Rabu, 25 April 2018

BERJIHAD UNTUK MENEGAKKAN TAUHID, BUKAN NASIONALISME

DABIQ 8 - PENDAHULUAN


BERJIHAD UNTUK MENEGAKKAN TAUHID, BUKAN NASIONALISME

Allah ta’ala berfirman : "Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah wali-wali syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah." (An-Nisa': 76)

Allah ta’ala juga berfirman, "Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka." (Al-Mujadilah: 22)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa terbunuh di bawah bendera 'ashabiyah, menyeru kepada 'ashabiyah atau membela 'ashabiyah (fanatisme kelompok, suku), maka matinya adalah kematian jahiliyah.” (Hadits riwayat Muslim dari Jundub Ibn 'Abdillah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Sesungguhnya segala perkara jahiliyah telah terkubur di bawah kakiku.” (Hadits riwayat Muslim dari Jabir Ibn 'Abdillah)

Syaikh Abu Mushab az-Zarqawi rahimahullah berkata, “Kami tidak berjihad untuk segenggam tanah atau batas khayalan yang dibuat oleh Sykes dan Picot. Begitu juga kami tidak berjihad agar thaghut Barat menggantikan posisi thaghut Arab. Sebaliknya jihad kami lebih mulia dan lebih tinggi. Kami berjihad sehingga kalimat Allah menjadi yang tertinggi dan agar agama menjadi milik Allah seluruhnya. "Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah dan (sampai) agama, seluruhnya, untuk Allah" (Al-Anfal: 39). Setiap orang yang menentang tujuan ini atau menghalang-halangi tujuan ini adalah musuh bagi kami dan menjadi sasaran bagi pedang-pedang kami, siapapun namanya dan keturunannya. Kami memiliki agama yang diturunkan oleh Allah sebagai timbangan dan pemutus perkara. Pernyataannya tegas dan keputusannya bukan senda gurau. Inilah persaudaraan antara kami dan manusia, karena timbangan kami – dengan karunia Allah- adalah timbangan ilahi, hukum kami adalah Al Qur'an dan keputusan kami berada di atas sunnah Nabi. Muslim Amerika adalah saudara yang kami cintai. Dan orang kafir Arab adalah musuh yang kami benci walaupun kami dan dia berasal dari Rahim yang sama.” (Al-Mauqif asy-Syar'i min Hukumat Karazay al-'Iraq)

Khalifah hafizhahullah berkata, “Wahai kaum muslimin di setiap tempat, berbahagialah dan bercita-citalah yang baik, serta angkatlah kepala kalian tinggi-tinggi, karena pada hari ini kalian -dengan karunia Allah- telah memiliki Negara dan Khilafah yang akan mengembalikan kemuliaan dan kejayaan kalian, serta mengembalikan hak-hak kalian dan keberkuasaan kalian, Daulah yang mempersaudarakan di dalamnya antara orang 'ajam dengan orang Arab, antara orang kulit putih dengan orang kulit hitam, antara orang timur dengan barat, kekhalifahan yang menyatukan orang Kaukasus, India, Cina, Syam, Iraq, Yaman, Mesir, Maroko, Amerika, Prancis, Jerman, dan Australia. Allah telah menyatukan di antara hati mereka sehingga dengan karunia Allah mereka menjadi bersaudara yang saling mencintai karenaNya lagi berdiri bersama di satu parit, saling membela, saling melindungi, saling menebus, darah mereka telah menyatu di bawah satu panji, satu tujuan, satu kubu, seraya menikmati lagi bersenangsenang dengan nikmat ini; nikmat ukhuwwah imaniyah yang seandainya rasa nikmatnya dirasakan oleh para raja, tentulah mereka pasti meninggalkan kekuasaan mereka dan memerangi mujahidin untuk merebutnya, maka segala puji dan syukur hanya milik Allah. Maka marilah kalian semua menuju Daulah kalian wahai kaum muslimin, ya Daulah kalian. Ayo marilah, Suriah itu bukan untuk orang-orang Suriah dan Iraq itu bukan untuk orang-orang Iraq. "Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah. Diwariskan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa." (Al A'raf: 128). Daulah ini adalah Daulah kaum muslimin, dan bumi ini adalah bumi kaum muslimin, seluruh kaum muslimin.” (Pesan Kepada Mujahidin Dan Umat Islam Di Bulan Ramadhan)

Nasionalisme, patriotisme, kesukuan, dan revolusionisme tidak pernah menjadi penggerak di hati muwahhid mujahid. Baginya kehilangan lidahnya lebih dia cintai daripada dengan rela meneriakkan slogan nasionalisme jahiliyah. Bahkan sebaliknya, bendera-bendera nasionalisme berada di bawah kakinya, karena bendera-bendera tersebut bertentangan dengan tauhid dan syari'at serta menampakkan ideologi kekufuran dan kesyirikan yang dibawa ke dunia kaum Muslim oleh dua orang salibis: Sykes dan Picot.

Di antara amalan terbesar yang dilakukan seorang muwahhid adalah penentangan terhadap nasionalisme. Sebaliknya, keislamannya tidaklah benar hingga dia mengingkari nasionalisme, karena nasionalisme menyatakan manusia itu setara tidak peduli apa agamanya, ia tidak membedakan antara mereka dengan seharusnya, ia membatasi agama dengan batas nasionalis, dan melarangnya untuk meluas lebih dari itu. Karena alasan-alasan tersebut, nasionalisme dibuat oleh Barat, karena dengannya, mereka mengangkat saudara-saudara kafir dzimmi mereka, menumbuhkan kemurtadan di negeri-negeri kaum Muslimin, memecah belah dan menaklukkan kaum Muslimin, dan mempertahankan negeri-negeri salibis dari jihad offensif.

Thaghut Fir'aun memerintah rakyatnya melalui faksionalisme (perpecahan), pendahulu dari nasionalisme.

"Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan." (Al-Qashash: 4)

Dan kaum Muslimin telah diwajibkan untuk memerangi siapa saja yang menghalang-halangi agama ini menjadi unggul dari semua agama-agama lainnya, bukan untuk menghentikan penyebarannya setelah mencapai batas Negara.

"Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai." (At-Taubah: 33)

"Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan" (Al-Anfal: 39)

Dan orang-orang kafir tidak pernah setara dengan kaum Muslimin walaupun keduanya berasal dari negeri yang sama.

"Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?" (Al-Qalam: 35-36)

"Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?" (Shad: 28)

Oleh karena itu, tauhid yang murni dan nasionalisme tidak mungkin ada bersamaan. Akhirnya, nasionalisme harus diingkari sehingga kemenangan didapatkan oleh Islam dan Ummat.

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahkuKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (An-Nur: 55)

Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang telah mendorong mujahidin Nigeria untuk memberi bai'at kepada Daulah Islam dan menyatakan perang terhadap tentara murtad Nigeria yang berperang untuk thaghut Nigeria. Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong dua tentara Khilafah dari Tunisia untuk membunuh Salibis dengan visa ke Tunisia yang dikeluarkan oleh thaghut Tunisia.

Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong lima tentara Khilafah dari Yaman untuk menyerang Rafidhah Yaman di Sana'a dan Sa'dah. Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong tentara-tentara Daulah Islam dari Iraq, Syam, dan muhajirin untuk memerangi Shahawat Iraq dan Shahawat Suriah, setelah Shahawat-Shahawat itu meninggalkan Islam dan kaum Muslimin.

Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong orang-orang Libya dan tentara-tentara muhajirin Daulah Islam untuk memerangi thawaghit Libya yang baru terbentuk: Dewan Perwakilan Rakyat dan Kongres Umum Nasional. Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong Daulah Islam untuk melebar dari Iraq ke Syam dan setelah itu ke negeri-negeri lain: Afrika Barat, Aljazair, Libya, Khurasan, Sinai, Yaman, dan Semenanjung Arab. Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong Khilafah untuk terus meluas hingga menaklukkan Konstantinopel dan Roma dari salibis dan sekutu-sekutu mereka dengan izin Allah…

Adalah penolakan terhadap nasionalisme yang mendorong Abu Ramadhan al-Muhajir (Omar Abdel Hamid el-Hussein –semoga Allah menerimanya) –meskipun dia lahir dan besar di Denmark– untuk menyerang orang-orang Yahudi Denmark dan penghina Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dari Denmark sehingga dia mendapat kesyahidan di Denmark setelah menyatakan bai'at kepada Khilafah dari Denmark. Abu Ramadhan tidak membiarkan batas-batas negara dan udara menghentikannya. Ia tidak membiarkan “kewarganegaraan” yang dia ingkari untuk menghalang-halanginya dari mematuhi Rabb-nya, membela kehormatan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan membalas dendam untuk saudara-saudaranya di Khilafah.

Sebaliknya, darah dan jiwanya tidak berarti baginya untuk dikorbankan bagi agamanya dan badannya yang terus berekspansi. Dia mengumpulkan persenjataan yang dia bisa, menyelidiki target, bertawakal kepada Rabbnya, dan melaksanakan serangan yang berani dan tanpa mementingkan diri sendiri, meneror orang-orang Kristen, Yahudi, dan atheis di Denmark – bangsa kafir yang menghina Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebuah anggota dari koalisi Salibis melawan Daulah Islam. Darah najis orang-orang Denmark telah ia tumpahkan dengan tangannya yang diberkahi, yang dengannya dia menjamin untuk dirinya sendiri sebuah tempat di Surga, insya' Allah. Dan dengan darah suci dan keringat tanpa kenal lelah dari orang-orang sepertinya, sejarah tertulis dan tersimpan. Dan sekarang, bukankah sudah waktunya para salibis, atheis, dan orang-orang murtad untuk menyadari bahwa Daulah Islam dan pesannya kepada dunia adalah sesuatu yang harus diperhitungkan?

Khalifah hafizhahullah berkata, “Ingatlah, hendaknya dunia mengetahui: Sesungguhnya kami hari ini berada di zaman yang baru, ingatlah hendaknya orang yang lalai dia tersadar, ingatlah hendaknya orang yang tertidur dia bangun, ingatlah hendaknya orang yang terperangah lagi tersentak dia memahami; bahwa sesungguhnya kaum muslimin pada hari ini memiliki otoritas kebijakan yang tinggi lagi menggema dan memiliki pijakan-pijakan yang kokoh. Otoritas kebijakan yang memperdengarkan kepada dunia dan memahamkan kepadanya makna irhab (teror), kaki-kaki yang menginjak hina berhala nasionalisme, dan menghancurkan patung demokrasi serta membongkar kepalsuannya.” (Pesan Kepada Mujahidin Dan Umat Islam Di Bulan Ramadhan)

Semoga Allah menerima Abu Ramadhan, mengumpulkannya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di surga dan menjadikannya teladan untuk diikuti ummat di mana pun…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar