RUMIYAH 6 - SEJARAH
POTRET KESUNGGUHAN PARA SAHABAT MERAIH SYAHID
Generasi as-sabiqunal awwalun mengetahui bahwa surga adalah dagangan Allah yang mahal. Mereka juga mengetahui bahwa harga surga itu tidak akan bisa dibayar kecuali oleh orang-orang yang mengerahkan seluruh kesungguhannya. Mereka cari setiap jalan yang mengantarkannya meraih ridha Allah sembari memohon agar dimudahkan dan diterima.
Engkau melihat mereka berazam kuat untuk berjual beli dengan Allah. Mereka jual jiwa dan hartanya agar bisa membeli surga-Nya,
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu kedalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ketempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. ash-Shaf: 10-12)
Ketika telah mengetahui bahwa jalan pintasnya adalah mati syahid di jalan Allah mereka segera terjun ke medan tempur. Mereka bersegera pantang mundur menyambut kematian demi mendapatkan kehidupan sejati.
Anas bin an-Nadhr Menyerbu Orang-orang Musyrik Pada Perang Uhud
Inilah Anas bin an-Nadhr radhiyallahu anhu yang amat bersedih karena absen dalam Perang Badar. Akan tetapi kemudian dia bersumpah dan berjanji. Mari kita simak penuturan putra saudaranya Anas bin Malik tentang aksi pamannya, katanya, “Pamanku Anas bin an-Nadhr absen pada perang Badar. Lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku telah absen pada pertempuran pertama engkau melawan orangorang musyrik. Sungguh seandainya Allah mengizinkanku untuk ikut memerangi orang-orang musyrik niscaya Dia akan melihat aksiku! Maka tatkala kaum muslimin tercerai-berai pada Perang Uhud dia berkata, ‘Ya Allah aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh mereka – para sahabatnya – dan aku berlepas diri kepadaMu dari apa yang dilakukan oleh mereka – kaum musyrikin –.’ Kemudian diapun maju. Sa’ad bin Mu’adz menghadangnya, namun katanya, ‘Wahai Sa’ad bin Muadz, surga, demi Rabb an-Nadhr, sungguh aku mencium aromanya di balik Uhud! Sa’ad berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak mampu melakukan seperti aksinya.’
Anas berkata, “Kami mendapatinya terluka lebih dari delapan puluh sabetan pedang, hujaman tombak atau tusukan anak panah. Kami mendapatinya telah terbunuh dan dimutilasi oleh kaum musyrikin. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudarinya melalui jari-jemarinya.” Anas berkata, “Kami mengira bahwa ayat ini turun berkenaan dengan dirinya dan yang semisalnya, ‘Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah’.” (QS. al-Ahzab: 23).
Umair bin al-Hammam Bersegera Menuju Surga Seluas Langit dan Bumi
Anas radhiyallahu anhu menuturkan kepada kita, katanya, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat berangkat hingga mendahului kaum musyrikin sampai di Badar. Lalu kaum musyrikin datang. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Janganlah kalian melakukan sesuatupun sampai aku perintahkan!. Ketika kaum musyrikin bergerak mendekat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Bangkitlah menuju Jannah yang seluas langit dan bumi.’ Umair bin al-Hammam berkata, ‘Wahai Rasulullah, surga itu seluas langit dan bumi? Beliau menjawab, ‘Betul.’ Dia berkata, ‘Bakhin, bakhin (kata untuk mengungkapkan rasa gembira).’ Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Apa yang membuatmu mengatakan bakh bakh? Jawabnya, ‘Tidak, demi Allah, (tidak ada yang mendorongku melakukannya) kecuali karena aku berharap menjadi penghuninya.’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya.’ Dia lalu mengeluarkan beberapa butir kurma dari tanduknya dan memakannya, kemudian berkata, ‘Jika aku masih hidup hingga aku dapat memakan kurma-kurmaku ini maka sungguh terlalu lama.’ Dia langsung melemparkan kurma yang ada di tangannya, kemudian langsung melompat menyerbu orang-orang musyrik sampai gugur.
Komandan Sariyah Mu’tah Memburu Syahadah
Pada perang Mu’tah, Ja’far bin Abi Thalib mengangkat panji pasukan dengan tangan kanannya. Namun kemudian terpotong, maka dipeganngya dengan tangan kirinya hingga terpotong juga. Sehingga ia memeluknya dengan kedua lengannya hingga terbunuh. Saat itu usianya tiga puluh tiga tahun. Allah mengganti dua tangannya itu dengan sepasang sayap sehingga bisa beterbangan di surga. Dikisahkan bahwa seorang tentara Romawi telah menebasnya sehingga tubuhnya terbelah menjadi dua.
Arab Badui Muhajir
Lihatlah kejujuran mereka kepada Allah. Syaddad bin al-Hadi radhiyallahu anhu meriwayatkan, “Seorang laki-laki Badui mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk beriman dan mengikutinya. Dia berkata, ‘Aku akan hijrah bersama Anda.’ Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu menitipkannya kepada sebagian sahabat. Disaat perang usai, Nabi mendapat ghanimah. Beliau membaginya dan memberikan bagian untuknya. Beliau memberi para sahabatnya sama seperti bagiannya. Dia telah melindungi punggung pasukan. Ketika dia datang mereka segera memberikan bagian itu kepadanya. Ia bertanya, ‘Apa ini? Mereka menjawab, ‘Bagian yang Nabi - ? berikan kepadamu. Dia mengambilnya lalu mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan bertanya, ‘Apa ini? Beliau menjawab, ‘Aku membaginya untukmu.’ Dia berkata, ‘Bukan untuk ini aku mengikutimu, akan tetapi aku mengikutimu agar mati terkena panah di sini – sambil menunjuk tenggorokannya – sehingga aku masuk surga.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah mempercayaimu.’ Selang beberapa saat kemudian mereka bergerak untuk berperang. Ia lalu dibawa ke hadapan Nabi dan anak panah telah menembus tempat yang ditunjuknya. Nabi bersabda, ‘Apakah dia orangnya? Para sahabat menjawab, ‘Betul.’ Nabi bersabda, ‘Dia telah jujur kepada Allah, maka Allahpun jujur kepadanya.’ Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam mengkafaninya dengan jubahnya, meletakkannya di depan, lalu menyalatinya. Dalam shalatnya beliau berdoa, ‘Ya Allah ini ada- lah hamba-Mu, keluar berhijrah di jalan-Mu, lalu terbunuh syahid, dan aku saksinya.’
Abu Ukail radhiyallahu anhu Terus Bertempur Sekalipun Terluka Parah
Lihatlah pada Perang Yamamah, pada orang-orang yang membela agama selama nadi masih terus berdenyut sampai gugur sebagai syuhada. Ja’far bin Abdullah bin Aslam menuturkan, “Tatkala Perang Yamamah dan kedua pasukan telah berhadapan, orang yang pertama kali terluka adalah Abu Ukail, terkena panah diantara kedua pundak dan jantungnya namun tidak fatal. Anak panah itu lalu dicabut yang lalu melemahkan badan sebelah kirinya. Ia lalu dibawa ke kemah untuk pengobatan. Disaat puncak-puncaknya pertempuran kaum muslimin terpukul mundur sampai mendekati kemah-kemah mereka. Ketika itu Abu Ukail dalam kondisi lemah karena lukanya. Ia mendengar Ma’an bin Adi berteriak, ‘Wahai Anshar, (takutlah) kepada Allah, (takutlah) kepada Allah, serang balik musuh kalian! Abdullah bin Umar berkata, ‘Abu Ukail segera bangkit menyambut seruan itu, aku segera mencegahnya, ‘Hendak kemana? Kamu belum kuat berperang! Dia berkata, ‘Seorang penyeru telah berteriak memanggil namaku! Ibnu Umar menjawab, ‘Dia hanya memanggil Anshar, bukan orang-orang yang terluka.’ Abu Ukail menimpali, ‘Aku bagian dari Anshar, dan aku menjawab se- ruannya walaupun dengan merangkak! Ibnu Umar berkata, ‘Abu Ukail segera bangkit dan menyambar pedangnya dengan tangan kanan, kemudian dia mulai memanggil, ‘Wahai Anshar, serang balik musuhmu seperti saat Perang Hunain! Berkumpul lah kalian semua semoga Allah merahmati kalian, majulah karena sesungguhnya kaum Muslimin adalah laksana perisa pelindung! Mereka berhasil memojokkan musuhnya di al-Hadiqoh. Terjadilah perang campuh dan pedang saling berkilatan. Ibnu Umar berkata, ‘Aku melihat tangan Abu Ukail yang terluka tertebas dan jatuh ke tanah. Dia terluka sebanyak empat belas sabetan, semua itu menghantarkannya kepada kematian. Musailamah si musuh Allah juga terbunuh.’
Ibnu Umar berkata, ‘Aku menemukan Abu Ukail terkapar sekarat. Aku berkata, ‘Wahai Abu Ukail! Dia menjawab dengan lemah, ‘Labaik, pihak mana yang menang? Aku berkata, ‘Berbahagialah, sungguh musuh Allah telah tewas.’ Dia mengangkat jari telunjuknya kelangit seraya memuji Allah, kemudian wafat, semoga Allah merahmatinya.’
Al-Barra bin Malik radhiyallahu anhu In-ghimas Ke Dalam Benteng Murtadin
Pelaku in-ghimasi pertama dalam Islam adalah alBarra bin Malik saudara Anas bin Malik radhiyallahu anhu. Diriwayatkan dari Ibnu Sirin bahwasannya kaum Muslimin berhasil sampai di sebuah benteng tempat konsentrasi pasukan musyrikin. Lalu al-Barra duduk diatas sebuah tameng dan berkata, ‘Angkatlah aku dengan tombak-tombak kalian kemudian lemparkan aku.’ Maka para sahabat melemparkannya ke dalam benteng. Anas berkata, ‘Kaum muslimin lalu menemukannya dan dia telah membunuh sepuluh tentara musuh. Pada waktu itu ia mendapat lebih dari delapan puluh tusukan panah maupun sabetan pedang. Khalid bin al-Walid merawatnya selama satu bulan penuh sampai luka-lukanya sembuh.”
Amaliyah Istisyhadiyah Salim Maula Abu Hudzaifah radhiyallahu anhu
Dari Muhammad bin Tsabit bin Qais bin Syammas al-Anshari berkata, “Tatkala kaum Muslimin terpukul mundur di perang Yamamah, Salim Maula Abi Hudzaifah berkata, ‘Tidaklah seperti ini yang kami lakukan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam! Maka dia menggali sebuah lubang lalu berdiri di dalamnya sambil mengangkat panji Muhajirin, kemudian berperang hingga terbunuh syahid.
Busr bin Artha’ah Ber-inghimas Ke Dalam Markas Romawi
Dari Ala’ bin Sufyan al-Hadhrami berkata, “Busr bin Artha’ah mengomandoi penyerbuan terhadap Romawi. Namun garis belakang pasukannya selalu porak poranda. Ia berusaha mempersiapkan penyergapan, namun juga gagal. Ketika melihat hal itu ia lalu menjaga garis belakang pasukannya bersama seratus prajuritnya. Suatu hari ia sendirian menyelidiki suatu lembah Romawi. Didapatinya ada tiga puluh ekor kuda yang tertambat di samping sebuah gereja. Para penunggangnya itulah yang telah memporak-porandakan garis belakang pasukannya, mereka berada di dalam gereja. Maka dia turun dari kudanya dan mengikatnya. Kemudian dia masuk kedalam gereja dan mengunci pintunya. Para prajurit Romawi itu terheran-heran dengan kenekatannya. Belum lagi mereka sempat menyambarkan tombak-tombaknya ternyata tiga Operasi istisyhadiyah, jalan singkat untuk menggapai kesyahidan orang telah berhasil dijatuhkan. Para sahabatnya mulai sadar jika ia (Busr) hilang dan mulai mencarinya. Mereka menjumpai kudanya dan mendengar keributan di dalam gereja. Mereka mendatanginya namun ternyata pintunya terkunci. Mereka lalu membongkar atap dan turun ke dalam gereja. Saat itu Busr tengah menahan ususnya dan pedang di tangan kanannya. Saat para sahabatnya berhasil menguasai gereja Busr tersungkur pingsan. Kawan-kawannya segera menghadapi para prajurit Romawi itu dan berhasil membunuh serta menawan mereka. Para tawanan lalu bertanya, ‘Demi Allah kami bertanya kepada kalian siapa ini? Mereka menjawab, ‘Busr bin Artha’ah. Mereka berkata, ‘Demi Allah tidak ada wanita yang melahirkan manusia sepertinya! Kemudian mereka mengembalikan usus Busr ke dalam perutnya tanpa kurang sedikitpun lalu membalutnya dengan sorban. Busr lalu dievakuasi dan dirawat sampai sembuh.”
Demikianlah kesungguhan para sahabat untuk meraih derajat surga yang tinggi ini. Meski mereka itu adalah manusia yang paling bertaqwa, paling berilmu, namun kesungguhan menuntut ilmu dan mengajarkannya tidaklah menghalangi mereka untuk berusaha meraih syahadah, dan tidak pula bergantung kepada dunia, orang tua maupun anak.
Tapak kaki mereka telah menjadi petunjuk sampai hari kiamat, sampai generasi terakhir pengikut mereka memerangi Dajjal dengan izin Allah ta'ala.
POTRET KESUNGGUHAN PARA SAHABAT MERAIH SYAHID
Generasi as-sabiqunal awwalun mengetahui bahwa surga adalah dagangan Allah yang mahal. Mereka juga mengetahui bahwa harga surga itu tidak akan bisa dibayar kecuali oleh orang-orang yang mengerahkan seluruh kesungguhannya. Mereka cari setiap jalan yang mengantarkannya meraih ridha Allah sembari memohon agar dimudahkan dan diterima.
Engkau melihat mereka berazam kuat untuk berjual beli dengan Allah. Mereka jual jiwa dan hartanya agar bisa membeli surga-Nya,
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu kedalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ketempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. ash-Shaf: 10-12)
Ketika telah mengetahui bahwa jalan pintasnya adalah mati syahid di jalan Allah mereka segera terjun ke medan tempur. Mereka bersegera pantang mundur menyambut kematian demi mendapatkan kehidupan sejati.
Anas bin an-Nadhr Menyerbu Orang-orang Musyrik Pada Perang Uhud
Inilah Anas bin an-Nadhr radhiyallahu anhu yang amat bersedih karena absen dalam Perang Badar. Akan tetapi kemudian dia bersumpah dan berjanji. Mari kita simak penuturan putra saudaranya Anas bin Malik tentang aksi pamannya, katanya, “Pamanku Anas bin an-Nadhr absen pada perang Badar. Lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku telah absen pada pertempuran pertama engkau melawan orangorang musyrik. Sungguh seandainya Allah mengizinkanku untuk ikut memerangi orang-orang musyrik niscaya Dia akan melihat aksiku! Maka tatkala kaum muslimin tercerai-berai pada Perang Uhud dia berkata, ‘Ya Allah aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh mereka – para sahabatnya – dan aku berlepas diri kepadaMu dari apa yang dilakukan oleh mereka – kaum musyrikin –.’ Kemudian diapun maju. Sa’ad bin Mu’adz menghadangnya, namun katanya, ‘Wahai Sa’ad bin Muadz, surga, demi Rabb an-Nadhr, sungguh aku mencium aromanya di balik Uhud! Sa’ad berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak mampu melakukan seperti aksinya.’
Anas berkata, “Kami mendapatinya terluka lebih dari delapan puluh sabetan pedang, hujaman tombak atau tusukan anak panah. Kami mendapatinya telah terbunuh dan dimutilasi oleh kaum musyrikin. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudarinya melalui jari-jemarinya.” Anas berkata, “Kami mengira bahwa ayat ini turun berkenaan dengan dirinya dan yang semisalnya, ‘Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah’.” (QS. al-Ahzab: 23).
Umair bin al-Hammam Bersegera Menuju Surga Seluas Langit dan Bumi
Anas radhiyallahu anhu menuturkan kepada kita, katanya, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat berangkat hingga mendahului kaum musyrikin sampai di Badar. Lalu kaum musyrikin datang. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Janganlah kalian melakukan sesuatupun sampai aku perintahkan!. Ketika kaum musyrikin bergerak mendekat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Bangkitlah menuju Jannah yang seluas langit dan bumi.’ Umair bin al-Hammam berkata, ‘Wahai Rasulullah, surga itu seluas langit dan bumi? Beliau menjawab, ‘Betul.’ Dia berkata, ‘Bakhin, bakhin (kata untuk mengungkapkan rasa gembira).’ Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Apa yang membuatmu mengatakan bakh bakh? Jawabnya, ‘Tidak, demi Allah, (tidak ada yang mendorongku melakukannya) kecuali karena aku berharap menjadi penghuninya.’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya.’ Dia lalu mengeluarkan beberapa butir kurma dari tanduknya dan memakannya, kemudian berkata, ‘Jika aku masih hidup hingga aku dapat memakan kurma-kurmaku ini maka sungguh terlalu lama.’ Dia langsung melemparkan kurma yang ada di tangannya, kemudian langsung melompat menyerbu orang-orang musyrik sampai gugur.
Komandan Sariyah Mu’tah Memburu Syahadah
Pada perang Mu’tah, Ja’far bin Abi Thalib mengangkat panji pasukan dengan tangan kanannya. Namun kemudian terpotong, maka dipeganngya dengan tangan kirinya hingga terpotong juga. Sehingga ia memeluknya dengan kedua lengannya hingga terbunuh. Saat itu usianya tiga puluh tiga tahun. Allah mengganti dua tangannya itu dengan sepasang sayap sehingga bisa beterbangan di surga. Dikisahkan bahwa seorang tentara Romawi telah menebasnya sehingga tubuhnya terbelah menjadi dua.
Arab Badui Muhajir
Lihatlah kejujuran mereka kepada Allah. Syaddad bin al-Hadi radhiyallahu anhu meriwayatkan, “Seorang laki-laki Badui mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk beriman dan mengikutinya. Dia berkata, ‘Aku akan hijrah bersama Anda.’ Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu menitipkannya kepada sebagian sahabat. Disaat perang usai, Nabi mendapat ghanimah. Beliau membaginya dan memberikan bagian untuknya. Beliau memberi para sahabatnya sama seperti bagiannya. Dia telah melindungi punggung pasukan. Ketika dia datang mereka segera memberikan bagian itu kepadanya. Ia bertanya, ‘Apa ini? Mereka menjawab, ‘Bagian yang Nabi - ? berikan kepadamu. Dia mengambilnya lalu mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan bertanya, ‘Apa ini? Beliau menjawab, ‘Aku membaginya untukmu.’ Dia berkata, ‘Bukan untuk ini aku mengikutimu, akan tetapi aku mengikutimu agar mati terkena panah di sini – sambil menunjuk tenggorokannya – sehingga aku masuk surga.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah mempercayaimu.’ Selang beberapa saat kemudian mereka bergerak untuk berperang. Ia lalu dibawa ke hadapan Nabi dan anak panah telah menembus tempat yang ditunjuknya. Nabi bersabda, ‘Apakah dia orangnya? Para sahabat menjawab, ‘Betul.’ Nabi bersabda, ‘Dia telah jujur kepada Allah, maka Allahpun jujur kepadanya.’ Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam mengkafaninya dengan jubahnya, meletakkannya di depan, lalu menyalatinya. Dalam shalatnya beliau berdoa, ‘Ya Allah ini ada- lah hamba-Mu, keluar berhijrah di jalan-Mu, lalu terbunuh syahid, dan aku saksinya.’
Abu Ukail radhiyallahu anhu Terus Bertempur Sekalipun Terluka Parah
Lihatlah pada Perang Yamamah, pada orang-orang yang membela agama selama nadi masih terus berdenyut sampai gugur sebagai syuhada. Ja’far bin Abdullah bin Aslam menuturkan, “Tatkala Perang Yamamah dan kedua pasukan telah berhadapan, orang yang pertama kali terluka adalah Abu Ukail, terkena panah diantara kedua pundak dan jantungnya namun tidak fatal. Anak panah itu lalu dicabut yang lalu melemahkan badan sebelah kirinya. Ia lalu dibawa ke kemah untuk pengobatan. Disaat puncak-puncaknya pertempuran kaum muslimin terpukul mundur sampai mendekati kemah-kemah mereka. Ketika itu Abu Ukail dalam kondisi lemah karena lukanya. Ia mendengar Ma’an bin Adi berteriak, ‘Wahai Anshar, (takutlah) kepada Allah, (takutlah) kepada Allah, serang balik musuh kalian! Abdullah bin Umar berkata, ‘Abu Ukail segera bangkit menyambut seruan itu, aku segera mencegahnya, ‘Hendak kemana? Kamu belum kuat berperang! Dia berkata, ‘Seorang penyeru telah berteriak memanggil namaku! Ibnu Umar menjawab, ‘Dia hanya memanggil Anshar, bukan orang-orang yang terluka.’ Abu Ukail menimpali, ‘Aku bagian dari Anshar, dan aku menjawab se- ruannya walaupun dengan merangkak! Ibnu Umar berkata, ‘Abu Ukail segera bangkit dan menyambar pedangnya dengan tangan kanan, kemudian dia mulai memanggil, ‘Wahai Anshar, serang balik musuhmu seperti saat Perang Hunain! Berkumpul lah kalian semua semoga Allah merahmati kalian, majulah karena sesungguhnya kaum Muslimin adalah laksana perisa pelindung! Mereka berhasil memojokkan musuhnya di al-Hadiqoh. Terjadilah perang campuh dan pedang saling berkilatan. Ibnu Umar berkata, ‘Aku melihat tangan Abu Ukail yang terluka tertebas dan jatuh ke tanah. Dia terluka sebanyak empat belas sabetan, semua itu menghantarkannya kepada kematian. Musailamah si musuh Allah juga terbunuh.’
Ibnu Umar berkata, ‘Aku menemukan Abu Ukail terkapar sekarat. Aku berkata, ‘Wahai Abu Ukail! Dia menjawab dengan lemah, ‘Labaik, pihak mana yang menang? Aku berkata, ‘Berbahagialah, sungguh musuh Allah telah tewas.’ Dia mengangkat jari telunjuknya kelangit seraya memuji Allah, kemudian wafat, semoga Allah merahmatinya.’
Al-Barra bin Malik radhiyallahu anhu In-ghimas Ke Dalam Benteng Murtadin
Pelaku in-ghimasi pertama dalam Islam adalah alBarra bin Malik saudara Anas bin Malik radhiyallahu anhu. Diriwayatkan dari Ibnu Sirin bahwasannya kaum Muslimin berhasil sampai di sebuah benteng tempat konsentrasi pasukan musyrikin. Lalu al-Barra duduk diatas sebuah tameng dan berkata, ‘Angkatlah aku dengan tombak-tombak kalian kemudian lemparkan aku.’ Maka para sahabat melemparkannya ke dalam benteng. Anas berkata, ‘Kaum muslimin lalu menemukannya dan dia telah membunuh sepuluh tentara musuh. Pada waktu itu ia mendapat lebih dari delapan puluh tusukan panah maupun sabetan pedang. Khalid bin al-Walid merawatnya selama satu bulan penuh sampai luka-lukanya sembuh.”
Amaliyah Istisyhadiyah Salim Maula Abu Hudzaifah radhiyallahu anhu
Dari Muhammad bin Tsabit bin Qais bin Syammas al-Anshari berkata, “Tatkala kaum Muslimin terpukul mundur di perang Yamamah, Salim Maula Abi Hudzaifah berkata, ‘Tidaklah seperti ini yang kami lakukan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam! Maka dia menggali sebuah lubang lalu berdiri di dalamnya sambil mengangkat panji Muhajirin, kemudian berperang hingga terbunuh syahid.
Busr bin Artha’ah Ber-inghimas Ke Dalam Markas Romawi
Dari Ala’ bin Sufyan al-Hadhrami berkata, “Busr bin Artha’ah mengomandoi penyerbuan terhadap Romawi. Namun garis belakang pasukannya selalu porak poranda. Ia berusaha mempersiapkan penyergapan, namun juga gagal. Ketika melihat hal itu ia lalu menjaga garis belakang pasukannya bersama seratus prajuritnya. Suatu hari ia sendirian menyelidiki suatu lembah Romawi. Didapatinya ada tiga puluh ekor kuda yang tertambat di samping sebuah gereja. Para penunggangnya itulah yang telah memporak-porandakan garis belakang pasukannya, mereka berada di dalam gereja. Maka dia turun dari kudanya dan mengikatnya. Kemudian dia masuk kedalam gereja dan mengunci pintunya. Para prajurit Romawi itu terheran-heran dengan kenekatannya. Belum lagi mereka sempat menyambarkan tombak-tombaknya ternyata tiga Operasi istisyhadiyah, jalan singkat untuk menggapai kesyahidan orang telah berhasil dijatuhkan. Para sahabatnya mulai sadar jika ia (Busr) hilang dan mulai mencarinya. Mereka menjumpai kudanya dan mendengar keributan di dalam gereja. Mereka mendatanginya namun ternyata pintunya terkunci. Mereka lalu membongkar atap dan turun ke dalam gereja. Saat itu Busr tengah menahan ususnya dan pedang di tangan kanannya. Saat para sahabatnya berhasil menguasai gereja Busr tersungkur pingsan. Kawan-kawannya segera menghadapi para prajurit Romawi itu dan berhasil membunuh serta menawan mereka. Para tawanan lalu bertanya, ‘Demi Allah kami bertanya kepada kalian siapa ini? Mereka menjawab, ‘Busr bin Artha’ah. Mereka berkata, ‘Demi Allah tidak ada wanita yang melahirkan manusia sepertinya! Kemudian mereka mengembalikan usus Busr ke dalam perutnya tanpa kurang sedikitpun lalu membalutnya dengan sorban. Busr lalu dievakuasi dan dirawat sampai sembuh.”
Demikianlah kesungguhan para sahabat untuk meraih derajat surga yang tinggi ini. Meski mereka itu adalah manusia yang paling bertaqwa, paling berilmu, namun kesungguhan menuntut ilmu dan mengajarkannya tidaklah menghalangi mereka untuk berusaha meraih syahadah, dan tidak pula bergantung kepada dunia, orang tua maupun anak.
Tapak kaki mereka telah menjadi petunjuk sampai hari kiamat, sampai generasi terakhir pengikut mereka memerangi Dajjal dengan izin Allah ta'ala.