DABIQ 11 - SYUHADA
DIANTARA KAUM MU'MININ TERDAPAT KESATRIA:
ABU JA'FAR AL-ALMANI
Abu Ja‘far adalah sosok yang sangat dicintai oleh saudara-saudaranya. Dia orang yang ramah dan siap membantu kapan pun juga, selalu ada senyum di wajahnya untuk saudara-saudaranya.
Dia tumbuh di dalam lingkungan yang penuh dengan kriminal dan kerusakan, tetapi biar begitu, dia tidak pernah mengalami masa-masa jahiliyah (kesyirikan / kekafiran). Dia dibesarkan sebagai seorang Muslim semenjak kecil. Melalui kaum muslimin yang tinggal di sekitarnya, dia belajar dari Amir Khaththab dan mujahidin lainnya dari wilayah Kaukasus.
Sejak saat itu, ia selalu memiliki kerinduan batin untuk menjadi seorang mujahid. Sebagai seorang yang baru beranjak dewasa ia sangat aktif dalam memberikan dakwah kepada anak-anak di lingkungannya, dan juga melakukan haji pada usia yang relatif muda untuk mendekatkan diri kepada Allah ta'ala. Ini menyebabkan dia dijuluki "Haji" (sesuatu yang tidak pernah dia minta tapi merupakan bagian dari budaya Turki dan sekitarnya).
Semua orang mengenalnya dengan nama ini dan semua orang mencintainya karena dia selalu memberikan rasa hormat kepada setiap individu dengan layak. Ketika sedang menjalani studinya di bidang teknik, ia menyaksikan ketidakadilan dan penindasan Nushairiyah terhadap Ahlus Sunnah di Syam, yang menyebabkan dia meninggalkan studinya dan tanpa menunda lagi segera berhijrah ke Syam.
Setelah tiba di Syam, sebelum dideklarasikannya Daulah Islam, ia bergabung dengan kelompok "Majlis Syura al-Mujahidin," yang pada saat itu dipimpin oleh Abul Atsir (hafizhahullah) dan saudaranya Abu Muhammad al-'Absi rahimahullah dan yang kemudian memberi bai'at secara berjama‘ah kepada Amirul Mu'minin Abu Bakr al-Baghdadi (hafizhahullah).
Sejak saat itu, dia pun menghabiskan hidupnya di dalam ribath dan qital di garis depan. Dia melakukan ribath terhadap tentara Assad di Khantuman serta Liramun dan bersama-sama dengan tentara Daulah Islam mereka bergerak maju menuju Kafr Hamrah. Dia kemudian pergi ke as-Sikak (rel kereta api) untuk Ribath dan ketika berada di sana, seorang ikhwan Jerman bernama Abu Zakariya mengalami cedera kepala. Abu Ja'far pun mempertaruhkan nyawanya untuk menariknya keluar dari zona pertempuran dan membawanya kembali ke markas untuk diobati.
Di Khantuman, ia menunggu dengan sabar bersama tentara Daulah Islam lainnya untuk mulai menyerang para Nushairiyah sana, namun beberapa hari sebelum terjadinya pengkhianatan Shahawat ia kembali ke Kafr Hamrah untuk mengurus beberapa urusan pribadi. Kemudian, pada "3 Januari 2014", Shahawat mulai memerangi Daulah Islam. Abu Ja'far kemudian berperang melawan kelompok Khalid Hayani di Huraytan, kemudian melawan Shahawat di Bashkoy, dan merupakan salah satu yang terakhir yang meninggalkan Huraytan menuju A'zaz bersama ikhwan Jerman (Daulah Islam) di bawah kepemimpinan Abu Ka'b rahimahullah.
Dari I'zaz mereka terus bertempur sepanjang jalan menuju kota al-Bab, di mana ia juga ikut melakukan Ribath. Setelah kedatangan mereka di Al-Bab, dia pun ditempatkan dengan saudara Jerman lainnya di Faruq Dam (sebelumnya bernama "Tisyrin" Dam), di mana mereka berpartisipasi dalam pembebasan Sirrin serta silo (lumbung gandung) yang sebelumnya berada di bawah kendali PKK najis dan Liwa Tsuwwar ar-Raqqah. Setelah itu, ia pergi dengan saudaranya menuju al-Khair untuk melawan faksi Shahawat dan suku Syu'aytat.
Setelah membebaskan al-Khair dari Shahawat, ia pergi menuju 'Ain al-Islam (Kobane), di mana ia menjadi terkenal karena keberaniannya. Dia pernah berada di sebuah rumah yang kemudian dibom oleh pesawat koalisi hingga semua orang berpikir bahwa dia telah terbunuh, namun seorang ikhwah menyeretnya keluar dari reruntuhan dan Abu Ja'far langsung bangkit dan menyerbu ke arah PKK untuk memerangi mereka. Tapi beberapa hari kemudian, setelah ikhwah Jerman lainnya yang bersamanya baik telah terluka atau terbunuh, dia pun akhirnya menuai apa yang ia rindukan, syahadah di jalan Allah.
Hal itu terjadi selama serangan besar-besaran oleh tentara Daulah Islam terhadap faksi Kurdi atheis, di mana pesawat-pesawat koalisi datang untuk membantu faksi ini. Maka terjadilah, ikhwah kita ini terkubur untuk yang kedua kalinya di bawah reruntuhan. Setelah menerima syahadah, atheis PKK menyeret tubuhnya keluar dari puing-puing dan memperlihatkannya kepada dunia seolah-olah merekalah yang telah membunuhnya serta yang lainnya. Tetapi Allah mengetahui realitas klaim palsu mereka, dan tentara kami yang terbunuh berada di taman-taman surga sementara tentara mereka yang terbunuh berada di ruang bawah tanah dari api neraka.
Apabila mendengar ikhwah lainnya mengatakan apa yang menjadi keinginan mereka untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat di jalan Allah, Abu Ja‘far berkata: "Jangan berkata tentang itu, lakukan saja". Dia tidak pernah meninggalkan qiyamul lail, selalu membaca al-Qur'an serta dzikir pagi dan petang. Semoga Allah menerima Abu Ja‘far dan seluruh ikhwah junud Daulah Islamiyah yang telah memberikan hartanya, darahnya, dan hidupnya demi menegakkan, melindungi dan memperluas Khilafah.
DIANTARA KAUM MU'MININ TERDAPAT KESATRIA:
ABU JA'FAR AL-ALMANI
Abu Ja‘far adalah sosok yang sangat dicintai oleh saudara-saudaranya. Dia orang yang ramah dan siap membantu kapan pun juga, selalu ada senyum di wajahnya untuk saudara-saudaranya.
Dia tumbuh di dalam lingkungan yang penuh dengan kriminal dan kerusakan, tetapi biar begitu, dia tidak pernah mengalami masa-masa jahiliyah (kesyirikan / kekafiran). Dia dibesarkan sebagai seorang Muslim semenjak kecil. Melalui kaum muslimin yang tinggal di sekitarnya, dia belajar dari Amir Khaththab dan mujahidin lainnya dari wilayah Kaukasus.
Sejak saat itu, ia selalu memiliki kerinduan batin untuk menjadi seorang mujahid. Sebagai seorang yang baru beranjak dewasa ia sangat aktif dalam memberikan dakwah kepada anak-anak di lingkungannya, dan juga melakukan haji pada usia yang relatif muda untuk mendekatkan diri kepada Allah ta'ala. Ini menyebabkan dia dijuluki "Haji" (sesuatu yang tidak pernah dia minta tapi merupakan bagian dari budaya Turki dan sekitarnya).
Semua orang mengenalnya dengan nama ini dan semua orang mencintainya karena dia selalu memberikan rasa hormat kepada setiap individu dengan layak. Ketika sedang menjalani studinya di bidang teknik, ia menyaksikan ketidakadilan dan penindasan Nushairiyah terhadap Ahlus Sunnah di Syam, yang menyebabkan dia meninggalkan studinya dan tanpa menunda lagi segera berhijrah ke Syam.
Setelah tiba di Syam, sebelum dideklarasikannya Daulah Islam, ia bergabung dengan kelompok "Majlis Syura al-Mujahidin," yang pada saat itu dipimpin oleh Abul Atsir (hafizhahullah) dan saudaranya Abu Muhammad al-'Absi rahimahullah dan yang kemudian memberi bai'at secara berjama‘ah kepada Amirul Mu'minin Abu Bakr al-Baghdadi (hafizhahullah).
Sejak saat itu, dia pun menghabiskan hidupnya di dalam ribath dan qital di garis depan. Dia melakukan ribath terhadap tentara Assad di Khantuman serta Liramun dan bersama-sama dengan tentara Daulah Islam mereka bergerak maju menuju Kafr Hamrah. Dia kemudian pergi ke as-Sikak (rel kereta api) untuk Ribath dan ketika berada di sana, seorang ikhwan Jerman bernama Abu Zakariya mengalami cedera kepala. Abu Ja'far pun mempertaruhkan nyawanya untuk menariknya keluar dari zona pertempuran dan membawanya kembali ke markas untuk diobati.
Di Khantuman, ia menunggu dengan sabar bersama tentara Daulah Islam lainnya untuk mulai menyerang para Nushairiyah sana, namun beberapa hari sebelum terjadinya pengkhianatan Shahawat ia kembali ke Kafr Hamrah untuk mengurus beberapa urusan pribadi. Kemudian, pada "3 Januari 2014", Shahawat mulai memerangi Daulah Islam. Abu Ja'far kemudian berperang melawan kelompok Khalid Hayani di Huraytan, kemudian melawan Shahawat di Bashkoy, dan merupakan salah satu yang terakhir yang meninggalkan Huraytan menuju A'zaz bersama ikhwan Jerman (Daulah Islam) di bawah kepemimpinan Abu Ka'b rahimahullah.
Dari I'zaz mereka terus bertempur sepanjang jalan menuju kota al-Bab, di mana ia juga ikut melakukan Ribath. Setelah kedatangan mereka di Al-Bab, dia pun ditempatkan dengan saudara Jerman lainnya di Faruq Dam (sebelumnya bernama "Tisyrin" Dam), di mana mereka berpartisipasi dalam pembebasan Sirrin serta silo (lumbung gandung) yang sebelumnya berada di bawah kendali PKK najis dan Liwa Tsuwwar ar-Raqqah. Setelah itu, ia pergi dengan saudaranya menuju al-Khair untuk melawan faksi Shahawat dan suku Syu'aytat.
Setelah membebaskan al-Khair dari Shahawat, ia pergi menuju 'Ain al-Islam (Kobane), di mana ia menjadi terkenal karena keberaniannya. Dia pernah berada di sebuah rumah yang kemudian dibom oleh pesawat koalisi hingga semua orang berpikir bahwa dia telah terbunuh, namun seorang ikhwah menyeretnya keluar dari reruntuhan dan Abu Ja'far langsung bangkit dan menyerbu ke arah PKK untuk memerangi mereka. Tapi beberapa hari kemudian, setelah ikhwah Jerman lainnya yang bersamanya baik telah terluka atau terbunuh, dia pun akhirnya menuai apa yang ia rindukan, syahadah di jalan Allah.
Hal itu terjadi selama serangan besar-besaran oleh tentara Daulah Islam terhadap faksi Kurdi atheis, di mana pesawat-pesawat koalisi datang untuk membantu faksi ini. Maka terjadilah, ikhwah kita ini terkubur untuk yang kedua kalinya di bawah reruntuhan. Setelah menerima syahadah, atheis PKK menyeret tubuhnya keluar dari puing-puing dan memperlihatkannya kepada dunia seolah-olah merekalah yang telah membunuhnya serta yang lainnya. Tetapi Allah mengetahui realitas klaim palsu mereka, dan tentara kami yang terbunuh berada di taman-taman surga sementara tentara mereka yang terbunuh berada di ruang bawah tanah dari api neraka.
Apabila mendengar ikhwah lainnya mengatakan apa yang menjadi keinginan mereka untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat di jalan Allah, Abu Ja‘far berkata: "Jangan berkata tentang itu, lakukan saja". Dia tidak pernah meninggalkan qiyamul lail, selalu membaca al-Qur'an serta dzikir pagi dan petang. Semoga Allah menerima Abu Ja‘far dan seluruh ikhwah junud Daulah Islamiyah yang telah memberikan hartanya, darahnya, dan hidupnya demi menegakkan, melindungi dan memperluas Khilafah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar