WAWANCARA DENGAN ABU UBAIDAH AL-LUBNANI (BAGIAN 1): TANZHIM AL-QO’IDAH DI KHUROSAN HABIS TOTAL SETELAH BERENCANA MENGKHIANATI DAULAH ISLAMIYAH
Dia berhijrah ke Khurosan, mencari jihad demi menegakkan syari’at Alloh, hanya untuk menemukan dirinya di tengah belantara kelompok-kelompok dan tanzhim-tanzhim di wilayah yang didominasi oleh hukum-hukum kesukuan Jahiliyah, sampai Alloh menganugerahkan kepadanya hijrah ke Darul Islam dan bergabung dengan tentara Khilafah. Penanggung jawab keamanan al-Qo’idah Khurosan, penanggung jawab kamp-kamp dalam Komite Militer, dan anggota Majelis Penasehat Tanzhim al-Qo’idah berbicara kepada an-Naba’ tentang sepenggal kisahnya bersama Tanzhim, seraya menganalisa realitas faksi-faksi dan prediksi nasib akhirnya berdasarkan pengalamannya di Waziristan.
An-Naba’: Bagaimana Anda melihat realitas dan masa depan Tanzhim al-Qo’idah Suriah, berdasarkan pengetahuan Anda yang dalam tentang Tanzhim al-Qo’idah di Khurosan?
Abu Ubaidah: Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada orang yang diutus dengan pedang sebagai rahmat bagi semesta alam, serta kepada keluarganya, semua sahabatnya, dan orang yang berjalan di atas peri kehidupannya sampai hari kiamat. Wa ba’d.
Melalui realitas-realitas yang kita lihat dan berita-berita yang sampai ke telinga kita, realitas Tanzhim al-Qo’idah Suriah sangat serupa dengan kondisi al-Qo’idah di Khurosan sebelum musnah secara total dan eksistensinya habis, khususnya di wilayah-wilayah Waziristan yang dulu merupakan merupakan benteng utama bagi Tanzhim ini. Yang saya maksud adalah kondisi Tanzhim ini dari segi keberpalingannya dari menerapkan syari’at, sikap manisnya kepada orang-orang murtad, dan kelengketannya dengan faksi-faksi yang tidak samar hubungannya dengan para thoghut.
Begitu pula prioritas yang mereka berikan untuk menjaga nama Tanzhim dan memperbesar ukurannya, tanpa memandang aqidah orang-orang yang bergabung dengan mereka. Dengan persamaan keduanya dalam kondisi ini, saya menduga —wallohu a’lam— keduanya juga akan sama dalam nasib akhir. Cabang al-Qo’idah di Suriah akan habis sebagaimana Tanzhim pusatnya habis, yang berarti habisnya proyek azh-Zhowahiri di Syam.
An-Naba’: Yang diketahui oleh kebanyakan orang adalah bahwa al-Jaulani lah yang membuat proyek azh-Zhowahiri di Syam dengan mendeklarasikan bai’at kepadanya setelah peristiwa pengkhianatan yang terkenal. Jadi siapa sebenarnya yang punya proyek?
Abu Ubaidah: Proyek al-Qo’idah di Syam telah dimulai sejak lama sebelum al-Jaulani mendeklarasikan bai’at kepada azh-Zhowahiri. Bahkan bisa kita katakan bahwa proyek ini telah dimulai sejak hari-hari pertama masuknya mujahidin Daulah Islamiyah Iraq ke Syam dan dimulainya aksi-aksi mereka terhadap rezim Nushoiriyah dengan nama Jabhatun Nushroh”. Ketika itu al-Qo’idah memiliki dua jalur pekerjaan. Pertama, bersama Ahrorusy Syam. Abu Kholid as-Suri lah yang bekerja dengan mereka. Dia berkomunikasi dengan azh-Zhowahiri dan menginformasikan kepadanya rincian kondisi. Sebagaimana ada komunikasi untuk mengirimkan salah seorang syar’iy, yaitu Abu Maryam al-Azdiy, sebagai delegasi dari al-Qo’idah kepada Ahrorusy Syam, berdasarkan hubungannya yang lama dengan syar’iy Abu ‘Abdil Malik. Tetapi langkah ini tidak terlaksana, disebabkan oleh penangkapan al-Azdiy. Adapun jalur kedua dari proyek, ia berada di bawah arahan langsung para pemimpin al-Qo’idah di Khurosan. Para pemimpin al-Qo’idah di Khurosan ketika itu menunjuk ‘Abdulloh al-‘Adam yang terkenal Abu Ubaidah al-Maqdisi sebagai penanggung jawab atas file Syam. Dia pun mulai mengirimkan kader-kader al-Qo’idah dari Khurosan ke Syam.
An-Naba’: Kenapa mereka mengirimkan kader-kader ke Syam, padahal mereka sangat membutuhkan kader-kader itu di Khurosan dalam suasana perang besar-besaran yang dilancarkan terhadap mereka?
Abu Ubaidah: Kondisi di Waziristan ketika itu sangat buruk. Mata-mata ada di mana-mana dan pesawat tanpa awak di udara tak henti-hentinya membombardir elemen-elemen al-Qo’idah. Hal ini membuka peluang bagi setiap orang yang ingin pergi ke Syam. Dan ‘Abdulloh al-‘Adam mengambil sumpah dari mereka agar secara khusus pergi kepada al-Jaulani. Secara pribadi dia telah meminta saya untuk bergabung dengan al-Jaulani di Syam. Dan ketika saya bertanya kepadanya tentang sebab keinginannya untuk mengirimkan saya dan kader-kader al-Qo’idah lainnya ke sana, dia menjawab bahwa mereka ingin membuat pijakan kaki bagi mereka di Syam.
An-Naba’: Bagaimana perpindahan dari Khurosan ke Syam terjadi?
Abu Ubaidah: Masalah ini relatif mudah. Para koordinator al-Qo’idah mengatur masuknya individu-individu ke Iran. Di sana para musafir tinggal di rumah-rumah tamu untuk masa tertentu, sampai pengaturan urusan perjalanan mereka ke Syam selesai, dengan sepengetahuan pemerintah Rofidhoh Iran dan di bawah pengawasan perangkat-perangkat intelijennya. Bahkan begitu musafir masuk ke salah satu rumah tamu, intelijen telah mengetahui kedatangannya melalui para penanggung jawab rumah-rumah tamu yang bertemu dengan intelijen Iran setiap minggu. Sebagaimana telpon rumah-rumah tamu juga berada di bawah pendengaran dan kontrol mereka.
Barangkali Anda merasa heran dengan perkataan saya ini tentang bagaimana Iran mengizinkan para pejuang untuk menyeberang ke Syam, padahal mereka akan memerangi tentaranya, milisi-milisinya, dan sekutu-sekutunya di sana. Tetapi inilah realitasnya. Perhatian utama Iran adalah agar aksi-aksi tidak terjadi di atas tanahnya. Sebagaimana ia tetap aman dari sisi al-Qo’idah karena keberadaan banyak dari pemimpin al-Qo’idah di atas tanahnya.
Sebagian dari mereka berkelana dengan bebas, sebagaimana halnya ‘Athiyatulloh al-Libi sebelum kembali ke Khurosan. Dan sebagian dari mereka berada di bawah tahanan rumah di rumah-rumah milik pemerintah Rofidhoh, sebagaimana halnya Saiful ‘Adl dan Abu Muhammad al-Mishriy. Para pemimpin itu tidak memandang kekafiran orang-orang Rofidhoh dan memakan sembelihan-sembelihan mereka. Bahkan di antara mereka ada yang memandang orang-orang Rofidhoh sebagai sahabat atau sekutu dalam perang terhadap Amerika. Ini di samping keinginan Iran untuk memanfaatkan al-Qo’idah dalam menekan Amerika dan sekutu-sekutunya di antara para thoghut negara-negara Teluk.
Kita bisa menyebutkan contohnya dukungan yang diberikan oleh Iran kepada Kataib ‘Abdulloh ‘Azzam yang menyempal dari al-Qo’idah untuk melaksanakan aksi yang mentargetkan kapal tanker di teluk Arab beberapa tahun lalu. Melalui jalan ini saya kemudian berhijrah. Tetapi saya tinggal lama di Iran, sampai para koordinator al-Qo’idah memastikan bahwa saya tidak akan berhijrah ke tanah Daulah Islamiyah. Demikianlah saya lolos dari cengkeraman intelijen Iran yang mengetahui keberadaan saya melalui para koordinator rumah-rumah tamu al-Qo’idah. Dan intelijen Iran mencurigai tujuan saya, sebagaimana para koordinator juga curiga.
An-Naba’: Apakah para pemimpin al-Qo’idah benar-benar mengetahui pekerjaan al-Jaulani dan siapa yang diikutinya?
Abu Ubaidah: Saya telah menanyakan pertanyaan ini kepada ‘Abdulloh al-‘Adam. Dan dia menjawab bahwa mereka mengetahui bahwa asy-Syaikh Abu Bakr al-Baghdadi—hafizhohulloh—telah mengirim al-Jaulani dari Iraq untuk bekerja di Syam, tetapi mereka tidak ingin “eksperimen Iraq” terulang di Syam. Yang dia maksud dengan itu adalah Daulah Islamiyah Iraq.
An-Naba’: Bagaimana bisa mereka tidak menginginkan terulangnya eksperimen Daulah Islamiyah Iraq, padahal mereka dulu mendorong faksi-faksi di Iraq untuk berbaiat kepadanya, memuji pada pemimpinnya, dan mengatakan bahwa di dalam pendeklarasiannya terdapat taufiq robbani?
Abu Ubaidah: Ini di media saja. Adapun realitasnya, sama sekali tidak demikian. Mereka menyatakan dengan terang-terangan dalam majlis-majlis khusus mereka menolak manhaj Daulah Islamiyah Iraq. Saya telah mendengar ini secara pribadi dari salah seorang pembesar mereka. Mereka menolak deklarasi Daulah Islamiyah dan penegakkan hukum-hukum syariat, dengan klaim bahwa seluruh Iraq adalah “Darul Harbi”. Bahkan mereka menolak manhaj mujahidin di Iraq sebelum deklarasi Daulah. Mereka misalnya menentang manhaj asy-Syaikh Abu Mush’ab az-Zarqowi rohimahulloh dalam mentargetkan orang-orang Rofidhoh.
An-Naba’: Anda mengatakan bahwa permulaan proyek al-Qo’idah di Syam hampir beriringan waktunya dengan dimulainya pekerjaan mujahidin Daulah Islamiyah Iraq. Lantas bagaimana mereka mengetahui sejak dini bahwa Daulah Islamiyah ingin menerapkan eksperimennya yang sama di Iraq di medan Syam, padahal pengerjaannya belum berjalan kecuali selama waktu yang pendek?
Abu Ubaidah: Saya telah memberitahukan kepada Anda sebelumnya bahwa Abu Kholid as-Suri berkirim surat dengan para pemimpin al-Qo’idah di Khurosan dan menceritakan kepada mereka berita-berita yang terjadi di Syam. Surat-suratnya kebanyakan berisi provokasi terhadap Daulah Islamiyah Iraq dan mujahidinnya yang bekerja di medan Syam. Di dalamnya dia mengulang-ulangi permintaannya kepada para pemimpin al-Qo’idah agar berusaha mengeluarkan mujahidin Daulah Islamiyah Iraq dari Syam dan meyakinkan mereka agar kembali ke Iraq, dengan klaim bahwa itu lebih baik bagi medan Syam. Dari sisi lain, surat-surat al-Jaulani kepada para pemimpin al-Qo’idah juga memuat isi yang sama.
Kesimpulannya mereka telah menemukan dalam perkara ini pembenaran untuk memulai proyek mereka di Syam dan mengkhianati Daulah Islamiyah Iraq dengan cara mengilfiltrasi kelompoknya yang bekerja di Syam dan menguasainya, kemudian menggabungkannya dengan Tanzhim al-Qo’idah.
An-Naba’: Tetapi Anda telah menyebutkan bahwa proyek al-Qo’idah di Syam berjalan di atas dua jalur. Pertama, ke arah penguasaan terhadap kelompok yang berada di bawah Daulah Islamiyah Iraq. Dan kedua, dengan berkoordinasi dengan faksi-faksi, terutama Ahrorusy Syam.
Abu Ubaidah: Ya. Azh-Zhowahiri berharap melalui pekerjaan Abu Kholid as-Suri dalam kepemimpinan Ahrorusy Syam agar as-Suri mendekatkan al-Qo’idah dengan faksi-faksi. Dalam salah satu surat-menyuratnya dengan as-Suri, azh-Zhowahiri meminta as-Suri agar mengumpulkan faksi-faksi dan mengambil darinya sumpah untuk bekerja sama dengan al-Qo’idah. Tetapi as-Suri menolak, dengan alasan bahwa kondisi tidak mengizinkan atau bahwa waktu tidak tepat untuk perkara ini. Di sisi lain, ‘Abdulloh al-‘Adam mengirim kader-kader kepada al-Jaulani dan mempersiapkan segala hal untuk perpindahan para pemimpin dari barisan pertama al-Qo’idah ke Syam.
Menurut pendapat saya, rencana azh-Zhowahiri berdiri di atas peleburan Jabhatun Nusroh setelah dikuasai ke dalam Ahrorusy Syam. Tetapi hal ini tidak terlaksana, disebabkan oleh terbunuhnya Abu Kholid as-Suri, sedangkan dialah yang melaksanakan proyek pendekatan Ahrorusy Syam dengan al-Qo’idah. Begitu pula terbunuhnya hampir semua pemimpin barisan pertama dalam al-Qo’idah, terutama Abu Ubaidah al-‘Adam, salah seorang pelaksana proyek pengkhianatan terhadap Daulah Islamiyah Iraq melalui penguasaan terhadap Jabhatun Nushroh.
Selanjutnya al-Jaulani dan orang-orang yang bersamanya berhasil menetralisir orang-orang yang datang dari Khurosan dan membekukan aktifitas mereka sejak hari-hari pertama dari kedatangan mereka di Syam. Surat-surat yang datang dari mereka menyebutkan bahwa mereka tidak disambut dengan baik oleh para pemimpin Jabhatun Nushroh yang ingin menjadikan faksi mereka bersifat Suriah murni. Bahkan mereka mengeluhkan gangguan-gangguan dari Abu Firros as-Suri, meskipun mereka telah lama mengenalnya sejak masa keberadaannya di Afghonistan. Dan kita telah menemukan bahwa sebagian dari mereka menyempal dari Jabhatun Nushroh dan bergabung dengan faksi-faksi lain, terutama Jundul Aqsho.
An-Naba’: Bagaimana bisa proyek utama al-Qo’idah adalah bergabung dengan Ahrorusy Syam pada waktu faksi ini tidak samar pertemuan-pertemuannya dan hubungan-hubungannya dengan pemerintahan-pemerintahan thoghut di negara-negara kawasan?
Abu Ubaidah: Seperti halnya mereka berbaiat kepada Akhtar Manshur, sedangkan mereka mengetahui hubungannya dengan thoghut-thoghut Pakistan dan perangkat-perangkat intelijennya. Al-Qo’idah —sebagaimana Anda tahu— ingin menjauhkan diri dari memerangi para thoghut yang berkuasa di negeri-negeri kaum muslimin dan tidak memerangi seorang pun dari mereka kecuali orang yang memulai memerangi al-Qo’idah, dengan alasan mencurahkan tenaga untuk memerangi kepala kekafiran dunia, yaitu Amerika.
Karena itu ia berusaha bersembunyi di balik faksi-faksi dan kelompok-kelompok yang diridhoi oleh para thoghut, untuk berlindung di balik mereka dengan cara berbaur dengan barisan-barisan mereka. Bahkan tidak apa-apa menurut al-Qo’idah untuk membatasi perangnya terhadap orang-orang yang para thoghut meridhoi perang terhadap mereka, untuk melindungi dirinya dari serangan para thoghut itu. Apa yang terjadi di Khurosan adalah sebaik-baik contoh bagi Anda, di mana al-Qo’idah berhubungan dengan sejumlah faksi yang berhubungan dengan intelijen Pakistan, terutama gerakan Tholiban yang bersifat nasional.
Begitu pula ketika terjadi perpecahan di dalam Tahrik Tholiban di daerah-daerah Waziristan, al-Qo’idah segera berhubungan dengan cabang yang menolak untuk memerangi para thoghut di Pakistan dan yang terkenal dengan cabang Halaqoh Mas’ud yang dipimpin oleh orang yang disebut “Sijnuh’. Koresponden azh-Zhowahiri telah meminta saya ketika itu untuk menghentikan hubungan dengan cabang yang dipimpin oleh Hakimulloh, dalam posisi saya sebagai delegasi Tanzhim al-Qo’idah di Majelis Syuro Tholiban di Waziristan Utara. Yang demikian itu karena Hakimulloh bersikukuh memerangi pemerintah Pakistan, sebagaimana dia juga mentargetkan sekte-sekte sesat seperti Isma’iliyah dan Rofidhoh sampai di kuil-kuil mereka.
Yang lebih penting dari semua itu adalah bahwa eksistensi satu-satunya yang tersisa bagi al-Qo’idah di kawasan itu dan yang dikenal dengan Tanzhim al-Qo’idah di Semenanjung India dikuasai oleh tokoh-tokoh yang menentang perang terhadap para thoghut Pakistan, terutama orang yang dipanggil Ahmad Faruq. Dan itu dengan dukungan dari salah seorang yang dekat dengan azh-Zhowahiri dan keluarganya. Sebagaimana azh-Zhowahiri juga menyerahkan kepadanya pengawasan Muassasah as-Sahab berbahasa Urdu yang ditujukan kepada Semenanjung India.
Dengan demikian, arus yang memerangi para thoghut, seperti kelompok Ilyas Kashmiri dan Badr Manshur berhasil disingkirkan, agar perang teralihkan secara keseluruhan dari perang terhadap para thoghut Pakistan kepada perang yang mereka ridhoi, yaitu perang terhadap India, musuh klasik Pakistan.
Dan setelah terbunuhnya Ahmad Faruq dalam sebuah pengeboman yang mentargetkannya bersama ‘Azzam al-Amriki dan dua orang tawanan Salibis, dia digantikan dalam memimpin Tanzhim oleh Maulawi ‘Ashim ‘Umar yang sebelumnya merupakan seorang pemimpin dalam Harokah Mujahidin yang mendapat dukungan dari intelijen Pakistan dan yang pekerjaannya sebelumnya terbatas pada memerangi tentara India kafir di Kashmir.
Dengan demikian, sekarang Anda bisa mengatakan bahwa Tanzhim al-Qo’idah di Semenanjung India dipimpin oleh orang-orang yang memiliki ikatan dengan intelijen Pakistan. Dan banyak di antara mereka yang merupakan orang-orang sufi Deobandi. Bahkan mereka tidak memandang kemurtadan pemerintah Pakistan. Mereka mengikuti ulama Pakistan, bukan syar’i al-Qo’idah, di antaranya si murtad Maulana Fadhlur Rohman, anggota Parlemen Pakistan, yang seperti Syaikh bagi Ahmad Faruq dan para pengikutnya.
Saya kira Anda tidak akan berpendapat bahwa pemerintah Turki yang padanya Ahrorusy Syam terikat memiliki banyak perbedaan dengan pemerintah Pakistan. Bahkan di antara para pemimpin al-Qo’idah ada yang memandang thoghut Erdogan sebagai orang muslim, meskipun dia memerintah dengan selain apa yang diturunkan oleh Alloh dan bersikap loyal kepada para Salibis, yaitu Salim ath-Thoroblusi yang merupakan syar’i umum pada al-Qo’idah Khurosan. Selanjutnya, apa masalahnya jika al-Qo’idah berhubungan dengan faksi yang berhubungan dengan pemerintah Turki?
An-Naba’: Bagaimana bisa masuk akal bahwa Tanzhim al-Qo’idah berhubungan dengan intelijen Pakistan, padahal para mata-mata intelijen Pakistan lah yang berada di balik pembunuhan semua pemimpin al-Qo’idah, dan pasukan Pakistan bersama Shohawat yang berhubungan dengannya lah yang telah menghabisi eksistensi al-Qo’idah di Waziristan?
Abu Ubaidah: Agar Anda dapat memahami masalah ini dengan baik, Anda harus mengetahui hakikat intelijen Pakistan. Ia sama seperti semua badan intelijen di dunia, terdiri dari banyak divisi. Masing-masing dari divisi-divisi ini melaksanakan sebagian dari tujuan-tujuan pemerintahan thoghut. Misalnya ada divisi yang diarahkan untuk perang melawan India. Di bawah pengawasannya semua faksi dan gerakan yang berjuang melawan India di Kashmir bekerja. Ada divisi lain yang diarahkan untuk mengatur urusan-urusan Afghonistan. Yaitu divisi yang dulu mengawasi faksi-faksi yang memerangi orang-orang komunis pada masa lalu, dan selanjutnya kini mengawasi gerakan Tholiban.
Ada divisi lain yang bekerja untuk melayani intelijen Amerika. Yaitu divisi yang mengarahkan perang terhadap al-Qo’idah di Waziristan di atas tanah, melalui Shohawat dan para mata-mata yang membantu pesawat-pesawat tanpa awak Amerika dalam menentukan posisi markas-markas dan rumah-rumah tamu, serta melacak para pemimpin dan para elemen. Divisi inilah yang melancarkan serangan terhadap al-Qo’idah.
Sementara di saat yang sama ada divisi-divisi lain yang memanfaatkan al-Qo’idah dan sekutu-sekutunya dalam mewujudkan tujuan-tujuan thoghut Pakistan.
An-Naba’: Saya terpaksa menutup wawancara pada titik ini, tanpa bisa memuaskan keinginan saya untuk mendapatkan lebih banyak informasi tentang pengalaman Anda bersama al-Qo’idah. Dan saya yakin bahwa para pembaca sangat antusias untuk mengetahui pendapat Anda seputar nasib akhir cabang al-Qo’idah di Syam berdasarkan negosiasi-negosiasi yang sedang dipersiapkan saat ini antara rezim Nushoiriyah dan Shohawat. Karena itu, saya akan mengambil lebih banyak waktu dari Anda pada pertemuan lain —in syaa-a Alloh— untuk memberitahukan kepada kami dan para pembaca tentang perkara-perkara ini, jika Anda tidak keberatan dalam hal ini.
Abu Ubaidah: Dengan senang hati. Semua yang saya saksikan atau saya ketahui tentang perkara-perkara ini akan saya hadirkan ke hadapan Anda semua. Tujuan kita adalah agar tragedi Waziristan tidak terulang, dan agar kaum muslimin sadar bahwa faksi-faksi itu menjauhkan mereka dari syari’at dan tidak mendekatkan mereka kepadanya. Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam.
An-Naba’: Semoga Alloh membalas Anda dengan kebaikan atas kelapangan dada Anda. Wassalamu ’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
An-Naba’ Edisi 19
Dia berhijrah ke Khurosan, mencari jihad demi menegakkan syari’at Alloh, hanya untuk menemukan dirinya di tengah belantara kelompok-kelompok dan tanzhim-tanzhim di wilayah yang didominasi oleh hukum-hukum kesukuan Jahiliyah, sampai Alloh menganugerahkan kepadanya hijrah ke Darul Islam dan bergabung dengan tentara Khilafah. Penanggung jawab keamanan al-Qo’idah Khurosan, penanggung jawab kamp-kamp dalam Komite Militer, dan anggota Majelis Penasehat Tanzhim al-Qo’idah berbicara kepada an-Naba’ tentang sepenggal kisahnya bersama Tanzhim, seraya menganalisa realitas faksi-faksi dan prediksi nasib akhirnya berdasarkan pengalamannya di Waziristan.
An-Naba’: Bagaimana Anda melihat realitas dan masa depan Tanzhim al-Qo’idah Suriah, berdasarkan pengetahuan Anda yang dalam tentang Tanzhim al-Qo’idah di Khurosan?
Abu Ubaidah: Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada orang yang diutus dengan pedang sebagai rahmat bagi semesta alam, serta kepada keluarganya, semua sahabatnya, dan orang yang berjalan di atas peri kehidupannya sampai hari kiamat. Wa ba’d.
Melalui realitas-realitas yang kita lihat dan berita-berita yang sampai ke telinga kita, realitas Tanzhim al-Qo’idah Suriah sangat serupa dengan kondisi al-Qo’idah di Khurosan sebelum musnah secara total dan eksistensinya habis, khususnya di wilayah-wilayah Waziristan yang dulu merupakan merupakan benteng utama bagi Tanzhim ini. Yang saya maksud adalah kondisi Tanzhim ini dari segi keberpalingannya dari menerapkan syari’at, sikap manisnya kepada orang-orang murtad, dan kelengketannya dengan faksi-faksi yang tidak samar hubungannya dengan para thoghut.
Begitu pula prioritas yang mereka berikan untuk menjaga nama Tanzhim dan memperbesar ukurannya, tanpa memandang aqidah orang-orang yang bergabung dengan mereka. Dengan persamaan keduanya dalam kondisi ini, saya menduga —wallohu a’lam— keduanya juga akan sama dalam nasib akhir. Cabang al-Qo’idah di Suriah akan habis sebagaimana Tanzhim pusatnya habis, yang berarti habisnya proyek azh-Zhowahiri di Syam.
An-Naba’: Yang diketahui oleh kebanyakan orang adalah bahwa al-Jaulani lah yang membuat proyek azh-Zhowahiri di Syam dengan mendeklarasikan bai’at kepadanya setelah peristiwa pengkhianatan yang terkenal. Jadi siapa sebenarnya yang punya proyek?
Abu Ubaidah: Proyek al-Qo’idah di Syam telah dimulai sejak lama sebelum al-Jaulani mendeklarasikan bai’at kepada azh-Zhowahiri. Bahkan bisa kita katakan bahwa proyek ini telah dimulai sejak hari-hari pertama masuknya mujahidin Daulah Islamiyah Iraq ke Syam dan dimulainya aksi-aksi mereka terhadap rezim Nushoiriyah dengan nama Jabhatun Nushroh”. Ketika itu al-Qo’idah memiliki dua jalur pekerjaan. Pertama, bersama Ahrorusy Syam. Abu Kholid as-Suri lah yang bekerja dengan mereka. Dia berkomunikasi dengan azh-Zhowahiri dan menginformasikan kepadanya rincian kondisi. Sebagaimana ada komunikasi untuk mengirimkan salah seorang syar’iy, yaitu Abu Maryam al-Azdiy, sebagai delegasi dari al-Qo’idah kepada Ahrorusy Syam, berdasarkan hubungannya yang lama dengan syar’iy Abu ‘Abdil Malik. Tetapi langkah ini tidak terlaksana, disebabkan oleh penangkapan al-Azdiy. Adapun jalur kedua dari proyek, ia berada di bawah arahan langsung para pemimpin al-Qo’idah di Khurosan. Para pemimpin al-Qo’idah di Khurosan ketika itu menunjuk ‘Abdulloh al-‘Adam yang terkenal Abu Ubaidah al-Maqdisi sebagai penanggung jawab atas file Syam. Dia pun mulai mengirimkan kader-kader al-Qo’idah dari Khurosan ke Syam.
An-Naba’: Kenapa mereka mengirimkan kader-kader ke Syam, padahal mereka sangat membutuhkan kader-kader itu di Khurosan dalam suasana perang besar-besaran yang dilancarkan terhadap mereka?
Abu Ubaidah: Kondisi di Waziristan ketika itu sangat buruk. Mata-mata ada di mana-mana dan pesawat tanpa awak di udara tak henti-hentinya membombardir elemen-elemen al-Qo’idah. Hal ini membuka peluang bagi setiap orang yang ingin pergi ke Syam. Dan ‘Abdulloh al-‘Adam mengambil sumpah dari mereka agar secara khusus pergi kepada al-Jaulani. Secara pribadi dia telah meminta saya untuk bergabung dengan al-Jaulani di Syam. Dan ketika saya bertanya kepadanya tentang sebab keinginannya untuk mengirimkan saya dan kader-kader al-Qo’idah lainnya ke sana, dia menjawab bahwa mereka ingin membuat pijakan kaki bagi mereka di Syam.
An-Naba’: Bagaimana perpindahan dari Khurosan ke Syam terjadi?
Abu Ubaidah: Masalah ini relatif mudah. Para koordinator al-Qo’idah mengatur masuknya individu-individu ke Iran. Di sana para musafir tinggal di rumah-rumah tamu untuk masa tertentu, sampai pengaturan urusan perjalanan mereka ke Syam selesai, dengan sepengetahuan pemerintah Rofidhoh Iran dan di bawah pengawasan perangkat-perangkat intelijennya. Bahkan begitu musafir masuk ke salah satu rumah tamu, intelijen telah mengetahui kedatangannya melalui para penanggung jawab rumah-rumah tamu yang bertemu dengan intelijen Iran setiap minggu. Sebagaimana telpon rumah-rumah tamu juga berada di bawah pendengaran dan kontrol mereka.
Barangkali Anda merasa heran dengan perkataan saya ini tentang bagaimana Iran mengizinkan para pejuang untuk menyeberang ke Syam, padahal mereka akan memerangi tentaranya, milisi-milisinya, dan sekutu-sekutunya di sana. Tetapi inilah realitasnya. Perhatian utama Iran adalah agar aksi-aksi tidak terjadi di atas tanahnya. Sebagaimana ia tetap aman dari sisi al-Qo’idah karena keberadaan banyak dari pemimpin al-Qo’idah di atas tanahnya.
Sebagian dari mereka berkelana dengan bebas, sebagaimana halnya ‘Athiyatulloh al-Libi sebelum kembali ke Khurosan. Dan sebagian dari mereka berada di bawah tahanan rumah di rumah-rumah milik pemerintah Rofidhoh, sebagaimana halnya Saiful ‘Adl dan Abu Muhammad al-Mishriy. Para pemimpin itu tidak memandang kekafiran orang-orang Rofidhoh dan memakan sembelihan-sembelihan mereka. Bahkan di antara mereka ada yang memandang orang-orang Rofidhoh sebagai sahabat atau sekutu dalam perang terhadap Amerika. Ini di samping keinginan Iran untuk memanfaatkan al-Qo’idah dalam menekan Amerika dan sekutu-sekutunya di antara para thoghut negara-negara Teluk.
Kita bisa menyebutkan contohnya dukungan yang diberikan oleh Iran kepada Kataib ‘Abdulloh ‘Azzam yang menyempal dari al-Qo’idah untuk melaksanakan aksi yang mentargetkan kapal tanker di teluk Arab beberapa tahun lalu. Melalui jalan ini saya kemudian berhijrah. Tetapi saya tinggal lama di Iran, sampai para koordinator al-Qo’idah memastikan bahwa saya tidak akan berhijrah ke tanah Daulah Islamiyah. Demikianlah saya lolos dari cengkeraman intelijen Iran yang mengetahui keberadaan saya melalui para koordinator rumah-rumah tamu al-Qo’idah. Dan intelijen Iran mencurigai tujuan saya, sebagaimana para koordinator juga curiga.
An-Naba’: Apakah para pemimpin al-Qo’idah benar-benar mengetahui pekerjaan al-Jaulani dan siapa yang diikutinya?
Abu Ubaidah: Saya telah menanyakan pertanyaan ini kepada ‘Abdulloh al-‘Adam. Dan dia menjawab bahwa mereka mengetahui bahwa asy-Syaikh Abu Bakr al-Baghdadi—hafizhohulloh—telah mengirim al-Jaulani dari Iraq untuk bekerja di Syam, tetapi mereka tidak ingin “eksperimen Iraq” terulang di Syam. Yang dia maksud dengan itu adalah Daulah Islamiyah Iraq.
An-Naba’: Bagaimana bisa mereka tidak menginginkan terulangnya eksperimen Daulah Islamiyah Iraq, padahal mereka dulu mendorong faksi-faksi di Iraq untuk berbaiat kepadanya, memuji pada pemimpinnya, dan mengatakan bahwa di dalam pendeklarasiannya terdapat taufiq robbani?
Abu Ubaidah: Ini di media saja. Adapun realitasnya, sama sekali tidak demikian. Mereka menyatakan dengan terang-terangan dalam majlis-majlis khusus mereka menolak manhaj Daulah Islamiyah Iraq. Saya telah mendengar ini secara pribadi dari salah seorang pembesar mereka. Mereka menolak deklarasi Daulah Islamiyah dan penegakkan hukum-hukum syariat, dengan klaim bahwa seluruh Iraq adalah “Darul Harbi”. Bahkan mereka menolak manhaj mujahidin di Iraq sebelum deklarasi Daulah. Mereka misalnya menentang manhaj asy-Syaikh Abu Mush’ab az-Zarqowi rohimahulloh dalam mentargetkan orang-orang Rofidhoh.
An-Naba’: Anda mengatakan bahwa permulaan proyek al-Qo’idah di Syam hampir beriringan waktunya dengan dimulainya pekerjaan mujahidin Daulah Islamiyah Iraq. Lantas bagaimana mereka mengetahui sejak dini bahwa Daulah Islamiyah ingin menerapkan eksperimennya yang sama di Iraq di medan Syam, padahal pengerjaannya belum berjalan kecuali selama waktu yang pendek?
Abu Ubaidah: Saya telah memberitahukan kepada Anda sebelumnya bahwa Abu Kholid as-Suri berkirim surat dengan para pemimpin al-Qo’idah di Khurosan dan menceritakan kepada mereka berita-berita yang terjadi di Syam. Surat-suratnya kebanyakan berisi provokasi terhadap Daulah Islamiyah Iraq dan mujahidinnya yang bekerja di medan Syam. Di dalamnya dia mengulang-ulangi permintaannya kepada para pemimpin al-Qo’idah agar berusaha mengeluarkan mujahidin Daulah Islamiyah Iraq dari Syam dan meyakinkan mereka agar kembali ke Iraq, dengan klaim bahwa itu lebih baik bagi medan Syam. Dari sisi lain, surat-surat al-Jaulani kepada para pemimpin al-Qo’idah juga memuat isi yang sama.
Kesimpulannya mereka telah menemukan dalam perkara ini pembenaran untuk memulai proyek mereka di Syam dan mengkhianati Daulah Islamiyah Iraq dengan cara mengilfiltrasi kelompoknya yang bekerja di Syam dan menguasainya, kemudian menggabungkannya dengan Tanzhim al-Qo’idah.
An-Naba’: Tetapi Anda telah menyebutkan bahwa proyek al-Qo’idah di Syam berjalan di atas dua jalur. Pertama, ke arah penguasaan terhadap kelompok yang berada di bawah Daulah Islamiyah Iraq. Dan kedua, dengan berkoordinasi dengan faksi-faksi, terutama Ahrorusy Syam.
Abu Ubaidah: Ya. Azh-Zhowahiri berharap melalui pekerjaan Abu Kholid as-Suri dalam kepemimpinan Ahrorusy Syam agar as-Suri mendekatkan al-Qo’idah dengan faksi-faksi. Dalam salah satu surat-menyuratnya dengan as-Suri, azh-Zhowahiri meminta as-Suri agar mengumpulkan faksi-faksi dan mengambil darinya sumpah untuk bekerja sama dengan al-Qo’idah. Tetapi as-Suri menolak, dengan alasan bahwa kondisi tidak mengizinkan atau bahwa waktu tidak tepat untuk perkara ini. Di sisi lain, ‘Abdulloh al-‘Adam mengirim kader-kader kepada al-Jaulani dan mempersiapkan segala hal untuk perpindahan para pemimpin dari barisan pertama al-Qo’idah ke Syam.
Menurut pendapat saya, rencana azh-Zhowahiri berdiri di atas peleburan Jabhatun Nusroh setelah dikuasai ke dalam Ahrorusy Syam. Tetapi hal ini tidak terlaksana, disebabkan oleh terbunuhnya Abu Kholid as-Suri, sedangkan dialah yang melaksanakan proyek pendekatan Ahrorusy Syam dengan al-Qo’idah. Begitu pula terbunuhnya hampir semua pemimpin barisan pertama dalam al-Qo’idah, terutama Abu Ubaidah al-‘Adam, salah seorang pelaksana proyek pengkhianatan terhadap Daulah Islamiyah Iraq melalui penguasaan terhadap Jabhatun Nushroh.
Selanjutnya al-Jaulani dan orang-orang yang bersamanya berhasil menetralisir orang-orang yang datang dari Khurosan dan membekukan aktifitas mereka sejak hari-hari pertama dari kedatangan mereka di Syam. Surat-surat yang datang dari mereka menyebutkan bahwa mereka tidak disambut dengan baik oleh para pemimpin Jabhatun Nushroh yang ingin menjadikan faksi mereka bersifat Suriah murni. Bahkan mereka mengeluhkan gangguan-gangguan dari Abu Firros as-Suri, meskipun mereka telah lama mengenalnya sejak masa keberadaannya di Afghonistan. Dan kita telah menemukan bahwa sebagian dari mereka menyempal dari Jabhatun Nushroh dan bergabung dengan faksi-faksi lain, terutama Jundul Aqsho.
An-Naba’: Bagaimana bisa proyek utama al-Qo’idah adalah bergabung dengan Ahrorusy Syam pada waktu faksi ini tidak samar pertemuan-pertemuannya dan hubungan-hubungannya dengan pemerintahan-pemerintahan thoghut di negara-negara kawasan?
Abu Ubaidah: Seperti halnya mereka berbaiat kepada Akhtar Manshur, sedangkan mereka mengetahui hubungannya dengan thoghut-thoghut Pakistan dan perangkat-perangkat intelijennya. Al-Qo’idah —sebagaimana Anda tahu— ingin menjauhkan diri dari memerangi para thoghut yang berkuasa di negeri-negeri kaum muslimin dan tidak memerangi seorang pun dari mereka kecuali orang yang memulai memerangi al-Qo’idah, dengan alasan mencurahkan tenaga untuk memerangi kepala kekafiran dunia, yaitu Amerika.
Karena itu ia berusaha bersembunyi di balik faksi-faksi dan kelompok-kelompok yang diridhoi oleh para thoghut, untuk berlindung di balik mereka dengan cara berbaur dengan barisan-barisan mereka. Bahkan tidak apa-apa menurut al-Qo’idah untuk membatasi perangnya terhadap orang-orang yang para thoghut meridhoi perang terhadap mereka, untuk melindungi dirinya dari serangan para thoghut itu. Apa yang terjadi di Khurosan adalah sebaik-baik contoh bagi Anda, di mana al-Qo’idah berhubungan dengan sejumlah faksi yang berhubungan dengan intelijen Pakistan, terutama gerakan Tholiban yang bersifat nasional.
Begitu pula ketika terjadi perpecahan di dalam Tahrik Tholiban di daerah-daerah Waziristan, al-Qo’idah segera berhubungan dengan cabang yang menolak untuk memerangi para thoghut di Pakistan dan yang terkenal dengan cabang Halaqoh Mas’ud yang dipimpin oleh orang yang disebut “Sijnuh’. Koresponden azh-Zhowahiri telah meminta saya ketika itu untuk menghentikan hubungan dengan cabang yang dipimpin oleh Hakimulloh, dalam posisi saya sebagai delegasi Tanzhim al-Qo’idah di Majelis Syuro Tholiban di Waziristan Utara. Yang demikian itu karena Hakimulloh bersikukuh memerangi pemerintah Pakistan, sebagaimana dia juga mentargetkan sekte-sekte sesat seperti Isma’iliyah dan Rofidhoh sampai di kuil-kuil mereka.
Yang lebih penting dari semua itu adalah bahwa eksistensi satu-satunya yang tersisa bagi al-Qo’idah di kawasan itu dan yang dikenal dengan Tanzhim al-Qo’idah di Semenanjung India dikuasai oleh tokoh-tokoh yang menentang perang terhadap para thoghut Pakistan, terutama orang yang dipanggil Ahmad Faruq. Dan itu dengan dukungan dari salah seorang yang dekat dengan azh-Zhowahiri dan keluarganya. Sebagaimana azh-Zhowahiri juga menyerahkan kepadanya pengawasan Muassasah as-Sahab berbahasa Urdu yang ditujukan kepada Semenanjung India.
Dengan demikian, arus yang memerangi para thoghut, seperti kelompok Ilyas Kashmiri dan Badr Manshur berhasil disingkirkan, agar perang teralihkan secara keseluruhan dari perang terhadap para thoghut Pakistan kepada perang yang mereka ridhoi, yaitu perang terhadap India, musuh klasik Pakistan.
Dan setelah terbunuhnya Ahmad Faruq dalam sebuah pengeboman yang mentargetkannya bersama ‘Azzam al-Amriki dan dua orang tawanan Salibis, dia digantikan dalam memimpin Tanzhim oleh Maulawi ‘Ashim ‘Umar yang sebelumnya merupakan seorang pemimpin dalam Harokah Mujahidin yang mendapat dukungan dari intelijen Pakistan dan yang pekerjaannya sebelumnya terbatas pada memerangi tentara India kafir di Kashmir.
Dengan demikian, sekarang Anda bisa mengatakan bahwa Tanzhim al-Qo’idah di Semenanjung India dipimpin oleh orang-orang yang memiliki ikatan dengan intelijen Pakistan. Dan banyak di antara mereka yang merupakan orang-orang sufi Deobandi. Bahkan mereka tidak memandang kemurtadan pemerintah Pakistan. Mereka mengikuti ulama Pakistan, bukan syar’i al-Qo’idah, di antaranya si murtad Maulana Fadhlur Rohman, anggota Parlemen Pakistan, yang seperti Syaikh bagi Ahmad Faruq dan para pengikutnya.
Saya kira Anda tidak akan berpendapat bahwa pemerintah Turki yang padanya Ahrorusy Syam terikat memiliki banyak perbedaan dengan pemerintah Pakistan. Bahkan di antara para pemimpin al-Qo’idah ada yang memandang thoghut Erdogan sebagai orang muslim, meskipun dia memerintah dengan selain apa yang diturunkan oleh Alloh dan bersikap loyal kepada para Salibis, yaitu Salim ath-Thoroblusi yang merupakan syar’i umum pada al-Qo’idah Khurosan. Selanjutnya, apa masalahnya jika al-Qo’idah berhubungan dengan faksi yang berhubungan dengan pemerintah Turki?
An-Naba’: Bagaimana bisa masuk akal bahwa Tanzhim al-Qo’idah berhubungan dengan intelijen Pakistan, padahal para mata-mata intelijen Pakistan lah yang berada di balik pembunuhan semua pemimpin al-Qo’idah, dan pasukan Pakistan bersama Shohawat yang berhubungan dengannya lah yang telah menghabisi eksistensi al-Qo’idah di Waziristan?
Abu Ubaidah: Agar Anda dapat memahami masalah ini dengan baik, Anda harus mengetahui hakikat intelijen Pakistan. Ia sama seperti semua badan intelijen di dunia, terdiri dari banyak divisi. Masing-masing dari divisi-divisi ini melaksanakan sebagian dari tujuan-tujuan pemerintahan thoghut. Misalnya ada divisi yang diarahkan untuk perang melawan India. Di bawah pengawasannya semua faksi dan gerakan yang berjuang melawan India di Kashmir bekerja. Ada divisi lain yang diarahkan untuk mengatur urusan-urusan Afghonistan. Yaitu divisi yang dulu mengawasi faksi-faksi yang memerangi orang-orang komunis pada masa lalu, dan selanjutnya kini mengawasi gerakan Tholiban.
Ada divisi lain yang bekerja untuk melayani intelijen Amerika. Yaitu divisi yang mengarahkan perang terhadap al-Qo’idah di Waziristan di atas tanah, melalui Shohawat dan para mata-mata yang membantu pesawat-pesawat tanpa awak Amerika dalam menentukan posisi markas-markas dan rumah-rumah tamu, serta melacak para pemimpin dan para elemen. Divisi inilah yang melancarkan serangan terhadap al-Qo’idah.
Sementara di saat yang sama ada divisi-divisi lain yang memanfaatkan al-Qo’idah dan sekutu-sekutunya dalam mewujudkan tujuan-tujuan thoghut Pakistan.
An-Naba’: Saya terpaksa menutup wawancara pada titik ini, tanpa bisa memuaskan keinginan saya untuk mendapatkan lebih banyak informasi tentang pengalaman Anda bersama al-Qo’idah. Dan saya yakin bahwa para pembaca sangat antusias untuk mengetahui pendapat Anda seputar nasib akhir cabang al-Qo’idah di Syam berdasarkan negosiasi-negosiasi yang sedang dipersiapkan saat ini antara rezim Nushoiriyah dan Shohawat. Karena itu, saya akan mengambil lebih banyak waktu dari Anda pada pertemuan lain —in syaa-a Alloh— untuk memberitahukan kepada kami dan para pembaca tentang perkara-perkara ini, jika Anda tidak keberatan dalam hal ini.
Abu Ubaidah: Dengan senang hati. Semua yang saya saksikan atau saya ketahui tentang perkara-perkara ini akan saya hadirkan ke hadapan Anda semua. Tujuan kita adalah agar tragedi Waziristan tidak terulang, dan agar kaum muslimin sadar bahwa faksi-faksi itu menjauhkan mereka dari syari’at dan tidak mendekatkan mereka kepadanya. Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam.
An-Naba’: Semoga Alloh membalas Anda dengan kebaikan atas kelapangan dada Anda. Wassalamu ’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
An-Naba’ Edisi 19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar