Rabu, 25 April 2018

NASEHAT PENTING UNTUK PARA MUJAHID (BAGIAN 1)

RUMIYAH 11 - ARTIKEL

NASEHAT PENTING UNTUK PARA MUJAHID (BAGIAN 1)
SYAIKH ABU MUSH'AB AZ-ZARQAWI

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim.” (QS. Ali Imran: 139-140)

Segala puji bagi Allah .... kita memujiNya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kita juga berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa dan keburukan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah niscaya tidak akan ada yang bisa menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah niscaya tidak akan ada yang bisa memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haqq untuk disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasehati umat dan meninggalkannya di atas cahaya putih, yang waktu malamnya ibarat siang. Tidak ada yang tersesat darinya selain orang yang binasa.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102)

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisaa`: 1)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71)

Amma ba’du:

Sejarah akan kembali berulang. Sepanjang masa alur peristiwanya tidak berubah. Para pelaku dan pemerannya boleh berganti, sarananya juga boleh berkembang, tetapi skenario peristiwanya tetap dan kisah perseteruannya tetap sama.

Kebenaran akan berseteru dengan kebatilan, Islam akan berperang melawan kekafiran, jahiliyah, dan kemunafikan akan bersembunyi mengintip, sedangkan orang-orang lemah lagi pengecut memegangi tongkat dari tengah sambil mendukung ummatnya, tetapi mereka lebih mengutamakan dunia mereka, menunggu suasana tenang dan perang selesai, lalu beralih kepada pihak yang kuat dan menaiki bahtera si pemenang. Sungguh buruk apa yang mereka lakukan.

Lain halnya dengan para muwahhid robbani, mereka tetap mengibarkan panji di era kekalahan, tetap mengangkat kepala di era kehinaan yang memalukan, semangat mereka tetap menguap melalui emosi dan pergi menuju Dzat yang maha mengetahui lagi maha melihat, meneladani sang pembawa berita gembira dan pemberi peringatan (Nabi Muhammad), mereka terasing, wajah-wajah mereka diterpa angin kebengisan, kaki-kaki tanpa alas mereka berdarah di sahara yang menyala oleh api permusuhan. Pintu-pintu tertutup untuk mereka. Lantas, merekapun mengetuk pintu langit hingga terbuka. Dari roh surga terdapat sesuatu yang mampu menghidupkan hati. Cahaya iman menyatu dengan mereka, sehingga tidak ada seorangpun diantara mereka yang murtad karena benci agamanya, meskipun dunia memanah mereka dari satu busur.

Umatku...

Timbangan telah cukup penuh dan cairan telah meluber. Orang-orang zhalim telah melampaui batas, para thaghut telah merampas negeri dan para serigala, bahkan para anjing telah menyerang kita.

Manusia mencari solusi di fatamorgana sahara kesesatan, padahal solusi itu ada di hadapan dan di tangan mereka.... Solusi itu adalah jihad fi sabilillah.

Berikut adalah beberapa wasiat para pemimpin jihad yang lebih dahulu meniti jalan yang berbarakah ini, aku mengumpulkannya secara ringkas sebagai tadzkirah (pengingat) untuk diriku dan para ikhwah mujahidin, sebagai motivasi untuk tetap tegar dan ajakan untuk bersabar di atas prinsip.

Wahai para mujahid....

Sungguh, aku tidak mengkhawatirkan banyaknya musuh, canggihnya persenjataan, koalisi kekuatan jahat atas kalian dan tidak pula sedikitnya saudara kalian yang muslim di belahan dunia, tetapi aku mengkhawatirkan diri kalian. Aku khawatir kalian tertimpa virus wahn (cinta dunia dan takut mati), kelemahan, kekalahan dan banyak bermaksiat.

Apa yang pernah terjadi dalam Perang Uhud terdapat pelajaran dan peringatan bagi kalian. Allah azza wa jalla berfirman:

“Sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu.” (Ali ‘Imran: 152)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Di awal siang, kemenangan berpihak kepada umat Islam, tetapi ketika para pemanah melakukan maksiat dan sebagian pasukan melemah, maka sesuatu (kemenangan) yang telah dijanjikan yang bersyarat keteguhan dan ketaatan akhirnya tertunda.” Selesai perkataan beliau rahimahullah....

Dalam pertempuran ini, terdapat beberapa sikap yang menakjubkan, di antaranya: Bahwa musuh berjumlah tiga kali lipat jumlah kaum muslimin. Maka, di awal siang Allah memenangkan umat Islam. Tetapi, ketika mereka bermaksiat, Allah menimpakan bencana kepada mereka di akhir siang.

Jabir radhiyallahu 'anhu berkata, “Pada waktu Perang Uhud, manusia tercerai-berai dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau hanya disertai sebelas orang Anshar beserta Thalhah.”

Di dalam hadits Anas radhiyallahu 'anhu disebutkan: “Sewaktu Perang Uhud, umat Islam tercerai-berai. Anas bin Nadhar berdoa, ‘Ya Allah, aku meminta maaf kepada-Mu atas apa yang telah dilakukan oleh mereka (yaitu para sahabatnya), dan aku berlepas diri kepada mu dari apa juga telah dilakukan oleh mereka –yaitu orang-orang musyrik.’”

Abu Ad-Darda pernah duduk sambil menangis setelah penaklukan Pulau Siprus tatkala melihat tangisan penduduk dan kelompok-kelompok mereka.

Ada yang bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Abu Ad-Darda, di hari Allah memuliakan Islam?”

Dia pun menjawab, “Celaka kalian, betapa hinanya manusia di hadapan Allah jika mereka meninggalkan perintah-Nya. Padahal sebelumnya mereka adalah sebuah ummat yang kuat lagi menang. Mereka meninggalkan perintah Allah, hingga jadilah seperti apa yang kalian lihat.”

Wahai para mujahidin ...

Terkadang kemenangan itu terhambat dan terkadang berbagai kekalahan dan luka mendera barisan kalian. Hal ini tidak aneh, karena itulah sunnatullah (ketentuan Allah) yang telah berlaku pada orang-orang terdahulu dan kamu tidak akan mendapati perubahan pada sunnatullah.

Heraklius pernah bertanya kepada Abu Sufyan, “Saya bertanya kepada Anda, bagaimana perang kalian dengan dia (maksudnya Rasulullah), lantas Anda menjawab bahwa perang yang terjadi adalah silih berganti. Maka demikianlah para Rasul diuji, kemudian mereka mendapatkan kemenangan.”

Sesungguhnya ujian terberat kalian dalam perang adalah dalam hal sabar dan yakin.

Yakin: bahwa Allah akan memenuhi janji-Nya, memenangkan tentara dan kelompok-Nya meskipun setelah beberapa waktu.

Dan sabar: ketika masa-masa berat, karena kemenangan ada bersama kesabaran, solusi ada bersama kesedihan dan bahwa bersama kesulitan akan ada kemudahan.

Ada seorang lelaki bertanya kepada Imam Asy-Syafi’i, dia bertanya, “Wahai Abu Abdillah, mana yang lebih utama bagi seseorang, diberi kekuasaan atau diuji?

Maka, Imam Asy-Syafi’i menjawab, “Dia tidak akan diberi kekuasaan hingga diuji terlebih dahulu.”

Karena Allah telah menguji Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad –shalawat dan salam semoga terlimpah untuk mereka semua, ketika mereka bersabar maka Allah memberi mereka kekuasaan.

Jadi, jangan pernah ada yang beranggapan bisa terlepas dari rasa sakit.

Adalah salah orang yang berprasangka buruk kepada Allah, lalu melihat jumlah dan persenjataan musuh, tetapi lupa dengan janji Allah:

“Allah telah menetapkan bahwa Aku benar-benar menang, dan begitu juga para utusan-Ku (akan menang).” (Al-Mujadalah: 21)

“Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Maa`idah: 56)

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (Ar-Rum: 47)

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa.” (An-Nur: 55)

Jadi, syarat ini balasannya adalah janji yang disyaratkan, yaitu aman, ikhlas dan amal shalih. Baru kemudian kemenangan, tamkin dan kekuasaan:

“Janji Allah, Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya.” (Az-Zumar: 20)

Alangkah indah apa yang dikatakan oleh penulis Tafsir fi Zhilal Al-Qur`an dalam mengomentari Firman Allah azza wa jalla:

“Berapa banyak kelompok yang sedikit mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 249)

“Inilah prinsip dalam perasaan orang-orang yang yakin akan berjumpa Allah. Prinsipnya yaitu kelompok beriman ini berjumlah sedikit, karena ia yang akan meniti tangga derita hingga sampai pada kelompok terpilih, tetapi dialah yang menjadi pemenang karena dia terhubung dengan “sumber” yang kuat, dan juga menjadi cerminan kekuatan yang menang, yaitu kekuatan Allah yang Maha Kuasa atas segala urusan-Nya, Allah yang Maha Perkasa di atas para hamba-Nya, Allah yang menghancurkan orang-orang diktator, yang menghinakan orang-orang zhalim dan yang mengalahkan orang-orang sombong.”

Wahai para mujahidin...

Sungguh demi Allah, kalian berada dalam kondisi yang menyenangkan, tidak sebagaimana yang dikatakan oleh para penggembos yang melihat urusan hanya dengan kacamata materi, lalu tersentak oleh berita-berita Barat dan Arab serta para anteknya berupa kemenangan para partai, dan para mujahidin melarikan diri. Perang itu tidak diukur dengan jumlah personil maupun persenjataan, bukan pula dengan kemenangan maupun kekalahan. Jadi, harus ada ini dan itu, baru setelah itu datang kemenangan dan tamkin (kekuasaan), meskipun setelah beberapa saat.

Syaikhul Islam berkata –ketika itu dia menerangkan berkumpulnya koalisi dari kalangan bangsa Tartar, orang-orang munafik dan yang lain atas umat Islam—: “Fitnah ini memisahkan manusia menjadi 3 kelompok:

1. Thaa`ifah Manshurah: Mereka adalah para mujahid yang memerangi mereka yang melakukan kerusakan.
2. Thaa`ifah Mukhalifah: Adalah pihak musuh dan orang yang beralih kepada mereka dari sampah orang-orang yang mengaku Islam.
3. Thaa`ifah Mukhadzilah: Adalah mereka yang duduk enggan berjihad, meskipun masih berstatus muslim.

Maka, silahkan masing-masing melihat; apakah dia termasuk thaa`ifah manshurah, mukhadzilah, atau mukhalifah? Tidak ada kelompok keempat.

Ketahuilah, bahwa di dalam jihad terdapat kebaikan dunia dan akhirat, dan jika ditinggalkan akan mengalami kerugian dunia dan akhrat. Allah azza wa jalla berfirman, “Katakanlah: “Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan.” (At-Taubah: 52)

Artinya, kebaikan itu adalah pertolongan dan kemenangan, maupun kesyahidan dan surga.

Siapapun yang tetap hidup di antara para mujahidin, maka dia akan hidup mulia, baginya pahala dunia dan pahala yang baik di akhirat, sedangkan siapa pun yang mati atau terbunuh, maka dia akan dimasukkan ke surga.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Orang yang mati syahid akan diberi enam keistimewaan, yaitu 1. diampuni dosanya sejak tetesan darahnya yang pertama, 2. diperlihatkan tempat tinggalnya di surga, 3. dikenakan padanya perhiasan iman, 4. dinikahkan dengan 72 bidadari, 5. dilindungi dari fitnah kubur dan 6. aman dari huru-hara terdahsyat (Hari Kiamat).”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat seratus derajat, jarak antara tiap derajat adalah ibarat jarak langit dan bumi. Allah Ta’ala mempersiapkannya untuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya.”

Ini artinya, ketinggian 50.000 tahun di surga adalah untuk ahli jihad...

Sampai pada perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Demikian juga, para ulama sepakat –sepanjang pengetahuanku— bahwa tidak ada ibadah tathawwu’ yang lebih utama dari jihad, karena jihad lebih utama daripada haji, puasa, dan shalat sunah.

Ibadah ribath (berjaga di perbatasan) lebih utama dari pada ibadah di sekitar Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis. Hingga Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, “Jika aku ribath satu malam di jalan Allah, itu lebih aku sukai dari pada mendapatkan malam Lailatul Qadar di samping Hajar aswad.”

Abu Hurairah lebih memilih menjalani ribath satu malam daripada ibadah di malam terbaik dan di tempat terbaik.”

Syaikhul Islam berkata lagi, “Dan ketahuilah, semoga Allah memperbaiki kalian, bahwa kemenangan adalah bagi orang-orang beriman, surga bagi orang-orang bertakwa dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan yang berbuat baik.”

Para musuh itu akan dikalahkan lagi terdesak. Allah azza wa jalla adalah penolong kita atas mereka, membalaskan dendam kita kepada mereka dan tiada daya dan kekuatan selain dengan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Maka, bergembiralah dengan pertolongan Allah azza wa jalla dan kesudahan yang baik (surga).

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali ‘Imran: 139)

Dan ini adalah perkara yang telah kita yakini dan kita realisasikan. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.”

Kemudian beliau rahimahullah berkata, “Dan ketahuilah –semoga Allah memperbaiki kalian— bahwa di antara nikmat terbesar bagi orang yang dikehendaki baik oleh Allah adalah Dia menghidupkannya hingga saat ini, yaitu ketika Allah memperbarui agama ini, menghidupkan kembali simbol-simbol umat Islam dan kondisi orang-orang beriman dan para mujahidin, hingga kembali mirip dengan as-sabiqun al-awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar.

Maka siapa yang saat ini melakukan hal tersebut (berjihad), maka dia termasuk orang yang mengikuti mereka dengan baik, yaitu orang-orang yang diridhai oleh Allah dan mereka juga ridha kepada-Nya, dan Allah menyiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.

Maka, seyogyanya orang-orang beriman bersyukur kepada Allah ta'ala atas ujian, yang pada hakikatnya adalah karunia besar lagi mulia dari Allah, dan fitnah ini yang di dalamnya terdapat nikmat yang besar, hingga demi Allah, seandainya para as-sabiqun al-awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan yang lain turut hadir di zaman ini, niscaya amal mereka yang paling utama adalah berjihad melawan mereka, orang-orang yang jahat. Dan tidak ada yang dari absen dari perang ini selain orang yang merugi perniagaannya, membodohi diri sendiri dan terhalang mendapatkan bagian yang besar di dunia dan akhirat, kecuali bagi yang diuzur oleh Allah azza wa jalla, seperti orang yang sakit, fakir, buta dan yang lain.” Selesai perkataan Syaikhul Islam Rahimahullahu.

Syaikhul Islam juga berkata, “Puncak itu semua adalah jihad fi sabilillah, karena jihad adalah hal tertinggi yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Para pencelanya cukup banyak, karena banyak orang beriman yang justru membencinya, baik mereka menjadi penggembos yang gemar melemahkan semangat dan niat, maupun menjadi murjif (penyebar kabar bohong) yang gemar melemahkan kekuatan dan kemampuan. Semua itu adalah termasuk kemunafikan.” Selesai perkataan beliau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar