Rabu, 25 April 2018

BERTAWAKKALLAH PADA ALLAH, BUKAN PADA KEKUATAN

RUMIYAH 7 - ARTIKEL

BERTAWAKKALLAH PADA ALLAH, BUKAN PADA KEKUATAN

Setiap muslim tidak akan menyangkal bahwa mempersiapkan kekuatan untuk jihad fisabilillah itu adalah perkara wajib yang mendesak. Allah ta'ala telah memerintahkannya di dalam kitab-Nya yang mulia dengan firman-Nya, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. al-Anfal: 60).

Tidak diragukan lagi bahwa mempersiapkan kekuatan termasuk hal yang sangat membantu untuk meraih kemenangan.

Para tentara khilafah -dengan karunia Allah ta'ala– telah melaksanakan perintah Ilahi ini. Mereka siapkan segala sesuatunya sesuai dengan taufik Allah. Buahnya telah sedikit terlihat oleh musuh, sedang yang akan datang akan lebih mengerikan dan lebih pahit dengan izin Allah. Namun hendaknya seorang muslim muwahhid tidak sepenuhnya bersandar dan bertawakkal kepada apa yang telah disiapkannya. Hendaknya dia berlepas diri dari daya dan kekuatannya dan hanya bersandar pada daya dan kekuatan Allah. Jangan sekali-kali tertipu dengan kekuatan yang dipunyainya. Meski kekuatan materi adalah salah satu faktor kemenangan tetapi tertipu dengannya adalah salah satu sebab kekalahan.

Sejarah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah teladan yang baik bagi kita. Yang menimpa mereka ketika perang Hunain adalah sebuah pelajaran berharga bagi kita. Allah ta'ala berfirman, “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dan bercerai-berai. Kemudian Allah memberi ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah telah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikian pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. at-Taubah: 25-26).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “Allah ta'ala mengingatkan orang-orang beriman akan karunia dan kebajikan-Nya yang telah dilimpahkannya ketika Dia menolong mereka di berbagai pertempuran bersama Rasul-Nya, bahwa pertolongan itu semata-mata dari sisi Allah, dengan sokongan dan takdir-Nya. Kemenangan itu bukanlah karena jumlah maupun persenjataan. Allah mengingatkan bahwa kemenangan itu datang dari sisi Nya, tanpa memandang banyak atau sedikitnya jumlah pasukan. Di saat Perang Hunain, kaum muslim merasa bangga dengan jumlah yang banyak. Tetapi jumlah yang banyak itu tidak bermanfaat sedikitpun, karena mereka lari mundur kecuali sebagian kecil yang tetap bertahan dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kemudian Allah menurunkan pertolongan dan bantuan-Nya kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.”

Maka wahai mujahid muwahhid, ketahuilah bahwa i’dad kalian itu adalah untuk melaksanakan perintah Allah, sedangkan kemenangan itu hanya datang dari sisi-Nya ?. Engkau beriltizam untuk taat kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya itu adalah sebuah kemenangan. Ketahuilah bahwa sebagaimana engkau diperintahkan untuk mempersiapkan kekuatan, engkau juga diperintahkan untuk bertawakkal kepada-Nya saja bukan kepada yang lain. Allah ta'ala berfirman, “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. ath-Thalaq: 3).

Hendaklah seorang mujahid muwahhid memahami bahwa goyahnya niat dan berubahnya hati lebih berbahaya daripada berapapun jumlah musuh dan lebih berbahaya daripada berapapun jumlah pesawat dan bom-bom yang berjatuhan. Hendaknya ia terus periksa hatinya. Hendaknya ia terus waspada terhadap bisikan-bisikan Iblis, karena ia sangat berupaya untuk merubah niatmu. Dia tidak akan bosan hingga ruh berpisah dari jasad. Hendaklah hatinya selalu bergantung pada Allah semata tanpa ada yang bisa mencabutnya sedikitpun. Hendaknya seorang mujahid muwaahid juga harus mewaspadai ungkapan-ungkapan yang terucap namun amat berpengaruh ke hati, seperti misalnya, “Bahwa para istisyhadi – selain mampu memporak-porandakan musuh – lah yang menentukan jalannya pertempuran.” Atau ungkapan, “Selama kita masih memiliki senjata begini begitu niscaya kita tidak akan pernah mundur atau kalah.” Juga ungkapan, “Segala sesuatu yang telah kita siapkan cukup untuk menimpakan kekalahan kepada musuh.”

Hendaklah aktivitas, ucapan, dan keyakinannya yang kokoh mengungkapkan bahwa tidak boleh bersandar kepada apa yang telah disiapkannya – betapapun pentingnya – kecuali bahwa hal ini adalah dalam rangka melaksanakan perintah Allah.

Wahai mujahid, wahai orang yang keluar dengan niat agar kalimatullah tinggi dan kalimat orang-orang kafir menjadi rendah. Wahai orang yang telah berkorban dengan segala sesuatunya supaya tauhid berkuasa di seluruh penjuru dunia. Jagalah tauhidmu, jangan jadi orang yang mengurangi atau merusaknya. Bertawakkallah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, karena Dialah yang mengatur segala urusan dan pencipta sebab musabbab dengan perintah-Nya ta'ala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar