Rabu, 25 April 2018

SEBAGIAN SIFAT ULAMA SUU

RUMIYAH 5 - ARTIKEL

SEBAGIAN SIFAT ULAMA SUU
ABU HAFS ASY-SYAMI

Dalam artikel terdahulu yang berjudul “Ulama Sesat Dilaknat dan Dimurkai” kami telah menjelaskan definisi ahli ilmu yang benar. Kami juga telah menjelaskan beberapa karakteristik penting sehingga mereka bisa dianggap sebagai pemuka Dien. Berdasarkan kaca mata Syariat sudah gamblang bahwa para ulama Durjana dan sesat sama sekali tidak termasuk golongan ulama betapapun banyaknya hafalan dan karyanya, dan betapapun populernya mereka. Mereka lebih menyerupai Yahudi yang mengetahui namun menyembunyikannya dan tidak mengamalkan justru menyeru kepada kesesetan. Lantaran banyaknya ulama Durjana dewasa ini yang berusaha menyesatkan hamba-hamba Allah maka sudah seharusnya dijelaskan sifat-sifat mereka sehingga manusia tidak ragu lagi.

Pertama: Menyembunyikan Kebenaran

Diantara maksud ilmu adalah untuk disebarkan dan diajarkan karena hidayah dan maslahat manusia bergantung padanya, sehingga menyembunyikan ilmu merupakan perbuatan yang diharamkan dan dosa besar yang paling berat. Oleh karena itu, Allah mengambil janji setiap orang yang diberi anugerah ilmu agar menjelaskannya dan tidak menyembunyikan apa yang dibutuhkan manusia.

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi al-Kitab (yaitu), ‘Hendaklah kalian benar-benar menerangkannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.’ Lalu mereka melemparkannya ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga murah. Maka amat buruklah jual-beli yang mereka lakukan.” (QS. Ali Imran: 187).

Karena itulah ulama Durjana itu seorang pengkhianat Dien Allah. Dia mengkufuri nikmat ilmu, dan menyebabkan kesesataan manusia. Oleh karena itu, Allah melaknatnya dan menimpakan laknat manusia terhadapnya karena telah menipu makhluk dengan menyembunyikan kebenaran.

Allah azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menjelaskannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat oleh orang-orang yang melaknat.” (QS. al-Baqarah: 159)

Perkara terbesar yang disembunyikan oleh para ulama Durjana adalah keterangan mengenai kondisi para thaghut dan hukum Allah terhadap mereka. Allah telah memerintahkan kita untuk menjauhi dan mengkufuri thaghut. Dia jadikan hal ini sebagai pokok tauhid dan iman. Namun tatkala manusia melihat ulama terkemukanya menjilat para penguasa thaghut, mendiamkan kesyirikan dan kerusakannya, bahkan membolehkan syirik dengan dalih maslahat, jadilah banyak dari mereka beriman kepada thaghut, bersikap loyal, mengadopsi agamanya, bahkan menjadi bala tentaranya.

Penyebab semua fenomena ini adalah karena para ulama Durjana menyembunyikan kebenaran dan mencampurnya dengan kebathilan. Bagi yang mengamati Jazirah Arab misalnya, akan mendapati bahwa Alu Salul tidaklah berani menampakkan kekufuran dan kerusakanya, sehingga sebagian orang ikut-ikutan murtad, kecuali disebabkan oleh Hai’ah Kibarul Ulama’ (Lembaga Ulama Senior) seperti Ibnu Baz, Ibnu ‘Utsaimin, Shalih al-Fauzan, Alu asy-Syaikh (keluarga asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab) kontemporer, dan semisal mereka; lantaran mereka menyembunyikan kebenaran dan tidak menjelaskan hakikat Alu Salul kepada masyarakat, bahkan menambah rancu dengan menyebut Alu Salul adalah ulil amri dan mengklaim bahwa mereka adalah para pemimpin syar’i! Mereka menyembunyikan hukum mengenai keputusan-keputusan legislatif thaghut, hukum mengenai pendirian pangkalan-pangkalan militer Salibis, dan hukum menghalalkan riba. Sehingga banyak orang tertipu, tersesat, dan bahkan murtad. Mereka akan mendapatkan bagian dari dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa berkurang sedikitpun dosa itu.

Kondisi yang sama terjadi di Mesir. Masyayikh al-Azhar dan klaimer salafi lah yang menyebabkan manusia tersesat dan mengikuti Husni Mubarak lalu kemudian as-Sisi. Demikian juga yang menyebabkan orang-orang ikut serta dalam syirik parlemen dan pemilu adalah para thaghut Ikhwanul Murtaddin dan Partai azh-Zhalam (Partai an-Nur, edt). Gambaran seperti ini akan kita temukan di negeri-negeri lainnya.

Kedua: Mengganti dan Menyelewengkan Syariat

Ciri ulama Durjana lainnya adalah mengganti dan menyelewengkan syariat – jika mereka tidak bisa menyembunyikannya – melalui takwil-takwil rusak terhadap nash-nash syar’i sehingga mengubah maknanya yang benar, sebagaimana firman Allah azza wa jalla tentang orang-orang Yahudi, “Mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (QS. an-Nisa: 46).

Kemudian penyelewengan dan takwil yang bathil itu disandarkan kepada Allah ta'ala. Mereka mengubah makna nash yang sebenarnya dan mengelabuhi manusia bahwa inilah maksud dari Kitab Allah. Dengan begitu mereka menampik makna yang benar dan menetapkan makna yang bathil. Pendahulu mereka dalam hal itu adalah orang-orang Yahudi yang selalu menyandarkan tindakan mempermainkan nash-nash itu kepada Allah azza wa jalla.

Sebagaimana firman Allah ta'ala, “Sesungguhnya di antara mereka benar-benar ada segolongan yang memutar lidah mereka dalam membaca al-Kitab, agar kalian menyangka itu sebagian dari al-Kitab, padahal itu bukan dari al-Kitab. Mereka berkata, ‘Itu dari Allah,’ padahal itu bukan dari Allah. Mereka mengatakan kedustaan atas nama Allah, padahal mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 78).

Nash-nash syar’i yang memerintahkan jihad misalnya. Para ulama Durjana berusaha menyelewengkan maknanya yang berarti perang menjadi makna-makna lain, agar orang-orang tidak memerangi orang-orang kafir dan murtad. Lebih jauh lagi, mereka mengarang makna-makna jihad lain yang Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentangnya, bahkan makna-makna tersebut bertentangan dengan hakikat jihad. Misalnya klaim mereka bahwa jihad adalah bergabung dengan pasukan thaghut, atau ikut serta dalam proyek demokrasi syirik untuk menyaingi kaum sekuler menandingi Allah menciptakan undang-undang, dan perbuatan murtad lain yang dikait-kaitkan oleh orang-orang terlaknat itu dengan jihad.

Begitu pula nash-nash syar’i yang memerintahkan untuk berterus terang dengan kebenaran. Para ulama Durjana sengaja meniadakan dan tidak mengamalkannya, seraya mengklaim bahwa itu adalah perintah Allah sesuai firman-Nya azza wa jalla, “Dan janganlah kalian melemparkan diri kalian ke dalam kebinasaan.” (QS. al-Baqarah: 195).

Padahal, yang dimaksud dengan kebinasaan di sini adalah meninggalkan jihad. Sebagaimana yang dijelaskan oleh sahabat Abu Ayub al-Anshari radhiyallahu anhu ketika dia berkata, “Yang dimaksud melemparkan diri kita ke dalam kebinasaan ialah bahwa kita sibuk memperbaiki kondisi perekonomian kita dan meninggalkan jihad.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Maka alangkah buruknya para ulama Durjana dan alangkah buruknya pembodohan yang mereka lakukan!

Ketiga: Menghalangi dari Jalan Allah

Sesungguhnya ulama Durjana, dengan jalan kesesatan dan kerusakan yang ditempuhnya, berhasrat kuat untuk menyeret manusia menempuh jalannya dan menghalangi mereka dari jalan kebenaran. Sebab dia khawatir tingkah lakunya akan membongkar kedustaannya jika dia memperlihatkan ayat- ayat syariat tanpa menutupi dan mengaburkannya. Dia pun sengaja melakukan perubahan dan memelintir nash-nash agar sesuai dengan kondisi dan hawa nafsunya. Oleh karena itu, engkau dapati mereka menghalangi para pemuda untuk berjihad disebabkan condong kepada dunia dan terkena fitnah qu’ud (meninggalkan jihad). Dikarenakan takut berterus terang dengan kebenaran jadilah mereka campuradukkan kebenaran dengan kebathilan, menjadikannya sebagai landasan dakwah, dan memperlihatkannya seolah-olah suatu kebijaksanaan dan kecerdasan.

Dia tidak memperlihatkan kebenaran, tidak pula sekedar menyembunyikannya, tapi justru mencampuradukkan, mengaburkan, menyamarkan, dan menutupi cacatnya. Mereka berbicara atas nama Allah tanpa ilmu untuk menghalangi dari jalan Allah, seperti yang dilakukan oleh para rahib dan pendeta dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya banyak dari para rabi (Yahudi) dan para rahib (Nasrani) itu benar-benar memakan harta manusia dengan bathil dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka beritakanlah kepada mereka akan azab yang pedih.” (Qs. at-Taubah: 34)

Keempat: Sangat Rakus Kepada Dunia

Tidak ada yang mendorong para ulama suu untuk menyembunyikan dan mengaburkan kebenaran selain kecintaan dan kerakusan kepada dunia. Tidak ada seorang pun yang mengharuskan atau memaksa mereka untuk berbuat nifak, berdusta atas nama Allah, dan kufur. Namun keinginan mereka untuk mendapatkan pekerjaan dan gaji dari para thaghut itulah faktor utama yang menyebabkan mereka melakukan hal tersebut. Motivasi sebagian dari mereka adalah hasrat untuk mendapatkan kedudukan dan kedekatan dengan para penguasa thaghut. Sebagian yang lain tergiur lantaran muncul di layar-layar (televisi) dan mendapatkan banyak pemberian. Maka berat bagi mereka jika harus kehilangan ketenaran dan sorotan kamera karena (mengatakan) kalimat haq. Mereka pun lebih memilih untuk menyembunyikan apa yang diturunkan oleh Allah —yang tidak ingin ditampakkan kepada manusia oleh para thaghut— dan menjualnya dengan harga murah.

Allah azza wa jalla telah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu al-Kitab, dan menjualnya dengan harga murah, mereka itu tidaklah memakan dalam perut mereka kecuali api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka, dan mereka akan mendapat azab yang pedih.” (QS. al-Baqarah: 174), dan firman-Nya, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.” (QS. Ali Imran: 187)

Ibnul Qayim berkata: “Setiap orang diantara para ahli ilmu yang lebih mengutamakan dunia dan mencintainya, maka pasti dia akan mengatakan selain kebenaran atas nama Allah.” (al-Fawaaid)

Kelima: Terpengaruh dengan gembosan dan ancaman serta melenceng dari kebenaran lantaran hal tersebut

Ini juga merupakan salah satu sifat para ulama Durjana; berpaling dari kebenaran setelah meyakininya, dan menampakkan kebathilan karena tunduk dan patuh kepada hawa nafsu para thaghut, agar dunia mereka selamat. Alangkah besarnya kejahatan ini! Alangkah kejamnya pengkhianatan ini!

Sebagaimana dalam kisah Bal’am bin Ba’uro`. Dia berasal dari kota Jabarin. Seandainya semua ulama suu pada zaman kita berkumpul, niscaya ilmu mereka tidak akan sampai sepersepuluh dari ilmu Bal’am. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu berkata, “Dia mengetahui nama Allah yang paling besar” (Tafsir Ibni Abi Hatim) Ini menunjukkan tingginya kedudukan keilmuannya. Sebagian salaf berkata, “Dia adalah orang yang doanya mustajab, dan selalu yang terdepan dalam menyelesaikan keadaan-keadaan genting, dan dia merupakan Ulama bani Israil.” Meskipun demikian, ketika dia menyimpang dari manhaj dan melenceng dari kebenaran yang terang, dia diserupakan dengan anjing!

Yang demikian itu ketika singgah di kota Jabarin, Bal’am didatangi oleh sepupu-sepupunya dan kaumnya. Mereka berkata, “Sesungguhnya Musa adalah orang baru dan dia memiliki tentara yang banyak. Jika dia berhasil mengalahkan kita maka kita akan binasa. Berdoalah kepada Allah agar mengusir Musa dan para pengikutnya dari kita.” Bal’am berkata, “Sesungguhnya jika aku berdoa kepada Allah agar mengusir Musa dan para pengikutnya, maka dunia dan akhiratku akan hilang.” Mereka pun terus merayunya, sampai akhirnya dia mendoakan keburukan atas Musa dan para pengikutnya. Maka Allah melepas apa yang sebelumnya ada padanya. (Diriwayatkan oleh Ibni Abi Hatim dari Ibnu Abbas)

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaithon, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang Durjana. Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia menempel ke tanah (cenderung kepada dunia) dan mengikuti hawa nafsunya. Maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga).” (QS. al-A’raf: 175-176)

Malik bin Dinar berkata, “Musa alaihis salam mengutusnya menemui raja Madyan untuk menyerunya kepada Allah. Namun sang raja terus menerus menggelontorkan pemberian sampai Bal’am mengikuti agamanya dan meninggalkan agama Musa, maka turunlah ayat ini.” (Tafsir Ibnu Abi Hatim).

Bal’am “Cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya”, condong kepada dunia dan kenikmatan-kenikmatannya, berpaling dari ayat-ayat Allah, sampai dikuasai hawa nafsunya bak anjing yang terus-menerus menjulurkan lidah.

Diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah, dia berkata, “Ini adalah perumpamaan orang yang membaca al-Kitab dan tidak mengamalkan isinya.” (Tafsir ath-Thabariy). al-Qurthubiy berkata, “Perumpamaan ini, menurut pendapat banyak dari ahli ilmu tafsir, mencakup setiap orang yang diberi ilmu al-Qur’an lalu tidak mengamalkannya.” (Tafsir al-Qurthubiy). Alangkah banyaknya mereka di zaman kita.

Penutup

Inilah beberapa sifat ulama suu yang dijelaskan oleh Allah azza wa jalla untuk membongkar kedok mereka dan mewanti-wanti hamba-hamba-Nya agar menjauhi, tidak mendengarkan maupun mengambil ilmu dari mereka. Kita menemukan bahwa Allah azza wa jalla menyebutkan sifat mereka namun tidak menyebut mereka ulama. Meskipun mereka mengetahui hukum-hukum Allah, tetapi ketika mereka kehilangan rasa takut kepada Allah dan tidak mengamalkan apa yang mereka ketahui, ilmu mereka tidak bermanfaat, bahkan menjadi penyebab mereka dilaknat di dunia dan akhirat, disifati dengan sifat-sifat yang paling buruk, dan dijebloskan ke dalam neraka Jahannam.

Bahkan Allah menjadikan sikap menaati dan mengikuti para rabi dan para rahib —mereka adalah salaf (pendahulu) para ulama Durjana yang menyimpang dari agama Allah— dalam kekafiran, sebagai syirik akbar yang mengeluarkan dari agama, sebagaimana firman Allah ta'ala, “Mereka menjadikan para rabi (Yahudi) dan para rahib (Nasrani) sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (juga) al-Masih putra Maryam, padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada tuhan selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. at-Taubah: 31).

Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan kafir dengan alasan taklid kepada ulama thaghut. Wajib bagi setiap orang untuk bersungguh-sungguh mencari kebenaran dan mengamalkannya. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar