Tampilkan postingan dengan label Jihad Dengan Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jihad Dengan Doa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2018

SENJATA ORANG MU’MIN, DOA

SENJATA ORANG MU’MIN, DOA

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Rosul-Nya yang terpercaya, serta keluarga, para sahabatnya, dan para pengikutnya sampai hari pembalasan. Amma ba’d.

Alloh telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan menjanjikan kepada mereka untuk mengabulkan doa mereka. Alloh ta’ala berfirman: “Dan Robb kalian berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan doa kalian. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku (beribadah kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” [Ghofir: 60]

Alloh ‘azza wa jalla menjelaskan bahwa doa adalah ibadah dengan firman-Nya: “beribadah kepada-Ku”. Sebab, doa adalah ibadah yang paling agung, sebagaimana dalam sabda Rosul shollallohu ‘alayhi wa sallam: “Doa itu ialah ibadah (yang sesungguhnya).” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan para pemilik as-Sunan]

Di dalam ayat di atas terdapat motivasi untuk berdoa, karena ia adalah ibadah kepada Alloh ‘azza wa jalla. Manfaat doa akan kembali kepada hamba, berupa pahala dan kedekatan kepada Alloh ‘azza wa jalla, serta terwujudnya apa yang diminta oleh hamba dari Robbnya, baik cepat maupun lambat. Dan di dalam ayat di atas terdapat ancaman besar bagi orang-orang yang berpaling dari doa, karena Alloh subhanahu wa ta’ala menyifati mereka dengan al-mustakbirin yang lebih besar daripada al-mutakabbirin, yaitu orang-orang yang berlebihan dalam sifat sombong dan berusaha untuk memilikinya. Alloh telah mengancam mereka dengan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.

Dan itu adalah balasan setimpal bagi kesombongan yang Alloh tidak menyukainya dan tidak menyukai orangnya, sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala: “Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang sombong.” [an-Nahl: 23]

Sebab, takabbur (kesombongan) adalah salah satu dari sifat-sifat Alloh ‘azza wa jalla yang Dia tidak ridho jika seorang dari makhluk-Nya menyaingi-Nya dalam sifat tersebut. Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam apa yang diriwayatkannya dari Robbnya: “Kesombongan adalah jubah-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barang siapa merampas salah satunya dari-Ku, maka Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud]

Dari sini kita mengetahui bahwa para tiran, para diktator dan orang-orang yang sombong diancam dengan adzab Alloh. Adzab mereka bisa jadi dari sisi Alloh atau melalui tangan kaum mu’minin, sebagaimana firman Alloh ta’ala: “Katakanlah (Muhammad): Tidak ada yang kalian tunggu-tunggu bagi kami kecuali salah satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid). Dan kami menunggu-nunggu bagi kalian bahwa Alloh akan menimpakan adzab kepada kalian dari sisi-Nya atau melalui tangan kami. Maka tunggulah, sesungguhnya kami menunggu bersama kalian.” [at-Taubah: 52]

Ini di dunia. Adapun di akhirot, orang-orang yang sombong, tidak mau menyembah Alloh (beribadah kepada Alloh), akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. Sebuah janji yang pasti terjadi.

Alloh ‘azza wa jalla telah memerintahkan kita agar berdoa kepada-Nya: “Dialah yang hidup kekal, tidak ada tuhan selain Dia. Maka sembahlah Dia dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya. Segala puji bagi Alloh, Robb seluruh alam.”  [Ghofir: 65]

Alloh subhanahu sama sekali tidak ridho jika hamba-hamba-Nya berdoa kepada selain-Nya. Itu adalah syirik. Dan itu adalah kezholiman yang besar. Luqman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Alloh. Sesungguhnya syirik benar-benar merupakan kezholiman yang besar.”  [Luqman: 13]

Alloh subhanahu telah memberitahukan bahwa setiap yang diseru selain Alloh tidak kuasa menolak madhorot atau mendatangkan manfaat bagi orang-orang yang menyerunya. Dia berfirman: “Dan orang-orang yang kalian seru selain Alloh tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis qithmir. Jika kalian menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruan kalian. Dan sekiranya mereka mendengar, mereka tidak akan mengabulkan permintaan kalian. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikan kalian. Dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepada kalian seperti (Alloh) Yang Maha Teliti.” [Fathir: 13-14] Qithmir adalah kulit tipis yang terletak pada biji kurma.

Jika Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam saja tidak kuasa menolak madhorot atau mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri kecuali apa yang dikehendaki oleh Alloh, maka selain beliau demikian pula, bahkan lebih lagi. Alloh ta’ala berfirman: “Katakanlah (Muhammad): Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak madhorot bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Alloh. Sekiranya aku mengetahui yang ghoib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”  [al-A’rof: 188]

Dan Robbnya subhanahu wa ta’ala memerintahkannya agar berkata: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan bagi kalian…”  [al-Jin: 21]

Jika kita ingin agar Alloh mengabulkan doa kita, maka Dia telah meminta kita untuk memenuhi seruan-Nya, yaitu mengerjakan apa yang Dia perintahkan dan menjauhi apa yang Dia larang, disertai dengan iman kepada-Nya subhanahu. Alloh ta’ala berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” [al-Baqoroh: 186]

Artinya: Hendaklah mereka mengerjakan apa yang Aku inginkan dari mereka dan hendaklah mereka bergembira dengan pengabulan doa mereka.

Jika seorang muslim berdoa kepada Alloh, maka pertama, hendaklah dia mengetahui bahwa dia sedang menjalankan sebuah ibadah. Semakin dia memperbanyak dan terus mendesak dalam berdoa, maka dia akan semakin dekat kepada Alloh.

Kedua, bahwa dia akan mendapatkan dari doanya —di samping pahala— salah satu dari tiga hal, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam: “Tidak seorang mu’min pun berdoa dengan sebuah doa yang di dalamnya tidak ada dosa atau pemutusan persaudaraan, kecuali dengan permohonan itu Alloh akan memberikan salah satu dari tiga hal: permohonannya segera dikabulkan, atau Alloh menyimpannya untuknya di akhirot, atau Alloh menghindarkan darinya keburukan yang setara dengan permohonan itu.” Mereka (para sahabat) berkata: “Kalau begitu kita perbanyak.” Beliau bersabda: “Alloh lebih banyak.” [Diriwayatkan oleh Ahmad]. Beliau mengecualikan dari pengabulan doa, sesuatu yang di dalamnya terdapat dosa atau pemutusan persaudaraan.

Orang yang berdoa tidak boleh tergesa-gesa, tetapi dia harus terus mendesak, memperbanyak, merendahkan diri dan tunduk (khusyu’). Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam telah bersabda: “Doa seorang dari kalian akan dikabulkan selama dia tidak terburu-buru; (yaitu) dia berkata: Aku telah berdoa, tetapi doaku tidak dikabulkan.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhoriy dan Muslim]

Ada beberapa penghalang yang menghalangi pengabulan doa, di antaranya: memohonkan suatu dosa atau pemutusan persaudaraan, dan orang yang berdoa termasuk orang yang memakan harta harom. Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam telah bersabda: “Sesungguhnya Alloh itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Alloh memerintahkan orang-orang mu’min dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rosul. Dia berfirman: ‘Wahai para rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik dan kerjakanlah kebajikan. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.’ Dan Dia berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kalian.’ Kemudian beliau menyebutkan laki-laki yang dalam perjalanan panjang, kusut dan berdebu, mengulurkan tangannya ke langit: ‘Ya Robbku! Ya Robbku!’ Sedangkan makanannya harom, minumannya harom, dan pakaiannya harom. Maka bagaimana bisa itu dikabulkan?” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Marilah kita berdoa kepada Alloh ‘azza wa jalla di setiap waktu dan mengajukan kepada-Nya hajat-hajat kita. Kita memohon kepada-Nya agar memperbaiki kondisi kita dan kondisi kaum muslimin, agar tidak memberikan kekuasaan atas kita —karena dosa-dosa kita— kepada orang yang tidak mengasihi kita, agar menolong Islam dan negaranya, agar memberikan tamkin kepadanya di bumi, agar menolong kita atas kaum yang kafir, serta agar menolong kita untuk mengingat-Nya, mensyukuri-Nya, dan beribadah kepada-Nya dengan baik.

Kemudian, istighfar adalah meminta pengampunan dosa dan penutupan aib dari Alloh Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Alloh ‘azza wa jalla telah menetapkan bagi orang-orang yang beristighfar dengan tulus pahala yang besar di dunia dan akhirot.

Istighfar adalah sebab bertambahnya kekuatan umat dan individu. Nabiyulloh Hud ‘alayhi wa ‘ala nabiyyinas salam berkata: “Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Robb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras dan menambahkan kekuatan di atas kekuatan kalian. Dan janganlah kalian berpaling menjadi orang-orang yang berbuat kejahatan.” [Hud: 52]

Di medan-medan pertempuran yang di dalamnya terjadi konfrontasi antara nabi-nabi Alloh dan para pengikutnya di satu sisi dan antara para pendusta yang sesat di sisi lain, kita menemukan para nabi dan orang-orang yang beriman kepada mereka menggandengkan antara permohonan ampunan dan permohonan pertolongan dari Alloh. Alloh ta’ala berfirman: “Dan tidak lain ucapan mereka kecuali mereka mengucapkan: Ya Robb kami! Ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, teguhkanlah kaki-kaki kami, dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” [Ali ‘Imron: 147]

Penyebab hal itu —wallohu a’lam— adalah bahwa orang yang berdoa menginginkan pertolongan dari Alloh. Tetapi bagaimana dia memohon pertolongan dari Alloh, sedangkan dia melihat dirinya melalaikan hak Alloh dan dipenuhi dengan dosa? Karena itu, dia memohon dari Alloh agar menyucikannya dan memaafkannya terlebih dahulu, lalu memohon hajatnya saat ini yang mendesak, yaitu peneguhan kaki dalam menghadapi tentara Iblis dan kemenangan atas kekufuran dan para penolongnya.

Istighfar yang disertai dengan taubat yang tulus adalah sebab bagi kebahagiaan dunia dan akhirot. Alloh Ta’ala berfirman: “Dan hendaklah kalian memohon ampunan kepada Robb kalian lalu bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik kepada kalian sampai waktu yang telah ditentukan. Dan Dia memberikan karunia kepada setiap orang yang berhak mendapat karunia.” [Hud: 3]

Dan istighfar adalah sebab agar Alloh menyayangi dan mencintai kita. Alloh ta’ala berfirman: “Dan mohonlah ampunan kepada Robb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Robbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” [Hud: 90]

Di antara ganjaran istighfar adalah bahwa Alloh akan menurunkan kepada kita berkah-berkah langit dan membukakan bagi kita berkah-berkah bumi: harta, anak-anak, tumbuhnya tumbuh-tumbuhan, dan mengalirnya sungai-sungai. “Maka aku berkata: Mohonlah ampunan kepada Robb kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian, memperbanyak harta dan anak-anak kalian, serta mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan kebun-kebun sungai-sungai.” [Nuh: 10-12]

Alloh subhanahu tidak akan menurunkan adzab dan amarah-Nya pada umat yang beristighfar dan bertaubat kepada-Nya. “Dan Alloh tidak akan mengadzab mereka sedang mereka memohon ampunan.” [al-Anfal: 33]

Istighfar adalah pembaruan sumpah antara hamba dan Robbnya; bahwa dia berkomitmen untuk mentaati Mawla-nya, kembali kepada Robb-nya dan ketaatan kepada-Nya pada setiap waktu. Setiap kali dia berbuat dosa dan setiap kali dia lalai, dia memohon ampunan kepada Robbnya subahahu wa ta’ala. Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya benar-benar terjadi kelesuan pada hatiku. Dan sesungguhnya aku benar-benar memohon ampunan kepada Alloh dalam sehari sebanyak seratus kali.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Demikianlah kondisi Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam, sedangkan beliau adalah orang yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.

Apabila orang mu’min selesai mengerjakan sholat fardhu dan juga sholat malam, maka dia beristighfar kepada Alloh ‘azza wa jalla, memohon agar Alloh mengampuni baginya kekurangan dan kerusakan yang terjadi pada ibadahnya. Dulu Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam jika telah salam dari sholat fardhu, beliau mengucapkan astaghfirulloh sebanyak tiga kali. Dan Alloh ta’ala berfirman tentang orang-orang mu’min: “Dan  pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Alloh).” [adz-Dzariyat: 18]

Bahkan sampai setelah datangnya kemenangan dari Alloh, terkalahkannya orang-orang kafir dan masuknya manusia ke dalam agama Alloh dengan berbondong-bondong, Alloh memerintahkan Nabi-Nya shollallohu ‘alayhi wa sallam agar bertasbih dengan diiringi pujian serta beristighfar dan bertaubat. “Apabila telah datang pertolongan Alloh dan kemenangan, dan engkau telah melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Alloh, maka bertasbihlah dengan memuji Robbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” [an-Nashr: 1:3]

Wajib atas kaum muslimin untuk memohon ampunan kepada Alloh, bertaubat kepada-Nya, memperbaiki amal-amal mereka, dan kembali kepada Robb mereka. Dan hendaklah mereka memohon kepada-Nya kemenangan atas musuh-musuh agama, disertai dengan permohonan ampunan dosa-dosa, maaf, dan rohmah dari Robb semesta alam. Sebagaimana Alloh ‘azza wa jalla mengajari kita di akhir surat al-Baqoroh agar kita berdoa: “Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir” [al-Baqoroh: 286]

Dalam hadis Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohih-nya, disebutkan bahwa Alloh Ta’ala berfirman: “Aku telah mengerjakan”. Artinya: Aku telah mengabulkan orang yang berdoa dengan doa ini.

An-Naba Edisi 21

JIHAD DENGAN DOA (BAGIAN 2)

JIHAD DENGAN DOA (BAGIAN 2)

Doa adalah senjata bagi orang beriman dan merupakan salah satu macam dari berbagai macam jihad secara lisan di jalan Alloh, juga menjadi ditekankan bagi orang-orang yang lemah dari kalangan muslimin dan bagi yang belum Alloh mudahkan untuk langsung berperang dengan jiwa dan harta. Sungguh doa itu telah menajdi sebab pertolongan bagi Tholut dan para prajuritnya yang bertauhid, atas Jalut dan tentara kafirnya sebagaimana tersebut dalam surat al-Baqoroh. Doa bagi Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam juga hal yang paling pertama beliau lakukan ketika musuh mendadak menyerang muslimin, mengepung mereka atau ketika barisan mereka berhadapan dengan musyrikin.

Dan begitu pula yang dilakukan para shohabat rodhiyallohu ’anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka, mereka tidak berlindung pada setiap peperangan-peperangan mereka kecuali kepada Robb mereka, bertawakkal kepada-Nya, bersimpuh di antara kedua tangan-Nya, mereka merendahkan diri kepada-Nya, dan mereka berlepas diri dari daya dan kekuatan mereka kepada daya dan kekuatan-Nya yang Maha Suci. Maka Alloh pun segera meneguhkan mereka, menurunkan ketenangan atas mereka, melemahkan musuh mereka, melemparkan rasa takut ke dalam hati musuh mereka dan membuat musuh mereka berpaling ke belakang dalam keadaan terkalahkan.

Inilah shohabat yang mulia, Nu’man bin Muqrin, yang diutus oleh kholifah ‘Umar bin Khottob rodhiyallahu ’anhuma sebagai pemimpin pasukan untuk memerangi Persia, keluar dengan membawa seratus lima puluh ribu tentara untuk menaklukkan negara kaum muslimin pada tahun 21 H. Maka bertemulah dua kelompok tersebut di daerah Nahawand di negeri Persia, dan Nu’man menunggu untuk memulai peperangan sampai mencapai waktu yang disukai di mana Rosululloh shollallohu ’alayhi wasallam pernah menyerang musuh pada waktu tersebut. Yaitu ketika matahari mulai condong ke barat.

Maka ketika mulai mendekati waktu tersebut, dia mengendarai kudanya dan berjalan di antara manusia dan berhenti pada setiap bendera, mengingatkan mereka, membakar semangat mereka dan menjanjikan kemenangan bagi mereka dan dia berkata kepada mereka, “sesungguhnya aku akan bertakbir tiga kali, maka jika aku telah bertakbir yang ketiga, sungguh aku akan menyerang dan seranglah.”

Kemudian dia berdoa secara keras : “Yaa Alloh, muliakanlah diin-Mu, tolonglah hamba-hamba-Mu, dan jadikanlah Nu’man orang yang syahid pertama kali pada hari ini. Yaa Alloh sesungguhnya aku memohon kepadamu agar menyejukkan mataku dengan kemenangan yang menjadikan islam mulia dan cabutlah (nyawa)ku sebagai orang yang syahid”. Maka semua manusia menangis dan mengaminkan doanya.

Lalu apa yang terjadi?! Maka setelah mereka saling berperang dengan peperangan yang dahsyat, Persia terpukul mundur dan di antara mereka banyak yang terbunuh diantara waktu matahari condong hingga gelap, bumi peperangan dipenuhi dengan darah yang menenggelamkan manusia dan hewan melata. Maka ketika Alloh sudah menyejukkan mata Nu’man dengan penaklukan dan dia melihat kehancuran kaum musyrikin, Alloh memilihnya sebagai syahid pada akhir peperangan sebagai bentuk terkabulnya doa beliau. (al-Kaamil Fit Taarikh li Ibnil Atsiir).

Kalau saja kita menapak-tilasi para generasi as-salafus sholih dalam hal mengutamakan senjata doa pada setiap peperangan mereka, dan bagaimana doa tersebut memberikan dampak yang nyata dalam hal tertolongnya mereka, maka tentu saja kita akan mendapatkan keadaan yang serupa. Maka di antaranya ada seorang pemimpin penakluk besar yaitu Qutaibah bin Muslim al-Bahili rohimahulloh.

Di dalam setiap penaklukannya beliau didampingi oleh para ‘ulama, fuqoha’ dan para ahli ibadah, beliau memohon pertolongan dengan doa mereka. Maka di akhir periode awal hijriyah dan di salah satu peperangannya, Qutaibah berhadapan dengan Turk, hingga urusan mereka, jumlah mereka dan perlengkapan mereka membuat beliau resah. Beliaupun segera mencari dan bertanya tentang seorang
tabi’in al-Imam Muhammad bin Wasi’ rohimahulloh, lalu dikatakan padanya, “beliau berada di sebelah kanan pasukan bersandar pada busur mengangkat jari telunjuknya memohon kepada Robbnya kemenangan menghadapi musuh.” Maka Qutaibah mengucapkan perkataan yang masyhur, “jari telunjuk tersebut lebih aku sukai dari seratus pedang yang terkenal dan para pemuda dewasa.” (Siyar A’lam an-Nubalaa’).

Dia tidak akan mengatakan yang demikian dan merasa gembira dengan kemenangan, melainkan karena ilmunya tentang keutamaan dan pentingnya senjata doa. Ternyata ketika berhadapan dengan tentara Turk yang musyrik dan memerangi mereka, Alloh memberikan penaklukan padanya dan menghancurkan mereka, mengambil alih banyak negeri dari mereka, banyak yang terbunuh dari mereka dan lainnya tertawan, serta mendapatkan harta rampasan yang banyak.” (al-Bidayah wan Nihayah).

Marilah kita merenungi penakluk yang kedua, beliau adalah gubernur Khurosan al-Qoid Asad bin ‘Abdulloh al-Qusari rohimahulloh. Di salah satu pertempuran dahsyat melawan Turk pada tahun 199 H, dia sholat bersama dengan tentara muslimin pada waktu subuh kemudian berkhotbah dengan lantang, ”Sesungguhnya musuh Alloh al-Harits bin Sarij –orang ini adalah yang keluar dari ketaatan pada Bani Umayyah pada zaman Hisyam bin ‘Abdul Malik menggunakan kedurhakaannya –bergabung dengan Khoqon (Raja) Turk- untuk memadamkan cahaya Alloh dan mengganti diin-Nya, namun Alloh menghinakannya insyaa Alloh. Sesungguhnya musuh kalian adalah anjing yang menimpakan kepada sebagian dari saudara kalian dengan apa yang telah mereka timpakan. Jika Alloh menghendaki pertolongan pada kalian maka tidak akan membahayakan kalian sedikitnya jumlah kalian dan banyaknya jumlah mereka. Maka mintalah pertolongan pada Alloh.” Kemudian dia berkata, “sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa seorang hamba menjadi sangat dekat kepada Alloh jika dia meletakkan dahinya untuk Alloh, dan aku akan turun meletakkan dahiku, maka berdoalah kalian kepada Alloh, sujudlah kalian kepada Robb kalian dan jadikanlah doa itu hanya kepada-Nya”.

Maka mereka melakukannya dan mereka mengangkat kepala mereka dan mereka tidak ragu akan mendapatkan penaklukkan, dan mereka telah mulai berjalan untuk memerangi Turk musyrik. Maka ketika sampai bakhl –salah satu kota di Khurosan- dia sholat bersama manusia sebanyak dua rakaat yang dipanjangkan keduanya, kemudian dia memanggil manusia agar mereka berdoa kepada Alloh, dan memanjangkan doanya dan berdoa agar diberikan pertolongan dan diaminkan oleh para manusia atas doanya. Maka dia berkata: “Kalian sudah ditolong Demi Robb Ka’bah insya Alloh” tiga kali.

Maka ketika mereka telah sampai kepada para musyrikin dan orang-orang murtad, al-Harits pun kalah, Khoqon berbalik lari dan seluruh Turk bersembunyi ke dalam bumi tanpa menoleh kepada siapapun lagi. Maka kaum muslimin mengejar mereka, membunuh siapa saja dari mereka yang mampu untuk dibunuh hingga mereka berhenti pada kambing-kambing mereka. Lalu mereka memberi minum lebih dari seratus lima puluh lima ribu anak unta. (Tarikh Ath-Thobari).

Itu adalah cuplikan dari banyak atsar para pendahulu kita yang membawa inspirasi tentang doa sebagai salah satu sebab terpenting datangnya pertolongan dalam menghadapi musuh, ketika terpenuhi syarat-syarat terkabulnya doa dan tiada lagi penghalang-penghalangnya.

Dan salah satu syarat paling penting agar doa diijabahi adalah; (1) memurnikan doa hanya kepada Alloh yang Maha tunggal saja. Di antaranya; (2) mengikuti rosululloh shollallohu ’alayhi wasallam dalam cara berdoa dan bagaimananya dan menjauhi bid’ah dan hal-hal yang diada-adakan dalam berdoa. Di antaranya; (3) kesungguhan dan tekad, telah bersabda shollallohu’alayhi wasallam, “jika seorang dari kalian berdoa maka dia harus bersungguh-sungguh dalam memohon dan jangan berkata, ‘Yaa Alloh jika Engkau menghendaki maka kabulkanlah’.” (Muttafaq ‘alayhi).

Di antaranya; (4) percaya doanya akan dikabulkan oleh Alloh. Telah bersabda shollallohu ’alayhi wasallam, “maka jika kalian telah meminta pada Alloh maka mintalah kalian pada-Nya dan kalian termasuk orang-orang yang yakin akan dikabulkan, karena sesungguhnya Alloh tidak mengabulkan doa hambaNya yang keluar dari hati yang lalai.” (Riwayat Ahmad)

Di antaranya; (5) menginginkan apa yang ada di sisi Alloh berupa pahala, mencemaskan apa yang ada di sisi-Nya berupa hukuman, dan hadirnya hati juga kekhusyu’an, Alloh berfirman, “sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dalam keadaan harap dan cemas, serta menjadi orang-orang yang khusyu’ kepada kami.” (al-Anbiya : 90).

Doa juga memiliki adab-adab dan hal-hal yang disunnahkan (mustahab), yang membuat doa lebih dekat untuk dikabulkan, di antaranya;
(1) hendaknya orang yang berdoa dalam keadaan suci, menghadap qiblat dan mengangkat tangannya. Di antaranya;
(2) agar orang yang berdoa memuji Alloh ‘azza wa jalla dengan pujian yang layak untuk-Nya, dan bersholawat atas Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam sebelum berdoa. Di antaranya;
(3) hendaknya mendahului doanya dengan amal sholih sebelum berdoa. Di antanya :
(4) merintih pada Alloh dalam meminta, mengulanginya sebanyak tiga kali atau lebih, dan menangis. Di antaranya;
(5) melirihkan suara ketika berdoa jika orang yang berdoa dalam keadaan sendirian, adapun bagi seorang imam maka diharuskan untuk mengeraskan suaranya sehingga manusia mengamini doanya. Di antaranya;
(6) berdoa pada tempat-tempat dikabulkannya doa, seperti pada waktu sepertiga malam, setelah sholat wajib, di antara adzan dan iqomat, ketika turun hujan, ketika barisan mulai bergerak pada waktu jihad di jalan Alloh, ketika kedua pasukan bentrok, pada waktu akhir hari jumat, dalam sujud, dan ketika mendengar kokok ayam jantan, dan ketika berbuka berpuasa, dan ketika melakukan safar.

Dan hal ini, orang yang berdoa harus menghindari penghalang terkabulnya doa, diantaranya;
(1) berdoa kepada selain Alloh, meminta syafa’at kepada orang-orang yang sudah mati dan makhluq ghoib, hal tersebut adalah syirik akbar yang mengeluarkan dari millah. Di antaranya;
(2) bertawasul kepada Alloh dengan doa-doa yang bid’ah, seperti berdoa kepada Alloh dengan perantara keutamaan Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam seperti, “Ya Alloh aku memohon kepadaMu dengan keutamaan Nabi-Mu.” Di antaranya;
(3) menjauhkan rohmah Alloh, seperti, “Ya Alloh rohmatilah fulan, ampunilah fulan, namun jangan Engkau rohmati dan ampuni fulan.” Di antaranya;
(4) berdoa untuk dosa dan memutus hubungan. Di antaranya :
(5) melakukan ma’shiyat dan secara khusus memakan makanan harom, seperti hasil curian, riba, khomr dan rokok. Sungguh telah disebutkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam, “seorang melakukan safar yang panjang sehingga menjadi kusut dan berdebu, dia mengangkat tangannya ke langit, “yaa Robb yaa Robb” dan tempat makannya harom, dan tempat minumnya harom, dan bajunya harom, dan memulai perjalanan dengan hal yang harom, maka bagaimana mungkin dikabulkan karena hal itu?” (Diriwayatkan oleh Muslim).

Dan juga diantaranya; (6) meninggalkan memerintahkan kepada hal yang ma’ruf (al-amr bil ma’ruf) dan melarang dari hal yang munkar (an-nahi ‘anil munkar), Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Demi jiwaku yang berada ditanganNya, kalian harus benar-benar menyuruh kepada hal yang ma’ruf dan kalian harus benar-benar melarang dari hal yang munkar, atau Alloh akan mengirim kepada kalian hukuman kemudian kalian berdoa kepada-Nya, namun tidak dikabulkan doa kalian.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan dia menghasankannya).

Hendaknya orang yang berdoa untuk menjauhi hal-hal makruh dalam berdoa, seperti; (1) berdoa dengan suara yang sangat keras, dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, “dan janganlah kamu mengeraskan sholatmu (doamu) dan jangan pula kamu memelankannya) telah diturunkan ayat ini dalam hal doa.” (Muttafaq ‘alayhi).

Di antaranya; (2) memberatkan diri dan membuat-buat kalimat bersajak yang berisi kesombongan atau kalimat yang tidak dipahami secara umum. Meskipun kefasihan dalam doa adalah terpuji agar maknanya tidak rancu, akan tetapi keluar dari kebiasaan dalam hal tersebut adalah perbuatan yang tercela, karena menghilangkan kekhusyu’an dan melalaikan hati.

Di antaranya: (3) orang yang berdoa meminta yang tidak layak dalam permintaanya, seperti meminta pada Alloh untuk mengekalkannya didunia, atau meminta pada Alloh agar menjadikan kedudukannya seperti kedudukan para Nabi.

Maka dari itu, wahai tentara Daulah Islamiyah, wahai para pemimpinnya, wahai para rakyatnya dan wahai para pendukungnya, berdoalah kalian semua kepada Alloh agar Dia menolong Khilafah kalian, dan agar DIa menghancurkan Jalut modern yaitu Amerika, dan bala tentaranya. Karena Alloh akan mengabulkan doa kalian walau di kemudian hari.

An-Naba’ Edisi 47

JIHAD DENGAN DOA (BAGIAN 1)

JIHAD DENGAN DOA (BAGIAN 1)

Doa adalah senjata tahan lama yang kuat lagi ampuh, dengannya mushibah disingkapkan dan kehancuran ditahan, dengannya pula seorang mu’min menolak bala’ dan melawan makar para musuh, dengannya juga ditetapkan ni’mat dan dihilangkan dendam, dengannya terlepaslah kegelisahan dan lenyaplah kegundahan, dan doa adalah ciri khusus tanda ‘ibadah. Bahkan, sungguh doa adalah ibadah itu sendiri. Maka di dalam doa tersebut terdapat kesempurnaan cinta dan kesempurnaa merendahkan diri pada Alloh yang Maha esa, Maha bijaksana, Maha adil.

Di dalam doa seorang hamba berbisik kepada Robb-nya, dia mengakui kelemahan dan kekurangannya sendiri. Doa adalah penghibur bagi hati, obat bagi dada, salep bagi luka dan mempermudah segala urusan. Doa adalah penjaga yang kuat dan benteng yang menahan, dan tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Alloh selain doa, dan manusia yang paling lemah adalah yang paling lemah dari doa.

Doa adalah ibadah yang mudah, sangat mudah dilakukan pada waktu malam maupun siang, dapat dilaksanakan di darat maupun di laut, dan disyariatkan dalam keadaan menetap maupun dalam keadaan safar. Orang-orang yang berdoa lari menuju Dzat Yang Maha penyayang, Maha pengasih lagi Maha mengetahui, dan mereka bergantung kepada Robb mereka yaitu Yang Maha Penguasa dan Maha suci lagi Maha pemberi keselamatan. Maka engkau lihat mereka ketika ber-doa, mereka menyandarkan diri di hadapan Dzat Yang paling mulia. Mereka memutuskan hubungan mereka dengan alam dan menghadap kepada Robb semesta alam, berlepas diri dari memelas kebutuhan pada manusia dan pemberian mereka, meikhlaskan diri kepada Robb mereka dalam permohonan mereka, dan sangat menginginkan karunia-Nya atas diri mereka…

Inilah dia doa, betapa seorang muslim sangat membutuhkannya pada hari-hari ini, di mana setiap umat kuffar dengan agama-agama dan sekte-sekte mereka mengeroyok jama’atul muslimin! Maka hendaknya seorang mujahid di jalan Alloh mengetahui urgensi senjata ini, sangat memperhatikannya, wajib menekuninya dan meninggalkan keterikatan kepada selain Alloh Yang Maha mendengar lagi Maha Mengabulkan. Demikian juga setiap muslim dan muslimah harus bersekutu di dalam memerangi musuh Alloh dengan menggunakan senjata yang Robbani yang efektif ini. Besabda Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam, “Perangilah orang orang musyrik dengan sungguh-sungguh menggunakan harta-harta kalian dan diri kalian dan lisan-lisan kalian.” [hadits shohih riwayat Abu Dawud dan an-Nasa’i]

Dan tidaklah jihad dengan lisan itu sekedar terbatas kepada pengobaran semangat untuk jihad, memuji mujahidin, mencela orang-orang yang duduk dari medan jihad dan menghina orang-orang kafir, akan tetapi, sesungguhnya bagian dari jihad menggunakan lisan yang paling mulia adalah doa. Dikarenakan seorang muslim melantunkan doa untuk kekalahan orang-orang musyrik dan melantunkan doa kemenangan bagi ummat islam.

Dapat ditegaskan bahwa jihad dengan doa adalah jenis jihad bagi yang belum dimudahkan oleh Alloh untuk melakukan peperangan di-jalan-Nya karena salah satu dari ‘udzur-‘udzur syar’I seperti wanita, orang sakit, orang tua dan yang terhalang, maka mereka itu wajib untuk melantunkan doa untuk para petempur di jalan Alloh. Karena ketika Alloh memberikan udzur bagi mereka dari berperang, Dia mensyaratkan agar udzur mereka diterima dengan berlaku setia pada Alloh dan rosul-Nya, di antaranya adalah dengan doa untuk wali-wali Alloh, para pengikut rosul-Nya. Alloh ta’ala berfirman: “Tidak ada dosa (karena tidak berperang) bagi orang lemah, orang sakit dan orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka infaq-kan, apabila mereka berlaku setia kepada Alloh dan Rosul-Nya. Tidak ada alasan apapun untuk menyalahkan orang yang berbuat baik, Dan Alloh maha pengampun lagi Maha penyayang.” [At-Taubah: 91].

Bahkan sesungguhnya doa dari para orang-orang lemah tersebut merupakan salah satu sebab terbesar dari pertolongan atas umat islam dan kehancuran orang-orang kafir. Sebagaimana sabda shollallohu ‘alayhi wasallam: “Bukankah kalian ditolong dan diberi rizqi kecuali karena orang-orang lemah kalian” [diriwayatkan oleh al-Bukhori].

Dan pada riwayat an-Nasa’i: “Sungguh Alloh hanya menolong umat ini dikarenakan orang lemahnya, yaitu karena doa mereka, sholat mereka dan ikhlash mereka”.

Dan berkata Ibnu Hajar al-’Asqolani: berkata as-Suhaili: “jihad terkadang menggunakan senjata dan terkadang menggunakan doa.” [Fathul Bari].

Dan hal ini termasuk perkara yang jelas lagi tetap, Namun pada hari ini ada sebagian orang yang terguncang lagi terpukul, yaitu orang-orang yang menyerah pada berhala teknologi militer dan tunduk di hadapan kemenangan kampanye salibis atas Daulah Islamiyah. Mereka telah meninggalkan doa, seakan-akan mereka tidak mendapatkan manfaat dari doa tersebut. Wal ‘iyadzu billah!

Dan itu adalah jalan yang salah di antara sebagian manusia, sesungguhnya hal tersebut hanya dikarenakan kebodohannya terhadap senjata ini, Sesungguhnya kalau saja mereka mengetahui pentingnya doa, kehebatan efeknya, cara dan adabnya, serta mendengar bagaimana Alloh mengabulkan doa hamba-Nya, mereka tidak akan meninggalnya dan bergantung pada selainnya.

Dan wajib bagi hamba untuk mengetahui bahwa pada doa terdapat beberapa buah dan banyak fadhilah yang tidak layak untuk dibatasi, diantaranya :

1. Sesungguhnya doa adalah pelaksanaan bagi perintah Alloh ‘azza wa jalla, Alloh berfirman: “dan berdoalah kalian pada-Nya dengan mengikhlaskan diin hanya pada-Nya.” [al-A’rof: 29].

“dan berdoalah kalian padanya dengan rasa takut dan penuh harap.” [Al-A’rof: 56].

“Berdoalah kalian kepada Robb kalian dengan rendah diri dan rasa takut.” [Al-A’rof: 55].

2. Dan sesungguhnya didalamnya terdapat kesempurnaan tawakkal dan kerendahan dan ketawadhuan bagi Alloh ta’ala. Allah berfirman: “Dan telah berkata Robb kalian, ‘berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku kabulkan bagi kalian, sesungguhnya orang-orang yang menyobongkan diri dari berdoa kepadaKu mereka akan masuk kedalam neraka dalam keadaan hina’.” [Ghafir: 60].

3. Dan diantaranya pula: doa adalah sebab tertolaknya bala’ (hal buruk) sebelum turun terhadap hamba, sebagaimana sabda shollallohu ‘alayhi wasallam: “dan tidaklah ada yang dapat menolak qodar (taqdir) kecuali doa.” [Hadits hasan riwayat ibnu majah dan ibnu hibban dan ibnu hakim].

[Barangsiapa yang diudzur oleh Alloh dari jihad, maka tidak ada udzur baginya untuk meninggalkan doa bagi para mujahidin agar mereka tetap teguh dan mendapat kemenangan]

4. Dan selain itu doa dapat mengangkat bala’ setelah ditimpakannya terhadap hamba, sabda shollallohu ‘alayhi wasallam: “tidak akan bermanfaat kehati-hatian untuk menghindari takdir, dan doa bermanfaat terhadap apa yang sudah diturunkan dan apa-apa yang belum turun, dan sesungguhnya bala’ benar-benar akan turun dan kemudian bertemu dengan doa, lalu keduanya saling berbenturan hingga hari kiamat.” [hadis hasan riwayat al-Hakim].

5. Dan diantaranya pula, sesungguhnya doa tersebut sebab tercapainya hal yang diminta dari doa itu sendiri, Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim melantunkan satu doa yang didalamnya tidak terdapat dosa atau pemutus kekerabatan, kecuali Alloh akan memberikan padanya salah satu dari yang tiga : bisa jadi Alloh mempercepat baginya doanya, bisa jadi Alloh akan mengakhirkannya di akhirat, dan bisa jadi juga Alloh akan menjauhkannya dari hal buruk yang semisalnya.” [hadits shohih riwayat Ahmad dan al-Hakim]

Beginilah doa, sunggu ia memiliki urgensi yang agung!

Dan bisa jadi dari pentingnya buah doa adalah dia termasuk sebab keteguhan dan pertolongan dan kemenangan atas musuh, dan hal tersebut sudah termaktub dalam al-Qur’an dan sunnah yang mutawatir dari sejarah Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam, dan sejarah para shohabat rodhiyallohu ‘anhum dan dari tapak tilas para generasi as-salafush sholih rohimahumulloh, maka dalam kisah peperangan Tholut dan tentaranya yang mu’min dengan Jalut dan tentaranya yang kafir, apa yang dilakukan orang-orang mu’min pada saat itu dan apa pula akibatnya? Alloh berfirman: “dan ketika mereka sudah bertemu dengan Jalut dan tentara-Nya, mereka berkata (berdoa), ‘wahai Robb kami, limpahkanlah pada kami kesabaran, teguhkanlah kaki kami dan tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir’.” [al-Baqoroh: 250].

Doa yang dilantunkan para muwahhidin sebelum dan ketika melakukan bertempur dengan orang-orang musyrik. Maka Alloh pun mengabulkan bagi mereka dengan seketika, Alloh berfirman, “maka mereka mengalakan orang-orang kafir dengan izin Alloh.” [al-Baqoroh: 251].

Dan dalam peperangan badar kubra, Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam berdiri pada malam badar, belaiu sholat dan memperbanyak doa dalam sujudnya dan beliau meminta pertolongan kepada Alloh [al Bidayah wa An Nihayah]. Dan ketika tiba hari badar Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam memperhatikan para shahabatnya dan jumlah mereka tiga ratus lebih sedikit, dan beliau memperhatikan orang-orang musyrik yang mana jumlah mereka lebih dari seribu, kemudian beliau menghadap kiblat dan berkata, “Ya Alloh, penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, Ya Alloh datangkanlah apa yang engkau janjikan kepadaku, Ya Alloh seandainya engkau hancurkan kelompok kecil dari Ahlul Islam ini, tidak ada yang beribadah kepadamu lagi dibumi ini.” [Riwayat Muslim].

Adapun keadaan para shohabat dalam perang badar, maka Alloh telah benar-benar mensifati mereka dengan sifat mereka selalu berharap pertolongan pada Alloh dan berdoa kepada-Nya. Dia berfirman, “ingatlah ketika kalian memohon pertolongan kepada Robb kalian maka Dia mengabulkan hal tersebut bagi kalian.” [Al Anfal: 9].

Dan setelah doa dari Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam dan para shohabat rodhiyallohu ‘anhum maka apakah hasilnya? Alloh memberikan bantuan rombongan seribu malaikat, Dia menurunkan ketenangan atas mereka, meneguhakan kaki mereka, meliputi mereka dengan ketenteraman berupa rasa kantuk, Dia turunkan bagi mereka air bersih dari lngit yang dengannya Dia mensucikan mereka, menjauhkan gangguan syetan dari mereka, Dia ikat hati mereka dan Dia melemparkan rasa takut kedalam hati orang-orang musyrik, maka mereka pun mengalahkan orang-orang musyrik itu dengan izin Alloh. (Lihat An-Anfal: 9-11)

[Dan termasuk dari sunnah adalah sepatutnya seorang mujahid berdoa bagi dirinya dan bagi saudaranya seiman, sebelum perang, ketika berperang dan setelah peperangan usai]

Dan juga dalam pertempuran Ahzab (perang Khondaq), ketika orang-orang musyrik mengepung madinah dengan pengepungan yang sangat dahsyat, dan muslimin semakin merasakan lapar, haus dan takut, sementara mereka didatangi oleh musuh mereka dari atas dan bawah mereka sehingga seakan-akan hati mereka naik hingga kerongkongan, Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam pun memohon kepada Robbnya dan merintih dengan doa, dan salah satu doa yang beliau (sholawatulloh wa salamuhu ‘alayh) lantunkan ketika berada pada tepi parit, beliau berkata, “Ya Alloh, seandainya bukan karena Engkau, tidaklah kami ini mendapat hidayah, tidaklah kami ini shodaqoh dan tidaklah kami ini sholat, maka turunlah ketenangan pada kami, dan teguhlah kaki kami ketika kami bertemu musuh, sesungguhnya para musuh telah berkhianat atas kami, jika mereka menginginkan fitnah maka akan kami abaikan.” [diriwayatkan oleh al-Bukhori].

Dan doa beliau ketika terkepung, “Ya Alloh Yang telah menurunkan kitab, Yang menjalankan awan dan Yang menghancurkan golongan kafir, hancurkalah mereka dan tolonglah kami atas mereka.” [diriwayatkan oleh al-Bukhori dan Muslim].

Adapun kaum muslimin, mereka telah bertanya pada Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam, dengan apa mereka berdoa kepada Robb mereka, maka dari Abi Sa’id al-Khudri rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata : “kami berkata pada hari khandaq : wahai Rosululloh, adakah sesuatu yang dapat kami katakan (berdoa)? Maka sungguh hati telah mencapai kerongkongan, beliau bersabda : “Ya ada, ‘Ya Alloh tutuplah aurat kami, dan gantilah rasa takut kami dengan rasa aman’.” [diriwayatkan oleh Ahmad].

Maka apakah yang tercapai setelah dipanjatkannya doa yang berkah ini!? Bertiup angin topan pada malam yang gelap, pos-pos kaum musyrikin terbalik dan kemah-kemah mereka tercabut dari tempatnya, penerangan mereka padam dan jalan-jalan mereka terhambat, maka tidak ada jalan bagi mereka kecuali mereka harus mundur, maka terhadap hal tersebut Alloh berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman ingatlah kalian atas ni’mat Alloh atas kalian ketika telah dating kepada kalian bala tentara, maka Aku kirimkan atas mereka angin dan tentara yang tidak bisa kalian lihat, dan Alloh maha melihat apa yang kalian lakukan.” [al-Ahzab: 9]

Maka kepada para muslimin yang lemah di setiap tempat, wajib atas kalian untuk doa, wajib atas kalian untuk doa, wajib atas kalian untuk doa, Lantunkan doa kalian semua kepada Alloh dalam keadaan yaqin dikabulkan, niscaya Alloh peenuhi janji-Nya, dan Dia akan menghancurkan golongan kafir sendirian, dengan daya dan kekuatan-Nya, pasti dan bukan setengah yaqin!

An-Naba Edisi 42