RUMIYAH 3 - PENGANTAR
RUMAH TERLEMAH ADALAH JARING LABA-LABA
Bersamaan dengan dimulainya agresi militer salibis atas negeri-negeri kaum muslimin, yang targetnya adalah mengokohkan rezim thaghut dan menghalangi para muwahhid dari menegakkan Din dan penerapan syariat, Salibis meluncurkan proyek setara yang bertujuan mengganti Din dan merubah prinsip-pinsip Islam beserta cabangnya agar sesuai dengan visi jahiliyah Amerika untuk dunia. Proyek itu disebutnya “Tatanan Dunia Baru”. Untuk mewujudkannya meka tidak menemukan model yang lebih baik kecuali Ikhwanul Murtaddin agar diikuti oleh manusia jika mereka menginginkan kepuasan Amerika. Salibis telah menguji mereka dengan baik dan membuktikan rusaknya akidah mereka dan bagaimana mereka loyal kepada musuh-musuh Dien dimanapun mereka berada.
Tatkala pengikut thaghut Erbakan (mantan Presiden Turki) adalah sekolah Ikhwanul Murtaddin yang paling rusak dan paling tenggelam dalam lumpur kesyirikan serta loyalitas kepada orang-orang musyrik, Maka salah satu muridnya yakni si kriminal Erdogan mengajukan dirinya dalam menjalankan proyek ini, karena si murid merasa telah melampaui gurunya beberapa langkah dalam menapaki manhaj demokrasi dan kerelaan dengan sekulerisme. Maka diangkatlah ia sebagai presiden. Diciptakanlah kondisi histeria yang dibutuhkannya sehingga orang-orang bodoh banyak yang tertipu. Setelah itu ia diserahi tanggung jawab mengelola beberapa persoalan regional. Sehingga jadilah ia punya peran penting dengan thaghut negara-negara Arab dalam mensukseskan proyek shahawat di Irak yang bisa menutupi aib kekalahan Salibis dan membantu mereka mengokohkan pondasi rezim Rafidhah di Baghdad.
Sejak awal permulaan jihad di Syam, Erdogan dan badan intelijennya sudah berusaha menyeret dan mengikat faksi-faksi perlawanan agar melalui dirinya negara-negara Salibis bisa mengeksploitasi mereka untuk memerangi Daulah Islamiyah dan memerintahkan mereka untuk membiarkan rezim Nushairi, sehingga konvoi mereka mulai meninggalkan front-front pertempuran melawan rezim dan bergerak -dengan perlindungan pasukan dan dana rezim thaghut Erdogan- memerangi para muwahhid.
Erdogan dan negara busuknya itu menyelubungi permusuhannya kepada Daulah Islamiyah dengan tudung faksi-faksi murtad yang dibentuk dengan sepengetahuan mereka dan dicekoki dana mereka. Mereka takut para muwahhid berpaling ke Turki dan menyalakan api peperangan yang tak akan padam sampai garis perbatasannya hilang sebagaimana garis perbatasan Sykes-Picott lain.
Namun ketika pertempuran antara Daulah Islamiyah dan koalisi Salibis semakin sengit, si thaghut Turki itu menyingkap peran yang telah digariskan untuknya. Ia membuka langit negerinya untuk dilewati pesawat-pesawat Salibis. Ia juga buka perbatasannya untuk mensupplai atheis Kurdi di ‘Ain al-Islam (Kobane). Ia buka gudang-gudang senjatanya untuk murtaddin shahawat di Halab. Ketika diminta lebih, ia segera menyambutnya. Maka dikirimnya pasukannya ke medan tempur untuk menggempur Junud Khilafah. Pesawat-pesawatnya terbang untuk membombardir posisi mereka. Artilerinya diperintahkan untuk menghujani pedesaan dan kota-kota kaum muslimin, dan ia masih saja menjanjikan lebih. Dia mengira aksinya itu akan melindunginya dari keburukan akibat perbuatannya. Siapa yang mengira tidak akan dihukum pasti ia akan semakin jahat.
Erdogan dan rezimnya yang rapuh itu tidak belajar dari rezim-rezim murtad yang Allah telah menguasakan Junud Daulah Islamiyah atas mereka; mereka porak-porandakan strukturnya dan menghancurleburkan pondasinya sebagaimana yang terjadi atas Rafidhah. Dia tidak belajar dari Salibis sekutunya yang diserang berkali-kali oleh mujahidin; mereka membuat pasar-pasar dan taman bermainnya menjadi medan perang terbuka sebagaimana terjadi di Paris dan Brussel. Dia juga tidak mengerti makna seruan Daulah Islamiyah kepada kaum muslimin untuk memerangi musuh-musuhnya dengan apapun yang mereka mampu; seruan ini disambut oleh puluhan tentara Allah yang tersembunyi, mereka meneror dengan pisau-pisaunya, sabuk peledaknya, bom-bom mobilnya dan senjata apapun yang dimilikinya dengan metode apapun yang diilhamkan Allah pada mereka.
Rezim Turki saat ini dengan keikut sertaan mereka dalam koalisi internasional melawan Daulah Islamiyah itu sebenarnya sedang menyembelih lehernya dengan pisaunya sendiri, memotong urat nadinya dengan tangannya sendiri, menggantung dirinya sendiri dengan talinya sendiri dan menghancurkan rumahnya sendiri, dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah jaring laba-laba.
Maka, wahai Junud Khilafah di Turki, wahai muslim yang dihalangi oleh murtaddin Gendarmerie (aparat keamanan Turki yang bekerja di luar yurisdiki polisi umum, seperti wilayah pinggiran di perbatasan Negara.Pent) dari berhijrah ke Darul Islam, targetkanlah si thaghut Turki dan pengikut murtadnya itu. Perangilah mereka agar Allah mengazab dan menghinakan mereka melalui tangan kalian, menolong kalian, dan melapangkan dada-dada orang-orang yang beriman. Mulailah dari imam-imam kekafiran dan pendukung-pendukung thaghut. Sasarlah polisi, hakim, dan tentara. Sasarlah ulama-ulama thaghut dan pendukung partai Erdogan dan partai-partai murtad lain yang loyal padanya. Namun tetap jangan lupakan penduduk negara-negara Salibis jika kalian menjumpainya disana. Cerai beraikan dan tumpaslah mereka. Balaslah kejahatan mereka terhadap saudara-saudara kalian dengan membunuhi mereka.
Kepada setiap prajurit yang menjaga garis perbatasan dengan pasukan Turki dan sekutu-sekutunya, tetap teguhlah kalian, hendaknya mereka mendapati betapa kerasnya kalian. Semoga dengannya Allah melemahkan daya mereka, dan Dia lebih kuat daya-Nya dan lebih keras siksa-Nya.
RUMAH TERLEMAH ADALAH JARING LABA-LABA
Bersamaan dengan dimulainya agresi militer salibis atas negeri-negeri kaum muslimin, yang targetnya adalah mengokohkan rezim thaghut dan menghalangi para muwahhid dari menegakkan Din dan penerapan syariat, Salibis meluncurkan proyek setara yang bertujuan mengganti Din dan merubah prinsip-pinsip Islam beserta cabangnya agar sesuai dengan visi jahiliyah Amerika untuk dunia. Proyek itu disebutnya “Tatanan Dunia Baru”. Untuk mewujudkannya meka tidak menemukan model yang lebih baik kecuali Ikhwanul Murtaddin agar diikuti oleh manusia jika mereka menginginkan kepuasan Amerika. Salibis telah menguji mereka dengan baik dan membuktikan rusaknya akidah mereka dan bagaimana mereka loyal kepada musuh-musuh Dien dimanapun mereka berada.
Tatkala pengikut thaghut Erbakan (mantan Presiden Turki) adalah sekolah Ikhwanul Murtaddin yang paling rusak dan paling tenggelam dalam lumpur kesyirikan serta loyalitas kepada orang-orang musyrik, Maka salah satu muridnya yakni si kriminal Erdogan mengajukan dirinya dalam menjalankan proyek ini, karena si murid merasa telah melampaui gurunya beberapa langkah dalam menapaki manhaj demokrasi dan kerelaan dengan sekulerisme. Maka diangkatlah ia sebagai presiden. Diciptakanlah kondisi histeria yang dibutuhkannya sehingga orang-orang bodoh banyak yang tertipu. Setelah itu ia diserahi tanggung jawab mengelola beberapa persoalan regional. Sehingga jadilah ia punya peran penting dengan thaghut negara-negara Arab dalam mensukseskan proyek shahawat di Irak yang bisa menutupi aib kekalahan Salibis dan membantu mereka mengokohkan pondasi rezim Rafidhah di Baghdad.
Sejak awal permulaan jihad di Syam, Erdogan dan badan intelijennya sudah berusaha menyeret dan mengikat faksi-faksi perlawanan agar melalui dirinya negara-negara Salibis bisa mengeksploitasi mereka untuk memerangi Daulah Islamiyah dan memerintahkan mereka untuk membiarkan rezim Nushairi, sehingga konvoi mereka mulai meninggalkan front-front pertempuran melawan rezim dan bergerak -dengan perlindungan pasukan dan dana rezim thaghut Erdogan- memerangi para muwahhid.
Erdogan dan negara busuknya itu menyelubungi permusuhannya kepada Daulah Islamiyah dengan tudung faksi-faksi murtad yang dibentuk dengan sepengetahuan mereka dan dicekoki dana mereka. Mereka takut para muwahhid berpaling ke Turki dan menyalakan api peperangan yang tak akan padam sampai garis perbatasannya hilang sebagaimana garis perbatasan Sykes-Picott lain.
Namun ketika pertempuran antara Daulah Islamiyah dan koalisi Salibis semakin sengit, si thaghut Turki itu menyingkap peran yang telah digariskan untuknya. Ia membuka langit negerinya untuk dilewati pesawat-pesawat Salibis. Ia juga buka perbatasannya untuk mensupplai atheis Kurdi di ‘Ain al-Islam (Kobane). Ia buka gudang-gudang senjatanya untuk murtaddin shahawat di Halab. Ketika diminta lebih, ia segera menyambutnya. Maka dikirimnya pasukannya ke medan tempur untuk menggempur Junud Khilafah. Pesawat-pesawatnya terbang untuk membombardir posisi mereka. Artilerinya diperintahkan untuk menghujani pedesaan dan kota-kota kaum muslimin, dan ia masih saja menjanjikan lebih. Dia mengira aksinya itu akan melindunginya dari keburukan akibat perbuatannya. Siapa yang mengira tidak akan dihukum pasti ia akan semakin jahat.
Erdogan dan rezimnya yang rapuh itu tidak belajar dari rezim-rezim murtad yang Allah telah menguasakan Junud Daulah Islamiyah atas mereka; mereka porak-porandakan strukturnya dan menghancurleburkan pondasinya sebagaimana yang terjadi atas Rafidhah. Dia tidak belajar dari Salibis sekutunya yang diserang berkali-kali oleh mujahidin; mereka membuat pasar-pasar dan taman bermainnya menjadi medan perang terbuka sebagaimana terjadi di Paris dan Brussel. Dia juga tidak mengerti makna seruan Daulah Islamiyah kepada kaum muslimin untuk memerangi musuh-musuhnya dengan apapun yang mereka mampu; seruan ini disambut oleh puluhan tentara Allah yang tersembunyi, mereka meneror dengan pisau-pisaunya, sabuk peledaknya, bom-bom mobilnya dan senjata apapun yang dimilikinya dengan metode apapun yang diilhamkan Allah pada mereka.
Rezim Turki saat ini dengan keikut sertaan mereka dalam koalisi internasional melawan Daulah Islamiyah itu sebenarnya sedang menyembelih lehernya dengan pisaunya sendiri, memotong urat nadinya dengan tangannya sendiri, menggantung dirinya sendiri dengan talinya sendiri dan menghancurkan rumahnya sendiri, dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah jaring laba-laba.
Maka, wahai Junud Khilafah di Turki, wahai muslim yang dihalangi oleh murtaddin Gendarmerie (aparat keamanan Turki yang bekerja di luar yurisdiki polisi umum, seperti wilayah pinggiran di perbatasan Negara.Pent) dari berhijrah ke Darul Islam, targetkanlah si thaghut Turki dan pengikut murtadnya itu. Perangilah mereka agar Allah mengazab dan menghinakan mereka melalui tangan kalian, menolong kalian, dan melapangkan dada-dada orang-orang yang beriman. Mulailah dari imam-imam kekafiran dan pendukung-pendukung thaghut. Sasarlah polisi, hakim, dan tentara. Sasarlah ulama-ulama thaghut dan pendukung partai Erdogan dan partai-partai murtad lain yang loyal padanya. Namun tetap jangan lupakan penduduk negara-negara Salibis jika kalian menjumpainya disana. Cerai beraikan dan tumpaslah mereka. Balaslah kejahatan mereka terhadap saudara-saudara kalian dengan membunuhi mereka.
Kepada setiap prajurit yang menjaga garis perbatasan dengan pasukan Turki dan sekutu-sekutunya, tetap teguhlah kalian, hendaknya mereka mendapati betapa kerasnya kalian. Semoga dengannya Allah melemahkan daya mereka, dan Dia lebih kuat daya-Nya dan lebih keras siksa-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar