Rabu, 25 April 2018

PERGESERAN PARADIGMA (BAGIAN 1)

DABIQ 8 - SPESIAL

PERGESERAN PARADIGMA (BAGIAN 1)
Oleh: John Cantlie

Setelah semua gemertakan gigi pada bulan September, sekarang muncul sambutan kebencian oleh banyak politisi Barat bahwa Daulah Islam berbeda dengan apa yang mereka telah lihat sebelumnya. Tanggapan mereka, karena berbagai kebutuhan, juga berbeda-beda.

Pertama, keberatan. Selalu ada bahaya karena saya berada jauh ketinggalan dari beberapa hal yang baru-baru ini berkembang dan bahwa beberapa laporan berita yang saya amati yang disediakan sudah ketinggalan jaman dari awal. Namun adakah yang memperhatikan sebuah titik krusial yang menunjukkan adanya pergeseran dalam cara pandang beberapa pemimpin Amerika dan sekutu mereka dalam mendiskusikan masalah Daulah Islam baru-baru ini?

Dari gertakan ompong ceramah Obama untuk bangsa pada tanggal 10 September, di mana ia menyatakan bahwa Daulah Islam "adalah organisasi teroris, murni dan simpel", akan terlihat bahwa beberapa penasihat terdekatnya, dan banyak tokoh NATO di seluruh dunia dan media secara umum tidak yakin dengan deskripsi sederhana ini, meskipun "teror" tidak diragukan lagi merupakan salah satu taktik, di antara banyak taktik, yang diterapkan secara cekatan dan maju oleh Daulah Islam dalam jihadnya.

Mantan menteri pertahanan Obama sendiri; Chuck Hagel menggambarkan situasi ini sebagai "salah satu periode paling menantang dalam sejarah kepemimpinan Amerika."

Dalam sebuah wawancara dengan CBS, Hagel melanjutkan dengan mengatakan, "Kami belum pernah melihat sebuah organisasi seperti ISIL yang begitu terorganisir dengan baik, sangat terlatih, sangat baik pendanaannya, sangat strategis, begitu brutal, sehingga benar-benar sangat kejam. Kami belum pernah melihat sesuatu seperti itu dalam satu institusi. Kemudian mereka mencampurnya dengan ideologi ... dan media sosial. Kecanggihan program media sosial mereka adalah sesuatu yang kita belum pernah lihat sebelumnya. Mencampur semua itu secara bersama-sama, sehingga menjadi ancaman baru yang sangat kuat."

Untuk seorang mantan menteri pertahanan yang berkata menggunakan bahasa yang relative terkesan memuji, seperti saat mendiskusikan musuh, adalah tanda yang jelas bahwa Washington tidak begitu yakin bahwa mereka sekedar melawan "organisasi". Dan Hagel tidak sendirian dalam penggunaan bahasa hormatnya. Jenderal Martin Dempsey, ketua Kepala Staf Gabungan, mengaku di televisi bahwa "pertama, tidak ada solusi militer murni untuk ISIL. Dan kedua, ada tidak ada solusi kekuatan udara saja baik di Iraq maupun Suriah."

Tidak ada gunanya mengutip perkataan para jurnalis dunia karena begitu banyak dari mereka memoles kata-kata tentang keuntungan dan eksploitasi Daulah Islam - kami berada di sini sepanjang hari menyimak kata-kata orang '.

Tapi penerimaan seperti itu tidak mungkin untuk dibayangkan kembali seperti pada hari-hari ketika para pemimpin Amerika sibuk meletakkan dasar untuk keadaan hari ini. Waktu itu, semua sepakat tentang menghancurkan "teroris nakal " di Iraq dan Afghanistan dengan slogan "shock and awe" dan tentang kekuatan mesin perang Amerika. Tapi hari ini laki-laki yang harus bertanggung jawab itu terpaksa harus mengakui bahwa, mungkin, dan hanya mungkin, mereka agak terlalu dini melenceng untuk mengecap Daulah Islam hanya sebagai "Organisasi teroris, murni dan sederhana." Dan itu hanya tiga bulan menuju kampanye militer mereka.

Saya tentu saja tidak ahli mengenai hal-hal tersebut dan pandangan saya hanyalah pandangan orang awam, tetapi umumnya seseorang tidak akan menganggap sekedar sebuah "organisasi" bisa menyerang dan mengepung kota atau membentuk kepolisian sendiri. Anda tentu tidak membayangkan "organisasi" belaka memiliki tank dan artileri, memiliki pasukan puluhan ribu tentara yang kuat, dan memiliki sendiri drone mata-mata. Dan seorang pun pasti tidak mengharapkan sekedar "organisasi" bisa memiliki bank dengan rencana untuk menghasilkan mata uang mereka sendiri, sekolah dasar untuk anak-anak muda, dan sistem peradilan yang berfungsi.

Ini, tentu, semua keunggulan (berbisiklah jika Anda berani) dari sebuah negara.

Ah, C-words. Ini digunakan secara sporadis oleh media, perlahan pada awalnya, tetapi penggunaannya semakin hari semakin sering. Mungkinkah Daulah Islam, Khilafah yang baru saja diumumkan pada bulan Juni lalu, benar-benar menjadi negara?

"ISIS akan merebut lebih banyak lagi kota-kota, lebih banyak wilayah, meraih lebih banyak penyatuan wilayah dan benar-benar menjadi, sayangnya, sebuah bentuk negara yang kita tidak ingin untuk melihat itu terjadi", dinyatakan oleh mantan Letnan Kolonel Bill Cowan di Fox News pada Oktober 2014.

Sepertinya ini tidak nyaman, karena mungkin bagi banyak orang di Barat, ada sedikit alasan mengapa Daulah tidak boleh dianggap sebagai negara. Negara-negara lain dapat lahir dalam beberapa hari, beberapa jam selama kudeta, atau dalam hitungan menit dengan ditandatangani kertas, mereka seperti ini selama berabad-abad. Sehingga untuk alas an yang seperti ini, tidak bisa Negara lahir dengan cara seperti ini. Dan jika Daulah Islam itu bukan negara, maka milik siapa lagi?

Tentu saja, ini semua tidak lagi milik Bashar al-Assad, yang bersembunyi di Damaskus di saat prajuritnya beruasaha memulihkan keadaan setelah empat tahun membantai kaum Muslim Suriah. Tidak akan pernah memiliki legitimasi apapun untuk kekuasaan tiraninya dan kontrol apapun yang telah lama hilang dan tidak pernah bisa kembali.

Apakah itu kemudian menjadi milik pemerintah sementara dan pemerintah boneka Iraq yang tidak kompeten, terusir jauh di Baghdad sementara tentaranya menjilati luka meronta-ronta dari pembunuhan yang mereka terima dari pembalasan para mujahidin di musim panas? Jelas tidak. Dan itu pasti bukan milik Free Syrian Army, yang telah bertahun-tahun tidak melakukan sesuatu yang menentukan atau bermanfaat tetapi sebaliknya lebih memilih untuk menikmati rokok Gauloises, minum teh, dan mengeluh bahwa tidak ada yang bisa dilakukan tanpa jet NATO yang terbang di atas mereka. Tentu saja mereka sekarang, tidak meraih apa pun kecuali nol.

Tidak ada memang. Jika seseorang memiliki klaim yang sebenarnya atas kawasan yang membentang di Iraq dan Suriah (atau atas daerah lain yang telah dicapai Daulah Islam), memiliki motivasi untuk menjalankannya, dan militer untuk mempertahankannya, maka sulit untuk membantah para pemimpin dan tentara dari Daulah Islam.

Meskipun Barat tidak akan pernah mengakui hal seperti ini, ada politisi Barat yang mulai menyadari fakta ini dan dengan demikian, sedikit demi sedikit, kita melihat perubahan gaya bahasa, pergeseran paradigma dalam cara berbicara para pemimpin tentang Daulah, karena jika itu adalah sebuah negara – baik diakui atau tidak oleh siapa pun (dan Daulah Islam tidak peduli dengan hal itu) – maka itu adalah perubahan hal, secara dramatis. Anda tidak bisa dengan mudah hanya menulis ini sekedar sebagai "Organisasi teroris," karena ini tidak mempengaruhi publik. Anda tidak bisa menjatuhkan beberapa bom lalu berharap ini selesai, tidak mungkin. Dan Anda tidak dapat mengharapkan sekumpulan orang lemah yang tidak terlatih dan bahkan berdisiplin buruk sebagai pasukan darat untuk melakukan pekerjaan yang Anda sendiri tidak ingin menyentuhnya, karena mereka pasti akan gagal.

Pada tahap tertentu, Anda harus menghadapi Daulah Islam sebagai sebuah negara, dan bahkan mempertimbangkan gencatan senjata. Jika tidak ada solusi militer murni untuk Daulah Islam, dan itu sudah terjadi pada catatan berbagai kasus, setelah Anda mencoba mendapatkan dukungan dari sukusuku Sahwah lainnya untuk berbalik melawannya, dan menyudahi membuang-buang waktu untuk berusaha mencari cara untuk memotong dana atau menutup media mereka (yang telah menelan biaya jauh di atas $1.3 miliyar dan benar-benar gagal) pada beberapa point, satu-satunya pilihan yang tersisa adalah tawaran gencatan senjata ...

Dan itu tentu akan mengorbankan harga diri. Tetapi dengan bendera hitam kekhalifahan yang sekarang terlihat di langit Afrika, Arab, dan Asia, maka sebuah jalan keluar sempurna bagaimana Barat memandang Daulah ini sangat diperlukan.

Apa alternatifnya? Meluncurkan serangan udara pada setengah lusin negara sekaligus? Mereka harus menghancurkan setengah wilayah jika itu yang terjadi. Aku berada di Kobani pada Oktober tahun lalu dan ada lebih dari 170 serangan udara AS - "Rentetan terberat sejak kampanye udara dimulai" menurut koresponden CBS Holly Williams – yang hanya selesai saat artileri Daulah Islam dimulai dan menghancurkan sebagian besar kota menjadi puing-puing. Pada akhirnya, itu menjadi lebih dari 600 keping, dan sekarang di sana tidak ada tempat yang tersisa.

Kebetulan, ada serangan udara berat beberapa waktu lalu di tengah malam, dan aku berjanji bahwa Anda yang tidak duduk di sana berpikir, "Hore, itu adalah Angkatan Udara Amerika Serikat,” lalu pintu-pintu terlepas dari engselnya dan dinding bergetar hebat karena gelombang ledakan, Anda kemudian akan menjadi marah. Selama 20 menit setelah itu ada suara bayi menangis dalam ketakutan, ibu berusaha menenangkan anak-anak mereka, dan sirene ambulan yang mengangkut korban menuju ke rumah sakit. Ini adalah salah satu sisi dari pemboman 'presisi' yang tidak akan kalian lihat lagi di Barat.

Apakah gencatan senjata lebih realistis? Untuk sekarang, itu terlalu dini. Karena adegan sekarang yang sedang diatur untuk operasi besar terhadap Daulah Islam akan dieksekusi oleh milisi Iran (alias tentara Iraq) yang didukung oleh AS. Tapi ketika itu gagal karena milisi Syiah yang takut dibakar hidup-hidup, dan ketika pasukan khusus melakukan operasi skyrocket dalam upaya untuk menebus apa yang tidak bisa diraih tentara Iraq, dan ketika mujahidin mulai memenggal kepala tentara Barat, maka setiap pilihan akan berada di meja, dan cepat. Dan gencatan senjata akan menjadi salah satu pilihan.

YANG MENJADI PERTANYAAN ADALAH, BERAPA BANYAK ORANG-ORANG BARAT YANG AKAN TERBUNUH ANTARA WAKTU ITU DAN SEKARANG?

Cara singkat membayangkan hal itu, Jawabannya adalah banyak. Perancis, Belgia, Denmark, Australia, dan Kanada, semuanya telah menjadi target serangan mujahidin selama tiga bulan terakhir sendiri, dan banyak pejuang Islam dari berbagai kelompok di berbagai negara bersumpah setia ke Daulah Islam, serangan tersebut pasti akan menjadi lebih banyak dan lebih mudah untuk dieksekusi.

"Pejuang asing melakukan perjalanan dari mana-mana, dari Eropa, dari Amerika Serikat, Australia, dan dari berbagai belahan lain dari dunia Muslim, lalu berkumpul di Suriah”, kata Obama pada wawancara yang ditayangkan 60 Menit. "Dan ini menjadi ground zero untuk jihad di seluruh dunia. Dan ini adalah salah satu tantangan yang akan kita memiliki secara umum. Sebagaimana jika Anda punya negara yang gagal atau di tengah perang saudara, jenis-jenis organisasi akan berkembang."

Namun berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga opsi ini diletakkan di atas meja, perubahan gaya bahasa yang terjadi Barat tidak bisa disangkal adanya. Hanya delapan bulan dari kampanye mereka dan sudah beberapa tokoh politik senior di AS mengakui Daulah Islam tidak seperti lawan yang mereka hadapi sebelumnya dan bahwa solusi militer dengan sendirinya adalah mustahil. Yang berbicara adalah suara mereka sendiri.

Akhirnya, saya mungkin memiliki cara yang terlalu sederhana – yang mungkin kurang memperhatikan kompleksitas besar perang modern dan pembangunan bangsa. Gencatan senjata apapun antara Barat dan Daulah Islam pasti berujung untuk mengakhiri dukungan mereka untuk boneka tiran Arab dan non-Arab atas dunia Islam, juga sebagai akhir dari dukungan untuk Israel. Itu hanya untuk pembuka, tapi bisa mungkin terjadi atau tidak terjadi.

Perang sepenuhnya bisa diprediksi kepada hal itu, tidak lain pasti mengarah ke salah satu dari dua hasil. Salah satu pihak muncul sebagai pemenang sementara yang lain kalah, atau tercapainya gencatan senjata. Ini adalah satu-satunya cara mengakhiri perang [1], dan Amerika dan sekutunya tidak akan pernah menang dalam perang ini. Mereka tahu itu dan semua orang lain juga.

Pada tahap satu-satunya pilihan yang dapat berlaku untuk Amerika dan Barat adalah salah satu hal yang masuk akal.

[1] Catatan Editor: penghentian perang antara Muslim dan orang-orang kafir tidak pernah bisa permanen, di mana perang melawan orang-orang kafir adalah kewajiban dasar atas seorang Muslim yang hanya sementara dihentikan oleh gencatan senjata untuk kepentingan syar'i yang lebih besar, seperti dalam penawaran gencatan senjata dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada kaum musyrikin Makkah di Hudaibiyah. Jangka waktu perjanjian Hudaibiyah adalah sepuluh tahun. Setelah gencatan senjata tercapai, jika kemudian dirusak oleh orang-orang kafir, maka mereka akan dihukum secara syar'i (jihad), dan qadar Allah. Pengkhianatan musyrikin Makkah atas perjanjian Hudaibiyah yang ditandatangani oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berujung langsung kepada keberhasilan kaum muslimin menaklukkan Makkah (seperti yang dijelaskan dalam Sirah), sebagaimana pengkhianatan tentara salib Roma terhadap perjanjian dengan Muslim kelak yang akan mengarah langsung kepada keberhasilan umat Islam menaklukkan Roma (seperti yang dijelaskan dalam Sunnah).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar