DABIQ 8 - WAWANCARA
WAWANCARA BERSAMA ABU MUQATIL AT-TUNISI
Bulan ini, Dabiq mendapat kesempatan untuk mewawancarai Abu Muqatil At-Tunisi, mujahid yang telah membunuh murtad Mohammed Brahmi (kepala Gerakan Rakyat sekuler dan anggota Majelis Konstituante Thaghut) di Tunisia. Setelah menyapa Muhajir ini dengan salam, bergulirlah perbincangan berikut.
DABIQ: Kenapa Engkau membunuh Brahmi?
ABU MUQATIL: Bismillah; segala puji milik Allah; shalawat dan salam atas Rasulullah. Karena kami ingin membuat kekacauan (tawahhush) di negeri itu dengan membunuh Brahmi sehingga memudahkan gerakan para ikhwah, sehingga kita akan mampu mengangkat senjata dan membebaskan saudara-saudara kita dari penjara. ini adalah tujuan utama di balik pembunuhan Brahmi selain fakta bahwa ia bekerja di Majelis Konstituante yang membuatnya termasuk dari Thaghut.
DABIQ: Apakah sulit bagi Anda menjalankan operasi?
ABU MUQATIL: Segala puji bagi Allah. Allah 'Azza wa Jalla memfasilitasi masalah ini sehingga ketika kita menjalankannya kita tidak menemukan kesulitan. Kami menunggu empat jam di depan rumah tiran ini, terus menunggu, sampai ia meninggalkan rumah dan memasuki mobilnya. Saya kemudian pindah arah dan membunuhnya dengan menembakkan sepuluh peluru ke arahnya.
DABIQ: Bisakah Anda ceritakan tentang pembunuhan murtad Chokri Belaid (koordinator Patriots Demokrat Movements) dan ikhwah yang mengambil bagian dalam operasi ini?
ABU MUQATIL: Pembunuhan Chokri Belaid dilakukan oleh saudara kita Abu Sayaf Kamal Gafgazi taqabbalahullah. Saudara kita Lutfi az-Zayn taqabbalahullah adalah yang bersamanya dalam operasi itu. Abu Zakariya Ahmad ar-Ruwaysi taqabbalahullah membantu dua ikhwan ini dalam melaksanakan operasi. Saudara Kami Ahmad ar-Ruwaysi gugur baru-baru ini dalam pertempuran melawan orang-orang murtad. Dia dulu dipenjara di Tunisia karena suatu masalah dari masa lalunya, dan Alhamdulillah, Allah membimbingnya di penjara dan amalnya menjadi baik. Dia mulai membuat Adzan di penjara dan menghadiri pelajaran yang diberikan oleh ikhwah meskipun mendapat pelecehan dari Thaghut. Ketika revolusi terjadi di Tunisia, ia berhasil melarikan diri dengan para ikhwah dari penjara. Dia kemudian bergabung dengan para ikhwah di Libya dan mengambil bagian dalam beberapa pertempuran dengan mereka. Ketika kami mendirikan sebuah kamp latihan di Libya, ia menjadi salah satu dari saudara-saudara yang bertanggung jawab atas kamp. Ia akan melatih para ikhwah, karena ia unggul di bidang militer. Setelah itu, ketika kita mulai menyelundupkan senjata ke Tunisia, ia membantu kami walaupun harus mendapatkan hukuman penjara 15 tahun di Tunisia. Saudara kita ini tidak ragu-ragu. Dia datang bersama kami, mengambil risiko, dan menyelundupkan senjata. Setelah pembunuhan Chokri Belaid, ia menjadi buronan. Jadi dia kembali ke Libya dan terus melatih saudara-saudara di sana dan mengirim ikhwah untuk melaksanakan operasi di Tunisia. Setelah itu, Alhamdulillah, Saudara kita ini berada di Sirte dan bergabung dengan Daulah Islam di sana, berjanji setia untuk itu, dan menjadi penanggung jawab untuk sebuah kamp pelatihan di sana. Dia yang melatih para ikhwah. Alhamdulillah, terbunuh ketika menghadapi musuh, dan tidak melarikan diri. Kami mengharap kepada Allah untuk menerimanya dan mempertemukan kita semua di surga 'Adn.
DABIQ: Mengapa Anda memutuskan untuk melakukan hijrah ke Syam setelah operasi terhadap Brahmi?
ABU MUQATIL: Saya memutuskan untuk melakukan hijrah ke Syam karena sebagian besar ikhwah yang bekerja bersamaku telah terbunuh atau dipenjara dan semua jalan bagi saya untuk melanjutkan jihad di Tunisia terputus. Alhamdulillah, dengan melakukan hijrah ke Syam, saya diberkahi dengan menyaksikan kebangkitan Khilafah.
DABIQ: Bisakah Anda ceritakan tentang pengalaman Anda di jihad?
ABU MUQATIL: Praktik keagamaan saya mulai pada tahun 2002. Saya datang ke Syam untuk mempelajari syari'at. Pada tahun 2003, setelah Amerika memasuki Iraq, saya pergi ke Iraq dan tinggal di sana sekitar satu bulan. Setelah itu, kami dikhianati oleh beberapa munafik di sana dan dipaksa untuk pergi. Saya kemudian pergi ke Prancis. Saya kemudian bersiap siap untuk perjalanan lain dan bergabung dengan Jama'at at-Tauhid wal Jihad dengan Syaikh Abu Mus'ab az-Zarqawi rahimahullah di Fallujah. Aku tinggal di sana selama sekitar enam atau tujuh bulan. Saya kemudian meninggalkan Fallujah menuju Syam untuk menerima keluarga saya tapi saya tertangkap di sana. Aku tinggal sembilan bulan di Far' Penjara Palestina. Saya kemudian dideportasi ke Prancis dan tetap dipenjara di sana selama tujuh tahun. Saya kemudian pergi kembali ke Tunisia dan mulai berencana membangun jihad di Tunisia dengan saudara-saudara saya. Libya ada di sebelah kami dan banyak senjata tersebar luas di sana. Jadi kami pergi ke Libya dan mendirikan kamp pelatihan di sana. Kami akan melatih para ikhwah di sana dan pada saat yang sama kita akan bekerja untuk menyelundupkan senjata ke Tunisia. Saudara kami Kamal Gafgazi taqabbalahullah mengeksekusi pembunuhan pertama sehingga kita bisa menciptakan kekacauan di negeri itu. Masalah ini berhasil tetapi beberapa dari mereka yang terkait dengan jihad di sana, semoga Allah membimbing mereka, pergi keluar dan justru membela lembaga pemerintah dan dengan demikian merusak misi kami. Kami mencoba lagi dengan Brahmi dan hal yang sama terjadi. Setelah upaya ini semua, saya memutuskan untuk pergi ke Syam dan bergabung Daulah Islam di sana.
DABIQ: Sebagaimana diketahui, bahwa Thaghut "Zainal Abidin" Ben Ali adalah dari yang terburuk dari para thaghut, namun jumlah orang-orang Tunisia di jajaran Khilafah begitu besar. Bagaimana ini mungkin? Juga, apakah Anda memiliki pesan untuk para thaghut Tunisia, baik yang sekuler atau thaghut yang sering mengaku 'Islam'?
ABU MUQATIL: Adapun jumlah saudara-saudara Tunisia yang telah bergabung dalam jajaran Khilafah, maka semua ini adalah dari kasih karunia Allah 'Azza wa Jalla. Tiran ini dan si bodoh, Ben Ali, tidak akan meninggalkan kesempatan bagi seseorang pun untuk menjalankan agamanya bahkan walau itu "mengamalkan" manhaj menyimpang. Dia akan mengobarkan berperang terhadap mereka semua dan melemparkan mereka ke penjara. Ini adalah hal baik untuk para ikhwah dan menyebabkan penyebaran manhaj yang benar di Tunisia. Adapun pesan saya ke thaghut sekuler Tunisia, maka saya katakan kepada mereka: Perhatikan apa yang terjadi pada saudara kafir di Iraq, Syam, dan lahan lainnya. Ini juga akan menjadi akhir Anda, dengan izin Allah, melalui tangan kami, insya Allah. Tidak ada apa-apa antara kami dan kalian, kecuali pembantaian. Adapun pesan saya kepada thaghut dari Tunisia –mereka yang dianggap "Islam"– maka Saya katakan, belum tibakah waktunya bagi kalian untuk bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menyadari bahwa ide-ide yang kalian pegang dan jalan yang kalian tapaki, termasuk pemilu, tidak membawa hasil apapun kecuali kekufuran? Sedangkan Daulah Islam, yang mengambil manhaj Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam), dia ada di sini, telah mendirikan negara di Syam, Iraq, Libya, Yaman, Nigeria, Sinai, dan wilayah lainnya. Jadi bangunlah, takutlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan kembalilah ke agama kalian.
DABIQ: Apakah Anda memiliki komentar pada Operasi baru-baru ini di Tunisia (serangan Museum Bardo)?
ABU MUQATIL: Operasi ini membuat senang kami dan menyembuhkan hati kita. Kami berharap bahwa saudara-saudara ada yang mengikuti jalan ini, bertawakkal kepada Allah, dan membuat pembantaian terhadap musuh-musuh Allah. Melalui Operasi seperti ini, teror memasuki hati para musuh Allah. Insya Allah, saudara-saudara di sana akan mengikuti jalan ini. Mereka harus yakin bahwa operasi seperti ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Ikhwah ini melakukan operasi ini padahal Museum Bardo berada di samping gedung Parlemen Tunisia –salah satu tempat yang paling dijaga– akan tetapi, Alhamdulillah, Allah memudahkan untuk saudara-saudara kita untuk masuk dan membunuh musuh-musuh mereka. Kami meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk menerima saudara kita sebagai syuhada dan memberikan rahmat bagi mereka.
DABIQ: Bisakah Anda ceritakan tentang penjara Anda di Perancis?
ABU MUQATIL: Saya meminta kepada Allah untuk melindungi kita dari penjara, amputasi, dan patah. Saya berharap kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk membebaskan saudara-saudara kita dari semua penjara. Penjara itu berat. Kami akan menghadapi penghinaan dan ketidaknyamanan dari orang-orang kafir tersebut. Tetapi pada saat yang sama, itu adalah gerbang besar untuk dakwah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan untuk menjelaskan hal ini, manhaj dan jalan ini kepada para pemuda dipenjara. Sehingga penjara adalah Madrasah Yusuf 'alaihis salam. Walhamdulillah 'ala kulli hal.
DABIQ: Apakah Anda memiliki pesan untuk saudara -saudara di Perancis?
ABU MUQATIL: Saya menyeru mereka untuk bangun dan melawan musuh-musuh Allah di jalan Allah. Demi Allah yang Maha Besar, Anda akan bangun dan melawan mereka jika Anda datang ke sini dan melihat apa yang mereka lakukan dengan pesawat mereka, bagaimana mereka menakut-nakuti perempuan dan anak-anak, dan bagaimana mereka berusaha siang dan malam untuk menghancurkan negara ini, dan dengan izin Allah, mereka tidak akan mampu melakukannya. Saya seru mereka untuk mengikuti metode saudara-saudara yang telah melakukan operasi di Eropa. Senjata mudah untuk didapatkan di negara-negara itu. Bertawakkal kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Saya juga mengatakan kepada mereka, tidak perlu mencari target tertentu. Bunuhlah siapa pun. Semua kuffar adalah target. Jangan membuat lelah diri sendiri dan mencari target yang sulit. Bunuh siapa pun yang berasal dari orang-orang kafir.
DABIQ: Apakah Anda memiliki pesan untuk orang-orang kafir di Perancis?
ABU MUQATIL: Saya katakan kepada mereka, segera dengan izin Allah, kalian akan melihat bendera laa ilaha illallah berkibar di atas Istana Elysee. Daulah Islam telah dekat sekarang. Antara kami dan Anda hanyalah laut. Dengan izin Allah, kafilah ini akan bergerak ke arah kalian. Dan insya Allah, perempuan kalian dan anak-anak kalian akan dijual oleh kami (sebagai budak) di pasar Daulah Islam.
DABIQ: Jazakumullahu khair. Kami mengharap Allah memberkahimu.
WAWANCARA BERSAMA ABU MUQATIL AT-TUNISI
Bulan ini, Dabiq mendapat kesempatan untuk mewawancarai Abu Muqatil At-Tunisi, mujahid yang telah membunuh murtad Mohammed Brahmi (kepala Gerakan Rakyat sekuler dan anggota Majelis Konstituante Thaghut) di Tunisia. Setelah menyapa Muhajir ini dengan salam, bergulirlah perbincangan berikut.
DABIQ: Kenapa Engkau membunuh Brahmi?
ABU MUQATIL: Bismillah; segala puji milik Allah; shalawat dan salam atas Rasulullah. Karena kami ingin membuat kekacauan (tawahhush) di negeri itu dengan membunuh Brahmi sehingga memudahkan gerakan para ikhwah, sehingga kita akan mampu mengangkat senjata dan membebaskan saudara-saudara kita dari penjara. ini adalah tujuan utama di balik pembunuhan Brahmi selain fakta bahwa ia bekerja di Majelis Konstituante yang membuatnya termasuk dari Thaghut.
DABIQ: Apakah sulit bagi Anda menjalankan operasi?
ABU MUQATIL: Segala puji bagi Allah. Allah 'Azza wa Jalla memfasilitasi masalah ini sehingga ketika kita menjalankannya kita tidak menemukan kesulitan. Kami menunggu empat jam di depan rumah tiran ini, terus menunggu, sampai ia meninggalkan rumah dan memasuki mobilnya. Saya kemudian pindah arah dan membunuhnya dengan menembakkan sepuluh peluru ke arahnya.
DABIQ: Bisakah Anda ceritakan tentang pembunuhan murtad Chokri Belaid (koordinator Patriots Demokrat Movements) dan ikhwah yang mengambil bagian dalam operasi ini?
ABU MUQATIL: Pembunuhan Chokri Belaid dilakukan oleh saudara kita Abu Sayaf Kamal Gafgazi taqabbalahullah. Saudara kita Lutfi az-Zayn taqabbalahullah adalah yang bersamanya dalam operasi itu. Abu Zakariya Ahmad ar-Ruwaysi taqabbalahullah membantu dua ikhwan ini dalam melaksanakan operasi. Saudara Kami Ahmad ar-Ruwaysi gugur baru-baru ini dalam pertempuran melawan orang-orang murtad. Dia dulu dipenjara di Tunisia karena suatu masalah dari masa lalunya, dan Alhamdulillah, Allah membimbingnya di penjara dan amalnya menjadi baik. Dia mulai membuat Adzan di penjara dan menghadiri pelajaran yang diberikan oleh ikhwah meskipun mendapat pelecehan dari Thaghut. Ketika revolusi terjadi di Tunisia, ia berhasil melarikan diri dengan para ikhwah dari penjara. Dia kemudian bergabung dengan para ikhwah di Libya dan mengambil bagian dalam beberapa pertempuran dengan mereka. Ketika kami mendirikan sebuah kamp latihan di Libya, ia menjadi salah satu dari saudara-saudara yang bertanggung jawab atas kamp. Ia akan melatih para ikhwah, karena ia unggul di bidang militer. Setelah itu, ketika kita mulai menyelundupkan senjata ke Tunisia, ia membantu kami walaupun harus mendapatkan hukuman penjara 15 tahun di Tunisia. Saudara kita ini tidak ragu-ragu. Dia datang bersama kami, mengambil risiko, dan menyelundupkan senjata. Setelah pembunuhan Chokri Belaid, ia menjadi buronan. Jadi dia kembali ke Libya dan terus melatih saudara-saudara di sana dan mengirim ikhwah untuk melaksanakan operasi di Tunisia. Setelah itu, Alhamdulillah, Saudara kita ini berada di Sirte dan bergabung dengan Daulah Islam di sana, berjanji setia untuk itu, dan menjadi penanggung jawab untuk sebuah kamp pelatihan di sana. Dia yang melatih para ikhwah. Alhamdulillah, terbunuh ketika menghadapi musuh, dan tidak melarikan diri. Kami mengharap kepada Allah untuk menerimanya dan mempertemukan kita semua di surga 'Adn.
DABIQ: Mengapa Anda memutuskan untuk melakukan hijrah ke Syam setelah operasi terhadap Brahmi?
ABU MUQATIL: Saya memutuskan untuk melakukan hijrah ke Syam karena sebagian besar ikhwah yang bekerja bersamaku telah terbunuh atau dipenjara dan semua jalan bagi saya untuk melanjutkan jihad di Tunisia terputus. Alhamdulillah, dengan melakukan hijrah ke Syam, saya diberkahi dengan menyaksikan kebangkitan Khilafah.
DABIQ: Bisakah Anda ceritakan tentang pengalaman Anda di jihad?
ABU MUQATIL: Praktik keagamaan saya mulai pada tahun 2002. Saya datang ke Syam untuk mempelajari syari'at. Pada tahun 2003, setelah Amerika memasuki Iraq, saya pergi ke Iraq dan tinggal di sana sekitar satu bulan. Setelah itu, kami dikhianati oleh beberapa munafik di sana dan dipaksa untuk pergi. Saya kemudian pergi ke Prancis. Saya kemudian bersiap siap untuk perjalanan lain dan bergabung dengan Jama'at at-Tauhid wal Jihad dengan Syaikh Abu Mus'ab az-Zarqawi rahimahullah di Fallujah. Aku tinggal di sana selama sekitar enam atau tujuh bulan. Saya kemudian meninggalkan Fallujah menuju Syam untuk menerima keluarga saya tapi saya tertangkap di sana. Aku tinggal sembilan bulan di Far' Penjara Palestina. Saya kemudian dideportasi ke Prancis dan tetap dipenjara di sana selama tujuh tahun. Saya kemudian pergi kembali ke Tunisia dan mulai berencana membangun jihad di Tunisia dengan saudara-saudara saya. Libya ada di sebelah kami dan banyak senjata tersebar luas di sana. Jadi kami pergi ke Libya dan mendirikan kamp pelatihan di sana. Kami akan melatih para ikhwah di sana dan pada saat yang sama kita akan bekerja untuk menyelundupkan senjata ke Tunisia. Saudara kami Kamal Gafgazi taqabbalahullah mengeksekusi pembunuhan pertama sehingga kita bisa menciptakan kekacauan di negeri itu. Masalah ini berhasil tetapi beberapa dari mereka yang terkait dengan jihad di sana, semoga Allah membimbing mereka, pergi keluar dan justru membela lembaga pemerintah dan dengan demikian merusak misi kami. Kami mencoba lagi dengan Brahmi dan hal yang sama terjadi. Setelah upaya ini semua, saya memutuskan untuk pergi ke Syam dan bergabung Daulah Islam di sana.
DABIQ: Sebagaimana diketahui, bahwa Thaghut "Zainal Abidin" Ben Ali adalah dari yang terburuk dari para thaghut, namun jumlah orang-orang Tunisia di jajaran Khilafah begitu besar. Bagaimana ini mungkin? Juga, apakah Anda memiliki pesan untuk para thaghut Tunisia, baik yang sekuler atau thaghut yang sering mengaku 'Islam'?
ABU MUQATIL: Adapun jumlah saudara-saudara Tunisia yang telah bergabung dalam jajaran Khilafah, maka semua ini adalah dari kasih karunia Allah 'Azza wa Jalla. Tiran ini dan si bodoh, Ben Ali, tidak akan meninggalkan kesempatan bagi seseorang pun untuk menjalankan agamanya bahkan walau itu "mengamalkan" manhaj menyimpang. Dia akan mengobarkan berperang terhadap mereka semua dan melemparkan mereka ke penjara. Ini adalah hal baik untuk para ikhwah dan menyebabkan penyebaran manhaj yang benar di Tunisia. Adapun pesan saya ke thaghut sekuler Tunisia, maka saya katakan kepada mereka: Perhatikan apa yang terjadi pada saudara kafir di Iraq, Syam, dan lahan lainnya. Ini juga akan menjadi akhir Anda, dengan izin Allah, melalui tangan kami, insya Allah. Tidak ada apa-apa antara kami dan kalian, kecuali pembantaian. Adapun pesan saya kepada thaghut dari Tunisia –mereka yang dianggap "Islam"– maka Saya katakan, belum tibakah waktunya bagi kalian untuk bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menyadari bahwa ide-ide yang kalian pegang dan jalan yang kalian tapaki, termasuk pemilu, tidak membawa hasil apapun kecuali kekufuran? Sedangkan Daulah Islam, yang mengambil manhaj Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam), dia ada di sini, telah mendirikan negara di Syam, Iraq, Libya, Yaman, Nigeria, Sinai, dan wilayah lainnya. Jadi bangunlah, takutlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan kembalilah ke agama kalian.
DABIQ: Apakah Anda memiliki komentar pada Operasi baru-baru ini di Tunisia (serangan Museum Bardo)?
ABU MUQATIL: Operasi ini membuat senang kami dan menyembuhkan hati kita. Kami berharap bahwa saudara-saudara ada yang mengikuti jalan ini, bertawakkal kepada Allah, dan membuat pembantaian terhadap musuh-musuh Allah. Melalui Operasi seperti ini, teror memasuki hati para musuh Allah. Insya Allah, saudara-saudara di sana akan mengikuti jalan ini. Mereka harus yakin bahwa operasi seperti ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Ikhwah ini melakukan operasi ini padahal Museum Bardo berada di samping gedung Parlemen Tunisia –salah satu tempat yang paling dijaga– akan tetapi, Alhamdulillah, Allah memudahkan untuk saudara-saudara kita untuk masuk dan membunuh musuh-musuh mereka. Kami meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk menerima saudara kita sebagai syuhada dan memberikan rahmat bagi mereka.
DABIQ: Bisakah Anda ceritakan tentang penjara Anda di Perancis?
ABU MUQATIL: Saya meminta kepada Allah untuk melindungi kita dari penjara, amputasi, dan patah. Saya berharap kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk membebaskan saudara-saudara kita dari semua penjara. Penjara itu berat. Kami akan menghadapi penghinaan dan ketidaknyamanan dari orang-orang kafir tersebut. Tetapi pada saat yang sama, itu adalah gerbang besar untuk dakwah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan untuk menjelaskan hal ini, manhaj dan jalan ini kepada para pemuda dipenjara. Sehingga penjara adalah Madrasah Yusuf 'alaihis salam. Walhamdulillah 'ala kulli hal.
DABIQ: Apakah Anda memiliki pesan untuk saudara -saudara di Perancis?
ABU MUQATIL: Saya menyeru mereka untuk bangun dan melawan musuh-musuh Allah di jalan Allah. Demi Allah yang Maha Besar, Anda akan bangun dan melawan mereka jika Anda datang ke sini dan melihat apa yang mereka lakukan dengan pesawat mereka, bagaimana mereka menakut-nakuti perempuan dan anak-anak, dan bagaimana mereka berusaha siang dan malam untuk menghancurkan negara ini, dan dengan izin Allah, mereka tidak akan mampu melakukannya. Saya seru mereka untuk mengikuti metode saudara-saudara yang telah melakukan operasi di Eropa. Senjata mudah untuk didapatkan di negara-negara itu. Bertawakkal kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Saya juga mengatakan kepada mereka, tidak perlu mencari target tertentu. Bunuhlah siapa pun. Semua kuffar adalah target. Jangan membuat lelah diri sendiri dan mencari target yang sulit. Bunuh siapa pun yang berasal dari orang-orang kafir.
DABIQ: Apakah Anda memiliki pesan untuk orang-orang kafir di Perancis?
ABU MUQATIL: Saya katakan kepada mereka, segera dengan izin Allah, kalian akan melihat bendera laa ilaha illallah berkibar di atas Istana Elysee. Daulah Islam telah dekat sekarang. Antara kami dan Anda hanyalah laut. Dengan izin Allah, kafilah ini akan bergerak ke arah kalian. Dan insya Allah, perempuan kalian dan anak-anak kalian akan dijual oleh kami (sebagai budak) di pasar Daulah Islam.
DABIQ: Jazakumullahu khair. Kami mengharap Allah memberkahimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar