RUMIYAH 8 - SYUHADA
SYAIKH ABU SULAIMAN ASY-SYAMI (ABU MAISARAH ASY-SYAMI)
Tidak ada gunanya seorang alim yang menyembunyikan ilmunya. Tidak berani lantang menyuarakan kebenaran dan tidak pula menyeru kepadanya. Tidak ada gunanya juga orang yang amalnya tidak selaras dengan ilmunya. Seorang alim rabbani adalah orang yang mengambil ilmu dengan haknya, ikhlas karena Allah, berbicara dengan ilmu lagi mengamalkannya. Alangkah sedikitnya mereka saat ini. Zaman ketika ilmu hanya disimpan dalam dada, diperdagangkan di bawah kaki thaghut, dan dengannya dicari siapa yang paling banyak pengikut dan muridnya.
Abu Sulaiman asy-Syami taqabbalahullah. Seorang penuntut ilmu dan ulama yang langka. Iman yang dikenalnya adalah iman yang didasari ilmu, maka dicarinya ilmu guna meluruskan imannya. Ia mengetahui fikih, suatu kebaikan yang dianugerahkan-Nya kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Ia berusaha mendapatkan kebaikan tersebut dengan memperbanyak amal shalih. Ia meyakini bahwa zakatnya ilmu adalah dengan menyampaikannya kepada manusia, maka ia berupaya keras melakukannya baik dengan pena maupun lisannya sesuai kemampuan. Ia takut jika termasuk orang yang berkata tanpa amal, maka ia berupaya keras untuk meraih apa yang telah diserukannya kepada manusia. Hingga akhir hayatnya sesuai dengan yang diharapkannya, yaitu terbunuh di jalan Allah di barisan terdepan. Demikian kami mengiranya, dan kami tidak mensucikan seorang pun dihadapan Allah.
Perjalanan Mencari Ahlul Haq
Beliau tidak terperdaya oleh dunia dan perhiasannya, tidak terbelenggu oleh ijazah pendidikan dan gemerlapnya. Istri, harta, dan anak tidak mampu memfitnah agamanya. Ia meletakkan semua itu dibelakang punggungnya ketika mengenal tauhid. Beliau tahu bahwa jihad fisabilillah adalah bukti kuat wala-nya terhadap kaum muslimin dan baro-nya dari kaum musyrikin. Meski ia lahir di tengah-tengah mereka, dan menghabiskan masa kecil serta masa mudanya.
Ia menyelesaikan sekolah ilmu komputer di salah satu universitas Massachusetts di Negara Boston dan lulus sebagai insinyur programmer. Lalu ia bertekad untuk berangkat fisabilillah bersama beberapa sahabatnya. Mereka keluar berhijrah tanpa melakukan koordinasi atau persiapan yang memadai untuk bergabung dengan para mujahidin. Mereka berkeliling di Yaman, Pakistan, dan Irak dengan harapan bisa bertemu dengan orang yang akan menghubungkan mereka dengan mujahidin. Ketika mereka pesimis untuk menemukan jalan, dan karena khawatir terendus oleh intelijen, akhirnya mereka kembali ke Amerika dengan tetap berdoa kepada Allah azza wa jalla agar memberikan petunjuk kepada mereka.
Tidak lama kemudian, mereka berniat untuk menjadikan bumi Amerika sebagai medan jihad dan istisyhad. Bersama dua orang temannya beliau menyusun rencana untuk melakukan operasi mentarget Amerika di jantung negerinya sendiri. Strategi yang direncanakan adalah merampas senjata dari tangan salibis, lalu melakukan serangan sporadis agar berhasil membunuh banyak korban di barisan kaum musyrikin. Akan tetapi jika Allah menghendaki sesuatu hal maka pasti terjadi. Rencana mereka terbongkar beberapa hari sebelum pelaksanaan operasi. Tetapi Allah masih menyelamatkannya dari penangkapan. Ia berhasil lebih dahulu keluar dari Amerika sebelum pihak intelijen mengendus informasi tentang dirinya dan mengumumkan pencekalan dan penangkapan beliau di semua perbatasan maupun bandara.
Ia kembali ke tanah tumpah darahnya di Syam. Ia tinggal di sana selama beberapa tahun menunggu saat yang tepat. Beliau menghabiskan waktunya di kota Aleppo sambil menuntut ilmu dan menyeru keluarga dan para rekannya kepada tauhid. Ia selalu berhati-hati dari pantauan intelijen dan menghindari bermajlis dengan para ulama durjana yang loyal kepada thaghut. Amerika menetapkannya sebagai DPO interpol dan membanderol kepalanya seharga puluhan ribu dollar.
Sampai di Daulah Islamiyah
Bersamaan dengan permulaan jihad di Syam, ia keluar mencari ahli tauhid diantara faksi-faksi perlawanan. Ia bergabung dengan salah satu faksi hingga terluka pada pertempuran melawan Nushairiyah di salah satu distrik kota Allepo. Ketika didengarnya prajurit Daulah Islamiyah telah sampai di Syam, yang ketika itu beroperasi dengan nama Jabhah Nushrah li ahli Syam, ia pun bergabung dengan mereka. Ditemuinya para petinggi Jabhah, yang sepengetahuannya mereka adalah prajurit Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi amir Daulah Islamiyah Irak ketika itu. Ia meminta mereka untuk memindahkannya ke Irak namun mereka menolak. Lalu ia mendesak agar diizinkan untuk melakukan amaliyah istisyhadiyah atas Nushairiyah, namun juga ditangguhkan. Akhirnya dimanfaatkan waktunya untuk mengajarkan tauhid kepada mujahidin yang bersamanya dan ikut ribath bersama mereka di front-front kota Aleppo. Ia juga turut serta menyerbu posisi-posisi Nushairiyah dalam berbagai operasi. Hingga terjadilah fitnah pengkhianatan Jaulani. Sehingga jelaslah baginya apa yang sebenarnya ditutup-tutupi dan disembunyikan oleh petinggi Jabhah.
Pengkhianatan mereka atas Daulah Islamiyah dan tindakan mereka membatalkan bai’atnya atas Amirul Mukminin Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahullah dingkarinya dengan tegas. Dibongkarnya konspirasi itu. Kepada para prajurit lain diungkapkannya bahwa hakikatnya Jabhah hanyalah kepanjangan tangan dari Daulah Islamiyah dan mereka adalah prajurit Amirul Mukminin. Mereka tidak boleh memberontak atau membatalkan baiat selama tidak terbukti adanya kekafiran yang nyata. Para pengkhianat pun merasa terjepit, dan berupaya dengan cara apapun untuk menyingkirkannya. Mereka lalu teringat desakannya tempo dulu agar diizinkan untuk melakukan operasi istisyhadiyah. Lalu mereka menawarkan kembali dan berupaya untuk meyakinkan beliau agar melakukan operasi. Disadarinya niat busuk dibalik rencana mereka itu. Maka ia mengumumkan bahwa dirinya telah berlepas diri dari mereka. Beliau keluar dari barisan mereka untuk memperbarui baiatnya kepada Amirul Mukminin dan kembali menjadi salah satu prajuritnya.
Jiwa Tak Akan Mati Sampai Dipenuhi Ajal dan Rizkinya
Di bawah panji Daulah Islamiyah Irak dan Syam, Syaikh Ahmad Abdul Badi’ Abu Samrah (nama aslinya) bertugas layaknya prajurit umumnya. Tidak berlagak dengan ilmunya, dan tidak pula dengan gelarnya. Ia berpindah-pindah dari satu front ke front lainnya. Sekali lagi ia mendaftar dalam kafilah Istisyhadi. Ia terus mendesak komandannya untuk mengizinkannya melaksanakan operasi. Hingga akhirnya ditemukanlah target yang pas, yaitu konsentrasi besar anshar thaghut Bashar di daerah kontrol rezim Nushairi di jantung kota Halab. Strategi eksekusi yang dirancang adalah menyusup ke tengah konsentrasi pasukan itu lalu meledakkan sabuk peledak yang dikenakannya untuk mencerai-beraikan murtaddin. Namun jiwa tidak akan mati sampai dipenuhi ajal dan rizkinya. Allah menakdirkannya bertemu dengan Syaikh Abu Muhammad al-Furqan. Beliau lalu mengenalnya lebih dalam. Syaikh pun memerintahkannya membatalkan operasi yang telah direncanakan, diganti dengan ikhwah lain. Syaikh akhirnya memutuskan untuk memasukkan beliau dalam Departemen Media Daulah Islamiyah. Beliau saat itu sedang berusaha memperkuat sendi-sendinya, memperluas bidang garapannya, dan menarik kader-kader yang mumpuni dari segi ilmu dan seni agar mampu mengemban tugas tersebut.
Tempat Pertemuan Adalah Dabiq
Awal aktivitas Abu Sulaiman al-Halabi (kunyah yang digunakan dalam tugasnya dan dikenal di kalangan mujahidin) dalam Departemen Media adalah bertugas bersama tim bahasa non Arab. Tim ini dibentuk dan diatur oleh Syaikh Abu Muhammad al-Furqan guna meluncurkan program dakwah yang bertujuan memperkenalkan Daulah Islamiyah kepada kaum muslimin di seluruh penjuru dunia dan memotivasi mereka agar berhijrah. Untuk itu berbagai macam rilisan mulai diluncurkan oleh al-Hayat Media Center yang didirikan khusus demi tujuan ini.
Bersama koleganya ia sangat bersungguh-sungguh menerjemahkan berbagai materi dari dan ke bahasa Inggris. Kemudian muncul ide untuk merilis majalah yang ditujukan kepada native speaker-nya. Ide ini semakin matang setelah Buletin Laporan IS (IS Report) mengalami kesuksesan. Syaikh Abu Muhammad memutuskan untuk merubah proyek ini menjadi majalah rutin, yang –atas karunia Allah– mengalami kesuksesan luar biasa dan mendunia, yaitu majalah Dabiq yang berbarokah itu. Di saat yang sama bakat tulis menulis Syaikh Abu Sulaiman mulai tampak dan kemampuan intelektualnya muncul. Cahaya ilmu syar’i memancar dari tulisan dan ucapannya. Syaikh Abu Muhammad terus membimbing dan mengawasinya. Potensi yang ada pada dirinya betul-betul dimaksimalkan untuk menolong Dienullah, dan ia adalah prajuritnya yang taat, yang tidak membangkang dalam hal yang makruf, tidak mendahuluinya dalam keutamaan, dan tidak pelit untuk berpendapat.
Demikianlah majalah Dabiq dirilis, nama yang sengaja dipilih oleh Syaikh Abu Muhammad untuk menyinggung Romawi Salibis. Memperingatkan mereka tentang nasibnya yang pasti –dengan izin Allah– sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Juga mengingatkan mujahidin tentang janji Syaikh Abu Mus’ab az-Zarqawi rahimahullah bahwa percikan api perang yang berasal dari Irak –dengan izin Allah– tidak akan padam sampai membakar pasukan salibis di Dabiq. Syaikh Abu Sulaiman asy-Syami diserahi tanggung jawab sebagai dewan redaksinya.
Beberapa artikel tulisannya pernah dimuat di majalah itu. Ia juga bertugas mengoreksi tulisan-tulisan redaktur lainnya, dan meneliti terjemahan-terjemahan materi yang akan diterbitkan. Ia berupaya keras melaksanakan tugas yang menyita waktu itu. Syaikh Abu Muhammad selalu mengawasi mereka melaksanakan tugas-tugasnya itu. Beliau berupaya keras agar majalah ini tampil dengan sebaik-baiknya sehingga pesan-pesan Daulah Islamiyah tersampaikan dengan tampilan yang paling menakjubkan. Oleh karena itu, dalam persoalan redaksional dan bahkan desain pun beliau membimbing dan mengoreksi mereka bersama dengan Syaikh Abu Sulaiman. Hingga akhirnya dengan takdir Allah majalah ini sukses, dan pesan-pesan yang dirilisnya menjadi buah bibir media.
Kemudian proyek ini diperlebar agar majalah ini bisa terbit dengan bahasa lainnya. Maka munculah majalah al-Manba’ (berbahasa Rusia), Konstantiniye (berbahasa Turki), dan Darul Islam (berbahasa Perancis). Di saat yang sama Al-Hayat Media Center juga semakin memperlebar sayapnya. Berbagai macam rilisan diterbitkannya. Aktivitas terjemah rilisan berbahasa Arab ke berbagai macam bahasa dunia sangat aktif, sampai-sampai hampir tidak ada suatu kaum di bumi ini kecuali telah sampai kepada mereka rilisan-rilisan Daulah Islamiyah dengan bahasa mereka.
Abu Maisarah Asy-Syami
Disamping tanggung jawab Abu Sulaiman sebagai dewan redaksi majalah Dabiq dan penanggung jawab semua tim bahasa non Arab, Syaikh Abu Muhammad taqabbalahullah amat mengandalkannya dalam penyusunan artikel-artikel yang menjelaskan manhaj Daulah Islamiyah dan membongkar kedok musuh-musuh-nya. Hal itu karena kesibukan Syaikh dengan urusan-urusan Departemen secara umum, dan tanggung jawabnya terhadap tugas yang dibebankan oleh Amirul Mukminin hafizhahullah. Beliau meminta Abu Sulaiman untuk menuangkan ide-idenya dalam bentuk artikel, karena beliau percaya dengan kepiawaian bahasanya, bakat tulis-menulisnya, dan ilmu syar’inya yang mapan, serta pemahamannya terhadap manhaj Daulah Islamiyah. Dalam tulisannya Abu Sulaiman menggunakan nama samaran Abu Maisarah Asy-Syami di bawah bimbingan dan pengawasan Syaikh Abu Muhammad.
Demikianlah kunyah ini terkenal. Pukulan demi pukulan telak menghantam shahawat murtad dan para ulama durjananya. Satu demi satu dibongkarnya kedok faksi-faksi sesat pengaku Islam dan petinggi-petingginya pengekor hawa nafsu. Disingkapnya jati diri sebenarnya para figur yang disembah manusia selain Allah. Hinggga jadilah nama Abu Maisarah Asy-Syami sumber kegundahan faksi-faksi Shahawat dan simpatisannya, khususnya ulama durjana yang membela kaum musyrikin. Mereka selalu mengeluhkannya lantaran tak sanggup membantah artikel-artikel tersebut. Mereka selalu berusaha mencari tahu jati dirinya. Mereka selalu mengadukan perihalnya kepada siapapun yang bisa membantu mereka, namun tanpa hasil informasi apapun. Ia berusaha keras untuk selalu menyembunyikan tulisan-tulisan dan amalannya karena khawatir akan riya, menghindari sum’ah, dan tidak ingin terkenal.
Abu Sulaiman taqabbalahullah sangat pecemburu terhadap dien, mudah marah karena Allah, dan sangat membenci ulama-ulama durjana. Khususnya klaimer tauhid dan sunnah, dan utamanya lagi para masyaikh shahawat dan ideolognya. Pada tiap kesempatan ia selalu memperingatkan manusia dari mereka, dan membeberkan semua tingkah picik dan sikap hina mereka. Kolega dan amirnya selalu dimotivasinya untuk membunuh dan memutus fitnah mereka. Ia bahkan menawarkan dirinya untuk melaksanakan tugas dan mewujudkan tujuan ini.
Melalui tulisannya ia juga memprovokasi untuk membunuh banyak ulama durjana yang loyal kepada para salibis. Ia juga ikut andil dalam perencanaan pembunuhan seorang Amerika murtad Hamzah Yusuf saat berkunjung ke Turki, namun Allah menakdirkannya selamat dari tangan unit Daulah Islamiyah yang beroperasi di sana.
Ilmu, Amal, dan Dakwah
Ilmu Syaikh Abu Sulaiman tak hanya sekedar teori. Ia rahimahullah selalu berusaha mengamalkan ilmunya. Fokusnya adalah pada hal-hal yang bermanfaat bagi dien dan dunia saudara-saudaranya. Ia sangat pandai dalam masalah tauhid, mengetahui berbagai macam pendapat sekte-sekte dahulu dan sekarang, fasih dalam pendapat madzhab-madzhab fikih, dan sangat berupaya mengikuti para salaf dan yang berjalan di atas jejak mereka. Ia sangat waspada terhadap pelaku bid’ah dan ocehan-ocehan mereka, tidak memuliakan mereka, dan tidak mengangung-agungkannya. Ia banyak menelaah pendapat generasi pertama imam dakwah najdiyah. Ia selalu mewanti-wanti dari kesesatan yang ditempelkan pada dakwah ini lewat tangan generasi terakhirnya yang berafiliasi kepada dakwah ini namun loyal kepada thaghut Alu Su’ud dan antek-anteknya.
Saking gigihnya beliau rahimahullah dalam usahanya mengetahui kebenaran dan mengikutinya, ia habiskan waktu berjam-jam untuk memverifikasi persoalan-persoalan ilmiyah dan mencari pendapat yang kuat. Jika kebenaran ditemukannya maka ia tak peduli jika harus menyelisihi pendapat imam atau meninggalkan pendapat yang masyhur.
Beban yang sudah bertumpuk di pundaknya semakin banyak. Meletihkan badan dan memeras otaknya. Di pagi buta ia sudah memulai aktivitasnya bersama rekan-rekannya di majalah Dabiq dan tim penerjemah. Setelahnya ia menghadiri pertemuan-pertemuan panjang dengan para ikhwah mujahidin yang terkena syubhat. Ia menjelaskan kepada mereka fakta-fakta seputar manhaj Daulah Islamiyah dan menyeru untuk kembali kepada kebenaran. Setelah berjam-jam diskusi dan perdebatan yang melelahkan dia kembali untuk meneliti, menulis, dan mengulang-ngulang. Ia pulang ke rumahnya larut malam dalam keadaan letih dan capek lantaran bergadang, dan kelaparan karena terkadang sepanjang hari ia tidak merasakan makanan kecuali beberapa suap sekedar menegakkan tulang punggungnya.
Kerinduan Yang Tak Padam Akan Mati Syahid
Betapapun manfaatnya amat besar kepada kaum muslimin tidak menghentikannya terus meminta untuk melaksanakan operasi istisyhadi. Kesibukannya dalam menuntut ilmu dan dakwah tidak memadamkan kerinduannya menuju medan pertempuran dan front ribat. Tiap kali majalah Dabiq mengalami keterlambatan terbit ia bercanda kepada rekannya bahwa jalan satu-satunya untuk beristirahat dari pekerjaan yang melelahkan ini adalah operasi Istisyhadiyah. Setiap kali mendapati rekannya merencanakan proyek baru ia bercanda akan membiarkan mereka melaksanakan proyek itu sendirian, dan dia hanya fokus untuk rencana operasi Istisyhadiyah.
Pada hari-hari terakhirnya, ia bersama Syaikh Abu Muhammad aktif merencanakan proyek majalah Rumiyah dalam delapan bahasa yang bertujuan memperluas cakupan pembaca dari berbagai bahasa non Arab lainnya. Mereka berdua merapikan dan menentukan waktu penerbitannya secara serentak. Atas karunia Allah proyek ini sukses. Rumiyah menjadi majalah bulanan yang diterbitkan secara serentak dalam sepuluh bahasa non Arab. Dengannya Allah membuat geram orang-orang kafir, membuat gembira orang-orang beriman, dan menolong Daulah Islam dan kaum muslimin.
Setelah terbitnya edisi pertama majalah ini, Syaikh Abu Muhammad al-Furqan terbunuh dalam serangan salibis di kota Raqqah. Abu Sulaiman sangat sedih berpisah dengannya. Kesedihannya tampak sangat jelas. Ia sering terlihat tidak fokus, pandangannya bingung, dan hampir-hampir tidak pernah tersenyum. Hal itu lantaran kedudukan Syaikh Abu Muhammad pada dirinya. Ia juga menyadari betapa pentingnya posisi Syaikh di Daulah Islamiyah di antara amir dan prajuritnya.
Maka ia terus menerus mendesak amirnya untuk mengizinkannya ribath dan ikut dalam peperangan. Hingga akhirnya diizinkan. Maka ia keluar mencari front ribath terdekat dengan musuh dan yang paling berbahaya. Rekan-rekannya lalu mengantarkannya ke front pertempuran di utara kota Thabqah. Ia tetap bertahan di salah satu desa bersama sedikit rekan-rekannya di bawah bombardir salibis. Hingga Allah menakdirkannya terbunuh ketika mortir mengenai rumah tempatnya berlindung. Akhirnya cita-citanya kini terwujud. Kisah jihadnya berakhir sebagaimana diinginkannya sebelumnya. Syahid di jalan Allah di barisan terdepan, tidak berpaling saat berhadapan dengan musuh, dan tidak mundur ke belakang. Demikianlah kami kira, dan kami tidak mensucikan siapapun di hadapan Allah.
Kini Abu Sulaiman asy-Syami telah pergi. Ia tidak pernah merasakan nikmatnya istirahat bagi badan dan akalnya sejak menemani Syaikhnya Abu Muhammad al-Furqan taqabbalahullah.
Ia telah pergi sementara gambaran tentangnya masih melekat di benak rekan-rekannya, duduk menghadap laptopnya hingga larut malam atau di pagi-pagi buta, meneliti permasalahan, memurajaah kitab, atau menulis artikel.
Abu Sulaiman telah pergi. Dia tahu bahwa media adalah jalan dakwah kepada Allah, hidayah ke jalanNya, dan sebagai provokasi untuk memerangi musuh-musuh-Nya, maka ia laksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya.
Semoga Allah merahmatimu, wahai Abu Sulaiman, dan mengumpulkan kita dengan guru-gurumu di surga-Nya yang tinggi.
SYAIKH ABU SULAIMAN ASY-SYAMI (ABU MAISARAH ASY-SYAMI)
Tidak ada gunanya seorang alim yang menyembunyikan ilmunya. Tidak berani lantang menyuarakan kebenaran dan tidak pula menyeru kepadanya. Tidak ada gunanya juga orang yang amalnya tidak selaras dengan ilmunya. Seorang alim rabbani adalah orang yang mengambil ilmu dengan haknya, ikhlas karena Allah, berbicara dengan ilmu lagi mengamalkannya. Alangkah sedikitnya mereka saat ini. Zaman ketika ilmu hanya disimpan dalam dada, diperdagangkan di bawah kaki thaghut, dan dengannya dicari siapa yang paling banyak pengikut dan muridnya.
Abu Sulaiman asy-Syami taqabbalahullah. Seorang penuntut ilmu dan ulama yang langka. Iman yang dikenalnya adalah iman yang didasari ilmu, maka dicarinya ilmu guna meluruskan imannya. Ia mengetahui fikih, suatu kebaikan yang dianugerahkan-Nya kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Ia berusaha mendapatkan kebaikan tersebut dengan memperbanyak amal shalih. Ia meyakini bahwa zakatnya ilmu adalah dengan menyampaikannya kepada manusia, maka ia berupaya keras melakukannya baik dengan pena maupun lisannya sesuai kemampuan. Ia takut jika termasuk orang yang berkata tanpa amal, maka ia berupaya keras untuk meraih apa yang telah diserukannya kepada manusia. Hingga akhir hayatnya sesuai dengan yang diharapkannya, yaitu terbunuh di jalan Allah di barisan terdepan. Demikian kami mengiranya, dan kami tidak mensucikan seorang pun dihadapan Allah.
Perjalanan Mencari Ahlul Haq
Beliau tidak terperdaya oleh dunia dan perhiasannya, tidak terbelenggu oleh ijazah pendidikan dan gemerlapnya. Istri, harta, dan anak tidak mampu memfitnah agamanya. Ia meletakkan semua itu dibelakang punggungnya ketika mengenal tauhid. Beliau tahu bahwa jihad fisabilillah adalah bukti kuat wala-nya terhadap kaum muslimin dan baro-nya dari kaum musyrikin. Meski ia lahir di tengah-tengah mereka, dan menghabiskan masa kecil serta masa mudanya.
Ia menyelesaikan sekolah ilmu komputer di salah satu universitas Massachusetts di Negara Boston dan lulus sebagai insinyur programmer. Lalu ia bertekad untuk berangkat fisabilillah bersama beberapa sahabatnya. Mereka keluar berhijrah tanpa melakukan koordinasi atau persiapan yang memadai untuk bergabung dengan para mujahidin. Mereka berkeliling di Yaman, Pakistan, dan Irak dengan harapan bisa bertemu dengan orang yang akan menghubungkan mereka dengan mujahidin. Ketika mereka pesimis untuk menemukan jalan, dan karena khawatir terendus oleh intelijen, akhirnya mereka kembali ke Amerika dengan tetap berdoa kepada Allah azza wa jalla agar memberikan petunjuk kepada mereka.
Tidak lama kemudian, mereka berniat untuk menjadikan bumi Amerika sebagai medan jihad dan istisyhad. Bersama dua orang temannya beliau menyusun rencana untuk melakukan operasi mentarget Amerika di jantung negerinya sendiri. Strategi yang direncanakan adalah merampas senjata dari tangan salibis, lalu melakukan serangan sporadis agar berhasil membunuh banyak korban di barisan kaum musyrikin. Akan tetapi jika Allah menghendaki sesuatu hal maka pasti terjadi. Rencana mereka terbongkar beberapa hari sebelum pelaksanaan operasi. Tetapi Allah masih menyelamatkannya dari penangkapan. Ia berhasil lebih dahulu keluar dari Amerika sebelum pihak intelijen mengendus informasi tentang dirinya dan mengumumkan pencekalan dan penangkapan beliau di semua perbatasan maupun bandara.
Ia kembali ke tanah tumpah darahnya di Syam. Ia tinggal di sana selama beberapa tahun menunggu saat yang tepat. Beliau menghabiskan waktunya di kota Aleppo sambil menuntut ilmu dan menyeru keluarga dan para rekannya kepada tauhid. Ia selalu berhati-hati dari pantauan intelijen dan menghindari bermajlis dengan para ulama durjana yang loyal kepada thaghut. Amerika menetapkannya sebagai DPO interpol dan membanderol kepalanya seharga puluhan ribu dollar.
Sampai di Daulah Islamiyah
Bersamaan dengan permulaan jihad di Syam, ia keluar mencari ahli tauhid diantara faksi-faksi perlawanan. Ia bergabung dengan salah satu faksi hingga terluka pada pertempuran melawan Nushairiyah di salah satu distrik kota Allepo. Ketika didengarnya prajurit Daulah Islamiyah telah sampai di Syam, yang ketika itu beroperasi dengan nama Jabhah Nushrah li ahli Syam, ia pun bergabung dengan mereka. Ditemuinya para petinggi Jabhah, yang sepengetahuannya mereka adalah prajurit Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi amir Daulah Islamiyah Irak ketika itu. Ia meminta mereka untuk memindahkannya ke Irak namun mereka menolak. Lalu ia mendesak agar diizinkan untuk melakukan amaliyah istisyhadiyah atas Nushairiyah, namun juga ditangguhkan. Akhirnya dimanfaatkan waktunya untuk mengajarkan tauhid kepada mujahidin yang bersamanya dan ikut ribath bersama mereka di front-front kota Aleppo. Ia juga turut serta menyerbu posisi-posisi Nushairiyah dalam berbagai operasi. Hingga terjadilah fitnah pengkhianatan Jaulani. Sehingga jelaslah baginya apa yang sebenarnya ditutup-tutupi dan disembunyikan oleh petinggi Jabhah.
Pengkhianatan mereka atas Daulah Islamiyah dan tindakan mereka membatalkan bai’atnya atas Amirul Mukminin Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahullah dingkarinya dengan tegas. Dibongkarnya konspirasi itu. Kepada para prajurit lain diungkapkannya bahwa hakikatnya Jabhah hanyalah kepanjangan tangan dari Daulah Islamiyah dan mereka adalah prajurit Amirul Mukminin. Mereka tidak boleh memberontak atau membatalkan baiat selama tidak terbukti adanya kekafiran yang nyata. Para pengkhianat pun merasa terjepit, dan berupaya dengan cara apapun untuk menyingkirkannya. Mereka lalu teringat desakannya tempo dulu agar diizinkan untuk melakukan operasi istisyhadiyah. Lalu mereka menawarkan kembali dan berupaya untuk meyakinkan beliau agar melakukan operasi. Disadarinya niat busuk dibalik rencana mereka itu. Maka ia mengumumkan bahwa dirinya telah berlepas diri dari mereka. Beliau keluar dari barisan mereka untuk memperbarui baiatnya kepada Amirul Mukminin dan kembali menjadi salah satu prajuritnya.
Jiwa Tak Akan Mati Sampai Dipenuhi Ajal dan Rizkinya
Di bawah panji Daulah Islamiyah Irak dan Syam, Syaikh Ahmad Abdul Badi’ Abu Samrah (nama aslinya) bertugas layaknya prajurit umumnya. Tidak berlagak dengan ilmunya, dan tidak pula dengan gelarnya. Ia berpindah-pindah dari satu front ke front lainnya. Sekali lagi ia mendaftar dalam kafilah Istisyhadi. Ia terus mendesak komandannya untuk mengizinkannya melaksanakan operasi. Hingga akhirnya ditemukanlah target yang pas, yaitu konsentrasi besar anshar thaghut Bashar di daerah kontrol rezim Nushairi di jantung kota Halab. Strategi eksekusi yang dirancang adalah menyusup ke tengah konsentrasi pasukan itu lalu meledakkan sabuk peledak yang dikenakannya untuk mencerai-beraikan murtaddin. Namun jiwa tidak akan mati sampai dipenuhi ajal dan rizkinya. Allah menakdirkannya bertemu dengan Syaikh Abu Muhammad al-Furqan. Beliau lalu mengenalnya lebih dalam. Syaikh pun memerintahkannya membatalkan operasi yang telah direncanakan, diganti dengan ikhwah lain. Syaikh akhirnya memutuskan untuk memasukkan beliau dalam Departemen Media Daulah Islamiyah. Beliau saat itu sedang berusaha memperkuat sendi-sendinya, memperluas bidang garapannya, dan menarik kader-kader yang mumpuni dari segi ilmu dan seni agar mampu mengemban tugas tersebut.
Tempat Pertemuan Adalah Dabiq
Awal aktivitas Abu Sulaiman al-Halabi (kunyah yang digunakan dalam tugasnya dan dikenal di kalangan mujahidin) dalam Departemen Media adalah bertugas bersama tim bahasa non Arab. Tim ini dibentuk dan diatur oleh Syaikh Abu Muhammad al-Furqan guna meluncurkan program dakwah yang bertujuan memperkenalkan Daulah Islamiyah kepada kaum muslimin di seluruh penjuru dunia dan memotivasi mereka agar berhijrah. Untuk itu berbagai macam rilisan mulai diluncurkan oleh al-Hayat Media Center yang didirikan khusus demi tujuan ini.
Bersama koleganya ia sangat bersungguh-sungguh menerjemahkan berbagai materi dari dan ke bahasa Inggris. Kemudian muncul ide untuk merilis majalah yang ditujukan kepada native speaker-nya. Ide ini semakin matang setelah Buletin Laporan IS (IS Report) mengalami kesuksesan. Syaikh Abu Muhammad memutuskan untuk merubah proyek ini menjadi majalah rutin, yang –atas karunia Allah– mengalami kesuksesan luar biasa dan mendunia, yaitu majalah Dabiq yang berbarokah itu. Di saat yang sama bakat tulis menulis Syaikh Abu Sulaiman mulai tampak dan kemampuan intelektualnya muncul. Cahaya ilmu syar’i memancar dari tulisan dan ucapannya. Syaikh Abu Muhammad terus membimbing dan mengawasinya. Potensi yang ada pada dirinya betul-betul dimaksimalkan untuk menolong Dienullah, dan ia adalah prajuritnya yang taat, yang tidak membangkang dalam hal yang makruf, tidak mendahuluinya dalam keutamaan, dan tidak pelit untuk berpendapat.
Demikianlah majalah Dabiq dirilis, nama yang sengaja dipilih oleh Syaikh Abu Muhammad untuk menyinggung Romawi Salibis. Memperingatkan mereka tentang nasibnya yang pasti –dengan izin Allah– sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Juga mengingatkan mujahidin tentang janji Syaikh Abu Mus’ab az-Zarqawi rahimahullah bahwa percikan api perang yang berasal dari Irak –dengan izin Allah– tidak akan padam sampai membakar pasukan salibis di Dabiq. Syaikh Abu Sulaiman asy-Syami diserahi tanggung jawab sebagai dewan redaksinya.
Beberapa artikel tulisannya pernah dimuat di majalah itu. Ia juga bertugas mengoreksi tulisan-tulisan redaktur lainnya, dan meneliti terjemahan-terjemahan materi yang akan diterbitkan. Ia berupaya keras melaksanakan tugas yang menyita waktu itu. Syaikh Abu Muhammad selalu mengawasi mereka melaksanakan tugas-tugasnya itu. Beliau berupaya keras agar majalah ini tampil dengan sebaik-baiknya sehingga pesan-pesan Daulah Islamiyah tersampaikan dengan tampilan yang paling menakjubkan. Oleh karena itu, dalam persoalan redaksional dan bahkan desain pun beliau membimbing dan mengoreksi mereka bersama dengan Syaikh Abu Sulaiman. Hingga akhirnya dengan takdir Allah majalah ini sukses, dan pesan-pesan yang dirilisnya menjadi buah bibir media.
Kemudian proyek ini diperlebar agar majalah ini bisa terbit dengan bahasa lainnya. Maka munculah majalah al-Manba’ (berbahasa Rusia), Konstantiniye (berbahasa Turki), dan Darul Islam (berbahasa Perancis). Di saat yang sama Al-Hayat Media Center juga semakin memperlebar sayapnya. Berbagai macam rilisan diterbitkannya. Aktivitas terjemah rilisan berbahasa Arab ke berbagai macam bahasa dunia sangat aktif, sampai-sampai hampir tidak ada suatu kaum di bumi ini kecuali telah sampai kepada mereka rilisan-rilisan Daulah Islamiyah dengan bahasa mereka.
Abu Maisarah Asy-Syami
Disamping tanggung jawab Abu Sulaiman sebagai dewan redaksi majalah Dabiq dan penanggung jawab semua tim bahasa non Arab, Syaikh Abu Muhammad taqabbalahullah amat mengandalkannya dalam penyusunan artikel-artikel yang menjelaskan manhaj Daulah Islamiyah dan membongkar kedok musuh-musuh-nya. Hal itu karena kesibukan Syaikh dengan urusan-urusan Departemen secara umum, dan tanggung jawabnya terhadap tugas yang dibebankan oleh Amirul Mukminin hafizhahullah. Beliau meminta Abu Sulaiman untuk menuangkan ide-idenya dalam bentuk artikel, karena beliau percaya dengan kepiawaian bahasanya, bakat tulis-menulisnya, dan ilmu syar’inya yang mapan, serta pemahamannya terhadap manhaj Daulah Islamiyah. Dalam tulisannya Abu Sulaiman menggunakan nama samaran Abu Maisarah Asy-Syami di bawah bimbingan dan pengawasan Syaikh Abu Muhammad.
Demikianlah kunyah ini terkenal. Pukulan demi pukulan telak menghantam shahawat murtad dan para ulama durjananya. Satu demi satu dibongkarnya kedok faksi-faksi sesat pengaku Islam dan petinggi-petingginya pengekor hawa nafsu. Disingkapnya jati diri sebenarnya para figur yang disembah manusia selain Allah. Hinggga jadilah nama Abu Maisarah Asy-Syami sumber kegundahan faksi-faksi Shahawat dan simpatisannya, khususnya ulama durjana yang membela kaum musyrikin. Mereka selalu mengeluhkannya lantaran tak sanggup membantah artikel-artikel tersebut. Mereka selalu berusaha mencari tahu jati dirinya. Mereka selalu mengadukan perihalnya kepada siapapun yang bisa membantu mereka, namun tanpa hasil informasi apapun. Ia berusaha keras untuk selalu menyembunyikan tulisan-tulisan dan amalannya karena khawatir akan riya, menghindari sum’ah, dan tidak ingin terkenal.
Abu Sulaiman taqabbalahullah sangat pecemburu terhadap dien, mudah marah karena Allah, dan sangat membenci ulama-ulama durjana. Khususnya klaimer tauhid dan sunnah, dan utamanya lagi para masyaikh shahawat dan ideolognya. Pada tiap kesempatan ia selalu memperingatkan manusia dari mereka, dan membeberkan semua tingkah picik dan sikap hina mereka. Kolega dan amirnya selalu dimotivasinya untuk membunuh dan memutus fitnah mereka. Ia bahkan menawarkan dirinya untuk melaksanakan tugas dan mewujudkan tujuan ini.
Melalui tulisannya ia juga memprovokasi untuk membunuh banyak ulama durjana yang loyal kepada para salibis. Ia juga ikut andil dalam perencanaan pembunuhan seorang Amerika murtad Hamzah Yusuf saat berkunjung ke Turki, namun Allah menakdirkannya selamat dari tangan unit Daulah Islamiyah yang beroperasi di sana.
Ilmu, Amal, dan Dakwah
Ilmu Syaikh Abu Sulaiman tak hanya sekedar teori. Ia rahimahullah selalu berusaha mengamalkan ilmunya. Fokusnya adalah pada hal-hal yang bermanfaat bagi dien dan dunia saudara-saudaranya. Ia sangat pandai dalam masalah tauhid, mengetahui berbagai macam pendapat sekte-sekte dahulu dan sekarang, fasih dalam pendapat madzhab-madzhab fikih, dan sangat berupaya mengikuti para salaf dan yang berjalan di atas jejak mereka. Ia sangat waspada terhadap pelaku bid’ah dan ocehan-ocehan mereka, tidak memuliakan mereka, dan tidak mengangung-agungkannya. Ia banyak menelaah pendapat generasi pertama imam dakwah najdiyah. Ia selalu mewanti-wanti dari kesesatan yang ditempelkan pada dakwah ini lewat tangan generasi terakhirnya yang berafiliasi kepada dakwah ini namun loyal kepada thaghut Alu Su’ud dan antek-anteknya.
Saking gigihnya beliau rahimahullah dalam usahanya mengetahui kebenaran dan mengikutinya, ia habiskan waktu berjam-jam untuk memverifikasi persoalan-persoalan ilmiyah dan mencari pendapat yang kuat. Jika kebenaran ditemukannya maka ia tak peduli jika harus menyelisihi pendapat imam atau meninggalkan pendapat yang masyhur.
Beban yang sudah bertumpuk di pundaknya semakin banyak. Meletihkan badan dan memeras otaknya. Di pagi buta ia sudah memulai aktivitasnya bersama rekan-rekannya di majalah Dabiq dan tim penerjemah. Setelahnya ia menghadiri pertemuan-pertemuan panjang dengan para ikhwah mujahidin yang terkena syubhat. Ia menjelaskan kepada mereka fakta-fakta seputar manhaj Daulah Islamiyah dan menyeru untuk kembali kepada kebenaran. Setelah berjam-jam diskusi dan perdebatan yang melelahkan dia kembali untuk meneliti, menulis, dan mengulang-ngulang. Ia pulang ke rumahnya larut malam dalam keadaan letih dan capek lantaran bergadang, dan kelaparan karena terkadang sepanjang hari ia tidak merasakan makanan kecuali beberapa suap sekedar menegakkan tulang punggungnya.
Kerinduan Yang Tak Padam Akan Mati Syahid
Betapapun manfaatnya amat besar kepada kaum muslimin tidak menghentikannya terus meminta untuk melaksanakan operasi istisyhadi. Kesibukannya dalam menuntut ilmu dan dakwah tidak memadamkan kerinduannya menuju medan pertempuran dan front ribat. Tiap kali majalah Dabiq mengalami keterlambatan terbit ia bercanda kepada rekannya bahwa jalan satu-satunya untuk beristirahat dari pekerjaan yang melelahkan ini adalah operasi Istisyhadiyah. Setiap kali mendapati rekannya merencanakan proyek baru ia bercanda akan membiarkan mereka melaksanakan proyek itu sendirian, dan dia hanya fokus untuk rencana operasi Istisyhadiyah.
Pada hari-hari terakhirnya, ia bersama Syaikh Abu Muhammad aktif merencanakan proyek majalah Rumiyah dalam delapan bahasa yang bertujuan memperluas cakupan pembaca dari berbagai bahasa non Arab lainnya. Mereka berdua merapikan dan menentukan waktu penerbitannya secara serentak. Atas karunia Allah proyek ini sukses. Rumiyah menjadi majalah bulanan yang diterbitkan secara serentak dalam sepuluh bahasa non Arab. Dengannya Allah membuat geram orang-orang kafir, membuat gembira orang-orang beriman, dan menolong Daulah Islam dan kaum muslimin.
Setelah terbitnya edisi pertama majalah ini, Syaikh Abu Muhammad al-Furqan terbunuh dalam serangan salibis di kota Raqqah. Abu Sulaiman sangat sedih berpisah dengannya. Kesedihannya tampak sangat jelas. Ia sering terlihat tidak fokus, pandangannya bingung, dan hampir-hampir tidak pernah tersenyum. Hal itu lantaran kedudukan Syaikh Abu Muhammad pada dirinya. Ia juga menyadari betapa pentingnya posisi Syaikh di Daulah Islamiyah di antara amir dan prajuritnya.
Maka ia terus menerus mendesak amirnya untuk mengizinkannya ribath dan ikut dalam peperangan. Hingga akhirnya diizinkan. Maka ia keluar mencari front ribath terdekat dengan musuh dan yang paling berbahaya. Rekan-rekannya lalu mengantarkannya ke front pertempuran di utara kota Thabqah. Ia tetap bertahan di salah satu desa bersama sedikit rekan-rekannya di bawah bombardir salibis. Hingga Allah menakdirkannya terbunuh ketika mortir mengenai rumah tempatnya berlindung. Akhirnya cita-citanya kini terwujud. Kisah jihadnya berakhir sebagaimana diinginkannya sebelumnya. Syahid di jalan Allah di barisan terdepan, tidak berpaling saat berhadapan dengan musuh, dan tidak mundur ke belakang. Demikianlah kami kira, dan kami tidak mensucikan siapapun di hadapan Allah.
Kini Abu Sulaiman asy-Syami telah pergi. Ia tidak pernah merasakan nikmatnya istirahat bagi badan dan akalnya sejak menemani Syaikhnya Abu Muhammad al-Furqan taqabbalahullah.
Ia telah pergi sementara gambaran tentangnya masih melekat di benak rekan-rekannya, duduk menghadap laptopnya hingga larut malam atau di pagi-pagi buta, meneliti permasalahan, memurajaah kitab, atau menulis artikel.
Abu Sulaiman telah pergi. Dia tahu bahwa media adalah jalan dakwah kepada Allah, hidayah ke jalanNya, dan sebagai provokasi untuk memerangi musuh-musuh-Nya, maka ia laksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya.
Semoga Allah merahmatimu, wahai Abu Sulaiman, dan mengumpulkan kita dengan guru-gurumu di surga-Nya yang tinggi.