SENJATA ORANG MU’MIN, DOA
Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Rosul-Nya yang terpercaya, serta keluarga, para sahabatnya, dan para pengikutnya sampai hari pembalasan. Amma ba’d.
Alloh telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan menjanjikan kepada mereka untuk mengabulkan doa mereka. Alloh ta’ala berfirman: “Dan Robb kalian berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan doa kalian. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku (beribadah kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” [Ghofir: 60]
Alloh ‘azza wa jalla menjelaskan bahwa doa adalah ibadah dengan firman-Nya: “beribadah kepada-Ku”. Sebab, doa adalah ibadah yang paling agung, sebagaimana dalam sabda Rosul shollallohu ‘alayhi wa sallam: “Doa itu ialah ibadah (yang sesungguhnya).” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan para pemilik as-Sunan]
Di dalam ayat di atas terdapat motivasi untuk berdoa, karena ia adalah ibadah kepada Alloh ‘azza wa jalla. Manfaat doa akan kembali kepada hamba, berupa pahala dan kedekatan kepada Alloh ‘azza wa jalla, serta terwujudnya apa yang diminta oleh hamba dari Robbnya, baik cepat maupun lambat. Dan di dalam ayat di atas terdapat ancaman besar bagi orang-orang yang berpaling dari doa, karena Alloh subhanahu wa ta’ala menyifati mereka dengan al-mustakbirin yang lebih besar daripada al-mutakabbirin, yaitu orang-orang yang berlebihan dalam sifat sombong dan berusaha untuk memilikinya. Alloh telah mengancam mereka dengan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.
Dan itu adalah balasan setimpal bagi kesombongan yang Alloh tidak menyukainya dan tidak menyukai orangnya, sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala: “Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang sombong.” [an-Nahl: 23]
Sebab, takabbur (kesombongan) adalah salah satu dari sifat-sifat Alloh ‘azza wa jalla yang Dia tidak ridho jika seorang dari makhluk-Nya menyaingi-Nya dalam sifat tersebut. Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam apa yang diriwayatkannya dari Robbnya: “Kesombongan adalah jubah-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barang siapa merampas salah satunya dari-Ku, maka Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud]
Dari sini kita mengetahui bahwa para tiran, para diktator dan orang-orang yang sombong diancam dengan adzab Alloh. Adzab mereka bisa jadi dari sisi Alloh atau melalui tangan kaum mu’minin, sebagaimana firman Alloh ta’ala: “Katakanlah (Muhammad): Tidak ada yang kalian tunggu-tunggu bagi kami kecuali salah satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid). Dan kami menunggu-nunggu bagi kalian bahwa Alloh akan menimpakan adzab kepada kalian dari sisi-Nya atau melalui tangan kami. Maka tunggulah, sesungguhnya kami menunggu bersama kalian.” [at-Taubah: 52]
Ini di dunia. Adapun di akhirot, orang-orang yang sombong, tidak mau menyembah Alloh (beribadah kepada Alloh), akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. Sebuah janji yang pasti terjadi.
Alloh ‘azza wa jalla telah memerintahkan kita agar berdoa kepada-Nya: “Dialah yang hidup kekal, tidak ada tuhan selain Dia. Maka sembahlah Dia dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya. Segala puji bagi Alloh, Robb seluruh alam.” [Ghofir: 65]
Alloh subhanahu sama sekali tidak ridho jika hamba-hamba-Nya berdoa kepada selain-Nya. Itu adalah syirik. Dan itu adalah kezholiman yang besar. Luqman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Alloh. Sesungguhnya syirik benar-benar merupakan kezholiman yang besar.” [Luqman: 13]
Alloh subhanahu telah memberitahukan bahwa setiap yang diseru selain Alloh tidak kuasa menolak madhorot atau mendatangkan manfaat bagi orang-orang yang menyerunya. Dia berfirman: “Dan orang-orang yang kalian seru selain Alloh tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis qithmir. Jika kalian menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruan kalian. Dan sekiranya mereka mendengar, mereka tidak akan mengabulkan permintaan kalian. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikan kalian. Dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepada kalian seperti (Alloh) Yang Maha Teliti.” [Fathir: 13-14] Qithmir adalah kulit tipis yang terletak pada biji kurma.
Jika Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam saja tidak kuasa menolak madhorot atau mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri kecuali apa yang dikehendaki oleh Alloh, maka selain beliau demikian pula, bahkan lebih lagi. Alloh ta’ala berfirman: “Katakanlah (Muhammad): Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak madhorot bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Alloh. Sekiranya aku mengetahui yang ghoib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” [al-A’rof: 188]
Dan Robbnya subhanahu wa ta’ala memerintahkannya agar berkata: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan bagi kalian…” [al-Jin: 21]
Jika kita ingin agar Alloh mengabulkan doa kita, maka Dia telah meminta kita untuk memenuhi seruan-Nya, yaitu mengerjakan apa yang Dia perintahkan dan menjauhi apa yang Dia larang, disertai dengan iman kepada-Nya subhanahu. Alloh ta’ala berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” [al-Baqoroh: 186]
Artinya: Hendaklah mereka mengerjakan apa yang Aku inginkan dari mereka dan hendaklah mereka bergembira dengan pengabulan doa mereka.
Jika seorang muslim berdoa kepada Alloh, maka pertama, hendaklah dia mengetahui bahwa dia sedang menjalankan sebuah ibadah. Semakin dia memperbanyak dan terus mendesak dalam berdoa, maka dia akan semakin dekat kepada Alloh.
Kedua, bahwa dia akan mendapatkan dari doanya —di samping pahala— salah satu dari tiga hal, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam: “Tidak seorang mu’min pun berdoa dengan sebuah doa yang di dalamnya tidak ada dosa atau pemutusan persaudaraan, kecuali dengan permohonan itu Alloh akan memberikan salah satu dari tiga hal: permohonannya segera dikabulkan, atau Alloh menyimpannya untuknya di akhirot, atau Alloh menghindarkan darinya keburukan yang setara dengan permohonan itu.” Mereka (para sahabat) berkata: “Kalau begitu kita perbanyak.” Beliau bersabda: “Alloh lebih banyak.” [Diriwayatkan oleh Ahmad]. Beliau mengecualikan dari pengabulan doa, sesuatu yang di dalamnya terdapat dosa atau pemutusan persaudaraan.
Orang yang berdoa tidak boleh tergesa-gesa, tetapi dia harus terus mendesak, memperbanyak, merendahkan diri dan tunduk (khusyu’). Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam telah bersabda: “Doa seorang dari kalian akan dikabulkan selama dia tidak terburu-buru; (yaitu) dia berkata: Aku telah berdoa, tetapi doaku tidak dikabulkan.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhoriy dan Muslim]
Ada beberapa penghalang yang menghalangi pengabulan doa, di antaranya: memohonkan suatu dosa atau pemutusan persaudaraan, dan orang yang berdoa termasuk orang yang memakan harta harom. Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam telah bersabda: “Sesungguhnya Alloh itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Alloh memerintahkan orang-orang mu’min dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rosul. Dia berfirman: ‘Wahai para rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik dan kerjakanlah kebajikan. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.’ Dan Dia berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kalian.’ Kemudian beliau menyebutkan laki-laki yang dalam perjalanan panjang, kusut dan berdebu, mengulurkan tangannya ke langit: ‘Ya Robbku! Ya Robbku!’ Sedangkan makanannya harom, minumannya harom, dan pakaiannya harom. Maka bagaimana bisa itu dikabulkan?” [Diriwayatkan oleh Muslim]
Marilah kita berdoa kepada Alloh ‘azza wa jalla di setiap waktu dan mengajukan kepada-Nya hajat-hajat kita. Kita memohon kepada-Nya agar memperbaiki kondisi kita dan kondisi kaum muslimin, agar tidak memberikan kekuasaan atas kita —karena dosa-dosa kita— kepada orang yang tidak mengasihi kita, agar menolong Islam dan negaranya, agar memberikan tamkin kepadanya di bumi, agar menolong kita atas kaum yang kafir, serta agar menolong kita untuk mengingat-Nya, mensyukuri-Nya, dan beribadah kepada-Nya dengan baik.
Kemudian, istighfar adalah meminta pengampunan dosa dan penutupan aib dari Alloh Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Alloh ‘azza wa jalla telah menetapkan bagi orang-orang yang beristighfar dengan tulus pahala yang besar di dunia dan akhirot.
Istighfar adalah sebab bertambahnya kekuatan umat dan individu. Nabiyulloh Hud ‘alayhi wa ‘ala nabiyyinas salam berkata: “Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Robb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras dan menambahkan kekuatan di atas kekuatan kalian. Dan janganlah kalian berpaling menjadi orang-orang yang berbuat kejahatan.” [Hud: 52]
Di medan-medan pertempuran yang di dalamnya terjadi konfrontasi antara nabi-nabi Alloh dan para pengikutnya di satu sisi dan antara para pendusta yang sesat di sisi lain, kita menemukan para nabi dan orang-orang yang beriman kepada mereka menggandengkan antara permohonan ampunan dan permohonan pertolongan dari Alloh. Alloh ta’ala berfirman: “Dan tidak lain ucapan mereka kecuali mereka mengucapkan: Ya Robb kami! Ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, teguhkanlah kaki-kaki kami, dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” [Ali ‘Imron: 147]
Penyebab hal itu —wallohu a’lam— adalah bahwa orang yang berdoa menginginkan pertolongan dari Alloh. Tetapi bagaimana dia memohon pertolongan dari Alloh, sedangkan dia melihat dirinya melalaikan hak Alloh dan dipenuhi dengan dosa? Karena itu, dia memohon dari Alloh agar menyucikannya dan memaafkannya terlebih dahulu, lalu memohon hajatnya saat ini yang mendesak, yaitu peneguhan kaki dalam menghadapi tentara Iblis dan kemenangan atas kekufuran dan para penolongnya.
Istighfar yang disertai dengan taubat yang tulus adalah sebab bagi kebahagiaan dunia dan akhirot. Alloh Ta’ala berfirman: “Dan hendaklah kalian memohon ampunan kepada Robb kalian lalu bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik kepada kalian sampai waktu yang telah ditentukan. Dan Dia memberikan karunia kepada setiap orang yang berhak mendapat karunia.” [Hud: 3]
Dan istighfar adalah sebab agar Alloh menyayangi dan mencintai kita. Alloh ta’ala berfirman: “Dan mohonlah ampunan kepada Robb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Robbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” [Hud: 90]
Di antara ganjaran istighfar adalah bahwa Alloh akan menurunkan kepada kita berkah-berkah langit dan membukakan bagi kita berkah-berkah bumi: harta, anak-anak, tumbuhnya tumbuh-tumbuhan, dan mengalirnya sungai-sungai. “Maka aku berkata: Mohonlah ampunan kepada Robb kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian, memperbanyak harta dan anak-anak kalian, serta mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan kebun-kebun sungai-sungai.” [Nuh: 10-12]
Alloh subhanahu tidak akan menurunkan adzab dan amarah-Nya pada umat yang beristighfar dan bertaubat kepada-Nya. “Dan Alloh tidak akan mengadzab mereka sedang mereka memohon ampunan.” [al-Anfal: 33]
Istighfar adalah pembaruan sumpah antara hamba dan Robbnya; bahwa dia berkomitmen untuk mentaati Mawla-nya, kembali kepada Robb-nya dan ketaatan kepada-Nya pada setiap waktu. Setiap kali dia berbuat dosa dan setiap kali dia lalai, dia memohon ampunan kepada Robbnya subahahu wa ta’ala. Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya benar-benar terjadi kelesuan pada hatiku. Dan sesungguhnya aku benar-benar memohon ampunan kepada Alloh dalam sehari sebanyak seratus kali.” [Diriwayatkan oleh Muslim]
Demikianlah kondisi Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam, sedangkan beliau adalah orang yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
Apabila orang mu’min selesai mengerjakan sholat fardhu dan juga sholat malam, maka dia beristighfar kepada Alloh ‘azza wa jalla, memohon agar Alloh mengampuni baginya kekurangan dan kerusakan yang terjadi pada ibadahnya. Dulu Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam jika telah salam dari sholat fardhu, beliau mengucapkan astaghfirulloh sebanyak tiga kali. Dan Alloh ta’ala berfirman tentang orang-orang mu’min: “Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Alloh).” [adz-Dzariyat: 18]
Bahkan sampai setelah datangnya kemenangan dari Alloh, terkalahkannya orang-orang kafir dan masuknya manusia ke dalam agama Alloh dengan berbondong-bondong, Alloh memerintahkan Nabi-Nya shollallohu ‘alayhi wa sallam agar bertasbih dengan diiringi pujian serta beristighfar dan bertaubat. “Apabila telah datang pertolongan Alloh dan kemenangan, dan engkau telah melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Alloh, maka bertasbihlah dengan memuji Robbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” [an-Nashr: 1:3]
Wajib atas kaum muslimin untuk memohon ampunan kepada Alloh, bertaubat kepada-Nya, memperbaiki amal-amal mereka, dan kembali kepada Robb mereka. Dan hendaklah mereka memohon kepada-Nya kemenangan atas musuh-musuh agama, disertai dengan permohonan ampunan dosa-dosa, maaf, dan rohmah dari Robb semesta alam. Sebagaimana Alloh ‘azza wa jalla mengajari kita di akhir surat al-Baqoroh agar kita berdoa: “Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir” [al-Baqoroh: 286]
Dalam hadis Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohih-nya, disebutkan bahwa Alloh Ta’ala berfirman: “Aku telah mengerjakan”. Artinya: Aku telah mengabulkan orang yang berdoa dengan doa ini.
An-Naba Edisi 21
Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Rosul-Nya yang terpercaya, serta keluarga, para sahabatnya, dan para pengikutnya sampai hari pembalasan. Amma ba’d.
Alloh telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan menjanjikan kepada mereka untuk mengabulkan doa mereka. Alloh ta’ala berfirman: “Dan Robb kalian berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan doa kalian. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku (beribadah kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” [Ghofir: 60]
Alloh ‘azza wa jalla menjelaskan bahwa doa adalah ibadah dengan firman-Nya: “beribadah kepada-Ku”. Sebab, doa adalah ibadah yang paling agung, sebagaimana dalam sabda Rosul shollallohu ‘alayhi wa sallam: “Doa itu ialah ibadah (yang sesungguhnya).” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan para pemilik as-Sunan]
Di dalam ayat di atas terdapat motivasi untuk berdoa, karena ia adalah ibadah kepada Alloh ‘azza wa jalla. Manfaat doa akan kembali kepada hamba, berupa pahala dan kedekatan kepada Alloh ‘azza wa jalla, serta terwujudnya apa yang diminta oleh hamba dari Robbnya, baik cepat maupun lambat. Dan di dalam ayat di atas terdapat ancaman besar bagi orang-orang yang berpaling dari doa, karena Alloh subhanahu wa ta’ala menyifati mereka dengan al-mustakbirin yang lebih besar daripada al-mutakabbirin, yaitu orang-orang yang berlebihan dalam sifat sombong dan berusaha untuk memilikinya. Alloh telah mengancam mereka dengan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.
Dan itu adalah balasan setimpal bagi kesombongan yang Alloh tidak menyukainya dan tidak menyukai orangnya, sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala: “Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang sombong.” [an-Nahl: 23]
Sebab, takabbur (kesombongan) adalah salah satu dari sifat-sifat Alloh ‘azza wa jalla yang Dia tidak ridho jika seorang dari makhluk-Nya menyaingi-Nya dalam sifat tersebut. Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam apa yang diriwayatkannya dari Robbnya: “Kesombongan adalah jubah-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barang siapa merampas salah satunya dari-Ku, maka Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud]
Dari sini kita mengetahui bahwa para tiran, para diktator dan orang-orang yang sombong diancam dengan adzab Alloh. Adzab mereka bisa jadi dari sisi Alloh atau melalui tangan kaum mu’minin, sebagaimana firman Alloh ta’ala: “Katakanlah (Muhammad): Tidak ada yang kalian tunggu-tunggu bagi kami kecuali salah satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid). Dan kami menunggu-nunggu bagi kalian bahwa Alloh akan menimpakan adzab kepada kalian dari sisi-Nya atau melalui tangan kami. Maka tunggulah, sesungguhnya kami menunggu bersama kalian.” [at-Taubah: 52]
Ini di dunia. Adapun di akhirot, orang-orang yang sombong, tidak mau menyembah Alloh (beribadah kepada Alloh), akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. Sebuah janji yang pasti terjadi.
Alloh ‘azza wa jalla telah memerintahkan kita agar berdoa kepada-Nya: “Dialah yang hidup kekal, tidak ada tuhan selain Dia. Maka sembahlah Dia dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya. Segala puji bagi Alloh, Robb seluruh alam.” [Ghofir: 65]
Alloh subhanahu sama sekali tidak ridho jika hamba-hamba-Nya berdoa kepada selain-Nya. Itu adalah syirik. Dan itu adalah kezholiman yang besar. Luqman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Alloh. Sesungguhnya syirik benar-benar merupakan kezholiman yang besar.” [Luqman: 13]
Alloh subhanahu telah memberitahukan bahwa setiap yang diseru selain Alloh tidak kuasa menolak madhorot atau mendatangkan manfaat bagi orang-orang yang menyerunya. Dia berfirman: “Dan orang-orang yang kalian seru selain Alloh tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis qithmir. Jika kalian menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruan kalian. Dan sekiranya mereka mendengar, mereka tidak akan mengabulkan permintaan kalian. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikan kalian. Dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepada kalian seperti (Alloh) Yang Maha Teliti.” [Fathir: 13-14] Qithmir adalah kulit tipis yang terletak pada biji kurma.
Jika Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam saja tidak kuasa menolak madhorot atau mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri kecuali apa yang dikehendaki oleh Alloh, maka selain beliau demikian pula, bahkan lebih lagi. Alloh ta’ala berfirman: “Katakanlah (Muhammad): Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak madhorot bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Alloh. Sekiranya aku mengetahui yang ghoib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” [al-A’rof: 188]
Dan Robbnya subhanahu wa ta’ala memerintahkannya agar berkata: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan bagi kalian…” [al-Jin: 21]
Jika kita ingin agar Alloh mengabulkan doa kita, maka Dia telah meminta kita untuk memenuhi seruan-Nya, yaitu mengerjakan apa yang Dia perintahkan dan menjauhi apa yang Dia larang, disertai dengan iman kepada-Nya subhanahu. Alloh ta’ala berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” [al-Baqoroh: 186]
Artinya: Hendaklah mereka mengerjakan apa yang Aku inginkan dari mereka dan hendaklah mereka bergembira dengan pengabulan doa mereka.
Jika seorang muslim berdoa kepada Alloh, maka pertama, hendaklah dia mengetahui bahwa dia sedang menjalankan sebuah ibadah. Semakin dia memperbanyak dan terus mendesak dalam berdoa, maka dia akan semakin dekat kepada Alloh.
Kedua, bahwa dia akan mendapatkan dari doanya —di samping pahala— salah satu dari tiga hal, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam: “Tidak seorang mu’min pun berdoa dengan sebuah doa yang di dalamnya tidak ada dosa atau pemutusan persaudaraan, kecuali dengan permohonan itu Alloh akan memberikan salah satu dari tiga hal: permohonannya segera dikabulkan, atau Alloh menyimpannya untuknya di akhirot, atau Alloh menghindarkan darinya keburukan yang setara dengan permohonan itu.” Mereka (para sahabat) berkata: “Kalau begitu kita perbanyak.” Beliau bersabda: “Alloh lebih banyak.” [Diriwayatkan oleh Ahmad]. Beliau mengecualikan dari pengabulan doa, sesuatu yang di dalamnya terdapat dosa atau pemutusan persaudaraan.
Orang yang berdoa tidak boleh tergesa-gesa, tetapi dia harus terus mendesak, memperbanyak, merendahkan diri dan tunduk (khusyu’). Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam telah bersabda: “Doa seorang dari kalian akan dikabulkan selama dia tidak terburu-buru; (yaitu) dia berkata: Aku telah berdoa, tetapi doaku tidak dikabulkan.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhoriy dan Muslim]
Ada beberapa penghalang yang menghalangi pengabulan doa, di antaranya: memohonkan suatu dosa atau pemutusan persaudaraan, dan orang yang berdoa termasuk orang yang memakan harta harom. Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam telah bersabda: “Sesungguhnya Alloh itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Alloh memerintahkan orang-orang mu’min dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rosul. Dia berfirman: ‘Wahai para rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik dan kerjakanlah kebajikan. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.’ Dan Dia berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kalian.’ Kemudian beliau menyebutkan laki-laki yang dalam perjalanan panjang, kusut dan berdebu, mengulurkan tangannya ke langit: ‘Ya Robbku! Ya Robbku!’ Sedangkan makanannya harom, minumannya harom, dan pakaiannya harom. Maka bagaimana bisa itu dikabulkan?” [Diriwayatkan oleh Muslim]
Marilah kita berdoa kepada Alloh ‘azza wa jalla di setiap waktu dan mengajukan kepada-Nya hajat-hajat kita. Kita memohon kepada-Nya agar memperbaiki kondisi kita dan kondisi kaum muslimin, agar tidak memberikan kekuasaan atas kita —karena dosa-dosa kita— kepada orang yang tidak mengasihi kita, agar menolong Islam dan negaranya, agar memberikan tamkin kepadanya di bumi, agar menolong kita atas kaum yang kafir, serta agar menolong kita untuk mengingat-Nya, mensyukuri-Nya, dan beribadah kepada-Nya dengan baik.
Kemudian, istighfar adalah meminta pengampunan dosa dan penutupan aib dari Alloh Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Alloh ‘azza wa jalla telah menetapkan bagi orang-orang yang beristighfar dengan tulus pahala yang besar di dunia dan akhirot.
Istighfar adalah sebab bertambahnya kekuatan umat dan individu. Nabiyulloh Hud ‘alayhi wa ‘ala nabiyyinas salam berkata: “Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Robb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras dan menambahkan kekuatan di atas kekuatan kalian. Dan janganlah kalian berpaling menjadi orang-orang yang berbuat kejahatan.” [Hud: 52]
Di medan-medan pertempuran yang di dalamnya terjadi konfrontasi antara nabi-nabi Alloh dan para pengikutnya di satu sisi dan antara para pendusta yang sesat di sisi lain, kita menemukan para nabi dan orang-orang yang beriman kepada mereka menggandengkan antara permohonan ampunan dan permohonan pertolongan dari Alloh. Alloh ta’ala berfirman: “Dan tidak lain ucapan mereka kecuali mereka mengucapkan: Ya Robb kami! Ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, teguhkanlah kaki-kaki kami, dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” [Ali ‘Imron: 147]
Penyebab hal itu —wallohu a’lam— adalah bahwa orang yang berdoa menginginkan pertolongan dari Alloh. Tetapi bagaimana dia memohon pertolongan dari Alloh, sedangkan dia melihat dirinya melalaikan hak Alloh dan dipenuhi dengan dosa? Karena itu, dia memohon dari Alloh agar menyucikannya dan memaafkannya terlebih dahulu, lalu memohon hajatnya saat ini yang mendesak, yaitu peneguhan kaki dalam menghadapi tentara Iblis dan kemenangan atas kekufuran dan para penolongnya.
Istighfar yang disertai dengan taubat yang tulus adalah sebab bagi kebahagiaan dunia dan akhirot. Alloh Ta’ala berfirman: “Dan hendaklah kalian memohon ampunan kepada Robb kalian lalu bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik kepada kalian sampai waktu yang telah ditentukan. Dan Dia memberikan karunia kepada setiap orang yang berhak mendapat karunia.” [Hud: 3]
Dan istighfar adalah sebab agar Alloh menyayangi dan mencintai kita. Alloh ta’ala berfirman: “Dan mohonlah ampunan kepada Robb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Robbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” [Hud: 90]
Di antara ganjaran istighfar adalah bahwa Alloh akan menurunkan kepada kita berkah-berkah langit dan membukakan bagi kita berkah-berkah bumi: harta, anak-anak, tumbuhnya tumbuh-tumbuhan, dan mengalirnya sungai-sungai. “Maka aku berkata: Mohonlah ampunan kepada Robb kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian, memperbanyak harta dan anak-anak kalian, serta mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan kebun-kebun sungai-sungai.” [Nuh: 10-12]
Alloh subhanahu tidak akan menurunkan adzab dan amarah-Nya pada umat yang beristighfar dan bertaubat kepada-Nya. “Dan Alloh tidak akan mengadzab mereka sedang mereka memohon ampunan.” [al-Anfal: 33]
Istighfar adalah pembaruan sumpah antara hamba dan Robbnya; bahwa dia berkomitmen untuk mentaati Mawla-nya, kembali kepada Robb-nya dan ketaatan kepada-Nya pada setiap waktu. Setiap kali dia berbuat dosa dan setiap kali dia lalai, dia memohon ampunan kepada Robbnya subahahu wa ta’ala. Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya benar-benar terjadi kelesuan pada hatiku. Dan sesungguhnya aku benar-benar memohon ampunan kepada Alloh dalam sehari sebanyak seratus kali.” [Diriwayatkan oleh Muslim]
Demikianlah kondisi Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam, sedangkan beliau adalah orang yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
Apabila orang mu’min selesai mengerjakan sholat fardhu dan juga sholat malam, maka dia beristighfar kepada Alloh ‘azza wa jalla, memohon agar Alloh mengampuni baginya kekurangan dan kerusakan yang terjadi pada ibadahnya. Dulu Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam jika telah salam dari sholat fardhu, beliau mengucapkan astaghfirulloh sebanyak tiga kali. Dan Alloh ta’ala berfirman tentang orang-orang mu’min: “Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Alloh).” [adz-Dzariyat: 18]
Bahkan sampai setelah datangnya kemenangan dari Alloh, terkalahkannya orang-orang kafir dan masuknya manusia ke dalam agama Alloh dengan berbondong-bondong, Alloh memerintahkan Nabi-Nya shollallohu ‘alayhi wa sallam agar bertasbih dengan diiringi pujian serta beristighfar dan bertaubat. “Apabila telah datang pertolongan Alloh dan kemenangan, dan engkau telah melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Alloh, maka bertasbihlah dengan memuji Robbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” [an-Nashr: 1:3]
Wajib atas kaum muslimin untuk memohon ampunan kepada Alloh, bertaubat kepada-Nya, memperbaiki amal-amal mereka, dan kembali kepada Robb mereka. Dan hendaklah mereka memohon kepada-Nya kemenangan atas musuh-musuh agama, disertai dengan permohonan ampunan dosa-dosa, maaf, dan rohmah dari Robb semesta alam. Sebagaimana Alloh ‘azza wa jalla mengajari kita di akhir surat al-Baqoroh agar kita berdoa: “Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir” [al-Baqoroh: 286]
Dalam hadis Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohih-nya, disebutkan bahwa Alloh Ta’ala berfirman: “Aku telah mengerjakan”. Artinya: Aku telah mengabulkan orang yang berdoa dengan doa ini.
An-Naba Edisi 21
Tidak ada komentar:
Posting Komentar