RUMIYAH 3 - ARTIKEL
MENUJU MALHAMAH KUBRA DI DABIQ
Tatkala kaum beriman diuji dengan penyakit hati dan kehadiran al-murjifun (para penyebar kabar bohong) di Madinah, ketika tidak tetap lagi penglihatan dan hati sampai naik menyesak hingga ke tenggorokan pada Perang Ahzab, lalu muncullah persangkaan terhadap Allah azza wa jalla dengan berbagai macam sangkaan. Sebagaimana diriwayatkan ath-Thabari dan Ibnu Abi Hatim dari Hasan al-Bashri, terkait penafsiran firman Allah ta'ala: “Dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka,”(al-Ahzab: 10), dia berkata, “Beragam purbasangka: orang-orang munafik menyangka bahwa Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat beliau akan dikalahkan, dan orang-orang beriman meyakini bahwa apa yang Allah azza wa jalla janjikan kepada mereka adalah benar, Dia akan memenangkannya atas seluruh agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”
Kemudian Allah azza wa jalla berfirman, “Dan (ingatlah) ketika orangorang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya,”(al-Ahzab: 12). Sebagaimana dikeluarkan ath-Thabari dan Ibnu Abi Hatim dari Qatadah radhiyallahu anhu tentang penafsirannya, dia menjelaskan, “Segolongan manusia dari kalangan munafikin mengatakan: Muhammad menjanjikan kita penaklukan Persia dan Romawi, namun kita terkepung di sini, sampai-sampai salah seorang dari kita tidak bisa untuk menunaikan hajatnya, Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan hanya tipu daya.”
Sementara itu –di tengah dahsyatnya bencana dan penderitaan—kaum beriman mengetahui sesungguhnya pertolongan Allah ta'ala itu amat dekat. Sebagaimana diriwayatkan ath-Thabari dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu tentang penafsiran firman Allah ta'ala : “Dan tatkala orang-orang beriman melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali keimanan dan ketundukan.”(al-Ahzab: 22), dia berkata, “Demikianlah sesungguhnya Allah berfirman kepada mereka di surat al-Baqarah, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padalah belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat .”(al-Baqarah: 214). Kala cobaan mendera mereka, di saat mereka ribath di parit memantau golongan-golongan yang bersekutu, orang-orang beriman menakwilkan seperti itu, maka tidak menambah kepada mereka kecuali keimanan dan ketundukan.”
Orang-orang beriman mengingat-ingat ayat-ayat Allah ta'ala dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di parit-parit mereka. Mereka menakwilkan semua kabar dan tanda-tanda terkait cobaan yang mendera mereka, lalu segala goncangan dan bencana tidak menjauhkan mereka dari merenungkan ayat-ayat Allah ta'ala dan hikmahnya. Bahkan jihad dan kerja keras mereka semakin membuat mereka bersabar atas cobaan, tunduk kepada ketentuan, serta membenarkan realisasi janji Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam untuk mereka. Sementara orang-orang munafik mengalami keraguan dan menderita penyakit hati, sehingga mereka mengolok-olok dan menghujat janji Allah ta'ala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, lalu orang-orang kafir dan para thaghut terperdaya oleh kekuatan dan keangkuhan mereka, karena mereka menyangka “yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah,”(Ali ‘Imran: 154), bahwa (menurut sangkaan mereka, Penj.) Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana akan menelantarkan agama dan para wali-Nya, dan bahkan memenangkan musuh-musuh-Nya dan persatuan mereka, sehingga agama pun sepenuhnya milik selain-Nya selamanya. Sungguh Maha Tinggi Allah ta'ala dari persangkaan orang-orang jahiliyah dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.
Sesungguhnya Allah ta'ala meng-istidraj (membinasakan secara bertahap) mereka dengan cara yang tidak mereka ketahui. Mereka bersusah-payah mewujudkan makar Allah kepada mereka, dan akhir nasibnya, “mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai wawasan.”(al-Hasyr: 2)
Dan dari itu, para hamba salib dan para penolong mereka (pasukan Turki dan Shahawat) memobilisasi pasukan di riif (pinggiran) Halab Utara sembari mengumumkan bahwa Dabiq merupakan target utama mereka. Mereka mengklaim, mengotori Dabiq dengan kaki dan panji-panji najis mereka, akan menjadi kemenangan moril besar atas Daulah Islam. Mereka mengira bahwa Junud Daulah tidak dapat membedakan antara Perang Dabiq Sughra (kecil) dengan Malhamah Dabiq Kubra (Peperangan Dabiq Dahsyat di akhir zaman). Oleh karenanya, apabila Daulah mundur dari Dabiq –semoga Allah ta'ala meneguhkan junud Khilafah di sana—maka tidaklah dikatakan sebagai pengemban panji al-’uqab (panji hitam) yang dimenangkan, karena kemudian junudnya meninggalkannya setelah mundur secara berkelompok-kelompok.
Para penyembah salib dan penolong mereka dari kalangan murtaddin tidak mengetahui bahwa Malhamah Dabiq Kubra didahului oleh peristiwa-peristiwa besar berupa tanda-tanda Kiamat kecil yang diketahui oleh orang-orang beriman yang ribath di parit-parit mereka. Peristiwa-peristiwa tersebut dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hadits-hadits fitnah akhir zaman, peperangan-peperangan besar, dan tanda-tanda Hari Kiamat.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak akan terjadi Hari Kiamat hingga bangsa Romawi turun (ke medan perang) di A’maaq atau di Dabiq, sehingga sekelompok pasukan dari Madinah keluar menghadapi mereka, yang merupakan sebaik-baik penduduk bumi ketika itu. Dan tatkala mereka berhadapan, pasukan Romawi berkata, ‘Biarkanlah kami memerangi orang-orang yang dahulu tertawan dari kami!’ Kaum muslimin menjawab, ‘Tidak, demi Allah, kami tidak akan membiarkan kalian memerangi saudara-saudara kami.’ Maka terjadilah peperangan di antara mereka. Lalu ada sepertiga yang melarikan diri, dan Allah tidak mengampuni dosa mereka selamanya, dan sepertiga lagi terbunuh sebagai sebaik-baik syuhada di sisi Allah. Dan sepertiga lagi mendapatkan kemenangan, mereka tidak ditimpa fitnah untuk selamanya, kemudian mereka menaklukkan Konstantinopel. Dan ketika mereka sedang membagi-bagi harta ghanimah, dan mereka menggantungkan pedang mereka di pohon zaitun, tiba-tiba setan meneriaki mereka, ‘Sesungguhnya al-Masih (Dajjal) telah menyerang keluarga kalian!’ Mereka lantas berhamburan keluar, namun ternyata hal itu hanya kebohongan belaka. Ketika mereka mendatangi Syam, dia pun muncul. Dan ketika mereka sedang bersiap-siap untuk peperangan, sedang merapikan barisan, tiba-tiba datanglah waktu shalat, dan turunlah Nabi Isa bin Maryam, lalu dia mengimami mereka, tiba-tiba musuh Allah (Dajjal) melihatnya, seketika ia meleleh sebagaimana garam melarut di dalam air, meskipun seandainya dia membiarkannya maka dia akan meleleh sampai binasa. Akan tetapi Allah menginginkan dia membunuhnya dengan tangannya, lalu ia pun memperlihatkan kepada mereka darah Dajjal yang ada di ujung tombaknya.”(HR. Muslim)
Diriwayatkan dari Yasir bin Jabir, bahwasanya Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata, “Hari Kiamat tidak akan terjadi hingga harta warisan tidak dibagi dan harta ghanimah tidak membuat gembira.” Kemudian dia berkata mengisyaratkan dengan tangannya seperti ini, dia menunjuk ke arah Syam, seraya berkata, “Musuh berkumpul untuk melawan umat Islam, dan umat Islam pun berkumpul untuk (menghadapi) mereka.” Aku pun bertanya, “Romawi maksudmu?” Dia menjawab, “Ya, saat peperangan itu terjadi serangan dahsyat, lalu kaum muslimin mengirimkan sekelompok pasukan pencari mati, tidak akan kembali kecuali dalam keadaan menang. Mereka bertempur hingga malam hari, lalu masing-masing dari kedua kubu kembali, masing-masing tidaklah menang, dan sekelompok pasukan itu pun lenyap. Kaum muslimin mengirimkan sepasukan pencari mati, tidak akan kembali kecuali dalam keadaan menang. Mereka bertempur hingga malam hari, lalu masing-masing dari kedua kubu kembali, masing-masing tidaklah menang, dan sekelompok pasukan itu pun lenyap. lalu kaum muslimin mengirimkan sekelompok pasukan pencari mati lagi, tidak akan kembali kecuali dalam keadaan menang. Mereka bertempur hingga malam hari, lalu masing-masing dari kedua kubu kembali, masing-masing tidaklah menang, dan sekelompok pasukan muslim itu pun lenyap. Pada hari keempat, sisa-sisa kaum muslimin yang masih ada bergerak maju, lalu Allah menjadikan kekalahan atas musuh mereka. Peperangan dahsyat pun meletus –entah dia (baca:Ibnu Mas’ud) berkata, ‘La yura mitsluha (tidak pernah terjadi peperangan ini sebelumnya).’ Atau barangkali berkata, ‘Lam yura mitsluha (seakan tidak ada peperangan seperti ini dimasa datang).’ Sehingga burung terbang melintasi segala penjuru mereka, dan tidaklah melintasi mereka melainkan pasti tersungkur mati (karena bau busuk tumpukan mayat). Satu kabilah menghitung, tadinya mereka berjumlah seratus orang, tapi mereka hanya menjumpai satu orang saja. Lalu harta ghanimah mana yang bisa membuat gembira? Atau harta warisan mana yang dapat dibagikan? Saat mereka seperti itu, tiba-tiba mereka mendengar serangan yang lebih besar darinya, lalu ada orang berteriak yang mendatangi mereka, ‘Sesungguhnya Dajjal telah menyerang keluarga kalian!’ Lalu mereka membuang apa-apa yang ada di tangan mereka, kemudian pulang. Setelah itu mereka mengirim sepuluh kesatria berkuda ke depan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya aku mengetahui nama-nama mereka, nama-nama bapak mereka, dan warna kuda mereka. Mereka adalah kesatria berkuda terbaik di muka bumi pada saat itu.’ Atau: ‘di antara tentara berkuda yang terbaik di atas bumi saat itu.’”(HR. Muslim)
Diriwayatkan dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Hitunglah enam perkara yang akan muncul menjelang Hari Kiamat. Kematianku, penaklukkan Baitul Maqdis, kematian yang menyerang kalian bagaikan penyakit yang menyerang kambing sehingga mati seketika, melimpahnya harta hingga ada orang yang diberi seratus dinar namun masih marah (merasa kurang), munculnya fitnah sehingga tidak satu pun rumah orang Arab kecuali akan dimasukinya, perjanjian antara kalian dengan Bani Ashfar (Eropa), lalu mereka mengkhianati perjanjian kemudian mengepung kalian di bawah delapan bendera (panji) perang yang setiap panji terdiri dari 12 ribu pasukan.” (HR. Al-Bukhari)
Abu Dawud meriwayatkan dari Dzu Mikhmar radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Kalian akan berdamai dengan bangsa Romawi melalui sebuah perjanjian damai. Kalian akan berperang bersama mereka menyerang musuh di belakang kalian. Kalian akan mendapatkan kemenangan, ghanimah, dan keselamatan. Setelah itu kalian akan kembali pulang, sampai kalian singgah di suatu tempat tinggi yang subur lagi banyak tanamannya. Lalu ada seseorang laki-laki beragama Nashrani mengangkat salib, seraya berkata, ‘Salib telah menang!’ Maka marahlah salah seorang laki-laki dari kaum muslimin, hingga mematahkan kayu salibnya. Maka saat itulah orang-orang Romawi berkhianat dan berkumpul untuk sebuah peperangan.”(HR. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan dishahihkan oleh az-Dzahabi).
Dalam lafazh milik Ibnu Hibban disebutkan, “Kalian akan berdamai dengan bangsa Romawi melalui perjanjian damai, sehingga kalian dan mereka memerangi musuh di belakang mereka. Kalian mendapatkan kemenangan, ghanimah, lalu kembali pulang sampai singgah di satu tempat tinggi yang subur lagi banyak tanamannya. Salah seorang dari bangsa Romawi berkata, ‘Salib telah menang!’ Lalu salah seorang dari kaum muslimin berkata, ‘Bahkan Allah yang menang!’ Kemudian seorang muslim menyerang salibnya, dan dia tidaklah jauh darinya, lalu dia mematahkan salibnya. Dan pasukan Romawi menyerang laki-laki yang mematahkan salib mereka, lalu menebas lehernya. Selanjutnya kaum muslimin segera meraih senjata mereka dan berperang. Allah memuliakan sekelompok kaum muslimin itu dengan kesyahidan. Bangsa Romawi kemudian berkata kepada raja mereka’kami akan bereskan bangsa arab untukmu’ Maka mereka berkumpul untuk peperangan, lalu mengepung kalian di bawah 80 panji, di bawah tiap panji terdiri dari 12 ribu pasukan.”
Di antara sejumlah peristiwa yang akan terjadi sebelum Malhamah Kubra di Dabiq: perjanjian antara kaum Muwahhidin-Mujahidin dengan orang-orang Nashrani-Romawi. Masing-masing dari kedua bangsa itu bertekad untuk memerangi musuh yang lainnya. Selepas mujahidin meraih kemenangan atas musuh di belakang mereka, kedua kelompok tiba di Dabiq dan di sekitarnya tempat tinggi yang subur lagi banyak tanamannya. Kemudian salah seorang dari bangsa Romawi mengangkat salibnya dan berseru dengan seruan-seruan agama Nashrani. Lantas salah seorang muwahhid yang cemburu karena Allah azza wa jalla mematahkan salibnya, lalu bangsa Romawi berkhianat, serta berhimpun untuk berperang dan datang dengan ribuan pasukan.
Di antara peristiwa lainnya lagi: sekelompok mujahidin menawan sekelompok pasukan Romawi. Kemudian mujahidin tidak menelantarkan saudara-saudara mereka yang ditawan atau –sebagaimana tertera dalam riwayat—siapa saja dari tawanan asal Romawi yang masuk ke dalam agama Islam.
Demikianlah peristiwa-peristiwa Malhamah Kubra di Dabiq; jihad dan kerja keras, pembunuhan dan peperangan, luka dan asa. Tiada yang dilakukan seorang muwahhid-mujahid selain bersabar dan yakin dalam aktivitas ribath dan bertempurnya, sampai kemudian Allah azza wa jalla memporak-porandakan persatuan musuh-musuh-Nya, mencerai-beraikan hati mereka, menjadikan wajah mereka saling berpaling, menciptakan permusuhan di antara mereka, membuat mereka saling memancung batang leher yang lainnya, “mudah-mudahan waktu tersebut dekat.”
Adapun peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di daerah utara Syam ini –di Dabiq dan sekitarnya— tiada lain hanyalah satu dari tanda-tanda berbagai peperangan yang menjelang –insyaa Allah—yang memaksa kaum Salibis –cepat atau lambat—menerima syarat-syarat dari kelompok kaum muslimin. Setelah itu, dan diikuti dengan kemenangan, kaum Salibis melakukan pengkhianatan, lalu terjadilah Malhamah Kubra di Dabiq.
Hari ini, berbagai konflik lama terulang kembali di barisan musuh-musuh Allah azza wa jalla. kaum Salibis Barat berseteru dengan kaum Salibis Timur, juga para pembela mereka dari kalangan murtaddin pun bertikai. Orang-orang Turki berseteru dengan orangorang Kurdi, Shahawat Turki berseteru dengan Shahawat Yordania, kaum Rafidhah berseteru dengan kaum Kurdi Irak, kaum Kurdi Barat bertikai dengan kaum Kurdi Timur, Syiah Nushairiyah bertikai dengan bangsa Kurdi Syam. “Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah-belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti,”(al-Hasyr: 14).
Fluktuasi pertempuran di Dabiq dan sekitarnya –Perang Dabiq Kecil—akan berujung pada Perang Dabiq Besar (Malhamah Kubra), secara pasti, setelah penakwilan “apa yang dijanjikan Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam terwujud, dari perjanjian antara kaum muslimin dan bangsa Romawi, lalu pengkhianatan Romawi terhadap mereka. Setelahnya, terjadi penaklukkan Konstantinopel (kemudian Roma).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Pernahkan kalian mendengar sebuah kota yang pada satu sisinya terdapat daratan dan pada sisi yang lain terdapat lautan?”para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau melanjutkan, “Tidak akan terjadi Hari Kiamat hingga kota itu diperangi oleh 70 ribu orang dari (keturunan) Bani Ishaq (sebagian lainnya berkata: yang diketahui dan dikenal adalah ‘keturunan dari Bani Ismail’). Jika mereka telah mendatanginya, mereka turun ke medan perang, akan tetapi mereka tidak memerangi dengan menggunakan senjata pedang ataupun panah. Mereka hanya mengucapkan, ‘La Ilaha Illallah, Allahu Akbar!’ Lalu salah satu sisinya dapat ditaklukkan –Tsaur berkata, ‘Yang aku tahu beliau hanya menyebut: yang terdapat lautan.’— kemudian mereka mengucapkan untuk kedua kalinya, ‘La Ilaha Illallah, Allahu Akbar!’ Lalu satu sisi yang lainnya pun dapat ditaklukkan. Kemudian untuk ketiga kalinya mereka mengucapkan, ‘La Ilaha Illallah, Allahu Akbar!’ Lalu dibukakanlah benteng pertahanan mereka, sehingga mereka dapat memasukinya, dan mengambil harta ghanimahnya. Dan ketika mereka sedang membagi-bagikan harta ghanimah, tiba-tiba ada orang berteriak mendatangi mereka, ‘Sesungguhnya Dajjal telah muncul! Lalu mereka meninggalkan segala sesuatu yang ada dan kembali pulang (ke negeri mereka).”(HR. Muslim)
Semoga Allah azza wa jalla menjadikannya berada di tangan para mujahidin Khilafah, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abu Mush’ab az-Zarqawi rahimahullah: “Kami berjihad di sini, sedangkan mata kami tertuju pada al-Quds. Kami berperang di sini, sedangkan tujuan kami adalah Roma. Berprasangka baik terhadap Allah, semoga Dia menjadikan kita sebagai kunci-kunci bagi seluruh kabar gembira dari Nabi dan ketentuan-ketentuan Ilahiyah.” (Riyah an-Nashr)
Dan Allah berkuasa atas urusan-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
MENUJU MALHAMAH KUBRA DI DABIQ
Tatkala kaum beriman diuji dengan penyakit hati dan kehadiran al-murjifun (para penyebar kabar bohong) di Madinah, ketika tidak tetap lagi penglihatan dan hati sampai naik menyesak hingga ke tenggorokan pada Perang Ahzab, lalu muncullah persangkaan terhadap Allah azza wa jalla dengan berbagai macam sangkaan. Sebagaimana diriwayatkan ath-Thabari dan Ibnu Abi Hatim dari Hasan al-Bashri, terkait penafsiran firman Allah ta'ala: “Dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka,”(al-Ahzab: 10), dia berkata, “Beragam purbasangka: orang-orang munafik menyangka bahwa Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat beliau akan dikalahkan, dan orang-orang beriman meyakini bahwa apa yang Allah azza wa jalla janjikan kepada mereka adalah benar, Dia akan memenangkannya atas seluruh agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”
Kemudian Allah azza wa jalla berfirman, “Dan (ingatlah) ketika orangorang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya,”(al-Ahzab: 12). Sebagaimana dikeluarkan ath-Thabari dan Ibnu Abi Hatim dari Qatadah radhiyallahu anhu tentang penafsirannya, dia menjelaskan, “Segolongan manusia dari kalangan munafikin mengatakan: Muhammad menjanjikan kita penaklukan Persia dan Romawi, namun kita terkepung di sini, sampai-sampai salah seorang dari kita tidak bisa untuk menunaikan hajatnya, Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan hanya tipu daya.”
Sementara itu –di tengah dahsyatnya bencana dan penderitaan—kaum beriman mengetahui sesungguhnya pertolongan Allah ta'ala itu amat dekat. Sebagaimana diriwayatkan ath-Thabari dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu tentang penafsiran firman Allah ta'ala : “Dan tatkala orang-orang beriman melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali keimanan dan ketundukan.”(al-Ahzab: 22), dia berkata, “Demikianlah sesungguhnya Allah berfirman kepada mereka di surat al-Baqarah, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padalah belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat .”(al-Baqarah: 214). Kala cobaan mendera mereka, di saat mereka ribath di parit memantau golongan-golongan yang bersekutu, orang-orang beriman menakwilkan seperti itu, maka tidak menambah kepada mereka kecuali keimanan dan ketundukan.”
Orang-orang beriman mengingat-ingat ayat-ayat Allah ta'ala dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di parit-parit mereka. Mereka menakwilkan semua kabar dan tanda-tanda terkait cobaan yang mendera mereka, lalu segala goncangan dan bencana tidak menjauhkan mereka dari merenungkan ayat-ayat Allah ta'ala dan hikmahnya. Bahkan jihad dan kerja keras mereka semakin membuat mereka bersabar atas cobaan, tunduk kepada ketentuan, serta membenarkan realisasi janji Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam untuk mereka. Sementara orang-orang munafik mengalami keraguan dan menderita penyakit hati, sehingga mereka mengolok-olok dan menghujat janji Allah ta'ala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, lalu orang-orang kafir dan para thaghut terperdaya oleh kekuatan dan keangkuhan mereka, karena mereka menyangka “yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah,”(Ali ‘Imran: 154), bahwa (menurut sangkaan mereka, Penj.) Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana akan menelantarkan agama dan para wali-Nya, dan bahkan memenangkan musuh-musuh-Nya dan persatuan mereka, sehingga agama pun sepenuhnya milik selain-Nya selamanya. Sungguh Maha Tinggi Allah ta'ala dari persangkaan orang-orang jahiliyah dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.
Sesungguhnya Allah ta'ala meng-istidraj (membinasakan secara bertahap) mereka dengan cara yang tidak mereka ketahui. Mereka bersusah-payah mewujudkan makar Allah kepada mereka, dan akhir nasibnya, “mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai wawasan.”(al-Hasyr: 2)
Dan dari itu, para hamba salib dan para penolong mereka (pasukan Turki dan Shahawat) memobilisasi pasukan di riif (pinggiran) Halab Utara sembari mengumumkan bahwa Dabiq merupakan target utama mereka. Mereka mengklaim, mengotori Dabiq dengan kaki dan panji-panji najis mereka, akan menjadi kemenangan moril besar atas Daulah Islam. Mereka mengira bahwa Junud Daulah tidak dapat membedakan antara Perang Dabiq Sughra (kecil) dengan Malhamah Dabiq Kubra (Peperangan Dabiq Dahsyat di akhir zaman). Oleh karenanya, apabila Daulah mundur dari Dabiq –semoga Allah ta'ala meneguhkan junud Khilafah di sana—maka tidaklah dikatakan sebagai pengemban panji al-’uqab (panji hitam) yang dimenangkan, karena kemudian junudnya meninggalkannya setelah mundur secara berkelompok-kelompok.
Para penyembah salib dan penolong mereka dari kalangan murtaddin tidak mengetahui bahwa Malhamah Dabiq Kubra didahului oleh peristiwa-peristiwa besar berupa tanda-tanda Kiamat kecil yang diketahui oleh orang-orang beriman yang ribath di parit-parit mereka. Peristiwa-peristiwa tersebut dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hadits-hadits fitnah akhir zaman, peperangan-peperangan besar, dan tanda-tanda Hari Kiamat.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak akan terjadi Hari Kiamat hingga bangsa Romawi turun (ke medan perang) di A’maaq atau di Dabiq, sehingga sekelompok pasukan dari Madinah keluar menghadapi mereka, yang merupakan sebaik-baik penduduk bumi ketika itu. Dan tatkala mereka berhadapan, pasukan Romawi berkata, ‘Biarkanlah kami memerangi orang-orang yang dahulu tertawan dari kami!’ Kaum muslimin menjawab, ‘Tidak, demi Allah, kami tidak akan membiarkan kalian memerangi saudara-saudara kami.’ Maka terjadilah peperangan di antara mereka. Lalu ada sepertiga yang melarikan diri, dan Allah tidak mengampuni dosa mereka selamanya, dan sepertiga lagi terbunuh sebagai sebaik-baik syuhada di sisi Allah. Dan sepertiga lagi mendapatkan kemenangan, mereka tidak ditimpa fitnah untuk selamanya, kemudian mereka menaklukkan Konstantinopel. Dan ketika mereka sedang membagi-bagi harta ghanimah, dan mereka menggantungkan pedang mereka di pohon zaitun, tiba-tiba setan meneriaki mereka, ‘Sesungguhnya al-Masih (Dajjal) telah menyerang keluarga kalian!’ Mereka lantas berhamburan keluar, namun ternyata hal itu hanya kebohongan belaka. Ketika mereka mendatangi Syam, dia pun muncul. Dan ketika mereka sedang bersiap-siap untuk peperangan, sedang merapikan barisan, tiba-tiba datanglah waktu shalat, dan turunlah Nabi Isa bin Maryam, lalu dia mengimami mereka, tiba-tiba musuh Allah (Dajjal) melihatnya, seketika ia meleleh sebagaimana garam melarut di dalam air, meskipun seandainya dia membiarkannya maka dia akan meleleh sampai binasa. Akan tetapi Allah menginginkan dia membunuhnya dengan tangannya, lalu ia pun memperlihatkan kepada mereka darah Dajjal yang ada di ujung tombaknya.”(HR. Muslim)
Diriwayatkan dari Yasir bin Jabir, bahwasanya Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata, “Hari Kiamat tidak akan terjadi hingga harta warisan tidak dibagi dan harta ghanimah tidak membuat gembira.” Kemudian dia berkata mengisyaratkan dengan tangannya seperti ini, dia menunjuk ke arah Syam, seraya berkata, “Musuh berkumpul untuk melawan umat Islam, dan umat Islam pun berkumpul untuk (menghadapi) mereka.” Aku pun bertanya, “Romawi maksudmu?” Dia menjawab, “Ya, saat peperangan itu terjadi serangan dahsyat, lalu kaum muslimin mengirimkan sekelompok pasukan pencari mati, tidak akan kembali kecuali dalam keadaan menang. Mereka bertempur hingga malam hari, lalu masing-masing dari kedua kubu kembali, masing-masing tidaklah menang, dan sekelompok pasukan itu pun lenyap. Kaum muslimin mengirimkan sepasukan pencari mati, tidak akan kembali kecuali dalam keadaan menang. Mereka bertempur hingga malam hari, lalu masing-masing dari kedua kubu kembali, masing-masing tidaklah menang, dan sekelompok pasukan itu pun lenyap. lalu kaum muslimin mengirimkan sekelompok pasukan pencari mati lagi, tidak akan kembali kecuali dalam keadaan menang. Mereka bertempur hingga malam hari, lalu masing-masing dari kedua kubu kembali, masing-masing tidaklah menang, dan sekelompok pasukan muslim itu pun lenyap. Pada hari keempat, sisa-sisa kaum muslimin yang masih ada bergerak maju, lalu Allah menjadikan kekalahan atas musuh mereka. Peperangan dahsyat pun meletus –entah dia (baca:Ibnu Mas’ud) berkata, ‘La yura mitsluha (tidak pernah terjadi peperangan ini sebelumnya).’ Atau barangkali berkata, ‘Lam yura mitsluha (seakan tidak ada peperangan seperti ini dimasa datang).’ Sehingga burung terbang melintasi segala penjuru mereka, dan tidaklah melintasi mereka melainkan pasti tersungkur mati (karena bau busuk tumpukan mayat). Satu kabilah menghitung, tadinya mereka berjumlah seratus orang, tapi mereka hanya menjumpai satu orang saja. Lalu harta ghanimah mana yang bisa membuat gembira? Atau harta warisan mana yang dapat dibagikan? Saat mereka seperti itu, tiba-tiba mereka mendengar serangan yang lebih besar darinya, lalu ada orang berteriak yang mendatangi mereka, ‘Sesungguhnya Dajjal telah menyerang keluarga kalian!’ Lalu mereka membuang apa-apa yang ada di tangan mereka, kemudian pulang. Setelah itu mereka mengirim sepuluh kesatria berkuda ke depan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya aku mengetahui nama-nama mereka, nama-nama bapak mereka, dan warna kuda mereka. Mereka adalah kesatria berkuda terbaik di muka bumi pada saat itu.’ Atau: ‘di antara tentara berkuda yang terbaik di atas bumi saat itu.’”(HR. Muslim)
Diriwayatkan dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Hitunglah enam perkara yang akan muncul menjelang Hari Kiamat. Kematianku, penaklukkan Baitul Maqdis, kematian yang menyerang kalian bagaikan penyakit yang menyerang kambing sehingga mati seketika, melimpahnya harta hingga ada orang yang diberi seratus dinar namun masih marah (merasa kurang), munculnya fitnah sehingga tidak satu pun rumah orang Arab kecuali akan dimasukinya, perjanjian antara kalian dengan Bani Ashfar (Eropa), lalu mereka mengkhianati perjanjian kemudian mengepung kalian di bawah delapan bendera (panji) perang yang setiap panji terdiri dari 12 ribu pasukan.” (HR. Al-Bukhari)
Abu Dawud meriwayatkan dari Dzu Mikhmar radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Kalian akan berdamai dengan bangsa Romawi melalui sebuah perjanjian damai. Kalian akan berperang bersama mereka menyerang musuh di belakang kalian. Kalian akan mendapatkan kemenangan, ghanimah, dan keselamatan. Setelah itu kalian akan kembali pulang, sampai kalian singgah di suatu tempat tinggi yang subur lagi banyak tanamannya. Lalu ada seseorang laki-laki beragama Nashrani mengangkat salib, seraya berkata, ‘Salib telah menang!’ Maka marahlah salah seorang laki-laki dari kaum muslimin, hingga mematahkan kayu salibnya. Maka saat itulah orang-orang Romawi berkhianat dan berkumpul untuk sebuah peperangan.”(HR. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan dishahihkan oleh az-Dzahabi).
Dalam lafazh milik Ibnu Hibban disebutkan, “Kalian akan berdamai dengan bangsa Romawi melalui perjanjian damai, sehingga kalian dan mereka memerangi musuh di belakang mereka. Kalian mendapatkan kemenangan, ghanimah, lalu kembali pulang sampai singgah di satu tempat tinggi yang subur lagi banyak tanamannya. Salah seorang dari bangsa Romawi berkata, ‘Salib telah menang!’ Lalu salah seorang dari kaum muslimin berkata, ‘Bahkan Allah yang menang!’ Kemudian seorang muslim menyerang salibnya, dan dia tidaklah jauh darinya, lalu dia mematahkan salibnya. Dan pasukan Romawi menyerang laki-laki yang mematahkan salib mereka, lalu menebas lehernya. Selanjutnya kaum muslimin segera meraih senjata mereka dan berperang. Allah memuliakan sekelompok kaum muslimin itu dengan kesyahidan. Bangsa Romawi kemudian berkata kepada raja mereka’kami akan bereskan bangsa arab untukmu’ Maka mereka berkumpul untuk peperangan, lalu mengepung kalian di bawah 80 panji, di bawah tiap panji terdiri dari 12 ribu pasukan.”
Di antara sejumlah peristiwa yang akan terjadi sebelum Malhamah Kubra di Dabiq: perjanjian antara kaum Muwahhidin-Mujahidin dengan orang-orang Nashrani-Romawi. Masing-masing dari kedua bangsa itu bertekad untuk memerangi musuh yang lainnya. Selepas mujahidin meraih kemenangan atas musuh di belakang mereka, kedua kelompok tiba di Dabiq dan di sekitarnya tempat tinggi yang subur lagi banyak tanamannya. Kemudian salah seorang dari bangsa Romawi mengangkat salibnya dan berseru dengan seruan-seruan agama Nashrani. Lantas salah seorang muwahhid yang cemburu karena Allah azza wa jalla mematahkan salibnya, lalu bangsa Romawi berkhianat, serta berhimpun untuk berperang dan datang dengan ribuan pasukan.
Di antara peristiwa lainnya lagi: sekelompok mujahidin menawan sekelompok pasukan Romawi. Kemudian mujahidin tidak menelantarkan saudara-saudara mereka yang ditawan atau –sebagaimana tertera dalam riwayat—siapa saja dari tawanan asal Romawi yang masuk ke dalam agama Islam.
Demikianlah peristiwa-peristiwa Malhamah Kubra di Dabiq; jihad dan kerja keras, pembunuhan dan peperangan, luka dan asa. Tiada yang dilakukan seorang muwahhid-mujahid selain bersabar dan yakin dalam aktivitas ribath dan bertempurnya, sampai kemudian Allah azza wa jalla memporak-porandakan persatuan musuh-musuh-Nya, mencerai-beraikan hati mereka, menjadikan wajah mereka saling berpaling, menciptakan permusuhan di antara mereka, membuat mereka saling memancung batang leher yang lainnya, “mudah-mudahan waktu tersebut dekat.”
Adapun peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di daerah utara Syam ini –di Dabiq dan sekitarnya— tiada lain hanyalah satu dari tanda-tanda berbagai peperangan yang menjelang –insyaa Allah—yang memaksa kaum Salibis –cepat atau lambat—menerima syarat-syarat dari kelompok kaum muslimin. Setelah itu, dan diikuti dengan kemenangan, kaum Salibis melakukan pengkhianatan, lalu terjadilah Malhamah Kubra di Dabiq.
Hari ini, berbagai konflik lama terulang kembali di barisan musuh-musuh Allah azza wa jalla. kaum Salibis Barat berseteru dengan kaum Salibis Timur, juga para pembela mereka dari kalangan murtaddin pun bertikai. Orang-orang Turki berseteru dengan orangorang Kurdi, Shahawat Turki berseteru dengan Shahawat Yordania, kaum Rafidhah berseteru dengan kaum Kurdi Irak, kaum Kurdi Barat bertikai dengan kaum Kurdi Timur, Syiah Nushairiyah bertikai dengan bangsa Kurdi Syam. “Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah-belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti,”(al-Hasyr: 14).
Fluktuasi pertempuran di Dabiq dan sekitarnya –Perang Dabiq Kecil—akan berujung pada Perang Dabiq Besar (Malhamah Kubra), secara pasti, setelah penakwilan “apa yang dijanjikan Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam terwujud, dari perjanjian antara kaum muslimin dan bangsa Romawi, lalu pengkhianatan Romawi terhadap mereka. Setelahnya, terjadi penaklukkan Konstantinopel (kemudian Roma).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Pernahkan kalian mendengar sebuah kota yang pada satu sisinya terdapat daratan dan pada sisi yang lain terdapat lautan?”para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau melanjutkan, “Tidak akan terjadi Hari Kiamat hingga kota itu diperangi oleh 70 ribu orang dari (keturunan) Bani Ishaq (sebagian lainnya berkata: yang diketahui dan dikenal adalah ‘keturunan dari Bani Ismail’). Jika mereka telah mendatanginya, mereka turun ke medan perang, akan tetapi mereka tidak memerangi dengan menggunakan senjata pedang ataupun panah. Mereka hanya mengucapkan, ‘La Ilaha Illallah, Allahu Akbar!’ Lalu salah satu sisinya dapat ditaklukkan –Tsaur berkata, ‘Yang aku tahu beliau hanya menyebut: yang terdapat lautan.’— kemudian mereka mengucapkan untuk kedua kalinya, ‘La Ilaha Illallah, Allahu Akbar!’ Lalu satu sisi yang lainnya pun dapat ditaklukkan. Kemudian untuk ketiga kalinya mereka mengucapkan, ‘La Ilaha Illallah, Allahu Akbar!’ Lalu dibukakanlah benteng pertahanan mereka, sehingga mereka dapat memasukinya, dan mengambil harta ghanimahnya. Dan ketika mereka sedang membagi-bagikan harta ghanimah, tiba-tiba ada orang berteriak mendatangi mereka, ‘Sesungguhnya Dajjal telah muncul! Lalu mereka meninggalkan segala sesuatu yang ada dan kembali pulang (ke negeri mereka).”(HR. Muslim)
Semoga Allah azza wa jalla menjadikannya berada di tangan para mujahidin Khilafah, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abu Mush’ab az-Zarqawi rahimahullah: “Kami berjihad di sini, sedangkan mata kami tertuju pada al-Quds. Kami berperang di sini, sedangkan tujuan kami adalah Roma. Berprasangka baik terhadap Allah, semoga Dia menjadikan kita sebagai kunci-kunci bagi seluruh kabar gembira dari Nabi dan ketentuan-ketentuan Ilahiyah.” (Riyah an-Nashr)
Dan Allah berkuasa atas urusan-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar