Rabu, 25 April 2018

PENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH, ANTARA MANHAJ NABAWIYAH DAN YANG MENYIMPANG (BAGIAN 2)

RUMIYAH 8 - ARTIKEL

PENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH, ANTARA MANHAJ NABAWIYAH DAN YANG MENYIMPANG (BAGIAN 2) KAUM SESAT RAFIDHAH

Daulah Islamiyah adalah satu-satunya sarana untuk menegakkan Dien dan mewujudkan keadilan di antara manusia. Allah azza wa jalla telah mewajibkan hamba-Nya untuk menegakkan Din. Dia jadikan penerapan syariat-Nya sebagai syarat mutlak untuk penegakan DinNya. Hilangnya kekuasan Din dan berkuasanya syariat selain syariat-Nya azza wa jalla maka akan membawa kesewenang-wenangan kekafiran dan berkuasanya kezhaliman. Manusia menggunakan berbagai sarana untuk menghilangkan kezhaliman. Ada yang berpandangan bahwa penegakkan Din –selain bahwa hal itu adalah suatu kewajiban syar’i– akan menjamin terwujudnya keadilan. Merekalah orang-orang yang berserah diri kepada Rabb semesta alam. Ada juga yang berusaha menegakkan semua hal yang dikiranya adil dengan berbagai cara, berlandaskan pada faktor-faktor duniawi saja. Mereka itulah para perusak bertopengkan reformasi di setiap millah dan agama yang bathil.

Mayoritas manusia menginginkan tegaknya keadilan dalam masyarakat tempat tinggalnya. Tegaknya keadilan bagi mereka merupakan sarana untuk mencegah kezhaliman pihak lain dan membuka kesempatan untuk menjalani kehidupan dunia yang aman sentosa lagi bahagia. Oleh karena itu, kita dapati cukup banyak para filsuf jahiliyah yang berbicara mengenai persoalan hukum, karena hukum adalah sarana untuk menegakkan keadilan dan mewujudkan kebahagiaan. Sehingga muncul banyak istilah yang berputar pada “hukum yang adil” dan “utopia (sistem sosial politik yang sempurna)”, yang dimpi-impikan oleh manusia. Tak terhitung lagi revolusi yang digelorakan oleh berbagai bangsa untuk mewujudkan impian itu.

Ketika manusia mengabaikan metode yang telah dijelaskan penciptanya azza wa jalla, yang menjamin terwujudnya keadilan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat, maka sudah pasti mereka akan saling bertikai. Muncullah para tokoh penyesat yang mengklaim bahwa hanya dirinyalah yang mengetahui jalan untuk mewujudkan keadilan, hanya lewat dirinya dan partainyalah keadilan bisa diwujudkan di muka bumi. Ketika pandangan mereka mengenai keadilan yang diklaimnya itu bergesekan dengan pandangan dan kepentingan kelompok lain maka solusinya hanyalah senjata. Karena tidak ada prinsip yang disepakati bersama antar mereka untuk menyelesaikan gesekan yang terjadi.

Kami Hanya Menginginkan Reformasi

Seperti itulah jalan yang ditempuh banyak klaimer pengikut para nabi dan rasul alaihi shalatu wasallam. Mereka tinggalkan sunnahnya malah mengikuti jalan bid’ah dan hawa nafsu sehingga tersesat dari jalan yang lurus. Tiap-tiap mereka mengikuti jalannya masing-masing. Di atas jalan-jalan itu ada setan yang menyeru ke neraka. Tiap-tiap mereka mengklaim dirinyalah pewaris ilmu nubuwah dan penjaga syariat. Tiap-tiap mereka menginspirasikan pengikutnya bahwa dirinya akan mengembalikan agama persis seperti praktek nabinya, bahkan akan mewujudkan kemenangan, kekuatan, dan tegaknya agama yang tidak bisa diwujudkan nabinya. Walhasil, muncullah sekte yang bermacam-macam. Kristen terpecah menjadi tujuh puluh satu sekte. Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh dua sekte. Diikuti jugalah oleh klaimer ummat Muhammad shallallahu alaihi wasallam sehingga terpecahlah menjadi tujuh puluh tiga sekte, semuanya sesat kecuali satu kelompok yang berjalan di atas manhaj nubuwah, atas apa yang telah ditetapkan dan dipraktekkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya yang mulia.

Sejarah sekte-sekte itu menunjukkan bahwa penyimpangan manhaj yang dialaminya itu, yang menyeretnya hingga keluar dari agama secara total, adalah karena seruan mereka untuk kembali kepada manhaj kenabian itu dilandaskan pada prinsip-prinsip yang rusak. Mereka berusaha menegakkan suatu negara yang amat berbeda dari negara Nabi shallallahu alaihi wasallam. Jalan yang mereka tempuh itu pun semakin menambah penyimpangan mereka hingga teramat jauh dari jalan yang lurus. Mereka tambah dan kurangi Dien ini demi mendukung manhaj sesatnya. Hingga akhirnya agama mereka yang beraneka ragam itu berbeda sama sekali dari Dienul Islam yang mulanya mereka menyeru untuk mengembalikannya pada praktek generasi pertama.

Rafidhah; Sejarah Panjang Kesesatan

Rafidhah –jika memang bisa dianggap sebagai sekte pertama yang muncul– sejatinya adalah kelanjutan dari penyimpangan sebagian orang yang fanatik dengan ahlul bait Nabi shallallahu alaihi wasallam. Mereka meyakini bahwa tidak ada yang bisa mengembalikan Dien kepada praktek yang telah dilakukan sebelum terputusnya wahyu, dan tidak ada yang bisa menjaganya sampai hari kiamat kecuali keluarga Nabi dan anak cucunya. Dari situlah muncul doktrin wasiat, yang mereka sangkutkan pada diri Ali radhiyallahu anhu. Mereka menciptakan doktrin ini yang intinya bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menetapkan dan mewasiatkan bahwa Ali adalah khalifah sepeninggalnya.

Mereka juga menciptakan bid’ah bahwa Ali lebih utama daripada Abu Bakar dan Umar. Kemudian doktrin itu berkembang menjadi ekstrim yang sampai pada tingkatan menuhankan Ali pada masa hidupnya dan sesudah kematiannya. Doktrin imamah Ahlul Bait menjadi prinsip pokok agama mereka. Mereka berpandangan bahwa reformasi agama itu tidak akan terjadi kecuali dengan kepemimpinan salah satu dari anak cucu Fathimah radhiyallahu anha.

Kecenderungan bid’ah dalam reformasi fiktif yang mereka diktekan pada dirinya sendiri itu memaksa mereka melangkah lebih jauh. Tiap kali ada imam yang meninggal mereka mengingkarinya, meyakini reinkarnasinya, bahkan sampai menciptakan anak bagi imam mereka yang tidak memiliki keturunan. Hal itu lantaran doktrin pewarisan imamah dari bapak ke anaknya secara berturut-turut. Ketika Hasan al-‘Askari Imam kesebelas mereka itu ternyata tidak mempunyai keturunan, mereka ciptakan Imam kedua belas yang bernama Muhammad al-Mahdi bin Hasan al-‘Askari. Demi menutupi borok dalam doktrin wasiat mereka bahwa bumi tidak akan mungkin kosong dari seorang imam yang akan mewujudkan persyaratan relatif dan legitimasi mereka. Di samping itu mereka juga menciptakan kisah menghilangnya sang imam di sebuah lubang di Samarra yang dia akan keluar lagi pada akhir zaman untuk memenuhi bumi dengan keadilan. Akhirnya metode bid’ah, sesat lagi syirik mereka itu pun terus berlanjut.

Metode Sesat dan Eksploitasi Agama Palsu

Sejak awal mula munculnya sekte Syi’ah sampai yang kita lihat pada saat ini, yang telah berkembang menjadi beraneka ragam sekte kecil dengan kesyirikan dan kekafirannya, para ulama durjana penutannya telah mengubah Dienul Islam yang mulanya mereka mengklaim berusaha sungguh-sungguh menjaganya dari penyimpangan. Mereka tambahkan ritual-ritual dan ideologi-ideologi agama Ahli Kitab dan paganis. Mereka ingkari semua yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan manhajnya. Mereka ciptakan riwayat-riwayat palsu atas nama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang memenuhi berjilid-jilid buku sehingga berhasil menipu orang-orang bodoh. Sampai al-Qur’an yang mulia pun tidak lepas dari kekafiran dan pendiskreditan mereka. Mereka mengklaim al-Qur’an telah ditambah dan dikurangi, ketika mendapati ayat-ayat yang bertentangan dengan ideologi mereka.

Kemudian mereka pilah dan pilih ideologi dan praktek sekte-sekte sesat dan agama-agama bathil yang bisa dimanfaatkan untuk membangun aqidahnya. Hingga terciptalah aqidah Rafidhah yang terpisah secara total dari ahlus sunnah wal jamaah dan Islam.

Sejarah sekte-sekte Syi’ah telah menulis bahwa sejak awal mula munculnya telah dan masih berusaha menegakkan suatu Daulah Islamiyah dan memaksa manusia untuk masuk dalam agamanya yang bathil, yang diklaimnya merupakan agama sebagaimana diturunkan atas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan diwariskan kepada para imam fiktifnya itu. Hanya Allah yang mengetahui berapa pengikut mereka dan kaum muslimin yang terbunuh dalam peperangan demi peperangan yang terus berlangsung sejak 14 abad lalu demi mencapai target mereka itu.

Demikianlah agama Rafidhah tumbuh di atas prinsip dan teori reformasi rusak, yang dipandang sebagai prasyarat mutlak untuk mewujudkan keadilan dan reformasi fiktif yang diklaimnya itu. Teologi wasiat yang diambil oleh generasi pertama Syiah dari doktrin Yahudi, atau didoktrinkan dalam otak mereka lewat tangan seorang Yahudi seperti Ibnu Saba. Sebuah keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pamong bagi Islam setelah terputusnya wahyu sebagaimana Yusya’ bin Nun adalah wali Bani Israel sepeninggal Musa alaihis salam. Pemikiran ini terus berkembang selama berabad-abad. Gesekan terus terjadi antara sekte-sekte Syiah dengan musuh-musuhnya dan antara sekte-sekte itu sendiri. Agama mereka terus mengalami modifikasi lewat “kreatifitas” para ulama durjananya. Hingga terciptalah “adonan” agama najis yang kita dapati saat ini pada sekte-sekte Syiah yang beraneka ragam itu.

Di Atas Jejak Rafidhah

Evolusi panjang agama Rafidhah ini menyodorkan contoh nyata pada kita bagaimana seruan untuk penegakkan Daulah Islamiyah bisa berubah menyimpang jika menapaki jalan yang jauh dari jalan yang lurus dan mendikte manusia untuk ikut menapaki jalan itu demi tegaknya agama. Hingga berujung pada memodifikasi agama agar cocok dengan jalan kreasi mereka itu.

Inilah yang kita dapati pada banyak seruan yang saat ini menapaki jalan fiktifnya demi tegaknya Dien dan hukum syariat Rabb semesta alam. Penyimpangan yang telah dimulai pada awal mula perjalanan telah membuahkan kerenggangan teramat lebar dari manhaj nubuwah, bahkan sampai berusaha memberantas manhaj nubuwah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Pada tulisan-tulisan berikutnya kita akan berusaha memberikan contoh yang lebih jelas mengenai ide ini, mengenai nasib yang ditempuh orang-orang sesat, dan membandingkannya dengan manhaj nubuwah yang sedang dilakoni oleh Daulah Islamiyah, dengan karunia Allah azza wa jalla.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar