu yang masih berada di tempatnya
Jika tiada negeri Syam, ada negeri Irak
Tiada kebaikan dalam hidup yang dikelilingi oleh sifat pengecut
Sebuah kehidupan yang diliputi kehinaan dan nestapa
Mereka mencelaku, lantaran kerendahanku dan kekalahanku
Sedangkan api tidaklah dicela karena ia membakar

Wahai para Ksatria Pemburu Syahadah dan singa-singa jihad di al-Bab dan pinggirannya.

Semoga Allah mencerahkan wajah kalian dan memberkati kalian di atas amal sholeh, karena kalian telah menghinakan pasukan murtad Turki, Shahawat, Kurdi pun halnya sekutu-sekutu Nusairiyah dengan keberanian, keteguhan serta pengorbanan kalian demi membela angama dengan kemuliaan dan ketegaran. Maka bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian, pun tetaplah berjaga-jaga di medan pertempuran dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. Sesungguhnya hari ini, cucu-cucu murtaddin Turki yang membunuhi orang-orang bertauhid tengah meneruskan jejak nenek moyangnya. Mereka telah menyerang Daulah kaum Muslimin dan Jama’ahnya. Karenanya, balaskanlah demi agama dan tauhid kalian.

Sesungguhnya kalian tidaklah memerangi kaum yang kuat. Sejatinya mereka adalah kaum pengecut yang berlindung di balik tembok. Maka bersikap jujurlah dalam melawan mereka. Tekanlah mereka, bunuhlah mereka dimanapun kalian jumpai. Dan incarlah mereka dengan setiap cara di setiap penjuru bumi, di bawah kolong langit.

Sesungguhnya, Ikhwanul Murtaddin Turki dan pemerintahannya mengemis-ngemis di pintu-pintu Salibis Eropa, mengira bahwa mereka dalam keadaan aman. Karenanya, duhai kaum Muslimin di setiap tempat yang cemburu akan agamanya, wahai para Muwahhidin yang jujur, wahai Ahli al-Wala’ wal Bara’! Sungguh si Turki terlaknat ini telah menghimpun orang-orang hina dari kalangan manusia, yaitu Shahawat di Syam, untuk memerangi agama Allah dan memadamkan cahaya-Nya. Tanpa henti mereka bombardir dan hancurkan rumah-rumah di atas kepala penghuninya, melumuri tangannya dengan darah kaum Muslimin, menghinakan agama dan kehormatan mereka.

Karenanya, kami serukan pada setiap muwahhid yang jujur untuk berangkat berperang menyerbu setiap sendi pemerintahan Turki yang Sekuler lagi murtad di setiap tempat, baik badan keamanan, militer, ekonomi, maupun medianya, bahkan setiap kantor kedutaan dan konsulatnya di seluruh negara dunia.

Kemudian, ketahuilah wahai para Mujahidin Muwahhidin, sesungguhnya termasuk yang paling besar kejahatannya dan paling besar kekufuran maupun dosanya diantara mereka adalah anjing-anjing mereka yang menggonggong dari kalangan ulama penyeru kesesatan, kekufuran dan para masyaikh yang rendah lagi lemah, yang loyal kepada kelompok musyrik ini dan pemerintahannya yang murtad, dengan segala bentuk loyalitas dan pertolongan, melalui majelis-majelis ulama, fatwa dan acara-acara media mereka, bahkan di akun-akun pribadi, serta forum-forum dialog mereka. Nama-nama, rumah-rumah, dan program-program tayangan mereka sudah banyak dikenal.

Ya, mereka yang mendoakan keberkahan pada penguasa tiran yang kafir, dan turut berbahagia atas kepresidenannya meskipun telah terbukti kesesatannya. Mereka yang dari seluruh penjuru dunia mendatanginya, dan mengucapkan selamat atas kemurtadan yang ia lakukan secara terang-terangan, dan kekafiran yang nyata. Mereka jadikan negaranya sebagai tempat beraktivitas serta bersenang-senang, dan tempat bernaung bagi kehinaan dan kebodohan mereka. Mereka hapus syiar-syiar hidayah dengan tangan-tangan mereka, dan memusnahkan kemuliaan yang tersisa dengan persaudaran mereka bersama kuffar. Sungguh, betapa buruk tangan-tangan dan kelompok Ikhwanul Murtaddin ini.

Mereka dekati kuffar dan menyambutnya, lantas menjelek-jelekkan dan menyesatkan Dien yang agung ini. Akibatnya, tersebarlah kesesatan dan bid’ah, serta hawa nafsu disembah, itulah seburuk-buruk sesembahan. Orang yang terpuji hampir tiada bedanya dengan yang tercela, begitu juga sebaliknya. Dan iniah musibah pun malapetaka yang besar. Mereka adalah para pendakwah dan imam yang menyeru manusia kepada kesengsaraan. Mereka lebih takut kepada manusia daripada takut kepada Allah, sangat tamak dengan ketenaran, 'doyan' akan pujian dan jabatan, terkena fitnah kecintaan akan kehidupan dunia yang fana dan merasa takut bila kehilangan akannya. Mereka pun melampaui batas dalam berbuat kerusakan dan kesia-siaan. Mereka pendam kebenaran dan sebarkan keburukan. Masih ada banyak lagi dari mereka, namun kami tak akan menyebutkannya lebih jauh karena saking banyaknya keburukan mereka. Semoga Allah memburukkan jiwa-jiawa yang cacat ini, jenggot sewaan dan lidah yang dipenuhi kalimat kepalsuan.

Tatkala pelaut telah pergi dan kapal tunggangannya dihempas angin, katak-katak pun mengambil alihnya

Tiadakah orang yang menahan mereka, memotong hidung-hidung, pun bahkan menghentikan mereka?

Orang-orang yang lebih buruk darinya adalah Bal’am bin Baurah, dan seburuk-buruk orang Musailamah adalah ar-Rijal bin Unfuwah. Diantara para ulama jahat pada hari ini adalah mereka yang paling buruk terhadap Islam dan ummatnya, lebih buruk dari apa-apa yang kalian sangka lebih buruk sebelumnya.

Demi Allah, telah tiba waktunya untuk membelah tengkorak mereka, mencekik jiwa-jiwa mereka, dan memotong lidah-lidah mereka!

Iyadh al-Yahsibi menyebutkan dalam kitabnya “Tartib al-Madarik dan Taqrib al-Masalik” bahwa sang Alim Abu Bakar Ismail bin Ishaq bin Udzrah rahimahullah ditanya tentang para khatib Bani Ubaid, al-Fatimiyin palsu. Dikatakan padanya, “Sesungguhnya mereka adalah Ahlus Sunnah.” Maka ia berkata, “Bukankah mereka berkata, ‘Ya Allah curahkanlah keselamatan pada hamba-Mu, al-Hakim dan wariskanlah bumi ini kepadanya?’ “ Mereka menjawab, “Ya”. Ia berkata, “Apakah menurutmu jika ada seorang khatib berkhutbah ia memuji Allah dan Rasul-Nya, ia puji dengan pujian yang baik, kemudian dia berkata, ‘Abu Jahal berada di Surga’, dia menjadi kafir?” Mereka menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Sungguh al-Hakim lebih kafir dari pada Abu Jahal.” Ad-Dawudi ditanya terkait permasalahan ini, maka ia berkata, “Khatib mereka yang berkhutbah dan mendoakan mereka para hari Jum’at adalah kafir harus dibunuh, tidak perlu dimintai taubat, dan istrinya haram untuk digauli, dan tidak mewarisi ataupun mendapatkan warisan, hartanya adalah harta Fai untuk kaum muslimin.” Sampai disini perkataannya.

Wahai bala tentara tauhid yang pencemburu akan Dienullah dimana saja mereka berada, dedikasikanlah diri kalian untuk membunuhi mereka yang menyakiti Allah dari kalangan ulama sesat dan para penyeru fitnah di setiap tempat. Jika salah satu dari kalian melihat mereka, jangan biarkan mereka lepas, hendaknya ia membunuh dan menyerangnya meski ia berada di dalam rumah, di tengah-tengah keluarganya. Maka mulailah menyerang mereka yang menampakkan permusuhan dan menyeru manusia untuk memerangi mujahidin, atau menuduh mereka sebagai kaum atheis atau menelantarkan agama. Hidupkan kembali sunnah pembunuhan Jahm, Ja’d, al-Hallaj dan Ma’bad dengan aksi pembunuhanmu terjadap para ulama sesat ini, yang sungguh, demi Allah apabila setan mendirikan negara, mereka akan mencarikan tentara yang terlatih dan pendukung setia padanya.

Abul Hasan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, “Akan datang suatu masa yang mana Islam hanya sekedar namanya, dan al-Qur’an hanya sekedar tulisan saja, tatkala itu masjid-masjid ramai namun hakekatnya ia telah rusak dan kosong dari petunjuk. Ulama mereka adalah makhluk terburuk di bawah kolong langit, dari dari merekalah fitnah keluar dan kepadanyalah fitnah itu kembali.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di Syu’ab al-Iman)

Benar, fitnah ini telah dimulai dari mulut-mulut dan mimbar mereka, setelah mereka mengharamkan jihad dan menganggap para pelakunya sebagai kriminil. Mereka mulai menyeru manusia untuk masuk ke dalam kebathilan dan kekafiran dengan cara berperang di bawah panji-panji Thawaghit, demi menggembirakan para penguasanya dan menyelamatkan tahta pun jabatan mereka. Orang yang merugi adalah yang rugi dunianya dengan mengikuti bahwa nafsu dan dunia mereka, siapa yang tidak menyibukkannya dengan kebenaran maka ia akan disibukan syaitan dengan kebathilan. Barang siapa yang tidak berperang di jalan Allah pada hari ini, maka pada suatu hari ia akan dibawa oleh setan untuk berperang di jalannya.

Kepada kaum muslimin umumnya, dan Ahlus Sunnah di Irak dan Syam khususnya.

Keburukan negara Majusi, Iran telah melampaui batas. Keburukannya tersebar luas di berbagai penjuru bumi, membahayakan manusia. Mereka bantai Ahlus Sunnah di Irak dan Syam menggunakan kaki-kaki tangannya, milisi, pakar ahlis dan penasehat militernya, hingga Ahlus Sunnah terbelenggu antara berada di dalam penjara atau menjadi pengikutnya yang tunduk patuh.Tiada yang menghalangi kejahatan mereka terhadap kaum muslimin setelah Allah kecuali Daulah Islamiyah. Ya, kebenaran itu amat terang, dan kebathilan itu gelap. Bagaimana mungkin kaum yang menyimpang ini mampu menandingi Junud Khilafah? Bagaimana bisa dua orang saling berselisih pendapat terkait siapakah yang membela agama, kemuliaan dan negeri mereka? Siapakah yang menjadikan Iran dan para pengikutnya merasakan balasan paling menyakitkan?

Semoga Allah menghinakan jenggot para ulama Su, betapa besar kejahatan dan kerusakan mereka. Siapakah yang menghunuskan pedang kebenaran di hadapan negara majusi Iran dan membuat mereka merasakan kehancuran dari Baghdad, sampai Bairut, Halab, Damaskus, Khurasan dan Shan’a? Siapakah ia wahai para penyeru keburukan dan kehancuran? Siapa?! Dan inilah Iran pada hari ini menjajah negeri Ahlus Sunnah dari timur hingga barat, utara hingga selatan, mengobarlan perang terhadap hamba-hamba Allah dari kalangan muwahhidin dan mujahidin, dengan bantuan dan sokongan Salibis, pun pemerintahan khianat lagi murtad. Mereka perlihatkan kecintaannya pada mereka dan berharap hidup nyaman dengan mereka, semoga Allah, dengan kekuatan dan kuasa-Nya menyegerakan kehancuran akan tahta kekuasaan dan kerajaan mereka di tangan Mujahidin.

Bukankah telah tiba waktunya bagi kalian wahai Ahlus Sunnah untuk meninggalkan kesembronoan kalian, asyik dengan para wanita, dan mitos-mitos legendaris. Mengapa kalian nampak arrogan dan berbangga diri? Apakah kalian telah menghalau agresi musuh kejam yang menyerbu negeri dan mencapai jarak satu lemparan batu dengan Mekkah dan Madinah? Atukah kalian mengira penguasa-penguasa kalian bisa melindungi dan mempertahankan kalian? Demi Allah, tidak! Sesungguhnya ini adalah prasangka yang tidak benar. Dan kalian akan mengingat apa yang aku katakan pada kalian. Sungguh musuh -semoga Allah membinasakan mereka - telah mendobrak negeri kalian, terobsesi untuk menghapus Dien kalian dan menghalalkan kehormatan kalian. Dan inilah jalan lurus yang terlihat sangat jelas, maka bersabarlah. Islam telah memanggil, maka tolonglah ia. Kehormatan berteriak merintih, maka selamatkanlah ia, dan saudara-saudara kalian dari para mujahidin meminta kalian untuk berangkat berjihad, maka jangan telantarkan mereka.

Sungguh Darul Islam ini adalah negeri kalian, dan syariat Allah adalah amanah di pundak kalian. Dan yang bertugas membela keduanya bukanlah hanya mujahidin, maka tiada udzur bagi kalian di hadapan Allah pun halnya di hadapan kaum muslimin, apabila cucu-cucu kera dan babi, dan para penyembah pohon, batu, serta manusia berhasil menguasai Darul Islam ini. Maka bersegeralah untuk bergabung dalam kafilah jihad, dan tolonglah mujahidin di jalan Allah semampu kalian, baik dengan jiwa, harta motivasi dan do‘a.

Kepada Junud Khilafah dan para Ansharnya di seluruh penjuru dunia.

Kepada para singa yang memperkeruh kehidupan murtaddin dan menghilangkan kenikmatan hidup mereka, dan menyungkurkan hidung agen-agen Intelijennya ke dalam tanah, pun merubah rasa aman mereka hanyalah sebatas mimpi.

Ketahuilah -semoga Allah menolong kalian- bahwa operasi-operasi kalian yang berbarokah akan membalikkan keadaan, dan memalingkan moncong-moncong artileri orang-orang kafir yang akan menembaki kaum muslimin. Maka seranglah mereka di rumah-rumah, pasar-pasar dan jalan-jalan serta festival-festival perayaan mereka dari arah yang tidak mereka sangka. Bakarlah bumi di atas telapak kaki mereka, dan cerai beraikan barisan mereka supaya mereka sibuk dengan diri mereka sendiri, dan lipat gandakan usahakan kalian serta operasi kalian semoga Allah memberkahi kalian.

Dan tidak lupa pada kesempatan ini, aku puji para Kesatria di bidang dakwah, medis, media dan Junud Islam lainnya.

Dan aku ucapkan selamat atas kesungguhan mereka, amal ribath mereka di berbagai ranah, peperangan mereka di bidang-bidangnya tidak kalah penting dengan peperangan di medan tempur.

Ya Allah, segala puji bagimu sampai Engkau ridha, dan segala puji bagimu jika kami ridha, dan segala puji bagimu setelah Engkau ridha.

Ya Allah, hancurkanlah orang-orang kafir penjahat, yang mengahalang-halangi manusia dari jalan-Mu dan memerangi wali-wali-Mu dan mendustakan utusanmu serta menginginkan kerusakan di muka bumi.

Ya Allah, tolonglah Dien-Mu dan tinggikan kalimat-Mu, tinggikan panji-Mu.

Wahai sesembahan yang Haq, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu. Segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam.