Jumat, 27 April 2018

SYAIKH UMAR ASY-SYISYANI, PAHLAWAN KAUKASUS DAN KSATRIA KHILAFAH

SYAIKH UMAR ASY-SYISYANI, PAHLAWAN KAUKASUS DAN KSATRIA KHILAFAH

Ujian dalam bentuk kebaikan adalah fitnah yang tidak bisa dilewati oleh seorangpun kecuali mereka yang Allah selamatkan lantaran keikhlasan dan keinginan akan akhirat saja. Banyak yang mampu untuk tetap teguh menghadapi gelombang demi gelombang ujian buruk berupa penjara, siksaan dan keterusiran, namun ia terjatuh tatkala semua ujian itu telah selesai dan Allah letakkan ujian baru dengan dibukanya pintu dunia serta keindahannya. Ia mengira kemuliaan dan kenikmatan yang didapatkannya itu adalah balasan atas kesabarannya dalam menghadapi ujian, terlupa akan adanya sisi lain dari ujian dimana sebagian orang bisa bersabar menghadapinya, namun sebagiannya malah kufur.

Kisah paling menarik tentang keteguhan dalam menghadapi gelombang ujian, namun ia tetap bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya dengan semakin giatnya ia beramal pun beribadah; adalah kisah Syaikh Umar Asy Syisyani taqabbalahullah, demikianlah kami menilai beliau dan kami tidak mensucikan seorangpun di hadapan Allah.

Seorang pemuda yang sedang berada di masa "mekar-mekarnya" berhijrah ke Syam, memenuhi jeritan pertolongan kaum muslimin di sana, berharap semoga dengan hijrahnya ia digolongkan dalam kaum yang di sabdakan oleh Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, "Berpeganglah kamu dengan Syam, karena ia adalah sebaik-baik tempat di bumi-Nya, dimana hamba-hamba-Nya yang terpilih menuju".

Ia menetap di Halab, sebagai pejuang salah satu faksi yang mengklaim menapaki manhaj Tauhid. Ia beramal di dalamnya selama beberapa lama, sampai kemudian bergabung bersama beberapa muhajirin Kaukasus, yang sebelumnya dipimpin oleh Abu Muhammad al Abbasi taqabbalahullah (Majelis Syura Mujahidin), namun beliau mengizinkan mereka keluar dari katibahnya. Dengan demikian, beberapa belas muhajir ini berkumpul, lalu di kemudian hari membentuk Katibah al Muhajirin. Syaikh Umar menjabat sebagai komandan militernya, lalu diangkat menjadi komandan umum.

Tak memakan waktu lama, sampai Syaikh Umar dan katibahnya itu bergerak bebas di berbagai medan tempur di utara Syam. Setiap pertempuran yang diterjuninya semakin mempertegas reputasinya sebagai faksi perlawanan dengan administrasi kepemimpinan yang baik dan pejuang yang cerdas, di saat tatkala mayoritas faksi lainnya kurang berpengalaman dan tak teratur di medan tempur.

Dengan semakin terkenalnya Katibah al Muhajirin dan semakin banyaknya mujahidin yang bergabung, nama Umar Asy Syisyani kian bersinar. Khususnya setelah Allah memberikan kemenangan dalam beberapa operasi, yang paling terkenal adalah operasi militer gabungan Katibah al Muhajirin menggempur Batalyon kuat rezim di Syaikh Sulaiman, bersama Kataib Al Battar, Majelis Syura Mujahidin dan Junud Daulah Islamiyah yang saat itu bernama Jabhah Nushrah.

Katibah al Muhajirin juga ikut berpartisipasi dalam mayoritas operasi militer di pinggiran Aleppo, seperti pertempuran Tha'anah, Khan Tuman, Brigade 80, Batalyon Handarat, Al Jandul, dan Penjara Pusat Aleppo, pun berbagai pertempuran lain. Dengan setiap kemenangan yang diraih, Katibah Al Muhajirin semakin bertambah besar dan semakin baik suplai persenjataannya. Jadilah Umar Asy Syisyani sebagai komandan salah satu faksi terbesar di Syam, dimana faksi-faksi lain berlomba-lomba untuk menjalin persekutuan dengannya dan berharap bisa berperang di sampingnya.

Namun Umar taqabbalahullah siap untuk menanggalkan semua itu dan menjadi prajurit bagi siapapun yang aqidah dan manhajnya terpercaya. Ketika itu, dalam pandangannya tidak ada yang lebih baik dari Jabhah Nushrah. Ia tak tahu bahwa Jabhah Nusrah hanyalah kepanjangan tangan dari Daulah Islamiyah, lantaran para petinggi Jabhah Nushrah selalu menyembunyikan hal itu dengan maksud tertentu yang kemudian Allah beberkan.

Ketika Abu Atsir al Halabi taqabbalahullahmengajukan tawaran penggabungan Majelis Syura Mujahidin dengan Katibah al Muhajirin, Umar malah menyodorkan tawaran lain, yakni bergabungnya kedua faksi itu dengan Jabhah Nushrah guna menyatukan kalimat dan memperkuat barisan mujahidin. Namun Abu Atsir menolak tawaran tersebut karena mengetahui penyelewengan manhaj petinggi Jabhah Nushrah saat itu dan buruknya akhlaq mereka, yang ia ketahui setelah membersamai mereka, khususnya di penjara Sednaya yang terkenal itu.

Peristiwa pertama yang memperlihatkan padanya perihal hakikat para pengkhianat itu ketika ia ikut serta bersama mereka dalam pertempuran Syaikh Sulaiman dan Batalyon Tha'anah. Ketika itu mujahidin berhasil mendapatkan ghanimah yang banyak. Mereka berprasangka baik terhadap Jabhah Nushrah sehingga menyerahkan ghanimah tersebut untuk dibagikan dengan adil. Namun ternyata mereka dikejutkan dengan pengkhianatan Jabhah Nushrah. Bagian mujahidin dimakan secara bathil oleh mereka. Jumlah ghanimah persenjataan dipermainkan. Sampai bagian kecil yang mereka akui sebagai bagian faksi-faksi yang ikut serta dalam pertempuran itu tidak diserahkan selama berbulan-bulan. Bahkan kemudian mereka manfaatkan bagian dari ghanimah itu untuk memaksa faksi-faksi tersebut berbai'at kepada mereka. Ketika mereka melemah, mereka gunakan harta ghanimah itu untuk mengiming-imingi faksi-faksi tersebut agar tidak berbai’at kepada Amirul Mukminin setelah Daulah Islamiyah mengumumkan secara resmi ekspansinya ke bumi Syam.

Sekalipun demikian, si pengkhianat Jaulani tetap mengajukan tawaran bai'at kepada Umar dan katibahnya, dengan memanfaatkan Haji Salam dan Abu Usamah al Maghribi taqabbalahumullah untuk mewujudkan hal itu lantaran kecintaan Umar kepada keduanya. Maka Umar berkumpul dengan majelis syuranya dan bersepakat bahwa bai’atnya kepada Jaulani (yang ketika itu mulai mengambil bai'at untuk dirinya sendiri) hanya terbatas pada bai'at qital. Mereka ingin mempelajari Jabhah Nushrah dari dekat terlebih dahulu melalui operasi bersama.

Terjadilah pertemuan yang mana Allah menakdirkan tersingkapnya sifat busuk lain Jaulani di samping sifat khianatnya dalam permasalahan ghanimah tersebut. Ia mengikuti pertemuan tersebut dengan pongah, berbicara dengan sombong dan congkak, dan menolak syarat apapun untuk berbai'at padahal ia sendiri yang menawarkan bai'at tersebut. Allah masih melindungi mereka dari konspirasi si busuk itu lantaran mereka melihat dengan mata kepala sendiri kebusukan tabiatnya.

Penyelewengan Jaulani dan gengnya terdengar sampai telinga Amirul Mukminin hafizhahullah yang akhirnya terpaksa pergi menuju Syam untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan para perusak itu. Dengan demikian, terbukalah kesempatan bagi Umar Asy Syisyani dan teman-temannya untuk bertemu langsung dengan beliau, dimana pertemuan itu akhirnya melahirkan bai'atnya kepada Amirul Mukminin setelah menyaksikan langsung sifat-sifat kepribadian beliau yang menyejukkan matanya. Peristiwa itu terjadi setelah pengumuman resmi ekspansi Daulah Islamiyah ke Syam. Syaikh Abu Bakar al Baghdadi menerima persyaratan Katibah al Muhajirin agar ia memberikan bantuan kepada mujahidin Kaukasus.

Beliau kala itu berkata, "Tidak ada kebaikan dalam diri kita, jika kita tidak menolong saudara-saudara kita (maksudnya mujahidin Kaukasus)”. Maka dengan demikian, Umar asy Syisyani telah menjadi salah satu prajurit Daulah Islamiyah. Di sinilah beliau rahimahullah memasuki babak ujian baru.

Keengganannya berdiri sendiri dengan katibahnya yang kuat itu dan malah menjadi prajurit biasa yang harus mendengar dan taat kepada pemimpinnya, bukanlah perkara yang mudah. Di antara barisan Katibah al Muhajirin muncul pihak yang ingin memisahkan diri demi menjaga reputasi Katibah dan apa yang telah mereka peroleh, yang lenyap seketika akibat berbai'atnya mereka kepada Daulah Islamiyah karena mereka semua menjadi prajurit biasa. Di sini, respon Umar amat jelas. Ia tetap teguh pada bai'atnya dan menolak membatalkan janji setianya, serta menyerahkan semua yang dimilikinya berupa persenjataan dan prajurit pada kepemimpinan Daulah Islamiyah. Demikianlah para penyeru fitnah itu tidak mendapat dukungan.

Umar meninggalkan untuk mereka nama Katibah al Muhajirin, yang ternyata sama sekali tidak berguna bagi mereka lantaran satu demi satu orang-orang mulai meninggalkan mereka. Bahkan mereka malah menghadapi kerendahan dan kehinaan. Sebaliknya, Allah mengangkat orang yang bertawadhu' karena- Nya, sedangkan mereka tidak disebut lagi. Alhamdulillah.

Sisi lain dari ujian tersebut terwujud ketika para pendonor yang disetir oleh para syaikh Sururi dan Ikhwani serta diberi tumpangan oleh intelijen thaghut mengiming-imingi gelontoran dana. Diantara mereka ada dua orang busuk itu, yaitu Hajjaj al Ajmi dan Abdullah al Muhaisini. Segera paska kabar bai'at Umar asy Syisyani kepada Amirul Mukminin tersebar, kedua orang itu langsung berusaha memikatnya dengan gelontoran dana, sampai mereka menawarkan gaji bulanan ratusan ribu Dollar dengan imbalan membatalkan bai'atnya. Namun ia tolak mentah-mentah Dollar murahan mereka, agar semakin menegaskan bahwa bai'atnya adalah atas dasar ingin bersatu dalam bingkai jama'ah dan menghendaki ridha Allah, bukan lantaran bantuan atau gaji.

Ketika seluruh sarana tekanan yang mereka miliki baik berupa provokasi ataupun iming-iming harta gagal, maka mereka beralih kepada cara lain, yaitu dengan mencemarkan nama baiknya. Mereka sebarkan berbagai isu lewat teman-teman setan manusia mereka yang mengangkat diri mereka sebagai penasihat jihad di Chechnya. Diantara isu itu adalah beliau seorang Salibis antek Intelijen Rusia, berdasarkan latar belakang bahwa beliau lahir di Georgia dari seorang bapak beragama Kristen, sekalipun hal ini tidak bisa dijadikan alasan karena jika demikian semua muslim yang lahir dari orang tua kafir adalah nista. Di saat yang sama mereka menyembunyikan fakta bahwa beliau sebenarnya berkebangsaan Chechnya dan bapaknya masuk Kristen ketika beliau masih kecil.

Mereka juga memusatkan fitnahannya pada saat ketika beliau masih menjadi tentara Georgia, menyembunyikan fakta bahwa beliau telah berlepas diri dari hal itu dan bahwasanya dinas ketentaraannya hanyalah sebentar, yang ternyata berakhir dengan penahanan atas dirinya, kemudian menghadapi siksaan sampai salah satu paru-parunya rusak.

Mereka juga menyembunyikan fakta bahwa ia adalah seorang munashir mujahidin Kaukasus, yang masih terus melanjutkan hubungannya dengan mereka, dan salah satu syarat yang ditolak oleh Jaulani adalah permintaannya pada Jabhah Nushrah guna memberikan bantuan kepada mujahidin Kaukasus, serta fakta bahwa beliau terus menyurati para pemimpin mujahidin Kaukasus untuk mengumumkan bai'atnya kepada Amirul Mukminin.

Sebagaimana Umar asy Syisyani tidak mempedulikan popularitas nama Katibahnya dan mengorbankannya demi menyatukan jama'ah kaum muslimin, ia juga tidak mempedulikan popularitas namanya sekalipun para pendengki menistakan harga dirinya. Merekalah yang sebelumnya memuji dan menyanjungnya setinggi langit, menyematkan padanya julukan yang mentereng. Namun semua itu malah semakin menambah kecintaannya kepada Daulah Islamiyah. Ia menyeru faksi-faksi perlawanan untuk bergabung kepadanya.

Bai'atnya dan bai'at Abu Atsir taqabbalahumallah telah memprovokasi mujahidin Katibah al Battar untuk berbaiat, yang kemudian disusul Abu Muhannad Hassan Abboud dan mujahidin Liwaa' Dawud serta mujahidin katibah lainnya.

Sebagaimana Allah telah memberikan kemenangan kepadanya dalam pertempuran bersama Katibah al Muhajirin, Allah memberikan kemenangan yang lebih besar setelah berbai'at kepada Daulah Islamiyah. Diantara kemenangan itu adalah pembebasan Bandara Minnigh di utara Halab bersama dengan Abu Usamah al Maghribi taqabbalahullah, pertempuran gudang senjata al Hamra di pinggiran timur Hamah bersama 'Abid al Libi taqabbalahullah yang dalam pertempuran ini Allah memberikan ghanimah yang banyak kepada pasukan Daulah Islamiyah. Setelah itu dimulailah persiapan operasi penaklukan besar-besaran di Syam.

Setelah analisa, pengintaian panjang dan perbandingan antara kota al Barakah dan al Khair, di pilihlah kota al Khair sebagai target penaklukkan. Dan Syaikh Umar dipilih sebagai komandan umum operasi ini. Namun pada saat yang sama, Shahawat Syam sedang merencanakan makar pengkhianatan atas Daulah Islamiyah, memanfaatkan kondisi lengah konsentrasi prajuritnya dalam mempersiapkan operasi besar-besaran ini. Ditambah lagi dengan front pertempuran yang memanjang di Halab, Idlib dan daerah pesisir Syam, sehingga Junud Daulah Islamiyah yang tersisa di barak hanyalah sedikit.

Shahawat bergerak keluar dan mengumumkan pengkhianatannya. Jalanan diputus. Mujahidin Daulah Islamiyah yang bertugs ribath di pos-pos checkpoint ditangkapi. Banyak dari mereka yang berada di pinggiran Halab terkepung. Sehingga terpaksalah operasi besar al Khair dihentikan karena pentingnya untuk segera bergerak menyelamatkan ikhwah yang terkepung. Syaikh Umar lalu memobilisasi pasukan dan menarik mundur mereka dari wilayah al Khair melalui wilayah Raqqah, yang ketika itu faksi-faksi shahawat semisal Jabhah Jaulani dan Ahrar Syam mengaku tidak terkait dengan aksi pengkhianatan teman-teman mereka di Halab, Idlib dan Sahiil. Syaikh Umar mempercayai mereka mereka.

Ia lantas kosongkan Raqqah dari mujahidin untuk memusatkan kekuatan mereka mematahkan pengepungan ikhwah di kota-kota wilayah Halab. Segera setelah konvoi para ikhwah yang dipimpin Syaikh Umar keluar dari Raqqah, para murtaddin shahawat langsung berkhianat dan menyerang ikhwah yang tersisa di kota Raqqah. Namun Allah menghinakan murtaddin dan menggagalkan serangan mereka sampai mereka lari kabur dari Raqqah menuju wilayah al Khair.

Di tengah jalan, Syaikh Umar dan mujahidin yang bersamanya kembali menghadapi pengkhianatan Ahrar Syam di dekat kota Maslamah. Orang-orang murtad itu memintanya mengadakan kesepakatan, setelah sebelumnya mereka menghadang konvoi tersebut dan menyergapnya namun meraih kegagalan; si busuk yang binasa Abu Khalid as Suri mendatanginya untuk mengadakan kesepakatan merubah rute konvoi, karena mereka takut mujahidin memaksa untuk menerobos dengan kekuatan dan merebut Bandara al Jarrah yang ketika itu dikuasai murtaddin. Maka Syaikh Umar berhasil mencapai pinggiran timur Halab dan mematahkan pengepungan atas ikhwah di kota Manbij, al Baab dan Jarabulus, membantu ikhwah yang terkepung di Huraytan untuk mematahkan pengepungan, lalu terus bergerak menuju A'zaz dan akhirnya sampai di daerah kekuasaan Daulah Islamiyah di Halab, Raqqah dan al Barakah.

Pertempuran melawan Shahawat belumlah berhenti, namun Allah menganugerahkan kepada hamba-hambaNya yang bertauhid penaklukkan satu per satu kota Iraq setelah pembebasan Mosul. Ketika Khilafah dideklarasikan, Syaikh Umar tengah sibuk mempersiapkan salah satu operasi terbesar di Syam dengan misi mengeliminasi seluruh posisi rezim yang terletak di dekat daerah kekuasaan Daulah Islamiyah, yang selama bertahun-tahun hanya bisa dikepung oleh faksi-faksi pemberontak Suriah. Operasi militer tersebut menargetkan Markas Militer Divisi 17, Brigade 93, dan Bandara Militer Tabqah di wilayah Raqqah, Resimen 121 di wilayah al Barakah, Bandara Militer Kuwayris di wilayah Halab.

Hasilnya adalah keberhasilan menaklukkan seluruh pangkalan militer tersebut, membunuh dan menawan ribuan tentara Nushairi, serta mendapatkan ghanimah berupa tumpukan senjata dan gudang-gudang persenjataan yang penuh akan peluru. Namun tidak untuk Bandara Militer Kuwayris lantaran pengkhianatan Shahawat di pinggiran utara Halab yang menyebabkan pasukan khusus penyerang terpaksa ditarik mundur guna menghalau serangan mereka.

Setelah kemenangan gemilang ini, menyusul banyaknya penaklukkan di Iraq dan kembalinya Khilafah, dimulailah tahapan baru pertikaian dengan orang-orang musyrik dan antek-antek mereka dari kalangan murtaddin. Ditandai dengan pembentukan Koalisi Salibis pimpinan Amerika, atas bantuan seluruh sekte musyrikin dan murtaddin yang bermacam-macam. Maka datanglah perintah Amirul Mukminin hafizhahullah untuk memindahkan Syaikh Umar asy Syisyani ke wilayah-wilayah di Iraq, yang ketika itu telah kehilangan salah satu pejuangnya yang paling tangguh, Syaikh Abu Abdurrahman al Bilawi taqabbalahullah. Dan beliau adalah sebaik-baik pengganti bagi sebaik-baik pendahulu.

Ia bergerak di seluruh wilayah-wilayah Iraq memerangi murtaddin Rafidhah, Shahawat dan Peshmerga, sebagai amir Departemen Kemiliteran dan komandan umum Junud Khilafah untuk wilayah-wilayah di Iraq. Beliau tetap menjabat dan berjihad sampai maut menjemputnya di medan pertempuran yang dicintai dan dirindukannya, begitulah kami menilai beliau. Semoga Allah menempatkannya di dalam surga-Nya yang kekal.

An-Naba Edisi 39

Tidak ada komentar:

Posting Komentar