Rabu, 25 April 2018

GREEN ZONE, PROYEK KONSPIRASI DAN KONTROL SEMU

RUMIYAH 6 - ARTIKEL

GREEN ZONE, PROYEK KONSPIRASI DAN KONTROL SEMU

Si Thaghut Turki Erdogan sejak permulaan jihad di Syam telah mempromosikan proyek sebuah daerah penyangga yang berfungsi sebagai perlindungan bersama dari bom-bom pesawat Nushairi sekaligus menyediakan kebutuhan logistik. Tanggung jawab perlindungan daerah ini diserahkan ke pundak pilot-pilot Turki dengan bantuan Amerika dan NATO. Namun proyek ini gagal karena tidak disetujui oleh Amerika dan NATO. Bahkan rudal pertahanan udara PATRIOT yang bisa digunakan untuk melindungi buffer zone tersebut dari pesawat-pesawat Nushairi malah ditarik mundur.

Mendapat Persetujuan

Dengan semakin sengitnya operasi menumpas Daulah Islamiyah yang dilancarkan oleh koalisi Salibis pimpinan Amerika, setiap pihak bisa mempromosikan proyek-proyek pribadinya dengan syarat bertujuan menumpas Daulah Islamiyah. Si Thaghut Erdogan dan faksi-faksi shahawat sekutunya kembali menyodorkan proyek buffer zone tersebut dengan sentuhan baru, yaitu bahwa daerah ini berfungsi sebagai pangkalan baru operasi penumpasan Daulah Islamiyah. Pangkalan ini akan menjadi titik tolak operasi-operasi yang meliputi tepi barat (Syam) Sungai Eufrat berseiringan dengan operasi-operasi PKK di tepi timur Sungai Eufrat. Sehingga tidaklah aneh jika dua poros yang tampaknya saling bermusuhan namun sebenarnya saling membantu itu diberi kode nama yang hampir mirip yaitu Dir’ul Furat (Perisai Eufrat) yang dikomandoi Turki dan sekutu-sekutunya, dan Ghadhabul Furat (Kemurkaan Eufrat) yang digawangi oleh PKK dan konco-konconya. Jadilah poros ini menjadi poros baru ditambah dengan poros Rafidhah di Irak, Peshmerga di Kurdistan, PKK di al-Jazirah, dan rezim Nushairi di Aleppo dan al-Badiyah.

Dengan alasan itu, akhirnya Turki mendapat restu untuk bergerak menuju Jarablus, ar-Ra’i sampai di kota al-Bab, di bawah bantuan udara, logistic dan persenjataan Amerika dalam banyak tahapan operasinya.

Untuk menghindari penolakan rezim Nushairi dan sekutu Rusia serta Irannya, pemerintahan Turki murtad melakukan negosiasi dengan salibis Rusia. Dalam negosiasi tersebut Turki menjamin bahwa pergerakannya di pinggiran utara dan timur Aleppo itu hanya untuk menumpas Daulah Islamiyah tidak akan menyentuh sedikitpun rezim Nushairi dan sekutunya.

Proyek Penting

Si Thaghut Erdogan dan elemen-elemen pemerintahan murtadnya selalu sesumbar bahwa buffer zone itu berfungsi untuk mencegah berdirinya negara Kurdi yang dicita-citakan oleh PKK sekuler kafir, yaitu dengan menguasai zona yang membentang sepanjang lebih dari 50 km antara Jarablus sampai I’zaz. Daerah ini berfungsi sebagai pembatas antara tepi barat dan timur Eufrat yang dikontrol oleh PKK. Zona ini juga berfungsi untuk membendung aliran mujahid yang menuju wilayah-wilayah Daulah Islamiyah.

Namun yang mencermati realitas lapangan dan pentas politik yang terjadi di Turki dan Syam akan mengetahui bahwa proyek ini jauh lebih penting daripada sekedar mengaborsi proyek negara Kurdi sekalipun hal itu juga penting.

Dengan keberhasilan tentara Turki mengontrol sebagian wilayah Syam maka hal itu berarti mereka memiliki sarana penekan penting atas rezim Nushairi kedepannya melebihi pentingnya memegang kuasa atas banyak faksi murtad, yang hal itu berarti sekian banyak keuntungan yang akan didapatkan nantinya jika mereka mundur dari zona ini apapun bentuknya pemerintahan Thaghut di Damaskus nantinya.

Kontrol sementara Turki atas zona ini dengan bantuan udara Rusia atau Amerika yang mencegah gempuran rezim Nushairi itu berarti solusi atas sejumlah besar pengungsi yang merepotkan atau sedikit manfaatnya dengan cara membangun kamp-kamp pengungsian di zona ini, sehingga terlepas dari biaya besar yang membebani perekonomiannya yang sedang terpuruk.

Ditambah lagi Turki akan mampu merekrut pejuang-pejuang yang berada di kamp-kamp ini untuk proyek-proyeknya nanti di Syam. Jika Iran mengendalikan milisi-milisi Rafidhah yang tergabung dalam Hasyad Rafidhi dan menggunakannya untuk memuluskan rencana-rencananya, maka dengan hal itu memungkinkan bagi Turki untuk berbicara mengenai Hasyad Shahawat yang akan dimanfaatkannya untuk mengamankan kepentingan-kepentingannya baik di Syam maupun secara regional.

Zona Penyangga Yang Diterima

Dengan penandatanganan perjanjian damai antara rezim Nushairi dan shahawat murtad yang diawasi oleh salibis Rusia, para pejabat Rusia berbicara tentang perlunya mengisolasi oposisi militant dari yang moderat sekalipun mereka mengetahui hubungan erat antara faksi-faksi shahwat murtad itu baik yang murni sekuler maupun mengaku-aku menegakkan syariat. Isolasi ini penting agar oposisi moderat yang menerima negosiasi dengan rezim Nushairi dan menyerahkannya pada badan otoritas negosiasi yang dipimpin oleh mantan Perdana Menteri rezim Nushairi si murtad Riyadh Hijab tidak menjadi target pembom Rusia, sehingga hanya menargetkan oposisi militant yang menolak negosiasi tersebut.

Namun wacana tersebut mustahil dilakukan karena yang menolak maupun yang menerima negosiasi itu sulit dipisahkan lantaran yang moderat tidak mampu mengusir pihak lain itu dari barisannya. Gambaran ini tampak semakin jelas sebelum kota Aleppo jatuh sepenuhnya ke tangan tentara Nushairi sampai si Thaghut Erdogan menyodorkan formula yang bisa diterima oleh shahawat murtad untuk proses pengisolasian ini. Orang-orang murtad itu percaya padanya bahwa Russo-Nushairi mengizinkan pembuatan zona penyangga ini yang berfungsi memisahkan shahawat moderat dari rekan militannya sehingga bisa fokus pada penumpasan Daulah Islamiyah saja. Mereka juga akan dilindungi dari bombardir Nushairi dan Rusia selama mereka komitmen dengan tugasnya itu.

Proyek Russo-Turki

Setelah proses penyerahan Aleppo kepada rezim Nushairi berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani oleh Rusia dan Turki selesai, dimulailah proyek Rusia-Turki baru untuk di-copypaste-kan pada daerah kontrol shahawat lain di Syam. Hal itu berdasarkan kesepakatan damai antara shahawat dan rezim Nushairi yang dituangkan dalam tiga poin:

Pertama; Menghentikan kontak senjata di antara kedua belah pihak di seantero Syam.

Kedua; Membentuk pemerintahan bersama antara rezim Nushairi dan murtaddin oposisi bersenjata serta politik berdasarkan sekulerisme, demokrasi, dan merepresentasikan masingmasing komponen masyarakat. Kendali pemerintahan kembali dipegang oleh Nushairi, dan pejuang-pejuang shahawat dileburkan dalam tentara Nushairi.

Ketiga; Pada akhirnya peperangan terjadi hanya untuk menumpas Daulah Islamiyah saja.

Zona penyangga dalam kesepakatan ini berfungsi sebagai zona gencatan senjata pertama secara resmi setelah dilaksanakan sebelumnya sejak beberapa bulan dimulainya operasi Perisa Eufrat. Zona ini menjadi perlindungan seluruh faksi dan organisasi yang masuk dalam proyek Rusia-Turki. Mereka berpindah ke sana dengan membawa seluruh persenjataan, logistik, dan keluarganya. Sedangkan seluruh faksi-faksi murtad yang tidak menandatangani kesepakatan damai dengan rezim Nushairi akan berkumpul di Idlib sehingga mereka dengan mudahnya akan dihujani bombardir pembom Rusia dan Nushairi dan disudutkan oleh milisi Rafidhah. Siapapun yang ingin keluar dari neraka ini tidak punya pilihan kecuali menyerahkan dirinya dan bergabung dengan tentara Nushairi, atau masuk ke Turki melalui pintu perbatasan resmi lalu dipindah ke buffer zone tersebut dan bergabung dengan tentara shahawat moderat untuk memerangi Daulah Islamiyah dan membiarkan sama sekali rezim Nushairi.

Proyek ini terus berjalan sampai daerah-daerah di Idlib, as-Sahil, dan pinggiran utara Hama dikuasai sepenuhnya oleh tentara Nushairi setelah dikosongkan dari prajurit-prajurit shahawat yang tersisa yang datang dari kantong-kantong di Himsh, Damaskus, Qolamun, dan Dar’a. Tanda bahwa elemen-elemen murtad shahawat menerima kesepakatan damai tersebut adalah dengan masuk dalam barisan tentara Nushairi atau masuk dalam tentara shahawat moderat dalam zona penyangga itu, khususnya jika tidak ada lagi pilihan tinggal di Turki setelah pemerintahan Turki memindahkan seluruh kamp-kamp pengungsian ke dalam zona penyangga tersebut.

Ketika itulah akan diadakan kesepakatan penggabungan faksi-faksi di zona penyangga itu ke dalam tentara Nushairi dalam bentuk batalyon-batalyon yang menyerupai faksi-faksi Jaisy Sya’bi, atau dileburkan dalam kepolisian di bawah kementerian dalam negeri pemerintahan bersama nantinya. Dengan ini seluruh usaha akan dipusatkan untuk menumpas Daulah Islamiyah.

Seperti Shahawat Irak

Ketika “tunas-tunas” shahawat Syam mulai bermunculan, Daulah Islamiyah telah memperingatkan orang-orang murtad itu bahwa mereka akan melalui jalan shahawat Irak setapak demi setapak namun dengan nasib yang lebih buruk daripada moyangnya.

Daulah Islamiyah tidak akan membiarkan mereka. Salibis dan thaghut pun tidak akan memenuhi janji-janjinya. Nushiriyah dan Rafidhah tidak akan memberikan angan-angan mereka. Bahkan para prajurit Khilafah akan terus berusaha memenggal kepala mereka. Orang-orang Rafidhah dan Nushairiyah akan terus berusaha melemahkan, menundukkan dan mencerai-beraikan mereka. Tidak sulit bagi Rafidhah dan Nushairiyah untuk membuka file-file lama dan mengadili dengan tuduhan baru bagi siapapun yang menentang. Salibis dan thaghut akan meninggalkan mereka segera setelah keperluannya selesai. Tidak ada yang selamat kecuali yang meminta suaka ke negara-negara tetangga seperti yang terjadi pada para gembong shahawat Irak.

Shahawat akan diberantas dan Daulah Islamiyah dengan izin Allah akan kembali menguasi wilayah-wilayah yang terpaksa ditinggalkannya. Prajuritnya akan masuk ke Turki dengan bergelombang dan menjadikannya wilayahnya yang baru. Syariat Allah akan diterapkan. Patung Attaturk akan diruntuhkan, pun berhala demokrasi, sekulerisme, sufi, dan Ikhwanul Murtaddin. Semua itu tidaklah sulit bagi Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar