RUMIYAH 11 - PENGANTAR
ENTAH MUSYRIKIN YANG BINASA ATAU KAMI YANG BINASA
Para Rafidhah telah memerangi Mosul. Mereka pamerkan mobil-mobil tempur mereka, tank-tank baja mereka dalam barisan konvoi yang sangat panjang, hampir-hampir ujungnya tak terlihat. Mereka janjikan para majikan Salibis mereka bahwa mereka akan menuntaskan peperangan hanya dalam beberapa hari. Dan inilah –dengan karunia Allah– peperangan yang dahsyat telah memasuki bulan ke delapan. Konvoi kendaraan Rafidhah hancur lebur di tangan junud Khilafah yang sabar dalam ribath. Divisi dan brigade mereka musnah. Sementara yang lari dari peperangan akan mendapatkan hukuman dari ‘tuan’ mereka (Salibis) berupa bombardir atau dibunuh. Akan tetapi dengan keadaan demikian, kaum musyrikin masih selalu menjanjikan para tuannya dengan kemenangan dalam beberapa hari saja.
Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada mujahidin Mosul, baik bala tentara maupun komandannya, atas jasanya untuk Islam dan kaum muslimin. Mereka telah menyelami peperangan yang paling dahsyat dan paling besar sepanjang sejarah. Mereka contohkan makna keteguhan kepada seluruh dunia yang sangat jarang terjadi di zaman kita ini. Mereka sama sekali tidak membiarkan agama ini dalam kehinaan, tidak menyerah kepada para musuh, dan tidaklah mereka mundur dari suatu tempat kecuali mereka telah penuhi dengan potongan tubuh dan darah musyrikin hingga mereka tidak senang untuk terus maju dan tidak mudah pula merasa gembira dengan kemenangan yang mudah. Seperti inilah karakter para ahli tauhid di mana saja.
Kisah tentang keteguhan dan kepahlawanan mereka dalam berperang tidaklah asing. Inilah peperangan di Sirte, Fallujah, Al-Bab, dan peperangan mereka yang tercatat oleh sejarah menjadi saksi atas kejujuran perkataan mereka, eloknya perilaku mereka, Sungguh, barangsiapa yang loyal kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, maka ketahuilah bahwa pasukan Allah (Hizbullah), mereka yang akan menang.
Hari ini adalah milik ahli tauhid dan tentara khilafah di Raqqah, supaya mereka menyaingi saudara-saudara mereka dalam mendapatkan ridha Sang Pencipta alam semesta dan mendapatkan kedudukan tinggi di jannah kelak, yaitu dengan menggigit teguh perbatasan dengan gigi geraham, mengorbankan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, serta membenarkan janji Allah yang akan diberikan kepada mereka.
Hendaklah setiap dari mereka berkata; Allah akan melihat apa yang aku lakukan pada hari ini, lalu bertemu musuh pada barisan pertama, sama sekali tidak menoleh ke belakang ketika peperangan berkecamuk sampai menemui Rabb mereka. Maka sungguh Allah azza wa jalla tersenyum atas yang mereka perbuat, dan Dia Ridha kepada mereka.
Para murtadin datang dengan keadaan takut dan grogi, mereka yakin bahwa perang ini tidak seperti perang sebelumnya dalam menghadapi tentara khilafah. Maka dari itu, mereka menyiapkan segalanya untuk menghadapi peperangan ini tidak sebagimana pada perang yang lain. Mereka menyiapkan pasukan melebihi persiapan pasukan pada peperangan yang lain.
Para Salibis memberikan bantuan yang belum pernah ada sebelumnya. Para petinggi militer Salibis selalu mengingatkan kepada sekutunya bahwa perang ini bukan peperangan yang mudah, akan memakan waktu yang tidak sedikit, dan berupaya semaksimal mungkin untuk terus bertempur meski harus mendapatkan kerugian dan memerlukan waktu yang panjang.
Tetapi pada kenyataannya, Salibis dan sekutunya meyakini bahwa tidak ada satu pasukan pun yang bisa bertahan berperang untuk mengganti kerugian yang lebih besar dari kemampuannya. Masanya lebih panjang dari kekuatannya dari segi waktu dan beban.
Jika demikian adanya, tentara Salibis Amerika akan lari meninggalkan perang, hengkang dari Irak dalam keadaan kalah telak setelah mendapatkan perlawanan keras dari mujahidin. Begitu juga, para petinggi mereka mengetahui masalah besar yang akan mereka hadapi, yang setiap saat mengancam negara mereka seperti krisis ekonomi, kewibawaan mereka jatuh, dan strategi yang kacau disebabkan beban yang tinggi.
Dan termasuk faktor terbesar ketakutan para Salibis dan sekutunya yang murtad adalah mereka memahami dengan baik kapasitas kekuatannya, dan mengetahui bahwa pasukan PKK dengan jumlah yang sedikit dengan perlengkapan persenjataan yang memberatkan keuangan Salibis, dan pasukan murtadin yang mereka tangkap di jalan supaya ikut bertempur setelah melakukan pelatihan yang buruk.
Semua itu –dengan izin Allah— membuat mereka tidak akan mampu bertahan dalam perang dahsyat seperti perang di Mosul. Juga, mereka tidak akan mampu menanggung sebagian kecil dari beban sangat besar yang menimpa pasukan Rafidhah dalam perang tersebut. Mereka tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk membantu mengganti semua kerugian.
Kita telah melihat apa yang terjadi di perang Manbij, bahwa hampir saja mereka hancur hanya dalam waktu dua bulan saja. Kalaulah bukan karena Allah memutuskan sesuatu yang pasti terjadi.
Sesungguhnya kewajiban bagi setiap mujahid di Raqqah, di manapun ia berada, hendaklah berpikir untuk menjadikan perang ini sebagai medan laga untuk menghancurkan murtadin, sebagai balasan atas kekafiran mereka kepada Allah Yang Maha Besar, permusuhan mereka terhadap agama-Nya, dan penyelesaian terakhir dari peperangan yang panjang.
Maka perang ini tidak akan berhenti kecuali salah satu dari kedua pasukan hancur. Entah kita mengancurkan mereka dengan kekuatan Allah lalu mereka merugi di dunia dan di akhirat atau kita yang akan binasa hingga menemui Allah dalam keadaan teguh dalam agama, dan membantai musuh-musuhnya, lalu kami menang sebagaimana Ashabul Ukhdud mendapatkan kemenangan, beruntung di akhirat, negeri yang kekal.
Tidak ada pilihan ketiga antara kami dan mereka. Sungguh Allah akan menolong orang-orang yang menolong-Nya. Sungguh Allah Maha kuat lagi Maha Mulia.
ENTAH MUSYRIKIN YANG BINASA ATAU KAMI YANG BINASA
Para Rafidhah telah memerangi Mosul. Mereka pamerkan mobil-mobil tempur mereka, tank-tank baja mereka dalam barisan konvoi yang sangat panjang, hampir-hampir ujungnya tak terlihat. Mereka janjikan para majikan Salibis mereka bahwa mereka akan menuntaskan peperangan hanya dalam beberapa hari. Dan inilah –dengan karunia Allah– peperangan yang dahsyat telah memasuki bulan ke delapan. Konvoi kendaraan Rafidhah hancur lebur di tangan junud Khilafah yang sabar dalam ribath. Divisi dan brigade mereka musnah. Sementara yang lari dari peperangan akan mendapatkan hukuman dari ‘tuan’ mereka (Salibis) berupa bombardir atau dibunuh. Akan tetapi dengan keadaan demikian, kaum musyrikin masih selalu menjanjikan para tuannya dengan kemenangan dalam beberapa hari saja.
Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada mujahidin Mosul, baik bala tentara maupun komandannya, atas jasanya untuk Islam dan kaum muslimin. Mereka telah menyelami peperangan yang paling dahsyat dan paling besar sepanjang sejarah. Mereka contohkan makna keteguhan kepada seluruh dunia yang sangat jarang terjadi di zaman kita ini. Mereka sama sekali tidak membiarkan agama ini dalam kehinaan, tidak menyerah kepada para musuh, dan tidaklah mereka mundur dari suatu tempat kecuali mereka telah penuhi dengan potongan tubuh dan darah musyrikin hingga mereka tidak senang untuk terus maju dan tidak mudah pula merasa gembira dengan kemenangan yang mudah. Seperti inilah karakter para ahli tauhid di mana saja.
Kisah tentang keteguhan dan kepahlawanan mereka dalam berperang tidaklah asing. Inilah peperangan di Sirte, Fallujah, Al-Bab, dan peperangan mereka yang tercatat oleh sejarah menjadi saksi atas kejujuran perkataan mereka, eloknya perilaku mereka, Sungguh, barangsiapa yang loyal kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, maka ketahuilah bahwa pasukan Allah (Hizbullah), mereka yang akan menang.
Hari ini adalah milik ahli tauhid dan tentara khilafah di Raqqah, supaya mereka menyaingi saudara-saudara mereka dalam mendapatkan ridha Sang Pencipta alam semesta dan mendapatkan kedudukan tinggi di jannah kelak, yaitu dengan menggigit teguh perbatasan dengan gigi geraham, mengorbankan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, serta membenarkan janji Allah yang akan diberikan kepada mereka.
Hendaklah setiap dari mereka berkata; Allah akan melihat apa yang aku lakukan pada hari ini, lalu bertemu musuh pada barisan pertama, sama sekali tidak menoleh ke belakang ketika peperangan berkecamuk sampai menemui Rabb mereka. Maka sungguh Allah azza wa jalla tersenyum atas yang mereka perbuat, dan Dia Ridha kepada mereka.
Para murtadin datang dengan keadaan takut dan grogi, mereka yakin bahwa perang ini tidak seperti perang sebelumnya dalam menghadapi tentara khilafah. Maka dari itu, mereka menyiapkan segalanya untuk menghadapi peperangan ini tidak sebagimana pada perang yang lain. Mereka menyiapkan pasukan melebihi persiapan pasukan pada peperangan yang lain.
Para Salibis memberikan bantuan yang belum pernah ada sebelumnya. Para petinggi militer Salibis selalu mengingatkan kepada sekutunya bahwa perang ini bukan peperangan yang mudah, akan memakan waktu yang tidak sedikit, dan berupaya semaksimal mungkin untuk terus bertempur meski harus mendapatkan kerugian dan memerlukan waktu yang panjang.
Tetapi pada kenyataannya, Salibis dan sekutunya meyakini bahwa tidak ada satu pasukan pun yang bisa bertahan berperang untuk mengganti kerugian yang lebih besar dari kemampuannya. Masanya lebih panjang dari kekuatannya dari segi waktu dan beban.
Jika demikian adanya, tentara Salibis Amerika akan lari meninggalkan perang, hengkang dari Irak dalam keadaan kalah telak setelah mendapatkan perlawanan keras dari mujahidin. Begitu juga, para petinggi mereka mengetahui masalah besar yang akan mereka hadapi, yang setiap saat mengancam negara mereka seperti krisis ekonomi, kewibawaan mereka jatuh, dan strategi yang kacau disebabkan beban yang tinggi.
Dan termasuk faktor terbesar ketakutan para Salibis dan sekutunya yang murtad adalah mereka memahami dengan baik kapasitas kekuatannya, dan mengetahui bahwa pasukan PKK dengan jumlah yang sedikit dengan perlengkapan persenjataan yang memberatkan keuangan Salibis, dan pasukan murtadin yang mereka tangkap di jalan supaya ikut bertempur setelah melakukan pelatihan yang buruk.
Semua itu –dengan izin Allah— membuat mereka tidak akan mampu bertahan dalam perang dahsyat seperti perang di Mosul. Juga, mereka tidak akan mampu menanggung sebagian kecil dari beban sangat besar yang menimpa pasukan Rafidhah dalam perang tersebut. Mereka tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk membantu mengganti semua kerugian.
Kita telah melihat apa yang terjadi di perang Manbij, bahwa hampir saja mereka hancur hanya dalam waktu dua bulan saja. Kalaulah bukan karena Allah memutuskan sesuatu yang pasti terjadi.
Sesungguhnya kewajiban bagi setiap mujahid di Raqqah, di manapun ia berada, hendaklah berpikir untuk menjadikan perang ini sebagai medan laga untuk menghancurkan murtadin, sebagai balasan atas kekafiran mereka kepada Allah Yang Maha Besar, permusuhan mereka terhadap agama-Nya, dan penyelesaian terakhir dari peperangan yang panjang.
Maka perang ini tidak akan berhenti kecuali salah satu dari kedua pasukan hancur. Entah kita mengancurkan mereka dengan kekuatan Allah lalu mereka merugi di dunia dan di akhirat atau kita yang akan binasa hingga menemui Allah dalam keadaan teguh dalam agama, dan membantai musuh-musuhnya, lalu kami menang sebagaimana Ashabul Ukhdud mendapatkan kemenangan, beruntung di akhirat, negeri yang kekal.
Tidak ada pilihan ketiga antara kami dan mereka. Sungguh Allah akan menolong orang-orang yang menolong-Nya. Sungguh Allah Maha kuat lagi Maha Mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar