Tampilkan postingan dengan label Infografis An-Naba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Infografis An-Naba. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2018

SYAFA’AT

SYAFA’AT

Alloh ta’ala berfirman, “Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya.” [al-Baqoroh: 255]

Hakikat Syafa’at

Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahulloh berkata: Yang ada dalam hati orang-orang musyrik itu dan para pendahulu (salaf) mereka adalah bahwa sesembahan-sesembahan mereka akan memberikan syafa’at kepada mereka di sisi Alloh. Dan ini adalah syirik itu sendiri. Alloh telah mengingkari keyakinan mereka itu dan mendustakannya dalam Kitab-Nya. Syafa’at yang ditetapkan oleh Alloh dan Rosul-Nya adalah syafa’at yang bersumber dari izin-Nya kepada orang yang mentauhidkan-Nya. Dan yang dinafikan oleh Alloh adalah syafa’at syirkiyyah yang ada dalam hati orang-orang musyrik yang menjadikan (sesembahan-sesembahan) selain Alloh sebagai para pemberi syafa’at. Mereka pun diperlakukan dengan kebalikan dari apa yang mereka inginkan dari para pemberi syafa’at mereka itu. Sementara orang-orang muwahhid akan memperolehnya. [Madaarijus Saalikiin]

Madzhab Salaf Tentang Syafa’at

Abu al-‘Abbas Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata: Ahlus Sunnah wal Jama’ah menyepakati apa yang telah disepakati oleh para sahabat ridhwaanullohi ‘alayhim ajma’iin dan disebutkan dalam banyak hadits, bahwa beliau shollallohu ‘alayhi wa sallam akan memberikan syafa’at kepada para pelaku dosa besar dari umatnya dan memberikan syafa’at juga kepada makhluk secara umum. Beliau shollallohu ‘alayhi wa sallam memiliki syafa’at-syafa’at yang khusus bagi beliau, tidak seorang pun yang ikut memilikinya, dan syafa’at-syafa’at yang juga dimiliki oleh selain beliau di antara para nabi dan orang-orang sholih, tetapi apa yang beliau miliki lebih baik daripada apa yang dimiliki oleh selain beliau. [Majmuu’ al-Fataawaa]

Siapakah yang Diberi Kemuliaan untuk Memberi Syafa’at

1. Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam
Diriwayatkan dari Abu Huroyroh rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata: Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Setiap nabi memiliki permohonan yang mustajab (dikabulkan). Setiap nabi pun telah menyegerakan permohonannya. Sementara aku menyembunyikan permohonanku, sebagai syafa’at bagi umatku pada hari kiamat. Ia akan didapatkan in syaa-a Alloh oleh siapa saja yang mati dari umatku tanpa menyekutukan Alloh dengan sesuatu pun.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

2. Para syuhada’
Diriwayatkan dari Nimron bin ‘Utbah adz-Dzimari, dia berkata: Kami mengunjungi Ummu ad-Darda’, sedangkan kami adalah anak-anak yatim. Dia pun berkata: Bergembiralah, sesungguhnya aku telah mendengar Abu ad-Darda’ berkata: Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Diterima syafa’at seorang syahid untuk tujuh puluh orang dari keluarganya.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud]

3. Kaum mu’minin secara umum
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata: Aku telah mendengar Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Tidak seorang muslim pun mati, lalu jenazahnya disholatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu pun, kecuali Alloh menerima syafa’at mereka untuknya.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Infografik An-Naba’ Edisi 66

AKHLAQ YANG BAIK

AKHLAQ YANG BAIK

“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Robb kalian dan jannah yang luas buminya seperti langit-langit dan bumi, (jannah itu) sudah disiapkan bagi orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang berinfaq dalam kedaan senang dan susah, serta orang-orang yang menahan marah dan memaafkan manusia. Sungguh Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (Alu ‘Imron; 133-134)

Dari an-Nawwas bin Sam’an Al-Anshori rodhiyallohu ‘anhu berkata: aku pernah bertanya kepada Rosululloh Shollallohu’alaihi wasallam tentang perbuatan baik dan perbuatan dosa, maka beliau shollallohu ‘alayhi wa sallam besabda: “Kebaikan adalah berakhlaq baik dan dosa adalah apa yang membuat gelisah hatimu, dan engkau benci jika hal tersebut tampak di hadapan manusia.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Dari Abu Huroyroh rodhiyallohu ’anhu berkata, telah bersabda Rosululloh Shollallohu’alaihi wa sallam, “Orang-orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaqnya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Dari ‘abdulloh bin ‘Amr rodhiyallohu’anhu berkata, Rosululloh shollallohu ’alayhi wasallam bersabda dalam suatu majlis, “Maukah aku ceritakan pada kalian tentang yang paling aku cintai dari kalian kepadaku dan yang paling dekat dari kalian kepadaku dalam majlis pada hari kiamat?” (Beliau berkata tentang hal tersebut tiga kali), kami berkata: ‘tentu saja wahai rosululloh!’ Beliau bersabda : “yang paling bagus akhlaqnya di antara kalian.” (Diriwayatkan oleh Ahmad)

Dari Usamah bin Syarik rodhiyallohu ‘anhu bahwa ada para arab badui bertanya kepada Rosululloh shollallohu ’alayhi wasallam, “apa yang baik dari apa-apa yang telah diberikan dari seorang hamba?” Maka beliau bersabda, “akhlaq yang baik.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anhaa dia berkata, aku telah mendengar Rosululloh shollallohu ’alayhi wasallam bersabda: “sesungguhnya seorang mu’min harus dapat diketahui dari kebagusan setiap akhlaqnya, derajat bangun malam dan puasanya pada siang hari.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim)

Dari Abu Darda’ rodhiyallohu ‘anhu dari Nabi shollallohu ’alayhi wasallam bersabda, “tidak ada sesuatupun dalam mizan (timbangan) yang lebih berat dari berakhlaq baik.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Dari Abu Umamah rodhiyallohu’anhu berkata, Rosululloh shollallohu ’alayhi wasallam bersabda, “Aku menjamin dengan rumah yang ada di tepi jannah bagi siapa saja yang meninggalkan berdebat walaupun dia benar, dan dengan rumah di tengah jannah bagi siapa saja yang meninggalkan bohong walaupun dia bercanda, dan dengan rumah yang berada di bagian tertinggi dari jannah bagi siapa saja yang berakhlaq baik.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Infografik An-Naba’ Edisi 48

TASYABBUH (MENYERUPAI) ORANG KAFIR

TASYABBUH (MENYERUPAI) ORANG-ORANG KAFIR

Alloh ta’ala berfirman: “Dan barang siapa menentang Rosul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti selain jalan orang-orang mu’min, maka Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” [an-Nisa’: 115]

Pemberitahuan Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam Tentang Akan Terjadinya Hal Itu dalam Umatnya

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri rodhiyallohu ‘anh bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian jengkal demi jengkal dan hasta demi hasta. Bahkan seandainya mereka lubang biawak, niscaya kalian akan memasukinya.” Kami berkata: “Ya Rosululloh, orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasroni?” Beliau berkata: “Siapa lagi?” [Muttafaq ‘alaih]

Beberapa Contoh Tasyabbuh

- Menyerupai mereka dalam keyakinan mereka, seperti ghuluw (sikap berlebih-lebihan) terhadap para nabi dan orang-orang sholih.
- Menyerupai mereka dalam ibadah mereka, seperti berta’abbud dengan tidak menikah dan tidak makan daging.
- Menyerupai mereka dalam tradisi mereka, seperti libur kerja pada hari Sabtu dan Ahad.
- Menyerupai mereka dalam penampilan mereka, seperti memotong jenggot dan memelihara kumis.
- Menyerupai mereka dalam pakaian mereka, seperti memakai pakaian para raja, para rabi, dan para rahib mereka.
- Merayakan hari-hari besar mereka dan memberikan ucapan selamat kepada mereka atasnya, seperti hari tahun baru dan hari Natal.

Perintah Untuk Menyelisihi Mereka

Diriwayatkan dari Abu Huroyroh rodhiyallohu ‘anhu bahwa Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Rubahlah (catlah) uban dan jangan menyerupai orang-orang Yahudi.” [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi]

Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata: “[Di dalamnya terdapat] dalil bahwa menyerupai mereka bisa terjadi tanpa maksud/niat dari kita dan tanpa perbuatan, melainkan sekedar dengan tidak melakukan perubahan terhadap sesuatu yang diciptakan pada kita. Dan ini lebih dalam daripada kesesuaian (keserupaan) yang berbentuk perbuatan dan persetujuan.” [Iqtidhoo’ ash-shirooth al-Mustaqiim]

Hukum Menyerupai Mereka

Diriwayatkan dari ‘Umar rodhiyallohu ‘anhu bahwa Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia merupakan bagian dari mereka.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud]

Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata: “Hadits ini bisa dibawa kepada tasyabbuh secara mutlak, bahwa ia menetapkan kekufuran, dan ini menunjukkan keharaman bagian-bagiannya. Dan bisa juga dipahami bahwa dia merupakan bagian dari mereka dalam perkara yang dia menyerupai mereka di dalamnya. Jika perkara itu adalah suatu kekufuran, atau suatu kemaksiatan, atau suatu syiar baginya, maka hukumnya begitu juga. Apa pun adanya, hadits ini menunjukkan keharaman tasyabbuh dengan ‘illah (alasan) keberadaannya sebagai tasyabbuh.” [Iqtidhoo’ ash-shirooth al-Mustaqiim]

Infografik An-Naba’