DABIQ 10 – PENGANTAR
SERANGAN KEJUTAN KSATRIA KHILAFAH DI PERANCIS, KUWAIT DAN TUNISIA
Dua pekan yang lalu, pada hari Jumat, tepat hari ke-9 di bulan Ramadhan, Tentara Salib dan Rafidhah dikejutkan oleh gelombang serangan di tiga wilayah yang berbeda, salah satunya di kota salibis, Lyon. Hari penyerangan yang kemudian dikenal sebagai "Jumat Berdarah"*, satu hari yang melegakan hati kaum muslimin dan mujahidin, dan mengisi hati musuh-musuh mereka dengan teror dan kemarahan.
*Di media Perancis, kejadian ini disebut sebagai "Jum'at Kelam".
Di Lyon, seorang Muslim pemberani melakukan pembelaan terhadap Khilafah dengan menyerbu pabrik Perancis dan memenggal kepala kafir Perancis, negara koalisi salibis yang melancarkan peperangan melawan Khilafah. Bahkan dua serangan berdarah dilakukan di Tunisia dan Kuwait oleh junud Daulah Islam.
Di Kuwait, sebuah kuil Rafidhi diguncang ledakan oleh Abu Sulaiman al-Muwahhid, seorang mujahid yang menyusup ke tengah-tengah Rafidhah dan menghukum mereka sebagai pembalasan atas Ahlus Sunnah dan membela Khilafah. Pemerintah Kuwait terlibat dalam perang melawan Khilafah sebagai bagian dari koalisi tentara salib.
Di Tunisia, mujahid Abu Yahya al-Qairawani berjalan ke sebuah hotel resor pantai di kota Sousse dengan senapan serbu dan membantai puluhan warga negara tentara salib Eropa yang juga terlibat dalam koalisi peperangan melawan Daulah Islam.
Ini adalah yang terbaru dalam rangkaian serangan yang dilakukan selama satu tahun terakhir oleh tentara Khilafah di seluruh dunia -termasuk di wilayah Khilafah itu sendiri- dalam menanggapi seruan Daulah Islam untuk melawan musyrikin dimanapun mereka berada, terutama di negara-negara anggota koalisi tentara salib, koalisi yang melawan syari’at dimana ia ditegakkan. Mereka berusaha untuk mencabut dan menggantinya dengan demokrasi nasionalis.
Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani hafizhahullah menyatakan, "Wahai muwahhidin di Eropa, Amerika, Australia, dan Kanada.. Wahai muwahhidin di Maroko dan Aljazair.. Wahai muwahhidin di Khurasan, Kaukasus, dan Iran [Sunni Kurdi dan Sunni Arab].. Wahai muwahhidin di mana saja di atas permukaan bumi.. Wahai saudara seiman.. Wahai manusia yang memiliki al wala’ wal barra'.. Wahai rakyat Daulah Islam.. Wahai kalian yang telah memberikan bai’at kepada Khalifah Ibrahim di mana-mana.. Kalian yang mencintai Daulah Islam.. Orang-orang yang mendukung Khilafah.. Dan kalian wahai para tentara dan penolong…"
"Daulah kalian sedang menghadapi fase baru dengan tentara salib. Jadi wahai para muwahhid, di mana pun kalian berada, apa yang akan Anda lakukan untuk mendukung saudara-saudara kalian? Apa yang Anda tunggu sementara manusia telah terbagi menjadi dua kubu diantara panasnya peperangan yang semakin meningkat dari hari ke hari? Wahai para muwahhid, kami memanggil kalian untuk membela Daulah Islam. Puluhan negara telah berkumpul melawannya. Mereka telah memulai perang, mereka melawan kita di semua segi. Bangkitlah wahai muwahhid! Bangkit dan bela Daulah kalian di manapun kalian berada" [Sesungguhnya Rabbmu Benar-Benar Mengintai].
Panggilan untuk membela Daulah Islam -satu-satunya pemerintahan yang mengatur dengan syari'at Allah hari ini- terus dijawab oleh Muslim yang tulus dan mujahidin di seluruh dunia yang siap untuk mengorbankan nyawa dan segala yang mereka sayangi untuk meninggikan kalimat Allah dan menginjak-injak demokrasi dan nasionalisme.
Sebaliknya, para pengklaim jihad di Syam dan tempat lain siap untuk mengorbankan prinsip-prinsip agama dengan memerangi Daulah Islam dalam membela nasionalisme jahiliyah yang dipoles dengan sentuhan "syari'ah". Mereka sangat berambisi mengambil setiap wilayah Khilafah, sehingga wilayah tersebut tidak lagi diatur oleh syari'at Allah.
Untuk lebih menunjukkan sifat memalukan dari para pengklaim jihad ini, perlu dicatat bahwa Muslim yang berangkat dan menjawab seruan Syaikh al-'Adnani untuk membela Khilafah kebanyakan dari mereka melakukannya sendiri, dengan tidak mengandalkan dukungan siapapun dalam mempertahankan syari'at, kecuali Allah. Sementara para pengklaim jihad, mereka adalah kelompok yang relatif besar dan bersenjata, memiliki kemampuan untuk merebut dan mempertahankan wilayah. Namun mereka menolak untuk menerapkan hukum Allah meskipun Allah telah memberi kekuatan dan kekuasaan atas mereka.
Kontradiksi selanjutnya antara muwahhidin yang tulus dan para pengklaim jihad, kita melihat bahwa muwahhid yang meneror orang kafir dengan peristiwa semacam "Jum'at Berdarah", difitnah dan dipandang sebagai ekstremis dari masyarakat pinggiran, atau individu yang menderita kemiskinan, pengangguran, atau masalah sosial lainnya. Namun mereka bertahan dalam jihad mereka, tidak merasa takut dengan bagaimana mereka selanjutnya akan digambarkan di media, dan tidak peduli dengan apa yang akan orang katakan tentang mereka. Hal ini karena mereka hanya mengejar ridha Allah, bukan kesenangan atau pujian menusia.
Sementara para pengklaim jihad, terlalu pengecut dibandingkan dengan jumlah mereka yang besar, persenjataan yang mereka miliki, dan klaim mereka terhadap beberapa daerah di Syam. Mereka tetap takut melaksanakan syari'at, khawatir menyinggung perasaan orang-orang, mereka lebih memilih mengejar ridha manusia diatas ridha Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, "Barangsiapa menyenangkan Allah dengan mengorbankan kemarahan manusia, cukup baginya Allah sebagai pelindung dari kemarahan manusia, dan barangsiapa yang menyenangkan manusia dengan mengorbankan kemarahan Allah, Allah akan [meninggalkanya dan] meninggalkan urusannya bersama manusia." [HR at-Tirmidzi dari 'Aisyah].
Jadi, kami memperbaharui seruan kami kepada setiap Muslim yang tulus di seluruh dunia untuk berbaris maju dan berperang melawan tentara salib dan murtad yang berusaha menghapus syari'at Allah. Majulah, jangan takut akan celaan para pencela, dan jangan pula mencari keridhaan manusia, hukum milik Allah, bukan milik manusia.
“Keputusan itu hanyalah milik Allah” [Yusuf: 40].
SERANGAN KEJUTAN KSATRIA KHILAFAH DI PERANCIS, KUWAIT DAN TUNISIA
Dua pekan yang lalu, pada hari Jumat, tepat hari ke-9 di bulan Ramadhan, Tentara Salib dan Rafidhah dikejutkan oleh gelombang serangan di tiga wilayah yang berbeda, salah satunya di kota salibis, Lyon. Hari penyerangan yang kemudian dikenal sebagai "Jumat Berdarah"*, satu hari yang melegakan hati kaum muslimin dan mujahidin, dan mengisi hati musuh-musuh mereka dengan teror dan kemarahan.
*Di media Perancis, kejadian ini disebut sebagai "Jum'at Kelam".
Di Lyon, seorang Muslim pemberani melakukan pembelaan terhadap Khilafah dengan menyerbu pabrik Perancis dan memenggal kepala kafir Perancis, negara koalisi salibis yang melancarkan peperangan melawan Khilafah. Bahkan dua serangan berdarah dilakukan di Tunisia dan Kuwait oleh junud Daulah Islam.
Di Kuwait, sebuah kuil Rafidhi diguncang ledakan oleh Abu Sulaiman al-Muwahhid, seorang mujahid yang menyusup ke tengah-tengah Rafidhah dan menghukum mereka sebagai pembalasan atas Ahlus Sunnah dan membela Khilafah. Pemerintah Kuwait terlibat dalam perang melawan Khilafah sebagai bagian dari koalisi tentara salib.
Di Tunisia, mujahid Abu Yahya al-Qairawani berjalan ke sebuah hotel resor pantai di kota Sousse dengan senapan serbu dan membantai puluhan warga negara tentara salib Eropa yang juga terlibat dalam koalisi peperangan melawan Daulah Islam.
Ini adalah yang terbaru dalam rangkaian serangan yang dilakukan selama satu tahun terakhir oleh tentara Khilafah di seluruh dunia -termasuk di wilayah Khilafah itu sendiri- dalam menanggapi seruan Daulah Islam untuk melawan musyrikin dimanapun mereka berada, terutama di negara-negara anggota koalisi tentara salib, koalisi yang melawan syari’at dimana ia ditegakkan. Mereka berusaha untuk mencabut dan menggantinya dengan demokrasi nasionalis.
Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani hafizhahullah menyatakan, "Wahai muwahhidin di Eropa, Amerika, Australia, dan Kanada.. Wahai muwahhidin di Maroko dan Aljazair.. Wahai muwahhidin di Khurasan, Kaukasus, dan Iran [Sunni Kurdi dan Sunni Arab].. Wahai muwahhidin di mana saja di atas permukaan bumi.. Wahai saudara seiman.. Wahai manusia yang memiliki al wala’ wal barra'.. Wahai rakyat Daulah Islam.. Wahai kalian yang telah memberikan bai’at kepada Khalifah Ibrahim di mana-mana.. Kalian yang mencintai Daulah Islam.. Orang-orang yang mendukung Khilafah.. Dan kalian wahai para tentara dan penolong…"
"Daulah kalian sedang menghadapi fase baru dengan tentara salib. Jadi wahai para muwahhid, di mana pun kalian berada, apa yang akan Anda lakukan untuk mendukung saudara-saudara kalian? Apa yang Anda tunggu sementara manusia telah terbagi menjadi dua kubu diantara panasnya peperangan yang semakin meningkat dari hari ke hari? Wahai para muwahhid, kami memanggil kalian untuk membela Daulah Islam. Puluhan negara telah berkumpul melawannya. Mereka telah memulai perang, mereka melawan kita di semua segi. Bangkitlah wahai muwahhid! Bangkit dan bela Daulah kalian di manapun kalian berada" [Sesungguhnya Rabbmu Benar-Benar Mengintai].
Panggilan untuk membela Daulah Islam -satu-satunya pemerintahan yang mengatur dengan syari'at Allah hari ini- terus dijawab oleh Muslim yang tulus dan mujahidin di seluruh dunia yang siap untuk mengorbankan nyawa dan segala yang mereka sayangi untuk meninggikan kalimat Allah dan menginjak-injak demokrasi dan nasionalisme.
Sebaliknya, para pengklaim jihad di Syam dan tempat lain siap untuk mengorbankan prinsip-prinsip agama dengan memerangi Daulah Islam dalam membela nasionalisme jahiliyah yang dipoles dengan sentuhan "syari'ah". Mereka sangat berambisi mengambil setiap wilayah Khilafah, sehingga wilayah tersebut tidak lagi diatur oleh syari'at Allah.
Untuk lebih menunjukkan sifat memalukan dari para pengklaim jihad ini, perlu dicatat bahwa Muslim yang berangkat dan menjawab seruan Syaikh al-'Adnani untuk membela Khilafah kebanyakan dari mereka melakukannya sendiri, dengan tidak mengandalkan dukungan siapapun dalam mempertahankan syari'at, kecuali Allah. Sementara para pengklaim jihad, mereka adalah kelompok yang relatif besar dan bersenjata, memiliki kemampuan untuk merebut dan mempertahankan wilayah. Namun mereka menolak untuk menerapkan hukum Allah meskipun Allah telah memberi kekuatan dan kekuasaan atas mereka.
Kontradiksi selanjutnya antara muwahhidin yang tulus dan para pengklaim jihad, kita melihat bahwa muwahhid yang meneror orang kafir dengan peristiwa semacam "Jum'at Berdarah", difitnah dan dipandang sebagai ekstremis dari masyarakat pinggiran, atau individu yang menderita kemiskinan, pengangguran, atau masalah sosial lainnya. Namun mereka bertahan dalam jihad mereka, tidak merasa takut dengan bagaimana mereka selanjutnya akan digambarkan di media, dan tidak peduli dengan apa yang akan orang katakan tentang mereka. Hal ini karena mereka hanya mengejar ridha Allah, bukan kesenangan atau pujian menusia.
Sementara para pengklaim jihad, terlalu pengecut dibandingkan dengan jumlah mereka yang besar, persenjataan yang mereka miliki, dan klaim mereka terhadap beberapa daerah di Syam. Mereka tetap takut melaksanakan syari'at, khawatir menyinggung perasaan orang-orang, mereka lebih memilih mengejar ridha manusia diatas ridha Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, "Barangsiapa menyenangkan Allah dengan mengorbankan kemarahan manusia, cukup baginya Allah sebagai pelindung dari kemarahan manusia, dan barangsiapa yang menyenangkan manusia dengan mengorbankan kemarahan Allah, Allah akan [meninggalkanya dan] meninggalkan urusannya bersama manusia." [HR at-Tirmidzi dari 'Aisyah].
Jadi, kami memperbaharui seruan kami kepada setiap Muslim yang tulus di seluruh dunia untuk berbaris maju dan berperang melawan tentara salib dan murtad yang berusaha menghapus syari'at Allah. Majulah, jangan takut akan celaan para pencela, dan jangan pula mencari keridhaan manusia, hukum milik Allah, bukan milik manusia.
“Keputusan itu hanyalah milik Allah” [Yusuf: 40].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar