Rabu, 25 April 2018

PUNGGAWA MURABITHIN ABDULLAH BIN YASIN, SANG PEMBAHARU SYARIAT DI GURUN SAHARA

RUMIYAH 5 - SEJARAH

PUNGGAWA MURABITHIN
ABDULLAH BIN YASIN
SANG PEMBAHARU SYARIAT DI GURUN SAHARA

Adalah sunatullah azza wa jalla jika tiap kali makhluk-Nya tersesat dalam kedurhakaan dan kesesatan, niscaya akan diutus-Nya orang yang memperbarui agama mereka. Ada yang menaatinya tetapi kebanyakan orang mendurhakainya. Lalu para muwahhid berlepas diri terhadap orang yang menyelisihi manhaj Allah ta'ala dan mengangkat pedang untuk memerangi mereka hingga Allah memenangkan Din-Nya dan agama semua menjadi milik-Nya.

Salah satu pembaharu itu adalah seorang da’i, alim lagi mujahid Abdullah bin Yasin rahimahullah.

Kisahnya bermula ketika seorang pemuka suku Gudala yang tinggal di padang pasir Maghrib bernama Yahya bin Ibrahim memutuskan untuk mulai menjelaskan dan mengenalkan kepada kaumnya mengenai syariat-syariat Allah dan batasan-batasan-Nya. Ia adalah lelaki yang baik dan cinta terhadap agama. Beliau terus mencari seseorang yang mau membantunya mendakwahi kaumnya. Namun banyak da’i yang menolak ajakannya berdakwah di padang Sahara karena kesulitan yang bakal menghadang, kecuali seorang dai mujahid bernama Abdullah bin Yasin. Dengan memohon pertolongan kepada Allah dia menerima tugas tersebut.

As-Salawi berkata, “Ada seorang da’i yang bangkit untuk mengemban tugas tersebut. Ia bernama Abdullah bin Yasin al Jazuli. Beliau adalah murid yang cerdas, mempunyai keutamaan, agama yang bagus, wara’, dan ahli politik lagi berwawasan luas. Dia lalu pergi bersama Yahya bin Ibrahim menuju padang Sahara.”

Demikianlah Ibnu Yasin tabah berjalan di tengah padang Sahara dalam keterasingan demi menyebarkan Din pada kaum yang tersesat. Ketika Abdullah bin Yasin tiba di pemukiman kabilah Lamtunah, mereka bertanya kepadanya tentang misi yang dibawanya. Beliau lalu memberitahukan bahwa dirinya datang untuk mengajarkan syariat-syariat Islam dan menegakkah had-hadnya.

Ibnul Atsir berkata, “Mereka berkata, ‘Ingatkan kami mengenai syariat Islam.’ Maka ia memberitahu mereka mengenai akidah dan kewajiban-kewajiban Islam. Kata mereka, ‘Yang engkau sebutkan mengenai shalat dan zakat maka kami bersedia. Adapun katamu bahwa jika yang membunuh maka dibunuh, yang mencuri maka dipotong tangannya dan yang berzina maka dicambuk atau dirajam, kami tidak mau melaksanakannya. Pergilah ke tempat lain.’ Keduanya pun pergi meninggalkan mereka.”

Demikianlah kabilah ini awal mulanya menolak menegakkan syariat. Karena itulah Ibnu Yasin tidak mau tinggal bersama mereka jika mereka tidak mau melaksanakan semua syariat Islam. Abdullah bin Yasin lalu pergi ke kabilah Gudala bersama pemukanya itu.

Ibnul Atsir berkata, “Abdullah bin Yasin menyeru mereka dan kabilah-kabilah sekitarnya untuk menegakkan syariat. Ada yang mematuhi dan ada yang menolak.”

Pada akhirnya mereka mengusirnya ketika hukum-hukum syariat membuat mereka merasa sempit sehingga tidak mau tunduk. Ketika itu Ibnu Yasin tidak mempunyai kekuatan untuk memerangi mereka. Ia ingin pergi ke Sudan untuk mendakwahi mereka. Namun salah seorang pemuka Gudala menyarankannya untuk tinggal di suatu madrasah terkenal (konon terletak di dekat Sungai Senegal).

Ibnu Khaldun menuturkan, “Mereka lalu mengasingkan diri di sebuah dataran yang dikelilingi Sungai Nil. Ketika musim panas airnya dangkal dan ketika musim dingin airnya meluap sehingga dataran tersebut menjadi jajaran pulau yang terputus-putus. Mereka menyeberangi Sungai Nil untuk beribadah di situ.”

Dari Dakwah ke Jihad

Allah menghendaki sang juru dakwah ini menjadi peletak batu pertama berdirinya suatu pemerintahan Islam.

Ibnu Khaldun berkata, “Kabar mereka terdengar oleh orangorang yang ada kebaikan dalam hatinya. Maka semakin banyak orang yang bergabung dalam dakwah ini. Ketika jumlahnya mencapai seribu orang, guru mereka Abdullah bin Yasin berkata, ‘Sesungguhnya seribu itu tidak akan kalah karena sedikitnya jumlah. Wajib bagi kita untuk menegakkan kebenaran, menyerukannya, dan menggiring manusia untuk mengikutinya. Marilah kita keluar.’ Mereka lalu keluar dan memerangi orang-orang yang membangkang dari kabilah Gudala dan Lamtunah.” Ibnu Yasin akhirnya keluar berjihad fi sabilillah memerangi kabilah-kabilah murtad yang tidak mau menjalankan syariat.

Ibnul Atsir juga menuturkan, “Ibnu Yasin lalu berkata kepada para pengikutnya, ‘Telah wajib atas kalian untuk memerangi orang-orang yang menyelisihi kebenaran, mengingkari syariat, dan telah bersiap-siap untuk menyerbu kalian. Maka tegakkanlah panji dan angkatlah seorang amir’.”

Dengan sekelompok kecil orang-orang mukmin itu para Murabithin menundukkan Sahara untuk menegakkan hukum Allah ta'ala.

As-Salawi berkata, “Ia mulai menyerang kabilah demi kabilah sampai menguasai seluruh penjuru Sahara dan menundukkan kabilah-kabilahnya. Ia menjadi masyhur di seluruh penjuru negeri Sahara dan negeri-negeri sekitarnya seperti Sudan, Qiblah, negeri orang-orang Masmudah dan seluruh penjuru Maghrib; bahwa ada seorang lelaki dari Gudala yang menyeru kepada Allah dan jalan yang lurus, berhukum dengan yang diturunkan Allah, dan tawadhu lagi zuhud. Di mana-mana namanya disebut-sebut dan orang-orang banyak yang mencintainya.”

Ketika ia berusaha mencari ridha Allah sekalipun manusia murka pada mulanya maka setelahnya Allah kemudian membuat manusia ridha, mencintainya, dan mengikutinya.

Berhukum Dengan Syariat

Ketika ketua suku Gudala meninggal, Ibnu Yasin menunjuk ketua kabilah Lamtunah sebagai komandan militer.

As-Salawi menuturkan, “Lalu Abdullah bin Yasin mengumpulkan para pemimpin kabilah Sanhaja dan mengangkat Yahya bin Umar al-Lamtuni untuk memimpin mereka di bawah arahannya. Yahya bin Umar bertanggung jawab dalam masalah perang sedangkan Abdullah bin Yasin fokus kepada urusan agama dan hukum-hukum syariah, serta mengumpulkan zakat dan Jizyah.”

Orang-orang Murabithin melanjutkan perjuangan dipimpin komandan militer mereka yang baru dengan bimbingan Sang Faqih Pembaharu Abdullah bin Yasin.

Pada tahun 446 H (sebagaimana yang disebutkan oleh al-Bakri) Ibnu Yasin menyerbu Aoudaghost (hari ini terletak di selatan Mauritania) yang pernah didiami Raja Ghana sebelum masuk Islam.

Al-Bakri menuturkan, “Dalam perang tersebut Abdullah bin Yasin membunuh seorang lelaki keturunan Arab Qairawan yang terkenal wara’, shalih, suka membaca al-Qur’an dan berhaji ke Baitullah bernama Zabaqirah. Mereka menghukumnya karena dia tunduk pada hukum Raja Ghana yang ateis.” (al-Masalik wal Mamalik).

Pada tahun 447 H, orang-orang Murabithun memasuki Sijilmasa (sekarang terletak di selatan Maroko) dan menyingkirkan kezhaliman yang ada. As-Salawi berkata, “Orangorang Murabithun mengubah berbagai kemungkaran yang ada, menghancurkan seruling dan alat musik , membakar toko-toko penjual khamer, menghilangkan cukai, meniadakan utang-utang yang mencekik, menghapus semua hal yang harus dihapus menurut Kitab dan Sunnah, dan mengangkat seorang amil dari Lamtunah lalu kembali ke Sahara.”

Di penghujung tahun ini (447 H), Amir Yahya bin Umar al-Lamtuni terbunuh. Untuk menggantikannya Syaikh Ibnu Yasin lalu mengangkat saudaranya Abu Bakar bin Umar pada Bulan Muharram 448 H. Beliau bergerak di bawah bimibingan Sang Faqih sebagaimana saudaranya yang terdahulu, melanjutkan jihad fisabilillah.

As-Salawi berkata, “Orang-orang Murabithun memasuki kota Aghmat (di timur Marakesh) pada tahun 449 H. Lalu Abdullah bin Yasin menetap di sana selama dua bulan untuk mengistirahatkan pasukan. Lalu ia bergerak menuju Tadla, menaklukkannya dan membunuh siapapun raja Bani Yafran yang ditemuinya. Ia juga berhasil menangkap Laquth al-Mighrawi dan membunuhnya. Kemudian Abdullah bin Yasin bergerak menuju Tamasna lalu menaklukkan dan menguasainya.”

Ibnu Yasin rahimahullah menimpakan petaka terhadap musuh-musuh Allah dengan banyak membunuh dan menawan hingga berita itu sampai di telinga sang Faqih yang mengutusnya, yang tidak mengerti situasi mujahidin.

Imam adz-Dzahabi berkata, “Berita-berita mengenai tindakan Abdullah bin Yasin itu sampai di telinga al-Faqih (gurunya, edt), yang membuatnya sedih dan menyesal. Al-Faqih menulis surat kepadanya mengingkari banyaknya tawanan dan korban yang terbunuh. Namun jawabnya, ‘Adapun pengingkaranmu dan penyesalanmu karena telah mengutusku, maka sungguh anda telah mengutusku kepada kaum jahiliyah. Salah satu dari mereka menyuruh putra dan putrinya untuk menggembala ternak, lalu putrinya itu kembali dalam keadaan hamil karena bersetubuh dengan saudaranya, tetapi mereka tidak mengingkari hal itu. Kebiasaan mereka itu saling rampok satu dan saling bunuh satu sama lain. Jadi aku lakukan apa yang seharusnya dilakukan dan aku tidak melanggar hukum Allah. Wassalam’.” (Tarikhul Islam).

Demikianlah Ibnu Yasin membantah orang yang mengkritisi jihadnya padahal jauh dari realitas dan malah membenarkan isu yang dibicarakan manusia.

Setelah mendapatkan semua kemenangan ini orang-orang Murabithun dengan arahan guru mereka bertekad untuk memerangi kabilah Berghouata yang murtad.

As-Salawi berkata, “Berghouata adalah suku yang bercabang-cabang kabilahnya. Mulanya mereka mendukung Shalih bin Tharif si pembohong pengaku nabi. Namun hingga sekarang kondisi mereka tetap berada di atas kesesatan dan kekufuran. Ketika Abdullah bin Yasin mendengar kekufuran yang merajalela di suku Berghouata, beliau melihat bahwa yang wajib adalah lebih dulu memerangi mereka dari pada yang lain. Beliau bersama pasukan Murabithun pun segera bergerak.”

Allah Ta’ala menetapkan bahwa Ibnu Yasin terluka di saat puncak peperangannya melawan orang-orang kafir (tahun 451 H) sehingga beliau memperoleh kesyahidan.

Penulis buku al-Ightibath berkata, “Ia berhasil menaklukkan Maghrib hingga akhirnya tunduk terhadap aturan-aturan Islam setelah sebelumnya hampir ditinggalkan sama sekali.”

Wasiat Ibnu Yasin

As-Salawi berkata, “Menjelang wafat beliau berkata kepada mereka, ‘Hai orang-orang Murabithun, hari ini aku tidak bisa menghindari kematian sedang kalian masih berada di negeri musuh kalian. Maka janganlah kalian pengecut atau saling bertikai sehingga akibatnya kalian menjadi lemah dan kekuatan kalian hilang. Jadilah kalian para pembela kebenaran dan bersaudara karena Allah. Janganlah kalian saling iri hati terhadap kepemimpinan karena Allah memberikan kerajaan-Nya kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki dan mengangkat siapa yang Dia kehendaki diantara para hamba-Nya untuk berkuasa di bumi-Nya.”

Ibnu Yasin meninggal setelah berhasil meletakkan pondasi pemerintahan Islam yang membentang dari Sungai Senegal di selatan hingga di mencapai Marakesh di utara. Kemudian setelah itu berekspansi hingga Andalusia yang berbatasan dengan Perancis di sebelah utara melalui tangan muridnya Yusuf bin Tasyfin, dan hingga menjangkau jantung belantara Ifriqiyah di sebelah selatan melalui tangan muridnya Abu Bakar bin Umar. Beliau wafat setelah berhasil meninggalkan generasi mujahidin yang akan menyempurnakan perjuangannya, dan setelah berhasil menegakkan syariat islam bersama mereka dan dengan mereka.

Semoga Allah merahmati Ibnu Yasin dan memberkati para tentara khilafah hari ini yang terus memerangi setiap orang murtad yang menolak hukum syariat. Mereka tidak akan meninggalkan hal itu meskipun telah berkorban banyak hingga agama ini semuanya menjadi milik Allah.

Abu Bakar al-Lamtuni
Sang Punggawa Penyebaran Islam di Negeri-negeri Sudan

Pada bagian sebelumnya kita telah membahas sedikit biografi Sang Faqih Mujaddid Abdullah bin Yasin pendiri Daulah Murabithin, daulah para mujahidin. Seorang lelaki yang tidak hanya mendirikan sebuah negara tapi membentuk generasi penerus pembawa bendera perjuangan sepeninggalnya. Generasi Yusuf bin Tasyfin yang bergerak ke utara bersama pasukannya menyeberang ke Andalusia dan berhasil mengalahkan Salibis. Juga generasi Sang Komandan Abu Bakar bin Umar yang menyeberangi hamparan padang pasir demi menyebarkan Islam dan syariat ke Ifiriqiyah (Afrika).

Biografi lelaki ini amat istimewa. Dia bersedia mengorbankan segala sesuatu demi Din dan umatnya agar persatuan tetap terjaga. Lelaki ini bukanlah seseorang yang mementingkan diri sendiri dengan mengorbankan persatuan umat sebagaimana tingkah banyak orang yang mengaku Islam dahulu dan sekarang.

Komandan Militer Baru

“Karir” militer Ibnu Lamtunah dimulai ketika ia digembleng lewat tangan Ibnu Yasin. Kemudian ia diangkat menjadi pemimpin militer pasukannya. Pada bulan Muharram 448 H Abu Bakar bin Umar diangkat sebagai komandan militer tertinggi pasukan Murabithin menggantikan saudaranya Yahya bin Umar. Dia meneruskan perjalanan jihad yang telah dimulai saudaranya itu dengan bimbingan Ibnu Yasin.

Menyerang Rafidhah Sekte Bajaliyah

Pada tahun 448 H Abu Bakar bin Umar menyerbu negeri Sous. Pada bulan Muharram 449 H ia berhasil menaklukkan Massah dan Taroudant. Kota ini adalah salah satu pusat kekuatan Rafidhah di Maghrib ketika itu.

as-Salawi berkata di dalam al-Istiqsha, “Pada kota itu tinggal sekelompok sekte Rafidhah yang disebut Bajaliyah, diambil dari nama Ali bin Abdullah al-Bajali ar-Rafidhi. Abdullah bin Yasin dan Abu Bakar bin Umar menggempur mereka dan berhasil merebut paksa kota Taroudant. Kaum Rafidhah banyak yang terbunuh. Sisanya bertaubat dan kembali pada mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah.”

Pengganti Ibnu Yasin Meneruskan Perjuangannya

Setelah memberantas Rafidhah, Abu Bakar bin Umar bersama gurunya Ibnu Yasin bergerak untuk memerangi suku murtad Berghouata. Di tengah pertempuran Ibnu Yasin terluka yang menyebabkan kematiannya, sehingga kepemimpinan Murabithin sepenuhnya dipegang Abu Bakar bin Umar.

As-Salawi berkata, “Aksi pertama kalinya setelah selesai mengurusi dan menguburkan jenazah Ibnu Yasin adalah bergerak menuju suku Berghouata dengan bertawakkal kepada Allah hendak menggempur mereka. Ia menghabisi dan menawan mereka sampai mereka tercerai berai bersembunyi di mana-mana. Kekuatan mereka dihabisi total dan sisanya menyerah serta kembali masuk Islam. Abu Bakar bin Umar berhasil membersihkan pengaruh dakwah mereka di Maghrib. Ia lalu membagi-bagi ghanimah kepada seluruh Murabithin lalu kembali ke kota Aghmat.”

Ini adalah salah satu dari kemenangan beruntunnya dalam memerangi orang-orang sesat dan menyebarkan tauhid. Dunia laksana terhampar untuk Abu Bakar bin Umar satu-satunya pemimpin Murabithin.

Abu Bakar Meninggalkan Maghrib Untuk Kembali ke Sahara

Namun kepemimpinan Abu Umar atas negeri-negeri Maghrib yang baru saja ditaklukkan itu tidak berjalan mulus. Setelah mewujudkan semua kemenangan itu suatu berita buruk datang padanya.

As-Salawi berkata, “Kemudian seorang utusan dari negeri-negeri Qiblah menemuinya dan mengabarkan bahwa situasi di Sahara memburuk karena terjadi perpecahan.”

Di sini Sang Komandan berada di persimpangan jalan. Apakah ia akan mengutus salah satu keponakannya untuk menengahi perpecahan ini atau dia sendiri yang berangkat? Jika dia sendiri yang pergi apakah kepemimpinan di Maghrib ini ditinggalkannya begitu saja setelah mendapatkan semua kemenangan ini? Di sinilah muncul lelaki-lelaki sejati.

As-Salawi berkata, “Abu Bakar adalah seorang amir yang wara’. Berat baginya jika kaum muslimin itu saling bertikai sedangkan ia mampu mencegahnya. Ia menganggap dirinya tidak punya alasan karena dialah yang mengurusi dan bertanggung jawab atas mereka. Maka ia kemudian berazam untuk kembali ke negerinya dan memperbaiki kondisinya serta menegakkan panji jihad di sana.”

Ia tinggalkan seluruhnya fi sabilillah.

Sang Komandan Menyatukan Manusia Untuk Memerangi Orang-orang Musyrik

Pemimpin Murabithin ini pergi ke Sahara. Ia lalu berhasil memperbaiki kondisinya dan menyiapkannya untuk ditegakkan hukum Islam. Kemudian ia bergerak menuju negeri-negeri Sudan dalam rangka berjihad dan berdakwah.

Ibnu Khaldun berkata, “Ia kembali ke kaumnya dan berhasil menutup lubang fitnah. Kemudian membuka pintu jihad ke negeri-negeri Sudan. Ia lalu berhasil menguasai menguasai wilayah sejauh sembilan puluh malam.”

Beliau rahimahullah tidak hanya berhasil memperbaiki kaumnya bahkan dibukanya pintu bagi pasukan muslimin untuk menaklukkan dan menegakkan hukum Islam di wilayah barat Ifriqiyah.

As-Salawi berkata, “Abu Bakar bin Umar kembali ke Sahara pada bulan Dzulhijjah 453 H. Sesampainya di sana, situasi yang ada berhasil dikontrolnya lalu ia mengumpulkan pasukan besar untuk menaklukkan negeri-negeri Sudan. Ia berhasil menguasai wilayah sejauh sembilan puluh malam.”

Abu Bakar bin Umar Menundukkan Orang-orang kafir Penduduk Sahara

As-Salawi menuturkan di tempat lain bahwasannya Abu Bakar bin Umar menyerang dan menyebarkan Islam di Kerajaan Ghana dan wilayah sekitarnya, katanya, “Kerajaan Ghana mulai melemah dan tercerai berai setelah lima ratus tahun berlalu. Permasalahan orang-orang bertudung itu (julukan orang-orang Murabithin, edt) yang bertetangga dengan mereka di sisi utara dengan suku Berber tidak terkontrol lagi. Sang Amir Abu Bakar bin Umar al-Lamtuni mulai merengsek maju.”

As-Salawi menuturkan bahwa Abu Bakar bin Umar berhasil menaklukkan wilayah seluas tiga bulan perjalanan dan, “Mampu mendorong banyak orang untuk memeluk Islam.”

Kepemimpinan Maghrib Diberikannya Kepada Ibnu Tasyfin dan Kembali Berjihad di Sudan

Ahli sejarah menuturkan bahwa Abu Bakar bin Umar rahimahullah kembali ke Maghrib ketika perkara anak pamannya Yusuf bin Tasyfin membesar. Namun setelah didapatinya bahwa putra pamannya itu berhasil meraih banyak kemenangan ia tidak berusaha merebutnya, bahkan diserahkannya tampuk kekuasaan pada putra pamannya itu dan kembali ke gurun Sahara.

As-Salawi menyebutkan dalam al-Istiqsha wasiat Ibnu Umar untuk Ibnu Tasyfin, katanya, “Abu Bakar berkata, ‘Sesungguhnya aku telah menyerahkan perkara ini kepadamu, dan sungguh aku akan diminta pertanggungjawaban, maka bertaqwalah kepada Allah azza wa jalla dalam mengurusi kaum Muslimin. Bebaskan aku dan dirimu dari api neraka. Jangan sia-siakan rakyatmu sedikitpun karena engkau akan dimintai pertanggungjawaban’.”

Al-Lamtuni Syahid di Negeri Sudan

Setelah Ibnu Umar memberikan wasiat kepada putra pamannya ia kembali ke gurun Sahara untuk berjihad memerangi orang-orang kafir di Ifriqiyah.

As-Salawi berkata, “Ia tinggal di sana sambil terus berjihad memerangi orangorang kafir Sudan sampai dikaruniai syahid karena terkena anak panah beracun pada bulan Sya’ban 480 H, setelah seluruh penjuru Sahara sampai Pegunungan Emas di Sudan tunduk padanya.”

Lembaran-lembaran hidup Sang Kesatria Islam ini telah ditutup. Ditinggalkannya kelezatan dunia dan kekuasaan maka Allah menggantinya dengan yang lebih baik.

Ibnu Katsir berkata, “Ia mempunyai wibawa yang tidak pernah dimiliki raja-raja sebelumnya. Ia mempunyai pasukan sejumlah 500.000 prajurit yang seluruhnya loyal padanya. Ia juga menegakkan hudud, menjaga batasan-batasan Islam, memelihara agama, mengatur manusia sesuai dengan syariat, ditambah lagi dengan akidahnya yang benar serta loyal kepada Daulah Abbasiyah.”

Semoga Allah merahmati Syaikh Mujahid asy-Syahid -biidznillah- Abu Bakar al-Lamtuni. Semoga Allah menerima dakwah dan jihadnya, dan menolong anak cucunya Junud Khilafah di Barat dan Utara Ifriqiyah, serta di gurun Sahara. Mereka terus berusaha menegakkan agama Allah dan membersihkan pengaruh syirik di sana. Semoga Allah mengaruniai mereka kemenangan dan tamkin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar