DABIQ 15 - PENDAHULUAN
SEMBAHLAH OLEH KALIAN ALLAH SAJA
“Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (QS. At-Taubah : 126)
Setelah serangan di Orlando (AS), Dhaka (Bangladesh), Magnanville, Nice dan Normandy (Perancis), serta Wirzburg dan Ansbach (Jerman) yang menyebabkan kesyahidan 12 prajurit Khilafah serta mati dan terlukanya lebih dari 600 salibis, siapapun akan mengira bahwa para penyembah salib dan orang-orang musyrik penyembah demokrasi di Barat akan berhenti sejenak dan merenungkan alasan dibalik kebencian dan permusuhan umat Islam terhadap masyarakat Barat, atau mengambil pelajaran dan berpikir untuk bertaubat dengan meninggalkan kekafiran mereka dan memeluk Islam.
Namun demam dan khayalan yang disebabkan oleh dosa, khurafat dan sekulerisme telah menyebabkan pikiran dan akal mereka yang masih tersisa menjadi mati. Kecanduan hedonism dan doktrin biadab mereka telah memperbudak mereka kepada tuhan-tuhan palsu berupa pendeta, pembuat hukum dan hawa nafsu mereka. Sedangkan mengibadahi Sang Pencipta semata dan mengikuti Rasul-nya yang terakhir shallallahu ‘alaihi wasallam, maka hal itu diluar pertimbangan mereka. Sebaliknya, mereka memerangi apa saja dan siapa saja yang mendatangkan kesejahteraan mereka di dunia dan keselamatan mereka di akhirat. Mereka memerangi Pencipta mereka, kitab-Nya, hukum-Nya, Rasul-Nya serta hamba-hamba-Nya. Dan mereka tanpa malu mengakui pengingkaran mereka pada kebijaksanaan, rahmat dan keadilan-Nya, dengan mengira bahwa Allah ta’ala akan membiarkan agama-Nya dan para hamba-Nya dalam kezhaliman musuh-musuh-Nya dan kejahatan mereka.
Meskipun kondisi mereka yang malang berupa kebodohan dan kesombongan, kami mengambil momen sejumlah pembantaian terhadap warga dan kepentingan mereka ini untuk mengajak mereka sekali lagi kepada agama tauhid yang murni, kebenaran, rahmat, keadilan dan pedang.
Semenjak dirilisnya Dabiq edisi ini hingga pembantaian berikutnya dilaksanakan terhadap mereka oleh para prajurit rahasia Khilafah –yang diperintahkan untuk menyerang mereka tanpa ditunda-tunda- para salibis dapat menelaah mengapa umat Islam membenci dan memerangi mereka, mengapa kaum musyrikin Kristen harus menghancurkan salib mereka, mengapa kaum liberal sekuler harus kembali kepada fithrah, dan mengapa kaum atheis skeptic harus mengakui Pencipta mereka dan berserah diri kepada-Nya.
Intinya, kami menjelaskan mengapa mereka harus meninggalkan kekafiran mereka dan menerima Islam, agama yang murni dan tunduk hanya pada Rabb langit dan bumi.*
*Islam berasal dari kata dalam Bahasa Arab yaitu istislam / salamah, yang berarti ketundukan dan keikhlasan. Ini adalah inti dari Islam yaitu ketundukan kepada Allah dengan ikhlas (murni hanya kepada-Nya saja).
Mereka akan mendapati pada halaman demi halaman edisi ini rincian dari pesan kami kepada mereka permasalahan seputar kekristenan, feminisme, liberalism dan atheisme. Namun, risalah terakhir dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, risalah yang mana ia diutus dengannya –yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah- dan risalah dari nabi-nabi sebelumnya sejak Adam hingga Muhammad alaihi shalatu wasallam adalah sama sepanjang sejarah: Tiada ilah kecuali Allah. Kata “ilah” secara bahasa artinya “yang berhak disembah”, yaitu tidak ada sesuatu pun atau seorang pun yang berhak diibadahi selain Allah.
Allah adalah nama yang benar dari Tuhan Pencipta Langit dan Bumi. Nama ini berasal dari kata yang sama yaitu “ilah”, dan memiliki akar kata yang serupa dengan nama Sang Pencipta yang didapati dalam semua Bahasa Semit, termasuk Bahasa Ibrani yang digunakan oleh para Nabi dari Bani Israil.
Dalam Bahasa Ibrani, mereka berdoa kepada Tuhan dengan mengatakan “Elohim”, yang serupa di dalam Bahasa Arab dengan “Allahumm”. Akhiran “him” dalam Bahasa Ibrani dan “humm” dalam Bahasa Arab –yang merupakan bentuk jamak pengagungan- ditambahkan pada “Eloh” dan “Allah” untuk menegaskan keagungan-Nya dan kerendahan hati orang yang berdoa. Hanya Dia semata Tuhan yang berhak disembah karena hanya Dia saja Pencipta Langit dan Bumi. Dan hanya Dia semata Tuhan Langit dan Bumi, dan hanya Dia semata yang memiliki sifat-sifat paling agung, berupa ilmu, kekuatan, keadilan, rahmat, kebijaksanaan, keindahan, kemuliaan, keagungan, dll. Jika sebagian makhluknya memiliki sifat yang terpuji, maka itu semata-mata disebabkan oleh perencanaan dan petunjuk-Nya. Sifat-sifat makhluk tidak akan bisa menandingi sifat-sifat-Nya yang sempurna.
Itulah sebabnya mengapa hanya Dia saja yang berhak diibadahi, dan mengapa tidak ada seorang pun atau sesuatu pun yang patut diibadahi selain Dia. Adapun meyakini adanya “tuhan-tuhan” yang ikut berperan dalam penciptaan alam semesta atau berbagi dalam ketuhanannya, maka ini adalah keyakinan yang menyimpang dan bertentangan dengan fitrah manusia yang bahkan dulu Kaum Musyrikin Arab sebelum Islam tidak meyakininya. Sebaliknya, kesyirikan mereka adalah dengan berdoa kepada berhala-berhala yang melambangkan orang-orang shalih, yang mereka melakukannya untuk mencari syafa’at dari orang shalih itu untuk mereka di hadapan Allah ta’ala.
Namun, di waktu bencana yang dahsyat, mereka akan meninggalkan berhala-berhala mereka dan berdoa hanya kepada Allah saja.
Allah ta’ala berfirman : “Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al-Ankabut: 65)
Jadi, bagian fitrah ini –pengakuan akan ketuhanan Allah semata- ditekankan oleh semua Nabi dalam risalah mereka untuk membawa kembali kaum mereka yang musyrik kepada fitrah yang telah ditinggalkan – yaitu mengibadahi Allah saja.
Allah ta’ala berfirman : “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?’. Katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku’. Kepada-Nya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az-Zumar : 38)
Dia ta’ala juga berfirman : “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?’" (QS. Yunus : 31)
Yaitu mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya dengan beribadah hanya kepada-Nya saja dan hanya mentaati-Nya saja?
Allah ta’ala juga berfirman : “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. Al-Anbiya: 25)
Jadi, risalah dari semua Nabi menekankan peribadahan dan ketaatan hanya kepada Allah saja, bukan kepada selain-Nya.
Tiada ilah selain Allah maknanya adalah tidak ada yang berhak diibadahi dan ditaati kecuali Allah. Dia diibadahi tanpa sekutu dengan rasa cinta (mahabbah), takut (khauf), takut (roja’), doa, sujud, sembelihan, dall. Dia ditaati tanpa sekutu dengan mengikuti Rasul-Nya yang terakhir shallallahu ‘alaihi wasallam, berhukum kepada-Nya, menerapkan syari’at-Nya, dan menolak setiap hukum yang dibuat oleh selain-Nya. Allah Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hukum-Nya adil dan semua hukum selain-Nya pasti tidak luput dari kesalahan dan kezhaliman.
Makna tersebut diuraikan di banyak ayat Al-Qur’an.
“…Keputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf : 40)
“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan terperinci?...” (QS. Al-An’am : 114)
“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al Qur'an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am : 115)
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Ma’idah : 50)
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura : 21)
“Bukankah Allah Hakim yang paling adil?” (QS. At-Tiin : 8)
“Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.” (QS. Yunus : 109)
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa : 60)
“…dan Dia (Allah) tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan (hukum)".” (QS. Al-Kahfi : 26)
“Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih maka putusan (hukum)nya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakal dan kepada-Nya lah aku kembali.” (QS. Asy-Syura : 10)
“Dan putuskan lah perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…” (QS. Al-Ma’idah : 49)
“…Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Ma’idah : 44)
“Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah...” (QS. An-Nisa : 64)
“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’. Katakanlah: ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir’.” (QS. Ali Imran : 31-32)
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…” (QS. Al-Ma’idah : 48)
“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85)
Sedangkan untuk sekulerisme era modern, maka itu adalah agama kaum Madyan, yang mengaku tidak bisa memahami mengapa beribadah kepada Allah juga harus mentaati hukum-Nya.
“Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)." Dan Syuaib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." Mereka berkata: "Hai Syuaib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Syuaib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Lut tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. Mereka berkata: "Hai Syuaib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami. Syuaib menjawab: "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan." Dan (dia berkata): "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu." Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa.” (QS. Hud : 84-95)
Jadi, kaum sekuler Madyan dibinasakan seperti kaum musyrikin Tsamud.**
**Kisah kaum Tsamud disebutkan di beberapa tempat di Al-Qur’an. Lihat surat Hud ayat 61-68.
Pemusnahan umat-umat terdahulu dan bencana pada umat-umat setelahnya adalah alasan untuk perenungan yang mendalam.
Allah ta’ala berfirman : “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. Ali Imran : 137)
Allah ta’ala juga berfirman : “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (QS. Al-An’am : 42)
Masyarakat Barat yang sedang menghadapi keruntuhan “peradaban” melalui perbuatan jahat mereka dan amal shalih mujahidin, harus bertanya pada diri mereka beberapa pertanyaan, diantaranya :
Bagaimana mereka mengaku mencintai Tuhan, namun mereka menyembah manusia dan benda selain Dia?
Bagaimana mereka mengaku takut kepada-Nya, namun mereka mengambil sumber hukum dari keinginan hawa nafsu mereka?
Bagaimana mereka mengaku memuliakan-Nya, namun mereka mengolok-olok Nabi dan Rasul yang diutus kepada umat manusia serta wahyu dan hukum yang mereka bawa?
Bagaimana mereka mengklaim beriman dan mengakui Dia sebagai satu-satunya Tuhan Yang Maha Penyayang, Maha Adil dan Maha Bijaksana tapi mereka menjadikan bagi-Nya seorang Ibu, putra, sekutu (Trinitas), percaya bahwa Dia tidak dapat mengampuni umat manusia dari “dosa asli” mereka melainkan dengan cara salah seorang manusia yang paling Dia cintai –secara tidak adil menanggung dosa mereka dan di salib atas nama mereka, dan menyatakan bahwa hukum-Nya kejam, barbar dan tidak pantas di zaman modern?
Dimana penghambaan kalian kepada-Nya?
Dimana rasa hormatmu kepada apa yang Dia cintai?
Dimana sisa akal sehatmu, yang akan segera menolak keyakinan takhayul Trinitas dan penebusan dosa melalui penyaliban yesus?
Dimana kerendahan hatimu di hadapan Yang Maha Kuasa?
Apakah kamu bersikeras meninggalkan fitrah dan mengalah pada kesesatan nenek moyangmu?
Padahal Allah ta’ala mensifati orang kafir terdahulu dengan berfirman: “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi Peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka’." (QS. Az-Zukhruf : 23)
Kami mengajakmu merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini sementara para Kesatria Khilafah yang haus darah mengobarkan perang mereka untuk menerormu. Tidak diragukan bahwa peperangan ini hanya akan diakhiri dengan bendera hitam tauhid berkibar diatas Konstantinopel dan Roma, dan itu tidaklah sulit bagi Allah…
“Katakanlah: ‘Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya, atau (azab) dengan tangan kami. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu’.” (QS. At-Taubah : 52)
SEMBAHLAH OLEH KALIAN ALLAH SAJA
“Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (QS. At-Taubah : 126)
Setelah serangan di Orlando (AS), Dhaka (Bangladesh), Magnanville, Nice dan Normandy (Perancis), serta Wirzburg dan Ansbach (Jerman) yang menyebabkan kesyahidan 12 prajurit Khilafah serta mati dan terlukanya lebih dari 600 salibis, siapapun akan mengira bahwa para penyembah salib dan orang-orang musyrik penyembah demokrasi di Barat akan berhenti sejenak dan merenungkan alasan dibalik kebencian dan permusuhan umat Islam terhadap masyarakat Barat, atau mengambil pelajaran dan berpikir untuk bertaubat dengan meninggalkan kekafiran mereka dan memeluk Islam.
Namun demam dan khayalan yang disebabkan oleh dosa, khurafat dan sekulerisme telah menyebabkan pikiran dan akal mereka yang masih tersisa menjadi mati. Kecanduan hedonism dan doktrin biadab mereka telah memperbudak mereka kepada tuhan-tuhan palsu berupa pendeta, pembuat hukum dan hawa nafsu mereka. Sedangkan mengibadahi Sang Pencipta semata dan mengikuti Rasul-nya yang terakhir shallallahu ‘alaihi wasallam, maka hal itu diluar pertimbangan mereka. Sebaliknya, mereka memerangi apa saja dan siapa saja yang mendatangkan kesejahteraan mereka di dunia dan keselamatan mereka di akhirat. Mereka memerangi Pencipta mereka, kitab-Nya, hukum-Nya, Rasul-Nya serta hamba-hamba-Nya. Dan mereka tanpa malu mengakui pengingkaran mereka pada kebijaksanaan, rahmat dan keadilan-Nya, dengan mengira bahwa Allah ta’ala akan membiarkan agama-Nya dan para hamba-Nya dalam kezhaliman musuh-musuh-Nya dan kejahatan mereka.
Meskipun kondisi mereka yang malang berupa kebodohan dan kesombongan, kami mengambil momen sejumlah pembantaian terhadap warga dan kepentingan mereka ini untuk mengajak mereka sekali lagi kepada agama tauhid yang murni, kebenaran, rahmat, keadilan dan pedang.
Semenjak dirilisnya Dabiq edisi ini hingga pembantaian berikutnya dilaksanakan terhadap mereka oleh para prajurit rahasia Khilafah –yang diperintahkan untuk menyerang mereka tanpa ditunda-tunda- para salibis dapat menelaah mengapa umat Islam membenci dan memerangi mereka, mengapa kaum musyrikin Kristen harus menghancurkan salib mereka, mengapa kaum liberal sekuler harus kembali kepada fithrah, dan mengapa kaum atheis skeptic harus mengakui Pencipta mereka dan berserah diri kepada-Nya.
Intinya, kami menjelaskan mengapa mereka harus meninggalkan kekafiran mereka dan menerima Islam, agama yang murni dan tunduk hanya pada Rabb langit dan bumi.*
*Islam berasal dari kata dalam Bahasa Arab yaitu istislam / salamah, yang berarti ketundukan dan keikhlasan. Ini adalah inti dari Islam yaitu ketundukan kepada Allah dengan ikhlas (murni hanya kepada-Nya saja).
Mereka akan mendapati pada halaman demi halaman edisi ini rincian dari pesan kami kepada mereka permasalahan seputar kekristenan, feminisme, liberalism dan atheisme. Namun, risalah terakhir dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, risalah yang mana ia diutus dengannya –yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah- dan risalah dari nabi-nabi sebelumnya sejak Adam hingga Muhammad alaihi shalatu wasallam adalah sama sepanjang sejarah: Tiada ilah kecuali Allah. Kata “ilah” secara bahasa artinya “yang berhak disembah”, yaitu tidak ada sesuatu pun atau seorang pun yang berhak diibadahi selain Allah.
Allah adalah nama yang benar dari Tuhan Pencipta Langit dan Bumi. Nama ini berasal dari kata yang sama yaitu “ilah”, dan memiliki akar kata yang serupa dengan nama Sang Pencipta yang didapati dalam semua Bahasa Semit, termasuk Bahasa Ibrani yang digunakan oleh para Nabi dari Bani Israil.
Dalam Bahasa Ibrani, mereka berdoa kepada Tuhan dengan mengatakan “Elohim”, yang serupa di dalam Bahasa Arab dengan “Allahumm”. Akhiran “him” dalam Bahasa Ibrani dan “humm” dalam Bahasa Arab –yang merupakan bentuk jamak pengagungan- ditambahkan pada “Eloh” dan “Allah” untuk menegaskan keagungan-Nya dan kerendahan hati orang yang berdoa. Hanya Dia semata Tuhan yang berhak disembah karena hanya Dia saja Pencipta Langit dan Bumi. Dan hanya Dia semata Tuhan Langit dan Bumi, dan hanya Dia semata yang memiliki sifat-sifat paling agung, berupa ilmu, kekuatan, keadilan, rahmat, kebijaksanaan, keindahan, kemuliaan, keagungan, dll. Jika sebagian makhluknya memiliki sifat yang terpuji, maka itu semata-mata disebabkan oleh perencanaan dan petunjuk-Nya. Sifat-sifat makhluk tidak akan bisa menandingi sifat-sifat-Nya yang sempurna.
Itulah sebabnya mengapa hanya Dia saja yang berhak diibadahi, dan mengapa tidak ada seorang pun atau sesuatu pun yang patut diibadahi selain Dia. Adapun meyakini adanya “tuhan-tuhan” yang ikut berperan dalam penciptaan alam semesta atau berbagi dalam ketuhanannya, maka ini adalah keyakinan yang menyimpang dan bertentangan dengan fitrah manusia yang bahkan dulu Kaum Musyrikin Arab sebelum Islam tidak meyakininya. Sebaliknya, kesyirikan mereka adalah dengan berdoa kepada berhala-berhala yang melambangkan orang-orang shalih, yang mereka melakukannya untuk mencari syafa’at dari orang shalih itu untuk mereka di hadapan Allah ta’ala.
Namun, di waktu bencana yang dahsyat, mereka akan meninggalkan berhala-berhala mereka dan berdoa hanya kepada Allah saja.
Allah ta’ala berfirman : “Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al-Ankabut: 65)
Jadi, bagian fitrah ini –pengakuan akan ketuhanan Allah semata- ditekankan oleh semua Nabi dalam risalah mereka untuk membawa kembali kaum mereka yang musyrik kepada fitrah yang telah ditinggalkan – yaitu mengibadahi Allah saja.
Allah ta’ala berfirman : “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?’. Katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku’. Kepada-Nya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az-Zumar : 38)
Dia ta’ala juga berfirman : “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?’" (QS. Yunus : 31)
Yaitu mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya dengan beribadah hanya kepada-Nya saja dan hanya mentaati-Nya saja?
Allah ta’ala juga berfirman : “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. Al-Anbiya: 25)
Jadi, risalah dari semua Nabi menekankan peribadahan dan ketaatan hanya kepada Allah saja, bukan kepada selain-Nya.
Tiada ilah selain Allah maknanya adalah tidak ada yang berhak diibadahi dan ditaati kecuali Allah. Dia diibadahi tanpa sekutu dengan rasa cinta (mahabbah), takut (khauf), takut (roja’), doa, sujud, sembelihan, dall. Dia ditaati tanpa sekutu dengan mengikuti Rasul-Nya yang terakhir shallallahu ‘alaihi wasallam, berhukum kepada-Nya, menerapkan syari’at-Nya, dan menolak setiap hukum yang dibuat oleh selain-Nya. Allah Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hukum-Nya adil dan semua hukum selain-Nya pasti tidak luput dari kesalahan dan kezhaliman.
Makna tersebut diuraikan di banyak ayat Al-Qur’an.
“…Keputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf : 40)
“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan terperinci?...” (QS. Al-An’am : 114)
“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al Qur'an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am : 115)
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Ma’idah : 50)
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura : 21)
“Bukankah Allah Hakim yang paling adil?” (QS. At-Tiin : 8)
“Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.” (QS. Yunus : 109)
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa : 60)
“…dan Dia (Allah) tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan (hukum)".” (QS. Al-Kahfi : 26)
“Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih maka putusan (hukum)nya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakal dan kepada-Nya lah aku kembali.” (QS. Asy-Syura : 10)
“Dan putuskan lah perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…” (QS. Al-Ma’idah : 49)
“…Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Ma’idah : 44)
“Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah...” (QS. An-Nisa : 64)
“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’. Katakanlah: ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir’.” (QS. Ali Imran : 31-32)
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…” (QS. Al-Ma’idah : 48)
“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85)
Sedangkan untuk sekulerisme era modern, maka itu adalah agama kaum Madyan, yang mengaku tidak bisa memahami mengapa beribadah kepada Allah juga harus mentaati hukum-Nya.
“Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)." Dan Syuaib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." Mereka berkata: "Hai Syuaib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Syuaib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Lut tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. Mereka berkata: "Hai Syuaib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami. Syuaib menjawab: "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan." Dan (dia berkata): "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu." Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa.” (QS. Hud : 84-95)
Jadi, kaum sekuler Madyan dibinasakan seperti kaum musyrikin Tsamud.**
**Kisah kaum Tsamud disebutkan di beberapa tempat di Al-Qur’an. Lihat surat Hud ayat 61-68.
Pemusnahan umat-umat terdahulu dan bencana pada umat-umat setelahnya adalah alasan untuk perenungan yang mendalam.
Allah ta’ala berfirman : “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. Ali Imran : 137)
Allah ta’ala juga berfirman : “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (QS. Al-An’am : 42)
Masyarakat Barat yang sedang menghadapi keruntuhan “peradaban” melalui perbuatan jahat mereka dan amal shalih mujahidin, harus bertanya pada diri mereka beberapa pertanyaan, diantaranya :
Bagaimana mereka mengaku mencintai Tuhan, namun mereka menyembah manusia dan benda selain Dia?
Bagaimana mereka mengaku takut kepada-Nya, namun mereka mengambil sumber hukum dari keinginan hawa nafsu mereka?
Bagaimana mereka mengaku memuliakan-Nya, namun mereka mengolok-olok Nabi dan Rasul yang diutus kepada umat manusia serta wahyu dan hukum yang mereka bawa?
Bagaimana mereka mengklaim beriman dan mengakui Dia sebagai satu-satunya Tuhan Yang Maha Penyayang, Maha Adil dan Maha Bijaksana tapi mereka menjadikan bagi-Nya seorang Ibu, putra, sekutu (Trinitas), percaya bahwa Dia tidak dapat mengampuni umat manusia dari “dosa asli” mereka melainkan dengan cara salah seorang manusia yang paling Dia cintai –secara tidak adil menanggung dosa mereka dan di salib atas nama mereka, dan menyatakan bahwa hukum-Nya kejam, barbar dan tidak pantas di zaman modern?
Dimana penghambaan kalian kepada-Nya?
Dimana rasa hormatmu kepada apa yang Dia cintai?
Dimana sisa akal sehatmu, yang akan segera menolak keyakinan takhayul Trinitas dan penebusan dosa melalui penyaliban yesus?
Dimana kerendahan hatimu di hadapan Yang Maha Kuasa?
Apakah kamu bersikeras meninggalkan fitrah dan mengalah pada kesesatan nenek moyangmu?
Padahal Allah ta’ala mensifati orang kafir terdahulu dengan berfirman: “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi Peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka’." (QS. Az-Zukhruf : 23)
Kami mengajakmu merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini sementara para Kesatria Khilafah yang haus darah mengobarkan perang mereka untuk menerormu. Tidak diragukan bahwa peperangan ini hanya akan diakhiri dengan bendera hitam tauhid berkibar diatas Konstantinopel dan Roma, dan itu tidaklah sulit bagi Allah…
“Katakanlah: ‘Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya, atau (azab) dengan tangan kami. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu’.” (QS. At-Taubah : 52)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar