Rabu, 25 April 2018

KEBOHONGAN YANG MENUTUPI KEMATIAN MULLA UMAR

DABIQ 11 - PENDAHULUAN

KEBOHONGAN YANG MENUTUPI KEMATIAN MULLA UMAR

Bismillah. Segala puji bagi Allah. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, juga kepada keluarga, para shahabat dan para pengikutnya. Amma ba’du.

Sebuah peristiwa yang paling memalukan pada tahun 1436 H –wallahu a'lam bish-shawab– yang akan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya, kecuali dalam sejarah kebohongan dan legenda. Jika seseorang mencari melalui pintu sejarah ini, mungkin dia akan menemukan hal yang paling mirip yang pernah terjadi sebelumnya adalah mitos "Paus Joan," seorang wanita yang sepertinya telah menipu gereja pagan agar memilihnya sebagai Paus sambil menyamarkan dirinya sebagai seorang pria. Dia diduga berhasil menipu dan memerintah para penyembah salib selama beberapa tahun sebelum kedoknya terbongkar dan meninggal tak lama kemudian ...

Sosok yang paling mirip lainnya adalah "Imam Tersembunyi" milik beberapa sekte sesat termasuk Rafidhah yang percaya pada keghaiban Muhammad al-'Askari, sekte Ismailiyah yang percaya pada keghaiban Muhammad Ibnu Ismail Ibnu Ja'far ash-Shadiq, dan Druze yang percaya pada keghaiban "al-Hakim bi Amrillah" al-'Ubaydi. Beberapa sekte mereka bahkan percaya pada reinkarnasi dari apa yang disebut "imam tersembunyi" atau pada wakil yang bertindak atas namanya ...

Ya, ini semua adalah hal yang paling mirip yang pernah terjadi sebelumnya dengan sebuah kejadian paling memalukan: kebohongan Akhtar Mansur, seorang laki-laki yang akrab dan disukai oleh "Inter-Service Intelligence" Pakistan (ISI, Dinas Intelijen Pakistan) dan yang selama bertahun-tahun telah memerintah "Imarah Islam Afghanistan" yang telah kadaluarsa dengan menggunakan nama orang yang telah meninggal: Mulla Muhammad 'Umar. Dan dengan memanfaatkan Kematian Mulla 'Umar, Akhtar merilis pernyataan –baik dengan mengatas-namakan Mulla 'Umar dan nama "Imarah"– untuk mendukung rekonsiliasi nasional dengan rezim boneka murtad Afghan, normalisasi hubungan dengan rezim murtad Pakistan dan angkatan bersenjatanya, memuji berbagai Thaghut Arab dan non-Arab, termasuk budak Amerika Hamad Alu Thani dan Tamim Alu Thani dari Qatar, dan menyatakan bahwa musuh paling jahat Islam -Rezim Shafawi Iran- sebagai negara Muslim!

Dia merilis statemen yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip PBB, konvensi internasional, nasionalisme, "modernisme," dan pasifisme, serta statemen yang mengingkari jihad ofensif dan defensif kecuali untuk perang nasionalis Afghan melawan pasukan penjajah Amerika. Dia merilis pernyataan mendukung legalitas dan otoritas pemilu demokrasi thaghut di Mesir dan hasil pemilihan mereka. Dia merilis pernyataan yang menyatakan bahwa Rafidhah adalah Muslim, bahkan mengutuk serangan terhadap Rafidhah Afghanistan(1). Dan selama mereka tetap mempertahankan Thaliban, ia dan antek-antek terdekatnya –demi keuntungan pribadi dan penyimpangan parah dan atas nama Mulla 'Umar yang telah meninggal–ia mengobarkan perang terhadap Khilafah yang memerintah dengan syari'at dan mempraktekkan al-wala' wal bara', sementara "Imarah" Thaliban mereka dengan tegas menolak kewajiban yang telah jelas dan pasti dari aqidah al-wala' wal bara' ini. Maka menurut perkataan dan perbuatan Akhtar dan kaki-tangannya, Rafidhah dan para thaghut adalah "saudara Muslim" yang harus mereka hormati, sedangkan para pemimpin Daulah Islam dan tentaranya adalah "Khawarij" yang kepada mereka harus dikobarkan perang...

Sepanjang periode ini, berbagai cabang al-Qa'idah mengklaim bahwa mereka tidak bisa berbai'at kepada Khalifah Abu Bakr al-Qurasyi al-Baghdadi (hafizhahullah) karena Mulla 'Umar adalah "Imam tertinggi" mereka, walau setelah bertahun-tahun para pemimpin al-Qa'idah menyatakan bahwa Mulla Umar bukanlah khalifah tetapi pemimpin untuk wilayah terbatas sebuah emirat regional(2). Hal ini ditambah dengan Thaliban yang bertahun-tahun merilis pernyataan menolak akan misi apapun di luar Afghanistan.

Mujahidin di Khurasan kemudian mulai menolak secara terbuka klaim bahwa Mulla 'Umar masih hidup, banyak dari mereka yang yakin bahwa dia sudah meninggal hampir empat belas tahun lalu, tak lama setelah dimulainya invasi Amerika ke Afghanistan pada "akhir 2001." Semakin banyak para pejuang yang jujur meninggalkan barisan Thaliban Akhtar dan berbai‘at kepada Khilafah, sedangkan yang lain mulai menekan para pemimpin Thaliban untuk memberikan bukti jika Mulla 'Umar masih hidup. Thaliban merilis statemen tertulis lain yang dibuat dengan nada nasionalis dan dialek yang mengatasnamakan Mulla 'Umar yang telah meninggal, ucapan selamat Idul Fitri kepada umat dan mendukung rekonsiliasi nasional Afghanistan dengan rezim murtad!

Tekanan semakin membesar bahkan dari para pendukung Akhtar di dalam Intelijen Pakistan dan Afghan, sampai dia dan antek-anteknya mengakui akan kematian Mulla 'Umar. Biro politik "Imarah" Thaliban kemudian mengumumkan bahwa Mulla 'Umar telah meninggal tepatnya pada "23 April 2013". Setelah itu Muhammad Thayib Agha –kepala kantor politik dan sebelumnya dia merupakan salah satu orang yang paling dekat dengan Mulla 'Umar– mengumumkan pengunduran dirinya dan menyatakan bahwa dirinya menganggap penyembunyian kematian Mulla 'Umar untuk jangka waktu "dua setengah tahun" adalah sebuah "kesalahan sejarah".

Hal ini diikuti oleh pernyataan dari Zabihullah Mujahid (juru bicara resmi "Imarah" Thaliban) di mana ia mengaku bahwa mereka telah menutupi kematian Mulla 'Umar sejak "23 April 2013". Dengan demikian, Mulla 'Umar telah meninggal setidaknya lebih dari satu tahun sebelum deklarasi Khilafah dan sangat lama setelah ekspansi resmi Daulah Islam ke Syam, ini jika kita menganggap bahwa dia tidak meninggal pada tahun-tahun sebelum itu... Maka apa yang akan dilakukan oleh al-Qa'idah dan pengikutnya dalam menanggapi kebohongan ini? Apakah mereka akan bertobat dan bergabung ke dalam barisan Khilafah?

Tidak ... Para pendukung Al-Qa'idah di antara mereka yang mengaku "ulama" justru menulis risalah untuk membenarkan penyembunyian kematian Mulla Umar, tanpa mengutip al-Qur'an dan Sunnah, tetapi mengutip buku sejarah tentang khalaf (generasi setelah Salaf) yang penuh dengan peristiwa yang tidak bisa diteliti keshahihannya yang secara personal bahkan tidak bisa dijadikan contoh bagi umat!

Beberapa contoh dari Salaf mereka kutip dan diselewengkan, seperti yang berkaitan dengan dirahasiakannya kematian pemimpin hanya untuk waktu yang singkat dan hanya kepada sebagian kecil tentara Muslim yang terlibat dalam pertempuran, tidak selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun dan tentu tidak kepada seluruh umat! Para "ulama" hizbi kemudian secara ghuluw berlaku dusta demi perang dan rekonsiliasi termasuk untuk berdusta tanpa ada batasan waktu kepada Umat Muslim di seluruh dunia secara keseluruhan dari Timur jauh hingga ke Barat jauh termasuk semua cendikiawan, pemimpin, pejuang dan laki-laki, semuanya demi "Maslahat" yang didefinisikan sangat longgar.

Mereka bahkan mengizinkan untuk berpidato yang dibuat atas nama orang yang sudah meninggal hanya untuk menghalangi bersatunya umat di bawah kewajiban Khilafah dan untuk mengikat dengan rantai taqlid di atas keburukan hizbiyah (berkelompok)! Yang lebih buruk lagi, dengan demikian "Ulama" ini telah membuka jalan bagi masyarakat untuk menolak sesuatu apapun yang ditujukan kepada mereka, karena penyimpangan sebelumnya dan justifikasi lemah yang berarti segala hal bisa menjadi kedustaan tak berujung bagi seluruh umat demi hizbiyah. Dan siapa yang tahu, mungkin beberapa dari masyarakat yang jahil akan keluar dan menyatakan bahwa Mulla 'Umar masih hidup, tidak mati, lalu akan muncul "okultasi" baru tambahan dari apa yang diklaim oleh kaum Rafidhah dan Bathiniyah ...

Kemudian tiba-tiba Azh-Zhawahiri –orang yang telah menghilang lebih dari satu tahun sejak 3 September 2014– keluar dan menyatakan bai‘at kepada si pendusta Akhtar Manshur! Ini semua dia lakukan meskipun otoritas Akhtar sangat diperdebatkan oleh banyak divisi Thaliban, termasuk yang dipimpin oleh anak Mulla 'Umar dan saudaranya, serta sebagian lagi yang menentang rencana Akhtar untuk rekonsiliasi nasional dan normalisasi internasional.

Beberapa pemimpin Thaliban meninggalkan "Syura Quetta" di mana Akhtar menjadi "Terpilih", keberatan dengan otoritas Akhtar dan legitimasi "Syura"nya. Para pemimpin lain mengundurkan diri dari posisi mereka –seperti Muhammad Tayib Agha, 'Aziz 'Abdur-Rahman, dan Nek Muhammad– sebagai protes atas kedustaan atau penolakan Akhtar atau dalam mengejar kepemimpinan!

Bagaimanapun Zhawahiri tetap berbai‘at. Pertanyaan selanjutnya adalah: Akankah domba buta di berbagai cabang al-Qa‘idah segera mengkuti dan memberikan bai‘at kepada seorang pendusta terkenal? Apakah mereka akan berbai‘at kepada seseorang yang telah menolak dasar dari al-wala wal bara‘ dan berbicara mengatasnamakan orang yang telah mati? Apakah mereka akan berbai‘at kepada seseorang yang secara resmi mengutus delegasi politik kepada Shafawi Iran dan "Imarah" nya yang menyebut rezim Iran sebagai "Negara Islam" dan memanggil para pemimpin Rafidhah dan pengikutnya sebagai "Saudara Muslim"!

Jika mereka mau merenungkan kembali kedustaan ini, bai'at kepada tokoh penipu ini, dan kerusakan berbagai cabang mereka yang telah mengerahkan media dan militer untuk melakukan kampanye perang melawan Daulah Islam, tentu mereka akan takut terhadap hal ini semua yang bisa menjadi kemungkinan merupakan hasil dari mubahalah yang telah dideklarasikan lebih dari satu tahun lalu, tapi yang menyedihkan kebanyakan dari mereka tidak berfikir untuk diri mereka sendiri, dan membiarkan hawa nafsu mereka dan membiarkan si penggembala buta menuntun mereka. Kita memohon kepada Allah semoga melindungi kita dari keburukan hawa nafsu, taqlid, irja‘, hizbiyah dan dari Dajjal.

Catatan kaki :

1. Statemen-statemen ini dapat ditemukan di situs resmi Thaliban. Sejumlah besar statemen-statemen ini telah dikumpulkan dan direferensikan dalam sebuah artikel berjudul “Fadhihat asy-Syam wa Kasr al-Ashnam” oleh Abu Maisarah Asy-Syami.

2. Secara eksplisit hal ini telah disampaikan oleh Athiyatullah al-Libi, dan juga secara eksplisit telah dinyatakan oleh Azh-Zhawahiri dan an-Nazhari, akan tetapi sikap hizbiyah telah membutakan hati!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar