DABIQ 7 - LAPORAN
MENGHENTIKAN PENYIMPANGAN SEKSUAL
“Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji” (Al-Baqarah: 168-169).
Dengan munculnya “revolusi seksual” lima dekade lalu, Barat jatuh ke dalam jurang penyimpangan seksual dan tindakan tak bermoral. Bersama dengannya muncul banyak penyakit menular seksual yang mematikan –termasuk AIDS yang belum bisa disembuhkan– karena pria dan wanita membiarkan hawa nafsu mereka menguasai keputusan mereka dan membawa mereka untuk terlibat dalam perbuatan zina dan “bereksperimen” dengan segudang metode setan untuk memenuhi hasrat mereka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Penyimpangan seksual tidak akan meluas di antara manusia sampai ke titik (di mana orang-orang) melakukannya secara terbuka, kecuali hal tersebut akan disusul oleh wabah dan penyakit yang yang belum pernah diderita nenek moyang mereka yang datang sebelum mereka” (Hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan al-Hakim dari ‘Abdullah Ibnu ‘Umar)
Penyakit merajalela, laju kelahiran anak di luar pernikahan meroket, dan keluarga inti sedang dalam perjalanannya untuk menjadi kenangan di masa lalu. Bukannya mengambil pelajaran dari apa yang mereka saksikan berupa kehancuran struktur sosial mereka, dan mengubah “cara hidup” mereka, orang-orang kafir malah bersikeras untuk bertahan dalam misi mereka menghancurkan moral mereka. Mereka menggunakan industri hiburan mereka untuk mengejek dan meremehkan siapa saja yang memerangi penyimpangan seksual, menggunakan parlemen syirik mereka untuk melegalkan pernikahan pelaku sodom, menggunakan sistem pendidikan mereka untuk merusak anakanak mereka secara langsung dari tingkat taman kanak-kanak dengan memperkenalkan buku ke dalam kurikulum untuk membarantas “homofobia,” dan menggunakan gereja-gereja dan pendeta mereka untuk mengampuni dosa-dosa melalui “revisionisme.” Contoh taktik terakhir ini termasuk pengurapan (upacara perminyakan suci) Imam Sodomi, penolakan Paus Katolik untuk “ikut dalam penghakiman” Imam sodomi, ia (Paus) berkata, “Siapa aku (sehingga berhak) untuk menghakimi?” dan penerbitan artikel yang menentang dan membantah pemahaman tradisional mereka sendiri dari Kitab yang telah diubah, seperti mengklaim bahwa kaum sodom dibinasakan karena kekejaman dan arogansi mereka, bukan karena sodomi mereka.
Di tengah meluasnya penghinaan atas fitrah (kecondongan alami manusia) ini, Daulah Islam terus berupaya menentang perbuatan sesat tersebut – perbuatan di mana “Peradaban” Barat menghormatinya sebagai bagian dari “nilai” mereka – dengan menerapkan hukum Allah kepada orang-orang yang mempraktekkan setiap bentuk penyimpangan atau pelanggaran seksual.
Hal tersebut ditunjukkan baru-baru ini di wilayah ar-Raqqah, di mana Daulah Islam menerapkan hadd pada seorang pria yang terbukti bersalah atas keterlibatannya dalam sodomi. Ia dibawa ke puncak bangunan dan dilempar, seperti salah satu teladan yang dilakukan sahabat yang mulia Abu Bakar ash-Shiddiq radiyallahu ‘anhu kepada orang-orang yang melakukan perbuatan kotor ini. Juga di wilayah ar-Raqqah, seorang wanita dirajam setelah terbukti bersalah karena zina. Sementara itu di wilayah al-Khair, seorang pria baru-baru ini dicambuk sebagai sebuah ta’zir (hukuman pelajaran) setelah ia terbukti memiliki hal-hal yang berbau pornografi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pelaksanaan satu hadd di bumi adalah lebih baik bagi penduduk bumi daripada hujan empat puluh pagi di bumi” (Hasan: Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).
Hal ini merupakan pelaksanaan hukum Allah dan kepatuhan terhadap petunjuk-Nya, bi idznillah, yang akan melindungi umat Islam dari mengikuti jalan busuk yang sama dengan yang telah dipilih Barat untuk diikuti.
MENGHENTIKAN PENYIMPANGAN SEKSUAL
“Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji” (Al-Baqarah: 168-169).
Dengan munculnya “revolusi seksual” lima dekade lalu, Barat jatuh ke dalam jurang penyimpangan seksual dan tindakan tak bermoral. Bersama dengannya muncul banyak penyakit menular seksual yang mematikan –termasuk AIDS yang belum bisa disembuhkan– karena pria dan wanita membiarkan hawa nafsu mereka menguasai keputusan mereka dan membawa mereka untuk terlibat dalam perbuatan zina dan “bereksperimen” dengan segudang metode setan untuk memenuhi hasrat mereka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Penyimpangan seksual tidak akan meluas di antara manusia sampai ke titik (di mana orang-orang) melakukannya secara terbuka, kecuali hal tersebut akan disusul oleh wabah dan penyakit yang yang belum pernah diderita nenek moyang mereka yang datang sebelum mereka” (Hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan al-Hakim dari ‘Abdullah Ibnu ‘Umar)
Penyakit merajalela, laju kelahiran anak di luar pernikahan meroket, dan keluarga inti sedang dalam perjalanannya untuk menjadi kenangan di masa lalu. Bukannya mengambil pelajaran dari apa yang mereka saksikan berupa kehancuran struktur sosial mereka, dan mengubah “cara hidup” mereka, orang-orang kafir malah bersikeras untuk bertahan dalam misi mereka menghancurkan moral mereka. Mereka menggunakan industri hiburan mereka untuk mengejek dan meremehkan siapa saja yang memerangi penyimpangan seksual, menggunakan parlemen syirik mereka untuk melegalkan pernikahan pelaku sodom, menggunakan sistem pendidikan mereka untuk merusak anakanak mereka secara langsung dari tingkat taman kanak-kanak dengan memperkenalkan buku ke dalam kurikulum untuk membarantas “homofobia,” dan menggunakan gereja-gereja dan pendeta mereka untuk mengampuni dosa-dosa melalui “revisionisme.” Contoh taktik terakhir ini termasuk pengurapan (upacara perminyakan suci) Imam Sodomi, penolakan Paus Katolik untuk “ikut dalam penghakiman” Imam sodomi, ia (Paus) berkata, “Siapa aku (sehingga berhak) untuk menghakimi?” dan penerbitan artikel yang menentang dan membantah pemahaman tradisional mereka sendiri dari Kitab yang telah diubah, seperti mengklaim bahwa kaum sodom dibinasakan karena kekejaman dan arogansi mereka, bukan karena sodomi mereka.
Di tengah meluasnya penghinaan atas fitrah (kecondongan alami manusia) ini, Daulah Islam terus berupaya menentang perbuatan sesat tersebut – perbuatan di mana “Peradaban” Barat menghormatinya sebagai bagian dari “nilai” mereka – dengan menerapkan hukum Allah kepada orang-orang yang mempraktekkan setiap bentuk penyimpangan atau pelanggaran seksual.
Hal tersebut ditunjukkan baru-baru ini di wilayah ar-Raqqah, di mana Daulah Islam menerapkan hadd pada seorang pria yang terbukti bersalah atas keterlibatannya dalam sodomi. Ia dibawa ke puncak bangunan dan dilempar, seperti salah satu teladan yang dilakukan sahabat yang mulia Abu Bakar ash-Shiddiq radiyallahu ‘anhu kepada orang-orang yang melakukan perbuatan kotor ini. Juga di wilayah ar-Raqqah, seorang wanita dirajam setelah terbukti bersalah karena zina. Sementara itu di wilayah al-Khair, seorang pria baru-baru ini dicambuk sebagai sebuah ta’zir (hukuman pelajaran) setelah ia terbukti memiliki hal-hal yang berbau pornografi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pelaksanaan satu hadd di bumi adalah lebih baik bagi penduduk bumi daripada hujan empat puluh pagi di bumi” (Hasan: Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).
Hal ini merupakan pelaksanaan hukum Allah dan kepatuhan terhadap petunjuk-Nya, bi idznillah, yang akan melindungi umat Islam dari mengikuti jalan busuk yang sama dengan yang telah dipilih Barat untuk diikuti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar