Tampilkan postingan dengan label Pendahuluan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendahuluan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

SEMBAHLAH OLEH KALIAN ALLAH SAJA

DABIQ 15 - PENDAHULUAN

SEMBAHLAH OLEH KALIAN ALLAH SAJA

“Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (QS. At-Taubah : 126)

Setelah serangan di Orlando (AS), Dhaka (Bangladesh), Magnanville, Nice dan Normandy (Perancis), serta Wirzburg dan Ansbach (Jerman) yang menyebabkan kesyahidan 12 prajurit Khilafah serta mati dan terlukanya lebih dari 600 salibis, siapapun akan mengira bahwa para penyembah salib dan orang-orang musyrik penyembah demokrasi di Barat akan berhenti sejenak dan merenungkan alasan dibalik kebencian dan permusuhan umat Islam terhadap masyarakat Barat, atau mengambil pelajaran dan berpikir untuk bertaubat dengan meninggalkan kekafiran mereka dan memeluk Islam.

Namun demam dan khayalan yang disebabkan oleh dosa, khurafat dan sekulerisme telah menyebabkan pikiran dan akal mereka yang masih tersisa menjadi mati. Kecanduan hedonism dan doktrin biadab mereka telah memperbudak mereka kepada tuhan-tuhan palsu berupa pendeta, pembuat hukum dan hawa nafsu mereka. Sedangkan mengibadahi Sang Pencipta semata dan mengikuti Rasul-nya yang terakhir shallallahu ‘alaihi wasallam, maka hal itu diluar pertimbangan mereka. Sebaliknya, mereka memerangi apa saja dan siapa saja yang mendatangkan kesejahteraan mereka di dunia dan keselamatan mereka di akhirat. Mereka memerangi Pencipta mereka, kitab-Nya, hukum-Nya, Rasul-Nya serta hamba-hamba-Nya. Dan mereka tanpa malu mengakui pengingkaran mereka pada kebijaksanaan, rahmat dan keadilan-Nya, dengan mengira bahwa Allah ta’ala akan membiarkan agama-Nya dan para hamba-Nya dalam kezhaliman musuh-musuh-Nya dan kejahatan mereka.

Meskipun kondisi mereka yang malang berupa kebodohan dan kesombongan, kami mengambil momen sejumlah pembantaian terhadap warga dan kepentingan mereka ini untuk mengajak mereka sekali lagi kepada agama tauhid yang murni, kebenaran, rahmat, keadilan dan pedang.

Semenjak dirilisnya Dabiq edisi ini hingga pembantaian berikutnya dilaksanakan terhadap mereka oleh para prajurit rahasia Khilafah –yang diperintahkan untuk menyerang mereka tanpa ditunda-tunda- para salibis dapat menelaah mengapa umat Islam membenci dan memerangi mereka, mengapa kaum musyrikin Kristen harus menghancurkan salib mereka, mengapa kaum liberal sekuler harus kembali kepada fithrah, dan mengapa kaum atheis skeptic harus mengakui Pencipta mereka dan berserah diri kepada-Nya.

Intinya, kami menjelaskan mengapa mereka harus meninggalkan kekafiran mereka dan menerima Islam, agama yang murni dan tunduk hanya pada Rabb langit dan bumi.*

*Islam berasal dari kata dalam Bahasa Arab yaitu istislam / salamah, yang berarti ketundukan dan keikhlasan. Ini adalah inti dari Islam yaitu ketundukan kepada Allah dengan ikhlas (murni hanya kepada-Nya saja).

Mereka akan mendapati pada halaman demi halaman edisi ini rincian dari pesan kami kepada mereka permasalahan seputar kekristenan, feminisme, liberalism dan atheisme. Namun, risalah terakhir dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, risalah yang mana ia diutus dengannya –yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah- dan risalah dari nabi-nabi sebelumnya sejak Adam hingga Muhammad alaihi shalatu wasallam adalah sama sepanjang sejarah: Tiada ilah kecuali Allah. Kata “ilah” secara bahasa artinya “yang berhak disembah”, yaitu tidak ada sesuatu pun atau seorang pun yang berhak diibadahi selain Allah.

Allah adalah nama yang benar dari Tuhan Pencipta Langit dan Bumi. Nama ini berasal dari kata yang sama yaitu “ilah”, dan memiliki akar kata yang serupa dengan nama Sang Pencipta yang didapati dalam semua Bahasa Semit, termasuk Bahasa Ibrani yang digunakan oleh para Nabi dari Bani Israil.

Dalam Bahasa Ibrani, mereka berdoa kepada Tuhan dengan mengatakan “Elohim”, yang serupa di dalam Bahasa Arab dengan “Allahumm”. Akhiran “him” dalam Bahasa Ibrani dan “humm” dalam Bahasa Arab –yang merupakan bentuk jamak pengagungan- ditambahkan pada “Eloh” dan “Allah” untuk menegaskan keagungan-Nya dan kerendahan hati orang yang berdoa. Hanya Dia semata Tuhan yang berhak disembah karena hanya Dia saja Pencipta Langit dan Bumi. Dan hanya Dia semata Tuhan Langit dan Bumi, dan hanya Dia semata yang memiliki sifat-sifat paling agung, berupa ilmu, kekuatan, keadilan, rahmat, kebijaksanaan, keindahan, kemuliaan, keagungan, dll. Jika sebagian makhluknya memiliki sifat yang terpuji, maka itu semata-mata disebabkan oleh perencanaan dan petunjuk-Nya. Sifat-sifat makhluk tidak akan bisa menandingi sifat-sifat-Nya yang sempurna.

Itulah sebabnya mengapa hanya Dia saja yang berhak diibadahi, dan mengapa tidak ada seorang pun atau sesuatu pun yang patut diibadahi selain Dia. Adapun meyakini adanya “tuhan-tuhan” yang ikut berperan dalam penciptaan alam semesta atau berbagi dalam ketuhanannya, maka ini adalah keyakinan yang menyimpang dan bertentangan dengan fitrah manusia yang bahkan dulu Kaum Musyrikin Arab sebelum Islam tidak meyakininya. Sebaliknya, kesyirikan mereka adalah dengan berdoa kepada berhala-berhala yang melambangkan orang-orang shalih, yang mereka melakukannya untuk mencari syafa’at dari orang shalih itu untuk mereka di hadapan Allah ta’ala.

Namun, di waktu bencana yang dahsyat, mereka akan meninggalkan berhala-berhala mereka dan berdoa hanya kepada Allah saja.

Allah ta’ala berfirman : “Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al-Ankabut: 65)

Jadi, bagian fitrah ini –pengakuan akan ketuhanan Allah semata- ditekankan oleh semua Nabi dalam risalah mereka untuk membawa kembali kaum mereka yang musyrik kepada fitrah yang telah ditinggalkan – yaitu mengibadahi Allah saja.

Allah ta’ala berfirman : “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?’. Katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku’. Kepada-Nya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az-Zumar : 38)

Dia ta’ala juga berfirman : “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?’" (QS. Yunus : 31)

Yaitu mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya dengan beribadah hanya kepada-Nya saja dan hanya mentaati-Nya saja?

Allah ta’ala juga berfirman : “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. Al-Anbiya: 25)

Jadi, risalah dari semua Nabi menekankan peribadahan dan ketaatan hanya kepada Allah saja, bukan kepada selain-Nya.

Tiada ilah selain Allah maknanya adalah tidak ada yang berhak diibadahi dan ditaati kecuali Allah. Dia diibadahi tanpa sekutu dengan rasa cinta (mahabbah), takut (khauf), takut (roja’), doa, sujud, sembelihan, dall. Dia ditaati tanpa sekutu dengan mengikuti Rasul-Nya yang terakhir shallallahu ‘alaihi wasallam, berhukum kepada-Nya, menerapkan syari’at-Nya, dan menolak setiap hukum yang dibuat oleh selain-Nya. Allah Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hukum-Nya adil dan semua hukum selain-Nya pasti tidak luput dari kesalahan dan kezhaliman.

Makna tersebut diuraikan di banyak ayat Al-Qur’an.

“…Keputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf : 40)

“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan terperinci?...” (QS. Al-An’am : 114)

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al Qur'an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am : 115)

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Ma’idah : 50)

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura : 21)

“Bukankah Allah Hakim yang paling adil?” (QS. At-Tiin : 8)

“Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.” (QS. Yunus : 109)

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa : 60)

“…dan Dia (Allah) tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan (hukum)".” (QS. Al-Kahfi : 26)

“Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih maka putusan (hukum)nya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakal dan kepada-Nya lah aku kembali.” (QS. Asy-Syura : 10)

“Dan putuskan lah perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…” (QS. Al-Ma’idah : 49)

“…Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Ma’idah : 44)

“Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah...” (QS. An-Nisa : 64)

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’. Katakanlah: ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir’.” (QS. Ali Imran : 31-32)

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…” (QS. Al-Ma’idah : 48)

“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85)

Sedangkan untuk sekulerisme era modern, maka itu adalah agama kaum Madyan, yang mengaku tidak bisa memahami mengapa beribadah kepada Allah juga harus mentaati hukum-Nya.

“Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)." Dan Syuaib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." Mereka berkata: "Hai Syuaib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Syuaib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Lut tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. Mereka berkata: "Hai Syuaib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami. Syuaib menjawab: "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan." Dan (dia berkata): "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu." Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa.” (QS. Hud : 84-95)

Jadi, kaum sekuler Madyan dibinasakan seperti kaum musyrikin Tsamud.**

**Kisah kaum Tsamud disebutkan di beberapa tempat di Al-Qur’an. Lihat surat Hud ayat 61-68.

Pemusnahan umat-umat terdahulu dan bencana pada umat-umat setelahnya adalah alasan untuk perenungan yang mendalam.

Allah ta’ala berfirman : “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. Ali Imran : 137)

Allah ta’ala juga berfirman : “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (QS. Al-An’am : 42)

Masyarakat Barat yang sedang menghadapi keruntuhan “peradaban” melalui perbuatan jahat mereka dan amal shalih mujahidin, harus bertanya pada diri mereka beberapa pertanyaan, diantaranya :

Bagaimana mereka mengaku mencintai Tuhan, namun mereka menyembah manusia dan benda selain Dia?

Bagaimana mereka mengaku takut kepada-Nya, namun mereka mengambil sumber hukum dari keinginan hawa nafsu mereka?

Bagaimana mereka mengaku memuliakan-Nya, namun mereka mengolok-olok Nabi dan Rasul yang diutus kepada umat manusia serta wahyu dan hukum yang mereka bawa?

Bagaimana mereka mengklaim beriman dan mengakui Dia sebagai satu-satunya Tuhan Yang Maha Penyayang, Maha Adil dan Maha Bijaksana tapi mereka menjadikan bagi-Nya seorang Ibu, putra, sekutu (Trinitas), percaya bahwa Dia tidak dapat mengampuni umat manusia dari “dosa asli” mereka melainkan dengan cara salah seorang manusia yang paling Dia cintai –secara tidak adil menanggung dosa mereka dan di salib atas nama mereka, dan menyatakan bahwa hukum-Nya kejam, barbar dan tidak pantas di zaman modern?

Dimana penghambaan kalian kepada-Nya?

Dimana rasa hormatmu kepada apa yang Dia cintai?

Dimana sisa akal sehatmu, yang akan segera menolak keyakinan takhayul Trinitas dan penebusan dosa melalui penyaliban yesus?

Dimana kerendahan hatimu di hadapan Yang Maha Kuasa?

Apakah kamu bersikeras meninggalkan fitrah dan mengalah pada kesesatan nenek moyangmu?

Padahal Allah ta’ala mensifati orang kafir terdahulu dengan berfirman: “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi Peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka’." (QS. Az-Zukhruf : 23)

Kami mengajakmu merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini sementara para Kesatria Khilafah yang haus darah mengobarkan perang mereka untuk menerormu. Tidak diragukan bahwa peperangan ini hanya akan diakhiri dengan bendera hitam tauhid berkibar diatas Konstantinopel dan Roma, dan itu tidaklah sulit bagi Allah…

“Katakanlah: ‘Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya, atau (azab) dengan tangan kami. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu’.” (QS. At-Taubah : 52)

SERANGAN TEROR JUNUD KHILAFAH DI BELGIA

DABIQ 14 - PENDAHULUAN


SERANGAN TEROR JUNUD KHILAFAH DI BELGIA

Segala puji hanya bagi Allah yang maha menciptakan. Semoga shalawat serta salam selalu tercurah pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, sahabat dan pengikutnya. Amma ba’du:

Selama hampir dua tahun, kaum muslimin di bumi Khilafah telah menyaksikan saudara dan anak-anak-nya yang tercinta tanpa henti dibom oleh pesawat-pesawat tempur tentara salib. Adegan pembantaian, tertumpahnya darah dan tercecernya anggota badan hingga tersebar di jalan-jalan telah menjadi hal yang lumrah bagi kaum mu’minin. Benih kerinduan untuk membalas dendam telah mekar dan berkembang di hati para janda yang berduka, yatim piatu yang tertekan dan tentara yang bersungguh-sungguh; dan kini buah-buah tersebut telah siap untuk dipanen.

Salibis mengaku bahwa mereka-lah yang memikul dan memperjuangkan "kebebasan" dan "keadilan" bagi setiap bangsa yang tertindas di dunia, meskipun pada kenyataannya kekejaman mereka tidaklah mengenal batas ketika mereka menghadapi kaum Muslimin. Dan hanya masalah waktu saja sebelum kemurkaan umat ini ditimpakan kepada mereka hingga membangunkannya akan kenyataan.

Kematian seorang Muslim, tidak peduli apapun perannya dalam masyarakat, adalah lebih berat bagi seorang mu’min daripada pembantaian terhadap semua orang kafir di muka bumi. Syari’at telah menyeru untuk menginvasi seluruh tanah kafir, dan tentu saja ini dimulai dengan negara agresor sebelum bangsa-bangsa yang tidak aktif berperang melawan Khilafah. Ini adalah kenyataan yang jelas bahwa setiap kafir yang berdiri menghalangi Daulah Islam akan dibunuh, tanpa belas kasihan dan tanpa penyesalan, sampai umat Islam tidak lagi menderita dan pemerintahan sepenuhnya hanya untuk Allah.

Brussel, jantung Eropa telah diserang, Darahnya ditumpahkan ke tanah di titik vitalnya, diinjak-injak di bawah kaki para mujahidin. Api yang mereka nyalakan tahun lalu di Iraq sekarang telah menghanguskan medan pertempuran dari Belgia, dan akan segera menyebar ke seluruh Negara salib di Eropa dan Barat. Paris adalah peringatan dan Brussel adalah pengingat. Sedang apa yang akan datang akan lebih dahsyat dan lebih pahit dengan izin Allah, dan Allah berkuasa atas urusan-Nya tetapi kebanyakan manusua tidak mengetahui. Setelah mengambil pelajaran selama beberapa tahun yang dihabiskan dalam perang paling dahsyat dan keras dalam sejarah perang modern, tentara Daulah Islam menjanjikan kepada mereka perlawanan hebat dalam gelapnya hari kematian dan kehancuran di negeri mereka sendiri. Peluru dan meriam akan menusuk dan menebas siapapun yang dapat dijangkau oleh tentara Allah. Dan bagi yang selamat akan terluka baik secara fisik maupun mental, dihantui setiap kali mata mereka tertutup atau setiap kali mereka berkedip. Suara sirene akan memenuhi langit yang diawali oleh ledakan dari bom yang ditanam di semua tempat dengan tepat. Kerusakan akan menghampiri ekonomi mereka, infrastruktur mereka dan sumber-sumber pendapatan mereka, yang akan membuat hidup mereka lebih keras dan sulit dari apa yang mereka bayangkan sekarang. Dan itu tidak-lah akan berakhir sampai di situ saja, tidak akan berakhir sampai hukum Allah tegak berdiri dari timur hingga ke barat dan hingga Muslim dapat berjalan tanpa gangguan kafir najis di bawah mereka.

Dan tidaklah seperti budak setan yang menyerang dengan semua kekuatan mematikan mereka yang menakuti taqdir kehidupan mereka, hamba-hamba ar-Rahman telah mempersiapkan diri untuk menemui Tuhan-nya seraya berharap ridha-Nya. Kaum kafir yang menganggap bahwa bom mereka dan tentara perwakilan mereka akan dapat menghentikan Daulah Islam harus menyadari bahwa tentara Khilafah telah menyerahkan diri mereka kepada Allah, maha pencipta atas segala sesuatu dan Robb semesta alam. Maka dari itu tidak-lah ada kemungkinan bagi mereka untuk menyerah kepada manusia. Namun di sisi lainnya, salibis pada akhirnya tidak-lah memiliki pilihan selain menerima kekalahan. Walaupun kesombongan akan mencegah mereka pada hari ini, namun itu hanya masalah waktu saja – setelah sekian banyak operasi yang diberkahi dan karena Allah memfasilitasi tentara-Nya di tanah mereka– sebelum tentara salib kehilangan tekad dan mereka jatuh di kaki serangan para singa, meminta ampunan dan memohon untuk dapat membayar jizyah.

SERANGAN HEROIK PASANGAN KSATRIA KHILAFAH DI AMERIKA

DABIQ 13 - PENGANTAR

SERANGAN HEROIK PASANGAN KSATRIA KHILAFAH DI AMERIKA

Seiring dengan terus berlanjutnya peperangan pasukan Salibis pimpinan Amerika melawan Khilafah, kian banyak kaum Muslimin yang terus menunjukkan kesediaan mereka untuk mengorbankan segala hal yang berharga demi memenuhi kewajiban mereka kepada Allah. Tatkala banyak kaum Muslimin terus melakukannya dengan cara berhijrah ke Daulah Islamiyah, yang lainnya melakukannya dengan cara meneror Salibis di benteng mereka sendiri. Sebagaimana yang Syed Rizwan Farook dan istrinya Tasyfeen Malik melakukan serangan terhadap kuffar di San Bernardino, California dan berhasil membunuh 14 orang dan melukai 22 lainnya.

Ketika operasi berlangsung, Tasyfeen Malik memposting pernyataan secara online menegaskan kembali bai'at mereka untuk Amirul Mu'minin, Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi hafizhahullah. Dia dan suaminya kemudian terlibat baku tembak dengan aparat keamanan dan gugur, memperoleh kesyahidan di jalan Allah. Demikian penilaian kami, sedangkan Allah adalah sebaik-baik penilai. Sehingga, seruan Khilafah kepada kaum Muslimin untuk menyerang Salibis di negeri mereka sendiri telah dijawab sekali lagi, namun serangan kali ini unik. Mujahid yang terlibat tidak hanya berjalan sendiri di jalan jihad yang mulia ini. Justru, ia melakukan aksi ini bersama istrinya, sehingga keduanya saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa.

Allah berfirman : "Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian lain. Mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (At-Taubah : 71)

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam hari lalu shalat dan membangunkan istrinya untuk shalat, dan jika dia enggan, ia memercikan air di wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di malam hari dan shalat dan membangunkan suaminya untuk shalat, dan jika dia enggan, ia memercikkan air di wajahnya." (HR Abu Dawud, an-Nasa'i, dan lainnya dari sahabat Abu Hurairah).

Jika itu adalah doa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk suami istri yang tolong menolong dalam rangka bangun tidur untuk qiyamul lail, betapa jauh lebih layak dan lebih banyak rahmat Allah atas sepasang suami istri yang berbaris bersama melawan Salibis untuk membela Khilafah. Dan istri dari saudara yang diberkahi ini menemaninya meskipun berperang tidak wajib atasnya, namun ia tidak ingin kehilangan kesempatan mendapatkan kesyahidan di saat banyak "pria" umat ini berpaling dari kewajiban jihad.

Ditambah lagi, mereka tidak tertahan oleh hal duniawi dari memenuhi kewajiban mereka kepada Allah, dan membuktikan bahwa mereka siap mengorbankan apa yang paling mereka sayangi demi memenuhi panggilan Allah, karena mereka tidak hanya meninggalkan kehidupan mereka yang nyaman, namun sebelum beraksi mereka meninggalkan bayi perempuan mereka dalam perawatan orang lain, sebab mereka tahu mungkin tidak akan melihatnya lagi dalam kehidupan di dunia ini. Pengorbanan seperti ini mencerminkan penderitaan dan kesulitan yang dihadapi oleh begitu banyak muslimin yang telah menempuh jalan hijrah ke bumi jihad. Banyak dari mereka dipaksa memilih antara meninggalkan kenyamanan, kemewahan, keluarga, teman, istri, anak-anak, kekayaan dan bisnis mereka. Atau meninggalkan jihad di Jalan Allah.

Allah berfirman : "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah dan Rosul-Nya, serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusannya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq. (QS. At-Taubah : 24)

Jadi, Syed Ridwan Farook dan istrinya lebih memilih Allah dan akhirat daripada dunia seperti yang dilakukan para Sahabat sebelum mereka. Bagi yang ingin mengetahui, bagaimana mungkin seseorang bisa meninggalkan anak-anak mereka di belakang untuk berperang dan terbunuh di jalan Allah, kami ingatkan akan janji Allah yang menjaga apa-apa yang ditinggalkan oleh orang-orang beriman.

Allah berfirman : "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kami lah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat..." (QS. Fushilat : 30-31)

Imam Mujahid, seorang Tabi'in ahli tafsir yang mu'tabar, mengatakan bahwa makna "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih" adalah "Janganlah kamu merasa takut terhadap apa yang akan kamu hadapi di akhirat, dan janganlah kamu bersedih atas apa yang kamu tinggalkan duniamu, termasuk keluarga dan anak-anak, sebab kami akan menjaga mereka semua untukmu." (Ath-Thabari)

Jadi orang beriman yang berjual beli dengan Allah tidak akan pernah rugi, justru akan selalu beruntung.

"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar." (QS. Ash-Shaff : 10-12)

Semoga Allah menerima pengorbanan mulia dari saudara Syed Rizwan Farook dan istrinya yang diberkahi, menggolongkan keduanya di barisan syuhada, dan menjadikan amal mereka sebagai sarana untuk membangunkan lebih banyak muslim di Amerika, Eropa dan Australia.

SERANGAN KSATRIA KHILAFAH DI RUSIA DAN PERANCIS

DABIQ 12 - PENDAHULUAN

SERANGAN KSATRIA KHILAFAH DI RUSIA DAN PERANCIS

“Mereka merasa yakin benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah maka Allah mendatangkan (siksaan) kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah menanamkan rasa takut (teror) ke dalam hati mereka; sehingga mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangannya sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!” (Al-Hasyr: 2)

Tentara salib baik yang di Timur dan di Barat berpikir bahwa diri mereka aman di dalam jet mereka lalu dengan pengecut membombardir kaum muslimin rakyat Khilafah.

“Mereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau dibalik tembok.” (Al-Hasyr: 14).

Akan tetapi Allah telah memutuskan bahwa hukuman itu akan menimpa para tentara salib dari arah yang tidak mereka duga. Maka begitulah, serangan penuh berkah terhadap Rusia dan Prancis berhasil dieksekusi meskipun intelijen internasional berperang melawan Daulah Islam. Kedua negara salib ini tidak diragukan lagi sedang menghancurkan rumah mereka dengan tangan mereka sendiri melalui permusuhan mereka terhadap Islam, Muslim, dan tubuh kaum muslimin; Khilafah.

Pada “30 September 2015,” setelah bertahun-tahun mendukung Thaghut Nushairi dalam perang melawan kaum Muslimin Syam, Rusia memutuskan untuk berpartisipasi secara langsung masuk ke dalam perang dengan angkatan udaranya. Itu adalah keputusan gegabah arogansi Rusia, seolah-olah ini menyatakan bahwa perang terhadap kaum muslimin Qauqaz (Kaukasus) belum cukup sebagai kejahatan. Dan setelah berhasil menemukan cara untuk mengganggu keamanan di Bandara Internasional Mimpi buruk di prancis baru saja di mulai Sharm el-Sheikh dan diputuskan untuk menjatuhkan pesawat milik negara yang bergabung dengan koalisi Barat pimpinan Amerika terhadap Daulah Islam, target pun berubah menjadi Pesawat Rusia. Sebuah bom lalu diselundupkan ke dalam pesawat, menyebabkan kematian 219 orang Rusia dan 5 tentara salib lainnya, hanya satu bulan setelah keputusan dipikirkan Rusia.

Setahun sebelumnya, pada “19 September 2014,” Prancis dengan congkak mulai mengeksekusi serangan udara terhadap Khilafah. Sebagaimana Rusia, dia dibutakan oleh rasa kesombongan, berpikir bahwa jarak geografis dari negeri Khilafah akan melindungi mereka dari keadilan para mujahidin. Mereka juga tidak mengambil pelajaran bahwa penghina Rasul tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa pembalasan. Maka, Daulah Islam segera mengirim para ksatria pemberani untuk mengobarkan perang di tanah air para para salibis jahat, meninggalkan Paris dan penduduknya “terkejut dan tercengang.” Delapan kesatria membuat Paris jatuh berlutut, setelah bertahun-tahun Perancis penuh kesombongan melawan Islam. status darurat nasional dinyatakan sebagai hasil dari tindakan delapan orang bersenjata yang hanya bersenjatakan senapan serbu dan sabuk peledak.

Dan balas dendam ini merupakan balasan atas mereka yang merasa aman duduk di kokpit jet mereka..

Amirul Mukminin Abu Bakr al-Husaini al-Baghdadi hafizhahullah mengatakan, “Demi Allah, kami akan membalas dendam! Demi Allah, kami akan membalas dendam! Walau mungkin dalam waktu yang lama, kami pasti akan membalas dendam, dan setiap jumlah kejahatan terhadap umat akan dibalas terhadap banyak orang lebih dari pelaku. “dDan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim, mereka membela diri” (Asy-Syura: 39). Segera, dengan izin Allah, hari itu akan datang di mana kaum Muslimin akan berjalan di setiap tempat sebagai tuan, yang memiliki izzah, yang dihormati, dengan kepala terangkat tinggi, dan harga dirinya terjaga. Siapapun yang berani menyinggung perasaannya akan dihukum, dan setiap tangan yang menjamahnya akan dipotong. Maka biarkan dunia tahu bahwa kita hidup pada hari ini di era baru. Siapa pun yang lalai sekarang harus waspada. Siapa pun tertidur sekarang harus terbangun. Siapa pun yang kaget dan tercengang sekarang harus memahami, umat Islam sekarang memiliki suara yang lantang, pendapat yang bergemuruh, pijakan kaki yang keras. Mereka memiliki pernyataan yang akan menyebabkan dunia akan mendengar dan memahami makna terorisme, dan sepatu yang akan menginjakinjak berhala nasionalisme, menghancurkan berhala demokrasi, dan menyibak kejahatan aslinya.” (Pesan Kepada Mujahidin dan Umat Muslim di Bulan Ramadhan).

Ya, demi Allah, Khilafah akan membalas dendam atas detiap kejahatan terhadap dien ini dan umatnya, baik cepat atau lambat. Biarkan orang-orang sombong itu tahu bahwa langit dan bumi ini adalah milik Allah.

“Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah; diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”.” (Al-A’raf: 128).

Maka kapankah tentara salib akan mengakhiri permusuhan mereka kepada Islam dan kaum muslimin? Kapankah mereka akan menyadari bahwa khilafah telah ada di sini? Kapan mereka akan sadar bahwa solusi dari kekacauan mengenaskan yang menimpa mereka adalah tepat sebelum mata mereka dibutakan? Dan untuk menuju saat itu, hanya akan ada teror demi teror yang akan terus menyerang ulu hati mereka yang telah dikunci mati.

Pada kesempatan ini, kami tidak akan lupa untuk memuji para martir ksatria “Tunggal” dari Khilafah yang menyerang orang-orag kafir dan musuh murtad di dekat mereka. Orang-orang pemberani yang tidak puas hanya dengan mendengar berita tentang jihad, bahkan mereka menjauhkan diri dari sifat orang-orang yang “ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanyakan berita tentang kamu. Dan sekiranya mereka berada bersamamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja” (Al-Ahzab: 20). Mereka tidak menjadikan hambatan yang diterapkan oleh orang-orang kafir di jalan hijrah sebagai alasan untuk meninggalkan jihad melawan musuh. Mereka tidak menggunakan usia yang lebih muda atau kurangnya pelatihan sebagai alasan untuk hanya menjadi pengamat. Mereka mengorbankan jiwa mereka dalam amal shalih demi mengejar keridhaan Allah. Kami menganggap mereka seperti itu, dan Allah adalah hakim mereka.

Di antara para ksatria tauhid dan jihad yang pemberani ini adalah pemuda berusia lima belas tahun bernama Farhad Khalil Mohammad Jabar, yang pada “2 Oktober 2015” memukul tentara salib dari Australia dan kemudian membunuh oleh salah satu personil mereka. Setelah itu Faisal Mohammad membawa panji dan belatinya untuk menusuk tentara salib Amerika pada “4 November 2015,” dan menumpahkan darah kotor mereka di tanah air mereka sendiri yag tidak aman. Sebelumnya, pada “10 Oktober 2015,” pemuda enam belas tahun; Ishaq Qasim Badran meraih pisau dan menusuk warga negara Yahudi terkutuk, mengisi atmosfer dengan teriakan mereka. Setelah Ishaq, Muhannad Khalil al-‘Aqabi membawa senjatanya ke stasiun kereta dengan tingkat keamanan tinggi pada “18 Oktober 2015” dan membunuh seorang prajurit dari “unit elit” tentara Yahudi, menyebabkan tentara pengecut lainnya mundur. Dan pada “9 November 2015,” Anwar Abu Zaid - setelah bertaubat dari mantan pekerjaannya - menyerang tentara salib Amerika dan sekutu murtad mereka, menewaskan dua tentara salib Amerika, dua orang murtad Yordania, dan satu tentara salib Afrika Selatan.

Ini semua adalah amal perbuatan dari orang-orang dalam rangka membangkitkan kembali khilafah. Mereka tidak akan membiarkan musuh-musuh mereka menikmati istirahat hingga darah musuh itu tertumpah untuk membalas dendam demi dien dan umat.

Maka biarkanlah setiap muwahhid yang dihalangi untuk berhijrah memurnikan dirinya dari cabang kemunafikan paling rendah yang menahannya dari melakukan jihad di tempatnya. Biarkan dia merekam keinginannya, memperbaharui bai’atnya, membawa bendera khilafah, dan menyerang tentara salib dan sekutu pagan dan murtadnya di mana pun mereka dapat ditemui, apa lagi jika dia sendirian. Dan dia akan mengingat bahwa “Siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia cukup baginya” (Ath-Thalaq: 3).

Dan biarkan tentara salib itu tahu, bahwa Daulah Islam akan tetap ada “Baqiyah” bagaimanapun persenjataan militer mereka.

“Katakanlah (hai Muhammad), “Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid). Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan azab kepadamu dari sisi-Nya, atau (azab) melalui tangan kami. Maka tunggulah, sesungguhnya kami menunggu (pula) bersamamu”.” (At-Taubah: 52).

KEBOHONGAN YANG MENUTUPI KEMATIAN MULLA UMAR

DABIQ 11 - PENDAHULUAN

KEBOHONGAN YANG MENUTUPI KEMATIAN MULLA UMAR

Bismillah. Segala puji bagi Allah. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, juga kepada keluarga, para shahabat dan para pengikutnya. Amma ba’du.

Sebuah peristiwa yang paling memalukan pada tahun 1436 H –wallahu a'lam bish-shawab– yang akan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya, kecuali dalam sejarah kebohongan dan legenda. Jika seseorang mencari melalui pintu sejarah ini, mungkin dia akan menemukan hal yang paling mirip yang pernah terjadi sebelumnya adalah mitos "Paus Joan," seorang wanita yang sepertinya telah menipu gereja pagan agar memilihnya sebagai Paus sambil menyamarkan dirinya sebagai seorang pria. Dia diduga berhasil menipu dan memerintah para penyembah salib selama beberapa tahun sebelum kedoknya terbongkar dan meninggal tak lama kemudian ...

Sosok yang paling mirip lainnya adalah "Imam Tersembunyi" milik beberapa sekte sesat termasuk Rafidhah yang percaya pada keghaiban Muhammad al-'Askari, sekte Ismailiyah yang percaya pada keghaiban Muhammad Ibnu Ismail Ibnu Ja'far ash-Shadiq, dan Druze yang percaya pada keghaiban "al-Hakim bi Amrillah" al-'Ubaydi. Beberapa sekte mereka bahkan percaya pada reinkarnasi dari apa yang disebut "imam tersembunyi" atau pada wakil yang bertindak atas namanya ...

Ya, ini semua adalah hal yang paling mirip yang pernah terjadi sebelumnya dengan sebuah kejadian paling memalukan: kebohongan Akhtar Mansur, seorang laki-laki yang akrab dan disukai oleh "Inter-Service Intelligence" Pakistan (ISI, Dinas Intelijen Pakistan) dan yang selama bertahun-tahun telah memerintah "Imarah Islam Afghanistan" yang telah kadaluarsa dengan menggunakan nama orang yang telah meninggal: Mulla Muhammad 'Umar. Dan dengan memanfaatkan Kematian Mulla 'Umar, Akhtar merilis pernyataan –baik dengan mengatas-namakan Mulla 'Umar dan nama "Imarah"– untuk mendukung rekonsiliasi nasional dengan rezim boneka murtad Afghan, normalisasi hubungan dengan rezim murtad Pakistan dan angkatan bersenjatanya, memuji berbagai Thaghut Arab dan non-Arab, termasuk budak Amerika Hamad Alu Thani dan Tamim Alu Thani dari Qatar, dan menyatakan bahwa musuh paling jahat Islam -Rezim Shafawi Iran- sebagai negara Muslim!

Dia merilis statemen yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip PBB, konvensi internasional, nasionalisme, "modernisme," dan pasifisme, serta statemen yang mengingkari jihad ofensif dan defensif kecuali untuk perang nasionalis Afghan melawan pasukan penjajah Amerika. Dia merilis pernyataan mendukung legalitas dan otoritas pemilu demokrasi thaghut di Mesir dan hasil pemilihan mereka. Dia merilis pernyataan yang menyatakan bahwa Rafidhah adalah Muslim, bahkan mengutuk serangan terhadap Rafidhah Afghanistan(1). Dan selama mereka tetap mempertahankan Thaliban, ia dan antek-antek terdekatnya –demi keuntungan pribadi dan penyimpangan parah dan atas nama Mulla 'Umar yang telah meninggal–ia mengobarkan perang terhadap Khilafah yang memerintah dengan syari'at dan mempraktekkan al-wala' wal bara', sementara "Imarah" Thaliban mereka dengan tegas menolak kewajiban yang telah jelas dan pasti dari aqidah al-wala' wal bara' ini. Maka menurut perkataan dan perbuatan Akhtar dan kaki-tangannya, Rafidhah dan para thaghut adalah "saudara Muslim" yang harus mereka hormati, sedangkan para pemimpin Daulah Islam dan tentaranya adalah "Khawarij" yang kepada mereka harus dikobarkan perang...

Sepanjang periode ini, berbagai cabang al-Qa'idah mengklaim bahwa mereka tidak bisa berbai'at kepada Khalifah Abu Bakr al-Qurasyi al-Baghdadi (hafizhahullah) karena Mulla 'Umar adalah "Imam tertinggi" mereka, walau setelah bertahun-tahun para pemimpin al-Qa'idah menyatakan bahwa Mulla Umar bukanlah khalifah tetapi pemimpin untuk wilayah terbatas sebuah emirat regional(2). Hal ini ditambah dengan Thaliban yang bertahun-tahun merilis pernyataan menolak akan misi apapun di luar Afghanistan.

Mujahidin di Khurasan kemudian mulai menolak secara terbuka klaim bahwa Mulla 'Umar masih hidup, banyak dari mereka yang yakin bahwa dia sudah meninggal hampir empat belas tahun lalu, tak lama setelah dimulainya invasi Amerika ke Afghanistan pada "akhir 2001." Semakin banyak para pejuang yang jujur meninggalkan barisan Thaliban Akhtar dan berbai‘at kepada Khilafah, sedangkan yang lain mulai menekan para pemimpin Thaliban untuk memberikan bukti jika Mulla 'Umar masih hidup. Thaliban merilis statemen tertulis lain yang dibuat dengan nada nasionalis dan dialek yang mengatasnamakan Mulla 'Umar yang telah meninggal, ucapan selamat Idul Fitri kepada umat dan mendukung rekonsiliasi nasional Afghanistan dengan rezim murtad!

Tekanan semakin membesar bahkan dari para pendukung Akhtar di dalam Intelijen Pakistan dan Afghan, sampai dia dan antek-anteknya mengakui akan kematian Mulla 'Umar. Biro politik "Imarah" Thaliban kemudian mengumumkan bahwa Mulla 'Umar telah meninggal tepatnya pada "23 April 2013". Setelah itu Muhammad Thayib Agha –kepala kantor politik dan sebelumnya dia merupakan salah satu orang yang paling dekat dengan Mulla 'Umar– mengumumkan pengunduran dirinya dan menyatakan bahwa dirinya menganggap penyembunyian kematian Mulla 'Umar untuk jangka waktu "dua setengah tahun" adalah sebuah "kesalahan sejarah".

Hal ini diikuti oleh pernyataan dari Zabihullah Mujahid (juru bicara resmi "Imarah" Thaliban) di mana ia mengaku bahwa mereka telah menutupi kematian Mulla 'Umar sejak "23 April 2013". Dengan demikian, Mulla 'Umar telah meninggal setidaknya lebih dari satu tahun sebelum deklarasi Khilafah dan sangat lama setelah ekspansi resmi Daulah Islam ke Syam, ini jika kita menganggap bahwa dia tidak meninggal pada tahun-tahun sebelum itu... Maka apa yang akan dilakukan oleh al-Qa'idah dan pengikutnya dalam menanggapi kebohongan ini? Apakah mereka akan bertobat dan bergabung ke dalam barisan Khilafah?

Tidak ... Para pendukung Al-Qa'idah di antara mereka yang mengaku "ulama" justru menulis risalah untuk membenarkan penyembunyian kematian Mulla Umar, tanpa mengutip al-Qur'an dan Sunnah, tetapi mengutip buku sejarah tentang khalaf (generasi setelah Salaf) yang penuh dengan peristiwa yang tidak bisa diteliti keshahihannya yang secara personal bahkan tidak bisa dijadikan contoh bagi umat!

Beberapa contoh dari Salaf mereka kutip dan diselewengkan, seperti yang berkaitan dengan dirahasiakannya kematian pemimpin hanya untuk waktu yang singkat dan hanya kepada sebagian kecil tentara Muslim yang terlibat dalam pertempuran, tidak selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun dan tentu tidak kepada seluruh umat! Para "ulama" hizbi kemudian secara ghuluw berlaku dusta demi perang dan rekonsiliasi termasuk untuk berdusta tanpa ada batasan waktu kepada Umat Muslim di seluruh dunia secara keseluruhan dari Timur jauh hingga ke Barat jauh termasuk semua cendikiawan, pemimpin, pejuang dan laki-laki, semuanya demi "Maslahat" yang didefinisikan sangat longgar.

Mereka bahkan mengizinkan untuk berpidato yang dibuat atas nama orang yang sudah meninggal hanya untuk menghalangi bersatunya umat di bawah kewajiban Khilafah dan untuk mengikat dengan rantai taqlid di atas keburukan hizbiyah (berkelompok)! Yang lebih buruk lagi, dengan demikian "Ulama" ini telah membuka jalan bagi masyarakat untuk menolak sesuatu apapun yang ditujukan kepada mereka, karena penyimpangan sebelumnya dan justifikasi lemah yang berarti segala hal bisa menjadi kedustaan tak berujung bagi seluruh umat demi hizbiyah. Dan siapa yang tahu, mungkin beberapa dari masyarakat yang jahil akan keluar dan menyatakan bahwa Mulla 'Umar masih hidup, tidak mati, lalu akan muncul "okultasi" baru tambahan dari apa yang diklaim oleh kaum Rafidhah dan Bathiniyah ...

Kemudian tiba-tiba Azh-Zhawahiri –orang yang telah menghilang lebih dari satu tahun sejak 3 September 2014– keluar dan menyatakan bai‘at kepada si pendusta Akhtar Manshur! Ini semua dia lakukan meskipun otoritas Akhtar sangat diperdebatkan oleh banyak divisi Thaliban, termasuk yang dipimpin oleh anak Mulla 'Umar dan saudaranya, serta sebagian lagi yang menentang rencana Akhtar untuk rekonsiliasi nasional dan normalisasi internasional.

Beberapa pemimpin Thaliban meninggalkan "Syura Quetta" di mana Akhtar menjadi "Terpilih", keberatan dengan otoritas Akhtar dan legitimasi "Syura"nya. Para pemimpin lain mengundurkan diri dari posisi mereka –seperti Muhammad Tayib Agha, 'Aziz 'Abdur-Rahman, dan Nek Muhammad– sebagai protes atas kedustaan atau penolakan Akhtar atau dalam mengejar kepemimpinan!

Bagaimanapun Zhawahiri tetap berbai‘at. Pertanyaan selanjutnya adalah: Akankah domba buta di berbagai cabang al-Qa‘idah segera mengkuti dan memberikan bai‘at kepada seorang pendusta terkenal? Apakah mereka akan berbai‘at kepada seseorang yang telah menolak dasar dari al-wala wal bara‘ dan berbicara mengatasnamakan orang yang telah mati? Apakah mereka akan berbai‘at kepada seseorang yang secara resmi mengutus delegasi politik kepada Shafawi Iran dan "Imarah" nya yang menyebut rezim Iran sebagai "Negara Islam" dan memanggil para pemimpin Rafidhah dan pengikutnya sebagai "Saudara Muslim"!

Jika mereka mau merenungkan kembali kedustaan ini, bai'at kepada tokoh penipu ini, dan kerusakan berbagai cabang mereka yang telah mengerahkan media dan militer untuk melakukan kampanye perang melawan Daulah Islam, tentu mereka akan takut terhadap hal ini semua yang bisa menjadi kemungkinan merupakan hasil dari mubahalah yang telah dideklarasikan lebih dari satu tahun lalu, tapi yang menyedihkan kebanyakan dari mereka tidak berfikir untuk diri mereka sendiri, dan membiarkan hawa nafsu mereka dan membiarkan si penggembala buta menuntun mereka. Kita memohon kepada Allah semoga melindungi kita dari keburukan hawa nafsu, taqlid, irja‘, hizbiyah dan dari Dajjal.

Catatan kaki :

1. Statemen-statemen ini dapat ditemukan di situs resmi Thaliban. Sejumlah besar statemen-statemen ini telah dikumpulkan dan direferensikan dalam sebuah artikel berjudul “Fadhihat asy-Syam wa Kasr al-Ashnam” oleh Abu Maisarah Asy-Syami.

2. Secara eksplisit hal ini telah disampaikan oleh Athiyatullah al-Libi, dan juga secara eksplisit telah dinyatakan oleh Azh-Zhawahiri dan an-Nazhari, akan tetapi sikap hizbiyah telah membutakan hati!

SERANGAN KEJUTAN KSATRIA KHILAFAH DI PERANCIS, KUWAIT DAN TUNISIA

DABIQ 10 – PENGANTAR


SERANGAN KEJUTAN KSATRIA KHILAFAH DI PERANCIS, KUWAIT DAN TUNISIA

Dua pekan yang lalu, pada hari Jumat, tepat hari ke-9 di bulan Ramadhan, Tentara Salib dan Rafidhah dikejutkan oleh gelombang serangan di tiga wilayah yang berbeda, salah satunya di kota salibis, Lyon. Hari penyerangan yang kemudian dikenal sebagai "Jumat Berdarah"*, satu hari yang melegakan hati kaum muslimin dan mujahidin, dan mengisi hati musuh-musuh mereka dengan teror dan kemarahan.

*Di media Perancis, kejadian ini disebut sebagai "Jum'at Kelam".

Di Lyon, seorang Muslim pemberani melakukan pembelaan terhadap Khilafah dengan menyerbu pabrik Perancis dan memenggal kepala kafir Perancis, negara koalisi salibis yang melancarkan peperangan melawan Khilafah. Bahkan dua serangan berdarah dilakukan di Tunisia dan Kuwait oleh junud Daulah Islam.

Di Kuwait, sebuah kuil Rafidhi diguncang ledakan oleh Abu Sulaiman al-Muwahhid, seorang mujahid yang menyusup ke tengah-tengah Rafidhah dan menghukum mereka sebagai pembalasan atas Ahlus Sunnah dan membela Khilafah. Pemerintah Kuwait terlibat dalam perang melawan Khilafah sebagai bagian dari koalisi tentara salib.

Di Tunisia, mujahid Abu Yahya al-Qairawani berjalan ke sebuah hotel resor pantai di kota Sousse dengan senapan serbu dan membantai puluhan warga negara tentara salib Eropa yang juga terlibat dalam koalisi peperangan melawan Daulah Islam.

Ini adalah yang terbaru dalam rangkaian serangan yang dilakukan selama satu tahun terakhir oleh tentara Khilafah di seluruh dunia -termasuk di wilayah Khilafah itu sendiri- dalam menanggapi seruan Daulah Islam untuk melawan musyrikin dimanapun mereka berada, terutama di negara-negara anggota koalisi tentara salib, koalisi yang melawan syari’at dimana ia ditegakkan. Mereka berusaha untuk mencabut dan menggantinya dengan demokrasi nasionalis.

Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani hafizhahullah menyatakan, "Wahai muwahhidin di Eropa, Amerika, Australia, dan Kanada.. Wahai muwahhidin di Maroko dan Aljazair.. Wahai muwahhidin di Khurasan, Kaukasus, dan Iran [Sunni Kurdi dan Sunni Arab].. Wahai muwahhidin di mana saja di atas permukaan bumi.. Wahai saudara seiman.. Wahai manusia yang memiliki al wala’ wal barra'.. Wahai rakyat Daulah Islam.. Wahai kalian yang telah memberikan bai’at kepada Khalifah Ibrahim di mana-mana.. Kalian yang mencintai Daulah Islam.. Orang-orang yang mendukung Khilafah.. Dan kalian wahai para tentara dan penolong…"

"Daulah kalian sedang menghadapi fase baru dengan tentara salib. Jadi wahai para muwahhid, di mana pun kalian berada, apa yang akan Anda lakukan untuk mendukung saudara-saudara kalian? Apa yang Anda tunggu sementara manusia telah terbagi menjadi dua kubu diantara panasnya peperangan yang semakin meningkat dari hari ke hari? Wahai para muwahhid, kami memanggil kalian untuk membela Daulah Islam. Puluhan negara telah berkumpul melawannya. Mereka telah memulai perang, mereka melawan kita di semua segi. Bangkitlah wahai muwahhid! Bangkit dan bela Daulah kalian di manapun kalian berada" [Sesungguhnya Rabbmu Benar-Benar Mengintai].

Panggilan untuk membela Daulah Islam -satu-satunya pemerintahan yang mengatur dengan syari'at Allah hari ini- terus dijawab oleh Muslim yang tulus dan mujahidin di seluruh dunia yang siap untuk mengorbankan nyawa dan segala yang mereka sayangi untuk meninggikan kalimat Allah dan menginjak-injak demokrasi dan nasionalisme.

Sebaliknya, para pengklaim jihad di Syam dan tempat lain siap untuk mengorbankan prinsip-prinsip agama dengan memerangi Daulah Islam dalam membela nasionalisme jahiliyah yang dipoles dengan sentuhan "syari'ah". Mereka sangat berambisi mengambil setiap wilayah Khilafah, sehingga wilayah tersebut tidak lagi diatur oleh syari'at Allah.

Untuk lebih menunjukkan sifat memalukan dari para pengklaim jihad ini, perlu dicatat bahwa Muslim yang berangkat dan menjawab seruan Syaikh al-'Adnani untuk membela Khilafah kebanyakan dari mereka melakukannya sendiri, dengan tidak mengandalkan dukungan siapapun dalam mempertahankan syari'at, kecuali Allah. Sementara para pengklaim jihad, mereka adalah kelompok yang relatif besar dan bersenjata, memiliki kemampuan untuk merebut dan mempertahankan wilayah. Namun mereka menolak untuk menerapkan hukum Allah meskipun Allah telah memberi kekuatan dan kekuasaan atas mereka.

Kontradiksi selanjutnya antara muwahhidin yang tulus dan para pengklaim jihad, kita melihat bahwa muwahhid yang meneror orang kafir dengan peristiwa semacam "Jum'at Berdarah", difitnah dan dipandang sebagai ekstremis dari masyarakat pinggiran, atau individu yang menderita kemiskinan, pengangguran, atau masalah sosial lainnya. Namun mereka bertahan dalam jihad mereka, tidak merasa takut dengan bagaimana mereka selanjutnya akan digambarkan di media, dan tidak peduli dengan apa yang akan orang katakan tentang mereka. Hal ini karena mereka hanya mengejar ridha Allah, bukan kesenangan atau pujian menusia.

Sementara para pengklaim jihad, terlalu pengecut dibandingkan dengan jumlah mereka yang besar, persenjataan yang mereka miliki, dan klaim mereka terhadap beberapa daerah di Syam. Mereka tetap takut melaksanakan syari'at, khawatir menyinggung perasaan orang-orang, mereka lebih memilih mengejar ridha manusia diatas ridha Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, "Barangsiapa menyenangkan Allah dengan mengorbankan kemarahan manusia, cukup baginya Allah sebagai pelindung dari kemarahan manusia, dan barangsiapa yang menyenangkan manusia dengan mengorbankan kemarahan Allah, Allah akan [meninggalkanya dan] meninggalkan urusannya bersama manusia." [HR at-Tirmidzi dari 'Aisyah].

Jadi, kami memperbaharui seruan kami kepada setiap Muslim yang tulus di seluruh dunia untuk berbaris maju dan berperang melawan tentara salib dan murtad yang berusaha menghapus syari'at Allah. Majulah, jangan takut akan celaan para pencela, dan jangan pula mencari keridhaan manusia, hukum milik Allah, bukan milik manusia.

“Keputusan itu hanyalah milik Allah” [Yusuf: 40].

DUA KSATRIA KHILAFAH MENGHUKUM PARA PENGHINA NABI DI AMERIKA

DABIQ 9 - PENDAHULUAN


DUA KSATRIA KHILAFAH MENGHUKUM PARA PENGHINA NABI DI AMERIKA

"Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih besar lagi." (Ali Imran: 118)

Pada saat Tentara Salib terus memperlihatkan kebencian dan permusuhan mereka terhadap Islam melalui pengeboman dan serangan drone mereka yang tiada henti atas Daulah Islam, generasi baru Tentara Salib terus menampakkan dengan jelas kebencian mereka kepada agama yang benar ini. Tujuan dari generasi baru Tentara Salib ini tidak lebih untuk membuat kemarahan atas kaum Muslim dengan menghina dan memperolok-olok makhluk yang paling mulia, Nabi Muhammad ibnu ‘Abdillah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan dalih membela berhala "kebebasan berbicara."

Akan tetapi, serangan kurang ajar yang ditujukan terhadap kehormatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah menghalangi atau mengecilkan hati kaum Muslimin, tetapi justru sebagai bentuk dorongan. Sehingga hal ini memacu mereka untuk berhadapan dengan kekuatan kufur dengan cara apa pun yang mereka mampu. Itulah yang terjadi dengan Elton Simpson dan Nadir Soofi, dua pria pemberani yang memikul sendiri beban ini untuk memperingatkan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Selama mereka mengobarkan perang melawan Islam, niscaya mereka tidak akan mendapatkan ke- damaian dan keamanan serta tidak akan bisa menampakkan diri di muka umum, kecuali dengan penjagaan pasukan pengawal dan petugas keamanan.

Kedua singa Khilafah tiba di Curtis Culwell Center di Garland, Texas, tiga minggu yang lalu selama berlangsungnya konvensi yang menampilkan kompetisi menggambar karikatur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai cara untuk memperolok-olok dan mengejek beliau. Kedua mujahidin datang dengan membawa senjata. Mereka siap berperang, memicu baku tembak dengan polisi yang menjaga tempat tersebut, dan mencapai kemuliaan Syahadah dalam menunaikan balas dendam atas kehormatan Nabi tercinta kita shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tekad mereka untuk menolong karena Allah dan menghukum orang-orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini, seharusnya menjadi inspirasi bagi orang-orang yang tinggal di negeri Tentara Salib namun masih ragu untuk melaksanakan kewajiban mereka. Orang-orang itu telah membaca ayat dan hadits mengenai keutamaan jihad yang tak terhitung jumlahnya dan berdo’a dengan tulus kepada Allah untuk memohon syahadah kepada-Nya. Akan tetapi, mereka belum juga bertindak. Seharusnya mereka faham bahwa Allah tidak akan mengabulkan do’a mereka hingga mereka mengambil langkah menuju kewajiban yang mulia ini.

"Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, 'Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu'." (QS. At- Taubah : 46)

Banyak dari orang-orang yang meraih syahadah karena memerangi pasukan salib di negeri mereka sendiri, pada awalnya telah melakukan langkah untuk berhijrah ke negeri-negeri jihad. Langkah-langkah persiapan ini cukup untuk menunjukkan ketulusan hati mereka, maka mereka mendapatkan syahadah tanpa harus menghadapi kesulitan untuk berhijrah.

Adapun mereka yang terus menderita penyakit ketidakpedulian akan kewajiban hijrah, jihad, dan bai’at, karena begitu parahnya penyait mereka sehingga mereka tidak melihat adanya hal yang salah dengan tetap tinggal bersama para salibis dan membayar pajak kepada mereka. Padahal, para salibis itu telah merendahkan syari’at Islam di berbagai program berita dan hiburan mereka. Mereka mempersenjatai orang-orang sekuler dan Rafidhah di negeri-negeri Muslim, memenjarakan dan menyiksa kaum Muslim, baik lelaki maupun perempuan, dan yang paling besar ialah membakar Al-Qur’an dan menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, hendaklah mereka bersiap-siap membawa alasan mereka yang lemah kepada Malaikat Maut.

"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab, "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)." Para malaikat berkata, "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An-Nisaa’ : 97)

Kaum munafik akan duduk-duduk saja, lelaki sejati akan melangkah maju, dan kaum kafir tidak akan mendapatkan kedamaian dan keamanan.

Semoga Allah menerima kedua saudara kita ini di barisan pemimpin syuhada di surga.

BERJIHAD UNTUK MENEGAKKAN TAUHID, BUKAN NASIONALISME

DABIQ 8 - PENDAHULUAN


BERJIHAD UNTUK MENEGAKKAN TAUHID, BUKAN NASIONALISME

Allah ta’ala berfirman : "Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah wali-wali syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah." (An-Nisa': 76)

Allah ta’ala juga berfirman, "Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka." (Al-Mujadilah: 22)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa terbunuh di bawah bendera 'ashabiyah, menyeru kepada 'ashabiyah atau membela 'ashabiyah (fanatisme kelompok, suku), maka matinya adalah kematian jahiliyah.” (Hadits riwayat Muslim dari Jundub Ibn 'Abdillah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Sesungguhnya segala perkara jahiliyah telah terkubur di bawah kakiku.” (Hadits riwayat Muslim dari Jabir Ibn 'Abdillah)

Syaikh Abu Mushab az-Zarqawi rahimahullah berkata, “Kami tidak berjihad untuk segenggam tanah atau batas khayalan yang dibuat oleh Sykes dan Picot. Begitu juga kami tidak berjihad agar thaghut Barat menggantikan posisi thaghut Arab. Sebaliknya jihad kami lebih mulia dan lebih tinggi. Kami berjihad sehingga kalimat Allah menjadi yang tertinggi dan agar agama menjadi milik Allah seluruhnya. "Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah dan (sampai) agama, seluruhnya, untuk Allah" (Al-Anfal: 39). Setiap orang yang menentang tujuan ini atau menghalang-halangi tujuan ini adalah musuh bagi kami dan menjadi sasaran bagi pedang-pedang kami, siapapun namanya dan keturunannya. Kami memiliki agama yang diturunkan oleh Allah sebagai timbangan dan pemutus perkara. Pernyataannya tegas dan keputusannya bukan senda gurau. Inilah persaudaraan antara kami dan manusia, karena timbangan kami – dengan karunia Allah- adalah timbangan ilahi, hukum kami adalah Al Qur'an dan keputusan kami berada di atas sunnah Nabi. Muslim Amerika adalah saudara yang kami cintai. Dan orang kafir Arab adalah musuh yang kami benci walaupun kami dan dia berasal dari Rahim yang sama.” (Al-Mauqif asy-Syar'i min Hukumat Karazay al-'Iraq)

Khalifah hafizhahullah berkata, “Wahai kaum muslimin di setiap tempat, berbahagialah dan bercita-citalah yang baik, serta angkatlah kepala kalian tinggi-tinggi, karena pada hari ini kalian -dengan karunia Allah- telah memiliki Negara dan Khilafah yang akan mengembalikan kemuliaan dan kejayaan kalian, serta mengembalikan hak-hak kalian dan keberkuasaan kalian, Daulah yang mempersaudarakan di dalamnya antara orang 'ajam dengan orang Arab, antara orang kulit putih dengan orang kulit hitam, antara orang timur dengan barat, kekhalifahan yang menyatukan orang Kaukasus, India, Cina, Syam, Iraq, Yaman, Mesir, Maroko, Amerika, Prancis, Jerman, dan Australia. Allah telah menyatukan di antara hati mereka sehingga dengan karunia Allah mereka menjadi bersaudara yang saling mencintai karenaNya lagi berdiri bersama di satu parit, saling membela, saling melindungi, saling menebus, darah mereka telah menyatu di bawah satu panji, satu tujuan, satu kubu, seraya menikmati lagi bersenangsenang dengan nikmat ini; nikmat ukhuwwah imaniyah yang seandainya rasa nikmatnya dirasakan oleh para raja, tentulah mereka pasti meninggalkan kekuasaan mereka dan memerangi mujahidin untuk merebutnya, maka segala puji dan syukur hanya milik Allah. Maka marilah kalian semua menuju Daulah kalian wahai kaum muslimin, ya Daulah kalian. Ayo marilah, Suriah itu bukan untuk orang-orang Suriah dan Iraq itu bukan untuk orang-orang Iraq. "Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah. Diwariskan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa." (Al A'raf: 128). Daulah ini adalah Daulah kaum muslimin, dan bumi ini adalah bumi kaum muslimin, seluruh kaum muslimin.” (Pesan Kepada Mujahidin Dan Umat Islam Di Bulan Ramadhan)

Nasionalisme, patriotisme, kesukuan, dan revolusionisme tidak pernah menjadi penggerak di hati muwahhid mujahid. Baginya kehilangan lidahnya lebih dia cintai daripada dengan rela meneriakkan slogan nasionalisme jahiliyah. Bahkan sebaliknya, bendera-bendera nasionalisme berada di bawah kakinya, karena bendera-bendera tersebut bertentangan dengan tauhid dan syari'at serta menampakkan ideologi kekufuran dan kesyirikan yang dibawa ke dunia kaum Muslim oleh dua orang salibis: Sykes dan Picot.

Di antara amalan terbesar yang dilakukan seorang muwahhid adalah penentangan terhadap nasionalisme. Sebaliknya, keislamannya tidaklah benar hingga dia mengingkari nasionalisme, karena nasionalisme menyatakan manusia itu setara tidak peduli apa agamanya, ia tidak membedakan antara mereka dengan seharusnya, ia membatasi agama dengan batas nasionalis, dan melarangnya untuk meluas lebih dari itu. Karena alasan-alasan tersebut, nasionalisme dibuat oleh Barat, karena dengannya, mereka mengangkat saudara-saudara kafir dzimmi mereka, menumbuhkan kemurtadan di negeri-negeri kaum Muslimin, memecah belah dan menaklukkan kaum Muslimin, dan mempertahankan negeri-negeri salibis dari jihad offensif.

Thaghut Fir'aun memerintah rakyatnya melalui faksionalisme (perpecahan), pendahulu dari nasionalisme.

"Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan." (Al-Qashash: 4)

Dan kaum Muslimin telah diwajibkan untuk memerangi siapa saja yang menghalang-halangi agama ini menjadi unggul dari semua agama-agama lainnya, bukan untuk menghentikan penyebarannya setelah mencapai batas Negara.

"Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai." (At-Taubah: 33)

"Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan" (Al-Anfal: 39)

Dan orang-orang kafir tidak pernah setara dengan kaum Muslimin walaupun keduanya berasal dari negeri yang sama.

"Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?" (Al-Qalam: 35-36)

"Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?" (Shad: 28)

Oleh karena itu, tauhid yang murni dan nasionalisme tidak mungkin ada bersamaan. Akhirnya, nasionalisme harus diingkari sehingga kemenangan didapatkan oleh Islam dan Ummat.

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahkuKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (An-Nur: 55)

Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang telah mendorong mujahidin Nigeria untuk memberi bai'at kepada Daulah Islam dan menyatakan perang terhadap tentara murtad Nigeria yang berperang untuk thaghut Nigeria. Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong dua tentara Khilafah dari Tunisia untuk membunuh Salibis dengan visa ke Tunisia yang dikeluarkan oleh thaghut Tunisia.

Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong lima tentara Khilafah dari Yaman untuk menyerang Rafidhah Yaman di Sana'a dan Sa'dah. Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong tentara-tentara Daulah Islam dari Iraq, Syam, dan muhajirin untuk memerangi Shahawat Iraq dan Shahawat Suriah, setelah Shahawat-Shahawat itu meninggalkan Islam dan kaum Muslimin.

Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong orang-orang Libya dan tentara-tentara muhajirin Daulah Islam untuk memerangi thawaghit Libya yang baru terbentuk: Dewan Perwakilan Rakyat dan Kongres Umum Nasional. Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong Daulah Islam untuk melebar dari Iraq ke Syam dan setelah itu ke negeri-negeri lain: Afrika Barat, Aljazair, Libya, Khurasan, Sinai, Yaman, dan Semenanjung Arab. Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong Khilafah untuk terus meluas hingga menaklukkan Konstantinopel dan Roma dari salibis dan sekutu-sekutu mereka dengan izin Allah…

Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong Abu Ramadhan al-Muhajir (Omar Abdel Hamid el-Hussein –semoga Allah menerimanya) –meskipun dia lahir dan besar di Denmark– untuk menyerang orang-orang Yahudi Denmark dan penghina Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dari Denmark sehingga dia mendapat kesyahidan di Denmark setelah menyatakan bai'at kepada Khilafah dari Denmark. Abu Ramadhan tidak membiarkan batas-batas negara dan udara menghentikannya. Ia tidak membiarkan “kewarganegaraan” yang dia ingkari untuk menghalang-halanginya dari mematuhi Rabb-nya, membela kehormatan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan membalas dendam untuk saudara-saudaranya di Khilafah.

Sebaliknya, darah dan jiwanya tidak berarti baginya untuk dikorbankan bagi agamanya dan badannya yang terus berekspansi. Dia mengumpulkan persenjataan yang dia bisa, menyelidiki target, bertawakal kepada Rabbnya, dan melaksanakan serangan yang berani dan tanpa mementingkan diri sendiri, meneror orang-orang Kristen, Yahudi, dan atheis di Denmark – bangsa kafir yang menghina Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebuah anggota dari koalisi Salibis melawan Daulah Islam. Darah najis orang-orang Denmark telah ia tumpahkan dengan tangannya yang diberkahi, yang dengannya dia menjamin untuk dirinya sendiri sebuah tempat di Surga, insya' Allah. Dan dengan darah suci dan keringat tanpa kenal lelah dari orang-orang sepertinya, sejarah tertulis dan tersimpan. Dan sekarang, bukankah sudah waktunya para salibis, atheis, dan orang-orang murtad untuk menyadari bahwa Daulah Islam dan pesannya kepada dunia adalah sesuatu yang harus diperhitungkan?

Khalifah hafizhahullah berkata, “Ingatlah, hendaknya dunia mengetahui: Sesungguhnya kami hari ini berada di zaman yang baru, ingatlah hendaknya orang yang lalai dia tersadar, ingatlah hendaknya orang yang tertidur dia bangun, ingatlah hendaknya orang yang terperangah lagi tersentak dia memahami; bahwa sesungguhnya kaum muslimin pada hari ini memiliki otoritas kebijakan yang tinggi lagi menggema dan memiliki pijakan-pijakan yang kokoh. Otoritas kebijakan yang memperdengarkan kepada dunia dan memahamkan kepadanya makna irhab (teror), kaki-kaki yang menginjak hina berhala nasionalisme, dan menghancurkan patung demokrasi serta membongkar kepalsuannya.” (Pesan Kepada Mujahidin Dan Umat Islam Di Bulan Ramadhan)

Semoga Allah menerima Abu Ramadhan, mengumpulkannya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di surga dan menjadikannya teladan untuk diikuti ummat di mana pun…

KEIKUTSERTAAN JEPANG DALAM PERANG MELAWAN MUJAHIDIN

DABIQ 7 - KATA PENGANTAR


KEIKUTSERTAAN JEPANG DALAM PERANG MELAWAN MUJAHIDIN

“Apa urusan Jepang dengan kami? Siapa yang telah membawa Jepang ke dalam perang yang sulit, dahsyat dan sengit ini… ke dalam pelanggaran kepada putra-putra kita di Palestina? Jepang tidak akan mampu bertahan dalam perang melawan kami. Oleh karena itu, mereka harus memikirkan ulang pendirian mereka. Apa urusan Australia yang jauh di selatan dengan kami dan dengan kondisi masyarakat Afghanistan dan Palestina yang tidak berdaya? Apa urusan Jerman dalam perang ini selain kekafiran dan perang salib? Ini tidak lain adalah perang salib sebagaimana perang salib terdahulu yang dipimpin oleh Richard the Lionheart, Barbarossa dari Jerman, dan Louis dari Prancis. Sebagaimana hari ini, ketika Bush mengangkat salib, negara-negara salibis segera bergegas. Apa urusan negara-negara Arab dengan perang salib ini? Mengapa mereka memasukinya dengan terang-terangan dan terbuka di siang bolong? Karena mereka merasa senang dengan rencana salib.” (Wawancara Oktober 2001)

Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah mengatakan kalimat di atas 13 tahun yang lalu ketika banyak negara bersegera bergabung dengan koalisi salibis yang digerakkan untuk menginvasi Afghanistan. Jepang bergabung dengan perang salib walaupun mereka adalah penyembah berhala bukan Kristen, konstitusinya yang “cinta damai”, dan jaraknya yang jauh dari Afghanistan. Perdana Menteri yang bodoh saat itu –Junichiro Koizumi– berkomitmen untuk menyediakan bantuan logistik untuk pasukan salib barat. Apa keuntungan yang dia harapkan untuk Jepang dengan bergabung dalam sebuah perang salib terhadap kaum Muslimin?

Setelah itu, Jepang –sekali lagi di bawah kepemimpinan Koizumi– bergabung dengan pasukan salib di Iraq dengan mengirim Pasukan “Bela Diri” untuk menolong mereka di sana. Ketika mujahidin di bawah kepemimpinan Syaikh Abu Mush'ab az-Zarqawi rahimahullah menangkap pasukan salibis Jepang Shosei Koda dan mengancam akan mengeksekusi dia jika Jepang tidak menarik pasukannya dari Iraq, Koizumi dan pemerintahannya dengan arogan berkata bahwa Jepang tidak akan mengakui permintaan dari “teroris”. Oleh karena itu, Koda dipenggal sebagaimana orang-orang sebelumnya di antara tawanan dari koalisi pasukan salib termasuk Nick Berg dan Kenneth Bigley.

Hampir satu dekade setelahnya, Jepang yang “cinta damai” sekali lagi melanggar kebijaksanaan dengan masuk ke dalam koalisi salibis lainnya melawan kaum Muslimin, tetapi kali ini di bawah kepemimpinan peraih “Hadiah Nobel Perdamaian” Obama. Dan sehingga sebuah negara yang “cinta damai” dipimpin oleh sebuah peraih penghargaan “perdamaian” dalam sebuah perang yang digariskan untuk gagal.

Apa keuntungan yang diharapkan Abe Shinzo untuk diperoleh Jepang dengan secara terang-terangan menyumbang lebih dari 200 juta dollar untuk secara jelas digunakan dalam perang melawan Daulah Islam, seakan-akan Khilafah bukan merupakan sebuah entitas berbahaya untuk dibuat marah? Keangkuhan macam apa yang telah membutakannya untuk membuat pernyataan tidak bijaksananya dari sebuah podium yang didirikan thaghut Sisi yang melancarkan perang terhadap tentara Khilafah di Wilayah Sinai? Apa yang membuatnya “lupa” bahwa Daulah Islam memiliki dua tawanan Jepang di dalam tahanannya menunggu kekeliruan dari pemimpin Jepang?

Tidak ada yang selamat dari makar Allah yang dirasakan aman oleh orang-orang musyrik. Maka dengan segera Daulah Islam menuntut 200 juta dolar dari pemerintah Jepang, jumlah yang sama yang diberikan oleh Perdana Menteri Jepang kepada pihak salibis dan sekutu-sekutu mereka yang murtad. Khilafah tidak membutuhkan uang dan mengetahui benar bahwa Jepang tidak akan pernah menyediakan jumlah tersebut, namun keputusan –dengan tuntutan ini– untuk mempermalukan kesombongan pemerintah Jepang… Sebuah pemerintah yang berada dalam satu jalur dengan pemerintah-pemerintah yang diperbudak oleh Barat sejak Perang Dunia Kedua.

Setelah batas waktu pertama lewat, tahanan Jepang Haruna Yukawa dieksekusi, sementara para perwakilan Jepang mendesak rezim Yordania yang murtad. Daulah Islam dengan segera meminta pembebasan dan penyerahan Sajidah Ar-Risyawi –seorang mujahidah yang ditahan oleh Thaghut Yordania hampir 10 tahun– ke negeri Khilafah dalam pertukaran tawanan untuk Kenji Goto Jogo. Secara arogan rezim Yordania mempersulit proses tersebut bagi Jepang dengan berusaha memasukkan pilot mereka dalam kesepakatan pertukaran, tetapi Khilafah secara eksplisit menolaknya selama negosiasi dengan perwakilan Thaghut Yordania –'Ashim Thahir Al-Barqawi (Abu Muhammad al-Maqdisi [1])– karena terdapat beberapa rencana lain bagi si pilot murtad.

Pada akhirnya, baik si klien murtad Al-Barqawi (yaitu Mu'adz, pent.) maupun sang tahanan Jepang dieksekusi disebabkan kelalaian kedua rezim dalam memperhatikan peringatan yang diberikan oleh Daulah Islam. Para kerabat Kenji Goto Jogo dan si pilot murtad tidak bisa disalahkan. Para pemimpin politik negeri merekalah yang dipersalahkan karena berusaha untuk menenangkan dan melayani salibis Amerika.

Sebelum perjanjian sembrono untuk membantu perang salib ini, Jepang tidak masuk dalam daftar prioritas target Daulah Islam. Akan tetapi, disebabkan kebodohan Abe Shinzo, semua warga dan kepentingan Jepang –di mana pun mereka diketemukan– sekarang menjadi target bagi bala tentara dan pendukung Khilafah di mana-mana. Kini Jepang berada dalam situasi yang sulit.

Bagaimana mereka dapat lepas dari ancaman ini? Bisakah Abe Shinzo melakukan langkah untuk membebaskan rakyatnya yang secara sembrono menyebabkan kemarahan Khilafah? Bisakah ia secara berani mengumumkan penghentian dukungannya bagi perang melawan Khilafah setelah membuat pernyataan buruk dan tidak bijaksana terhadap Daulah Islam? Sesuatu yang sangat diragukan… Dengan demikian, biarkanlah para warga negaranya mengetahui bahwa pedang Khilafah telah dihunus terhadap orang-orang musyrik Jepang dengan kekuatan dan kekuasaan Allah...

Catatan kaki :

[1] Semoga Allah segera menyingkap secara rinci tentang bagaimana Al-Barqawi (di mana dia mengadakan kampanye yang penuh dengan kebohongan) mewakili Thaghut Yordania dalam negosiasi tersebut. Wallahul Musta'an...

DARI JAHILIYAH MENJADI KSATRIA KHILAFAH

DABIQ 6 - PENDAHULUAN



DARI JAHILIYAH MENJADI KSATRIA KHILAFAH

"Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan tidak mau menawarkan perdamaian kepadamu, serta tidak menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka di mana saja kamu temui, dan merekalah orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk memerangi, menawan dan membunuh) mereka." (An-Nisa: 91)

Bulan ini, sebuah serangan dilakukan di Sydney oleh Man Haron Monis, seorang Muslim yang memutuskan untuk bergabung dengan mujahidin Daulah Islam dalam perang mereka melawan koalisi tentara salib. Dia tidak melakukannya dengan melakukan perjalanan ke tanah Khilafah dan berjuang bersama dengan saudara-saudaranya (di Iraq atau Syam), melainkan dengan bertindak sendirian dan menyerang orang-orang kafir, di mana hal itu akan sangat menyakiti mereka – karena terjadi di negeri mereka sendiri dan di jalan-jalan yang sangat mereka duga bisa berjalan di sana dengan aman. Tidak butuh banyak; dia berhasil meraih pistol dan menyerbu sebuah kafe lalu menjadikan orang-orang yang di dalamnya sebagai sandera. Dan karena tindakannya ini, ia menimbulkan kepanikan massa, membawa teror ke seluruh negara, dan memicu evakuasi sejumlah warga dari pusat bisnis Sydney. Berkah-berkah dalam usahanya sangat jelas sejak awal.

Kemudian, situasi dikembangkan dan identitasnya terungkap, kami melihat respon yang bisa diprediksi dari media internasional. Mereka langsung mulai mencari sesuatu yang negatif yang bisa mereka gunakan untuk melawannya, dan kemudian mulai melaporkan berbagai tuduhan yang dibuat terhadapnya dalam upaya untuk mencoreng karakter dan, yang terpenting, tujuan mulia bahwa ia berjuang untuk Allah Ta’ala.

"Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah dan agama hanya bagi Allah semata." (Al-Anfal: 39)

Faktanya adalah, bagaimanapun, bahwa setiap tuduhan yang dialamatkan terhadap seseorang tentang masa lalunya, maka tidak berlaku selama dia mengharapkan rahmat Allah dan bersungguh-sungguh dalam bertaubat dari segala kesesatan-kesesatan masa lalunya. Ini sebagaimana orang yang baru masuk Islam dan dia memiliki sejarah masa lalu berupa kesyirikan dan maksiat, benar-benar terhapus (seluruh kesalahannya) – seperti yang terjadi dengan banyak shahabat. Maka berapa banyak orang yang seperti ini, yang kemudian setelah bertaubat dia lalu berperang dan terbunuh di jalan Allah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengetahui pun menyatakan bahwa orang tersebut akan diampuni saat tetes darahnya yang pertama.

Mengutuk seseorang berdasarkan masa lalu mereka telah menjadi tradisi para thaghut, seperti yang dilakukan oleh Fir'aun.

"Dia (Fir‘aun) menjawab, “Bukankah kami telah mengasuhmu dalam lingkungan (keluarga) kami, waktu engkau masih kanak-kanak dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan engkau (Musa) telah melakukan (kesalahan dari) perbuatan yang telah engkau lakukan dan engkau termasuk orang yang tidak tahu berterima kasih.” Dia (Musa) berkata, “Aku telah melakukannya, dan ketika itu aku termasuk orang yang khilaf." (Asy-Syu'ara: 18-20)

Manusia baru Haron Monis adalah seorang mujahid di jalan Allah. Ia menyatakan dirinya berada pada tauhid yang murni dan dari Ahlus-Sunnah, mengumumkan bai’at kepada Khalifah Ibrahim al-Qurasyi, dan kemudian bergerak maju untuk meneror kuffar dan membawa kemenangan bagi agama Allah. Kesyahidannya –insya Allah– adalah wasiat ketulusannya.

Setelah kebuntuan yang panjang, saudara Man Haron Monis akhirnya terbunuh. Serangan beraninya berakhir dengan dua sandera kafir tewas, dan empat lainnya luka-luka, termasuk seorang polisi. Dengan demikian, ia menambahkan namanya ke daftar kaum muslimin yang menjawab seruan Khilafah untuk menyerang orang-orang yang berperang melawan Daulah Islam di manapun mereka berada, seperti yang disampaikan oleh Juru Bicaranya, Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani.

"Jika Anda dapat membunuh kafir Amerika atau Eropa –terutama si dengki yang najis Perancis– atau Australia, atau Kanada, atau kafir lainnya dari orang-orang kafir harbi, termasuk warga negara yang menandatangani Koalisi permusuhan terhadap Daulah Islam, maka bertawakallah kepada Allah, dan bunuhlah dengan cara atau alat apa pun yang memungkinkan. Jangan meminta saran siapa pun dan jangan meminta fatwa siapa pun." (Inna Rabbaka la bil Mirshad)

Akan ada orang lain yang mengikuti contoh yang ditetapkan oleh Man Haron Monis dan Numan Haider di Australia, Martin Couture Rouleau dan Michael Zehaf Bibeau di Kanada, Zale Thompson di Amerika, dan Bertrand Nzohabonayo di Perancis, dan tidak ada yang bisa dilakukan Barat kecuali cemas menunggu giliran pembantaian berikutnya dan kemudian mengeluarkan lelah yang sama, pernyataan klise mengecam kejadian itu. Kaum Muslimin akan terus menentang mesin perang orang-orang kafir, mengepung tentara salib di jalan-jalan mereka sendiri dan membawa perang kembali ke tanah mereka sendiri.

"Di masa lalu, aku telah mengangkat bendera selain bendera Islam. Aku memohon ampunan dari Allah dan bertobat kepada-Nya. Aku bersumpah demi Allah Yang Maha Kuasa bahwa aku tidak akan mengangkat bendera selain bendera Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Aku dulu Rafidhi, tapi sekarang tidak lagi. Sekarang aku Muslim, alhamdulillah.
Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan memberikan bai’at kepada Imam di zaman kita. Mereka yang memberikan bai’at kepada khalifah kaum muslimin dalam kenyataannya memberikan bai’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Tangan Allah di atas tangan mereka.”
Man Haron Monis rahimahullah

Selasa, 24 April 2018

EKSPANSI DAULAH ISLAM

DABIQ 5 - PENDAHULUAN

EKSPANSI DAULAH ISLAM


Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du;

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman; "Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai." (At-Taubah: 32-33)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; "Sungguh Allah telah menghimpun untukku bumi, sehingga aku melihat sisi timur dan baratnya, dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai apa yang telah Allah lipatkan untukku dari bumi." (Shahih Muslim dari Tsauban)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda; "Sungguh agama ini akan mencapai seluruh tempat yang dilalui siang dan malam. Allah tidak akan meninggalkan satu rumah pun baik di kota maupun di pedalaman kecuali akan memasukkan dien ini ke dalamnya, dengan memuliakan orang yang mulia dan menghinakan orang yang hina, yakni Allah memuliakannya dengan kemuliaan Islam dan menghinakannya dengan kekufuran." (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Tamim Ad-Dari)

Ini adalah janji dari Allah. Agama yang benar ini –diwujudkan melalui Jamaah kaum muslimin (Khilafah) dan Imam mereka (Khalifah)– akan menang di atas semua agama palsu, dengan bukti dan petunjuk, dan dengan pedang dan tombak, walaupun orang-orang kafir dan orang-orang musyrik tidak menyukainya, dan begitu juga semua militer, ekonomi, intelijen, politik, dan media oposisi dari koalisi salib terhadap Daulah Islam.

Pada tanggal 20 Muharram 1436, Daulah Islam secara resmi mengumumkan ekspansinya ke Semenanjung Arab, Yaman, Semenanjung Sinai, Libya, dan Aljazair, dan pendirian Wilayah di dalamnya. Khalifah Ibrahim hafizhahullah juga menerima bai'at dari semua kelompok dan individu yang berjanji setia dari negara lainnya.

Jadi, di saat seluruh mata dunia buta dan terpesona oleh sihir media yang "meliput" pertempuran di 'Aynul Islam (Kobane), mata Daulah Islam justru melakukan pemindaian di Timur dan Barat, mempersiapkan ekspansi yang -dengan izin Allah- akan mengakhiri negara Yahudi, Alu Salul (Saudi), dan para thaghut murtad lainnya, para sekutu salib.

Bendera Khilafah akan meninggi di atas Makkah dan Madinah, walau orang-orang murtad dan munafik membencinya. Bendera Khilafah akan berkibar tinggi di atas Baitul Maqdis dan Roma, walaupun orang-orang Yahudi dan Tentara Salib tidak menyukainya. Naungan bendera penuh berkah ini akan terus meluas sampai menutupi semua wilayah timur dan barat bumi, mengisi dunia dengan kebenaran dan keadilan Islam dan mengakhiri kedustaan dan tirani Jahiliyah, walau Amerika dan sekutunya membencinya...

YAKIN DENGAN DATANGNYA PERTOLONGAN ALLAH

DABIQ 4 - PENDAHULUAN

YAKIN DENGAN DATANGNYA PERTOLONGAN ALLAH

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurah atas Rasul-Nya Muhammad, keluarganya dan parat shahabatnya. Amma ba’du.

Walau perang salib ini dilancarkan terhadap Daulah Islam, namun kita harus ingat bahwa di antara aqidah seorang Muslim adalah berlaku husnuzh zhann Billah (prasangka yang baik terhadap Allah). Allah Ta'ala berfirman, seperti dalam hadits Qudsi, "Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Maka biarkan dia berprasangka pada-Ku sesuai apa yang ia inginkan." (Shahih: Riwayat Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Hakim)

Sedangkan kebalikan dari sikap ini berarti berayun di antara kesesatan dan kekufuran. Allah Ta'ala berfirman, "Dia (Ibrahim) berkata, Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang yang sesat." (Al-Hijr: 56). Dan Allah Ta’ala juga berfirman, menceritakan ayah Nabi Yusuf alaihis salam, "Wahai anak-anakku! Pergilah kalian, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir." (Yusuf: 87)

Sikap ini merupakan salah satu penyakit hati, karena mereka adalah orang-orang yang Allah ta'ala sebutkan dalam pernyataan-Nya, "Bahkan (semula) kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin sekali-kali tidak akan kembali lagi kepada keluarga mereka selama-lamanya, dan dijadikan terasa indah yang demikian itu di dalam hatimu, dan kamu telah berprasangka dengan prasangka yang buruk, karena itu kamu menjadi kaum yang binasa." (Al-Fath: 12)

Sikap ini juga termasuk zhan (persangkaan) jahiliyah. Ini adalah sikap keraguan akan pertolongan Allah bagi agama-Nya dan pengikutnya.

Kita memiliki janji dari Allah bahwa agama ini pasti menang, dan agama ini yang dimaksud adalah agama dijelaskan oleh salah seorang Khulafa'ur Rasyidin Mahdiyin; 'Umar Ibnul Khattab (Radiyallahu 'Anhu) yang mengatakan, "Tidak ada Islam kecuali dengan Jama'ah, dan tidak ada jama'ah kecuali dengan Imarah (kepemimpinan), dan tidak ada Imarah kecuali dengan tha'ah (ketaatan)." (Sunan ad-Darimi)

Agama yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti dalam hadits, "Aku memerintahkanmu dengan lima hal yang Allah telah memerintahkanku dengannya: jama'ah, as-sam'u (mendengarkan), ath-tha'ah, hijrah, dan jihad fi sabilillah, barangsiapa meninggalkan jama'ah walau satu jengkal maka dia telah menanggalkan ikatan Islam dari lehernya hingga ia kembali." (Shahih: Riwayat Imam Ahmad dan Tirmidzi)

Agama ini adalah agama yang dijanjikan dengan kemenangan, bukan agama perpecahan, bergolong-golongan, membuat-buat, dan berbangga dengan pendapat pribadi, bukan juga agama yang kosong dari bai'at, Imarah, dan khilafah. Ini adalah agama yang benar-benar diwujudkan di tingkat individu, masyarakat, dan bangsa. Ini adalah agama yang dijanjikan dengan: "Dialah Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai." (At Taubah: 33). "Dan cukuplah Allah sebagai saksi." (Al Fath: 28)

Keyakinan dan sikap ini telah dipelihara oleh para pemimpin dan tentara Daulah Islam sejak hari-hari di mana Abu Mush'ab az-Zarqawi taqabbalahullah merintis jalan bagi pembentukan Daulah ini. Karena itulah, kalian dapati kata-kata para imam penuh keyakinan mutlak akan pertolongan Allah terhadap Daulah Islam. Mereka tidak memiliki keraguan mengenai hal ini walau sebesar biji sawi.

Abu Mush'ab az-Zarqawi rahimahullah berkata, "Orang-orang munafik dan orang-orang yang menghalangi jalan menuju Allah akan berkata kepadamu, 'Apakah kamu berpikir apa yang kamu inginkan akan bisa tercapai? Apakah kamu benarbenar berpikir bahwa Khilafah Islam atau bahkan hanya negara Islam akan bisa didirikan? Ini sesuatu yang tidak pernah bisa terjadi dan itu semua lebih dekat kepada khayalan daripada kenyataan". Maka, jika mereka mengatakan seperti itu kepadamu, maka ingatlah pernyataan Allah ta'ala, ((Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, "Mereka itu (orang mukmin) ditipu agamanya." (Allah berfirman), "Barangsiapa bertawakal kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (Al-Anfal: 49). Dan juga katakan kepada mereka, 'Sesungguhnya, Allah akan mengabulkan bagi kaum Muslimin penaklukan Roma, sebagaimana Rasulullah (shallallahu 'alayhi wasallam) telah berjanji'." (Wasaya Hammah Lil Mujahidin)

Beliau juga mengatakan, "Kami melakukan jihad di sini (Iraq), sementara mata kami tertuju pada al-Quds. Kami berjuang di sini, sementara tujuan kami adalah Roma dengan harapan yang baik kepada Allah bahwa Dia menjadikan kita kunci bagi bisyarah (kabar gembira) Nabi dan keputusan Ilahi." (Riyah an-Nashr)

Sikap ini kemudian diwariskan oleh penggantinya, Abu Hamzah al-Muhajir rahimahullah, yang mengatakan, "Wahai muwahhidin, terimalah kabar gembira, demi Allah, kita tidak akan beristirahat dari jihad kita sampai kita berada di bawah pohon-pohon zaitun Roma, setelah kita menghancurkan rumah kotor yang disebut Gedung Putih." (Inil Hukmu Illa Lillah)

Sikap ini juga bergema oleh manusia pegunungan, Abu Umar al-Baghdadi rahimahullah, yang berkata, "Wahai tentara Daulah Islam, wahai pemuda Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ... Hari ini kita di ambang pintu menuju sebuah era baru, sebuah titik balik bukan sekedar untuk peta wilayah, tetapi dunia. Hari ini kita menyaksikan akhir kebohongan yang disebut ‘Peradaban Barat’ dan bangkitnya raksasa Islam. Ini adalah apa yang telah diperingatkan oleh Bush dalam pidato terakhirnya di depan veteran ketika ia berkata, 'Daerah ini berubah menjadi salah satu yang mengancam peradaban dengan kehancuran', yang dimaksud peradaban adalah peradaban syirik dan kufur, peradaban riba dan prostitusi, peradaban penghinaan dan penaklukan. Dan dia mengatakan tentang tentara Daulah Islam di Mesopotamia, "Mereka berusaha untuk membangun kembali Khilafah yang akan meluas dari Spanyol ke Indonesia." Ini terjadi setelah dia membuat ancaman satu-satunya kaum Sunni adalah Amerika dan peradabannya". (Wa Yamkuruna Wa Yamkurullah)

Dan dia berkata, "Hal ini mendorong musuh Allah -Bush- mengatakan setelah deklarasi Daulah Islam yang penuh berkah, "Mereka berusaha untuk mendirikan sebuah Negara Islam yang membentang dari Cina ke Spanyol." Dia berbicara benar meskipun ia adalah pembohong." (Wa Qul Ja'al Haqqu Wa Zahaqal Bathil)

Dan kepastian ini adalah janji Allah yang diminta oleh Abu Umar al-Baghdadi saat dia mengatakan dengan penuh keyakinan, "Innad Dawlatal Islami Baqiyah, Sungguh Daulah Islam akan tetap eksis..." (Hashad as-Sinin)

Dan juga berkata, "Pada akhirnya, aku katakan kepada kaum muslimin di mana pun berada, yang menyaksikan kerasnya serangan militer dan propagkalian media terhadap Daulah Islam di Mesopotamia, jangan takut atau khawatir tentang jihad yang ada di Iraq. Berprasangka baiklah, karena kerasnya gelombang itu telah pecah. Sungguh, bangunan yang dibangun di atas tengkorak Syuhada dan yang disirami dengan darah orang-orang yang shaleh, adalah bangunan kebenaran yang lebih kuat daripada gunung yang kokoh, dan tegak lebih tinggi dan lebih mulia dari bintang-bintang. Dan karena kesempurnaan-Nya di atas dan di luar kesalahan apapun, Dia al-Karim, ar-Rahman, ar-Rahim Yang tidak akan pernah membiarkan pengorbanan mereka pergi sia-sia." (Hashad al-Khair)

Kepastian ini senada dengan apa yang disampikan oleh Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani hafizhahullah dalam pidato terakhirnya ketika ia berkata, "Dan kami berjanji (wahai salibis), dengan izin Allah bahwa operasi militer ini akan menjadi operasi militer terakhir kalian. Ia akan hancur dan dikalahkan, sebagaimana semua operasi militer sebelumnya yang hancur dan dikalahkan, bahkan kini saatnya bagi kami untuk menyerang kalian setelah ini, dan kalian tidak akan pernah menyerang kami lagi. Kami akan menaklukkan Roma kalian, mematahkan salib, dan memperbudak wanita kalian, dengan izin Allah Ta'ala. Ini adalah Janji-Nya kepada kami; Dia Mahamulia dan Dia tidak tidak pernah menyelisihi janji-Nya. Jika kita tidak mencapai itu waktu, maka anak-anak dan cucu-cucu kami akan mencapainya, dan mereka akan menjual anak-anakmu sebagai budak di pasar budak." (Inna Rabbaka la bil Mirshad)

Akhirnya, kepastian akan hal ini menjadi satu hal yang terus berdenyut di hati setiap mujahid Daulah Islam dan setiap pendukungnya di luar sana, hingga tiba saatnya nanti memerangi tentara salib Romawi di dekat Dabiq.

KEPUTUSAN AMERIKA MEMERANGI DAULAH ISLAM

DABIQ 3 - KATA PENGANTAR

KEPUTUSAN AMERIKA MEMERANGI DAULAH ISLAM

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb alam semesta. Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Rasul-Nya Muhammad, keluarganya dan shahabatnya.

Pada tanggal 11 Syawal 1435H (7 Agustus 2014), Amerika secara resmi memutuskan untuk ikut campur sekali lagi dalam urusan Umat Muslim dengan melancarkan serangan udara kepada Daulah Islam dan rakyatnya. Ada sejumlah peristiwa terkait yang coba dihindari pemerintahan Obama dan media barat saat mendiskusikan serangan tersebut dan konsekuensinya berupa eksekusi James Foley.

1) Amerika telah ikut campur di Iraq dengan menolong militer Maliki, Peshmerga, dan dewan Shahawat yang baru, dengan informasi, nasehat, dan senjata, sebelum serangan udara akhir-akhir ini. Telah terjadi pengintaian udara yang teratur di Anbar dan Nainawa.

2) Amerika telah ikut campur di Syam dengan mendukung kelompok-kelompok yang bersekutu dengannya dan “Saudi Arabia” melawan Daulah Islam. Kelompok-kelompok tersebut sekarang meminta dukungan dan bantuan lebih lanjut dari Amerika, yang –dengan izin Allah– akan berakhir sebagai ghanimah bagi Daulah Islam.

3) Amerika telah membunuh wanita, anak-anak, dan orang tua, selama penjajahan langsung di Iraq sebelum mereka menarik mundur pasukannya. Tak terhitung pasukan Amerika dari kalangan tentara Amerika dan Blackwater yang mengeksekusi keluarga dan memperkosa kehormatan para wanita. Keluarga Muslim dibunuh dengan dalih “collateral damage”*, di mana Amerika memperbolehkan hal itu untuk dirinya sendiri. Sehingga, jika seorang mujahid membunuh seorang laki-laki dengan pisau, maka itu adalah pembunuhan cara barbar terhadap orang tak berdosa. Sedangkan jika Amerika membunuh ribuan keluarga Muslim di seluruh dunia dengan menekan tombol missil, maka itu disebut “collateral damage”.

*Collateral damage adalah istilah untuk warga sipil yang tidak sengaja terluka/terbunuh ketika penyerangan suatu target dalam operasi militer.

4) Amerika telah diberitahu bahwa status James Foley sebagai tawanan Daulah Islam. Telah ada negosiasi sebelum serangan Amerika untuk membebaskan tawanan Muslim yang ditahan Amerika sebagai ganti dengan pembebasan Foley, tetapi mereka dengan sombong menolaknya.

5) Amerika mencoba misi penyelamatan di Wilayah Raqqah, yang berakhir dengan kegagalan karena sebagian anggota misi terluka dan mungkin terbunuh, jadi mereka kembali mengalami kegagalan dan bencana.

6) Setelah serangan udara resmi Amerika dimulai di Iraq, Daulah Islam mengirim pesan peringatan akan mengeksekusi James Foley sebagai akibat serangan udara. Ancaman ini ditanggapi Amerika tidak berbeda dengan sebelumnya.

7) Setelah menerima ancaman dan sebelum eksekusi, Obama bergegas menutup-nutupi fakta tersebut dari rakyatnya. Pemerintahannya segera meminta sejumlah media sosial untuk menutup semua akun Daulah Islam, termasuk akun pendukungnya.

8) Dalam pidatonya pada tanggal 20 Agustus 2014, Obama benar-benar menghindari penyebutan Steven Sotloff, sekali lagi menunjukkan kepada “orang-orangnya” bahwa kepentingan utama pemerintah Amerika adalah kepentingan Israel dan sekutunya, termasuk pasukan zionis Peshmerga. Baginya, hal itu lebih penting daripada nyawa rakyatnya.

Dan dengan izin Allah, Obama akan melanjutkan jejak pendahulunya, Bush, hanya akan menjadi ahli waris terburuk bagi pewaris terburuk pula, dan pada akhirnya akan menuju keruntuhan total dari Kekaisaran Modern Amerika.

Walhamdulillaahirabbil alamiin.

KEWAJIBAN TERHADAP KHILAFAH

DABIQ 2 - PENDAHULUAN

KEWAJIBAN TERHADAP KHILAFAH

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul-Nya, Muhammad, kepada keluarga dan seluruh shahabatnya.

Banyak pembaca mungkin bertanya-tanya tentang kewajiban mereka sekarang terhadap Khilafah (setelah dideklarasikan), oleh karena itu tim Dabiq ingin menyampaikan posisi kepemimpinan Daulah Islam dalam materi penting ini.

Prioritas pertama adalah dengan melakukan hijrah dari mana pun engkau berada menuju Daulah Islam, dari Darul Kufur menuju Darul Islam. Bergegas untuk melakukan hal itu sebagaimana Musa (alaihis salam) bergegas menuju Rabbnya seraya mengatakan, “… Dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Rabbku, agar Engkau ridha (kepadaku).” (Thaha: 84).

Bersegeralah ke naungan Daulah Islam bersama orang tuamu, saudara, pasangan (suami/istri), dan anak-anak. Ada rumah di sini untuk dirimu dan keluargamu. Engkau dapat menjadi kontributor utama terhadap pembebasan Makkah, Madinah, dan al-Quds. Apakah Engkau tidak suka pada Hari Kiamat nanti termasuk orang dengan predikat amal besar ini?

Kedua, jika Engkau tidak dapat melakukan hijrah karena sebuah alasan yang tidak dapat engkau tanggung (alasan syar'i), maka cobalah melakukan bai’at di lokasimu berada kepada Khalifah Ibrahim. Lalu publikasikan sebanyak mungkin. Mengumpulkan orang-orang di masjid, Islamic Center, dan organisasi Islam misalnya, lalu membuat pengumuman publik bai’at.

Cobalah untuk merekam bai'at ini dan kemudian mendistribusikannya melalui berbagai bentuk sarana media, termasuk internet. Hal ini diperlukan agar bai’at menjadi hal yang umum menyebar secara merata di kalangan kaum muslimin, dan mereka menganggap yang menarik kembali tangannya sangatlah buruk. Usaha ini, insya Allah, akan mendorong kelompok-kelompok Islam untuk meninggalkan keberpihakan mereka (sikap ashabiyah, fanatisme kelompok) dan juga mengumumkan bai’at mereka ke Khalifah Ibrahim.

Jika Engkau tinggal di sebuah negara polisi (otoriter) yang akan menangkapmu atas bai'at tersebut, maka gunakanlah nama samaran atau anonimous untuk menyampaikan bai’atmu ke seluruh dunia.

Dengan mempublikasikan bai’atmu, hal ini akan mendatangkan dua manfaat:

Pertama, adalah perwujudan loyalitas umat islam kepada muslim lainnya, sebagaimana satu tubuh.

“Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar.” (Al-Anfal: 73).

Kedua, itu adalah cara untuk mengisi hati orang-orang kafir dengan penderitaan yang menyakitkan.

Maka dua alasan ini sudah cukup kiranya bagimu untuk bersegera melakukan amal kebaikan ini.

“Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, kecuali (semua) itu dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal kebajikan. Sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (At-Taubah: 120).

Akhirnya, jika engkau tidak dapat melakukan hal apapun di atas karena alasan yang sangat di luar kemampuanmu, Insya Allah niatmu dan keyakinanmu bahwa Daulah Islam adalah Khilafah bagi semua kaum muslimin akan cukup untuk menyelamatkanmu dari peringatan yang disebutkan dalam Hadits, "Barangsiapa mati tanpa ada ikatan bai’at di lehernya, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah." (Shahih Muslim).

Adapun pembantaian yang terjadi di Gaza terhadap Muslim pria, wanita, dan anak-anak, maka Daulah Islam akan melakukan segala usaha semaksimal mungkin untuk terus menusuk setiap orang murtad yang berdiri sebagai hambatan jalan menuju Palestina. Bukan tabiat Daulah Islam untuk berbuat kosong, kata-kata kering, kutukan dan belasungkawa munafik seperti para thaghut Arab yang dilakukan di PBB dan Liga Arab. Sebaliknya, tindakannya berbicara lebih keras dari kata-kata, dan hanya masalah waktu dan kesabaran sebelum mencapai Palestina, memerangi Yahudi barbar dan membunuh mereka yang bersembunyi di balik pohon Gharqad.