SYAIKH ABU MUHANNAD ASY SYAMI, LELAKI YANG MENGINJAK FANATISME GOLONGAN DENGAN KAKI BESINYA
Ketika Salibis Amerika menginvasi Iraq, ribuan pemuda bangkit untuk menghadangnya, khususnya para pemuda dari negeri Syam. Diantara mereka adalah Hassan ‘Abdul Jalil ‘Abbud, yang dikenal di tanah kelahirannya Sarmin, Idlib sebagai seseorang yang pemberani dan berwibawa. Dia pergi berperang dan menjalin interaksi dengan mujahidin Iraq. Ia mencintai mereka dan merekapun mencintainya. Allah mentakdirkannya bertemu dengan Syaikh Abu Anas asy Syami taqobbalahullah. Ia membersamainya dalam setiap pertempuran, termasuk operasi penyerangan penjara Abu Ghuraib, pertempuran yang mana Allah takdirkan Salibis mengetahui persis posisi mujahidin dan membombardir mereka. Ketika itu banyak dari mujahidin yang gugur, diantaranya Syaikh Abu Anas. Namun Allah tetapkan tokoh kita ini selamat dari kematian. Beberapa waktu setelah peristiwa itu ia kembali ke Syam.
Setelah kepulangannya ke Syam, diapun tetap membantu dan menolong para mujahidin, diantaranya dengan menyambut para muhajirin dan menyiapkan tempat bagi mereka serta berusaha menyelundupkan mereka ke Iraq. Aktivitasnya tersebut berlanjut sampai beberapa waktu, hingga akhirnya terputuslah komunikasi dengan mujahidin. Bersamaan dengan pecahnya demonstrasi-demonstrasi di Syam melawan rezim Nushairiyah, Hassan ‘Abbud bersama orang-orang terdekat dan para sahabatnya pun mulai bersiap-siap untuk berperang melawan Nushairiyah.
Mereka mulai mengumpulkan persenjataan dan mengadakan pelatihan pembuatan bom IED. Mereka termasuk dalam golongan yang pertama kali mengangkat senjata melawan tentara Nushairiyah di daerah utara Syam. Seiring dengan semakin sengitnya pertempuran-pertempuran di Syam, kelompok yang dipimpinnya setelah melalui berbagai peristiwa dan pergantian nama akhirnya menetapkan nama terakhir, Liwaa' Dawud.
Di waktu yang sama ia senantiasa mencari kebenaran dan mengikutinya. Ketika di Iraq ia tidak bisa mengenal lebih dalam manhaj mujahidin dengan sempurna lantaran sulitnya situasi dan kondisi ditambah setelah kembalinya ke Syam yang kemudian terputusnya komunikasi dengan mujahidin. Namun Allah mentakdirkan sebagian du’at dari muhajirin mendekati beliau. Mereka memberikan nasehat dan membimbingnya menuju aqidah yang benar dan manhaj yang bersih. Hal itu bersamaan dengan dideklarasikannya ekspansi wilayah Daulah Islamiyah ke Syam. Peristiwa ini adalah faktor terbesar yang mendorongnya membangun hubungan dan menjalin aliansi dengan Daulah Islamiyah melawan Nushairiyah.
Setelah keikutsertaannya bersama Junud Daulah Islamiyah di beberapa pertempuran, diantaranya pertempuran merebut gudang-gudang penyimpanan senjata al Hamra’ di pinggiran Hama, Syaikh Hassan ‘Abbud dan pengikutnya berbaiat kepada Amirul Mu’minin. Ia dan prajuritnya melebur ke dalam wilayah Idlib dan diangkat sebagai penanggung jawab militer untuk wilayah tersebut. Ini terjadi sekitar tiga minggu sebelum dimulainya pengkhianatan shohawat terhadap Daulah Islamiyah.
Ikhwah yang berada di Idlib ketika itu berjumlah beberapa ratus orang saja, mayoritasnya para muhajirin, di tengah-tengah rimba faksi-faksi pemberontak yang selalu berusaha mencari celah untuk menghabisi mereka. Dengan bergabungnya Liwaa' Dawud yang jumlah tentaranya mencapai tujuh ratusan lebih pada Daulah Islamiyah, dan berbai’atnya pemimpin lagi pendirinya Hassan Abbud kepada Amirul Mu’minin, betul-betul merupakan pertolongan dan karunia Allah kepada mujahidin. Segera setelah menerima jabatannya sebagai penanggung jawab militer wilayah ia mulai merancang operasi militer besar untuk membersihkan kota Khan Syaikhun dan checkpoint di sekitarnya dari najis Nushairiyah.
Seharusnya operasi ini akan diikuti oleh pasukan Daulah Islamiyah dari wilayah Idlib dan Hama, akan tetapi operasi tersebut tidak pernah terlaksana akibat pengkhianatan shohawat di seluruh utara Syam, membuat prajuritnya terpaksa mundur untuk mengumpulkan kembali kekuatan mereka agar mereka tidak menjadi santapan empuk faksi-faksi pemberontak seperti yang terjadi di pinggiran barat dan utara Aleppo.
Kota Sarmin dan Saraqib adalah pilihan terbaik ketika itu. Di kedua kota itu Syaikh Hassan Abbud berhasil mengamankan para ikhwah dan menggagalkan seluruh usaha shohawat, utamanya faksi Suqur asy Syam, untuk menyerbu mereka.
Beberapa waktu lamanya Syaikh mencurahkan segenap usahanya untuk membentengi wilayahnya dari Shohawat. Ia berhasil mengurai banyak jaringan sel-sel intelijen Shohawat di Saraqib dan Sarmin. Ia juga berhasil menyeru sebagian kelompok di sana untuk berbai’at kepada Amirul Mu’minin. Ia pun menetap di sana sembari menunggu perintah untuk bergerak merebut kembali wilayah Idlib dari cengkraman shohawat.
Setelah dideklarasikannya Khilafah, datanglah perintah pada setiap Junud Daulah yang berada di wilayah kekuasaan Shohawat untuk berhijrah ke wilayah Daulah Islamiyah, agar bisa hidup di negeri Islam di bawah naungan Syari'at Islam, disamping adanya kekhawatiran akan pengkhianatan Shohawat. Begitu perintah untuk berhijrah turun, dengan segera Syaikh Hassan Abbud beserta prajuritnya bersiap-siap untuk berhijrah menuju Darul Islam.
Dalam perjalanan, Allah menganugerahkan kemenangan dan ghonimah yang banyak kepada mereka. Ketika itu tentara Nushairiyah menyergap kafilah muhajirin dan hampir-hampir berhasil menawan keluarga mereka yang berada dalam beberapa bus, akan tetapi Allah pun menyelamatkan mereka. Para ikhwah berhasil membendung sergapan tersebut kemudian menyerang balik dan berhasil membunuh banyak tentara Nushairiyah serta merampas dua mobil lapis baja.
Setelahnya mereka juga memerangi rezim di kota Halab, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencatat kemenangan untuk hamba-hambaNya. Mereka berhasil memutus jalur logistik satu-satunya rezim dan memaksanya masuk dalam pertempuran yang tidak mereka sangka. Dalam pertempuran ini ratusan anggota pasukan khusus rezim terbunuh. Dalam pertempuran ini pula Allah menakdirkan Syaikh Abu Muhannad asy Syami terkena luka yang cukup serius ketika berusaha menusuk jauh ke dalam wilayah rezim.
Satu sifat yang tampak dalam karakter Syaikh
Abu Muhannad asy Syamiy taqobbalahullah adalah terus bersungguh-sungguh dengan segenap kekuatan dan kemampuannya mencari kebenaran dan berpegang teguh kepadanya setelah menemukannya meskipun harus bersusah payah dan mengorbankan banyak hal. Dialah yang sejak permulaan jihadnya melawan Nushairiyah selalu mencari-cari siapa yang menginginkan tegaknya syari’at Islam untuk segera membangun hubungan dengannya dan berperang di bawah benderanya.
Yang pada akhirnya pencariannya membuahkan bai’at kepada Amirul Mu’minin dan bergabung kepada Daulah Islamiyah setelah jelas baginya kedustaan klaim-klaim faksi-faksi perlawanan Islamis namun sejatinya hendak menegakkan demokrasi. Dialah yang sejak mengetahui kebenaran yang didapatinya dalam manhaj Daulah Islamiyah segera dipegangnya erat-erat tanpa mempedulikan tawaran dan iming-iming yang digelontorkan para murtaddin baik di dalam dan luar negeri. Ia tinggalkan kekuatan, persenjataan dan personil yang dimilikinya untuk diberikan semuanya kepada Daulah Islamiyah. Banyaknya musuh yang mengintai tak membuatnya gentar. Ia tetap teguh dengan bai’atnya kepada Amirul Mu’minin dan meneguhkan ikhwah yang bersamanya.
Sejak awal jihadnya ia suka bermajelis dengan para du’at dan tholabatul ilmi, khususnya dari para muhajirin. Ia mendengarkan pembicaraan mereka dan meminta fatwa mereka dalam rangka mencari kebenaran. Sampai ia selalu mengajak para tholabatul ilmi itu kemanapun agar bisa selalu menasihatinya dan mengingatkannya akan Allah.
Diantara mereka itu adalah teman dekatnya yaitu Abu Mush’ab al Urduniy taqobbalahullah. Ia selalu berusaha menghadiri pelajaran-pelajaran syari’ah, khususnya pelajaran tauhid. Ia juga mewajibkan seluruh tentaranya untuk menghadirinya. Seakan-akan dengan itu ia berusaha menambal apa saja yang terlewat selama terisolasinya ia di wilayah Shohawat sebelum hijrahnya. Ia adalah orang yang selalu berusaha keras mengikuti kebenaran. Senantiasa menanyakan hukum Syar’iy dalam setiap permasalahan yang dihadapinya. Jika telah jelas hukumnya, maka diskusi segera dihentikannya dan ia segera beramal sesuai dengan konsekuensi hukum syar'I tersebut.
Ia adalah seseorang yang amat takut dengan kezhaliman sekalipun mengakibatkan dirinya di qishos. Saking takutnya dengan kezhalimannya, ia sampai berkeliling sendiri dan bertanya-tanya kepada para tahanan tentang bagaimana kasus mereka lantaran takut jika ada salah seorang yang seharusnya sudah bebas namun masih ditahan karena keterlambatan menghadirkan kasusnya kepada hakim untuk ditinjau.
Beliau tidak segan-segan menghentikan kaum muslimin awam yang sedang berada di jalanan sekalipun mereka tidak mengetahuinya untuk menanyakan bagaimana hubungan mereka dengan Junud Daulah Islamiyah dan bagaimana mu’amalah para ikhwan yang duduk di berbagai kantor Departemen Daulah kepada mereka. Lantaran ia takut jika salah seorang tentaranya melakukan kezhaliman kepada salah seorang yang Allah perintahkan untuk mengayominya.
Adapun tentang keteguhannya di atas jalan jihad fie sabilillah, maka ia sama sekali tidak tergoyahkan dengan ujian dan luka-luka yang dideritanya. Ketika awal mula menapaki jalan ini, Allah mentakdirkan sebuah roket home-made meledak sebelum meluncur, mengakibatkan terputusnya dua kakinya. Ia kemudian diberi dua kaki palsu dari besi yang dipakainya ketika berjalan dan dilepasnya ketika duduk atau beristirahat. Dengan kedua kaki palsu itu ia menceburkan diri dalam puluhan pertempuran.
Setelahnya Allah mentakdirkan Abu Muhannad beberapa kali terluka parah. Salah satunya ketika pesawat Nushairiyah menembaki mobilnya dalam operasi penaklukan Tadmur yang menghancurkan dua kaki besinya, namun ia selamat. Demikian juga ketika pecahan roket tank Nushairiyah melukainya dalam pertempuran di Dawwah, sebelah barat Tadmur dan membunuh Abu Mush’ab al Urduniy taqobbalahullah yang ketika itu berada di sampingnya. Ditambah lagi ia juga menderita diabetes sehingga luka-lukanya tidak kunjung sembuh.
Adapun tentang wala’nya kepada Daulah Islamiyah, semua orang yang mengenalnya tahu bahwa ia selalu mementingkan semua yang mendatangkan mashalahat kepada Daulah. Ketika perintah hijrah sampai kepadanya maka segera saja ia kumpulkan seluruh anggota beserta persenjataan dan logistik Liwaa' Dawud untuk berangkat berhijrah menuju Darul Islam.
Ketika sampai, segera diserahkannya seluruh properti kepemilikan Liwaa' Dawud kepada Daulah yang berupa uang sejumlah ratusan ribu dollar hasil ghonimah dari pertempuran-pertempurannya ditambah dengan 12 tank dan mobil lapis baja serta ratusan persenjataan serta alutsista lainnya.
Kemudian segera nama Liwaa' Dawud dihapuskannya secara total dan memeriksa semua orang yang masih menggunakan nama tersebut. Itu dilakukannya untuk menanamkan kecintaan kepada Daulah Islamiyah dan ketaatan kepada Amirul Mu’minin dalam hati tentaranya.
Beliau adalah seseorang yang memiliki pemikiran militer cerdas. Ia mempersiapkan operasinya dengan baik. Terbukti dengan suksesnya banyak operasi yang dipimpinnya sebelum berbai’at kepada Daulah Islamiyah. Diantaranya operasi penyerangan checkpoint Hamisyu, operasi penyerangan checkpoint Bab Al Hawa, Gedung Universitas Ilmu Administrasi, Bandara Militer Taftanaz, Kamp asy Syabibah, Akademi Pertahanan Udara, checkpoint al Jadida, pabrik SADCOB, dan pos-pos checkpoint-checkpoint lainnya yang tersebar diantara Idlib dan Ariha dan masih banyak lagi operasi militer lainnya.
Setelah berbaiat kepada Amirul Mu’minin, ia juga kembali memimpin operasi-operasi militer berskala besar. Yang paling penting adalah operasi pembebasan Tadmur, salah satu operasi terbesar khilafah dilihat dari jumlah pasukan dan luasnya front pertempuran. Lalu pertempuran Khonashir yang membuktikan dengan jelas skill kepemimpinan militernya karena perintah untuk bersiap-siap datang hanya lima hari sebelum eksekusi serangan. Sekalipun demikian, Allah membuatnya mampu mempersiapkan segala sesuatunya baik tentara, transportasi, ataupun logistik. Dan operasi inipun sukses atas karunia Allah.
Sekalipun ia amat perhatian dengan front-front pertempuran dan para prajuritnya namun ia taqobbalahullah tidak termasuk orang yang melalaikan sektor-sektor lain wilayah dan departemen- departemen palayanannya. Bahkan ia sering duduk dengan para penanggung jawab departemen tersebut dan mendorong mereka untuk terus menambah kesungguhan mereka disamping ia juga berusaha menyediakan semua hal yang dibutuhkan oleh mereka. Sampai-sampai setiap dari mereka merasa bahwa Abu Muhannad hanya memperhatikan bidang yang digarapnya saja.
Diantara kebiasaannya itu jika ingin mengumpulkan para ikhwah untuk suatu perkara penting maka ia akan membawa mereka jauh dari kota agar semua hal yang mungkin mengganggu pertemuan itu bisa dieliminasi sehingga pertemuan itu pun sukses.
Dia juga dikenal selalu meminta pendapat para ikhwah baik sendiri ataupun kelompok. Dia ajukan permasalahannya lalu meminta solusinya kepada mereka. Dan ketika ada suatu pendapat yang dianggapnya baik maka akan diajukannya kepada ikhwah lainnya sembari menjelaskan bahwa ini adalah pendapat al Akh fulan sehingga tidak mengklaim sesuatu yang bukan miliknya, dan agar semakin menambah keyakinan serta mengangkat kedudukan al Akh tersebut.
Disamping semua itu, ia rahimahullah amat rajin beribadah. Dia amat menyukai qiyamul lail. Selalu membangunkan keluarganya pada sepertiga malam terakhir dan sholat bersama mereka.
Ia juga amat suka bersegera dalam memulai aktivitas. Ia memulai seluruh aktivitasnya segera setelah shalat fajar. Mayoritas pertemuan diadakan pada waktu ini. Ia juga selalu menyemangati para ikhwah untuk tidur cepat dan bersegera dalam memulai aktivitas agar mendapat barokah.
Jika pertempuran sedang memanas Ia terkenal suka menyendiri dari para ikhwah untuk bersujud dan berdoa meminta pertolongan. Ia terus mengulang-ulangnya sampai Allah menetapkan kemenangan melawan musuh-musuhnya.
Adapun tentang keberaniannya maka tak perlu ditanyakan lagi. Para ikhwah telah bersaksi bahwa ia adalah penanggung jawab militer Daulah Islamiyah yang paling pemberani. Ia adalah komandan lapangan yang terjun langsung mengarahkan operasi militer bahkan selalu berada di front terdepan bukan berada di tengah atau di belakang.
Yang bersamanya ketika operasi pembebasan Tadmur bersaksi ketika pertempuran sedang memanas maka ia pergi ke front terdepan dan terus membersamai mujahidin disana untuk meneguhkan mereka. Prinsip utamanya dalam setiap pertempuran melawan tentara Nushairiyah adalah sebaik-baik pertahanan yaitu menyerang. Maka ia tidak akan membiarkan musuh bernafas sejenakpun. Ia tidak akan menarik pasukan untuk mengatur ulang serangan, namun serangan yang berkesinambungan dari berbagai sisi akan terus dilancarkan sehingga musuh akan terus bersiaga.
Ia juga selalu berusaha mengintai musuh sendirian. Ia mendatangi seluruh titik yang memungkinkan untuk mengumpulkan informasi tentang musuh sebanyak mungkin. Sampai-sampai pada pertempuran Khonashir terakhir ia bersikeras melakukan pengintaian sendiri titik penyerbuan para ikhwah sampai ia berada terlalu dekat dengan posisi tentara Nushairi yang berada di sekitar jalan Khonashir sekalipun ia tahu banyak ranjau telah ditanam di daerah itu. Sehingga meledaklah ranjau yang tidak sengaja terinjaknya dan mengakibatkannya terluka parah.
Beberapa hari ia mengobati luka-lukanya. Namun ternyata Allah menetapkan ruhnya meninggalkan jasadnya setelah mengucapkan dua kalimat syahadat. Kata-kata terakhirnya di dunia kepada ibunya yang menangis sedih memohon kesembuhannya adalah, “Kita akan bertemu di surga”.
Ia adalah seorang hamba yang meninggalkan dunia begitu saja sekalipun datang mengemis kecintaannya. Ia injak dunia dan syahwatnya dengan dua kaki besinya hanya karena mengharap apa yang ada di sisi Allah. Maka ia pun mendapatkan apa yang dicita-citakannya. Demikianlah kami menilainya dan Allahlah sebaik-baik penilai.
An-Naba Edisi 25
Ketika Salibis Amerika menginvasi Iraq, ribuan pemuda bangkit untuk menghadangnya, khususnya para pemuda dari negeri Syam. Diantara mereka adalah Hassan ‘Abdul Jalil ‘Abbud, yang dikenal di tanah kelahirannya Sarmin, Idlib sebagai seseorang yang pemberani dan berwibawa. Dia pergi berperang dan menjalin interaksi dengan mujahidin Iraq. Ia mencintai mereka dan merekapun mencintainya. Allah mentakdirkannya bertemu dengan Syaikh Abu Anas asy Syami taqobbalahullah. Ia membersamainya dalam setiap pertempuran, termasuk operasi penyerangan penjara Abu Ghuraib, pertempuran yang mana Allah takdirkan Salibis mengetahui persis posisi mujahidin dan membombardir mereka. Ketika itu banyak dari mujahidin yang gugur, diantaranya Syaikh Abu Anas. Namun Allah tetapkan tokoh kita ini selamat dari kematian. Beberapa waktu setelah peristiwa itu ia kembali ke Syam.
Setelah kepulangannya ke Syam, diapun tetap membantu dan menolong para mujahidin, diantaranya dengan menyambut para muhajirin dan menyiapkan tempat bagi mereka serta berusaha menyelundupkan mereka ke Iraq. Aktivitasnya tersebut berlanjut sampai beberapa waktu, hingga akhirnya terputuslah komunikasi dengan mujahidin. Bersamaan dengan pecahnya demonstrasi-demonstrasi di Syam melawan rezim Nushairiyah, Hassan ‘Abbud bersama orang-orang terdekat dan para sahabatnya pun mulai bersiap-siap untuk berperang melawan Nushairiyah.
Mereka mulai mengumpulkan persenjataan dan mengadakan pelatihan pembuatan bom IED. Mereka termasuk dalam golongan yang pertama kali mengangkat senjata melawan tentara Nushairiyah di daerah utara Syam. Seiring dengan semakin sengitnya pertempuran-pertempuran di Syam, kelompok yang dipimpinnya setelah melalui berbagai peristiwa dan pergantian nama akhirnya menetapkan nama terakhir, Liwaa' Dawud.
Di waktu yang sama ia senantiasa mencari kebenaran dan mengikutinya. Ketika di Iraq ia tidak bisa mengenal lebih dalam manhaj mujahidin dengan sempurna lantaran sulitnya situasi dan kondisi ditambah setelah kembalinya ke Syam yang kemudian terputusnya komunikasi dengan mujahidin. Namun Allah mentakdirkan sebagian du’at dari muhajirin mendekati beliau. Mereka memberikan nasehat dan membimbingnya menuju aqidah yang benar dan manhaj yang bersih. Hal itu bersamaan dengan dideklarasikannya ekspansi wilayah Daulah Islamiyah ke Syam. Peristiwa ini adalah faktor terbesar yang mendorongnya membangun hubungan dan menjalin aliansi dengan Daulah Islamiyah melawan Nushairiyah.
Setelah keikutsertaannya bersama Junud Daulah Islamiyah di beberapa pertempuran, diantaranya pertempuran merebut gudang-gudang penyimpanan senjata al Hamra’ di pinggiran Hama, Syaikh Hassan ‘Abbud dan pengikutnya berbaiat kepada Amirul Mu’minin. Ia dan prajuritnya melebur ke dalam wilayah Idlib dan diangkat sebagai penanggung jawab militer untuk wilayah tersebut. Ini terjadi sekitar tiga minggu sebelum dimulainya pengkhianatan shohawat terhadap Daulah Islamiyah.
Ikhwah yang berada di Idlib ketika itu berjumlah beberapa ratus orang saja, mayoritasnya para muhajirin, di tengah-tengah rimba faksi-faksi pemberontak yang selalu berusaha mencari celah untuk menghabisi mereka. Dengan bergabungnya Liwaa' Dawud yang jumlah tentaranya mencapai tujuh ratusan lebih pada Daulah Islamiyah, dan berbai’atnya pemimpin lagi pendirinya Hassan Abbud kepada Amirul Mu’minin, betul-betul merupakan pertolongan dan karunia Allah kepada mujahidin. Segera setelah menerima jabatannya sebagai penanggung jawab militer wilayah ia mulai merancang operasi militer besar untuk membersihkan kota Khan Syaikhun dan checkpoint di sekitarnya dari najis Nushairiyah.
Seharusnya operasi ini akan diikuti oleh pasukan Daulah Islamiyah dari wilayah Idlib dan Hama, akan tetapi operasi tersebut tidak pernah terlaksana akibat pengkhianatan shohawat di seluruh utara Syam, membuat prajuritnya terpaksa mundur untuk mengumpulkan kembali kekuatan mereka agar mereka tidak menjadi santapan empuk faksi-faksi pemberontak seperti yang terjadi di pinggiran barat dan utara Aleppo.
Kota Sarmin dan Saraqib adalah pilihan terbaik ketika itu. Di kedua kota itu Syaikh Hassan Abbud berhasil mengamankan para ikhwah dan menggagalkan seluruh usaha shohawat, utamanya faksi Suqur asy Syam, untuk menyerbu mereka.
Beberapa waktu lamanya Syaikh mencurahkan segenap usahanya untuk membentengi wilayahnya dari Shohawat. Ia berhasil mengurai banyak jaringan sel-sel intelijen Shohawat di Saraqib dan Sarmin. Ia juga berhasil menyeru sebagian kelompok di sana untuk berbai’at kepada Amirul Mu’minin. Ia pun menetap di sana sembari menunggu perintah untuk bergerak merebut kembali wilayah Idlib dari cengkraman shohawat.
Setelah dideklarasikannya Khilafah, datanglah perintah pada setiap Junud Daulah yang berada di wilayah kekuasaan Shohawat untuk berhijrah ke wilayah Daulah Islamiyah, agar bisa hidup di negeri Islam di bawah naungan Syari'at Islam, disamping adanya kekhawatiran akan pengkhianatan Shohawat. Begitu perintah untuk berhijrah turun, dengan segera Syaikh Hassan Abbud beserta prajuritnya bersiap-siap untuk berhijrah menuju Darul Islam.
Dalam perjalanan, Allah menganugerahkan kemenangan dan ghonimah yang banyak kepada mereka. Ketika itu tentara Nushairiyah menyergap kafilah muhajirin dan hampir-hampir berhasil menawan keluarga mereka yang berada dalam beberapa bus, akan tetapi Allah pun menyelamatkan mereka. Para ikhwah berhasil membendung sergapan tersebut kemudian menyerang balik dan berhasil membunuh banyak tentara Nushairiyah serta merampas dua mobil lapis baja.
Setelahnya mereka juga memerangi rezim di kota Halab, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencatat kemenangan untuk hamba-hambaNya. Mereka berhasil memutus jalur logistik satu-satunya rezim dan memaksanya masuk dalam pertempuran yang tidak mereka sangka. Dalam pertempuran ini ratusan anggota pasukan khusus rezim terbunuh. Dalam pertempuran ini pula Allah menakdirkan Syaikh Abu Muhannad asy Syami terkena luka yang cukup serius ketika berusaha menusuk jauh ke dalam wilayah rezim.
Satu sifat yang tampak dalam karakter Syaikh
Abu Muhannad asy Syamiy taqobbalahullah adalah terus bersungguh-sungguh dengan segenap kekuatan dan kemampuannya mencari kebenaran dan berpegang teguh kepadanya setelah menemukannya meskipun harus bersusah payah dan mengorbankan banyak hal. Dialah yang sejak permulaan jihadnya melawan Nushairiyah selalu mencari-cari siapa yang menginginkan tegaknya syari’at Islam untuk segera membangun hubungan dengannya dan berperang di bawah benderanya.
Yang pada akhirnya pencariannya membuahkan bai’at kepada Amirul Mu’minin dan bergabung kepada Daulah Islamiyah setelah jelas baginya kedustaan klaim-klaim faksi-faksi perlawanan Islamis namun sejatinya hendak menegakkan demokrasi. Dialah yang sejak mengetahui kebenaran yang didapatinya dalam manhaj Daulah Islamiyah segera dipegangnya erat-erat tanpa mempedulikan tawaran dan iming-iming yang digelontorkan para murtaddin baik di dalam dan luar negeri. Ia tinggalkan kekuatan, persenjataan dan personil yang dimilikinya untuk diberikan semuanya kepada Daulah Islamiyah. Banyaknya musuh yang mengintai tak membuatnya gentar. Ia tetap teguh dengan bai’atnya kepada Amirul Mu’minin dan meneguhkan ikhwah yang bersamanya.
Sejak awal jihadnya ia suka bermajelis dengan para du’at dan tholabatul ilmi, khususnya dari para muhajirin. Ia mendengarkan pembicaraan mereka dan meminta fatwa mereka dalam rangka mencari kebenaran. Sampai ia selalu mengajak para tholabatul ilmi itu kemanapun agar bisa selalu menasihatinya dan mengingatkannya akan Allah.
Diantara mereka itu adalah teman dekatnya yaitu Abu Mush’ab al Urduniy taqobbalahullah. Ia selalu berusaha menghadiri pelajaran-pelajaran syari’ah, khususnya pelajaran tauhid. Ia juga mewajibkan seluruh tentaranya untuk menghadirinya. Seakan-akan dengan itu ia berusaha menambal apa saja yang terlewat selama terisolasinya ia di wilayah Shohawat sebelum hijrahnya. Ia adalah orang yang selalu berusaha keras mengikuti kebenaran. Senantiasa menanyakan hukum Syar’iy dalam setiap permasalahan yang dihadapinya. Jika telah jelas hukumnya, maka diskusi segera dihentikannya dan ia segera beramal sesuai dengan konsekuensi hukum syar'I tersebut.
Ia adalah seseorang yang amat takut dengan kezhaliman sekalipun mengakibatkan dirinya di qishos. Saking takutnya dengan kezhalimannya, ia sampai berkeliling sendiri dan bertanya-tanya kepada para tahanan tentang bagaimana kasus mereka lantaran takut jika ada salah seorang yang seharusnya sudah bebas namun masih ditahan karena keterlambatan menghadirkan kasusnya kepada hakim untuk ditinjau.
Beliau tidak segan-segan menghentikan kaum muslimin awam yang sedang berada di jalanan sekalipun mereka tidak mengetahuinya untuk menanyakan bagaimana hubungan mereka dengan Junud Daulah Islamiyah dan bagaimana mu’amalah para ikhwan yang duduk di berbagai kantor Departemen Daulah kepada mereka. Lantaran ia takut jika salah seorang tentaranya melakukan kezhaliman kepada salah seorang yang Allah perintahkan untuk mengayominya.
Adapun tentang keteguhannya di atas jalan jihad fie sabilillah, maka ia sama sekali tidak tergoyahkan dengan ujian dan luka-luka yang dideritanya. Ketika awal mula menapaki jalan ini, Allah mentakdirkan sebuah roket home-made meledak sebelum meluncur, mengakibatkan terputusnya dua kakinya. Ia kemudian diberi dua kaki palsu dari besi yang dipakainya ketika berjalan dan dilepasnya ketika duduk atau beristirahat. Dengan kedua kaki palsu itu ia menceburkan diri dalam puluhan pertempuran.
Setelahnya Allah mentakdirkan Abu Muhannad beberapa kali terluka parah. Salah satunya ketika pesawat Nushairiyah menembaki mobilnya dalam operasi penaklukan Tadmur yang menghancurkan dua kaki besinya, namun ia selamat. Demikian juga ketika pecahan roket tank Nushairiyah melukainya dalam pertempuran di Dawwah, sebelah barat Tadmur dan membunuh Abu Mush’ab al Urduniy taqobbalahullah yang ketika itu berada di sampingnya. Ditambah lagi ia juga menderita diabetes sehingga luka-lukanya tidak kunjung sembuh.
Adapun tentang wala’nya kepada Daulah Islamiyah, semua orang yang mengenalnya tahu bahwa ia selalu mementingkan semua yang mendatangkan mashalahat kepada Daulah. Ketika perintah hijrah sampai kepadanya maka segera saja ia kumpulkan seluruh anggota beserta persenjataan dan logistik Liwaa' Dawud untuk berangkat berhijrah menuju Darul Islam.
Ketika sampai, segera diserahkannya seluruh properti kepemilikan Liwaa' Dawud kepada Daulah yang berupa uang sejumlah ratusan ribu dollar hasil ghonimah dari pertempuran-pertempurannya ditambah dengan 12 tank dan mobil lapis baja serta ratusan persenjataan serta alutsista lainnya.
Kemudian segera nama Liwaa' Dawud dihapuskannya secara total dan memeriksa semua orang yang masih menggunakan nama tersebut. Itu dilakukannya untuk menanamkan kecintaan kepada Daulah Islamiyah dan ketaatan kepada Amirul Mu’minin dalam hati tentaranya.
Beliau adalah seseorang yang memiliki pemikiran militer cerdas. Ia mempersiapkan operasinya dengan baik. Terbukti dengan suksesnya banyak operasi yang dipimpinnya sebelum berbai’at kepada Daulah Islamiyah. Diantaranya operasi penyerangan checkpoint Hamisyu, operasi penyerangan checkpoint Bab Al Hawa, Gedung Universitas Ilmu Administrasi, Bandara Militer Taftanaz, Kamp asy Syabibah, Akademi Pertahanan Udara, checkpoint al Jadida, pabrik SADCOB, dan pos-pos checkpoint-checkpoint lainnya yang tersebar diantara Idlib dan Ariha dan masih banyak lagi operasi militer lainnya.
Setelah berbaiat kepada Amirul Mu’minin, ia juga kembali memimpin operasi-operasi militer berskala besar. Yang paling penting adalah operasi pembebasan Tadmur, salah satu operasi terbesar khilafah dilihat dari jumlah pasukan dan luasnya front pertempuran. Lalu pertempuran Khonashir yang membuktikan dengan jelas skill kepemimpinan militernya karena perintah untuk bersiap-siap datang hanya lima hari sebelum eksekusi serangan. Sekalipun demikian, Allah membuatnya mampu mempersiapkan segala sesuatunya baik tentara, transportasi, ataupun logistik. Dan operasi inipun sukses atas karunia Allah.
Sekalipun ia amat perhatian dengan front-front pertempuran dan para prajuritnya namun ia taqobbalahullah tidak termasuk orang yang melalaikan sektor-sektor lain wilayah dan departemen- departemen palayanannya. Bahkan ia sering duduk dengan para penanggung jawab departemen tersebut dan mendorong mereka untuk terus menambah kesungguhan mereka disamping ia juga berusaha menyediakan semua hal yang dibutuhkan oleh mereka. Sampai-sampai setiap dari mereka merasa bahwa Abu Muhannad hanya memperhatikan bidang yang digarapnya saja.
Diantara kebiasaannya itu jika ingin mengumpulkan para ikhwah untuk suatu perkara penting maka ia akan membawa mereka jauh dari kota agar semua hal yang mungkin mengganggu pertemuan itu bisa dieliminasi sehingga pertemuan itu pun sukses.
Dia juga dikenal selalu meminta pendapat para ikhwah baik sendiri ataupun kelompok. Dia ajukan permasalahannya lalu meminta solusinya kepada mereka. Dan ketika ada suatu pendapat yang dianggapnya baik maka akan diajukannya kepada ikhwah lainnya sembari menjelaskan bahwa ini adalah pendapat al Akh fulan sehingga tidak mengklaim sesuatu yang bukan miliknya, dan agar semakin menambah keyakinan serta mengangkat kedudukan al Akh tersebut.
Disamping semua itu, ia rahimahullah amat rajin beribadah. Dia amat menyukai qiyamul lail. Selalu membangunkan keluarganya pada sepertiga malam terakhir dan sholat bersama mereka.
Ia juga amat suka bersegera dalam memulai aktivitas. Ia memulai seluruh aktivitasnya segera setelah shalat fajar. Mayoritas pertemuan diadakan pada waktu ini. Ia juga selalu menyemangati para ikhwah untuk tidur cepat dan bersegera dalam memulai aktivitas agar mendapat barokah.
Jika pertempuran sedang memanas Ia terkenal suka menyendiri dari para ikhwah untuk bersujud dan berdoa meminta pertolongan. Ia terus mengulang-ulangnya sampai Allah menetapkan kemenangan melawan musuh-musuhnya.
Adapun tentang keberaniannya maka tak perlu ditanyakan lagi. Para ikhwah telah bersaksi bahwa ia adalah penanggung jawab militer Daulah Islamiyah yang paling pemberani. Ia adalah komandan lapangan yang terjun langsung mengarahkan operasi militer bahkan selalu berada di front terdepan bukan berada di tengah atau di belakang.
Yang bersamanya ketika operasi pembebasan Tadmur bersaksi ketika pertempuran sedang memanas maka ia pergi ke front terdepan dan terus membersamai mujahidin disana untuk meneguhkan mereka. Prinsip utamanya dalam setiap pertempuran melawan tentara Nushairiyah adalah sebaik-baik pertahanan yaitu menyerang. Maka ia tidak akan membiarkan musuh bernafas sejenakpun. Ia tidak akan menarik pasukan untuk mengatur ulang serangan, namun serangan yang berkesinambungan dari berbagai sisi akan terus dilancarkan sehingga musuh akan terus bersiaga.
Ia juga selalu berusaha mengintai musuh sendirian. Ia mendatangi seluruh titik yang memungkinkan untuk mengumpulkan informasi tentang musuh sebanyak mungkin. Sampai-sampai pada pertempuran Khonashir terakhir ia bersikeras melakukan pengintaian sendiri titik penyerbuan para ikhwah sampai ia berada terlalu dekat dengan posisi tentara Nushairi yang berada di sekitar jalan Khonashir sekalipun ia tahu banyak ranjau telah ditanam di daerah itu. Sehingga meledaklah ranjau yang tidak sengaja terinjaknya dan mengakibatkannya terluka parah.
Beberapa hari ia mengobati luka-lukanya. Namun ternyata Allah menetapkan ruhnya meninggalkan jasadnya setelah mengucapkan dua kalimat syahadat. Kata-kata terakhirnya di dunia kepada ibunya yang menangis sedih memohon kesembuhannya adalah, “Kita akan bertemu di surga”.
Ia adalah seorang hamba yang meninggalkan dunia begitu saja sekalipun datang mengemis kecintaannya. Ia injak dunia dan syahwatnya dengan dua kaki besinya hanya karena mengharap apa yang ada di sisi Allah. Maka ia pun mendapatkan apa yang dicita-citakannya. Demikianlah kami menilainya dan Allahlah sebaik-baik penilai.
An-Naba Edisi 25
Tidak ada komentar:
Posting Komentar