DABIQ 11 - PERBINCANGAN MUSUH
DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH
Pada tanggal 8 Agustus 2015, Michael Scheuer (mantan Kepala CIA "Bin Laden Issue Station") merilis sebuah artikel berjudul "Islamic State menang, Amerika harus segera menggunakan salah satu pilihan yang tersisa". Di dalamnya, ia membahas tentara salib Amerika, menyeru mereka untuk mengakhiri perang tanpa harapan mereka terhadap Islam dan Khilafahnya. Dia membawa perhatian mereka kepada realitas bahwa Islamic State menang dan akan terus meluas apapun usaha negara yang makin melemah Amerika. Berikut ini adalah artikelnya :
Islamic State Menang, Amerika Harus Segera Menggunakan Salah Satu Pilihan yang Tersisa
Oleh : Michael Scheuer
Ada tiga hal dari pemerintah nasional AS yang memaksakan diri dan benar-benar cacat parah dalam menangani ancaman Islam adalah :
(a) melihat dengan cermat terhadap masalah melalui cara negara demi negara: yaitu, apa yang kita lakukan di Irak? Apa yang kita lakukan di Afghanistan? Apa yang kita lakukan di Libya? Dll.
(b) selalu—tetapi sudah lama terbantahkan bahwa dalam perang dengan Islam, Barat memiliki waktu (pada) sisinya. Dan,
(c) kecanduan pada hal yang tidak bijaksana, tidak perlu, dan intervensi membangkrutkan yang merupakan motivator utama dari gerakan Islam internasional, fenomena yang diayahi dan masih dipelihara oleh Barat yang kemudian disebut "sekutu dan teman-teman", Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dll.
Dengan membentuk dan melaksanakan kebijakan intervensionis kepada setiap negara bangsa di mana ancaman Islam teridentifikasi sehingga perlu ditangani, Washington dan sekutunya, NATO, kehilangan point bahwa musuh utama Islamis mereka –Islamic State (IS) dan al-Qaeda,(1) dan terutama mantan anggotanya– berpikir dengan cara regional lalu kemudian merancang dan melaksanakan kebijakan yang bertujuan untuk membangun basis yang dari sana mereka dapat melakukan perluasan di jalan yang memiliki tujuan akhir untuk mengusir Barat dari dunia Muslim dan menciptakan kesatuan dan negara bagi seluruh dunia Islam atau Khilafah. Apakah negara seperti itu dapat diciptakan atau tidak itu adalah pertanyaan terbuka, tapi untuk saat ini subject ini menjadi ditinggalkan kepada para akademisi untuk perdebatan tanpa henti, teoritis, dan tidak meyakinkan, sehingga meninggalkan hal yang waras untuk mencoba mempertahankan Amerika Serikat.
Yang penting, pada saat ini, terletak pada ketidakmampuan dan ketidakcakapan para pembuat kebijakan AS dan NATO untuk melihat apa yang disusun oleh Daulah Islam (IS) dari perencanaan regional, atau bagaimana perencanaan yang tidak hanya imun tapi terus didorong oleh intervensi Barat di setiap Negara Muslim yang tak kenal kasihan, terus menerus dan tidak menyenangkan mereka – Kecuali, tentu saja, para tirani Muslim peliharaan Barat, yang dilindungi dan disuapi olehnya.
(NB: Ini tidak berarti menjadi alasan bahwa intervensi Pasukan AS-NATO terhadap bangsa multi-Muslim diperlukan. Pertama, bahwa induk dari semua intervensi Barat akan menjadi sekutu tunggal paling kuat bagi tujuan IS menyatukan dunia Sunni. Kedua, militer AS telah haus setelah dua dekade mengalami kalah perang: yang dikebiri oleh hitung-hitungan Obama –untuk menghancurkan– pemotongan anggaran, pengurangan tenaga kerja, dan effeminisasi: dan militer NATO –melindungi Turki– adalah Kecil, kuno, kekurangan dana, dan tidak bisa menghentikan panzer Putin berputar di Champs Elysees tanpa menggunakan senjata nuklir. Satu-satunya pertahanan efektif AS-NATO terhadap Islamis adalah dengan menghentikan semua intervensi, dan membiarkan Sunni, Syi‘ah, dan Israel membereskan perbedaan mereka masing-masing dengan cara membunuh bagaimana saja yang menyenangkan mereka)
Saat ini, para pemimpin IS tampaknya memiliki tiga tempat pijakan regional yang kuat di mana mereka berniat untuk melakukan ekspansi, dan tentu salah satunya sebagai sasaran ekonomi strategis, keempat choke-point maritim, jika ditutup atau bahkan diserang secara sporadis, maka akan mengganggu pasokan minyak dunia dan tentu kemudian ekonominya.
1) Balkan
IS telah menancapkan dirinya dengan sangat kuat ke dalam komunitas Islam Bosnia, Kosovo, dan Albania, dan memiliki kehadiran di setiap negara-negara Balkan lainnya. Dalam upaya ini , IS telah memanfaatkan apa yang sekarang adalah masa-masa kampanye yang panjang, dimulai dari kematian Uni Soviet, di mana Arab Saudi, mitra Teluknya, dan sejumlah NGO(2) mereka telah merubah sejumlah besar penduduk Muslim Balkan dari seorang yang beriman pada umumnya menjadi Muslim yang dididik war-prone (mudah perang) dengan doktrin Salafi dan Wahhabi.
Usaha yang dipimpin Saudi(3) belum membuat Balkan menjadi benteng doktrin mereka, tetapi telah membuat peningkatan jumlah Muslim Balkan yang menjadi Salafi dan Wahhabi. Orang-orang yang telah berubah ini telah menantang –dan dalam beberapa kasus– berhasil menggusur para pemimpin Islam yang lebih moderat, membangun organisasi Islam yang telah menyerang secara sporadis individu, pasukan keamanan, dan bangunan, dan telah mengirimkan aliran relawan –dengan bantuan unit logistik IS di Turki, Yunani, Spanyol, dan Italia– untuk berperang bersama pasukan IS di Suriah dan Irak. Sebagaimana Kehadiran IS di Balkan yang terus tumbuh, dengan melirik peta maka akan terlihat bahwa relatif mudah bagi IS untuk mendapatkan akses yang aman menuju negara-negara Uni Eropa dan melalui negara Eropa Timur ke Rusia.
2) Libya
IS menghadapi perlawanan lokal yang kuat untuk kehadirannya di Libya, tetapi dia merupakan organisasi yang dapat melakukan lebih dari satu hal pada satu waktu. Di saat pejuangnya mempertahankan dan secara perlahan-lahan memperluas wilayah yang dikuasai IS, para pemimpin IS dan administrator lainnya terlibat dalam menciptakan ketertiban dan memperbaiki layanan sosial dan sarana publik di daerah yang mereka pegang, sebuah pola yang sebelumnya juga terlihat di Suriah dan Irak.
IS juga, di samping mulai mengeksploitasi posisi geografis barunya –melalui serangan sukses di Tunisia, dan dukungan kepada organisasi IS di semenanjung Mesir Sinai– juga mempersiapkan ekspansi lebih lanjut dari Libya ke Aljazair, Maroko, Mauritania, dan Sudan. Libya juga memberikan kepada IS akses perbatasan ke Niger dan Chad, yang keduanya akan memfasilitasi kontak langsung dengan sekutu peluasan IS di Nigeria: Boko Haram.
Selain itu, Niger memberikan jalan masuk yang mudah ke Mali di mana Organisasi Islam yang putus asa bisa saja tertarik untuk bekerja sama dengan IS sehingga dapat memperoleh keuntungan dari militer mereka yang sudah dikenal, reputasi untuk sukses, cukup kaya, dan kembalinya para veteran Mujahidin Mali yang telah bertempur bersama IS di Suriah, Irak, dan Libya.
3) Afghanistan
Kehadiran IS di Afghanistan baru berusia satu tahun tapi pejuang mereka dilaporkan telah dikerahkan pada lebih dari setengah dari 34 provinsi di negara tersebut, di dekat ibukota Kabul, di wilayah suku Pakistan, Provinsi Baluchistan, dan kota Karachi. IS jauh dari mendominasi negara, tetapi sedikit aliran dari para pembelot Thaliban Afghanistan dan Pakistan telah menjadi sumber yang kuat sejak kematian pemimpin Thaliban Mullah Omar –yang telah lama disembunyikan– diumumkan pada tanggal 30 Juli 2015 dan pemimpin baru dengan cepat dipilih oleh sejumlah kecil pemimpin Thaliban yang telah ikut membantu menyembunyikan fakta bahwa Omar telah meninggal sejak April 2013.
Strategi IS melihat Afghanistan sebagai kunci untuk perluasan dan penyempurna Khilafah IS, sebagai pemberi aliran pendapatan yang potensial dari negara penghasil heroin(4) dan kekayaan mineral, akses yang mudah menuju Pakistan, menuju India dan Kashmir, serta ke negara-negara Muslim di Asia Tengah, Populasi Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang China, dan basis yang berpotensi untuk menyerang Iran, dan pasti membunuh Syi‘ah, sehingga memaksa Teheran untuk berperang di dua front melawan pasukan IS dan sekutu mereka.
4) Maritim choke-point
Di sinilah proyek strategis paling ambisius, IS saat ini memiliki peluang awal untuk membangun kehadirannya di empat maritim choke-point dunia yang paling penting. Pintu masuk ke Selat Bab el Mandab di ujung selatan Laut Merah terletak di antara IS dan kelompok-kelompok pejuang Islam lainnya yang ingin mengontrol Yaman dan bajak laut –Islamis dan kaya– di Tanduk Afrika; Terusan Suez rentan terhadap cabang IS yang sekarang beroperasi hampir tak tersentuh hukum (impunitas) di semenanjung Sinai Mesir; Selat Malaka, yang membentang sepanjang tepian Provinsi Aceh yang didominasi oleh Islam di Indonesia; pemerintah Jakarta mengklaim adanya kehadiran IS dan berkembang dengan cepat di daerah itu; dan Selat Gibraltar, yang telah lama menjadi target Al-Qaeda dan sekarang dikepung di sebelah selatan oleh kekuatan IS yang terus tumbuh dan mencapai Maroko; dan di sebelah utara dengan lebih dari cukup IS hadir di selatan Eropa dan bala bantuannya datang dari para pejuang IS yang beragam berasal dari massa imigran ilegal yang memasuki Eropa melalui laut dari Afrika Utara.
Ringkasan di atas menjelaskan akan harga yang pasti dari setengah abad intervensi AS dalam budaya, politik, ekonomi, dan militer, baik secara sepihak atau dengan pengikut NATO -nya. Dan ringkasan ini tidak termasuk pijakan IS yang masih dalam pengembangan di Kaukasus Utara dan Yaman, yang dalam waktu sama memungkinkan bagi IS untuk melakukan ekspansi ke Rusia dan ke Arab Saudi dan Negara-negara Sunni Teluk lainnya.
Dalam menghadapi ekspansi penting IS secara geografis dan pasukan, pemimpin AS di kedua belah pihak telah mempertahankan sebuah pendekatan yang berdasarkan hukum dan ketertiban dengan mujahidin dan telah meremehkan –bila tidak disebut mengabaikan– kemampuan IS, motivasi dan niat mereka, dan perang agama yang mereka kobarkan. Mereka juga telah menghabiskan setahun terakhir ini dengan membuang-buang waktu mengeluh tentang pemenggalan yang dilakukan IS, tentang senjata nuklir Iran yang tidak bisa dicegah untuk diraih(5), dan memicu perang di Eropa karena membantu pemerintah Ukraina yang tidak dapat mempertahankan diri dan sanksi sia-sia rezim Rusia yang tidak akan dapat mengembalikan Crimea dan sehingga kita tahu bahwa istilah "macan kertas" tidak pernah lebih pantas untuk diberikan selain kepada Amerika Serikat dan NATO.
Ketika saatnya tiba –dan itu pasti akan tiba– bagi para pemimpin AS untuk melihat di dalam lemari dan menemukan alat yang bisa mengakhiri ancaman IS, mereka akan menemukannya dalam keadaan kosong. Dengan dua kekalahan perang yang disengaja, sebuah militer yang rusak, sebuah elit pemerintahan dan presiden yang tidak terikat dengan realitas, anggaran yang bangkrut, sistem politik yang rusak oleh warga AS yang menjadi agen-agen dari kekuatan asing, sekutu tidak berguna Eropa berikutnya, sebuah dunia Barat yang lebih menyukai kematiannya sendiri daripada menyembelih musuhnya, dan musuh Islamis yang jauh lebih pintar dan lebih berbakat, kemudian ini diberikan sebagai kredit kepada elit pemerintahan AS yang hanya akan memiliki satu pilihan. Berubah dari lemari kosong, jiwa-jiwa miskin ini akan tahu apa fikiran orang-orang Amerika yang bersih dari pendidikan Ivy League yang telah dikenal selama ini. Yaitu, bahwa sekaranglah saatnya untuk menempatkan Amerika seperti dahulu dan mengembalikan warisan kebijakan luar negeri Jenderal Washington dengan segera menyatakan berakhirnya intervensi AS, penghentian dukungan untuk semua negara dan kelompok di Timur Tengah, penarikan AS dari NATO, dan mengembalikan Kebijakan keamanan nasional Amerika yang paling efektif – netralitas yang ketat(6). Dan saat melakukan hal ini, kita semua bisa berharap –mungkin dengan optimisme yang salah tempat,– semoga itu tidak terlambat.
Catatan kaki :
1. Catatan Editor: Al-Qa'idah telah menjadi perisai Media dan dalam beberapa kasus menjadi senjata militer dari Shahawat yang didukung Thaghut di Syam, Libya, Yaman, dan Khurasan. Setelah Zhawahiri memerintahkan al-Qa'idah di Aljazair untuk menghentikan semua serangan melawan rezim murtad terutama pasca-revolusi Dunia Arab, dia memerintahkan al-Qa'idah di Suriah untuk meyakinkan Barat bahwa Amerika dan Eropa tidak akan menjadi sasaran mereka, dan dirinya berbai‘at kepada Akhtar Mansur, yang mendukung rekonsiliasi nasional dengan Rezim Murtad Afghan dan normalisasi dengan seluruh tentara salib, musyrik, atheis, dan dunia murtad, sehingga tentara salib Amerika dapat yakin, perang utama al-Qa'idah sekarang adalah terhadap Daulah Islam (IS).
2. Catatan Editor: Para thaghut Alu Salul dan sekutu mereka bekerja sama untuk menggambarkan diri mereka sebagai penjaga Islam dan kaum Muslimin, ketika dalam kenyataannya mereka menyebarkan penyimpangan, perbuatan keji, dan bahkan sodomi melalui "Rotana Group" mereka dan hiburan mereka yang lain dan religius outlet, terlebih secara fakta mereka memerintah dengan hukum buatan manusia baik internasional dan domestik serta mendukung orang-orang Yahudi dan Kristen memerangi Islam dan kaum Muslimin. Dukungan lemah dan munafik mereka terhadap "dakwah" –dalam banyak kasus– seolah menjadi bumerang bagi mereka dan menyebabkan orang mempelajari Al-Qur'an dan Sunnah, mengadopsi tauhid dan syari'at, dan menyatakan takfir dan jihad melawan Pasukan dan agen dari Alu Salul.
3. Lihat footnote sebelumnya.
4. Catatan Editor: Kepemimpinan Daulah Islam di Wilayah Khurasan telah menjadi musibah paling parah bagi para petani opium Pakistan dan Afghanistan –perkebunan dan tanaman opium dibakar– karena produksi opium adalah termasuk amal perbuatan yang paling buruk, bahkan dia termasuk sumber pendapat yang baling buruk. Thaliban pimpinan Akhtar, bagaimanapun, menganggap orang-orang yang membakar tanaman opium sebagai "Khawarij" yang telah menghancurkan "kekayaan" kaum Muslimin dan menghancurkan pendapatan "zakat"!
5. Catatan Editor: Kaum murtad Rafidhah Iran harus berterima kasih kepada tentara salib Amerika karena telah memberikan kepada mereka kondisi dan sumber daya yang dibutuhkan untuk memfasilitasi pengembangan program nuklir mereka menjadi senjata nuklir untuk digunakan melawan Ahlus Sunnah, apalagi fakta bahwa jet salibis –dalam rangka membela Iran dan milisi Rafidhahnya– menyerang Mujahidin di Irak dan Syam.
6. Catatan Editor: Bagaimana pun, satu-satunya solusi lengkap untuk perang Amerika terhadap Islam adalah dengan Amerika menerima Islam atau dengan membayar jizyah. Jika tidak, maka bisa dengan mengakui kekalahan dan menerima solusi parsial dengan mematuhi gencatan senjata sementara dengan ketentuan yang sesuai dengan syari'at.
DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH
Pada tanggal 8 Agustus 2015, Michael Scheuer (mantan Kepala CIA "Bin Laden Issue Station") merilis sebuah artikel berjudul "Islamic State menang, Amerika harus segera menggunakan salah satu pilihan yang tersisa". Di dalamnya, ia membahas tentara salib Amerika, menyeru mereka untuk mengakhiri perang tanpa harapan mereka terhadap Islam dan Khilafahnya. Dia membawa perhatian mereka kepada realitas bahwa Islamic State menang dan akan terus meluas apapun usaha negara yang makin melemah Amerika. Berikut ini adalah artikelnya :
Islamic State Menang, Amerika Harus Segera Menggunakan Salah Satu Pilihan yang Tersisa
Oleh : Michael Scheuer
Ada tiga hal dari pemerintah nasional AS yang memaksakan diri dan benar-benar cacat parah dalam menangani ancaman Islam adalah :
(a) melihat dengan cermat terhadap masalah melalui cara negara demi negara: yaitu, apa yang kita lakukan di Irak? Apa yang kita lakukan di Afghanistan? Apa yang kita lakukan di Libya? Dll.
(b) selalu—tetapi sudah lama terbantahkan bahwa dalam perang dengan Islam, Barat memiliki waktu (pada) sisinya. Dan,
(c) kecanduan pada hal yang tidak bijaksana, tidak perlu, dan intervensi membangkrutkan yang merupakan motivator utama dari gerakan Islam internasional, fenomena yang diayahi dan masih dipelihara oleh Barat yang kemudian disebut "sekutu dan teman-teman", Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dll.
Dengan membentuk dan melaksanakan kebijakan intervensionis kepada setiap negara bangsa di mana ancaman Islam teridentifikasi sehingga perlu ditangani, Washington dan sekutunya, NATO, kehilangan point bahwa musuh utama Islamis mereka –Islamic State (IS) dan al-Qaeda,(1) dan terutama mantan anggotanya– berpikir dengan cara regional lalu kemudian merancang dan melaksanakan kebijakan yang bertujuan untuk membangun basis yang dari sana mereka dapat melakukan perluasan di jalan yang memiliki tujuan akhir untuk mengusir Barat dari dunia Muslim dan menciptakan kesatuan dan negara bagi seluruh dunia Islam atau Khilafah. Apakah negara seperti itu dapat diciptakan atau tidak itu adalah pertanyaan terbuka, tapi untuk saat ini subject ini menjadi ditinggalkan kepada para akademisi untuk perdebatan tanpa henti, teoritis, dan tidak meyakinkan, sehingga meninggalkan hal yang waras untuk mencoba mempertahankan Amerika Serikat.
Yang penting, pada saat ini, terletak pada ketidakmampuan dan ketidakcakapan para pembuat kebijakan AS dan NATO untuk melihat apa yang disusun oleh Daulah Islam (IS) dari perencanaan regional, atau bagaimana perencanaan yang tidak hanya imun tapi terus didorong oleh intervensi Barat di setiap Negara Muslim yang tak kenal kasihan, terus menerus dan tidak menyenangkan mereka – Kecuali, tentu saja, para tirani Muslim peliharaan Barat, yang dilindungi dan disuapi olehnya.
(NB: Ini tidak berarti menjadi alasan bahwa intervensi Pasukan AS-NATO terhadap bangsa multi-Muslim diperlukan. Pertama, bahwa induk dari semua intervensi Barat akan menjadi sekutu tunggal paling kuat bagi tujuan IS menyatukan dunia Sunni. Kedua, militer AS telah haus setelah dua dekade mengalami kalah perang: yang dikebiri oleh hitung-hitungan Obama –untuk menghancurkan– pemotongan anggaran, pengurangan tenaga kerja, dan effeminisasi: dan militer NATO –melindungi Turki– adalah Kecil, kuno, kekurangan dana, dan tidak bisa menghentikan panzer Putin berputar di Champs Elysees tanpa menggunakan senjata nuklir. Satu-satunya pertahanan efektif AS-NATO terhadap Islamis adalah dengan menghentikan semua intervensi, dan membiarkan Sunni, Syi‘ah, dan Israel membereskan perbedaan mereka masing-masing dengan cara membunuh bagaimana saja yang menyenangkan mereka)
Saat ini, para pemimpin IS tampaknya memiliki tiga tempat pijakan regional yang kuat di mana mereka berniat untuk melakukan ekspansi, dan tentu salah satunya sebagai sasaran ekonomi strategis, keempat choke-point maritim, jika ditutup atau bahkan diserang secara sporadis, maka akan mengganggu pasokan minyak dunia dan tentu kemudian ekonominya.
1) Balkan
IS telah menancapkan dirinya dengan sangat kuat ke dalam komunitas Islam Bosnia, Kosovo, dan Albania, dan memiliki kehadiran di setiap negara-negara Balkan lainnya. Dalam upaya ini , IS telah memanfaatkan apa yang sekarang adalah masa-masa kampanye yang panjang, dimulai dari kematian Uni Soviet, di mana Arab Saudi, mitra Teluknya, dan sejumlah NGO(2) mereka telah merubah sejumlah besar penduduk Muslim Balkan dari seorang yang beriman pada umumnya menjadi Muslim yang dididik war-prone (mudah perang) dengan doktrin Salafi dan Wahhabi.
Usaha yang dipimpin Saudi(3) belum membuat Balkan menjadi benteng doktrin mereka, tetapi telah membuat peningkatan jumlah Muslim Balkan yang menjadi Salafi dan Wahhabi. Orang-orang yang telah berubah ini telah menantang –dan dalam beberapa kasus– berhasil menggusur para pemimpin Islam yang lebih moderat, membangun organisasi Islam yang telah menyerang secara sporadis individu, pasukan keamanan, dan bangunan, dan telah mengirimkan aliran relawan –dengan bantuan unit logistik IS di Turki, Yunani, Spanyol, dan Italia– untuk berperang bersama pasukan IS di Suriah dan Irak. Sebagaimana Kehadiran IS di Balkan yang terus tumbuh, dengan melirik peta maka akan terlihat bahwa relatif mudah bagi IS untuk mendapatkan akses yang aman menuju negara-negara Uni Eropa dan melalui negara Eropa Timur ke Rusia.
2) Libya
IS menghadapi perlawanan lokal yang kuat untuk kehadirannya di Libya, tetapi dia merupakan organisasi yang dapat melakukan lebih dari satu hal pada satu waktu. Di saat pejuangnya mempertahankan dan secara perlahan-lahan memperluas wilayah yang dikuasai IS, para pemimpin IS dan administrator lainnya terlibat dalam menciptakan ketertiban dan memperbaiki layanan sosial dan sarana publik di daerah yang mereka pegang, sebuah pola yang sebelumnya juga terlihat di Suriah dan Irak.
IS juga, di samping mulai mengeksploitasi posisi geografis barunya –melalui serangan sukses di Tunisia, dan dukungan kepada organisasi IS di semenanjung Mesir Sinai– juga mempersiapkan ekspansi lebih lanjut dari Libya ke Aljazair, Maroko, Mauritania, dan Sudan. Libya juga memberikan kepada IS akses perbatasan ke Niger dan Chad, yang keduanya akan memfasilitasi kontak langsung dengan sekutu peluasan IS di Nigeria: Boko Haram.
Selain itu, Niger memberikan jalan masuk yang mudah ke Mali di mana Organisasi Islam yang putus asa bisa saja tertarik untuk bekerja sama dengan IS sehingga dapat memperoleh keuntungan dari militer mereka yang sudah dikenal, reputasi untuk sukses, cukup kaya, dan kembalinya para veteran Mujahidin Mali yang telah bertempur bersama IS di Suriah, Irak, dan Libya.
3) Afghanistan
Kehadiran IS di Afghanistan baru berusia satu tahun tapi pejuang mereka dilaporkan telah dikerahkan pada lebih dari setengah dari 34 provinsi di negara tersebut, di dekat ibukota Kabul, di wilayah suku Pakistan, Provinsi Baluchistan, dan kota Karachi. IS jauh dari mendominasi negara, tetapi sedikit aliran dari para pembelot Thaliban Afghanistan dan Pakistan telah menjadi sumber yang kuat sejak kematian pemimpin Thaliban Mullah Omar –yang telah lama disembunyikan– diumumkan pada tanggal 30 Juli 2015 dan pemimpin baru dengan cepat dipilih oleh sejumlah kecil pemimpin Thaliban yang telah ikut membantu menyembunyikan fakta bahwa Omar telah meninggal sejak April 2013.
Strategi IS melihat Afghanistan sebagai kunci untuk perluasan dan penyempurna Khilafah IS, sebagai pemberi aliran pendapatan yang potensial dari negara penghasil heroin(4) dan kekayaan mineral, akses yang mudah menuju Pakistan, menuju India dan Kashmir, serta ke negara-negara Muslim di Asia Tengah, Populasi Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang China, dan basis yang berpotensi untuk menyerang Iran, dan pasti membunuh Syi‘ah, sehingga memaksa Teheran untuk berperang di dua front melawan pasukan IS dan sekutu mereka.
4) Maritim choke-point
Di sinilah proyek strategis paling ambisius, IS saat ini memiliki peluang awal untuk membangun kehadirannya di empat maritim choke-point dunia yang paling penting. Pintu masuk ke Selat Bab el Mandab di ujung selatan Laut Merah terletak di antara IS dan kelompok-kelompok pejuang Islam lainnya yang ingin mengontrol Yaman dan bajak laut –Islamis dan kaya– di Tanduk Afrika; Terusan Suez rentan terhadap cabang IS yang sekarang beroperasi hampir tak tersentuh hukum (impunitas) di semenanjung Sinai Mesir; Selat Malaka, yang membentang sepanjang tepian Provinsi Aceh yang didominasi oleh Islam di Indonesia; pemerintah Jakarta mengklaim adanya kehadiran IS dan berkembang dengan cepat di daerah itu; dan Selat Gibraltar, yang telah lama menjadi target Al-Qaeda dan sekarang dikepung di sebelah selatan oleh kekuatan IS yang terus tumbuh dan mencapai Maroko; dan di sebelah utara dengan lebih dari cukup IS hadir di selatan Eropa dan bala bantuannya datang dari para pejuang IS yang beragam berasal dari massa imigran ilegal yang memasuki Eropa melalui laut dari Afrika Utara.
Ringkasan di atas menjelaskan akan harga yang pasti dari setengah abad intervensi AS dalam budaya, politik, ekonomi, dan militer, baik secara sepihak atau dengan pengikut NATO -nya. Dan ringkasan ini tidak termasuk pijakan IS yang masih dalam pengembangan di Kaukasus Utara dan Yaman, yang dalam waktu sama memungkinkan bagi IS untuk melakukan ekspansi ke Rusia dan ke Arab Saudi dan Negara-negara Sunni Teluk lainnya.
Dalam menghadapi ekspansi penting IS secara geografis dan pasukan, pemimpin AS di kedua belah pihak telah mempertahankan sebuah pendekatan yang berdasarkan hukum dan ketertiban dengan mujahidin dan telah meremehkan –bila tidak disebut mengabaikan– kemampuan IS, motivasi dan niat mereka, dan perang agama yang mereka kobarkan. Mereka juga telah menghabiskan setahun terakhir ini dengan membuang-buang waktu mengeluh tentang pemenggalan yang dilakukan IS, tentang senjata nuklir Iran yang tidak bisa dicegah untuk diraih(5), dan memicu perang di Eropa karena membantu pemerintah Ukraina yang tidak dapat mempertahankan diri dan sanksi sia-sia rezim Rusia yang tidak akan dapat mengembalikan Crimea dan sehingga kita tahu bahwa istilah "macan kertas" tidak pernah lebih pantas untuk diberikan selain kepada Amerika Serikat dan NATO.
Ketika saatnya tiba –dan itu pasti akan tiba– bagi para pemimpin AS untuk melihat di dalam lemari dan menemukan alat yang bisa mengakhiri ancaman IS, mereka akan menemukannya dalam keadaan kosong. Dengan dua kekalahan perang yang disengaja, sebuah militer yang rusak, sebuah elit pemerintahan dan presiden yang tidak terikat dengan realitas, anggaran yang bangkrut, sistem politik yang rusak oleh warga AS yang menjadi agen-agen dari kekuatan asing, sekutu tidak berguna Eropa berikutnya, sebuah dunia Barat yang lebih menyukai kematiannya sendiri daripada menyembelih musuhnya, dan musuh Islamis yang jauh lebih pintar dan lebih berbakat, kemudian ini diberikan sebagai kredit kepada elit pemerintahan AS yang hanya akan memiliki satu pilihan. Berubah dari lemari kosong, jiwa-jiwa miskin ini akan tahu apa fikiran orang-orang Amerika yang bersih dari pendidikan Ivy League yang telah dikenal selama ini. Yaitu, bahwa sekaranglah saatnya untuk menempatkan Amerika seperti dahulu dan mengembalikan warisan kebijakan luar negeri Jenderal Washington dengan segera menyatakan berakhirnya intervensi AS, penghentian dukungan untuk semua negara dan kelompok di Timur Tengah, penarikan AS dari NATO, dan mengembalikan Kebijakan keamanan nasional Amerika yang paling efektif – netralitas yang ketat(6). Dan saat melakukan hal ini, kita semua bisa berharap –mungkin dengan optimisme yang salah tempat,– semoga itu tidak terlambat.
Catatan kaki :
1. Catatan Editor: Al-Qa'idah telah menjadi perisai Media dan dalam beberapa kasus menjadi senjata militer dari Shahawat yang didukung Thaghut di Syam, Libya, Yaman, dan Khurasan. Setelah Zhawahiri memerintahkan al-Qa'idah di Aljazair untuk menghentikan semua serangan melawan rezim murtad terutama pasca-revolusi Dunia Arab, dia memerintahkan al-Qa'idah di Suriah untuk meyakinkan Barat bahwa Amerika dan Eropa tidak akan menjadi sasaran mereka, dan dirinya berbai‘at kepada Akhtar Mansur, yang mendukung rekonsiliasi nasional dengan Rezim Murtad Afghan dan normalisasi dengan seluruh tentara salib, musyrik, atheis, dan dunia murtad, sehingga tentara salib Amerika dapat yakin, perang utama al-Qa'idah sekarang adalah terhadap Daulah Islam (IS).
2. Catatan Editor: Para thaghut Alu Salul dan sekutu mereka bekerja sama untuk menggambarkan diri mereka sebagai penjaga Islam dan kaum Muslimin, ketika dalam kenyataannya mereka menyebarkan penyimpangan, perbuatan keji, dan bahkan sodomi melalui "Rotana Group" mereka dan hiburan mereka yang lain dan religius outlet, terlebih secara fakta mereka memerintah dengan hukum buatan manusia baik internasional dan domestik serta mendukung orang-orang Yahudi dan Kristen memerangi Islam dan kaum Muslimin. Dukungan lemah dan munafik mereka terhadap "dakwah" –dalam banyak kasus– seolah menjadi bumerang bagi mereka dan menyebabkan orang mempelajari Al-Qur'an dan Sunnah, mengadopsi tauhid dan syari'at, dan menyatakan takfir dan jihad melawan Pasukan dan agen dari Alu Salul.
3. Lihat footnote sebelumnya.
4. Catatan Editor: Kepemimpinan Daulah Islam di Wilayah Khurasan telah menjadi musibah paling parah bagi para petani opium Pakistan dan Afghanistan –perkebunan dan tanaman opium dibakar– karena produksi opium adalah termasuk amal perbuatan yang paling buruk, bahkan dia termasuk sumber pendapat yang baling buruk. Thaliban pimpinan Akhtar, bagaimanapun, menganggap orang-orang yang membakar tanaman opium sebagai "Khawarij" yang telah menghancurkan "kekayaan" kaum Muslimin dan menghancurkan pendapatan "zakat"!
5. Catatan Editor: Kaum murtad Rafidhah Iran harus berterima kasih kepada tentara salib Amerika karena telah memberikan kepada mereka kondisi dan sumber daya yang dibutuhkan untuk memfasilitasi pengembangan program nuklir mereka menjadi senjata nuklir untuk digunakan melawan Ahlus Sunnah, apalagi fakta bahwa jet salibis –dalam rangka membela Iran dan milisi Rafidhahnya– menyerang Mujahidin di Irak dan Syam.
6. Catatan Editor: Bagaimana pun, satu-satunya solusi lengkap untuk perang Amerika terhadap Islam adalah dengan Amerika menerima Islam atau dengan membayar jizyah. Jika tidak, maka bisa dengan mengakui kekalahan dan menerima solusi parsial dengan mematuhi gencatan senjata sementara dengan ketentuan yang sesuai dengan syari'at.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar