Jumat, 27 April 2018

JIHAD DENGAN DOA (BAGIAN 2)

JIHAD DENGAN DOA (BAGIAN 2)

Doa adalah senjata bagi orang beriman dan merupakan salah satu macam dari berbagai macam jihad secara lisan di jalan Alloh, juga menjadi ditekankan bagi orang-orang yang lemah dari kalangan muslimin dan bagi yang belum Alloh mudahkan untuk langsung berperang dengan jiwa dan harta. Sungguh doa itu telah menajdi sebab pertolongan bagi Tholut dan para prajuritnya yang bertauhid, atas Jalut dan tentara kafirnya sebagaimana tersebut dalam surat al-Baqoroh. Doa bagi Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam juga hal yang paling pertama beliau lakukan ketika musuh mendadak menyerang muslimin, mengepung mereka atau ketika barisan mereka berhadapan dengan musyrikin.

Dan begitu pula yang dilakukan para shohabat rodhiyallohu ’anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka, mereka tidak berlindung pada setiap peperangan-peperangan mereka kecuali kepada Robb mereka, bertawakkal kepada-Nya, bersimpuh di antara kedua tangan-Nya, mereka merendahkan diri kepada-Nya, dan mereka berlepas diri dari daya dan kekuatan mereka kepada daya dan kekuatan-Nya yang Maha Suci. Maka Alloh pun segera meneguhkan mereka, menurunkan ketenangan atas mereka, melemahkan musuh mereka, melemparkan rasa takut ke dalam hati musuh mereka dan membuat musuh mereka berpaling ke belakang dalam keadaan terkalahkan.

Inilah shohabat yang mulia, Nu’man bin Muqrin, yang diutus oleh kholifah ‘Umar bin Khottob rodhiyallahu ’anhuma sebagai pemimpin pasukan untuk memerangi Persia, keluar dengan membawa seratus lima puluh ribu tentara untuk menaklukkan negara kaum muslimin pada tahun 21 H. Maka bertemulah dua kelompok tersebut di daerah Nahawand di negeri Persia, dan Nu’man menunggu untuk memulai peperangan sampai mencapai waktu yang disukai di mana Rosululloh shollallohu ’alayhi wasallam pernah menyerang musuh pada waktu tersebut. Yaitu ketika matahari mulai condong ke barat.

Maka ketika mulai mendekati waktu tersebut, dia mengendarai kudanya dan berjalan di antara manusia dan berhenti pada setiap bendera, mengingatkan mereka, membakar semangat mereka dan menjanjikan kemenangan bagi mereka dan dia berkata kepada mereka, “sesungguhnya aku akan bertakbir tiga kali, maka jika aku telah bertakbir yang ketiga, sungguh aku akan menyerang dan seranglah.”

Kemudian dia berdoa secara keras : “Yaa Alloh, muliakanlah diin-Mu, tolonglah hamba-hamba-Mu, dan jadikanlah Nu’man orang yang syahid pertama kali pada hari ini. Yaa Alloh sesungguhnya aku memohon kepadamu agar menyejukkan mataku dengan kemenangan yang menjadikan islam mulia dan cabutlah (nyawa)ku sebagai orang yang syahid”. Maka semua manusia menangis dan mengaminkan doanya.

Lalu apa yang terjadi?! Maka setelah mereka saling berperang dengan peperangan yang dahsyat, Persia terpukul mundur dan di antara mereka banyak yang terbunuh diantara waktu matahari condong hingga gelap, bumi peperangan dipenuhi dengan darah yang menenggelamkan manusia dan hewan melata. Maka ketika Alloh sudah menyejukkan mata Nu’man dengan penaklukan dan dia melihat kehancuran kaum musyrikin, Alloh memilihnya sebagai syahid pada akhir peperangan sebagai bentuk terkabulnya doa beliau. (al-Kaamil Fit Taarikh li Ibnil Atsiir).

Kalau saja kita menapak-tilasi para generasi as-salafus sholih dalam hal mengutamakan senjata doa pada setiap peperangan mereka, dan bagaimana doa tersebut memberikan dampak yang nyata dalam hal tertolongnya mereka, maka tentu saja kita akan mendapatkan keadaan yang serupa. Maka di antaranya ada seorang pemimpin penakluk besar yaitu Qutaibah bin Muslim al-Bahili rohimahulloh.

Di dalam setiap penaklukannya beliau didampingi oleh para ‘ulama, fuqoha’ dan para ahli ibadah, beliau memohon pertolongan dengan doa mereka. Maka di akhir periode awal hijriyah dan di salah satu peperangannya, Qutaibah berhadapan dengan Turk, hingga urusan mereka, jumlah mereka dan perlengkapan mereka membuat beliau resah. Beliaupun segera mencari dan bertanya tentang seorang
tabi’in al-Imam Muhammad bin Wasi’ rohimahulloh, lalu dikatakan padanya, “beliau berada di sebelah kanan pasukan bersandar pada busur mengangkat jari telunjuknya memohon kepada Robbnya kemenangan menghadapi musuh.” Maka Qutaibah mengucapkan perkataan yang masyhur, “jari telunjuk tersebut lebih aku sukai dari seratus pedang yang terkenal dan para pemuda dewasa.” (Siyar A’lam an-Nubalaa’).

Dia tidak akan mengatakan yang demikian dan merasa gembira dengan kemenangan, melainkan karena ilmunya tentang keutamaan dan pentingnya senjata doa. Ternyata ketika berhadapan dengan tentara Turk yang musyrik dan memerangi mereka, Alloh memberikan penaklukan padanya dan menghancurkan mereka, mengambil alih banyak negeri dari mereka, banyak yang terbunuh dari mereka dan lainnya tertawan, serta mendapatkan harta rampasan yang banyak.” (al-Bidayah wan Nihayah).

Marilah kita merenungi penakluk yang kedua, beliau adalah gubernur Khurosan al-Qoid Asad bin ‘Abdulloh al-Qusari rohimahulloh. Di salah satu pertempuran dahsyat melawan Turk pada tahun 199 H, dia sholat bersama dengan tentara muslimin pada waktu subuh kemudian berkhotbah dengan lantang, ”Sesungguhnya musuh Alloh al-Harits bin Sarij –orang ini adalah yang keluar dari ketaatan pada Bani Umayyah pada zaman Hisyam bin ‘Abdul Malik menggunakan kedurhakaannya –bergabung dengan Khoqon (Raja) Turk- untuk memadamkan cahaya Alloh dan mengganti diin-Nya, namun Alloh menghinakannya insyaa Alloh. Sesungguhnya musuh kalian adalah anjing yang menimpakan kepada sebagian dari saudara kalian dengan apa yang telah mereka timpakan. Jika Alloh menghendaki pertolongan pada kalian maka tidak akan membahayakan kalian sedikitnya jumlah kalian dan banyaknya jumlah mereka. Maka mintalah pertolongan pada Alloh.” Kemudian dia berkata, “sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa seorang hamba menjadi sangat dekat kepada Alloh jika dia meletakkan dahinya untuk Alloh, dan aku akan turun meletakkan dahiku, maka berdoalah kalian kepada Alloh, sujudlah kalian kepada Robb kalian dan jadikanlah doa itu hanya kepada-Nya”.

Maka mereka melakukannya dan mereka mengangkat kepala mereka dan mereka tidak ragu akan mendapatkan penaklukkan, dan mereka telah mulai berjalan untuk memerangi Turk musyrik. Maka ketika sampai bakhl –salah satu kota di Khurosan- dia sholat bersama manusia sebanyak dua rakaat yang dipanjangkan keduanya, kemudian dia memanggil manusia agar mereka berdoa kepada Alloh, dan memanjangkan doanya dan berdoa agar diberikan pertolongan dan diaminkan oleh para manusia atas doanya. Maka dia berkata: “Kalian sudah ditolong Demi Robb Ka’bah insya Alloh” tiga kali.

Maka ketika mereka telah sampai kepada para musyrikin dan orang-orang murtad, al-Harits pun kalah, Khoqon berbalik lari dan seluruh Turk bersembunyi ke dalam bumi tanpa menoleh kepada siapapun lagi. Maka kaum muslimin mengejar mereka, membunuh siapa saja dari mereka yang mampu untuk dibunuh hingga mereka berhenti pada kambing-kambing mereka. Lalu mereka memberi minum lebih dari seratus lima puluh lima ribu anak unta. (Tarikh Ath-Thobari).

Itu adalah cuplikan dari banyak atsar para pendahulu kita yang membawa inspirasi tentang doa sebagai salah satu sebab terpenting datangnya pertolongan dalam menghadapi musuh, ketika terpenuhi syarat-syarat terkabulnya doa dan tiada lagi penghalang-penghalangnya.

Dan salah satu syarat paling penting agar doa diijabahi adalah; (1) memurnikan doa hanya kepada Alloh yang Maha tunggal saja. Di antaranya; (2) mengikuti rosululloh shollallohu ’alayhi wasallam dalam cara berdoa dan bagaimananya dan menjauhi bid’ah dan hal-hal yang diada-adakan dalam berdoa. Di antaranya; (3) kesungguhan dan tekad, telah bersabda shollallohu’alayhi wasallam, “jika seorang dari kalian berdoa maka dia harus bersungguh-sungguh dalam memohon dan jangan berkata, ‘Yaa Alloh jika Engkau menghendaki maka kabulkanlah’.” (Muttafaq ‘alayhi).

Di antaranya; (4) percaya doanya akan dikabulkan oleh Alloh. Telah bersabda shollallohu ’alayhi wasallam, “maka jika kalian telah meminta pada Alloh maka mintalah kalian pada-Nya dan kalian termasuk orang-orang yang yakin akan dikabulkan, karena sesungguhnya Alloh tidak mengabulkan doa hambaNya yang keluar dari hati yang lalai.” (Riwayat Ahmad)

Di antaranya; (5) menginginkan apa yang ada di sisi Alloh berupa pahala, mencemaskan apa yang ada di sisi-Nya berupa hukuman, dan hadirnya hati juga kekhusyu’an, Alloh berfirman, “sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dalam keadaan harap dan cemas, serta menjadi orang-orang yang khusyu’ kepada kami.” (al-Anbiya : 90).

Doa juga memiliki adab-adab dan hal-hal yang disunnahkan (mustahab), yang membuat doa lebih dekat untuk dikabulkan, di antaranya;
(1) hendaknya orang yang berdoa dalam keadaan suci, menghadap qiblat dan mengangkat tangannya. Di antaranya;
(2) agar orang yang berdoa memuji Alloh ‘azza wa jalla dengan pujian yang layak untuk-Nya, dan bersholawat atas Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam sebelum berdoa. Di antaranya;
(3) hendaknya mendahului doanya dengan amal sholih sebelum berdoa. Di antanya :
(4) merintih pada Alloh dalam meminta, mengulanginya sebanyak tiga kali atau lebih, dan menangis. Di antaranya;
(5) melirihkan suara ketika berdoa jika orang yang berdoa dalam keadaan sendirian, adapun bagi seorang imam maka diharuskan untuk mengeraskan suaranya sehingga manusia mengamini doanya. Di antaranya;
(6) berdoa pada tempat-tempat dikabulkannya doa, seperti pada waktu sepertiga malam, setelah sholat wajib, di antara adzan dan iqomat, ketika turun hujan, ketika barisan mulai bergerak pada waktu jihad di jalan Alloh, ketika kedua pasukan bentrok, pada waktu akhir hari jumat, dalam sujud, dan ketika mendengar kokok ayam jantan, dan ketika berbuka berpuasa, dan ketika melakukan safar.

Dan hal ini, orang yang berdoa harus menghindari penghalang terkabulnya doa, diantaranya;
(1) berdoa kepada selain Alloh, meminta syafa’at kepada orang-orang yang sudah mati dan makhluq ghoib, hal tersebut adalah syirik akbar yang mengeluarkan dari millah. Di antaranya;
(2) bertawasul kepada Alloh dengan doa-doa yang bid’ah, seperti berdoa kepada Alloh dengan perantara keutamaan Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam seperti, “Ya Alloh aku memohon kepadaMu dengan keutamaan Nabi-Mu.” Di antaranya;
(3) menjauhkan rohmah Alloh, seperti, “Ya Alloh rohmatilah fulan, ampunilah fulan, namun jangan Engkau rohmati dan ampuni fulan.” Di antaranya;
(4) berdoa untuk dosa dan memutus hubungan. Di antaranya :
(5) melakukan ma’shiyat dan secara khusus memakan makanan harom, seperti hasil curian, riba, khomr dan rokok. Sungguh telah disebutkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam, “seorang melakukan safar yang panjang sehingga menjadi kusut dan berdebu, dia mengangkat tangannya ke langit, “yaa Robb yaa Robb” dan tempat makannya harom, dan tempat minumnya harom, dan bajunya harom, dan memulai perjalanan dengan hal yang harom, maka bagaimana mungkin dikabulkan karena hal itu?” (Diriwayatkan oleh Muslim).

Dan juga diantaranya; (6) meninggalkan memerintahkan kepada hal yang ma’ruf (al-amr bil ma’ruf) dan melarang dari hal yang munkar (an-nahi ‘anil munkar), Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Demi jiwaku yang berada ditanganNya, kalian harus benar-benar menyuruh kepada hal yang ma’ruf dan kalian harus benar-benar melarang dari hal yang munkar, atau Alloh akan mengirim kepada kalian hukuman kemudian kalian berdoa kepada-Nya, namun tidak dikabulkan doa kalian.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan dia menghasankannya).

Hendaknya orang yang berdoa untuk menjauhi hal-hal makruh dalam berdoa, seperti; (1) berdoa dengan suara yang sangat keras, dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, “dan janganlah kamu mengeraskan sholatmu (doamu) dan jangan pula kamu memelankannya) telah diturunkan ayat ini dalam hal doa.” (Muttafaq ‘alayhi).

Di antaranya; (2) memberatkan diri dan membuat-buat kalimat bersajak yang berisi kesombongan atau kalimat yang tidak dipahami secara umum. Meskipun kefasihan dalam doa adalah terpuji agar maknanya tidak rancu, akan tetapi keluar dari kebiasaan dalam hal tersebut adalah perbuatan yang tercela, karena menghilangkan kekhusyu’an dan melalaikan hati.

Di antaranya: (3) orang yang berdoa meminta yang tidak layak dalam permintaanya, seperti meminta pada Alloh untuk mengekalkannya didunia, atau meminta pada Alloh agar menjadikan kedudukannya seperti kedudukan para Nabi.

Maka dari itu, wahai tentara Daulah Islamiyah, wahai para pemimpinnya, wahai para rakyatnya dan wahai para pendukungnya, berdoalah kalian semua kepada Alloh agar Dia menolong Khilafah kalian, dan agar DIa menghancurkan Jalut modern yaitu Amerika, dan bala tentaranya. Karena Alloh akan mengabulkan doa kalian walau di kemudian hari.

An-Naba’ Edisi 47

Tidak ada komentar:

Posting Komentar