Tampilkan postingan dengan label Rumiyah Edisi 8. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumiyah Edisi 8. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

SYAIKH ABU SULAIMAN ASY-SYAMI (ABU MAISARAH ASY-SYAMI)

RUMIYAH 8 - SYUHADA

SYAIKH ABU SULAIMAN ASY-SYAMI (ABU MAISARAH ASY-SYAMI)

Tidak ada gunanya seorang alim yang menyembunyikan ilmunya. Tidak berani lantang menyuarakan kebenaran dan tidak pula menyeru kepadanya. Tidak ada gunanya juga orang yang amalnya tidak selaras dengan ilmunya. Seorang alim rabbani adalah orang yang mengambil ilmu dengan haknya, ikhlas karena Allah, berbicara dengan ilmu lagi mengamalkannya. Alangkah sedikitnya mereka saat ini. Zaman ketika ilmu hanya disimpan dalam dada, diperdagangkan di bawah kaki thaghut, dan dengannya dicari siapa yang paling banyak pengikut dan muridnya.

Abu Sulaiman asy-Syami taqabbalahullah. Seorang penuntut ilmu dan ulama yang langka. Iman yang dikenalnya adalah iman yang didasari ilmu, maka dicarinya ilmu guna meluruskan imannya. Ia mengetahui fikih, suatu kebaikan yang dianugerahkan-Nya kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Ia berusaha mendapatkan kebaikan tersebut dengan memperbanyak amal shalih. Ia meyakini bahwa zakatnya ilmu adalah dengan menyampaikannya kepada manusia, maka ia berupaya keras melakukannya baik dengan pena maupun lisannya sesuai kemampuan. Ia takut jika termasuk orang yang berkata tanpa amal, maka ia berupaya keras untuk meraih apa yang telah diserukannya kepada manusia. Hingga akhir hayatnya sesuai dengan yang diharapkannya, yaitu terbunuh di jalan Allah di barisan terdepan. Demikian kami mengiranya, dan kami tidak mensucikan seorang pun dihadapan Allah.

Perjalanan Mencari Ahlul Haq

Beliau tidak terperdaya oleh dunia dan perhiasannya, tidak terbelenggu oleh ijazah pendidikan dan gemerlapnya. Istri, harta, dan anak tidak mampu memfitnah agamanya. Ia meletakkan semua itu dibelakang punggungnya ketika mengenal tauhid. Beliau tahu bahwa jihad fisabilillah adalah bukti kuat wala-nya terhadap kaum muslimin dan baro-nya dari kaum musyrikin. Meski ia lahir di tengah-tengah mereka, dan menghabiskan masa kecil serta masa mudanya.

Ia menyelesaikan sekolah ilmu komputer di salah satu universitas Massachusetts di Negara Boston dan lulus sebagai insinyur programmer. Lalu ia bertekad untuk berangkat fisabilillah bersama beberapa sahabatnya. Mereka keluar berhijrah tanpa melakukan koordinasi atau persiapan yang memadai untuk bergabung dengan para mujahidin. Mereka berkeliling di Yaman, Pakistan, dan Irak dengan harapan bisa bertemu dengan orang yang akan menghubungkan mereka dengan mujahidin. Ketika mereka pesimis untuk menemukan jalan, dan karena khawatir terendus oleh intelijen, akhirnya mereka kembali ke Amerika dengan tetap berdoa kepada Allah azza wa jalla agar memberikan petunjuk kepada mereka.

Tidak lama kemudian, mereka berniat untuk menjadikan bumi Amerika sebagai medan jihad dan istisyhad. Bersama dua orang temannya beliau menyusun rencana untuk melakukan operasi mentarget Amerika di jantung negerinya sendiri. Strategi yang direncanakan adalah merampas senjata dari tangan salibis, lalu melakukan serangan sporadis agar berhasil membunuh banyak korban di barisan kaum musyrikin. Akan tetapi jika Allah menghendaki sesuatu hal maka pasti terjadi. Rencana mereka terbongkar beberapa hari sebelum pelaksanaan operasi. Tetapi Allah masih menyelamatkannya dari penangkapan. Ia berhasil lebih dahulu keluar dari Amerika sebelum pihak intelijen mengendus informasi tentang dirinya dan mengumumkan pencekalan dan penangkapan beliau di semua perbatasan maupun bandara.

Ia kembali ke tanah tumpah darahnya di Syam. Ia tinggal di sana selama beberapa tahun menunggu saat yang tepat. Beliau menghabiskan waktunya di kota Aleppo sambil menuntut ilmu dan menyeru keluarga dan para rekannya kepada tauhid. Ia selalu berhati-hati dari pantauan intelijen dan menghindari bermajlis dengan para ulama durjana yang loyal kepada thaghut. Amerika menetapkannya sebagai DPO interpol dan membanderol kepalanya seharga puluhan ribu dollar.

Sampai di Daulah Islamiyah

Bersamaan dengan permulaan jihad di Syam, ia keluar mencari ahli tauhid diantara faksi-faksi perlawanan. Ia bergabung dengan salah satu faksi hingga terluka pada pertempuran melawan Nushairiyah di salah satu distrik kota Allepo. Ketika didengarnya prajurit Daulah Islamiyah telah sampai di Syam, yang ketika itu beroperasi dengan nama Jabhah Nushrah li ahli Syam, ia pun bergabung dengan mereka. Ditemuinya para petinggi Jabhah, yang sepengetahuannya mereka adalah prajurit Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi amir Daulah Islamiyah Irak ketika itu. Ia meminta mereka untuk memindahkannya ke Irak namun mereka menolak. Lalu ia mendesak agar diizinkan untuk melakukan amaliyah istisyhadiyah atas Nushairiyah, namun juga ditangguhkan. Akhirnya dimanfaatkan waktunya untuk mengajarkan tauhid kepada mujahidin yang bersamanya dan ikut ribath bersama mereka di front-front kota Aleppo. Ia juga turut serta menyerbu posisi-posisi Nushairiyah dalam berbagai operasi. Hingga terjadilah fitnah pengkhianatan Jaulani. Sehingga jelaslah baginya apa yang sebenarnya ditutup-tutupi dan disembunyikan oleh petinggi Jabhah.

Pengkhianatan mereka atas Daulah Islamiyah dan tindakan mereka membatalkan bai’atnya atas Amirul Mukminin Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahullah dingkarinya dengan tegas. Dibongkarnya konspirasi itu. Kepada para prajurit lain diungkapkannya bahwa hakikatnya Jabhah hanyalah kepanjangan tangan dari Daulah Islamiyah dan mereka adalah prajurit Amirul Mukminin. Mereka tidak boleh memberontak atau membatalkan baiat selama tidak terbukti adanya kekafiran yang nyata. Para pengkhianat pun merasa terjepit, dan berupaya dengan cara apapun untuk menyingkirkannya. Mereka lalu teringat desakannya tempo dulu agar diizinkan untuk melakukan operasi istisyhadiyah. Lalu mereka menawarkan kembali dan berupaya untuk meyakinkan beliau agar melakukan operasi. Disadarinya niat busuk dibalik rencana mereka itu. Maka ia mengumumkan bahwa dirinya telah berlepas diri dari mereka. Beliau keluar dari barisan mereka untuk memperbarui baiatnya kepada Amirul Mukminin dan kembali menjadi salah satu prajuritnya.

Jiwa Tak Akan Mati Sampai Dipenuhi Ajal dan Rizkinya

Di bawah panji Daulah Islamiyah Irak dan Syam, Syaikh Ahmad Abdul Badi’ Abu Samrah (nama aslinya) bertugas layaknya prajurit umumnya. Tidak berlagak dengan ilmunya, dan tidak pula dengan gelarnya. Ia berpindah-pindah dari satu front ke front lainnya. Sekali lagi ia mendaftar dalam kafilah Istisyhadi. Ia terus mendesak komandannya untuk mengizinkannya melaksanakan operasi. Hingga akhirnya ditemukanlah target yang pas, yaitu konsentrasi besar anshar thaghut Bashar di daerah kontrol rezim Nushairi di jantung kota Halab. Strategi eksekusi yang dirancang adalah menyusup ke tengah konsentrasi pasukan itu lalu meledakkan sabuk peledak yang dikenakannya untuk mencerai-beraikan murtaddin. Namun jiwa tidak akan mati sampai dipenuhi ajal dan rizkinya. Allah menakdirkannya bertemu dengan Syaikh Abu Muhammad al-Furqan. Beliau lalu mengenalnya lebih dalam. Syaikh pun memerintahkannya membatalkan operasi yang telah direncanakan, diganti dengan ikhwah lain. Syaikh akhirnya memutuskan untuk memasukkan beliau dalam Departemen Media Daulah Islamiyah. Beliau saat itu sedang berusaha memperkuat sendi-sendinya, memperluas bidang garapannya, dan menarik kader-kader yang mumpuni dari segi ilmu dan seni agar mampu mengemban tugas tersebut.

Tempat Pertemuan Adalah Dabiq

Awal aktivitas Abu Sulaiman al-Halabi (kunyah yang digunakan dalam tugasnya dan dikenal di kalangan mujahidin) dalam Departemen Media adalah bertugas bersama tim bahasa non Arab. Tim ini dibentuk dan diatur oleh Syaikh Abu Muhammad al-Furqan guna meluncurkan program dakwah yang bertujuan memperkenalkan Daulah Islamiyah kepada kaum muslimin di seluruh penjuru dunia dan memotivasi mereka agar berhijrah. Untuk itu berbagai macam rilisan mulai diluncurkan oleh al-Hayat Media Center yang didirikan khusus demi tujuan ini.

Bersama koleganya ia sangat bersungguh-sungguh menerjemahkan berbagai materi dari dan ke bahasa Inggris. Kemudian muncul ide untuk merilis majalah yang ditujukan kepada native speaker-nya. Ide ini semakin matang setelah Buletin Laporan IS (IS Report) mengalami kesuksesan. Syaikh Abu Muhammad memutuskan untuk merubah proyek ini menjadi majalah rutin, yang –atas karunia Allah– mengalami kesuksesan luar biasa dan mendunia, yaitu majalah Dabiq yang berbarokah itu. Di saat yang sama bakat tulis menulis Syaikh Abu Sulaiman mulai tampak dan kemampuan intelektualnya muncul. Cahaya ilmu syar’i memancar dari tulisan dan ucapannya. Syaikh Abu Muhammad terus membimbing dan mengawasinya. Potensi yang ada pada dirinya betul-betul dimaksimalkan untuk menolong Dienullah, dan ia adalah prajuritnya yang taat, yang tidak membangkang dalam hal yang makruf, tidak mendahuluinya dalam keutamaan, dan tidak pelit untuk berpendapat.

Demikianlah majalah Dabiq dirilis, nama yang sengaja dipilih oleh Syaikh Abu Muhammad untuk menyinggung Romawi Salibis. Memperingatkan mereka tentang nasibnya yang pasti –dengan izin Allah– sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Juga mengingatkan mujahidin tentang janji Syaikh Abu Mus’ab az-Zarqawi rahimahullah bahwa percikan api perang yang berasal dari Irak –dengan izin Allah– tidak akan padam sampai membakar pasukan salibis di Dabiq. Syaikh Abu Sulaiman asy-Syami diserahi tanggung jawab sebagai dewan redaksinya.

Beberapa artikel tulisannya pernah dimuat di majalah itu. Ia juga bertugas mengoreksi tulisan-tulisan redaktur lainnya, dan meneliti terjemahan-terjemahan materi yang akan diterbitkan. Ia berupaya keras melaksanakan tugas yang menyita waktu itu. Syaikh Abu Muhammad selalu mengawasi mereka melaksanakan tugas-tugasnya itu. Beliau berupaya keras agar majalah ini tampil dengan sebaik-baiknya sehingga pesan-pesan Daulah Islamiyah tersampaikan dengan tampilan yang paling menakjubkan. Oleh karena itu, dalam persoalan redaksional dan bahkan desain pun beliau membimbing dan mengoreksi mereka bersama dengan Syaikh Abu Sulaiman. Hingga akhirnya dengan takdir Allah majalah ini sukses, dan pesan-pesan yang dirilisnya menjadi buah bibir media.

Kemudian proyek ini diperlebar agar majalah ini bisa terbit dengan bahasa lainnya. Maka munculah majalah al-Manba’ (berbahasa Rusia), Konstantiniye (berbahasa Turki), dan Darul Islam (berbahasa Perancis). Di saat yang sama Al-Hayat Media Center juga semakin memperlebar sayapnya. Berbagai macam rilisan diterbitkannya. Aktivitas terjemah rilisan berbahasa Arab ke berbagai macam bahasa dunia sangat aktif, sampai-sampai hampir tidak ada suatu kaum di bumi ini kecuali telah sampai kepada mereka rilisan-rilisan Daulah Islamiyah dengan bahasa mereka.

Abu Maisarah Asy-Syami

Disamping tanggung jawab Abu Sulaiman sebagai dewan redaksi majalah Dabiq dan penanggung jawab semua tim bahasa non Arab, Syaikh Abu Muhammad taqabbalahullah amat mengandalkannya dalam penyusunan artikel-artikel yang menjelaskan manhaj Daulah Islamiyah dan membongkar kedok musuh-musuh-nya. Hal itu karena kesibukan Syaikh dengan urusan-urusan Departemen secara umum, dan tanggung jawabnya terhadap tugas yang dibebankan oleh Amirul Mukminin hafizhahullah. Beliau meminta Abu Sulaiman untuk menuangkan ide-idenya dalam bentuk artikel, karena beliau percaya dengan kepiawaian bahasanya, bakat tulis-menulisnya, dan ilmu syar’inya yang mapan, serta pemahamannya terhadap manhaj Daulah Islamiyah. Dalam tulisannya Abu Sulaiman menggunakan nama samaran Abu Maisarah Asy-Syami di bawah bimbingan dan pengawasan Syaikh Abu Muhammad.

Demikianlah kunyah ini terkenal. Pukulan demi pukulan telak menghantam shahawat murtad dan para ulama durjananya. Satu demi satu dibongkarnya kedok faksi-faksi sesat pengaku Islam dan petinggi-petingginya pengekor hawa nafsu. Disingkapnya jati diri sebenarnya para figur yang disembah manusia selain Allah. Hinggga jadilah nama Abu Maisarah Asy-Syami sumber kegundahan faksi-faksi Shahawat dan simpatisannya, khususnya ulama durjana yang membela kaum musyrikin. Mereka selalu mengeluhkannya lantaran tak sanggup membantah artikel-artikel tersebut. Mereka selalu berusaha mencari tahu jati dirinya. Mereka selalu mengadukan perihalnya kepada siapapun yang bisa membantu mereka, namun tanpa hasil informasi apapun. Ia berusaha keras untuk selalu menyembunyikan tulisan-tulisan dan amalannya karena khawatir akan riya, menghindari sum’ah, dan tidak ingin terkenal.

Abu Sulaiman taqabbalahullah sangat pecemburu terhadap dien, mudah marah karena Allah, dan sangat membenci ulama-ulama durjana. Khususnya klaimer tauhid dan sunnah, dan utamanya lagi para masyaikh shahawat dan ideolognya. Pada tiap kesempatan ia selalu memperingatkan manusia dari mereka, dan membeberkan semua tingkah picik dan sikap hina mereka. Kolega dan amirnya selalu dimotivasinya untuk membunuh dan memutus fitnah mereka. Ia bahkan menawarkan dirinya untuk melaksanakan tugas dan mewujudkan tujuan ini.

Melalui tulisannya ia juga memprovokasi untuk membunuh banyak ulama durjana yang loyal kepada para salibis. Ia juga ikut andil dalam perencanaan pembunuhan seorang Amerika murtad Hamzah Yusuf saat berkunjung ke Turki, namun Allah menakdirkannya selamat dari tangan unit Daulah Islamiyah yang beroperasi di sana.

Ilmu, Amal, dan Dakwah

Ilmu Syaikh Abu Sulaiman tak hanya sekedar teori. Ia rahimahullah selalu berusaha mengamalkan ilmunya. Fokusnya adalah pada hal-hal yang bermanfaat bagi dien dan dunia saudara-saudaranya. Ia sangat pandai dalam masalah tauhid, mengetahui berbagai macam pendapat sekte-sekte dahulu dan sekarang, fasih dalam pendapat madzhab-madzhab fikih, dan sangat berupaya mengikuti para salaf dan yang berjalan di atas jejak mereka. Ia sangat waspada terhadap pelaku bid’ah dan ocehan-ocehan mereka, tidak memuliakan mereka, dan tidak mengangung-agungkannya. Ia banyak menelaah pendapat generasi pertama imam dakwah najdiyah. Ia selalu mewanti-wanti dari kesesatan yang ditempelkan pada dakwah ini lewat tangan generasi terakhirnya yang berafiliasi kepada dakwah ini namun loyal kepada thaghut Alu Su’ud dan antek-anteknya.

Saking gigihnya beliau rahimahullah dalam usahanya mengetahui kebenaran dan mengikutinya, ia habiskan waktu berjam-jam untuk memverifikasi persoalan-persoalan ilmiyah dan mencari pendapat yang kuat. Jika kebenaran ditemukannya maka ia tak peduli jika harus menyelisihi pendapat imam atau meninggalkan pendapat yang masyhur.

Beban yang sudah bertumpuk di pundaknya semakin banyak. Meletihkan badan dan memeras otaknya. Di pagi buta ia sudah memulai aktivitasnya bersama rekan-rekannya di majalah Dabiq dan tim penerjemah. Setelahnya ia menghadiri pertemuan-pertemuan panjang dengan para ikhwah mujahidin yang terkena syubhat. Ia menjelaskan kepada mereka fakta-fakta seputar manhaj Daulah Islamiyah dan menyeru untuk kembali kepada kebenaran. Setelah berjam-jam diskusi dan perdebatan yang melelahkan dia kembali untuk meneliti, menulis, dan mengulang-ngulang. Ia pulang ke rumahnya larut malam dalam keadaan letih dan capek lantaran bergadang, dan kelaparan karena terkadang sepanjang hari ia tidak merasakan makanan kecuali beberapa suap sekedar menegakkan tulang punggungnya.

Kerinduan Yang Tak Padam Akan Mati Syahid

Betapapun manfaatnya amat besar kepada kaum muslimin tidak menghentikannya terus meminta untuk melaksanakan operasi istisyhadi. Kesibukannya dalam menuntut ilmu dan dakwah tidak memadamkan kerinduannya menuju medan pertempuran dan front ribat. Tiap kali majalah Dabiq mengalami keterlambatan terbit ia bercanda kepada rekannya bahwa jalan satu-satunya untuk beristirahat dari pekerjaan yang melelahkan ini adalah operasi Istisyhadiyah. Setiap kali mendapati rekannya merencanakan proyek baru ia bercanda akan membiarkan mereka melaksanakan proyek itu sendirian, dan dia hanya fokus untuk rencana operasi Istisyhadiyah.

Pada hari-hari terakhirnya, ia bersama Syaikh Abu Muhammad aktif merencanakan proyek majalah Rumiyah dalam delapan bahasa yang bertujuan memperluas cakupan pembaca dari berbagai bahasa non Arab lainnya. Mereka berdua merapikan dan menentukan waktu penerbitannya secara serentak. Atas karunia Allah proyek ini sukses. Rumiyah menjadi majalah bulanan yang diterbitkan secara serentak dalam sepuluh bahasa non Arab. Dengannya Allah membuat geram orang-orang kafir, membuat gembira orang-orang beriman, dan menolong Daulah Islam dan kaum muslimin.

Setelah terbitnya edisi pertama majalah ini, Syaikh Abu Muhammad al-Furqan terbunuh dalam serangan salibis di kota Raqqah. Abu Sulaiman sangat sedih berpisah dengannya. Kesedihannya tampak sangat jelas. Ia sering terlihat tidak fokus, pandangannya bingung, dan hampir-hampir tidak pernah tersenyum. Hal itu lantaran kedudukan Syaikh Abu Muhammad pada dirinya. Ia juga menyadari betapa pentingnya posisi Syaikh di Daulah Islamiyah di antara amir dan prajuritnya.

Maka ia terus menerus mendesak amirnya untuk mengizinkannya ribath dan ikut dalam peperangan. Hingga akhirnya diizinkan. Maka ia keluar mencari front ribath terdekat dengan musuh dan yang paling berbahaya. Rekan-rekannya lalu mengantarkannya ke front pertempuran di utara kota Thabqah. Ia tetap bertahan di salah satu desa bersama sedikit rekan-rekannya di bawah bombardir salibis. Hingga Allah menakdirkannya terbunuh ketika mortir mengenai rumah tempatnya berlindung. Akhirnya cita-citanya kini terwujud. Kisah jihadnya berakhir sebagaimana diinginkannya sebelumnya. Syahid di jalan Allah di barisan terdepan, tidak berpaling saat berhadapan dengan musuh, dan tidak mundur ke belakang. Demikianlah kami kira, dan kami tidak mensucikan siapapun di hadapan Allah.

Kini Abu Sulaiman asy-Syami telah pergi. Ia tidak pernah merasakan nikmatnya istirahat bagi badan dan akalnya sejak menemani Syaikhnya Abu Muhammad al-Furqan taqabbalahullah.

Ia telah pergi sementara gambaran tentangnya masih melekat di benak rekan-rekannya, duduk menghadap laptopnya hingga larut malam atau di pagi-pagi buta, meneliti permasalahan, memurajaah kitab, atau menulis artikel.

Abu Sulaiman telah pergi. Dia tahu bahwa media adalah jalan dakwah kepada Allah, hidayah ke jalanNya, dan sebagai provokasi untuk memerangi musuh-musuh-Nya, maka ia laksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya.

Semoga Allah merahmatimu, wahai Abu Sulaiman, dan mengumpulkan kita dengan guru-gurumu di surga-Nya yang tinggi.

DAN PERANGILAH KAUM MUSYRIKIN SELURUHNYA

RUMIYAH 8 - ARTIKEL

DAN PERANGILAH KAUM MUSYRIKIN SELURUHNYA

Bertahun-tahun setelah tegaknya Khilafah, ia menyerukan pada kaum muslimin di seluruh dunia agar berjihad memerangi musuh-musuh Allah guna meninggikan kalimat-Nya dan bergabung di bawah panji Jama’atul Muslimin. Seruan ini disambut oleh banyak kalangan mujahidin dari berbagai belahan dunia yang menyatukan barisan mereka dan berbai’at pada Amirul Mukminin. Beberapa jama’ah ini lalu menggabungkan diri satu sama lain di daerahnya masing-masing, lalu mereka bermusyawarah untuk memilih salah seorang dari mereka guna ditunjuk oleh Khalifah sebagai amir mereka.

Daulah khilafah meluas dengan cepat hingga luar daerah kontrolnya di Irak dan Syam. Keduanya adalah negeri muslimin yang diinvasi para Salibis dan dipisah-pisahkan dengan perbatasan imajiner, dijaga oleh antek-antek mereka, para Thaghut. Meluasnya wilayah Khilafah ke luar Irak dan Syam terjadi setelah menghancurkan tapal batas imajiner antara keduanya, lalu menyatukan kedua daerahnya serta menegakkan syariat di atasnya.

Darinya, terlihat jelas bahwa persatuan ummat akan terus diraih selama ummat ini menginginkan hal itu dengan landasan mentauhidkan Rabb mereka. Inilah gambaran Tauhid (yaitu memberikan hak Tauhid dan tidak menggadaikannya demi siasat politik belaka) yang Daulah Islamiyah tegak di atasnya, lalu menyeru mujahidin kepadanya, dan inilah yang selama ini ditunggu-tunggu oleh Mujahidin di seluruh dunia. Tatkala Khilafah menyampaikan seruannya, terdengarlah sambutan dari mana-mana, Sinai, Libya, Aljazair, Yaman dan Jazirah Arab.

Mujahidin pun diseru guna bersatu di atas Tauhid, yang dengannya front disatukan melawan tiap musyrikin di seluruh belahan bumi sebagaimana yang Allah perintahkan kepada mereka, “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.” (QS. at-Taubah: 36).

Tatkala peperangan melawan kekafiran kian sengit, di saat yang sama kaum musyrikin bersatu untuk menghentikan ekspansi Daulah Islamiyah yang membahayakan mereka. Namun meski begitu, jama’ah-jama’ah mujahidin di seluruh penjuru dunia datang berbondong-bondong satu demi satu untuk bersatu di bawah panji Khilafah. Di Khurasan, Afrika Barat, Asia Timur, dan Mali. Fakta inipun menyebar ke seluruh negeri muslimin. Di setiap belahan bumi manapun yang terdapat bai’at di dalamnya, langsung menghadapi serangan demi serangan musuh. Mujahidin selalu membantai kuffar dimanapun mereka berada, tak membedakan antara Salibis, musyrik, atau antek murtadnya.

Demikianlah, tatkala delapan tentara In-ghimasi Junud Khilafah pada tanggal 25 Jumadal Akhir menyerbu markas pasukan Garda Nasional Rusia di desa Nawur Sakya, barat laut kota Grozny, Chechnya wilayah Kaukasus. Mereka manfaatkan cuaca yang mendung dan gelapnya malam untuk menyerbu pangkalan militer itu, berbekal senapan serbu dan pisau. Kedelapan mujahid yang telah menjalani pelatihan ekstra selama sepuluh hari ini, berjibaku melawan bala tentara Salibis di dalam pangkalan militer selama beberapa jam. Mereka bantai sedikitnya enam tentara Salibis dan melukai tiga lainnya. Enam Kesatria gugur selama berlangsungnya operasi, sementara dua lainnya berhasil pulang kembali ke markas Mujahidin dengan selamat.

Bersamaan dengan serangan berani tersebut, terdapat operasi lain yang berjarak ribuan kilometer dari Chechnya, dimana Kesatria Khilafah di Bangladesh, al-Istisyhadi Abu Muhammad al-Banghali menyerang salah satu pos keamanan Bandara Internasional kota Dhaka, meledakkan bom rompinya ke tengah sekelompok besar polisi murtad Bangladesh, membunuh sedikitnya tiga musuh dan melukai beberapa lainnya. Sehari pasca operasi ini, puluhan tentara Bangladesh tewas dan terluka dalam ledakan bom rakitan di distrik Sylhet, saat mereka berupaya menggrebek salah satu markas Mujahidin. Sementara itu, sepekan sebelumnya, salah seorang Mujahid menyerbu Kamp Militer pasukan elit Bangladesh dengan ledakan bom rompi di daerah Ashkuna, kota Dhaka.

Operasi demi operasi di Bangladesh dan Kaukasus ini telah memporak-pondakan barisan murtaddin serta Salibis. Mujahidin Bangladesh telah membuktikan kemampuan mereka dalam menghadapi dan menguras energi pasukan murtad serta menargetkan pimpinan termuka mereka. Sebagaimana yang terjadi pada operasi Sylhet, mereka berhasil membunuh seorang perwira berpangkat kapten (si murtad Abul Kalam Azad, Direktur Umum Badan Intelijen Pasukan Elit).

Mujahidin Kaukasus juga membuktikan kemampuan mereka dalam menargetkan pasukan salibis Rusia dan membantai mereka, bahkan di pangkalan militer mereka sendiri. Karenanya, operasi-operasi ini mengingatkan seluruh sekte kekafiran sekali lagi bahwa batalyon-batalyon tempur Daulah Islamiyah di seluruh dunia akan terus melancarkan misinya memberantas bala tentaranya dimana saja mereka berada, sampai kalimat Allah menjadi paling tinggi dan kalimat kekufuran yang paling rendah.

Semoga Allah menerima para Syuhada kita dan menggantikan mereka dengan sosok-sosok kesatria lain yang akan melanjutkan estafet mengemban panji Tauhid setelah mereka. Aamiin.

BERHAKIM KEPADA THAGHUT

RUMIYAH 8 - ARTIKEL

BERHAKIM KEPADA THAGHUT
OLEH : SYAIKH SULAIMAN BIN ABDULLAH BIN MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB

Firman Allah azza wa jalla, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul’, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah, ‘Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna’. (QS. an-Nisa: 60-62).

Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata mengomentari ayat tersebut, “Orang yang mengetahui bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah harus tunduk kepada hukum Allah dan berserah diri kepada perintah-Nya yang datang melalui tangan Rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Jadi siapa yang bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak untuk disembah kecuali Allah namun justru memilih berhukum kepada selain Rasul shallallahu alaihi wasallam dalam persengketaannya berarti syahadatnya dusta.

Tauhid itu dibangun di atas dua kalimat syahadat. Keduanya saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Sebelumnya dalam kitab ini (yaitu Kitabut Tauhid yang ditulis oleh kakeknya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah) telah dijelaskan tentang makna syahadat laailaahaillallah yang mencakup hak Allah atas hamba-Nya. Pada bab ini beliau menjelaskan makna syahadat Muhammad Rasulullah; bahwa beliau adalah seorang hamba yang tidak boleh disembah lagi rasul yang jujur yang tidak boleh didustakan namun harus ditaati dan diikuti, karena beliau adalah “juru bicara” Allah azza wa jalla. Beliau shallallahu alaihi wasallam memiliki jabatan kerasulan dan tabligh dari Allah serta berhak menghakimi dalam persengketaan yang terjadi karena beliau tidak akan memutuskan selain dengan hukum Allah. Rasa cinta kepadanya harus melebihi rasa cinta kepada diri sendiri, keluarga, harta, dan tanah air. Beliau sama sekali tidak memiliki sifat ketuhanan. Beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firman Allah azza wa jalla, “Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (QS. al-Jin: 19). Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya saya adalah hamba-Nya maka katakanlah ‘hamba Allah dan Rasul-Nya’.” (HR. Bukhari).

Konsekuensi syahadat Muhammad rasulullah diantaranya adalah mengikuti dan berhakim kepada beliau dalam persengketaan yang terjadi, dan tidak berhukum kepada yang lain sebagaimana orang-orang munafik yang mengaku beriman kepada beliau tetapi justru berhakim kepada yang lain. Dengan ini seorang hamba berhasil merealisasikan kesempurnaan tauhid dan mutaba’ah, dan itulah kebahagiaan yang sebenarnya, sebagaimana juga merupakan makna dua kalimat syahadat. Jika hal ini telah jelas maka makna ayat di atas (pada awal tulisan ini, edt.) adalah sesungguhnya Allah azza wa jalla mengingkari orangorang yang mengaku beriman kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya dan para nabi sebelumnya, namun malah ingin berhakim kepada selain Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya dalam menyelesaikan persengketaannya.

Hal itu sebagaimana disebutkan penulis (maksudnya penulis Kitabut Tauhid, edt.) mengenai sebab turunnya ayat ini; Ibnul Qayim berkata, ‘Thaghut adalah setiap orang yang melampaui batas, diambil dari kata atthughyan yang artinya melampaui batas.’ Jadi setiap sesuatu yang dijadikan hakim, selain Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, oleh pihak yang bersengketa, berarti dia adalah thaghut, karena dia telah melampaui batas. Berdasarkan pengertian ini, semua orang yang menyembah sesuatu selain Allah berarti telah menyembah thaghut dan dengan sesembahannya dia telah melampaui batas, karena semestinya dia tidak beribadah kepadanya. Begitu juga siapa yang menyeru untuk berhakim kepada selain Allah dan Rasul-Nya saw berarti dia telah menyeru untuk berhakim kepada thaghut.

Perhatikanlah bagaimana Allah azza wa jalla memulai ayat tersebut. Dia mengingkari orang yang mengaku beriman kepada apa yang telah Allah turunkan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dan para nabi sebelumnya namun malah menyeru untuk berhakim kepada selain Allah dan Rasul-Nya dalam persengketaan yang terjadi. Firman-Nya ‘Mereka mengaku’ berarti bahwa Allah menyangkal pengakuan iman mereka. Karena itulah Allah tidak berfirman, ‘Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang beriman....’ Karena jika mereka benar-benar beriman niscaya tidak akan mau berhakim kepada selain Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Ungkapan ‘mereka mengaku’ itu biasanya disematkan kepada orang yang mengaku sesuatu hal padahal hakikatnya berdusta atau diposisikan sebagai pendusta karena bersebrangan dengan konsekuensinya atau karena melakukan sesuatu yang membantah pengakuannya. Ibnu Katsir berkata, ‘Ayat diatas mencela orang yang berpaling dari Kitab dan Sunnah dan berhakim kepada kebatilan, itulah yang dimaksud dengan thaghut di sini.’

Firman Allah azza wa jalla, ‘Padahal mereka telah diperintah untuk mengingkarinya’ maksudnya mengingkari thaghut. Ini adalah dalil bahwa berhakim kepada thaghut adalah bertentangan dengan iman. Maka iman tidak sah kecuali dengan mengingkari thaghut dan tidak berhakim kepadanya. Jadi siapa yang belum kafir kepada thaghut berarti belum beriman kepada Allah.

Firman Allah, ‘Dan setan ingin menyesatkan mereka sejauh-jauhnya’ artinya karena keinginan untuk berhakim kepada selain Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam berarti taat kepada setan. Padahal setan itu menyeru kelompoknya agar menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. Ayat ini juga dalil bahwa meninggalkan upaya untuk berhukum kepada thaghut (yaitu sesuatu selain Kitab dan Sunnah) adalah keharusan, sedangkan orang yang tetap berhukum kepada thaghut berarti bukan mukmin, bahkan muslim pun bukan.

Firman Allah azza wa jalla, ‘Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul,’ niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu)’, artinya apabila mereka diseru untuk berhakim kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul niscaya mereka akan berpaling lagi menyombongkan diri, sebagaimana firman Allah azza wa jalla, ‘Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.’ (QS. an-Nur: 48). Ibnul Qayim berkata, ‘Ini dalil bahwa siapa yang diseru untuk berhakim kepada Kitab dan Sunah tetapi enggan dan tidak mau menerima maka dia adalah munafik. Yashuddun (mereka menghalangi) di sini adalah lazim (intransitif, edt.) bukan muta’addi (transitif, edt.), maknanya yu’ridhun (diri mereka yang berpaling, edt.) bukan menghalangi yang lain. Oleh karena itu, mashdar-nya (bentuk asal) adalah shudud (), sedang mashdar untuk yang bentuk muta’addi adalah shaddan ().’ Jika orang yang berpaling saja dihukumi oleh Allah sebagai munafik, lantas bagaimana dengan orang yang disamping berpaling juga menghalangi manusia dari berhakim kepada Kitab dan Sunnah dengan ucapan, amalan dan karya-karyanya. Lalu kemudian mengklaim bahwa sebenarnya dia menghendaki kebaikan dan perdamaian; artinya hanya menghendaki kebaikan dan hendak mengompromikan antara thaghutnya dengan Kitab dan Sunnah.

Saya katakan, inilah kondisi mayoritas orang yang mengaku berilmu dan beriman di zaman ini. Jika dikatakan kepada mereka marilah kita berhakim kepada apa yang diturunkan kepada Rasul, ‘Kamu melihat mereka berpaling lagi menyombongkan diri.’ (QS. al-Munafikun: 5). Mereka beralasan bahwa mereka tidak tahu dan tidak paham, ‘Bahkan Allah melaknat mereka akibat kekafiran mereka, lalu sedikit saja diantara mereka yang beriman.’ (QS. al-Baqarah: 88).

Firman Allah azza wa jalla, ‘Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri.’ Ibnu Katsir berkata, ‘Artinya bagaimana halnya jika takdir menyeret mereka terkena berbagai musibah lantaran dosa-dosa mereka lantas mereka membutuhkanmu.’ Ibnul Qayim berkata, ‘Ada yang berpendapat musibah yang dimaksud adalah terbongkarnya kedok mereka ketika al-Qur’an diturunkan terkait keadaan mereka, tidak diragukan bahwa ini adalah musibah dan bahaya terbesar. Berbagai musibah yang menimpa baik pada tubuh, hati, dan agama mereka adalah akibat menyelisihi Rasul shallallahu alaihi wasallam. Yang terbesar adalah musibah hati dan agama. Yang makruf terlihat mungkar, petunjuk terlihat sesat, yang lurus terlihat bengkok, yang haq terlihat batil, dan yang baik terlihat rusak. Inilah musibah yang menimpa hati. Inilah yang akan terjadi ketika menyelisihi Rasul shallallahu alaihi wasallam dan berhakim kepada yang lain. Sufyan ats-Tsauri berkata terkait firman Allah azza wa jalla, ‘Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Nya waspada terhadap fitnah yang menimpa mereka.’ (QS. An Nur: 63), beliau berkata, ‘Artinya hati mereka ditutup rapat-rapat.’

Firman Allah azza wa jalla, ‘Kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah, ‘Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna’.’ Ibnu Katsir berkata, ‘Artinya mereka beralasan dan bersumpah jika perginya kami kepada selain Anda hanyalah demi kebaikan dan petunjuk. Maksudnya hanyalah ungkapan basa basi dan pura-pura.’ Yang lain berkata, ‘melainkan demi kebaikan’ artinya bukan untuk keburukan, dan () artinya mendamaikan sengketa, kami sebenarnya tidak ingin menyelisihimu, juga bukan karena marah terhadap keputusanmu.’

(Disadur dari kitab Taisirul Azizil Hamid Syarh Kitabit Tauhid secara ringkas).

NIKMAT SEHAT DAN UJIAN SAKIT

RUMIYAH 8 - ARTIKEL

NIKMAT SEHAT DAN UJIAN SAKIT

Allah azza wa jalla memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menjaga diri mereka dari setiap hal menyakitkan dan membahayakannya. Menghalalkan segala hal yang bagus dan mengharamkan semua hal yang buruk dan najis yang membahayakan akal dan fisik mereka. Dia mengutus Nabi-Nya dengan manhaj Rabbani yang sempurna, yang mencakup seluruh perkara agama dan dunia. Sunnahnya penuh dengan berbagai macam anugerah Rabbani yang menjaga akal dan fisik seorang muslim.

Allah azza wa jalla berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. al-Araf: 157).

Imam ath-Thabari rahimahullah berkata, “Firman-Nya, ‘menghalalkan bagi mereka segala yang baik’, yakni seperti bahirah (unta betina yang telah beranak lima kali dan yang terakhir jan- tan), saibah (unta yang dibiarkan liar), washilah (anak domba berkelamin jantan dari sepasang kembar jantan dan betina), dan ham (unta jantan yang dibiarkan liar karena telah membuntingkan unta betina sepuluh kali) yang diharamkan oleh orang-orang jahiliyah, ‘dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk’ seperti daging babi, riba, dan yang mereka halalkan berupa makanan dan minuman yang Allah haramkan.”

Sehat Adalah Nikmat Yang Sering Dilupakan

Di antara nikmat yang dikaruniakan oleh Allah azza wa jalla kepada makhluk-Nya adalah nikmat kesehatan yang tidak diketahui kecuali mereka yang kehilangannya. Apapun yang dimilikinya rela dikorbankan demi mengobati dirinya dan mengembalikan kesehatannya sebisa mungkin.

Hadits Nabi, yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan penulis kitab sunan lainnya, menyebutkan tentang nikmat sehat ini. Sabdanya shallallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa merasa aman dalam rumahnya, sehat jasmaninya, memiliki makanan pokoknya pada hari itu maka seakan-akan ia memiki seluruh dunia”.

Imam Bukhari rahimahullah juga meriwayatkan dalam Shahihnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, berkata, “Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Dua nikmat yang dilupakan oleh banyak manusia adalah kesehatan dan waktu luang.’ Ibnu Bathal rahimahullah berkata mensyarah hadits agung ini, “Makna hadits ini ialah bahwa seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat. Jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”

Haram Merusak Jiwa

Anehnya ada saja orang yang malah berusaha merusak kesehatannya sendiri dengan hal-hal buruk dan membinasakan yang diharamkan Allah azza wa jalla. Seperti rokok dan barang-barang memabukkan lainnya yang menghilangkan fungsi akal sesuai tingkat kerusakannya juga sangat membahayakan badan. Barang-barang haram seperti itu hakikatnya membinasakan fisik secara pelan-pelan, sementara Allah telah melarang membunuh diri sendiri, firman-Nya, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. an-Nisa: 29).

Demikianlah syariat datang untuk menjaga dien dan jiwa. Demi dien jiwa pun dikorbankan dengan murah dalam jihad di jalan Allah sampai tidak ada lagi fitnah dan agama ini semata-mata milik Allah. Adapun selain di jalan itu maka seorang muslim tidak boleh membahayakan badannya atau melakukan sesuatu yang membahayakan kesehatannya dengan alasan apapun.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Mustadraknya, dari Jabir bahwa seorang lelaki dari kaum Thufail bin Amru ad-Dausi berhijrah bersama Thufail. Dia lalu jatuh sakit. Namun ia mengeluh karena sakitnya itu lalu memotong urat nadinya dan membiarkan darahnya mengucur sampai mati. Thufail melihatnya dalam mimpi. Thufail bertanya, “Apa yang Allah perbuat terhadapmu?” Dia menjawab, “Dia mengampuniku dengan hijrahku kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.” Thaufail bertanya lagi, “Mengapakah tanganmu?” Jawabnya, “Dikatakan padaku bahwa kami tidak akan memperbaiki apa yang telah kamu rusak.” Jabir berkata, “Thufail lalu menceritakannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Beliau lalu berdoa sembari mengangkat tangannya, ‘Ya Alllah ampunilah tangannya’.”

Lelaki ini tidak bermaksud membunuh dirinya, namun dia melakukan sesuatu yang menyebabkan kematiannya. Allah mengampuninya disebabkan hijrahnya sebagaimana disebutkan dalam doa Nabi shallallahu alaihi wasallam untuknya itu. Perhatikan apa yang dikatakan padanya, “kami tidak akan memperbaiki apa yang telah kamu rusak.” Maka dari itu, jasad ini tidak boleh dirusak kecuali dalam rangka mentaati dan mencari keridhaan Allah, bukan karena keinginan hawa nafsu semata.

Bersabar Ketika Sakit Adalah Sunnah Para Nabi dan Jalan Orang-orang Shalih

Antara nikmat sehat dan nikmat sakit seorang muslim harus bertawakal kepada Rabbnya. Ia harus mencari sebab-sebab kesembuhan. Jika sembuh maka itu adalah karunia Allah semata. Namun jika tidak maka hendaknya ia berbaik sangka kepada Rabbnya bahwa Dia ingin mengangkat derajat dan menghapus kesalahan-kesalahan dengan semua yang dideritanya. Hendaknya seorang muslim mengharap pahala dengan bersabar atas musibahnya itu karena demikianlah kondisi muslim dalam keadaan lapang maupun sempit.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam sabdanya, “Tidaklah seorang muslim tertimpa sakit, letih, khawatir, sedih, depresi, dan gangguan bahkan duri yang menusuknya kecuali Allah hapuskan dosa-dosannya.”

Oleh karena itu, sebagian salaf bergembira jika terkena sakit. Manusia yang paling keras ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang setelahnya.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihya dari Harits bin Suwaid dari Abdullah berkata, “Aku menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau dalam keadaan sakit parah. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah sungguh anda terkena sakit yang parah?' Sabdanya, ‘Betul, sakitku dua kali lipat dari sakit kalian.’ Kataku, ‘Karena itulah anda mendapatkan dua pahala?”

Sabdanya, “Ya, begitu juga tidaklah seorang muslim terkena gangguan, duri, atau lebih dari itu kecuali Allah akan hapuskan kesalahan-kesalahannya seperti pohon yang menggugurkan daunnya.”

Begitu pula sakit berkepanjangan yang diderita oleh Nabi Ayub alaihis salam. Allah memujinya kesabarannya dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya)”. (QS. Shad: 44). Sekalipun demikian, ia tidaklah berdoa meminta secara langsung kepada Allah, namun doanya beradab dan indah sekali, “Ya Rabbku sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb yang Maha Penyayang diantara semua penyayang”. (QS. al-Anbiya: 83). Tidaklah dia berdoa kecuali setelah bertahun-tahun menikmati rasa sakit. Sekalipun orang-orang menjauhinya ia tetap bersabar dan mengharap pahala atas kepahitan hidup yang dideritanya. Betapa berat dan lama penyakit yang dideritanya sehingga dia berusaha meraih sebab sembuh terbesar, yaitu doanya kepada Allah azza wa jalla.

Demikian jugalah manhaj para pengikut Nabi. Telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab az-Zuhud bahwa Abu Darda radhiyallahu anhu berkata, “Kefakiran yang paling kusukai adalah tawadhu’ kepada Rabbku, kematian yang paling kusukai adalah tatkala rindu kepada Rabbku, dan sakit yang paling kusukai adalah yang menghapus dosa-dosaku.”

Siapakah Yang Mau Membeli Surga Dengan Kesabaran?

Di antara kisah menakjubkan generasi pertama dalam bersabar atas ujian demi mengharapkan surga adalah yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Atha bin Abi Robah berkata, “Ibnu Abbas berkata, ‘Maukah aku perlihatkan kepadamu wanita penduduk surga.’ ‘Tentu,’ kataku. Ia bercerita, ‘Ada seorang wanita mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata, ‘Aku terkena penyakit ayan. Ketika kambuh auratku tersingkap. Maka berdoalah kepada Allah untuk kesembuhanku.’ Sabdanya, ‘Jika kamu mau bersabar maka kamu mendapat surga, tapi jika kamu mau aku akan mendoakanmu dan Allah akan menyembuhkankmu.’ Maka dia berkata, ‘Kalau begitu aku akan bersabar, namun ketika kambuh auratku tersingkap. Berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap.’ Maka beliau lalu mendoakannya.”

Inilah seorang muslimah yang bersabar menahan rasa sakitnya di dunia demi mendapatkan surga dengan segala kenikmatannya. Jika ada yang terheran-heran maka cukuplah baginya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Jabir berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersbada, ‘Di hari kiamat, orang-orang yang sentosa di dunia benar-benar mengharap seandainya kulit mereka diiris-iris dengan pisau di dunia lantaran melihat ganjaran orang-orang yang menderita (di dunia).”

Maka seyogyanya bagi mereka yang diberi nikmat kesehatan oleh Allah untuk memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat ini dengan menggunakannya dalam ketaatan pada-Nya sebagaimana yang diperintahkan-Nya, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. al-Qashas: 77).

Hendaknya ia memanfaatkan waktu sehatnya dan kuatnya untuk menambah tabungan kebaikannya sebelum ia terkena sakit atau masa tua dan lemah, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam, “Manfaatkan lima perkara sebelum datangnya lima perkara, masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, waktu kosongmu sebelum waktu sibukmu, dan kehidupanmu sebelum kematianmu (Diriwayatkan oleh Hakim dalam al-Mustadrak).

Barangsiapa yang diuji dengan sakit hendaknya ia memuji Allah atas apa yang dideritanya, karena sesungguhnya sebagian musibah itu lebih ringan daripada musibah lain. Hendaknya ia bersabar atas musibahnya itu dan mengharap pahala di sisi Allah azza wa jalla. Khusunya jika terluka di jalan Allah. Kesabaran atas apa yang menimpanya, dan rasa syukurnya atas nikmat yang dikaruniakan padanya berupa luka di jalan Allah adalah perkara yang diwajibkan.

Kita memohon kepada Allah agar menyembuhkan setiap kaum muslimin yang sakit, dan menjadikan rasa sakitnya sebagai penghapus dosa dan meninggikan derajat mereka, sungguh Allah Mahamampu akan hal itu, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 1)

RUMIYAH 8 - ARTIKEL

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 1)
SYAIKH ABU MUSHAB AL-ZARQAWI TAQABBALAHULLAH

Bismillahirrahmanirrahim.
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-Ankabut: 1-3).

Segala puji bagi Allah, yang memuliakan Islam dengan pertolongan-Nya dan yang menghinakan kesyirikan dengan kuasa-Nya. Dia Yang Maha Berkuasa dengan segala perintah-Nya. Dia yang menghancurkan orang-orang kafir dengan makar-Nya. Dia yang mempergilirkan hari demi hari dengan keadilan-Nya. Dia yang menjadikan akhir yang baik untuk orang-orang bertaqwa dengan anugerah-Nya. Shalawat dan salam kepada Nabi yang dengan pedangnya Allah meninggikan menara Islam. Amma ba’du.

Inilah tetesan air mata baru yang ku kirim melalui untaian kalimat …
Inilah denyut pedih yang ku keluarkan dari lubuk hati terdalam melalui tiap helaan nafas …

Dari seorang prajurit di tengah riuh pertempuran dan denting pedang bersahutan …
Dari Abu Mush’ab az-Zarqawi kepada siapapun pemilik sikap kesatria.

Kepedihan ummat yang memprihatinkan terus menerus menyergapku. Siluet ummat yang terluka tak pernah lepas dari benakku. Ummat mulia lagi agung, namun tangan-tangan khianat telah menimpakan berbagai macam keburukan; bantalnya adalah kehinaan, minumannya adalah cangkir-cangkir kekalahan dan khianat, dilumpuhkan dari fungsi dan kewajibannya, serta dirintangi dari impian dan cita-citanya.

Penyakit telah menjangkiti seluruh tubuhnya. Lalu kemudian dihempaskan ke tanah dan tubuhnya diikat erat. Serigala-serigala kelaparan dan binatang buas mengerubutinya. Hingga seluruh tubuhnya tercabik-cabik di antara paruh dan taring.

Inilah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari Tsauban radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Hampir-hampir bangsa-bangsa dari berbagai penjuru mengerubuti kalian layaknya orang-orang mengerubuti hidangan di atas meja.’ Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah karena jumlah kita sedikit? Jawabnya, ‘Kalian ketika itu berjumlah banyak namun tak lebih seperti buih. Rasa gentar dicabut dari hati musuh kalian dan hati kalian terjangkiti wahn.’ Kami bertanya, ‘Apa itu wahn? Sabdanya, ‘Cinta hidup dan benci mati.’ Dalam riwayat Ahmad, ‘Kalian membenci perang'."

Ketahuilah wahai ummat Islam, ujian adalah sebuah kisah dan sejarah panjang sejak turunnya La ilaha illallah ke bumi ini. Diujilah karenanya para nabi, orang-orang jujur, dan para imam muwahhid. Barangsiapa mengorbankan dirinya untuk memikul kalimat La ilaha illallah, menolong dan menegakkannya di muka bumi maka hendaknya dia bersiap untuk membayar harga mahal kemuliaan itu berupa rasa letih, ujian, dan bencana.

Dimanakah dirimu?

Jalan ini adalah jalan yang melelahkan Adam dan membuat Nuh mengeluh. Di jalan ini Sang Kekasih Allah dicampakkan ke kobaran api, Isma’il dibaringkan untuk disembelih, Yusuf dijual dengan harga murah dan terperangkap dalam penjara selama beberapa waktu. Di jalan ini Zakaria digergaji hingga terbelah, Yahya disembelih, Ayub tertimpa penyakit, Dawud menangis terus menerus, Isa terpaksa hidup dengan binatang buas, dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam tertimpa kemiskinan dan segala macam gangguan. Sedangkan engkau malah bergelimang senda gurau dan permainan?

Allah azza wa jalla menguji makhluk dengan sesamanya. Dia menguji mukmin dengan kafir, sebagaimana juga menguji kafir dengan mukmin. Semua makhluk mendapat ujian semacam ini.

Allah azza wa jalla berfirman, “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. al-Mulk: 1-2).

Muslim meriwayatkan dari Nabi kita shallallahu alaihi wasallam mengenai yang diriwayatkannya dari Rabbnya azza wa jalla, “Hanyasanya Aku mengutusmu untuk mengujimu dan menguji denganmu.”

Yang kita ketahui dari al-Qur’an dan Sunnah bahwa diantara para nabi ada yang disiksa dan dibunuh oleh musuh-musuhnya seperti Yahya alaihis salam. Ada juga yang kaumnya berkehendak membunuhnya sehingga terpaksalah ia kabur menyelamatkan dirinya seperti Ibrahim alaihis salam yang berhijrah ke Syam dan Isa alaihis salam yang diangkat ke langit. Diantara orang-orang mukmin juga ada yang tertimpa ujian berat. Ada yang dicampakkan ke parit yang menyala-nyala, ada yang menjadi syahid, ada yang sengsara lagi terancam hidupnya. Maka dimanakah janji Allah akan kemenangan kepada mereka di dunia, padahal mereka terusir, terbunuh, atau disiksa?

Ujian adalah ketentuan Allah atas seluruh makhluknya. Namun beratnya bertambah ketika menimpa orang-orang pilihan yang mendapatkan naungan Allah, khususnya para mujahidin. Mereka pasti akan menempuh madrasah ujian. Mereka pasti akan menerima pelajaran tamhish (seleksi), tahdzib (pemurnian), dan tarbiyah.

Disebutkan dalam Shahihain dari Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berat ujiannya?' Sabdanya, ‘Para nabi, kemudian orang-orang shalih dan lalu selanjutnya. Seseorang itu diuji sesuai kadar dinnya. Jika agamanya itu kokoh maka ujiannya akan ditambah. Jika diennya itu lunak maka ujiannya akan diringankan. Ujian akan terus menimpa seorang mukmin sampai ia berjalan di muka bumi tanpa dibebani kesalahannya’.”

Baihaqi meriwayatkan dalam Syu’abul Iman, ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir, dan Ibnu Saad dalam at-Thabaqat dari Abdullah bin Iyas bin Abi Fathimah dari ayahnya dari kakeknya berkata, “Suatu kali aku sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, ‘Siapa yang ingin sehat terus tanpa terkena sakit?' Kami menjawab, ‘Tentu kami wahai Rasulullah'. ‘Apa?' Kata beliau. Kami melihat wajahnya berubah. Beliau lalu bertanya, ‘Apa kalian ingin menjadi seperti keledai buas?' Mereka menjawab, ‘Wahai Rasulullah, tentu tidak'. Beliau bertanya, ‘Tidakkah kalian ingin menjadi orang-orang yang selalu diuji dan dihapuskan dosanya?' Mereka menjawab, ‘Tentu wahai Rasulullah'. Maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Demi Allah, sesungguhnya Allah betul-betul akan menguji seorang mukmin. Tidaklah Dia mengujinya kecuali karena hendak memuliakannya. Si mukmin di sisi Allah mempunyai kedudukan yang tidak bisa diraih hanya dengan amalnya saja, maka ujian ditimpakan padanya sampai ia bisa meraih kedudukan itu’.”

Tirmidzi meriwayatkan dari Jabir radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Orang-orang yang sentosa di dunia di hari kiamat benar-benar berharap kulit mereka diiris-iris dengan pisau lantaran melihat ganjaran yang didapatkan orang-orang yang terkena ujian.”

Dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda, “Pada hari kiamat nanti akan didatangkan orang yang paling sentosa hidupnya di dunia. Allah azza wa jalla berfirman, ‘Celupkanlah ia ke neraka secelupan saja’. Kemudian dia dihadapkan dan ditanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu dapati nikmat sekecil apapun itu? Apakah kamu melihat hal yang sedap dipandang? Apakah kamu mendapati kebahagiaan?' Jawabnya, ‘Tidak, demi kemuliaan-Mu.’ Kemudian Allah berfirman, ‘Campakkan dia ke neraka.’ Lalu dihadapkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia. Allah azza wa jalla lalu berfirman, ‘Celupkanlah ia ke surga secelupan saja.’ Lalu kemudian dia dihadapkan lagi dan ditanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu melihat sesuatupun yang kamu benci?' Jawabnya, ‘Tidak, demi kemuliaan-Mu, aku tidak mendapati sesuatupun yang aku benci’.”

Syaqiq al-Balkhi berkata, “Barangsiapa melihat ganjaran lantaran ujian tentu ia tidak akan ingin terlepas darinya.”

Allah azza wa jalla mensyariatkan jihad sebagai penyempurna syariat-syariat agama ini. Dia angkat kedudukan jihad hingga menjadi puncaknya kewajiban-kewajiban Rabbani. Dia jadikan jihad diliputi ujian yang dibenci oleh jiwa dan ditakuti oleh watak. Kemudian didekatkan-Nya dan dijadikan-Nya bagian dari intinya iman dan mutiara tauhid. Maka tidak ada yang mencintai, mendekati, dan mencarinya kecuali orang yang jujur imannya lagi kuat pengetahuannya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15).

Jihad pada hakikatnya berdiri di atas jiwa yang mengkilap lagi berserah diri kepada Rabb dan penciptanya. Ia laksanakan perintah-Nya. Ia meyakini dan berusaha meraih janji-janji-Nya. Hal ini tidak akan terjadi kecuali jika jalan ini diliputi dengan ujian dan rintangan. Oleh karena itu, Allah azza wa jalla berfirman, “Apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka dan memasukkan mereka ke dalam jannah yang telah diperkenankan-Nya kepada mereka.” (QS. Muhammad: 4-6).

Dia juga berfirman, “Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. al-Baqarah: 253).

Ibnu Katsir berkata mengenai tafsir ayat ini, “Yakni bahwa haruslah terjadi sebuah ujian yang akan menampakkan wali-Nya dan menyingkap musuh-Nya. Dengannya diketahui mana mukmin yang bersabar dan mana munafik yang fajir. Yaitu pada Perang Uhud. Allah menguji orang-orang beriman sehingga muncullah keimanan, kesabaran, kekuatan, keteguhan, dan ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Pada Perang Uhud pula Dia bongkar topeng orang-orang munafik hingga terlihat keengganan mereka dari berjihad dan pengkhianatan mereka atas Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam.”

Perhatikanlah, wahai hamba Allah, firman-Nya azza wa jalla, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. alHajj: 11).

Imam al-Baghawi meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, “Dahulu ada badui yang beriman kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Jika setelah masuk Islam ia dikaruniai keturunan yang banyak dan hartanya melimpah maka dia berkata bahwa ini adalah agama yang bagus. Dia lalu beriman dan tetap teguh. Namun jika setelah masuk Islam ia tidak dikaruniai keturunan, hartanya tidak bertambah melimpah malah tertimpa paceklik maka dia berkata ini agama yang buruk. Kemudian dia kembali kafir dan menentang.”

Penulis Fi Zhilalil Qur’an berkata, “Jiwa itu harus mengalami didikan dengan cobaan. Kekukuhan untuk terus berjuang demi kebenaran itu harus diuji. Dengan rasa takut, situasi genting, rasa lapar, kurangnya harta, hilangnya jiwa, dan hancurnya sumber pangan. Orang-orang mukmin harus mengalami ujian agar mereka mampu menanggung harga mahal akidah. Sehingga mereka tahu bahwa akidah yang tertanam dalam jiwa mereka itu sesuai dengan pengorbanan yang mereka bayar, yang tak mungkin dihindari ketika terjadi benturan pertama. Pengorbanan ini berupa sesuatu yang berharga yang membuat akidah itu tertanam kuat dalam jiwa pemeluknya terlebih dahulu sebelum tertanam dalam jiwa lainnya. Tiap kali penderitaan mereka bertambah dan tiap kali mereka berkorban demi akidah itu maka semakin dalam mengakar dalam jiwa mereka membuat mereka makin pantas. Orang lain juga tidak akan mengerti nilai dari akidah itu kecuali setelah melihat ujian yang menimpa pemeluknya dan kesabaran mereka. Ujian juga merupakan keharusan demi mengokohkan dan menguatkan pemeluk akidah itu. Musibah-musibah itu menyerang inti kekuatan dan upaya yang terpendam hingga menciptakan celah dan retakan dalam hati yang tidak mungkin dirasakan oleh seorang mukmin kecuali dalam himpitan ujian.”

Imam Syafi’i rahimahullah ditanya, “Mana yang lebih baik bagi seorang mukmin, diuji atau diberi kekuasaan?" Jawabnya, “Celaka kamu, bukankah kekuasaan itu didapat setelah ujian?"

Dari Shafwan bin Umar ia berkata, “Dahulu aku menjadi gubernur Himsh (Homs). Aku pernah mendapati seorang lelaki renta penduduk Damaskus yang alisnya telah memanjang sedang duduk di atas tunggangannya hendak ikut berperang. Maka aku berkata, ‘Wahai paman, Allah telah memberi udzur padamu.’ Maka dia mengangkat alisnya dan menjawab, ‘Wahai anak saudaraku, Allah telah memerintahkan kita untuk berperang dalam keadaan lapang dan sempit’.”

Ketahuilah wahai yang dicintai Allah dan diuji-Nya.
Bersabarlah atas hari-hari genting
Setelahnya akan ada kebahagiaan
Tiada bersabar kecuali orang-orang mulia
Sebentar lagi Allah akan membukakan jalan
Ketika itulah engkau akan terbebas dari letihmu

Penulis Fi Zhilal Qur’an berkata, “Iman bukanlah sekedar kata-kata belaka yang terucap. Ada hakikat dan harganya. Iman adalah amanat yang berat, jihad yang membutuhkan kesabaran, dan kesungguhan yang membutuhkan ketangguhan. Manusia tidak cukup hanya berkata kami beriman lalu dibiarkan begitu saja dengan klaimnya itu. Mereka harus menghadapi fitnah. Dengan fitnah itu akan membuktikan keteguhan mereka hingga mereka lulus dengan hati yang bersih dan unsur yang suci. Layaknya api yang menempa emas sehingga terlepaslah unsur-unsur yang mengotorinya. Itu juga merupakan makna kalimat fitnah secara bahasa, dan demikianlah isyarat serta indikasi yang ditunjukkannya. Demikian jugalah pengaruh fitnah kepada hati. Fitnah atas keimanan ini adalah sebuah kaidah tetap dan sunnah yang berjalan dalam timbangan Allah azza wa jalla, “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orangorang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-Ankabut: 3). Iman adalah amanat Allah di bumi-Nya. Pemikulnya adalah orang yang benar-benar pantas. Mereka memang mampu dan hatinya dipenuhi pengorbanan dan keikhlasan. Orang-orang yang lebih memilih kenyamanan, rasa aman dan sentosa, serta indahnya perhiasan dunia tak akan mampu memikulnya. Karena ini adalah amanat khilafah di bumi-Nya. Ini adalah amanat memimpin manusia menuju jalan Allah dan mewujudkan kalimat-Nya dalam alam kehidupan ini. Ini adalah amanat mulia, dan juga amanat yang berat. Ini adalah perintah Allah. Manusia harus menguatkan dirinya untuk melaksanakannya. Maka dari itu ia membutuhkan sikap khusus yang bisa tetap kokoh ketika diterpa ujian.”

Hendaknya sekelompok prajurit yang menempuh jalan jihad fi sabilillah itu menyadari karakteristik dan konsekuensi pertempuran ini. Jalan yang ditempuh ini sampai pada tujuan yang diinginkannya itu harus dimuluskan dengan darah pandeganya. Hendaknya mereka menyadari bahwa jalan ini berakibat hilangnya orang-orang tercinta dan para sahabat serta terusir dari tanah tumpah darah. Sebagaimana para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam merasakan pahitnya hijrah, hilangnya harta, keluarga, dan tanah kelahiran semuanya di jalan Allah sekalipun mereka adalah sebaik-baik makhluk setelah para nabi, lalu bagaimana halnya dengan kita?

Tidak ada pilihan bagi sekelompok kecil ini kecuali bersabar pada jalan yang ditempuhnya. Hendaknya ia terus menapaki jalannya itu. Hendaknya ia berharap pahala kepada Allah melaui apa yang menimpanya berupa kehilangan pemimpin dan sahabat. Hendaknya ia menyadari bahwa itu adalah sunnatullah azza wa jalla. Hendaknya ia mengetahui bahwa Allah telah memilih hamba-hamba-Nya yang shalih dari ummat ini. Hendaknya ia tidak meminta pertolongan Allah disegerakan karena sesungguhnya pertolongan-Nya pasti datang.

Hendaknya seorang muslim mengetahui bahwa mengikuti kebenaran dan bersabar di atasnya adalah jalan kemenangan tersingkat betapapun panjangnya dan banyaknya rintangan yang dihadapinya. Ia harus menyadari bahwa menyimpang dari kebenaran hanya akan membuahkan pembelotan. Jalan yang mudah dan kemenangan yang terlihat dekat hakikatnya adalah fatamorgana. Allah azza wa jalla berfirman, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa.” (QS. al-An’am: 153).

Inilah jihad. Puncak dan buah yang datang setelah kesabaran panjang dan berdiri lama di tengah medan tempur menunggu serbuan musuh dan menahan gempurannya. Penantian selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun terus menerus. Jika engkau tidak merasakan kepedihan seperti ini maka Allah tidak akan membuka pintu kemenangan untukmu, karena kemenangan itu bersama kesabaran. Ibnu Taimiyah telah berkata, “Kepemimpinan dalam Dien ini hanya diraih dengan kesabaran dan yakin.”

Konsep kebenaran dan kejujuran akidah serta tauhid itu tak lebih dari boneka tak bernyawa dalam dunia khayalan kecuali jika didukung oleh orangorang yang jujur lagi sabar. Mereka tanggung beban beban perjalanan yang teramat berat ini hingga siksa terasa indah dan letih terasa manis. Mereka tidak rela kecuali kematian demi hidupnya konsep ini dan beraksi dalam dunia nyata. Bukan sebagaimana diangankan oleh sebagian orang yang ingin menyulam konsep ini dengan benang emas dalam sebuah teori filsafat, atau pidato-pidato yang menggaung namun jauh dari ruh amal, kejujuran, dan praktek.

Sungguh Islam pada hari ini amat membutuhkan lelaki-lelaki jujur lagi sabar, bersegera untuk bersungguh-sungguh, menikmati rasa letih, dan beristirahat dengan rasa lelah. Dengan diam mereka terjemahkan tuntutan-tuntutan tahapan demi tahapan. Lelaki-lelaki pemilik jiwa yang jujur, semangat yang tinggi, dan azam yang kuat. Lelaki-lelaki yang tidak memahami kecuali siap mendengar dan melaksanakan perintah tanpa patah semangat, bosan, dan tak perlu berdebat. Maka singsingkanlah lengan bajumu untuk beraksi dan bersabarlah atas kepayahan dan beratnya perjalanan. Dikatakan bahwa, “Sungguh lemahlah siapa yang tidak menyiapkan kesabaran untuk menghadapi ujian, rasa syukur untuk setiap nikmat, dan yang tidak mengerti bahwa di tiap kesulitan ada kemudahan.”

Oh wahai jiwa, semangat ini telah memuncak
Menuju surga di bawah naungan pohon Tuba
Menuju bidadari yang tunduk pandangannya
Nikmat abadi dan nyanyian yang merasuk kalbu
Menuju kandil-kandil emas yang tergantung pada ‘Arasy Rabbku
Bagi orang-orang yang terbunuh dan tiadalah mereka mati

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan mereka tiada menafkah- kan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. at-Taubah: 121).

Imam ath-Thabari meriwayatkan dari Qotadah mengenai tafsir ayat ini, “Tidaklah suatu kaum bertambah jauh jaraknya di jalan Allah dari keluarga mereka kecuali mereka bertambah dekat kepada Allah.”

Maka perkara ini adalah di tangan Allah sebelum dan sesudahnya. Kita hanyalah hamba-Nya azza wa jalla yang sedang berusaha mewujudkan penghambaan kepada-Nya. Diantara kesempurnaan ibadah pada-Nya adalah bahwa kita mengetahui dan meyakini dengan pasti tanpa ragu bahwa janji Allah itu pasti akan terwujud. Namun kita tidak mengerti hakikatnya karena suatu hikmah yang hanya diketahui Allah. Terkadang terlambatnya pertolongan itu sebagai bentuk ujian dan cobaan. Mahabenar Allah Yang Mahaagung, “Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. ar-Rum: 47).

Dia Yang Mahasuci telah menjanjikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya para muwahhid. Dia berikan kekuasaan pada orang-orang yang sabar. Dia kabarkan bahwa kemenangan, kekuasaan, dan kekuatan yang diraih oleh umat-umat terdahulu adalah karena seluruh kesabaran dan ketawakalan mereka kepada-Nya, sebagamana firman-Nya, “Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir´aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. al-A’raf: 137).

Allah mengabarkan bahwa kemuliaan dan kekuasaan yang diperoleh nabi-Nya Yusuf setelah keterasingan dan kejadian yang dialaminya dalam istana al‘Aziz adalah buah dari kesabaran dan ketaqwaannya, “Sesungguhnya barang siapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (QS. Yusuf: 90).

Dia azza wa jalla juga menghubungkan kemenangan dengan kesabaran dalam firman-Nya, “Hai orangorang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200).

Dia azza wa jalla juga menyebutkan bahwa kesudahan yang baik di dunia adalah bagi orang-orang sabar dan bertaqwa, “Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Hud: 49).

Kita mengerti dengan yakin bahwa janji Allah itu selamanya tidak akan terlambat. Persoalannya adalah pandangan kita terbatas pada salah satu macamnya saja yaitu kemenangan dan kekuasaan. Belum tentu itulah kemenangan yang dijanjikan-Nya pada para nabi, rasul, dan hamba-hamba-Nya yang beriman. Terkadang kemenangan terwujud dalam bentuk lain yang tidak disadari jiwa yang lemah dan rapuh.

ZUHUD DI DUNIA ADALAH MANHAJ SALAF

RUMIYAH 8 - MUSLIMAH

ZUHUD DI DUNIA ADALAH MANHAJ SALAF

Nabi kita shallallahu alaihi wasallam adalah tuannya para ahli ibadah dan ahli zuhud, Jibril alaihis salam mendatanginya sebagai utusan dari Rabbnya para hamba, menawarkan dua pilihan kepadanya antara diutus sebagai Nabi berposisi Raja atau Nabi berposisi Hamba, maka ia memilih yang kedua, beliau menolak kunci-kunci pembendaharaan dunia yang fana, sehingga beliau dan keluarganya merasakan berbagai macam bentuk kemiskinan dan kemlaratan, hidup bersama para Shahabat pilihan dalam kesederhanaan, sedangkan mereka adalah sang pemilik bumi dan leher-leher (manusia) ditundukkan untuk mereka.

Pada masa ini setelah dibukakannya dunia untuk kita, kita mulai kehilangan ruh itu, ruh generasi awal dari para ahli zuhud, yang tidak tertipu oleh gemerlapnya dunia, dan mereka memahami bahwa untuk selamat dari (fitnah dunia) adalah dengan meninggalkan apa yang ada didalamnya.

Jika diperhatikan keadaan sebagian wanita pada hari ini, maka akan terlihat kemewahan yang berlebih dan ketamakan terhadap dunia dan kotoran-kotorannya dari mereka, jika mereka belanja maka berlebih-lebihan, bila menuntut suami mereka akan memaksa dan melelahkan, namun jika suami terlambat memberi nafkah karena kurangnya penghasilan, mereka menggerutu dan mengeluh, barangkali malah sampai kredit dan berhutang, sehingga ia buang rasa malunya dihadapan kaum lelaki, menderita dihadapan manusia karena banyaknya permintaan.

Dahulu salah seorang wanita kaum salaf selalu mengiringi suaminya setiap hari ke pintu rumah untuk memberikan wasiat kepadanya sebelum keluar agar selalu bertaqwa kepada Allah dalam hal yang telah Dia anugrahkan kepada mereka, perhatiannya terhadap halal dan haram! Adapun sebagian wanita hari ini menyusul suaminya ke pintu rumah untuk mengingatkannya tentang daftar belanja yang tiada habisnya, bagaimanapun cara (mendapatkan)nya itu bukan urusan dia (wanita), dan dari mana sang suami akan mendapatkannya untuk istrinya!

Engkau dapati salah seorang dari mereka (para wanita) itu tidaklah memiliki perhatian terhadap dunia kecuali sebatas makanan dan busananya, jika ia makan maka berlebihan, jika berbusana maka bermewah-mewahan, jika duduk untuk ngobrol maka yang dibicarakan adalah seputar makanan, pakaian, tentang gaya dan warna rambut, padahal sungguh di- antara doa Nabi shallallahu alaihi wasallam “Dan janganlah Engkau jadikan dunia itu tujuan terbesar dan puncak ilmu kami” (HR At-Tirmidzi).

Wahai saudariku se-Islam, wahai cucu Aisyah, Aisyah yang dulu busananya tambalan, mari kita sedikit berimajinasi tentang rumah terbaik, termulia dan terwangi, berdasarkan rasio, agama dan kebaikan, ‘iffah, kekayaan dan ketaqwaan, ketahuilah ia adalah rumah Nabimu shallallahu alaihi wasallam. Sungguh kamar-kamarnya sangatlah kecil, sangat sederhana, sangking kecilnya ruangan hampir tidak muat untuk dua orang, adapun alas yang beliau gunakan tidur diatasnya, adalah sebagaimana yang dituturkan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha, beliau menuturkan: adapun alas tidur Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah adam, isinya dedaunan.” (Muttafaq Alaih). Adam adalah kulit yang telah disamak, dan daunnya adalah daun kurma.

Al-Faruq Umar radhiyallahu anhu bercerita kepada kita dalam sebuah hadits yang panjang, dimana ia datang menemui beliau: “Maka aku masuk menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedangkan beliau berbaring diatas tikar, kemudian akupun duduk, maka beliau menurunkan sarungnya yang tidak ada selainnya, ternyata tikar itu membekas pada punggung beliau, maka aku melihat lemari beliau shallallahu alaihi wasallam, ternyata aku melihat segenggam gandum kira-kira satu sho’, dan juga aku melihat semisalnya di sisi ruangan, tiba-tiba aku terenyuh, kemudian berlinang kedua mataku, beliau bersabda: “Apa yang membuatmu menangis wahai putera Al-Khattab?” Aku berkata: "Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis sedangkan tikar ini yang telah membekas di punggung anda, sedangkan lemari anda aku tidak melihat didalamnya kecuali apa yang telah aku lihat, sementara Kaisar Kisra ditengah buah-buahan dan sungai, sedangkan engkau adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam namun beginilah almari anda", maka beliau menjawab: “Wahai Ibnul Khattab, apakah engkau tidak ridha jika akhirat itu untuk kita sedangkan dunia untuk mereka?”, aku berkata: “Iya....” (HR. Muslim).

Adapun makanan beliau dan keluarga beliau shallallahu alaihi wasallam sungguh telah berlalu dua kali hilal namun tidak pernah menyalakan api, sedangkan kebanyakan hidup mereka bergantung kepada dua hal: kurma dan air, bahkan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha menuturkan apa yang terkadang mereka dapati berupa daging, dia berkata: “Luhaim (daging kecil)” sebagai ungkapan saking sedikitnya!

Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata: “Di dalam pilihan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan generasi Salaf terbaik dari para Shahabat, Tabi’in terhadap kesulitan hidup, serta bersabar diatas pahitnya kefaqiran, dan kemiskinan serta penderitaan keras, pakaian dan makanan yang kasar serta kenyamanan yang sangat rendah, meninggalkan manis dan nikmatnya kekayaan, apa yang dapat menjelaskan tentang keutamaan zuhud di dunia, mengambil makanan dan bekal khusus, dahulu Nabi shallallahu alaihi wasallam melalui hari-hari dan mengganjalkan batu diperutnya karena lapar; itsar darinya dikarenakan kerasnya hidup dan bersabar atasnya, dengan pengetahuan beliau bahwa seandainya beliau memohon kepada Rabbnya agar menjadikan gunung Tihamah menjadi emas dan perak untuk beliau niscaya akan dilakukan, dan diatas jalan inilah orang-orang shalih berjalan.”

Demi Allah wahai saudari muslimah renungilah hadis Ummu Salamah radhiyallahu anha dimana dia berkata: “Sungguh dahulu kami mengalami haid pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam salah seorang dari kami melewati hari-hari haidhnya kemudian suci, maka diapun melihat pakaian yang ia kenakan, jika terkena darah maka kami mencucinya dan kami shalat menggunakannya, namun jika tidak terkena sesuatu kami biarkan dan hal itu tidak menghalangi kami untuk sholat dengannya.” (HR. Abu Dawud).

Ya Subhanallah! Sungguh ada salah seorang wanita dari generasi terbaik barang kali tidak memiliki pakaian kecuali hanya satu, dengan mengenakan baju itu dia haidh dan suci, adapun kaum wanita umat kita pada hari ini hampir-hampir saja rumah-rumah mereka ditelan oleh perkakas yang ada di dalamnya berupa pakaian dan perhiasan!

Bisa jadi ada wanita yang berkata: Aku tidak melihat kalian kecuali hanya bisa mengharamkan apa yang Allah halalkan yang mana Dia suka melihat nikmat-Nya atas hamba-Nya!

Kami katakan ketika itu: Kami memohon perlindungan kepada Allah dari mengharamkan kebaikan-kebaikan-Nya atas hamba-Nya, akan tetapi ia adalah dakwah untuk bertabiat dengan akhlak sebaik-baik makhluk, dan zuhud adalah perhiasan mukmin sejati, yaitu orang yang memandang dunia itu kecil dimatanya dan akhirat besar di hatinya.

Sedangkan Allah azza wa jalla mencintai apabila melihat bekas nikmat-Nya atas hamba-Nya, bukan tanda israf dan tabdzir, dan tidak (suka) melihat para isteri itu membebani punggung suami mereka dengan memburu setiap apa yang mereka (para Isteri) inginkan meskipun memenuhi hal itu sangatlah menyulitkan mereka (para suami).

Dan kami jika menyeru para wanita untuk berhias dengan perhiasan indah ini (zuhud di dunia), tidaklah terlewatkan oleh kami ditempat ini untuk mengingatkan dari kekikiran dan kepelitan terhadap keluarga.

Maka bagi suami yang muslim wajib memberi nafkah kepada keluarganya, dan anak-anaknya dengan ma’ruf tanpa berlebihan ataupun melalaikan (hak mereka), dan hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, hingga dengan demikian dia dapat meraih derajat orang-orang mulia bukan menjadi saudara setan, maka janganlah sekali-kali orang yang memiliki harta kemudian mempersempit belanja keluarganya, dan hendaklah ia mengharapkan pahala atas setiap suapan yang ia letakkan di mulut keluarganya, dan atas setiap kebahagiaan yang ia berikan kepada mereka, dan Allah memiliki tujuan dibalik itu, sebagaimana janganlah sekali-kali orang yang memiliki kebutuhan kemudian membebani dirinya dengan apa yang tidak dia mampu demi mendapatkan ridha sang isteri yang tidak pernah mempertimbangkan keadaan (suami) nya, dan tidak kasihan terhadap kelemahan (suami) nya.

Dan akhir seruan kami segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, Ya Allah curahkanlah shalawat dan berkah atas Sayidul Anbiya Wal Mursalin (Penghulu Para Nabi dan Rasul), serta atas keluarga dan para Shahabat beliau seluruhnya.

PENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH, ANTARA MANHAJ NABAWIYAH DAN YANG MENYIMPANG (BAGIAN 2)

RUMIYAH 8 - ARTIKEL

PENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH, ANTARA MANHAJ NABAWIYAH DAN YANG MENYIMPANG (BAGIAN 2) KAUM SESAT RAFIDHAH

Daulah Islamiyah adalah satu-satunya sarana untuk menegakkan Dien dan mewujudkan keadilan di antara manusia. Allah azza wa jalla telah mewajibkan hamba-Nya untuk menegakkan Din. Dia jadikan penerapan syariat-Nya sebagai syarat mutlak untuk penegakan DinNya. Hilangnya kekuasan Din dan berkuasanya syariat selain syariat-Nya azza wa jalla maka akan membawa kesewenang-wenangan kekafiran dan berkuasanya kezhaliman. Manusia menggunakan berbagai sarana untuk menghilangkan kezhaliman. Ada yang berpandangan bahwa penegakkan Din –selain bahwa hal itu adalah suatu kewajiban syar’i– akan menjamin terwujudnya keadilan. Merekalah orang-orang yang berserah diri kepada Rabb semesta alam. Ada juga yang berusaha menegakkan semua hal yang dikiranya adil dengan berbagai cara, berlandaskan pada faktor-faktor duniawi saja. Mereka itulah para perusak bertopengkan reformasi di setiap millah dan agama yang bathil.

Mayoritas manusia menginginkan tegaknya keadilan dalam masyarakat tempat tinggalnya. Tegaknya keadilan bagi mereka merupakan sarana untuk mencegah kezhaliman pihak lain dan membuka kesempatan untuk menjalani kehidupan dunia yang aman sentosa lagi bahagia. Oleh karena itu, kita dapati cukup banyak para filsuf jahiliyah yang berbicara mengenai persoalan hukum, karena hukum adalah sarana untuk menegakkan keadilan dan mewujudkan kebahagiaan. Sehingga muncul banyak istilah yang berputar pada “hukum yang adil” dan “utopia (sistem sosial politik yang sempurna)”, yang dimpi-impikan oleh manusia. Tak terhitung lagi revolusi yang digelorakan oleh berbagai bangsa untuk mewujudkan impian itu.

Ketika manusia mengabaikan metode yang telah dijelaskan penciptanya azza wa jalla, yang menjamin terwujudnya keadilan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat, maka sudah pasti mereka akan saling bertikai. Muncullah para tokoh penyesat yang mengklaim bahwa hanya dirinyalah yang mengetahui jalan untuk mewujudkan keadilan, hanya lewat dirinya dan partainyalah keadilan bisa diwujudkan di muka bumi. Ketika pandangan mereka mengenai keadilan yang diklaimnya itu bergesekan dengan pandangan dan kepentingan kelompok lain maka solusinya hanyalah senjata. Karena tidak ada prinsip yang disepakati bersama antar mereka untuk menyelesaikan gesekan yang terjadi.

Kami Hanya Menginginkan Reformasi

Seperti itulah jalan yang ditempuh banyak klaimer pengikut para nabi dan rasul alaihi shalatu wasallam. Mereka tinggalkan sunnahnya malah mengikuti jalan bid’ah dan hawa nafsu sehingga tersesat dari jalan yang lurus. Tiap-tiap mereka mengikuti jalannya masing-masing. Di atas jalan-jalan itu ada setan yang menyeru ke neraka. Tiap-tiap mereka mengklaim dirinyalah pewaris ilmu nubuwah dan penjaga syariat. Tiap-tiap mereka menginspirasikan pengikutnya bahwa dirinya akan mengembalikan agama persis seperti praktek nabinya, bahkan akan mewujudkan kemenangan, kekuatan, dan tegaknya agama yang tidak bisa diwujudkan nabinya. Walhasil, muncullah sekte yang bermacam-macam. Kristen terpecah menjadi tujuh puluh satu sekte. Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh dua sekte. Diikuti jugalah oleh klaimer ummat Muhammad shallallahu alaihi wasallam sehingga terpecahlah menjadi tujuh puluh tiga sekte, semuanya sesat kecuali satu kelompok yang berjalan di atas manhaj nubuwah, atas apa yang telah ditetapkan dan dipraktekkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya yang mulia.

Sejarah sekte-sekte itu menunjukkan bahwa penyimpangan manhaj yang dialaminya itu, yang menyeretnya hingga keluar dari agama secara total, adalah karena seruan mereka untuk kembali kepada manhaj kenabian itu dilandaskan pada prinsip-prinsip yang rusak. Mereka berusaha menegakkan suatu negara yang amat berbeda dari negara Nabi shallallahu alaihi wasallam. Jalan yang mereka tempuh itu pun semakin menambah penyimpangan mereka hingga teramat jauh dari jalan yang lurus. Mereka tambah dan kurangi Dien ini demi mendukung manhaj sesatnya. Hingga akhirnya agama mereka yang beraneka ragam itu berbeda sama sekali dari Dienul Islam yang mulanya mereka menyeru untuk mengembalikannya pada praktek generasi pertama.

Rafidhah; Sejarah Panjang Kesesatan

Rafidhah –jika memang bisa dianggap sebagai sekte pertama yang muncul– sejatinya adalah kelanjutan dari penyimpangan sebagian orang yang fanatik dengan ahlul bait Nabi shallallahu alaihi wasallam. Mereka meyakini bahwa tidak ada yang bisa mengembalikan Dien kepada praktek yang telah dilakukan sebelum terputusnya wahyu, dan tidak ada yang bisa menjaganya sampai hari kiamat kecuali keluarga Nabi dan anak cucunya. Dari situlah muncul doktrin wasiat, yang mereka sangkutkan pada diri Ali radhiyallahu anhu. Mereka menciptakan doktrin ini yang intinya bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menetapkan dan mewasiatkan bahwa Ali adalah khalifah sepeninggalnya.

Mereka juga menciptakan bid’ah bahwa Ali lebih utama daripada Abu Bakar dan Umar. Kemudian doktrin itu berkembang menjadi ekstrim yang sampai pada tingkatan menuhankan Ali pada masa hidupnya dan sesudah kematiannya. Doktrin imamah Ahlul Bait menjadi prinsip pokok agama mereka. Mereka berpandangan bahwa reformasi agama itu tidak akan terjadi kecuali dengan kepemimpinan salah satu dari anak cucu Fathimah radhiyallahu anha.

Kecenderungan bid’ah dalam reformasi fiktif yang mereka diktekan pada dirinya sendiri itu memaksa mereka melangkah lebih jauh. Tiap kali ada imam yang meninggal mereka mengingkarinya, meyakini reinkarnasinya, bahkan sampai menciptakan anak bagi imam mereka yang tidak memiliki keturunan. Hal itu lantaran doktrin pewarisan imamah dari bapak ke anaknya secara berturut-turut. Ketika Hasan al-‘Askari Imam kesebelas mereka itu ternyata tidak mempunyai keturunan, mereka ciptakan Imam kedua belas yang bernama Muhammad al-Mahdi bin Hasan al-‘Askari. Demi menutupi borok dalam doktrin wasiat mereka bahwa bumi tidak akan mungkin kosong dari seorang imam yang akan mewujudkan persyaratan relatif dan legitimasi mereka. Di samping itu mereka juga menciptakan kisah menghilangnya sang imam di sebuah lubang di Samarra yang dia akan keluar lagi pada akhir zaman untuk memenuhi bumi dengan keadilan. Akhirnya metode bid’ah, sesat lagi syirik mereka itu pun terus berlanjut.

Metode Sesat dan Eksploitasi Agama Palsu

Sejak awal mula munculnya sekte Syi’ah sampai yang kita lihat pada saat ini, yang telah berkembang menjadi beraneka ragam sekte kecil dengan kesyirikan dan kekafirannya, para ulama durjana penutannya telah mengubah Dienul Islam yang mulanya mereka mengklaim berusaha sungguh-sungguh menjaganya dari penyimpangan. Mereka tambahkan ritual-ritual dan ideologi-ideologi agama Ahli Kitab dan paganis. Mereka ingkari semua yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan manhajnya. Mereka ciptakan riwayat-riwayat palsu atas nama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang memenuhi berjilid-jilid buku sehingga berhasil menipu orang-orang bodoh. Sampai al-Qur’an yang mulia pun tidak lepas dari kekafiran dan pendiskreditan mereka. Mereka mengklaim al-Qur’an telah ditambah dan dikurangi, ketika mendapati ayat-ayat yang bertentangan dengan ideologi mereka.

Kemudian mereka pilah dan pilih ideologi dan praktek sekte-sekte sesat dan agama-agama bathil yang bisa dimanfaatkan untuk membangun aqidahnya. Hingga terciptalah aqidah Rafidhah yang terpisah secara total dari ahlus sunnah wal jamaah dan Islam.

Sejarah sekte-sekte Syi’ah telah menulis bahwa sejak awal mula munculnya telah dan masih berusaha menegakkan suatu Daulah Islamiyah dan memaksa manusia untuk masuk dalam agamanya yang bathil, yang diklaimnya merupakan agama sebagaimana diturunkan atas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan diwariskan kepada para imam fiktifnya itu. Hanya Allah yang mengetahui berapa pengikut mereka dan kaum muslimin yang terbunuh dalam peperangan demi peperangan yang terus berlangsung sejak 14 abad lalu demi mencapai target mereka itu.

Demikianlah agama Rafidhah tumbuh di atas prinsip dan teori reformasi rusak, yang dipandang sebagai prasyarat mutlak untuk mewujudkan keadilan dan reformasi fiktif yang diklaimnya itu. Teologi wasiat yang diambil oleh generasi pertama Syiah dari doktrin Yahudi, atau didoktrinkan dalam otak mereka lewat tangan seorang Yahudi seperti Ibnu Saba. Sebuah keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pamong bagi Islam setelah terputusnya wahyu sebagaimana Yusya’ bin Nun adalah wali Bani Israel sepeninggal Musa alaihis salam. Pemikiran ini terus berkembang selama berabad-abad. Gesekan terus terjadi antara sekte-sekte Syiah dengan musuh-musuhnya dan antara sekte-sekte itu sendiri. Agama mereka terus mengalami modifikasi lewat “kreatifitas” para ulama durjananya. Hingga terciptalah “adonan” agama najis yang kita dapati saat ini pada sekte-sekte Syiah yang beraneka ragam itu.

Di Atas Jejak Rafidhah

Evolusi panjang agama Rafidhah ini menyodorkan contoh nyata pada kita bagaimana seruan untuk penegakkan Daulah Islamiyah bisa berubah menyimpang jika menapaki jalan yang jauh dari jalan yang lurus dan mendikte manusia untuk ikut menapaki jalan itu demi tegaknya agama. Hingga berujung pada memodifikasi agama agar cocok dengan jalan kreasi mereka itu.

Inilah yang kita dapati pada banyak seruan yang saat ini menapaki jalan fiktifnya demi tegaknya Dien dan hukum syariat Rabb semesta alam. Penyimpangan yang telah dimulai pada awal mula perjalanan telah membuahkan kerenggangan teramat lebar dari manhaj nubuwah, bahkan sampai berusaha memberantas manhaj nubuwah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Pada tulisan-tulisan berikutnya kita akan berusaha memberikan contoh yang lebih jelas mengenai ide ini, mengenai nasib yang ditempuh orang-orang sesat, dan membandingkannya dengan manhaj nubuwah yang sedang dilakoni oleh Daulah Islamiyah, dengan karunia Allah azza wa jalla.

JANJI ALLAH PASTI BENAR

RUMIYAH 8 - ARTIKEL

JANJI ALLAH PASTI BENAR

Allah azza wa jalla memuji hamba-hamba-Nya yang beriman dan membenarkan firman-Nya serta meyakini bahwa janji-Nya pasti terwujud. Keyakinan yang tidak akan pernah hilang baik disaat lapang maupun sempit. Adanya berbagai ujian justru hanya menambah keimanan mereka terhadap ayat-ayat Allah dan janji-Nya, berserah diri kepada perintah dan hikmah-Nya, serta ridha terhadap keputusan dan ketentuan-Nya.

Kebanyakan hamba itu berharap bahwa jalan keluar dan kemenangan itu datang dari Allah melalui cara dan peristiwa tertentu, tetapi Allah azza wa jalla memiliki hikmah yang agung yang terkadang banyak tidak kita ketahui.

Orang-orang beriman pernah berharap bertemu dan bisa menyergap kafilah dagang kafir Quraisy dengan mudah tanpa perang, sehingga rampasannya menjadi sumber kekuatan dan menjadi modal untuk beberapa waktu. Tetapi Allah azza wa jalla berkehendak dengan ilmu dan hikmah-Nya agar kafilah dagang tersebut lolos, dan Quraisy keluar bertekad untuk memerangi umat islam dengan pasukan yang berjumlah lebih dari tiga kali lipat jumlah pasukan muslim, berambisi untuk menghabisi umat islam yang telah berlaku lancang lebih dulu menjatuhkan wibawa Quraisy dan mengancam perdagangannya. Lalu terjadilah perang Badar al-Kubra.

Allah berfirman tentangnya, “Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya”. (QS. al-Anfal: 7-8).

Allah azza wa jalla menjadikan orang-orang kafir terlihat sedikit dalam pandangan kaum mukminin agar mereka termotivasi dan tidak gentar untuk memerangi orang-orang kafir. Ia juga membuat jumlah orang-orang beriman terlihat sedikit dalam pandangan orang-orang kafir sehingga mereka terperdaya dengan memerangi orang-orang beriman.

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanya kepada Allahlah dikembalikan segala urusan”. (QS. al-Anfal: 44).

Maka ketika kedua kubu saling berjibaku, kaum muslimin terlihat berjumlah dua kali lipat lebih banyak dalam pandangan orang-orang kafir. Pasukan kafir pun terguncang, mental mereka jatuh, kekuatannya melemah, dan mereka berputus asa dari kemenangan. Sedangkan Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan pertolongan-Nya.

Allah azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati”. (QS. Ali Imran: 13).

Ketika perang Ahzab, Allah azza wa jalla menguji orang-orang beriman dengan ujian dahsyat yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Tetapi hal itu justru semakin menambah keimanannya bahwa janji Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dengan kemenangan orang-orang beriman dan kekalahan orang-orang kafir pasti akan terwujud.

Allah azza wa jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Ahzab: 9).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah azza wa jalla menceritakan tentang nikmat, karunia, dan kebaikan-Nya yang telah Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Yaitu Dia telah mengusir musuh-musuh mereka dan mengalahkan mereka pada tahun di mana mereka bersatu dan bersekutu melawan pasukan muslim. Peristiwa ini terjadi dalam Perang Khandaq. Tepatnya terjadi pada bulan Syawwal tahun lima Hijriyah, menurut pendapat yang sahih .... Orang-orang musyrik tiba dan turun bermarkas di sebelah timur kota Madinah dekat Uhud. Sebagian dari mereka bermarkas di dataran tinggi Madinah, sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya, “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu”. (QS. al-Ahzab: 10).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar bersama pasukan kaum muslim yang berjumlah kurang lebih tiga ribu personil; menurut pendapat lain hanya tujuh ratus personel. Lalu mereka menyandarkan punggung mereka ke lereng bukit, sedangkan wajah mereka menghadap ke arah musuh.” Konsentrasi pasukan kafir mengepung kaum muslimin itu membuat mereka mengalami ujian yang sangat berat. Ibnu Katsir berkata, “Keadaan tersebut membuat posisi kaum muslim makin gawat dan sangat terjepit, sebagaimana firman Allah azza wa jalla, ’Di situlah diuji orang-orang mukmin dan diguncangkan (hatinya) dengan guncangan yang sangat.’ (QS. al-Ahzab: 11). Mereka mengepung Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya selama kurang lebih satu bulan.”

Kemudian datanglah pertolongan Allah azza wa jalla setelah ujian berat dan kesempitan tersebut dengan cara yang menakjubkan, yang menampakkan kekuasaan, kekuatan, kemuliaan, dan hikmah serta kelembutan-Nya terhadap orang-orang beriman. Allah azza wa jalla berfirman, “Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orangorang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa”. (QS. al-Ahzab: 25).

Allah azza wa jalla kembali meneguhkan orang-orang beriman dengan kemenangan atas Yahudi Bani Quraizhah dan menimpakan kekalahan kepada mereka, serta menganugerahkan ghanimah yang cukup banyak yang mereka dapatkan dari Bani Quraizhah. Allah azza wa jalla berfirman, “Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu”. (QS. al-Ahzab: 26-27).

Itulah janji Allah, yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya setelah Dia menyaring dan menguji mereka sehingga orang-orang munafik keluar dari barisan mereka, sedangkan orang-orang beriman bertambah solid dan yakin dengan janji Allah, lalu datanglah pertolongan-Nya kepada mereka dari arah yang tidak disangka. Kami berdoa kepada Allah agar memberikan kemenangan, kemuliaan, dan tamkin kepada para hamba-Nya yang berjihad. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

SEMBAHLAH RABBMU SAMPAI AJAL MENJEMPUT

RUMIYAH 8 - PENGANTAR

SEMBAHLAH RABBMU SAMPAI AJAL MENJEMPUT

Ketika Allah menganugerahkan nikmat kepada hamba-Nya, maka dijadikan-Nya zhahirnya sejalan dengan batinnya, dan ucapannya sejalan dengan tindakannya. Dia tidak menjadikannya seorang munafik yang kontradiktif antara tindakan dan ucapannya. Inilah apa yang telah Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya di Daulah Islamiyah –dengan karunia-Nya– dalam berbagai sendi yang tak terhitung lagi. Utamanya dalam faktor utama wujudnya yaitu iqomatud din dan tahkim syariat.

Daulah yang menyelisihi orang-orang sesat dan menyesatkan, yaitu para pejuang faksi-faksi perpecahan dan perselisihan serta sekte-sekte madharat. Sebelumnya mereka memenuhi dunia dengan pernyataan dan teori-teori bahwa mereka berupaya menegakkan dien. Mereka bertekad merealisasikannya ketika kekuasaan berada dalam genggamannya. Namun kemudian tampaklah bahwa slogan-slogan itu dusta belaka. Ketika mereka menggenggam kekuasaan, segera saja janji-janji manis itu dilanggar. Mereka berhukum dengan aturan thaghut. Keeksisan organisasi dan figurnya lebih mereka pilih daripada menegakkan agama.

Setiap kali Allah menaklukkan dan menguasakan sebidang tanah atas Daulah, maka prajuritnya segera menegakkan agama Allah, memerintahkan penduduknya kepada kebaikan, dan melarang mereka dari keburukan. Meski mereka yakin bahwa hal itu akan menyebabkan orang-orang kafir menyerang dan menyesakkan dada orang-orang munafik, namun hanya ridha Allah Rabb semesta alam yang mereka inginkan.

Di antara kebaikan yang menggembirakan hati muwahid ini adalah ketika ia melihat shalat didirikan, zakat dikumpulkan, amar makruf nahi munkar dilaksanakan, dan hudud ditegakkan di setiap jengkal tanah Islam, walaupun pertempuran membara di berbagai sudut-sudutnya.

Engkau lihat singa-singa Islam menggoreskan pertempuran-pertempuran bersejarah dan mengorbankan jiwa raganya. Mereka terus mengawasi gerak-gerik kaum musyrikin dari ujung-ujung kota. Di saat yang sama adzan dikumandangkan, lalu kaum muslimin berkumpul untuk menegakkan shalat, sekalipun medan tempur hanya berjarak satu atau dua blok saja. Terlihat ikhwah lainnya berkeliling untuk membagi-bagi zakat kepada yang berhak. Pengaduan demi pengaduan terus mengalir pada peradilan-peradilan Islam yang berhakim dengan syariat Allah. Hudud tetap ditegakkan kepada terdakwa. Dakwah kepada kebaikan tidak berhenti, begitupula amar makruf nahi mungkar. Begitulah Dienul Islam yang ditegakkan secara sempurna sebagaimana diperintahkan oleh Allah azza wa jalla.

Tidaklah prajurit yang berada di front terdepan tetap bertahan kecuali untuk menjaga syariat Allah yang ditegakkan di bumi, yang orang-orang musyrik berusaha menghapuskannya. Ia yakin betul bahwa kemenangannya atas musuh bukanlah lantaran kekuatan lengannya, ketajaman pedang, atau lengkapnya persenjataan, namun murni karunia Allah. Setiap kali bertambah keyakinan jika agama ini ditegakkan sebagaimana dikehendaki-Nya, bertambah pula keyakinan akan pertolongan Allah. Dengan berjihad melawan orang-orang musyrik dan melindungi kaum muslimin, berarti dia telah menegakkan Dien dari sisi yang dibebankan imamnya padanya.

Rekan-rekannya menyokong, melindungi, dan membantunya dari belakang. Mereka menjaga kehormatan dan harta kaum muslimin. Hanya ketaatan kepada pemimpin yang membuat mereka menjauh dari front-front pertempuran dan garis-garis perbatasan. Mereka hanya menunaikan beban yang dipikulkan di bahu mereka yakni amanah penegakan dien. Lantaran mereka syiar-syiar agama dihormati, batasan-batasannya terjaga, dan hukum-hukumnya diterapkan. Jika ada perintah mobilisasi maka mereka segera bergerak, jika dimintai tolong maka mereka memberi pertolongan, dan jika diperintahkan maka mereka mematuhi.

Begitulah keadaan yang berlangsung di setiap jengkal Negeri Islam. Prajurit Daulah Islam terus menegakkan Dien selagi nikmat tamkin masih digenggam. Hingga ketika Rabb mereka menguji dengan serbuan musuh sampai terpaksa mundur atas izin para pemimpin mereka, setelah seluruh kemampuan dikerahkan untuk menghalau orang-orang musyrik, di hadapan Allah beban itu telah lepas dari pundak mereka. Lalu mereka kembali mengerahkan kemampuan untuk mendapatkan kembali kontrol atas wilayah itu dan menegakkan syariat. Dengan ini terbuktilah ketulusan seruan mereka dan kesetiaan mereka akan janjinya. Mereka membuat ridha Rabbnya, dan tampaklah kebenaran manhaj mereka.

Bukhari meriwayatkan dari hadits Anas dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang bersabda, “Jika kiamat telah terjadi sedangkan kalian sedang memegang benih maka jika mampu hendaknya ia tetap menanamnya.”

Wahai tentara-tentara Islam dan penjaga-penjaga syariat. Janganlah kalian meremehkan perkara makruf sekecil apapun itu. Janganlah merasa lemah untuk menegakkan syiar Islam apapun itu jika ia mampu, atau menyeru kepada keutamaan suatu amalan sekalipun sedang sibuk menghalau musuh, melindungi kaum muslimin, dan menjaga perbatasan.

Jangan sekali-kali menunda-nunda penegakkan Dien dengan sempurna setelah Allah memberikan kekuasaan di bumi walaupun sehari ataupun beberapa hari. Jangan sekali-kali menggantungkan syiar-syiar dan hukum-hukum Dien di bumi yang kalian pijak walaupun sehari atau beberapa hari sehingga Rabb kalian murka dan kalian dikalahkan musuh.

Allah azza wa jalla berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. az-Zalzalah: 7-8).