Rabu, 25 April 2018

DUA KSATRIA KHILAFAH MENGHUKUM PARA PENGHINA NABI DI AMERIKA

DABIQ 9 - PENDAHULUAN


DUA KSATRIA KHILAFAH MENGHUKUM PARA PENGHINA NABI DI AMERIKA

"Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih besar lagi." (Ali Imran: 118)

Pada saat Tentara Salib terus memperlihatkan kebencian dan permusuhan mereka terhadap Islam melalui pengeboman dan serangan drone mereka yang tiada henti atas Daulah Islam, generasi baru Tentara Salib terus menampakkan dengan jelas kebencian mereka kepada agama yang benar ini. Tujuan dari generasi baru Tentara Salib ini tidak lebih untuk membuat kemarahan atas kaum Muslim dengan menghina dan memperolok-olok makhluk yang paling mulia, Nabi Muhammad ibnu ‘Abdillah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan dalih membela berhala "kebebasan berbicara."

Akan tetapi, serangan kurang ajar yang ditujukan terhadap kehormatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah menghalangi atau mengecilkan hati kaum Muslimin, tetapi justru sebagai bentuk dorongan. Sehingga hal ini memacu mereka untuk berhadapan dengan kekuatan kufur dengan cara apa pun yang mereka mampu. Itulah yang terjadi dengan Elton Simpson dan Nadir Soofi, dua pria pemberani yang memikul sendiri beban ini untuk memperingatkan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Selama mereka mengobarkan perang melawan Islam, niscaya mereka tidak akan mendapatkan ke- damaian dan keamanan serta tidak akan bisa menampakkan diri di muka umum, kecuali dengan penjagaan pasukan pengawal dan petugas keamanan.

Kedua singa Khilafah tiba di Curtis Culwell Center di Garland, Texas, tiga minggu yang lalu selama berlangsungnya konvensi yang menampilkan kompetisi menggambar karikatur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai cara untuk memperolok-olok dan mengejek beliau. Kedua mujahidin datang dengan membawa senjata. Mereka siap berperang, memicu baku tembak dengan polisi yang menjaga tempat tersebut, dan mencapai kemuliaan Syahadah dalam menunaikan balas dendam atas kehormatan Nabi tercinta kita shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tekad mereka untuk menolong karena Allah dan menghukum orang-orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini, seharusnya menjadi inspirasi bagi orang-orang yang tinggal di negeri Tentara Salib namun masih ragu untuk melaksanakan kewajiban mereka. Orang-orang itu telah membaca ayat dan hadits mengenai keutamaan jihad yang tak terhitung jumlahnya dan berdo’a dengan tulus kepada Allah untuk memohon syahadah kepada-Nya. Akan tetapi, mereka belum juga bertindak. Seharusnya mereka faham bahwa Allah tidak akan mengabulkan do’a mereka hingga mereka mengambil langkah menuju kewajiban yang mulia ini.

"Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, 'Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu'." (QS. At- Taubah : 46)

Banyak dari orang-orang yang meraih syahadah karena memerangi pasukan salib di negeri mereka sendiri, pada awalnya telah melakukan langkah untuk berhijrah ke negeri-negeri jihad. Langkah-langkah persiapan ini cukup untuk menunjukkan ketulusan hati mereka, maka mereka mendapatkan syahadah tanpa harus menghadapi kesulitan untuk berhijrah.

Adapun mereka yang terus menderita penyakit ketidakpedulian akan kewajiban hijrah, jihad, dan bai’at, karena begitu parahnya penyait mereka sehingga mereka tidak melihat adanya hal yang salah dengan tetap tinggal bersama para salibis dan membayar pajak kepada mereka. Padahal, para salibis itu telah merendahkan syari’at Islam di berbagai program berita dan hiburan mereka. Mereka mempersenjatai orang-orang sekuler dan Rafidhah di negeri-negeri Muslim, memenjarakan dan menyiksa kaum Muslim, baik lelaki maupun perempuan, dan yang paling besar ialah membakar Al-Qur’an dan menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, hendaklah mereka bersiap-siap membawa alasan mereka yang lemah kepada Malaikat Maut.

"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab, "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)." Para malaikat berkata, "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An-Nisaa’ : 97)

Kaum munafik akan duduk-duduk saja, lelaki sejati akan melangkah maju, dan kaum kafir tidak akan mendapatkan kedamaian dan keamanan.

Semoga Allah menerima kedua saudara kita ini di barisan pemimpin syuhada di surga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar