RUMIYAH 4 - WAWANCARA
WAWANCARA DENGAN WALI WILAYAH THARABLUS, SYAIKH HUDZAIFAH AL-MUHAJIR
Tanya: Telah berlalu delapan bulan sejak pertemuan kita dengan Syaikh Abdul Qodir an-Najdi hafizhahullah, sekarang bisakah Anda menerangkan pada kami persitiwa-peristiwa penting yang terjadi di berbagai wilayah di Libya akhir-akhir ini?
Jawab: Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuat dan Maha tinggi, yang jika Dia menghendaki keburukan pada suatu kaum maka tiada akan yang bisa menghentikannya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain-Nya, langit dan bumi datang kepada-Nya baik dalam keadaan suka hati atau terpaksa. Dia-lah yang membentangkan bumi dan mengokohkan gunung, dan guntur pun bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia- lah Tuhan Yang Maha Keras siksa-Nya. Shalawat serta salam terlimpahkan kepada panglima perang yang murah senyum dan juga kepada para sahabatnya, wa ba’du.
Sekarang, kita kembali pada pertanyaan Anda seputar kejadian-kejadian yang berlalu begitu cepat melewati mujahidin, bak cepatnya awan berjalan. Para Nabi Allah dan utusan-Nya, pun orang-orang yang mengikuti jejaknya dan berjalan di atas petunjuknya dari kalangan sahabat, tabi’in, dan mujahidin dalam satu manhaj, satu siroh, generasi pertama mereka seperti generasi terakhirnya, tertimpa ujian demi ujian kekeringan, himpitan, tekanan, dan malapetaka. Karena tersimpan hikmah yang besar dari Rabb kita azza wa jalla hingga pada akhirnnya mereka semakin terhimpit dan hampir putus asa, pertolongan Allah pun datang kepada mereka. Jika Dia dapati dalam hari hamba-hamba-Nya kebaikan, Allah menggantikan kebaikan dari apa yang diambil dari mereka (nyawa, harta, keluarga dll).
Delapan bulan masa memerangi musuh-musuh Allah telah berlalu, pun masa upaya menegakkan syariat-Nya di bumi-Nya, penaklukkan demi penaklukkan, kemenangan demi kemenangan diraih di sejumlah daerah dan kota yang dulunya berada di bawah kekuasaan Martin Kobler, Paolo Gentiloni, Francois Hollande dan Obama, mengusir dan membantai kaki-kaki tangan mereka dari kalangan pasukan pemerintah GNA (Pemerintah Persatuan Nasional Libya) dan pasukan pemerintah GNC (Kongres Nasional Umum Libya), dibasmi sampai ke akar-akarnya. Dan daerah-daerah ini kembali ke pangkuan Khilafah serta kekuasaan Syariat pun hukum-hukum Rabbani setelah sekian lama ters- esat. Kemudian, mereka menyerang sekali lagi di dalam pertempuran yang Mujahidin di dalamnya -hingga saat ini- mengorbankan hal termahal dan berharga demi menjaga Tauhid, dan membela Syariat.
Peperangan yang Junud Khilafah meraih kemenangan sejak awal dimulainya,tatkala mereka memilih kematian di jalan Allah, dan bertekad jangan sampai murtaddin menginjakan kaki di Darul Islam kecuali melangkahi jasad suci para Syuhada. Maka mereka memandang dunia ini sebagai hal remeh, demi meraih apaapa yang ada di sisi Allah. Mereka pun berdesak-desakkan untuk bergabung dengan kafilah Ribbiyun (para pengikut nabi yang bertaqwa) dan itulah kemenangan yang agung.
Tanya: Boleh jadi pembahasan tentang agresi militer Salibis atas wilayah Tarabulus, dimana murtaddin ikut berpartisipasi di dalamnya, yang dikenal dengan nama sandi “Operasi Bunyan al-Marsus (Bangunan yang Kokoh)” adalah kejadian terpenting di masa ini. Bagaimana awal serangan Shahawat terhadap Sirte? Dan kenapa mereka bersikukuh untuk memasuki kota ini meski biaya peperangan yang dikeluarkan demi meraihnya sangat besar?
Jawab: Musuh-musuh Allah dari kalangan Salibis sesungguhnya terus dihantui ketakutan dan kekhawatiran akan runtuhnya benteng-benteng dan kerajaan mereka, lantaran Junud Khilafah berhasil menguasai wilayah yang luas di daerah pesisir utara Afrika, di wilayah-wilayah Libya, lalu menegakkan Syariat, menyebarkan tauhid, memperingatkan manusia dari kesyirikan, dan memotivasi mereka untuk berjihad. Karenanya, musuh-musuh Dien ini pun bersegera untuk memeranginya.
Demi hal itu mereka mendatangkan seluruh kendaraan militer dan pasukannya untuk memasuki peperangan yang mereka tidak akan selamat dari apa yang mereka khawatirkan. Dan atas pertolongan Allah dan taufik-Nya, tanah lumpur yang mereka injak hanya akan bertambah becek (memburuk). Ini adalah peperangan yang jika tidak terjadi, maka layak bagi mujahidin untuk mempertanyakan hati dan meragukan niatnya apakah ia berada di jalan yang benar?
Peperangan yang diselami mujahidin dalam keadaan tenang dengan pertolongan Allah, setelah para masyaikh dan pemimpin kita berlomba-lomba untuk bertemu dengan Rabb mereka, diantaranya adalah Syaikh kita, Wali Tarabulus terdahulu yang bergabung dengan Kafilah In-ghimasiyin, menyerbu sekelompok besar murtaddin. Dan atas taufik dari Allah, ia ledakkan bom sabuknya di tengah-tengah pasukan murtaddin. Perbuatannya membenarkan perkataannya, menebus Syariat dengan darah sucinya, kita memohon kepada Allah supaya meninggikan derajatnya dan menempatkannya dalam surga Firdaus. Beliau gugur sekitar tiga bulan lalu.
Serangan murtaddin ini dimulai setelah berkumpulnya batalyon-batalyon militer yang berafiliasi pada Menteri Pertahanan Libya bagian barat, khususnya dari kota Misrata untuk memerangi Syariat, menjalin koordinasi langsung dengan Salibis serta ‘support’ udara mereka. Allah karuniakan kemampuan pada hamba-hamba-Nya yang berjihad untuk menghabisi pasukan demi pasukan murtaddin yang sejatinya saling bersaing satu sama lain, dan kini disatukan dalam ruang komando operasi bersama yang mereka namakan “Bunyan al-Marsus (Bangunan yang Kokoh)”.
Pada awal agresi militer ini, mereka mengumumkan bahwa pasukannya mencapai lebih dari 10.000 infantri, di samping ‘support’ udara (Salibis-Libya) melawan sekelompok kecil orang-orang beriman yang sabar, mengharapkan pahala dari Allah dan yakin bahwa ia akan bertemu dengan-Nya, serta sangat yakin akan janji-Nya. Maka Allah berikan taufik-Nya pada para hamba-hamba-Nya untuk menghalau serangan terbesar di zaman kita ini, demi membela negeri yang di dalamnya Syariat diterapkan oleh para hamba yang menolong diri mereka dengan tauhid dan memperbanyak jumlah mereka dengan Yang Maha Perkasa dan Maha Terpuji, membantai musuh-musuh Allah selama enam bulan berturut-turut.
Di dalamnya Allah memberikan karunia kepada hamba-hamba-Nya yang lemah berupa 120 operasi istisyhadiyah yang menargetkan konsentrasi pasukan demi pasukan murtaddin dan konvoi demi konvoi mereka, ditambah ratusan bom rakitan dan serangan ‘ambush’ yang membantai habis murtaddin. Hingga jatuh kerugian personil tempur yang hingga kini berjumlah sekitar 5000 murtaddin tewas dan luka-luka. Segala puji bagi Allah semata. Dan para mujahidin tidak tergoyahkan dan tidak pula terpalingkan oleh pesawat koalisi (Salibis-Libya) yang hingga hari ini telah melancarkan sekitar 2300 serangan udara, tak pula tergoyahkan oleh bombardir ribuan roket, mortir dan tank-tank.
Adapun faktor utama bersemangatnya murtaddin, lantaran kebencian mereka terhadap tauhid dan penganutnya, serta cita-cita mereka untuk melenyapkan Syariat, ditambah konsistensi mereka dalam mendengarkan perintah-perintah tuan mereka dari kalangan Salibis, yang memerangi kita sampai kita kufur kepada Allah, dan menjadikan tandingan bagi-Nya dalam hukum pun syariat-Nya. Mereka perangi kita agar kita mencampakkan Syariat ke belakang punggung kita dan mengkufurinya. Namun, kita beriman dengan harapan keberuntungan untuk bertemu dengan Rabb kita dalam keadaan menggenggam bara tauhid, berpegang teguh dengan tali yang kuat.
Tanya: Masa peperangan enam bulan telah berlalu, sementara murtaddin sama sekali belum berhasil menuntaskan peperangan di Sirte meski mereka disokong oleh Salibis baik di darat maupun udara. Apa faktor utama –setelah keutamaan dari Allah- keterlambatan majunya murtaddin selama ini? Dan taktik militer apa yang paling menonjol hingga mampu menimpakan kerugian besar di barisan mereka?
Jawab: Itu tak lain atas taufik dari Allah lantaran keteguhan Junud Khilafah di kota Sirte. Lantaran keimanan mereka, apa saja yang diciptakan Allah baik itu batu, pohon, pasir, lembah, gunung, hujan, angin, kegelapan malam, dan terangnya siang semuanya tunduk pada-Nya, rukuk dan sujud, akan terus loyal kepada wali-wali-Nya dan memusuhi musuh-musuh-Nya, dan tiada suka akan satupun yang bermaksiat di bumi-Nya. Itulah bala tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka, Allah tundukkan mereka untuk menolong wali-wali-Nya kapan saja Dia hendaki. Adapun terkait tentang metode-metode peperangan.
Segala puji bagi Allah, Ikhwah dalam peperangan ini menggunakan berbagai macam cara yang menjadi sebab – setelah taufik dari Allah- masih terus berlangsungnya peperangan hingga saat ini. Di antaranya operasi istisyhadiyah, bom-bom rakitan, terowongan-terowongan, serangan-serangan manuver yang membuat letih musuh-musuh Allah.
Kemudian, pasukan-pasukan padang pasir yang berada di luar Sirte, tersebar di sepanjang garis pesisir antara Sirte dan Misrata memiliki peranan besar dan dampak yang bagus dalam memperpan- jang waktu peperangan di dalam komplek-komplek Sirte, –atas karunia Allah- mereka bisa melancarkan serangan-serangan ofensif, diantaranya berupa operasi istisyhadiyah yang menembus benteng-benteng murtaddin, ledakan demi ledakan bom-bom rakitan, serangan ‚ambush‘, membuat pos-pos checkpoint di jalur suplai logistik musuh, berdampak besar menguras kekuatan murtaddin yang sedang bergerak menuju medan peperangan melawan Syariat di Sirte.
Tak lupa juga kami sebutkan salah satu peperangan dahsyat, tatkala salah satu regu pasukan padang pasir menceburkan diri ke tengah sekelompok besar murtaddin, setelah ia berbaiat kepada para Ikhwah dan tidak memalingkan muka mereka (mundur) sampai mereka bertemu Rabb-nya. Mereka menyerang kota Sirte dari front timur dan berhasil menguasai distrik Sawawah, area pelabuhan , hotel Sirte dan villa ad-Dhiyafah, setelah menempuh perjalanan sejauh 30 km menuju daerah yang dikuasai murtaddin. Dan tidak tersisa antara mereka dan saudara-saudaranya yang terkepung di Sirte kecuali satu jalan. Mereka pun gugur dalam keadaan maju menyerang dan tidak lari mundur setelah membantai wali-wali setan, dan menghabisi mereka. Murtaddin pun segera melolong mengemis pertolongan kepada pesawat-pesawat Salibis, hingga para Kesatria kita berbahagia meraih syahadah di jalan Rabb mereka, demi menolong saudara-saudara muslim dan muslimah, dan membela syariat. Mereka gugur dalam keadaan maju dan tidak mundur. Demikianlah penilaian kami, dan kami tidak mensucikan satu pun di hadapan Allah.
Tanya: Para Salibis dan antek-antek murtaddin membangkitkan angan-angan kosong pada diri mereka bahwa peperangan mereka di Sirte akan menjadi peperangan terakhir mereka melawan Daulah Islamiyah, apa komentar Anda perihal hal ini?
Jawab: Ini merupakan termasuk apa yang dijanjikan Setan kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal Setan itu tidak menjanjikan kepada mereka kecuali tipuan belaka. Sungguh Rabb kita jalla fi ula Maha Kuat dan Perkasa, tidak akan menghinakan bala tentara-Nya para wali-Nya, tak akan terkalahkan, hamba-hamba-Nya akan selalu tertolong dan merekalah yang akan menang. Mujahidin, mereka adalah yang paling tinggi (derajatnya) sampai kapanpun, sedangkan para Salibis dan murtaddin mereka akan dikalahkan dan dicampakkan dengan berbagai macam cara. Sedangkan Amerika, Italia, Prancis, Inggris serta seluruh kaum Salibis yang berada dalam satu parit untuk memerangi Khilafah, meskipun mereka sesumbar dan merasa paling kuat, sesungguhnya pada hakekatnya mereka tidak bisa memberikan manfaat dan bahaya. Mereka sama sekali tidak bisa menciptakan lalat, sekalipun bersama-sama mengerahkan seluruh kemampuannya. Mereka itu hina, sampai derajat tidak bisa merebut kembali sesuatu yang diambil lalat dengan sayap lemahnya.“Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. al-Hajj:73-74)
Begitu hina dan rendahnya mereka, sampai tidak pantas sama sekali untuk memerangi Allah atau memusuhi wali-wali-Nya. Niscaya engkau akan melihat seluruh Thagut PBB dan semua orang yang menyombongkan diri atas Rabb kita, niscaya engkau melihat mereka duduk tersimpuh dengan amat terhina pada hari kiamat nanti. Dan kami katakan kepada mereka yang memerangi Mujahidin pada hari ini di Sirte, yang membenci Syariat, para penentang, penganut kekafiran dan atheisme, sungguh kalian telah memerangi ummat yang tidak pernah mandul (selau melahirkan generasi) dan aqidahnya tak kan terkalahkan.
Sungguh sariyah-sariyah pasukan mujahidin yang tersebar pada hari ini di padang pasir Libya, akan membuat kalian merasakan dua kepahitan dan mereka akan merebut kembali kota-kota sekali lagi, dengan daya dan kekuatan Allah. Adapun pesan kami untuk orang-orang yang masih duduk dari kewajiban Muayan, di Misrata khususnya dan seluruh kota di Libya bagian barat secara umum, kami ingatkan bahwa mereka memiliki sejarah dalam pengorbanan jihad dan kemuliaan. Putra-putra terbaik mereka kini tengah berperang di kota Sirte.
Dan sebelum mereka, telah terbunuh ratusan di Irak dan Syam. Mereka termasuk putra-putra terbaik Daulah Islamiyah. Mereka terbunuh di tangan koalisi Salibis, oleh pesawat yang sama, yang kini menghancurkan rumah-rumah dan bangunan di atas para penghuninya di Sirte pada hari ini. Maka kami seru kalian untuk berdiri di pihak putra-putra kalian, para mujahidin di Daulah Islamiyah, dan belalah mereka semampu kalian. Dan cegahlah siapa saja yang mulai terperdaya, sehingga berperang di bawah panji Salibis di Sirte. Dan ia umumkan peperangan terhadap Syariat. Serulah mereka untuk bertaubat kepada Allah sebelum ia tertangkap, dan ditambahkan ke daftar orang-orang yang binasa. Sungguh, dengan membunuh akan mencegah seseorang dari terbunuh.
Tanya: Kita berpindah ke luar Sirte. Bagaimana penilaian Anda tentang Junud Khilafah di daerah-daerah Libya lainnya?
Jawab: Segala puji bagi Allah, kami berikan kabar gembira bagi kaum muslimin secara umum dan mujahidin pada khususnya, bahwa saudara-saudara mereka para mujahidin di berbagai daerah di wilayah Libya masih dalam keadaan kebaikan yang melimpah. Dan ini adalah karunia dari Allah Yang Maha Agung. Unit-unit Intelijen mujahidin masih tersebar di seluruh kota dan sejumlah daerah. Dan sama halnya sariyah-sariyah pasukan mereka menelusuri padang pasir dari timur hingga barat. Tidaklah hari-hari ini datang melainkan ujian akan hilang, yang akan datang setelahnya penaklukkan pun tamkin, dengan daya Allah dan kekuatan-Nya. Darah yang mengalir demi membela Syariat dan demi mengahalau musuh-musuhnya tidak akan disia-siakan oleh Allah. Dan Allah pasti akan menolong siapa saja yang menolong-Nya.
Tanya: Di saat sebelum terjadinya perang Sirte, terjadi gelombang besar muhajirin berdatangan ke sejumlah wilayah di Libya, apakah jalan hijrah masih terbuka? Dan apa urgensi muhajirin di dalam kancah peperangan kalian?
Jawab: Alhamdulillah, jalan masih tetap terbuka bagi siapa yang ingin berhijrah dan mengharapkan ridha Allah, seraya mengikhlaskan niatnya untuk-Nya azza wa jalla. Dan para muwahhidin baik Arab maupun non-Arab masih terus berdatangan dari segala penjuru untuk melaksanakan kewajiban jihad, demi membalaskan darah suci yang ditumpahkan oleh tangan musuh-musuh Dien ini. Mereka sangat zuhud (tidak tamak) terhadap dunia dan kenikmatannya yang akan sirna, menjelajahi padang pasir guna memerangi mereka yang kufur terhadap Rabb bumi dan langit. Cukuplah Allah sebagai penolong.
Adapun tentang urgensi mereka di dalam kancah jihad di Libiya, sungguh – atas karunia Allah – mereka telah tegakkan hukum-hukum-Nya, bersama dengan saudara-saudaranya dari kalangan Anshar mereka perangi musuh-musuh Allah. Termasuk nikmat Allah kepada kami adalah orang-orang yang terhalangi oleh udzur namun tetap berhijrah menuju wilayah-wilayah kami, mereka adalah hujjah bagi orang-orang yang mencari-cari udzur, diantara mereka ada yang dalam kondisi fakir, hingga mereka jual rumah dan seluruh barangnya yang dia punya demi bergabung dengan kafilah mujahidin, Allah azza wa jalla berfirman, “Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Pen- yayang.” (QS. an-Nahl: 110), semoga Allah menerima hijrah dan jihad mereka, dan disisi Allah sebaik-baik balasan.
Tanya: Bagaimana kondisi Sirte dan penduduknya setelah murtaddin menguasai sebagian besar daerahnya?
Jawab: Peperangan musuh-musuh Allah telah menyebabkan terlantarnya hukum-hukum Syariat, dan mereka berusaha untuk menggantinya dengan undang-undang Martin Kobler serta tuan-tuan mereka dari kalangan Salibis. Sebagian besar penduduk Sirte telah mengungsi ke daerah-daerah di sekitarnya sejak enam bulan lalu -yang masih saja- merasakan kepahitan. Musuh-musuh Allah menambah penderitaan mereka dengan membombardir dan menghancurkan rumah-rumah mereka, serta merampok harta-harta mereka. Maka kami berikan kabar gembira bagi ummat nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam bahwa putra-putra mereka masih akan terus memerangi musuh-musuh mereka sampai tidak ada fitnah (syirik) dan Dien ini semata-mata milik Allah.
Tanya: Faktor utama agresi Salibis melawan Junud Daulah Islamiyah di semua wilayah Libya ini adalah lantaran takutnya musyrikin akan meluasnya operasi demi operasi mujahidin ke negeri-negeri Thawaghit di sebelahnya. Dan para Salibis pun antek-anteknya membicarakan untuk mengamankan sejumlah daerah yang bersebelahan dengan Libya pasca tuntasnya agresi ini. Apa komentar Anda?
Jawab: Jihad di jalan Alllah yang bertujuan untuk meninggikan kalimat-Nya dan memerangi musuh-musuh-Nya tidak akan bisa dihentikan oleh siapapun. Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun di kota maupun di pelosok daerah, kecuali Allah pasti memasukan urusan (Islam) ini, dengan kemuliaan orang yang mulia ataupun kehinaan orang yang hina. Kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan Islam dan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekafiran. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah membentangkan bumi ini kepadaku. Maka aku melihat bagian timur dan baratnya, dan kekuasaan ummatku akan mencapai sejauh bumi dibentangkan kepadaku ini.” (HR Muslim dari Tsuban)
Peperangan dahsyat yang diselami mujahidin pada hari ini, dan bergabungnya ribuan muwahhidin ke medan-medan laga jihad menuju tempat-tempat terdapatnya kesyahidan ini, merupakan kabar gembira akan sirnanya kegelapan (kekafiran) dan nampaknya al haq. “Akan tetapi kalian terburu-buru.” (HR Bukhari dari Khabab bin al-Arats)
Tanya: Bagaimana menurut Anda keadaan pemerintahan GNA dan GNC pada hari ini? Dan apa operasi kalian mendatang dalam melawan dua pemerintahan murtad ini?
Jawab: Pemerintah GNA, GNC, dan Parlemen, kemudian mereka ingin membentuk pemerintahan keempat serta kelima. Inilah kondisi pemerintahan murtad di Libya, satu sama lain saling melaknat, terpecah belah, saling mengintai satu sama lain. Allah memutuskan tali kecintaan di antara mereka, dan Dia jadikan satu sama lainnya sebagai musuh, berpecah belah. Jika mereka berkumpul saling bersaing bahkan di medan perang yang mereka disatukan untuk memerangi Dien. Sungguh Junud Khilafah merealisasikan perintah Rabb mereka dengan memerangi semua yang memerangi Dien-Nya dan memusuhi wali-wali-Nya.
Ya, kami memerangi dan mengkafirkan mereka secara keseluruhan, dan kami lantang- kan suara permusuhan pun kebencian kami kepada mereka. Kami caci demokrasi dan kesyirikan mereka sebagaimana yang diperintahkan Rabb kami. Kami bukanlah kaum yang membeli kecintaan mereka atau mencari kerelaan mereka dengan imbalan secuil dunia yang fana, dan tidak pula kaum yang menggapai wasilah (sarana) untuk mencapai mereka.
Sungguh, banyak sekali yang mengklaim menolong Syariat, dan mencintai Tauhid serta pemeluknya telah terjatuh ke dalam jerat jebakannya. Dan ternyata mereka kini telah menjadi Anshar Thawaghit (penolong-penolong Thaghut), bersedih tatkala mereka bersedih, dan berperang di bawah bendera, sariyah pasukan dan menteri peperangan mereka. Kita memohon kepada Allah keselamatan.
Tanya: Apakah anda memilki wasiat untuk Junud Daulah Islamiyah di sejumlah wilayah di Libya. Dan apakah ada wasiat secara umum untuk Junud Daulah Islamiyah dimana saja mereka berada?
Jawab: Kepada makluk-makhluk Allah yang terbaik. Kepada mujahidin yang sabar lagi mengharapkan pahala di Sirte, Benghazi, Mosul, Halab (Aleppo) dan di semua tempat lainnya. Sungguh Rabb kalian sangatlah dekat dan Maha Mengabulkan. Dia melihat posisi kalian, mendengar perkataan kalian. Kalian telah bersandar kepada-Nya, kalian ambil sebab-sebab keselamatan seperti yang diperintahkan Allah. Kalian memerintahkan hal yang makruf, dan mencegah perbuatan mungkar. Kalian tegakkan Dien, memerangi musyrikin dan murtaddin. Sungguh Rabb kita telah berjanji kepada mereka yang berkumpul di atas ketaatan kepada-Nya, dengan pertolongan, kemenangan dan diberikan kekuasaan di muka bumi. Dan hasil akhir yang baik adalah bagi mereka. Mereka di giring menuju surga sekelompok demi sekelompok.
Sungguh Rabb kalian tidak menakdirkan ujian atas hamba-hamba-Nya kecuali untuk memisahkan yang buruk dari yang baik, yang jujur dari yang sekedar klaim. Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang ghaib. Kita dapati sebagian hamba, jika ia tertimpa keburukan, ujian, himpitan, dan tekanan, ia langsung berburuk sangka terhadap Rabbnya. Ia menyangka bahwa orang-orang kafir itu kuat di atas kita, dan mereka unggul, mereka akan menang dan tak akan ada yang mengalahkan. Mereka telah berhasil memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, dan mereka mengatakan bahwa Allah tidak akan menyempurnakan cahaya-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari macam-macam purbasangka demikian. Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Kalam-Nya, “Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”(QS. Fussilat: 23). Abu Muslim al-Khaulani berkata, “Berhati-hatilah dari berprasangka buruk terhadap seorang Mukmin, sungguh Allah menjadikan kebenaran di atas lisan dan hatinya.” (Ibnu Abdul Barr, Bahjatul Majalis).
Sungguh Rabb kita –besar pujian-Nya dan suci nama-nama-Nya- berkata dalam hadits Qudsi, “Aku tergantung dengan prasangka hamba-Ku, jika ia berprasangka baik, maka baginya sesuai perasangka itu, dan jika berprasangka buruk, maka keburukan itu juga yang didapatkan.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah). Kalam-Nya, “Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?“ (QS. as-Shafaat: 87)
WAWANCARA DENGAN WALI WILAYAH THARABLUS, SYAIKH HUDZAIFAH AL-MUHAJIR
Tanya: Telah berlalu delapan bulan sejak pertemuan kita dengan Syaikh Abdul Qodir an-Najdi hafizhahullah, sekarang bisakah Anda menerangkan pada kami persitiwa-peristiwa penting yang terjadi di berbagai wilayah di Libya akhir-akhir ini?
Jawab: Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuat dan Maha tinggi, yang jika Dia menghendaki keburukan pada suatu kaum maka tiada akan yang bisa menghentikannya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain-Nya, langit dan bumi datang kepada-Nya baik dalam keadaan suka hati atau terpaksa. Dia-lah yang membentangkan bumi dan mengokohkan gunung, dan guntur pun bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia- lah Tuhan Yang Maha Keras siksa-Nya. Shalawat serta salam terlimpahkan kepada panglima perang yang murah senyum dan juga kepada para sahabatnya, wa ba’du.
Sekarang, kita kembali pada pertanyaan Anda seputar kejadian-kejadian yang berlalu begitu cepat melewati mujahidin, bak cepatnya awan berjalan. Para Nabi Allah dan utusan-Nya, pun orang-orang yang mengikuti jejaknya dan berjalan di atas petunjuknya dari kalangan sahabat, tabi’in, dan mujahidin dalam satu manhaj, satu siroh, generasi pertama mereka seperti generasi terakhirnya, tertimpa ujian demi ujian kekeringan, himpitan, tekanan, dan malapetaka. Karena tersimpan hikmah yang besar dari Rabb kita azza wa jalla hingga pada akhirnnya mereka semakin terhimpit dan hampir putus asa, pertolongan Allah pun datang kepada mereka. Jika Dia dapati dalam hari hamba-hamba-Nya kebaikan, Allah menggantikan kebaikan dari apa yang diambil dari mereka (nyawa, harta, keluarga dll).
Delapan bulan masa memerangi musuh-musuh Allah telah berlalu, pun masa upaya menegakkan syariat-Nya di bumi-Nya, penaklukkan demi penaklukkan, kemenangan demi kemenangan diraih di sejumlah daerah dan kota yang dulunya berada di bawah kekuasaan Martin Kobler, Paolo Gentiloni, Francois Hollande dan Obama, mengusir dan membantai kaki-kaki tangan mereka dari kalangan pasukan pemerintah GNA (Pemerintah Persatuan Nasional Libya) dan pasukan pemerintah GNC (Kongres Nasional Umum Libya), dibasmi sampai ke akar-akarnya. Dan daerah-daerah ini kembali ke pangkuan Khilafah serta kekuasaan Syariat pun hukum-hukum Rabbani setelah sekian lama ters- esat. Kemudian, mereka menyerang sekali lagi di dalam pertempuran yang Mujahidin di dalamnya -hingga saat ini- mengorbankan hal termahal dan berharga demi menjaga Tauhid, dan membela Syariat.
Peperangan yang Junud Khilafah meraih kemenangan sejak awal dimulainya,tatkala mereka memilih kematian di jalan Allah, dan bertekad jangan sampai murtaddin menginjakan kaki di Darul Islam kecuali melangkahi jasad suci para Syuhada. Maka mereka memandang dunia ini sebagai hal remeh, demi meraih apaapa yang ada di sisi Allah. Mereka pun berdesak-desakkan untuk bergabung dengan kafilah Ribbiyun (para pengikut nabi yang bertaqwa) dan itulah kemenangan yang agung.
Tanya: Boleh jadi pembahasan tentang agresi militer Salibis atas wilayah Tarabulus, dimana murtaddin ikut berpartisipasi di dalamnya, yang dikenal dengan nama sandi “Operasi Bunyan al-Marsus (Bangunan yang Kokoh)” adalah kejadian terpenting di masa ini. Bagaimana awal serangan Shahawat terhadap Sirte? Dan kenapa mereka bersikukuh untuk memasuki kota ini meski biaya peperangan yang dikeluarkan demi meraihnya sangat besar?
Jawab: Musuh-musuh Allah dari kalangan Salibis sesungguhnya terus dihantui ketakutan dan kekhawatiran akan runtuhnya benteng-benteng dan kerajaan mereka, lantaran Junud Khilafah berhasil menguasai wilayah yang luas di daerah pesisir utara Afrika, di wilayah-wilayah Libya, lalu menegakkan Syariat, menyebarkan tauhid, memperingatkan manusia dari kesyirikan, dan memotivasi mereka untuk berjihad. Karenanya, musuh-musuh Dien ini pun bersegera untuk memeranginya.
Demi hal itu mereka mendatangkan seluruh kendaraan militer dan pasukannya untuk memasuki peperangan yang mereka tidak akan selamat dari apa yang mereka khawatirkan. Dan atas pertolongan Allah dan taufik-Nya, tanah lumpur yang mereka injak hanya akan bertambah becek (memburuk). Ini adalah peperangan yang jika tidak terjadi, maka layak bagi mujahidin untuk mempertanyakan hati dan meragukan niatnya apakah ia berada di jalan yang benar?
Peperangan yang diselami mujahidin dalam keadaan tenang dengan pertolongan Allah, setelah para masyaikh dan pemimpin kita berlomba-lomba untuk bertemu dengan Rabb mereka, diantaranya adalah Syaikh kita, Wali Tarabulus terdahulu yang bergabung dengan Kafilah In-ghimasiyin, menyerbu sekelompok besar murtaddin. Dan atas taufik dari Allah, ia ledakkan bom sabuknya di tengah-tengah pasukan murtaddin. Perbuatannya membenarkan perkataannya, menebus Syariat dengan darah sucinya, kita memohon kepada Allah supaya meninggikan derajatnya dan menempatkannya dalam surga Firdaus. Beliau gugur sekitar tiga bulan lalu.
Serangan murtaddin ini dimulai setelah berkumpulnya batalyon-batalyon militer yang berafiliasi pada Menteri Pertahanan Libya bagian barat, khususnya dari kota Misrata untuk memerangi Syariat, menjalin koordinasi langsung dengan Salibis serta ‘support’ udara mereka. Allah karuniakan kemampuan pada hamba-hamba-Nya yang berjihad untuk menghabisi pasukan demi pasukan murtaddin yang sejatinya saling bersaing satu sama lain, dan kini disatukan dalam ruang komando operasi bersama yang mereka namakan “Bunyan al-Marsus (Bangunan yang Kokoh)”.
Pada awal agresi militer ini, mereka mengumumkan bahwa pasukannya mencapai lebih dari 10.000 infantri, di samping ‘support’ udara (Salibis-Libya) melawan sekelompok kecil orang-orang beriman yang sabar, mengharapkan pahala dari Allah dan yakin bahwa ia akan bertemu dengan-Nya, serta sangat yakin akan janji-Nya. Maka Allah berikan taufik-Nya pada para hamba-hamba-Nya untuk menghalau serangan terbesar di zaman kita ini, demi membela negeri yang di dalamnya Syariat diterapkan oleh para hamba yang menolong diri mereka dengan tauhid dan memperbanyak jumlah mereka dengan Yang Maha Perkasa dan Maha Terpuji, membantai musuh-musuh Allah selama enam bulan berturut-turut.
Di dalamnya Allah memberikan karunia kepada hamba-hamba-Nya yang lemah berupa 120 operasi istisyhadiyah yang menargetkan konsentrasi pasukan demi pasukan murtaddin dan konvoi demi konvoi mereka, ditambah ratusan bom rakitan dan serangan ‘ambush’ yang membantai habis murtaddin. Hingga jatuh kerugian personil tempur yang hingga kini berjumlah sekitar 5000 murtaddin tewas dan luka-luka. Segala puji bagi Allah semata. Dan para mujahidin tidak tergoyahkan dan tidak pula terpalingkan oleh pesawat koalisi (Salibis-Libya) yang hingga hari ini telah melancarkan sekitar 2300 serangan udara, tak pula tergoyahkan oleh bombardir ribuan roket, mortir dan tank-tank.
Adapun faktor utama bersemangatnya murtaddin, lantaran kebencian mereka terhadap tauhid dan penganutnya, serta cita-cita mereka untuk melenyapkan Syariat, ditambah konsistensi mereka dalam mendengarkan perintah-perintah tuan mereka dari kalangan Salibis, yang memerangi kita sampai kita kufur kepada Allah, dan menjadikan tandingan bagi-Nya dalam hukum pun syariat-Nya. Mereka perangi kita agar kita mencampakkan Syariat ke belakang punggung kita dan mengkufurinya. Namun, kita beriman dengan harapan keberuntungan untuk bertemu dengan Rabb kita dalam keadaan menggenggam bara tauhid, berpegang teguh dengan tali yang kuat.
Tanya: Masa peperangan enam bulan telah berlalu, sementara murtaddin sama sekali belum berhasil menuntaskan peperangan di Sirte meski mereka disokong oleh Salibis baik di darat maupun udara. Apa faktor utama –setelah keutamaan dari Allah- keterlambatan majunya murtaddin selama ini? Dan taktik militer apa yang paling menonjol hingga mampu menimpakan kerugian besar di barisan mereka?
Jawab: Itu tak lain atas taufik dari Allah lantaran keteguhan Junud Khilafah di kota Sirte. Lantaran keimanan mereka, apa saja yang diciptakan Allah baik itu batu, pohon, pasir, lembah, gunung, hujan, angin, kegelapan malam, dan terangnya siang semuanya tunduk pada-Nya, rukuk dan sujud, akan terus loyal kepada wali-wali-Nya dan memusuhi musuh-musuh-Nya, dan tiada suka akan satupun yang bermaksiat di bumi-Nya. Itulah bala tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka, Allah tundukkan mereka untuk menolong wali-wali-Nya kapan saja Dia hendaki. Adapun terkait tentang metode-metode peperangan.
Segala puji bagi Allah, Ikhwah dalam peperangan ini menggunakan berbagai macam cara yang menjadi sebab – setelah taufik dari Allah- masih terus berlangsungnya peperangan hingga saat ini. Di antaranya operasi istisyhadiyah, bom-bom rakitan, terowongan-terowongan, serangan-serangan manuver yang membuat letih musuh-musuh Allah.
Kemudian, pasukan-pasukan padang pasir yang berada di luar Sirte, tersebar di sepanjang garis pesisir antara Sirte dan Misrata memiliki peranan besar dan dampak yang bagus dalam memperpan- jang waktu peperangan di dalam komplek-komplek Sirte, –atas karunia Allah- mereka bisa melancarkan serangan-serangan ofensif, diantaranya berupa operasi istisyhadiyah yang menembus benteng-benteng murtaddin, ledakan demi ledakan bom-bom rakitan, serangan ‚ambush‘, membuat pos-pos checkpoint di jalur suplai logistik musuh, berdampak besar menguras kekuatan murtaddin yang sedang bergerak menuju medan peperangan melawan Syariat di Sirte.
Tak lupa juga kami sebutkan salah satu peperangan dahsyat, tatkala salah satu regu pasukan padang pasir menceburkan diri ke tengah sekelompok besar murtaddin, setelah ia berbaiat kepada para Ikhwah dan tidak memalingkan muka mereka (mundur) sampai mereka bertemu Rabb-nya. Mereka menyerang kota Sirte dari front timur dan berhasil menguasai distrik Sawawah, area pelabuhan , hotel Sirte dan villa ad-Dhiyafah, setelah menempuh perjalanan sejauh 30 km menuju daerah yang dikuasai murtaddin. Dan tidak tersisa antara mereka dan saudara-saudaranya yang terkepung di Sirte kecuali satu jalan. Mereka pun gugur dalam keadaan maju menyerang dan tidak lari mundur setelah membantai wali-wali setan, dan menghabisi mereka. Murtaddin pun segera melolong mengemis pertolongan kepada pesawat-pesawat Salibis, hingga para Kesatria kita berbahagia meraih syahadah di jalan Rabb mereka, demi menolong saudara-saudara muslim dan muslimah, dan membela syariat. Mereka gugur dalam keadaan maju dan tidak mundur. Demikianlah penilaian kami, dan kami tidak mensucikan satu pun di hadapan Allah.
Tanya: Para Salibis dan antek-antek murtaddin membangkitkan angan-angan kosong pada diri mereka bahwa peperangan mereka di Sirte akan menjadi peperangan terakhir mereka melawan Daulah Islamiyah, apa komentar Anda perihal hal ini?
Jawab: Ini merupakan termasuk apa yang dijanjikan Setan kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal Setan itu tidak menjanjikan kepada mereka kecuali tipuan belaka. Sungguh Rabb kita jalla fi ula Maha Kuat dan Perkasa, tidak akan menghinakan bala tentara-Nya para wali-Nya, tak akan terkalahkan, hamba-hamba-Nya akan selalu tertolong dan merekalah yang akan menang. Mujahidin, mereka adalah yang paling tinggi (derajatnya) sampai kapanpun, sedangkan para Salibis dan murtaddin mereka akan dikalahkan dan dicampakkan dengan berbagai macam cara. Sedangkan Amerika, Italia, Prancis, Inggris serta seluruh kaum Salibis yang berada dalam satu parit untuk memerangi Khilafah, meskipun mereka sesumbar dan merasa paling kuat, sesungguhnya pada hakekatnya mereka tidak bisa memberikan manfaat dan bahaya. Mereka sama sekali tidak bisa menciptakan lalat, sekalipun bersama-sama mengerahkan seluruh kemampuannya. Mereka itu hina, sampai derajat tidak bisa merebut kembali sesuatu yang diambil lalat dengan sayap lemahnya.“Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. al-Hajj:73-74)
Begitu hina dan rendahnya mereka, sampai tidak pantas sama sekali untuk memerangi Allah atau memusuhi wali-wali-Nya. Niscaya engkau akan melihat seluruh Thagut PBB dan semua orang yang menyombongkan diri atas Rabb kita, niscaya engkau melihat mereka duduk tersimpuh dengan amat terhina pada hari kiamat nanti. Dan kami katakan kepada mereka yang memerangi Mujahidin pada hari ini di Sirte, yang membenci Syariat, para penentang, penganut kekafiran dan atheisme, sungguh kalian telah memerangi ummat yang tidak pernah mandul (selau melahirkan generasi) dan aqidahnya tak kan terkalahkan.
Sungguh sariyah-sariyah pasukan mujahidin yang tersebar pada hari ini di padang pasir Libya, akan membuat kalian merasakan dua kepahitan dan mereka akan merebut kembali kota-kota sekali lagi, dengan daya dan kekuatan Allah. Adapun pesan kami untuk orang-orang yang masih duduk dari kewajiban Muayan, di Misrata khususnya dan seluruh kota di Libya bagian barat secara umum, kami ingatkan bahwa mereka memiliki sejarah dalam pengorbanan jihad dan kemuliaan. Putra-putra terbaik mereka kini tengah berperang di kota Sirte.
Dan sebelum mereka, telah terbunuh ratusan di Irak dan Syam. Mereka termasuk putra-putra terbaik Daulah Islamiyah. Mereka terbunuh di tangan koalisi Salibis, oleh pesawat yang sama, yang kini menghancurkan rumah-rumah dan bangunan di atas para penghuninya di Sirte pada hari ini. Maka kami seru kalian untuk berdiri di pihak putra-putra kalian, para mujahidin di Daulah Islamiyah, dan belalah mereka semampu kalian. Dan cegahlah siapa saja yang mulai terperdaya, sehingga berperang di bawah panji Salibis di Sirte. Dan ia umumkan peperangan terhadap Syariat. Serulah mereka untuk bertaubat kepada Allah sebelum ia tertangkap, dan ditambahkan ke daftar orang-orang yang binasa. Sungguh, dengan membunuh akan mencegah seseorang dari terbunuh.
Tanya: Kita berpindah ke luar Sirte. Bagaimana penilaian Anda tentang Junud Khilafah di daerah-daerah Libya lainnya?
Jawab: Segala puji bagi Allah, kami berikan kabar gembira bagi kaum muslimin secara umum dan mujahidin pada khususnya, bahwa saudara-saudara mereka para mujahidin di berbagai daerah di wilayah Libya masih dalam keadaan kebaikan yang melimpah. Dan ini adalah karunia dari Allah Yang Maha Agung. Unit-unit Intelijen mujahidin masih tersebar di seluruh kota dan sejumlah daerah. Dan sama halnya sariyah-sariyah pasukan mereka menelusuri padang pasir dari timur hingga barat. Tidaklah hari-hari ini datang melainkan ujian akan hilang, yang akan datang setelahnya penaklukkan pun tamkin, dengan daya Allah dan kekuatan-Nya. Darah yang mengalir demi membela Syariat dan demi mengahalau musuh-musuhnya tidak akan disia-siakan oleh Allah. Dan Allah pasti akan menolong siapa saja yang menolong-Nya.
Tanya: Di saat sebelum terjadinya perang Sirte, terjadi gelombang besar muhajirin berdatangan ke sejumlah wilayah di Libya, apakah jalan hijrah masih terbuka? Dan apa urgensi muhajirin di dalam kancah peperangan kalian?
Jawab: Alhamdulillah, jalan masih tetap terbuka bagi siapa yang ingin berhijrah dan mengharapkan ridha Allah, seraya mengikhlaskan niatnya untuk-Nya azza wa jalla. Dan para muwahhidin baik Arab maupun non-Arab masih terus berdatangan dari segala penjuru untuk melaksanakan kewajiban jihad, demi membalaskan darah suci yang ditumpahkan oleh tangan musuh-musuh Dien ini. Mereka sangat zuhud (tidak tamak) terhadap dunia dan kenikmatannya yang akan sirna, menjelajahi padang pasir guna memerangi mereka yang kufur terhadap Rabb bumi dan langit. Cukuplah Allah sebagai penolong.
Adapun tentang urgensi mereka di dalam kancah jihad di Libiya, sungguh – atas karunia Allah – mereka telah tegakkan hukum-hukum-Nya, bersama dengan saudara-saudaranya dari kalangan Anshar mereka perangi musuh-musuh Allah. Termasuk nikmat Allah kepada kami adalah orang-orang yang terhalangi oleh udzur namun tetap berhijrah menuju wilayah-wilayah kami, mereka adalah hujjah bagi orang-orang yang mencari-cari udzur, diantara mereka ada yang dalam kondisi fakir, hingga mereka jual rumah dan seluruh barangnya yang dia punya demi bergabung dengan kafilah mujahidin, Allah azza wa jalla berfirman, “Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Pen- yayang.” (QS. an-Nahl: 110), semoga Allah menerima hijrah dan jihad mereka, dan disisi Allah sebaik-baik balasan.
Tanya: Bagaimana kondisi Sirte dan penduduknya setelah murtaddin menguasai sebagian besar daerahnya?
Jawab: Peperangan musuh-musuh Allah telah menyebabkan terlantarnya hukum-hukum Syariat, dan mereka berusaha untuk menggantinya dengan undang-undang Martin Kobler serta tuan-tuan mereka dari kalangan Salibis. Sebagian besar penduduk Sirte telah mengungsi ke daerah-daerah di sekitarnya sejak enam bulan lalu -yang masih saja- merasakan kepahitan. Musuh-musuh Allah menambah penderitaan mereka dengan membombardir dan menghancurkan rumah-rumah mereka, serta merampok harta-harta mereka. Maka kami berikan kabar gembira bagi ummat nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam bahwa putra-putra mereka masih akan terus memerangi musuh-musuh mereka sampai tidak ada fitnah (syirik) dan Dien ini semata-mata milik Allah.
Tanya: Faktor utama agresi Salibis melawan Junud Daulah Islamiyah di semua wilayah Libya ini adalah lantaran takutnya musyrikin akan meluasnya operasi demi operasi mujahidin ke negeri-negeri Thawaghit di sebelahnya. Dan para Salibis pun antek-anteknya membicarakan untuk mengamankan sejumlah daerah yang bersebelahan dengan Libya pasca tuntasnya agresi ini. Apa komentar Anda?
Jawab: Jihad di jalan Alllah yang bertujuan untuk meninggikan kalimat-Nya dan memerangi musuh-musuh-Nya tidak akan bisa dihentikan oleh siapapun. Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun di kota maupun di pelosok daerah, kecuali Allah pasti memasukan urusan (Islam) ini, dengan kemuliaan orang yang mulia ataupun kehinaan orang yang hina. Kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan Islam dan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekafiran. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah membentangkan bumi ini kepadaku. Maka aku melihat bagian timur dan baratnya, dan kekuasaan ummatku akan mencapai sejauh bumi dibentangkan kepadaku ini.” (HR Muslim dari Tsuban)
Peperangan dahsyat yang diselami mujahidin pada hari ini, dan bergabungnya ribuan muwahhidin ke medan-medan laga jihad menuju tempat-tempat terdapatnya kesyahidan ini, merupakan kabar gembira akan sirnanya kegelapan (kekafiran) dan nampaknya al haq. “Akan tetapi kalian terburu-buru.” (HR Bukhari dari Khabab bin al-Arats)
Tanya: Bagaimana menurut Anda keadaan pemerintahan GNA dan GNC pada hari ini? Dan apa operasi kalian mendatang dalam melawan dua pemerintahan murtad ini?
Jawab: Pemerintah GNA, GNC, dan Parlemen, kemudian mereka ingin membentuk pemerintahan keempat serta kelima. Inilah kondisi pemerintahan murtad di Libya, satu sama lain saling melaknat, terpecah belah, saling mengintai satu sama lain. Allah memutuskan tali kecintaan di antara mereka, dan Dia jadikan satu sama lainnya sebagai musuh, berpecah belah. Jika mereka berkumpul saling bersaing bahkan di medan perang yang mereka disatukan untuk memerangi Dien. Sungguh Junud Khilafah merealisasikan perintah Rabb mereka dengan memerangi semua yang memerangi Dien-Nya dan memusuhi wali-wali-Nya.
Ya, kami memerangi dan mengkafirkan mereka secara keseluruhan, dan kami lantang- kan suara permusuhan pun kebencian kami kepada mereka. Kami caci demokrasi dan kesyirikan mereka sebagaimana yang diperintahkan Rabb kami. Kami bukanlah kaum yang membeli kecintaan mereka atau mencari kerelaan mereka dengan imbalan secuil dunia yang fana, dan tidak pula kaum yang menggapai wasilah (sarana) untuk mencapai mereka.
Sungguh, banyak sekali yang mengklaim menolong Syariat, dan mencintai Tauhid serta pemeluknya telah terjatuh ke dalam jerat jebakannya. Dan ternyata mereka kini telah menjadi Anshar Thawaghit (penolong-penolong Thaghut), bersedih tatkala mereka bersedih, dan berperang di bawah bendera, sariyah pasukan dan menteri peperangan mereka. Kita memohon kepada Allah keselamatan.
Tanya: Apakah anda memilki wasiat untuk Junud Daulah Islamiyah di sejumlah wilayah di Libya. Dan apakah ada wasiat secara umum untuk Junud Daulah Islamiyah dimana saja mereka berada?
Jawab: Kepada makluk-makhluk Allah yang terbaik. Kepada mujahidin yang sabar lagi mengharapkan pahala di Sirte, Benghazi, Mosul, Halab (Aleppo) dan di semua tempat lainnya. Sungguh Rabb kalian sangatlah dekat dan Maha Mengabulkan. Dia melihat posisi kalian, mendengar perkataan kalian. Kalian telah bersandar kepada-Nya, kalian ambil sebab-sebab keselamatan seperti yang diperintahkan Allah. Kalian memerintahkan hal yang makruf, dan mencegah perbuatan mungkar. Kalian tegakkan Dien, memerangi musyrikin dan murtaddin. Sungguh Rabb kita telah berjanji kepada mereka yang berkumpul di atas ketaatan kepada-Nya, dengan pertolongan, kemenangan dan diberikan kekuasaan di muka bumi. Dan hasil akhir yang baik adalah bagi mereka. Mereka di giring menuju surga sekelompok demi sekelompok.
Sungguh Rabb kalian tidak menakdirkan ujian atas hamba-hamba-Nya kecuali untuk memisahkan yang buruk dari yang baik, yang jujur dari yang sekedar klaim. Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang ghaib. Kita dapati sebagian hamba, jika ia tertimpa keburukan, ujian, himpitan, dan tekanan, ia langsung berburuk sangka terhadap Rabbnya. Ia menyangka bahwa orang-orang kafir itu kuat di atas kita, dan mereka unggul, mereka akan menang dan tak akan ada yang mengalahkan. Mereka telah berhasil memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, dan mereka mengatakan bahwa Allah tidak akan menyempurnakan cahaya-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari macam-macam purbasangka demikian. Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Kalam-Nya, “Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”(QS. Fussilat: 23). Abu Muslim al-Khaulani berkata, “Berhati-hatilah dari berprasangka buruk terhadap seorang Mukmin, sungguh Allah menjadikan kebenaran di atas lisan dan hatinya.” (Ibnu Abdul Barr, Bahjatul Majalis).
Sungguh Rabb kita –besar pujian-Nya dan suci nama-nama-Nya- berkata dalam hadits Qudsi, “Aku tergantung dengan prasangka hamba-Ku, jika ia berprasangka baik, maka baginya sesuai perasangka itu, dan jika berprasangka buruk, maka keburukan itu juga yang didapatkan.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah). Kalam-Nya, “Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?“ (QS. as-Shafaat: 87)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar