RUMIYAH 4 - ARTIKEL
ALLAH TELAH MEMBERI NIKMAT KEPADAKU
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam tetap tercurah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam penutup para nabi dan rasul. Amma ba’du.
Perkataan ini, “Sungguh Allah telah memberi nikmat kepadaku” tidak terlontar dari orang-orang beriman yang jujur lagi bersyukur atas nikmat-Nya, tetapi ini adalah perkataan kaum munafik ketika mereka tidak ikut berperang. Mereka menyingkirkan diri dari kecamuk medan perang, dari terbunuh dan terluka. Kata-kata yang terlontar lantaran senang dengan ketidakikutsertaan mereka dalam peperangan yang mengakibatkan kekalahan mujahidin, terusirnya mereka dari suatu wilayah, atau banyak yang terbunuh. Hal ini lantaran kebodohan mereka tentang nikmat hakiki yang wajib disyukuri oleh seorang mukmin.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai tafsir firman-Nya: "Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: "Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka." (QS. an-Nisa:72) "Mujahid dan yang lainnya berkata‚ Ayat ini berkenaan dengan orang-orang munafik. Muqotil bin Hayan berkata, Makna firman-Nya: “sangat berlambat-lambat” (yang artinya mereka benar-benar melambatkan) yakni dia tidak ikut berjihad. Dapat pula diartikan bahwa makna yang dimaksud ialah dia memang bersikap lamban dalam menanggapi anjuran berjihad, dan menganjurkan orang lain untuk enggan berjihad. Seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga Allah memburukkannya; dia tidak mau ikut jihad, bahkan menghalang-halangi orang lain untuk ikut berjihad. Demikianlah menurut pendapat Ibnu Juraij dan Ibnu Jarir. Inilah sebab mengapa Allah mengabarkan mengenai munafik; Ia berfirman ketika orang munafik berlambat-lambat memenuhi seruan jihad “Maka jika kamu ditimpa musibah” maksudnya: ada yang gugur dan mati syahid dan musuh dapat mengalahkan kalian, sesuai dengan hikmah Allah, “ia berkata: ‘Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka.’(Maksudnya: Yakni karena aku tidak ikut bersama mereka dalam pertempuran, dia menganggap bahwa hal tersebut merupakan nikmat Allah kepadanya. Padahal ia tidak mengetahui pahala yang terlewatkan olehnya, yaitu pahala bersabar dalam peperangan atau mati syahid jika gugur.” Sampai di sini perkataannya.
Maka jika para muwahhid mengetahui hal ini, dan mendengar bahwa segolongan dari saudaranya tertimpa ujian atau terkena musibah, yakinlah bahwa kenikmatan yang hakiki adalah ikut merasakan musibah bersama mereka, atau terbunuh sebelum mereka terbunuh. Lari dari syahadah itu bukanlah nikmat, melainkan nikmat itu adalah ketika seorang hamba terjun dalam sengitnya pertempuran. Nikmat itu adalah ketika berada di barisan terdepan, dan tidak memalingkan wajah sampai ia terbunuh. Inilah nikmat hakiki dan inilah pemahaman yang benar yang wajib ditanamkan di setiap jiwa orang yang beriman sehingga akan dicarinya kematian itu dimanapun berada selama hayat dikandung badan.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sebaik-baik kehidupan manusia adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya dan bergegas untuk berjuang di jalan Allah, setiap kali mendengar suara musuh yang menakutkan atau sangat mengerikan, ia melompat ke atas punggung kudanya untuk mengharapkan kematian.“ (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Di antara kata-kata dan perilaku kaum munafik yang buruk adalah meratapi sesuatu yang tak dapat diperoleh mereka yaitu yang Allah karuniakan kepada hamba-Nya yang mukmin berupa pertolongan dan ghanimah. "Dan sungguh jika kamu mendapat karunia -kemenangan- dari Allah, tentulah dia mengatakan seakan-akan belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dan Dia, "Wahai, sekiranya aku bersama mereka, tentu aku akan memperoleh kemenangan yang agung pula“. (QS. an-Nisa :73)
Sehingga, barangsiapa yang masih menyesal karena tertinggal pada pertempuran yang berakhir dengan kemengan dan ghanimah, sedangkan ia senang karena tidak ikut dalam pertempuran yang berakhir dengan kekalahan kaum muslimin, maka hendaknya ia mengevaluasi imannya, bertaqwa pada Tuhannya, dan banyak-banyak memohon hidayah dan keteguhan hati pada Allah.
Sekian dan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
ALLAH TELAH MEMBERI NIKMAT KEPADAKU
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam tetap tercurah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam penutup para nabi dan rasul. Amma ba’du.
Perkataan ini, “Sungguh Allah telah memberi nikmat kepadaku” tidak terlontar dari orang-orang beriman yang jujur lagi bersyukur atas nikmat-Nya, tetapi ini adalah perkataan kaum munafik ketika mereka tidak ikut berperang. Mereka menyingkirkan diri dari kecamuk medan perang, dari terbunuh dan terluka. Kata-kata yang terlontar lantaran senang dengan ketidakikutsertaan mereka dalam peperangan yang mengakibatkan kekalahan mujahidin, terusirnya mereka dari suatu wilayah, atau banyak yang terbunuh. Hal ini lantaran kebodohan mereka tentang nikmat hakiki yang wajib disyukuri oleh seorang mukmin.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai tafsir firman-Nya: "Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: "Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka." (QS. an-Nisa:72) "Mujahid dan yang lainnya berkata‚ Ayat ini berkenaan dengan orang-orang munafik. Muqotil bin Hayan berkata, Makna firman-Nya: “sangat berlambat-lambat” (yang artinya mereka benar-benar melambatkan) yakni dia tidak ikut berjihad. Dapat pula diartikan bahwa makna yang dimaksud ialah dia memang bersikap lamban dalam menanggapi anjuran berjihad, dan menganjurkan orang lain untuk enggan berjihad. Seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga Allah memburukkannya; dia tidak mau ikut jihad, bahkan menghalang-halangi orang lain untuk ikut berjihad. Demikianlah menurut pendapat Ibnu Juraij dan Ibnu Jarir. Inilah sebab mengapa Allah mengabarkan mengenai munafik; Ia berfirman ketika orang munafik berlambat-lambat memenuhi seruan jihad “Maka jika kamu ditimpa musibah” maksudnya: ada yang gugur dan mati syahid dan musuh dapat mengalahkan kalian, sesuai dengan hikmah Allah, “ia berkata: ‘Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka.’(Maksudnya: Yakni karena aku tidak ikut bersama mereka dalam pertempuran, dia menganggap bahwa hal tersebut merupakan nikmat Allah kepadanya. Padahal ia tidak mengetahui pahala yang terlewatkan olehnya, yaitu pahala bersabar dalam peperangan atau mati syahid jika gugur.” Sampai di sini perkataannya.
Maka jika para muwahhid mengetahui hal ini, dan mendengar bahwa segolongan dari saudaranya tertimpa ujian atau terkena musibah, yakinlah bahwa kenikmatan yang hakiki adalah ikut merasakan musibah bersama mereka, atau terbunuh sebelum mereka terbunuh. Lari dari syahadah itu bukanlah nikmat, melainkan nikmat itu adalah ketika seorang hamba terjun dalam sengitnya pertempuran. Nikmat itu adalah ketika berada di barisan terdepan, dan tidak memalingkan wajah sampai ia terbunuh. Inilah nikmat hakiki dan inilah pemahaman yang benar yang wajib ditanamkan di setiap jiwa orang yang beriman sehingga akan dicarinya kematian itu dimanapun berada selama hayat dikandung badan.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Sebaik-baik kehidupan manusia adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya dan bergegas untuk berjuang di jalan Allah, setiap kali mendengar suara musuh yang menakutkan atau sangat mengerikan, ia melompat ke atas punggung kudanya untuk mengharapkan kematian.“ (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Di antara kata-kata dan perilaku kaum munafik yang buruk adalah meratapi sesuatu yang tak dapat diperoleh mereka yaitu yang Allah karuniakan kepada hamba-Nya yang mukmin berupa pertolongan dan ghanimah. "Dan sungguh jika kamu mendapat karunia -kemenangan- dari Allah, tentulah dia mengatakan seakan-akan belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dan Dia, "Wahai, sekiranya aku bersama mereka, tentu aku akan memperoleh kemenangan yang agung pula“. (QS. an-Nisa :73)
Sehingga, barangsiapa yang masih menyesal karena tertinggal pada pertempuran yang berakhir dengan kemengan dan ghanimah, sedangkan ia senang karena tidak ikut dalam pertempuran yang berakhir dengan kekalahan kaum muslimin, maka hendaknya ia mengevaluasi imannya, bertaqwa pada Tuhannya, dan banyak-banyak memohon hidayah dan keteguhan hati pada Allah.
Sekian dan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar