Rabu, 25 April 2018

HANYASANYA YANG TAKUT PADA ALLAH ADALAH ULAMA

RUMIYAH 7 - ARTIKEL

HANYASANYA YANG TAKUT PADA ALLAH ADALAH ULAMA

Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim ibnu Taimiyah rahimahullah berkata tentang firman Allah ta'ala ‘Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepadanya hanyalah para ulama (QS. Fathir: 28) maknanya tiada yang takut kepada-Nya kecuali seorang alim. Allah mengabarkan bahwa semua orang yang takut kepada Allah maka dia seorang alim sebagaimana firman-Nya dalam ayat yang lain “Apakah (kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya? Katakanlah: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. az-Zumar: 9), khasy-yah (takut) sampai kapanpun mengandung raja’ (pengharapan). Seandainya khasy-yah tidak diiringi dengan raja’ maka itu berarti keputusasaan. Sebagaimana raja’ harus diiringi dengan khauf, jika tidak maka itu berarti rasa aman. Maka mereka yang memiliki rasa khauf dan raja’ kepada Allah adalah ahli ilmu yang dipuji Allah.

Diriwayatkan dari Abi Hayan at-Taimi bahwasanya dia berkata, “Ulama itu ada tiga, orang yang alim kepada Allah namun tidak alim kepada perintah Allah, alim kepada perintah Allah namun bukan alim kepada Allah, dan alim kepada Allah juga alim kepada perintah Allah. Orang yang alim kepada Allah adalah orang yang takut kepada-Nya, sedangkan orang yang alim kepada perintah-Nya adalah yang mengerti perintah dan larangan-Nya. Disebutkan dalam ash-Shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda, “Demi Allah sesungguhnya aku sangat berharap menjadi orang yang paling takut (khasy-yah) diantara kalian kepada Allah, dan orang yang paling mengerti diantara kalian terhadap batasan-batasan (hudud)Nya.”

Ahlul khasy-yah adalah para ulama yang terpuji di dalam Kitab maupun Sunnah, yang tidak berhak dicela, itu tidak lain karena mereka selalu mengerjakan perintah-perintah Allah sebagaimana ditunjukkan dalam firman-Nya, “Maka Rabb mewahyukan kepada mereka, “Kami pasti akan membinasakan orang yang zhalim itu. Dan kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu setelah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (menghadap) ke hadirat-Ku dan takut akan ancaman-Ku.” (QS. Ibrahim: 13-14) dan juga firman-Nya: “Dan barangsiapa yang takut akan menghadap Rabbnya baginya dua surga.” (QS. ar-Rahman: 46).

Allah menjanjikan pertolongan di dunia dan pahala akhirat bagi ahlul khauf, tidak lain karena mereka selalu menunaikan kewajibannya. Hal ini menunjukkan bahwa rasa takut mengharuskannya menunaikan perintah Allah. Karena itulah dikatakan kepada orang fajir bahwa dia tidak takut kepada Allah. Makna ini ditunjukkan dalam firman Allah, “Sesungguhnya bertaubat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertaubat.” (QS. an-Nisa: 17).

Barangsiapa Mengetahui Allah Pasti Mentaati-Nya

Abul Aliyah berkata, “Aku bertanya kepada para sahabat Muhammad tentang ayat ini, maka mereka menjawab, ‘Siapa saja yang bermaksiat kepada Allah maka dia adalah orang yang jahil, dan setiap orang yang bertaubat sebelum mati maka dia telah bersegera bertaubat’.” Demikian juga yang dikatakan oleh semua ahli tafsir. Mujahid berkata, “Setiap orang yang bermaksiat maka dia adalah jahil ketika bermaksiat.” al-Hasan, Qatadah, Atha’ dan as-Suddi serta lainnya berkata, “Mereka dinamakan juhhal (orang-orang bodoh) lantaran maksiatnya, bukan karena mereka tidak mumayiz (tidak dapat membedakan baik dan buruk .penj).” az-Zujjaj berkata, “Makna ayat itu bukanlah bahwa mereka tidak mengerti jika itu adalah buruk. Karena sesungguhnya seorang muslim jika melakukan perbuatan yang tidak diketahuinya (hukumnya) maka dia sama seperti orang yang tidak melakukan keburukan (tidak berdosa .penj), hanya saja mengandung dua kemungkinan:

Pertama: mereka melakukannya sedangkan tidak mengetahui kemakruhan di dalamnya.

Kedua: mereka mengetahui pasti bahwa balasannya akan buruk, akan tetapi mereka lebih memilih dunia daripada akhirat, sehingga mereka disebut sebagai orang-orang bodoh karena mereka lebih memilih yang sedikit dibanding nikmat yang banyak dan selamanya.” Az-Zujjaj memaknai bodoh di situ yaitu ketidaktahuan dengan akibat perbuatannya dan keinginan yang rusak. Bisa juga dikatakan bahwa keduanya saling berkaitan. Rincian penjelasan mengenai hal ini disebutkan dalam pembahasan mengenai Jahmiyah.

Yang dimaksud disini adalah bahwa setiap pelaku kemaksiatan adalah orang jahil, dan setiap orang yang takut kepada Allah adalah orang alim lagi taat kepada Allah. Dia menjadi jahil dikarenakan kurangnya rasa takutnya kepada Allah, karena jika rasa takutnya kepada Allah itu sempurna maka dia tidak akan bermaksiat.

Ibnu Masud radhiyallahu anhu berkata, “Cukuplah takut (khasy-yah) kepada Allah itu sebagai ilmu, dan cukuplah hanya berangan-angan kepada Allah itu sebagai kebodohan.”

Mengetahui sesuatu yang menakutkan akan membuat orang itu menjauhinya, dan mengetahui sesuatu yang disukai akan membuat orang mencarinya. Jika ia tidak menjauhinya juga tidak mencarinya maka itu berarti dia tidak mengetahui dengan sebenar-benarnya. Mungkin saja dia mengetahuinya dari cerita yang didengarnya, namun gambaran yang didapatnya dari cerita yang didengarnya itu tidaklah sama dengan gambaran sesungguhnya. Demikian juga jika yang diceritakan itu ternyata tidak disukai maupun dibencinya. Manusia itu memang bisa membenarkan apa yang ditakuti dan dicintai oleh selain dirinya, namun hal itu tidak mempengaruhinya. Demikian juga jika ia diceritakan mengenai sesuatu yang disukai dan dibencinya, ia tidak mendustakan si pencerita, namun hatinya sibuk dengan perkara-perkara lain sehingga tidak mengacuhkannya, maka dia tidak akan bereaksi sedikitpun.

Siapa Yang Tidak Mengamalkan Ilmunya Maka Dia Bodoh

Ada sebuah kata-kata yang terkenal dari Hasan al-Bashri dan diriwayatkan secara mursal dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Ilmu ada dua, ilmu di hati dan ilmu di lisan. Ilmu hati adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu (sekedar di) lisan adalah hujjah Allah atas hamba-hamba-Nya.”

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Musa, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasannya beliau bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca al-Qur’an itu seperti buah limau, rasanya manis dan baunya harum. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an adalah seperti buah kurma, rasanya manis namun tidak memiliki aroma. Sedangkan perumpamaan seorang munafik yang membaca al-Qur’an dan menghafalnya adalah seperti raihanah (tanaman wangi) aromanya harum namun rasanya pahit. Perumpamaan seorang munafik yang tidak membaca al-Qur’an adalah seperti hanzhalah rasanya pahit dan tidak ada aromanya.”

Si munafiq yang membaca al-Qur’an, menghafalnya, dan memahami makna-maknanya, bisa jadi dia percaya bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah dan bahwasanya Rasul adalah haq, akan tetapi dia tidak menjadi mukmin. Seperti Yahudi yang mengenal beliau seperti mengenal anak-anaknya sendiri, akan tetapi mereka bukanlah orang-orang yang beriman. Demikian halnya Iblis, Fir’aun dan lainnya. Yang kondisinya seperti itu maka dia tidaklah mendapatkan ilmu maupun makrifat yang sempurna. Karena ilmu dan makrifat itu harus diamalkan konsekuensinya. Sehingga orang yang tidak mengamalkan ilmunya itu disebut sebagai orang bodoh sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Demikian juga kata ‘akal’. Asalnya ia adalah mashdar dari kata (‘aqola-ya’qilu). Banyak para peneliti menggolongkannya sebagai salah satu jenis ilmu sehingga harus dianggap sebagai ilmu yang wajib diamalkan. Maka tidak dinamakan orang berakal kecuali orang yang mengerti kebaikan dan mencarinya, serta mengetahui keburukan dan menjauhinya. Karena itulah para penghuni neraka berkata, “Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. al-Mulk: 10).

Allah berfirman tentang orang-orang munafik “Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak berakal (mengerti).” (QS. al-Hasyr: 14).

Siapa yang melakukan sesuatu yang diketahui akan membahayakannya, maka ia tidaklah memiliki akal. Takut kepada Allah berarti harus mengenal-Nya. Mengenal-Nya berarti harus memiliki rasa takut kepada-Nya, dan takut kepada-Nya berarti taat terhadap-Nya. Maka orang yang takut kepada Allah adalah orang yang melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dan inilah yang kami maksud dalam penjelasan di awal.

Orang Yang Takut Kepada Allah Akan Mendapat Pelajaran

Hal itu ditunjukkan dalam firman Allah, “Oleh sebab itu berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat, orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, dan orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya, (yaitu) orang-orang yang akan memasuki api yang besar (neraka).” (QS. al-A’ala: 9-12).

Allah mengabarkan bahwa orang yang takut kepada-Nya akan mendapat pelajaran, palajaran disini mengharuskan beribadah kepada-Nya, Allah ta'ala berfirman, “Dialah yang memperlihakan tanda-tanda (kukuasaan)-Nya keapdamu dan menurunkan rezeki dari langit untukmu. Dan tidak lain yang mendapat pelajaran hanyalah orang-orang yang kembali kepada (Allah).” (QS. Ghafir: 13), dan kalam-Nya, “Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (tunduk kepada Allah).” (QS. Qaf: 8).

Karena itu para mufassir berkata tentang kalam Allah, “orang yang takut kepada Allah akan mendapat pelajaran” yaitu bahwa orang yang takut kepada Allahlah yang akan mendapat pelajaran dari al-Qur’an, dan dalam menafsirkan firman-Nya “yang mendapat pelajaran hanyalah orang yang kembali kepada (Allah)” yaitu bahwa orang yang kembali kepada ketaatanlah yang akan mendapat pelajaran. Dikarenakan bahwa ketika betul-betul mengingat kembali sesuatu maka hal itu akan mempengaruhinya, jika ia mengingat sesuatu yang dicintai maka akan dicarinya, dan jika mengingat sesuatu yang ditakuti maka akan dijauhinya, kalam-Nya, “Sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.” (QS. al-Baqarah: 6). Allah ta'ala berfirman: “Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Rabb yang Maha pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya.” (QS. Yasin: 11)

Dalam firman-Nya, “Sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman” Dia menafikan peringatan dari mereka. Di satu sisi Allah menetapkan peringatan pada mereka dan menafikannya di sisi lain. Indzar (peringatan) itu adalah i’lam (pemberitahuan) terhadap sesuatu yang ditakuti, maka indzar itu adalah seperti mengajari sekaligus menakut-nakuti. Jika orang yang engkau ajari itu belajar maka selesai sudah pengajarannya, namun ada juga yang engkau ajari tetapi tidak mau belajar. Demikian pula orang yang engkau takut-takuti kemudian ia ketakutan, maka engkau berhasil menakut-nakutinya. Adapun siapa yang ditakut-takuti tetapi tidak ketakutan, engkau gagal menakut-nakutinya. Demikian halnya orang yang engkau beri petunjuk kemudian dia mengambil pentunjuk maka sempurna hidayahnya, ini ditunjukkan oleh firman Allah, “Petunjuk bagi orang-orang yang beriman.” (QS. al-Baqarah: 2), namun barangsiapa yang engkau beri petunjuk tetapi tidak mau, maka dia sebagaimana kalam-Nya, “dan adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu.” (QS. Fushshilat:17). Seperti jika engkau berkata aku memotongnya maka ia terpotong, dan aku memotongnya namun tidak terpotong.

Pengaruh yang sempurna itu harus ada efeknya, jika tidak berefek maka tidak sempurna. Suatu perbuatan jika mendapat tempat yang sesuai maka menjadi sempurna, jika tidak maka tidak sempurna. Mengetahui sesuatu yang disukai maka membuatnya berusaha mencarinya, dan mengetahui sesuatu yang dibenci maka membuatnya berusaha menjauhinya. Oleh karena itu, ilmu ini dinamakan dengan faktor pendorong. Adanya faktor pendorong ditambah dengan kemampuan maka terjadilah tindakan. Mengetahui sesuatu yang hendak dicari maka akan menciptakan keinginan untuk mencari sesuatu yang diketahuinya itu.

Namun semua ini terjadi jika fitrahnya sehat sentosa. Terkadang seseorang itu mengetahui bahwa sesuatu itu enak namun tidak bisa merasakan enaknya bahkan mungkin terasa menyakitkan. Demikian juga jika ia merasa nikmat dengan rasa sakit yang dideritanya. Itu semua jika fitrahnya rusak. Rusaknya disini berefek pada pengetahuan dan tindakannya, seperti orang yang terkena iritasi lidahnya sehingga madu berasa pahit. Indera perasanya telah rusak sampai madu yang manis berasa pahit karena iritasinya itu, juga karena batinnya yang rusak, Allah berfirman, “Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman. Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (QS. al-An’am: 109-110). Sampai di sinilah kutipan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari Kitabul Iman dengan sedikit perubahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar