Rabu, 25 April 2018

SEMBAHLAH RABBMU SAMPAI AJAL MENJEMPUT

RUMIYAH 8 - PENGANTAR

SEMBAHLAH RABBMU SAMPAI AJAL MENJEMPUT

Ketika Allah menganugerahkan nikmat kepada hamba-Nya, maka dijadikan-Nya zhahirnya sejalan dengan batinnya, dan ucapannya sejalan dengan tindakannya. Dia tidak menjadikannya seorang munafik yang kontradiktif antara tindakan dan ucapannya. Inilah apa yang telah Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya di Daulah Islamiyah –dengan karunia-Nya– dalam berbagai sendi yang tak terhitung lagi. Utamanya dalam faktor utama wujudnya yaitu iqomatud din dan tahkim syariat.

Daulah yang menyelisihi orang-orang sesat dan menyesatkan, yaitu para pejuang faksi-faksi perpecahan dan perselisihan serta sekte-sekte madharat. Sebelumnya mereka memenuhi dunia dengan pernyataan dan teori-teori bahwa mereka berupaya menegakkan dien. Mereka bertekad merealisasikannya ketika kekuasaan berada dalam genggamannya. Namun kemudian tampaklah bahwa slogan-slogan itu dusta belaka. Ketika mereka menggenggam kekuasaan, segera saja janji-janji manis itu dilanggar. Mereka berhukum dengan aturan thaghut. Keeksisan organisasi dan figurnya lebih mereka pilih daripada menegakkan agama.

Setiap kali Allah menaklukkan dan menguasakan sebidang tanah atas Daulah, maka prajuritnya segera menegakkan agama Allah, memerintahkan penduduknya kepada kebaikan, dan melarang mereka dari keburukan. Meski mereka yakin bahwa hal itu akan menyebabkan orang-orang kafir menyerang dan menyesakkan dada orang-orang munafik, namun hanya ridha Allah Rabb semesta alam yang mereka inginkan.

Di antara kebaikan yang menggembirakan hati muwahid ini adalah ketika ia melihat shalat didirikan, zakat dikumpulkan, amar makruf nahi munkar dilaksanakan, dan hudud ditegakkan di setiap jengkal tanah Islam, walaupun pertempuran membara di berbagai sudut-sudutnya.

Engkau lihat singa-singa Islam menggoreskan pertempuran-pertempuran bersejarah dan mengorbankan jiwa raganya. Mereka terus mengawasi gerak-gerik kaum musyrikin dari ujung-ujung kota. Di saat yang sama adzan dikumandangkan, lalu kaum muslimin berkumpul untuk menegakkan shalat, sekalipun medan tempur hanya berjarak satu atau dua blok saja. Terlihat ikhwah lainnya berkeliling untuk membagi-bagi zakat kepada yang berhak. Pengaduan demi pengaduan terus mengalir pada peradilan-peradilan Islam yang berhakim dengan syariat Allah. Hudud tetap ditegakkan kepada terdakwa. Dakwah kepada kebaikan tidak berhenti, begitupula amar makruf nahi mungkar. Begitulah Dienul Islam yang ditegakkan secara sempurna sebagaimana diperintahkan oleh Allah azza wa jalla.

Tidaklah prajurit yang berada di front terdepan tetap bertahan kecuali untuk menjaga syariat Allah yang ditegakkan di bumi, yang orang-orang musyrik berusaha menghapuskannya. Ia yakin betul bahwa kemenangannya atas musuh bukanlah lantaran kekuatan lengannya, ketajaman pedang, atau lengkapnya persenjataan, namun murni karunia Allah. Setiap kali bertambah keyakinan jika agama ini ditegakkan sebagaimana dikehendaki-Nya, bertambah pula keyakinan akan pertolongan Allah. Dengan berjihad melawan orang-orang musyrik dan melindungi kaum muslimin, berarti dia telah menegakkan Dien dari sisi yang dibebankan imamnya padanya.

Rekan-rekannya menyokong, melindungi, dan membantunya dari belakang. Mereka menjaga kehormatan dan harta kaum muslimin. Hanya ketaatan kepada pemimpin yang membuat mereka menjauh dari front-front pertempuran dan garis-garis perbatasan. Mereka hanya menunaikan beban yang dipikulkan di bahu mereka yakni amanah penegakan dien. Lantaran mereka syiar-syiar agama dihormati, batasan-batasannya terjaga, dan hukum-hukumnya diterapkan. Jika ada perintah mobilisasi maka mereka segera bergerak, jika dimintai tolong maka mereka memberi pertolongan, dan jika diperintahkan maka mereka mematuhi.

Begitulah keadaan yang berlangsung di setiap jengkal Negeri Islam. Prajurit Daulah Islam terus menegakkan Dien selagi nikmat tamkin masih digenggam. Hingga ketika Rabb mereka menguji dengan serbuan musuh sampai terpaksa mundur atas izin para pemimpin mereka, setelah seluruh kemampuan dikerahkan untuk menghalau orang-orang musyrik, di hadapan Allah beban itu telah lepas dari pundak mereka. Lalu mereka kembali mengerahkan kemampuan untuk mendapatkan kembali kontrol atas wilayah itu dan menegakkan syariat. Dengan ini terbuktilah ketulusan seruan mereka dan kesetiaan mereka akan janjinya. Mereka membuat ridha Rabbnya, dan tampaklah kebenaran manhaj mereka.

Bukhari meriwayatkan dari hadits Anas dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang bersabda, “Jika kiamat telah terjadi sedangkan kalian sedang memegang benih maka jika mampu hendaknya ia tetap menanamnya.”

Wahai tentara-tentara Islam dan penjaga-penjaga syariat. Janganlah kalian meremehkan perkara makruf sekecil apapun itu. Janganlah merasa lemah untuk menegakkan syiar Islam apapun itu jika ia mampu, atau menyeru kepada keutamaan suatu amalan sekalipun sedang sibuk menghalau musuh, melindungi kaum muslimin, dan menjaga perbatasan.

Jangan sekali-kali menunda-nunda penegakkan Dien dengan sempurna setelah Allah memberikan kekuasaan di bumi walaupun sehari ataupun beberapa hari. Jangan sekali-kali menggantungkan syiar-syiar dan hukum-hukum Dien di bumi yang kalian pijak walaupun sehari atau beberapa hari sehingga Rabb kalian murka dan kalian dikalahkan musuh.

Allah azza wa jalla berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. az-Zalzalah: 7-8).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar