Tampilkan postingan dengan label Rumiyah Edisi 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumiyah Edisi 6. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

POTRET KESUNGGUHAN PARA SAHABAT MERAIH SYAHID

RUMIYAH 6 - SEJARAH

POTRET KESUNGGUHAN PARA SAHABAT MERAIH SYAHID

Generasi as-sabiqunal awwalun mengetahui bahwa surga adalah dagangan Allah yang mahal. Mereka juga mengetahui bahwa harga surga itu tidak akan bisa dibayar kecuali oleh orang-orang yang mengerahkan seluruh kesungguhannya. Mereka cari setiap jalan yang mengantarkannya meraih ridha Allah sembari memohon agar dimudahkan dan diterima.

Engkau melihat mereka berazam kuat untuk berjual beli dengan Allah. Mereka jual jiwa dan hartanya agar bisa membeli surga-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu kedalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ketempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. ash-Shaf: 10-12)

Ketika telah mengetahui bahwa jalan pintasnya adalah mati syahid di jalan Allah mereka segera terjun ke medan tempur. Mereka bersegera pantang mundur menyambut kematian demi mendapatkan kehidupan sejati.

Anas bin an-Nadhr Menyerbu Orang-orang Musyrik Pada Perang Uhud

Inilah Anas bin an-Nadhr radhiyallahu anhu yang amat bersedih karena absen dalam Perang Badar. Akan tetapi kemudian dia bersumpah dan berjanji. Mari kita simak penuturan putra saudaranya Anas bin Malik tentang aksi pamannya, katanya, “Pamanku Anas bin an-Nadhr absen pada perang Badar. Lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku telah absen pada pertempuran pertama engkau melawan orangorang musyrik. Sungguh seandainya Allah mengizinkanku untuk ikut memerangi orang-orang musyrik niscaya Dia akan melihat aksiku! Maka tatkala kaum muslimin tercerai-berai pada Perang Uhud dia berkata, ‘Ya Allah aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh mereka – para sahabatnya – dan aku berlepas diri kepadaMu dari apa yang dilakukan oleh mereka – kaum musyrikin –.’ Kemudian diapun maju. Sa’ad bin Mu’adz menghadangnya, namun katanya, ‘Wahai Sa’ad bin Muadz, surga, demi Rabb an-Nadhr, sungguh aku mencium aromanya di balik Uhud! Sa’ad berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak mampu melakukan seperti aksinya.’

Anas berkata, “Kami mendapatinya terluka lebih dari delapan puluh sabetan pedang, hujaman tombak atau tusukan anak panah. Kami mendapatinya telah terbunuh dan dimutilasi oleh kaum musyrikin. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudarinya melalui jari-jemarinya.” Anas berkata, “Kami mengira bahwa ayat ini turun berkenaan dengan dirinya dan yang semisalnya, ‘Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah’.” (QS. al-Ahzab: 23).

Umair bin al-Hammam Bersegera Menuju Surga Seluas Langit dan Bumi

Anas radhiyallahu anhu menuturkan kepada kita, katanya, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat berangkat hingga mendahului kaum musyrikin sampai di Badar. Lalu kaum musyrikin datang. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Janganlah kalian melakukan sesuatupun sampai aku perintahkan!. Ketika kaum musyrikin bergerak mendekat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Bangkitlah menuju Jannah yang seluas langit dan bumi.’ Umair bin al-Hammam berkata, ‘Wahai Rasulullah, surga itu seluas langit dan bumi? Beliau menjawab, ‘Betul.’ Dia berkata, ‘Bakhin, bakhin (kata untuk mengungkapkan rasa gembira).’ Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Apa yang membuatmu mengatakan bakh bakh? Jawabnya, ‘Tidak, demi Allah, (tidak ada yang mendorongku melakukannya) kecuali karena aku berharap menjadi penghuninya.’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya.’ Dia lalu mengeluarkan beberapa butir kurma dari tanduknya dan memakannya, kemudian berkata, ‘Jika aku masih hidup hingga aku dapat memakan kurma-kurmaku ini maka sungguh terlalu lama.’ Dia langsung melemparkan kurma yang ada di tangannya, kemudian langsung melompat menyerbu orang-orang musyrik sampai gugur.

Komandan Sariyah Mu’tah Memburu Syahadah

Pada perang Mu’tah, Ja’far bin Abi Thalib mengangkat panji pasukan dengan tangan kanannya. Namun kemudian terpotong, maka dipeganngya dengan tangan kirinya hingga terpotong juga. Sehingga ia memeluknya dengan kedua lengannya hingga terbunuh. Saat itu usianya tiga puluh tiga tahun. Allah mengganti dua tangannya itu dengan sepasang sayap sehingga bisa beterbangan di surga. Dikisahkan bahwa seorang tentara Romawi telah menebasnya sehingga tubuhnya terbelah menjadi dua.

Arab Badui Muhajir

Lihatlah kejujuran mereka kepada Allah. Syaddad bin al-Hadi radhiyallahu anhu meriwayatkan, “Seorang laki-laki Badui mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk beriman dan mengikutinya. Dia berkata, ‘Aku akan hijrah bersama Anda.’ Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu menitipkannya kepada sebagian sahabat. Disaat perang usai, Nabi mendapat ghanimah. Beliau membaginya dan memberikan bagian untuknya. Beliau memberi para sahabatnya sama seperti bagiannya. Dia telah melindungi punggung pasukan. Ketika dia datang mereka segera memberikan bagian itu kepadanya. Ia bertanya, ‘Apa ini? Mereka menjawab, ‘Bagian yang Nabi - ? berikan kepadamu. Dia mengambilnya lalu mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan bertanya, ‘Apa ini? Beliau menjawab, ‘Aku membaginya untukmu.’ Dia berkata, ‘Bukan untuk ini aku mengikutimu, akan tetapi aku mengikutimu agar mati terkena panah di sini – sambil menunjuk tenggorokannya – sehingga aku masuk surga.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah mempercayaimu.’ Selang beberapa saat kemudian mereka bergerak untuk berperang. Ia lalu dibawa ke hadapan Nabi dan anak panah telah menembus tempat yang ditunjuknya. Nabi bersabda, ‘Apakah dia orangnya? Para sahabat menjawab, ‘Betul.’ Nabi bersabda, ‘Dia telah jujur kepada Allah, maka Allahpun jujur kepadanya.’ Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam mengkafaninya dengan jubahnya, meletakkannya di depan, lalu menyalatinya. Dalam shalatnya beliau berdoa, ‘Ya Allah ini ada- lah hamba-Mu, keluar berhijrah di jalan-Mu, lalu terbunuh syahid, dan aku saksinya.’

Abu Ukail radhiyallahu anhu Terus Bertempur Sekalipun Terluka Parah

Lihatlah pada Perang Yamamah, pada orang-orang yang membela agama selama nadi masih terus berdenyut sampai gugur sebagai syuhada. Ja’far bin Abdullah bin Aslam menuturkan, “Tatkala Perang Yamamah dan kedua pasukan telah berhadapan, orang yang pertama kali terluka adalah Abu Ukail, terkena panah diantara kedua pundak dan jantungnya namun tidak fatal. Anak panah itu lalu dicabut yang lalu melemahkan badan sebelah kirinya. Ia lalu dibawa ke kemah untuk pengobatan. Disaat puncak-puncaknya pertempuran kaum muslimin terpukul mundur sampai mendekati kemah-kemah mereka. Ketika itu Abu Ukail dalam kondisi lemah karena lukanya. Ia mendengar Ma’an bin Adi berteriak, ‘Wahai Anshar, (takutlah) kepada Allah, (takutlah) kepada Allah, serang balik musuh kalian! Abdullah bin Umar berkata, ‘Abu Ukail segera bangkit menyambut seruan itu, aku segera mencegahnya, ‘Hendak kemana? Kamu belum kuat berperang! Dia berkata, ‘Seorang penyeru telah berteriak memanggil namaku! Ibnu Umar menjawab, ‘Dia hanya memanggil Anshar, bukan orang-orang yang terluka.’ Abu Ukail menimpali, ‘Aku bagian dari Anshar, dan aku menjawab se- ruannya walaupun dengan merangkak! Ibnu Umar berkata, ‘Abu Ukail segera bangkit dan menyambar pedangnya dengan tangan kanan, kemudian dia mulai memanggil, ‘Wahai Anshar, serang balik musuhmu seperti saat Perang Hunain! Berkumpul lah kalian semua semoga Allah merahmati kalian, majulah karena sesungguhnya kaum Muslimin adalah laksana perisa pelindung! Mereka berhasil memojokkan musuhnya di al-Hadiqoh. Terjadilah perang campuh dan pedang saling berkilatan. Ibnu Umar berkata, ‘Aku melihat tangan Abu Ukail yang terluka tertebas dan jatuh ke tanah. Dia terluka sebanyak empat belas sabetan, semua itu menghantarkannya kepada kematian. Musailamah si musuh Allah juga terbunuh.’

Ibnu Umar berkata, ‘Aku menemukan Abu Ukail terkapar sekarat. Aku berkata, ‘Wahai Abu Ukail! Dia menjawab dengan lemah, ‘Labaik, pihak mana yang menang? Aku berkata, ‘Berbahagialah, sungguh musuh Allah telah tewas.’ Dia mengangkat jari telunjuknya kelangit seraya memuji Allah, kemudian wafat, semoga Allah merahmatinya.’

Al-Barra bin Malik radhiyallahu anhu In-ghimas Ke Dalam Benteng Murtadin

Pelaku in-ghimasi pertama dalam Islam adalah alBarra bin Malik saudara Anas bin Malik radhiyallahu anhu. Diriwayatkan dari Ibnu Sirin bahwasannya kaum Muslimin berhasil sampai di sebuah benteng tempat konsentrasi pasukan musyrikin. Lalu al-Barra duduk diatas sebuah tameng dan berkata, ‘Angkatlah aku dengan tombak-tombak kalian kemudian lemparkan aku.’ Maka para sahabat melemparkannya ke dalam benteng. Anas berkata, ‘Kaum muslimin lalu menemukannya dan dia telah membunuh sepuluh tentara musuh. Pada waktu itu ia mendapat lebih dari delapan puluh tusukan panah maupun sabetan pedang. Khalid bin al-Walid merawatnya selama satu bulan penuh sampai luka-lukanya sembuh.”

Amaliyah Istisyhadiyah Salim Maula Abu Hudzaifah radhiyallahu anhu

Dari Muhammad bin Tsabit bin Qais bin Syammas al-Anshari berkata, “Tatkala kaum Muslimin terpukul mundur di perang Yamamah, Salim Maula Abi Hudzaifah berkata, ‘Tidaklah seperti ini yang kami lakukan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam! Maka dia menggali sebuah lubang lalu berdiri di dalamnya sambil mengangkat panji Muhajirin, kemudian berperang hingga terbunuh syahid.

Busr bin Artha’ah Ber-inghimas Ke Dalam Markas Romawi

Dari Ala’ bin Sufyan al-Hadhrami berkata, “Busr bin Artha’ah mengomandoi penyerbuan terhadap Romawi. Namun garis belakang pasukannya selalu porak poranda. Ia berusaha mempersiapkan penyergapan, namun juga gagal. Ketika melihat hal itu ia lalu menjaga garis belakang pasukannya bersama seratus prajuritnya. Suatu hari ia sendirian menyelidiki suatu lembah Romawi. Didapatinya ada tiga puluh ekor kuda yang tertambat di samping sebuah gereja. Para penunggangnya itulah yang telah memporak-porandakan garis belakang pasukannya, mereka berada di dalam gereja. Maka dia turun dari kudanya dan mengikatnya. Kemudian dia masuk kedalam gereja dan mengunci pintunya. Para prajurit Romawi itu terheran-heran dengan kenekatannya. Belum lagi mereka sempat menyambarkan tombak-tombaknya ternyata tiga Operasi istisyhadiyah, jalan singkat untuk menggapai kesyahidan orang telah berhasil dijatuhkan. Para sahabatnya mulai sadar jika ia (Busr) hilang dan mulai mencarinya. Mereka menjumpai kudanya dan mendengar keributan di dalam gereja. Mereka mendatanginya namun ternyata pintunya terkunci. Mereka lalu membongkar atap dan turun ke dalam gereja. Saat itu Busr tengah menahan ususnya dan pedang di tangan kanannya. Saat para sahabatnya berhasil menguasai gereja Busr tersungkur pingsan. Kawan-kawannya segera menghadapi para prajurit Romawi itu dan berhasil membunuh serta menawan mereka. Para tawanan lalu bertanya, ‘Demi Allah kami bertanya kepada kalian siapa ini? Mereka menjawab, ‘Busr bin Artha’ah. Mereka berkata, ‘Demi Allah tidak ada wanita yang melahirkan manusia sepertinya! Kemudian mereka mengembalikan usus Busr ke dalam perutnya tanpa kurang sedikitpun lalu membalutnya dengan sorban. Busr lalu dievakuasi dan dirawat sampai sembuh.”

Demikianlah kesungguhan para sahabat untuk meraih derajat surga yang tinggi ini. Meski mereka itu adalah manusia yang paling bertaqwa, paling berilmu, namun kesungguhan menuntut ilmu dan mengajarkannya tidaklah menghalangi mereka untuk berusaha meraih syahadah, dan tidak pula bergantung kepada dunia, orang tua maupun anak.

Tapak kaki mereka telah menjadi petunjuk sampai hari kiamat, sampai generasi terakhir pengikut mereka memerangi Dajjal dengan izin Allah ta'ala.

WAWANCARA BERSAMA KOMANDAN MILITER WILAYAH HOMS

RUMIYAH 6 - WAWANCARA

WAWANCARA BERSAMA KOMANDAN MILITER WILAYAH HOMS

Tanya: Bagaimana kondisi front pertempuran di sekitar kota Tadmur sebelum penaklukkan, dan persiapan menaklukkannya?

Jawab: Junud Khilafah sebelumnya pernah menguasai kota Tadmur pada bulan Sya’ban 1436 H, dan pasukan Nushairi beserta milisi-milisi Rafidhah tidak sanggup untuk merebutnya kembali meski telah melancarkan puluhan serangan yang mengakibatkan ratusan personil tempur mereka tewas dan terluka, bahkan puluhan kendaraan mereka hancur, sampai akhirnya datang bantuan udara Rusia secara intensif dalam operasi militer mereka untuk menyerang kota yang dimulai dari bulan Jumadal Akhirah tahun 1437 H. Mereka mobilisasi ribuan pasukan darat mereka, dari pasukan rezim, milisi-milisi Rafidhah, dan infantri darat Rusia beserta para penasehat militernya, ditambah dengan bombardir intens, sehingga dalam sehari bisa berjatuhan sekitar 100 roket, bom birmil dan bom gas terhadap kota hanya dalam waktu sehari, mujahidin pun terpaksa mundur dari kota. Setelahnya, mujahidin kembali melancarkan serangkaian operasi atrisi, menguras energi musuh dengan taktik serangan ‘hit and run’, dan operasi militer skala besar terhadap sejumlah posisi tempur Nushairi di distrik Syair, Jazl dan sejumlah daerah dekat kota Tadmur. Kemudian operasi mujahidin berfokus di front timur. Hasil peperangan di Tadmur dan sekitarnya sejak Junud Khilafah menguasainya untuk pertama kalinya pada bulan Sya’ban 1436 H sampai awal bulan Rabi’ul Awwal 1438 H adalah sekitar 1700 tentara rezim dan militan Rafidhah tewas dan luka-luka, lalu tujuh tentara Rusia, diantaranya penasehat militer dan pilot helikopter tewas, sementara jumlah kendaraan yang berhasil dihancurkan dan menjadi rampasan perang Mujahidin mencapai 236 unit kendaraan. Diantaranya 71 buah Tank, 18 senapan mesin berat kaliber 23 mm, artilleri kaliber 57 mm, dua senapan mesin kaliber 14,5mm, 20 meriam artileri 122 mm dan 130 mm, dan banyak mobil 4x4 yang dilengkapi dengan senapan mesin berat. Satu helikopter Rusia juga berhasil ditembak jatuh, walillahilhamd.

Tanya: Berapa jumlah musuh di dalam Tadmur sebelum penaklukkan dan dimana saja posisi mereka?

Jawab: Rezim Nushairi beserta pasukan Rusia dan milisi-milisi Rafidhah yang membantunya menjadikan sejumlah daerah sebagai pos taktis utama bagi mereka, baik di dalam kota dan sekitarnya, guna memperkuat lini pertahanannya. Diantarantya pegunungan Tar, lumbung gandum kota, bukit Amiriyah, gunung Hayan, pun halnya distrik Jazal yang di dalamnya terdapat banyak pos taktis-pos taktis militer di atas bukit-bukit tinggi yang membentang di sepanjang jalan ke arahnya dan sangat kuat pertahanannya. Diantara pasukan yang menyokong rezim Nushairi adalah milisi-milisi Rafidhah dari Iran, Afghanistan, Irak, dan sejumlah personil dari Lajnah Sya’biyah, ditambah lagi pasukan Rusia. Pasukan Rusia yang jumlahnya sekitar puluhan itu berperan memberikan operasi ‘support’, mengkover dan melatih para tentara rezim yang ada di kota, yang jumlahnya sekitar 1500 sampai 2000 personil tempur, disokong dengan puluhan kendaraan lapis baja, tank-tank dan senjata berat. Padahal, Nushairi telah mengumpulkan seluruh pasukan ini untuk melancarkan serangan terhadap area kontrol mujahidin di wilayah al-Khair. Kota ini terbagi-bagi sesuai dengan milisi yang berada di dalamnya. Setiap milisi menguasai jalan atau suatu bangunan, dan menghiasinya dengan seruan-seruan syirik, dan meninggikan panji bendera mereka di atasnya, serta mendominasi daerah-daerah sekitarnya. Rafidhah juga membangun beberapa kuil mereka di dalam kota. Mereka curi semua barang-barang yang berada di dalamnya, bahkan sekedar tangki air. Kala itu kota ini dipenuhi oleh pos-pos batas ‘checkpoint’ militer, dan di dalamnya terdapat pangkalan militer pasukan khusus Rusia. Di samping itu, pelayanan publik juga sangatlah buruk.

Tanya: Bisa Anda ceritakan operasi penaklukkan kembali kota Tadmur? Bagaimana prosesnya dan apa saja hasilnya?

Jawab: Operasi militer ini dimulai pada hari Kamis, 8 Rabi’ul Awwal, dimana Junud Khilafah melancarkan serangan skala besar dan sengit terhadap pasukan Nushairi dan milisi-milisi Rafidhah loyalisnya, dengan front pertempuran yang membentang hingga sepanjang 200 km dari delapan arah. Atas karunia Allah operasi ini berhasil meraih kemajuan yang signifikan. Junud Khilafah berhasil menguasai kota Tadmur dan puluhan daerah di sekitarnya, di- tambah dengan kilang minyak dan gas, dan menguasai daerah yang luas di pinggiran timur Homs, memporak-pondakan angan-angan Nushairi untuk terus memperluas wilayahnya hingga jalan utama Tadmur - al-Khair dalam rangka memecahkan pengepungan yang dilakukan Mujahidin atas Nushairi di kota al-Khair dan bandara militernya. Kota Tadmur juga memiliki nilai vital penghubung antara wilayah Hama, Homs, dan Damaskus. Ia adalah jalan untuk menuju daerah-daerah kekuasaan Khilafah di Damaskus, Hama, Homs, al-Khair, dan Raqqah. Pun termasuk batu loncatan untuk menaklukkan sejumlah daerah yang dikuasai rezim. Pasukan Nushairi sebelumnya telah memperbanyak mobilisasi pasukan beberapa bulan yang lalu, mengadakan pertemuan-pertemuan bersama mereka yang mengeklaim sebagai para pembesar kabilah al-Khair dan Raqqah. Mereka telah mengumumkan pembentukan milisi Hasyad Asyair, meniru budak-budak Rafidhah dan kabilah-kabilah suku anteknya di Irak agar mereka menjadi budak Nushairi, diperalat untuk menjajah kembali kota al-Khair dimulai dari kota Tadmur –sebagaimana klaim mereka-. Sebaik-baik pertahanan adalah menyerang. Berlawanan dengan apa yang diinginkan Nushairi dan tidak sesuai dengan apa yang mereka sangka, bala tentara Allah dari kalangan muwahidin telah mempersiapkan kekuatan. Sembari meminta pertolongan kepada Allah mereka melancarkan serangan dengan skala besar di front pertempuran sepanjang 200 km secara kontinyu, sejumlah operasi ini dimulai pada malam hari dari distrik Huwaisis, dimana meletus baku tembak sengit secara terus menerus di daerah tersebut. Namun, pada fajar harinya berbeda dengan front-front lainnya, dimana sekelompok regu in-ghimasi telah siap menyerbu kuffar. Terdapat pula perintah bagi puluhan tank Junud Khilafah untuk menggempur pos-pos taktis pasukan Nushairi beserta milisi-milisi loyalisnya. Tank-tank ini juga ikut bergerak maju menggempur pos musuh guna mengkover masuknya regu in-ghimasi di benteng pertahanan kuffar di pos Talilah dan sekitar lumbung gandum Tadmur, serta gunung Hayan, gunung yang menyusahkan gerak ppesawat tempur Nushairi dan Rusia selama operasi berlangsungnya operasi militer mereka untuk merebut kembali kota Tadmur satu tahun yang lalu. Segala puji bagi Alla,h Junud Khilafah berhasil menguasai penuh gunung Hayan, pos-pos Talilah, dan pos-pos taktis yang berada di luimbung gandum selama hari pertama pertempuran. Setelahnya satu demi satu benteng Nushairi runtuh, di kilang Jihar, Jazal, Mahr, korporasi gas Hayan dan sejumlah titik mliter lainnya. Lumbung gandum pun takluk, padahal ini adalah benteng kuffar yang sangat kuat. Serangan mencekik Mujahidin semakin parah dengan takluknya gunung Tar. Maka datanglah perintah dengan cepat bagi pasukan Rusia yang berada di Tadmur untuk segera mundur. Kabar tentang mundurnya Wawancara Rusia dari peperangan bak petir yang menyambar Rafidhah dan Nushairi yang menganggap bahwa mereka tak akan terkalahkan dengan adanya bantuan pesawat, artilleri Rusia dan teropong penglihatan malam yang dibekali oleh mereka. Dikuasainya kota Tadmur adalah hal yang belum pernah diperkirakan sebelumnya, yang atas karunia Allah dan taufik-Nya bagi hamba-hamba-Nya dari kalangan Muwahidin hanya dalam jangka waktu empat hari saja kota ini berhasil ditaklukkan. Kekuatan pasukan Nushairi dan milisi-milisi Rafidhah runtuh dengan cepat di hadapan serangan mujahidin yang atas karunuia Allah menimpakan pada mereka kerugian yang amat besar. Sekitar 350 tentara rezim dan militan Rafidhah tewas dan luka-luka, 50 lainnya tertawan, satu pesawat tempur tertembak jatuh dan tiga pesawat hancur dihantam tembakan di hangar pesawat Bandara Militer T4. Sementara itu, mujahidin memperoleh rampasan perang lebih dari 50 unit tank, 28 meriam artileri dari berbagai kaliber, tujuh unit BMP, dan sejumlah sistem pelontar roket jarak jauh, empat pelontar roket ATGM, sejumlah roket Grad, roket ATGM Kornet, dan rudal tank, senapan mesin berat, serta banyak macam-macam amunisi. Segala puji bagi Allah atas karunia-Nya.

Tanya: Apa peran pasukan Istisyhadi dan In-ghimasi dalam penaklukan kota Tadmur dan peperangan setelahnya?

Jawab: Senjata mematikan setelah daya Allah dan kekuatan-Nya adalah amaliyah Istisyhadiyah. Pada hari ketiga peperangan, setelah taufik Allah operasi istisyhadiyah adalah senjata mematikan bagi kuffar dan selalu meneror mereka, dimana sang Kesatria Pemburu Syahadah, al-Akh Abu Bakar al-Khalidi –taqabbalahullah- mengendarai tank bermuatan material peledak menghajar lumbung gandum Tadmur, benteng kuffar yang paling kuat pertahanannya, tempat bermarkasnya milisi-milisi Syi’ah Fatimiyun Afghanistan dan Kataib Syuhada, serta pasukan lain yang dibimbing oleh komandan Rusia. Majunya sang istisyhadi membuat kuffar langsung mencari jalan kabur, namun al-Akh mendahului mereka dan menjadikan benteng mereka hancur berkeping-keping. Selang beberapa saat saja, Junud Khilafah pun sampai di ping- giran lumbung gandum, menyisir lokasi dari sisa pasukan musuh, dan maju ke perkebunan Tadmur bagian timur, sementara regu in-ghimasi berada di front gunung Tar dengan –meminta pertolongan dari Allah- maju ke arah targetnya untuk menaklukkan sejumlah pos taktis Nushairi di gunung dan sejumlah gudang senjata di Tadmur, menghimpit pasukan Nushairiyah di dalam kota dengan mengepungnya dari tiga arah dan menyisakan satu jalan sempit yang menuju distrik Dawah di utara.

Tanya: Setelah dikuasainya Tadmur, apa yang langsung dilakukan Mujahidin?

Jawab: Mujahidin memanfaatkan runtuhnya pertahanan Nushairi dan antek-anteknya untuk terus maju dari segala arah hingga sampai ke pinggiran bandara militer T4, dan setelahnya berhasil menguasai pos di persimpangan Qaryatain dan Masytal al-Hair, markas Batalyon Pertahanan Udara yang terletak di sekitar bandara dan menghimpit bandara dari tiga arah.

Tanya: Apa daerah-daerah penting yang dikuasai pasukan Daulah Islamiyah selama penyerangan?

Jawab: Di front barat laut kota Tadmur, ada distrik Huwaisis, Syair, Jazl, Jihar, Bukit Madfaiyah dan al-Abraj yang berada di sekitar distrik Jazl, ditambah gunung strategis yang terletak antara Jazl dan Syair. Di barat daya kota ada daerah Qashr Halabat, Gunung Hayan, yang membentang di sepanjang kota dan di atas jalur logistik pasukan rezim Nushairi. Dan di timur laut kota ada pos Irtawaziyah, bukit al-Burj dan al-Mahr, pos Irtawaziyah di sekitar Korporasi Gas Mahr yang terletak di timur bandara militer T4, barat Tadmur, 15 pos ‘checkpoint’ militer yang membentang antara Mahr dan Jihar, lumbung gandum Tadmur (yang dijadikan pasukan Rusia sebagai pos taktis dan pertahanan kuffar terkuat) dan juga 8 pos ‘chekpoint’ di sekitarnya, persimpangan Taliah timur kota. Dan di utara kota ada gunung strategis Tar juga gunung Antarah, gudang militer Tadmur, dan ini semua yang menyebabkan semakin terhimpitnya pasukan rezim Nushairi di dalam kota, dan dari arah selatan gunung strategis Hayan. Lalu dari arah barat Tadmur, ada markas Batalyon al-Mahjurah di timur laut bandara militer T4, setelahnya tibalah penaklukan Tadmur atas karunia Allah dan taufik-Nya pasca runtuhnya satu demi satu lini pertahanan kuffar akibat dikuasainya benteng Tadmur yang membentang atas seluruh kota dan juga bukit Amiriyah, komplek al Amiriyah utara kota, ditambah juga pintu masuk bagian timur kota hingga mengancam satu-satunya jalur logistik kuffar yang terkepung antara gunung Hayan dan Tar di barat laut dan barat daya kota yang dikuasai oleh mujahidin pada hari ketiga pertempuran. Dan dari barat kota Tadmur ada distrik Bayarat, Dawah, Segitiga Tadmur, sejumlah daerah dan kilang penting di antaranya adalah Korporasi Gas Mahr, kilang gas Jihar, kilang minyak Jazl dan sejumlah daerah yang berada di sekitarnya, serta Korporasi Gas Hayan. Akhirnya kota Tadmur berhasil diamankan secara sempurna setelah menguasai daerah hingga 40 km di barat kota. Wallilahil hamd. Hingga menghubungkan wilayah Hama dan kota Tadmur, sehingga front ribat mujahidin menjadi satu, dari Hama hingga Damaskus, dan jalan Internasional Tadmur-Damaskus. Pun persimpangan Jihar di timur bandara T4 dan sejumlah daerah serta benteng pertahanan kuffar di pegunungan yang terletak di utara bandara. 12 di antaranya di atas bukit yang menghubungkannya dengan Markas Batalyon Pertahanan Udara. Sementara di tenggara bandara, ada desa Marhiton, menara komunikasi Syriatel, ditrik Qashr al-Hair dan al-Masytal dekat distrik Baridah di selatan bandara militer T4, pun juga pos persimpangan yang menghubungkan antara kota Tadmur dan Qaryatain serta bandara T4. Di barat bandara juga ada desa Syarifah.

Tanya: Apa nilai nilai penting dan strategis Bandara Militer ini?

Jawab: Bandara T4 termasuk bandara militer terbesar di Syam, mampu menerbang landaskan pesawat-pesawat tempur dan pesawat bomber, juga dilengkapi dengan landasan pacu helikopter yang darinya operasi-operasi militer udara di atas langit pinggiran timur Homs mereka lancarkan. Bandara ini juga menjadi tempat pemberangkatan helikopter-helikopter logistik, lokasinya dekat dari kilang minyak dan gas alam di pinggiran timur Homs, memiliki peran selama bertahun-tahun dalam pertempuran melawan Daulah Islamiyah. Pasukan apapun yang hendak berusaha maju ke arah Tadmur akan diberangkatkan dari Bandara Militer ini.

Tanya: Apakah peran Shahawat–jika memang mereka ada di wilayah ini - dalam operasi-operasi militer di wilayah Homs dan sekitarnya?

Jawab: Sebagaimana kebiasaan mereka, Shahawat murtad bergerak untuk menolong saudara-saudara mereka dari kalangan Nushairi setelah pernyataan-pernyataan Amerika bahwa Rusia tidak akan mampu untuk menghadapai peperangan melawan Daulah Islamiyah. Amerika sangat bergantung dengan Shahawat yang mereka sebarkan di perbatasan imajiner guna bersiap melancarkan serangan pada Daulah Islamiyah untuk meringankan tekanan atas Nushairi. Shahawat bahkan meluncurkan operasi militer sandi Radd I’tibar dimana mereka menderita kekalahan telak beberapa bulan yang lalu di Qolamun timur. Waktu itu, Shahawat mengerahkan puluhan kendaraan tempur yang berangkat dari arah perbatasan imajiner di padang pasir Hamad asy-Syami, namun memasuki perangkap mujahidin berupa ladang ranjau yang menewaskan dan melukai sejumlah dari mereka, hingga akhirnya mereka mundur menuju pangkalan militer Amerika di kamp Rukban, markas yang dibuat untuk menjaga perbatasan Yordania. Serangan mereka tidak membuahkan hasil apapun. Alhamdulilah.

Tanya: Kenapa Korporasi Gas Hayan di pinggiran timur Homs diledakkan, dan apa nilai pentingnya kilang migas itu bagi Nushairi?

Jawab: Korporasi gas ini memproduksi lebih dari tiga juta meter Kubik gas alam per hari dan menjadi sumber ekonomi penting yang dimanfaatkan rezim Nushairi untuk menyokong operasi militer mereka. Di samping itu, kilang migas ini menyuplai energi listrik daerah selatan Syam, sehingga dengan menghancurkannya akan mengurangi sumber energi listrik dengan drastis di daerah kekuasaan rezim, belum lagi kerugian yang menimpanya dalam usaha mecari sumber energi pengganti.

Tanya: Bisa Anda ceritakan karamah dan pertolongan Allah dalam peperangan ini?

Jawab: Semua laporan menceritakan keruntuhan lini pertahanan pasukan Nushairi yang tidak pernah terbayangkan dalam waktu yang singkat meski adanya keberadaan pasukan Rusia dan partisipasi kuat milisi Rafidhah di daerah tersebut, penarikan Wawancara mundur pasukan musuh dalam skala besar, kondisi alam yang ekstrim, dan elevasi wilayah yang menyulitkan, khususnya di distrik Jazl yang dikenal dengan pegunungan yang besar dan banyak perbukitan itu, di samping persenjataan dan kekuatan militer yang ditempatkan Nushairi di daerah tersebut. Hanya dengan serangan-serangan kecil, mereka langsung melarikan diri, atas karunia Allah dan taufik-Nya untuk para mujahidin. Dan di sana terjadi kisah yang berperan besar setelah Allah azza wa jalla, dalam memporak porandakan barisan kuffar. Kami melihat pertolongan Allah dengan jelas, dimana al-Akh Istisyhadi bergerak maju dengan bom tanknya. Al-Akh bernama Abu Bakar al-Khair, menggempur lumbung gandum kota Tadmur, pertahanan kuffar terkuat di sekitar kota. Al-Akh bergerak maju selama 15 menit, melewati tanggul demi tanggul pertahanan musuh dan hujan bombardir mortir yang menargetkan kendaraaanya. Namun ia tetap maju, sementara Allah tetap menjaganya, hingga akhirnya ia mencapai target dan menghancurkan konsentrasi pasukan musuh dekat lumbung gandum. Asap tebal ledakan pun membumbung tinggi, bergerak hingga menutupi lumbung gandum. Setelahnya, asap tidak bergerak sama sekali, subhanallah, ia menutupi seluruh lumbung gandum dan tetap di tepatnya, menghalangi penglihatan kuffar. Setelahnya regu penyerang maju dan menguasai lumbung tersebut. Operasi ini memiliki peranan besar dalam serangan ofensif ikhwah mujahidin ke dalam kota dari arah komplek Amiriyah.

JALAN KEMENANGAN (BAGIAN 4, SELESAI)

RUMIYAH 6 - ARTIKEL

JALAN KEMENANGAN (BAGIAN 4, SELESAI)
SYAIKH ABU HAMZAH AL-MUHAJIR

Keenam; Merasa butuh dan tawadhu’ pada Allah

Firman Allah ta'ala: “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai”. (QS. at-Taubah: 25).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ibnu Juraij berkata dari Mujahid, ‘Ini adalah ayat pertama yang turun dari surah al-Baraah (at-Taubah) yang Allah ta'ala menyebutkan karunia-Nya atas kaum muslimin dan kebaikan-Nya kepada mereka, dengan menolong mereka dalam banyak kesempatan pada ghazwah mereka bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bahwa semua itu adalah dari sisi Allah ta'ala dengan sokongan dan takdir-Nya, bukan dengan jumlah dan perbekalan mereka. Allah mengingatkan mereka bahwa kemenangan adalah dari sisi-Nya baik berjumlah sedikit maupun banyak. Karena pada Perang Hunain mereka disilaukan dengan banyaknya jumlah. Meskipun demikian, ternyata jumlah yang banyak itu tidak ada manfaatnya sedikitpun. Mereka kabur kocar kacir sampai tinggal sedikit saja yang tetap bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala telah mewahyukan padaku bahwa hendaknya kalian bersikap tawadhu”.

Ibnul Qoyim rahimahullal berkata: “Sungguh hamba senantiasa membutuhkan Allah sekalipun berlumuran dosa adalah lebih baik daripada tak pernah salah namun ujub”.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: “Tidaklah seorang bersikap tawadhu karena Allah melainkan Allah akan memuliakannya”.

Kemuliaan di dunia ini adalah dengan kemenangan, keberuntungan dan reputasi yang baik, sedangkan di akhirat adalah dengan tingginya derajat dan kedudukan yang terpuji.

Ibnu Bathal rahimahullah berkata: “Aisyah radhiyallahu anha berkata, ‘Sungguh kalian melalaikan ibadah yang paling utama, yaitu tawadhu’.”

At-Thabari rahimahullah berkata: “Tawadhu adalah bagian dari ujian yang Allah timpakan kepada hambanya yang beriman, agar Ia melihat bagaimana ketaatan mereka kepada-Nya dalam menyikapi ujian ini. Karena Allah ta'ala mengetahui mashlahat penciptaan hal itu, baik mashalat di duniai maupun nanti ketika di akhirat”. Beliau melanjutkan: “Diantara contoh tawadhu adalah ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memasuki Makkah, orang-orang berseru, ‘Inilah beliau, inilah beliau’. Maka beliau pun membungkukkan punggungnya di atas tunggangannya dan bersabda: “Allah Mahatinggi dan Mahamulia”.

Ath-Thabari melanjutkan lagi: “Dari Thariq bin Syihab berkata: ‘Ketika Umar sampai di negeri Syam, ternyata ia harus menyeberangi sebuah sungai, maka Umar turun dari untanya, melepaskan sepatunya dan memegang keduanya dengan tangannya sendiri lalu menyeberang sambil menuntun untanya. Maka Abu Ubaidah berkata, ‘Sungguh hari ini engkau telah melakukan satu hal besar menurut penduduk setempat’. Umar pun menepuk dada Abu Ubaidah dan berkata, ‘Kalau saja bukan engkau yang mengatakannya wahai Abu Ubaidah. Sungguh dahulu kalian adalah orang-orang rendah lagi terhina, lalu Allah memuliakan kalian dengan Islam, maka ketika kalian mencari kemuliaan selain Islam, Allah akan menghinakan kalian’”.

Ketujuh: Mengingat Allah

Allah ta'ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”. (QS. al-Anfal: 45).

At-Thabari berkata: “Dan perbanyaklah mengingat Allah ta'ala. Maknanya adalah berdoalah kepada Allah dan mintalah kemenangan atas mereka, serta sibukkanlah lisan dan hati kalian dengan mengingat-Nya agar kalian beruntung”.

Dari at-Thabari, dari Qotadah berkata: “Allah tetap mewajibkan mengingat-Nya dalam kondisi kalian yang paling sibuk sekalipun, yakni ketika menyabetkan pedang”.

Al-Qurthubiy menyebutkan perkataan bagus dalam tafsir ayat ini, dia berkata: “Ada tiga pendapat ulama dalam hal ini (dzikrullah):

Pertama; ingatlah Allah ketika hati kalian gundah, karena mengingat Allah dapat membantu untuk tetap teguh ketika menghadapi ujian yang bertubi-tubi.

Kedua; teguhkan hati kalian dan ingatlah Allah dengan lisan-lisan kalian. Karena hati itu tidak tenang dan lisan guncang ketika bertemu musuh, sehingga diperintahkanlah untuk terus berdzikir sampai hati itu teguh lagi yakin, lisan tetap mengingat Allah dan mengucapkan apa yang diucapkan oleh pasukan Thalut: {Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran pada kami, teguhkan pijakan kami dan tolonglah kami melawan orang-orang yang zalim}. Keadaan ini tidak akan terjadi kecuali dengan kuatnya ma’rifatullah dan tajamnya bashirah, dan inilah keberanian yang terpuji.

Ketiga; ingatlah akan janji Allah pada kalian, yaitu bahwa Dia telah membeli jiwa kalian dan dan membayarnya dengan pahala berlipat. Saya katakan bahwa ketiga hal itu bisa saja merupakan maksud dari dzikrullah, maka ia mengingat Allah dengan lisannya, hatinya merasakan keberanian, sembari ingat janji Allah akan kemenangan di dunia dan surga di akhirat. Firman Allah ta'ala pada Musa dan Harun: “Dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku”. (QS. Thaha: 42). Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Maksudnya bahwa mereka berdua tidak terputus mengingat Allah ketika menghadapi Firaun, agar dzikrullah menjadi penolong dan menjadi kekuatan bagi mereka berdua serta menjadi kekuatan yang tak terpatahkan oleh Firaun”. Sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Hamba-Ku adalah setiap hamba yang mengingat-Ku meskipun sedang bertempur melawan musuhnya”.

Ketahuilah bahwa dzikrullah ketika bertempur dilakukan secara sirr karena disebutkan oleh al-Hakim dan dishahihkannya dari Abu Musa radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membenci bertempur sambil bersuara.

Kedelapan; Doa

Allah ta'ala berfirman: “Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Rabbku tidak mengindahkan kamu, jikalau bukan karena doamu”. (QS. al-Furqan: 77).

Juga firman-Nya: “Maka serulah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya”. (QS. Ghafir: 65)

Dia juga berfirman: “Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. al-A’raf: 56)

Demikian juga firman-Nya: “Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).

Serta firman-Nya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. al-Baqarah: 186).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Doa adalah ibadah”. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hakim dan yang lainnya: “Tidak ada suatu apapun yang lebih mulia bagi Allah selain dari doa”. Beliau juga bersabda: “Siapa yang tidak meminta pada Allah, niscaya Dia akan murka padanya”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Kemenangan dan rizki dapat diperoleh dari berbagai sebab, sebab yang terkuat adalah doa orang-orang yang beriman”. Beliau juga berkata: “Tatkala Allah menetapkan kemenangan pada Perang Badar dan Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkannya kepada para sahabat sebelum terjadi juga memberitahu tempat-tempat terbunuhnya orang-orang musyrik; salah satu sebab hal itu adalah permohonan dan doa Nabi shallallahu alaihi wasallam".

Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tatkala beliau melihat banyaknya musuh dan kuatnya mereka, serta sedikitnya para sahabatnya dan lemahnya mereka, beliau segera menghadap kepada satu-satunya Dzat Pemilik Kemenangan: “Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ali ‘Imran: 126). Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari al-Faruq Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu berkata: “Tatkala Perang Badar, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat kepada kaum musyrikin yang berjumlah seribu orang sedangkan sahabatnya hanya berjumlah 319 orang, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menghadap kiblat, kemudian beliau menengadahkan tangannya dan menyeru Rabbnya: “Ya Allah, penuhilah apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang Engkau janjikan padaku. Ya Allah, jika Engkau binasakan sekelompok kecil dari pemeluk Islam ini, Engkau tidak lagi disembah di bumi ini”. Beliau terus menerus berbuat demikian sampai selendangnya jatuh dari pundaknya”. Beliau juga berdoa untuk kebinasaan orang-orang musyrik secara umum, beliau berdoa sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih: “Ya Allah yang menurunkan al-Qur’an, Yang Mahacepat hisab-Nya, hancurkan persekutuan musuh ini. Ya Allah, kalahkanlah mereka dan goncangkanlah mereka”.

Nabi shallallahu alaihi wasallam juga mengkhususkan beberapa personel dan pemimpin mereka. Dalam hadits shahih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam menghadap Ka’bah lalu berdoa untuk kebinasaan sekelompok Quraisy, yakni; Syaibah bin Rabiah, Utbah bin Rabiah, al-Walid bin Utbah dan Abu Jahal bin Hisyam. Aku bersaksi kepada Allah, sungguh aku melihat mereka bergelimpangan, jasadnya berubah terkena terik matahari”.

Ketahuilah wahai wali Allah, sungguh engkau berada di satu kondisi dari sekian kondisi dikabulkannya doa. Dari Sahal bin Saad as-Sa’di berkata sebagaimana disebutkan dalam al-Muwattha: “Ada dua waktu dibukanya pintu-pintu langit, dan amat sedikit ketika itu orang yang berdoa namun doanya ditolak; saat panggilan sholat adzan dan ketika berbaris (berhadapan dengan musuh) di jalan Allah”.

Maka wahai Mujahid, manfaatkalah sebaik-baiknya waktu-waktu dikabulkannya doa, seperti pada hari Jumat, ketika adzan, pada waktu turun hujan, dan di sepertiga malam terakhir. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam di sepertiga malam terakhir, Dia berkata, ‘Siapa yang berdoa pada-Ku niscaya Aku kabulkan, siapa yang meminta pada-Ku niscaya Aku beri, siapa yang meminta ampunan-Ku niscaya Aku ampuni dia”. Dalam riwayat lain disebutkan: “Siapa yang meminta rizki pada-Ku niscaya Aku berikan rizki padanya, siapa yang meminta dijauhkan dari derita niscaya Aku jauhkan darinya”.

Sungguh saya sangat berharap pada Allah agar Dia tidak menghalangi terkabulkannya doa kita, apalagi kita telah dizalimi oleh orang dekat maupun jauh dan seluruh dunia telah berkumpul untuk memerangi kita. Ada berita gembira untuk kalian dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika bersabda kepada Muadz: “Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzalimi, karena sungguh tidak ada penghalang antara dirinya dengan Allah”.

Inilah Nabi yang teraniaya, dia didustakan lalu berdoa, lalu bagaimanakah jawaban doanya? Allah ta'ala berfirman: “Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman). Maka dia mengadu kepada Rabbnya: “bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)”. Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku”. (QS. al-Qomar: 9-13).

Kemudian ketahuilah wahai Mujahid, bahwa diantara jalan kemenangan adalah adanya orang-orang lemah di barisan kita yang mendoakan untuk kemenangan kita, dalam hadits shahih disebutkan dari Ibnu Abbas berkata: “Abu Sufyan telah mengabarkan kepadaku, dia berkata, ‘Kaisar Romawi berkata padaku, ‘Aku bertanya padamu apakah para bangsawan yang mengikuti Muhammad ataukah orang-orang lemah, lalu kamu menjawab orang-orang lemah, dan merekalah pengikut para Rasul’”.

Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Saad radhiyallahu anhu: “Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki melainkan karena adanya orang-orang yang lemah di antara kalian”.

Hadits ini menjelaskan anjuran untuk memperhatikan orang-orang lemah dari kalangan mujahidin dan yang selain mereka dari kalangan perempuan, anak-anak dan orang-orang tua, karena pada umumnya mereka itu lebih ikhlas dalam berdoa, lebih khusyu’, dan lebih menampakkan kebutuhan kepada Allah.

Sebagai penutup, saya ingatkan akan firman Allah ta'ala: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”. (QS. Ali Imran: 200), dan firman-Nya: “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. al-Maidah: 23), serta firman-Nya: “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS. an-Nahl: 128), juga firman-Nya: “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (QS. al-Hajj: 40), serta firman-Nya: “Hai orangorang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”.(QS. al-Anfal: 45). Inilah jalan kemenangan sesuai yang tersebut dalam kitab Allah, pegang teguhlah dengan erat.

Terakhir, sebab dirilisnya tema ini adalah karena musuh telah mengumumkan –meskipun mereka cuma berdusta– bahwa jumlah korban mereka di Irak mencapai empat ribu jiwa. Sepantasnya kita merayakan peristiwa ini dengan cara kita sendiri dan kita undang si bodoh Bush untuk menghadiri perayaan kita. Kami minta kepada para pahlawan Daulah yang kita cintai, agar setiap detasemen membawakan kepala orang Amerika, sebagai hadiah bagi si Dajjal Bush dengan cara apapun yang sesuai menurut mereka. Tidak lupa juga kepala pelayan-pelayan dan budak hina serta agen rendahan dari kalangan shahawat murtad. Semua itu dilaksanakan dalam waktu paling lama sebulan setelah tiap detasemen diberi tahu. Pahala operasi ini kita hadiahkan kepada kalangan awam muslimin yang terbunuh secara teraniaya dan lalim di Zanjili, Ba’qubah, Duwalibah dan tempat-tempat lainnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Amru bin al-Ash: “Jika ayahmu mengikrarkan tauhid, lalu kamu berpuasa atau bersedekah atas namanya, niscaya hal itu akan bermanfaat untuk ayahmu”.

Adapun operasi ini dilaksanakan dengan sandi Ghazwatul Birr.

Kami sangat berharap pada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang agar mengampuni keluarga kita, khususnya mereka yang tidak berada dalam barisan mujahidin dan orang-orang – yang tidak diragukan – lagi mati membawa dosa besar karena meninggal kewajiban yang telah menjadi fardhu ‘ain atas mereka.

Kita meminta pada Allah agar memberi petunjuk kepada umumnya kaum muslimin dan agar mengembalikan mereka kepada panji kebenaran dan Din ini. Allah Maha Menang atas perkara-Nya akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Saudara kalian,
Abu Hamzah al-Muhajir

LOYALITASMU WAHAI MUSLIMAH

RUMIYAH 6 - MUSLIMAH

LOYALITASMU WAHAI MUSLIMAH

Tidak diragukan lagi bahwa kembalinya Khilafah diiringi dengan syariat-syariat yang tegak telah menghidupkan kembali pelita dalam benak para wanita. Para muslimah yang hidup dalam naungan Daulah kita telah mulai mengerti banyak dari perkara Dien dan kewajiban yang telah dibebankan oleh Rabb seluruh alam. Khususnya dalam perkara tauhid yang telah sangat terkotori dalam kungkungan negeri syirik.

Tali Iman Yang Paling Kokoh

Ketahuilah wahai muslimah bahwa Islam itu berarti berserah taat kepada Allah dan mentauhidkan-Nya serta berlepas diri dari syirik dan pemeluknya. Wala wal bara itu menurut ijma’ adalah dua prinsip Islam dan keduanya juga bagian dari syahadat la ilaha illallah. Seseorang itu tidak disebut muslim sampai ia berlepas diri dari kekafiran dan pemeluknya sekalipun orang terdekatnya.

Mungkin engkau berkata; Namun aku telah berwala kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin, buktinya aku tinggal di Darul Islam dan aku bersukacita dengan syariat Rabb semesta alam. Ketahuilah bahwa loyal kepada orang-orang kafir itu tidak hanya berupa membantu mereka atas kaum muslimin, akan tetapi menyembunyikan rasa suka dan membenarkan mereka itu juga bagian dari loyalitas. Cinta dan rasa suka itu tempatnya di hati dan hati adalah tuan dari seluruh anggota tubuh.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari al-Barra bin ‘Azib radhiyallahu anhu ia berkata, “Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, ‘Tali Islam apa yang paling kokoh? Para sahabat menjawab, ‘Shalat.’ Sabdanya, ‘Bagus, tapi bukan itu.’ Para sahabat menyahut, ‘Zakat.’ Jawabnya, ‘Bagus, tapi bukan itu.’ ‘Puasa Ramadhan,’ sahut mereka. Jawabnya, ‘Bagus, tapi bukan itu.’ ‘Haji’, sahut mereka lagi. Jawabnya, ‘Bagus, tapi bukan itu.’ Mereka menyahut lagi, ‘Jihad.’ Jawabnya, ‘Bagus, tapi bukan itu.’ Lalu sabdanya, ‘Sesungguhnya tali iman yang paling kokoh adalah engkau mencintai karena Allah dan membenci juga karena Allah.’

Sulaiman Alu Syaikh rahimahullah berkata, “Dien tidak akan sempurna dan panji jihad serta amar makruf nahi mungkar tidak akan tegak tanpa cinta dan benci karena Allah pun loyalitas dan permusuhan karena-Nya. Seandainya semua orang itu saling mencintai tanpa ada kebencian dan permusuhan niscaya tidak akan ada pemisah antara kebenaran dan kebathilan, antara orang-orang mukmin dan kafir, serta antara wali Allah dan wali setan.” [ad-Durar as-Saniyah].

Permusuhan Memisahkan Antara Kami dan Kalian

Tidak ada loyalitas tanpa permusuhan. Memang betul engkau telah tinggal diantara para muwahhid dan loyalitasmu kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, namun apakah engkau telah berlepas diri dari musuh-musuh Allah dan Dien?

Mungkin ada diantara daftar kontak teleponmu yang mencaci Daulah Islam dan memusuhi pejabat-pejabatnya baik ia keluarga, kerabat, maupun teman-temanmu. Mungkin sebagian obrolanmu dengan kerabatmu itu berisi secuil permusuhan dan kebencian kepada Khilafah dan prajuritnya, Allah Mahatahu, namun engkau tidak merasa risih apalagi peduli. Bahkan mungkin saja ada yang memprovokasimu untuk meninggalkan Darul Islam dengan alasan perang atau alasan-alasan menggelikan lain.

Engkau mengetahui semua ini namun engkau diam saja, malah menyukai orang-orang seperti mereka tidak memarahi mereka karena Dien dan akidahmu. Bahkan engkau marah-marah jika suamimu melarangmu berhubungan dengan orangorang seperti mereka karena bagimu mereka itu tak lebih dari teman saja.

Kaum Muslimin Memboikot Sahabat Karena Tertinggal Dari Ghazwah

Salaf telah memberi contoh terbaik tentang wala wal bara. Inilah Kaab bin Malik yang tidak mengikuti Ghazwah Tabuk tanpa uzur, Nabi shallallahu alaihi wasallam telah memerintahkan dengan jelas seterang mataha- ri untuk memboikotnya dan orang-orang sepertinya. Kaab radhiyallahu anhu menceritakan kisahnya sendiri sebagaimana termaktub dalam Shahih Bukhari, “Sejak saat itu, Rasulullah melarang para sahabat berbicara dengan kami, tiga orang yang tidak ikut dalam perang Tabuk. Orang-orang pun menjauhi kami. Bumi yang ku injak telah berubah, tidak sama lagi seperti sebelumnya. Keadaan itu terus berlangsung selama lima puluh hari. Dua sahabatku, mereka tak tahan menghadapi hajr (isolasi) yang dilakukan kaum muslimin terhadap kami. Mereka mengurung diri dalam rumah dan tak pernah berhenti menangis. Sedangkan aku adalah orang yang termuda dan terkuat di antara mereka. Kukuatkan hatiku untuk menemui orang-orang, berharap akan ada seseorang yang menyapaku. Namun tak ada seorang pun yang mau berbicara denganku.

Ketika aku memasuki masjid, kuucapkan salam kepada Rasulullah. ‘Apakah Beliau akan menggerakkan bibirnya untuk menjawab salamku?, tanya hatiku. Aku pun shalat dan mengambil posisi terdekat dengan Beliau. Aku mencuri-curi pandang kepada Beliau. Ketika aku fokuskan pandangan pada shalatku, Beliau memandangku. Dan bila aku meliriknya, Beliau memalingkan wajahnya dariku.

Keadaan itu terus berlanjut hingga beban itu kian berat kurasakan. Aku pun menemui Abu Qatadah, sepupuku dan orang yang sangat kucintai. Aku memanjat dinding rumahnya dan kuucapkan salam padanya. Namun dia tidak menjawab salamku. Aku berkata memelas padanya, “Wahai, Abu Qatadah! Demi Allah, bukankah engkau mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan RasulNya? la hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataanku. Kuulangi kata-kataku tadi berkali-kali, hingga ia berujar singkat, ‘Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.’ Air mataku pun meleleh tanpa bisa kutahan.”

Keadaan terus berlangsung demikian. Kaum muslimin memboikotnya sampai Allah menerima taubatnya dan kedua temannya itu. Perhatikanlah wahai muslimah, lihatlah bagaimana kaum muslimin memboikot Kaab karena menaati perintah Nabinya. Apakah tindakan Kaab radhiyallahu anhu itu sama dengan tingkah para qo’idun sekarang? Sekali-kali tidak, para qo’idun itu tidak hanya duduk-duduk dan tidak menolong kebenaran, bahkan ada yang jika disebut jihad dan pelakunya langsung keluar kata-kata pedas dari mulutnya!

Dienullah Lebih Dicintai Daripada Bapaknya

Betapa terpujinya Abdullah bin Abdullah bin Ubay radhiyallahu anhu ketika bapaknya si gembong munafik itu berkata, “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” (QS. al-Munafikun: 8), kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan para sahabat untuk kembali ke Madinah, maka Abdullah menghalang-halangi bapaknya di pintu kota berkata, “Aku tidak akan membiarkanmu sampai engkau mengaku bahwa engkaulah yang lemah dan Muhammadlah yang kuat.”

Betul, begitulah wala wal bara ketika telah terwujud dalam gambarannya yang paling bersinar. Disinilah pemisahan ketika garis merah tauhid dan akidah dilanggar. Tidak ada kecintaan dan kecondongan jika menyangkut perkara Dien!

Adapun Ummul Mukminin Ummu Habibah radhiyallahu anha telah mengajari kita wala wal bara dengan contoh yang tidak ada duanya. Dari az-Zuhri berkata, “Ketika Abu Sufyan sampai di Madinah dan Nabi shallallahu alaihi wasallam telah berniat untuk menyerbu Makkah, ia datang untuk bernegosiasi soal memperpanjang waktu pernjanjian damai. Nabi tidak menerimanya. Maka dia pergi ke rumah putrinya Ummu Habibah. Ketika hendak duduk di kasur Nabi shallallahu alaihi wasallam putrinya itu langsung mengambil dan melipat kasurnya. Maka katanya, ‘Wahai putriku, apakah engkau tidak suka aku duduk di kasur itu atau bagaimana? Jawabnya, ‘Itu adalah kasur Rasulullah sedangkan engkau itu seorang musyrik najis.’ ‘Wahai putriku, sungguh engkau telah tertimpa kejelekan’, kata Abu Sufyan terperangah.” [Siyaru A’lam an-Nubala].

Derajat Hijrah Fisabilillah

Sebagai penutup; Wahai muslimah, kami tidak memprovokasimu untuk meninggalkan keluarga dan kerabatmu kecuali yang telah jelas murtad bagimu lantaran perkataan atau perbuatan yang mengeluarkan dari millah. Yang demikian itu harus diboikot dan berlepas diri darinya, yaitu seperti menolong musuh walaupun dengan satu kalimat saja, mendoakan agar Daulah Islam binasa dan kalah dalam melawan musuhnya, berangan-angan akan hilangnya syariat berganti den- gan undang-undang positif buatan, atau tindakan lain yang membatalkan Islam dan iman. Adapun selainnya maka ia diboikot sesuai dengan kadar kesesatan dan maksiatnya.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

GREEN ZONE, PROYEK KONSPIRASI DAN KONTROL SEMU

RUMIYAH 6 - ARTIKEL

GREEN ZONE, PROYEK KONSPIRASI DAN KONTROL SEMU

Si Thaghut Turki Erdogan sejak permulaan jihad di Syam telah mempromosikan proyek sebuah daerah penyangga yang berfungsi sebagai perlindungan bersama dari bom-bom pesawat Nushairi sekaligus menyediakan kebutuhan logistik. Tanggung jawab perlindungan daerah ini diserahkan ke pundak pilot-pilot Turki dengan bantuan Amerika dan NATO. Namun proyek ini gagal karena tidak disetujui oleh Amerika dan NATO. Bahkan rudal pertahanan udara PATRIOT yang bisa digunakan untuk melindungi buffer zone tersebut dari pesawat-pesawat Nushairi malah ditarik mundur.

Mendapat Persetujuan

Dengan semakin sengitnya operasi menumpas Daulah Islamiyah yang dilancarkan oleh koalisi Salibis pimpinan Amerika, setiap pihak bisa mempromosikan proyek-proyek pribadinya dengan syarat bertujuan menumpas Daulah Islamiyah. Si Thaghut Erdogan dan faksi-faksi shahawat sekutunya kembali menyodorkan proyek buffer zone tersebut dengan sentuhan baru, yaitu bahwa daerah ini berfungsi sebagai pangkalan baru operasi penumpasan Daulah Islamiyah. Pangkalan ini akan menjadi titik tolak operasi-operasi yang meliputi tepi barat (Syam) Sungai Eufrat berseiringan dengan operasi-operasi PKK di tepi timur Sungai Eufrat. Sehingga tidaklah aneh jika dua poros yang tampaknya saling bermusuhan namun sebenarnya saling membantu itu diberi kode nama yang hampir mirip yaitu Dir’ul Furat (Perisai Eufrat) yang dikomandoi Turki dan sekutu-sekutunya, dan Ghadhabul Furat (Kemurkaan Eufrat) yang digawangi oleh PKK dan konco-konconya. Jadilah poros ini menjadi poros baru ditambah dengan poros Rafidhah di Irak, Peshmerga di Kurdistan, PKK di al-Jazirah, dan rezim Nushairi di Aleppo dan al-Badiyah.

Dengan alasan itu, akhirnya Turki mendapat restu untuk bergerak menuju Jarablus, ar-Ra’i sampai di kota al-Bab, di bawah bantuan udara, logistic dan persenjataan Amerika dalam banyak tahapan operasinya.

Untuk menghindari penolakan rezim Nushairi dan sekutu Rusia serta Irannya, pemerintahan Turki murtad melakukan negosiasi dengan salibis Rusia. Dalam negosiasi tersebut Turki menjamin bahwa pergerakannya di pinggiran utara dan timur Aleppo itu hanya untuk menumpas Daulah Islamiyah tidak akan menyentuh sedikitpun rezim Nushairi dan sekutunya.

Proyek Penting

Si Thaghut Erdogan dan elemen-elemen pemerintahan murtadnya selalu sesumbar bahwa buffer zone itu berfungsi untuk mencegah berdirinya negara Kurdi yang dicita-citakan oleh PKK sekuler kafir, yaitu dengan menguasai zona yang membentang sepanjang lebih dari 50 km antara Jarablus sampai I’zaz. Daerah ini berfungsi sebagai pembatas antara tepi barat dan timur Eufrat yang dikontrol oleh PKK. Zona ini juga berfungsi untuk membendung aliran mujahid yang menuju wilayah-wilayah Daulah Islamiyah.

Namun yang mencermati realitas lapangan dan pentas politik yang terjadi di Turki dan Syam akan mengetahui bahwa proyek ini jauh lebih penting daripada sekedar mengaborsi proyek negara Kurdi sekalipun hal itu juga penting.

Dengan keberhasilan tentara Turki mengontrol sebagian wilayah Syam maka hal itu berarti mereka memiliki sarana penekan penting atas rezim Nushairi kedepannya melebihi pentingnya memegang kuasa atas banyak faksi murtad, yang hal itu berarti sekian banyak keuntungan yang akan didapatkan nantinya jika mereka mundur dari zona ini apapun bentuknya pemerintahan Thaghut di Damaskus nantinya.

Kontrol sementara Turki atas zona ini dengan bantuan udara Rusia atau Amerika yang mencegah gempuran rezim Nushairi itu berarti solusi atas sejumlah besar pengungsi yang merepotkan atau sedikit manfaatnya dengan cara membangun kamp-kamp pengungsian di zona ini, sehingga terlepas dari biaya besar yang membebani perekonomiannya yang sedang terpuruk.

Ditambah lagi Turki akan mampu merekrut pejuang-pejuang yang berada di kamp-kamp ini untuk proyek-proyeknya nanti di Syam. Jika Iran mengendalikan milisi-milisi Rafidhah yang tergabung dalam Hasyad Rafidhi dan menggunakannya untuk memuluskan rencana-rencananya, maka dengan hal itu memungkinkan bagi Turki untuk berbicara mengenai Hasyad Shahawat yang akan dimanfaatkannya untuk mengamankan kepentingan-kepentingannya baik di Syam maupun secara regional.

Zona Penyangga Yang Diterima

Dengan penandatanganan perjanjian damai antara rezim Nushairi dan shahawat murtad yang diawasi oleh salibis Rusia, para pejabat Rusia berbicara tentang perlunya mengisolasi oposisi militant dari yang moderat sekalipun mereka mengetahui hubungan erat antara faksi-faksi shahwat murtad itu baik yang murni sekuler maupun mengaku-aku menegakkan syariat. Isolasi ini penting agar oposisi moderat yang menerima negosiasi dengan rezim Nushairi dan menyerahkannya pada badan otoritas negosiasi yang dipimpin oleh mantan Perdana Menteri rezim Nushairi si murtad Riyadh Hijab tidak menjadi target pembom Rusia, sehingga hanya menargetkan oposisi militant yang menolak negosiasi tersebut.

Namun wacana tersebut mustahil dilakukan karena yang menolak maupun yang menerima negosiasi itu sulit dipisahkan lantaran yang moderat tidak mampu mengusir pihak lain itu dari barisannya. Gambaran ini tampak semakin jelas sebelum kota Aleppo jatuh sepenuhnya ke tangan tentara Nushairi sampai si Thaghut Erdogan menyodorkan formula yang bisa diterima oleh shahawat murtad untuk proses pengisolasian ini. Orang-orang murtad itu percaya padanya bahwa Russo-Nushairi mengizinkan pembuatan zona penyangga ini yang berfungsi memisahkan shahawat moderat dari rekan militannya sehingga bisa fokus pada penumpasan Daulah Islamiyah saja. Mereka juga akan dilindungi dari bombardir Nushairi dan Rusia selama mereka komitmen dengan tugasnya itu.

Proyek Russo-Turki

Setelah proses penyerahan Aleppo kepada rezim Nushairi berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani oleh Rusia dan Turki selesai, dimulailah proyek Rusia-Turki baru untuk di-copypaste-kan pada daerah kontrol shahawat lain di Syam. Hal itu berdasarkan kesepakatan damai antara shahawat dan rezim Nushairi yang dituangkan dalam tiga poin:

Pertama; Menghentikan kontak senjata di antara kedua belah pihak di seantero Syam.

Kedua; Membentuk pemerintahan bersama antara rezim Nushairi dan murtaddin oposisi bersenjata serta politik berdasarkan sekulerisme, demokrasi, dan merepresentasikan masingmasing komponen masyarakat. Kendali pemerintahan kembali dipegang oleh Nushairi, dan pejuang-pejuang shahawat dileburkan dalam tentara Nushairi.

Ketiga; Pada akhirnya peperangan terjadi hanya untuk menumpas Daulah Islamiyah saja.

Zona penyangga dalam kesepakatan ini berfungsi sebagai zona gencatan senjata pertama secara resmi setelah dilaksanakan sebelumnya sejak beberapa bulan dimulainya operasi Perisa Eufrat. Zona ini menjadi perlindungan seluruh faksi dan organisasi yang masuk dalam proyek Rusia-Turki. Mereka berpindah ke sana dengan membawa seluruh persenjataan, logistik, dan keluarganya. Sedangkan seluruh faksi-faksi murtad yang tidak menandatangani kesepakatan damai dengan rezim Nushairi akan berkumpul di Idlib sehingga mereka dengan mudahnya akan dihujani bombardir pembom Rusia dan Nushairi dan disudutkan oleh milisi Rafidhah. Siapapun yang ingin keluar dari neraka ini tidak punya pilihan kecuali menyerahkan dirinya dan bergabung dengan tentara Nushairi, atau masuk ke Turki melalui pintu perbatasan resmi lalu dipindah ke buffer zone tersebut dan bergabung dengan tentara shahawat moderat untuk memerangi Daulah Islamiyah dan membiarkan sama sekali rezim Nushairi.

Proyek ini terus berjalan sampai daerah-daerah di Idlib, as-Sahil, dan pinggiran utara Hama dikuasai sepenuhnya oleh tentara Nushairi setelah dikosongkan dari prajurit-prajurit shahawat yang tersisa yang datang dari kantong-kantong di Himsh, Damaskus, Qolamun, dan Dar’a. Tanda bahwa elemen-elemen murtad shahawat menerima kesepakatan damai tersebut adalah dengan masuk dalam barisan tentara Nushairi atau masuk dalam tentara shahawat moderat dalam zona penyangga itu, khususnya jika tidak ada lagi pilihan tinggal di Turki setelah pemerintahan Turki memindahkan seluruh kamp-kamp pengungsian ke dalam zona penyangga tersebut.

Ketika itulah akan diadakan kesepakatan penggabungan faksi-faksi di zona penyangga itu ke dalam tentara Nushairi dalam bentuk batalyon-batalyon yang menyerupai faksi-faksi Jaisy Sya’bi, atau dileburkan dalam kepolisian di bawah kementerian dalam negeri pemerintahan bersama nantinya. Dengan ini seluruh usaha akan dipusatkan untuk menumpas Daulah Islamiyah.

Seperti Shahawat Irak

Ketika “tunas-tunas” shahawat Syam mulai bermunculan, Daulah Islamiyah telah memperingatkan orang-orang murtad itu bahwa mereka akan melalui jalan shahawat Irak setapak demi setapak namun dengan nasib yang lebih buruk daripada moyangnya.

Daulah Islamiyah tidak akan membiarkan mereka. Salibis dan thaghut pun tidak akan memenuhi janji-janjinya. Nushiriyah dan Rafidhah tidak akan memberikan angan-angan mereka. Bahkan para prajurit Khilafah akan terus berusaha memenggal kepala mereka. Orang-orang Rafidhah dan Nushairiyah akan terus berusaha melemahkan, menundukkan dan mencerai-beraikan mereka. Tidak sulit bagi Rafidhah dan Nushairiyah untuk membuka file-file lama dan mengadili dengan tuduhan baru bagi siapapun yang menentang. Salibis dan thaghut akan meninggalkan mereka segera setelah keperluannya selesai. Tidak ada yang selamat kecuali yang meminta suaka ke negara-negara tetangga seperti yang terjadi pada para gembong shahawat Irak.

Shahawat akan diberantas dan Daulah Islamiyah dengan izin Allah akan kembali menguasi wilayah-wilayah yang terpaksa ditinggalkannya. Prajuritnya akan masuk ke Turki dengan bergelombang dan menjadikannya wilayahnya yang baru. Syariat Allah akan diterapkan. Patung Attaturk akan diruntuhkan, pun berhala demokrasi, sekulerisme, sufi, dan Ikhwanul Murtaddin. Semua itu tidaklah sulit bagi Allah.

SERANGAN ISTANBUL, AMALIYAH YANG DIBERKAHI

RUMIYAH 6 - ARTIKEL

SERANGAN ISTANBUL, AMALIYAH YANG DIBERKAHI

Setiap petaka yang menimpa orang-orang musyrik melalui tangan mujahidin akan segera direspon oleh orang-orang kafir dan sesat dengan memutar balikkan fakta lewat lisan dan tulisan mereka. Tujuannya adalah menyudutkan, mencaci, dan menampakkan para muwahhid sebagai penjahat kejam yang tak mempedulikan harga diri maupun agama. Air mata dusta pun mengucur menangisi agama yang mereka sendiri mengingkarinya, dan darah yang mereka sendiri telah menumpahkannya berkali-kali lipat lebih banyak. Itu jugalah yang terjadi pasca serangan Istanbul terakhir. Serangan mengagetkan di tengah-tengah pesta meriah orang-orang musyrik. Pesta awal tahun salibis yang dinamakan dengan tahun baru Masehi. Mereka berkoar-koar menuduh para muwahid telah menumpahkan darah haram dan melegalkan membunuh orang-orang yang tidak bersalah.

Pada tulisan ini kami berusaha mempersembahkan penjelasan permasalahan ini dalam beberapa sisi. Agar gambaran ini menjadi jelas dalam benak kaum muslimin, dan agar jalan para penjahat menjadi terang.

Kami tidak percaya dengan daftar nama korban tewas dan terluka yang dirilis oleh media thaghut. Hal itu karena kebiasaan mereka sejak dulu dan bukti-bukti yang ada sekarang secara akurat membuktikan kebohongan dan pengkaburan mereka dalam hal ini. Sebagaimana tingkah thaghut Yordania sebelumnya dalam peristiwa Hotel Oman yang berbarokah yang menargetkan pertemuan salibis antek CIA dan para pejabat shahawat Irak murtad. Thaghut Yordania menyembunyikan realitas ini dan membuat isu bahwa yang menjadi korban hanyalah beberapa orang yang sedang menghadiri acara pesta pernikahan di hotel tersebut, yang barang kali tanpa sengaja terkena serpihan sabuk peledak istisyhadi yang menarget salibis dan murtadin.

Fitnah lebih besar daripada pembunuhan.

Allah ta'ala berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.” (QS. al-Baqarah: 217).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang sebab turunnya ayat ini, “as-Suddi berkata, ‘Dari Abu Malik dan Abu Shalih, dari Ibnu Abbas dan Murrah, dari Ibnu Mas‘ud, ‘Mereka bertanya padamu tentang Bulan haram, tentang berperang di dalamnya? Katakanlah bahwa berperang di dalamnya adalah dosa besar’, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengirim sebuah sariyah yang terdiri dari tujuh prajurit di bawah pimpinan Abdullah bin Jahsy al-Asadi. Ibnu Jahsy terus berjalan sampai ke tengah Lembah Nakhlah. Tiba-tiba ia bersua dengan al-Hakam bin Kisan, al-Mughirah bin Utsman, Amru bin al-Hadhrami dan Abdullah bin al-Mughirah. Ibnul Mughirah berhasil lolos, al-Hakam bin Kaisan dan al-Mughirah ditawan, sedangkan Amru terbunuh ditangan Waqid bin Abdullah. Para sahabat Rasulullah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendapatkan ghanimah pertama kali dalam sariyah ini. Kaum Musyrikin gempar. Mereka sesumbar, “Muhammad mengklaim bahwa dia taat kepada Allah, tetapi dia jugalah yang pertama kali menghalalkan bulan haram dan membunuh teman kami pada bulan Rajab.” Maka kaum muslimin menjawab, “Sesungguhnya kami membunuhnya dalam bulan Jumada (al-Akhirah)”, atau pada malam terakhir Jumadal Akhirah dan permulaan Rajab. Lalu kaum muslimin menyarungkan pedang mereka ketika masuk bulan Rajab. Maka Allah menurunkan firman-Nya mencela penduduk Mekah, ‘Mereka bertanya kepadamu tentang berperang dalam bulan haram. Katakanlah, ‘Berperang (Ofensif) dalam bulan itu adalah dosa besar.’ (QS. alBaqarah: 217), yaitu tidak halal. Namun tingkah kalian wahai orang-orang musyrik, lebih besar dari pada melakukan pembunuhan pada bulan Haram. Kalian kafir kepada Allah, menghalang-halangi Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya, dan mengusir penduduk Masjidil Haram, yaitu ketika mereka mengusir Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Itu semua lebih besar dosanya di sisi Allah daripada membunuh.”

Lagipula Allah ta'ala telah menetapkan pahala hijrah dan jihad untuk Abdullah bin Jahsyi radhiyallahu anhu dan rekan-rekannya sebagai balasan atas amal mereka, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq berkata, “Ketika al-Qur’an turun mendukung tindakan Abdullah bin Jahsy dan rekanrekannya, mereka berhasrat mendapatkan pahala lebih banyak. Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah kita berharap ikut berperang yang dengannya kita mendapat pahala hijrah dan jihad? Maka Allah ta'ala menurunkan firman-Nya, ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (QS. al-Baqarah: 218). Dengan itu Allah memposisikan mereka dalam pengharapan yang paling besar.

Hakikat sebenarnya

Mungkin yang mendengar tuduhan kaum musyrikin kepada Rasulullah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya karena berperang pada bulan haram mengira bahwa orang-orang musyrik betul-betul menghormati bulan-bulan haram ini. Allah telah mengharamkan berperang pada bulanbulani ini. Padahal faktanya justru sebaliknya. Sikap mereka itu sebenarnya lebih mirip olok-olok daripada menghormati. Tiap kali mereka merasa sulit untuk menghentikan perang selama tiga bulan berturutturut mereka justru melakukan dosa yang lebih besar daripada maksiat perang, yaitu merubah hukum Allah dengan cara an-Nasi’ (mengulur waktu). Maksudnya ialah menghalalkan perang pada salah satu bulan yang diharamkan oleh Allah, lalu sebagai gantinya mengharamkan berperang di salah satu bulan yang diperbolehkan untuk berperang. Dengan demikian mereka telah membolehkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah. Bahkan mereka merasa bangga dengan perbuatan kotor ini sebagaimana ungkapan salah seorang penyair,

Kamilah orang-orang yang suka menangguh-nangguhkan dengan sengaja
Bulan-bulan halal kami jadikan bulan-bulan haram

Allah ta'ala berfirman, “Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundurundurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. at-Taubah: 37).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Laits bin Abu Sulaim telah meriwayatkan dari Mujahid bahwa dahulu ada seorang lelaki Bani Kinanah yang setiap tahunnya selalu datang ke musim haji dengan mengendarai keledai. Ia lalu berseru, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah orang yang tidak pernah dicela dan tidak pernah dibantah, dan tidak ada yang menolak apa yang aku katakan. Sesungguhnya kami mengharamkan bulan haram dan menangguhkan bulan Safar.’ Kemudian ia datang lagi pada tahun berikutnya dan mengatakan hal yang sama, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya sekarang kami haramkan bulan Safar dan kami menangguhkan bulan haram.’ Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya, “Agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya.” Yakni yang empat bulan itu. “Maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah”, yaitu karena mereka, menangguhkan bulan haram itu. Hal yang semisal telah diriwayatkan pula dari Abu Wail, adh-Dhahhak, dan Qotadah.”

Jadi orang-orang musyrik tidak akan pernah menghormati syiar-syiar Allah, hari-hari dan kehormatan-kehormatan-Nya. Mereka hanya ingin mempermainkan dan mengolok-olok agama Allah, menciptakan syariat yang tidak diizinkan oleh-Nya, lalu mengingkarinya secara total. Lalu setelah itu mereka menelusuri cacat-cacat umat islam dan agamanya, dan mencaci-maki umat Islam dengan fitnah murahan. Mereka mengklaim bahwa merekalah yang mengikuti jalan kebenaran sekalipun kenyataannya kafir dan menyekutukan Allah.

Seperti itu jugalah tingkah thaghut hari ini dan ulama durjana budak mereka yang selalu mempermainkan syariat. Mereka mencela mujahidin karena memerangi orang-orang murtad dan menargetkan tempat-tempat ibadah dan pesta hari raya orang-orang musyrik. Mereka menipu manusia dengan menuduh mujahidin membunuhi umat islam dan orang-orang yang mendapatkan jaminan keamanan, menargetkan masjid dan mengkafirkan muslim pelaku maksiat seperti tindakan Khawarij dahulu.

Thawaghit itu lupa bahwa kafir kepada Allah ta'ala dan menyaingi-Nya dalam perundang-undangan, hukum serta ke-ilahian-Nya merupakan kejahatan terbesar secara mutlak. Termasuk sengaja membunuhi kaum muslimin dan orang-orang yang mendapat jaminan keamanan dan malah melabelkannya pada mujahidin sekalipun mereka tahu pasti bahwa mujahidin terbebas dari hal itu.

Ulama durjana dan pegiat media budak mereka lupa bahwa klaim majikannya menghormati darah kaum muslimin adalah sekedar dusta belaka. Dusta yang telah terbongkar dengan penjara tempat penyiksaan kaum muslimin, dengan pembantaian masal umat islam di bumi Daulah Islamiyah lewat bombardier pesawat, dan dengan bantuan yang mereka berikan kepada siapapun yang tangannya terlumuri darah umat Islam baik salibis, Yahudi, Rafidhah, Hindu maupun Budha.

Terbunuhnya muslim sebagai imbas tidak berarti menghalalkan darahnya

Tuduhan bahwa mujahidin membunuhi kaum muslimin dan menghalalkan darahnya sejatinya tuduhan lama yang terus menerus dibantah oleh para muwahhid. Telah jelas bahwa mujahidin itu berhati-hati dengan darah yang haram. Disaat yang sama juga memperingatkan umat islam agar tidak berbaur dengan orang-orang musyrik. Terutama di tempat-tempat yang kemungkinan akan diserbu seperti pos-pos militer dan keamanan, kantor-kantor pemerintah, dan tempat-tempat ibadah serta perayaan mereka. Maka siapa saja yang menyelisihi perintah Allah agar memisahkan diri dari orang-orang musyrik dan meninggalkan negeri mereka malah sengaja berbaur dengan mereka sehingga tidak bisa dibedakan sejatinya ia hanya membahayakan dirinya sendiri. Para mujahidin tidak akan bertanggung jawab, dan Allah akan membangkitkannya sesuai dengan niatnya.

Jika mujahidin diperbolehkan menyerbu orang-orang musyrik sekalipun berimbas melayangnya jiwa-jiwa yang dimanfaatkan sebagai pelindung dari serangan mujahidin, lalu bagaimana kiranya dengan orang yang sukarela berbaur dengan orang-orang musyrik di tempat-tempat kefajiran mereka? Ikut serta dalam hingar bingar perayaan dan bertasyabbuh dengan tingkah mereka? Kemudian jika dia terkena imbas suatu aksi yang telah Allah perkenankan untuk umat islam, bahkan Dia memotivasinya, yaitu membunuhi dan menyakiti orang-orang musyrik muharib, dia malah protes panjang pendek.

Demikianlah mujahidin menyerbu kelab malam di Istanbul dengan target orang-orang musyrik, setelah mereka semaksimal mungkin mengintai, memilih, merancang, dan mengeksekusi. Tidak masalah bagi jika ada yang mungkin masih dihukumi muslim yang terluka atau terbunuh selama aksi berlangsung sekalipun telah pasti kefasikan dan kefajirannya.

Kafe atau kelab malam?

Para thaghut dan budak mereka merasa jengah dengan merebaknya kisah tewasnya rakyat mereka di tempat pesta kesyirikan yang merupakan sebuah kelab malam. Orang awampun tahu bahwa tempat ini adalah tempat kefasikan dan kefajiran. Para pengunjungnya adalah orang-orang kafir dan fasik baik laki-laki maupun perempuan. Jadi tidak mungkin menyebut korban yang jatuh itu sebagai wali-wali Allah dan para syuhada sebagaimana kebiasaan mereka ketika menggambarkan setiap korban tewas di tangan mujahidin. Maka digunakanlah strategi merubah nama yang selalu digunakannya tiap kali hendak mempermainkan syariat. Tempat kefasikan dan kefajiran itu mereka sebut sebagai kafe agar disimpulkan seakan mujahidin menyerang pengunjung yang sedang makan dan minum, perbuatan yang mubah ditempat yang juga mubah yaitu restoran.

Sebenarnya, tempat yang diserbu dalam serangan Istanbul yang berbarokah itu baik disebut restoran, kelab malam, maupun gedung biasa, itu sama sekali tidak merubah hukum. Tempat itu adalah tempat perayaan orang-orang yang menyekutukan Allah ta'ala, yang boleh diserang dan diganggu. Apalagi jika merupakan tempat kefasikan dan kefajiran yang kaum muslimin tidak diperbolehkan memasukinya.

Para prajurit Daulah Islamiyah hari ini tidak ragu lagi untuk menyerang orang-orang musyrik Rafidhah, Ismailiyah, dan lainnya di tempat-tempat ibadah mereka meskipun disebut sebagai masjid. Karena hakikatnya adalah tempat untuk beribadah kepada selain Allah yang harus dijauhi oleh umat islam. Tidak boleh berdiam di sana atau bahkan sekedar lewat. Apalagi beribadah di sana meskipun untuk Allah semata. Umat Islam telah jelas dilarang untuk beribadah kepada Allah namun menyerupai ibadah kepada selain-Nya, seperti sholat menghadap api agar tidak menyerupai tata cara shalat majusi, melaksanakan shalat tepat di waktu fajar dan terbenamnya matahair agar tidak menyerupai waktu shalat orang-orang shabiah musyrik, dan juga menjauhi menyembelih di tempat yang digunakan orang-orang musyrik untuk menyembelih demi berhalaberhala mereka.

Jika ada orang yang dianggap muslim yang terkena imbas serangan terhadap tempat-tempat ibadah tersebut karena berada disekitarnya, maka hal itu tidak menghalangi penyerangan terhadap tempat-tempat ibadah syirik tersebut, dengan tetap berupaya untuk menjauhkan umat islam agar tidak menjadi korban, apalagi mujahidin sudah memperingatkan mereka. Lalu bagaimana dengan orang yang berada di tempat kefasikan dan kefajiran itu ikut memeriahkan hingar bingar perayaan hari raya orang-orang musyrik.

Hukum orang yang ikut serta memeriahkan perayaan orang-orang musyrik

Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah ditanya mengenai orang Islam yang membuat makanan (spesial) di waktu perayaan Nowruz (tahun baru Persia, edt), dan memeriahkan even-even seperti seperti Epifani (festival Kristen yang dirayakan tiap 6 Januari), tahun baru masehi, Kamis Suci (hari Kamis sebelum perayaan Paskah, edt), dan Sabtu Suci (perayaan dan misa pada hari Sabtu sebelum Paskah, edt), serta hukum orang yang menjual sesuatu yang bisa mendukung perayaan mereka. Boleh atau tidak umat islam melakukan hal seperti itu?

Beliau menjawab, “Segala puji bagi Allah. Tidak boleh umat islam meniru-niru hal-hal yang menjadi simbol perayaannya mereka baik berupa makanan, pakaian, membersihkan diri, menyalakan api, maupun meniadakan kebiasaan tertentu atau ibadah tertentu, atau halhal lain.”

“Tidak boleh pula mengadakan walimah, memberi hadiah, dan menjual barang-barang yang mendukung perayaan itu. Tidak boleh juga mengerahkan anak-anak kecil untuk menampilkan permainan yang terkait dengan perayaan itu, juga tidak boleh menampakkan perhiasan.”

“Artinya tidak boleh mengkhususkan sedikitpun dengan hal-hal yang terkait dengan perayaan dan simbol-simbol mereka. Hari raya mereka bagi umat islam itu layaknya hari-hari biasa, umat islam tidak boleh ikut serta mengkhususkan sesuatu sedikitpun.”

“Adapun jika tidak sengaja menepati hari raya mereka maka sekelompok ulama salaf dan khalaf memakruhkannya. Sedangkan mengkhususkannya dengan hal-hal tersebut diatas, maka ulama tidak berselisih mengenai keharamannya. Bahkan ada sekelompok ulama yang mengkafirkan orang yang melakukan hal-hal tersebut, karena ada unsur mengagungkan syiar-syiar kafir. Sekelompok ulama berkata, ‘Barang siapa yang menyembelih nathihah (hewan ternak) pada hari raya mereka, maka seakan dia menyembelih seekor babi'."

“Abdullah bin Amru bin Ash berkata, ‘Barangsiapa tinggal di negeri-negeri ajam lalu ikut memeriahkan hari raya dan pesta pora mereka, dan bertasyabuh hingga mati dalam kondisi seperti itu, niscaya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat bersama mereka'."

“Beberapa salaf berkomentar tentang firman Allah ta'ala, “Dan orang-orang yang tidak menghadiri az-Zur”, mereka berkata, “az-Zur artinya adalah hari raya mereka.” Jika ini hanya hadir, lantas bagaimana jika melakukan perbuatan yang menjadi ciri khasnya.”

“Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam al-Musnad dan as-Sunan bahwa beliau bersabda, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, niscaya dia termasuk dari mereka.” Dalam lafadz yang lain, “Tidak termasuk golongan kami orang yang menyerupai selain kami.” Hadits ini berderajat baik.”

Jika peringatan keras ini mengenai tasyabuh dalam kebiasaan sehari-hari, lalu bagaimana dengan hal yang lebih parah dari itu? Jumhur ulama berpendapat makruh, baik makruh li tahrim (karena haram) atau li tanzih (untuk kehati-hatian), memakan daging sembelihan dan sesaji perayaan mereka karena termasuk katagori binatang yang disembelih untuk selain Allah dan demi berhala. Mereka juga melarang membantu perayaan dengan memberikan hadiah atau jual beli. Mereka berkata, ‘Orang Islam dilarang menjual kepada orang Nasrani sesuatu yang terkait dengan hari raya mereka, baik itu daging, darah, maupun pakaian. Juga tidak boleh meminjamkan kendaraan serta tidak boleh membantu atas sesuatu yang terkait dengan agama mereka. Karena hal itu termasuk menghormati dan memfasilitasi kesyirikan dan kekufuran mereka. Para penguasa seharusnya melarang kaum muslimin, karena Allah ta'ala berfirman, “Dan tolong menolonglah diatas kebaikan dan taqwa dan janganlah kalian tolong menolong diatas perbuatan dosa dan permusuhan.” (QS. al Maidah:2)

Kemudian, seorang muslim dilarang membantu mereka minum-minum khamer dengan memeraskan anggurnya, lantar, bagaimana jika hal itu terkait syiar-syiar kekafiran? Jika menolong saja tidak boleh, lalu bagaimana jika dia pelakunya? Wallahu a’lam.” [Majmu’ Fatawa, dengan sedikit ringkas]

Serangan Istanbul adalah operasi yang berbarokah

Jadi, serangan Istanbul adalah amaliyah yang menargetkan orang-orang musyrik di tempat dan waktu pesta perayaan mereka. Banyak orang-orang musyrik dan murtad yang tewas dan terluka. Sedangkan orang-orang yang mengaku islam yang turut terbunuh, maka dia telah membinasakan dirinya sendiri karena melakukan perbuatan yang menjadikannya lebih dekat kepada kekafiran daripada islam. Dia berbaur dengan orang-orang musyrik sampai tidak bisa dibedakan sehingga darahnya tidak terjaga.

Kami memohon kemuliaan dan kemenangan kepada Allah bagi pelaku dan rekan-rekannya.

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

JANGANLAH KALIAN MENJADI LEMAH DALAM MENGHADAPI MUSUH

RUMIYAH 6 - ARTIKEL

JANGANLAH KALIAN MENJADI LEMAH DALAM MENGHADAPI MUSUH

Orang-orang musyrik ahli kitab dan orang-orang murtad sekutunya tidak akan berhenti menyebarkan isu tentang jumlah fantastis tentara Daulah Islamiyah yang diklaim gugur dalam pertempuran atau akibat serangan udara. Tujuannya ialah untuk menyebarkan rasa putus asa dalam jiwa para mujahidin. Yaitu dengan mengintimidasi akan kerugian besar yang akan diderita jika tetap melanjutkan jihad melawan orang-orang musyrik demi menegakkan Dien dan melenyapkan kesyirikan.

Inilah kebiasaan orang-orang kafir. Mereka menimbang segala sesuatu hanya berdasarkan materi duniawi, karena itulah yang diketahuinya. Sebagaimana tingkah salah satu gembong mereka usai Perang Uhud. Ia membanggakan diri karena berhasil membunuh sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, berusaha menyelipkan kesedihan dalam jiwa kaum muslimin. Para sahabat pun menyanggahnya, tidaklah sama karena kaum muslimin yang gugur berada di surga sedangkan orang-orang musyrik yang tewas berada di neraka.

Allah ta'ala memerintahkan hamba-Nya para muwahhid agar jangan sampai luka-luka yang menimpa menghentikan mereka dari terus berupaya untuk mengejar, membunuh, dan memerangi orangorang musyrik, merampas tanah dan harta benda dari tangan mereka, sebagaimana firman Allah ta'ala, “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. an-Nisa: 104).

Perang tidak hanya menghasilkan kemenang dan rampasan perang, terapi juga mengakibatkan luka, rasa sakit, lelah, khawatir, senjata yang rusak, harta benda habis, dan hilangnya anggota badan.

Para Muwahhid berharap kedekatan kepada Allah ta'ala dengan segala hal yang mereka korbankan fi sabilillah. Mereka juga berharap pertolongan-Nya ketika Dia melihat kejujuran jihad mereka. Bahkan disamping mereka memohon pertolongan untuk mengalahkan para musuh, mereka sangat yakin bahwa sekalipun mengalami kekalahan namun jika disertai niat yang ikhlas dan totalitas upaya maka justru akan semakin menambah pahala sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Tidaklah seseorang atau sekelompok orang berperang lalu memperoleh ghanimah dan pulang dengan selamat melainkan sepertiga pahala mereka telah disegerakan, dan tidaklah seseorang atau sekelompok orang berperang lalu gugur dan terluka melainkan mendapatkan pahalanya secara sempurna.” (HR. Muslim).

Maka setiap kekalahan justru akan menambah pengorbanan demi mendapatkan kerelaan Rabb pemilik bumi dan langit hingga agama ini hanya milik Allah atau mereka binasa karenanya, sebagaimana Dia menyifati mereka dalam kalam-Nya, “Yaitu orangorang yang menyambut seruan Allah dan Rasul setelah mereka tertimpa luka. Bagi orang-orang yang berbuat baik dan bertaqwa diantara mereka ada pahala yang besar.” (QS. Ali Imran: 172).

Disaat yang sama, kita dapati bahwa para wali thaghut tidak mendapatkan apapun. Apa yang mereka curahkan dalam perang hanya berujung kerugian. Setiap kekalahan yang mereka derita melalui tangan para muwahid hanya menambah patah semangat. Setiap kerugian harta benda dan personal hanya akan melemahkan semangat mereka untuk melanjutkan dan menuntaskan perang sampai merasa putus asa dan akhirnya terkalahkan. Oleh karena itu, Allah ta'ala memerintahkan para hamba-Nya untuk tidak menahan diri. Dia juga mengingatkan akan dampak serangan-serangan itu pada diri mereka, dan kesudahan mereka tidak lain adalah kehancuran di tangan Allah.

Kita telah menyaksikan kebenaran hal ini berkalikali dalam sejarah jihad yang berbarokah ini. Jihad yang tidak pernah berhenti sejak Rasul shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat yang mulia memulainya sehingga kota Makkah dan Jazirah Arab takluk hanya dalam waktu beberapa tahun. Lalu Imperium Kisra berhasil takluk setelah melalui pertempuran panjang berdarah-darah melawan Persia musyrik sampai Allah menjatuhkan singgasana Kisra. Kemudian giliran Negara Romawi terus menerus diserang selama beberapa abad hingga Allah berkenan untuk melenyapkan dan menghapuskan peninggalan-peninggalannya. Lalu aksi umat islam yang tak kenal lelah terhadap para thaghut dan bangsa-bangsa kafir hingga Allah berkenan menghancurkannya dan menjaga Dien serta negeri kaum muslimin.

Demikian juga yang kita lihat hari ini dalam perjalanan perang para mujahid melawan semua bangsabangsa syirik lagi kafir terutama negara-negara salibis Barat, khususnya selama dua dekade yang lalu. Dengan panji yang jelas dan tujuan yang benar sehingga para muwahhid dengan karunia Allah terus meningkat dan berkembang. Allah menambah jumlah mereka, memperbanyak senjata dan harta benda, memberikan kekuasaan di bumi-Nya, menolong mereka menegakkan Dien-Nya, dan menghidupkan kembali jamaatul muslimin yang hari ini dipimpin oleh Amirul Mukminin Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahullah, sedangkan urusan kaum musyrikin sentiasa menurun dan mundur. Semua itu berkat peneguhan Allah ta'ala terhadap para mujahidin dan petaka yang ditimpakan-Nya kepada orang-orang kafir dan murtad hingga Allah menghancurkan mereka sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum mereka.

“Yang demikian itu karena Allah adalah pelindung bagi orang-orang beriman sedangkan orang-orang kafir tidak ada pelindung bagi mereka.” (QS. Muhammad: 11).

SERAYA BERKATA, KAMI TAKUT AKAN MENDAPAT BENCANA

RUMIYAH 6 - PENGANTAR

SERAYA BERKATA, KAMI TAKUT AKAN MENDAPAT BENCANA

Ketika pemimpin faksi-faksi shahawat dengan prakarsa salibis Rusia pergi ke Astana ibukota Kazakhstan untuk bertemu dengan utusan rezim Nushairi guna menekankan perjanjian damai diantara mereka, para prajurit murtad mereka tetap melanjutkan serangan ke kota Albab di bawah bantuan dan back up dari salibis Rusia, sebagai sekutu thaghut shahawat terbesar yaitu Erdogan.

Bahkan mereka tidak berhenti sampai sini saja. Siapa yang mengikuti celotehan pemimpin mereka dewasa ini akan mendapati bahwa mereka berbicara mengenai Rusia seolah membicarakan seorang teman, bukan lagi Rusia salibis sekutu rezim Nushairi yang telah membunuh ribuan orang-orang lemah, menghancurkan kota-kota dan perkampungan, dan membantu pasukan Nushairi merebut kembali kota Aleppo serta mengusir mereka. Ternyata hari ini mereka justru menyebutnya sebagai “pahlawan perdamaian” dan berharap bisa berkoalisi dengannya untuk menumpas Daulah Islam.

Persahabatan antara shahawat murtad Syam (dengan thaghut Erdogan di belakang mereka) dan salibis Rusia terjadi setelah selama bertahun-tahun orang-orang murtad itu memberikan loyalitas kepada Amerika yang telah membantai umat islam, membantu thawaghit, dan melindungi negara kecil Yahudi yang telah menjajah tanah umat islam.

Ketika mereka sudah putus asa dengan Amerika, maka tidak sulit bagi mereka untuk beralih kepada Rusia, bahkan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk sekaligus bersahabat dengan negara kecil Yahudi. Karena wala wal bara benar-benar telah hilang dari jiwa mereka. Jadi mudah saja bagi mereka untuk berwala kepada Yahudi, Kristen dan orang-orang musyrik, dan bersahabat dengan mereka melawan kaum mukminin ahlu sunnah, karena takut terhadap orang-orang musyrik atau berharap keuntungan dari mereka.

Shahawat murtad Syam juga menjustfifikasi kedekatan baru mereka dengan salibis Rusia, bahkan kemungkinan untuk bergabung di bawah bendera mereka dan bendera pemerintah Nushairi demi menghadapi Daulah Islamiyah, dengan alasan melemahkan campur tangan Iran di Syam dan mencegah rezim Nushairi memanfaatkan milisi Rafidhah karena mereka telah menggantikannya menumpas jamaah “teroris”, maksudnya Daulah Islamiyah.

Dengan demikian mereka mengulang kembali semua dalih yang dikemukakan shahawat Irak ketika menjustifikasi keikutsertaan mereka di bawah bendera Amerika beberapa tahun yang lalu, yaitu bahwa mereka ingin menjadi pengganti milisi Syiah Rafidhah yang menjadi ujung tombak Amerika dalam menumpas mujahidin, dan mengklaim bahwa kerjasama dengan salibis Amerika –yang telah mereka perangi selama bertahun-tahun– adalah dalam menghadapi musuh bersama yaitu Daulah Islamiyah. Mereka berharap Amerika menepati janjinya dengan menyerahkan pemerintahan kepada mereka setelah Amerika mundur dari Irak segera setelah berhasil menumpas Daulah Islamiyah.

Tentunya Amerika tidak akan menepati satupun janji-janjinya.

Pada akhirnya mereka hancur di tangan milisi Syiah Rafidhah yang berpakaian polisi dan tentara, setelah para shahawat memikul seluruh beban berat menumpas Daulah Islamiyah. Seluruh Irak jatuh ke tangan Rafidhah laksana rampasan perang gratis.

Kalaulah bukan karena kelembutan Allah terhadap umat islam dengan kembalinya Daulah Islamiyah hanya dalam beberapa tahun setelahnya untuk menimpakan petaka atas Rafidhah dan kroni shahawatnya serta merebut kembali negeri-negeri yang didudukinya.

Allah azza wa jalla  telah menjelaskan keadaan mereka yang mengaku beriman. Di setiap zaman dan tempat mereka bersegera untuk loyal kepada orang-orang kafir karena takut tertimpa petaka sekaligus berhasrat untuk meraup keuntungan. Mereka murtad dari agama Allah azza wa jalla secara massal.  Kelak Allah akan mengganti mereka dengan para hamba-Nya yang ikhlas, yang berwala kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman, yang merupakan Hizbullah dan satu-satunya golongan yang akan mendapatkan kemenangan dan kekuasaan, sebagaimana firman Allah azza wa jalla,

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai aulia (mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka aulia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, ‘Kami takut akan mendapat bencana.’ Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. Dan orang-orang yang beriman akan berkata, ‘Inikah orang yang bersumpah secara sungguh-sungguh dengan (nama) Allah, bahwa mereka benar-benar beserta kamu? Segala amal mereka menjadi sia-sia, sehingga mereka menjadi orang yang rugi. Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Allah itulah yang menang.” (QS. al-Maidah: 51-56).