Rabu, 25 April 2018

PERGESERAN PARADIGMA (BAGIAN 2)

DABIQ 12 - SPESIAL

PERGESERAN PARADIGMA (BAGIAN 2)
Oleh : John Cantlie

"15 bulan setelah deklarasi Khilafah, kampanye yang dipimpin AS untuk melawannya telah meluas lebih daripada sebelumnya, akan tapi di Barat sekarang banyak yang mengakui bahwa Daulah Islam adalah negara yang layak untuk dihuni."

Pada tanggal 31 Maret, saya menulis sebuah artikel di majalah Dabiq edisi 8 dengan judul "Pergeseran Paradigma," di mana saya menganalisa penggambaran Daulah Islam oleh media Barat serta perkembangan politiknya dari hanya sebuah "organisasi" menjadi sebuah entitas nyata. Dan saya menyebutnya sebagai sebuah negara. Saya tidaklah mengetahui apapun tentang pembangunan bangsa. Dan saya juga sangat bodoh yang membuat saya bahkan tidak pernah berhasil sampai ke universitas. Tapi setelah berhenti dari beberapa hal yang saya tulis di masa lalu sebagai "propaganda ISIS", banyak wartawan dan dosen di Barat sekarang setuju dengan kesimpulan saya ini. Mereka berkata, Daulah Islam adalah sebuah negara asli dengan segala perangkatnya.

Realitas akan Khilafah Ini telah dikonfirmasi oleh banyak hal, diantaranya orang-orang dapat hidup di bawah satu pemerintahan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, umat Islam hidup dalam keadaan aman serta mereka dapat menjalankan bisnisnya dengan lancar. Sistem Zakat telah didirikan dan terus berjalan, dengan mengambil beberapa persen dari harta orang-orang kaya dan membagikannya kepada fakir miskin. Koin dinar emas yang diperkenalkan setahun yang lalu sekarang sedang dicetak, sebagai persiapan sebelum di edarkan. Pengadilan syari’ah telah didirikan disetiap kota untuk mengadili dengan hukum Islam. Korupsi yang merupakan sebuah fakta yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan di Iraq dan Suriah, kini telah dibabat habis hingga hampir mencapai titik nol, sementara tingkat kejahatan menurun drastis.

Sementara itu, seluruh negara-negara Teluk sedang berada dalam kekacauan. Mereka dipecahkan oleh perselisihan keagamaan dan permusuhan antar suku. "Timur Tengah ... telah rusak, marah dan tidak berfungsi dan itu karena mereka sendiri, sehingga itu memberikan arti baru untuk kata 'putus asa,' sebagaimana yang ditulis oleh Aaron David Miller dosen Kebijakan Luar Negeri pada tanggal 11 September. "Hal ini terkoyak dan terbelah karena masalah sektarian, politik, dan kebencian agama dan konfrontasi yang tampaknya telah melampaui kapasitasnya yang tidak mungkin diperbaiki oleh pihak luar." Justru karena alasan seperti inilah yang menjadikan Daulah Islam muncul dan berkembang dengan begitu cepat dan dalam waktu yang relative singkat. Disana Hanya ada satu sekte Sunni Islam, dan Khalifah hanya dari suku Quraisy. Di sini, di kekhalifahan, tidak ada ruang untuk pluralisme.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh The Telegraph pada tanggal 8 Juni, Ruth Sherlock menulis: "jihadis telah ber-evolusi menjadi sebuah birokrasi yang sangat teliti: memaksakan pajak (dia mengacu kepada zakat), membayar gaji tetap dan menetapkan hukum standar dalam perdagangan (dia mengacu pada pelarangan transaksi Haram) dalam upaya untuk membangun ekonomi yang sehat ... banyak pengusaha Suriah yang melihat ISIS sebagai satu-satunya pilihan jika dibandingkan dengan anarkisme yang berlaku di wilayah yang dikuasai oleh pemberontak lainnya, termasuk kelompok yang didukung barat."

Ruth, itu jauh dari sifat barbar yang umumnya digunakan untuk melukiskan Daulah Islam agar dapat diabadikan dalam sebuah gambar dengan entitas jahat, sebuah gambar yang akan dijadikan sebagai dasar propaganda pemerintahan barat. Apa lagi, Ruth?

"Dokter dan insinyur, terutama yang mengelola Ladang minyak yang dikendalikan ISIS, mereka dibayar dengan mahal – setidaknya dibayar ganda, dan seringkali beberapa kali lipat daripada gaji yang ditawarkan di negara lain," dia melanjutkan. "Pelaku bisnis memilih untuk memindahkan industri mereka ke daerah-daerah ISIS”.

Itu bukan aku (john cantlie) yang berbicara, tapi penulis di salah satu koran "terbaik" di Inggris. Dan sentimen ini – menyatakan bahwa Daulah Islam adalah nyata, dan merupakan Negara yang sedang tumbuh—sedang meningkat di Barat. Setelah satu tahun serangan udara, semua bukti menunjukkan bahwa tidak ada "kemunduran" dari para mujahidin, dan setiap penurunan kekuatan perang, baik logistik maupun personel mereka telah di dipasok dengan cepat oleh rampasan perang dan rekrutan baru, CIA memperkiraan tentara tetap di Daulah Islam mencapai 32.000 tentara, tetapi beberapa tokoh mengisyaratkan dapat mencapai hingga 70 atau bahkan 100.000 tentara yang siap dipanggil jika diperlukan. Seorang pejabat AS yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan kepada Associated Press bahwa intelijen AS telah "melihat tidak ada degradasi / penurunan yang berarti dalam jumlah mereka”.

Satu tahun mereka telah berperang dan tidak ada yang berubah. Dan ini merupakan masalah bagi koalisi.

Menurut Barry Posen (professor ilmu politik di Universitas MIT, amerika serikat), militer Iraq sudah tidak ada lagi, dalam artian sebagai kekuatan tempur dalam segala maknanya. Mereka telah banyak digantikan oleh Unit mobilisasi Populer (al-Hasyad Asy-Sya'bi), sebuah milisi Syiah dengan anggota hingga 100.000 pria dengan senjata yang dipasok oleh Iran. Merekalah yang memimpin serangan di Tikrit pada bulan April dan yang bertanggung jawab atas banyaknya kekejaman di beberapa daerah Sunni. Tapi setelah pengambil alihan Tikrit, maka tidak ada lagi penaklukan besar oleh koalisi, dan pertempuran di Iraq tidak berjalan dengan baik, sejauh ini Letnan Jenderal Robert Neller dari USMC, ketika ditanya oleh senator John McCain tentang bagaimana ia pertimbangan tentang kampanye yang akan datang?, ia menjawab, "Saya pikir kita melakukan apa yang harus kita lakukan sekarang ... Saya percaya bahwa mereka berada di jalan buntu sekarang". Dan itu Jauh dari "kemunduran" para mujahidin, Daulah Islam tetap menguasai wilayah dan bahkan terus meluas, dan ini dapat dibuktikan dengan pengambil alihan wilayah-wilayah baru di Iraq dan Suriah.

Ini adalah tuntutan dari pemerintah Amerika dan sekutunya untuk meremehkan Daulah Islam dalam pandangan publik dengan menjadikannya hanya sebagai "organisasi" teroris. Benar, bahwa Negara itu berjalan dan menggunakan teror sebagai alat. Tetapi jika itu hanya sebuah "Organisasi" dan prajurit yang berjuang untuknya hanya teroris, maka ini hanya memberikan pengait kepada publik untuk menggantungkan topi mereka. Ketika orang memahami kata-kata "teroris" atau "jihadis", maka sebagian besar akan mendukung setiap tindakan militer terhadap mereka. Tetapi itu akan kehilangan urgensinya ketika Anda melawan tentara dari sebuah negara. Dan itu tidak akan dapat menyulap gambaran dari pidato politisi yang mengatakan mereka sangat berbahaya. Berperang melawan sekelompok teroris adalah suatu hal kecil, tapi memerangi sebuah negara, bahkan jika negara itu berdiri dan bangga lewat taktik teroris, ini merupakan lain hal. Tapi untuk mengakui bahwa Daulah Islam memang sebuah Negara dalam setiap komentar akan menjadi sebuah pengakuan kemenangan kepada mereka, sehingga tidak ada pemimpin politik saat ini yang siap menyebutnya sebagai negara. Jadi mereka dengan sengaja terus memanggil mereka "sebagai yang disebut" Islam Negara, ISIL, IS, ISIS, Daesh dan apapun julukan berikutnya adalah sebuah langkah untuk menunjukkan: "Bah. Itu hanya omong kosong! Kami bahkan tidak tahu nama mereka. Kami telah punya senapan di tangan."

Itulah yang mereka katakan di depan umum. Tapi apa yang mereka katakan di belakang pintu tertutup dengan sekretaris pertahanan serta kepala intelijen mereka, saya yakin itu akan sangat berbeda dengan sekarang. Menurut laporan Barat, ada sekitar 7 juta orang yang tinggal di Khilafah, di daerah yang lebih besar dari Inggris dan dengan populasi yang lebih dari banyak Denmark, dan banyak dari mereka yang mengatakan bahwa kehidupan sekarang lebih baik daripada di bawah pemerintahan rezim Assad di Suriah dan Syiah di Iraq, dan juga jauh lebih baik daripada daerah yang dikuasai FSA yang banyak korupsi dan kekacauan. Ini bukanlah apa yang diduga dapat dilakukan oleh sekelompok teroris "barbar berambut liar".

Dalam berita di New York Times pada tanggal 21 Juli, Tim Arango menulis, "(Daulah Islam) telah mengalahkan pemerintah korup Suriah dan Pemerintah Iraq sebagaimana dikatakan oleh warga dan para ahli. 'Kamu dapat melakukan perjalanan dari Raqqa ke Mosul, dan tidak akan ada yang berani menghentikan Anda bahkan jika Anda membawa uang 1 juta dollar amerika, " kata Bilal yang tinggal di Raqqa (yang secara de facto adalah ibukota Daulah Islam di Suriah). ‘Dan Tidak satu orangpun yang berani mencuri walau hanya satu dolar. '"

Arango melanjutkan, dengan mengatakannya sebagai Daulah Islam maka kita telah meletakkannya di tempat yang lebih dari sekedar ukuran pemerintahan, termasuk kartu identitas untuk penduduk, menyebarkan pedoman dalam memancing untuk melestarikan alam, mensyaratkan mobil untuk dilengkapi dengan peralatan untuk keadaan darurat, dan Tentu saja mengikuti dan melaksanakan syari'ah. "(Seorang pemilik toko di Raqqa) mengatakan ... 'Di sini mereka menerapkan aturan Allah. Seorang pembunuh akan dibunuh. Pezina dirajam. pencuri dipotong tangannya'. "Stephen M. Walt, seorang profesor hubungan international di Harvard, dikutip dalam Artikel yang sama mengatakan, "Saya pikir tidak perlu ada lagi yang dipertanyakan tentang cara kita untuk memandangnya sebagai organisasi negara revolusioner ". Sebuah organisasi negara revolusioner? Itu tidaklah terdengar seperti hanya "sekelompok" teroris sama sekali. Sangat penting untuk ingat, bahwa Walt telah menjelaskannya ditempat lain, bahwa negara-negara yang baru dibentuk sepanjang sejarah, membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum mereka diakui oleh negara-negara lain. Dia menyebutkan sebagai contoh, bahwa Eropa menolak untuk mengakui Uni Soviet secara resmi selama bertahun-tahun setelah revolusi Bolshevik pada tahun 1917, dan AS juga tidak melakukannya sampai tahun 1933. Demikian juga Amerika yang tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Rakyat Republik Cina sampai tahun 1979, dan itu sekitar 30 tahun setelah cina didirikan. "Jika Daulah Islam berhasil mempertahankan kekuasaannya, mengkonsolidasikan posisinya, dan menciptakan sebuah negara de facto asli pada apa yang sebelumnya bagian dari Iraq dan Suriah," Stephen Walt menyimpulkan, "maka negara-negara lain perlu bekerja bersama untuk mengajarkannya tentang fakta-fakta kehidupan dalam sistem internasional". Tapi, itu tidaklah cukup. Karena Daulah Islam memegang prinsip bahwa "sistem internasional" adalah Thaghut, sesuatu yang jahat yang memaksakan hukum positif atas manusia. Mereka tidak akan pernah "belajar" untuk "bekerja sama" dengan hal itu. Tapi gencatan senjata dengan negara-negara Barat selalu menjadi pilihan didalam Hukum Syari'ah.

Dan ada satu hal lagi. Assad sudah hampir selesai, dengan keruntuhan pemerintahannya yang kejam, sekarang ia hanya mengendalikan seperempat dari wilayah Suriah. Iraq terpecah belah karena suku-suku yang bergerak tak teratur dan tidak akan pernah pulih kembali sejak invasi amarika. Daulah Islam sekarang mengangkangi kedua negara itu sebagai sebuah kerajaan muslim, sebuah negara di mana tidak ada Bentrokan suku maupun agama. Hanya ada satu sekte dan satu keyakinan. Tempat Ini dijalankan, diatur, dan dilindungi oleh Mujahidin Sunni, dan sekarang benar-benar menjadi fragmentasi unik, dan tidak seperti di Timur Tengah yang penuh dengan pertikaian dan kekacauan. Ini adalah singularitas, dan menjadi model yang lebih baik untuk stabilitas wilayah di masa depan daripada negara-negara Teluk yang didukung atau dibentuk oleh intervensi Barat yang kemudian menyatakan perang atasnya.

Sekali lagi, ini bukan hanya saya yang mengatakan ini. Yang akan menjadikannya sebagai "Propaganda ISIS," dan kita tidak akan bisa memilikinya sekarang, atau bisakah kita? Brigadir Jenderal Ronald Magnum membuat beberapa komentar menarik dalam sebuah makalah yang diterbitkan oleh Institut Kajian Strategis Georgia Kaukasus pada 29 Mei.

"Daulah Islam telah memenuhi semua persyaratan ... untuk diakui sebagai sebuah negara, "katanya. "ia memiliki struktur pemerintahan, wilayah yang terkontrol, populasi yang besar, ekonomi yang dimanis, kekuatan militer yang besar dan efektif serta memberikan pelayanan kepemerintahan pada umumnya seperti perawatan kesehatan untuk penduduknya. Berurusan dengannya dan menganggapnya seolah-olah itu hanya sebuah gerakan teroris adalah seperti berlomba di pacuan dengan kuda yang lumpuh. Itu adalah Negara dan jika Barat ingin mengalahkannya maka mereka harus menerima salah satu diantara dua hal:
1) Daulah Islam adalah ancaman yang cukup bagi perdamaian dunia atau regional, dan Barat dapat pergi berperang dengan itu, atau
2) Biaya perang yang terlalu besar dan Barat harus berencana untuk menahan dan membatasi Daulah Islam kemudian bernegosiasi dengannya sebagai sebuah Negara yang berdaulat. "

Kegagalan Usaha koalisi untuk "membendung" Khilafah adalah berita lama. Tapi untuk bernegosiasi? Itu adalah bom waktu. Baru-baru ini Obama mengatakan bahwa "tidak akan ada negosiasi"dengan Daulah Islam, dan ini sebuah fakta yang tidak akan hilang atas teman satu sel saya dulu. Tapi kemudian ia mengubah kebijakannya setelah kejadian itu, jadi mungkin dia atau presiden berikutnya harus mengubah kebijakan mereka tentang ini.

Dalam sebuah nukilan yang diterbitkan di “Foreign Policy” pada tanggal 10 Juni di bawah judul "Apa yang Harus Kita Lakukan jika Daulah Islam Menang ?," Profesor Stephen Walt menyarankan bahwa kemenangan bagi mujahidin tidaklah diukur dengan keberhasilan mereka dalam menancapkan bendera hitam di atas gedung gedung baru, tetapi itu diukur jika mereka mampu mempertahankan wilayah mereka yang terkontrol serta tidak ada "kemunduran ataupun kehancuran". Dan sejauh ini, mereka telah mencapai hal ini. "Hingga akhirnya mereka bergerak dari “sampah” menjadi mitra, khususnya ketika kepentingannya mulai beriringan dengan negara lain," tulisnya. "Mungkin kehadiran mereka akan merepotkan di politik dunia, tetapi tidak lagi dikucilkan. Jika Daulah Islam masih bertahan, maka itulah yang saya harapkan." dan Sekali lagi, Walt telah membuat asumsi kotor, Mujahidin akan tidak pernah menerima kemitraan dengan Barat. Tetapi jika Negara Barat ingin gencatan senjata, mereka benar-benar harus berpikir tiga kali sebelum membuang kesempatan itu.

Barat harus terus menjatuhkan bom dan membujuk berbagai kelompok Syiah untuk masuk ke dalam zona kematian setidaknya selama satu atau dua tahun sebelum mempertimbangkan dengan benar agar gencatan senjata dapat tercapai. Tapi itu adalah sebuah prospek yang menarik ketika Barat bernegosiasi dengan Daulah Islam. Dan apakah itu benar-benar mungkin terjadi? Jonathan Powell adalah kepala negosiator di Irlandia Utara pada pemerintahan Tony Blair, dan pada tanggal 12 Agustus, ia berbicara kepada BBC tentang subjek ini.

"Jika Anda ingin menghancurkan Daulah Islam, Anda tidak akan dapat melakukannya dari udara. Namun tampaknya tidak ada satupun Negara Barat yang siap untuk menginjakkan kakinya disana. Jadi tidak ada strategi militer untuk menghancurkan ISIS. Yang diperlukan adalah sebuah strategi politik. Dalam pandangan saya, kita perlu untuk melibatkan mereka dalam negosiasi," katanya.

"Kami telah berbicara kepada IRA, dan itu bukan karena mereka memiliki senjata tapi karena mereka memiliki sepertiga suara dari Katolik. Jika Anda berhadapan dengan kelompok yang tidak memiliki keinginan berpolitik, seperti gangster, Anda tidak akan bisa bernegosiasi karena tidak ada pertanyaan politik disetiap masalah. Tapi bagi saya mungkin ada pertanyaan politik di jantung Suriah dan Iraq. Saya telah melihat konflik lebih di 30 tahun terakhir, saya berpendapat bahwa jika ISIS memiliki keinginan berpolitik, maka kita dapat berbicara kepada mereka. Dan Mungkin mereka akan memudar seperti salju di musim semi, tetapi keadaan semacam ini sedikit sekali terjadi dalam sejarah. Inilah hipotesis saya bahwa masih ada harapan dari sisi politik. Dan ide dari Islam ekstrim... tampaknya memiliki kita cukup kesulitan di dalam menanggulanginya, tapi kita masih memiliki opsi politik pada tahap tertentu, dan tidak hanya dengan kekuatan senjata."

Powell menyimpulkan dengan mengatakan bahwa Barat harus membuka jalan untuk "negosiasi" di masa depan dengan "membangun komunikasi dasar."

Lebih dari satu tahun sejak awal operasi udara terhadap Negera Islam dan belum ada hasilnya, jenderal bintang 4 Martin Dempsey yang bertanggung jawab atas kampanye yang dipimpin AS ini pastilah bertanya-tanya, berikutnya apa?. Orang di Barat selalu menuntut hasil dan tidak sabaran,. Seperti di Vietnam, perang melawan Daulah Islam terlihat hanya seperti perang dengan gesekan untuk mencoba mengurangi jumlah musuh tanpa di ikuti dengan tujuan yang jelas.

Bom-bom itu sudah pasti membunuh banyak Mujahidin, tapi lebih banyak mujahidin yang datang (daripada yang syahid) untuk mengambil tempat mereka setiap hari, masing-masing dari mereka seperti ingin menjadi yang terakhir untuk mati syahid di jalan Allah. Bom juga sudah pasti menghancurkan banyak tank dan kendaraan tempur dari Daulah Islam yang diambil dari rampasan perang tentara Iraq (hanya ada satu perseneling di tank tentara Iraq) tapi Mujahidin telah memperoleh lebih banyak tank dan senjata dari pasukan yang melarikan diri. Para prajurit dari kekhalifahan telah terbukti menjadi kekuatan mengejutkan yang dapat bertahan dari pecahan dan ledakan dari sebuah bom atau rudal Hellfire.

Dan sementara itu, negara Khilafah terus terus tumbuh dan matang atas andil mujahidin yang berjuang dan mati ketika mendukungnya. mujahidin sangat menikmati pertempuran, tetapi mereka telah terbukti sangat baik dalam beradaptasi dengan masyarakat sekitar dan pemerintah. Mereka mendirikan negara dan mengatur suatu tatanan baru di Timur Tengah, maka apa yang mungkin terjadi beberapa tahun ke depan itu terserah kepada Daulah Islam dan bukannya tekanan dari luar.

Opsi pertama adalah mereka akan terus memperluas perbatasan Khilafah di seluruh wilayah sampai mereka dihentikan oleh keterbatasan ekonomi atau militernya, dan setelah itu mereka akan mengonsolidasikan posisi mereka. Tapi harapan terlalu buruk bagi Barat karena tidak terlihat ada keterbatasan pada kekhalifahan. Opsi kedua adalah mereka menghalau Barat dan meluncurkan serangan darat secara keseluruhan, sehingga adegan ini menjadi perang terkahir antara Muslim dan tentara salib sebagaimana yang diramalkan dan akan terjadi di Dabiq Suriah, karena ketika amerika dan sekutunya melakukan operasi di luar negeri maka mereka tidak memiliki pilihan lain selain mengirim pasukan. Aku hanya menebak bahwa "elang" Amerika mungkin dengan senang hati datang ke Dabiq tanpa Daulah Islam perlu untuk meledakkan bom di Manhattan.

Dalam sebuah nukilan yang diterbitkan oleh The Independent pada tanggal 21 Juni yang berjudul "Kami tidak bisa menghancurkan ISIS, jadi kita harus belajar untuk hidup dengannya", Richard Barrett, mantan kepala kontra-terorisme untuk MI6 menulis, "Iraq dan Suriah tidak akan pernah kembali sebagaimana semula, dan siapapun yang menang didalamnya, maka entitas baru telah muncul yang akan tetap ada dalam beberapa bentuk. Untuk saat ini, entitas tersebut sangatlah agresif, tidak toleran dan tanpa kompromi, ISIS menawarkan kepada mereka untuk hidup di bawah kekuasaan pemerintahan yang lebih baik dalam beberapa hal daripada yang mereka terima dari negara sebelumnya. Korupsi jauh berkurang, dan penetapan keadilan lebih cepat dan merata meskipun brutal."

Tidak ada keraguan akan Konsolidasi yang cepat dari Daulah Islam dan kecerdasan pemerintah atas wilayahnya telah membuat kejutan bagi para pempmpin dunia ketika mereka dengan secepat kilat menaklukan mosul. Jika Anda mengatakan hal ini kepada seorang politisi di New York pada Juni 2014 bahwa Daulah Islam akan mencapainya pada bulan Oktober 2015, dia pasti akan tertawa tepat di depan wajah Anda. Sebagaimana ini juga adil untuk mengatakan bahwa politisi yang sama tidak akan tertawa pada hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar