Rabu, 25 April 2018

KEIKUTSERTAAN JEPANG DALAM PERANG MELAWAN MUJAHIDIN

DABIQ 7 - KATA PENGANTAR


KEIKUTSERTAAN JEPANG DALAM PERANG MELAWAN MUJAHIDIN

“Apa urusan Jepang dengan kami? Siapa yang telah membawa Jepang ke dalam perang yang sulit, dahsyat dan sengit ini… ke dalam pelanggaran kepada putra-putra kita di Palestina? Jepang tidak akan mampu bertahan dalam perang melawan kami. Oleh karena itu, mereka harus memikirkan ulang pendirian mereka. Apa urusan Australia yang jauh di selatan dengan kami dan dengan kondisi masyarakat Afghanistan dan Palestina yang tidak berdaya? Apa urusan Jerman dalam perang ini selain kekafiran dan perang salib? Ini tidak lain adalah perang salib sebagaimana perang salib terdahulu yang dipimpin oleh Richard the Lionheart, Barbarossa dari Jerman, dan Louis dari Prancis. Sebagaimana hari ini, ketika Bush mengangkat salib, negara-negara salibis segera bergegas. Apa urusan negara-negara Arab dengan perang salib ini? Mengapa mereka memasukinya dengan terang-terangan dan terbuka di siang bolong? Karena mereka merasa senang dengan rencana salib.” (Wawancara Oktober 2001)

Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah mengatakan kalimat di atas 13 tahun yang lalu ketika banyak negara bersegera bergabung dengan koalisi salibis yang digerakkan untuk menginvasi Afghanistan. Jepang bergabung dengan perang salib walaupun mereka adalah penyembah berhala bukan Kristen, konstitusinya yang “cinta damai”, dan jaraknya yang jauh dari Afghanistan. Perdana Menteri yang bodoh saat itu –Junichiro Koizumi– berkomitmen untuk menyediakan bantuan logistik untuk pasukan salib barat. Apa keuntungan yang dia harapkan untuk Jepang dengan bergabung dalam sebuah perang salib terhadap kaum Muslimin?

Setelah itu, Jepang –sekali lagi di bawah kepemimpinan Koizumi– bergabung dengan pasukan salib di Iraq dengan mengirim Pasukan “Bela Diri” untuk menolong mereka di sana. Ketika mujahidin di bawah kepemimpinan Syaikh Abu Mush'ab az-Zarqawi rahimahullah menangkap pasukan salibis Jepang Shosei Koda dan mengancam akan mengeksekusi dia jika Jepang tidak menarik pasukannya dari Iraq, Koizumi dan pemerintahannya dengan arogan berkata bahwa Jepang tidak akan mengakui permintaan dari “teroris”. Oleh karena itu, Koda dipenggal sebagaimana orang-orang sebelumnya di antara tawanan dari koalisi pasukan salib termasuk Nick Berg dan Kenneth Bigley.

Hampir satu dekade setelahnya, Jepang yang “cinta damai” sekali lagi melanggar kebijaksanaan dengan masuk ke dalam koalisi salibis lainnya melawan kaum Muslimin, tetapi kali ini di bawah kepemimpinan peraih “Hadiah Nobel Perdamaian” Obama. Dan sehingga sebuah negara yang “cinta damai” dipimpin oleh sebuah peraih penghargaan “perdamaian” dalam sebuah perang yang digariskan untuk gagal.

Apa keuntungan yang diharapkan Abe Shinzo untuk diperoleh Jepang dengan secara terang-terangan menyumbang lebih dari 200 juta dollar untuk secara jelas digunakan dalam perang melawan Daulah Islam, seakan-akan Khilafah bukan merupakan sebuah entitas berbahaya untuk dibuat marah? Keangkuhan macam apa yang telah membutakannya untuk membuat pernyataan tidak bijaksananya dari sebuah podium yang didirikan thaghut Sisi yang melancarkan perang terhadap tentara Khilafah di Wilayah Sinai? Apa yang membuatnya “lupa” bahwa Daulah Islam memiliki dua tawanan Jepang di dalam tahanannya menunggu kekeliruan dari pemimpin Jepang?

Tidak ada yang selamat dari makar Allah yang dirasakan aman oleh orang-orang musyrik. Maka dengan segera Daulah Islam menuntut 200 juta dolar dari pemerintah Jepang, jumlah yang sama yang diberikan oleh Perdana Menteri Jepang kepada pihak salibis dan sekutu-sekutu mereka yang murtad. Khilafah tidak membutuhkan uang dan mengetahui benar bahwa Jepang tidak akan pernah menyediakan jumlah tersebut, namun keputusan –dengan tuntutan ini– untuk mempermalukan kesombongan pemerintah Jepang… Sebuah pemerintah yang berada dalam satu jalur dengan pemerintah-pemerintah yang diperbudak oleh Barat sejak Perang Dunia Kedua.

Setelah batas waktu pertama lewat, tahanan Jepang Haruna Yukawa dieksekusi, sementara para perwakilan Jepang mendesak rezim Yordania yang murtad. Daulah Islam dengan segera meminta pembebasan dan penyerahan Sajidah Ar-Risyawi –seorang mujahidah yang ditahan oleh Thaghut Yordania hampir 10 tahun– ke negeri Khilafah dalam pertukaran tawanan untuk Kenji Goto Jogo. Secara arogan rezim Yordania mempersulit proses tersebut bagi Jepang dengan berusaha memasukkan pilot mereka dalam kesepakatan pertukaran, tetapi Khilafah secara eksplisit menolaknya selama negosiasi dengan perwakilan Thaghut Yordania –'Ashim Thahir Al-Barqawi (Abu Muhammad al-Maqdisi [1])– karena terdapat beberapa rencana lain bagi si pilot murtad.

Pada akhirnya, baik si klien murtad Al-Barqawi (yaitu Mu'adz, pent.) maupun sang tahanan Jepang dieksekusi disebabkan kelalaian kedua rezim dalam memperhatikan peringatan yang diberikan oleh Daulah Islam. Para kerabat Kenji Goto Jogo dan si pilot murtad tidak bisa disalahkan. Para pemimpin politik negeri merekalah yang dipersalahkan karena berusaha untuk menenangkan dan melayani salibis Amerika.

Sebelum perjanjian sembrono untuk membantu perang salib ini, Jepang tidak masuk dalam daftar prioritas target Daulah Islam. Akan tetapi, disebabkan kebodohan Abe Shinzo, semua warga dan kepentingan Jepang –di mana pun mereka diketemukan– sekarang menjadi target bagi bala tentara dan pendukung Khilafah di mana-mana. Kini Jepang berada dalam situasi yang sulit.

Bagaimana mereka dapat lepas dari ancaman ini? Bisakah Abe Shinzo melakukan langkah untuk membebaskan rakyatnya yang secara sembrono menyebabkan kemarahan Khilafah? Bisakah ia secara berani mengumumkan penghentian dukungannya bagi perang melawan Khilafah setelah membuat pernyataan buruk dan tidak bijaksana terhadap Daulah Islam? Sesuatu yang sangat diragukan… Dengan demikian, biarkanlah para warga negaranya mengetahui bahwa pedang Khilafah telah dihunus terhadap orang-orang musyrik Jepang dengan kekuatan dan kekuasaan Allah...

Catatan kaki :

[1] Semoga Allah segera menyingkap secara rinci tentang bagaimana Al-Barqawi (di mana dia mengadakan kampanye yang penuh dengan kebohongan) mewakili Thaghut Yordania dalam negosiasi tersebut. Wallahul Musta'an...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar