Rabu, 25 April 2018

WAWANCARA BERSAMA SYAIKH ABUL MUGHIRAH AL-QAHTHANI, WALI WILAYAH LIBYA

DABIQ 11 - WAWANCARA

WAWANCARA BERSAMA SYAIKH ABUL MUGHIRAH AL-QAHTHANI,
WALI WILAYAH LIBYA

Pada bulan ini, Dabiq mendapatkan kesempatan untuk melayangkan beberapa pertanyaan kepada amir yang diutus oleh Khilafah untuk Wilayah Libya – Abul Mughirah al-Qahthani (hafizhahullah). Kami menyajikan dalam tanya jawab berikut ini.

Dabiq: Bagaimana situasi pertempuran di Daulah Islam Wilayah Libya?

Abul Mughirah: Situasi pertempuran di Wilayah Libya adalah salah satu pertempuran terhadap kaum musyrikin secara kaaffah (total) sebagaimana mereka memerangi kami secara kaaffah. Situasi militer di Libya berbeda dari satu daerah ke daerah lain, tergantung pada jumlah tentara Khilafah dan jenis musuh, di tambah komposisi sosial dan geografi yang beragam di berbagai daerah. Hal ini juga tergantung pada konflik dan koalisi yang terbentuk di barisan kaum murtad itu sendiri. "Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah." (Al-Hasyr: 14). Tapi kami meyakinkan kembali kepada umat Islam di timur dan di barat bumi bahwa Libya tidak akan diatur kecuali dengan syari'at Allah dan bahwa Daulah Islam dengan rahmat Allah akan membuka jalan dengan cepat menuju tamkin dan ekspansi. Daulah Islam memiliki operasi militer dan keamanan di Tharablus, Misratah, Tubruq, al-Baida', Sabratah, dan Ajdabiya. Daulah Islam berhasil mendapatkan sebagian kontrol atas lingkungan di Darnah dan Benghazi sebagai tambahan dari otoritas penuh atas wilayah pesisir yang membentang dari Buqarin ke Binjawad, yang mencakup sejumlah kota dan daerah, yang paling penting adalah Sirte, al-'Amirah, Harawah, Umm Qindil, dan an-Naufaliyah.

Dabiq: Bagaimana situasi kelompok murtad "Fajar Libya"?

Abul Mughirah: "Fajar Libya" adalah sayap resmi militer milik "General National Congress" pemerintahan demokratis (dengan balutan "Islam") yang diwakili oleh "Ikhwanul Muslimin" dan "Jama‘ah Islamiyah Muqatilah" yang dipimpin oleh Abdelhakim Belhadj. Pasukan murtad ini berperang melawan agama Allah dengan meninggalkan hukum syari'at dan menggantinya dengan hukum buatan manusia selain juga berperang melawan orang-orang ahlut-tauhid, menyeret mereka ke penjara, dan menyerahkan mereka ke tentara salib. Karena perang mereka melawan agama Allah dan para wali-Nya, Daulah Islam bangkit untuk mengusir serangan mereka terhadap kaum Muslimin dan untuk menegakkan syari'at, menyebarkan keadilan, dan melindungi tahanan dari bahaya. Mereka akan terus menjadi sasaran pedang kami, yang kami tidak akan menahan diri sampai mereka bertobat dari kekufuran mereka dan wala mereka kepada musuh-musuh Allah dari kalangan tentara salib dan sekularis.

Dabiq: Bagaimana situasi dengan Thaghut Haftar?

Abul Mughirah: Kami memiliki sejumlah front melawan Thaghut Haftar, yang merupakan kepala tentara Libya di bawah pemerintahan Tubruq di Libya Timur. Daulah Islam memerangi tentara murtad Libya di sejumlah lokasi di dekat kota Benghazi, yang terpenting adalah kota as-Sabiri dan al-Laitsi. Daulah Islam juga Prajurit Khilafah mengambil alih kendali di wilayah pantai timur kota Darnah memiliki beberapa front melawan mereka dekat Darnah, yang paling penting adalah kota Martubah dan Nawwar. Daulah Islam juga menargetkan lokasi mereka di kota Ajdabiya. Pasukan sekuler Haftar adalah target tentara Khilafah di mana saja para pasukan ini mungkin beristirahat. Kami tidak akan kendur dalam memerangi mereka sampai tidak ada lagi fitnah dan agama hanya milik Allah semata.

Dabiq: Bagaimana situasi dengan kaum Murtad dari "Majlis Syura Darnah"? Dan bagaimana itu semua dimulai? Dan bagaimana sejarah mereka dari sisi Islam atau kufur?

Abul Mughirah: Dewan ini terdiri dari dua elemen utama: "Brigade Martir Abu Salim" dan "Jama'ah Muqatilah Libya", adapun "Jama'ah Muqatilah Libya" maka kekufuran mereka jelas karena ikut serta dalam pemerintahan Tharablus dan proses demokrasi di bawah kepemimpinan Abdelhakim Belhadj. Adapun "Brigade Martir Abu Salim", maka itu adalah brigade yang dulunya Salafi. Sebagian besar tentara Daulah Islam di Darnah berasal dari pendiri brigade itu. Mereka meninggalkan brigade ini setelah jatuh ke dalam sejumlah pembatal keislaman, yang paling terkenal adalah operasi mereka sebagai bagian dari Kementerian Dalam Negeri yang dikenal sebagai "Komite Keamanan". Selain itu mereka juga memberikan pelayanan keamanan kepada Thaghut Musthafa Abdul Jalil, Ketua Dewan Transisi Nasional, ketika ia mengunjungi Darnah dan mengajak kepada demokrasi. Sejak itu, orang-orang yang memiliki manhaj yang lurus mulai meninggalkan brigade. Mereka bahkan membunuh pemimpin brigade itu yang memimpin kepada kekufuran yang dalam. Semua ini sebelum ekspansi resmi Daulah Islam ke Libya. Setelah Allah memberkahi dengan ekspansi Daulah ke Libya dan sebagian besar kelompok di Darnah melakukan bai'at kepadanya, Brigade Abu Salim meminta lawan-lawannya dari kelompok lain untuk merujuk kepada pengadilan Daulah Islam untuk sebuah resolusi. Setelah mempelajari kondisi Brigade dan apa yang mereka telah jatuh ke dalamnya, pengadilan Daulah Islam memutuskan bahwa brigade ini telah murtad dan mengajak para individunya agar bertaubat. Sejumlah anggota dan pemimpinnya bertaubat sedangkan sisanya berkumpul bersama-sama dengan "Jama'ah Muqatilah Libya" untuk membentuk apa yang mereka sebut "Majlis Syura Darnah."

Dabiq: Bagaimana situasi dengan Anshar asy-Syari'ah?

Abul Mughirah: Banyak pemimpin dan tentara Anshar Asy-Syari'ah termasuk kelompok pertama yang memberikan bai'at kepada Daulah Islam di Libya. Kelompok ini terus memiliki orang-orang yang ingin menerapkan syari'at meskipun kelompok ini telah melalaikan kewajiban yang terlupakan di zaman ini dan untuk mengutamakan persatuan daripada perpecahan, yang paling jelas terlihat dalam hal ini adalah kurangnya bai'at mereka kepada Khalifah dan bergabungnya mereka dengan gerakan "revolusioner" yang memiliki hubungan dengan rezim murtad Tharablus di beberapa daerah serta penerimaan bantuan mencurigakan dari tangan-tangan kotor di daerah lain. Ia juga memiliki sikap yang bertentangan dari daerah satu ke daerah lainnya karena orientasi yang berbeda para pemimpin dan keberpihakan tentaranya. Beberapa sikap kontradiktif juga disebabkan karena kedekatan beberapa pemimpin mereka dengan orang-orang "al-Qa'idah di Maghrib Islam" yang ada di Libya.

Dabiq: Bagaimana situasi di wilayah Libya sehubungan dengan administrasi pemerintahan?

Abul Mughirah: Di Libya, Daulah Islam masih berusia cukup muda untuk menjalankan misinya di mana kehadirannya di sana belum genap satu tahun. Daulah Islam, misalnya, mampu memerintahkan para prajurit Khilafah untuk mengambil kendali pantai timur kota Darnah dengan syari'at meskipun terdapat rintangan dan tantangan dari partai-partai menyimpang dan juga faksi-faksi yang terpecah-pecah yang enggan untuk memberikan bai'at kepada Khilafah. Hasil dari menegakkan hukum syari'at baik kepada orang yang kuat maupun orang yang lemah dan membuka pertaubatan kepada orang-orang murtad bersama dengan kehadiran berbagai faksi sesat dan yang terpecah-pecah di wilayah tersebut menyebabkan Daulah Islam diperangi oleh partai-partai ini secara total dan mengumumkan perang mereka terhadapnya. Di kota-kota dan daerah yang dikontrolnya, Daulah Islam telah meletakkan pondasi yang tepat. Ia tahu bahwa pembentukan agama dan pelaksanaan Syari'ah tidak akan dapat dicapai dengan kehadiran kelompok menyimpang dan terpecah-pecah, organisasi, dan partai di dalam wilayahnya. "Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya" (Asy-Syura: 13). Sehingga dia bekerja untuk membersihkan wilayah dari ancaman ini sembari tetap melaksanakan syari'at.

Dabiq: Bagaimanakah kisah tentang apa yang terjadi di Darnah?

Abul Mughirah: Pengkhianatan Shahawat di Darnah adalah karena perbedaan agama, perselisihan manhaj, dan arogansi beberapa pemimpin "revolusioner" yang terdapat di Darnah. Daulah Islam telah membuat mereka sakit hati dengan manhajnya yang murni dan jalan yang jelas. Dia mampu meraih dalam satu bulan apa yang mereka tidak mampu raih dalam tiga tahun yang telah lalu. Secara terbuka dia menyatakan kufur kepada orang-orang murtad dan mengajak mereka untuk bertaubat, termasuk Brigade Abu Salim. Kata-kata kebenaran dan melantangkannya telah membuat mereka marah. Juga menghapus kejahatan, memerintahkan kebaikan (amar ma'ruf) dan mencegah kemungkaran (nahi munkar). Maka mereka pun memulai langkah kotor mereka dan membuat makar pengkhianatan. Mereka berkoordinasi dengan kelompok murtad "Jama‘ah Muqatilah Libya" untuk membuat formasi yang mereka namakan "Majlis Syura Darnah". Mereka juga secara diam-diam mengambil lokasi penting di dalam kota sebagai persiapan untuk menyerang Daulah Islam. Mereka berusaha untuk membuat-buat masalah sehingga bisa menjadi alasan untuk menyerang Daulah Islam. Awal pengkhianatan mereka adalah ketika mereka menyerang dua pos pemeriksaan dekat pintu masuk ke kota sebelah barat dan timur. Mereka mengepung bangunan pengadilan Islam, hanya karena alasan-alasan yang remeh. "Dan bahwa Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat." (Yusuf: 52). Daulah Islam kemudian menarik diri dari pusat kota Darnah di awal pertempuran dan membuat pintu masuk sebelah timur kota (wilayah al-Fata'ih) sebagai tempat peluncuran operasi terhadap Shahawat ini. Setelah itu, "Majlis Syura Darnah" mengumumkan peluncuran "Pertempuran Nahrawan" untuk mengambil daerah al-Fata'ih dengan bantuan pasukan yang disebut "Syuhada' al-Jabal", milik tentara Haftar Libya. Daulah Islam terus maju menuju pusat kota Darnah. Dalam beberapa hari terakhir, dia berhasil merebut kembali wilayah di sisi pantai timur Darnah. Segala puji bagi Allah. Dan pertempuran itu masih terus berjalan.

Dabiq: Bagaimankah kisah tentang apa yang terjadi di Sirte?

Abul Mughirah: Adapun Sirte, maka kisah tentang pengkhianatan itu tidak begitu banyak, tetapi bahwa Daulah Islam telah mengusai kota tersebut belum lama ini dan ketika itu masih terdapat kantung-kantung milik pendukung Thaghut Haftar dan juga milik pendukung Thaghut Qaddafi, karena mereka menganggap Sirte tempat kelahirannya. Ada juga perlawanan dari beberapa Madkhali Murji'ah, yang mengangkat senjata melawan Daulah Islam. Penghancuran kantung-kantung perlawanan telah berhasil, senjata dan kekayaan mereka diambil sebagai rampasan perang (ghanimah). Pertobatan dari orang-orang yang bertobat juga diakui. Segala puji bagi Allah.

Dabiq: Apa jenis kebutuhan yang sangat diperlukan oleh Wilayah Libya dari segi personil (ulama, dokter, insinyur, pejuang, dll)?

Abul Mughirah: Daulah Islam di sini, di Libya masih cukup muda. Sehingga sangat membutuhkan setiap muslim yang bisa datang, terutama tenaga medis, syar'i, dan tenaga administrasi, selain juga para pejuang.

Dabiq: Seberapa penting Wilayah Libya bagi masa depan Khilafah dan Umat Islam dan perang melawan tentara salib dan kaum murtad?

Abul Mughirah: Libya memiliki nilai yang sangat penting bagi Umat Muslim karena dia berada di Afrika dan selatan Eropa. Dia juga memiliki sumber daya yang tidak pernah kering. Semua kaum Muslimin memiliki hak dari sumber daya tersebut. Dia juga gerbang ke padang pasir Afrika yang membentang ke beberapa negara-negara Afrika. Hal ini penting untuk dicatat bahwa sumber daya Libya menjadi perhatian kafir Barat karena ketergantungan mereka pada Libya selama beberapa tahun terutama berkaitan dengan minyak dan gas. Kontrol Daulah Islam atas wilayah ini akan menyebabkan kerusakan ekonomi terutama bagi Italia dan negara-negara Eropa lainnya.

Dabiq: Kami telah melihat pesan dari ikhwah anshar kami di Libya yang mengundang umat Islam di seluruh dunia untuk melakukan hijrah menuju Wilayah Libya. Dari Wilayah manakah kebanyakan para muhajirin ini datang?

Abul Mughirah: Segala puji bagi Allah. Muhajirin datang dari semua tempat menuju Daulah Islam terutama dari Afrika, Maghrib Islami, Mesir, dan Semenanjung Arab dan terkadang dari negara-negara Barat.

Dabiq: Apakah ada kesulitan yang terjadi dalam melakukan hijrah ke Libya?

Abul Mughirah: Tidak ada pahala tanpa kesulitan, terlebih ketika datang menuju jihad dan hijrah. Tetapi ini mudah bagi mereka yang Allah mudahkan. Mereka yang telah memutuskan untuk melakukan hijrah harus memurnikan niat mereka, bertawakkal kepada Allah, dan berdoa sebanyak-banyaknya. Mereka harus ingat bahwa meskipun banyak kesulitan dalam hijrah, "Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (An-Nisa' : 100).

Dabiq: Apa nasihatmu untuk kaum Muslimin yang ingin melakukan hijrah ke Libya?

Abul Mughirah: Kami mulai nasihat bagi kaum Muslimin secara umum untuk berlaku Zuhud terhadap dunia dan kesenangannya. Sudah sepantasnya bagi mereka untuk tidak condong atau berat terhadap Bumi. Mereka harus menjadi Anshar Allah, melakukan hijrah, dan menyerang musuh-musuh Allah. Para pendukung agama harus tahu, bahwa "Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak." (An-Nisa': 100). Kami menyeru mengajak mereka untuk bergerak maju dan mendorong mereka untuk mendukung kami.

Dabiq: Apa nasihatmu bagi kaum Muhajirin secara umum, dan untuk Muhajirin di Libya pada khususnya?

Abul Mughirah: Nasihatku kepada Muhajirin secara umum adalah hendaknya mereka tidak menjadi bangga (ujub) dengan hijrah mereka atau menganggap jihad mereka sesuatu yang hebat yang telah mereka lakukan untuk Allah. Mereka harus mengikhlaskan niat mereka, karena ada orang-orang yang melakukan hijrah kepada Nabi shalallahu alaihi wa sallam demi dunia dan ada juga karena untuk menikahi seorang wanita, sebagaimana seorang laki-laki yang dikenal dengan "Muhajir Ummu Qhais". Karena itu kami seru engkau, saudara kami, untuk melakukan hijrah hanya karena Allah dan demi menolong agama-Nya. Jalanmu akan terhalangi oleh kesulitan dan hambatan yang besar. Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya dan kenyamanan tidak dapat dicapai dengan kenyamanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar