Rabu, 25 April 2018

KISAH-KISAH KEMENANGAN SETELAH KESABARAN

RUMIYAH 4 - SEJARAH

KISAH-KISAH KEMENANGAN SETELAH KESABARAN

Allah azza wa jalla menjelaskan kepada umat syarat-syarat kemenangan dan sebab-sebabnya agar kemenangan dan kemuliaan itu tetap kekal jika memang yang diketahuinya itu dilakasanakan. Diantara sebab-sebab itu adalah kesabaran dan keteguhan, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. al-Anfal: 45).

Allah azza wa jalla juga menyebutkan bahwa sesungguhnya kelompok yang sedikit dari kaum Muslimin namun bersabar dapat mengalahkan kelompok yang banyak dari orang-orang kafir dengan izin Allah, Allah berfirman: “Hai Nabi, kobarkanlah semangat kaum Mukminin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, nisacaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh, dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang kafir itu tidak mengerti.” (QS. al-Anfal: 65).

Bukti-bukti sirah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para pengikut beliau serta sejarah kaum Muslimin menunjukkan bahwa kesabaran dan menguatkan kesabaran adalah faktor terbesar kemenangan.

Dalam perang Ahzab pada tahun 5 H kaum musyrikin Arab bersatu dengan koalisi Yahudi mereka untuk memerangi kaum Muslimin dan mengepung kota Nabi shallallahu alaihi wasallam hingga situasinya seperti yang digambarkan oleh Allah azza wa jalla, “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purba sangka. Di situlah diuji orang-orang yang beriman dan di goncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan RasulNya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya’.” (QS. Al-Ahzab: 10-12).

Meskipun demikian, tekad dan keteguhan kaum Muslimin tidaklah melemah. Mereka justru berjaga-jaga di perbatasan Madinah. Hembusan isu orang-orang munafik tidak melemahkan mereka. Bahkan mereka sangat yakin dengan janji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa pada akhirnya merekalah yang menang. Mereka pasti akan menaklukkan kota-kota Syam dan Irak serta menghancurkan singgasana Kisra dan Kaisar, Allah azza wa jalla berfirman: “Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan RasulNya. Yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. al-Ahzab: 22).

Lantaran iman dan kepasrahan inilah Allah mengaruniakan pertolongan-Nya kepada mereka dan mengalahkan musuh mereka, setelah Allah menyeleksi kaum Muslimin dan menyingkap kedok orang-orang munafik. Kemudian penaklukkan demi penaklukkan terjadi hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat pada tahun 11 H. Pada tahun itu juga bangsa Arab murtad secara massal. Hal itu tidak melemahkan tekad Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu dan para sahabat. Ia tetap sabar dan teguh, dan bertekad untuk menegakkan perintah Allah dengan memerangi orang-orang murtad meskipun lengkapnya peralatan tempur dan banyaknya jumlah mereka.

Pada perang Yamamah (11 H) terjadi pertempuran melawan konsentrasi terbesar orang-orang murtad di bawah komando Musailamah al-Kadzab. Kaum muslimin menghadapi lawan yang cukup berat. Berbagai kesulitan mereka hadapi dalam pertempuran ini sampai hampir-hampir orang-orang murtad berhasil memukul mundur posisi kaum muslimin.

Ibnul Atsir berkata, “Terjadi pertempuran sengit. Belum pernah sekalipun kaum Muslimin menghadapi pertempuran seperti itu. Kaum Muslimin terpukul mundur. Bani Hanifah berhasil mencapai Maja’ah (tertawan di tangan kaum Muslimin) dan mendekati paviliun Khalid hingga memaksanya meninggalkannya.” Kemudian kaum Muslimin mengatur ulang barisannya. Para sahabat radhiyallahu anhum dan khususnya para ahlul Qur’an mulai menghasung orang-orang untuk memburu syahadah dan memperingatkan mereka akan akibat dari kabur dari medan tempur.

Ibnul Atsir berkata, “Kemudian kaum Muslimin saling menyeru, maka Tsabit bin Qais berkata, ‘Buruk sekali apa yang kalian lakukan terhadap diri kalian wahai kaum Muslimin! Ya Allah aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan mereka – yakni penduduk Yamamah – dan aku meminta ampun kepada-Mu dari apa yang dilakukan mereka – yakni kaum Muslimin –. Kemudian ia maju bertempur sampai terbunuh. Abu Hudzaifah juga berkata, ‘Wahai ahlul Qur’an, hiasilah al-Qur’an dengan amal! Khalid lalu menyerbu orangorang murtad dan berhasil mendesak mereka jauh dari posisi sebelumnya.” Kedua kelompok bertempur dengan gigih meskipun banyak yang terbunuh dan terluka.

Ibnul Atsir berkata, “Pertempuran semakin sengit. Bani Hanifah saling memprovokasi untuk berperang dan bertempur dengan sengitnya. Ketika itu pertempuran terkadang dimenangkan oleh kaum Muslimin dan terkadang dimenangkan oleh orang-orang kafir. Dalam pertempuran ini Salim, Abu Hudzaifah, Zaid bin al-Khattab dan orang-orang berilmu lainnya gugur terbunuh.”

Maka harus ada penyaringan barisan agar dapat diketahui dari arah mana kaum muslimin diserang, Ibnul Atsir berkata, “Ketika mereka telah saling mengenali, sebagian berkata kepada yang lain, ‘Hari ini sangat memalukan jika sampai lari dari perang’.” Demikianlah jalannya pertempuran sengit dari sekian banyak pertempuran yang dialami umat ini. Harus ada pengorbanan jiwa agar Din ini tersampaikan dengan sempurna tidak kurang sedikitpun.

Ibnul Atsir berkata, “Korban berjatuhan dari kedua belah pihak, terlebih di kalangan Bani Hanifah, namun mereka tetap bertempur hingga Musailamah terbunuh. Yang membunuhnya adalah Wahsyi maula Jubair bin Muth’im dan seseorang dari Anshar.” Dengan terbunuhnya dajjal ini kaum Muslimin menyudahi pertempuran. Mereka dianugerahi kemenangan yang gemilang setelah jalan panjang kesabaran dan keteguhan.” Setelah Perang Riddah ini kaum Muslimin dapat memfokuskan diri untuk memerangi dua negara adidaya yaitu Persia dan Romawi dan menundukkan kekuasaan mereka kepada hukum Islam.

Pada Perang Yarmuk (13 H) Romawi memobilisasi 240.000 prajurit siap tempur, sedangkan jumlah tentara kaum Muslimin hanya empat puluh ribu orang. Jumlah yang seperti itu menggentarkan orang yang hatinya lemah, sampai-sampai salah seorang dari pasukan Muslim menoleh kepada Khalid radhiyallahu anhu dan berkata, “Betapa banyaknya pasukan Romawi itu, dan betapa sedikitnya kaum Muslimin! Khalid menjawab, “Betapa banyaknya kaum Muslimin dan betapa sedikitnya pasukan Romawi. Banyaknya pasukan itu dibuktikan dengan kemenangan dan sedikitnya pasukan itu ketika kabur dari medan tempur.” (al-Kamil, Ibnul Atsir).

Kaum muslimin tetap sabar dan teguh sekalipun banyak korban berjatuhan, sampai pada derajat mereka saling berbaiat untuk mati. Ibnul Atsir berkata, “Ikrimah bin Abu Jahal pada hari itu berucap, ‘Aku telah berperang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam banyak pertempuran, apakah aku hari ini malah kabur?! Kemudian dia menyeru, ‘Siapa yang mau berbaiat untuk mati? Harits bin Hisyam dan Dhirar bin al-Azwar membaiatnya bersama empat ratus pasukan berkuda kaum muslimin. Mereka bertempur habis-habisan untuk melindungi kemah Khalid sampai seluruhnya terluka. Ada yang berhasil sembuh namun ada juga yang lalu terbunuh.” Setelah kesabaran dan keteguhan ini Allah azza wa jalla mengaruniakan kepada mereka kemenangan dan tamkin. Romawi takluk, terpukul mundur dan kabur tidak mempedulikan sesuatupun. Kemudian setelah itulah Damaskus dan kota-kota Syam lain berhasil ditaklukkan satu demi satu.

Pada tahun 14 H Umar al-Faruq radhiyallahu anhu menyiapkan pasukan untuk menyerang Persia. Beliau menunjuk Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu anhu untuk mengomandoi pasukan. Wasiat beliau kepadanya sebelum berangkat adalah seperti yang dinukil ath-Thabari, “Jagalah wasiatku. Sesungguhnya engkau akan menghadapi perkara yang sangat dibenci, tidak ada yang dapat selamat darinya kecuali dengan kebenaran. Maka biasakanlah dirimu dan pasukanmu untuk berbuat kebaikan, dan mintalah kemenangan dengan perantaranya. Ketahuilah bahwa setiap kebiasaan itu membutuhkan penopang, sedangkan penopang kebaikan adalah kesabaran.”

Ini adalah wasiat yang harus dilaksanakan. Apalagi ada ketimpangan besar antara jumlah kaum Muslimin dan musuhnya bangsa Persia Majusi. Jumlah total pasukan kaum Muslimin yang mengikuti Perang Qodisiyah adalah 33.000 sekian setelah datangnya bala bantuan dan berkumpulnya seluruh pasukan. Sedangkan jumlah pasukan Persia melebih dua ratus ribu prajurit yang dibekali dengan pasukan gajah, suatu senjata unik pada waktu itu.” (Tarikh Ath-Thabari).

Selama beberapa hari terus menerus terjadi pertempuran yang amat sengit. Kaum Muslimin betul-betul bersabar. Jika rincian kejadiannya disebutkan tentu tulisan ini akan menjadi panjang. Pada hari pertama saja jatuh korban terbunuh dan terluka sebanyak 500 prajurit dari Kabilah Asad saja. Ibnul Atsir berkata, “Ketika Persia melihat prajurit dan gajah-gajahnya berjatuhan akibat serangan kabilah Asad, mereka menghujaninya dengan anak panah dan menyerbu mereka di bawah komando si pemilik alis lebat (Bahman Jadhuyih) dan Jalinus. Sedangkan kaum Muslimin menunggu takbir keempat dari Sa’ad. Pasukan Persia berhasil mengepung kabilah Asad dengan gajah-gajahnya, meski begitu mereka tetap teguh. Lalu Sa’ad pun meneriakkan takbir yang keempat… Pada hari itu 500 prajurit dari kabilah Asad terbunuh. Mereka adalah pelindung pasukan, dan Ashim juga adalah pelindung pasukan. Ini adalah hari pertama, yaitu hari al-Armats (Hari Kacau Balau).”

Tiga hari berlalu sedangkan kaum muslimin masih dalam kondisi menyerang dan mundur dan terus menghadapi pasukan gajah, namun mereka tetap sabar menunggu-nunggu janji Allah berupa kemenangan dan tamkin. Pada malam hari keempat kaum Muslimin bermalam dalam keadaan amat kelelahan karena mereka tidak bisa tidur, sementara saat subuh menyingsing mereka harus segera kembali menyongsong musuh. Mereka melakukannya dengan penuh kesabaran meskipun kondisi yang menimpa mereka.

Ibnul Atsir berkata, “al-Qa’qa’ berjalan di tengah-tengah pasukan seraya berkata, ‘Kemenangan akan diraih sebentar lagi bagi yang menyerang lebih dahulu, maka bersabarlah sebentar dan seranglah, karena sesungguhnya kemenangan itu berserta kesabaran’.” Hanya beberapa jam saja berlangsung sampai Allah azza wa jalla menurunkan kemenangan dan menghancurkan musuh-Nya, setelah kaum Muslimin mencurahkan seluruh kesabarannya menghadapi pasukan kekaisaran yang persenjataan dan jumlahnya mengungguli mereka berkali-kali lipat.

Ibnul Atsir berkata, “Jumlah kaum Muslimin yang gugur sebelum malam al-Harir adalah dua ribu lima ratus prajurit. Adapun yang gugur tepat pada malam al-Harir dan pada hari penentuan berjumlah enam ribu prajurit.” Pada hari itu sang Jenderal Persia Rustum terbunuh. Pasukan Muslim lalu mengejar dan membunuhi sisa-sisa pasukan Majusi serta merampas banyak ghanimah. Pertempuran ini menjadi pintu gerbang jatuhnya kota-kota Irak satu demi satu ke tangan kaum Muslimin termasuk al-Madain ibukota Persia Majusi.

Jika kita ikuti satu demi satu kemenangan kaum muslimin melawan koalisi kafir setelah mewujudkan keteguhan dan kesabaran tentu akan panjang sekali. Cukup kita mengingat pertempuran ‘Ainul Jalut (658 H) ketika Tartar hendak menginvasi Mesir setelah berhasil menaklukkan semua negeri di bawah kekuasaan mereka. Namun kaum Muslimin tetap teguh di hadapan pasukan musuh dan bersabar. Sehingga Allah menolong mereka dan membinasakan musuh-Nya. Kemudian setelah itu kaum Muslimin bergerak untuk mengusir Tartar dari kota-kota di Syam, dan Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Masih banyak lagi pertempuran yang serupa dengan ‘Ain Jalut yang terukir dan diceritakan dalam sejarah.

Pada hari ini musuh-musuh Allah kembali mengerahkan seluruh prajurit dan persenjataannya untuk memerangi Daulah Islam dan memadamkan cahayanya, akan tetapi dengan izin Allah mereka tidak akan dapat melakukannya. Maka dari itu wahai Junud Khilafah di Mosul, Halab, Sirte dan di wilayah-wilayah Daulah Islam lainya, bersabar dan bersabarlah, kuatkanlah kesabaran kalian, sesungguhnya kemenangan itu hanyalah membutuhkan kesabaran sesaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar