MAKA IKUTILAH PETUNJUK MEREKA
Statemen Juru Bicara Resmi Daulah Islamiyah, Syaikh Abul Hassan Al Muhajir
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah yang memuliakan Islam dengan pertolongan-Nya, menghinakan kesyirikan dengan kekuatan-Nya, mengatur segala perkara dengan perintah-Nya, memperdaya kaum kafir dengan makar-Nya, yang telah menentukan hari-hari itu silih berganti dengan keadilan-Nya, dan menjadikan akhir yang baik untuk orang-orang bertakwa dengan karunia-Nya. Shalawat serta salam untuk sosok yang dengan pedangnya Allah meninggikan ‘menara’ Islam. Amma ba’du…
Di medan laga, gaung harapan orang-orang kafir kembali menggema untuk menghabisi Daulah Islam. Para pembawa panji Islam dan penjaga akidah meminta kekuatan dari Sang Pencipta mereka yang Maha Agung dan Maha Tinggi. Karena segala keputusan ada di tangan-Nya, mereka bersandar dan bertawakal hanya kepada-Nya, dan mereka mengokohkannya dengan janji dan amalan-amalan shalih.
Kekalahan para penyebar kabar dusta, para pengecut, dan orang-orang bathil tidak dapat melemahkan kekuatan mereka. Sungguh, mereka orang-orang superior, dermawan, penuh harga diri lagi mulia. Mereka membaca firman Allah, “Jika kamu tidak berangkat (berperang)…” (At-Taubah: 39), maka mereka segera bangkit. Ketika telinga mereka menyimak seruan “Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad)...” (At-Taubah: 40), mereka segera mengorbankan diri dan mengerahkan tenaga, baik dalam keadaan ringan dan berat, baik tua maupun muda.
Mereka tak mau terbelenggu kenyamanan dan kenikmatan (dunia), tidak pula condong kepada harta dunia yang akan lenyap. Mereka melepasakan semua itu demi kebenaran, sehingga mereka berpegang teguh kepada pasak kebenaran. Ia pun tumbuh, ranum, menghasilkan buah sangat manis, dan bertambah besar. Tibalah jihad menghentak muka bumi. Gelanggangnya meluas, hingga kobarannya menghanguskan bangsa-bangsa Salibis, para pemerintahan murtad, dan antek-anteknya. Dalam memerangi musuh-musuh Allah, tekad mereka menguat. Pertempuran dahsyat sejati yang diukir orang-orang sabar lagi meyakini janji Allah kepada mereka. Mereka membaca firman Rabb mereka: “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin),” (Ali ‘Imran: 179).
Mereka lalui malapetaka seiring berlalunya hari-hari. Bahwasannya seleksi, penyaringan, segenap cobaan pastilah datang, mau tidak mau. Sebuah sunatullah yang niscaya berlaku, sedangkan engkau tidak akan mendapati pergantian pada sunatullah. Bersamaan dengan setiap peristiwa dan bencana, mereka kembali dan merasa puas dengan ‘mata air’ pertolongan Allah yang tak pernah kering. Relung hati mereka tak sekali pun terkotori keraguan. Kesukaran tak dapat membebani bahu mereka, tidak pula banyaknya musuh.
Mulia seperti gunung kesabaran mereka, puncak gunung serasa bukit kecil bagi mereka
Ketika marah karena Allah keberanian mereka membuatmu gembira, lebih berani dari kawanan singa murka
Jika putuskan hidup dalam perang mereka akan laksanakan, penggerak mereka di negeri bagai mata tombak
Engkau kira mereka hidup makmur dan kaya, singa-singa mendobrak fatamorgana dalam sarangnya
Mereka mencengangkan bangsa-bangsa kafir, meneror mereka, merampas kenyamanan dan keamanan mereka, serta mencerai-beraikannya. Hingga mereka mengharapkan kehidupan tenang, namun mereka tak lagi mendapatkannya. Mereka tak tahu dari pintu mana akan diserang. Selanjutnya, dengan karunia Allah, seorang muwahid-mujahid yang tak berdaya di muka bumi melihat keledai Salibis Eropa-Amerika digilas dan ditikam di jalanan Paris, London, dan Manhattan, mendapatkan ganjaran setara dan sebanding, sebagai balasan setimpal. Sebagaimana mereka membunuh, mereka pun terbunuh. Mereka membombardir, mereka pun akan diluluh-lantakkan, dan mereka akan dikumpulkan dalam neraka Jahanam.
Kami bunuh mereka seperti membunuh gerombolan anjing. Kami takkan biarkan mereka di tengah-tengah manusia berteriak penuh kesombongan. Meski demikian, orang-orang yang teperdaya para pemimpin kekafiran masih belum dapat mengambil pelajaran. Orang-orang dungu senantiasa membujuk dan menipu mereka, sehingga mereka tiada henti terjebak kejahatan mereka, tanpa mempertimbangkan hari-hari yang kelak terjadi akibat tindakan bodoh dan kelaliman mereka terhadap kaum Muslimin, tanpa belas kasihan. Lalu mengapa kita tercengang? Inilah tabiat dan kebiasaan mereka, sebagaimana Allah yang Maha Mengetahui mengabarkan kepada kita, Ketika Dia berfirman dalam Kitab-Nya, “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 217)
Rabb kita yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui menjelaskan kepada kita di dalam Kitab-Nya mengenai hakikat orang-orang kafir para kriminal itu, dan Dia memerintahkan kita untuk membunuh dan memerangi mereka hingga Agama itu seluruhnya milik Allah. Mereka mau memeluk Islam atau tunduk kepada perintah dan hukum Allah dengan penuh kehinaan dan kerendahan, karena itu Allah mewajibkan kita menyucikan bumi ini dari busuknya kesyirikan mereka, dari kejahilan mereka, dari kekonyolan mereka, serta dari kesewenang-wenangan dan tirani mereka di muka bumi.
Rabb kita subhanahu wa ta'ala menitahkan kita memerangi kaum musyrik seluruhnya, sebagaimana mereka memerangi kita seluruhnya. Tiada perbedaan antara perang kita melawan Si Thaghut murtad Salman dan putra idiotnya itu dengan perang kita melawan As-Sisi dan pasukannya. Tidak ada perbedaan antara perang kita melawan Si Rafidhah Shafawi (Ali) Khamenei dengan perang kita melawan Si Sekularis Abbas dan Hamas. Tidak ada bedanya perang kita melawan mereka dengan perang kita melawan para majikan mereka dari kalangan Salibis Amerika, Rusia, maupun Eropa. Hanya saja, anak-cucu keturunan Ya’qub (bangsa Arab) lebih besar permusuhan dan kebenciannya terhadap Islam, namun lebih rendah tingkatannya di neraka. Rabb kita berfirman, “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 36)
Dia berfirman, “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193)
Allah memperingatkan kita, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Al-Maa`idah: 51)
Memerangi orang-orang kafir lagi musyrik adalah agama yang kita yakini guna beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya subhanahu wa ta'ala agar Dia meridhai kita. Dia berfirman, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Allah berfirman mengingatkan dan memotivasi para hamba-Nya tentang betapa agungnya orang yang berjihad di jalan-Nya untuk memerangi musuh-musuhNya, “Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (At-Taubah: 120)
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)
Sesungguhnya berperang di jalan Allah adalah perniagaan menguntungkan, yang mana Dia mengarahkan para hamba-Nya kepadanya. Dia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Ash-Shaff: 10-11)
Allah menjadikan pahala dan balasan besar nan agung yang terangkan di dalam firmannya, “Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Ash-Shaff: 12-13)
Ibnul Qayyim berkata di dalam Madarij As-Salikin, “Sesungguhnya ibadah jihad merupakan jenis ibadah yang paling dicintai-Nya ta'ala. Sekiranya seluruh manusia beriman, niscaya akan terlantarlah ibadah ini dan hal-hal yang menyertainya berupa loyalitas karena-Nya ta'ala, permusuhan, cinta dan benci karena-Nya serta mencurahkan jiwa untuk-Nya dalam memerangi musuh-Nya.” Sampai ucapannya: “Di antaranya adalah ibadah menyelisihi musuh-Nya, serta membencinya karena Allah, dan membuat musuh-Nya jengkel karena Allah, adalah termasuk jenis peribadatan yang paling dicintai-Nya. Karena sesungguhnya Allah mencintai wali-Nya yang membuat jengkel dan membuat murka musuh-Nya, juga berbuat buruk kepadanya. Dan inilah ubudiyah yang tidak dapat dipahami kecuali oleh orang-orang cerdas.” Selesai ucapan beliau rahimahullah.
Di dalam Ash-Shahih, dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi seluruh manusia sampai mereka berkata ‘Laa ilaaha illallah’. Jika mereka telah mengatakannya, shalat dengan sholat kita, menghadap kiblat kita, dan menyembelih sembelihan kita, maka sungguh haram atas kita darah dan harta mereka kecuali dengan haknya sedangkan hisabnya urusan Allah.”
Ketika ditanya tentang makna “La ilaha Illallah”, Imam Dakwah Nejed rahimahullah menjawab, “Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya kalimat ini adalah demarkasi (pemisah) antara kekafiran dan Islam. Ia adalah kalimat ketakwaan, ia juga adalah tali iman terkuat, ia kalimat yang dijadikan Nabi Ibrahim alaihis salam sebagai “…kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali (kepada kalimat tauhid itu),” (Az-Zukhruf: 28). Bukanlah yang dimaksud itu sekadar mengucapkannya dengan lisan namun tidak memahami maknanya. Karena sesungguhnya kaum munafik pun mengucapkannya namun mereka justru berada di bawah orang-orang kafir di kerak neraka, padahal mereka melaksanakan shalat, berpuasa, dan bersedekah. Namun yang dimaksud adalah mengetahuinya sepenuh hati, mencintainya dan mencintai pengusungnya, membenci dan memusuhi orang yang menyelisihinya, sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mengatakan La ilaaha Illah dengan ikhlas,” dalam sebuah riwayat: “Secara jujur dari hatinya,” dalam sebuah lafazh: “Siapa yang mengatakan Laa ilaaha Illallah dan mengingkari semua yang sesembahan selain Allah,” dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan kebodohan mayoritas manusia akan syahadat ini.” Selesai ucapan beliau rahimahullah.
Beliau juga berkata terkait tafsir firman Allah ta'ala: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang taat kepada Allah dan hanif . Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).” (An-Nahl: 120)
Adapun firman-Nya: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam”, agar pejalan di jalan (tauhid) tidak merasa kesepian karena sedikitnya yang berjalan. “Yang taat kepada Allah”, bukan taat kepada para raja, tidak pula kepada para pedagang makmur. “Hanif”, tidak condong ke kanan dan ke kiri seperti para ulama yang terkena fitnah (kerancuan/penyimpangan). “Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),” menyelisihi golongan mayoritas dan mengira menjadi bagian dari kaum muslimin.
Tiada Ilah selain Allah, betapa banyaknya orang-orang yang mundur dan menjauh dari kalimat “ikhlas” (baca: tauhid). Mereka melakoni ‘lawannya’ (syirik), dari kalangan yang menisbatkan diri kepada umat ini. Mereka menghancurkan rukun-rukunnya, mengklaim menolongnya, loyal kepada musuh-musuh kalimat ini, memerangi para pengusung dan pengawalnya. Dan sesungguhnya keadaan umat Islam tidaklah lurus dan takkan pernah lurus kecuali dengan ‘Kitab’ yang memberi petunjuk dan ‘pedang’ yang menolong, serta menghidupkan sunnah (Abu Bakar) Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu dalam menghadapi orang murtad yang menjauhkan diri dari hukum dan syariat Allah.
Dia segera menyerang ‘kemah’ orang-orang kafir yang loyal kepada para thaghut, kaum musyrik, dan orang-orang atheis, meskipun dia shalat, puasa, dan tawaf di Rumah Suci (Ka’bah). Dalam peristiwa tersebut, nampak jelaslah pemeliharaan dan penjagaaan Allah untuk agama ini, dan tidak ada yang mampu melakoni peperangan seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq memerangi orang murtad dari bangsa Arab, kecuali para pemilik tekad lurus dan terbimbing ilham lagi diberi taufik dari kalangan para ksatria. Dengan sebab itulah, Allah menghancurkan setiap musuh agama, menyatukan umat, dan mengembalikan mereka kepada agama, setelah kebanyakan mereka murtad dari agamanya dan mayoritas mereka mundur ke belakang dalam keadaan kafir.
Saat itu, Abu Bakar radhiyallahu anhu berdiri bak gunung menjulang di hadapan angin kencang dan fitnah (kekacauan) pekat, sampai dia berkata, “Demi Allah! Aku akan membunuh siapa saja yang memisahkan antara shalat dan zakat. Karena sesungguhnya zakat adalah hak harta. Demi Allah! Sekiranya mereka menahan dariku seekor anak domba yang daulu mereka tunaikan kepada Rasulullah, sungguh aku akan memeranginya karena menahannya (zakat).” Ketika itu, para sahabat radhiyallahu anhum berkata kepadanya, “Bagaimana bisa engkau memerangi manusia, padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, ‘Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah,’ Umar radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, bersikap lembutlah kepada manusia dan berbuat baiklah kepada mereka.” Maka Abu Bakar menjawab, “Engkau begitu berani pada masa jahiliyah, namun pengecut setelah masuk Islam, sungguh wahyu telah terputus, agama telah sempurna, apakah agama ini akan digerogoti sedangkan aku masih hidup?!”
Sampai Al-Faruq berkata, “Demi Allah iman Abu Bakar telah mengungguli iman seluruh umat ini dalam urusan memerangi kaum murtad.” Abu Bakar bin Ayyasy menyatakan, “Aku mendengar Abu Hushain berkata, ‘Tiada seorang pun yang dilahirkan setelah para Nabi yang lebih baik daripada Abu Bakar radhiyallahu anhu. Sungguh dia berada di posisi salah seorang nabi dari dalam memerangi kaum murtad.”
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dan jika kaum Salaf menyebut para penolak zakat sebagai kaum murtad, padahal mereka berpuasa dan shalat, tidak pula memerangi jamaah kaum muslimin, lalu bagaimana dengan orang yang berada bersama musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya dengan memerangi kaum muslimin?”
Bahkan kami katakan pada saat ini, maka bagaimana dengan orang yang berada bersama musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, dari kalangan para thaghut pengganti syariat Allah dan hukum-Nya, menjadi pelayan hina lagi loyalis pembantu para Salibis dan para atheis? Ditambah lagi dia menghembuskan amarah dan kegeraman kepada jamaah kaum muslimin, mengharapkan lenyapnya hukum dan syariat Allah, berbangga dengan hal itu, serta secara terang-terangan dan menyambutnya, sebagaimana terjadi di Mosul, Sirte, Raqqah, dan lainnya.
Dan di antara keanehan zaman adalah kedunguan orang yang menganggap nikmatnya dusta dan kebohongan, gembira dengan bencana yang menimpa Daulah Khilafah, serta menyusutnya kekuasan Daulah dari muka bumi yang telah ditegakkan syariat Allah. Di saat seorang muslim tidak menjumpai di muka bumi ini sebuah Darul Islam yang dapat dia tuju, selain wilayah yang berada di bawah kekuasaan Khilafah, kendati betapa dahsyat dan bengisnya kampanye Salibis.
Meski demikian, bala tentara Khilafah di Irak, Syam, Yaman, Khurasan, Sinai, Libya, Afrika Barat, dan wilayah-wilayah lainnya tiada henti mengorbankan jiwa mereka dengan murah dalam rangka meninggikan kalimat kebenaran dan agama Islam. Pada saat ini, mereka adalah para pejuang agama Islam, dan merekalah manusia paling layak disebut “Thaifah Manshurah” (kelompok yang dimenangkan) yang disebutkan Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam sabda: “Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, selalu menang hingga Hari Kiamat.”
Wahai putra-putra Islam dan para pengusung tauhid di seluruh tempat,
Kalianlah para pionir Khilafah. Perbanyaklah kuantitasnya dan bergabunglah dengan kafilahnya. Sesungguhnya kita berada di ambang penaklukan yang semakin dekat dan kemenangan mulia, dengan izin Allah. Maka janganlah terlewatkan ganjaran menjadi pelopor dan kebaikan yang paripurna.
Sejatinya perang kami melawan para pengusung kekafiran dan kemurtadan adalah takdir yang niscaya dan sebuah kewajiban. Tidak boleh seorang pun yang mengimani Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Nabinya, menunda diri atau menjauhkan diri darinya, demi menghalau serangan mereka dan perampasan mereka terhadap negeri-negeri kaum muslimin. Sejak sangat lama, kaum muslimin tak ubahnya kambing kehujanan di malam deras guyuran hujan, sebab musuh menghegemoni mereka yang kehilangan kekuatan.
Engkau tidak melihat kebanyakan orang yang menisbatkan diri kepada Islam kecuali mengekor hawa nafsu, menyimpang jauh dari millah (agama), dalam kemurtadan dan perbudakan bengis dari anak-cucu kera dan babi. Sepanjang sejarah, kaum muslimin belum pernah didera musibah seperti ini. Mulai dari dari perang akidah, metodologi, ekonomi, militer, maupun media. Dan umat pun belum pernah diuji dengan kaum yang menisbatkan diri kepada ilmu (ulama) seperti sekarang ini. Bahkan, para pengklaim ilmu itu kini telah berubah menjadi ‘pisau belati’ yang digunakan untuk memerangi siapa saja yang hendak menegakkan hukum dan syariat Allah di muka bumi.
Maka sungguh mengherankan orang yang membaca Kitab Rabbnya, namun hidup dalam kubangan kehinaan dan kenistaan; kehendaknya dirampas, didikte keyakinannya dan apa yang mesti dijauhi dari agamanya. Dia hidup dalam celah kelemahan dan jauh sekali dari pemahaman realita, yang tidak diketahui dan dipahami kecuali oleh orang yang mau bangkit dari kehinaan dan mendaki puncak agama, puncak tertinggi lalu melihat dengan ucapan perbuatan nyata, bukan ucapan omong kosong, bualan, dan keadaan orang-orang tertinggal dan terlantar. Semua itu bukanlah jalan untuk menyelamatkan umat Islam dari bencana dahsyat dan keburukan merajalela. Sesungguhnya hidayah Allah segera menghampiri siapa saja yang berjihad di jalan-Nya dan janji-Nya untuk mereka maha benar. Dia subhanahu wa ta'ala berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-‘Ankabut: 69)
Ibnul Qayyim berkata, “Dan ketahuilah bahwa pendirian seorang hamba dalam Islam tidak akan kokoh sampai dia mengikat hatinya bahwa agama seluruhnya milik Allah, bahwa petunjuk adalah petunjuk Allah, bahwa kebenaran berada bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tidak ada yang ditaati dan diikuti selain beliau. Ucapan manusia selain beliau haruslah ditimbang berdasarkan sabda beliau shallallahu alaihi wasallam, jika sesuai maka kita terima, bukan karena dia yang mengatakannya, namun karena dia mengabarkannya dari Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya. Namun jika bertentangan, maka kita tolak. Perkataan beliau shallallahu alaihi wasallam tidak ditimbang dengan pendapat-pendapat ahli logika, tidak pula dengan akal para filsuf dan ahli kalam, tidak pula dengan perasaan orang-orang yang sok zuhud (sufi). Akan tetapi semua pemikiran mereka wajib ditimbang dengan risalah beliau, semisal menimbang uang dirham yang tak dikenal kepada para pakar penimbang. Apa yang dihukumi beliau benar, maka diterima. Dan apa yang ditolak beliau, maka ia tertolak.” Selesai perkataannya rahimahullah.
Wahai orang yang meniti manhaj Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat beliau kalangan terpilih!
Wahai orang yang enggan selain berjalan di atas jalur Salaf (pendahulu) pelaku kebajikan umat ini!
Wahai orang yang berdoa di malam hari, namun didera kesusahan di siang hari!
Wahai orang yang memasrahkan wajahnya kepada Allah, mengira lambatnya kelapangan dan sirnanya bencana, setelah meyakini bahwa tiada solusi, jalan keluar, dan sarana kebahagiaan dan keselamatan umat dari dasar kesengsaraan, yang diridhai Rabb kita selain jihad di jalan Allah, pembunuhan, dan peperangan. Sehingga seorang muslim kembali merdeka lagi mulia, bukan menjadi budak pengekor lagi nista. Sehingga Islam mendominasi bumi dan seluruh makhluk tunduk kepada Allah Rabb Semesta Alam.
Ketahuilah, seseorang takkan sampai kepada ketenangan dan kenikmatan selain melalui ‘jembatan’ kepayahan dan penderitaan.
Wahai Akhi Mujahid, hal demikian memperlihatkanmu bahwa segenap musibah dan penderitaan berujung puncak kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan.
Betapa tidak, hari ini engkau berada di tempat mulia lagi luhur yang dimiliki orang pada zaman ini, memperjuangkan millah Ibrahim dan sunnah sebaik-baik rasul –shalawat serta salam untuk mereka– dalam rangka mematuhi Allah, mengharapkan janji-Nya, dan menunaikan perintah-Nya. Berhati-hatilah dari muslihat tipu daya. Berhati-hatilah, karena sesungguhnya seorang hamba shalih terkadang teperdaya dan terkadang terkena angan-angan, sehingga dia terjerumus ke dalam jebakan serta jerat tipu daya dan makar. Sesugguhnya perkara tersebut sungguh gamblang, dan dia akan binasa. Rabbmu menjanjikan siapa saja yang beriman kepada-Nya, membenarkan para rasul-Nya, berhijrah, menderita di jalan-Nya, dan berperang, sampai dia terbunuh sembari mengharapkan pahala.
Sesungguhnya hanya orang-orang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. Para sahabat –semoga Allah meridhai mereka– adalah generasi terbaik dan paling murni, serta manusia paling mengetahui Kitabullah dan Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Mereka tidak pernah mundur dari memerangi orang-orang kafir musyrik bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada masa beliau. Mereka juga tak pernah mundur dari memerangi orang-orang murtad selepas wafatnya beliau. Dalam hal itu, mereka mengukir peristiwa paling luhur dan mulia, sehingga mereka pun meninggikan ‘menara’ Islam, setelah hampir roboh dan berlubang.
Dalam salah satu gambaran pengorbanan demi agama ini, serta keteguhan tekad “orang-orang pertama yang masuk Islam”, diriwayatkan Anas radhiyallahu anhu, dia menceritakan, “Pamanku, Anas bin An-Nadhr, absen dalam Perang Badar. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak ikut saat pertama kali engkau berperang memerangi orang-orang musyrik. Seandainya Allah memperkenankan aku dapat berperang memerangi orang-orang musyrik, niscaya Allah dapat melihat apa yang akan aku lakukan. Pada Perang Uhud, dan dari barisan kaum muslimin ada yang melarikan diri dari medan tempur, Anas berkata, “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari apa yang dilakukan oleh mereka, yakni para sahabat Nabi, dan aku berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh mereka, yakni orang-orang musyrik.” Maka dia maju, lalu Sa’ad bin Mu’adz menjumpainya. Dia berkata, “Wahai Sa’ad bin Mu’adz, aku menginginkan surga. Demi Rabbnya An-Nadhar, sungguh aku mencium wangi surga dari balik Bukit Uhud ini.”
Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak sanggup menggambarkan apa yang dialaminya.” Anas berkata, “Kemudian kami mendapati dia dengan luka tidak kurang dari 80 sabetan pedang atau tikaman tombak atau tembakan panah. Dan kami menemukannya telah terbunuh, dan kaum musyrik telah mencabik-cabik jasadnya. Sehingga tidak ada satu pun yang mengenalinya selain saudara perempuannya yang mengenali jarinya.” Anas berkata, “Kami melihat atau kami mengira bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dirinya dan orang yang serupa dirinya; ‘Dan di antara orang-orang beriman ada orang-orang yang membuktikan janji mereka kepada Allah,’ hingga akhir ayat.”
Diriwayatkan juga dari Anas bin Malik, Rasulullah berangkat bersama para sahabat beliau menuju Badar hingga mendahului orang-orang musyrik. Kemudian kaum musyrik tiba, maka Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian bertindak sebelum ada perintah dariku.” Ketika kaum musyrik semakin dekat, maka Rasulullah bersabda, “Bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Tiba-tiba ‘Umair bin Al-Hammam berkata, “Wahai Rasulullah, surga yang luasnya seluas langit dan bumi!” Beliau menjawab, “Ya.” Umair berkata, “Bakh...bakh (bagus..bagus)!” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya, “Apa yang mendorongmu mengatakan, ‘Bakh...bakh’?” Umair menjawab, “Tidak, demi Allah, aku berharap aku menjadi penghuninya.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya.” Kemudian dia mengeluarkan beberapa butir kurma dari sakunya, dan memakannya sebagian. Kemudian dia berkata, “Seandainya aku masih hidup sampai aku menghabiskan kurma-kurma ini, sesungguhnya itu kehidupan yang lama.” Dia pun membuang kurma yang tersisa, lalu memerangi mereka hingga terbunuh.
Bahkan, para penghapal Al-Qur'an dari kalangan para sahabat mulia –semoga Allah meridhai mereka– adalah orang-orang yang bersegera berlomba menerobos menerjuni kematian. Ya, wahai pencari ilmu, dalam perang melawan kemurtadan, Umar Al-Faruq dan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhuma khawatir banyak ayat Al-Qur'an akan hilang disebabkan banyaknya penghapal Al-Qur'an yang terbunuh. Sampai-sampai Umar Al-Faruq berkata kepada Khalifah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Korban perang telah meluas pada Perang Yamamah hingga merenggut para penghapal Al-Qur'an. Maka aku khawatir dengan terbunuhnya para penghapal Al-Qur'an di banyak tempat, mengakibat sebagian besar ayat Al-Qur'an akan hilang. Aku berpendapat sebaiknya engkau memerintahkan untuk mengumpulkan Al-Qur'an.” Hal itu merupakan sebab kodifikasi (penghimpunan) dan melestarikan Al-Qur'an secara tertulis dalam lembaran-lembaran. Betapa luhurnya posisi seorang pengemban ilmu dan Al-Qur'an pada hari ketika buah manis ilmunya mendorongnya menjadi sosok pemberani, bukan menjadi penakut dan kebingungan. Inilah Zaid bin Al-Khattab hyang membawa panji kaum muslimin pada Perang Yamamah guna memerangi orang-orang murtad. Dia berkata sembari berteriak penuh keyakinan bahwa apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik, lebih kekal, dan kesudahan baik adalah milik ketakwaan:
“Ya Allah sesungguhnya aku memohon uzur kepada-Mu dari kaburnya sahabat-sahabatku dan aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dibawa Musailimah.” Dia pun lantas merangsek maju membawa panji membantai musuh, kemudian berperang sampai terbunuh. Selanjutnya Salim sahaya Abu Hudzaifah membawa panji, dan tatkala kaum muslimin lari tunggang-langgang pada Perang Yamamah, Salim yang termasuk penghapal Al-Qur'an berkata, “Bukan seperti itu yang kami lakukan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” Dia pun menggali lubang untuk dirinya, lalu berdiri di dalamnya sembari membawa panji Muhajirin pada hari itu. Dia pun berperang hingga terbunuh, semoga Allah merahmatinya.
Merekalah generasi mulia, siapa menapaktilasi penuh tekad dia berusaha dan menggelanggang
Melihat mereka bergolak, sang penyeru berteriak: murahkan jiwa dalam laga sambil melenggang
Mungkin lembaran kertas menahbiskanmu sebagai alim, namun tindakan dan ucapanmu centang-perenang
Melalui pedang, nyali, dan akidah suci agama ‘kan berkilau dan kaum cerdik pandai pun gemilang
Hendaknya siapa saja yang memerangi Daulah Khilafah menyadari bahwa Khilafah bergerak merealisasikan ancamannya kepada para musuhnya. Berkat karunia Allah, pedang kami tak pernah tumpul. Peperangan dahsyat baru saja dimulai. Tidaklah para putra Islam menceburkan diri ke dalam deru lautan dalam lagi menghempas, melainkan mereka yakin akan kepastian lapangnya dunia dan akhirat. Seseorang yang menerobos deburan ini takkan pernah merugi. Sejatinya ia adalah salah satu dari dua kebaikan, satu dari dua kemuliaan; kemenangan atau kesyahidan. Kehidupan mulia, bukan kehidupan nista. Kehidupan pejuang, bukan kehidupan terbelenggu dan mengemis.
Seorang pemerhati hari ini, berkat anugerah Allah serta keteguhan putra-putra Khilafah dan para pembelanya, dia akan menyaksikan konstelasi “Poros Tunggal” tempat di mana Amerika menjalaninya. Ia hidup dalam kondisi terjaga, berharap dirinya dapat memberangus Daulah Islam. Ia lupa atau pura-pura lupa bagaimana keadaannya di tengah para musuh dan bangsa-bangsa kompetitornya, lalu pada hakikatnya siapakah yang ‘memenangkan’ dan mendapat kehilangan dominansi dan kepioniran? Angin politik tidaklah berjalan sesuai dengan harapan dan cita-citanya.
Hari ini Amerika kebingungan, linglung, berjalan tergelincir, dan semua tujuannya berserakan. Kemauanmu kini telah menyusut, dan sekarang engkau merayu semua musuhmu yang binasa. Engkau kini menyesuaikan diri dengan kehendak mereka, rela dengan win-win solution, dan tak berdaya melakoni benturan langsung dengan mereka. Peristiwa yang engkau jalani dalam menggandeng kekuasaan Shafawi di kawasan belum lagi beranjak, dan ini menjadi sebaik-baik bukti. Penderitaanmu hari ini akibat melemahnya perekonomian yang membuatmu miskin itu, telah membuatmu kehilangan arah politik yang engkau klaim sebagai sebuah kecerdasan bersama para sekutu. Kini engkau tidak malu lagi untuk memperlihatkan tindakanmu memeras rekan-rekan terdahulumu dan sekarang di hadapan dunia. Bahkan engkau menggadaikan keberadaanmu di Syam dengan sokongan mereka yang tidak sesuai aturan, atau mereka harus menyelesaikan semua masalah mereka sendiri. Ataukah engkau mengira bahwa bombardirmu terhadap rezim kriminal Nushairiyah pembunuh Ahlus sunnah, akan membuat Rusia tunduk atau bisa sedikit mengubah perimbangan, atau bahkan melupakan kejahatan-kejahatanmu terhadap Ahlus sunnah di Irak dan Syam. Peristiwa Ghouta dan Douma tiada lain hanyalah salah satu episode dari kisah yang belum selesai babaknya.
Bencana yang mendera Ahlus sunnah, dan ‘keberanianmu’ melakukan hal itu, tiada lain hanyalah setitik abu di mata, akalmu memandang remeh hal itu, dan engkau merekayasa konflik khayalan demi menjaga secuil kepentinganmu bersama para thaghut kaum murtad Ahlus sunnah di kawasan. Engkaulah yang menyerahkan kawasan-kawasan Ahlus sunnah kepada negara Majusi Iran. Betapa tidak, armada-armada laut dan udaramu mengawal seluruh mobilisasi Rafidhah Shafawi di Irak, serta memudahkan mereka merampas berbagai negeri Ahlus sunnah. Bahkan, Hizbullata Rafidhah kini telah menjadi ‘lengan’ Iran yang melontarkan pujian atas tindakannya dan perbuatan yang dilakukan ‘kedua tangannya’ terhadap Ahlus sunnah di Syam. Semua kelompok dan milisi Rafidhah di Irak pun kini menduduki berbagai posisi penting, kemudian mereka dipuji kerena membantai dan merampas kawasan-kawasan penduduk Ahlus sunnah yang kini berupaya menyembuhkan luka dan menghapus airmata, semenjak engkau mempersilakan masuk para penjajah. Engkau bergembira dengan kesengsaraan mereka, diperbudaknya mereka, peperangan terhadap akidah mereka, serta perampokan sumber daya alam mereka. Maka kemenangan macam apa yang mereka bicarakan, dan kemenangan seperti apa yang diperbincangkan Amerika?!
Berkat karunia Allah, mujahidin berada dalam superioritas, keunggulan, kekuatan, dan keperkasaan mumpuni, berpandangan jauh, persatuan barisan, dan keadaannya lebih baik dari keadaan dirimu yang kalah lagi nista saat hengkang dari Irak bertahun-tahun silam. Hanya beberapa tahun saja, sampai Allah menaklukkan untuk mujahidin para hamba-Nya berbagai kota dan daerah pinggiran, serta menganugerahi mereka dari karunia-Nya. Dengan demikian, kemenangan macam apa yang engkau bicarakan, sedangkan engkau hari ini keluar-masuk dari satu negeri ke negeri lainnya, engkau mengemis kasih sayang sejumlah negara dan merayu negara-negara lainnya, setelah musuh bebuyutanmu meraih dominansi, yaitu negara Salibis Rusia yang masih belum mendapatkan ucapan selamat atas kemenangan semunya di Negeri Pertempuran Dahsyat. Dengan frustrasi dan ucapan selamat palsu, Rusia muncul via media melalui sebuah citra penyelamat bagi para sekutunya, terutama Nushairiyah, di Syam setelah menggunakan politik “membumihanguskan negeri”, mempertunjukkan kekuatan ekstrem di berbagai kota Ahlus sunnah. Pemandangan ini tidaklah menyenangkan Amerika, dan citra yang ingin disampaikan Keledai Rusia kepada dunia adalah: “Sekarang aku kembali mendominasi.”
Ya, orang-orang licik telah mengalahkanmu. Alih-alih menambal rumah berlubang, justru pena diambil guna melakukan penandatanganan di hadapan dunia bahwa Al-Quds adalah ibukota negara Yahudi. Hal itu dilakukan untuk merusak sambutan kemenangan musuhnya, yaitu Rusia, dan memalingkan pandangan dunia darinya. Engkau membuat marah ‘buih’ dari kalangan orang-orang yang meyakini bahwa engkau memiliki kebaikan dan keburukan. Hari ini engkau tergsa-gesa melakoni sesuatu yang takkan bisa engkau capai. Hentikanlah dan kembalilah ke seberang lautan, karena engkau takkan mampu menggapai mujahidin dan negeri-negeri kaum muslimin. Ambillah pelajaran dari orang-orang sebelumnya, karena orang berakal takkan mencoba mengulang hal yang pernah dicoba. Sesungguhnya janji Allah untuk memberikan kekuasaan kepada mujahidin para hamba-Nya yang bertakwa sungguh sangat dekat.
Kemudian, apakah pengakuanmu akan bermanfaat sedikit pun di hadapan keputusan Allah, meskipun engkau melancarkan serangan, serta datang dengan segenap kapal perang, pesawat, pakar, serta penasihat militer ke negeri “Tempat Isra” dan kiblat pertama guna melindungi Yahudi. Sesungguhnya, mereka dan bala tentara Islam terikat janji yang takkan mereka selisihi. Ia adalah sebuah janji, demi Rabb Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka bersabarlah wahai keluarga kami di negeri “Tempat Isra” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Bersabarlah, demi Allah, kami takkan melupakan kalian.
Sesungguhnya saudara-saudara kalian di Daulah Khilafah, tidaklah memerangi bangsa-bangsa kafir melainkan mereka merasakan kepedihan hati dan duka cita menyayangkan tidak bisa berhadapan dengan Yahudi, karena sibuk menolak serangan musuh mereka dan hendak melenyapkan batas-batas negara hina yang mengekang umat Islam. Ketegaran dan keteguhan bala tentara Khilafah di Sinai, serta operasi mereka menghalau satu persatu kampanye militer, merupakan petunjuk nyata dan bukti kesungguhan. Sejatinya, konfrontasi dengan mereka sudah dekat.
Kemenangan seperti apa yang dibicarakan Amerika, di saat para putra kaum muslimin dari segenap penjuru tiada hentinya berturut-berturut bergabung membaiat dan membela Khilafah. Mereka berharap menjadi satu batu bata berkualitas dalam mengokohkan istananya dan meninggikan bangunannya. Bahkan, bala tentara Khilafah di Irak, Syam, Yaman, Sinai, Khurasan, Libya, Afrika Barat, Somalia, Filipina, dan Tunisia, mereka senantiasa menimpakan bencana kepada antek-antek dan bala tentaramu. Mereka selalu terikat dalam jihad yang dicintai dan diridhai Allah, serta takkan berhenti sampai turunnya Nabi Isa putra Maryam alaihis salam sebagai hakim adil. Sesungguhnya mimpi buruk yang kalian reguk di setiap babak mengerikannya, takkan pernah bisa dihentikan oleh satu mimpi semu atau operasi udara besar walau sejenak. Dengan izin Allah, yang akan datang akan lebih dahsyat dan lebih pahit.
Siapakah engkau wahai tentara Khilafah, sehingga lebih dari 70 negara berhimpun memerangimu?!
Siapakah engkau wahai tentara Khilafah, sehingga berbagai konferensi dan koalisi dibentuk guna membahasmu?!
Siapakah engkau, sampai-sampai keledai Amerika, Rusia, Eropa, Barat, dan Timur datang memerangi dan membunuhmu?!
Siapakah engkau, sampai-sampai engkau dibombardir dengan “induk” segala bom (mother of all bombs) dan bom fosfor, dan dari atas kepalamu dimuntahkan berbagai hal yang dianggap jahat dan tabu oleh mereka?!
Siapakah engkau, sampai-sampai umat ‘buih’ bersembunyi untuk tidak membelamu, dan bahkan mereka berdiri bersama musuh untuk memerangimu?! Namun engkau tetap berlalu dan tidak memalingkan wajahmu agar tetap setia membela agamamu.
Siapakah engkau, sehingga media-media keji hiruk pikuk, saat engkau merobohkan tumpukan batu yang tidak ada kehidupan di dalamnya. Mereka harap-harap cemas lagi murung dan diam membisu, menyaksikan negeri-negeri Ahlus sunnah dihancurkan dan diruntuhkan di hadapan para penduduknya, serta tak terhitung banyaknya nyawa melayang dan banyak kehormatan dirusak, dengan dalih memerangi dan membunuhmu?!
Siapakah engkau wahai tentara Khilafah, sehingga engkau didiskreditkan; terkadang disebut antek, terkadang dilabeli Khawarij, terkadang dicap kafir, dan terkadang distempeli atheis?!
Para Bal’am murtad sampai kebingungan dalam melabelimu, mencelamu, dan menstigmakanmu. Namun seiring semua hal itu, engkau tetap menceburkan dirimu ke dalam lautan kematian demi mempertahankan umat dan agamamu.
Siapakah engkau yang mana ganjaran dan pahalamu ada di sisi Allah?!
Ingatlah kembali siapa engkau, agar engkau menyadari anugerah Allah untukmu. Syukurilah nikmat ini dengan cara teguh di atas agama-Nya, memerangi seluruh musuh-Nya, karena sejatinya engkau di atas kebenaran. Ya Allah, berilah kemudahan kepada bala tentara Khilafah untuk menjalani hijrah mereka, dan janganlah engkau membuat mereka mundur.
Sejak dideklarasikan dan dalam perkembangannya, sesungguhnya Daulah Khilafah memberi kabar gembira kepada umat dengan jihad, pertempuran, dan peperangan di jalan Allah. Ia tidak menjanjikan dan memberi harapan dengan dunia sedikit pun kepada umat. Maka ia pun menegakkan agama, menghidupkan al-walaa wal baraa`, terbebas dari sesaknya kelompok dan tanzhim (organisasi) menuju kelapangan Khilafah. Ia mengembalikan jamaah muslimin kepada wibawa dan kemuliaannya di kalangan manusia. Jikalau tidak demikian, para thaghut di belahan timur dan barat niscaya takkan mengeroyoknya, dan seluruh bangsa takkan memeranginya. Para mujahid jujur membaiat Amirul Mu'minin Abu Bakar Al-Qurasyi Al-Husaini Al-Baghdadi –semoga Allah menjaganya– sebagai Khalifah kaum muslimin. Dengan bendera tersebut, benturan dengan pengusung kekafiran mengarah ke bentuk lain dan membedakannya dengan segenap jihad yang sebelumnya pernah ada pada zaman kita. Hal itu merupakan taufik dari Allah untuk pengusung jihad di Irak dan Syam.
Maka seorang imam tak ubahnya perisai, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “...seseorang berperang mengikutinya dan berlindung dengan (kekuasaan)nya.” Dengan hal itu, terputuslah elemen keburukan yang terejawantah dalam perpecahan hasil perbuatan para pengadu domba, pembuat makar dan pengkhianatan, untuk menggiring para putra Islam ke berbagai kelompok, golongan, dan jamaah yang bercerai-berai. Dengan deklarasi Khilafah, berkat karunia Allah, pulihlah hubungan ukhuwah keimanan dan terwujudlah makna “satu tubuh” dalam umat ini di antara putra-putra Islam di berbagai penjuru. Engkau melihat seorang muwahid melakoni betapa sulitnya berangkat dan berhijrah ke Darul Islam. Dulunya dia tinggal di tengah-tengah kaum musyrik dari Yahudi, Salibis, dan kaum murtad, kemudian dia berperang berdasarkan basirah dari perintah-Nya demi membela agama-Nya, setelah nampak jelas di hadapannya tujuan dari peperangan yang dapat membunuhnya. Sehingga pedang kami di segenap penjuru barat dan timur menjadi perisai berbagai negeri dan kelompok. Hari-hari yang kami lalui sudah masyhur di kalangan musuh-musuh kami, hari-hari tersebut sarat marabahaya dan sangat dikenal.
Wahai bala tentara tauhid di Daulah Islam,
Khilafah adalah kebanggaan kaum muslimin dan kebencian bagi kaum kafir. Maka panjatkanlah pujian kepada Allah, karena Dia telah memuliakan kalian dengan mengangkat panjinya, membela, dan mempertahankannya. Kita memandang bahwa orang yang masih hidup dan yang telah mendahului, mereka adalah orang-orang terbaik. Melajulah menuju penaklukan baru dan kemenangan agung. Sesungguhnya satu generasi yang ditempa di atas tauhid, menjalani al-walaa wal-baraa` dalam kehidupan nyata lagi praktis, mencicipi kemuliaan jihad, dan nikmatnya pengorbanan di jalan Allah, adalah umat yang diharapkan, setelah Allah ta'ala, untuk membangkitkan Islam di masa ini. Kalian pada hari ini menyaksikan berbagai pertempuran dahsyat di bumi Irak, Syam, dan negeri-negeri lainnya. Maka perlihatkan diri kalian sebaik-baiknya kepada Allah. Sebuah negeri takkan terjaga dan penduduknya takkan mulia kecuali dengan tombak dan peledak. Melalui daya dan kekuatan Allah, putra-putra Islam terikat janji dan waktu yang ditentukan lagi disegerakan dengan musuh-musuh Allah dari kalangan Rafidhah Shafawi dan para antek mereka dari kaum murtad yang secara dusta dan palsu berafiliasi kepada Ahlus sunnah. Peperangan belumlah berakhir.
Atas karunia Allah, singa-singa Khilafah takkan berhenti berjalan sesuai keinginan mereka. Mereka merancang, dan mereka adalah para pengatur peperangan, para instruktur tempur, serta para penakluk dan pengguncang bangsa-bangsa kafir. Maka janganlah seseorang berpikir rendah lagi pengecut, karena ada ‘tangan’ yang terulur kepada mujahidin dan menjaga kehormatan mereka. Seseorang akan menikmati ‘uluran’ tersebut.
Demi Dzat yang menggerakkan awan, membangun tujuh langit kokoh, dan mencerai-beraikan pasukan kafir saat penaklukan di setiap tempat. Tangan dan kaki mereka niscaya akan terputus, nyawa di dalam jasad mereka akan melayang, dan bangkai mereka akan tersungkur di pusara. Maka kami takkan merasa lemah dan pengecut.
Kami adalah anak-cucu (Abu Bakar) Ash-Shiddiq dan (Khalid) Ibnul Walid. Kami akan menghidupkan sunnahnya untuk siapa pun yang murtad dan memusuhi umat Islam, dari kalangan kaum pandir dan rakyat jembel. Dengar dan simak baik-baik, wahai kaum Rafidhah Irak dan Majusi Iran. Kami bersumpah dan bersumpah, tempat yang luas benar-benar akan menjadi sempit oleh bangkai busuk kalian. Sungai Dijlah dan Eufrat benar-benar akan tercemar busuknya mayat kalian. Dan setiap muslimat suci lagi terhormat yang digiring menuju kematian, niscaya akan dibalas dengan terburainya jantung kalian dan berdarahnya hari-hari kalian.
Wahai para pengobar peperangan di “Tanah Hitam”* dan tanah kelahiran Khilafah. Wahai para kesatria Daulah serta para pengawal agama dan millah, jangan kalian biarkan setiap unit keamanan, militer, ekonomi, ataupun media pemerintahan Rafidhah, melainkan kalian menjadikannya tinggal kenangan. Jangan kalian biarkan kepala sesepuh kabilah busuk lagi murtad kecuali kalian penggal, jangan biarkan juga ada perkampungan kafir yang wajib diperangi, melainkan kalian meninggalkan bekas untuk dijadikan tanda dan pelajaran bagi yang mau mengambil pelajaran dari setiap orang keji yang teperdaya. Merekalah orang-orang yang rela menjadi pelayan dan budak kaum Rafidhah, serta mata-mata yang senantiasa terjaga menjadi penghalang antara mujahidin dengan musuh mereka.
*Ardh Sawad (Tanah Hitam) adalah nama yang digunakan pada awal zaman Islam (abad ke-7–ke-12) untuk menyebut kawasan di selatan Irak (Edt.)
Sumbatlah nafas para penyeru fitnah dan kesesatan, mereka yang menganjurkan dan berkomitmen untuk mengubah akidah manusia, dari kalangan para imam, khatib, ulama, ustadz, dan guru. Janganlah belas kasihan kepada mereka mencegahmu untuk menjalankan agama Allah, karena mereka adalah orang-orang murtad, zindiq, dan kriminal. Mereka merayu manusia agar menjadi penurut patuh Rafidhah. Tebaslah leher siapa saja yang menyakiti hamba-hamba Allah bertauhid, dari kalangan murtad meski suatu hari pernah bergabung dengan mujahidin. Terimalah taubat siapa pun yang bertaubat sebelum tertangkap, berbuat baiklah kepada siapa saja yang mau membela, menolong, memelihara perjanjian, dan tidak melepaskan jaminan keamanannya dengan kaum muslimin. Jadilah kalian penolong dan penyokong baginya. Berilah dia dari harta Allah yang diberikan kepadamu, dan hormatilah dia.
Dan ketahuilah wahai Ahlus sunnah wal Jamaah di Irak, Syam, dan setiap tempat, tidak ada lagi tempat kembali untuk kalian, setelah Allah, selain bala tentara Khilafah Daulah Islam. Maka lindungilah mereka, belalah mereka, serta jadilah penolong mereka dari kejahatan orang lain.
Kami memperingatkan bahwa pemerintahan Hasyad Rafidhah Irak yang disokong Iran, hendak menyambut apa yang mereka namakan dengan pemilihan umum (pemilu). Maka siapa saja yang berusaha untuk melangsungkannya, dengan sokongan dan bantuan, maka berarti dia termasuk loyali kepadanya dan para penganutnya. Maka status hukumnya sama seperti status para penyeru dan pendukungnya. Para calon anggota legislatif (caleg) adalah para pengklaim Rububiyah dan Uluhiyah. Dan para pencoblos mereka berarti telah menjadikan mereka sebagai rabb-rabb dan sekutu-sekutu selain Allah, maka hukum mereka dalam agama Alloh adalah kafir dan keluar dari Islam (murtad).
Maka sungguh kami mewanti-wanti kalian, wahai Ahlus sunnah di Irak, agar tidak loyal kepada orang-orang yang memasuki pintu kemurtadan. Sesungguhnya, tempat-tempat pencoblosan (TPS) dan siapa saja yang berada di dalamnya, adalah sasaran pedang-pedang kami. Karena itu, menjauhlah darinya dan janganlah berjalan di dekatnya. Barangsiapa di antara kalian yang egois dan condong kepada dunia, enggan membela Daulah Islam dan tempat berlindung Ahlus sunnah, maka hendaklah dia diam di rumahnya, dan uruslah keperluan dirinya sendiri, serta jangan sekali-kali menjadi penolong dan penyokong kaum musyrik Rafidhah beserta antek-anteknya dari kalangan kaum murtad yang mengaku sebagai Ahlus sunnah.
Wahai bala tentara dan anshar Khilafah di setiap tempat!
Ketahuilah bahwa hari ini kita memasuki fase baru dan tikungan tajam di jalan jihad memerangi musuh dengki yang hendak menjajah negeri-negeri kaum muslimin dan ingin mewarisi peninggalan Amerika. Padahal, sebelumnya mujahidin sukses meluluh-lantakkannya dengan berbagai operasi dan aksi mereka selama hampir dua dekade. Dekadensi mulai kembali lagi tanpa menghiraukan apa pun, menyaksikan kegagalan para sekutu yang tak mampu mengekang Rusia dan Negara Majusi Iran. Maka, jadikanlah keduanya sebagai target dalam pentas operasi dan jihad kalian, agar Majusi dan Rusia yang berada di belakangnya merasakan akibat kebengisan despotisme mereka dan bombardir mereka terhadap kawasan-kawasan Ahlus sunnah di Irak dan Syam. Berpartisipasilah dalam perang ini dan berbekallah, karena sebaik-baik bekal adalah takwa.
Berangkatlah dengan keyakinan terhadap janji dan pertolongan Allah, konsekuen terhadap ketaatan, jaga dan lestarikanlah jamaah. Jauhilah perselisihan, karena itu adalah keburukan yang mendera kalian dan lebih berbahaya dari pedang yang tajam. Tunaikanlah semua kebutuhan kalian secara sembunyi-sembunyi. Curahkanlah segenap potensi secara maksimal dalam mengintai target dan membongkar celah musuh. Waspadailah ‘mata-mata’ yang menempel kita, yaitu segala perangkat komunikasi. Karena semuanya adalah pemandu yang mematikan. Ambillah semua sarana untuk bisa membantai dan menyerang musuh kalian. Tengoklah para Salibis Amerika, mereka mencicipi lezatnya tindakan yang mendatangkan kehancuran mereka, dengan izin Allah, dan sesekali memberanikan diri untuk terjun langsung.
Maka, salah seorang dari kalian jangan melewatkan kesempatan untuk memerangi mereka yang kini telah memasuki arena kalian. Ingatlah setiap waktu dan selalu bahwa ‘kubah’ kemenangan, sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim, dibangun kecuali di atas lima perkara, diterangkan Rabb kita di dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al Anfal: 45-46)
Di dalam ayat ini, Allah memerintahkan mujahidin dengan lima perkara. Tidaklah kelimanya terkumpul dalam suatu kelompok, melainkan ia niscaya akan menang, meskipun berjumlah sedikit sedangkan musuh berjumlah banyak. Pertama, berteguh hati. Kedua, banyak berdzikir kepada Allah ta'ala. Ketiga, mentaati Allah dan Rasul-Nya. Keempat, persatuan dan tidak berselisih yang mengakibatkan kegagalan dan kelemahan. Karena perselisihan ibarat seorang prajurit, di mana orang-orang berselisih berarti ikut menguatkan musuh mereka. Sementara persatuan tak ubahnya sekat anak panah, tidak akan ada yang mampu mematahkannya. Namun jika seseorang menguraikan ikatannya dan dibiarkan sendiri-sendiri, maka semuanya dapat dipatahkan. Adapun yang kelima adalah sendi, pengikat, dan pokok dari semuanya, yaitu sabar. Inilah lima perkara yang melandasi kubah kemenangan. Kapan saja kelimanya hilang atau sebagiannya hilang, maka kemenangan pun akan sirna, sesuai apa yang hilang. Namun jika kelimanya bersatu, satu sama lainnya saling menguatkan, niscaya berpengaruh besar dalam sebuah kemenangan.
Tatkala semuanya terkumpul pada para sahabat, tidak ada satu bangsa pun yang mampu menghadapi mereka. Maka mereka menaklukkan dunia, semua orang dan negeri tunduk kepada mereka. Tetapi ketika generasi setelah mereka bercerai-berai dan melemah, maka kondisinya berlangsung seperti adanya. Allah-lah tempat memohon pertolongan dan kepada-Nya kita bersandar. Dialah penolong kita dan sebaik-baik pelindung. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Agung.
Seruan kami terakhir, segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam.
Al-Furqan Media
Statemen Juru Bicara Resmi Daulah Islamiyah, Syaikh Abul Hassan Al Muhajir
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah yang memuliakan Islam dengan pertolongan-Nya, menghinakan kesyirikan dengan kekuatan-Nya, mengatur segala perkara dengan perintah-Nya, memperdaya kaum kafir dengan makar-Nya, yang telah menentukan hari-hari itu silih berganti dengan keadilan-Nya, dan menjadikan akhir yang baik untuk orang-orang bertakwa dengan karunia-Nya. Shalawat serta salam untuk sosok yang dengan pedangnya Allah meninggikan ‘menara’ Islam. Amma ba’du…
Di medan laga, gaung harapan orang-orang kafir kembali menggema untuk menghabisi Daulah Islam. Para pembawa panji Islam dan penjaga akidah meminta kekuatan dari Sang Pencipta mereka yang Maha Agung dan Maha Tinggi. Karena segala keputusan ada di tangan-Nya, mereka bersandar dan bertawakal hanya kepada-Nya, dan mereka mengokohkannya dengan janji dan amalan-amalan shalih.
Kekalahan para penyebar kabar dusta, para pengecut, dan orang-orang bathil tidak dapat melemahkan kekuatan mereka. Sungguh, mereka orang-orang superior, dermawan, penuh harga diri lagi mulia. Mereka membaca firman Allah, “Jika kamu tidak berangkat (berperang)…” (At-Taubah: 39), maka mereka segera bangkit. Ketika telinga mereka menyimak seruan “Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad)...” (At-Taubah: 40), mereka segera mengorbankan diri dan mengerahkan tenaga, baik dalam keadaan ringan dan berat, baik tua maupun muda.
Mereka tak mau terbelenggu kenyamanan dan kenikmatan (dunia), tidak pula condong kepada harta dunia yang akan lenyap. Mereka melepasakan semua itu demi kebenaran, sehingga mereka berpegang teguh kepada pasak kebenaran. Ia pun tumbuh, ranum, menghasilkan buah sangat manis, dan bertambah besar. Tibalah jihad menghentak muka bumi. Gelanggangnya meluas, hingga kobarannya menghanguskan bangsa-bangsa Salibis, para pemerintahan murtad, dan antek-anteknya. Dalam memerangi musuh-musuh Allah, tekad mereka menguat. Pertempuran dahsyat sejati yang diukir orang-orang sabar lagi meyakini janji Allah kepada mereka. Mereka membaca firman Rabb mereka: “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin),” (Ali ‘Imran: 179).
Mereka lalui malapetaka seiring berlalunya hari-hari. Bahwasannya seleksi, penyaringan, segenap cobaan pastilah datang, mau tidak mau. Sebuah sunatullah yang niscaya berlaku, sedangkan engkau tidak akan mendapati pergantian pada sunatullah. Bersamaan dengan setiap peristiwa dan bencana, mereka kembali dan merasa puas dengan ‘mata air’ pertolongan Allah yang tak pernah kering. Relung hati mereka tak sekali pun terkotori keraguan. Kesukaran tak dapat membebani bahu mereka, tidak pula banyaknya musuh.
Mulia seperti gunung kesabaran mereka, puncak gunung serasa bukit kecil bagi mereka
Ketika marah karena Allah keberanian mereka membuatmu gembira, lebih berani dari kawanan singa murka
Jika putuskan hidup dalam perang mereka akan laksanakan, penggerak mereka di negeri bagai mata tombak
Engkau kira mereka hidup makmur dan kaya, singa-singa mendobrak fatamorgana dalam sarangnya
Mereka mencengangkan bangsa-bangsa kafir, meneror mereka, merampas kenyamanan dan keamanan mereka, serta mencerai-beraikannya. Hingga mereka mengharapkan kehidupan tenang, namun mereka tak lagi mendapatkannya. Mereka tak tahu dari pintu mana akan diserang. Selanjutnya, dengan karunia Allah, seorang muwahid-mujahid yang tak berdaya di muka bumi melihat keledai Salibis Eropa-Amerika digilas dan ditikam di jalanan Paris, London, dan Manhattan, mendapatkan ganjaran setara dan sebanding, sebagai balasan setimpal. Sebagaimana mereka membunuh, mereka pun terbunuh. Mereka membombardir, mereka pun akan diluluh-lantakkan, dan mereka akan dikumpulkan dalam neraka Jahanam.
Kami bunuh mereka seperti membunuh gerombolan anjing. Kami takkan biarkan mereka di tengah-tengah manusia berteriak penuh kesombongan. Meski demikian, orang-orang yang teperdaya para pemimpin kekafiran masih belum dapat mengambil pelajaran. Orang-orang dungu senantiasa membujuk dan menipu mereka, sehingga mereka tiada henti terjebak kejahatan mereka, tanpa mempertimbangkan hari-hari yang kelak terjadi akibat tindakan bodoh dan kelaliman mereka terhadap kaum Muslimin, tanpa belas kasihan. Lalu mengapa kita tercengang? Inilah tabiat dan kebiasaan mereka, sebagaimana Allah yang Maha Mengetahui mengabarkan kepada kita, Ketika Dia berfirman dalam Kitab-Nya, “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 217)
Rabb kita yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui menjelaskan kepada kita di dalam Kitab-Nya mengenai hakikat orang-orang kafir para kriminal itu, dan Dia memerintahkan kita untuk membunuh dan memerangi mereka hingga Agama itu seluruhnya milik Allah. Mereka mau memeluk Islam atau tunduk kepada perintah dan hukum Allah dengan penuh kehinaan dan kerendahan, karena itu Allah mewajibkan kita menyucikan bumi ini dari busuknya kesyirikan mereka, dari kejahilan mereka, dari kekonyolan mereka, serta dari kesewenang-wenangan dan tirani mereka di muka bumi.
Rabb kita subhanahu wa ta'ala menitahkan kita memerangi kaum musyrik seluruhnya, sebagaimana mereka memerangi kita seluruhnya. Tiada perbedaan antara perang kita melawan Si Thaghut murtad Salman dan putra idiotnya itu dengan perang kita melawan As-Sisi dan pasukannya. Tidak ada perbedaan antara perang kita melawan Si Rafidhah Shafawi (Ali) Khamenei dengan perang kita melawan Si Sekularis Abbas dan Hamas. Tidak ada bedanya perang kita melawan mereka dengan perang kita melawan para majikan mereka dari kalangan Salibis Amerika, Rusia, maupun Eropa. Hanya saja, anak-cucu keturunan Ya’qub (bangsa Arab) lebih besar permusuhan dan kebenciannya terhadap Islam, namun lebih rendah tingkatannya di neraka. Rabb kita berfirman, “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 36)
Dia berfirman, “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193)
Allah memperingatkan kita, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Al-Maa`idah: 51)
Memerangi orang-orang kafir lagi musyrik adalah agama yang kita yakini guna beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya subhanahu wa ta'ala agar Dia meridhai kita. Dia berfirman, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Allah berfirman mengingatkan dan memotivasi para hamba-Nya tentang betapa agungnya orang yang berjihad di jalan-Nya untuk memerangi musuh-musuhNya, “Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (At-Taubah: 120)
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)
Sesungguhnya berperang di jalan Allah adalah perniagaan menguntungkan, yang mana Dia mengarahkan para hamba-Nya kepadanya. Dia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Ash-Shaff: 10-11)
Allah menjadikan pahala dan balasan besar nan agung yang terangkan di dalam firmannya, “Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Ash-Shaff: 12-13)
Ibnul Qayyim berkata di dalam Madarij As-Salikin, “Sesungguhnya ibadah jihad merupakan jenis ibadah yang paling dicintai-Nya ta'ala. Sekiranya seluruh manusia beriman, niscaya akan terlantarlah ibadah ini dan hal-hal yang menyertainya berupa loyalitas karena-Nya ta'ala, permusuhan, cinta dan benci karena-Nya serta mencurahkan jiwa untuk-Nya dalam memerangi musuh-Nya.” Sampai ucapannya: “Di antaranya adalah ibadah menyelisihi musuh-Nya, serta membencinya karena Allah, dan membuat musuh-Nya jengkel karena Allah, adalah termasuk jenis peribadatan yang paling dicintai-Nya. Karena sesungguhnya Allah mencintai wali-Nya yang membuat jengkel dan membuat murka musuh-Nya, juga berbuat buruk kepadanya. Dan inilah ubudiyah yang tidak dapat dipahami kecuali oleh orang-orang cerdas.” Selesai ucapan beliau rahimahullah.
Di dalam Ash-Shahih, dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi seluruh manusia sampai mereka berkata ‘Laa ilaaha illallah’. Jika mereka telah mengatakannya, shalat dengan sholat kita, menghadap kiblat kita, dan menyembelih sembelihan kita, maka sungguh haram atas kita darah dan harta mereka kecuali dengan haknya sedangkan hisabnya urusan Allah.”
Ketika ditanya tentang makna “La ilaha Illallah”, Imam Dakwah Nejed rahimahullah menjawab, “Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya kalimat ini adalah demarkasi (pemisah) antara kekafiran dan Islam. Ia adalah kalimat ketakwaan, ia juga adalah tali iman terkuat, ia kalimat yang dijadikan Nabi Ibrahim alaihis salam sebagai “…kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali (kepada kalimat tauhid itu),” (Az-Zukhruf: 28). Bukanlah yang dimaksud itu sekadar mengucapkannya dengan lisan namun tidak memahami maknanya. Karena sesungguhnya kaum munafik pun mengucapkannya namun mereka justru berada di bawah orang-orang kafir di kerak neraka, padahal mereka melaksanakan shalat, berpuasa, dan bersedekah. Namun yang dimaksud adalah mengetahuinya sepenuh hati, mencintainya dan mencintai pengusungnya, membenci dan memusuhi orang yang menyelisihinya, sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mengatakan La ilaaha Illah dengan ikhlas,” dalam sebuah riwayat: “Secara jujur dari hatinya,” dalam sebuah lafazh: “Siapa yang mengatakan Laa ilaaha Illallah dan mengingkari semua yang sesembahan selain Allah,” dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan kebodohan mayoritas manusia akan syahadat ini.” Selesai ucapan beliau rahimahullah.
Beliau juga berkata terkait tafsir firman Allah ta'ala: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang taat kepada Allah dan hanif . Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).” (An-Nahl: 120)
Adapun firman-Nya: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam”, agar pejalan di jalan (tauhid) tidak merasa kesepian karena sedikitnya yang berjalan. “Yang taat kepada Allah”, bukan taat kepada para raja, tidak pula kepada para pedagang makmur. “Hanif”, tidak condong ke kanan dan ke kiri seperti para ulama yang terkena fitnah (kerancuan/penyimpangan). “Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),” menyelisihi golongan mayoritas dan mengira menjadi bagian dari kaum muslimin.
Tiada Ilah selain Allah, betapa banyaknya orang-orang yang mundur dan menjauh dari kalimat “ikhlas” (baca: tauhid). Mereka melakoni ‘lawannya’ (syirik), dari kalangan yang menisbatkan diri kepada umat ini. Mereka menghancurkan rukun-rukunnya, mengklaim menolongnya, loyal kepada musuh-musuh kalimat ini, memerangi para pengusung dan pengawalnya. Dan sesungguhnya keadaan umat Islam tidaklah lurus dan takkan pernah lurus kecuali dengan ‘Kitab’ yang memberi petunjuk dan ‘pedang’ yang menolong, serta menghidupkan sunnah (Abu Bakar) Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu dalam menghadapi orang murtad yang menjauhkan diri dari hukum dan syariat Allah.
Dia segera menyerang ‘kemah’ orang-orang kafir yang loyal kepada para thaghut, kaum musyrik, dan orang-orang atheis, meskipun dia shalat, puasa, dan tawaf di Rumah Suci (Ka’bah). Dalam peristiwa tersebut, nampak jelaslah pemeliharaan dan penjagaaan Allah untuk agama ini, dan tidak ada yang mampu melakoni peperangan seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq memerangi orang murtad dari bangsa Arab, kecuali para pemilik tekad lurus dan terbimbing ilham lagi diberi taufik dari kalangan para ksatria. Dengan sebab itulah, Allah menghancurkan setiap musuh agama, menyatukan umat, dan mengembalikan mereka kepada agama, setelah kebanyakan mereka murtad dari agamanya dan mayoritas mereka mundur ke belakang dalam keadaan kafir.
Saat itu, Abu Bakar radhiyallahu anhu berdiri bak gunung menjulang di hadapan angin kencang dan fitnah (kekacauan) pekat, sampai dia berkata, “Demi Allah! Aku akan membunuh siapa saja yang memisahkan antara shalat dan zakat. Karena sesungguhnya zakat adalah hak harta. Demi Allah! Sekiranya mereka menahan dariku seekor anak domba yang daulu mereka tunaikan kepada Rasulullah, sungguh aku akan memeranginya karena menahannya (zakat).” Ketika itu, para sahabat radhiyallahu anhum berkata kepadanya, “Bagaimana bisa engkau memerangi manusia, padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, ‘Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah,’ Umar radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, bersikap lembutlah kepada manusia dan berbuat baiklah kepada mereka.” Maka Abu Bakar menjawab, “Engkau begitu berani pada masa jahiliyah, namun pengecut setelah masuk Islam, sungguh wahyu telah terputus, agama telah sempurna, apakah agama ini akan digerogoti sedangkan aku masih hidup?!”
Sampai Al-Faruq berkata, “Demi Allah iman Abu Bakar telah mengungguli iman seluruh umat ini dalam urusan memerangi kaum murtad.” Abu Bakar bin Ayyasy menyatakan, “Aku mendengar Abu Hushain berkata, ‘Tiada seorang pun yang dilahirkan setelah para Nabi yang lebih baik daripada Abu Bakar radhiyallahu anhu. Sungguh dia berada di posisi salah seorang nabi dari dalam memerangi kaum murtad.”
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dan jika kaum Salaf menyebut para penolak zakat sebagai kaum murtad, padahal mereka berpuasa dan shalat, tidak pula memerangi jamaah kaum muslimin, lalu bagaimana dengan orang yang berada bersama musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya dengan memerangi kaum muslimin?”
Bahkan kami katakan pada saat ini, maka bagaimana dengan orang yang berada bersama musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, dari kalangan para thaghut pengganti syariat Allah dan hukum-Nya, menjadi pelayan hina lagi loyalis pembantu para Salibis dan para atheis? Ditambah lagi dia menghembuskan amarah dan kegeraman kepada jamaah kaum muslimin, mengharapkan lenyapnya hukum dan syariat Allah, berbangga dengan hal itu, serta secara terang-terangan dan menyambutnya, sebagaimana terjadi di Mosul, Sirte, Raqqah, dan lainnya.
Dan di antara keanehan zaman adalah kedunguan orang yang menganggap nikmatnya dusta dan kebohongan, gembira dengan bencana yang menimpa Daulah Khilafah, serta menyusutnya kekuasan Daulah dari muka bumi yang telah ditegakkan syariat Allah. Di saat seorang muslim tidak menjumpai di muka bumi ini sebuah Darul Islam yang dapat dia tuju, selain wilayah yang berada di bawah kekuasaan Khilafah, kendati betapa dahsyat dan bengisnya kampanye Salibis.
Meski demikian, bala tentara Khilafah di Irak, Syam, Yaman, Khurasan, Sinai, Libya, Afrika Barat, dan wilayah-wilayah lainnya tiada henti mengorbankan jiwa mereka dengan murah dalam rangka meninggikan kalimat kebenaran dan agama Islam. Pada saat ini, mereka adalah para pejuang agama Islam, dan merekalah manusia paling layak disebut “Thaifah Manshurah” (kelompok yang dimenangkan) yang disebutkan Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam sabda: “Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, selalu menang hingga Hari Kiamat.”
Wahai putra-putra Islam dan para pengusung tauhid di seluruh tempat,
Kalianlah para pionir Khilafah. Perbanyaklah kuantitasnya dan bergabunglah dengan kafilahnya. Sesungguhnya kita berada di ambang penaklukan yang semakin dekat dan kemenangan mulia, dengan izin Allah. Maka janganlah terlewatkan ganjaran menjadi pelopor dan kebaikan yang paripurna.
Sejatinya perang kami melawan para pengusung kekafiran dan kemurtadan adalah takdir yang niscaya dan sebuah kewajiban. Tidak boleh seorang pun yang mengimani Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Nabinya, menunda diri atau menjauhkan diri darinya, demi menghalau serangan mereka dan perampasan mereka terhadap negeri-negeri kaum muslimin. Sejak sangat lama, kaum muslimin tak ubahnya kambing kehujanan di malam deras guyuran hujan, sebab musuh menghegemoni mereka yang kehilangan kekuatan.
Engkau tidak melihat kebanyakan orang yang menisbatkan diri kepada Islam kecuali mengekor hawa nafsu, menyimpang jauh dari millah (agama), dalam kemurtadan dan perbudakan bengis dari anak-cucu kera dan babi. Sepanjang sejarah, kaum muslimin belum pernah didera musibah seperti ini. Mulai dari dari perang akidah, metodologi, ekonomi, militer, maupun media. Dan umat pun belum pernah diuji dengan kaum yang menisbatkan diri kepada ilmu (ulama) seperti sekarang ini. Bahkan, para pengklaim ilmu itu kini telah berubah menjadi ‘pisau belati’ yang digunakan untuk memerangi siapa saja yang hendak menegakkan hukum dan syariat Allah di muka bumi.
Maka sungguh mengherankan orang yang membaca Kitab Rabbnya, namun hidup dalam kubangan kehinaan dan kenistaan; kehendaknya dirampas, didikte keyakinannya dan apa yang mesti dijauhi dari agamanya. Dia hidup dalam celah kelemahan dan jauh sekali dari pemahaman realita, yang tidak diketahui dan dipahami kecuali oleh orang yang mau bangkit dari kehinaan dan mendaki puncak agama, puncak tertinggi lalu melihat dengan ucapan perbuatan nyata, bukan ucapan omong kosong, bualan, dan keadaan orang-orang tertinggal dan terlantar. Semua itu bukanlah jalan untuk menyelamatkan umat Islam dari bencana dahsyat dan keburukan merajalela. Sesungguhnya hidayah Allah segera menghampiri siapa saja yang berjihad di jalan-Nya dan janji-Nya untuk mereka maha benar. Dia subhanahu wa ta'ala berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-‘Ankabut: 69)
Ibnul Qayyim berkata, “Dan ketahuilah bahwa pendirian seorang hamba dalam Islam tidak akan kokoh sampai dia mengikat hatinya bahwa agama seluruhnya milik Allah, bahwa petunjuk adalah petunjuk Allah, bahwa kebenaran berada bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tidak ada yang ditaati dan diikuti selain beliau. Ucapan manusia selain beliau haruslah ditimbang berdasarkan sabda beliau shallallahu alaihi wasallam, jika sesuai maka kita terima, bukan karena dia yang mengatakannya, namun karena dia mengabarkannya dari Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya. Namun jika bertentangan, maka kita tolak. Perkataan beliau shallallahu alaihi wasallam tidak ditimbang dengan pendapat-pendapat ahli logika, tidak pula dengan akal para filsuf dan ahli kalam, tidak pula dengan perasaan orang-orang yang sok zuhud (sufi). Akan tetapi semua pemikiran mereka wajib ditimbang dengan risalah beliau, semisal menimbang uang dirham yang tak dikenal kepada para pakar penimbang. Apa yang dihukumi beliau benar, maka diterima. Dan apa yang ditolak beliau, maka ia tertolak.” Selesai perkataannya rahimahullah.
Wahai orang yang meniti manhaj Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat beliau kalangan terpilih!
Wahai orang yang enggan selain berjalan di atas jalur Salaf (pendahulu) pelaku kebajikan umat ini!
Wahai orang yang berdoa di malam hari, namun didera kesusahan di siang hari!
Wahai orang yang memasrahkan wajahnya kepada Allah, mengira lambatnya kelapangan dan sirnanya bencana, setelah meyakini bahwa tiada solusi, jalan keluar, dan sarana kebahagiaan dan keselamatan umat dari dasar kesengsaraan, yang diridhai Rabb kita selain jihad di jalan Allah, pembunuhan, dan peperangan. Sehingga seorang muslim kembali merdeka lagi mulia, bukan menjadi budak pengekor lagi nista. Sehingga Islam mendominasi bumi dan seluruh makhluk tunduk kepada Allah Rabb Semesta Alam.
Ketahuilah, seseorang takkan sampai kepada ketenangan dan kenikmatan selain melalui ‘jembatan’ kepayahan dan penderitaan.
Wahai Akhi Mujahid, hal demikian memperlihatkanmu bahwa segenap musibah dan penderitaan berujung puncak kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan.
Betapa tidak, hari ini engkau berada di tempat mulia lagi luhur yang dimiliki orang pada zaman ini, memperjuangkan millah Ibrahim dan sunnah sebaik-baik rasul –shalawat serta salam untuk mereka– dalam rangka mematuhi Allah, mengharapkan janji-Nya, dan menunaikan perintah-Nya. Berhati-hatilah dari muslihat tipu daya. Berhati-hatilah, karena sesungguhnya seorang hamba shalih terkadang teperdaya dan terkadang terkena angan-angan, sehingga dia terjerumus ke dalam jebakan serta jerat tipu daya dan makar. Sesugguhnya perkara tersebut sungguh gamblang, dan dia akan binasa. Rabbmu menjanjikan siapa saja yang beriman kepada-Nya, membenarkan para rasul-Nya, berhijrah, menderita di jalan-Nya, dan berperang, sampai dia terbunuh sembari mengharapkan pahala.
Sesungguhnya hanya orang-orang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. Para sahabat –semoga Allah meridhai mereka– adalah generasi terbaik dan paling murni, serta manusia paling mengetahui Kitabullah dan Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Mereka tidak pernah mundur dari memerangi orang-orang kafir musyrik bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada masa beliau. Mereka juga tak pernah mundur dari memerangi orang-orang murtad selepas wafatnya beliau. Dalam hal itu, mereka mengukir peristiwa paling luhur dan mulia, sehingga mereka pun meninggikan ‘menara’ Islam, setelah hampir roboh dan berlubang.
Dalam salah satu gambaran pengorbanan demi agama ini, serta keteguhan tekad “orang-orang pertama yang masuk Islam”, diriwayatkan Anas radhiyallahu anhu, dia menceritakan, “Pamanku, Anas bin An-Nadhr, absen dalam Perang Badar. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak ikut saat pertama kali engkau berperang memerangi orang-orang musyrik. Seandainya Allah memperkenankan aku dapat berperang memerangi orang-orang musyrik, niscaya Allah dapat melihat apa yang akan aku lakukan. Pada Perang Uhud, dan dari barisan kaum muslimin ada yang melarikan diri dari medan tempur, Anas berkata, “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari apa yang dilakukan oleh mereka, yakni para sahabat Nabi, dan aku berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh mereka, yakni orang-orang musyrik.” Maka dia maju, lalu Sa’ad bin Mu’adz menjumpainya. Dia berkata, “Wahai Sa’ad bin Mu’adz, aku menginginkan surga. Demi Rabbnya An-Nadhar, sungguh aku mencium wangi surga dari balik Bukit Uhud ini.”
Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak sanggup menggambarkan apa yang dialaminya.” Anas berkata, “Kemudian kami mendapati dia dengan luka tidak kurang dari 80 sabetan pedang atau tikaman tombak atau tembakan panah. Dan kami menemukannya telah terbunuh, dan kaum musyrik telah mencabik-cabik jasadnya. Sehingga tidak ada satu pun yang mengenalinya selain saudara perempuannya yang mengenali jarinya.” Anas berkata, “Kami melihat atau kami mengira bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dirinya dan orang yang serupa dirinya; ‘Dan di antara orang-orang beriman ada orang-orang yang membuktikan janji mereka kepada Allah,’ hingga akhir ayat.”
Diriwayatkan juga dari Anas bin Malik, Rasulullah berangkat bersama para sahabat beliau menuju Badar hingga mendahului orang-orang musyrik. Kemudian kaum musyrik tiba, maka Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian bertindak sebelum ada perintah dariku.” Ketika kaum musyrik semakin dekat, maka Rasulullah bersabda, “Bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Tiba-tiba ‘Umair bin Al-Hammam berkata, “Wahai Rasulullah, surga yang luasnya seluas langit dan bumi!” Beliau menjawab, “Ya.” Umair berkata, “Bakh...bakh (bagus..bagus)!” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya, “Apa yang mendorongmu mengatakan, ‘Bakh...bakh’?” Umair menjawab, “Tidak, demi Allah, aku berharap aku menjadi penghuninya.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya.” Kemudian dia mengeluarkan beberapa butir kurma dari sakunya, dan memakannya sebagian. Kemudian dia berkata, “Seandainya aku masih hidup sampai aku menghabiskan kurma-kurma ini, sesungguhnya itu kehidupan yang lama.” Dia pun membuang kurma yang tersisa, lalu memerangi mereka hingga terbunuh.
Bahkan, para penghapal Al-Qur'an dari kalangan para sahabat mulia –semoga Allah meridhai mereka– adalah orang-orang yang bersegera berlomba menerobos menerjuni kematian. Ya, wahai pencari ilmu, dalam perang melawan kemurtadan, Umar Al-Faruq dan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhuma khawatir banyak ayat Al-Qur'an akan hilang disebabkan banyaknya penghapal Al-Qur'an yang terbunuh. Sampai-sampai Umar Al-Faruq berkata kepada Khalifah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Korban perang telah meluas pada Perang Yamamah hingga merenggut para penghapal Al-Qur'an. Maka aku khawatir dengan terbunuhnya para penghapal Al-Qur'an di banyak tempat, mengakibat sebagian besar ayat Al-Qur'an akan hilang. Aku berpendapat sebaiknya engkau memerintahkan untuk mengumpulkan Al-Qur'an.” Hal itu merupakan sebab kodifikasi (penghimpunan) dan melestarikan Al-Qur'an secara tertulis dalam lembaran-lembaran. Betapa luhurnya posisi seorang pengemban ilmu dan Al-Qur'an pada hari ketika buah manis ilmunya mendorongnya menjadi sosok pemberani, bukan menjadi penakut dan kebingungan. Inilah Zaid bin Al-Khattab hyang membawa panji kaum muslimin pada Perang Yamamah guna memerangi orang-orang murtad. Dia berkata sembari berteriak penuh keyakinan bahwa apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik, lebih kekal, dan kesudahan baik adalah milik ketakwaan:
“Ya Allah sesungguhnya aku memohon uzur kepada-Mu dari kaburnya sahabat-sahabatku dan aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dibawa Musailimah.” Dia pun lantas merangsek maju membawa panji membantai musuh, kemudian berperang sampai terbunuh. Selanjutnya Salim sahaya Abu Hudzaifah membawa panji, dan tatkala kaum muslimin lari tunggang-langgang pada Perang Yamamah, Salim yang termasuk penghapal Al-Qur'an berkata, “Bukan seperti itu yang kami lakukan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” Dia pun menggali lubang untuk dirinya, lalu berdiri di dalamnya sembari membawa panji Muhajirin pada hari itu. Dia pun berperang hingga terbunuh, semoga Allah merahmatinya.
Merekalah generasi mulia, siapa menapaktilasi penuh tekad dia berusaha dan menggelanggang
Melihat mereka bergolak, sang penyeru berteriak: murahkan jiwa dalam laga sambil melenggang
Mungkin lembaran kertas menahbiskanmu sebagai alim, namun tindakan dan ucapanmu centang-perenang
Melalui pedang, nyali, dan akidah suci agama ‘kan berkilau dan kaum cerdik pandai pun gemilang
Hendaknya siapa saja yang memerangi Daulah Khilafah menyadari bahwa Khilafah bergerak merealisasikan ancamannya kepada para musuhnya. Berkat karunia Allah, pedang kami tak pernah tumpul. Peperangan dahsyat baru saja dimulai. Tidaklah para putra Islam menceburkan diri ke dalam deru lautan dalam lagi menghempas, melainkan mereka yakin akan kepastian lapangnya dunia dan akhirat. Seseorang yang menerobos deburan ini takkan pernah merugi. Sejatinya ia adalah salah satu dari dua kebaikan, satu dari dua kemuliaan; kemenangan atau kesyahidan. Kehidupan mulia, bukan kehidupan nista. Kehidupan pejuang, bukan kehidupan terbelenggu dan mengemis.
Seorang pemerhati hari ini, berkat anugerah Allah serta keteguhan putra-putra Khilafah dan para pembelanya, dia akan menyaksikan konstelasi “Poros Tunggal” tempat di mana Amerika menjalaninya. Ia hidup dalam kondisi terjaga, berharap dirinya dapat memberangus Daulah Islam. Ia lupa atau pura-pura lupa bagaimana keadaannya di tengah para musuh dan bangsa-bangsa kompetitornya, lalu pada hakikatnya siapakah yang ‘memenangkan’ dan mendapat kehilangan dominansi dan kepioniran? Angin politik tidaklah berjalan sesuai dengan harapan dan cita-citanya.
Hari ini Amerika kebingungan, linglung, berjalan tergelincir, dan semua tujuannya berserakan. Kemauanmu kini telah menyusut, dan sekarang engkau merayu semua musuhmu yang binasa. Engkau kini menyesuaikan diri dengan kehendak mereka, rela dengan win-win solution, dan tak berdaya melakoni benturan langsung dengan mereka. Peristiwa yang engkau jalani dalam menggandeng kekuasaan Shafawi di kawasan belum lagi beranjak, dan ini menjadi sebaik-baik bukti. Penderitaanmu hari ini akibat melemahnya perekonomian yang membuatmu miskin itu, telah membuatmu kehilangan arah politik yang engkau klaim sebagai sebuah kecerdasan bersama para sekutu. Kini engkau tidak malu lagi untuk memperlihatkan tindakanmu memeras rekan-rekan terdahulumu dan sekarang di hadapan dunia. Bahkan engkau menggadaikan keberadaanmu di Syam dengan sokongan mereka yang tidak sesuai aturan, atau mereka harus menyelesaikan semua masalah mereka sendiri. Ataukah engkau mengira bahwa bombardirmu terhadap rezim kriminal Nushairiyah pembunuh Ahlus sunnah, akan membuat Rusia tunduk atau bisa sedikit mengubah perimbangan, atau bahkan melupakan kejahatan-kejahatanmu terhadap Ahlus sunnah di Irak dan Syam. Peristiwa Ghouta dan Douma tiada lain hanyalah salah satu episode dari kisah yang belum selesai babaknya.
Bencana yang mendera Ahlus sunnah, dan ‘keberanianmu’ melakukan hal itu, tiada lain hanyalah setitik abu di mata, akalmu memandang remeh hal itu, dan engkau merekayasa konflik khayalan demi menjaga secuil kepentinganmu bersama para thaghut kaum murtad Ahlus sunnah di kawasan. Engkaulah yang menyerahkan kawasan-kawasan Ahlus sunnah kepada negara Majusi Iran. Betapa tidak, armada-armada laut dan udaramu mengawal seluruh mobilisasi Rafidhah Shafawi di Irak, serta memudahkan mereka merampas berbagai negeri Ahlus sunnah. Bahkan, Hizbullata Rafidhah kini telah menjadi ‘lengan’ Iran yang melontarkan pujian atas tindakannya dan perbuatan yang dilakukan ‘kedua tangannya’ terhadap Ahlus sunnah di Syam. Semua kelompok dan milisi Rafidhah di Irak pun kini menduduki berbagai posisi penting, kemudian mereka dipuji kerena membantai dan merampas kawasan-kawasan penduduk Ahlus sunnah yang kini berupaya menyembuhkan luka dan menghapus airmata, semenjak engkau mempersilakan masuk para penjajah. Engkau bergembira dengan kesengsaraan mereka, diperbudaknya mereka, peperangan terhadap akidah mereka, serta perampokan sumber daya alam mereka. Maka kemenangan macam apa yang mereka bicarakan, dan kemenangan seperti apa yang diperbincangkan Amerika?!
Berkat karunia Allah, mujahidin berada dalam superioritas, keunggulan, kekuatan, dan keperkasaan mumpuni, berpandangan jauh, persatuan barisan, dan keadaannya lebih baik dari keadaan dirimu yang kalah lagi nista saat hengkang dari Irak bertahun-tahun silam. Hanya beberapa tahun saja, sampai Allah menaklukkan untuk mujahidin para hamba-Nya berbagai kota dan daerah pinggiran, serta menganugerahi mereka dari karunia-Nya. Dengan demikian, kemenangan macam apa yang engkau bicarakan, sedangkan engkau hari ini keluar-masuk dari satu negeri ke negeri lainnya, engkau mengemis kasih sayang sejumlah negara dan merayu negara-negara lainnya, setelah musuh bebuyutanmu meraih dominansi, yaitu negara Salibis Rusia yang masih belum mendapatkan ucapan selamat atas kemenangan semunya di Negeri Pertempuran Dahsyat. Dengan frustrasi dan ucapan selamat palsu, Rusia muncul via media melalui sebuah citra penyelamat bagi para sekutunya, terutama Nushairiyah, di Syam setelah menggunakan politik “membumihanguskan negeri”, mempertunjukkan kekuatan ekstrem di berbagai kota Ahlus sunnah. Pemandangan ini tidaklah menyenangkan Amerika, dan citra yang ingin disampaikan Keledai Rusia kepada dunia adalah: “Sekarang aku kembali mendominasi.”
Ya, orang-orang licik telah mengalahkanmu. Alih-alih menambal rumah berlubang, justru pena diambil guna melakukan penandatanganan di hadapan dunia bahwa Al-Quds adalah ibukota negara Yahudi. Hal itu dilakukan untuk merusak sambutan kemenangan musuhnya, yaitu Rusia, dan memalingkan pandangan dunia darinya. Engkau membuat marah ‘buih’ dari kalangan orang-orang yang meyakini bahwa engkau memiliki kebaikan dan keburukan. Hari ini engkau tergsa-gesa melakoni sesuatu yang takkan bisa engkau capai. Hentikanlah dan kembalilah ke seberang lautan, karena engkau takkan mampu menggapai mujahidin dan negeri-negeri kaum muslimin. Ambillah pelajaran dari orang-orang sebelumnya, karena orang berakal takkan mencoba mengulang hal yang pernah dicoba. Sesungguhnya janji Allah untuk memberikan kekuasaan kepada mujahidin para hamba-Nya yang bertakwa sungguh sangat dekat.
Kemudian, apakah pengakuanmu akan bermanfaat sedikit pun di hadapan keputusan Allah, meskipun engkau melancarkan serangan, serta datang dengan segenap kapal perang, pesawat, pakar, serta penasihat militer ke negeri “Tempat Isra” dan kiblat pertama guna melindungi Yahudi. Sesungguhnya, mereka dan bala tentara Islam terikat janji yang takkan mereka selisihi. Ia adalah sebuah janji, demi Rabb Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka bersabarlah wahai keluarga kami di negeri “Tempat Isra” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Bersabarlah, demi Allah, kami takkan melupakan kalian.
Sesungguhnya saudara-saudara kalian di Daulah Khilafah, tidaklah memerangi bangsa-bangsa kafir melainkan mereka merasakan kepedihan hati dan duka cita menyayangkan tidak bisa berhadapan dengan Yahudi, karena sibuk menolak serangan musuh mereka dan hendak melenyapkan batas-batas negara hina yang mengekang umat Islam. Ketegaran dan keteguhan bala tentara Khilafah di Sinai, serta operasi mereka menghalau satu persatu kampanye militer, merupakan petunjuk nyata dan bukti kesungguhan. Sejatinya, konfrontasi dengan mereka sudah dekat.
Kemenangan seperti apa yang dibicarakan Amerika, di saat para putra kaum muslimin dari segenap penjuru tiada hentinya berturut-berturut bergabung membaiat dan membela Khilafah. Mereka berharap menjadi satu batu bata berkualitas dalam mengokohkan istananya dan meninggikan bangunannya. Bahkan, bala tentara Khilafah di Irak, Syam, Yaman, Sinai, Khurasan, Libya, Afrika Barat, Somalia, Filipina, dan Tunisia, mereka senantiasa menimpakan bencana kepada antek-antek dan bala tentaramu. Mereka selalu terikat dalam jihad yang dicintai dan diridhai Allah, serta takkan berhenti sampai turunnya Nabi Isa putra Maryam alaihis salam sebagai hakim adil. Sesungguhnya mimpi buruk yang kalian reguk di setiap babak mengerikannya, takkan pernah bisa dihentikan oleh satu mimpi semu atau operasi udara besar walau sejenak. Dengan izin Allah, yang akan datang akan lebih dahsyat dan lebih pahit.
Siapakah engkau wahai tentara Khilafah, sehingga lebih dari 70 negara berhimpun memerangimu?!
Siapakah engkau wahai tentara Khilafah, sehingga berbagai konferensi dan koalisi dibentuk guna membahasmu?!
Siapakah engkau, sampai-sampai keledai Amerika, Rusia, Eropa, Barat, dan Timur datang memerangi dan membunuhmu?!
Siapakah engkau, sampai-sampai engkau dibombardir dengan “induk” segala bom (mother of all bombs) dan bom fosfor, dan dari atas kepalamu dimuntahkan berbagai hal yang dianggap jahat dan tabu oleh mereka?!
Siapakah engkau, sampai-sampai umat ‘buih’ bersembunyi untuk tidak membelamu, dan bahkan mereka berdiri bersama musuh untuk memerangimu?! Namun engkau tetap berlalu dan tidak memalingkan wajahmu agar tetap setia membela agamamu.
Siapakah engkau, sehingga media-media keji hiruk pikuk, saat engkau merobohkan tumpukan batu yang tidak ada kehidupan di dalamnya. Mereka harap-harap cemas lagi murung dan diam membisu, menyaksikan negeri-negeri Ahlus sunnah dihancurkan dan diruntuhkan di hadapan para penduduknya, serta tak terhitung banyaknya nyawa melayang dan banyak kehormatan dirusak, dengan dalih memerangi dan membunuhmu?!
Siapakah engkau wahai tentara Khilafah, sehingga engkau didiskreditkan; terkadang disebut antek, terkadang dilabeli Khawarij, terkadang dicap kafir, dan terkadang distempeli atheis?!
Para Bal’am murtad sampai kebingungan dalam melabelimu, mencelamu, dan menstigmakanmu. Namun seiring semua hal itu, engkau tetap menceburkan dirimu ke dalam lautan kematian demi mempertahankan umat dan agamamu.
Siapakah engkau yang mana ganjaran dan pahalamu ada di sisi Allah?!
Ingatlah kembali siapa engkau, agar engkau menyadari anugerah Allah untukmu. Syukurilah nikmat ini dengan cara teguh di atas agama-Nya, memerangi seluruh musuh-Nya, karena sejatinya engkau di atas kebenaran. Ya Allah, berilah kemudahan kepada bala tentara Khilafah untuk menjalani hijrah mereka, dan janganlah engkau membuat mereka mundur.
Sejak dideklarasikan dan dalam perkembangannya, sesungguhnya Daulah Khilafah memberi kabar gembira kepada umat dengan jihad, pertempuran, dan peperangan di jalan Allah. Ia tidak menjanjikan dan memberi harapan dengan dunia sedikit pun kepada umat. Maka ia pun menegakkan agama, menghidupkan al-walaa wal baraa`, terbebas dari sesaknya kelompok dan tanzhim (organisasi) menuju kelapangan Khilafah. Ia mengembalikan jamaah muslimin kepada wibawa dan kemuliaannya di kalangan manusia. Jikalau tidak demikian, para thaghut di belahan timur dan barat niscaya takkan mengeroyoknya, dan seluruh bangsa takkan memeranginya. Para mujahid jujur membaiat Amirul Mu'minin Abu Bakar Al-Qurasyi Al-Husaini Al-Baghdadi –semoga Allah menjaganya– sebagai Khalifah kaum muslimin. Dengan bendera tersebut, benturan dengan pengusung kekafiran mengarah ke bentuk lain dan membedakannya dengan segenap jihad yang sebelumnya pernah ada pada zaman kita. Hal itu merupakan taufik dari Allah untuk pengusung jihad di Irak dan Syam.
Maka seorang imam tak ubahnya perisai, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “...seseorang berperang mengikutinya dan berlindung dengan (kekuasaan)nya.” Dengan hal itu, terputuslah elemen keburukan yang terejawantah dalam perpecahan hasil perbuatan para pengadu domba, pembuat makar dan pengkhianatan, untuk menggiring para putra Islam ke berbagai kelompok, golongan, dan jamaah yang bercerai-berai. Dengan deklarasi Khilafah, berkat karunia Allah, pulihlah hubungan ukhuwah keimanan dan terwujudlah makna “satu tubuh” dalam umat ini di antara putra-putra Islam di berbagai penjuru. Engkau melihat seorang muwahid melakoni betapa sulitnya berangkat dan berhijrah ke Darul Islam. Dulunya dia tinggal di tengah-tengah kaum musyrik dari Yahudi, Salibis, dan kaum murtad, kemudian dia berperang berdasarkan basirah dari perintah-Nya demi membela agama-Nya, setelah nampak jelas di hadapannya tujuan dari peperangan yang dapat membunuhnya. Sehingga pedang kami di segenap penjuru barat dan timur menjadi perisai berbagai negeri dan kelompok. Hari-hari yang kami lalui sudah masyhur di kalangan musuh-musuh kami, hari-hari tersebut sarat marabahaya dan sangat dikenal.
Wahai bala tentara tauhid di Daulah Islam,
Khilafah adalah kebanggaan kaum muslimin dan kebencian bagi kaum kafir. Maka panjatkanlah pujian kepada Allah, karena Dia telah memuliakan kalian dengan mengangkat panjinya, membela, dan mempertahankannya. Kita memandang bahwa orang yang masih hidup dan yang telah mendahului, mereka adalah orang-orang terbaik. Melajulah menuju penaklukan baru dan kemenangan agung. Sesungguhnya satu generasi yang ditempa di atas tauhid, menjalani al-walaa wal-baraa` dalam kehidupan nyata lagi praktis, mencicipi kemuliaan jihad, dan nikmatnya pengorbanan di jalan Allah, adalah umat yang diharapkan, setelah Allah ta'ala, untuk membangkitkan Islam di masa ini. Kalian pada hari ini menyaksikan berbagai pertempuran dahsyat di bumi Irak, Syam, dan negeri-negeri lainnya. Maka perlihatkan diri kalian sebaik-baiknya kepada Allah. Sebuah negeri takkan terjaga dan penduduknya takkan mulia kecuali dengan tombak dan peledak. Melalui daya dan kekuatan Allah, putra-putra Islam terikat janji dan waktu yang ditentukan lagi disegerakan dengan musuh-musuh Allah dari kalangan Rafidhah Shafawi dan para antek mereka dari kaum murtad yang secara dusta dan palsu berafiliasi kepada Ahlus sunnah. Peperangan belumlah berakhir.
Atas karunia Allah, singa-singa Khilafah takkan berhenti berjalan sesuai keinginan mereka. Mereka merancang, dan mereka adalah para pengatur peperangan, para instruktur tempur, serta para penakluk dan pengguncang bangsa-bangsa kafir. Maka janganlah seseorang berpikir rendah lagi pengecut, karena ada ‘tangan’ yang terulur kepada mujahidin dan menjaga kehormatan mereka. Seseorang akan menikmati ‘uluran’ tersebut.
Demi Dzat yang menggerakkan awan, membangun tujuh langit kokoh, dan mencerai-beraikan pasukan kafir saat penaklukan di setiap tempat. Tangan dan kaki mereka niscaya akan terputus, nyawa di dalam jasad mereka akan melayang, dan bangkai mereka akan tersungkur di pusara. Maka kami takkan merasa lemah dan pengecut.
Kami adalah anak-cucu (Abu Bakar) Ash-Shiddiq dan (Khalid) Ibnul Walid. Kami akan menghidupkan sunnahnya untuk siapa pun yang murtad dan memusuhi umat Islam, dari kalangan kaum pandir dan rakyat jembel. Dengar dan simak baik-baik, wahai kaum Rafidhah Irak dan Majusi Iran. Kami bersumpah dan bersumpah, tempat yang luas benar-benar akan menjadi sempit oleh bangkai busuk kalian. Sungai Dijlah dan Eufrat benar-benar akan tercemar busuknya mayat kalian. Dan setiap muslimat suci lagi terhormat yang digiring menuju kematian, niscaya akan dibalas dengan terburainya jantung kalian dan berdarahnya hari-hari kalian.
Wahai para pengobar peperangan di “Tanah Hitam”* dan tanah kelahiran Khilafah. Wahai para kesatria Daulah serta para pengawal agama dan millah, jangan kalian biarkan setiap unit keamanan, militer, ekonomi, ataupun media pemerintahan Rafidhah, melainkan kalian menjadikannya tinggal kenangan. Jangan kalian biarkan kepala sesepuh kabilah busuk lagi murtad kecuali kalian penggal, jangan biarkan juga ada perkampungan kafir yang wajib diperangi, melainkan kalian meninggalkan bekas untuk dijadikan tanda dan pelajaran bagi yang mau mengambil pelajaran dari setiap orang keji yang teperdaya. Merekalah orang-orang yang rela menjadi pelayan dan budak kaum Rafidhah, serta mata-mata yang senantiasa terjaga menjadi penghalang antara mujahidin dengan musuh mereka.
*Ardh Sawad (Tanah Hitam) adalah nama yang digunakan pada awal zaman Islam (abad ke-7–ke-12) untuk menyebut kawasan di selatan Irak (Edt.)
Sumbatlah nafas para penyeru fitnah dan kesesatan, mereka yang menganjurkan dan berkomitmen untuk mengubah akidah manusia, dari kalangan para imam, khatib, ulama, ustadz, dan guru. Janganlah belas kasihan kepada mereka mencegahmu untuk menjalankan agama Allah, karena mereka adalah orang-orang murtad, zindiq, dan kriminal. Mereka merayu manusia agar menjadi penurut patuh Rafidhah. Tebaslah leher siapa saja yang menyakiti hamba-hamba Allah bertauhid, dari kalangan murtad meski suatu hari pernah bergabung dengan mujahidin. Terimalah taubat siapa pun yang bertaubat sebelum tertangkap, berbuat baiklah kepada siapa saja yang mau membela, menolong, memelihara perjanjian, dan tidak melepaskan jaminan keamanannya dengan kaum muslimin. Jadilah kalian penolong dan penyokong baginya. Berilah dia dari harta Allah yang diberikan kepadamu, dan hormatilah dia.
Dan ketahuilah wahai Ahlus sunnah wal Jamaah di Irak, Syam, dan setiap tempat, tidak ada lagi tempat kembali untuk kalian, setelah Allah, selain bala tentara Khilafah Daulah Islam. Maka lindungilah mereka, belalah mereka, serta jadilah penolong mereka dari kejahatan orang lain.
Kami memperingatkan bahwa pemerintahan Hasyad Rafidhah Irak yang disokong Iran, hendak menyambut apa yang mereka namakan dengan pemilihan umum (pemilu). Maka siapa saja yang berusaha untuk melangsungkannya, dengan sokongan dan bantuan, maka berarti dia termasuk loyali kepadanya dan para penganutnya. Maka status hukumnya sama seperti status para penyeru dan pendukungnya. Para calon anggota legislatif (caleg) adalah para pengklaim Rububiyah dan Uluhiyah. Dan para pencoblos mereka berarti telah menjadikan mereka sebagai rabb-rabb dan sekutu-sekutu selain Allah, maka hukum mereka dalam agama Alloh adalah kafir dan keluar dari Islam (murtad).
Maka sungguh kami mewanti-wanti kalian, wahai Ahlus sunnah di Irak, agar tidak loyal kepada orang-orang yang memasuki pintu kemurtadan. Sesungguhnya, tempat-tempat pencoblosan (TPS) dan siapa saja yang berada di dalamnya, adalah sasaran pedang-pedang kami. Karena itu, menjauhlah darinya dan janganlah berjalan di dekatnya. Barangsiapa di antara kalian yang egois dan condong kepada dunia, enggan membela Daulah Islam dan tempat berlindung Ahlus sunnah, maka hendaklah dia diam di rumahnya, dan uruslah keperluan dirinya sendiri, serta jangan sekali-kali menjadi penolong dan penyokong kaum musyrik Rafidhah beserta antek-anteknya dari kalangan kaum murtad yang mengaku sebagai Ahlus sunnah.
Wahai bala tentara dan anshar Khilafah di setiap tempat!
Ketahuilah bahwa hari ini kita memasuki fase baru dan tikungan tajam di jalan jihad memerangi musuh dengki yang hendak menjajah negeri-negeri kaum muslimin dan ingin mewarisi peninggalan Amerika. Padahal, sebelumnya mujahidin sukses meluluh-lantakkannya dengan berbagai operasi dan aksi mereka selama hampir dua dekade. Dekadensi mulai kembali lagi tanpa menghiraukan apa pun, menyaksikan kegagalan para sekutu yang tak mampu mengekang Rusia dan Negara Majusi Iran. Maka, jadikanlah keduanya sebagai target dalam pentas operasi dan jihad kalian, agar Majusi dan Rusia yang berada di belakangnya merasakan akibat kebengisan despotisme mereka dan bombardir mereka terhadap kawasan-kawasan Ahlus sunnah di Irak dan Syam. Berpartisipasilah dalam perang ini dan berbekallah, karena sebaik-baik bekal adalah takwa.
Berangkatlah dengan keyakinan terhadap janji dan pertolongan Allah, konsekuen terhadap ketaatan, jaga dan lestarikanlah jamaah. Jauhilah perselisihan, karena itu adalah keburukan yang mendera kalian dan lebih berbahaya dari pedang yang tajam. Tunaikanlah semua kebutuhan kalian secara sembunyi-sembunyi. Curahkanlah segenap potensi secara maksimal dalam mengintai target dan membongkar celah musuh. Waspadailah ‘mata-mata’ yang menempel kita, yaitu segala perangkat komunikasi. Karena semuanya adalah pemandu yang mematikan. Ambillah semua sarana untuk bisa membantai dan menyerang musuh kalian. Tengoklah para Salibis Amerika, mereka mencicipi lezatnya tindakan yang mendatangkan kehancuran mereka, dengan izin Allah, dan sesekali memberanikan diri untuk terjun langsung.
Maka, salah seorang dari kalian jangan melewatkan kesempatan untuk memerangi mereka yang kini telah memasuki arena kalian. Ingatlah setiap waktu dan selalu bahwa ‘kubah’ kemenangan, sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim, dibangun kecuali di atas lima perkara, diterangkan Rabb kita di dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al Anfal: 45-46)
Di dalam ayat ini, Allah memerintahkan mujahidin dengan lima perkara. Tidaklah kelimanya terkumpul dalam suatu kelompok, melainkan ia niscaya akan menang, meskipun berjumlah sedikit sedangkan musuh berjumlah banyak. Pertama, berteguh hati. Kedua, banyak berdzikir kepada Allah ta'ala. Ketiga, mentaati Allah dan Rasul-Nya. Keempat, persatuan dan tidak berselisih yang mengakibatkan kegagalan dan kelemahan. Karena perselisihan ibarat seorang prajurit, di mana orang-orang berselisih berarti ikut menguatkan musuh mereka. Sementara persatuan tak ubahnya sekat anak panah, tidak akan ada yang mampu mematahkannya. Namun jika seseorang menguraikan ikatannya dan dibiarkan sendiri-sendiri, maka semuanya dapat dipatahkan. Adapun yang kelima adalah sendi, pengikat, dan pokok dari semuanya, yaitu sabar. Inilah lima perkara yang melandasi kubah kemenangan. Kapan saja kelimanya hilang atau sebagiannya hilang, maka kemenangan pun akan sirna, sesuai apa yang hilang. Namun jika kelimanya bersatu, satu sama lainnya saling menguatkan, niscaya berpengaruh besar dalam sebuah kemenangan.
Tatkala semuanya terkumpul pada para sahabat, tidak ada satu bangsa pun yang mampu menghadapi mereka. Maka mereka menaklukkan dunia, semua orang dan negeri tunduk kepada mereka. Tetapi ketika generasi setelah mereka bercerai-berai dan melemah, maka kondisinya berlangsung seperti adanya. Allah-lah tempat memohon pertolongan dan kepada-Nya kita bersandar. Dialah penolong kita dan sebaik-baik pelindung. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Agung.
Seruan kami terakhir, segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam.
Al-Furqan Media