Tampilkan postingan dengan label Rumiyah Edisi 9. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumiyah Edisi 9. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2018

WAWANCARA BERSAMA AMIR JUNUD KHILAFAH DI MESIR

RUMIYAH 9 - WAWANCARA

WAWANCARA BERSAMA AMIR JUNUD KHILAFAH DI MESIR

Tanya: Bisa anda jelaskan bagaimana keadaan junud Khilafah di Mesir dan bagaimana operasi mereka?

Jawab: Segala puji bagi Rabb semesta alam, shalawat serta salam terlimpahkan kepada yang diutus dengan pedang sebagai rahmat seluruh alam amma Ba’ad: Junud Khilafah di Mesir atas karunia Allah ta'ala, kekuatan mereka terus bertambah, meski semua agresi yang tertuju pada mereka namun operasi demi operasi mereka membuahkan hasil yang memuaskan dan mewujudkan target-target yang telah direncanakan, segala puji bagi Allah semata.

Tanya: Problem apa yang dihadapai mujahidin di Mesir?

Jawab: Problem terbesar yang dihadapi mujahidin di Mesir adalah hilangnya tauhid dari banyak jiwa manusia, khususnya dalam masalah legitimasi syariat, berhakim kepada selain syariat Allah, loyal kepada pelaku kesyirikan, memusuhi ahlul iman yang berperang agar hukum sematamata milik Allah Raja alam semesta, Allah ta’ala berfirman, “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. al-A’raf: 54)

Sehingga keadaan para manusia itu sebagaimana keadaan kaum Fir’aun dimana Allah berfirman tentangnya, “Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.”(QS. az-Zukhruf: 54) .

Thawaghit membutakan mereka dari dien yang benar, di satu saat menggunakan para Syaikh sesat dan menggunakan media rusak mereka di saat yang lain. Menjadikan manusia loyal kepada mereka dan memusuhi mujahidin dengan dalih Anti Terorisme. Ini adalah kemurtaddan dari dien Islam yang nyata, Maka wajib bagi mereka untuk segera bertaubat, setelah itu jangan sampai mereka mencari-cari celah mujahidin. Sebaliknya, mereka justru harus menutupinya, bahkan menolong mereka, dan keluar bersama mereka memerangi para thaghut itu, ini adalah jihad wajib atas mereka.

Tanya: Apa hubungan kalian dengan wilayah Sinai?

Jawab: Yang mengikat kami dengan junud Khilafah di wilayah Sinai adalah tali persaudaraan, tali kecintaan dan loyalitas, semoga Allah memberkati mereka. Kami semua junud Daulah Islamiyah di negri Sinai dan Mesir berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi, dari Mesir kita akan menaklukan Baitul Maqdis melalui Sinai, sebentar lagi dengan izin Allah, meskipun orang-orang kafir membencinya.

Tanya: Apa tujuan yang ingin kalian capai dengan menargtekan gereja-gereja?

Jawab: Penargetan gereja-gereja ini termasuk bentuk peperangan kami atas kekafiran dan para pelakunya. Itu semua demi memenuhi perintah Allah ta'ala, “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al- Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. at-Taubah: 29)

Jika para nasrani muharibin itu mengira bahwa benteng mereka akan menghalangi mereka dari serangan junud Daulah Islam, maka hendaknya mereka mengetahui bahwa mujahidin memiliki pedang yang telah terhunus –dengan izin Allah- di atas leher mereka yang tidak akan meleset atau terhalangi oleh sesuatu pun dengan izin Allah, tiada daya dan kekuatan bagi kami kecuali dengan Allah.

Tanya: Apa respon terkait sejumlah operasi yang kalian lancarkan baik dari kalangan awam, Thawaghit, pasukan kemanan maupun ulama durjana?

Jawab: Kebanyakan respon dari mayoritas adalah mengingkari dan berlepas diri dari operasi-operasi ini secara khusus dan mengingkari peperangan kami atas Nasrani dan Thawagit pada umumnya. Mereka justru berbela sungkawa atas apa yang menimpa musyrikin, di bawah slogan hubungan saudara sebangsa dan selainnya. Padahal hal tersebut adalah bentuk loyalitas kepada kuffar dan musyrkin yang bisa mengeluarkan seseorang dari Millah. Barang siapa yang melakukan hal tersebut maka dia murtad dari Dien Islam, semua amalannya terhapus, jika mereka tidak segera bertaubat dan menyesal, sebelum datang suatu hari dari Allah yang tidak akan bisa ditolak kedatangannya. Adapun respon dari murtaddin baik dari tentara maupun polisi, seperti biasanya setiap kali selesai operasi yang dilancarkan mujahidin berhasil mereka membunuh, menangkap dan menyiksa demi meraih kerelaan komandan mereka di pemerintahan, dan tuan-tuan salibis mereka. Operasi ini menjadikan sebagian manusia mencemooh mereka, Nasrani dan murtaddin semakin membenci mereka, walhamdulillah. Meskipun kesewenang-wenangan ini memiliki efek positik bagi mujahidin dan efek negatif bagi mereka namun mereka tetap tidak bisa menghindarinya. Atas karunia Allah ta'ala setelah operasi demi operasi ini, Allah menyelamatkan mujahidin dari kebengisan dan penekanan murtaddin. Mereka tidak terkena gangguan sedikitpun walhamdulillah.

Firman-Nya, “Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun”. (QS. al Ahzab: 25).

Adapun para Masyayikh dan ulama thagwahit pun para penyeru kepada pintu neraka dengan berbagai perbedaaan madzahab, partai dan organisasinya, keadaan mereka sebagaimana firman Allah ta'ala, “maka perumpamaan mereka seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).” (QS. al-A’raf: 176).

Dan kami katakan kepada mereka apa yang dikatakan Allah ta'ala kepada umaat yang lebih dahulu menempuh jalan mereka: “Sesungguhnya orangorang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih”. (QS. al Baqarah: 174)

Tanya: Apa nasehat anda bagi muslimin di Mesir yang belum bisa bergabung ke barisan mujahidin?

Jawab: Aku katakan kepada kaum muslimin di Mesir para ahlu tauhid dan jihad yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya, hidupkanlah dakwah tauhid dan jihad di jalan Allah, dan bergabunglah dengan saudara-saudara kalian di Daulah Islamiyah, dan bergabunglah dengan al-Jamaah (Khilafah). Namun jika kalian tidak mampu akan hal itu, maka mintalah tolong kepada Allah, ambilah persenjataan kalian, siapkan kekuatan semampu kalian, dan rencanakan operasi kalian dalam melawan Nasrani dan murtaddin. Guna menimpakan kerugian besar dan efek jera bagi mereka. Bersemangatlah untuk meraih kesyahidan di jalan Allah. Dan Ketahuilah bahwa tidak ada hasil dalam peperangan kita kecuali kemenangan, terbunuh dan syahid, Jangan sampai kalian rela menjadi tawanan bala tentara thawaghit itu. Bersabar dan yakinlah, sungguh Allah akan menaklukan negri ini dan memberikan kita tamkin di dalamnya, sebentar lagi dengan izin Allah.

Allah ta'ala berfirman, “Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.” (QS. al Anbya: 105)

Jangan sampai kalian terpengaruh dengan orang-orang yang meninggalkan dan menelantarkan kalian. Kalian adalah Thaifah Manshurah, yang menang atas musuhnya, walhamdulillah. Maka bersabarlah atas keterasingan kalian.

Allah ta'ala berfirman, “Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya)”. (QS. an-Nisa: 84).

Tanya: Apa pesan yang ingin anda sampaikan untuk Nasrani di Mesir?

Jawab: Kami katakan kepada mereka, “Sungguh ketetapan Allah berlaku atas kalian, hukum Allah dan Rasul-Nya akan diterapkan pada kalian, sungguh kalian diberi tiga pilhan: Islam, Jizyah, dan perang. Senjata-senjata dan loyalitas kalian terhadap Thawaghit murtaddin pun bala tentaranya tidak akan bermanfaat bagi kalian. Mereka sendiri saja tidak bisa menjaga dirinya dari serangan junud Khilafah atas karunia Allah, lalu bagaimana bisa mereka menjaga kalian? Sungguh kekafiran dan kecongkakan kalian akan menyebabkan kebinasaan kalian dengan adzab Allah atau melalui tangan kami.

Tanya: Apa pesan anda untuk kaum muslimin di Mesir?

Jawab: Aku katakan kepada mereka, “berpegang teguhlah dengan kitab Allah dan sunnah RasulNya, gigitlah keduanya dengan kuat. Terapkan keduanya dalam kehidupan kalian, dan jangan takut kepada musuh. Yakinlah akan janji Allah untuk hamba-hamba-Nya yang beriman, “Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan” (QS. Ali Imran: 111)

Kami peringtakan dan mewanti-wanti kalian, jangan sekali-kali mendekati tempat-tempat kaum Nasrani, juga perkumpulan tentara dan polisi, pun tempat-tempat pemerintahan dan tempet perekonomian mereka. Jauhi tempat-tempat keberadaan rakyat negara-negara barat salibis, tempat menyebarnya mereka dan selainnya. Karena semua tempat ini merupakan target bagi kami, dan kami bisa menghantamnya kapan saja dengan izin Allah. Kami tidak rela salah satu dari kalian terkena imbas dari operasi kami atas orang-orang kafir dan musyrikin, maka jauhilah mereka. Beritahukan kepada mereka yang belum mengetahuinya, kita memohon kepada Allah keselamatan untuk kami dan kalian.

Tanya: Apa pesan yang anda sampaikan untuk Thawaghit Mesir?

Jawab: Aku katakan kepada musuh-musuh Allah, “Wahai kalian para thaghut pengecut. Kalian bertambah kafir dan sewena-wena, kalian berbuat kerusakan di bumi, kalian timpakan kepada umat Islam yang lemah siksaan yang pedih. Kalian ingin menutupi kekalahan dan kelemahan kalian dalam peperangan melawan junud Daulah Islamiyah, namun kalian tidak mungkin bisa. Kedok kalian telah terbongkar. Kami kan selalu mengintai kalian. Kemenangan adalah milik kami sebentar lagi dengan izin Allah. Maka nantilah sungguh kami bersama kalian juga menanti. Permintaan bantuan kalian kepada Yahudi tidak akan berguna dalam peperangan ini, mereka lebih buta dan lebih bodoh dari kalian. Mereka senantiasa kalah disetiap negri dimana mereka memerangi kami. Pertolongan tidak datang kecuali dari sisi Allah”.

Aku katakan kepada bala tentara Thaghut murtaddin, Bertaubatlah dari kemurtadan kalian dan berlepas dirilah dari pemerintahan ini, dan musuhilah mereka sebelum kalian tertangkap. Jika kami berhasil menangkap kalian, maka tidak ada balasan kecuali pembunuhan. Sungguh kami sangat mengetahui penyiksaan dan penekanan kalian atas muwahidin di penjara-penjara. Kalian telah terang-terangan menampakkan permusuhan dan peperangan kalian atas Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Kami peringati kalian, jangan sekali-kali mengganggu sedikitpun keluarga mujahidin dan istri-istri mereka, mereka tidak sama seperti selainnya. Namun jika mata kalian buta, dan pendengaran kalian tuli dari peringatan ini, dan kalian malah sombong dan tidak berhenti dari perbuatan pengecut kalian ini. Maka kami bersumpah Demi Allah yang maha perkasa dan kuat, kalian tidak akan merasa aman meski sejenak dengan izin Allah yang maha Agung, kalian tidak akan beruntung sampai kapanpun. Allah maha Menang atas segala urusan-Nya akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

ABU JIHAD AL-KUBAYIR, HAFAL KITABULLAH DAN MENGAMALKAN ISINYA

RUMIYAH 9 - SYUHADA

ABU JIHAD AL-KUBAYIR
HAFAL KITABULLAH DAN MENGAMALKAN ISINYA, KAMA NAHSHIBUHU WALLAHU HASHIBUHU

Allah ta'ala akan menunjukkan pada hambaNya jalan keselamatan jika ia bersungguh-sungguh mencarinya meskipun sedikitnya orang-orang yang mengadakan perbaikan dan sebaliknya banyaknya para penyeru kesesatan di sekelilingnya.

Zaid bin Amru radhiyallahu anhu mengetahui kebenaran dan beriman kepada Allah di tengah lingkungan jahiliyah. Amru bin ‘Abasah as-Sulami radhiyallahu anhu menyeberangi gurun pergi ke Makkah demi mencari kebenaran dan menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu membenarkan dan mengimaninya.

Begitulah orang-orang yang bersungguh-sungguh ingin mengikuti millah bapak kita Ibrahim alaihis salam yang berkata, “Sesungguhnya aku pergi menghadap Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. ash-Shaffat: 99).

Abu Jihad Abdurrahman al-Kubayir taqabbalahullah, berasal dari kota Buraidah, Jazirah Arab. Ayahnya wafat ketika masih kecil, sehingga ia hidup sebagai yatim di bawah asuhan ibundanya. Dalam hatinya tumbuh kecintaan kepada masjid dan perhatiannya tercurahkan kepada kitab Allah ta'ala. Ia telah menghafal al-Qur’an pada usianya yang masih belia. Pikirannya selalu sibuk tentang bagaimana menolong Diennya.

Karena dua sebab inilah dedengkot Sururiyah menemukan barang berharganya. Mereka menariknya dan mengangkat kedudukannya diantara kawan-kawannya. Mereka memberinya tanggung jawab untuk membimbing salah satu halaqah tahfizh yang mereka kelola agar merasa dirinya mempunyai kedudukan dan menjadi buah bibir mereka dan waliyul amri murtadnya. Jabatan apapun diberikan begitu saja oleh Thaghut kepada kelompok ini agar para pemuda terbius sehingga akan dengan mudahnya menjadi hamba Thaghut dan tuan salibisnya. Manhaj mereka adalah berdamai dengan thaghut dan sebaliknya memerangi mujahidin. Thaghut Alu Salul memberikan wewenang penuh kepada kelompok ini untuk membentuk, melarang, dan membubarkan halaqah-halaqah tahfizh di masjid-masjid, serta membatasinya pada masjid tertentu saja, sehingga elemen-elemen kelompok sesat ini bisa mengaturnya dengan leluasa. Mereka memilih penuntut ilmu yang tampak menonjol untuk diserahi sebuah halaqah tersendiri sehingga mereka bisa mengontrolnya dan mempersiapkannya memikul tanggung jawab penting dalam proyek keji mereka.

Ikhwah kita ini telah mencurahkan seluruh usahanya bersama mereka. Ia selalu menghadiri majelis-majelis dan pertemuan mereka, serta membela figur-figur dan masyayikhnya. Hingga akhirnya Allah memberinya hidayah dan menyelamatkannya ketika menemukan -qadarullah- situs internet yang fokus terhadap kabar mujahidin. Ia terkaget-kaget, dan terus menelusurinya. Mulailah ia menelaah manhaj Ahli Tauhid. dan sadar dengan sikap rezim Saudi yang sejatinya memerangi agama Allah. Dia mulai berdialog dengan kawan-kawannya mengenai beberapa persoalan. Karena cintanya kepada kebenaran, dia tidak berdiam diri setelah mengetahuinya. Dia mulai berdialog dengan para “masyayikh” dan pengajarnya di halaqah tahfizh. Ia berupaya menjelaskan kebenaran kepada mereka. Ia berbaik sangka kepada mereka, tidak mengetahui seberapa besar kesesatan dan kebusukan mereka. Begitulah berjalan sampai beberapa waktu. Ia senantiasa berusaha menunjukkan kebenaran kepada mereka dan mereka berusaha mengembalikannya kepada jalan kesesatan.

Makar yang gagal

Belum genap tahun pertama universitasnya, intel Alu Salul menciduknya dan menjebloskannya ke dalam penjara karena beberapa surat yang ditulisnya untuk menasehati ulama-ulama busuk itu jatuh ke tangan intelejen. Mereka menginterogasinya berkenaan surat-suratnya itu selama beberapa waktu. Ketika mereka tidak menemukan kecuali usahanya menyangkal tuduhan yang dilemparkan pada mujahidin, dan belum terlalu jauh menyelami jalan jihad, akhirnya mereka hanya menjatuhkan hukuman beberapa tahun penjara atasnya. Mereka bermaksud menakut-nakutinya dan para pemuda di sekitarnya yang berpikir untuk keluar dari jalan “masyaikh” resmi dan para “syaikh” yang telah tunduk pada thaghut. Dengan itu secara tidak langsung mereka –semoga Allah membinasakan mereka– telah membantunya dengan sebaik-baiknya.

Didalam penjara ia bertemu dengan beberapa ikhwan Muwahhid yang kufur kepada thaghut Alu Salul, kepada agama dan ulama mereka. Ia belajar dari mereka hal-hal yang sulit ia dapatkan di luar penjara. Hingga ia memahami kafirnya thaghut dan tentaranya, serta sadar akan hakikat keledai ilmu, yang sejatinya mereka itu lebih kafir dan lebih pantas dibunuh daripada tentara thaghut dan intelijennya.

Dia telah berbuat baik padaku ketika membebaskanku

Dia mendekam di penjara selama tiga tahun sampai Allah membebaskannya bersamaan dengan awal fase jihad di Syam. Setelah mengecap kebebasan dia mulai mencari cara menuju medan Jihad dan mengatasi larangan perjalanan atasnya. Selama beberapa bulan ia dalam kondisi seperti itu sampai Allah memudahkan jalan menuju Syam. Di sela-sela menunggu waktunya ia menyiapkan beberapa materi media dan mengumpulkan untaian kalimat mujahidin dan ulamanya untuk di bagikan kepada pemuda. Selain itu dia juga ikut meramaikan jejaring sosial bersama para anshar jihad. Ketika Allah bukakan jalan untuknya dia tidak menunggu ataupun ragu sedikitpun. Dia segera berangkat dengan meminta pertolongan kepada Allah sehingga sampai –berkat anugrah Allah- di Syam dengan mudah.

Setelah selesai menjalani mu’askar ia segera mulai menyelesaikan proyek-proyek dakwah dan medianya. Ia bagi-bagikan materi yang telah dikumpulkannya kepada para ikhwah agar mereka dapat mengambil manfaat di waktu luangnya. Dia selalu merasa rugi jika ada waktu yang tersia-siakan tanpa memberi manfaat untuk Islam dan kaum muslimin.

Dari pengalamannya bersama para keledai Ilmu dan penyeru kesesatan itu dia mengetahui betapa mereka berdampak negatif kepada kaum muslimin. Sehingga ia selalu memperingatkan orang-orang dari mereka pada tiap kesempatan. Ia selalu menyeru untuk menjauhi figur-figur yang dijadikan thaghut oleh manusia itu, yang tetap diikuti sekalipun sesat. Terlebih kebusukan mereka itu sampai merambah medan jihad. Mereka ikut campur dalam setiap perkara demi melaksanakan instruksi tuan mereka untuk merusak jihad dan memprovokasi mujahidin.

Sehingga tidak lama berselang muncullah gerakan shahawat yang mengkhianati mujahidin melalui fatwa-fatwa dan wasiat-wasiat mereka. Allah meneguhkannya dalam menghadapi hal itu. Ia mendengar ada sekelompok pemuda yang ragu-ragu untuk memerangi shahawat, maka diapun segera menemui mereka, lalu mengumpulkan dan menyampaikan khutbah yang melapangkan dada para pemuda ini untuk terus memerangi orang-orang murtad itu dengan penuh keteguhan dan keyakinan.

Ya Rabbku bantulah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu

Setelah shahawat berhasil ditumpas di beberapa daerah dan para Mujahidin berkumpul di Aleppo Utara, Abu Jihad pindah ke kota Manbij dan beraktivitas di Markas Hisbah menegakkan amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran.

Kemungkaran sekecil apapun yang ditemukannya pasti diingkarinya. Jika tidak maka ia akan menyuruh kepada kebaikan. Tidak ada seorang awam atau ikhwah mujahidpun kecuali pasti diserunya kepada kebenaran sesuai dengan kondisinya, hingga hal itu menjadi ciri khasnya. Tidaklah anda mendapatinya di suatu tempat kecuali sedang berbicara dengan si ini dan menasehati si itu. Siang malam ia bersungguhsungguh mencari pahala di ranah ini. Ia dan kawan-kawannya di Manbij berperan penting dalam mengadakan daurah-daurah syar’i untuk para pelaku maksiat dan kemungkaran.

Demikianlah aktivitasnya dalam waktu yang cukup lama, tidak putus asa maupun bosan. Tekadnya adalah menjunjung tinggi Laa ilaaha Illallah. Ia laksana pelita yang tak pernah padam saat berada di tengah-tengah Sururiyah, dan di medan jihad ia laksana gunung yang terus bergolak. Mujahidin terkagum-kagum dengan kesabaran, keteguhan, dan kesungguhannya dalam setiap bidang, khususnya yang tidak terkait dengan administrasi. Pekerjaan pokoknya tidaklah mampu dipikul kecuali oleh seseorang yang kuat dan sangat sabar. Puluhan bahkan ratusan orang dan permasalahan menemuninya di Markas Hisbah. Meskipun begitu senyum tidak pernah terpisah dari wajahnya, sehingga seluruh kaum Muslimin mencintainya. Hal itu menjadi sebab – setelah taufiq Allah – banyaknya orang yang mendapat hidayah untuk bergabung dengan mujahidin.

Orang-orang yang jujur dengan janji mereka

Meski dengan segala kesungguhannya ini, meski bahwa dialah yang pertama kali menyambut seruan tempur, ia selalu menuduh dirinya sendiri bersifat munafik lantaran selama ini jauh dari garis pertempuran. Betapa sering dia mendesak amirnya agar memindahkannya ke batalyon tempur agar selalu berada dalam ribath, akan tetapi amirnya selalu mengingatkannya bahwa tanggung jawabnya itu amat penting dan sedikit yang mampu memikulnya. Sampai tibalah saat pertempuran Manbij. Ucapannya itu dibuktikan dengan aksinya. Titik-titik ribath di Manbij tak pernah ditinggalkannya.

Pada hari ke tiga belas Ramadhan, sekelompok prajurit murtad PKK berhasil menyusup ke titik ribathnya. Mengetahui hal itu tidak membuatnya mundur. Senjatanya segera diraihnya untuk menyerbu mereka. Para ikhwah mendengarnya melalui walkie-talkie berkata aku telah membunuh satu murtad! Kemudian kedua kalinya, lalu ketiga kali, hingga dia berhasil membunuh lima orang murtad. Kemudian kakinya tertembak, namun dia tetap bertahan, sampai Allah menganugerahkan mati syahid lewat ledakan RPG. Itulah akhir hayat yang dicita-citakannya. Dia pernah berdoa agar tidak terbunuh kecuali telah membunuh dan mencederai orang kafir.

Dia telah gugur –semoga Allah merahmatinya- namun amalnya tetap abadi menjadi saksinya nanti di hari kiamat. Proyek-proyek hisbah, dakwah, taklim, media dan proyek-proyek lainnya terus berjalan dan menjadi shadaqah jariyah untuknya dengan izin Allah.

BAYAN KANTOR PUSAT UNTUK PEMANTAUAN DEWAN SYAR'I

RUMIYAH 9 - TA'MIM

BAYAN KANTOR PUSAT UNTUK PEMANTAUAN DEWAN SYAR'I

Kantor Pusat Untuk Pemantauan Dewan Syar'i telah merilis statemen penjelasan sebagai berikut :

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat serta salam untuk Pemimpin Mujahidin, Nabi Muhammad, juga seluruh saudara dan sahabatnya. Selanjutnya,

Allah ta'ala berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hambaKu hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaithan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (al-Israa`: 53)

Belakangan ini, telah menyebar suatu persoalan pemicu terjadinya perselisihan terkait sejumlah permasalahan yang menjadikan hati dan mulut saling bersengketa, serta merusak tali persahabatan di antara mereka. Permasalahan ini merupakan salah satu dari sekian permasalahan yang tidak pernah kami anggap remeh. Sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperingatkan kita tentang hal itu, dan menyebutnya sebagai sesuatu yang dapat memangkas agama. Beliau bersabda, “Karena sesungguhnya rusaknya hubungan dapat memangkas (agama).”

Kami telah menelaah pokok permasalahan yang diperselisihkan, terkait dengan hukum orang yang abstain (tawaqquf ) dalam mengkafirkan orang-orang musyrik yang berafiliasi kepada Islam, dan segenap pendapat di dalamnya. Kami menyimpulkan, ada dua pendapat yang bertentangan antara ifrath (melampaui batas, ekstrem) dan tafrith (meremehkan, longgar). Dengan izin Allah, nanti akan disebutkan rincian dua pendapat tersebut, dan pendapat yang kami yakini benar di dalam masalah ini.

Pendapat Pertama:
Barangsiapa abstain dalam mengkafirkan orang-orang musyrik (menyembah selain Allah) yang berintisab (berafiliasi) kepada Islam, maka dia musyrik seperti mereka. Pasalnya, mengkafirkan mereka merupakan pokok ajaran agama (ashlu din). Orang yang abstain dalam menghukumi mereka tak ubahnya orang yang menyembah selain Allah. Secara mutlak, nama dan hukum untuk dia disamakan seperti mereka.

Pendapat Kedua:
Sesungguhnya (takfir) pengkafiran bukan termasuk pokok ajaran agama, melainkan hanyalah salah satu dari sekian lawazim-nya (rekuisisi, hal-hal yang diperlukan). Orang yang abstain dalam mengkafirkan orang-orang musyrik yang berasosiasi dengan Islam, dia tidaklah kafir sampai hujjah ditegakkan kepadanya, dilenyapkan syubhatnya (kesamaran), dan tak tersisa lagi ruang penakwilan.

- Maksud dari ungkapan “pokok ajaran agama (ashlu din)” dalam dua pendapat tadi adalah sesuatu yang mengokohkan (afirmasi) tauhid sebelum hujjah kerasulan.

Setelah meninjau ulang permasalahan ini, dengan memohon pertolongan Allah, kami berpendapat:

1. Pendapat pertama mengandung pemahaman yang rusak. Karena sesungguhnya syirik akbar memiliki esensi (hakikat) dan karakter (sifat) yang apabila terealisasikan, maka disematkanlah nama “musyrik” bagi orang yang menyandang esensi dan karakternya. Jadi, seandainya kita menyamakan orang yang abstain dalam mengkafirkan orang musyrik seperti orang yang menyembah selain Allah secara mutlak, maka konsekuensinya adalah keharusan mengkafirkan orang yang abstain dalam mengkafirkan orang musyrik secara pasti, karena tidak ada udzur jahl (dalih kebodohan) di dalam syirik akbar. Maka orang yang abstain (menurut pendapat pertama) adalah orang musyrik, dan orang yang abstain (dalam mengkafirkan orang yang abstain dalam mengkafirkan orang musyrik) juga sama musyriknya. Dan seterusnya. Hal demikian merupakan lazim haqiqi dan tidak bisa diumpamakan dengan menggunakan pijakan ketetapan (at-ta`shil) seperti ini. Dan juga dapat mengakibatkan pengkafiran dengan metode sekuens (rangkaian tak berujung) yang bid’ah lagi bathil. Hal ini menjadi bukti bahwa pendapat ini adalah mengada-ada dan timbul dari pemahaman keliru terhadap teks-teks, tidak bisa dibatasi, dan tertolak disebabkan ketidakabsahan konsekuensinya.

2. Pendapat kedua pun mengandung pemahaman yang rusak. Karena menjadikan persoalan mengkafirkan orang-orang musyrik tak ubahnya persoalan-persoalan al-khafiyah (samar) yang di dalamnya tidak memungkinkan untuk penegakan hujjah dan pengkafiran orang yang abstain selama dia memiliki syubhat (kerancuan, penyimpangan) atau interpretasi (takwil). Sejatinya, ini adalah penegasian rusak terhadap satu pembatal dari sekian pembatal keislaman yang disepakati. Sesungguhnya, munculnya syubhat adalah perkara genting lagi mesti dilenyapkan di Daulah Islamiyah yang berhukum dengan syariat. Sedangkan menjadikan perkara genting sebagai pondasi bangunan hukum, maka ini adalah penegasian terhadap hukum itu sendiri dan bertentangan dengan segenap pemahaman tentang izharud-din (penegakan agama). Tentunya hal demikian menyelisihi sesuatu yang telah dilansir para ulama agama, khususnya para ulama Dakwah Najdiyah rahimahumullah.

3. Dilarang menggunakan dua istilah al-ashlu (pijakan ketetapan hukum) dan al-lazim (konsekuensi) dalam memahami “La Ilaha Illallah” dan “kafir kepada thaghut” dengan memakai metode kontroversial (diperdebatkan) yang notabene adalah pendapat mengada-ada juga tidak bermanfaat serta tidak diperintahkan Allah. Dan mengharuskan darinya lawazim (konsekuensi) yang cacat, contohnya: membuang sesuatu dari pokok ajaran agama kaum muslimin, padahal telah ditetapkan melalui hujjah kerasulan, berdasarkan definisi ini (misalnya iman terhadap kenabian Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Sebagaimana ia juga mengakibatkan perselisihan di kalangan mujahidin seputar apa yang termasuk dalam makna alashlu dan apa yang bukan termasuk ke dalamnya. Ini hal yang kami wanti-wanti dan kami larang, karena perselisihan dalam permasalahan berbahaya ini memicu terjadinya tabdi’ (vonis bid’ah) dan pengkafiran pihak yang bertentangan secara zhalim dan keji (keberadaan persoalan yang diperselisihkan adalah kalimat tauhid itu sendiri). Dan hal ini tidak mungkin ditolerir di Daulah Islamiyah.

4. Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab –semoga Allah menerimanya di barisan syuhada– ditanya dengan permasalahan serupa:

Masalah Keenam: Tentang al-muwalat (pembelaan) dan al-mu’adat (permusuhan). Apakah ia termasuk ke dalam makna La Ilaha Illallah, ataukah termasuk ke dalam konsekuensinya (lawazim)?

Jawaban: Sebaiknya dikatakanlah “Allahu a’lam” (Allah lebih tahu). Namun seyogyanya seorang muslim mengetahui bahwa Allah mewajibkannya untuk memusuhi orang-orang musyrik dan tidak membela mereka. Juga wajib atasnya mencintai dan membela orang-orang beriman. Dia mengabarkan bahwa hal itu termasuk syarat-syarat keimanan dan Dia menafikan keimanan orang yang berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, meskipun mereka adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, saudari-saudari, atau kerabat-kerabat mereka. Adapun apakah ia termasuk ke dalam pengertian La Ilaha Illallah ataukah lawazim-nya, maka kita tidak dibebani Allah untuk membahasnya. Allah hanyalah membebani kita untuk mengetahui bahwa Allah telah mengharuskan dan mewajibkan hal itu, serta mewajibkan kita untuk mengamalkannya. Dan ini adalah kewajiban dan keniscayaan yang tidak diragukan lagi. Barangsiapa yang mengetahui bahwa hal itu termasuk ke dalam maknanya, atau termasuk salah satu lawazim-nya, maka dia bagus dan menjadi tambahan kebaikan. Dan siapa yang tidak mengetahuinya, maka dia tidak dibebani untuk mengetahuinya. Terlebih lagi apabila perdebatan dan pertikaian di dalamnya memicu timbulnya keburukan dan perselisihan, serta menyulut perpecahan di antara orang-orang beriman yang menegakkan kewajiban-kewajiban iman. Berjihadlah di jalan Allah, musuhi orangorang musyrik, belalah kaum muslimin, berdiam diri dalam persoalan itu adalah keharusan. Demikianlah pandangan saya; bahwa perbedaan lebih dekat dari sisi makna. Wallahu a’lam.

5. Dilarang menggunakan ungkapan “takfir al-’adzir” (mengkafirkan orang yang menolerir orang musyrik) untuk menghukumi orang yang abstain dalam mengkafirkan orang-orang musyrik yang berasosiasi dengan Islam, karena ia merupakan ungkapan tidak tepat. Meski kami berpendapat tidak adanya dalih kebodohan (‘udzr jahl) dalam persoalan syirik akbar, namun dari ungkapan baru ini (‘udzr jahl) tidak mesti menunjukkan bahwa orang yang menolerir adalah abstain dalam mengkafirkan. Karena ada dari mereka yang menolerir dengan dalih kebodohan namun juga mengkafirkan orang-orang musyrik, karena hujjah yang dimilikinya telah ditegakkan kepada mereka, sehingga dia bukanlah seorang yang abstain. Sebagaimana sejatinya abstain dalam mengkafirkan orang-orang musyrik tidak hanya terbatas pada persoalan ‘udzr jahl (dalih kebodohan) semata, karena boleh jadi seseorang abstain dalam mengkafirkan mereka karena sombong, menolak, mengikuti hawa nafsu, atau mengutip teks-teks ringkas yang menunjukkan keutamaan-keutamaan “La Ilaha Illalllah”. Oleh karenanya, ungkapan “takfir al-’adzir (mengkafirkan orang yang menolerir orang musyrik)” bukan ungkapan tepat untuk menghukumi seseorang yang abstain mengkafirkan orang-orang musyrik yang dimaksudkan para ulama dalam satu pembatal keislaman ini.

6. Orang yang abstain dalam mengkafirkan orang-orang musyrik (yang berasosiasi dengan Islam) sesungguhnya telah melakukan satu pembatal keislaman yang telah disepakati. Kekafirannya dilandaskan atas tegaknya hujjah dalam permasalahan ini, berbeda dengan orang yang beribadah kepada selain Allah.

Pengkafiran orang-orang musyrik adalah persoalan yang dikuatkan dengan nash-nash shorih (jelas) lagi mutawatir (valid) yang mana manusia bersepaham di dalamnya. Tegaknya hujjah dalam masalah ini adalah turunnya al-Qur’an, baik hakikat maupun hukumnya. Allah berfirman, “Katakanlah: ‘Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?’ Katakanlah: ‘Allah.’ Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Qur’an (kepadanya).” (al-An’am: 19)

Asy-Syaikh al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Ketahuilah sesungguhnya dalil-dalil atas pengkafiran seorang muslim yang shalih jika dia menyekutukan Allah, atau bergabung dengan orang-orang musyrik melawan orangorang bertauhid meskipun dia tidak berbuat syirik, sangatlah banyak; dari kalam Allah, kalam Rasulullah, dan kalam para ulama seluruhnya.”

Syaikh Abdullathif bin Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata, “Dikatakan: Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, dan perkataan para ulama, sangat jelas dan gamblang dalam mengkafirkan orang yang berdoa kepada selain Allah dan memohon sesuatu yang tak dapat menguasakannya selain Allah… ayat-ayat al-Qur’an seluruhnya menunjukkan pengertian ini, menetapkannya, kendati berbedabeda cara dan bentuk dalam menerangkan dan memperingatkannya.”

Sebagian ulama Dakwah Najdiyah berkata, “Sesungguhnya orang yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik adalah orang yang tidak membenarkan al-Qur’an. Karena sejatinya al-Qur’an mengkafirkan orang-orang musyrik, memerintahkan untuk mengkafirkan mereka, memusuhi mereka, dan memerangi mereka.”

- Hanya saja dalam permasalahan ini terkadang berkembang kesamaran terkait sebagian orangorang musyrik yang berafiliasi dengan Islam. Hal itu disebabkan merebaknya kebodohan, lemahnya dakwah, dan tersebarnya syubhat. Di sini tegaklah hujjah dengan penjelasan teks-teks jelas yang menunjukkan kafirnya orang-orang musyrik itu. Apabila dia abstain setelah adanya penjelasan, maka dia kafir.

Syaikh Sulaiman bin Abdullah rahimahullah berkata, “Apabila dia ragu perihal kekafiran mereka atau bodoh akan kafirnya mereka, maka dijelaskanlah kepadanya dalil-dalil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya g tentang kekafiran mereka. Apabila dia masih ragu setelah itu, maka dia kafir berdasarkan kesepakatan ulama: Bahwasanya barangsiapa yang ragu perihal kekafiran orang kafir, maka dia kafir.”

- Apabila masalah ini telah jelas dengan jelasnya kemunculan agama, menggema suaranya, dan telah sampai dakwahnya (sebagaimana yang terjadi di Daulah Islamiyah –semoga Allah memuliakannya), maka tidak ada pertimbangan terhadap syubhat dalam penegasian hukum syar’i. Demikianlah yang diketahui dari para ulama penyampai hidayah dalam Dakwah Najdiyah, para ulama yang menyuarakan permasalahan ini dan wafat di atas kebaikan.

Sebagian ulama Dakwah rahimahumullah berkata, “Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik di Daulah Turki, para penyembah kuburan seperti penduduk Makkah dan selain mereka, orang-orang yang menyembah orangorang shalih, dan melenceng dari mentauhidkan Allah menuju kesyirikan, dan mengganti Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dengan hal-hal bid’ah, maka dia kafir seperti mereka. Meskipun dia membenci agama mereka, membenci mereka, mencintai Islam dan kaum muslimin. Karena sesungguhnya orang yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik adalah orang yang tidak membenarkan al-Qur’an, karena al-Qur’an telah mengkafirkan orang-orang musyrik, memerintahkan untuk mengkafirkan mereka, memusuhi dan memerangi mereka.”

Dan wajib bagi para juru dakwah dan para pencari ilmu di Daulah Islamiyah untuk mewanti-wanti manusia dari kesyirikan, agar tidak terjerumus ke dalamnya, atau abstain dalam mengkafirkan orangorang muysrik. Mereka juga hendaknya menguak syubhat-syubhat orang-orang yang membela mereka, dalam rangka menegakkan kewajiban memberi peringatan dan menyampaikan dakwah. Inilah agama para nabi n dan dengan hal tersebut agama menjadi tegak.

Syaikh Abdullathif Alu asy-Syaikh rahimahullah berkata, “Pengusung ilmu (ahlul ilmi) memberikan pemahaman kepada orang-orang bodoh tentang bangunan Islam, pokok-pokok keimanan, teks- teks qath’i (pasti), dan masalah-masalah ijma’ (konsensus) adalah hujjah bagi ahlul ilmi. Tegaklah hujjah dengannya dan hukum-hukum dibangun di atasnya; hukum-hukum tentang kemurtadan dan lain sebagainya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diperintahkan untuk menyampaikannya. Allah ta'ala berfirman tentang menyampaikan hujjah dan peringatan di dalam al-Qur’an: “Supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan orang-orang yang sampai al-Qur’an (kepadanya).” (al-An’am: 19), sampai beliau rahimahullah berkata, “Secara umum, hujjah di setiap zaman sesungguhnya tegak melalui ulama yang merupakan pewaris para nabi.”

Maka kejelasan masalah pengkafiran orang-orang musyrik adalah al-ashlu (pijakan ketetapan), dan kami berada di Negara yang berhukum dengan syariat Allah, maka kewajiban pasti bagi para juru dakwah di dalamnya untuk memberi peringatan, menyampaikan dakwah, dan melaksanakan hukumhukum syar’i, serta melenyapkan segala syubhat darinya, di antaranya adalah pengkafiran orang yang abstain dalam mengkafirkan orang-orang musyrik yang berafiliasi dengan Islam. Jangan sampai ikut berpijak di atas syubhat-syubhat orang-orang bathil dan menjadikannya sebagai pokok yang menganulir hukum syar’i yang telah disepakai. Wal’iyadzu billah.

Kami juga mengingatkan putra-putra kami; para tentara Daulah Islamiyah dengan perintah Allah dan Rasul-Nya g perihal wajibnya mendengar dan patuh kepada orang yang Allah amanahkan kepemimpinan (waliyul-amr), wajibnya bersatu, menghilangkan perpecahan, sikap saling benci, dan bersengketa.

Allah berfirman, “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (al-Anfal: 46)

Allah berfirman juga, “Sesungguhnya orang-orang yang memecahbelah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (al-An’am: 159)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Maukah aku beritahukan kalian tentang sesuatu yang lebih utama dari derajat shaum, shalat, dan sedekah? Para sahabat menjawab, “Ya.” Beliau bersabda lagi, “Baiknya hubungan sesama, karena rusaknya hubungan sesama adalah pemangkas.” Dalam riwayat lainnya: “Aku tidak mengatakan memangkas rambut, akan tetapi memangkas agama.”

Shalawat serta salam tercurahkan bagi Nabi Muhammad, para kerabat, dan sahabat beliau seluruhnya.

PENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH, ANTARA MANHAJ NABAWIYAH DAN YANG MENYIMPANG (BAGIAN 3)

RUMIYAH 9 - ARTIKEL

PENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH, ANTARA MANHAJ NABAWIYAH DAN YANG MENYIMPANG (BAGIAN 3) RAFIDHAH, DALIL PALSU DAN IMAM YANG GHAIB

Para penyeru kebathilan meletakkan untuk diri mereka sendiri prinsip-prinsip rusak. Mereka lalu membangun di atasnya teori dan teologi hasil reka ciptanya. Sehingga tak lama berselang mereka menemukan bahwa teori-teori kreasi mereka itu tak bisa terus berdiri stabil di atas prinsip-prinsip itu. Maka mereka tambahkan bid’ah demi bid’ah dan kesesatan demi kesesatan pada prinsip-prinsip itu agar kuat menahan bangunan di atasnya. Tak lupa mereka susun ulang bangunan yang telah berdiri itu demi mendapatkan sedikit keseimbangan.

Mereka terus berbuat demikian sampai pada tahapan tak mampu lagi memperkuat pondasinya atau menambal bangunannya, hingga runtuhlah bangunan itu. Rugilah mereka di dunia setelah rugi akhirat. Allah d berfirman, “Maka apakah orang- orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah: 109-110).

Seperti itulah mayoritas teori yang diciptakan oleh orang-orang yang mengaku Islam dan mengklaim jujur berusaha menegakkan Daulah Islamiyah. Mereka mendasarkan upayanya itu di atas prinsipprinsip rusak. Lalu dibangunlah di atasnya aktivitas, orientasi, dan ijtihad keliru mereka. Hingga hasilnya buyarlah prinsip-prinsip itu. Maka mereka tidak punya pilihan lain kecuali memperkuat prinsip yang sudah bobol itu dengan kebathilan demi kebathilan. Semakin sesatlah mereka, dan semakin berantakan bangunannya, hingga tak ada lagi Islam yang tersisa.

Dalam diskusi kita mengenai metode-metode penegakkan Daulah Islamiyah antara pengikut minhaj nabawi dan pengikut jalan kesesatan ini, kita terpaksa meninjau agak lama mengenai percobaan Rafidhah Itsna ‘Asyriyah. Percobaan yang sampai pada tingkatan mereka kreasikan sebuah agama baru lewat tangan dan lisannya, yang tidak berhubungan sama sekali dengan Islam kecuali seperti hubungan agama-agama Yahudi dan Kristen dengan dien Ibrahim alaihis salam. Kita akan pelajari percobaan yang telah berjalan selama 11 abad ini. Percobaan terpanjang dan terjelas bagaimana suatu penyimpangan terjadi lantaran aktivitas yang didasarkan pada prinsip-prinsip rusak, sekalipun mengklaim berusaha menegakkan Daulah Islamiyah dan berupaya menjaga Islam dari bid’ah dan penyimpangan.

Dogma Nash Imamah

Rafidhah musyrik mengklaim bahwa dakwah mereka itu bersumber dari Nabi shallallahu alaihi wasallam sendiri ketika beliau berwasiat dan menyerahkan khilafah dan imamah kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dan keturunannya. Mereka tidak mempunyai bukti yang memperkuat wasiat ini kecuali takwil-takwil bathil yang mereka ciptakan dari teks-teks Qur’an dan Sunnah. Bahkan bukti-bukti yang ada malah mendongkel klaim mereka itu.

Di antaranya kata-kata Umar radhiyallahu anhu, “Sesungguhnya jika aku tidak menunjuk seseorang sepeninggalku maka Rasulullah g berbuat demikian. Jika aku menunjuk seseorang maka Abu Bakar juga berbuat demikian.” (Diriwayatkan oleh Muslim).

Di situ ada dalil bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak menunjuk Ali maupun para sahabat lain radhiyallahu anhum sepeninggalnya.

Bukhari meriwayatkan dari al-Asud, ujarnya, “Mereka menyebut-nyebut pada Aisyah bahwa Ali k adalah penerima wasiat (Rasulullah). Maka ia menyangkal, “Kapan beliau berwasiat padanya? Aku menyandarkan beliau di dadaku. Lalu beliau meminta siwak dan bersiwak sambil bersandar, hingga aku tidak sadar beliau telah meninggal. Lalu kapan beliau berwasiat?”

Demikian juga para sahabat telah sepakat membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Tidak ada seorangpun yang diklaim sebagai penerima wasiat itu yang menentangnya, padahal mereka adalah Ali dan putranya Hasan dan Husain radhiyallahu anhuma. Masih banyak lagi bukti yang menyangkal kisah wasiat ini.

Di antara sekte-sekte Rafidhah dan simpatisan ahlul bait sendiri pun saling sikut mengenai kepada siapakah wasiat itu disampaikan. Tiap sekte mengklaim salah seorang ahlul bait yang berhak mendapatkannya. Khususnya pasca terbunuhnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Ada yang mengalungkannya pada keturunan Abbas bin Abdul Mutthalib, ada juga yang menyematkannya pada anak cucu Hasan bin Ali, atau Husain bin Ali, atau Muhammad bin Ali al-Hanafiyah. Bahkan ada yang memakaikannya pada keturunan Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Tidaklah pihak yang disematkan padanya wasiat itu meninggal kecuali hawa nafsu dan syubhat semakin mencerai beraikan mereka. Tiap-tiap mereka menyematkannya pada siapapun yang dikehendakinya. Barangkali jika ada dari mereka memang memiliki teks wasiat itu tentulah akan menjadi pihak pemenang. Namun kenyataannya tidak ada yang bisa dimanfaatkan sebagai bukti untuk melemahkan lawannya kecuali mukjizat-mukjizat fiktif lagi imajiner. Mereka gunakan kesaksian dan baiat batu serta pohon untuk membuktikan imamah Ali bin Husain dan menolak imamah saudaranya Zaid bin Husain.

Dogma Imam Maksum Asal Kesesatan Rafidhah

Kita bisa menyimpulkan prinsip utama yang dibangun di atasnya agama Rafidhah dan seluruh penyimpangan serta kesesatannya yaitu bahwa mereka meyakini jika Daulah Islamiyah mustahil tegak kecuali melalui seorang imam yang memenuhi syarat-syarat hasil reka ciptanya. Syarat terpentingnya adalah bahwa ia haruslah terjaga dari semua hal yang mencemarkan ‘adalahnya (nama baik) lahir batin, mengetahui segala sesuatu termasuk hal yang gaib, dan kepemimpinannya itu merupakan perintah teks langsung dari Allah ta'ala. Mereka meyakini agama manusia tidak akan lurus tanpa imam ini. Jika manusia mempercayai imam-imam itu dengan seluruh sifatnya dan menaati seluruh perintahnya maka perkara mereka akan lurus dan daulahnya adalah daulah ‘ala minhajin nubuwwah.

Tak cukup mereka menyematkan pada sang imam sifat-sifat itu. Bagi mereka sang imam harus diistimewakan secara mutlak dari manusia lain. Tak boleh ada yang menyerupainya dan tak boleh ada yang menandinginya. Barangsiapa ada yang menandinginya sekecil apapun itu maka dia adalah thaghut. Barangsiapa ada yang menyematkannya pada si penanding itu sifat-sifat sang imam maka dia telah musyrik kepada Allah ta'ala.

Prinsip rusak ini bersumber dari pandangan mereka bahwa seorang imam itu wajib ditaati dan diikuti layaknya Nabi shallallahu alaihi wasallam. Oleh karena itu, seorang imam tidak mungkin berasal dari kaum muslimin umumnya yang boleh lupa, salah, bodoh, dan terkena hawa nafsu. Ia haruslah mengetahui segala sesuatu yang ingin diketahuinya. Ia harus suci dari kekurangan-kekurangan manusia seperti lupa, salah, dan condong pada hawa nafsu agar tidak ditaati dalam kemaksiatan dan diikuti dalam kesesatan. Ia tidak boleh ditandingi kekuasaannya agar tidak terjadi fitnah. Ia tidak boleh ditandingi keilmuannya agar tidak terjadi perselisihan dan lalu perpecahan.

Ketika sifat-sifat yang mereka jadikan prasyarat itu merupakan rahasia yang tidak mungkin diketahui, maka mereka berpandangan bahwa sang imam harus dipilih langsung oleh Allah ta'ala. Karena hanya Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi. Bahkan mereka melangkah lebih jauh dengan memandang bahwa wajib bagi Allah untuk mengangkat seorang imam. Jika tidak maka –menurut mereka– Allah telah berbuat zhalim jika tetap mengazab mereka sedangkan Dia tidak mengangkat seorang imam pun. Ketiadaan seorang imam, yang mengisi kedudukan rasul, berarti tidak ada hujjah atas mereka. Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan. Oleh karena itu, mereka menyifati individu yang disemati imamah itu sebagai ‘hujjah’, yakni bukti yang terang atas manusia. Agar dengannya Allah bisa mengazab yang bermaksiat kepada sang imam. Kemudian pemilihan ini haruslah dengan sebuah teks terang, yang mereka sematkan pada diri Ali radhiyallahu anhu dan keturunannya.

Tauhid Ketaatan Mendongkel Teori Maksum

Kerusakan prinsip mereka mengenai kemaksuman imam berasal dari kekeliruan mereka dalam persoalan ketaatan kepada imam. Allah ta'ala mengaitkan ketaatan pada imam itu dengan ketaatan pada-Nya dan RasulNya, tidak sepadan. Selama pemimpin itu menyuruh pada yang makruf maka taat kepadanya berarti taat kepada Allah ta'ala. Ketika taat pada pemimpin itu bertentangan dengan taat kepada Allah maka harus bermaksiat padanya dan hanya taat pada Allah semata.

Allah ta'ala juga telah mewajibkan taat pada ulil amri. Namun Dia juga memerintahkan untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya –berarti kembali kepada Kitab dan Sunnah– saat terjadi perselisihan, untuk mengkonfirmasi jika ketaatan kepada amir berarti taat kepada Allah. Firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa: 59).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa bermaksiat padaku berarti bermaksiat pada Allah. Barangsiapa menaati amirku berarti telah menaatiku. Barangsiapa bermaksiat pada amirku berarti telah bermaksiat padaku.” (HR. Muslim).

Tidak masuk akal Rasul shallallahu alaihi wasallam berwasiat untuk menaati amirnya ketika Rasul masih hidup sedangkan ia menyelisihi perintah-perintah Rasul.

Demikian juga Rasul tidak mensyaratkan bahwa imam yang wajib ditaati itu haruslah maksum.

Beliau bersabda, “Tidak ada ketaatan dalam maksiat. Taat itu hanya dalam hal makruf saja.” (HR. Bukhari).

Dengan demikian, maka tak perlu lagi imam yang maksum, selama taat dan mengikuti imam ini itu terikat dengan taat kepada Allah ta'ala dan mengikuti RasulNya shallallahu alaihi wasallam. Inilah jalan ahlus sunnah wal jamaah sejak masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sampai Allah menghancurkan dunia dan seisinya. Wajib taat kepada ulil amri kaum muslimin dalam hal makruf selama mereka masih islam. Kezhaliman dan kejahatan mereka tidak menghalangi hakhaknya selama mereka tidak memerintahkan untuk bermaksiat.

Tambalan Bid’ah Pada Prinsip Rusak

Berdasarkan prinsip rusak mereka bahwa bumi tidak akan pernah kosong dari seorang maksum yang meneruskan pendahulunya melalui teks wasiat semasa hidup imam sebelumnya. Bahkan mereka mensyaratkan sang imam harus menyerahkan tongkat wasiat kemaksuman itu pada salah satu anaknya. Hasilnya Rafidhah terpaksa berbenturan dengan berbagai persoalan pelik. Persoalan itu memaksa sebagian mereka rujuk dari prinsip rusak itu. Sedangkan sebagian lainnya semakin bertambah penyimpangannya. Hal itu demi menjaga prinsip yang sudah berevolusi menjadi pondasi agama mereka secara kesuluruhan bukan sekedar pada persoalan imamah saja. Ada beberapa contoh yang menunjukkan hal itu.

Mereka mengklaim semasa hidup Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib bahwa ahli wasiat setelahnya adalah putranya Ismail. Ketika ternyata Ismail meninggal semasa hidup ayahnya terjadilah kontradiksi antara dogma wasiat dengan meninggalnya sang ahli wasiat. Tipuan ini kemudian disadari oleh sekelompok orang. Mereka menyadari kedustaan teori wasiat ini. Karena tidaklah masuk akal jika Allah telah menentukan seseorang itu menjadi imam lalu kemudian mencabut nyawanya sebelum menyerahkan imamah padanya. Namun yang lainnya masih terus berpegang dengan prinsip ini, dan disusunlah di atasnya bangunan yang lebih rusak.

Sekelompok orang lalu berpandangan bahwa imamah Ismail bin Ja’far masih terus berlanjut. Mereka mengingkari kematiannya, atau mengklaim bahwa ia hidup lagi. Mereka mendustakan imamnya sendiri Ja’far (yang mereka sendiri menyebutnya asshadiq [yang jujur]) ketika mengabarkan kematian putranya itu. Mereka mengklaim jika sang imam mereka-reka kematian putranya itu lantaran taqiyah untuk melindunginya dari musuh-musuhnya. Mereka mengklaim jika sang putra tak terlihat oleh manusia. Dari merekalah berkembang sekte Ismailiyah Bathiniyah yang masih terus eksis hingga saat ini. Mereka menyematkan rentetan imam fiktif pada keturunan Ismail bin Ja’far. Dari sinilah berkembang bid’ah teologi ghaibah (sang imam tak muncul di kalangan manusia, penj.), hidup abadi, dan reinkarnasi (imam mereka kembail hidup setelah mati, penj.)

Sebagian yang lain malah berdusta atas nama Allah ta'ala. Mereka berpandangan jika boleh-boleh saja Allah merubah teks wasiat yang telah diberikannya pada imam yang baru. Padahal sebelumnya mereka juga mengharuskan bagi Allah untuk menurunkan teks wasiat atas imam sebelumnya. Mereka namakan kreasi menjijikkan dan bid’ah dalam Din ini dengan teologi al-bada. Maknanya adalah bahwa Allah ta'ala merevisi nash wasiat itu kepada orang lain. Semoga Allah membinasakan mereka atas kekejian itu. Berdasarkan hal itu mereka (yaitu sekte al-Mausawiyah) merevisi nash wasiat dari Ismail bin Ja’far, yang telah meninggal, kepada saudaranya Musa bin Ja’far (yang dijuluki al-Kazhim), demi menyelamatkan teologi mereka itu dari kepunahan.

Teori Yang Dikuatkan Dengan Bualan

Ketika Ja’far bin Muhammad meninggal tanpa adanya nash mengenai imam setelahnya, ekstremis Rafidhah terperangkap dalam kebingungan baru. Mereka lalu menyematkan imamah kepada putra sulungnya yaitu Abdullah bin Ja’far (yang mereka sebut sebagai al-afthah). Namun sebagiannya lalu mengingkari imamahnya ketika ternyata ia berpandangan berbeda dengan pendapat mereka. Mereka menuduhnya fasik lalu bergabung dengan pihak yang menyematkan imamah pada saudaranya Musa bin Ja’far.

Adapun yang tetap menyematkan imamah pada Abdullah bin Ja’far ternyata kembali terperangkap dalam kebingungan ketika ia meninggal tanpa mempunyai keturunan. Ia tidak mempunyai anak yang bisa disematkan padanya imamah itu. Akibatnya sebagian pihak lalu rujuk dari dogma wasiat fiktif itu. Namun pihak lain malah bertambah kesesatannya. Mereka berdusta atas nama imamnya itu dengan mengklaim bahwa sang imam mempunyai putra yang belum dilahirkan. Mereka mengklaim sang putra tidak terlihat dalam pandangan manusia. Mereka akhirnya mengulangi pendapat ekstrem mengenai diri Ismail bin Ja’far. Teologi ghaibah diadopsi secara total. Bahkan mereka melangkah lebih jauh lagi dengan berbaiat pada seorang gaib yang belumlah dilahirkan apalagi melihat dunia walaupun sesaat. Mereka kreasikan rentetan imam yang tak berwujud.

Adapun yang menyematkan imamah pada diri Musa bin Ja’far (yang dijuluki al-Kazhim) kembali terperangkap dalam kebingungan ketika sang imam wafat dalam penjara tanpa menunjuk imam setelahnya. Maka mereka kembali mengkreasikan bualan demi bualan demi menjaga teori bathil dan prinsip rusaknya itu. Yang terus menetapkan imamahnya menyangkal wafatnya dan meyakini bahwa sang imam terus hidup namun tak nampak. Mereka disebut sekte Waqifiyah. Yang terpaksa menerima wafatnya mereka sematkan imamah pada diri putranya Ali bin Musa (yang dijuluki ar-Ridha). Sekte Waqifiyah memusuhi Ali bin Musa dan menuduhnya berdusta ketika mengumumkan kabar wafatnya bapaknya.

Dibuat Bingung Oleh Imamnya Sendiri

Adapun yang menyematkan imamah pada diri Ali bin Musa ternyata kembali terperangkap dalam kontradiksi parah ketika sang imam berbaiat pada al-Makmun bin Harun ar-Rasyid dan menerima pengangkatannya sebagai putra mahkota. Sebuah bukti baru ditambahkan pada rentetan bukti bahwa teori wasiat, nash, dan ‘ishmah (maksum) adalah tak lebih dari bualan belaka. Karena tak masuk akal jika sang imam maksum yang diangkat berdasarkan teks ilahi berbaiat pada lelaki yang merampas kekuasaannya yang agama dan ilmunya tak disucikan. Maka di depan mereka ada dua pilihan, menaati pilihan sang imam maksum yang berakibat mendongkel dogma nash imamah, atau menyelisih sang imam maksum yang berarti menyalahkan sang imam maksum dan mengingkari kemaksumannya, yang berakibat seluruh bangunan agama mereka bakal ambruk. Namun sebagaimana biasa mereka berdalih dengan taqiyah atau al-bada, sebagaimana tingkah mereka pada tiap bualan yang mereka kreasikan.

Imamah Anak Kecil dan Orang Yang Tak Berujud

Kembali mereka tertimpa petaka ketika Ali bin Musa wafat. Rafidhah, sebagai konsekuensi pandangan mereka, terpaksa menyematkan imamah pada anak kecil, yaitu Muhammad bin Ali bin Musa (yang dijuluki al-Jawwad). Si anak baru berumur tujuh tahun ketika bapaknya wafat di Khurasan. Rafidhah tercerai berai. Satu kelompok berbaiat pada pamannya Ahmad bin Musa. Satu kelompok memandang ketidak absahan imamah ar-Ridha karena ia tidak menunjuk seorang imam sepeninggalnya dan tidak dimandikan oleh imam. Kelompok lain membaiat Muhammad bin al-Qasim bin Umar bin Ali bin Husain. Kelompok lain tetap membaiat alJawwad. Mereka mengklaim sang imam mengetahui ilmu gaib dan bisa pergi dari Madinah ke Khurasan untuk memandikan bapaknya lalu kembali dalam sekejap, dan bulan-bualan lainnya.

Perkara itu kembali terulang ketika al-Jawwad wafat di Khurasan di usia dua puluh lima tahun dan meninggalkan dua anaknya yang masih kecil yaitu Ali (al-Hadi) dan Musa. Tidak hanya itu ia juga menunjuk seseorang untuk menjaga harta keduanya sampai usia baligh. Hal itu memaksa Rafidhah berpikir keras bagimana seorang anak kecil bisa memikul perkara umat sedangkan bapaknya yang “maksum” itu tidak mempercayainya soal hartanya sendiri.

Kemudian sekelompok dari mereka kembali menentang imamah Ali al-Hadi bin Muhammad al-Jawwad. Yaitu ketika anaknya Muhammad yang diserahi wasiat meninggal ketika sang imam masih hidup, lalu sang imam menyerahkannya pada putranya yang lain yaitu al-Hasan al-Askari. Sekelompok Rafidhah tetap bersikukuh menyematkan imamah pada diri Ali al-Hadi dan mengingkari kematiannya, demi menjaga dogma wasiat yang mereka syaratkan untuk perpindahan imamah. Sedangkan kelompok lain membaiat al-Hasan al-Askari berdasarkan akidah al-bada itu.

Kali ini mereka mendapat pukulan berat ketika al-Hasan al-Askari bin Ali al-Hadi wafat tanpa mempunyai keturunan. Maka para ekstremis itu terpaksa mencontoh saudaranya al-Afthahiyah. Mereka ciptakan bagi al-Hasan al-Askari seorang anak yang tidak pernah dilahirkan yang mereka namakan Muhammad al-Mahdi, demi menyempurnakan rentetan 12 imam. Mereka mengklaim bahwa sang bocah bersembunyi di sebuah lubang di Samarra karena takut kepada musuh-musuhnya. Ia akan muncul ketika ancaman padanya hilang. Sejak bersembunyinya si bocah ini sampai sekarang, selama lebih kurang 1200 tahun, Rafidhah terus menunggu sang imam fiktif ini keluar untuk menegakkan Daulah Islamiyah berdasarkan teologi imamah maksumnya itu.

Agama Palsu di Atas Prinsip Rusak

Demikianlah perjalanan orang-orang sesat itu yang dicerai beraikan oleh Allah lantaran keluar dari jama’atul muslimin. Mereka tercerai berai menjadi sekian puluh sekte yang saling melaknat dan mengkafirkan. Kita dapati mereka menjadikan prinsip rusak dan ideologi bathilnya itu sebagai justifikasi penolakannya atas khalifah-khalifah kaum muslimin dari masa Abu Bakar sampai hari kiamat nanti. Tidak mungkin seorangpun mewujudkan syarat maksum, nash wasiat, dan mukjizat yang mereka ciptakan itu kecuali mereka sendiri yang memberikannya melalui bualan-bualannya itu. Kemudian mereka juga tidak menerima imam kecuali menurut hawa nafsunya. Oleh karena itu, kita lihat mereka terus menerus menentang orang-orang yang mereka semati imamah itu karena sang imam menyelisihi pandangan mereka, atau terjadi sesuatu takdir yang mendongkel prinsp mereka itu. Kita dapati juga bahwa orang-orang yang diklaim pencipta teori itu terus menerus menyelisihinya selama hidupnya dengan perkataan dan perbuatannya.

Mereka juga terpaksa terus menambah-nambahi agamanya dan menciptakan prinsip-prinsip baru demi menjaga keseimbangan bangunannya yang hampir runtuh. Mereka tambahkan teologi wasiat, nash, al-bada, dan lain-lain. Bahkan mereka juga merubah-rubah Kitab dan Sunnah dan mengingkari semua yang menyelisihi ideologi mereka. Mereka juga terpaksa mereka-reka cerita khayalan dan menjustifikasinya betapapun menggelikannya seperti hilang selama ratusan tahun, kembali lagi setelah hilang, menciptakan anak, imamah anak kecil, dan lain-lain.

Pada tulisan berikutnya – dengan izin Allah – kita akan bagaimana Rafidhah menciptakan sebagian besar agamanya selama masa ghaibah yang terjadi setelah bersembunyinya Muhammad al-Mahdi si bocah palsu itu. Bagaimana mereka menambah dan mengurangi agamanya sendiri selama ratusan tahun ini sampai negara najis mereka berdiri di Iran sekarang. Mereka juga berusaha melebarkan negaranya itu sampai mencakup seluruh dunia sebagai persiapan kembalinya al-Mahdi mereka setelah sebab-sebab bersembunyinya itu berhasil dihilangkan.

BERSABARLAH, SESUNGGUHNYA JANJI ALLAH ITU BENAR

RUMIYAH 9 - STATEMEN

BERSABARLAH, SESUNGGUHNYA JANJI ALLAH ITU BENAR
STATEMEN JURU BICARA DAULAH ISLAMIYAH: SYAIKH ABUL HASSAN AL-MUHAJIR

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon ampun kepada-Nya. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan amalan kita, barang siapa yang diberi-Nya petunjuk maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang diberi-Nya hidayah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah semata, tiada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba‘du:

Allah ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS al-Anfal: 46-45)

Allah ta'ala berfirman, “Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekalikali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (QS. ar-Rum: 60)

Sabar, teguh dan yakin akan janji Allah, meski ujian dan kesusahan menerpa, meski semua musuh bersekutu, di tengah gelegar tembakan artilleri dan bombardir pesawat. Kaum muslimin tetap yakin akan pertolongan Rabb mereka. Mereka tak bimbang, linglung, ataupun mengendor semangatnya, dengan kesabaran terus maju tanpa mundur, guncangan demi guncangan tiada melemahkannya.

Sebaliknya di gelap gulitanya malam, mereka nyalakan cahaya kebenaran, dengan darahnya menghidupkan lentera hidayah dan menjauhi jalan yang sesat. Mereka serap kitab Rabb mereka, mereka berjalan dan beramal dengan sunnah Nabi mereka shalallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tahu bahwa kemenangan berada di sisi Allah dan tak pernah sehari pun kemenangan diraih dengan banyaknya jumlah maupun persenjataan, karena Allah adalah Maha Perkasa, tiada yang bisa mengalahkannya. Dia adalah yang Maha Kuat, bisa menelantarkan siapa saja yang menjadikan kekuatan dan banyaknya jumlah pasukan sebagai kebanggan. Maha Bijaksana dalam mengatur segala urusan dengan semua sebab-sebabnya dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Maha Bijaksana dalam pengaturan-Nya, dan akan menolong siapa saja yang menolong-Nya dan sebaliknya akan menelantarkan mereka yang menelantarkan-Nya, tiada kelemahan dan celah di dalamnya.

Firman-Nya, “Jika Allah menolongmu, maka tiaada orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong 27 kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ali Imran: 160)

Ya, sesungguhnya janji Allah adalah benar seperti halnya perintah-Nya untuk hamba-hamba-Nya yang beriman, ketentuan dan hikmah-Nya berlaku terhadap seluruh makhluk-Nya. Dia turunkan ujian kapan Dia kehendaki, dan mengangkatnya kapanpun Dia berkehendak, Maha Mengetahui dan Bijaksana, tidak ada sesuatu pun yang bisa melemahkannya baik di bumi dan di langit. Jika Dia memutuskan sesuatu akan Dia berkata, “Jadilah” maka akan terjadi ia.

Dia berfirman, sedangkan Firman-Nya adalah benar, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?“ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. al Baqarah: 214)

Sesungguhnya sunnah Allah berlaku, kemenangan tidak akan terwujud tanpa keistiqomahan di atas perintah-Nya c dan kembali kepada-Nya dengan jujur. Maka barang siapa yang lebih besar pertolongannya terhadap dien Allah dan lebih keras jihadnya terhadap musuh-musuhNya, serta mentaati Allah pun Rasul-Nya, maka ia lebih besar ketatatannya dan pertolongannya.

Wahai ummat Islam...

Waktu telah berputar, dan sejarah kembali terulang. Apa yang kini terjadi menyerupai kondisi Darul Islam di masa lampau, era generasi terdahulu dimana kejadian-kejadian besar menerpa, meninggalkan bekas yang tidak bisa terhapus, dan luka dalam di tubuh ummat yang tak bisa tersembuhkan. Namun, itu menjadi pelajaran dari para pendahulu, sebuah pengingat dari Jama’ah Muslimin agar menjauhi ketegelinciran yang bisa menjerumuskan mereka dalam kehancuran yang nyata, yakni melepaskan diri mereka dari Islam dan mati di atas selain Millah Islam.

Inilah Salibis Amerika dan antek-anteknya kembali menyerang Darul Islam dan bumi Khilafah. Dalam lintas sejarah, seluruh sekte kekafiran dari berbagai ras dan keyakinannya senantiasa berkumpul bersama kaum yang mengklaim diri sebagai bagian Ahlus Sunnah dari kalangan penguasa murtaddin, ulama dan dai Suu, -bahkan mereka yang mengklaim berjihad dan bermanhaj benar-. Mereka semua dalam satu parit bersama seluruh sekte kekafiran melawan putra-pura Daulah Khilafah. Ada beda antara zaman kala itu dengan peperangan yang kita selama saat ini, bahwasanya Daulah Muslimin pada zaman itu dalam keadaan paling buruk dan jauh dari Dien Rabbnya, negeri mereka telah dibagi-bagi oleh para raja dan kelompok, maka Allah timpakan musuh yang merajalela, menghancurkan hewan-hewan ternak dan tanaman.

Adapun hari ini, bersamaan dengan panas menyengatnya pertempuran baik di timur dan barat atas Darul Islam, kondisi kaum muslimin di negeri Khilafah berlainan dengan zaman itu, dimana Daulah Islamiyah adalah yang membela dan mempertahankan Darul Islam, mengobarkan semangat orang-orang yang beriman, mengasah tekad putra-putranya untuk terlepas dari belenggu perbudakan dan tabiat sekte-sekte kekafiran. Daulah inilah yang mengarungi peperangan sengit demi membela ummatnya, dan tiada pelit untuk mengeluarkan tenaganya guna berperang serta menahan gempuran musuh dengan segenap kekuatan yang dikaruniakan padanya, dengan berbagai macam cara dan sarana.

Atas rahmat dan karunia Allah, Daulah khilafah masih terus mengajak kaum muslimin menuju Dien mereka, sementara Ulama Thawaghit dan corong-corong keburukan menghalang-halanginya dan hanya menginginkan ummat Islam terus dalam keadaan hina dipimpin oleh kaum Salibis pun antek-anteknya dari para penguasa murtaddin. Akan tetapi, Daulah Khilafah atas taufik Allah telah mengetahui penyakit sekaligus penawarnya. Dengan izin Allah ia terus berjalan di atas jalannya, tak akan takut celaan para pencela, sampai menyerahkan panji kepada Isa bin Maryam ‘alaihis salam.

Wahai ummat Islam...

Sesungguhnya kita adalah suatu kaum yang Allah muliakan dengan Islam, maka kita tidak akan mengharap kemuliaan dengan selainnya. Ummat yang terakhir dari ummat ini tidak akan baik kecuali dengan mengikuti generasi awalnya. Dan tidak ada yang mulia dalam Dien-nya kecuali dengan mewujudkan tauhid, menghidupkan al-Wala dan al-Bara dimana keduanya menjadi sikap yang tidak terpisahkan dalam seluruh aspek kehidupannya, baik kondisi lapang maupun sempit, susah maupun senang, tatkala berkumpunya musuh dan bertambahnya jumlah panji pasukan musuh. Dia palingkan muka dari Astana, dan tiada pula mengemis-ngemis pada Thawaghit. Sekali-kali tidak! Sebaliknya, ia tanamkan millah yang mulia dan mengikuti para nabi seraya berkata kepada seluruh sekte kekafiran, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. al Mumtahanah: 4).

Inilah jalan kaum mukminin yang mendapatkan petunjuk, dan selainnya adalah jalan orang-orang kafir yang melampaui batas, merubah dan mengganti Syariat Rabbul ‘Alamin.

Wahai Junud Khilafah dan singa-singa Islam...

Ketahuilah bahwa rahmat Alllah dan surga-Nya tidaklah diraih dengan sekedar angan-angan. Allah tidak akan memberikan ampunan, kasih sayang yang luas kecuali pada orang-orang yang teguh, sabar, jujur, dan membenarkan apa yang dijanjikan kepada mereka.

Tidakkah kalian membaca Firman Rabb kalian, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah: 111)

Asal jual beli antara makhluk adalah seperti yang dikatakan al-Qurthubi rahimahullah yaitu mengganti apa yang keluar dari tangannya berupa barang yang lebih bermanfat atau manfaatnya sebanding dari apa yang dikeluarkan. Maka Allah membeli dari hambahamba-Nya dengan cara membinasakan diri dan hartanya dalam ketaatan pada-Nya, dan meninggal dunia demi meraihridha-Nya. Allah memberi imbalan mereka surga jika mereka melakukan hal demikian, merupakan imbalan yang sangat tiada sebanding dengan hal yang ditukar dengannya. Dia jelaskan transaksi dan imbalannya –seorang hamba mesti korbankan jiwa dan hartanya, lalu Allah akan memberi imbalan pahala, inilah yang dinamakan membeli.

Wahai Junud Khilafah...

Demi Rabb bumi dan langit, ini adalah perdagangan yang menguntungkan. Dengan izin Allah kami tidak akan berhenti dan membatalkan jual beli ini. Maka berlakulah jujur dalam pertempuran. Barang siapa yang suka berjumpa dengan Allah maka Allah suka berjumpa dengannya. Itulah perdagangan menguntungkan yang Allah khusukan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, yang menjual jiwa-jiwa mereka dengan murah di jalan-Nya, demi meninggikan kalimatNya dan menegakkan syariat-Nya.

Sesungguhnya tujuan yang didiimpikan oleh seorang mujahid di jalan Allah adalah mendapatkan ridha Rabbnya, ampunanNya, kebaikan-Nya, taufik-Nya dan karunia-Nya. Itu semua diraih dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, membantai musuh-musuh-Nya di setiap negeri dan tempat, sampai Dien ini semata-mata milik Allah, dan seluruh bumi ini diatur dengan Syariat-Nya. Jika hidup, dalam keadaan mulia, dan jika mati, mati dalam keadaan mulia. Demikianlah keadaan para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan ummat pilihan terdahulu dari generasi utama.

Dan inilah kabar gembira dari Nabi kalian shallallahu alaihi wasallam ia bersabda, “Allah akan menanggung orang yang keluar di jalan Allah hanya untuk berjihad di jalanku (Allah), beriman kepadaku dan membenarkan kerasulanku, dia akan dijamin untuk masuk ke dalam surga atau kembali ke rumahnya dalam keadaan memperoleh pahala atau ghanimah (harta rampasan). Demi jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya, tak satupun luka yang diperoleh di jalan Allah, kecuali datang pada hari kiamat sebagaimana keadaannya ketika dilukai. Warnanya adalah warna darah, wanginya seharum misk (minyak wangi). Demi jiwa Muhammad yang dalam genggaman-Nya, seandainya tidak memberatkan kaum Muslimin, aku tidak akan duduk di belakang pasukan (tidak ikut) berperang di jalan Allah selamanya, akan tetapi aku tidak mampu (baik fisik dan materi) untuk membawa mereka (berperang) dan mereka juga tidak akan mampu, namun mereka akan merasa berat untuk diam (tidak mengikutiku berperang). Demi jiwa Muhammad yang berada dalam genggaman-Nya, aku rindu untuk berperang di jalan Allah lalu terbunuh (kata tersebut diulangi tiga kali).” (HR. Muslim)

Wahai Manusia...

Tidakkah sampai pada kalian cerita tentang orang-orang yang teguh, tidakah sampai ke telinga akan kalian kabar ini? Kabar apakah gerangan? Demi Allah, kabar apakah itu? Tentang zaman yang di dalamnya musibah amatlah berat, kepemimpinan berada di tangan orang-orang kafir dan manusia terburuk.. Katakan pada siapa saja yang tergelincir dalam kotoran, dan menyimpang dari kebenaran, akan kisah keteguhan Ahlul Iman yang memerintahkan kepada perkara yang makruf dan melarang dari perbuatan mungkar. Mereka yang mendobrak pintu-pintu Salibis Eropa dengan peringatan dan ancaman, sampai telinga mereka menjadi tuli, dadanya dipenuhi dengan rasa takut dan gentar. Mereka sadar bahwa itu adalah luapan kematian. Atas karunia Allah, kubu keimanan telah meninggi dengan kemuliaan dan tidak akan merendah, sedangkan kubu kekafiran kian condong pada kesesatan dan kehinaan.

Kemanapun engkau pergi, disana ada Sirte yang akan menceritakan kisah rakyatnya padamu. Tentang kaum Muhajirin, Anshar, orang-orang pilihan nan suci, merekalah yang menancapkan panji Tauhid tinggi-tinggi di atas negeri Libya, setelah mereka tinggalkan perselisihan dan perpecahan, lalu memilih persatuan barisan dan menyatukan kalimat dalam rangka ketaatan pada Allah pun RasulNya. Mereka berbai’at pada Khalifatul Muslimin dan Imam mereka, maka Allah taklukkan beberapa daerah untuk mereka, mereka tegakkan di dalamnya syariat Allah, menegakkan Dien, menerapkan hukuman hudud, memerintahkan perkara yang makruf dan melarang dari perbuatan mungkar. Kaum arogan pun marah menyaksikannya, lantas mereka persiapkan pasukan dan memobilisasi kaum Salibis, mengharapkan pertolongan dan memberikan loyalitasnya demi memerangi Islam serta ummatnya. Semua itu disokong oleh para pembesar Ikhwanusy Syayathin dan para munafik zindiq zaman ini. Mereka kerahkan seluruh kekuatan yang mereka miliki guna memerangi Daulah Khilafah, dan mengeluarkan fatwa demi fatwa menghalalkan kemurtadan menjadi antek Salibis, penumpahan darah-darah yang terjaga lagi haram.

Atas karunia Allah, Junud Khilafah dan cucu-cucu para penakluk tetap teguh dalam peperangan tersengit yang disaksikan daerah tersebut. Keteguhannya bak kokohnya gunung, mulia dengan Dien, dan membusungkan dada dengan keimanan mereka, berkorban dengan jiwa, harta, dan anak-anaknya sembari berkata dengan penuh keyakinan, “Katakanlah: "Tidak ada yang kamu tunggutunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu.“ (QS. at-Taubah: 52)

Mereka jadikan antek-antek Salibis penuh rasa frustasi, saling serang menyerang selama lebih dari setengah tahun, dalam pertempuran yang meluluh lantakkan semuanya tanpa bersisa. Sementara para kesatria Islam dan Junud Khilafah kembali kepada Rabb mereka, selepas mereka melaksanakan janjijanjinya, demikianlah penilaian kami dan Allah-lah sebenar-benar penilai, “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. al-Buruj: 8-9)

Keteguhan ummat yang berjihad itu memiliki bekas yang agung, setelah mereka lebih memilih kematian dan terbunuh di jalan Allah, bersabar seraya mengharap pahala. Mereka bertekad untuk tidak mundur dari negeri yang telah mereka tegakkan syariat Allah di dalamnya, lalu menyerahkannya kepada orang-orang yang kafir terhadap Rabb Semesta Alam. Mereka berikan contoh nyata pada Ahlul Iman dalam perkara kesabaran, penguatan kesabaran, keteguhan, pengorbanan. Mereka persembahkan nyawa dan raga dengan murah, sebagaimana halnya menyeru ummat Islam agar mengetahui putra-putra mereka yang jujur, yang tidak rela kecuali menjadi jembatan yang dengannya ummat ini menyeberang menuju laga kemuliaan, kekuasaan, kemenangan dan penaklukkan, dengan izin Allah.

Ada dua jalan, entah kemenangan yang kita raih
Ataukah taman surga abadi, yang di dalamnya terdapat rumah terbaik,
Kita tidaklah berperang dengan ribuan prajurit yang kita kumpulkan,
Bahkan sejuta pahlawan yang bersenjatakan lengkap

Hanyasanya kami berperang dengan Dien,
Yang menjadi penjamin kemenangan generasi pertama,
Mereka dilengkapi dan dilindungi ketetapan hati untuk bertempur,
Dengan kejujuran dalam peperangan, tanpa terkena tipu daya,

Mereka terus bergerak maju, meskipun gunung menjadi condong lantaran rasa takut,
Persatuan mereka tak terganggu oleh rasa takut, tiada pula mengendor,
Barang siapa yang mendahulukan kebenaran, ia kan korbankan nyawanya,
Dan barang siapa yang tekadnya jauh ke depan, ia kan sanggup meraihnya.

Waspadalah, waspadalah, wahai Junud khilafah, jangan sampai kalian berlemah lembut terhadap musuh kalian, karena hal itu bukanlah apa yang diperintahkan pada kalian. Sesungguhnya inilah yang disaksikan oleh kaum kuffar yang dikepalai Amerika, yang atas karunia Allah tiada pernah merayakan kemenangan sejak mereka seret diri mereka ke dalam peperangan melawan Islam dan kaum muslimin. Kita pada hari ini atas karunia Allah berada di era baru yang di dalamnya bangunan Khilafah meninggi, meskipun kekafiran bersatu dan bersekutu, mereka tidak akan melihat dari kita kecuali hal buruk yang akan menimpa mereka, atas daya dan kekuatan Allah. Dialah sebaik-baik penolong dan pelindung kita. Sesungguhnya Allah adalah penolong kita atas mereka. Ini semua tidak lain baru sebatas kilatan pertempuran dan permulaan dari peperangan besar. Yang menang di dalamnya adalah yang bersabar lagi jujur, bukan yang terlebih dahulu sampai ke depan. Hanyasanya hasil penentuan adalah di akhir.

Wahai bala tentara Islam, dan pengemban panjinya di Libya...

Jagalah Dien dan ummat kalian, jangan sampai Islam diserang dari arah kalian. Saudara-saudara kalian telah menepati janji-janji mereka dan apa yang menjadi tanggung jawab mereka. Jika kalian bersabar, teguh di atas al-Haq, dan yakin, maka kalian akan melihat buah yang baik dari penanaman jual beli yang dengan izin Allah setelah ia disirami dengan darah dan jasad yang suci.

Dikatakan kepada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah saat hari-hari Mihnah, “Wahai Abu Abdullah tidakkah kamu melihat bagaimana kebathilan mengalahkan kebenaran?” Katanya, “Sekali-kali tidak, kemenangan kebathilan atas al-Haq itu terjadi ketika berpindahnya hati dari petunjuk menuju kesesatan. Sementara hati kita kini masih berada di atas al-Haq.”

Dan saudara-saudara kalian telah menunjukkan kesabaran dan keteguhan sebagai teladan untuk diikuti dan perbuatan yang harus dikerjakan kembali. Karenanya, mintalah pertolongan kepada Allah, jangan sampai murtaddin hidup dan kenyamanan dan tidur dengan terlelap, karena peperangan ini kian sengit, hari demi hari terus berputar, dan hasil akhir yang baik adalah milik para muttaqin.

Wahai Ahlus Sunnah di Irak dan Syam, wahai Ahlus Sunnah...

Pasukan Ahzab dari bala tentara kekafiran pun Salibis yang dikomandoi oleh Amerika untuk memerangi Daulah Khilafah di Irak dan Syam serta seluruh tempat yang tegak kekuasannya, mereka ini mengira sanggup memadamkan cahaya jihad dari jiwa-jiwa muslimin, dan mematikan kobaran kemuliaan yang menyalanyala di dalam dada mereka, setelah ummat Islam memiliki Khilafah yang menyatukan mereka dan merapatkan barisan mereka, kalimat mereka di bawah satu imam, satu panji, dan satu tujuan, inilah mereka pada hari ini mengorbankan segenap usaha mereka untuk menguasai daerah-daerah Daulah Islamiyah, yang atas karunia Allah menjadi benteng kalian yang kuat, perisai kalian yang kokoh dalam melawan Rafidhah, Nushairiyah, dan kaum Atheis. Kalian telah menyaksikan, mendengarkan mobilisasi pasukan Salibis atas Mosul dan Tal Afar, pun apa yang dikorbankan oleh putra-putra Khilafah untuk membela dan mempertahankan keduanya. Kami tidak mengira kalian tak mengetahui pengorbanan putra-putranya yang agung dari kalangan Muhajirin pun Anshar, dan kalian telah melihat atas karunia Allah serta karunia-Nya, bahwa pengorbanan jiwa dengan murah di jalan Allah dan membinasakannya demi meraih ridha-Nya, adalah karakter dan tujuan putra putra Islam pilhan yang mencampakkan fanatisme kesukuan. Bahkan kalian lihat seorang Anshari mendahului saudaranya al-Muhajir. Atas karunia Allah operasi istisyhadiyah tidak hanya terbatas bagi para pemuda tanpa orang tua, bahkan semuanya berusaha mendahului temannya.

Seorang pemuda yang melihat kematian sebagai sebuah kemuliaan
Seperti halnya orang-orang tua yang diuji melalui peperangan

Matilah kalian dalam kegeraman wahai Amerika, matilah dalam kebencian kalian! Tidak akan kalah sebuah ummat dimana para putranya, baik pemuda maupun orang tuanya berlomba-lomba menuju kematian dan menumpahkan nyawa mereka dengan murah di jalan Allah. Tidak akan kalah generasi yang hasratnya adalah akhirat dan hasil yang baik.

Maka bangkitlah wahai Ahlus Sunnah untuk menolong saudara-saudara kalian dan meleburlah ke dalam barisan mereka. Ambillah peran yang menggembirakan kalian, dan Dia dalam keadaan ridha pada kalian. Para ummat Salibis dan umat kafir pada hari ini, berjalan dalam usaha nan picik penuh tipu daya yang busuk, untuk mengosongkan satu per satu wilayah dari eksistensi kalian wahai Ahlu Sunnah di Irak dan Syam, untuk diberikan kekuasaannya pada Rafidhah, Nushairiyah, dan kaum Atheis Kurdi. Mereka tahu, sebelum dan sesudahnya, bahwa kalian adalah manusia yang paling keras permusahannya terhadap mereka, serta membayahakan negeri kecil Yahudi dan antek-antek mereka, dari pemerintahan murtad di negaranegara Teluk serta Timur Tengah.

Disamping kekhawatiran mereka atas sirnanya keuntungan dan penghasilan-penghasilan mereka di negeri-negeri kaum muslimin yang terjajah. Mereka telah manancapkan cakar-cakarnya ke dalam tubuh ummat sejak berabad-abad. Dan sungguh cakar-cakar itu pasti akan dicabut, dan tangantangan itu akan dipotong, dengan izin Allah, dengan keimanan, keteguhan, tawakal, kesabaran dan tekad putra-putra khilafah, In Sya Allah. Itu adalah janji Rabbaniyah, baik mereka suka atau tidak, baik mereka telah membuat rencana dan makar, tidak akan terwujud kecuali urusan Allah dan takdir-Nya. Allah telah menjaga Syam dan penduduknya, kami berbaik sangka dengan Rabb kita bahwa Dia tidak akan menelantarkan kita.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan terdiri menjadi beberapa bala tentara, tentara di Syam, Irak, dan Yaman.” Ibnu Hawalah berkata, “Wahai Rasulullah, berilah pilihan padaku.” “Hendaknya kamu memilih Syam, jika tidak maka hendaknya menuju Yaman.”

Bala tentara muslimin akan tetap kokoh di tempatnya dengan izin Allah, baik di Syam, Irak, Yaman, dan seluruh belahan negeri muslimin yang kekuasaan Khilafah sampai kepadanya, meskipun para pembesar kekafiran dan petinggi Salibis mengira mereka akan menahan janji Rabbani dan kejadiankejadian yang akan datang mengenai kehancuran mereka, atau mereka kira telah menang dengan membunuh putra-putra Islam dalam peperangan di tiap daerah, kota ataupun desa, maka anggapan mereka telah salah. Para lelaki yang telah bersikap jujur dan memenuhi janji mereka –kami menilainya demikian dan Allah-lah yang sebenarnya menilainya– keluar berperang berusaha untuk mendapatkan kematian di tempat yang ia tuju, dan itu merupakan cita-cita yang selama ini diharapkannya, sungguh mustahil wahai para penyembah Salib, sesungguhnya Allah ta'ala akan melaksanakan janji-Nya,

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. an-Nur: 55)

Wahai Ahlus Sunnah di Syam...

Kalian telah melihat dan menyaksikan perbuatan antek-antek kafir di kota al-Bab dan pinggirannya. Pun apa yang diperbuat pasukan murtad al-Ikhwani Turki, dan anjing-anjingnya liarnya, yaitu para shahawat hina, antek menjijikkan, berupa pembantaian terhadap Ahlus Sunnah. Kota ini hancur lebur akibat bombardir Rusia, Amerika dan antek-antek murtad mereka. Mereka tiada mengasihani kaum wanita maupun anak-anak ataupun orang tua dari kalangan awam muslimin yang tinggal di dalamnya. Kaum Atheis Kurdi dan Nushairi berkoalisi memerangi desa-desa yang berada di sekitar kota, memanfaatkan serangan sengit yang tengah menimpa ummat Islam, dan kita tidak mendengarkan satupun kata dari para Ulama Suu nan durjana –semoga Allah melaknat dan menghinakan mereka- yang mengingkari, menyangkal atau cemburu atas mahramnya, dan mereka tidak akan cemburu akannya. Hampir-hampir engkau tidak mendengar celotehan mereka kecuali kedustaan atas Mujahidin dan melontarkan kepada mereka sifat terburuk. Demi Allah, mereka tidak lain adalah tombak yang digunakan Salibis untuk menusuk siapa saja yang berusaha mengembalikan ummat menuju kemuliaan generasi terdahulunya, berperang demi membantai partai kafir dunia yang yang menusuk dada ummat yang memerangi ummat Islam.

Maka sadarlah wahai Ahlus Sunnah di Syam, dan pahamilah apa yang dinginkan dari kalian. Sungguh Daulah Islamiyah tidak pernah menutup pintunya sehari pun di hadapan mereka yang berusaha jujur dan bertaubat, serta tidak menginginkan untuk kalian kecuali kebaikan dan hal yang menghantarkan kepada kemuliaan kalian. Kalian telah dikejutkan dengan sebelumnya oleh orang-orang yang meninggalkan kota Halab dari kalangan Shahawat murtad. Dia pun berlari di belakang Dolar untuk memerangi Daulah Khilafah, dan justru menyerahkan Aleppo untuk Nushairiyah tanpa perang. Dan pada hari ini, mereka menjarah serta mencuri rumah-rumah penduduk alBab yang terusir dan terbunuh, dan mayat-mayat penduduknya masih terkubur bawah di puing-puing bangunan yang telah hancur. Dalam keadaan paling hina dan gambaran terburuk dalam kerendahan, khianat, tidak ada dosa setelah kekafiran, dan jangan terkejut jika esok hari nanti ada yang melakukan genjatan senjata dan menggembar-gemborkannya agar Nushairi bisa menghela nafas dan menyatukan front pertempurannya melawan Daulah Khilafah. Menjadi partner Nushairiyah dalam negara dan bekerja melawan terror -mereka menamakan dirinya dengan Jabhah, Hai’ah dan Harakah, bak bunglon yang bergonta-ganti warna, setiap hari mereka berganti urusan dan penampilan. Mereka semua adalah tameng Salibis dan penjaga Nushairiyah, pun sebab kesengsaraan dan kesusahan yang kalian temui.

Tidak ada yang kalian miliki setelah Allah wahai Ahlus Sunnah di Syam, kecuali Daulah Khilafah, yang menjaga Dien kalian yang di dalamnya terdapat kemuliaan kalian dan terlepasnya kalian dari kesengsaraan. Kalian jaga kehormatan kalian, bersegeralah menuju kemuliaan kalian, bergeralah menuju yang menghidupkan kalian dan menyelamatkan kalian dari siksaan Allah. Bersegeralah menuju jihad, ribath menuju ibadah yang kalian telantarkan, setelah kalian tersesat dan hidup berselimutkan kehinaan pun kerendahan. Demi Rabbku, kalian tidaklah diciptakan dengan sia-sia, kalian akan bertemu dengan Rabb kalian, dan Dia akan menanyai kalian, maka siapkanlah jawaban untuk pertanyaan itu.

Wahai bala tentara Khilafah, wahai ummat Islam...

Si dedengkot kejahatan dan kerusakan, yaitu Amerika telah terperdaya dengan kekuatannya dan pandangan matanya yang buta. Ia pun maju menyongsong rawa kehancuran dan kemusnahannya. Ya, dia akan tenggelam, dan kala itu tidak ada tempat untuk melarikan diri. Ia terus berusaha dengan sia-sia untuk menghindar dari jebakan, namun ia tiada memperoleh kehasilan. Ia pun diseret bersama bala tentara dan kendaraannya menuju Syam serta Irak, dan mereka akan diporakpondakan. Setelah ia melarikan diri dalam keadaan kalah dan hina dari Irak, lihatlah mereka kembali lagi, namun inilah yang dijanjikan. Meskipun kita banyak kehilangan daerah, kota atau desa, inilah ujian dan penyaringan Jama’ah muslimin, guna membersihkannya dari keburukan, dan Allah memilih hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Itu tak lain merupakan musibah dan himpitan, yang akan datang setelahnya penaklukkan besar dengan izin Allah, penaklukkan Baghdad, Damaskus, al-Quds, Amman dan Jazirah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Batalyon-batalyon keimanan akan memerangi Persia. Qum dan Teheran akan ditaklukkan, dan setelahnya kita akan memerangi Roma. Para singa akan mengaung dengan takbir atas penalukkan Konstantinopel tanpa perang. Inilah janji Rabb kita dan kabar gembira dari Nabi kita shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Atas karunia Allah, generasi di negeri Khilafah terdidik di atas Tauhid al-Wala dan Bara, menikmati pembunuhan dan kematian di jalan Rabbnya, dan kemuliaan Diennya. Kau tak akan berhasil wahai Amerika, kau tidak akan berkutik di hadapannya, sementara nadi/ cahaya keimanan telah berjalan di darahnya dan merasakan rasa mulia pun kebanggaan akan Diennya. Betapa banyak usaha Amerika untuk menghalangi manusia dari dien-Nya di Irak, Syam, Khurasan dan seluruh dunia. Betapa banyak kamu kucurkan seluruh tenagamu untuk menjauhkan manusia dari mujahidin, dan kamu kerahkan manusia-manusia terburuk, namun itu akan sia-sia, ya itu akan siasia. Kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu inginkan, usahamu akan merugi, mereka adalah yang menaiki bom-bom mobil mereka dan berperang di barisan pertama. Lelaki tua yang jenggotnya beruban namun enggan mewarnainya kecuali dengan darah.

Allah telah merealisasikan janji-Nya untuk kita dan kau berdusta wahai Amerika. Pada hari Dia menaklukkan untuk kami beberapa negeri dan menghinakanmu, serta menjadikanmu dan bala tentaramu sebagai pelajaran dan tanda-tanda. Kamu telah membelanjakan harta dan mengerahkan semua yang kamu miliki, yang atas karunia Allah menjadi ghanimah tanpa perlawanan bagi mujahidin yang lemah. Maha Benar Janji Allah, Dia menolong hamba-hamba-Nya, memuliakan bala tentara-Nya. Dan enyahlah kau Amerika, kau telah berdusta, kau menjadi lelucon setelah banyak mengalami kepayahan dan kesengsaraan. Kau mengira telah membasmi mujahidin di Irak dan kau serahkan kepemimpinannya kepada Rafidhah.

Atas karunia Allah, kami hunuskan pedang kebenaran di atas leherleher Rafidhah dan Shahawat murtad dari kalangan kabilah-kabilah suku. Mereka temui kematian mereka, meski mereka membencinya, menggali kuburan mereka dengan tangan mereka sendiri, disembelih di atas kasur-kasur mereka, sebagaimana yang akan datang saat ini yaitu para murtaddin Kurdi dan Shahawat yang kalian telantarkan. Mereka akan menemui nasib mereka sebagaimana nasib pendahulu mereka di Irak, dengan izin Allah.

Allah telah merealisasikan janji-Nya dan kamu berdusta, serta prasangkamu salah wahai Amerika. Di saat kami mengembalikan makna untuk ummat ini yang lenyap dari realita selama beberapa abad, dan atas karunia Allah kami hidupkan syiar-syiar yang telah terkikis dan dilupakan kaum muslimin, bahkan banyak dari mereka tidak mendengarkannya sejak pertama kali ia melihat dunia, maka kami deklarasikan Khilafah. Ya, kami deklarasikan Khilafah dan kami bai’at Khalifah Muslimin yang harus ditaati dalam hal-hal yang makruf, selama yang diterapkannya adalah dari kitab Rabb mereka dan sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam, menghantarkan mereka pada kemuliaan. Atas karunia Allah, jalan ini semakin jelas, kami tidaklah diceraiberaikan oleh partai-partai, kelompok dan jamaah.

Kamu telah mengetahui wahai Amerika, tidak ada penolong bagimu. Kau menjadi buruan bala tentara Khilafah di seluruh penjuru bumi, kau telah merugi, sedangkan tanda-tanda kebinasanmu telah nampak dengan jelas. Dan yang paling jelas dari tanda-tanda itu adalah kau dipimpin oleh orang idiot yang tak tahu menahu apa itu Syam, apa itu Irak, apa itu Islam, yang selama ini didengungkan oleh musuh-musuhnya dan diumumkannya perang atasnya. Di hadapanmu hanya ada dua pilihan, keduanya adalah pilihan pahit, entah kau ambil pelajaran dari yang telah lalu dan kau mundur, maka mujahidin menikmati apa-apa yang kamu tinggalkan berupa ghanimah. Atau kau turun ke darat dan kau telah melakukan hal itu, maka kamu akan diceburkan ke dalam rawa kematian, dan hal itu melegakan dada– dada muwahhidin, dengan izin Alllah.

Wahai Ahlus Sunnah di Jazirah Muhammad shallallahu alaihi wasallam...

Celakalah kalian, apakah kalian tidak mendengar, apakah kalian tidak melihat mana hati kalian jika memang pandangantelah buta, mana Tauhid dan Iman kalian, dimana al-Wala dan Bara kalian, tidakkah kalian melihat Thawaghit Jazirah –semoga Allah menghinakan dan memusnahkan pekerjaan mereka- mereka melempar lampung penyelamat bagi Rafidhah di Irak, bahkan memberi selamat atas penjarahan terhadap daerah-daerah Ahlus Sunnah.

Belumkah tiba waktunya bagi kalian untuk meniup debu-debu kehinaan dan bangkit menyerang para murtaddin penghianat itu, yang tidak meninggalkan pintu kekafiran kecuali mereka telah memasukinya? Tidak ada rencana Salibis untuk memerangi Mujahidin kecuali mereka tolong dan sokong pun membantunya dengan semua yang mereka miliki. Apakah dari tempat turunnya wahyu dan sumber risalah (Islam), Ahlu Sunnah di Irak dan Syam dihinakan? Apakah dari negeri sahabat, para penakluk pertama, mereka tertimpa malapetaka dan penistaan, mana para pencemburu dari kalian? Mana cucu-cucu ash-Shiddiq dan al-Faruq Umar? Mana cucu-cucu Abu Bashir dan Abu Jandal? Wahai saudara setauhid di negeri Haramain, seranglah bala tentara Thagut, ulama keburukan dan fitnah, seranglah para Presiden dan Menteri, perlihatkan kepada mereka kemurkaanmu dan pertolonganmu untuk Dien, dan pembelaan terhadap saudara-saudaramu. Sungguh penyiksaan mereka terhadap Ahlu Syam telah mencapai puncaknya, para wanita telah mengeluhkan mala petaka dan musibah yang menimpanya, maka jangan sampai ada satupun orang bodoh yang menghalangimu dari menolong mereka.

Wahai Junud Khilafah di Mosul, Tal Afar, Raqqah, dan setiap front Daulah Islamiyah...

Ketahuilah bahwa kita pada hari ini melalui fase terbesar dari sejarah jihad kita dan paling berbahaya, pun titik perubahan dalam sejarah ummat. Maka jadilah kalian pengemban amanah. Kalian dengan izin Allah mampu untuk mengemban beban itu, berbekallah dan sebaik-baik bekal adalah taqwa, mintalah tolong kepada Allah dan jangan merasa lemah. Gantungkan hati kepada yang Maha Tinggi dan Maha Penyayang, mintalah darinya pertolongan dan sokongan. Dia subhanah dekat dan mengabulkan orang-orang yang membutuhkannya dan menyingkap bencana, serta mencukupkan hamba-hamba-Nya.

Maka siapa lagi yang menyelamatkan Ibrahim dari api selain-Nya? Yang membelahkan laut untuk Musa dan menyelamatkan hamba-Nya Yunus dengan kasih saying serta karunia-Nya, dan menolong hamba-Nya, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan ketakutan musuh sebulan sebelum beliau sampai pada mereka. Maka bersabarlah, teguh dan bertawakallah. “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200)

Renungkanlah firman Rabb kalian dan hayatilah, “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangkasangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. ath-Thalaq: 3)

Wahai bala tentara Khilafah. Wahai para penjaga kehormatan, wahai pembalas untuk Dien dan ummat mereka...

Kami mengenal kalian sebagai para pahlawan dan kesatria yang teguh dalam pertempuran dan bersabar dalam peperangan, serta para penguasa mulia, maka songsonglah janji Rabb kalian berupa kemenangan dan penaklukkan, dan siapkan diri kalian untuk menghadapi luka yang terpedih, sungguh itu adalah satu kematian, kemudian setelahnya adalah kemuliaan yang tak akan terputus. Jangan sampai kalian tinggalkan sejengkal tanah kecuali kalian jadikan itu sebagai gunung api bagi orang-orang kafir pendosa. Sergaplah mereka di rumah-rumah, gang-gang dan jalan-jalan, tanamlah ranjau di setiap jembatan, dan lancarkan serangan demi serangan, tangkap, kepung dan intailah mereka.

Wahai para kesatria Baghdad, baik di utara dan selatannya, di Kirkuk, Shalahuddin, Diyala, Fallujah, dan al-Anbar...

Tambahlah pengorbanan kalian, balas musuh-musuh Allah dari kalangan Rafidhah najis dan Ahlus Sunnah yang murtad, buatlah mereka merasakan kepahitan racun mematikan. Kalian adalah kesatria yang menyungkurkan musuh, mintalah ketepatan serangan pada Allah. Jadikan ketergantungan dan tawakal kalian atas-Nya, semua perkara berada di tangan-Nya.

Wahai Junud Khilafah di Khurasan, Yaman, Sinai, Libya, Afrika Barat dan dimana saja kalian berada...

Atas karunia Allah, kalian masih menjadi penolong terbaik untuk Daulah kalian, maka kuatkan agresi militer kalian terhadap musuh-musuh Allah dari kalangan kuffar pun halnya antek-antek mereka yang murtad. Ketahuilah, nyala api peperangan kalian terhadap mereka adalah bentuk aksi pertahanan kalian melawan serangan para ummat kekafiran atas Darul Islam di Irak dan Syam, sama saja dengan engkau mengalahkan koalisi dan mobilisasi pasukan mereka.

Wahai para muwahhidin yang jujur di Amerika, Rusia, dan Eropa. Wahai para Anshar Khilafah, wahai kalian yang rindu untuk bergerak menyerbu musuh, sementara kalian hari ini berada di tengah-tengah kaum musyrikin...

Singsingkan lengan baju kalian dan bersiaplah dengan penuh kesungguhan, serta berlaku jujurlah dalam usaha kalian. Ketahuilah, bahwasanya peperangan melawan musuh kita adalah perang global dengan keuntungan yang mudah diraih. Maka sibukkanlah diri mereka dari Khilafah dan Darul Islam kalian.

Ingatlah selalu sabda Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang kafir tidak akan berkumpul dengan pembunuhnya di neraka.” (HR. Muslim)

Ya Allah laknatlah orang-orang kafir yang menghalangi manusia dari jalan-Mu, mendustakan Rasul-Mu, memerangi wali-wali-Mu.

Ya Allah cerai beraikan kalimat mereka, jadikanlah permusuhan dan kebencian diantara mereka, guncangkanlah bawah telapak kaki mereka, turunkan kebengisanMu yang tidak tidak dapat dielakkan oleh kaum penjahat.

Ya Allah, tolonglah Dien dan bala tentaraMu, tinggikan kalimat dan panji-Mu yang haq, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

MENGANGKAT ULAMA DAN RAHIB SEBAGAI TUHAN SELAIN ALLAH

RUMIYAH 9 - ARTIKEL

MENGANGKAT ULAMA DAN RAHIB SEBAGAI TUHAN SELAIN ALLAH
OLEH : SYAIKH SULAIMAN BIN ABDULLAH BIN MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB

Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab berkata di dalam kitab Taisirul ‘Azizil Hamid fi Syarhi Kitabi at-Tauhid pada bab Menaati ulama dan penguasa yang mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah dan yang menghalalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah, berarti telah menjadikan mereka sebagai tuhan selain Allah.

Ujarnya, “Ketaatan adalah salah satu jenis ibadah, bahkan merupakan ibadah itu sendiri, ialah menaati Allah dengan cara melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya melalui lidah para Rasul-Nya p. Menaati seseorang itu harus didasarkan pada ketaatan kepada Allah, karena pada dasarnya tidak ada kewajiban untuk taat kepada seseorang hanya karena diri orang itu sendiri.”

Yang dimaksudkan di sini adalah ketaatan khusus, yaitu dalam hal pengharaman yang halal dan penghalalan yang haram. Jadi, siapa yang menaati makhluk selain Rasul shallallahu alaihi wasallam dalam hal tersebut, dan beliau berbicara tidak berdasarkan nafsu, berarti dia musyrik, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah di dalam firman-Nya, ‘mereka menjadikan para ahbar mereka’, yakni para ulama, ‘dan para rahib mereka’, yakni para ahli ibadah, ‘sebagai arbab selain Allah dan al-masih adalah Putra Maryam. Dan tidaklah mereka diperintah melainkan untuk beribadah kepada ilah yang satu. Tidak ada ilah yang hak selain Dia. Mahasa Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.’ (QS. at-Taubah: 31).

Nabi shallallahu alaihi wasallam menafsirkan ayat itu bahwa maksudnya adalah mereka tunduk dan taat dalam hal mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, sebagaimana yang akan disebutkan nanti pada hadits Adi bin Hatim.

Jika ada yang berdalih bahwa Allah ta'ala telah berfirman, ‘Taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulil amri diantara kalian.’ (QS. an-Nisa: 59), yakni para ulama, atau para penguasa, kedua pendapat tersebut diriwayatkan dari Imam Ahmad, Ibnul Qayim berkata, ‘Pastinya bahwa ayat ini mencakup kedua kelompok tersebut (ulama dan penguasa).’

Maka sanggahannya adalah bahwa menaati mereka wajib jika memerintahkan untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika ulama itu adalah yang menyampaikan perintah Allah dan Rasul-Nya, dan penguasa itu adalah pelaksananya, maka disaat itulah wajib menaati mereka sebagai tindak lanjut dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, ‘Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat , sesungguhnya ketaatan itu adalah dalam hal yang makruf.’ (HR. Bukhari dan Muslim), dan sabdanya, ‘Hendaklah seseorang mendengar dan taat selama tidak diperintah untuk bermaksiat. Jika dia diperintahkan untuk bermaksiat maka tidak boleh mendengar dan taat.” Kedua hadits ini adalah shahih. Jadi kandungan ayat ini tidak ada yang menyelisihi ayat surat at-Taubah di atas.

Ibnu Abbas berkata, ‘Hampir saja turun hujan batu dari langit atas kalian. Saya berkata, ‘Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda demikian,’ tetapi justru kalian menyanggah bahwa Abu Bakar dan Umar berkata demikian.’ Kata beliau, ‘Yusyiku, Abu as-Sa’adat berkata, ‘Artinya mendekat dengan segera.’ Kata-kata ini diucapkan oleh Ibnu Abbas kepada orang yang mendebat beliau dalam masalah haji tamattu’. Ia memerintahkan hal tersebut, tetapi sang pendebat berargumen bahwa Abu Bakar dan Umar melarang hal itu, maksudnya keduanya lebih tahu dari pada dirimu (Ibnu Abbas) dan lebih layak untuk diikuti. Oleh karena itu, Ibnu Abbas melontarkan perkataan ini. Kata-kata yang berasal dari keimanan yang tulus dan kuatnya mutaba’ah kepada Rasul shallallahu alaihi wasallam meskipun ditentang oleh siapapun itu, sebagaimana kata Imam Syafi’I, ‘Para ulama sepakat bahwa siapa yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka tidak boleh meninggalkannya karena perkataan seseorang.’ [Madarijus Salikin].

Jika seperti ini kata-kata Ibnu Abbas kepada orang yang mendebat beliau dengan pendapat Abu Bakar dan Umar, padahal keduanya memang begitu, lalu apa yang akan beliau katakan kepada orang yang mendebat sunnah-sunnah Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan pendapat imamnya dan yang semadzhab dengannya? Dia anggap perkataan imamnya itu laksana hakim atas al-Qur’an dan Sunah, mana yang sesuai maka diterima, adapun yang tidak sesuai maka ditolak atau ditakwilkan. Allahul musta’an.

Alangkah baik apa yang dikatakan oleh sebagian ulama,

Jika datang dalil yang selaras kepada mereka
Niscaya mereka tidak lagi pergi kepada bapaknya
Mereka akan menerimanya, dan jika tidak niscaya akan dikatakan bahwa ini perlu ditakwil
Padahal hal itu sulit untuk di takwil

Tidak diragukan bahwa hal ini masuk dalam firman Allah ta'ala, ‘Mereka menjadikan para alim dan pendeta mereka sebagai rabb selain Allah.’ (QS. at-Taubah: 31).

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, ‘Ahmad bin Hanbal berkata, ‘Aku heran dengan kaum yang mengetahui shahihnya isnad, tetapi justru mengambil pendapat Sufyan, sedangkan Allah ta'ala berfirman, ‘Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah.’ (QS. an-Nur: 63). Tahukah anda apakah fitnah itu? Fitnah adalah syirik, bisa jadi jika dia menolak sebagian sabda beliau shallallahu alaihi wasallam, akan muncul suatu kedurhakaan di dalam hati, sehingga akhirnya binasalah ia.’ Ini adalah perkataan Imam Ahmad yang diriwayatkan oleh Fadl bin Ziyad dan Abu Thalib.

Fadhl meriwayatkan dari Imam Ahmad, ‘Aku meneliti mushaf. Kudapati perintah untuk menaati Rasul terdapat pada 33 tempat. Kemudian beliau membaca, ‘Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah.’ (QS. an-Nur: 63). Beliau mengulang ulangnya seraya berkata, “Fitnah itu adalah syirik, bisa jadi jika dia punya niat buruk kepada sebagian sabda beliau, maka muncul suatu kedurhakaan di dalam hati, hingga hatinya menyimpang lalu membinasakannya. Beliau membaca ayat ini, ‘Maka, sekali-kali tidak demi Rabbmu, tidaklah mereka beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam hal yang dipersengketakan antara mereka.’ (QS. an-Nisa: 65).

Abu Thalib meriwayatkan dari Ahmad, bahwa suatu kali diceritakan padanya bahwa ada suatu kaum yang meninggalkan hadits dan justru mengambil pendapat Sufyan, lalu beliau berkata, ‘Aku merasa heran terhadap suatu kaum yang telah mendengar hadits dan mengetahui shahihnya isnad, namun mereka meninggalkannya dan justru mengambil pendapat Sufyan dan yang lain. Allah ta'ala berfirman, ‘Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau adzab yang pedih.’ (QS. an-Nur: 63). Tahukah anda apa fitnah itu? Yaitu kekufuran, Allah ta'ala berfirman, ‘Fitnah itu lebih besar dari pada pembunuhan.’ (QS. al-Baqarah: 217). Mereka meninggalkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga hawa nafsu menjerumuskan mereka untuk mengikuti pendapat akal.’ Hal itu disebutkan oleh Syaikhul Islam.

Saya (penulis) katakan, ‘Perkataan Imam Ahmad dalam mencela sikap taklid dan mengingkari penulisan buku-buku yang bersumber dari ra’yu (akal) sangatlah banyak lagi masyhur.’

Kata beliau, ‘Mereka mengetahui isnad,’ maksudnya ialah sanad-sanad hadits, ‘dan keshahihannya,’ maksudnya ialah keshahihan isnad, yang menunjukkan bahwa hadits itu adalah shahih.

Kata beliau, ‘Tetapi justru mengambil pendapat Sufyan,’ maksudnya Sufyan ats-Tsauri, seorang Imam yang zuhud, ahli ibadah, terpercaya lagi faqih. Beliau memiliki pengikut dan madzhab yang masyhur, lalu terputus (madzhabnya tidak sampai kepada kita seperti madzhab empat imam. Edt.).

Imam Ahmad bermaksud mengingkari orang yang mengetahui sanad dan keshahihan hadits, namun malah bertaklid kepada Sufyan dan yang lain. Kemudian berdalih dengan alasan-alasan bathil. Seperti karena menganggap bahwa berdalil dengan hadits adalah ijtihad, sedangkan ijtihad telah terputus sejak lama. Atau karena menganggap bahwa imam yang ditaklidi itu lebih tahu, tidak mungkin dia berkata tanpa ilmu, dan tidaklah dia meninggalkan hadits ini, misalnya, melainkan berdasarkan ilmu. Atau menganggap bahwa hal itu adalah ijtihad, sedangkan syarat mujtahid adalah mengetahui Kitabullah dan Sunah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, nasikh dan mansukh, sunnah yang shahih dan yang cacat, mengetahui metode menyimpulkan dalil, ilmu bahasa arab, nahwu, ushul fiqih dan syarat- syarat lain yang barang kali juga tidak dimiliki oleh Abu Bakar dan Umar sebagaimana yang dikatakan oleh penulis.

Jika memang alasan-alasan tersebut bisa dibenarkan, maka yang mereka maksud adalah mujtahid mutlak. Namun jika hal itu dijadikan syarat boleh atau tidaknya beramal dengan al-Qur’an dan Sunnah maka ini adalah kedustaan atas nama Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam serta kepada para imam. Yang seharusnya dilakukan oleh seorang mukmin jika sampai kepadanya al-Qur’an dan Sunnah RasulNya shallallahu alaihi wasallam dan ia memahami makna yang terkandung, maka hendaklah dia beramal dengannya meskipun ditentang oleh siapapun itu.

Demikianlah Rabb kita dan Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kepada kita, dan semua ulama juga sepakat atas hal itu, kecuali para pentaklid bodoh dan dungu itu. Orang-orang seperti mereka tidak dianggap ahli ilmu. Dinukilkan sebuah ijma bahwa mereka bukan ulama, diantaranya oleh Abu Umar bin Abdul Barr dan yang lain.

Allah ta'ala berfirman, ‘Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).’ (QS. al-A’raf: 3).

Firman-Nya, ‘Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.’ (QS. an-Nur: 54).

Allah ta'ala bersaksi bahwa siapapun yang menaati Rasul shallallahu alaihi wasallam maka dia akan mendapatkan petunjuk. Sedangkan menurut para pentaklid jumud itu bahwa siapa yang menaati beliau shallallahu alaihi wasallam bukanlah orang yang mendapat petunjuk, melainkan orang yang bermaksiat kepadanya, meninggalkan sabdasabdanya, dan membenci sunnahnya, serta beralih kepada madzhab atau syaikh dan lain sebagainya. Banyak orang yang mengaku ulama, penulis hadist dan kitab-kitab sunan justru terjerumus dalam taklid haram ini. Anda lalu mendapatinya begitu jumud kepada salah satu madzhab, dan menganggap orang yang menentangnya terjerumus dalam dosa besar.

Perkataan Imam Ahmad mengisyaratkan bahwa sikap taklid sebelum sampainya hujah tidaklah tercela, tetapi yang tercela lagi mungkar dan haram adalah tetap seperti itu setelah sampainya hujah. Betul, mengingkari tindakan mempelajari kitab-kitab fikih dan merasa puas dengannya serta meninggalkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Bahkan jika mereka membaca sesuatu dari Kitabullah dan Sunah Rasul Nya shallallahu alaihi wasallam, maka tidak lain hanya untuk mencari berkah, bukan untuk belajar atau memahami. Barangkali juga karena ada orang yang hendak berwakaf kepada seseorang yang membaca Shahih Bukhari, maka ia membacakannya untuk mendapatkan kerja, bukan demi mendapatkan ilmu syar’i. Mereka adalah manusia yang paling layak untuk masuk dalam katagori firman Allah ta'ala, ‘Demikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur’an). Barangsiapa berpaling dari pada Al qur’an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat, mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat.’ (QS. Thaha: 99-101), dan firman-Nya, ‘Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.’ (QS. Thaha: 124) hingga ayat, ‘Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.’ (QS. Thaha: 127).

Jika anda bertanya, ‘Lalu bolehkah seseorang membaca kitab-kitab karya para madzhab ini?’

Ada yang berpendapat bahwa membaca kitab tersebut boleh asalkan tujuannya adalah untuk membantu dalam memahami al-Qur’an dan Sunnah, serta memahami banyak persoalan. Sehingga kitab-kitab tersebut hanya sebagai alat. Adapun jika kitab-kitab tersebut lebih didahulukan daripada Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, yang menengahi perselisihan manusia, menyeru manusia untuk berhukum kepadanya dengan mengesampingkan hukum Allah dan Rasul-Nya g, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu bisa menafikan iman dan bertentangan dengannya. Sebagaimana firman Allah b, ‘Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.’ (QS. an-Nisa: 65).

Jika ketika terjadi persengketaan Anda justru berhukum kepada kitab-kitab madzhab itu. Lalu jika Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara ternyata hati Anda merasa berat, tetapi Anda tidak merasa berat jika yang memutuskan adalah “ahli kitab”.

Lalu jika Rasul shallallahu alaihi wasallam memutuskan suatu perkara ternyata Anda tidak mau tunduk, tetapi Anda justru tunduk patuh jika mereka yang memutuskan perkara tersebut, maka sungguh Allah ta'ala telah bersumpah–dan Dia adalah Dzat yang paling jujur– dengan sumpah yang paling mulia yaitu diri-Nya sendiri azza wa jalla, bahwa anda bukanlah seorang mukmin.

Setelah itu Allah ta'ala juga telah berfirman, ‘Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.’ (QS. al-Qiyamah: 14-15).