Rabu, 25 April 2018

NASEHAT PENTING UNTUK PARA MUJAHID (BAGIAN 3, SELESAI)

RUMIYAH 13 - ARTIKEL

NASEHAT PENTING UNTUK PARA MUJAHID (BAGIAN 3, SELESAI)
SYAIKH ABU MUSH'AB AZ-ZARQAWI

Wahai para mujahid...

Orang-orang munafik dan para perampok di jalan menuju Allah akan berkata kepada kalian, “Apakah kalian mengira bahwa sesuatu yang kalian inginkan akan terwujud dan bahwa Khilafah Islam atau bahkan Daulah Islam akan tegak? Sungguh, itu tidak mungkin terjadi. Hal ini tidak lebih sekedar khayalan dari pada realitas.”

Jika mereka mengatakan hal itu, maka ingatlah firman Allah Ta’ala: “(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya”. (Allah berfirman): “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Anfal : 49)

Dan katakan kepada mereka, “Sesungguhnya Allah akan menaklukkan kota Roma untuk kaum muslimin sebagaimana dijanjikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits shahih, sebagaimana sebelumnya kota Konstantinopel telah ditaklukkan.

Katakan kepada mereka, “Sesungguhnya kita mengharapkan pertolongan Allah; sesuatu yang lebih jauh dari itu. Kita berharap kepada Allah agar menaklukkan Gedung Putih, Kremlin, dan London. Kita bersama janji Allah: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana orang-orang sebelum mereka berkuasa.” (An-Nur: 55)

Adapun persoalan kapan hal itu terjadi, maka itu bukanlah urusan kita, dan Allah tidak membebani kita dengan hal itu. Allah hanya menugaskan kita untuk beramal untuk agama, membela syariat, fokus, dan mengerahkan kemampuan terbaik untuk hal itu. Adapun hasilnya, maka itu adalah urusan Allah.

Tugasmu adalah menabur benih, bukan memetik hasil
Dan Allah adalah penolong terbaik bagi orang-orang yang mau berusaha

Ketika Imam Ahmad rahimahullah diuji dalam fitnah “Al-Quran adalah makhluk”, dan fitnah ini muncul dengan ditopang penguasa, datanglah pemimpin bid'ah Ahmad bin Abi Duad menemui Imam Ahmad, dia lalu berkata sinis, “Tidakkah engkau lihat, bagaimana kebathilan mengalahkan kebenaran, wahai Ahmad?"

Imam Ahmad rahimahullah pun menjawab, “Sungguh, kebathilan tidak akan mengalahkan kebenaran, karena kemenangan kebathilan atas kebenaran adalah beralihnya hati manusia dari kebenaran menuju kebathilan. Sedangkan hati kami tetap melazimkan kebenaran.”

Katakan kepada mereka sebagaimana perkataan Nabi Ya’qub alaihis salam : “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku).” (Yusuf: 94)

Di tengah banyaknya ujian dan tekanan seperti ini, tetapi kami mencium aroma kebebasan, kemenangan dan tamkin (kekuasaan). Sekiranya kalian tidak menuduhku lemah akal.

Banyak manusia yang berkata pada kalian, “Sungguh, kalian benar-benar berada dalam kesesatan kalian yang lama.”

Orang-orang munafik juga pernah berkata kepada para Sahabat setelah perang Uhud, “Kembalilah kepada agama nenek moyang kalian.”

Kata-kata ini sering diucapkan orang-orang munafik kepada orang-orang beriman di setiap waktu, apabila para mujahid fi sabilillah ditimpa musibah, atau didera pembunuhan, luka, penjara dan penyiksaan. Jadi, jika mereka berkata demikian, maka katakan pada mereka, “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.” (Al-Hajj: 38)

“Dan Allah benar-benar akan menolong siapa yang menolong Nya.” (Al-Hajj: 40)

Orang-orang munafik juga akan berkata kepada kalian sebagaimana yang pernah mereka katakan tentang orang-orang dalam tragedi mata air Ar-Raji’ yang dikhianati oleh orang-orang musyrik : “Kasihan, mereka adalah orang-orang yang tertipu binasa seperti ini, mereka tidak lagi bisa berkumpul dengan keluarga dan juga tidak berhasil menunaikan risalah sahabat mereka.”

Kata-kata seperti ini akan dilontarkan kepada kalian pada hari-hari ini, setiap kali sebagian ikhwah terbunuh. Mereka tidak mau duduk agar selamat, tapi juga tidak mampu menghapus kemungkaran dan dosa-dosa yang membinasakan. Maka, jika kalian mendengar hal ini, katakan pada mereka sebagaimana perkataan Ash-Shiddiqah Khadijah: “Bergembiralah, karena Allah tidak akan menghinakan anda selamanya.”

Jadi, kami katakan kepada setiap mujahid fi sabilillah, “Sekali-kali tidak, Demi Allah, Allah selamanya tidak akan menghinakan kalian, karena kalian biasa menyambung silaturahim, membela syariat, dan berjihad di jalan Allah melawan siapapun yang kafir kepada Allah dari kalangan Yahudi, Salibis, dan murtadin.

Sejarawan Muhammad Al-Bassam berkata dalam kitabnya “Ad-Durar wa Al-Mafakhir fi Akhbar Al-’Arab Al-’Awwakh” mengenai para ulama dakwah Nejed ketika memerangi Raja Mesir, “Tidak, demi Allah, Raja Mesir tidaklah mengalahkan mereka karena mereka lemah atau pengecut. Tetapi mereka kalah akibat pengkhianatan orang-orang Arab, atau kemauan para penduduk negeri.”

Wahai para mujahid...

Kalian telah menjual diri kalian kepada Allah azza wa jalla, tidak ada pilihan lain bagi kalian selain menyerahkan ‘barang’ kepada ‘Sang Pembeli’: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 111)

Jika ‘Sang Pembeli’ telah menerima barang yang dibelinya, maka terserah dia hendak berbuat apapun, dan silahkan Dia menyimpannya sekehendak-Nya. Jika mau, dia bisa menyimpannya di istana, atau di penjara. Jika mau, dia boleh memberinya pakaian mewah, atau dibuatnya telanjang bulat, hingga menyisakan kain penutup aurat. Jika mau, dia bisa membuatnya kaya atau miskin. Dan jika mau, dia bisa menggantungnya di tiang gantungan atau dibuatnya dikuasai oleh musuhnya yang kemudian membunuh atau mencincangnya.

Sayyid Quthb rahimahullah berkata mengomentari peristiwa Ashabul Ukhdud : “Tidak mesti harus ada contoh seperti ini, di mana di dalamnya orang-orang beriman tidak selamat, sedang orang-orang kafir tidak mendapat hukuman apapun. Hal itu tidak lain agar tertanam di dalam indera orang-orang beriman; para juru dakwah yang menyeru kepada Allah, bahwa terkadang mereka harus mengalami kesudahan seperti ini dalam perjalanan menuju Allah. Mereka sama sekali tidak memiliki otoritas dalam urusan ini, dan justru urusan mereka dan urusan aqidah adalah otoritas Allah.

Mereka cukup menunaikan kewajiban, setelah itu pergi. Kewajiban mereka adalah memilih Allah dan lebih memprioritaskan aqidah dari pada kehidupan. Tetap tegar dengan keimanan menghadapi berbagai fitnah, serta jujur kepada Allah dalam amal dan niat. Kemudian biarlah Allah berbuat terhadap mereka dan terhadap para musuh mereka sebagaimana yang Dia lakukan terhadap dakwah dan agama-Nya sesuai kehendak-Nya. Dan mengakhiri mereka seperti akhir kisah-kisah di atas yang telah dikenal dalam sejarah keimanan, atau akhir kisah lain yang hanya diketahui dan dilihat oleh Allah.”

Merekalah orang-orang yang akan mendapatkan pahala di sisi Allah. Pantaskah orang yang telah menjual seekor kambing marah kepada si pembeli jika dia menyembelihnya, atau pantaskah hatinya berubah karena hal itu?!

Belumkah engkau mendengar apa yang telah menimpa “sang singa Allah” dan “singa Rasul-Nya” yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib? Perutnya dibelah, hatinya dikeluarkan, dan dia dicincang.

Dan apa yang dialami oleh Sang Manusia terbaik shallallahu alaihi wasallam sewaktu Perang Uhud. Perhatikan pula para nabi dan rasul, mereka adalah manusia pilihan; Ibrahim as dilemparkan ke dalam api, Zakaria alaihis salam digergaji, sang panutan lagi mampu menahan diri yaitu Yahya disembelih, Ayyub tinggal dalam ujian selama beberapa tahun, Yunus dipenjara di dalam perut ikan paus, dan Yusuf dijual dengan harga murah serta menetap di penjara selama beberapa tahun.

Semua itu mereka jalani, dan mereka ridha kepada Rabb dan pelindung mereka yang Maha Benar. Sebagian salaf berkata, “Seandainya tubuhku dipotong-potong dengan gunting, hal itu lebih aku cintai dari pada aku harus mengatakan tentang sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah, seandainya saja hal itu tidak terjadi.”

Wahai para ikhwah, jadilah kalian seperti mereka yang urusan mereka tidak mengintervensi pengaturan Dzat Sang Pelindung mereka, dan pilihan mereka tidak bertentangan dengan pilihan Allah Yang Maha Suci. Mereka tidak pernah mengintervensi pengaturan Allah terhadap kerajaan-Nya (seperti ucapan: “jika begini niscaya akan begini”, atau ucapan: “semoga”, “seandainya”, dan “duh kiranya”).

Pilihan Allah untuk hamba-Nya yang beriman adalah pilihan terbaik, bahkan paling utama meskipun tampaknya sulit dan berat, atau meskipun melenyapkan harta-benda, kehilangan pangkat dan jabatan, kehilangan keluarga dan harta atau bahkan lenyapnya dunia dan seisinya.

Ingatlah kisah perang Badar dan renungkan baik-baik; ketika itu sebagian sahabat radhiyallahu 'anhum ingin menguasai kafilah dagang, tetapi Allah ta'ala memilihkan perang untuk mereka. Dan Perbedaan antara keduanya sangat besar.

Apa yang ada dalam kafilah dagang? Yang ada adalah bahan makanan yang bisa dimakan yang kemudian dibuang di toilet, pakaian usang yang kemudian dicampakkan dan dunia yang segera lenyap.

Adapun pasukan perang, bersamanya ada al-furqan (pembeda) yang dengannya Allah memisahkan antara yang kebenaran dan kebathilan. Kalah dan hancurnya kesyirikan serta kemuliaan dan kemenangan tauhid. Terjadi pembunuhan terhadap tokoh-tokoh musyrikin yang sentiasa menjadi batu sandungan di hadapan Islam. Dan cukuplah Allah telah melihat para peserta Perang Badar, lalu berfirman kepada mereka, “Berbuatlah sesuka kalian, karena Aku telah mengampuni kalian.”

Wahai para mujahid...

Ketika ujian datang, maka banyak yang berguguran. Janganlah kalian bersedih. Imam Muslim meriwayatkan di dalam kitab Shahihnya, dari Anas radhiyallahu 'anhu bahwa kaum Quraisy pernah menekan perjanjian dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu mereka mengajukan syarat, “Bahwa siapapun diantara kalian yang datang kepada kami, niscaya tidak akan kami kembalikan kepada kalian. Namun jika ada di antara kami yang datang kepada kalian, maka kalian harus mengembalikannya kepada kami."

Lantas para sahabat bertanya, “Apakah kami harus menulisnya?”

Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Ya. Sungguh, siapapun diantara kita yang pergi kepada mereka, berarti Allah akan menjauhkannya (dari hidayah), sedang siapapun di antara mereka yang datang kepada kita, semoga Allah memberikan solusi dan kebebasan kepadanya.”

Maka, jangan bersedih terhadap orang yang Allah jauhkan (dari hidayah).

Betapa indah ungkapan Ibnu Qayyim rahimahullah, “Engkau mesti menapaki jalan kebenaran, dan jangan risau karena sedikitnya orang yang berjalan di atasnya. Setiap kali engkau merasa risau dalam kesendirianmu, maka tengoklah teman pendahulu dan bersemangatlah untuk menyusul mereka. Tundukkan pandangan matamu dari selain mereka, karena mereka sama sekali tidak berguna bagimu. Jika mereka meneriakimu di jalan yang engkau tapaki, maka jangan menoleh sedikit pun ke arah mereka, karena tatkala kamu menoleh kepada mereka, niscaya mereka akan menangkap dan menghalangimu.” (Selesai perkataan beliau rahimahullah)

Waspadalah, jangan sampai hati kalian terpesona oleh syubhat (penyimpangan/kerancuan) yang dilontarkan para ‘pembegal’ dan orang-orang yang kalah, yang hendak menghalangi kalian dari jalan jihad. Hal ini, murni hidayah dan taufiq dari Allah. Sungguh, Allah Ta’ala telah berpaling dari mereka secara halus, lantas menghinakan mereka meskipun dalam hati dan akal mereka banyak ilmu karena begitu banyaknya kitab dan matan yang telah mereka telaah.

Permasalahannya bukan hanya pada banyaknya ilmu, namun rasa taqwa kepada Allah yang melahirkan al-furqan (pemisah) keimanan. “Hai orang-orang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan kepada kalian.” (Al-Anfal: 29)

Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam yang mengatakan, “Sungguh aku curahkan seluruh bidang ilmu kepada umat. Barangsiapa yang Allah sinari hatinya, niscaya Allah memberinya hidayah. Dan barangsiapa yang Allah butakan hatinya, niscaya banyaknya buku hanya akan membuatnya semakin bingung dan tersesat.”

Ya Allah, berikanlah tamkin untuk para muwahhid di muka bumi.
Ya Allah, berikanlah tamkin untuk para muwahhid di muka bumi.
Ya Allah, mobilisasilah pasukan mereka, kirimkanlah pasukan infanteri mereka, dan ikhlaskan niat-niat mereka.
Ya Allah, jagalah mereka dengan penjagaan-Mu.
Ya Allah, jagalah mereka dengan penjagaan-Mu.
Ya Allah, jagalah mereka dengan penjagaan-Mu.
Ya Allah, pantau mereka dengan mata-Mu yang tidak pernah tertidur, sedangkan para makhluk semuanya tertidur.
Ya Allah, mudahkanlah setiap kebaikan untuk mereka.
Ya Allah, siapa ingin berbuat baik kepada mereka, maka mudahkanlah dia untuk setiap kebaikan.
Dan barangsiapa yang ingin berbuat jahat kepada mereka, maka siksalah dia dengan keras.
Ya Allah, lindungi mereka dan lindungi kehormatan mereka.
Ya Allah, lindungi mereka dan lindungi kehormatan mereka.
Ya Allah, lindungi mereka dan lindungi kehormatan mereka.
Ya Allah, sungguh mereka adalah orang-orang miskin, maka muliakanlah mereka dengan kemuliaan Mu. Wahai Rabb Semesta Alam.
Ya Allah, sungguh mereka adalah orang-orang fakir, maka muliakan mereka dengan karuniaMu. Wahai Rabb Semesta Alam.
Ya Allah, hidupkanlah umat Muhammad.
Ya Allah, hidupkanlah umat Muhammad.
Ya Allah, hidupkanlah umat Muhammad.
Ya Allah, tolonglah umat Muhammad.
Wahai Rabb Semesta Alam.
Wahai Rabb kami. Wahai Rabb kami.
Wahai Rabb kami, menangkanlah kami atas kaum yang zhalim.
Wahai Rabb kami, menangkanlah kami atas orang-orang kafir.
Ya Allah, ambillah darah kami hingga Engkau ridha.
Ya Allah, ambillah darah kami hingga Engkau ridha.
Ya Allah, ambillah darah kami hingga Engkau ridha.
Ya Allah, letakkan kami di perut-perut binatang buas dan paruh-paruh burung.
Ya Allah, letakkan kami di perut-perut binatang buas dan paruh-paruh burung.
Ya Allah, letakkan kami di perut-perut binatang buas dan paruh-paruh burung.

Walhamdulillahi rabbil 'alamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar