RUMIYAH 3 - ARTIKEL
JALAN KEMENANGAN (BAGIAN 2)
SYAIKH ABU HAMZAH AL-MUHAJIR
Ketiga: Mendengar, Taat dan Melaksanakan perintah Allah.
Allah azza wa jalla berfirman, “Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami taati.” (al-Maidah: 7). Dari Ubadah radhiyallahu anhu berkata, “Kami berbaiat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk mendengar dan taat baik dalam keadaan giat maupun malas, dalam keadaan susah maupun mudah, tidak mementingkan diri sendiri, dan tidak menentang kepemimpinan yang berhak kecuali engkau melihat kekufuran nyata yang engkau mempunyai bukti di sisi Allah.” Dalam satu riwayat: “(Kami berbaiat) untuk mendengar dan taat dalam keadaan senang maupun malas.” Nabi juga bersabda, “Dengar dan taatilah, walaupun yang memerintah kalian adalah hamba sahaya (selama) dia memimpin kalian dengan kitab Allah.”
Di dalam Fathul Bari, al-Hafizh Ibnu Hajar membuat bab hadits-hadits ini dengan judul “Perintah Mentaati Setiap Pemimpin Sekalipun Bukan Imam”.
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Aku memerintahkan kalian untuk mengerjakan lima hal yang Allah perintahkan padaku, jamaah (bersatu), mendengar dan taat, hijrah, dan jihad.”
Yang ingin saya tekankan di sini adalah kejujuran dalam mendengar dan mentaati serta kesungguhan dalam melaksanakan perintah-perintah Allah azza wa jalla dalam kondisi susah dan berat, karena melaksanakan ketaatan yang disukai itu adalah mudah dengan pertolongan Allah.
Kami juga sering memperingatkan agar tidak bermaksiat dalam peperangan, karena sungguh kami telah berkali-kali merasakan dampak buruknya, lagipula hal itu juga menjadi sebab datangnya berbagai kecelakaan.
Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada Perang Uhud telah menentukan posisi tiap regu dan meletakkan regu pemanah di tempat yang mereka bisa melindungi bagian belakang pasukan dari serangan dadakan musuh, lalu dengan jelas beliau bersabda kepada mereka, “Jagalah bagian belakang kita, jika kalian melihat kami terbunuh janganlah (turun) menolong kami, sedangkan jika kalian melihat kami mendapatkan ghanimah, janganlah mengikuti kami.” Namun regu pemanah itu tidak memperhatikan nasehat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan hasilnya adalah kaum muslimin menelan pahitnya kekalahan dan banyaknya korban lantaran maksiat sekelompok regu sekalipun telah diperingati dan dinasehati oleh komandannya.
Kisah di atas menunjukkan bahwa kemaksiatan militer dampaknya amat cepat. Ijtihad apapun yang ditempuh seorang prajurit namun menyelisihi ijtihad komandannya sekalipun nampaknya baik, itu adalah kesalahan besar dan membuka pintu keburukan. Karena seorang prajurit beribadah kepada Allah dengan taat pada amirnya selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat secara syar’i.
Ijtihad pergerakan militer adalah murni hak amir, tidak diperkenankan menyelisihinya kecuali karena hendak menasehatinya. Kaidah menyebutkan, “Sesungguhnya pendapat imam atau amir itu tidak boleh ditentang dengan pendapat individual seorang muslim.”
Wahai hamba-hamba Allah, perhatikan nikmat mendengar dan taat dalam keadaan susah dan sempit. Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kaum muslimin yang terluka di Perang Uhud untuk segera bergerak setelah beliau mengetahui Abu Sufyan hendak menghabisi sisa pasukan Islam. Mereka segera melaksanakan perintah ini demi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, sekalipun luka dan kesakitan yang diderita mereka. Allah azza wa jalla berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertaqwa ada pahala yang besar.” (Ali ‘Imran: 172).
Persis seperti inilah kondisi mereka sekembalinya dari Perang Ahzab. Ketika mereka bersiap-siap untuk beristirahat setelah lepas dari pengepungan, merasa gembira dengan rasa aman yang didapat, dan belumlah debu-debu sisa pengepungan panjang itu surut, tiba-tiba turun perintah untuk segera bersiap-siap bertempur lagi dengan cepat: “Janganlah seorangpun shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.”
Maka mereka sambut perintah Allah dan Rasul-Nya, dan sungguh mereka telah jujur kepada Allah dan Rasul-nya, sehingga kemenangan pun diperoleh lantaran kejujuran mereka dalam mendengar dan mentaati serta bersungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu sebagaimana dalam Shahih Muslim, Rasulullah bersabda, “Siapa yang taat padaku, berarti telah taat pada Allah. Siapa yang bermaksiat padaku, berarti telah bermaksiat pada Allah. Siapa yang taat pada pemimpin yang aku tunjuk, berarti taat padaku, dan siapa yang membangkang padanya, berarti membangkang padaku.”
Adapun hal-hal yang membantu untuk mendengar dan taat pada pemimpin di antaranya;
Pertama: Berbaik sangka pada pemimpin.
Allah azza wa jalla berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka adalah dosa.” (al-Hujurat: 12).
Jika berbaik sangka terhadap kaum muslimin secara umum saja wajib, maka terhadap pemimpin adalah lebih wajib. Tidak ada yang lebih membahayakan jihad daripada berburuk sangka terhadap amir. Betapa tidak, berburuk sangka adalah omongan paling dusta. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jauhilah berprasangka, karena sungguh prasangka adalah perkataan paling dusta.”
Penulis kitab Faidhul Qadir berkata, “Barangsiapa berburuk sangka terhadap orang yang tidak layak disangka buruk, perbuatannya itu menunjukkan tidak adanya istiqamah dalam dirinya, sebagaimana dikatakan, ‘Jika perbuatan seseorang itu buruk, buruk pula prasangkanya.’”
Kedua: Menghormati pemimpin.
Di dalam al-Musnad, dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, dari Mu’adz berkata, “Rasulullah memerintahkan lima hal kepada kami, siapa yang mengerjakan sebagiannya maka Allah akan menjaminnya, yaitu siapa yang menengok orang sakit, mengiringi pemakaman jenazah, keluar untuk berperang, menemui pemimpinnya untuk menegur dan menghormatinya, atau duduk diam di rumahnya agar orang selamat dari gangguannya dan dia selamat dari gangguan manusia.”
Menegur dan menghormati amir adalah dengan mematuhi dan membantunya, menyebutkan kebaikan-kebaikan dan budi pekertinya, bersegera untuk menuruti perintah dan larangannya, dan menasehatinya dengan sembunyi-sembunyi. Dalam Fathul Bari, Al-Hafizh Ibnu Hajar menukil, “Menasehati para pemimpin kaum muslimin adalah dengan membantu mereka melaksanakan tanggung jawabnya, memperingatkan mereka ketika lalai, meluruskan kekeliruan mereka, menyepakati pendapat mereka, dan menjinakkan hati yang membenci mereka.”
Keempat: Sabar dan teguh.
Allah azza wa jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, ber- sabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Ali ‘Imran: 200). Karena jalan ini adalah jalan panjang yang membutuhkan bekal, jalan yang susah dan melelahkan, dan penuh dengan aral melintang, maka kesabaran dan keteguhan adalah keniscayaan. Juga karena jihad adalah ibadah yang Allah wajibkan kepada kita, maka kita harus melaksanakannya meski ujian bertumpuk dan kebosanan menyelinap, meski kebathilan semakin menjadi-jadi dan penolong semakin sedikit, harus tetap melangkah.
Imam Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dia berkata, “Abu Ubaidah bin Al-Jarrah mengirim surat kepada Umar bin Khattab menyebutkan banyaknya jumlah Romawi dan hal-hal yang dikhawatirkan. Umar membalas suratnya dengan menulis, “Amma ba’du, sesulit apapun keadaan yang menimpa seorang hamba mukmin niscaya Allah akan menjadikan kelapangan setelahnya. Sungguh satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Karena Allah berfirman dalam Kitab-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”
Allah azza wa jalla berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 155). Abu Ja’far At-Thabari berkata, “Ini pemberitahuan Allah azza wa jalla kepada para pengikut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara berat agar diketahui siapa yang benar-benar mengikuti Rasul dari orang-orang yang surut kebelakang.”
Namun, kesabaran hanya akan membuahkan kebaikan. Allah berfirman, “Jika kalian bersabar, maka (kesabaran) itu adalah baik bagi orang-orang yang bersabar.” (an-Nahl: 126). Maka memohonlah pertolongan kepada Allah dan ucapkanlah seperti mujahidin pendahulu kalian: “Dan tatkala mereka keluar (menghadapi) Jalut dan tentaranya, mereka berkata, wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran pada kami, teguhkanlah pijakan kami, dan tolonglah kami melawan orang-orang kafir.” (al-Baqarah: 250), juga seperti ucapan para muwahid yang teruji: “Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran pada kami dan wafatkanlah kami sebagai orang-orang Islam.” (al-A’raf: 126). Dengan kata-kata itu, mereka menjadi para syuhada berbahagia setelah sebelumnya mereka hanyalah para penyihir kafir.
Ketahuilah, sebagaimana Nabi yang jujur lagi terpercaya, sebaik-baik nabi yang menyampaikan dari Rabb semesta alam bersabda, “Kalau saja sekelompok umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat padamu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu, dan jika mereka berkumpul untuk menimpakan marabahaya padamu, mereka tidak menimpakan marabahaya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu.” Beliau shallallahu alaihi wasallam juga bersabda, “Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan setelah kesulitan itu ada kemudahan.”
Yang ingin saya fokuskan disini, sebagaimana telah terbukti berdasarkan pengalaman bahwa pengaruhnya amatlah besar, yaitu keteguhan pemimpin, khususnya di medan tempur ketika berjibaku dengan musuh. Diriwayatkan di dalam Ash-Shahih; ada orang yang bertanya kepada Al-Barra radhiyallahu anhu, “Wahai Abu ‘Amarah, apakah kalian lari pada saat Perang Hunain?” Saya mendengar Al-Barra’ berkata, “Adapun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidaklah berpaling, ketika itu Abu Sufyan bin Al-Harits menahan tali kekang baghlun-nya (persilangan antara kuda dan keledai), maka tatkala orangorang musyrik mengelilinginya, beliau turun dan berseru, “Sayalah nabi yang tidak berdusta, sayalah putera Abdul Mutthalib.” Hadits ini mengandung beberapa faedah agung, sebagai petunjuk jalan:
Renungan Pertama:
Sejak dulu, tempat para pemimpin adalah bumi berkecamuknya pertempuran, bukan malah menjauhinya, apalagi berpindah-pindah tempat dengan alasan bahwa dia adalah figur yang harus dijaga demi keberlangsungan dakwah. Paling minimal yang kami inginkan dari ikhwah kami adalah hendaknya pemimpin wilayah tetap berada di sekitar wilayahnya, pemimpin sektor tetap membersaamai sektornya, dan pemimpin batalyon atau detasemen tetap membersamai tentaranya. Jika tidak mampu melakukannya, maka dia tidak berhak memimpin sekalipun layak. Singa itu tidak berburu di luar hutan kecuali jika ingin memunguti sisa-sisa buruan lainnya.
Renungan Kedua:
Perkataan “menahan tali kekang baghlun”, mengandung bahwa keteguhan seorang pemimpin itu harus nampak dan terwujud dalam sikapnya. Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada kondisi yang berbahaya ini malah menunggang baghlun yang lambat jalannya.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Inilah betul-betul puncak keberanian, bahwa beliau pada hari yang seperti itu, dalam kecamuk perang, dan pasukannya kacau-balau, beliau malah mengendarai baghal yang tidak bisa berlari cepat apalagi digunakan untuk menyerbu dan melarikan diri. Meskipun demikian, beliau masih juga memacunya sampai menghadapi pasukan musuh, dan meneriakkan namanya sehingga yang tidak mengetahui menjadi mengerti, semoga shalawat dan salam terus-menerus tercurah padanya sampai Hari Kiamat.”
Ibnu Batthal menyebutkan dari Al-Muhallab yang berkata, “Terkandung anjuran kepada imam untuk menunggang baghal ketika perang, karena akan menambah keteguhannya, juga agar tidak dikira bahwa dia telah bersiap-siap untuk kabur. Selain itu juga sebagai trik agar pengikutnya ikut muncul keteguhannya ketika melihat pemimpinnya terlihat teguh dan bertekad kuat.”
Dalam perkataan ini ada faedah: selayaknya seorang amir tidak menaiki kendaraan yang lebih cepat dan lebih kuat dari kendaraan tentaranya. Namun selayaknya kendaraannya itu sama, atau lebih rendah dari kendaraan tentaranya, hal itu untuk meneguhkan tentaranya dan menjauhi syubhat khususnya jika kendaraannya itu bersumber dari harta jihad.
Renungan Ketiga:
Beliau shallallahu alaihi wasallam mengenalkan dirinya dengan sabdanya: “Sayalah nabi yang tidak berdusta, sayalah putra Abdul Mutthalib.” Ketika kondisi semakin genting dan pertempuran semakin menciutkan nyali sampai ada seseorang yang melewati saudaranya namun tidak menyadarinya lantaran genting dan kacau-balaunya keadaan, maka sudah seharusnya bagi beliau shallallahu alaihi wasallam memberitahu tentaranya dan siapa saja yang memiliki kecintaan padanya, bahwa beliau ada dan tidak lari. Beliau meneriakannya keras-keras, tidak mempedulikan tindakan preventif maupun kewaspadaan militer, karena ketika itu bukanlah waktu dan tempat untuk memperhatikan hal itu. Kondisi ketika itu menuntut pengorbanan jiwa dan keteguhan dalam kondisi terdesak.
Yang sangat mengherankan, sebagian komandan jihad ketika dalam kondisi genting, musuh menyerbu daerahnya, dan tentaranya banyak yang terbunuh, malah pergi bersembunyi. Bahkan tidak menghubungi seorangpun dari tentaranya, malah mungkin merubah namanya. Hal itu dengan alasan demi menjaga keberlangsungan kepemimpinan. Padahal sebenarnya dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri dan ikhwannya. Jika saja ia tetap teguh bersama tentaranya, menyatukan mereka, menampakkan kesabaran dan keteguhan, dan balik menggempur musuh, niscaya hal itu justru malah bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan ikhwannya, bukan malah menyia-nyiakan dirinya dan orang-orang yang dipimpinnya.
Renungan Keempat:
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Muslim, “Wahai Abbas, serulah Ashab as-Samurah (kaum anshar yang ikut dalam Baiat Ridwan).” Maka Abbas pun berkata –dia seorang yang bersuara keras— “Maka aku pun berteriak sekeras-kerasnya, ‘Dimana Ashab as-Samurah?’” Abbas melanjutkan, “Demi Allah, sungguh respon mereka ketika mendengar suaraku seperti respon sapi terhadap anaknya. Mereka berseru, ‘Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu!” Ibnu Ishaq menambahkan, “Ketika itu ada lelaki yang segera menghela untanya namun tidak mampu, maka segera dibuangnya baju besinya, hanya mengambil pedang dan perisainya, lalu segera menuju seruan Abbas.”
Imam ath-Thabari meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Abbas, “Serulah wahai kaum Anshar, wahai kaum Muhajirin.” Lalu Abbas memanggil satu persatu seluruh suku-suku Anshar. Kemudian beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda lagi, “Serulah para penghafal surat al-Baqarah.” Abbas berkata, “Maka orang-orang datang berbaris laksana satu leher.” Dalam Shahih Muslim disebutkan, kemudian seruan itu ditujukan pada Bani al-Harits bin al-Khazraj saja. Di sini ada renungan penting dan faedah Rabbani agung, yaitu tindakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika orang-orang terpukul mundur dan barisan terpecah-belah, hingga hanya 12 orang saja yang tersisa bersama beliau, dalam banyak riwayat disebutkan 80 orang. Para kesatria dari kaum muslimin dan para pahlawan pertempuran yang tak tertandingi pun ikut terpukul mundur, padahal di tengah-tengah mereka ada pahlawan perang terbaik yaitu Salamah bin al-Akwa’. Bahkan sebaik-baik hamba Allah, yaitu orang-orang yang hadir dalam Baiat Ridwan dan yang lainnya juga ikut porak-poranda.
Ketika itu pemegang kepemimpinan tidaklah berputus asa, tidak pupus harapan, apalagi membuang senjata dan lari dari medan tempur, mustahil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertindak demikian. Beliau shallallahu alaihi wasallam tetap teguh, lalu kemudian memanggil para sahabat sesuai dengan sifat-sifat mereka. Beliau memulai dengan orang-orang yang imannya mantap, para prajurit yang ikhlas dan hamba-hamba Rabbani, yaitu orang-orang yang hadir dalam Baiat Ridwan. Kemudian beliau menyeru Ahlul Qur’an dan para penghafal Kitabullah khususnya pokok Kitabullah, maka diserulah para penghafal surat al-Baqarah. Tatkala mereka telah berkumpul di sekelilingnya, beliau mulai mengobarkan sentimen kesukuan dalam jiwa-jiwa mukmin. Beliau menyeru seluruh kabilah Anshar satu demi satu, dan memanggil nama-namanya, sehingga yang hatinya terbersit hendak kabur akan merasa malu dengan aib, sekalipun diantara mereka ada orang-orang yang hadir dalam Baiat Ridwan dan para penghafal surat al-Baqarah. Dengan demikian, beliau memulai dengan menyeru orang-orang khusus yang terpilih, lalu diikuti yang lainnya.
Sebuah renungan penting, yaitu meskipun dosa lari dari medan tempur adalah amat berbahaya dan pelakunya dihitung sebagai pelaku kriminal karena telah melakukan dosa besar membinasakan yang dikhawatirkan pelakunya tidak mendapatkan taubat, beliau shallallahu alaihi wasallam tidak mencela, mencaci, maupun menjelek-jelekkan mereka yang lari pontang-panting itu, akan tetapi sebaliknya, beliau menyeru mereka dengan kebesaran nama kabilahnya setelah mengingatkan akan jihad dan tauhid mereka.
Di sini juga ada satu faedah, yaitu hendaknya seorang amir ketika menghadapi kesulitan untuk segera meminta bantuan –setelah berlindung kepada Allah– kepada para mujahidin senior, lalu kepada putra-putra kabilah pendukung. Kemudian jangan sekali-kali dia mencela seorangpun dari mereka. Demikian juga hendaknya dia memanggil siapa saja yang telah meninggalkan jihad dan mengingatkannya akan jihadnya di jalan Allah, lalu mengembalikannya ke dalam barisan saudara-saudaranya. Karena meninggalkan jihad berarti keuntungan bagi setan dan golongannya, dan kerugian bagi jihad dan prajuritnya. Seorang yang berakal tidak akan membiarkan hal itu.
Renungan Kelima:
Sedangkan tentang orang yang lari dari medan Perang Hunain, di dalam Shahih Muslim disebutkan, Ummu Sulaim mempersenjatai dirinya dengan belati pada Perang Hunain, kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, apa aku bunuh saja orang-orang ath-thulaqaa` (bebas) yang lari itu? Mereka telah meninggalkanmu!” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersabda, “Wahai Ummu Sulaim, sungguh Allah telah mencukupkan dan mengaruniai kebaikan.” Sedangkan al-Bukhari menyebutkan ada 10 ribu personel bersama Nabi termasuk ath-thulaqaa` itu, dan mereka lari pontang-panting. Mengenai ath-thulaqaa`, Imam an-Nawawi ~ berkata, “Mereka adalah penduduk Makkah yang masuk Islam pada Hari Penaklukan. Dinamakan demikian lantaran Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan toleransi dan membebaskan mereka, sehingga Islam mereka masih lemah. Oleh karena itu, Ummu Sulaim meyakini mereka adalah orang-orang munafik yang berhak dibunuh lantaran kabur dari medan perang.”
Dari penjelasan di atas, nampak jelas bahwa yang pertama kali kabur pontang-panting pada Perang Hunain adalah orang-orang ath-thulaqaa` itu sehingga menggoyahkan barisan kaum muslimin dan menyelipkan ketakutan di hati para pemberani yang ikhlas. Hingga terjadilah apa yang terjadi.
Ada pertanyaan yang mendorongku menyebutkan renungan ini, yaitu: Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam salah –sedangkan beliau mustahil salah– ketika menyertakan ath-thulaqaa` dalam Perang Hunain sedangkan mereka baru saja masuk Islam? Islam mereka masih lemah, sebagaimana telah disebutkan, dan Rasulullah belum memberikan daurah (pelatihan) tauhid untuk mereka. Yang menguatkan bahwa Bergabung dengan Khilafah mereka baru sedikit mengenal tauhid adalah sebagaimana disebutkan dalam Sunan at-Tirmidzi bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ketika keluar menuju Hunain melewati satu pohon milik kaum musyrikin yang disebut dengan Dzatu Anwath, tempat mereka dahulu menggantungkan senjata. Maka orang-orang ath-thulaqaa` itu berkata, “Wahai Rasulullah, buatkanlah Dzatu Anwath untuk kami sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam pun bersabda, “Maha suci Allah! Ini persis seperti kata-kata kaum Musa kepada Musa, ‘Jadikan untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.”
Saya katakan demikian karena sebagian orang yang berpenyakit hatinya mencela kita lantaran banyaknya orang yang masuk ke dalam pasukan kita setelah deklarasi Daulah Islam, yang sebagiannya menyebabkan tergoyahnya ikhwah di beberapa tempat. Padahal kami tidak lebih daripada mencontoh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Tatkala Allah memberikan kemenangan kepada beliau, mencukupkannya dan mengaruniainya kebaikan, ketika beliau membagikan ghanimah, beliau memberikannya kepada orang-orang ath-thulaqaa` dan kaum Muhajirin, sedangkan orang-orang Anshar tidak diberi bagian sedikitpun sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan lainnya, padahal mereka adalah pasukan inti. Ibnul Qoyim ~ berkata, “Hikmahnya adalah untuk menampakkan bahwa pertolongan Allah pada Rasul-Nya itu bukan lantaran banyaknya kabilah yang masuk dalam Din-Nya, juga bukan lantaran mereka telah menghentikan perang.”
Meskipun demikian, kami sampaikan kabar gembira kepada umat bahwa setelah deklarasi Daulah Islam tidak ada seorangpun amir yang bergabung dengan kita yang meletakkan senjatanya, alhamdulillah. Bahkan hingga kini mereka adalah para pahlawan di medan perang dan kesatria pertempuran. Mereka itu seperti para pendahulu mereka dalam kebaikan.
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
JALAN KEMENANGAN (BAGIAN 2)
SYAIKH ABU HAMZAH AL-MUHAJIR
Ketiga: Mendengar, Taat dan Melaksanakan perintah Allah.
Allah azza wa jalla berfirman, “Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami taati.” (al-Maidah: 7). Dari Ubadah radhiyallahu anhu berkata, “Kami berbaiat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk mendengar dan taat baik dalam keadaan giat maupun malas, dalam keadaan susah maupun mudah, tidak mementingkan diri sendiri, dan tidak menentang kepemimpinan yang berhak kecuali engkau melihat kekufuran nyata yang engkau mempunyai bukti di sisi Allah.” Dalam satu riwayat: “(Kami berbaiat) untuk mendengar dan taat dalam keadaan senang maupun malas.” Nabi juga bersabda, “Dengar dan taatilah, walaupun yang memerintah kalian adalah hamba sahaya (selama) dia memimpin kalian dengan kitab Allah.”
Di dalam Fathul Bari, al-Hafizh Ibnu Hajar membuat bab hadits-hadits ini dengan judul “Perintah Mentaati Setiap Pemimpin Sekalipun Bukan Imam”.
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Aku memerintahkan kalian untuk mengerjakan lima hal yang Allah perintahkan padaku, jamaah (bersatu), mendengar dan taat, hijrah, dan jihad.”
Yang ingin saya tekankan di sini adalah kejujuran dalam mendengar dan mentaati serta kesungguhan dalam melaksanakan perintah-perintah Allah azza wa jalla dalam kondisi susah dan berat, karena melaksanakan ketaatan yang disukai itu adalah mudah dengan pertolongan Allah.
Kami juga sering memperingatkan agar tidak bermaksiat dalam peperangan, karena sungguh kami telah berkali-kali merasakan dampak buruknya, lagipula hal itu juga menjadi sebab datangnya berbagai kecelakaan.
Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada Perang Uhud telah menentukan posisi tiap regu dan meletakkan regu pemanah di tempat yang mereka bisa melindungi bagian belakang pasukan dari serangan dadakan musuh, lalu dengan jelas beliau bersabda kepada mereka, “Jagalah bagian belakang kita, jika kalian melihat kami terbunuh janganlah (turun) menolong kami, sedangkan jika kalian melihat kami mendapatkan ghanimah, janganlah mengikuti kami.” Namun regu pemanah itu tidak memperhatikan nasehat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan hasilnya adalah kaum muslimin menelan pahitnya kekalahan dan banyaknya korban lantaran maksiat sekelompok regu sekalipun telah diperingati dan dinasehati oleh komandannya.
Kisah di atas menunjukkan bahwa kemaksiatan militer dampaknya amat cepat. Ijtihad apapun yang ditempuh seorang prajurit namun menyelisihi ijtihad komandannya sekalipun nampaknya baik, itu adalah kesalahan besar dan membuka pintu keburukan. Karena seorang prajurit beribadah kepada Allah dengan taat pada amirnya selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat secara syar’i.
Ijtihad pergerakan militer adalah murni hak amir, tidak diperkenankan menyelisihinya kecuali karena hendak menasehatinya. Kaidah menyebutkan, “Sesungguhnya pendapat imam atau amir itu tidak boleh ditentang dengan pendapat individual seorang muslim.”
Wahai hamba-hamba Allah, perhatikan nikmat mendengar dan taat dalam keadaan susah dan sempit. Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kaum muslimin yang terluka di Perang Uhud untuk segera bergerak setelah beliau mengetahui Abu Sufyan hendak menghabisi sisa pasukan Islam. Mereka segera melaksanakan perintah ini demi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, sekalipun luka dan kesakitan yang diderita mereka. Allah azza wa jalla berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertaqwa ada pahala yang besar.” (Ali ‘Imran: 172).
Persis seperti inilah kondisi mereka sekembalinya dari Perang Ahzab. Ketika mereka bersiap-siap untuk beristirahat setelah lepas dari pengepungan, merasa gembira dengan rasa aman yang didapat, dan belumlah debu-debu sisa pengepungan panjang itu surut, tiba-tiba turun perintah untuk segera bersiap-siap bertempur lagi dengan cepat: “Janganlah seorangpun shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.”
Maka mereka sambut perintah Allah dan Rasul-Nya, dan sungguh mereka telah jujur kepada Allah dan Rasul-nya, sehingga kemenangan pun diperoleh lantaran kejujuran mereka dalam mendengar dan mentaati serta bersungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu sebagaimana dalam Shahih Muslim, Rasulullah bersabda, “Siapa yang taat padaku, berarti telah taat pada Allah. Siapa yang bermaksiat padaku, berarti telah bermaksiat pada Allah. Siapa yang taat pada pemimpin yang aku tunjuk, berarti taat padaku, dan siapa yang membangkang padanya, berarti membangkang padaku.”
Adapun hal-hal yang membantu untuk mendengar dan taat pada pemimpin di antaranya;
Pertama: Berbaik sangka pada pemimpin.
Allah azza wa jalla berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka adalah dosa.” (al-Hujurat: 12).
Jika berbaik sangka terhadap kaum muslimin secara umum saja wajib, maka terhadap pemimpin adalah lebih wajib. Tidak ada yang lebih membahayakan jihad daripada berburuk sangka terhadap amir. Betapa tidak, berburuk sangka adalah omongan paling dusta. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jauhilah berprasangka, karena sungguh prasangka adalah perkataan paling dusta.”
Penulis kitab Faidhul Qadir berkata, “Barangsiapa berburuk sangka terhadap orang yang tidak layak disangka buruk, perbuatannya itu menunjukkan tidak adanya istiqamah dalam dirinya, sebagaimana dikatakan, ‘Jika perbuatan seseorang itu buruk, buruk pula prasangkanya.’”
Kedua: Menghormati pemimpin.
Di dalam al-Musnad, dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, dari Mu’adz berkata, “Rasulullah memerintahkan lima hal kepada kami, siapa yang mengerjakan sebagiannya maka Allah akan menjaminnya, yaitu siapa yang menengok orang sakit, mengiringi pemakaman jenazah, keluar untuk berperang, menemui pemimpinnya untuk menegur dan menghormatinya, atau duduk diam di rumahnya agar orang selamat dari gangguannya dan dia selamat dari gangguan manusia.”
Menegur dan menghormati amir adalah dengan mematuhi dan membantunya, menyebutkan kebaikan-kebaikan dan budi pekertinya, bersegera untuk menuruti perintah dan larangannya, dan menasehatinya dengan sembunyi-sembunyi. Dalam Fathul Bari, Al-Hafizh Ibnu Hajar menukil, “Menasehati para pemimpin kaum muslimin adalah dengan membantu mereka melaksanakan tanggung jawabnya, memperingatkan mereka ketika lalai, meluruskan kekeliruan mereka, menyepakati pendapat mereka, dan menjinakkan hati yang membenci mereka.”
Keempat: Sabar dan teguh.
Allah azza wa jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, ber- sabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Ali ‘Imran: 200). Karena jalan ini adalah jalan panjang yang membutuhkan bekal, jalan yang susah dan melelahkan, dan penuh dengan aral melintang, maka kesabaran dan keteguhan adalah keniscayaan. Juga karena jihad adalah ibadah yang Allah wajibkan kepada kita, maka kita harus melaksanakannya meski ujian bertumpuk dan kebosanan menyelinap, meski kebathilan semakin menjadi-jadi dan penolong semakin sedikit, harus tetap melangkah.
Imam Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dia berkata, “Abu Ubaidah bin Al-Jarrah mengirim surat kepada Umar bin Khattab menyebutkan banyaknya jumlah Romawi dan hal-hal yang dikhawatirkan. Umar membalas suratnya dengan menulis, “Amma ba’du, sesulit apapun keadaan yang menimpa seorang hamba mukmin niscaya Allah akan menjadikan kelapangan setelahnya. Sungguh satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Karena Allah berfirman dalam Kitab-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”
Allah azza wa jalla berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 155). Abu Ja’far At-Thabari berkata, “Ini pemberitahuan Allah azza wa jalla kepada para pengikut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara berat agar diketahui siapa yang benar-benar mengikuti Rasul dari orang-orang yang surut kebelakang.”
Namun, kesabaran hanya akan membuahkan kebaikan. Allah berfirman, “Jika kalian bersabar, maka (kesabaran) itu adalah baik bagi orang-orang yang bersabar.” (an-Nahl: 126). Maka memohonlah pertolongan kepada Allah dan ucapkanlah seperti mujahidin pendahulu kalian: “Dan tatkala mereka keluar (menghadapi) Jalut dan tentaranya, mereka berkata, wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran pada kami, teguhkanlah pijakan kami, dan tolonglah kami melawan orang-orang kafir.” (al-Baqarah: 250), juga seperti ucapan para muwahid yang teruji: “Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran pada kami dan wafatkanlah kami sebagai orang-orang Islam.” (al-A’raf: 126). Dengan kata-kata itu, mereka menjadi para syuhada berbahagia setelah sebelumnya mereka hanyalah para penyihir kafir.
Ketahuilah, sebagaimana Nabi yang jujur lagi terpercaya, sebaik-baik nabi yang menyampaikan dari Rabb semesta alam bersabda, “Kalau saja sekelompok umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat padamu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu, dan jika mereka berkumpul untuk menimpakan marabahaya padamu, mereka tidak menimpakan marabahaya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu.” Beliau shallallahu alaihi wasallam juga bersabda, “Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan setelah kesulitan itu ada kemudahan.”
Yang ingin saya fokuskan disini, sebagaimana telah terbukti berdasarkan pengalaman bahwa pengaruhnya amatlah besar, yaitu keteguhan pemimpin, khususnya di medan tempur ketika berjibaku dengan musuh. Diriwayatkan di dalam Ash-Shahih; ada orang yang bertanya kepada Al-Barra radhiyallahu anhu, “Wahai Abu ‘Amarah, apakah kalian lari pada saat Perang Hunain?” Saya mendengar Al-Barra’ berkata, “Adapun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidaklah berpaling, ketika itu Abu Sufyan bin Al-Harits menahan tali kekang baghlun-nya (persilangan antara kuda dan keledai), maka tatkala orangorang musyrik mengelilinginya, beliau turun dan berseru, “Sayalah nabi yang tidak berdusta, sayalah putera Abdul Mutthalib.” Hadits ini mengandung beberapa faedah agung, sebagai petunjuk jalan:
Renungan Pertama:
Sejak dulu, tempat para pemimpin adalah bumi berkecamuknya pertempuran, bukan malah menjauhinya, apalagi berpindah-pindah tempat dengan alasan bahwa dia adalah figur yang harus dijaga demi keberlangsungan dakwah. Paling minimal yang kami inginkan dari ikhwah kami adalah hendaknya pemimpin wilayah tetap berada di sekitar wilayahnya, pemimpin sektor tetap membersaamai sektornya, dan pemimpin batalyon atau detasemen tetap membersamai tentaranya. Jika tidak mampu melakukannya, maka dia tidak berhak memimpin sekalipun layak. Singa itu tidak berburu di luar hutan kecuali jika ingin memunguti sisa-sisa buruan lainnya.
Renungan Kedua:
Perkataan “menahan tali kekang baghlun”, mengandung bahwa keteguhan seorang pemimpin itu harus nampak dan terwujud dalam sikapnya. Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada kondisi yang berbahaya ini malah menunggang baghlun yang lambat jalannya.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Inilah betul-betul puncak keberanian, bahwa beliau pada hari yang seperti itu, dalam kecamuk perang, dan pasukannya kacau-balau, beliau malah mengendarai baghal yang tidak bisa berlari cepat apalagi digunakan untuk menyerbu dan melarikan diri. Meskipun demikian, beliau masih juga memacunya sampai menghadapi pasukan musuh, dan meneriakkan namanya sehingga yang tidak mengetahui menjadi mengerti, semoga shalawat dan salam terus-menerus tercurah padanya sampai Hari Kiamat.”
Ibnu Batthal menyebutkan dari Al-Muhallab yang berkata, “Terkandung anjuran kepada imam untuk menunggang baghal ketika perang, karena akan menambah keteguhannya, juga agar tidak dikira bahwa dia telah bersiap-siap untuk kabur. Selain itu juga sebagai trik agar pengikutnya ikut muncul keteguhannya ketika melihat pemimpinnya terlihat teguh dan bertekad kuat.”
Dalam perkataan ini ada faedah: selayaknya seorang amir tidak menaiki kendaraan yang lebih cepat dan lebih kuat dari kendaraan tentaranya. Namun selayaknya kendaraannya itu sama, atau lebih rendah dari kendaraan tentaranya, hal itu untuk meneguhkan tentaranya dan menjauhi syubhat khususnya jika kendaraannya itu bersumber dari harta jihad.
Renungan Ketiga:
Beliau shallallahu alaihi wasallam mengenalkan dirinya dengan sabdanya: “Sayalah nabi yang tidak berdusta, sayalah putra Abdul Mutthalib.” Ketika kondisi semakin genting dan pertempuran semakin menciutkan nyali sampai ada seseorang yang melewati saudaranya namun tidak menyadarinya lantaran genting dan kacau-balaunya keadaan, maka sudah seharusnya bagi beliau shallallahu alaihi wasallam memberitahu tentaranya dan siapa saja yang memiliki kecintaan padanya, bahwa beliau ada dan tidak lari. Beliau meneriakannya keras-keras, tidak mempedulikan tindakan preventif maupun kewaspadaan militer, karena ketika itu bukanlah waktu dan tempat untuk memperhatikan hal itu. Kondisi ketika itu menuntut pengorbanan jiwa dan keteguhan dalam kondisi terdesak.
Yang sangat mengherankan, sebagian komandan jihad ketika dalam kondisi genting, musuh menyerbu daerahnya, dan tentaranya banyak yang terbunuh, malah pergi bersembunyi. Bahkan tidak menghubungi seorangpun dari tentaranya, malah mungkin merubah namanya. Hal itu dengan alasan demi menjaga keberlangsungan kepemimpinan. Padahal sebenarnya dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri dan ikhwannya. Jika saja ia tetap teguh bersama tentaranya, menyatukan mereka, menampakkan kesabaran dan keteguhan, dan balik menggempur musuh, niscaya hal itu justru malah bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan ikhwannya, bukan malah menyia-nyiakan dirinya dan orang-orang yang dipimpinnya.
Renungan Keempat:
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Muslim, “Wahai Abbas, serulah Ashab as-Samurah (kaum anshar yang ikut dalam Baiat Ridwan).” Maka Abbas pun berkata –dia seorang yang bersuara keras— “Maka aku pun berteriak sekeras-kerasnya, ‘Dimana Ashab as-Samurah?’” Abbas melanjutkan, “Demi Allah, sungguh respon mereka ketika mendengar suaraku seperti respon sapi terhadap anaknya. Mereka berseru, ‘Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu!” Ibnu Ishaq menambahkan, “Ketika itu ada lelaki yang segera menghela untanya namun tidak mampu, maka segera dibuangnya baju besinya, hanya mengambil pedang dan perisainya, lalu segera menuju seruan Abbas.”
Imam ath-Thabari meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Abbas, “Serulah wahai kaum Anshar, wahai kaum Muhajirin.” Lalu Abbas memanggil satu persatu seluruh suku-suku Anshar. Kemudian beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda lagi, “Serulah para penghafal surat al-Baqarah.” Abbas berkata, “Maka orang-orang datang berbaris laksana satu leher.” Dalam Shahih Muslim disebutkan, kemudian seruan itu ditujukan pada Bani al-Harits bin al-Khazraj saja. Di sini ada renungan penting dan faedah Rabbani agung, yaitu tindakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika orang-orang terpukul mundur dan barisan terpecah-belah, hingga hanya 12 orang saja yang tersisa bersama beliau, dalam banyak riwayat disebutkan 80 orang. Para kesatria dari kaum muslimin dan para pahlawan pertempuran yang tak tertandingi pun ikut terpukul mundur, padahal di tengah-tengah mereka ada pahlawan perang terbaik yaitu Salamah bin al-Akwa’. Bahkan sebaik-baik hamba Allah, yaitu orang-orang yang hadir dalam Baiat Ridwan dan yang lainnya juga ikut porak-poranda.
Ketika itu pemegang kepemimpinan tidaklah berputus asa, tidak pupus harapan, apalagi membuang senjata dan lari dari medan tempur, mustahil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertindak demikian. Beliau shallallahu alaihi wasallam tetap teguh, lalu kemudian memanggil para sahabat sesuai dengan sifat-sifat mereka. Beliau memulai dengan orang-orang yang imannya mantap, para prajurit yang ikhlas dan hamba-hamba Rabbani, yaitu orang-orang yang hadir dalam Baiat Ridwan. Kemudian beliau menyeru Ahlul Qur’an dan para penghafal Kitabullah khususnya pokok Kitabullah, maka diserulah para penghafal surat al-Baqarah. Tatkala mereka telah berkumpul di sekelilingnya, beliau mulai mengobarkan sentimen kesukuan dalam jiwa-jiwa mukmin. Beliau menyeru seluruh kabilah Anshar satu demi satu, dan memanggil nama-namanya, sehingga yang hatinya terbersit hendak kabur akan merasa malu dengan aib, sekalipun diantara mereka ada orang-orang yang hadir dalam Baiat Ridwan dan para penghafal surat al-Baqarah. Dengan demikian, beliau memulai dengan menyeru orang-orang khusus yang terpilih, lalu diikuti yang lainnya.
Sebuah renungan penting, yaitu meskipun dosa lari dari medan tempur adalah amat berbahaya dan pelakunya dihitung sebagai pelaku kriminal karena telah melakukan dosa besar membinasakan yang dikhawatirkan pelakunya tidak mendapatkan taubat, beliau shallallahu alaihi wasallam tidak mencela, mencaci, maupun menjelek-jelekkan mereka yang lari pontang-panting itu, akan tetapi sebaliknya, beliau menyeru mereka dengan kebesaran nama kabilahnya setelah mengingatkan akan jihad dan tauhid mereka.
Di sini juga ada satu faedah, yaitu hendaknya seorang amir ketika menghadapi kesulitan untuk segera meminta bantuan –setelah berlindung kepada Allah– kepada para mujahidin senior, lalu kepada putra-putra kabilah pendukung. Kemudian jangan sekali-kali dia mencela seorangpun dari mereka. Demikian juga hendaknya dia memanggil siapa saja yang telah meninggalkan jihad dan mengingatkannya akan jihadnya di jalan Allah, lalu mengembalikannya ke dalam barisan saudara-saudaranya. Karena meninggalkan jihad berarti keuntungan bagi setan dan golongannya, dan kerugian bagi jihad dan prajuritnya. Seorang yang berakal tidak akan membiarkan hal itu.
Renungan Kelima:
Sedangkan tentang orang yang lari dari medan Perang Hunain, di dalam Shahih Muslim disebutkan, Ummu Sulaim mempersenjatai dirinya dengan belati pada Perang Hunain, kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, apa aku bunuh saja orang-orang ath-thulaqaa` (bebas) yang lari itu? Mereka telah meninggalkanmu!” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersabda, “Wahai Ummu Sulaim, sungguh Allah telah mencukupkan dan mengaruniai kebaikan.” Sedangkan al-Bukhari menyebutkan ada 10 ribu personel bersama Nabi termasuk ath-thulaqaa` itu, dan mereka lari pontang-panting. Mengenai ath-thulaqaa`, Imam an-Nawawi ~ berkata, “Mereka adalah penduduk Makkah yang masuk Islam pada Hari Penaklukan. Dinamakan demikian lantaran Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan toleransi dan membebaskan mereka, sehingga Islam mereka masih lemah. Oleh karena itu, Ummu Sulaim meyakini mereka adalah orang-orang munafik yang berhak dibunuh lantaran kabur dari medan perang.”
Dari penjelasan di atas, nampak jelas bahwa yang pertama kali kabur pontang-panting pada Perang Hunain adalah orang-orang ath-thulaqaa` itu sehingga menggoyahkan barisan kaum muslimin dan menyelipkan ketakutan di hati para pemberani yang ikhlas. Hingga terjadilah apa yang terjadi.
Ada pertanyaan yang mendorongku menyebutkan renungan ini, yaitu: Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam salah –sedangkan beliau mustahil salah– ketika menyertakan ath-thulaqaa` dalam Perang Hunain sedangkan mereka baru saja masuk Islam? Islam mereka masih lemah, sebagaimana telah disebutkan, dan Rasulullah belum memberikan daurah (pelatihan) tauhid untuk mereka. Yang menguatkan bahwa Bergabung dengan Khilafah mereka baru sedikit mengenal tauhid adalah sebagaimana disebutkan dalam Sunan at-Tirmidzi bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ketika keluar menuju Hunain melewati satu pohon milik kaum musyrikin yang disebut dengan Dzatu Anwath, tempat mereka dahulu menggantungkan senjata. Maka orang-orang ath-thulaqaa` itu berkata, “Wahai Rasulullah, buatkanlah Dzatu Anwath untuk kami sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam pun bersabda, “Maha suci Allah! Ini persis seperti kata-kata kaum Musa kepada Musa, ‘Jadikan untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.”
Saya katakan demikian karena sebagian orang yang berpenyakit hatinya mencela kita lantaran banyaknya orang yang masuk ke dalam pasukan kita setelah deklarasi Daulah Islam, yang sebagiannya menyebabkan tergoyahnya ikhwah di beberapa tempat. Padahal kami tidak lebih daripada mencontoh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Tatkala Allah memberikan kemenangan kepada beliau, mencukupkannya dan mengaruniainya kebaikan, ketika beliau membagikan ghanimah, beliau memberikannya kepada orang-orang ath-thulaqaa` dan kaum Muhajirin, sedangkan orang-orang Anshar tidak diberi bagian sedikitpun sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan lainnya, padahal mereka adalah pasukan inti. Ibnul Qoyim ~ berkata, “Hikmahnya adalah untuk menampakkan bahwa pertolongan Allah pada Rasul-Nya itu bukan lantaran banyaknya kabilah yang masuk dalam Din-Nya, juga bukan lantaran mereka telah menghentikan perang.”
Meskipun demikian, kami sampaikan kabar gembira kepada umat bahwa setelah deklarasi Daulah Islam tidak ada seorangpun amir yang bergabung dengan kita yang meletakkan senjatanya, alhamdulillah. Bahkan hingga kini mereka adalah para pahlawan di medan perang dan kesatria pertempuran. Mereka itu seperti para pendahulu mereka dalam kebaikan.
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar