Rabu, 25 April 2018

ABU JIHAD AL-KUBAYIR, HAFAL KITABULLAH DAN MENGAMALKAN ISINYA

RUMIYAH 9 - SYUHADA

ABU JIHAD AL-KUBAYIR
HAFAL KITABULLAH DAN MENGAMALKAN ISINYA, KAMA NAHSHIBUHU WALLAHU HASHIBUHU

Allah ta'ala akan menunjukkan pada hambaNya jalan keselamatan jika ia bersungguh-sungguh mencarinya meskipun sedikitnya orang-orang yang mengadakan perbaikan dan sebaliknya banyaknya para penyeru kesesatan di sekelilingnya.

Zaid bin Amru radhiyallahu anhu mengetahui kebenaran dan beriman kepada Allah di tengah lingkungan jahiliyah. Amru bin ‘Abasah as-Sulami radhiyallahu anhu menyeberangi gurun pergi ke Makkah demi mencari kebenaran dan menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu membenarkan dan mengimaninya.

Begitulah orang-orang yang bersungguh-sungguh ingin mengikuti millah bapak kita Ibrahim alaihis salam yang berkata, “Sesungguhnya aku pergi menghadap Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. ash-Shaffat: 99).

Abu Jihad Abdurrahman al-Kubayir taqabbalahullah, berasal dari kota Buraidah, Jazirah Arab. Ayahnya wafat ketika masih kecil, sehingga ia hidup sebagai yatim di bawah asuhan ibundanya. Dalam hatinya tumbuh kecintaan kepada masjid dan perhatiannya tercurahkan kepada kitab Allah ta'ala. Ia telah menghafal al-Qur’an pada usianya yang masih belia. Pikirannya selalu sibuk tentang bagaimana menolong Diennya.

Karena dua sebab inilah dedengkot Sururiyah menemukan barang berharganya. Mereka menariknya dan mengangkat kedudukannya diantara kawan-kawannya. Mereka memberinya tanggung jawab untuk membimbing salah satu halaqah tahfizh yang mereka kelola agar merasa dirinya mempunyai kedudukan dan menjadi buah bibir mereka dan waliyul amri murtadnya. Jabatan apapun diberikan begitu saja oleh Thaghut kepada kelompok ini agar para pemuda terbius sehingga akan dengan mudahnya menjadi hamba Thaghut dan tuan salibisnya. Manhaj mereka adalah berdamai dengan thaghut dan sebaliknya memerangi mujahidin. Thaghut Alu Salul memberikan wewenang penuh kepada kelompok ini untuk membentuk, melarang, dan membubarkan halaqah-halaqah tahfizh di masjid-masjid, serta membatasinya pada masjid tertentu saja, sehingga elemen-elemen kelompok sesat ini bisa mengaturnya dengan leluasa. Mereka memilih penuntut ilmu yang tampak menonjol untuk diserahi sebuah halaqah tersendiri sehingga mereka bisa mengontrolnya dan mempersiapkannya memikul tanggung jawab penting dalam proyek keji mereka.

Ikhwah kita ini telah mencurahkan seluruh usahanya bersama mereka. Ia selalu menghadiri majelis-majelis dan pertemuan mereka, serta membela figur-figur dan masyayikhnya. Hingga akhirnya Allah memberinya hidayah dan menyelamatkannya ketika menemukan -qadarullah- situs internet yang fokus terhadap kabar mujahidin. Ia terkaget-kaget, dan terus menelusurinya. Mulailah ia menelaah manhaj Ahli Tauhid. dan sadar dengan sikap rezim Saudi yang sejatinya memerangi agama Allah. Dia mulai berdialog dengan kawan-kawannya mengenai beberapa persoalan. Karena cintanya kepada kebenaran, dia tidak berdiam diri setelah mengetahuinya. Dia mulai berdialog dengan para “masyayikh” dan pengajarnya di halaqah tahfizh. Ia berupaya menjelaskan kebenaran kepada mereka. Ia berbaik sangka kepada mereka, tidak mengetahui seberapa besar kesesatan dan kebusukan mereka. Begitulah berjalan sampai beberapa waktu. Ia senantiasa berusaha menunjukkan kebenaran kepada mereka dan mereka berusaha mengembalikannya kepada jalan kesesatan.

Makar yang gagal

Belum genap tahun pertama universitasnya, intel Alu Salul menciduknya dan menjebloskannya ke dalam penjara karena beberapa surat yang ditulisnya untuk menasehati ulama-ulama busuk itu jatuh ke tangan intelejen. Mereka menginterogasinya berkenaan surat-suratnya itu selama beberapa waktu. Ketika mereka tidak menemukan kecuali usahanya menyangkal tuduhan yang dilemparkan pada mujahidin, dan belum terlalu jauh menyelami jalan jihad, akhirnya mereka hanya menjatuhkan hukuman beberapa tahun penjara atasnya. Mereka bermaksud menakut-nakutinya dan para pemuda di sekitarnya yang berpikir untuk keluar dari jalan “masyaikh” resmi dan para “syaikh” yang telah tunduk pada thaghut. Dengan itu secara tidak langsung mereka –semoga Allah membinasakan mereka– telah membantunya dengan sebaik-baiknya.

Didalam penjara ia bertemu dengan beberapa ikhwan Muwahhid yang kufur kepada thaghut Alu Salul, kepada agama dan ulama mereka. Ia belajar dari mereka hal-hal yang sulit ia dapatkan di luar penjara. Hingga ia memahami kafirnya thaghut dan tentaranya, serta sadar akan hakikat keledai ilmu, yang sejatinya mereka itu lebih kafir dan lebih pantas dibunuh daripada tentara thaghut dan intelijennya.

Dia telah berbuat baik padaku ketika membebaskanku

Dia mendekam di penjara selama tiga tahun sampai Allah membebaskannya bersamaan dengan awal fase jihad di Syam. Setelah mengecap kebebasan dia mulai mencari cara menuju medan Jihad dan mengatasi larangan perjalanan atasnya. Selama beberapa bulan ia dalam kondisi seperti itu sampai Allah memudahkan jalan menuju Syam. Di sela-sela menunggu waktunya ia menyiapkan beberapa materi media dan mengumpulkan untaian kalimat mujahidin dan ulamanya untuk di bagikan kepada pemuda. Selain itu dia juga ikut meramaikan jejaring sosial bersama para anshar jihad. Ketika Allah bukakan jalan untuknya dia tidak menunggu ataupun ragu sedikitpun. Dia segera berangkat dengan meminta pertolongan kepada Allah sehingga sampai –berkat anugrah Allah- di Syam dengan mudah.

Setelah selesai menjalani mu’askar ia segera mulai menyelesaikan proyek-proyek dakwah dan medianya. Ia bagi-bagikan materi yang telah dikumpulkannya kepada para ikhwah agar mereka dapat mengambil manfaat di waktu luangnya. Dia selalu merasa rugi jika ada waktu yang tersia-siakan tanpa memberi manfaat untuk Islam dan kaum muslimin.

Dari pengalamannya bersama para keledai Ilmu dan penyeru kesesatan itu dia mengetahui betapa mereka berdampak negatif kepada kaum muslimin. Sehingga ia selalu memperingatkan orang-orang dari mereka pada tiap kesempatan. Ia selalu menyeru untuk menjauhi figur-figur yang dijadikan thaghut oleh manusia itu, yang tetap diikuti sekalipun sesat. Terlebih kebusukan mereka itu sampai merambah medan jihad. Mereka ikut campur dalam setiap perkara demi melaksanakan instruksi tuan mereka untuk merusak jihad dan memprovokasi mujahidin.

Sehingga tidak lama berselang muncullah gerakan shahawat yang mengkhianati mujahidin melalui fatwa-fatwa dan wasiat-wasiat mereka. Allah meneguhkannya dalam menghadapi hal itu. Ia mendengar ada sekelompok pemuda yang ragu-ragu untuk memerangi shahawat, maka diapun segera menemui mereka, lalu mengumpulkan dan menyampaikan khutbah yang melapangkan dada para pemuda ini untuk terus memerangi orang-orang murtad itu dengan penuh keteguhan dan keyakinan.

Ya Rabbku bantulah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu

Setelah shahawat berhasil ditumpas di beberapa daerah dan para Mujahidin berkumpul di Aleppo Utara, Abu Jihad pindah ke kota Manbij dan beraktivitas di Markas Hisbah menegakkan amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran.

Kemungkaran sekecil apapun yang ditemukannya pasti diingkarinya. Jika tidak maka ia akan menyuruh kepada kebaikan. Tidak ada seorang awam atau ikhwah mujahidpun kecuali pasti diserunya kepada kebenaran sesuai dengan kondisinya, hingga hal itu menjadi ciri khasnya. Tidaklah anda mendapatinya di suatu tempat kecuali sedang berbicara dengan si ini dan menasehati si itu. Siang malam ia bersungguhsungguh mencari pahala di ranah ini. Ia dan kawan-kawannya di Manbij berperan penting dalam mengadakan daurah-daurah syar’i untuk para pelaku maksiat dan kemungkaran.

Demikianlah aktivitasnya dalam waktu yang cukup lama, tidak putus asa maupun bosan. Tekadnya adalah menjunjung tinggi Laa ilaaha Illallah. Ia laksana pelita yang tak pernah padam saat berada di tengah-tengah Sururiyah, dan di medan jihad ia laksana gunung yang terus bergolak. Mujahidin terkagum-kagum dengan kesabaran, keteguhan, dan kesungguhannya dalam setiap bidang, khususnya yang tidak terkait dengan administrasi. Pekerjaan pokoknya tidaklah mampu dipikul kecuali oleh seseorang yang kuat dan sangat sabar. Puluhan bahkan ratusan orang dan permasalahan menemuninya di Markas Hisbah. Meskipun begitu senyum tidak pernah terpisah dari wajahnya, sehingga seluruh kaum Muslimin mencintainya. Hal itu menjadi sebab – setelah taufiq Allah – banyaknya orang yang mendapat hidayah untuk bergabung dengan mujahidin.

Orang-orang yang jujur dengan janji mereka

Meski dengan segala kesungguhannya ini, meski bahwa dialah yang pertama kali menyambut seruan tempur, ia selalu menuduh dirinya sendiri bersifat munafik lantaran selama ini jauh dari garis pertempuran. Betapa sering dia mendesak amirnya agar memindahkannya ke batalyon tempur agar selalu berada dalam ribath, akan tetapi amirnya selalu mengingatkannya bahwa tanggung jawabnya itu amat penting dan sedikit yang mampu memikulnya. Sampai tibalah saat pertempuran Manbij. Ucapannya itu dibuktikan dengan aksinya. Titik-titik ribath di Manbij tak pernah ditinggalkannya.

Pada hari ke tiga belas Ramadhan, sekelompok prajurit murtad PKK berhasil menyusup ke titik ribathnya. Mengetahui hal itu tidak membuatnya mundur. Senjatanya segera diraihnya untuk menyerbu mereka. Para ikhwah mendengarnya melalui walkie-talkie berkata aku telah membunuh satu murtad! Kemudian kedua kalinya, lalu ketiga kali, hingga dia berhasil membunuh lima orang murtad. Kemudian kakinya tertembak, namun dia tetap bertahan, sampai Allah menganugerahkan mati syahid lewat ledakan RPG. Itulah akhir hayat yang dicita-citakannya. Dia pernah berdoa agar tidak terbunuh kecuali telah membunuh dan mencederai orang kafir.

Dia telah gugur –semoga Allah merahmatinya- namun amalnya tetap abadi menjadi saksinya nanti di hari kiamat. Proyek-proyek hisbah, dakwah, taklim, media dan proyek-proyek lainnya terus berjalan dan menjadi shadaqah jariyah untuknya dengan izin Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar