Tampilkan postingan dengan label Dabiq Edisi 11. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dabiq Edisi 11. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

WAWANCARA BERSAMA SYAIKH ABUL MUGHIRAH AL-QAHTHANI, WALI WILAYAH LIBYA

DABIQ 11 - WAWANCARA

WAWANCARA BERSAMA SYAIKH ABUL MUGHIRAH AL-QAHTHANI,
WALI WILAYAH LIBYA

Pada bulan ini, Dabiq mendapatkan kesempatan untuk melayangkan beberapa pertanyaan kepada amir yang diutus oleh Khilafah untuk Wilayah Libya – Abul Mughirah al-Qahthani (hafizhahullah). Kami menyajikan dalam tanya jawab berikut ini.

Dabiq: Bagaimana situasi pertempuran di Daulah Islam Wilayah Libya?

Abul Mughirah: Situasi pertempuran di Wilayah Libya adalah salah satu pertempuran terhadap kaum musyrikin secara kaaffah (total) sebagaimana mereka memerangi kami secara kaaffah. Situasi militer di Libya berbeda dari satu daerah ke daerah lain, tergantung pada jumlah tentara Khilafah dan jenis musuh, di tambah komposisi sosial dan geografi yang beragam di berbagai daerah. Hal ini juga tergantung pada konflik dan koalisi yang terbentuk di barisan kaum murtad itu sendiri. "Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah." (Al-Hasyr: 14). Tapi kami meyakinkan kembali kepada umat Islam di timur dan di barat bumi bahwa Libya tidak akan diatur kecuali dengan syari'at Allah dan bahwa Daulah Islam dengan rahmat Allah akan membuka jalan dengan cepat menuju tamkin dan ekspansi. Daulah Islam memiliki operasi militer dan keamanan di Tharablus, Misratah, Tubruq, al-Baida', Sabratah, dan Ajdabiya. Daulah Islam berhasil mendapatkan sebagian kontrol atas lingkungan di Darnah dan Benghazi sebagai tambahan dari otoritas penuh atas wilayah pesisir yang membentang dari Buqarin ke Binjawad, yang mencakup sejumlah kota dan daerah, yang paling penting adalah Sirte, al-'Amirah, Harawah, Umm Qindil, dan an-Naufaliyah.

Dabiq: Bagaimana situasi kelompok murtad "Fajar Libya"?

Abul Mughirah: "Fajar Libya" adalah sayap resmi militer milik "General National Congress" pemerintahan demokratis (dengan balutan "Islam") yang diwakili oleh "Ikhwanul Muslimin" dan "Jama‘ah Islamiyah Muqatilah" yang dipimpin oleh Abdelhakim Belhadj. Pasukan murtad ini berperang melawan agama Allah dengan meninggalkan hukum syari'at dan menggantinya dengan hukum buatan manusia selain juga berperang melawan orang-orang ahlut-tauhid, menyeret mereka ke penjara, dan menyerahkan mereka ke tentara salib. Karena perang mereka melawan agama Allah dan para wali-Nya, Daulah Islam bangkit untuk mengusir serangan mereka terhadap kaum Muslimin dan untuk menegakkan syari'at, menyebarkan keadilan, dan melindungi tahanan dari bahaya. Mereka akan terus menjadi sasaran pedang kami, yang kami tidak akan menahan diri sampai mereka bertobat dari kekufuran mereka dan wala mereka kepada musuh-musuh Allah dari kalangan tentara salib dan sekularis.

Dabiq: Bagaimana situasi dengan Thaghut Haftar?

Abul Mughirah: Kami memiliki sejumlah front melawan Thaghut Haftar, yang merupakan kepala tentara Libya di bawah pemerintahan Tubruq di Libya Timur. Daulah Islam memerangi tentara murtad Libya di sejumlah lokasi di dekat kota Benghazi, yang terpenting adalah kota as-Sabiri dan al-Laitsi. Daulah Islam juga Prajurit Khilafah mengambil alih kendali di wilayah pantai timur kota Darnah memiliki beberapa front melawan mereka dekat Darnah, yang paling penting adalah kota Martubah dan Nawwar. Daulah Islam juga menargetkan lokasi mereka di kota Ajdabiya. Pasukan sekuler Haftar adalah target tentara Khilafah di mana saja para pasukan ini mungkin beristirahat. Kami tidak akan kendur dalam memerangi mereka sampai tidak ada lagi fitnah dan agama hanya milik Allah semata.

Dabiq: Bagaimana situasi dengan kaum Murtad dari "Majlis Syura Darnah"? Dan bagaimana itu semua dimulai? Dan bagaimana sejarah mereka dari sisi Islam atau kufur?

Abul Mughirah: Dewan ini terdiri dari dua elemen utama: "Brigade Martir Abu Salim" dan "Jama'ah Muqatilah Libya", adapun "Jama'ah Muqatilah Libya" maka kekufuran mereka jelas karena ikut serta dalam pemerintahan Tharablus dan proses demokrasi di bawah kepemimpinan Abdelhakim Belhadj. Adapun "Brigade Martir Abu Salim", maka itu adalah brigade yang dulunya Salafi. Sebagian besar tentara Daulah Islam di Darnah berasal dari pendiri brigade itu. Mereka meninggalkan brigade ini setelah jatuh ke dalam sejumlah pembatal keislaman, yang paling terkenal adalah operasi mereka sebagai bagian dari Kementerian Dalam Negeri yang dikenal sebagai "Komite Keamanan". Selain itu mereka juga memberikan pelayanan keamanan kepada Thaghut Musthafa Abdul Jalil, Ketua Dewan Transisi Nasional, ketika ia mengunjungi Darnah dan mengajak kepada demokrasi. Sejak itu, orang-orang yang memiliki manhaj yang lurus mulai meninggalkan brigade. Mereka bahkan membunuh pemimpin brigade itu yang memimpin kepada kekufuran yang dalam. Semua ini sebelum ekspansi resmi Daulah Islam ke Libya. Setelah Allah memberkahi dengan ekspansi Daulah ke Libya dan sebagian besar kelompok di Darnah melakukan bai'at kepadanya, Brigade Abu Salim meminta lawan-lawannya dari kelompok lain untuk merujuk kepada pengadilan Daulah Islam untuk sebuah resolusi. Setelah mempelajari kondisi Brigade dan apa yang mereka telah jatuh ke dalamnya, pengadilan Daulah Islam memutuskan bahwa brigade ini telah murtad dan mengajak para individunya agar bertaubat. Sejumlah anggota dan pemimpinnya bertaubat sedangkan sisanya berkumpul bersama-sama dengan "Jama'ah Muqatilah Libya" untuk membentuk apa yang mereka sebut "Majlis Syura Darnah."

Dabiq: Bagaimana situasi dengan Anshar asy-Syari'ah?

Abul Mughirah: Banyak pemimpin dan tentara Anshar Asy-Syari'ah termasuk kelompok pertama yang memberikan bai'at kepada Daulah Islam di Libya. Kelompok ini terus memiliki orang-orang yang ingin menerapkan syari'at meskipun kelompok ini telah melalaikan kewajiban yang terlupakan di zaman ini dan untuk mengutamakan persatuan daripada perpecahan, yang paling jelas terlihat dalam hal ini adalah kurangnya bai'at mereka kepada Khalifah dan bergabungnya mereka dengan gerakan "revolusioner" yang memiliki hubungan dengan rezim murtad Tharablus di beberapa daerah serta penerimaan bantuan mencurigakan dari tangan-tangan kotor di daerah lain. Ia juga memiliki sikap yang bertentangan dari daerah satu ke daerah lainnya karena orientasi yang berbeda para pemimpin dan keberpihakan tentaranya. Beberapa sikap kontradiktif juga disebabkan karena kedekatan beberapa pemimpin mereka dengan orang-orang "al-Qa'idah di Maghrib Islam" yang ada di Libya.

Dabiq: Bagaimana situasi di wilayah Libya sehubungan dengan administrasi pemerintahan?

Abul Mughirah: Di Libya, Daulah Islam masih berusia cukup muda untuk menjalankan misinya di mana kehadirannya di sana belum genap satu tahun. Daulah Islam, misalnya, mampu memerintahkan para prajurit Khilafah untuk mengambil kendali pantai timur kota Darnah dengan syari'at meskipun terdapat rintangan dan tantangan dari partai-partai menyimpang dan juga faksi-faksi yang terpecah-pecah yang enggan untuk memberikan bai'at kepada Khilafah. Hasil dari menegakkan hukum syari'at baik kepada orang yang kuat maupun orang yang lemah dan membuka pertaubatan kepada orang-orang murtad bersama dengan kehadiran berbagai faksi sesat dan yang terpecah-pecah di wilayah tersebut menyebabkan Daulah Islam diperangi oleh partai-partai ini secara total dan mengumumkan perang mereka terhadapnya. Di kota-kota dan daerah yang dikontrolnya, Daulah Islam telah meletakkan pondasi yang tepat. Ia tahu bahwa pembentukan agama dan pelaksanaan Syari'ah tidak akan dapat dicapai dengan kehadiran kelompok menyimpang dan terpecah-pecah, organisasi, dan partai di dalam wilayahnya. "Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya" (Asy-Syura: 13). Sehingga dia bekerja untuk membersihkan wilayah dari ancaman ini sembari tetap melaksanakan syari'at.

Dabiq: Bagaimanakah kisah tentang apa yang terjadi di Darnah?

Abul Mughirah: Pengkhianatan Shahawat di Darnah adalah karena perbedaan agama, perselisihan manhaj, dan arogansi beberapa pemimpin "revolusioner" yang terdapat di Darnah. Daulah Islam telah membuat mereka sakit hati dengan manhajnya yang murni dan jalan yang jelas. Dia mampu meraih dalam satu bulan apa yang mereka tidak mampu raih dalam tiga tahun yang telah lalu. Secara terbuka dia menyatakan kufur kepada orang-orang murtad dan mengajak mereka untuk bertaubat, termasuk Brigade Abu Salim. Kata-kata kebenaran dan melantangkannya telah membuat mereka marah. Juga menghapus kejahatan, memerintahkan kebaikan (amar ma'ruf) dan mencegah kemungkaran (nahi munkar). Maka mereka pun memulai langkah kotor mereka dan membuat makar pengkhianatan. Mereka berkoordinasi dengan kelompok murtad "Jama‘ah Muqatilah Libya" untuk membuat formasi yang mereka namakan "Majlis Syura Darnah". Mereka juga secara diam-diam mengambil lokasi penting di dalam kota sebagai persiapan untuk menyerang Daulah Islam. Mereka berusaha untuk membuat-buat masalah sehingga bisa menjadi alasan untuk menyerang Daulah Islam. Awal pengkhianatan mereka adalah ketika mereka menyerang dua pos pemeriksaan dekat pintu masuk ke kota sebelah barat dan timur. Mereka mengepung bangunan pengadilan Islam, hanya karena alasan-alasan yang remeh. "Dan bahwa Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat." (Yusuf: 52). Daulah Islam kemudian menarik diri dari pusat kota Darnah di awal pertempuran dan membuat pintu masuk sebelah timur kota (wilayah al-Fata'ih) sebagai tempat peluncuran operasi terhadap Shahawat ini. Setelah itu, "Majlis Syura Darnah" mengumumkan peluncuran "Pertempuran Nahrawan" untuk mengambil daerah al-Fata'ih dengan bantuan pasukan yang disebut "Syuhada' al-Jabal", milik tentara Haftar Libya. Daulah Islam terus maju menuju pusat kota Darnah. Dalam beberapa hari terakhir, dia berhasil merebut kembali wilayah di sisi pantai timur Darnah. Segala puji bagi Allah. Dan pertempuran itu masih terus berjalan.

Dabiq: Bagaimankah kisah tentang apa yang terjadi di Sirte?

Abul Mughirah: Adapun Sirte, maka kisah tentang pengkhianatan itu tidak begitu banyak, tetapi bahwa Daulah Islam telah mengusai kota tersebut belum lama ini dan ketika itu masih terdapat kantung-kantung milik pendukung Thaghut Haftar dan juga milik pendukung Thaghut Qaddafi, karena mereka menganggap Sirte tempat kelahirannya. Ada juga perlawanan dari beberapa Madkhali Murji'ah, yang mengangkat senjata melawan Daulah Islam. Penghancuran kantung-kantung perlawanan telah berhasil, senjata dan kekayaan mereka diambil sebagai rampasan perang (ghanimah). Pertobatan dari orang-orang yang bertobat juga diakui. Segala puji bagi Allah.

Dabiq: Apa jenis kebutuhan yang sangat diperlukan oleh Wilayah Libya dari segi personil (ulama, dokter, insinyur, pejuang, dll)?

Abul Mughirah: Daulah Islam di sini, di Libya masih cukup muda. Sehingga sangat membutuhkan setiap muslim yang bisa datang, terutama tenaga medis, syar'i, dan tenaga administrasi, selain juga para pejuang.

Dabiq: Seberapa penting Wilayah Libya bagi masa depan Khilafah dan Umat Islam dan perang melawan tentara salib dan kaum murtad?

Abul Mughirah: Libya memiliki nilai yang sangat penting bagi Umat Muslim karena dia berada di Afrika dan selatan Eropa. Dia juga memiliki sumber daya yang tidak pernah kering. Semua kaum Muslimin memiliki hak dari sumber daya tersebut. Dia juga gerbang ke padang pasir Afrika yang membentang ke beberapa negara-negara Afrika. Hal ini penting untuk dicatat bahwa sumber daya Libya menjadi perhatian kafir Barat karena ketergantungan mereka pada Libya selama beberapa tahun terutama berkaitan dengan minyak dan gas. Kontrol Daulah Islam atas wilayah ini akan menyebabkan kerusakan ekonomi terutama bagi Italia dan negara-negara Eropa lainnya.

Dabiq: Kami telah melihat pesan dari ikhwah anshar kami di Libya yang mengundang umat Islam di seluruh dunia untuk melakukan hijrah menuju Wilayah Libya. Dari Wilayah manakah kebanyakan para muhajirin ini datang?

Abul Mughirah: Segala puji bagi Allah. Muhajirin datang dari semua tempat menuju Daulah Islam terutama dari Afrika, Maghrib Islami, Mesir, dan Semenanjung Arab dan terkadang dari negara-negara Barat.

Dabiq: Apakah ada kesulitan yang terjadi dalam melakukan hijrah ke Libya?

Abul Mughirah: Tidak ada pahala tanpa kesulitan, terlebih ketika datang menuju jihad dan hijrah. Tetapi ini mudah bagi mereka yang Allah mudahkan. Mereka yang telah memutuskan untuk melakukan hijrah harus memurnikan niat mereka, bertawakkal kepada Allah, dan berdoa sebanyak-banyaknya. Mereka harus ingat bahwa meskipun banyak kesulitan dalam hijrah, "Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (An-Nisa' : 100).

Dabiq: Apa nasihatmu untuk kaum Muslimin yang ingin melakukan hijrah ke Libya?

Abul Mughirah: Kami mulai nasihat bagi kaum Muslimin secara umum untuk berlaku Zuhud terhadap dunia dan kesenangannya. Sudah sepantasnya bagi mereka untuk tidak condong atau berat terhadap Bumi. Mereka harus menjadi Anshar Allah, melakukan hijrah, dan menyerang musuh-musuh Allah. Para pendukung agama harus tahu, bahwa "Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak." (An-Nisa': 100). Kami menyeru mengajak mereka untuk bergerak maju dan mendorong mereka untuk mendukung kami.

Dabiq: Apa nasihatmu bagi kaum Muhajirin secara umum, dan untuk Muhajirin di Libya pada khususnya?

Abul Mughirah: Nasihatku kepada Muhajirin secara umum adalah hendaknya mereka tidak menjadi bangga (ujub) dengan hijrah mereka atau menganggap jihad mereka sesuatu yang hebat yang telah mereka lakukan untuk Allah. Mereka harus mengikhlaskan niat mereka, karena ada orang-orang yang melakukan hijrah kepada Nabi shalallahu alaihi wa sallam demi dunia dan ada juga karena untuk menikahi seorang wanita, sebagaimana seorang laki-laki yang dikenal dengan "Muhajir Ummu Qhais". Karena itu kami seru engkau, saudara kami, untuk melakukan hijrah hanya karena Allah dan demi menolong agama-Nya. Jalanmu akan terhalangi oleh kesulitan dan hambatan yang besar. Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya dan kenyamanan tidak dapat dicapai dengan kenyamanan.

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 11

DABIQ 11 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Pada tanggal 8 Agustus 2015, Michael Scheuer (mantan Kepala CIA "Bin Laden Issue Station") merilis sebuah artikel berjudul "Islamic State menang, Amerika harus segera menggunakan salah satu pilihan yang tersisa". Di dalamnya, ia membahas tentara salib Amerika, menyeru mereka untuk mengakhiri perang tanpa harapan mereka terhadap Islam dan Khilafahnya. Dia membawa perhatian mereka kepada realitas bahwa Islamic State menang dan akan terus meluas apapun usaha negara yang makin melemah Amerika. Berikut ini adalah artikelnya :

Islamic State Menang, Amerika Harus Segera Menggunakan Salah Satu Pilihan yang Tersisa
Oleh : Michael Scheuer

Ada tiga hal dari pemerintah nasional AS yang memaksakan diri dan benar-benar cacat parah dalam menangani ancaman Islam adalah :

(a) melihat dengan cermat terhadap masalah melalui cara negara demi negara: yaitu, apa yang kita lakukan di Irak? Apa yang kita lakukan di Afghanistan? Apa yang kita lakukan di Libya? Dll.

(b) selalu—tetapi sudah lama terbantahkan bahwa dalam perang dengan Islam, Barat memiliki waktu (pada) sisinya. Dan,

(c) kecanduan pada hal yang tidak bijaksana, tidak perlu, dan intervensi membangkrutkan yang merupakan motivator utama dari gerakan Islam internasional, fenomena yang diayahi dan masih dipelihara oleh Barat yang kemudian disebut "sekutu dan teman-teman", Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dll.

Dengan membentuk dan melaksanakan kebijakan intervensionis kepada setiap negara bangsa di mana ancaman Islam teridentifikasi sehingga perlu ditangani, Washington dan sekutunya, NATO, kehilangan point bahwa musuh utama Islamis mereka –Islamic State (IS) dan al-Qaeda,(1) dan terutama mantan anggotanya– berpikir dengan cara regional lalu kemudian merancang dan melaksanakan kebijakan yang bertujuan untuk membangun basis yang dari sana mereka dapat melakukan perluasan di jalan yang memiliki tujuan akhir untuk mengusir Barat dari dunia Muslim dan menciptakan kesatuan dan negara bagi seluruh dunia Islam atau Khilafah. Apakah negara seperti itu dapat diciptakan atau tidak itu adalah pertanyaan terbuka, tapi untuk saat ini subject ini menjadi ditinggalkan kepada para akademisi untuk perdebatan tanpa henti, teoritis, dan tidak meyakinkan, sehingga meninggalkan hal yang waras untuk mencoba mempertahankan Amerika Serikat.

Yang penting, pada saat ini, terletak pada ketidakmampuan dan ketidakcakapan para pembuat kebijakan AS dan NATO untuk melihat apa yang disusun oleh Daulah Islam (IS) dari perencanaan regional, atau bagaimana perencanaan yang tidak hanya imun tapi terus didorong oleh intervensi Barat di setiap Negara Muslim yang tak kenal kasihan, terus menerus dan tidak menyenangkan mereka – Kecuali, tentu saja, para tirani Muslim peliharaan Barat, yang dilindungi dan disuapi olehnya.

(NB: Ini tidak berarti menjadi alasan bahwa intervensi Pasukan AS-NATO terhadap bangsa multi-Muslim diperlukan. Pertama, bahwa induk dari semua intervensi Barat akan menjadi sekutu tunggal paling kuat bagi tujuan IS menyatukan dunia Sunni. Kedua, militer AS telah haus setelah dua dekade mengalami kalah perang: yang dikebiri oleh hitung-hitungan Obama –untuk menghancurkan– pemotongan anggaran, pengurangan tenaga kerja, dan effeminisasi: dan militer NATO –melindungi Turki– adalah Kecil, kuno, kekurangan dana, dan tidak bisa menghentikan panzer Putin berputar di Champs Elysees tanpa menggunakan senjata nuklir. Satu-satunya pertahanan efektif AS-NATO terhadap Islamis adalah dengan menghentikan semua intervensi, dan membiarkan Sunni, Syi‘ah, dan Israel membereskan perbedaan mereka masing-masing dengan cara membunuh bagaimana saja yang menyenangkan mereka)

Saat ini, para pemimpin IS tampaknya memiliki tiga tempat pijakan regional yang kuat di mana mereka berniat untuk melakukan ekspansi, dan tentu salah satunya sebagai sasaran ekonomi strategis, keempat choke-point maritim, jika ditutup atau bahkan diserang secara sporadis, maka akan mengganggu pasokan minyak dunia dan tentu kemudian ekonominya.

1) Balkan

IS telah menancapkan dirinya dengan sangat kuat ke dalam komunitas Islam Bosnia, Kosovo, dan Albania, dan memiliki kehadiran di setiap negara-negara Balkan lainnya. Dalam upaya ini , IS telah memanfaatkan apa yang sekarang adalah masa-masa kampanye yang panjang, dimulai dari kematian Uni Soviet, di mana Arab Saudi, mitra Teluknya, dan sejumlah NGO(2) mereka telah merubah sejumlah besar penduduk Muslim Balkan dari seorang yang beriman pada umumnya menjadi Muslim yang dididik war-prone (mudah perang) dengan doktrin Salafi dan Wahhabi.

Usaha yang dipimpin Saudi(3) belum membuat Balkan menjadi benteng doktrin mereka, tetapi telah membuat peningkatan jumlah Muslim Balkan yang menjadi Salafi dan Wahhabi. Orang-orang yang telah berubah ini telah menantang –dan dalam beberapa kasus– berhasil menggusur para pemimpin Islam yang lebih moderat, membangun organisasi Islam yang telah menyerang secara sporadis individu, pasukan keamanan, dan bangunan, dan telah mengirimkan aliran relawan –dengan bantuan unit logistik IS di Turki, Yunani, Spanyol, dan Italia– untuk berperang bersama pasukan IS di Suriah dan Irak. Sebagaimana Kehadiran IS di Balkan yang terus tumbuh, dengan melirik peta maka akan terlihat bahwa relatif mudah bagi IS untuk mendapatkan akses yang aman menuju negara-negara Uni Eropa dan melalui negara Eropa Timur ke Rusia.

2) Libya

IS menghadapi perlawanan lokal yang kuat untuk kehadirannya di Libya, tetapi dia merupakan organisasi yang dapat melakukan lebih dari satu hal pada satu waktu. Di saat pejuangnya mempertahankan dan secara perlahan-lahan memperluas wilayah yang dikuasai IS, para pemimpin IS dan administrator lainnya terlibat dalam menciptakan ketertiban dan memperbaiki layanan sosial dan sarana publik di daerah yang mereka pegang, sebuah pola yang sebelumnya juga terlihat di Suriah dan Irak.

IS juga, di samping mulai mengeksploitasi posisi geografis barunya –melalui serangan sukses di Tunisia, dan dukungan kepada organisasi IS di semenanjung Mesir Sinai– juga mempersiapkan ekspansi lebih lanjut dari Libya ke Aljazair, Maroko, Mauritania, dan Sudan. Libya juga memberikan kepada IS akses perbatasan ke Niger dan Chad, yang keduanya akan memfasilitasi kontak langsung dengan sekutu peluasan IS di Nigeria: Boko Haram.

Selain itu, Niger memberikan jalan masuk yang mudah ke Mali di mana Organisasi Islam yang putus asa bisa saja tertarik untuk bekerja sama dengan IS sehingga dapat memperoleh keuntungan dari militer mereka yang sudah dikenal, reputasi untuk sukses, cukup kaya, dan kembalinya para veteran Mujahidin Mali yang telah bertempur bersama IS di Suriah, Irak, dan Libya.

3) Afghanistan

Kehadiran IS di Afghanistan baru berusia satu tahun tapi pejuang mereka dilaporkan telah dikerahkan pada lebih dari setengah dari 34 provinsi di negara tersebut, di dekat ibukota Kabul, di wilayah suku Pakistan, Provinsi Baluchistan, dan kota Karachi. IS jauh dari mendominasi negara, tetapi sedikit aliran dari para pembelot Thaliban Afghanistan dan Pakistan telah menjadi sumber yang kuat sejak kematian pemimpin Thaliban Mullah Omar –yang telah lama disembunyikan– diumumkan pada tanggal 30 Juli 2015 dan pemimpin baru dengan cepat dipilih oleh sejumlah kecil pemimpin Thaliban yang telah ikut membantu menyembunyikan fakta bahwa Omar telah meninggal sejak April 2013.

Strategi IS melihat Afghanistan sebagai kunci untuk perluasan dan penyempurna Khilafah IS, sebagai pemberi aliran pendapatan yang potensial dari negara penghasil heroin(4) dan kekayaan mineral, akses yang mudah menuju Pakistan, menuju India dan Kashmir, serta ke negara-negara Muslim di Asia Tengah, Populasi Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang China, dan basis yang berpotensi untuk menyerang Iran, dan pasti membunuh Syi‘ah, sehingga memaksa Teheran untuk berperang di dua front melawan pasukan IS dan sekutu mereka.

4) Maritim choke-point

Di sinilah proyek strategis paling ambisius, IS saat ini memiliki peluang awal untuk membangun kehadirannya di empat maritim choke-point dunia yang paling penting. Pintu masuk ke Selat Bab el Mandab di ujung selatan Laut Merah terletak di antara IS dan kelompok-kelompok pejuang Islam lainnya yang ingin mengontrol Yaman dan bajak laut –Islamis dan kaya– di Tanduk Afrika; Terusan Suez rentan terhadap cabang IS yang sekarang beroperasi hampir tak tersentuh hukum (impunitas) di semenanjung Sinai Mesir; Selat Malaka, yang membentang sepanjang tepian Provinsi Aceh yang didominasi oleh Islam di Indonesia; pemerintah Jakarta mengklaim adanya kehadiran IS dan berkembang dengan cepat di daerah itu; dan Selat Gibraltar, yang telah lama menjadi target Al-Qaeda dan sekarang dikepung di sebelah selatan oleh kekuatan IS yang terus tumbuh dan mencapai Maroko; dan di sebelah utara dengan lebih dari cukup IS hadir di selatan Eropa dan bala bantuannya datang dari para pejuang IS yang beragam berasal dari massa imigran ilegal yang memasuki Eropa melalui laut dari Afrika Utara.

Ringkasan di atas menjelaskan akan harga yang pasti dari setengah abad intervensi AS dalam budaya, politik, ekonomi, dan militer, baik secara sepihak atau dengan pengikut NATO -nya. Dan ringkasan ini tidak termasuk pijakan IS yang masih dalam pengembangan di Kaukasus Utara dan Yaman, yang dalam waktu sama memungkinkan bagi IS untuk melakukan ekspansi ke Rusia dan ke Arab Saudi dan Negara-negara Sunni Teluk lainnya.

Dalam menghadapi ekspansi penting IS secara geografis dan pasukan, pemimpin AS di kedua belah pihak telah mempertahankan sebuah pendekatan yang berdasarkan hukum dan ketertiban dengan mujahidin dan telah meremehkan –bila tidak disebut mengabaikan– kemampuan IS, motivasi dan niat mereka, dan perang agama yang mereka kobarkan. Mereka juga telah menghabiskan setahun terakhir ini dengan membuang-buang waktu mengeluh tentang pemenggalan yang dilakukan IS, tentang senjata nuklir Iran yang tidak bisa dicegah untuk diraih(5), dan memicu perang di Eropa karena membantu pemerintah Ukraina yang tidak dapat mempertahankan diri dan sanksi sia-sia rezim Rusia yang tidak akan dapat mengembalikan Crimea dan sehingga kita tahu bahwa istilah "macan kertas" tidak pernah lebih pantas untuk diberikan selain kepada Amerika Serikat dan NATO.

Ketika saatnya tiba –dan itu pasti akan tiba– bagi para pemimpin AS untuk melihat di dalam lemari dan menemukan alat yang bisa mengakhiri ancaman IS, mereka akan menemukannya dalam keadaan kosong. Dengan dua kekalahan perang yang disengaja, sebuah militer yang rusak, sebuah elit pemerintahan dan presiden yang tidak terikat dengan realitas, anggaran yang bangkrut, sistem politik yang rusak oleh warga AS yang menjadi agen-agen dari kekuatan asing, sekutu tidak berguna Eropa berikutnya, sebuah dunia Barat yang lebih menyukai kematiannya sendiri daripada menyembelih musuhnya, dan musuh Islamis yang jauh lebih pintar dan lebih berbakat, kemudian ini diberikan sebagai kredit kepada elit pemerintahan AS yang hanya akan memiliki satu pilihan. Berubah dari lemari kosong, jiwa-jiwa miskin ini akan tahu apa fikiran orang-orang Amerika yang bersih dari pendidikan Ivy League yang telah dikenal selama ini. Yaitu, bahwa sekaranglah saatnya untuk menempatkan Amerika seperti dahulu dan mengembalikan warisan kebijakan luar negeri Jenderal Washington dengan segera menyatakan berakhirnya intervensi AS, penghentian dukungan untuk semua negara dan kelompok di Timur Tengah, penarikan AS dari NATO, dan mengembalikan Kebijakan keamanan nasional Amerika yang paling efektif – netralitas yang ketat(6). Dan saat melakukan hal ini, kita semua bisa berharap –mungkin dengan optimisme yang salah tempat,– semoga itu tidak terlambat.

Catatan kaki :

1. Catatan Editor: Al-Qa'idah telah menjadi perisai Media dan dalam beberapa kasus menjadi senjata militer dari Shahawat yang didukung Thaghut di Syam, Libya, Yaman, dan Khurasan. Setelah Zhawahiri memerintahkan al-Qa'idah di Aljazair untuk menghentikan semua serangan melawan rezim murtad terutama pasca-revolusi Dunia Arab, dia memerintahkan al-Qa'idah di Suriah untuk meyakinkan Barat bahwa Amerika dan Eropa tidak akan menjadi sasaran mereka, dan dirinya berbai‘at kepada Akhtar Mansur, yang mendukung rekonsiliasi nasional dengan Rezim Murtad Afghan dan normalisasi dengan seluruh tentara salib, musyrik, atheis, dan dunia murtad, sehingga tentara salib Amerika dapat yakin, perang utama al-Qa'idah sekarang adalah terhadap Daulah Islam (IS).

2. Catatan Editor: Para thaghut Alu Salul dan sekutu mereka bekerja sama untuk menggambarkan diri mereka sebagai penjaga Islam dan kaum Muslimin, ketika dalam kenyataannya mereka menyebarkan penyimpangan, perbuatan keji, dan bahkan sodomi melalui "Rotana Group" mereka dan hiburan mereka yang lain dan religius outlet, terlebih secara fakta mereka memerintah dengan hukum buatan manusia baik internasional dan domestik serta mendukung orang-orang Yahudi dan Kristen memerangi Islam dan kaum Muslimin. Dukungan lemah dan munafik mereka terhadap "dakwah" –dalam banyak kasus– seolah menjadi bumerang bagi mereka dan menyebabkan orang mempelajari Al-Qur'an dan Sunnah, mengadopsi tauhid dan syari'at, dan menyatakan takfir dan jihad melawan Pasukan dan agen dari Alu Salul.

3. Lihat footnote sebelumnya.

4. Catatan Editor: Kepemimpinan Daulah Islam di Wilayah Khurasan telah menjadi musibah paling parah bagi para petani opium Pakistan dan Afghanistan –perkebunan dan tanaman opium dibakar– karena produksi opium adalah termasuk amal perbuatan yang paling buruk, bahkan dia termasuk sumber pendapat yang baling buruk. Thaliban pimpinan Akhtar, bagaimanapun, menganggap orang-orang yang membakar tanaman opium sebagai "Khawarij" yang telah menghancurkan "kekayaan" kaum Muslimin dan menghancurkan pendapatan "zakat"!

5. Catatan Editor: Kaum murtad Rafidhah Iran harus berterima kasih kepada tentara salib Amerika karena telah memberikan kepada mereka kondisi dan sumber daya yang dibutuhkan untuk memfasilitasi pengembangan program nuklir mereka menjadi senjata nuklir untuk digunakan melawan Ahlus Sunnah, apalagi fakta bahwa jet salibis –dalam rangka membela Iran dan milisi Rafidhahnya– menyerang Mujahidin di Irak dan Syam.

6. Catatan Editor: Bagaimana pun, satu-satunya solusi lengkap untuk perang Amerika terhadap Islam adalah dengan Amerika menerima Islam atau dengan membayar jizyah. Jika tidak, maka bisa dengan mengakui kekalahan dan menerima solusi parsial dengan mematuhi gencatan senjata sementara dengan ketentuan yang sesuai dengan syari'at.

DARI PERANG AHZAB HINGGA PERANG KOALISI

DABIQ 11 - FEATURE

DARI PERANG AHZAB HINGGA PERANG KOALISI

"Tidak ada seorangpun yang pernah datang membawa seperti apa yang engkau bawa kecuali dia akan dimusuhi." Inilah apa yang dikatakan oleh Waraqah ibnu Naufal kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tentang reaksi kaumnya terhadap da‘wah. Waraqah berharap andai dia menemani Nabi di saat Nabi diusir, akan tetapi Waraqah tidak pernah mendapati saat-saat itu.

Nabi shallallahu alaihi wasallam setelah itu memulai misi yang mana Allah telah mengutus beliau dengannya. Umatnya menjawab seruan Rasulullah dengan permusuhan yang besar. Mereka menuduh beliau sebagai tukang sihir, pembohong, orang gila, orang yang terkena sihir, pendongeng, peniru, dan tuduhan lainnya... padahal mereka sebelumnya menganggap beliau sebagai seorang yang jujur dan dapat dipercaya! Mereka menawarkan kepada beliau tahta, wanita dan harta, tetapi beliau menolak itu semua karena keikhlasan dan demi meraih keridhaan Rabbnya. Mereka berencana untuk membunuh atau mengusir beliau, tetapi Allah ta'ala membuat makar terhadap musuh-musuh Nabi-Nya dan memerintahkan beliau untuk meninggalkan negeri yang paling diberkahi di muka bumi –Makkah– menuju tempat tinggal baru di Madinah. Sebuah negara yang didirikan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam itu lalu mengarahkan pasukan perangnya untuk menghadang kafilah kaum musyrikin, peristiwa yang kemudian menjadi pemicu perang besar: Perang Badr.

Kaum musyrikin yang marah pun segera mengirimkan utusan dan pasukan perang mereka, hingga kemudian kaum muslimin harus menghadapi perang terhadap orang-orang musyrik Arab, suku-suku badui jazirah Arab, orang-orang Yahudi dan kaum munafik Madinah. Daulah Nabawiyah itu pun terus tumbuh dan menguat, begitu juga kedengkian dan kemarahan orang kafir yang terus memuncak hingga menjelma menjadi Perang Ahzab (Sekutu-sekutu). Kaum Yahudi berencana jahat bersama kaum munafikin untuk meyakinkan suku-suku Arab melakukan penyerangan ke kota Madinah, sementara mereka akan membuat gejolak dari dalam.

Suku Quraisy dan Kinanah, serta sekutu mereka bergerak maju dari arah selatan, sedangkan Ghathafan dan sekutu mereka maju dari arah timur. Jumlah mereka mencapai sepuluh ribu pejuang dan mengepung kota Madinah selama satu bulan, sementara umat Islam sangat kalah dalam jumlah. Tapi kesabaran mereka dalam menghadapi peperangan, rasa takut, lapar dan cuaca, membuat kaum muslimin mampu untuk merebut kemenangan, dan bisyarah kenabian mengabarkan bahwa kini kaum muslimin yang akan menyerang kaum musyrikin dan kaum musyrikin kini yang akan bertahan.(1)

Perang Ahzab Baru

Sebagaimana para shahabat yang harus menghadapi koalisi berbagai pihak: Yahudi, Musyrikin, dan golongan munafik dalam perang Ahzab, kaum Muslimin dari Daulah Islam juga menghadapi berbagai koalisi kuffar yang memiliki kepentingan bersama untuk menghancurkan Khilafah. Dan sebagaimana reaksi para shahabat terhadap pasukan Ahzab adalah merupakan bentuk keimanan, "Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu menambah keimanan dan keislaman mereka" (Al-Ahzab: 22), demikian juga seharusnya reaksi umat Islam ketika melihat banyaknya koalisi yang bersatu dan memobilisasi.

Di sini kita akan mencoba untuk memberikan sejumlah wawasan tentang beragam koalisi sehingga kaum Muslimin dapat berusaha untuk melawan mereka baik dengan kata maupun perbuatan, karena: "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia bagian dari mereka" (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari Ibnu Umar) dan agar supaya: "jalan orang-orang yang berdosa terlihat jelas" (Al-An'am: 55).

Koalisi Salibis

Meskipun koalisi ini mungkin muncul belum lama, yakni dibentuk pada tahun 2001 yang dikenal dengan "Operation Enduring Freedom". Dengan cepat hal ini meluas hingga ke Filipina, Tanduk Afrika, Trans Sahara, dan Kaukasus. Pada tahun 2003, tentara salib kembali meluncurkan kampanye perang kedua dengan sandi yang dikenal "Operation Iraqi Freedom", disusul dengan kampanye ketiga dengan sandi "Operation Inherent Resolve" yang diluncurkan pada tahun 2014 di Iraq dan Suriah terhadap Daulah Islam.(2) Namun tidak ada satupun dari operasi ini yang berhasil membungkam kebangkitan kembali Khilafah baik kelangsungannya atau ekspansinya. Khilafah tetap bertahan dengan tekad yang tetap melekat, sebagai hasil dari Tauhid dan al-Wala' wal-Bara'.

Koalisi terbaru tentara salib terhadap Iraq dan Suriah "Operation Inherent Resolve" secara resmi terdiri dari beberapa negara dan kelompok berikut: Albania, Liga Arab, Australia, Austria, Bahrain, Belgia, Bosnia Herzegovina, Bulgaria, Kanada, Kroasia, Siprus, Republik Ceko, Denmark, Mesir, Estonia, Uni Eropa, Finlandia, Perancis, Georgia, Jerman, Yunani, Hungaria, Islandia, Irak, Irlandia, Italia, Jepang, Yordania, Kosovo, Kuwait, Latvia, Lebanon, Lithuania, Luksemburg, Makedonia, Moldova, Montenegro, Maroko, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Oman, Panama, Polandia, Portugal, Qatar, Korea Selatan, Rumania, Saudi Arabia, Serbia, Singapura, Slovakia, Slovenia, Somalia, Spanyol, Swedia, Taiwan, Turki, Ukraina, Uni Emirates, Inggris, dan Amerika Serikat.(3)

Terdapat Rezim lain dan pasukan yang didukung oleh Barat namun tidak disebutkan pada daftar di atas namun ikut ambil bagian dalam perang melawan Daulah Islam di wilayah-wilayah lain. Uni Afrika, Benin, Kamerun, Chad, Niger dan Nigeria semuanya terlibat dalam perang melawan Daulah Islam Wilayah Afrika Barat. Afghanistan, Armenia, Azerbeijan, Mongolia, NATO dan Pakistan –ditambah dengan beberapa negara yang disebutkan pada daftar di atas– terlibat dalam perang melawan Daulah Islam Wilayah Khurasan.(4) Aljazair, Libya, Tunisia, dan Yaman terlibat dalam perang melawan Daulah Islam di dalam daerah perwakilan mereka. Negara Yahudi juga secara terbuka terlibat dalam perang melawan Daulah Islam Wilayah Sinai, ditambah keterlibatan mereka secara diam-diam bersama Salibis di banyak kampanye perang mereka terhadap wilayah Daulah Islam. Dewan Kerjasama negara Teluk, India, Indonesia, Malaysia, OKI, Kyrgistan dan Swiss juga terlibat –baik dalam bidang politik, finansial, intelijen dan banyak dari mereka juga dalam level militer– dalam kampanye melawan Islam dan Khilafahnya.(5) Maka di sana terdapat sekutu paling penting Amerika, yaitu: Iran, Suriah dan Rusia.

Front Stage Cooperation

Meskipun kerjasama Pasukan Salib Barat bersama Iran, Suriah dan Rusia tidak bisa dipungkiri, mereka berusaha mengecilkan peran ini secara resmi untuk menutupi perang mereka dalam perang Shafawi terhadap kaum Muslimin. Di sini kita akan mencoba menyajikan beberapa ulasan tentang hubungan yang keberadaannya sangat jelas terlihat seperti mentari di tengah siang. Bahkan sebelum operasi 11 September yang penuh berkah, Amerika telah bekerja sama dengan Iran melalui PBB "Six Plus Two Group on Afghanistan", salah satu bagian dari rencana melawan para mujahidin Khurasan. Setelah 11 September, kerjasama ini berkembang menjadi apa yang nanti akan dikenal sebagai "The Geneva Contact Group" selama masa presiden Salibis George W. Bush.

Kerjasasama ini mensyaratkan Iran untuk menyediakan intelijen bagi tentara salib, membangun hubungan antara tentara salib dan "Aliansi Utara", serta menangkap mujahidin yang berusaha untuk menyeberangi perbatasan Iran dalam perjalanan mereka menuju Kurdistan Irak atau tujuan lainnya. Iran telah menyediakan beberapa pelabuhannya dan pangkalan udara untuk misi tentara salib, "Korps Pengawal Revolusi Islam" mereka bekerja sama dengan US Special Ops dan CIA di Afghanistan, dan mengambil bagian dalam pembentukan rezim boneka murtad Afghanistan.

Beberapa bulan menjelang invasi Amerika ke Irak, Amerika kembali bekerja sama dengan Iran, tapi kali ini terutama melalui British Foreign and Commonwealth Office. Kerjasama ini mencapai puncak melalui pembentukan rezim Shafawi Irak, yang pada dasarnya adalah boneka Iran.(6)

Pada 6 November 2014, "Wall Street Journal" merilis sebuah artikel berjudul "Obama Wrote Secret Letter to Iran's Khamenei about Fighting Islamic State – Presidential Correspondence with Ayatollah Stresses Shared U.S. Iranian Interests in Combating Insurgents, Urges Progress on Nuclear Talks". Dalam artikel itu, mereka melaporkan bahwa "Obama diam-diam menulis surat kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei" dan di dalam suratnya "dijelaskan kepentingan bersama dalam memerangi militan Negara Islam (IS) di Irak dan Suriah." Surat itu "bertujuan untuk memperkuat kampanye melawan Daulah Islam dan menyinggung pemimpin agama Iran agar lebih dekat dengan kesepakatan nuklir" dan juga menekankan "bahwa kerjasama apapun dalam masalah Daulah Islam adalah bagian besar Iran untuk mencapai kesepakatan yang komprehensif dengan kekuasaan global bagi program nuklir Teheran di masa depan". Surat itu juga "merupakan surat yang ditandatangani setidaknya keempat kalinya oleh Obama yang ditulis bagi pemimpin politik dan agama yang paling kuat di Iran sejak menjabat pada tahun 2009 dan berjanji untuk terlibat dengan Pemerintah Islam Teheran" dan "menggarisbawahi bahwa Obama memandang Iran penting baginya untuk mengerahkan Kampanye militer dan diplomatik untuk mengusir Daulah Islam dari wilayah yang telah mereka kuasai."

Melalui surat itu, Obama berusaha "untuk meredakan kekhawatiran Iran tentang masa depan dari sekutu dekat mereka, Presiden Basyar al-Assad di Suriah" dan meyakinkan Iran bahwa "operasi militer AS di dalam Suriah tidak menargetkan Assad atau pasukan keamanannya." Mereka juga melaporkan bahwa "pemerintahan Obama melakukan pembicaraan rahasia dengan Iran di ibukota Oman di Muscat pada pertengahan 2012" dan bahwa "Sekretaris Pers Gedung Putih Josh Earnest mengakui bahwa pejabat AS dahulu pernah berdiskusi membahas tentang kampanye melawan Daulah Islam dengan para pejabat Iran di sela-sela pembicaraan nuklir internasional. Dia menambahkan bahwa negosiasi tetap berpusat pada pembicaraan tentang program nuklir Iran". Mereka juga melaporkan bahwa "Obama mengirim dua surat untuk pemimpin tertinggi Iran berusia 75-tahun itu selama semester pertama tahun 2009, mengajak perbaikan hubungan AS-Iran ... Hubungan AS-Iran telah dicairkan jauh sejak pemilihan Presiden Hasan Rouhani pada bulan Juni 2013. Dia dan Obama melakukan panggilan telepon selama 15 menit pada bulan September 2013. Kerry dan Zarif telah rutin menyelenggarakan pembicaraan langsung tentang diplomasi nuklir dan masalah regional" dan bahwa "Departemen Luar Negeri telah mengkonfirmasi bahwa para pejabat senior AS telah berdiskusi tentang Irak dengan Zarif di sela-sela perundingan nuklir di Wina.

Para diplomat AS juga telah meneruskan pesan ke Teheran melalui Pemerintahan Abadi di Baghdad dan melalui kantor di Irak Ayatollah Ali al-Sistani, salah seorang pemimpin agama yang paling kuat di dunia Syi‘ah. Di antara pesan yang disampaikan ke Teheran, menurut pejabat AS, adalah bahwa operasi militer AS di Irak dan Suriah tidak bertujuan untuk melemahkan Teheran atau sekutu-sekutunya. "Kami telah meneruskan pesan ke Iran melalui pemerintah Irak dan Sistani mengatakan bahwa tujuan kami adalah melawan ISIS," kata seorang pejabat senior AS memberitahu tentang komunikasi ini. "Kami tidak menggunakan ini sebagai alat untuk menduduki kembali Irak atau melemahkan Iran."

Setelah surat ini, Rafidhah Khamenei menjawab surat itu dengan menulis kepada Obama. "Wall Street Journal" melaporkannya dalam sebuah artikel pada 13 Feb 2015 berjudul "Ayatollah Iran Mengirim Surat Baru kepada Obama di tengah Pembicaraan Nuklir" di mana Khamenei merespon positif dengan melayangkan sebuah surat untuk mencari hubungan yang lebih baik dengan Amerika Serikat dan kerjasama lebih lanjut melawan Daulah Islam. Tapi kerjasama itu sebenarnya sudah ada di permukaan sejak beberapa lama. Pada tanggal 31 Agustus 2014, "New York Times" merilis sebuah artikel berjudul "U.S. and Iran Unlikely Allies in Iraq Battle". Mereka melaporkan bahwa seorang pejabat pemerintahan senior AS mengatakan, "Setiap kerjasama dengan milisi Syi‘ah bukanlah dilakukan oleh kami – ini dilakukan oleh ISF 'Iraqi Security Force)" dan kemudian komentar pada kata-katanya: "Tapi tentu saja diketahui bahwa milisi Syi‘ah telah bertempur bersama tentara kita dalam beberapa bulan terakhir di saat ancaman ISIS semakin jelas." Kemudian dalam artikel tersebut, mereka mengatakan bahwa "Pemerintahan Obama mencoba menghindari agar tidak terlihat telah ambil bagian dalam perang sektarian, karena milisi Syi‘ah terutama ditakuti oleh Sunni Irak. Tapi untuk akhir pekan ini setidaknya, realitas di lapangan tampaknya mengesampingkan kekhawatiran untuk mendukung milisi secara efektif."

Sebenarnya, Amerika telah bekerja sama dengan negara Iran, pasukannya, dan milisinya, tetapi melalui rezim Irak Shafawi – hal ini meniru orang-orang Yahudi yang bekerja tetapi "tidak bekerja" di hari Sabtu walau telah dilarang sehingga mereka dirubah menjadi kera dan babi. Ini mirip dengan Klaim Jabhah Jaulani bahwa mereka tidak bekerja sama dengan para thaghut ketika mereka bekerja sama dengan faksi-faksi milik para thaghut.

Adapun kerjasama Amerika dengan rezim Suriah, maka ini telah terjadi sejak program rendisi AS yang memperlihatkan banyaknya mujahidin yang dikirim ke Suriah hanya untuk disiksa di tangan orang-orang Ba‘ats Nushairiyah atas nama Amerika. Rezim Suriah juga berada di balik tindakan keras yang terjadi di Suriah terhadap semua pendukung jihad melawan Amerika di Irak pada saat munculnya Shahawat pro-Amerika. Banyak dari faksi Shahawat ini akan menempatkan pemimpin mereka di Suriah dan khotbah Jumat diarahkan untuk mendukung mereka. Kerjasama AS-Suriah terlihat nyata akhir-akhir ini dalam serangan udara tentara salib. "Washington Post" melaporkan pada tanggal 23 September 2014 dalam sebuah artikel berjudul "Syria Informed in Advance of U.S.-Led Airstrikes against Islamic State" bahwa Juru bicara Departemen Luar Negeri mengatakan, "Suriah diberi informasi oleh pihak Amerika dalam serangan udara terhadap target sasaran termasuk pertahanan Daulah Islam."

Artikel itu menambahkan bahwa ini "Ditandai dengan penampilan yang jarang, interaksi antara Washington dan utusan Presiden Suriah Basyar al-Assad. Letnan Jenderal William C. Mayville Jr., Direktur operasi Pentagon, dia menjelaskan bahwa radar militer Suriah menjadi 'pasif' selama serangan, dengan tidak ada usaha untuk melawan mereka. Cakupan ini menunjukkan hal kecil tapi merupakan pergeseran penting Amerika Serikat dan sekutunya, yang sebelumnya telah memberikan dukungan diplomatik dan militer secara terbatas kepada pemberontak yang berusaha menggulingkan Assad. Perluasan Serangan udara yang dipimpin AS ke Suriah sekarang bisa membuka channel baru bagi pemerintahan Assad. Kantor berita Suriah Arab News Agency (SANA) mengatakan bahwa Amerika Serikat memberikan informasi kepada perwakilan Suriah di PBB bahwa mereka akan melakukan serangan udara. (Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Jen) Psaki mengkonfirmasi kontak itu tapi tidak mengatakan kapan itu terjadi."

Artikel tersebut juga merujuk pada laporan "SANA" yang menyatakan bahwa Sekretaris Negara John Kerry telah mengirimkan surat kepada Walid Muallem (Menteri Luar Negeri rezim Nushairi) untuk memberitahukan kepadanya tentang rencana tentara salib untuk mulai menyerang posisi Daulah Islam.

Menurut laporan Reuters pada tanggal yang sama berjudul "Syria‘s U.N. Envoy Says Told of Airstrikes by Samantha Power", Duta Suriah untuk PBB Basyar Ja'afari mengatakan kepada Reuters, pada hari Selasa ia secara pribadi diberitahu oleh Duta Besar AS Samantha Power bahwa beberapa jam kemudian AS dan Arab akan segera melakukan serangan udara terhadap target-target Daulah Islam di wilayah Suriah. Ja'afari mengatakan bahwa Power berkata kepadanya bahwa pada Senin pagi aksi militer akan dilakukan. Dia menambahkan bahwa "kita dalam koordinasi yang erat dengan Irak". Misi AS menegaskan bahwa Power telah memberikan informasi kepada Ja'afari.

Hal ini ditegaskan oleh Thaghut Bashar dalam sebuah wawancara dengan BBC pada 10 Februari 2015. Dalam sebuah artikel berjudul "Assad Says Syria Is Informed on Anti-IS Air Campaign", BBC melaporkan, "Presiden Suriah Basyar al-Assad mengatakan pemerintahnya menerima pesan dari koalisi pimpinan AS tentang perang melawan kelompok jihad, Daulah Islam. Assad mengatakan kepada BBC bahwa telah ada kerjasama secara tidak langsung sejak serangan udara dimulai di Suriah pada bulan September. Tapi pihak ketiga -di antara mereka adalah Irak– menyampaikan 'informasi' tentang serangan mendadak oleh pesawat tempur AS dan Arab atas Suriah".

Amerika juga telah melayani kepentingan rezim Suriah dengan mendukung PKK, sekutu terdekat rezim sejak dimulainya perang di Syam dan terus berperang bersama rezim di wilayah al-Barakah. Amerika juga berusaha keras untuk mempertahankan rezim Ba'ats dan tentara Nushairi hingga mereka bisa menjamin sebuah transisi menuju pluralistik negara yang sesuai dengan agama Amerika. Satu-satunya syarat mereka sangat mudah: mereka meminta Thaghut Assad disingkirkan tapi sisa rezim dan pasukannya tetap utuh. Sehingga kemudian bisa duduk di meja perundingan dengan kelompok murtad Koalisi Nasional Suriah (SNC) dan Free Syrian Army (FSA).

Layanan Amerika terhadap kepentingan rezim Suriah juga disoroti oleh mantan Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel. "Washington Times" melaporkan pada 30 Oktober 2014 dalam sebuah artikel berjudul "Syria Airstrikes Spur White House Infighting over Benefit to Assad" bahwa "Sekretaris Pertahanan Chuck Hagel mengakui untuk pertama kalinya pada hari Kamis bahwa serangan udara yang dipimpin AS terhadap Daulah Islam menguntungkan Presiden Suriah Basyar Assad ... Ya, Assad mendapatkan beberapa keuntungan", Hagel berkata kepada wartawan di Pentagon menggambarkan bahwa situasi di dalam Suriah adalah rumit, Hagel mengatakan bahwa "pemerintah tetap menyerukan penggulingan Assad meskipun seolah membantu dia". Laporan itu menambahkan ada sebuah sumber di administrasi yang menginformasikan kepada mereka bahwa "logika yang dimiliki beberapa orang yang berada di administrasi bahwa menyerang aset milik Suriah akan merusak pembicaraan nuklir antara AS dan Iran, sekutu dekat Assad".

Rusia, selain berada di pihak AS, Rafidhah, dan Nushairiyah di Irak dan Syam dalam perang melawan Daulah Islam, dia juga terlibat dalam perang melawan Daulah Islam Wilayah Kaukasus. Adapun di Irak dan Syam, Direktur Federal Security Service Rusia (FSB) Alexander Bortnikov mengatakan kepada para wartawan pada tanggal 20 Februari 2015 bahwa "Amerika Serikat dan Rusia mungkin akan mulai bertukar intelijen dalam rangka mengalahkan Daulah Islam". Hal ini diawali dengan laporan dari "New York Times" pada 14 Oktober 2014 berjudul "U.S. and Russia Agree to Share More Intelligence on ISIS." Dalam laporan tersebut mereka menyatakan, "Menteri Luar Negeri John Kerry mengatakan pada hari Selasa bahwa Amerika Serikat dan Rusia telah sepakat untuk lebih berbagi kerjasama intelijen tentang Daulah Islam, sebagaimana dia juga berusaha untuk meletakkan dasar bagi peningkatan kerjasama dengan Moskow. Kerry membuat hal ini menjadi jelas bahwa dia akan menyambut perluasan kerjasama dengan Putin setelah pertemuan di sini dengan Sergey V. Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia. Tercatat bahwa ada 500 atau lebih relawan Daulah Islam yang mungkin datang dari Rusia, Kerry mengatakan bahwa dia telah mengusulkan agar kedua belah pihak mengintensifkan kerjasama intelijen terhadap para kelompok militan dan ancaman teroris lainnya, dan Lavrov telah sepakat. Membuka pintu untuk kerjasama di Irak, Kerry mengatakan Lavrov telah sepakat untuk menyelidiki apakah Rusia bisa berbuat lebih banyak untuk mendukung pemerintah terkepung Irak karena pertempuran Daulah Islam – termasuk dengan memberikan senjata".

Rusia juga secara terbuka mendukung rezim Irak yang didukung oleh Amerika Serikat. Melalui kantor berita Itar-Tass, Kementerian Luar Negeri Rusia mengeluarkan pernyataan pada 26 September 2014 tentang pertemuan yang diadakan antara Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Perdana Menteri Irak Haidar al-Abadi. Kementerian Luar Negeri mengatakan dalam pernyataan tersebut, "Dalam pertemuan tersebut, Lavrov menegaskan dukungan Rusia untuk kemerdekaan Irak, integritas wilayah dan kedaulatan. Moskow siap untuk melanjutkan dukungan terhadap Irak dalam upaya memerangi ancaman teroris, dan yang paling pertama dari semuanya, adalah Daulah Islam".

Menurut "New York Times" dalam sebuah artikel berjudul "Russian Jets and Experts Sent to Iraq to Aid Army" dirilis pada 29 Juni 2014, "Pejabat pemerintah Irak mengatakan pada hari Minggu bahwa para ahli Rusia telah tiba di Irak untuk membantu tentara mendapatkan 12 pesawat tempur Rusia yang baru untuk memerangi ekstrimis Sunni". "Dalam tiga atau empat hari mendatang pesawat akan segera beroperasi untuk mendukung pasukan kami dalam perang melawan gerilyawan Daulah Islam di Irak dan Suriah", kata Jenderal Anwar Hama Ameen, Komandan Angkatan Udara Irak, menunjuk lima Pesawat SU-25 yang diterbangkan ke Irak kapal lewat pesawat kargo Rusia pada Sabtu malam, dan dua lagi diharapkan akan datang pada Minggu nanti. Komandan Angkatan Udara Irak, Jenderal Ameen, mengatakan bahwa "para ahli militer Rusia telah tiba untuk membantu mempersiapkan pesawat tempur baru SU-25, tetapi mereka hanya akan tinggal dalam waktu singkat". "Lima pesawat Rusia terakhir akan tiba pada hari Senin", katanya. Ini adalah laporan pertama tentang bantuan militer Rusia di negara itu, meskipun Jenderal Ameen mengatakan bahwa mereka hanya tenaga ahli, dan bukan penasihat.

Pada hari Kamis, Perdana Menteri Nuri Kamal al-Maliki mengatakan, "Negara Iraq bekerjasama dengan Kementerian Pertahanan Rusia, telah memerintahkan selusin SU-25, jet tempur serang darat yang berguna untuk operasi dukungan udara jarak dekat (close air support)". "Mereka datang sangat cepat", kata Jenderal Ameen pada wawancara via telepon, "karena kita membutuhkan mereka dalam konflik ini untuk melawan teroris sesegera mungkin". Dia mengatakan bahwa orang-orang Rusia ini akan pergi dalam waktu sekitar tiga hari setelah pesawat siap untuk beroperasi. Namun, Jenderal Ameen mengatakan mereka akan segera terlibat aksi lagi. "Kami memiliki pilot yang memiliki pengalaman panjang dengan pesawat ini dan tentu saja kami mendapat bantuan dari teman-teman Rusia dan para ahli yang datang dengan pesawat ini untuk mempersiapkannya". katanya. "Ini akan memberikan hukuman yang sangat kuat terhadap para teroris dalam beberapa hari mendatang". "Pesawat baru ini akan meningkatkan dan mendukung kekuatan dan kemampuan angkatan udara Irak untuk membasmi terorisme", disebutkan oleh sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertahanan Irak."

Menurut "The Hill" dalam sebuah artikel berjudul "Hagel: US knows Iran, Russia aiding Iraq in fight against ISIS" yang dirilis pada 11 Juli 2014, Chuck Hagel berkomentar tentang laporan bahwa "Menukil para pejabat militer Irak yang mengatakan bahwa Iran dan Rusia sedang melakukan serangan udara di negara mereka, menyerang target-target Islamic State in Iraq and Syria (ISIS)" dengan mengatakan, "Kami menyadari upaya Iran dan Rusia untuk membantu rakyat Irak." Oleh karena itu, Iran dan semua sekutunya terlibat langsung dalam perang tentara salib terhadap Daulah Islam.

"Foreign Policy" melaporkan bahwa pada 12 November 2014 dalam sebuah artikel yang berjudul "Who Has Contributed What in the Coalition against the Islamic State?" disebutkan "Meskipun Iran bukan mitra koalisi yang diakui, dia dan Amerika Serikat berunding secara informal". Kemudian diakhiri dengan "Joint Comprehensive Plan of Action" kesepakatan nuklir antara Barat yang dipimpin Amerika dan rezim Iran yang didukung oleh Rusia. Pada akhirnya, Amerika melayani kepentingan Kekaisaran Shafawi dengan serangan udaranya, intelijen, dan politik, dan Kekaisaran Shafawi juga bekerja sama dengan Amerika secara sama melawan Mujahidin. Hal ini dilakukan secara terselubung, secara tidak langsung, apalagi secara publik. "Si perantara" –bila diperlukan– adalah rezim boneka Shafawi di Irak.

David Petraeus (mantan komandan militer Amerika untuk Irak) mengomentari perang pemerintahan Obama, "Ini tidak boleh terjadi Amerika Serikat menjadi angkatan udara untuk milisi Syi‘ah atau perang antara Arab-Syi‘ah terhadap Sunni". Tapi inilah apa yang terjadi , tapi sebenarnya ini adalah perang terhadap Islam, bukan terhadap bangsa Arab.

The Shafawi Empire

Bangkitnya kembali Kekaisaran Shafawi adalah tujuan akhir dari Rafidhah Iran. Kekaisaran Shafawi didirikan oleh seorang sufi tarekat bernama Shafawiyah. Pada awalnya dia dianggap berasal dari "Sunni" dan bermadzhab "Syafi'i", namun kemudian menggabungkan di dalamnya banyak ajaran sesat yang ekstrim dari sufisme murtad. Aliran sesat ini kemudian diadopsi oleh Syi‘ah Imamiyah yang kemudian setelah didirikan dan segera menjadi gerakan politik dan militan dia mulai melakukan peperangan hingga pemimpinnya Ismail Ibnu Haidar ash-Shafawi berhasil mengambil alih Persia. Dia kemudian memaksakan faham Syi‘ah atas masyarakat Sunni hingga Persia menjadi negara yang didominasi oleh kaum Rafidah setelah sebelumnya didominasi oleh Sunni. Di antara kebijakannya adalah mengeksekusi ulama Sunni dan membantai penduduk Sunni yang bertahan. Dia adalah penguasa yang paling anti-Sunni yang berkuasa sejak jatuhnya negara Ubaidiyah Ismailiyah yang berbasis di Mesir.

Dinasti Shafawi berkuasa pada masa "1501-1736M". Lebih dari dua ratus tahun kemudian, seorang Rafidhah Khomeini melakukan upaya para pendahulu kaum Shafawi dan memberikan kekuatan langsung dalam politik kepada para ulama Rafidhi melalui konsep yang telah dia sebarkan yang dikenal sebagai "Wilayat al-Faqih" dan melalui apa yang disebut "revolusi". Kemudian secara mengejutkan para ulama Rafidhah ini berada dalam kontrol langsung terhadap Persia dan dalam beberapa tahun kemudian, mereka mengekspor agama syirik mereka ke Syam, Irak, Semenanjung Arab, Khurasan, India, Turki, Azerbaijan, Afrika, dan Asia Tenggara.

Kaum Rafidhah kemudian banyak mengambil alih di Yaman ketika berada di sisi boneka Amerika Ali Abdullah Shalih, setelah mendapatkan kekuasaan di Suriah dan Lebanon sebagai hasil dari Amerika yang menyerahkan Irak kepada mereka setelah "Operation Iraqi Freedom". Tiba-tiba "Bulan sabit Syi‘ah" tumbuh dari bulan sabit menjadi gerhana matahari, yang benar-benar mengancam Islam di mana-mana. Mereka menyatukan Nushairiyah, Ismailiyah, dan Zaidiyah dibalik apa yang mereka sebut "Faqih" dalam perang melawan Sunnah. Rencana mereka adalah untuk terus berperang melawan Islam sampai munculnya "al-Mahdi" kaum Rafidhah, yang menurut mereka, akan berbicara dengan bahasa Ibrani, mengatur dengan Taurat, diikuti oleh orang-orang Yahudi, dan membunuh semua orang Arab – sifat-sifat yang tidak diragukan lagi lebih cocok sebagai Dajjal Yahudi bukan al-Mahdi kaum Muslimin(7).

Secara fakta, kaum murtad Rafidhah memang lebih solid, terorganisir, kuat, dan agresif dibanding sekutu-sekutu lain pasukan salib –yaitu para thaghut murtad dan Shahawat– sehingga mereka mendapatkan dukungan tentara salib, dengan demikian tentara salib mengandalkan mereka dan sekutu Rafidhah, Kurdi, lebih daripada kelompok lain dalam perang melawan Khilafah. Secara keseluruhan kaum Rafidhah lebih barbar dan bersatu daripada tentara salib itu sendiri, tetapi muwahhidin Khilafah telah mengasah pisau dan menyiapkan banyak bom mobil untuk menyembelih kawanan domba Rafidhah hingga Rafidhah terakhir mati di bawah bendera Dajjal.

Koalisi Shahawat

Nama Shahawat pertama kali disebutkan di Irak, namun sebenarnya telah ada sebagai sebuah fenomena yang jauh lebih awal kemunculannya sejak Afghanistan pasca komunis. Nama ini diambil dari kata Arab yang berarti "kebangkitan". Asal muasal Shahawat Irak adalah geng-geng suku yang mulai mendukung tentara salib Amerika melawan mujahidin pada tahun 2005, sebelum pembentukan Daulah Islam. Kerjasama ini terus tumbuh hingga Abdul Sattar al-Risyawi membentuk Dewan "Shahawat Anbar", salah satu Shahawat resmi Amerika yang pertama, mungkin maksudnya "kebangkitan" untuk menghadapi para mujahidin. Suku-suku ini mendukung Dewan Shahawat untuk melawan Daulah Islam bersama faksi-faksi Shahawat, yang kebanyakan dikendalikan oleh kesukuan. Kelompok-kelompok shahawat mungkin dapat diklasifikasikan ke dalam dua jenis: 1. Kelompok perlawanan nasionalis berorientasi Ikhwani, dan 2. kelompok "jihadi" berorientasi Sururi. (8)

Kelompok "Jihadi" (Jaisyul Islam di Irak, Jaisyul Mujahidin, dan "Komite Syar'i Jaisy Ansharus Sunnah,(9) dan lain-lain) membentuk "Front Jihad dan Reformasi".

Faksi perlawanan (Brigade Revolusi 1920, Jaisy ar-Rasyidin, Jaisyul Muslimin fil 'Iraq, dan lain-lain) membentuk "Front Jihad dan Perubahan", yang kemudian diikuti pembentukan koalisi resistensi lain yang dikenal sebagai "Front Islam untuk perlawanan Irak". Berbagai faksi perlawanan dan faksi "Jihad" dalam koalisi yang lebih kecil ini akhirnya bergabung ke dalam "Dewan Politik untuk Perlawanan Irak", sedangkan beberapa kelompok yang lebih kecil yang tersisa menghadapi kepunahan.

Semua front dan dewan yang beragam ini secara tidak nampak dipengaruhi atau disusupi oleh "Hizbul Islam", sayap Ikhwan di Iraq. Tidak lama setelah dibentuknya berbagai front dan dewan ini, "jihad" mereka dimulai dengan merilis statemen politik yang tidak memiliki realitas di lapangan. Mereka hanya aktif perang melawan Daulah Islam sedangkan mereka telah sepakat melakukan gencatan senjata dengan Amerika dan memutuskan bahwa apa yang mereka sebut "Khawarij" adalah musuh terbesar Islam!

"Ikhwanisasi jihad" itulah yang ada di balik pengkhianatan dan menyimpangnya Burhanuddin Rabbani, Ahmad Syah Massoud, dan Abdul Rasul Sayaf di Afghanistan, Abdullah Nuri di Tajikistan, Abdelhakim Belhadj, Abdel Wahab Qaid, Abdel Hakim al-Hasidi, dan Sami Musthafa as-Sa'idi di Libya, Sheikh Ahmed Syarif di Somalia, Mohamed Abu Samra, Kamal Habib, Nabil Nu'aim, Karam Zuhdi, Abbud al-Zumar, Tarek al- Zumar, Najih Ibrahim, Usamah Hafidh, 'Asim 'Abdil-Majid, 'Isam Dirbalah, 'AbdulAkhir al-Ghunaymi, dan Usamah Rusydi di Mesir, dan Hamas di Palestina. (10)

Ini adalah "Ikhwanisasi jihad" yang mendorong dibentuknya kongres "Fajar Libya" dan kelompok Ikhwani "Dewan Komando Revolusioner Suriah" yang bersekutu dengan Ikhwani "Koalisi Nasional Suriah" dan "Pemerintahan sementara"nya. Ini adalah "Ikhwanisasi jihad" yang telah menyebabkan pembentukan, penggabungan, dan pemecahan berbagai front dan ruang kerja di Syam dengan cara yang sangat mirip dengan apa yang ada di Irak, kecuali dalam beberapa aspek penting.

Faksi Shahawat Irak adalah faksi-faksi yang sebelumnya berperang melawan tentara salib Amerika, kemudian membuat normalisasi hubungan dengan tentara salib walau agak canggung.

Adapun faksi Shahawat di Syam, maka sejak awal perang di Syam, mereka telah meminta intervensi Amerika, Eropa, Arab, dan Turki atau setidaknya bantuan dan telah menarik lebih dekat berbagai pendukung dan sekutu mereka baik publik dan swasta, membuat perubahan mereka menjadi Shahawat adalah sesuatu yang alami dan sudah diperkirakan.

Dan sebagaimana Shahawat Irak, di Syam juga terdapat faksi-faksi perlawanan nasionalis (Jaisyul Mujahidin, Jabhah Syamiyah, Faylaq asy-Sham, dll) dan faksi "jihad" nasionalis (Ahrar asy-Syam, Jaisyul Islam, dan Jabhah Jaulani). Dan sebagaimana front dan dewan yang dibentuk di Irak yang mana anggota faksi-faksi ini berjanji untuk sepenuhnya melebur akan tetapi justru pecah dan tidak pernah benar-benar bersatu seperti yang mereka maksudkan, berbagai koalisi dan front di Syam seperti "Jabhah Islamiyah" dan "Jaisyul Fath" tetap bersikeras untuk menjadi faksi independen dan menolak untuk melebur menjadi entitas yang lebih besar dan tetap bertahan terhadap perpecahan.

Ini adalah penyakit hizbiyah dan cinta kepemimpinan yang terus menjangkiti mereka, di samping kesesatan ekstrim mereka. Dan juga karena hal yang terjadi ini dan perpecahan yang terus mendalam menyebabkan AS lebih memilih rezim Shafawi di Irak daripada proyek Shahawat, lalu mereka meninggalkan kaum murtad Shahawat dan lebih memilih hawa nafsu dan keinginan "Faqih" Shafawi Iran, yang telah menelikung dan mengkhianati mereka setelah bertahun-tahun Shahawat melayani kepentingan rezim Shafawi di Irak dan juga kepentingan tentara salib.

Dan Shahawat –baik itu di Syam, Iraq, Libya, Pakistan, Afghanistan, Yaman, atau di mana saja mereka– di samping pemimpin mereka melakukan perjalanan dari Yordania ke Arab Saudi, ke Kuwait, ke Qatar, ke Turki, ke Inggris, atau ke Amerika, mereka memiliki satu hal yang sama: mereka adalah Machiavellian. Bagi mereka, tujuan bisa menghalalkan segala cara, dan demi meraih sesuatu yang "baik" atau mengejar "kepentingan", kemurtadan dan kemunafikan menjadi hal yang diperbolehkan. Mereka tidak mengambil pendapat berdasarkan dalil, bahkan mereka akan mengambil pendapat yang lemah dan aneh untuk mengejar jabatan, kekayaan, dan kehormatan, dan untuk membenarkan wala‘ mereka kepada orang-orang kafir dan Bara' dari kaum Muslimin.

Ketika perbuatan mereka menjadi pertempuran yang nyata demi kepentingan tentara salib dan para thaghut terhadap Islam dan kaum muslimin, mereka lalu berusaha menggambarkan diri mereka sedang mencari bantuan dari orang-orang kafir untuk memerangi apa yang disebut "Khawarij"! Maka berbagai faksi "jihad" Shahawat –didorong oleh sikap Irja' dan hizbiyah– murtad dan bersekutu dengan faksi nasionalis melawan musuh bersama "Khawarij" sambil membuat-buat udzur untuk menolerir kekufuran para sekutu nasionalis mereka, untuk menggambarkan bahwa mereka hanyalah kaum Muslimin yang fasiq yang sedang melawan musuh yang berbahaya, dan jika begitu maka setiap kekufuran yang dilakukan untuk "membela diri" maka diudzur!

Bisa jadi sebentar lagi, sikap hizbiyah mereka akan mendapatkan yang lebih baik dari mereka, dan mereka akan mulai saling mengacungkan senjata satu sama lain demi mengejar dominasi politik pada wilayah yang telah "dibebaskan" oleh mereka.

Sebuah Peluang Beramal Shalih

Adapun bagi kaum muslimin yang tidak mampu melakukan hijrah dari Darul Kufur menuju Khilafah, maka ada banyak kesempatan baginya untuk menyerang orang-orang kafir yang memusuhi Daulah Islam. Ada lebih dari tujuh puluh negara salibis, rezim Thaghut, tentara murtad, milisi rafidhah, dan faksi Shahawat yang bisa dipilih olehnya. Kepentingan mereka berada di seluruh dunia. Dia tidak perlu ragu untuk menyerang mereka di mana saja dia mampu. Tidak lebih dari membunuh warga Salibis di belahan bumi mana saja. Apa, sebagai misal, yang menghalangi dirinya untuk menyerang komunitas Rafidhah di Dearborn (Michigan), Los Angeles, dan New York City? Atau menyerang misi diplomatik Panama(11) di Jakarta, Doha, dan Dubai? Atau menyerang misi diplomatik Jepang di Bosnia, Malaysia, dan Indonesia? Atau menyerang diplomat Saudi di Tirana (Albania), Sarajevo (Bosnia), dan Pristina (Kosovo)? Atau mengeksekusi sponsor utama Shahawat di Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi? Apa yang menghalanginya untuk menyerang sekutu PKK dan Peshmerga di Eropa dan Amerika termasuk "Asosiasi Konfederasi Kurdi di Eropa" (KON-KURD - yang berbasis di Brussels) dan "Persatuan Pengusaha Kurdi International" (KAR-SAZ - berbasis di Rotterdam), keduanya dikenal buruk karena dukungan keuangan mereka kepada PKK?

Jika seseorang tertahan untuk bisa melakukan hijrah karena berbagai alasan, namun tidak ada alasan baginya untuk tidak melakukan jihad terhadap para musuh Islam yang terdekat dengannya.

"Wahai orang-orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu, dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang yang bertaqwa." (At-Taubah: 123)

Kesimpulan

Kesabaran dan keteguhan kaum muslimin dalam Perang Ahzab, menjadikan mereka sebagai kekuatan yang harus diperhitungkan, dan ditambah dengan berbagai kemenangan militer mereka, para musuh mau tidak mau harus mengakui kekalahan dan mengakui gencatan senjata, sebagaimana yang terjadi di Hudaibiyah, pelanggaran yang dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy kelak berujung dengan ditaklukannya kota Makkah.

Para pengklaim jihad berusaha untuk mengubah urutan peristiwa dalam Sirah. Peristiwa Hudaibiyah mereka putar, kemudian memasukkannya ke dalam –apa yang disebut– "fiqh" yang melalui hal itu mereka mempermudah kewajiban jihad dan al-wala' wal bara'. Mereka lupa bahwa perjanjian Hudaibiyah terjadi setelah hijrah, pembentukan negara kenabian, dan kemenangan di perang Badar. Dia datang setelah kesabaran dan keteguhan diperlihatkan di medan Uhud dan Ahzab. Dia datang di saat pasukan kaum Muslimin kuat, tidak lagi merasa terancam akan musnah di tangan kaum Quraisy. Dia datang pada saat kaum Quraisy takut terhadap umat Islam sebagai musuh yang tangguh.

Shahawat, di sisi lain, berlomba menuju tentara salib ... dan bahkan menuju kemurtadan! Shahawat kemudian masuk di bawah sayap mereka, mematuhi perintah mereka dengan imbalan bantuan dan dukungan, dan berperang melawan Daulah Islam sementara mereka sendiri menolak pelaksanaan syari'at, semua ini sambil mengklaim bahwa ini adalah "fiqh" dari perjanjian Hudaibiyah. Padahal fiqh Hudaibiyah adalah kesabaran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para shahabat di semua pertempuran sebelum perjanjian Hudaibiyah. Itu semua adalah kebenaran dari janji Rabb mereka dalam peristiwa al-Ahzab. Itu semua adalah karena jihad terus menerus mereka dan al-wala' wal bara' yang tidak pernah berhenti. Itu semua karena pencapaian tamkin sehingga penandatanganan mereka terhadap gencatan senjata berasal dari posisi kekuasaan bukan kelemahan, sehingga pada akhirnya semua manfaatnya kembali bagi mashlahat persatuan kaum muslimin.

Akhirnya, itu semua bukanlah karena kemurtadan dan penyimpangan dari orang-orang yang lemah hati dan kaum munafik yang akan mengarah pada gencatan senjata dengan bangsa Romawi sebelum hari kiamat, melainkan itu semua akan diraih melalui kesabaran dan keteguhan dari para mujahidin dalam perjalanan mereka untuk meraih tamkin dan ekspansi yang lebih besar dalam menghadapi perang salib internasional melawan Islam.

Ya Allah, Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas jalan-Mu hingga orang terakhir kami berperang di bawah bendera Al-Masih alaihissalam melawan Dajjal.

Catatan kaki :

1. Allah Ta'ala menjelaskan peristiwa peperangan ini dalam surat Al -Ahzab ayat 9-27 agar kaum muslimin dapat merenunginya.

2. Catatan: Berbagai nama sandi operasi mereka ini adalah sandi yang diberikan oleh Amerika, sedangkan negara salibis lain biasanya memberi nama versi mereka sendiri dalam kampanye mereka.

3. Daftar nama ini telah dirilis oleh Departemen Negara AS dan diproduksi ulang oleh sejumlah media Amerika. Ini tanpa menyebutkan Iran, Rusia, dan Suriah, yang semuanya anggota penting dalam koalisi melawan Daulah Islam.

4. Ada lebih dari tiga belas ribu pasukan milik tentara salib dan rezim murtad yang terus menduduki Afghanistan untuk membela rezim murtad Afghanistan. Armenia, Azerbeijan, Mongolia, serta banyak negara lain yang disebutkan dalam daftar "Operation Inherent Resolve, termasuk Turki" semuanya anggota kampanye perang Salibis NATO yang dikenal dengan sandi operasi "Operation Resolute Support". Begitu juga Pakistan, dia sekutu paling dekat dengan Amerika dalam perang melawan Daulah Islam Wilayah Khurasan.

5. Ini hanyalah sebagian daftar. Jika kita tambah dengan negara-negara yang juga terlibat secara terselubung, diam-diam, atau secara pasif dalam perang melawan Daulah Islam, maka ini berarti mencakup seluruh negara di dunia, terutama jika kita mengingat tidak ada satu pun negara kafir asli yang memiliki perjanjian dengan Daulah Islam.

6. Kerjasama ini telah didokumentasikan oleh Amerika, Inggris, dan media Iran. Juga terdapat laporan pada catatan Hillary Mann, James Dobbins, Karl Inderfurth –tiga mantan diplomat Amerika yang terlibat dalam makar ini– serta Jack Straw (mantan Menlu Inggris), Mohsen Aminzadeh (mantan wakil menteri luar negeri Iran), dan Mohammad Khatami (mantan presiden Iran), semua menjelaskan pembenaran, sejarah, dan rincian dari pertemuan mereka.

7. Lihat halaman "Al-Mahdi Rafidhah: Dajjal" pada Majalah Dabiq edisi ini.

8. Pada saat itu, "Sururiyah" adalah gerakan "Salafi" pro-Saudi yang telah meninggalkan sejarah oposisi Thaghut Saudi. Pemimpin mereka mengizinkan untuk ambil bagian dalam kemurtadan pemilu demokratis dan referendum. Di Semenanjung Arab, gerakan mereka disebut dengan gerakan "Shahawat", namun tidak berhubungan dengan Shahawat Irak. Dua pemimpin yang paling terkenal adalah Salman al-'Audah dan Safar al-Hawali. Nama "Sururi" sendiri berasal dari nama "Muhammad Surur," sebagaimana Salman dan Safar menjadi pendukung pro-Saudi setelah sebelumnya mereka melawan thaghut Saudi. Secara umum, dapat dikatakan bahwa Sururiyah gerakan "Salafiyah" rasa Ikhwani. Semoga Allah menghinakan "ulama" jahat ini dan majikan mereka Thaghut saudi.

9. Ini adalah kelompok yang bersikeras bergabung dengan Shahawat Irak setelah memisahkan diri dari Anshar al-Islam.

10. Lihat "Dari Lembaran Sejarah" pada majalah Dabiq edisi ini.

11. Apa yang diharapkan dari negara menyedihkan Panama bagi warganya kecuali tidak lebih dari sekedar teror, ketika secara sombong masuk ke dalam koalisi pimpinan Amerika menyerang Daulah Islam?

JIHAD TANPA PERANG, JIHADNYA WANITA

DABIQ 11 - MUSLIMAH

KEPADA SAUDARI KAMI:
JIHAD TANPA PERANG

Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, Yang memuliakan kaum muslimin dan menghinakan kaum musyrikin. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada pemimpin manusia dari awal hingga akhir, pemimpin kita: Muhammad, kepada keluarganya dan para shahabat seluruhnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka di dalam kebaikan hingga hari kiamat. Amma ba'du.

Sesungguhnya ketika Allah ta'ala mewajibkan Jihad di Jalan-Nya terhadap para hamba-Nya yang laki-laki dan menjadikan di dalamnya pahala yang sangat besar yang tidak di dapati di dalam kewajiban-kewajiban lainnya, sebagian kaum wanita menjadi cemburu dan merasa iri, sehingga Ummu Salamah radhiyallahu anha bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, seperti yang disebutkan di dalam hadits Mujahid,

"Wahai Rasulullah, kaum laki-laki keluar untuk berperang, sedangkan kami tidak keluar untuk berperang …" maka Allah Ta‘ala menurunkan: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan." (An-Nisa: 32) sebagaimana diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lainnya.

Namun, biarpun tidak ada kewajiban jihad dan berperang atas wanita muslimah –kecuali dalam mempertahankan diri dari orang yang menyerangnya– bukan berarti telah gugur peranannya dalam membangun umat, membentuk para pria, dan mendorong mereka ke medan laga. Karena itu, aku goreskan pena ini bagi para ukhti muslimah, istri para mujahid dan ibu bagi para anak-anak singa.

Allah berfirman, "Dan di antara mereka ada orang berdoa, 'Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka', Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka kerjakan, dan Allah Mahacepat perhitungan-Nya." (Al -Baqarah: 201-201)

Menurut Ali ibnu Abi Thalib radhiyallahu anhu, "Kebaikan di dunia" maknanya adalah "Istri yang shalihah". (Zadul Masir).

Tsauban berkata, "Ketika turun tentang ayat emas dan perak, para shahabat bertanya: 'Maka kekayaan apakah yang harus kita usahakan untuk kita miliki?' Umar berkata: 'Aku akan mencari tahu untuk kalian.' Dia kemudian naik ke atas untanya dan berjalan cepat hingga mendapati beliau shallallahu alaihi wasallam, sedangkan aku berada di belakangnya, maka dia berkata, 'Wahai Rasulullah, kekayaan seperti apakah yang harus kita cari?' Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 'Hendaknya setiap dari kalian menjadikan hatinya hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir dan istri yang menolongnya dalam urusan akhiratnya'." (Hasan: diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah)

Ayah, ibu dan diriku sendiri sebagai tebusannya, sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam telah dikaruniai sifat jawami‘ul kalam: "Seorang istri yang menolongnya dalam urusan akhirat". Akhirat, hal yang paling penting, pelabuhan terakhir dan tujuan utama setiap fikiran seorang mu'min yang cerdas. Maka alangkah mengena perkataan salah satu wanita kepada suaminya tatkala dia melihatnya sedang bersedih, "Apa yang membuatmu bersedih? Apakah karena dunia sedangkan Allah telah membuatmu istirahat darinya, atau tentang akhirat, semoga Allah menambah kesedihanmu".

Dan engkau wahai ukhti fil Islam dan istri para mujahid, suamimu adalah orang yang mana seluruh dunia hari ini sepakat untuk memeranginya. Saudariku, tahukah engkau siapa mujahid itu? Mereka adalah orang yang telah mencampakkan dunia di belakang mereka dan berjalan menuju kematian demi hidupnya umat. Dan aku rasa ketika dia datang untuk menikahimu ketika itu dia adalah seorang mujahid atau jika tidak dia adalah calon mujahid. Paling tidak engkau ketika itu tahu aqidahnya dan manhajnya, dan engkau tahu jenis kehidupan apa yang akan dijalaninya.

Dan jika ketika itu dia adalah orang yang qa'id (duduk-duduk tidak berjihad) dan tersesat, maka dia telah bertaubat kepada Allah, dan Allah lebih berbahagia dengan taubat seorang hamba-Nya daripada seorang laki-laki yang terbangun dari tidurnya dan mendapati untanya ada di sisinya, padahal sebelumnya dia hilang dan tersesat di tengah sahara! Lalu mengapa kita dapati ada istri para mujahid yang mengeluh dalam kehidupan mereka? Jika dia mendengar ada pertempuran yang dekat yang suaminya akan ke sana dia marah. Jika dia melihat suaminya mengenakan baju tempurnya dia gelisah. Jika suaminya keluar untuk ribath, suasana hatinya menjadi gundah. Jika suaminya pulang terlambat, dia mengeluh.

Wahai saudariku, siapakah yang memperdayamu dengan mengatakan kehidupan jihad itu kehidupan yang nyaman dan menyenangkan? Tidakkah engkau mencintai jihad dan orang-orangnya? Coba dengarkanlah. Sesungguhnya engkau terhitung sedang di dalam jihad ketika engkau menanti suamimu kembali dengan penuh kesabaran dan penuh pengharapan akan pahala Allah, berdoa untuknya agar dia diberi kemenangan dan tamkin. Engkau berada di dalam jihad ketika engkau menjaga kesetiaanmu kepadanya di saat ketidak-hadirannya. Engkau berada di dalam jihad ketika engkau mengajarkan anak-anaknya antara yang benar dan yang salah, antara yang haq dan yang bathil.

Sungguh, engkau wahai saudariku yang tercinta, hari ini engkau adalah istri seorang mujahid, dan mungkin esok hari engkau adalah istri seorang syahid, atau istri seorang pejuang yang terluka, atau istri seorang yang berada di dalam tawanan, maka berapa banyakkah kesabaran yang telah engkau siapkan? Jika saja engkau telah mengeluh dan mengadu di saat kemudahan dan kelapangan, maka apa yang engkau akan lakukan di saat kesusahan dan musibah? Akankah engkau bersabar tatkala suamimu kembali sambil membawa darah yng mengalir? Atau jangan-jangan engkau hanya menginginkan suamimu hanya ketika dia dalam keadaan baik?

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Para ulama tafsir dan sejarah, juga yang lain berpendapat bahwa nabi Ayub alaihissalam adalah seorang yang berharta, yang memiliki banyak ragam kekayaan, termasuk binatang ternak, budak, kendaraan, tanah yang luas di negri al-Butsainah di wilayah Huran. Ibnu Asakir mengisahkan bahwa dia memiliki semua itu dan memiliki banyak anak laki-laki dan keluarga. Kemudian dia terhalang dari itu semua dan mendapat cobaan di setiap tubuhnya dengan berbagai jenis penyakit hingga tidak tersisa kecuali hati dan lisannya yang berdzikir kepada Allah, dan dia tetap bersabar dan penuh pengharapan kepada Allah, selalu berdzikir kepada Allah baik siang dan malam, pagi dan petang. Sakit yang menjangkitinya berlangsung lama, hingga teman-teman meninggalkannya, dan keluarga menjauhinya, bahkan dia diusir dari kampungnya dan dilemparkan ke tempat sampah, orang-orang tidak mau lagi berhubungan dengannya, dan tidak ada satu orang pun yang mendekatinya kecuali istrinya, dia tetap menjaga hak-haknya, dan mengenal kebaikan yang pernah diberikan oleh suaminya dan kelembutannya atasnya, dia selalu mondar-mandir untuk mengurus urusan suaminya, membantu menunaikan hajatnya dan mengerjakan kemashlahatannya, hingga sang istri menjadi lemah dan habis hartannya, sampai-sampai dia harus membantu orang-orang demi mendapat upah, agar bisa memberi makan suaminya dan memenuhi kebutuhannya, semoga Allah meridhainya dan membuatnya ridha. Dia tetap bersabar dengannya walau apapun yang terjadi dengan mereka, hilangnya harta, anak-anak, dan apa-apa yang menimpa mereka dari berbagai musibah yang menimpa suaminya, kesempitan hidup dan bantuan manusia, setelah sebelumnya penuh kebahagiaan, nikmat, khidmat, kedudukan, inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un." (al-Bidayah wan-Nihayah)

Ibnu Katsir rahimahullah kemudian berkata: "As-Suddi berkata bahwa daging Nabi Ayub alaihissalam berjatuhan dan tidak tersisa kecuali sedikit dan juga urat-uratnya, maka istrinya datang menemuinya membawa abu dan menebarkannya di bawahnya, ketika waktu semakin lama berjalan, istrinya berkata kepadanya: "Wahai Ayub, andai engkau berdoa kepada Rabbmu tentu Dia akan menyembuhkanmu", maka Nabi Ayub menjawab: "Aku telah hidup selama tujuh puluh tahun dalam keadaan sehat, lalu mengapa aku tidak sanggup bersabar dalam waktu yang sedikit ini bagi Allah dibanding dengan tujuh puluh tahun itu?", maka istrinya tertegun dengan kata-kata itu, maka dia membantu orang-orang untuk mendapat upah dan memberi makan Ayub alaihissalam. Namun kemudian orang-orang tidak mau lagi menggunakan tenaga wanita tersebut untuk membantu mereka ketika tahu bahwa dia adalah istri Ayub karena khawatir akan terkena musibah seperti yang menimpanya atau tertular penyakit seperti yang mengenainya jika bergaul dengannya. Maka ketika istri Ayub tidak lagi mendapati seseorang yang mau memperkerjakannya, maka dia pun pergi ke salah satu anak pembesar dan menjual salah satu kepangan rambutnya demi mendapatkan makanan yang baik dan banyak, lalu dia pun membawanya kepada Ayub, maka Nabi Ayub pun bertanya, "Dari mana engkau mendapatkan ini?" istrinya enggan untuk menjawab dan mengatakan, "Aku membantu beberapa orang". Keesokan harinya, Istri nabi Ayub kembali tidak mendapati seseorang yang mau memperkerjakannya hingga akhirnya dia menjual kembali kepangan rambutnya yang lain demi mendapatkan makanan dan membawanya kepada Ayub, ketika Nabi Ayub bertanya kepadanya dia tetap mengelak hingga akhirnya nabi Ayub bersumpah tidak akan memakan makanan itu kecuali istrinya mau memberitahukan dari mana dia mendapatkannya, maka istrinya membuka kerudung kepalanya dan terlihatlah cukuran rambutnya, maka Nabi Ayub alaihissalam berdoa: "Sungguh, aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau Maha Penyayang dari semua yang penyayang"." (Al-Anbiya: 83). (Al-Bidayah wan-Nihayah)

Beginilah kisah istri Nabi Ayub, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya dan kepada seluruh Nabi dan kepada seluruh Rasul. Dia tetap bersabar dalam menghadapi musibah yang dialami suaminya dan tetap bertahan, tidak pernah menyerah ketika Rabbnya menguji suaminya. Maka ingatlah saudariku ukhti fid diin, akan firman Allah Ta'ala: "Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." (Az-Zumar: 10)

Akankah engkau tetap tegar jika suatu ketika engkau mendapat kabar bahwa suamimu tertangkap atau engkau akan segera meminta cerai? Alangkah menyedihkan, sungguh alangkah menyedihkan orang-orang kami yang tertawan. Betapa banyak manusia di dunia ini yang dihinakan oleh orang-orang terdekat mereka sebelum orang-orang terjauh, namun penghinaan dari seorang istri tetaplah yang lebih pahit dan menyakitkan.

Wahai muslimah, wahai istri tawanan, hai orang yang mengaku telah mencerai dunianya sebanyak tiga kali, bayangkan dia sedang menempati ruangannya yang sempit, penjara gelap dengan fikiran yang mengembara, sebuah senyum getir tersungging di wajahnya. Mungkin dia sedang membayangkan dirimu dan anak-anaknya saat itu dan kapankah cobaan itu akan berakhir sehingga dia dapat kembali berkumpul denganmu. Kenangan dan harapan yang datang bercampur, tidak terputus kecuali oleh panggilan sipir, suaranya yang dibenci beradu dengan suara denyitan pintu yang dibukanya, "Hei Fulan, ada kunjungan bagimu". Maka dia segera keluar, dengan napas yang memburu, dia melihatmu dari jauh hingga hatinya yang terluka pun tersenyum –dengan bayangan engkau berdua tidak sanggup berhijrah ke Daulah Islamiyah sehingga berbai'at dari tempat kalian tinggal dan berjihad di negerimu dan tidak ada hal yang menakutkan untuk mengunjunginya– dia segara menyambutmu dan mengucapkan salam, lalu membuka kata-katanya dengan bertanya tentang keadaan dan orang-orang yang dikasihinya, lalu engkau menjawabnya dengan singkat, keadaanmu gelisah tidak seperti biasanya, suaramu keluar dengan terbata-bata, dan memang seperti itulah seharusnya... sudah seharusnya engkau menutup mukamu dan bersembunyi, bahkan sudah seharusnya engkau membayangkan bahwa bumi di bawah telapak kakimu akan terpecah dan menelanmu sebelum engkau mengucapkan kata-kata itu, yang mana engkau datang untuk mengatakannya, "Maafkan aku, tetapi aku ingin bercerai darimu, karena kesabaranku sudah habis..." Ya! Begitulah dengan singkatnya. Lalu engkau berlalu dan pergi meninggalkan lelaki yang terduduk di depanmu dengan penuh rasa terkejut dan bingung.

Saudari muslimahku, apakah engkau melihat dinding itu yang memisahkan kalian berdua? Apakah engkau melihat rantai belenggu yang mengikatnya? Dan berbagai jenis siksaan yang telah dia rasakan semenjak hari pertama dia tertangkap dan setiap kepahitan yang dia minum tidak sebanding dengan keputusan angkuhmu! Kami berlindung kepada Allah dari penindasan manusia!

Aku teringat ketika salah seorang ukhti datang menemuiku untuk meminta nasihat kepadaku tentang meminta thalaq dari suaminya yang ditawan karena tekanan keluarganya kepadanya dan kepada anaknya, akan tetapi setelah beberapa hari aku mendengar bahwa sebenarnya dia tidak mampu bersabar atas ujian itu sehingga dia meminta cerai dan bahwa keluarganya tidak ada kaitannya! Dan sebagian orang mungkin berpendapat bahwa ini adalah haknya apabila dia khawatir terhadap dirinya. Maka aku katakan kepada mereka: Ya ini adalah haknya, akan tetapi antara hak ini dan bersabar terdapat derajat yang tidak akan diketahui nilainya kecuali oleh mereka yang memiliki jiwa yang terbuat dari emas murni, yang tidak akan berubah ketika menghadapi musibah atau keadaan yang sulit.

Berbeda dengan ukhti yang satu ini, aku mengenal seorang istri asir (tawanan) di mana dia ibarat madrasah kesabaran, kesetiaan dan keteguhan, tinggi seperti gunung yang menjulang, yang mendidik anak-anaknya sehingga menjadi singa-singa dan beruang, dia hidup dalam kenangannya dan setia menunggu pertemuannya. Sepuluh tahun berlalu semenjak dia di dalam penjara. Ya, genap sepuluh tahun, dan dia tetap tidak goyah, aku menilainya seperti itu dan hanya Allah yang dapat menilainya. Ketika dia melihat kami, dia berkata: "Apakah engkau berdoa kepada Allah untuk Abu fulan semoga dia dibebaskan?" Alangkah mulia dia dan pahalanya ada di sisi-Nya.

Saudariku muslimah, ini tentang siapa yang suaminya ditawan, maka bagaimana dengan yang suaminya terbunuh? Disebutkan di dalam "Al-Bidayah wan-Nihayah" dari Ismail ibnu Muhammad ibnu Sa'd ibnu Abi Waqqas bahwa dia berkata: "Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melewati seorang wanita dari Bani Dinar yang mana suaminya, saudaranya dan ayahnya terbunuh dalam perang Uhud bersama Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, ketika dia diberitahu kabar duka itu dia berkata: 'Bagaimana keadaan Rasulullah?' Mereka menjawab, 'Beliau dalam keadaan baik, wahai Ummu fulan, beliau dalam keadaan yang engkau suka untuk melihatnya, alhamdulillah.' Dia berkata: 'Tunjukkanlah beliau kepadaku sehingga aku dapat melihatnya.' Dia berkata: 'Kemudian orang-orang menunjukkan beliau kepadanya, dan ketika wanita itu melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dia berkata, 'Seluruh musibah asal tidak menimpamu adalah ringan'." (Al-Bidayah wan Nihayah)

Di sini aku tujukan kata-kataku kepada para ukhti muhajirah, berapa sering kita mendengar saudari-saudari kita yang mana suaminya terbunuh, lalu seolah bumi yang luas ini menjadi sesak bagi mereka hingga mereka kembali berpaling ke darul kufur, di mana keluarga dan kerabat mereka berada. La haula wa la quwwata illa billah!

Aku beritahukan kepada mereka, engkau berdosa jika meninggalkan darul Islam dan kembali ke darul kufur. Siapa pun yang melakukan hijrah hanya demi suaminya, maka ketahuilah bahwa suaminya pasti akan mati, tanpa diragukan lagi, jika tidak hari ini maka tentu esok hari. Dan siapa saja yang melakukan hijrah karena Allah, maka ketahuilah bahwa Allah akan tetap ada, hidup selamanya, dan Dia tidak akan mati. Karena itu tetap teguhlah, wahai saudariku, semoga Allah meneguhkan kita, dan tetaplah bertahan di Daulah Islam dengan segenap kekuatanmu. Berbekallah dengan ketaatan dan ibadah agar menjadi penolongmu di dalam menghadapi musibah dan kesusahan.

Allah berfirman menceritakan tentang Nabi Yunus alaihissalam: "Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai Hari Berbangkit." (Ash-Shaffat: 143-144)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: "Jumhur ulama berpendapat bahwa maksudnya adalah: Jika bukan lantaran apa yang dia lakukan dahulu sebelum ditelan oleh ikan paus dari bertasbih, maka tentulah dia akan berada di perut ikan itu hingga hari kiamat. Qatadah mengatakan: Maka tentulah perut ikan itu menjadi kuburnya hingga hari kiamat, akan tetapi dia adalah orang yang banyak shalat ketika dalam keadaan mudah, sehingga Allah menyelamatkannya lantaran hal itu." (Zadul Masir)

Maimun ibnu Mihran berkata: "Aku mendengar ad-Dahhak ibn Qays berkata: 'Ingatlah Allah di saat lapang maka Allah akan mengingatmu di saat susah. Sesungguhnya Yunus adalah hamba Allah yang shalih, mengingat Allah, sehingga ketika dia berada di dalam perut paus, Allah berfirman: "Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai Hari Berbangkit" (ash-Shaffat: 143-144), sedangkan Firaun adalah hamba Allah yang melampau batas dan lupa untuk ingat kepada Allah, maka ketika "Sehingga ketika Fir'aun hampir tenggelam dia berkata, 'Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim (berserah diri).' 'Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan'. (Yunus: 90-91)". (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushannafnya)

Adapun engkau wahai ibunda para anak singa... apakah yang engkau ketahui tentang induk para singa? Dia adalah guru bagi generasi dan pencetak para ksatria. Aku beritahukan kepadamu apa yang telah disabdakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam: "Setiap dari kalian adalah penggembala (pemimpin), dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban dari apa yang dia gembalakan ... dan wanita adalah penggembala di dalam rumahnya dan dia akan bertanggung jawab atas gembalaannya."

Maka sudahkah engkau memahaminya, Wahai ukthi muslimah, besarnya tanggung jawab yang engkau emban? Wahai ukhti fid diin, aku melihat umat kita ini ibarat sebuah jasad yang terdiri dari banyak bagian, tetapi bagian yang paling penting dan paling efektif dalam membesarkan generasi adalah bagian ibu yang mendidik (anak). Karena alasan itulah, engkau membutuhkan banyak kesabaran dan kebaikan dan juga ilmu bermanfaat yang mencukupi untuk membangun generasi yang sanggup untuk mengemban amanah yang tidak sanggup diemban oleh langit, bumi dan gunung-gunung.

Engkau tahu bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim dan muslimah, dan Allah telah memberkahi Daulah Islam, yang tidak kikir terhadap wanita dalam menyediakan lembaga dan program pendidikan pada seluruh ilmu syari'at. Maka singkirkanlah debu kemalasan dan menunda-nunda, dan majulah, bebaskan dirimu dari kebodohan dan pelajarilah urusan agamamu. Dan Daulah kita -A'azzallah, semoga Allah memperkuatnya- tidak menginginkan pujian dan terimakasih dari kita, tidak juga dirham dan tidak pula Dinar, semoga Allah membalas mereka atas nama kami dan atas nama kaum Muslimin dengan balasan yang terbaik.

Ukhti muslimah, sesungguhnya engkau adalah mujahidah, dan apabila senjata kaum laki-laki adalah senapan serbu dan sabuk peledak, maka ketahuilah bahwa senjata wanita adalah akhlak mulia dan ilmu. Karena engkau akan memasuki kancah pertempuran antara yang haq dan yang bathil. Karena itulah, entah ini adalah mereka dengan generasi yang rusak dalam aqidah dan manhaj –maksudku adalah musuh-musuh dien ini– atau engkau dan generasi yang melihat kemuliaan ada pada lembaran-lembaran al-Qur'an dan moncong senjata. 
Karena hal inilah, mari jadikan semangatmu adalah semangat umat, sehingga engkau melihat dari mata seluruh anak-anak singamu seorang ulama yang berilmu dalam dan seorang penakluk hebat. Bercita-citalah kepada mereka seperti cita-cita Hindun binti Utbah radhiyallahu anha kepada putranya Mu'awiyah radhiyallahu anhu: "Ketika Abu Sufyan radhiyallahu anhu melihatnya sedang merangkak dan dia berkata kepada ibunya, 'Sesungguhnya anakku ini memiliki kepala yang besar dan dia pantas untuk menjadi pemimpin kaumnya.' Maka Hindun berkata: 'Hanya kaumnya? Sungguh malangnya aku jika dia tidak memimpin seluruh bangsa Arab!'" (Al-Bidayah wan-Nihayah). Maka Hindun pun meraih apa yang dia cita-citakan. Mu'awiyah menjadi pemimpin seluruh bangsa Arab dengan syari'at.

Wahai saudariku, jadikanlah seluruh anak-anakmu sebagaimana tiga anak Afra': Mu'adz, Mu'awwadz, dan Auf radhiyallahu anhuma. Dan alangkah agung apa yang dikatakan oleh Asma' binti Abu Bakr radhiyallahu anhu, pada hari di mana Ibnu Umar radhiyallahu anhuma masuk menemuinya ketika putranya Abdullah ibnu Zubair radhiyallahu anhuma disalib setelah dibunuh oleh Hajjaj, maka dia berkata padanya: "Sesungguhnya jasad ini bukanlah apa-apa, namun ruh itu berada di sisi Allah, bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah." Maka Asma' menjawab: "Apalah yang menghalangiku untuk bersabar, sedangkan kepala Yahya ibnu Zakariya telah dihadiahkan kepada salah satu pelacur Bani Israil." (Al-Bidayah wan-Nihayah). Allahu Akbar. Inilah wanita-wanita umat kita, para generasi Khansa pertama.

Wahai saudariku tercinta, sesungguhnya termasuk rahmat Allah kepadamu adalah Dia telah memuliakanmu untuk tinggal di tanah Khilafah. Maka gunakanlah itu sebagai kesempatan untuk mengajari anak-anakmu semampu yang engkau bisa tentang keshalihan yang dibangun di atas tauhid yang bersih, aqidah yang benar, kufur kepada thaghut dan beribadah kepada Allah semata, ajarilah kepada mereka tazkiyatun nufus, mengingat Allah, sirah nabawiyah, dan fiqh jihad. Dan jika para pengklaim Islam di tanah kufur membesarkan anak-anak mereka dengan cerita Cinderella dan Robin Hood, maka engkau harus menggunakan cerita dalam "Masyari' al-Asywaq ila Mashari' al-'Usysyaq" Ibnu an-Nuhhas rahimahullah sebagai cerita untuk anak-anak singamu sebelum mereka tidur. Dan di sini terdapat lembaga syari'ah, kamp pelatihan, dan bahkan taman kanak-kanak. Semua di Daulah kita, yang diberikan oleh mereka –A'azzallah, semoga Allah menjayakannya– berada di atas manaj kenabian, insya Allah, dan segala pujian hanya milik Allah.

Kemudian nasihatku kepadamu wahai saudariku, yang sedang mempersiapkan anak-anak singa khilafah, bekalilah mereka dengan ilmu lalu kemudian dengan senjata, karena senjata tanpa ilmu merupakan bahaya yang sangat besar dan jika itu terjadi maka sedikit sekali kebaikan dapat diperoleh. Jadilah engkau wahai saudariku yang mulia seperti Ibunda Ummu Sufyan Ats-Tsauri, seorang imam ahli hadits, faqih, hafizh, zuhud, 'abid dan wara‘, di mana ibunya: Ummu Habibah, suatu ketika berkata kepadanya: "Wahai anakku, tuntutlah ilmu maka aku akan mencukupimu dengan alat pemintal ini."

Lihatlah kepadanya, semoga Allah merahmatinya dan mengumpulkan kita bersamanya di surga Rabb kita. Apa yang dia minta dari putranya tidak lebih agar dia menuntu ilmu syar'i dan menguasainya, dan sang ibu akan berusaha memenuhi kebutuhan putranya dan nafkahnya lewat tenunannya. Semoga Allah memberkahi dirinya dan putranya, yang mana Abu Ishaq As-Sabi'i suatu ketika melihat Imam Sufyan Ats-Tsauri yang sedang berjalan, Abu Ishaq membaca, "Dan Kami berikan hikmah kepadanya selagi dia masih kanak-kanak." (Maryam: 12)

Sebagai penutup, aku ingatkan diriku sendiri dan juga kalian, wahai saudariku yang mulia, untuk senantiasa memperbaiki niat dan menghadirkannya di dalam seluruh amalan kita, karena siapa yang amalnya karena Allah maka dia telah sukses dan menang, dan siapa yang amalnya untuk selain Allah maka dia telah kalah dan merugi, dan akhir dari doa kami adalah Alhamdulillahirabbil alamiin, Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam atas pemimpin kita, Muhammad, dan juga atas keluarga dan shahabat seluruhnya.

ABU JA'FAR AL-ALMANI

DABIQ 11 - SYUHADA

DIANTARA KAUM MU'MININ TERDAPAT KESATRIA:
ABU JA'FAR AL-ALMANI

Abu Ja‘far adalah sosok yang sangat dicintai oleh saudara-saudaranya. Dia orang yang ramah dan siap membantu kapan pun juga, selalu ada senyum di wajahnya untuk saudara-saudaranya.

Dia tumbuh di dalam lingkungan yang penuh dengan kriminal dan kerusakan, tetapi biar begitu, dia tidak pernah mengalami masa-masa jahiliyah (kesyirikan / kekafiran). Dia dibesarkan sebagai seorang Muslim semenjak kecil. Melalui kaum muslimin yang tinggal di sekitarnya, dia belajar dari Amir Khaththab dan mujahidin lainnya dari wilayah Kaukasus.

Sejak saat itu, ia selalu memiliki kerinduan batin untuk menjadi seorang mujahid. Sebagai seorang yang baru beranjak dewasa ia sangat aktif dalam memberikan dakwah kepada anak-anak di lingkungannya, dan juga melakukan haji pada usia yang relatif muda untuk mendekatkan diri kepada Allah ta'ala. Ini menyebabkan dia dijuluki "Haji" (sesuatu yang tidak pernah dia minta tapi merupakan bagian dari budaya Turki dan sekitarnya).

Semua orang mengenalnya dengan nama ini dan semua orang mencintainya karena dia selalu memberikan rasa hormat kepada setiap individu dengan layak. Ketika sedang menjalani studinya di bidang teknik, ia menyaksikan ketidakadilan dan penindasan Nushairiyah terhadap Ahlus Sunnah di Syam, yang menyebabkan dia meninggalkan studinya dan tanpa menunda lagi segera berhijrah ke Syam.

Setelah tiba di Syam, sebelum dideklarasikannya Daulah Islam, ia bergabung dengan kelompok "Majlis Syura al-Mujahidin," yang pada saat itu dipimpin oleh Abul Atsir (hafizhahullah) dan saudaranya Abu Muhammad al-'Absi rahimahullah dan yang kemudian memberi bai'at secara berjama‘ah kepada Amirul Mu'minin Abu Bakr al-Baghdadi (hafizhahullah).

Sejak saat itu, dia pun menghabiskan hidupnya di dalam ribath dan qital di garis depan. Dia melakukan ribath terhadap tentara Assad di Khantuman serta Liramun dan bersama-sama dengan tentara Daulah Islam mereka bergerak maju menuju Kafr Hamrah. Dia kemudian pergi ke as-Sikak (rel kereta api) untuk Ribath dan ketika berada di sana, seorang ikhwan Jerman bernama Abu Zakariya mengalami cedera kepala. Abu Ja'far pun mempertaruhkan nyawanya untuk menariknya keluar dari zona pertempuran dan membawanya kembali ke markas untuk diobati.

Di Khantuman, ia menunggu dengan sabar bersama tentara Daulah Islam lainnya untuk mulai menyerang para Nushairiyah sana, namun beberapa hari sebelum terjadinya pengkhianatan Shahawat ia kembali ke Kafr Hamrah untuk mengurus beberapa urusan pribadi. Kemudian, pada "3 Januari 2014", Shahawat mulai memerangi Daulah Islam. Abu Ja'far kemudian berperang melawan kelompok Khalid Hayani di Huraytan, kemudian melawan Shahawat di Bashkoy, dan merupakan salah satu yang terakhir yang meninggalkan Huraytan menuju A'zaz bersama ikhwan Jerman (Daulah Islam) di bawah kepemimpinan Abu Ka'b rahimahullah.

Dari I'zaz mereka terus bertempur sepanjang jalan menuju kota al-Bab, di mana ia juga ikut melakukan Ribath. Setelah kedatangan mereka di Al-Bab, dia pun ditempatkan dengan saudara Jerman lainnya di Faruq Dam (sebelumnya bernama "Tisyrin" Dam), di mana mereka berpartisipasi dalam pembebasan Sirrin serta silo (lumbung gandung) yang sebelumnya berada di bawah kendali PKK najis dan Liwa Tsuwwar ar-Raqqah. Setelah itu, ia pergi dengan saudaranya menuju al-Khair untuk melawan faksi Shahawat dan suku Syu'aytat. 
Setelah membebaskan al-Khair dari Shahawat, ia pergi menuju 'Ain al-Islam (Kobane), di mana ia menjadi terkenal karena keberaniannya. Dia pernah berada di sebuah rumah yang kemudian dibom oleh pesawat koalisi hingga semua orang berpikir bahwa dia telah terbunuh, namun seorang ikhwah menyeretnya keluar dari reruntuhan dan Abu Ja'far langsung bangkit dan menyerbu ke arah PKK untuk memerangi mereka. Tapi beberapa hari kemudian, setelah ikhwah Jerman lainnya yang bersamanya baik telah terluka atau terbunuh, dia pun akhirnya menuai apa yang ia rindukan, syahadah di jalan Allah.

Hal itu terjadi selama serangan besar-besaran oleh tentara Daulah Islam terhadap faksi Kurdi atheis, di mana pesawat-pesawat koalisi datang untuk membantu faksi ini. Maka terjadilah, ikhwah kita ini terkubur untuk yang kedua kalinya di bawah reruntuhan. Setelah menerima syahadah, atheis PKK menyeret tubuhnya keluar dari puing-puing dan memperlihatkannya kepada dunia seolah-olah merekalah yang telah membunuhnya serta yang lainnya. Tetapi Allah mengetahui realitas klaim palsu mereka, dan tentara kami yang terbunuh berada di taman-taman surga sementara tentara mereka yang terbunuh berada di ruang bawah tanah dari api neraka.

Apabila mendengar ikhwah lainnya mengatakan apa yang menjadi keinginan mereka untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat di jalan Allah, Abu Ja‘far berkata: "Jangan berkata tentang itu, lakukan saja". Dia tidak pernah meninggalkan qiyamul lail, selalu membaca al-Qur'an serta dzikir pagi dan petang. Semoga Allah menerima Abu Ja‘far dan seluruh ikhwah junud Daulah Islamiyah yang telah memberikan hartanya, darahnya, dan hidupnya demi menegakkan, melindungi dan memperluas Khilafah.